tahun 1938 yang bernama Charles Morris. Ia membagi ilmu tentang tanda atau

Teks penuh

(1)

10 BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pragmatik

Istilah pragmatik pertama kali muncul berasal dari seorang filosof pada tahun 1938 yang bernama Charles Morris. Ia membagi ilmu tentang tanda atau semiotik menjadi tiga konsep dasar, yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaktik mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda, semantik mempelajari tanda objek dan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dan penafsir. Dari semua cabang linguistik ini hanya pragmatik sajalah yang memungkinkan orang masuk ke dalam suatu analisis karena berkaitan erat dengan tindak ujar atau speech act. Para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip ujaran, yaitu daya ilokusi (illocutionary force), prinsip-prinsip percakapan (conversational principles), dan presuposisi (presuppositions). Heatherington dalam Tarigan (2009: 30).

Definisi pragmatik telah banyak disampaikan para linguis yang menggeluti pragmatik. Beberapa pengertian mengenai pragmatik akan disampaikan pada bagian ini agar didapatkan gambaran yang jelas apa sebenarnya yang dimaksud pragmatik itu. Menurut Yule dalam Cutting (2002:2) menyatakan,

pragmatics and discourse analysis study the meaning of words in context, analysing the parts of meaning that can be explained by knowledge of the physical and social world, and the socio- psychological factors influencing communication, as well as the knowledge of the time and place in which the words are uttered or written.”

(2)

11

Pragmatik dan analisis wacana adalah ilmu tentang makna ujaran pada konteksnya, yang menganalisis bagian bagian makna yang dapat dijelaskan oleh pengetahuan fisik dan ilmu sosial, bukan hanya faktor psikologi-sosial yang dapat mempengaruhi cara berkomunikasi, tetapi juga keadaan waktu dan tempat dimana tuturan tersebut diucapkan atau dituliskan.

Lalu menurut Van Jick dalam bukunya Text and Context Pragmatics (1977) menyatakan bahwa “Pragmatics would have the task of studying ‘the relationships between signs and their user.” Pragmatik mempelajari hubungan antara lambang (bahasa) dan para penuturnya. Maksudnya yaitu cara mengetahui makna dari tuturan dan mitra tutur tersebut. George Yule dalam bukunya yang berjudul Pragmatics (1996:3) menyatakan juga bahwa “pragmatics is concerned with the study of meaning as communicated by a speaker (or writer) and interpreted by a listener (or reader).” Dijelaskan lebih lanjut bahwa “this type of study necessarilyinvolves the interpretation of what people mean in a particular context and how the context influences what it said.” Dengan demikian ilmu pragmatik melibatkan interpretasi seseorang dalam memahami suatu konteks.

Levinson dalam Rahardi, (2005:48) mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Konteks yang dimaksud tergramatisasi dan terkodifikasi sehingga tidak dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. Menurut Parker dalam Rahardi (2005:48) pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal. Adapun yang dimaksud dengan hal itu adalah bagaimana satuan lingual tertentu digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. Tokoh ini membedakan pragmatik dengan studi tata bahasa yang dianggapnya sebagai studi seluk beluk bahasa secara

(3)

12

internal. Menurutnya, studi bahasa tidak perlu dikaitkan dengan konteks, sedangkan studi pragmatik mutlak dikaitkan dengan konteks.

George Yule dalam bukunya yang berjudul Pragmatics (edisi terjemahan oleh Indah Fajar Wahyuni dan Rombe Mustajab) (2006:3-4) dijelaskan bahwa ilmu pragmatik mempunyai empat batasan:

1. Pragmatik adalah studi yang mempelajari tentang maksud penutur.

2. Pragmatik adalah studi yang mempelajari tentang makna kontekstual.

3. Pragmatik adalah studi yang mempelajari tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan.

4. Pragmatik adalah studi yang mempelajari tentang ungkapan jarak hubungan.

Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik, atau dengan perkataan lain, membahas segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung pada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan. Secara kasar dapat dirumuskan: Pragmatik = makna-kondisi-kondisi kebenaran (Tarigan,2009:31) atau studi mengenai hubungan antara bahasa dan konteks. Dalam pragmatik, dibutuhkan adanya konteks tutur dan pemahaman pengetahuan atau informasi yang sama (shared knowledge), karena sangat mungkin terjadi ambiguitas (makna ganda atau makna kabut) dalam suatu tuturan. Karena itu, makna suatu tuturan dan makna yang dimaksudkan oleh penutur (atau yang ditangkap orang petutur) dapat saja berbeda dalam pragmatik.

