• Tidak ada hasil yang ditemukan

ketiadaan melahirkan kreatifitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ketiadaan melahirkan kreatifitas"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

1

Ketiadaan Melahirkan Kreatifitas

Tito Adi Dewanto S.TP

(

QS 4:141

)

ايِبَس

ََيِنِمْؤُمْلا

ىَلَع

ََنيِرِفاَكْلِل

َُهّللا

ََلَعََْ

َْنَلَو

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa dahulu kala, ada tiga orang Bani Israil. Orang yang pertama berkulit belang (sopak), yang kedua berkepala botak, dan yang ketiga buta. Allah ingin menguji ketiga orang tersebut. Maka Dia mengutus kepada mereka satu malaikat.

Malaikat mendatangi orang yang berpenyakit sopak (Si Belang) dan bertanya kepadanya,

“Sesuatu apakah yang engkau minta?”

Si Belang menjawab, “Warna yang bagus dan kulit yang bagus serta hilangnya dari diri saya

sesuatu yang membuat orang-orang jijik kepada saya.”

Lalu malaikat itu mengusapnya dan seketika itu hilanglah penyakitnya yang menjijikkan itu.

Kini ia memiliki warna kulit yang bagus. Kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”

Orang itu menjawab, “Onta.”

Akhirnya orang itu diberikan seekor onta yang bunting seraya didoakan oleh malaikat, “Semoga

Allah memberi berkah untukmu dalam onta ini.”

Kemudian malaikat mendatangi si Botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”

Si Botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilangnya dari diri saya penyakit yang karenanya

aku dijauhi oleh manusia.”

Malaikat lalu mengusapnya, hingga hilanglah penyakitnya dan dia diberi rambut yang indah.

Malaikat bertanya lagi, “Harta apa yang paling engkau sukai?”

Orang itu menjawab, “Sapi.”

Akhirnya si Botak diberikan seekor sapi yang bunting dan didoakan oleh malaikat, “Semoga

Allah memberkahinya untukmu.”

Selanjutnya malaikat mendatangi si Buta dan bertanya kepadanya, “Apa yang paling engkau sukai?”

Si Buta menjawab, “Allah mengembalikan kepada saya mata saya agar saya bisa melihat

manusia.”

Malaikat lalu mengusapnya hingga Allah mengembalikan pandangannya. Si Buta bisa melihat

lagi. Setelah itu malaikat bertanya lagi kepadanya, “Harta apa yang paling engkau sukai?”

Orang itu menjawab, “Kambing.”

Akhirnya diberilah seekor kambing yang bunting kepadanya sambil malaikat mendoakannya.

(2)

2

Kemudian sang malaikat – dengan wujud berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Belang.

Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin telah terputus bagiku semua sebab dalam safarku,

maka kini tidak ada bekal bagiku kecuali pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda demi (Allah) Yang telah memberi Anda warna yang bagus, kulit

yang bagus, dan harta, satu ekor onta saja yang bisa menghantarkan saya dalam safar saya ini.”

Orang yang tadinya belang itu menanggapi, “Hak-hak orang masih banyak.”

Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Sepertinya saya mengenal Anda. Bukankah Anda dulu

berkulit belang yang dijauhi oleh orang-orang dan juga fakir, kemudian Anda diberi oleh Allah?”

Orang itu menjawab, “Sesungguhnya harta ini saya warisi dari orang-orang tuaku.”

Maka malaikat berkata kepadanya, “Jika kamu dusta, maka Allah akan mengembalikanmu pada keadaan semula.”

Lalu, dengan rupa dan penampilan sebagai orang miskin, malaikat mendatangi mantan si Botak. Malaikat berkata kepada orang ini seperti yang dia katakan kepada si Belang sebelumnya. Ternyata tanggapan si Botak sama persis dengan si Belang. Maka malaikat pun menanggapinya,

“Jika kamu berdusta, Allah pasti mengembalikanmu kepada keadaan semula.”

Lalu malaikat – dengan rupa dan penampilan berbeda dengan sebelumnya – mendatangi si Buta.

Malaikat berkata kepadanya, “Seorang miskin dan Ibn Sabil yang telah kehabisan bekal dan

usaha dalam perjalanan, maka hari ini tidak ada lagi bekal yang menghantarkan aku ke tujuan kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolongan Anda. Saya memohon kepada Anda, demi Allah yang mengembalikan pandangan Anda, satu ekor kambing saja supaya saya

bisa meneruskan perjalanan saya.”

