• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUNGSI ASAL VIQUEQUE DAN SEJARAH MASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGUNGSI ASAL VIQUEQUE DAN SEJARAH MASA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUNGSI ASAL VIQUEQUE DAN SEJARAH MASA LALU Navita Kristi Astuti

PENDAHULUAN

Sebuah negara baru telah berdiri dan dinyatakan berdaulat pada tanggal 20 Mei 2002 dengan nama Republik Demokratik Timor Leste. Republik Demokratik Timor Leste, yang dulu disebut sebagai Timor Timur merupakan propinsi termuda di Indonesia sejak tahun 1975, yang melepaskan diri dari Indonesia pada tahun 1999 semenjak dilaksanakannya referendum bagi masyarakatnya untuk memilih menjadi negara yang merdeka atau secara otonomi di bawah negara Republik Indonesia.

Sejarah panjang telah dialami rakyat Timor Leste sampai mereka mendapatkan kemerdekaannya seperti sekarang ini. Selama kurang lebih 400 tahun rakyat Timor Leste berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Portugis. Namun, karena situasi politik di negara Portugal sendiri maka lambat laun pemerintah kolonial mulai memberlakukan dekolonisasi bagi negara-negara jajahannya. Akan tetapi dalam proses dekolonisasi tersebut tidak berjalan mulus-mulus saja, karena terjadi perang saudara yang kemudian memecah belah sikap politik masyarakat Timor Lorosae. Ada yang mendukung kemerdekaan secara penuh bagi rakyat Timor Lorosae, ada yang menginginkan integrasi dengan Indonesia, sebagian lagi menginginkan untuk tetap berada di bawah naungan pemerintahan Portugis.

Di beberapa daerah, sikap menentang kolonialisme telah muncul sebelum adanya proses dekolonisasi itu sendiri. Antara lain, perang Cova Lima pada tahun 1719, Cova Cotubaba tahun 1868-1869, dan Manufahi pada tahun 1912.1 Perlawanan yang paling mutakhir menentang kekuasaan Portugis berlangsung di Viqueque pada tahun 1959.

Dalam konteks sejarah yang dialami oleh rakyat Timor Lorosae inilah, diyakini bahwa pengalaman masa lalu yang turun temurun telah membentuk banyak aspek dalam kehidupan mereka saat ini. Berdasarkan keyakinan ini, maka ingin dicoba untuk melihat kehidupan rakyat Timor Lorosae dan sejarahnya, dengan memfokuskan perhatian pada distrik Viqueque yang sebagian penduduknya masih tinggal di kamp-kamp pengungsian di Kupang.

Viqueque adalah sebuah distrik yang terletak di bagian timur wilayah Timor Leste. Bersama-sama dengan distrik Los Palos, Baucau dan Manatuto, wilayah-wilayah tersebut masuk dalam kategori sektor timur. Terdapat pembedaan karakteristik antara orang Timor Leste bagian timur dengan bagian barat. Pembedaan timur dan barat antara orang Maubere menjadi istilah yang terkenal yang disertai stereotip tertentu, yaitu Firaco untuk orang sektor timur dan Caladi untuk bagian barat dari Timor Lorosae2. Stereotip yang melekat pada orang Caladi adalah masyarakat yang lebih beradab dan lebih diplomatis dibanding Firaco yang dianggap barbar dan lebih menyukai pertarungan dibandingkan perundingan. Pembagian stereotip ini sekilas tak terlalu penting, namun secara subyektif penulis menemukan fakta-fakta di lapangan yang kurang lebih mendekati anggapan di atas. Terlepas dari itu semua, sejarah jugalah yang telah membentuk karakter suatu masyarakat, sehingga penting sekali untuk mencermati dan menengok ke belakang apa yang telah terjadi.

PEMBERONTAKAN VIQUEQUE TAHUN 1959

Pemberontakan ini terjadi setelah masa perang dunia kedua, dan merupakan satu-satunya perlawanan terhadap kolonial Portugis pasca perang dunia kedua sebelum akhirnya Timor Leste diduduki oleh Indonesia. Pemberontakan yang terjadi di wilayah Uatulari dan Uatucarbau ini terjadi pada tahun 1959 yang menurut 1 Hill, ‘Gerakan Pembebasan Timor Lorosae”, halaman 54.