(4)

13

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat ditegaskan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi. Pragmatik menyelidiki makna yang terikat pada konteks yang mewadahi dan melatar belakangi bahasa itu. Jadi dapat dikatakan bahwa hubungan antara bahasa dengan konteks merupakan dasar dalam pemahaman pragmatik.

2.2 Tindak Tutur

Teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh John Austin (1956) dalam bentuk kuliah yang kemudian dituliskan dalam bentuk esai dengan judul “How to do Things with words?” Teori tindak tutur itu berkembang setelah mahasiswanya, John Searle (1969), menulis buku “Speech Acts: An Essay in the Philosophy of

language”, dan mengatakan bahwa komunikasi bukan hanya sekedar simbol, kata

atau kalimat tetapi hasil dari simbol ujaran (utterance) yang berwujud perilaku tindak tutur (fire performance of speech acts.)

Chaer (1995:65) berpendapat bahwa tindak tutur adalah makna dari bentuk kalimat yang membedakan lokusi, ilokusi, perlokusi dan mengikutkan situasi dalam penentuan makna bahasa. Teori tindak tutur memusatkan perhatian pada penggunaan bahasa mengkomunikasikan maksud dan tujuan pembicaraan. Lalu pengertian tindak tutur lainnya di jelaskan oleh Yule (1996: 46) secara jelas,

“In attempting to express themselves, people do not only produce utterance containing grammatical structures and words, they perform actions via those utterance. Action performed via utterances are generally called speech acts.”

(5)

14

Dalam mengekspresikan perasaannya, manusia tidak hanya menuturkan kalimat-kalimat sesuai dengan struktur gramatikalnya saja. Mereka juga bertindak melalui tuturan tersebut. Tindakan yang dilakukan melalui tuturan disebut tindak tutur (speech acts).

Tuturan adalah suatu ujaran dari seorang penutur terhadap mitra tutur ketika sedang berkomunikasi. Tuturan dalam pragmatik diartikan sebagai produk verbal (bukan tidak verbal itu sendiri) (Leech,1993:20). Sementara itu menurut Tarigan (2009:33) setiap ujaran atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu. Lebih tegasnya, tindak tutur adalah produk atau hasil kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi bahasa.

Menurut Cummings (2007:363) tindak tutur merupakan indikator penting bagi fungsi pragmatik. Subjek mungkin bisa memproduksi tindak tutur, namun tidak bisa mengubah sifat langsung berbagai tindak tersebut sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan kesantunan. Pada kondisi lain subjek mungkin tidak dapat mengetahui maksud penutur dalam menyatakan suatu ujaran, yang berdampak pada implikasi dalam konteks yang ada untuk memahami tindak tutur tindak tutur tidak langsung. Dalam Pragmatics and Discourse, Austin sendiri menyatakan, “speech acts as the action performed in saying something. Speech acts theory said that the action performed when an utterance is produced can be analysed on three different levels” (2002:16). Tindak tutur merupakan sebuah tindakan yang dilakukan dalam mengatakan sesuatu. Teori tindak tutur menyatakan bahwa tindakan ketika sebuah tuturan diucapkan dapat dianalisis pada tiga tingkatan yang berbeda.

(6)

15

Austin dalam Cummings (2007:9) menjelaskan bahwa tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu tetapi untuk memberikan kontribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi. Menurut Austin (1962) dalam buku Pengajaran Pragmatik (Tarigan,2009:34) tindak tutur terbagi menjadi tiga tingkatan. Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi.

