NILAI BUDAYA DALAM BUKU CERITA RAKYAT
PASER DAN BERAU
Muhammad Choirudin1, Indah Ika Ratnawati2 Universitas Balikpapan1, Universitas Balikpapan2
pos-el: [email protected], [email protected]2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam buku Cerita Rakyat Paser dan Berau penyusun Syahiddin Dkk. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah Buku Cerita Rakyat Paser dan Berau penyusun Syahiddin Dkk. Data penelitian ini difokuskan pada nilai budaya dengan menggunakan teori 7 dimensi budaya oleh Koentjaraningrat. Selain itu peneliti hanya meneliti cerita yang berasal dari masyarakat Paser dengan menggunakan 5 cerita rakyatnya sebagai objek penelitian. Data diperoleh dengan teknik simak dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa nilai budaya yang terdapat dalam cerita rakyat masyarakat Paser yang sesuai dengan 7 dimensi budaya. Dapat disimpulkan bahwa terdapat 35 kutipan nilai budaya, yaitu 6 kutipan sistem peralatan hidup manusia, 5 kutipan sistem mata pencaharian, 5 kutipan sistem kemasyarakatan, 3 kutipan sistem bahasa, 4 kutipan sistem kesenian, 5 kutipan sistem pengetahuan, dan 7 kutipan sistem religi.
Kata kunci: cerita rakyat paser, nilai budaya.
ABSTRACT
This study aims to describe the cultural values contained in the book Cerita Rakyat Paser and Berau compiler Syahiddin Dkk. This type of research is qualitative descriptive. The source of this research data is the Paser Folklore Book and Berau compilers Syahiddin Dkk. This research data is focused on cultural values by using the theory of 7 cultural dimensions by Koentjaraningrat. In addition, researchers only examine the story that comes from the Paser community using 5 folk stories as the object of research. Data obtained by technique refer and note. The results show that there are several cultural values contained in Paser people's folklore that corresponds to the seven cultural dimensions. It can be concluded that there are 35 quotes of cultural values, 6 quotations of human living equipment systems, 5 quotes of livelihood systems, 5 community citation systems, 3 system language quotes, 4 art system citations, 5 quote systems of knowledge, and 7 quotations of religious systems.
Keywords: Paser folklore, culture value
1. PENDAHULUAN
Di Indonesia terdapat berbagai macam dan jenis cerita rakyat yang tersebar diseluruh daerah, dengan berbagai macam karakter serta isi yang banyak mengandung nilai serta norma yang berkaitan erat dengan nilai di masyarakat. Kalimantan timur dapat dikatakan sebagai ladang bahasa dan sastra lokal yang sangat subur, di antaranya cerita rakyat Paser dan Berau. Agar dapat diketahui secara luas oleh generasi muda saat ini, maka Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur telah mendokumentasikan berbagai cerita rakyat yang berasal dari Kabupaten Paser dan Berau (Syahiddin dk, 2013, Cerita
Rakyat Paser dan Berau, Kantor Bahasa Indonesia Kalimantan Timur: Samarinda).
Buku Cerita Rayat Paser dan Berau yang diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur sangat menarik untuk diteliti, karena buku ini mengangkat berbagai cerita yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Kalimantan Timur yang hingga saat ini oleh sebagian masyarakat masih disampaikan secara turun temurun kepada generasi muda karena dalam cerita tersebut banyak mengandung nilai dan norma dalam masyarakat. Dalam beberapa kegiatan, cerita rakyat masa lampau ini masih sering
ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat atau vestifal-vestifal budaya.
Berbagai norma bermasyarakat, nilai moral, budaya, dan adat istiadat yang terkandung dalam setiap cerita rakyat Paser dan Berau khususnya, sangat penting untuk diketahui dan dibahas dalam dunia pendidikan serta bagi peserta didik. Karena hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak nilai positif yang dapat berpengaruh terhadap moral para peserta didik serta masyarakat umum, sehingga seharusnya berbagai cerita daerah yang ada di Indonesia ini banyak kita gali untuk mengetahui berbagai nilai serta norma masyarakat zaman dulu yang sangat berpengaruh pula pada masyarakat zaman sekarang.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah berkembang dengan pesat menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat serta para peserta didik banyak melupakan cerita- cerita daerah dari daerah mereka masing- masing, sehingga tidak jarang generasi sekarang ini tidak mengetahui cerita rakyat dari daerahnya sendiri. Hal tersebut berpengaruh pula terhadap nilai moral masyarakat umum serta para peserta didik yang jauh berbeda dari nilai-nilai moral masyarakat zaman dahulu. Bahkan tidak jarang para peserta didik malah menganggap hal yang berbau zaman dahulu adalah hal yang kurang menarik dan ketinggalan zaman. Untuk itu Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur kembali mendokumentasikan serta mempublikasikan cerita-cerita rakyat agar para generasi saat ini dapat belajar bagaimana nilai moral yang positif yang diterapkan dalam masyarakat zaman dulu dan masih dipercaya hingga saat ini.
