• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: selimut elektrik, menggigil, pasca bedah, TUR-P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Kata kunci: selimut elektrik, menggigil, pasca bedah, TUR-P"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SURYA

40

Vol.02, No.XV, Agustus 2013 DI RS AISYIYAH BOJONEGORO

Sugianto, Farida Juanita

…………...……….…… …… . .….

ABSTRAK

…… …...………. …… …… . .….

Menggigil merupakan respon tubuh terhadap rasa dingin atau persepsi dingin disaat suhu inti tubuh menurun, dimana terjadi getaran dari aktivitas otot dalam usaha menciptakan rasa hangat untuk menghasilkan energi. Menggigil sering terjadi pada pasien pasca bedah TUR-P di ruang pulih sadar yaitu saat pemulihan dari anastesi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh pemberian selimut elektrik pada suhu 38OC selama pembedahan terhadap kejadian menggigil pasca bedah TUR-P dengan SAB.

Penelitian ini menggunakan quasy experimental pre-post test control group design dengan populasi semua pasien TUR-P dengan SAB sebanyak 30 responden dibagi dua kelompok perlakuan dengan selimut hangat elektrik dan kelompok kontrol tanpa selimut hangat. Dalam mengumpulkan data menggunakan lembar observasi dan dilakukan observasi post operasi pada menit ke-10 pasca bedah.

Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang bermakna pemberian selimut hangat elektrik selama operasi pada suhu 38OC terhadap kejadian menggigil pasca bedah dengan uji statistik mann whitney p = 0,000 (α < 0,05).

Hal ini menunjukkan bahwa selimut hangat elektrik merupakan cara yang efisien dan cepat untuk menghasilkan pengaturan suhu pada pasien dan regulasi suhu tubuh setelah operasi, oleh karena itu hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu prosedur tetap pelayanan pasien bedah.

Kata kunci: selimut elektrik, menggigil, pasca bedah, TUR-P

PENDAHULUAN

. …… . .

Menggigil merupakan respon tubuh terhadap rasa dingin atau persepsi dingin disaat suhu inti tubuh menurun, reflek menggigil akan terpicu dimana terjadi getaran dari aktivitas otot dalam usaha menciptakan rasa hangat untuk menghasilkan energi. Menggigil dapat juga terjadi sebagai respon terhadap rasa demam yang dialami seseorang. Pada tindakan pembedahan TUR-P dengan anestesi spinal sering terjadi komplikasi yang berupa mengggigil pada pasca bedah dini. Hal itu terjadi karena adanya kontraksi otot rangka atau tremor yang pada wajah, dagu, ektremitas selama 15 menit pasca pemberian anastesi yang biasanya disertai proses hipotermi dan vasokontriksi (Aitkenhead, 2001). Keadaan

(2)

SURYA

41

Vol.02, No.XV, Agustus 2013 sangat komplek pada suatu operasi salah satu

diantaranya akan menyebabkan perubahan homeostatis didalam tubuh sehingga mengakibatkan angka morbiditas dan mortalitas yang meningkat (Lumintang, 2000).Di RS Aisyiyah Bojonegoro tindakan pembedahan TUR - P dengan Sub Arachnoid Block pada survey awal dari 5 pasien tindakan pembedahan TUR-P dengan SAB, 3 pasien mengalami menggigil sedangkan yang 2 pasien tidak menggigil . Dari data tersebut diatas secara umum menggambarkan bahwa sebagian besar penderita tindakan pembedahan TUR-P dengan SAB mengalami menggigil, hal tersebut merupakan masalah serius yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi.

Etiologi menggigil pada pasca bedah sangat multiple meliputi:

1. Usia

2. teknik anestesi SAB

3. Suhu dikamar operasi yang rendah karena ketentuan suhu berkisar antara 19 ºC – 22 ºC dengan kelembaban 55 % ( TIM Depkes RI, 1993 )