2.2.1 Macam- Macam Tindak Tutur

Di dalam pragmatik, tuturan merupakan suatu bentuk tindakan dalam konteks situasi tutur sehingga aktivitasnya disebut tindak tutur. Istilah tindak tutur atau speech acts sendiri mulai diperkenalkan oleh filosof Inggris J.L Austin. Austin membuat tiga macam tindak tutur yaitu, lokusi, ilokusi dan perlokusi (Leech,1986:199) Berikut penjelasan dari ketiga istilah tersebut.

2.2.1.1 Tindak Lokusi

Tindak lokusi, yang merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Austin dalam How to do things with words (1962:100) menyatakan bahwa tindak ilokusi adalah “The act of saying something” maksudnya tindak lokusi adalah tuturan yang disampaikan oleh penutur sesuai dengan keadaan situasi yang sesungguhnya tanpa ada indikasi tuntuk mencapai tujuan lain dari tuturannya tersebut. Dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud atau fungsi tuturan. Pada tindak tutur jenis ini

(7)

16

seorang penutur mengatakan sesuatu secara pasti, gaya bahasa penutur langsung menuju pada sesuatu yang diutamakan dalam isi ujaran. Dengan demikian, tuturan yang diutamakan dalam tindak lokusi adalah isi ujaran yang diungkapkan oleh penutur, contohnya sebagai berikut:

Konteks: Seorang anak kecil yang merasa lapar karena ditinggal ibunya belanja ke pasar.

(2) “I’m hungry”

Tuturan (2) tersebut di atas dari segi lokusi memiliki makna sebenarnya. Tuturan tersebut menyatakan bahwa penutur lapar tanpa ada indikasi untuk menyuruh mitra tuturnya untuk membawakan makanan, ataupun maksud dan tujuan lainnya. Dengan demikian, dari segi lokusi kalimat di atas merupakan sebuah pernyataan bahwa kalimat (2) termasuk kedalam tindak tutur lokusi. Berdasarkan pengertian dan contoh di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tindak tutur lokusi hanya berupa tindakan menyatakan sesuatu dalam arti yang sebenarnya tanpa disertai efek terhadap mitra tuturnya. Makna kata dalam tuturan lokusi itu sesuai dengan makna kata di dalam kamus.

2.2.1.2 Tindak Ilokusi

Tindak tutur ilokusi yaitu pengucapan suatu pernyataan, tawaran, janji pertanyaan dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk- bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. Yule (1996:48) “illocutionary act is performed via the communicative force of an utterance. We might utter to make statement, an offer an explanation, of for some other communicative purpose.” Tindak tutur ilokusi merupakan sentral untuk memahami tindak tutur. Hal tersebut

(8)

17

dikarenakan harus mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan dimana tindak tutur tersebut terjadi. Selain itu, Austin menyatakan bahwa tindak ilokusi adalah pembuatan pernyataan, tawaran, janji dan lain-lain.

Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasikan sebagai tindak tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu. Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi. Hal itu terjadi karena tindak tutur ilokusi itu berkaitan dengan siapa yang bertutur, kepada siapa, kapan dan di mana tindak tutur dilakukan. Pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur. Tidak seperti tindak tutur lainnya, tindak tutur ilokusi mempunyai daya paksa terhadap mitra tuturnya.

Contohnya adalah sebagai berikut,

Konteks: Bos menuturkan saya lapar kepada anak buahnya pada saat jam istirahat kerja berlangsung.

(3) “I’m hungry”

Konteks: Seorang mitra kerja memohon bantuan kepada rekan kerjanya karena perusahaannya sedang bangkrut.

(4) “I need your help”

Ketika seorang bos mengatakan tuturan (3) kepada anak buahnya. Tujuan tuturan ini adalah penutur meminta dibawakan makanan, kalimat tersebut merupakan suatu tindak ilokusi dan secara tidak langsung penutur minta dibawakan makanan oleh mitra tuturnya. Begitu juga kalimat (4), ketika seorang mitra bisnis sedang jatuh atau bangkrut, lalu ia menuturkan tuturan (4) ia bukan hanya suatu pernyataan saja tapi maksudnya adalah si penutur benar- benar

(9)

18

meminta bantuan kepada mitra tuturnya untuk membantu menyelsaikan permasalahan perusahaan yang sedang dihadapinya..