Banyak penulis muda yang memiliki genre dalam menulis berbagai cerpen maupun novel juga merupakan salah satu faktor yang membuat eksistensi dari cerita rakyat sangat kurang diminati oleh generasi muda saat ini. Generasi muda saat ini lebih menyukai aliran atau genre yang menceritakan percintaan, atau kisah hidup para remaja yang dapat dilihat hampir sama dengan yang mereka alami saat ini. Dengan
alasan tersebut maka Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menyusun kembali berbagai cerita rakyat diantaranya adalah yang telah disusun menjadi Buku Cerita Rakyat Paser dan Berau ini, agar dapat dipublikasikan dan dibaca oleh generasi muda yang belum mengetahui cerita-cerita rakyat dari daerahnya sendiri terutama Kalimantan Timur.
Selain itu dalam buku ini mengandung berbagai nilai budaya yang menarik untuk diteliti. Budaya itu sendiri diartikan sebagai sebuah pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang di peroleh dari anggota masyarakat Menurut Taylor (Munandar, 1987: 10). Selama ini penelitian yang mengangkat nilai budaya dalam cerita rakyat paser masih sangat sedikit, peneliti yang merupakan salah satu putra daerah tertarik untuk meneliti karena ini merupakan salah satu wujud cinta terhadap budaya daerah paser.
Salah satu cerita rakyat Paser yang dipercayai hingga saat ini adalah ³3utri Petung´ yang merupakan salah satu mitologi penduduk Paser (Kalimantan Timur) yang diyakini sebagai pemimpin atau ratu pertama kerajaan Sadurengas. Konon di daerah Paser
penduduknya masih sederhana
kehidupannya. Belum memiliki tata aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Keadaan penduduk tidak tentram tidak menentu, saling silang tikai. Dan disebabkan karena belum adanya pemimpin atau belum ditemukannya seorang yang dapat dijadikan pemimpin mereka. Di situlah banyak masyarakat yang sering terjadi pertikaian kesalahpahaman dan pembunuhan yang tidak bisa terelakkan. Dan masyarakat sering berpindah ladang dan pindah tempat, tidak ada kepastian dalam kehidupan. Masyarakat berburu hewan untuk dimakan bersama keluarga dan dibagi rata dengan teman-temannya. Ditengah kehidupan yang sarat pertikaian dan pertentangan, muncul lah dua orang yang oleh masyarakat tidak diketahui asal-usulnya. Masyarakat setempat telah berunding agar Tumindong Doyong atau Kaka Ukup (ada
juga ejaan Kakah Ukop) bersedia menjadi pemimpin mereka dan Tumindong Tau Keo sebagai wakilnya. Namun oleh keduanya usulan tersebut ditolak dengan mengatakan mereka tidak pantas karena memang bukan keturunan raja. Kaka Ukup kemudian mengajak sekelompok masyarakat untuk berlayar menuju ke pinggir langit untuk mencari orang yang pantas menjadi raja Paser.
Kemudian Kakah Ukop berkemas menyediakan alat-alat pelayaran dan membuat perahu yang sangat besar. Demikianlah maka pelayaran pertama pencarian raja dimulai oleh Kakah Ukop. Sesudah 3 tahun dalam perjalanan, Ia kembali ke negeri Paser dengan tidak membawa hasil sedikit pun. Lantaran desakan dari penduduk untuk mencari raja terus- menerus, maka Kakah Ukop dalam melakukan pencarian raja itu sampai berlangsung sebanyak 7 kali.
Pada perjalanan yang ke tujuh kalinya itulah Kakah Ukop sampai ke pinggir langit dan sempat bertemu dengan penduduk di sana. Kemudian Kakah Ukop menceritakan maksud dan keinginannya melakukan perjalanan ini adalah untuk mencari seseorang yang sekiranya patut dan pantas untuk dijadikan raja di daerah Paser. Keinginannya itu mendapat raja mendapat jawaban dari salah seorang penduduk di pinggir langit, bahwa orang yang pantas menjadi raja di Paser telah dikirim kesana maka mendengar jawaban tersebut segeralah kembalilah ke Paser. Dalam perjalan pulang, memasuki daerah Kuala Paser pada malam harinya Kakah Ukop bermimpi bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa, ³Apabila Kakah Ukop dalam pelayaran pulangnya tersebut mendapati sesuatu barang apa saja yang ditemuinya maka harus diambil dan jangan dibuang´. Pada keesokan harinya ketika Kakah Ukop pergi ke haluan perahunya, Ia melihat di depan perahunya menyangkut satu ruas betung yang besar. Teringatlah dia pada mimpinya semalam, maka diambilnya satu ruas betung tersebut. Demikianlah seruas betung itu besama-sama
dengan barang-barang yang diberikan penduduk pinggir langit dibawanya pulang.