4. Infus dan spooling dengan cairan yang dingin

5. Obat-obatan yang digunakan.

Dampak dari menggigil meliputi meningkatkan metabolisme, peningkatan aktivitas otot yang memproduksi panas sampai 600% diatas tingkat normal, meningkatkan 2-3 kali lipat konsumsi oksigen dan produksi CO2 (Brunner & Sudarth, 2002). Menggigil juga dapat menyebabkan hipoksia dan hiperkapnea (Dobson, 1994) dan juga dapat menimbulkan peningkatan curah jantung, denyut nadi dan tekanan darah, penurunan saturasi oksigen darah, asidosis karena metabolisme anaerobic dari otot yang kekurangan oksigen dan ketidaknyamanan pasien (Aitkenhead, 2001). Hasil dari penelitian selimut hangat bahwa proses kehilangan panas tubuh terjadi pada jam pertama saat operasi, hal tersebut bisa menyebabkan penderita hipotermi. Menghangatkan penderita selama pembedahan dapat meningkatkan suhu > 96,8 ºF sehingga dapat membantu pemulihan dengan mengurangi faktor resiko dan menurunkan angka komplikasi. Penelitian

juga menunjukkan bahwa terapi hantaran udara/ selimut hangat yang berisi udara merupakan cara yang efisien dan cepat untuk menghasilkan pengaturan suhu pada pasien dan regulasi suhu tubuh setelah operasi (http://www.augustinemedical.com).

Penanganan yang bisa diberikan untuk mengatasi masalah menggigil diantaranya pemberian selimut hangat elektrik dengan suhu 38ºC selama pembedahan. Dimana selimut tersebut di desain untuk penderita selama proses operasi, selimut bagian atas menutupi tangan, dada, leher dan bisa juga untuk kepala. Selimut hangat tersebut diciptakan fleksibel untuk menjaga suhu pada berbagai posisi (http:// www.tokoerabaru.com). Selain selimut hangat untuk penangan hipotermi dan menggigil dapat dilakukan dengan pengaturan suhu ruangan, penghangatan cairan infus dan lampu penghangat. Dalam penelitian ini (Hughes) juga menyebutkan bahwa pasien diberi selimut hangat selama induksi anestesi akan mengurangi reaksi menggigil pasca bedah 63%. Secara patofisiologi selimut hangat akan dapat meningkatkan suhu tubuh inti secara konduksi melalui aliran darah perifer ketubuh bagian inti. Menggigil yang terjadi pada pasca bedah di RS Aisyiyah Bojonegoro khususnya di ruang pemulihan sudah dicoba dengan memberikan metode pemanasan eksternal pasif yaitu pemberian selimut biasa. Tetapi pengaruh dari tindakan tersebut belum menunjukkan hasil yang maksimal, kenyataannya reaksi menggigil masih sering terjadi pada pasca bedah TUR - P dengan Sub Arachnoid Block. Sebagai alternatif pilihan untuk menurunkan kejadian menggigil pasca bedah dengan memberikan metode pemanasan eksternal aktif yaitu pemberian selimut hangat elektrik dengan suhu 38 ºC selama pembedahan. Tindakan tersebut beperan menjaga suhu tetap normal dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah.

METODE PENELITIAN

.… ….…

(3)

SURYA

42

Vol.02, No.XV, Agustus 2013 pasien bedah TUR-P dengan SAB di kamar

bedah RS Aisyiah Bojonegoro dengan teknik consecutive sampling, berjumlah 30 pasien yang dibagi secara Random allocation menjadi kelompok perlakuan dan kontrol, dengan kriteria inklusi

1. Bersedia sebagai responden

2. Resection prostat dengan cutting lup 3. Obat yang di gunakan lidokain 2%,

adrenalin, lidodex.

4. Status hipotermi ringan (Suhu 32oC – 35,7oC)

5. Pembedahan TUR-P dengan Sub Arachnoid Block elektif

Dan kriteria eksklusi

1. TURP dengan komplikasi

2. Pasien terjadi menggigil pra bedah 3. Pasien mendapatkan obat petidin,

morfin pada saat durante operasi atau pasca bedah

Pengumpulan data menggunakan lembar observasi untuk mengukur derajat kejadian menggigil.

HASIL

.

PENELITIAN

1. Data Umum

Karakteristik Responden berdasarkan umur

Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan umur di RS Aisyiah Bojonegoro

No. Umur Frekuensi Prosentase

1. 51 – 60 tahun 6 orang 20%

2. 61 – 70 tahun 16 orang 53,33%

3. 71 – 80 tahun 8 orang 26,67%

Jumlah 30 orang 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden berusia antara 61-70 tahun yaitu 16 orang (53,33%).

2. Data Khusus

1) Derajat Kejadian Menggigil Pasca Bedah TUR-P dengan SAB pada kelompok kontrol

Tabel 2. Distribusi Kejadian Menggigil Pasca Bedah TUR-P dengan SAB pada kelompok control di RS Aisyiah Bojonegoro

No. Derajat

menggigil

Menit pertama

Menit ke-10

1. Grade 1 0 orang 0 orang

2. Grade 2 0 orang 0 orang

3. Grade 3 2 orang 2 orang

4. Grade 4 13 orang 13 orang

5. Grade 5 0 orang 0 orang

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden gemetaran pada lebih dari satu kelompok otot (menggigil grade 4) yaitu 13 orang (86,67%) pada menit ke-1 dan menit ke-10.