Maka si Buta menanggapinya, “Saya dulu buta lalu Allah mengembalikan pandangan saya. Maka ambillah apa yang kamu suka dan tinggalkanlah apa yang kamu suka. Demi Allah aku

tidak keberatan kepada kamu dengan apa yang kamu ambil karena Allah.”

Lalu malaikat berkata kepadanya, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu (hanyalah)

diuji. Dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada dua sahabatmu.”

Mensyukuri ni’mat adalah suatu hal yang mesti kita lakukan agar kita tidak selalu menyalahkan keadaan yang seringkali kekurangan atau terbatas. Bahkan seringkali keterbatasan tersebut malah melahirkan kreatifitas tertentu. Buya Hamka, misalnya, ketika akhirnya dibebaskan dari penjara tanpa proses pengadilan, teman-teman Buya Hamka heran kok beliau tetap tersenyum dan tidak merasa dendam atau marah kepada orang yang telah menzoliminya (memasukan ke penjara selama bertahun-tahun) , apa kata beliau, juteru saya berterima kasih kepada yang telah memenjarakan saya karena saya didalam penjara dapat mengkhatamkan Qur’an sampai 9 kali selama sebulan, kemudian saya dapat menyelesaikan penulisan tafsir qur’an Al Azhar justeru ketika saya dalam penjara!!!.

Mensyukuri ni’mat itulah yang berusaha saya tanamkan kepada anak saya dengan segala

keterbatasan. Anak saya yang I yang bersekolah di SMP 1 dan II kebetulan SBI, suatu ketika anak saya tersebut minta laptop karena sebagian temannya bawa laptop, demikian juga hari berikutnya minta dibelikan kalkulator elektronik (alfa link), saya sampaikan bahwa mestinya kita bersyukur karena banyak orang yang tidak punya computer sementara dirumah ada PC juga ada laptop meski itu punya bapaknya, Demikian juga mesti bersyukur juga dirumah ada 10 kamus karena kakek, nenek dan bapaknya guru bahasa Inggris. Ambil saja hikmah positifnya, hasilnya ternyata dalam ulangannya malah lebih baik dari yang bawa laptop, demikian juga nilai bahasa inggrisnya malah lebih baik dari yang bawa alfalink. Saya katakan inilah hikmah nya,”dalam ketiadaan kamu memiliki banyak kemampuan”.“Keterbatasan membuat kita berfikir panjang”.

Meratapi ketiadaan memang sangat mudah dan ini menjadi perilaku banyak orang. Terkadang mungkin kita juga kesal dengan keterbatasan yang menyebabkan banyak hal tidak dapat

dilakukan. Namun percayalah bahwa semua itu hanya akan sia-sia saja tanpa solusi yang nyata.

(3)

3

gajinya Rp 2 juta dia bisa menabung, namun saat gajinya Rp 5 juta dia malah pusing bayar hutang setiap bulannya. Dengan jumlah yang sedikit dia memiliki kemampuan mendisiplinkan diri dari pengeluaran yang tidak perlu dan akhirnya bisa menabung. Namun ketika jumlahnya banyak, tiba-tiba kemampuan itu hilang. Sedikitnya berlebih, banyaknya malah kurang.

Dalam konteks kebangsaan, kita menyaksikan betapa banyak bangsa-bangsa di dunia yang tidak beroleh karunia yang banyak atas kekayaan alamnya, namun mampu tampil menjadi bangsa yang berkelimpahan. Dan sebaliknya, tidak sedikit bangsa yang beroleh berbagai karunia atas kekayaan alamnya justru tampil dengan serba kekurangan.

Negara-negara seperti Jepang, Korea dan Singapura yang miskin sumberdaya justru memiliki segalanya. Negara sepeti Swiss juga sangat mengesankan. Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi terkenal sebagai negara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya 11% daratannya yang bisa ditanami. Namun dalam ketiadaan Swiss justru memiliki banyak kemampuan. Swiss menjadi Negara yang mampu mengolah susu dengan kualitas terbaik. Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia. Swiss juga tidak mempunyai cukup reputasi dalam keamanan, integritas dan ketertiban, bahkan tidak mempunyai tentara, tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai dan dipercaya di dunia. Peralatan Swiss Army dan Victorynox dari Swiss menjadi standard pasukan khusus negara di dunia.