Setelah sekian lama mereka menunggu datangnya seseorang yang akan menjadi raja di Paser ternyata tak pernah kunjung juga, melihat itu maka Kakah Ukop bermaksud kembali berlayar untuk yang kedelapan kalinya mencari seorang raja untuk daerah Paser. Berangkatlah Ia untuk yang ke delapan kalinya mencari seorang raja. Sepeninggal Kakah Ukop, istrinya yang bernama ³Itak Ukop´ berhubung dengan banyaknya turun hujan sehingga kayu api untuk persediaan memasak di atas salayan dapur habis sama sekali dan hanya tinggal seruas betung tersebut maka dengan tidak berfikir panjang diambilnya seruas betung itu untuk dijadikan kayu api dan dibelahnya. Sesudah betung itu dibelah, maka terdapatlah sebutir telur yang agak besar dan dengan sangat heran diambilnya telur tersebut kemudian ditaruhnya di dalam sebuh pinggan melawen. Tepat pada tengah malam, terdengarlah telur itu menetas dengan diiringi oleh tangis anak kecil sedang menangis. Anak itu diambil dan dimandikan oleh Itak Ukop serta diselimuti dengan kain cindai dan dipeliharanya dengan sangat baik. Anak itu adalah seorang perempuan dan diberinya nama Sari Sukma Dewi dengan julukan Putri Petung, karena asalnya didapat dari dalam belahan petung.
Ketika tiba di Muara Pasir, Kakah Ukop mendapat kabar bahwa istrinya mempunyai seorang anak perempuan yang cantik sepeninggalnya dalam pelayaran. Mendengar kabar itu, timbul lah marahnya sebab disangkanya istrinya telah berbuat serong dengan laki-laki lain sampai mendapat seorang anak. Dengan hati yang marah Ia mendatangi istrinya dan hendak membunuhnya. Tetapi hal tersebut dapat dicegah oleh tetangganya dan berceritalah tetangganya itu tentang kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Dengan adanya keterangan-keterangan yang sebenarnya terjadi setelah sepeninggalnya itu maka Kakah Ukop ingat kembali akan janji orang yang di pinggir langit itu, sehingga boleh jadi anak inilah yang dimaksud oleh orang di
pinggir langit itu yang akan menjadi raja di daerah Paser.
Demikianlah, mulai saat itu berusia 22 tahun, Putri Petung diangkat dan diakui oleh penduduk Paser sebagai ratu (raja putri) Sadurengas. Putri Petung kemudian menikah beberapa kali namun tidak pernah berhasil. Setiap lelaki dalam perkawinanannya mendadak mati atau lari dari peraduan sebelum malam pertama pernikahan. Hal tersebut disebabkan sari bambu yang melekat di badan Putri Petung. Hingga suatu ketika datanglah rombongan pelayaran syiar Islam dari Jawa yang dipimpin Ki Raden Mas Mantri atau Pangeran Indera Jaya dari Giri atau Abu Mansyur Indra Jaya. Pangeran tersebutlah yang berhasil menyembuhkan penyakit Putri Petung dan menikahinya. Setelah menikah, bongkahan batu yang berasal dari Giri dibongkar dari kapal layarnya dan disimpan di pemukiman Benuo hingga kini. Bongkahan batu tersebut oleh penduduk setempat dianggap keramat disebut dengan Batu Indra Giri. Dari perkawinan Putri Petung dengan Pangeran Indra Jaya menurunkan raja dan sultan kerajaan Sadurengas atau kesultanan Paser.
Berdasarkan cerita rakyat tersebut, tampak bahwa sastra daerah juga mempunyai kedudukan di tengah masyarakat, bahkan tidak banyak masyarakat yang masih percaya terhadap tradisi yang diceritakan dalam berbagai cerita rakyat seperi acara-acara adat dan berbagai macam sesembahan yang hingga saat ini masih sering dilakukan oleh masyarakat daerah di Indonesia. Setiap daerah di Indonesia yang mempunyai khasanah kebudayaan daerah sendiri dengan ciri keragaman bahasanya, mempunyai ragam sastra daerah sendiri pula. Seperti ragam sastra pada umumnya, sastra daerah memanfaatkan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra daerah merupakan khasanah budaya daerah yang penting untuk dijaga eksistensinya didaerah tempat sastra itu tumbuh. Kelangsungan sastra daerah bergantung pada antusias masyarakat untuk mempertahankannya. Jika masyarakat pemilik sastra disuatu daerah mempertahankannya, maka sastra daerah
akan terus tumbuh dan terjaga eksistensinya. Namun sebaliknya, bila tidak mampu mempertahankannya maka lambat laun hanya akan tinggal nama dengan prasasti yang tak bernilai dan akhirnya akan terkikis habis, mati dan punah di tanahnya sendiri.
Sastra daerah merupakan salah satu bentuk dari sastra lisan yang sudah ada dari zaman dahulu dan terus berkembang hingga saat ini. Tradisi lisan adalah salah satu bentuk seni sastra atau pegguanaan bahasa yang dituturkan dan diwariskan atau diekspresikan dalam bentuk teks-teks lisan Danandjaja dalam Taum (Kantor Bahasa Kalimantan Timur, 2013:1). Biasanya isi atau wujud dalam sastra daerah bermacam-macam, ada yang bersifat didaktis, kepahlawanan, keagamaan, pemujaan nenek moyang, tradisi adat, humoristis, serta bersifat sejarah. Cerita rakyat kabupaten Paser dan kabupaten Berau yang telah disusun ulang merupakan ceria- cerita yang bersifat didaktis dan tergolong dalam legenda dan dongeng.