2.2.1.3 Tindak Tutur Perlokusi

Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang berupa efek atau dampak yang ditimbulkan oleh penutur terhadap mitra tutur, sehingga mitra tutur melakukan tindakan berdasarkan isi tuturan. Austin (1962:114) menyatakan bahwa tindak tutur perlokusi adalah ‘the achieving of certain effect by saying something” maksudnya adalah ketika tuturan yang diucapkan penutur memberi efek atau daya pengaruh (perlocutionary force) terhadap perasaan, pikiran maupun perilaku mitra tutrnya.

Tindak tutur perlokusi, yang juga dinamakan the act of affecting someone, berada pada pemahaman penutur (addressee) yang menangkap makna pada daya pengaruh (perlocutionary force) atau dampak tuturan itu. Dampak tersebut dapat berupa pengaruh yang dimaksudkan oleh penutur atau yang tidak dimaksudkan sama sekali. Tindak tutur ini lebih kompleks dan lebih sulit ditetapkan maknanya, karena untuk memahaminya kita harus terlebih dahulu mengenal konteks tuturnya. Makna yang tertangkap atau dipahami pada tindak perlokusi sangat tergantung pada persepsi dan pemahaman mitra tutur (addressee)

Tindak tutur perlokusi dapat dilihat dari beberapa verba yang digunakan. Beberapa verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, menarik perhatian, dan sebagainya.

(10)

19

Tindak tutur perlokusi dapat menghasilkan efek atau daya ujaran terhadap mitra tutur hasilnya rasa khawatir, rasa takut, sedih, senang, putus asa, kecewa, dan sebagainya. Berikut contoh dari tindak tutur perlokusi,

Konteks: Seorang perempuan mengusir teman laki-lakinya karena telah ia telah menduakannya dengan teman wanitanya.

(5) A: “Go away!”

(6) B: (stand from his chair and walk away)

Pada tuturan (5) terlihat bahwa penutur (A) mengusir mitra tuturnya (B) untuk pergi meninggalkan ruangan, dan reaksi yang ditimbulkan (B) adalah meninggalkan perempuan itu. Tindak seperti itulah yang disebut dengan tindak perlokusi.

2.2.2 Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi

Searle dalam Mey (2001:119-122) membagi tindak tutur ilokusi ke dalam lima kategori yaitu: representatif (asertif), direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif. Berikut penjelasan kelima tindak tutur tersebut.

2.2.2.1 Representatif (Asertif)

Tindak tutur ilokusi representatif atau bisa disebut asertif adalah jenis tindak tutur yang mengikat penuturnya atas ujaran yang diucapkan. Searle (1979:12) menuturkan“the point or purpose of the members of the representatives class is to commit the speaker (in varying degrees) to something’s being the case, to the truth of the expressed proportion”. Maksudnya ialah bahwa tujuan dari tindak

(11)

20

tutur representatif atau asertif adalah untuk mengikat penutur (dalam berbagai tingkat) terhadap suatu permasalahan, terhadap kebenaran atas keadaan yang sedang dibicarakan.

Serupa dengan Searle, Yule (1996:53) menyatakan “in using a representative, the speaker makes words fit the world (or belief). Pada waktu menggunakan tindak tutur representatif, penutur mencocokkan kata-kata dengan dunia (kepercayaannya).

Asertif mempunyai fungsi memberi tahu orang-orang (penutur) mengenai sesuatu yaitu melibatkan pembicara pada kebenaran proposisi yang diekspresikan. Misalnya: menyatakan, menunjukkan, menyebutkan, melaporkan, membual, mengeluh, dan mengklaim. Dilihat dari segi sopan santun ilokusi ini cenderung netral, yakni termasuk kategori kerjasama (kolaboratif).

Contoh tindak tutur representatif:

(7) “R.A Kartini was born in Jepara.”