(2)

beberapa kesaksian diawali oleh sebuah kelompok dari Indonesia yang melarikan diri dari Indonesia karena terlibat dalam gerakan pemberontakan di Sulawesi Utara, PERMESTA dan dari Maluku, RMS3. Kelompok pelarian dari Indonesia ini kemudian mendapatkan suaka politik dari gubernur pemerintahan Portugis di Dili dan mereka mendapatkan pemukiman di Baucau.

Pada waktu itu, pemberontakan yang terjadi di Viqueque telah menyebabkan jatuhnya korban sekitar 160 – 1000 jiwa khususnya di daerah Uatulari dan Uatucarbau. Akibat dari pemberontakan tersebut, sebanyak 58 orang (yang kemudian menamakan diri mereka sebagai kelompok Movimento de 1959) ditangkap dan dibuang ke penjara-penjara di Angola, Mozambique dan Lisboa dalam kurun waktu 5 – 10 tahun. Mereka yang kembali ke Timor Leste sesudah rentang waktu tersebut kemudian mengidentifkasikan diri sebagai kelompok pro-integrasi terhadap Indonesia, yang kemudian mendukung partai APODETI yang didirikan sekitar pertengahan tahun 1974.

Menurut kesaksian Joao Baptista (direktur eksekutif komisi penerimaan, pencarian kebenaran dan rekonsiliasi) yang merupakan putra Uatulari, keturunan dari kelompok Movimento de 1959 ini kemudian meneruskan perjuangan bahkan mewarisi sikap dan garis politik para pendahulu mereka dengan tetap memihak kepada Indonesia, dan menamakan diri sebagai Junior ’59. Hal ini wajar, karena mereka mewarisi pengalaman pahit dari pendahulu mereka yang telah menjadi korban dari pembasmian gerakan pemberontakan oleh pemerintah kolonial Portugis yang mengakibatkan sikap anti terhadap orang asing yaitu bangsa Portugis.

MASA PENDUDUKAN INDONESIA 1975 - 1999

Masuknya Indonesia ke Timor Leste pada tahun 1975, sampai 25 tahun pendudukannya di wilayah tersebut telah menimbulkan banyak sekali korban di segala penjuru tanah Timor Lorosae. Hal ini disebabkan karena proses invasi yang tidak fair dari pihak militer Indonesia justru ketika Fretilin telah mengumumkan kemerdekaan rakyat Timor Leste pada tanggal 28 November 1975. Pendudukan yang tidak sesuai dengan azas-azas kemanusiaan ini kemudian melahirkan sejarah hitam selama 25 tahun dimana ratusan korban berjatuhan akibat pembunuhan, pembuangan secara paksa, perkosaan terhadap perempuan dan anak-anak, perpecahan antar sesama warga Timor Leste dan lain-lain.

Distrik Viqueque sendiri tak lepas dari berbagai peristiwa yang tidak berperikemanusiaan itu. Pembunuhan dan pembantaian terjadi setiap saat, bahkan pernah sampai menghabisi satu desa yang merupakan bagian dari distrik Viqueque.

Pastor Yosef Tani, SVD seorang imam yang bertugas di Uatulari menuturkan beberapa kejadian yang memusnahkan ratusan jiwa manusia khusus untuk wilayah Viqueque :

“Pada masa invasi militer ke Timor Leste, pernah terjadi satu batalyon TNI habis di gunung Matebian yang berbatasan dengan Los Palos, Viqueque dan Baucau karena berhadapan dengan gerilyawan di gunung tersebut. Untuk menaklukkan gerilyawan yang bersembunyi di sana, sekitar tahun 1979 militer melakukan aksi pembantaian dengan cara membombardir gunung tersebut dengan tembakan dari pasukan pesawat tempur, dari darat dan bahkan dari laut, serta merta dari segala penjuru. Mereka yang mati ditinggalkan begitu saja tanpa kubur di gunung tersebut, dan yang masih hidup seperti ibu-ibu dan anak-anak terpaksa harus menyerah dan turun dari gunung tersebut. Beberapa laki-laki yang menyerah kemudian digunakan oleh TNI sebagai informan untuk menaklukkan masyarakat yang masih membandel.”

Pembantaian Lacluta

(3)

George J. Aditjondro dalam bukunya “Menyongsong Matahari Terbit di Puncak Ramelau” menuliskan sebagai berikut :

…. pembantaian pada bulan September 1981 di Lacluta, Viqueque….