Di Kalimantan Timur itu sendiri dapat dikatakan sebagai ladang bahasa dan sastra lokal yang sangat subur. Tampak dari luas wilayahnya 1,5 kali Pulau Jawa dan Madura itu terdapat 42 bahasa daerah, baik bahasa daerah pribumi (bahasa paser, bahasa kutai, bahasa tidung, bahasa kenyah, bahasa Lundayeh, bahasa Banuaq, bahasa Punan Long Lacim, dan bahasa Long Pulung) maupun bahasa daerah pendatang seperti Jawa, Sunda dan Bugis. Dalam kondisi ini terdapat 20 cerita rakyat yang tersebar di daerah Kabupaten Paser dan 17 cerita rakyat yang tersebar di wilayah kabupaten Berau.
Berbagai sastra lokal atau sastra rakyat di Kabupaten Paser dan Berau masih tetap dipelihara dan dinikmati oleh masyarakat, tidak serta merta berhenti atau ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya meskipun muncul berbagai macam dan jenis sastra modern. Masyarakat masih dapat menemukan seni berpantun yang menggunakan bahasa daerah. Bahkan, cerita rakyat semakin banyak dimasyarakatkan dalam bentuk yang lebih modern dan telah ditransliterasi dalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan generasi muda dalam
memahami makna dai masing-masing cerita rakyat tersebut.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak peneliti yang mencoba untuk menggali sebuah karya sastra dari nilai budaya karena hal-hal tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat umumnya. Penelitian mengenai nilai budaya dan semiotik dalam novel dilakukan oleh Nurul Hikmah dengan judul
³Nilai Budaya dalam Puisi Das Schenkenbuch Karya Johann Wolfgang Von GoethH´. Penelitian tentang nilai budaya lainnya dilakukan oleh Mardiana dengan judul ³Analisis Cerita Rakyat Berau Baddil Kuning Ditinjau dari Nilai BudayD´. Berdasarkan kedua penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa sebuah karya sastra dapat dianalisis dengan menggunakan nilai- nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti memilih judul ³Nilai Budaya dalam Buku Cerita Rakyat Paser dan Berau Penyusun Syahiddin Dkk´ dengan alasan untuk mengetahui berbagai nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat paser khususnya nilai budaya yang ada di lingkungan masyarakat.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah buku cerita rakyat Paser dan Berau penyusun Syahiddin dkk, tebal 470 halaman, edisi pertama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Selain itu peneliti juga menggunakan kartu data yang digunakan sebagai alat dalam mengelompokkan data penelitian, agar lebih memudahkan peneliti dalam menganalisis data penelitian. Peneliti menggunakan sumber-sumber pustaka yang ada dan menghubungkan dengan permasalahan atau objek penelitian.
Teknik pengupulan data selanjutnya dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik simak dan diikuti teknik catat. Teknik keabsahan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Jenis triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Triangulasi sumber data dalam penelitian ini menggunakan berbagai sumber data seperti artikel, jurnal dan situs di internet sedangkan triangulasi metode dalam penelitian ini adalah penggunaan berbagai metode.
Penelitian ini dibantu dengan menggunakan model analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman. Miles dan Huberman (Sugiyono, 2012: 246) mengemukakan bahwa langkah- langkah dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data. Langkah- langkah dalam analisis data meliputi reduksi data (data reduction), sajian data (data display), dan simpulan (conclusion drawing/verification).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Nilai budaya adalah suatu yang dianggap sangat berpengaruh dan dijadikan pegangan bagi suatu masyarakat, serta sebuah kebiasaan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih terus ada secara turun temurun. Jenis nilai budaya dibagi menjadi tujuh, yaitu peralatan kehidupan manusia, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, kesenian, sistem pengetahuan dan sistem religi.
Peralatan kehidupan manusia merupakan segala sesuatu yang diciptakan untuk membantu mempermudah dalam melaksanakan aktivitas kehidupannya, mata pencaharian merupakan masalah yang pokok karena keberlangsungan kehidupan terjadi karena terpenuhinnya kebutuhan-kebutuhan jasmani, sistem
kemasyarakatan merupakan pola
kehidupan setiap masyarakat yang didalamnya mengandung sistem-sistem dalam berbudaya, sistem bahasa
merupakan dialektis antara aspek kebudayaan yang ada dalam masyarakat, kesenian merupakan kemampuan dalam bidang seni dan secara evolusionis diwariskan pada generasi berikunya, sistem pengetahuan merupakan segala sesuatu yang dijadikan sebagai objektivitas empiris dan sistem religi merupakan sistem kepercayaan yang berlaku dalam kelompok-kelompok terbatas.
a) Sistem Peralatan Kehidupan Manusia
Sistem peralatan kehidupan manusia merupakan sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang-barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sistem ini tergambarkan dalam beberapa cerita rakyat, di antaranya ³Putri Petong´ ³Lalung dan Putri Junjung Bulau´, ³Sungai Suatang´, dan
³Burung Hantu dan Tujuh Pencari Rotan´.
Berikut kutipan datanya.