Tuturan tersebut merupakan tindak tutur representatif sebab berisi infromasi yang penuturnya terikat dan bertanggungjawab atas kebenaran tuturannya tersebut. Misalnya seorang penutur menginformasikan mitra tuturnya bahwa R.A Kartini lahir di kota Jepara. Tanpa menjelaskan lebih lanjut pun mitra tutur mengetahui bahwa tuturan (7) tersebut benar adanya karena R.A Kartini merupakan seorang pahlawan Indonesia.

(12)

21

2.2.2.2 Direktif

Tindak tutur direktif merupakan tuturan seorang penutur terhadap mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu. Searle menyaytakan “the illocutionary point of this consists in the fact that by speaker to get the hearer to do something” (1975:13). Dijelaskan Searle bahwa poin ilokusi dari tindak tutur direktif adalah fakta bahwa penutur menginginkan mitra tutur melakukan sesuatu. Bersadarkan pernyataan Searle di atas dapat dikatakan bahwa tindak tutur tersebut berfungsi untuk membuat penutur akan melakukan sesuatu atau menimbulkan efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur. Leech, seperti halnya Searle memiliki pendapat yang sama mengenai tindak tutur direktif. Menurut Leech “directives are intended to produce some effect through action by the hearer” (!982:106). Leech menyatakan bahwa tindak tutur direktif bertujuan untuk menghasilkan beberapa dampak melalui tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur. Yule (1996:54) menyampaikan “in using directives, the speaker attempts to make the world fit the words (via the hearer). Maksudnya bahwa pada waktu menggukan direktif penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengaran).

Keinginan penutur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara halus berupa memerintah, mengajak, meminta izin, meminta bantuan, memohon, mengundang dan menyarankan namun dapat juga dilakukan dengan cara mengancam, memaksa dan melarang.

Contoh tindak tutur direktif:

(8) A: “I’m so thirsty”

(13)

22

Tuturan di atas adalah tindak tutur jenis direktif sebab penutur menuntut lawan tutur agar melakukan tindakan yang sesuai dituturkannya. Penutur (A) menuturkan kalimat (8) yang secara tidak langsung memerintah mitra tuturnya (B) untuk membawakan minuman untuknya. Sampai akhirnya mitra tutur (B) membawakan minuman untuk (A).

2.2.2.3 Komisif

“Those illocutionary acts whose point is ti commit the speaker to some future course of action” (Searle, 1975:14) Menurut Searle tindak tutur komisif adalah tuturan ilokusi yang menitikberatkan pada komitmen penutur terhadap tindakannya di masa yang akan datang. Yule (1996:54) “commissives are those kinds of speech acts that speakers use to commit themselves to some future action”. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Yule lebih lanjut menjelaskan ”in using commisive, the speaker undertakes to make the world fit the words (via the speaker) (1996:54). Ppada waktu menggunakan tindak tutur komisif, penutur berusaha untuk menyesuaikan dunia dengan kata-kata (lewat penutur).

Tindak tutur yang termasuk ke dalam jenis komisif adalah berjanji, bersumpah, menawarkan, memanjatkan doa, menolakatau mengancam.

Contoh tindak tutur komisif:

(14)

23

Tuturan di atas merupakan jenis tindak tutur ilokusi komisif karena mengikat penutur untuk melaksanakan tuturannya. Contoh tuturan (10) di atas diucapkan oleh seorang adik kepada kakaknya. Sang penutur menjanjikan bahwa ia akan mengerjakan PR nya pada malam ini. “I promise” menandakan bahwa penutur menjanjikan sesuatu terhadap mitra tuturnya.

2.2.2.4 Ekspresif

Menurut Searle (1975:15) tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang digunakan untuk menyatakan kondisi psikologis tertentu dalam keadaan yang sebenarnya mengenai sebuah permasalahan yang ditentukan oleh konteks yang tepat. Yule (1996:53) menjelaskan lebih jelas bahwa “they express phsycological states and can be statements of pleasure, pain, likes, dislikes, joy or sorrow” tindak tutur itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan atau kesengsaraan. Lebih lanjut Yule juga memaparkan (1996:53) “They can be caused by something that the speaker does or the hearer does, but they are about the speaker’s experience”. Tindak tutur ekspresif dapat disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan oleh penutur atau yang dilakukan oleh mitra tutur, namun secara menyeluruh adalah mengenai pengalaman penutur.