2) Derajat Kejadian Menggigil Pasca Bedah TUR-P dengan SAB pada kelompok perlakuan

Tabel 3. Distribusi Kejadian Menggigil Pasca Bedah TUR-P dengan SAB pada kelompok perlakuan di RS Aisyiah Bojonegoro

No. Derajat menggigil

Menit pertama

Menit ke-10 1. Grade 1 15 orang 13 orang 2. Grade 2 0 orang 2 orang 3. Grade 3 0 orang 0 orang 4. Grade 4 0 orang 0 orang 5. Grade 5 0 orang 0 orang

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa mayoritas responden yaitu 15 orang (100%) mengalami menggigil grade 1 pada menit ke-1 dan 13 orang menggigil grade 1 pada menit ke-10 pasca bedah.

(4)

SURYA

43

Vol.02, No.XV, Agustus 2013

PEMBAHASAN

.… .…

Pada kelompok kontrol tanpa selimut hangat 15 responden sudah menunjukan gejala menggigil mulai menit pertama pada grade 3 dan 4 yaitu menggigil melibatkan lebih dari satu kelompok otot. Hal tersebut berlangsung terus sampai menit ke-10. Pada kelompok perlakuan dengan selimut hangat 13 responden tidak mengalami reaksi menggigil atau grade 1 menggigil masih normal. Kejadian menggigil yang terjadi pada kelompok kontrol menurut Buggy D Hugnes (1995) karena pengaruh dari penurunan suhu tubuh yang disebabkan suhu yang rendah dikamar operasi, infus dengan cairan yang dingin, cairan irigasi yang dingin, bedah abdomen yang luas dan lama, tehnik anastesi dan obat anastesi yang digunakan. Menurut Aitkenhead (2001) menggigil yang terjadi pada pasca bedah biasanya disertai proses hipotermi dimana terjadi penurunan suhu inti kurang dari 350C (Gabriel, 1996).

Pada kelompok perlakuan dengan selimut hangat mengalami grade menggigil masih normal, karena proses kehilangan panas tubuh terjadi pada jam pertama saat pembedahan dan menyebabkan hipotermi dengan menghangatkan penderita selama pembedahan dapat meningkatkan suhu >96,8 0

F (Crossley, 1995). Proses menggigil yang terjadi pada pasca bedah akan berlangsung selama lebih dari 15 menit pasca pemberian anastesi (Aitkenhead, 2001).

Pada anestesi spinal terjadi menggigil di atas blokade dari lokal anestesi disebabkan karena ketidakmampuan kompensasi otot di bawah ketinggian blokade untuk terjadinya menggigil. Sama seperti pada anestesi umum, hipotermia terjadi pada jam pertama anestesi, atau setelah dilakukan tindakan anestesi spinal. Hal ini terjadi karena proses

redistribusi panas inti tubuh ke perifer oleh vasodilatasi yang disebabkan

blokade anestesi spinal (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456 789/22687/4/Chapter%20II.pdf).

Selimut hangat elektrik merupakan cara yang efisien dan cepat untuk menghasilkan pengaturan suhu pada pasien dan regulasi suhu tubuh setelah operasi.

Hughes menyebutkan bahwa pasien diberi selimut hangat selama induksi anestesi akan mengurangi reaksi menggigil pasca bedah 63%. Secara patofisiologi selimut hangat akan dapat meningkatkan suhu tubuh inti secara konduksi melalui aliran darah perifer

ketubuh bagian inti

(http://www.augustinemedical.com).

Teori diatas sesuai dengan hasil penelitian di kamar bedah RS Aisyiyah Bojonegoro dimana hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian selimut hangat elektrik pada pasien bedah TUR-P terhadap kejadian menggigil. Pemberian metode pemanasan external aktif berupa pemberian selimut hangat elektrik dengan suhu 38 ºC selama tindakan pembedahan dengan harapan akan mengkonduksi melalui aliran darah dari perifer ke seluruh tubuh dan pelepasan panas dari tubuh dihambat pasca bedah suhu tetap dipertahankan dalam kondisi normotermi dan efek terhadap vital sign dalam batas normal.