Konon pada zaman itu masyarakat masih menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu yang mereka olah sedemikian rupa. Rumah mereka juga masih dalam bentuk yang sederhana. Tiang terbuat dari batang pohon yang masih bulat, dindingnya kulit kayu, dan atapnya daun nipah yang diikat dengan rotan.(D1/PKh/PP)
Kutipan di atas tergambar dalam cerita ³Putri Petong´, dalam kutipan tersebut dijelaskan keadaan masyarakatnya yang
masih sederhana. Masih
menggunakan baju yang terbuat dari bahan seadanya, dan cara membangun sebuah rumah tinggal yang masih memanfaatkan bahan dari alam. Kutipan tersebut menggambarkan sebuah
system peralatan kehidupan manusia. Hal itu dapat dilihat dari keadaaan masyarakat yang masih menjadikan bahan alam sebagai perlengkapan mereka sehari- hari. Seperti membuat baju dengan bahan dasar kulit kayu yang mereka dapatkan dari pepohonan di hutan sekitar tempat tinggal mereka, kehidupan masyarakat zaman dulu masih sangat primitif dan belum mengenal kain sebagai bahan pembuatan pakaian. Selain itu bangunan rumah yang mereka buat hanya dengan menggunakan bahan yang berasal dari alam. Menggunakan batang pohon yang masih utuh atau bulat sebagai tiang penyangga, menggunakan kulit kayu sebagai dinding dan daun nipah sebagai atap. Hal tersebut merupakan hasil dari pemikiran manusia yang semakin maju. Walau dengan keterbatasan bahan dan alat mereka mampu membuat sesuatu yang bisa
membantu mereka dalam
memudahkan setiap kehidupan yang mereka jalani. Dalam kutipan tersebut tergambar sebuah hubungan Manusia dengan Alam, pada masa itu manusia banyak memanfaatkan alam yang ada disekitar tempat masayarakat itu tinggal. Mereka memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam seperti kulit kayu, dedaunan dan pepohonan yang kemudian digunakan sebagai berbagaimacam peralatan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Berdasarkan kutipan cerita rakyat di atas, dapat disimpulkan tentang sebuah sistem peralatan kehidupan manusia. Bahwa akal pikiran manusia bekerja untuk menciptakan sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang baru demi mempertahankan hidup mereka.
Dalam hal ini, manusia mampu
memanfaatkan bahan-bahan
sederhana yang tersedia di alam atau di hutan menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan membantu sebagai alat kehidupan manusia. Selain itu dalam beberapa kutipan dijelaskan berbagai hubungan antara Manusia dengan Alam, dalam kaitannya masyarakat dalam memanfaatkan bahan- bahan yang ada di alam sekitar tempat mereka tinggal.
b) Sistem Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian terlahir karena manusia memiliki hawa nafsu dan keinginan yang tidak terbatas dan selalu ingin lebih. Sistem mata pencaharian ini tergambar dalam cerita rakyat Paser diantaranya ³Putri Petong´,
³Lalung dan Putri Junjung Bulau´,
³Putri Darah Putih´, ³Sungai Suatang´ dan ³Burung Hantu dan 7 Pencari Rotan´.
Berikut adalah kutipannya,
Kehidupan masyarakat ini adalah bercocok tanam dengan sistem ladang berpindah-pindah. Selain berladang masyarakat ini hidup dengan berburu binatang di hutan.(D7/MP/PP) Kutipan di atas terdapat dalam cerita ³Putri Petong´, berdasarkan kutipan tersebut dijelaskan sebuah kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam secara berpindah- pindah dan juga masyarakat yang suka berburu binatang di hutan.Kutipan di atas menjelaskan sebuah sistem mata pencaharian, hal ini karena dalam kutipan tersebut bahwa di masa itu masih mengandalkan hasil ladang mereka dengan bercocok tanam, biasanya masyarakat Paser membuka ladang dengan membakar hutan dan dilakukan secara berpindah-pindah
kemudian ditanami berbagai jenis tanaman seperti padi, jagung, kacang-kacangan dan lain-lain. Tidak hanya bergantung dari hasil ladang mereka, tidak jarang mereka pergi ke dalam hutan untuk berburu binatang seperti kijang, kancil dan babi hutan, terkadang mereke juga pergi ke sungai- sungai kecil yang ada di hutan untuk mencari ikan. Dalam kutipan di atas menjelaskan sebuah hubungan antara manusia dengan alam, dalam cerita rakyat tersebut pada masa itu memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitar tempat masyarakat itu tinggal. Mereka memanfaatkan sungai dan tanah sebagai sumber kehidupan
sehari-hari karena kebanyakan
masyarakatnya bermata
pencaharian bercocok tanam dan berburu. Dalam hidup manusia
dituntut memenuhi setiap
kebutuhannya baik primer maupun sekunder. Hal itu dikarenakan setiap manusia bertanggung jawab atas diri mereka masing-masing, terutama dalam hal menghidupi diri sendiri.
Manusia harapannya tidak
bergantung dengan orang lain, karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda. Jika manusia sudah
mampu memenuhi setiap
kebutuhan itu, maka satu hal yang pasti akan lahir adalah kemandirian terutama dalam hal finansial. Begitu pula masyarakat paser dalam memenuhi kebutuhan finansial mereka masing-masing.
c) Sistem Kemasyarakatan
Sistem ini muncul karenakesadaran manusia, bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing antar individu sehingga timbul
rasa untuk berorganisasi dan bersatu. Unsur budaya ini menunjukkan bahwa bagaimana pun kuatnya seseorang, ia tetap membutuhkan interaksi sosial. Sistem kemasyarakatan ini terdapat dalam beberapa cerita rakyat paser, diantaranya, ³Putri Petong´, ³Lalung dan Putri Junjung Bulau´, ³Putri Darah Putih´, dan ³Sungai Suatang´. Berikut kutipannya,
Selain berladang, masyarakat ini hidup dengan berburu binatang di hutan. Masyarakat ini hidup
dengan penuh rasa
kegotongroyongan, gawi
segumi.(D12/SiK/PP).