Tuturan yang temasuk tindak tutur ilokusi ekspresif adalah mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji, mengucapkan belasungkawa, mengkeritik, mengeluh, menyalahkan, menyesal, Tarigan (2009:43). Tindak tutur ilokusi ini cenderung menyenangkan, karena itu

(15)

24

secara instrinsik ilokusi ini sopan, kecuali tindak tutur ekspresif mengecam, menyesal dan menyalahkan.

Contoh tindak tutur ekspresif:

(11) ” I’m terribly sorry” (12) “You have beautiful eyes”

Tuturan (11) mengindikasikan rasa penyesalan penutur yang dapat disebabkan karena telah berbuat suatu kesalahan dan merasa menyesal. Ketika penutur menuturkan “I’m terribly sorry” maka penutur sedang melakukan tindakan meminta maaf terhadap mitra tuturnya. Berbeda dengan tuturan (11), tuturan (12) penutur memuji mitra tuturnya. Kedua tuturan di atas termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi ekspresif karena sama-sama menyatakan keadaan psikologis yang sedang dirasakan oleh penutur baik itu yang disebabkan oleh pengalaman penutur sendiri (11) ataupun berdasarkan pengalaman yang dialami oleh mitra tuturnya (12).

2.2.2.5 Deklaratif

Searle dalam Yule (2006:92) menyatakan tindak tutur deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Jadi, dalam tuturan ini penutur menciptakan status baru terhadap mitra tuturnya melalui hal yang ia tuturkan.

Contoh tindak tutur deklaratif:

(16)

25

Tuturan yang diucapkan seorang bos “You’re fired.” Dapat mengubah status karyawannya menjadi seorang pengangguran.

Mengenai tindak tutur deklaratif, Yule mengemukakan “the speaker has to have a special institutional role, in a specific context in order to perform a

declaration appropriately”(1996:53). Menurut Yule terjemahan Mustajab

(2006:92) menjelaskan bahwa penutur harus memiliki peranan institusional yang khusus, dalam konteks khusus untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat.

Tuturan yang termasuk ke dalam jenis tuturan deklaratif adalah mengundurkan diri, membabptis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, dan sebagainya.

2.2.3 Tindak Tutur Ekspresif

Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur ilokusi yang berfungsi untuk mengungkapkan sikap psikologis (mental) penutur terhadap keadaan yang tersirat. Searle dalam Jumadi, (2010:141) mengatakan bahwa pada umumnya para pakar menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang berfungsi untuk mengkespresikan perasaan dan sikap seseorang terhadap keadaan atau sesuatu.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Searle dalam Curse (2000:342) bahwa tindak tutur ekpsresif sebagai tindak tutur yang mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi. Verba yang menandai tindak tutur ekpresif, diantaranya, mengucapkan terima kasih,

(17)

26

mengucapkan selamat, mengucapkan belasungkawa, memberi maaf, mengecam, memuji dan mengampuni.

Senada dengan penjelasan di atas Leech dalam M. D. D Oka (1993:237-329) menjelaskan bahwa tindak tutur ekpresif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menunjukkan sikap psikologis penutur kepada suatu keadaan yang dihadapi oleh mitra tutur. Jadi, tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang menyatakan apa yang dirasakan oleh penutur. Ujaran dengan fungsi ini digunakan untuk mengkespresikan perasaan tanpa memperdulikan respon balik dari kawan bicara (penutur). Pemakaian fungsi ini dapat dilihat dari berbagai karya sastra (puisi, cerita pendek, novel, dan film). Jika dilihat dari jenis-jenis karya sastra dalam fungsi bahasa di atas, dapat dikatakan bahwa film serial Friends season 4, tertutama karena film serial ini dibuat secara sederhana namun membuat para penontonnya harus berfikir keras apa maksud dari tuturan penuturnya. Sebagian tuturan yang diucapkan oleh para penuturnya mengandung arti tuturan yang sulit dimengerti sebagian orang.