Selama bulan Juni sampai September (ketika Operasi Keamanan dilaksanakan) dan khususnya dalam minggu-minggu terakhir, kekejaman yang dilakukan oleh tentara Indonesia telah menyebabkan kematian beribu-ribu orang, termasuk yang sudah menyerahkan diri.

Paulino Gama, seorang bekas komandan gerilya yang menyerah pada Januari 1985 menambahkan kesaksiannya : “Di pegunungan Aitana, Lalini dan Santo Antonio, musuh menyembelih sekitar 400 laki-laki, perempuan dan anak-anak Timor Lorosae dalam suatu peristiwa yang kemudian dikenal dengan ‘Pembantaian Lacluta’.

Pembantaian Kraras dilakukan pasukan gerilyawan yang berhasil membunuh 15 tentara Indonesia. Dalam surat yang ditulis Virgilio Dos Anjos kepada … , Virgilio menggambarkan hal tersebut dengan gamblang, “Pada tanggal 7 September 1983, pasukan di bawah komando Jendral Benny Murdani memasuki Kraras (sebuah desa di Viqueque). Mereka menjarah, membakar dan menghancurkan semua dan membantai 200 orang di dalam pondoknya, termasuk orang-orang tua, orang sakit dan bayi.” Setiap orang yang cukup cepat melarikan diri ke hutan. Kemudian empat batalyon mengelilingi Bibileu dan pesawat tempur mengebom area tersebut terus menerus selama berminggu-minggu. Dalam operasi ini sekitar 800 orang dibantai dengan senapan mesin.

Laporan-laporan lain mengenai pembantaian tersebut menyebutkan bahwa beberapa orang yang menyerahkan diri di Buikarin dibakar di sepanjang sungai We-Tuku, dan beberapa orang yang menyerahkan diri di Viqueque dikubur hidup-hidup dengan tangan dan kaki yang terikat di dalam lubang-lubang di Sukaer-Oan.

Konflik yang terjadi di Uatulari

Konflik antara proaintegraii dan proakemerdekaan

TNI melalui taktik militernya telah memecah belah hubungan di antara orang-orang Viqueque. Kasus di Uatulari dapat kita jadikan contoh, kelompok yang mendukung integrasi dengan Indonesia digunakan oleh TNI untuk memata-matai kegiatan gerilyawan Falintil, sebagai akibatnya, satu persatu penduduk hilang tak tentu rimbanya, terjadi penculikan dan penyiksaan bagi mereka yang dicurigai anti integrasi terhadap Indonesia.

Konflik antara kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan ini ditandai pula oleh kematian beberapa orang yang dijadikan ‘alat’ oleh TNI, sebagai berikut, menurut penuturan Pater Yosef Tani, SVD selaku pastor paroki di desa Matahoi, kecamatan Uatulari.

1. Eugenio, mantan komandan Garda Paksi yang dibentuk pada tahun 1995 untuk wilayah Viqueque pada tahun 1997 dibunuh oleh anggota Falintil bersama-sama anggotanya dalam perjalanan, satu mobil semuanya tewas kecuali satu orang bernama Gaspar Fernandes, dia yang sekarang merupakan salah satu dari masyarakat yang mengungsi di kamp Tuapukan.

2. Mantan Falintil yang menjadi guru di sekolah dasar Matahoi, pada sekitar tahun 1990 dibunuh oleh dua orang Falintil ketika sedang mengajar di kelas, karena dia memberikan informasi kepada TNI tentang orang-orang yang menentang integrasi, khususnya anggota Falintil. Dia dipecat dari Falintil karena suka main perempuan.

(4)

memprihatinkan karena terjadi perpecahan di antara masyarakat yang saling bersaudara.

Konflik tanah

Perpecahan antara masyarakat di Uatulari akhirnya menjalar ke konflik hak kepemilikan tanah. Beberapa sumber mengatakan telah terjadi ratusan konflik atas hak milik tanah di Timor Lorosae. Hal tersebut kemungkinan akibat kebijakan yang berubah-ubah terhadap tata letak pemukiman yang ditetapkan oleh pemerintah yang berkuasa mulai dari pemerintah Portugis sampai pemerintah Indonesia. Konflik atas hak milik tanah juga terjadi di Viqueque-Uatulari yang jumlahnya mencapai puluhan kasus.