Kutipan di atas berasal dari cerita
³Putri Petong´, kehidupan masyarakatnya saat itu bergantung dari hasil berburu dan berladang. Selain itu, dalam hal bermasyarakat mereka selalu bergotong royong dan saling membantu satu sama lain. Dari kutipan tersebut tampak sebuah sistem kemasyarakatan, hal ini karena telah tergambarkan bahwa kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling bersinergi antara pemimpin atau raja dengan masyarakat yang selalu
bergotong royong dalam
menyelesaikan sesuatu. Perilaku ini masih sangat kental dikalangan masyarakat paser dan masyarakat umumnya karena dengan bergotong royong lebih bisa memudahkan setiap manusia dalam memenuhi tujuan yang ingin mereka capai bersama serta menjalin rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang erat antar setiap masyarakatnya. Dalam kutipan di
atas menjelaskan sebuah
hubungan antara manusia dengan masyarakat. Digambarkan dalam masyarakat tersebut yang sangat menjunjung tinggi kerjasama atau
gotong royong. Hal ini dilakukan agar pekerjaan dapat mudah diselesaikan dan dapat menjalin rasa kebersamaan. Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Paser pada masa lalu sangat menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan dalam setiap aktifitas yang dilakukan. Selain itu di wilayah Paser juga terdapat berbagai kerajaan yang pernah berdiri dan berhasil membawa kemakmuran bagi masyarakatnya.
d) Sistem Bahasa
Bahasa adalah sesuatu yang berawal dari sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar
sesama manusia. Bahasa
merupakan alat komunikasi manusia, tanpa bahasa maka tidak akan terjadi komunikasi antar sesama manusia. Sistem bahasa ini tampak pada beberapa cerita rakyat Paser, diantaranya ³Putri Petong´,
³Lalung dan Putri Junjung Bulau´, dan ³Sungai suatang´.
Berikut kutipannya,
Pada saat pemotongan tali pusar si jabang bayi, Pak Pego sang kakek, berkata, ³dian mekus iyo upuku, buen yo olo endo taka nape penyombolum taka yo usang´
Dengan lahirnya cucuku ini,
baiknya kita tinggalkan
penghidupan kita yang
lama.(D17/SiB/PP)
Kutipan di atas berasal dari cerita
³Putri Petong´, diceritakan sebuah kegiatan pemotongan tali pusar jabang bayi oleh salah seorang tetua pemangku adat di masyarakat tersebut. Saat prosesi pemotongan tali pusar si jabang bayi, Pak Pego selaku kakek dari bayi tersebut membacakan sebuah do¶a dan harapan kepada sang pencipta agar supaya mereka semua dapat
bangkit dan meninggalkan kehidupan lama mereka.
Dari kutipan tersebut tampak adanya sistem bahasa yang disertai dengan pembacaan sebuah ritual pemanjatan doa atau pembacaan
mantra agar mendapatkan
kehidupan yang lebih baik. Mantra tersebut diucapkan oleh tetua setempat menggunakan bahasa Paser yang merupakan bahasa daerah dan bahasa yang sehari-hari mereka gunakan. Selain makna dari mantranya yang baik, pengucapan dan pelafalan sebuah bahasa dalam mantra pasti sangatlah indah. Jadi, dari kutipan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat Paser pada masa itu adalah bahasa Paser. Bahasa ini hanya dipahami dan dimengerti oleh para penutur aslinya saja, bahkan bahasa ini masih sering digunakan oleh sesama penutur bahasa Paser dalam setiap kegiatan atau berkomunikasi satu sama lain. Namun ketika mereka bertemu dengan penutur dari suku lain, maka mereka akan merubah bahasa yang mereka gunakan menjadi bahasa Nasional yang lebih dipahami oleh setiap manusia dan suku di Indonesia.
e) Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka, sehingga lahirlah sebuah kesenian atau karya seni. Sistem kesenian ini tergambar pula pada beberapa cerita raakyat Paser, seperti ³Putri Petong´, dan ³Lalung dan Putri Junjung Bulau´. Berikut kutipannya, ³kami akan persiapkan sebuah acara malam ini´ lanjutnya.