2.2.3 Fungsi Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif

Berikut contoh-contoh fungsi tindak tutur ekspresif:

a. Mengucapkan Berterima Kasih

Mengucapkan berterima kasih adalah ungkapkan rasa bahagia atas bantuan dari mitra tutur atau atas sesuatu yang telah dilakukan oleh seseorang dan bermanfaat bagi masyarakat, kelompok atau golongan tertentu. Contoh tuturan mengucapkan terima kasih sebagai berikut.

(18)

27

(13) Thank you for participating in this opportunity.

Pada kalimat (13) tersebut tampak bahwa tuturan tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengucapkan terima, penutur mengungkapkan rasa terimakasihnya karena mitra tutur dapat hadir dalam suatu acara yang ia adakan..

b. Mengucapkan Selamat

Tindak tutur ekspresif dengan maksud mengucapkan selamat merupakan tindak tutur ekspresif yang diungkapkan penutur sebagai bentuk rasa gembira atau bahagia atas apa yang di peroleh atau dipahami mitra tutur atau orang lain. Tindak tutur tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

(14) A: Happy birthday my sister (15) B: Thank you

Pada contoh peristiwa tutur tersebut tampak jelas bahwa tuturan tersebut termasuk tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat. Tuturan tersebut berupa ekspresi seorang kakak pada adiknya yang sedang berulang tahun dengan mengucapkan happy birthday.

c. Mengecam / Mengkritik

Mengecam adalah tuturan seseorang ketika menemukan hal-hal yang sangat tidak wajar (yang dilakukan seseorang). Contoh kalimat tuturan mengecam adalah sebagai berikut.

(19)

28

Tuturan tersebut diungkapkan oleh penutur untuk mengkritik atau mencela pakaian yang digunakan mitra tuturnya dengan maksud meminta mitra tutur untuk menyesuaikan pakaian yang digunakannya.

d. Belasungkawa

Pernyataan belasungkawa dapat kita ungkapkan ketika seseorang yang kita kenal mendapat kemalangan (kematian) salah satu anggota keluarganya. Pernyataan belasungkawa ini merupakan ungkapan rasa simpati kita pada orang lain. Tuturan belasungkawa dapat dilihat pada contoh berikut ini.

(17) I’m so sorry for your loss.

Kalimat pada tuturan seorang teman yang mengungkapkan rasa turut berdukacita atas matinya anjing kesayangan mitra tuturnya. Tuturan sorry merupakan bagian dari tuturan belasungkawa.

e. Meminta Maaf dan Memaafkan

Maaf adalah ungkapan ketika melakukan kesalahan atau kekeliruan yang telah diperbuat. Ketika tuturan maaf diucapkan oleh penutur maka akan ada respon dari mitra tutur baik dimaafkan atau tidak. Seperti terlihat pada contoh tuturan berikut ini,

(18) A: Honey, I’m sorry I’m late (19) B: Well, it’s okay.

Tuturan pertama merupakan tuturan seseorang meminta maaf karena penutur terlambat menjemput kekasihnya. Pada tuturan (18) tampak bahwa penutur mengungkapkan penyesalannya dan meminta maaf pada kekasihnya.

(20)

29

Respon mitra tutur yang diberikan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penutur yaitu memaafkan penutur karena telah datang terlambat.

f. Perasaan Marah

Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. Tindak tutur ini dapat dilihat pada contoh berikut ini.

(20) “I swear, I don’t want to see you again!”

Contoh kalimat tersebut diungkapkan oleh seseorang yang yang diselingkuhi oleh kekasihnya. Tuturan tersebut diucapkan ketika perasaannya sedang meledak-ledak.

g. Tuturan Menyalahkan

Tuturan menyalahkan adalah tuturan yang digunakan untuk menantang atau menganggap salah sesuatu. Biasanya tuturan ini menandakan penutur tidak mau disalahkan atau memang penutur menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang tidak diinginkannya. Berikut contoh tuturan menyalahkan

(21) “Why didn’t you stay here and keep an eye for her? So you won’t lose her”.