KESIMPULAN DAN SARAN

. 1. Kesimpulan

Pemberian selimut hangat elektrik dengan suhu 380C selama pembedahan TUR-P mempercepat penurunan menggigil pasca bedah

2. Saran

Pemberian selimut hangat elektrik dengan suhu 380C selama pembedahan TUR-P dapat dijadikan salah satu prosedur tetap pelayanan pasien bedah untuk mencegah komplikasi menggigil.

. . .

DAFTAR PUSTAKA

. . . Bhattacharya, P.K, Lata B, Rajnish K.J, Ramesh C.A. (2003), Post Anaesthesia Shivering (PAS): A Review. http://medind.nic.in (25 April 2013; 13.00 WIB)

Buggy D, Hughes N. Pre-emptive Use Space Blanket Reduces Shivering After General Anestesi (1994)Wrong. http://www.Diagnosis.com., 02 April 2013 ; 21.30 WIB.

(5)

SURYA

44

Vol.02, No.XV, Agustus 2013 EGC. Jakarta, Hal 426-429 &

hal : 457-458

Carol. M. (1998) Pathophysiologi: Concepts of Altered Health States Fifth Edition, Lippincott-Raven, USA.

Crossley, A.W.A (1992), Perioperative

Shivering Anaesthesia.

http://bmj.bmjjournals.com (25 April 2013; 22.15 WIB).

Crossley, A.W.A (1995), Postoperative Shivering : The Influence of Body Temperatur.

http://bmj.bmjjournals.com (25 April 2013; 22.15 WIB).

Dobson, M.B. (1994) Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta. EGC, hal : 101 – 104

Drain, C.B (1994). The Post Anaesthesia Care Unit. Philadelphia. W.B Saunders Company, hal : 98

Doddy, M.S (2000 :). Trans Uretro Resection Prostat (Hal : 6 )

Gabriel J.J (1996). Fisika Kedokteran EGC. Jakarta, Hal : 124-128

Ganong W.F (1999), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, ed 17 EGC. Jakarta Hal : 134

Guyton & Hall. (1997) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta, EGC. Holderoft A, Hall GM (1998) Heath Los

During Anesthesia. BrJ Anaesth. WB Sounders, Philadelphia , Hal : 154-157

Hudak & Gallo (1996). Keperawatan Kritis. EGC. Jakarta, Hal : 213-216

Kozier, B, Glenora E, Audrey B, Shirlee S. (2004) Fundamental of Nursing 7th Edition. USA. Pearson Education Inc. Latief, S.A, Kartini A.S, Ruswan D. (2001)

Petunjuk Praktis Anetesiologi Edisi Kedua. Jakarta. Fakultas Kedokteran FKUI, hal:42

Lab / UPF RSUD dr. Sutomo (1994 ). Ilmu Bedah EGC. Surabaya ( Hal : 193 )

Mancini, E Marry (1994). Seri Pedoman Praktis, Prosedur Keperawatan Darurat. EGC. Jakarta, Hal : 223-224

Murray A Kalish (1992). Hypotermia and Hypertermia in Trauma Bathients, Trauma Anestheshia. Baltimore, Hal : 340-360

Puruhito & Rubingah (1995). Dasar-dasar Tata Kerja dan Pengolahan Kamar Operasi. Airlangga University Press. Surabaya, Hal : 7

Perry Potter (2000) Ketrampilan dan Prosedur Dasar, Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta, Hal : 41-49

Porth, C. M. (1998) Pathophysiology: Concepts of Alfered Health States Fifth Edition. USA. Lippincott-Raven, hal: 67

Sessler et al. Shivering Post Anaesthesi Shivering.

http://www.cszmedical.com (2 maret 2013)

Shiraz E-Medical Journal Vol 5 No.3 July 2004 (2004). The Effects of Warming Intravenous fluid on Perioperative Hemodynamic Status, Postoperatif Shivering and Recovery in Orthopedic Surgery.

W.F Ganong, 2008 Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC

Winter, 2012. Minesota Tehnologi Magazine. Product Focus Warmblanket Upper body.

http://www.Agustinemedical.com (3 April 2013 ; 20.30 WIB)

Witte, J. D. dan Daniel, I. S. (2012) Perioperative Shivering. Bersumber dari:www.or.org/Reviews/four/Dewit te02/Shivering.pdf (10 April 2013; 20.30 WIB)

Gambar

Tabel 2.  Distribusi Kejadian

Referensi

Dokumen terkait