Pada malam hari setelah acara penyambutan tamu kepala desa membeberkan kejadian yang dialami desanya beberapa waktu terakhir.(D20/Ksn/PP)
Kutipan di atas berasal dari cerita
³Putri Petong´, diceritakan disebuah desa sedang kedatangan tamu dari daerah lain. Dengan penuh rasa gembira, kepala adat meminta masyarakatnya untuk
mengadakan sebuah acara
penyambutan. Setelah acara itu selesai, kepala desa langsung menceritakan semua masalah- masalah yang dialami desa tersebut dan bermaksud meminta bantuan. Kutipan tersebut mengandung sebuah sistem kesenian, hal ini digambarkan dalam kutipan tersebut bahwa telah dilaksanakan
sebuah acara penyambutan
disebuah kerajaan tersebut. Bagi masyarakat Paser, kedatangan seorang tamu berarti kedatangan seorang saudara baru, untuk itu mereka dengan penuh suka cita dalam menyambut tamu yang datang. Mereka menyambut para tamu yang hadir dengan berbagai jamuan, dengan pesta dan tari- tarian dan supaya tamu yang datang merasa betah berada dilingkungan mereka dan merasa menjadi bagian dari lingkungan barunya. Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Paser memiliki berbagai kesenian yang sering mereka gunakan dalam setiap kegiatan. Dari kesenian yang ditampilkan ketika mereka menyambut tamu yang datang ke rumah, seni gerak tubuh yang bisa digunakan sebagai pertahanan diri, hingga kesenian seperti puji- pujian kepada sang pencipta atau sesamanya, dan jugD GR¶D serta harapan yang dikemas dalam sebuah mantra-mantra yang indah.
f) Sistem Ilmu Pengetahuan
Sejak dulu, ilmu pengetahuan mempunyai posisi penting dalam aktivitas beripikir manusia. Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari dua gabungan kata, akan tetapi berbeda makna, yakni ilmu dan pengetahuan. Segala sesuatu yang diketahui merupakan definisi pengetahuan, sedangkan ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode tertentu. Sistem pengetahuan adalah sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda, sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula. Sistem pengetahuan ini tergambar dalam beberapa cerita rakyat paser, diantaranya ³Putri Petong´,
³Sungai Suatang´ dan ³Burung Hantu dan Tujuh Pencari Rotan´. Berikut kutipannya,
Para pedagang itu membawa barang dari daerah mereka. Ada yang menjual kain, barang pecah belah, gula dan tembakau. Di zaman itu para pedagang dan pembeli saling bertukar barang (barter). Mereka saling memesan
barang-barang yag
dibutuhkan.(D24/SIP/PP)
Kutipan di atas berasal dari cerita
³Putri Petong´, diceritakan pada masa itu para pedagang yang datang dari berbagai wilayah itu
membawa berbagai barang
diantaranya kain, barang pecah belah, gula dan tembakau. Pada saat itu belum ada alat yang digunakan untuk membeli barang dagangan mereka sehingga antara pedagang satu dengan pedagang lain hany melakukan kegiatan barter untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan.
Dari kutipan tersebut terdapat sebuah sistem pengetahuan, hal ini
digabarkan dalam kutipan tersebut adalah kegiatan perdagangan disuatu daerah di kerajaan tersebut. Para pedagang lain yang berasal dari luar wilayah kerajaan berbondong-bondong datang untuk mencari barang yang mereka
butuhkan dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari mereka, akan tetapi karena pada masa itu belum dikenal uang sebagai alat dalam pembayaran barang yang di beli. Maka muncul pemikiran masyarakat tentang bagaimana untuk saling mendapatkan barang yang mereka butuhkan, dengan melakukan kegiatan barter atau saling bertukar barang dagangan. Meskipun barter bukan hal baru yang dilakukan para pedagang dari luar daerah, tetapi hal tersebut
menjadi salah satu ilmu
pengetahuan yang mereka
dapatkan didalam hal berdagang atau menjual dan membeli barang lain.
Dalam kutipan di atas
menggambarkan sebuah hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Kecerdikan diperlukan seseorang untuk memunculkan ide atau inisiatif dalam melakuka sesuatu yang besar. Dalam cerita ini kecerdikan atau inisiatif yang dimunculkan adalah dengan membuat sistem perdagangan dengan sistem barter atau saling bertukar barang. Berbagai pengetahuan masyarakat Paser yang digunakan disegala bidang, perdagangan hingga hal yang terkadang kurang difikirkan orang lain adalah ketika memasuki hutan. Pengetahuan ini turun temurun seiring dengan munculnya generasi baru, dan meskipun saat ini teknologi sudah semakin canggih namun hal-hal yang lebih mudah untuk dilakukan ini lebih sering digunakan atau diterapkan. Seperti
tidak semua orang memiliki dan mengerti cara kerja kompas, untuk itu bisa melakukan hal- hal sederhana yang sudah sering dilakukan oleh masyarakat zaman dulu
g) Sistem Religi
Yang dimaksud sistem religi disini adalah sistem kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha pencipta yang muncul kerena adanya kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa. Ada kalanya pengetahuan, pemahaman dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Sistem keyakinan menurut Koentjaraningrat dapat berwujud pada pikiran manusia, yang menyangkut keyakinan dan konsep manusia tentang tuhannya, tentang zaman akhirat, wujud alam gaib, tentang ciri dan wujud kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-dewa, roh jahat, hantu dan makhluk halus lainnya. Sistem religi ini terdapat dalam beberapa cerita rakyat Paser, diantaranya
³Lalung dan Putri Junjung Bulau´,
³Putri Darah Putih´, ³Sungai Suatang´ Gan ³Burung Hantu dan Tujuh Pencari Rotan´. Berikut kutipannya, ³duduklah di batu itu, Lalung. Nanti aku berikan kekuatan agar kamu dapat memenuhi keinginan Putri Junjung BulaX ´ kata burung belatik. (D29/SiR/LPJB)
Kutipan di atas berasal dari cerita
³Lalung dan Putri Junjung Bulau´, diceritakan bahwa Lalung yang sedang termenung memikirkan
persyaratan yang diberikan oleh sang putri. Tiba- tiba lalung dikagetkan dengan suara burung belatik yang menawarkan bantuan
untuk menolong dalam
menyelesaikan syarat dari tuan putri.