Meski demikian tidak semua negara miskin sumber daya memiliki kemampuan untuk bangkit menjadi negara maju. Kita menyaksikan beberapa negara di Afrika yang miskin sumber daya sampai hari ini masih bergulat dengan kemiskinannya. Bantuan internasional sudah tidak

terhitung jumlahnya, namun kematian yang disebabkan oleh kemiskinan sulit untuk ditekan. Apa sebab? Negara-negara tersebut tidak mampu menggunakan dana-dana bantuan internasional sebagai modal awal untuk menggerakkan perekonomian. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka terlena oleh bantuan dan menjadi tergantung oleh bantuan. Negara yang seperti ini tidak hanya miskin secara sumberdaya, melainkan juga telah menjadi miskin secara mental.

Indonesia bukanlah negara yang miskin sumberdaya. Setiap jengkal tanahnya memiliki kekayaan yang luar biasa, cuaca yang sangat bersahabat, lautan luas yang begitu kaya raya. Itulah

sebabnya para penjajah datang silih berganti, ingin menikmati semua kekayaan alam yang laksana syurga ini. Sayangnya, orang-orang asing begitu mudah menikmati seluruh kekayaan yang kita punya, namun rakyatnya sendiri masih saja banyak yang sulit untuk menikmati

kehidupannya, bahkan kita sering membuka peluang bagi masuknya penjajah asing, dalam kasus gempa padang Menlu Hasan Wirayuda mengatakan tidak membatasi relawan asing untuk masuk ke padang, padahal justeru penjajah masuk awalnya dengan motif bantuan ekonomi, saya dapat SMS saat ini ada tim relawan dari CWS (curch world service/layanan gereja dunia), mereka bergerak melalui tim psikology untuk korban gempa dan anak-anak, ada indikasi upaya

misionaris untuk pemurtadan warga padang yang secara kejiwaan labil. Mestinya pemerintah dan masyarakat mengawasi dan membatasi mereka.

Disi lain memang mestinya kita bisa mengambil efek positif dari bencana ini misalnya bahwa segala bangunan mesti di sesuaikan sepenuhnya dengan alam seperti membangun rumah dari kayu yang tahan gempa. Padang harus dirombak total menjadi kota modern yg sadar dengan kerawannya atas bencana gempa. Kedepan mestinya daerah seperti padang dibebaskan dari semua bangunan serta kesibukan manusia. Padang yang berada pada zona merah ini mestinya

sepenuhnya ditujukan untuk kawasan pelestarian alam, tradisi kota yang asal ‘tumbuh’ seperti di

Indonesia pada umumnya saatnya diakhiri dengan padang sebagai pelopornya.

Keberlimpahan yang kita miliki justru membunuh berbagai kemampuan. Dalam keberlimpahan seakan kita tidak berdaya mengelola segala sumberdaya yang kita punya. Kita tidak mampu mendistribusikan kesejahteraan secara adil dan merata, kita tak mampu menjaga segala warisan budaya, kita juga tak mampu menjaga tanah dan air kita dengan sebaik-baiknya. Derita tercipta dimana-mana meski setiap jengkal tanah dan airnya kaya raya.

(4)

4

kita melihat berbagai sisi positif dari setiap situasi dan mengambil manfaat dari hal-hal positif yang kita hadapi.

Mereka yang bersyukur akan melihat berbagai sisi positif dan mengambil manfaat dari berbagai hal positif yang ada dalam setiap situasi yang terjadi. Akumulasi dari hal ini akan melahirkan kondisi yang lebih baik dan lebih baik setiap waktunya. Hal ini sesuai dengan janji Allah swt

sendiri seperti yang tertera dalam Al Quran “...Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami

akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih...” (QS.Ibrahim /14:7).

Mensyukuri kondisi dan situasi yang kita hadapi akan melahirkan kejernihan dalam memandang keadaan. Dari kejernihan ini kita akan mampu melihat peluang dan tantangan secara objektif dan kita akan dapat mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan untuk meraih semua peluang dan mengatasi semua tantangan. Pada saat itulah nikmat Allah akan terus bertambah dan bertambah.

Semoga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang senantiasa bersyukur dalam setiap situasi yang dihadapi. Amin.

*Petani cerdas dapat mengubah Tomat yang sekilo Rp 50 jadi lebih meningkat dengan makanan olahan.

*Ubah SMA BBS menjadi sekolah dengan keunggulan di sector pertanian dengan memanfaatan lahan luas misal dengan penanaman pohon buah, sayuran dll serta penerapan teknologi pertanian yang tepat guna.

Referensi

Dokumen terkait