Menurut penuturan pater Yosef Tani, SVD pada jaman dahulu orang-orang Afaloicai yang berbahasa Nawuti yang memiliki tanah serta menggarapnya di dataran Uatulari. Pada tahun 1959 terjadi pemberontakan menentang kolonialisme Portugis yang sebagian besar pelakunya adalah orang-orang suku Nawuti. Pelaku-pelaku tersebut ada yang ditangkap, dibunuh dan ada yang lari ke hutan meninggalkan tanah garapan mereka. Akhirnya datanglah suku Makassae yang kemudian menempati tanah garapan tersebut, sampai datangnya pemerintah Indonesia, suku Nawuti yang pro-integrasi kembali mengambil tanah garapan mereka, sementara orang Makassae lari ke hutan dan bergerilya. Pada saat jajak pendapat tahun 1999 terjadi beberapa kekacauan termasuk beberapa kasus perampasan tanah. Konflik tersebut masih terjadi sampai saat ini dan dimediasi oleh NGO lokal di TLS, yaitu Yayasan HAK dan juga oleh imam-imam di gereja Uatulari.

Kasus tanah yang terjadi sangat kompleks karena menyangkut kepemilikan dari jaman pemerintahan Portugis sampai ke pemerintahan Indonesia. Kasus tanah sedemikian ruwetnya sehingga ketika ditelusuri satu persatu ada orang yang merampas tanah milik orang lain, dan sekaligus juga merupakan korban karena tanahnya sendiri dirampas oleh orang lain.

Pasca jajak pendapat, September 1999

Ketika telah dekat pelaksanaan referendum bagi masyarakat Timor Lorosae, menurut informasi dari Pater Yosef Tani, SVD, beberapa bupati menandatangani perjanjian pembumihangusan apabila tidak tercapai otonomi bagi wilayah Timor Leste, termasuk gubernur Abilio Osorio Soares turut menandatangani. Ada dua bupati yang tidak menandatangani perjanjian tersebut yaitu bupati Martinho (bupati Viqueque yang baru 10 hari dilantik) dan bupati Baucau. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan tidak dihancurkannya bangunan-bangunan di Viqueque dan Baucau pasca jajak pendapat 1999. Beberapa rumah yang terbakar sesungguhnya dibakar sendiri oleh pemilik rumah dan kemudian ditinggalkan begitu saja.

PENGUNGSI VIQUEQUE DI TIMOR BARAT

Untuk Viqueque, ada dua gelombang pengungsian yang menggunakan kapal yang berlayar melalui jalur laut selatan dan mendarat di Kupang. Pertama, kelompok Viqueque kota dan kemudian kelompok kedua dari Uatulari, Uatucarbau dan Lacluta. Beberapa daerah yang khusus, antara lain Uatulari, menurut penuturan Pater Yosef Tani, SVD bahkan pergi secara sukarela. Mengapa demikian, karena kelompok ini mempunyai keterkaitan dengan kelompok Junior ’59 yang mendukung integrasi Timor Leste ke Indonesia sejak tahun 1959.

(5)

kecamatan Uatulari mengelompok di wilayah tersendiri. Dari kelompok-kelompok ini terdapat orang-orang yang berpengaruh yang menjadi panutan bagi seluruh masyarakat dan diangkat sebagai pemimpin kelompok. Biasanya, para pemimpin kelompok ini adalah orang-orang yang berfaham pro-integrasi dan merupakan mantan anggota milisi, atau PNS atau bahkan anggota aktif TNI.

Pemetaan pengungsi dari distrik Viqueque di Timor Barat

Kecamatan Lacluta

Lokasi : kamp Tuapukan, di bagian belakang

Data pengungsi Lacluta (per tanggal 23 April 2001) yang didapat dari Bapak Filomeno Da Cruz, eks sekjona CNRT, pada saat kunjungan JRS Kupang ke Dilor akhir April 2001.

Nama

desa Jumlah pengungsiKK Jiwa KKSudah kembaliJiwa KKBelum kembaliJiwa

Lalini 50 275 6 40 44 235

Ahic 55 269 16 95 39 174

Dilor 187 860 30 204 157 656

Uma Tolu 50 241 7 39 43 202

Total 342 1645 59 378 283 1267

Beberapa nama di bawah ini merupakan orang-orang yang berpengaruh di kamp-kamp pengungsi :

Desa Dilor :

- Filipe Parada, anggota TNI-Kodim 1604 Kupang (praka). Tinggal di perumahan Kodim 1604 di Naibonat.

- Joao Careles, wakil komandan kompi milsas.

- Jose Maria Tilman, anggota TNI-Kodim 1604 Kupang.