Dalam cerita tersebut terdapat sistem religi, hal itu digambarkan dalam kutipan
tersebut adalah sebuah
kepercayaan terhadap roh alam yang memiliki kekuatan sakti dan bisa memberikan kekuatan kepada manusia. Burung belatik merupakan salah satu jenis burung hutan yang dijadikan jelmaan oleh roh yang ada di alam, sehingga burung tersebut dapat berbicara selayaknya manusia dan memiliki kekuatan yang sakti. Burung tersebut melihat Lalung yang sedang termenung dan berniat membant serta memberikan kekuatannya pada Lalung agar dapat memenuhi permintaan sang putri.
Dalam kutipan tersebut dijelaskan sebuah hubungan antara manusia dengan tuhan. Menggambarkan kehidupan masyarakat masa itu yang masih mempercayai berbagai hal-hal mistis seperti roh alam yang sakti dan dapat memberikan kekuatan serta membantu manusia. Lalung mempercayai bahwa burung belatik memiliki kekuatan
yang dapat membantu
menyelesaikan masalahnya.
Berbagai macam kepercayaan masyarakat Paser zaman dalu yang bisa kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan kita. Berbagai macam pantangan yang harus kita hindari, dan juga berbagai kesaktian yang pernah ada pada masa itu. Berbagai keyakinan tersebut hadir dari berbagai macam pola fikir manusia terhadap hal-hal lain yang
sifatnya gaib atau tidak sesuai dengan nalar manusia. Sistem kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha pencipta yang muncul kerena adanya kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan
Maha Kuasa, dan sistem
kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dapat disimpulkan bahwa dalam cerita rakyat Paser terdapat berbagai unsur dalam nilai- nilai budaya, diantaranya sistem peralatan kehidupan manusia, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, sistem bahasa, kesenian, sistem pengetahuan dan sistem religi. Penelitian ini dikhususkan pada cerita rakyat Paser.
Berdasarkan objek penelitian yang digunakan peneliti, peneliti menggunakan 5 cerita rakyat Paser sebagai objek penelitiannya, ke-5 cerita rakyat tersebut merupakan cerita yang paling banyak dikenal oleh masyarakat Paser serta merupakan cerita yang masih sering diceritakan turun-temurun. Dari 5 cerita rakyat tersebut, peneliti menemukan 35 kutipan dari cerita rakyat tersebut dan menjadi data utama yang diteliti.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa sistem religi merupakan unsur nilai budaya yang paling banyak ditemukan, yaitu 7 kutipan. Hal itu menandakan bahwa masyarakat Paser sangat kental dalam sistem kepercayaan mereka terhadap sesuatu seperti pantangan yang harus dijauhi, serta kepercayaan kepada sang pencipta. Selain itu dalam sistem peralatan kehidupan manusia ditemukan sebanyak 6 kutipan, hal ini menunjukkan berbagai peralatan yang digunakan dan segala sesuatu yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupan mereka. Dalam mata
pencaharian ditemukan 5 kutipan, menunjukkan bahwa beraneka ragam cara manusia dalam mempertahankan hidup mereka dan juga bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Dalam sistem kemasyarakatan terdapat 5 kutipan, hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Paser pada masa itu sangat menjunjung kekeluargaan dan kebersamaan diantara mereka serta mempererat kesatuan dengan menentukan seorang pemimpin diantara mereka. Dalam sistem bahasa terdapat 3 kutipan, karena memang pada masa itu belum ada bahasa persatuan sehingga mayoritas masyarakat Paser menggunakan bahasa Paser dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama masyarakat. Dalam kesenian terdapat 4 kutipan, hal ini menunjukkan berbagai kesenian yang tumbuh diantara masyarakat Paser dari mantra dan juga puji-pujian yang disampaikan. Dan dalam sistem pengetahuan terdapat 5 kutipan, yang menggambarkan berbagai pengetahuan yang dimiliki masyarakat paser saat itu sehingga mereka bisa menjalani setiap kegiatannya dengan baik.
5. DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Hikmah, Nurul. 2014. Nilai Budaya dalam Puisi ³Das SchenkenbucK´
Karya Johann Wolfgang Von Goethe. Yogyakarta. Skripsi. Mardiana. 2014. Analisis Cerita Rakyat
Berau Baddil Kuning Ditinjau dari Nilai Budaya. Samarinda. Skripsi. Moleong, Lexy J. 2015. Metode
Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ratna, Nyoman Kutha. 2011.
Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta. Syahiddin, dkk. 2013. Cerita Rakyat
Paser dan Berau. Samarinda: Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.
Utomo, Imam, Budi, dkk. 2013. Deskripsi dan Nilai-nilai Kearifan Lokal. Samarinda: Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.