- Julio Ribeiro, anggota TNI-Kodim 1604 Kupang.

- Marcelino Lopes

- Cancio Da Silva Gomes

- Faustino Soares Desa Lalini:

- Americo Thomas Desa Uma Tolu:

- Raimundo Soares Desa Ahic :

- Cipriano Lemos

- Dominggos Pires

Berkaitan dengan penyelesaian masalah pengungsi, untuk pengungsi dari kecamatan Lacluta telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

- Pertemuan rekonsiliasi di perbatasan untuk masyarakat Lacluta, sebagian besar dari desa Dilor, bulan Juni 2001.

- Kunjungan come and talk visit dari Viqueque.

- Kunjungan Go and See visit dari Kupang ke Viqueque, bulan Mei 2002 mengikutsertakan peserta sebagai berikut : 8 orang dari Lacluta, 2 orang Uatulari dan 8 orang Ossu. Kunjungan go and see visit tersebut kemudian menghasilkan keputusan sebanyak 30 – 40 KK berencana untuk pulang ke Timor Leste pada tanggal 12 Juni 2002.

(6)

Lokasi : kamp Noelbaki dan Tuapukan, di bagian tengah

Pengungsi dari Uatulari merupakan pengungsi terbanyak di kamp Tuapukan maupun Noelbaki.

Mereka berasal dari desa-desa sebagai berikut : Afaloicai, Makadiki, Matahoi, Uaitame, Oesoru. Belum ada data spesifk yang dimiliki oleh JRS berkaitan dengan populasi masyarakat pengungsi dari Uatulari.

Berikut adalah nama-nama orang yang berpengaruh untuk orang-orang Uatulari :

- Alipio Mascarinha, mantan anggota DPR, merupakan leader yang cukup keras menentang kemerdekaan Timor Leste. Ayahnya masih hidup dan tinggal di Uatulari.

- Gaspar Fernandes (atau Gaspar Kaikia)

- Cosme Amaral (eks camat Uatulari)

- Julio Maumeta

- Lino Amaral (Makikit aldeia Laka Rate, RK 12)

- Luis Boraca

- Afonso Fina (RK 01 Edemumu)

- Duarte

- Manuel Manulabi

- Agustinho (Matahoi)

(untuk kecamatan Uatulari masih dihimpun informasinya).

Kecamatan Oiiu

Lokasi : kamp Tuapukan dan Noelbaki

(untuk kecamatan Ossu masih dihimpun informasinya).

Karakteristik pengungsi Viqueque

Sejauh pengalaman tim JRS dalam pendampingannya terhadap para pengungsi Timor Timur di kamp-kamp di Kupang, pengungsi Viqueque adalah orang-orang yang memiliki watak keras dan sulit diketahui keinginan mereka yang sebenarnya. Hal ini dapat dipahami apabila kita mencermati apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun terhadap masyarakat mereka turun temurun, ratusan tahun menjadi bangsa yang terjajah ditambah dengan kekerasan yang terjadi yang telah menyebabkan jatuhnya korban. Khususnya distrik Uatulari, konflik yang terjadi di antara orang-orang Uatulari telah muncul sejak tahun 1959. Hal itu mengakibatkan pengungsi Uatulari di kamp paling sulit untuk bergerak pulang ke daerah asalnya. Ada informasi bahwa masyarakat Uatulari yang ada di Timor Leste pun masih terpecah belah akibat sejarah kekerasan dan pemecahbelahan yang panjang. Beberapa distrik lainnya agak lunak sifatnya dan lebih memiliki ikatan yang erat sebagai masyarakat di pengungsian, contohnya kecamatan Lacluta. Hal ini dapat dipahami karena kondisi geografs daerah Lacluta khususnya desa Dilor sangat jauh dari Viqueque kota yang menyebabkan masyarakat hidup sangat solid dan sangat tergantung pada pemimpinnya.

PENUTUP

(7)

pemberdayaan serta pendamaian hati menjadi kegiatan yang utama walaupun panjang dan melelahkan.

Akhir kata, tulisan inipun masih banyak kekurangan yang harus digali lebih banyak lagi, terutama untuk bagian kesinambungan proses pendamaian di antara warga Viqueque disertai pendekatan-pendekatan yang lebih intensif kepada masyarakatnya sendiri. Dame iha ita nia laran.

Selesai.

Kupang, akhir Mei 2002 Vita

Referensi

Dokumen terkait