Dari tuturan tersebut penutur menyalahkan mitra tuturnya. Contoh tersebut diucapkan oleh seorang polisi yang sedang menitipkan tersangkanya pada temannya tetapi temannya tidak menjaganya dengan baik sehingga tersangka itu pun kabur.

(21)

30

h. Tuturan Mengeluh

Mengeluh adalah ungkapan yang keluar karena perasaan yang kurang nyaman, susah, menderita, pengharapan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Contoh tuturan ini dapat dilihat pada kalimat berikut.

(22) “I shouldn’t be here now”.

Tuturan tersebut di ucapkan oleh seseorang yang tidak percaya diri dan ia di ajak ke sebuah pesta oleh temannya. Penutur merasa tidak cantik dan merasa tidak pantas berada di pesta tersebut.

i. Tuturan Menyindir

Tuturan yang sifatnya menyindir bertujuan untuk mengingatkan seseorang atas sikap atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Sindiran berarti menegur secara tidak langsung untuk menghindari tuturan yang mengancam (membuat malu) mitra tutur. Contoh tuturan menyindir adalah sebagai berikut ini

(23) “You’re the prettiest here.”

Tuturan tersebut diucapkan pada seseorang yang menyindir mitra tuturnya karena dia memakai baju yang sudah kusam. Padahal penutur mengartikannya bahwa mitra tutur tersebut tidaklah cantik sama sekali.

2.2.4 Bentuk Tindak Tutur

Tuturan yang disampaikan oleh seorang penutur biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Wijana (1996:4)

(22)

31

membagi tindak tutur menjadi beberapa bagian, yaitu tindak tutur langsung, tindak tutur tidak langsung. Wijana (1996:4), dalam bukunya “Dasar-dasar Pragmatik”, mengutip Searle dan menjelaskan bahwa di dalam direct speech act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya, sedangkan dalam indirect speech act, hubungan antar struktur dan fungsi kalimat berjalan tidak secara langsung dan menggunakan (bentuk) tindak tutur lain. Pada dasarnya, istilah direct dan indirect di sini bukan mengacu pada bentuk atau struktur kalimat yang menandakan ujaran disampaikan secara lisan atau tidak (formalist), tetapi mengacu pada cara penyampaian atau ekspresi perasaan tertentu, baik secara lisan maupun tulisan (functionalist).

Yule (1996:54-55) memaparkan “whenever there is a direct relationship between a structure and a function, we have a direct speech act. Whenever there is indirect relationship between a structure and a function, we have an indirect speech act.”

Apabila ada hubungan langsung antara skturtur dan fungsinya, maka terdapat suatu tindak tutur langsung. Dan apabila ada hubungan tidak langsung antara struktur dan fungsinya, maka itu tindak tutur tidak langsung.

a. Tindak Tutur Langsung

Tindak tutur langsung, merupakan bentuk penyampaian tuturan secara gamblang atau tindak tindak tutur langsung adalah tuturan yang sesuai dengan modus kalimatnya. Secara formal, berdasarkan tuturannya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita yang digunakan untuk memberitakan sesuatu (informasi), kalimat tanya digunakan untuk menanyakan sesuatu dan kalimat perintah

(23)

32

digunakan untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan atau permohonan. Contoh:

(24) “where are you going? atau Leave the room right now!.”

Kalimat (24) tersebut merupakan contoh tindak tutur langsung, karena diujarkan secara langsung pada mitra tutur tanpa maksud lain. Tuturan (24) termasuk kedalam tuturan interogatif.

b. Tindak Tutur Tidak Langsung

Tindak tutur tidak langsung merupakan bentuk penyampaian tuturan secara tidak gamblang—dalam istilah popular, dapat dipadankan pula dengan pengungkapan makna secara implisit (untuk indirect speech act). Yule (1996:56) menyatakan,

Indirect speech acts generally associated with greater politeness in English than direct speech acts. In order to understand why, we have to look a bigger picture than, just a single utterance performing a single speech acts.”

Tuturan tidak langsung sebenarnya beriringan dengan kesantunan dibandingkan dengan tuturan langsung. Untuk dapat dimengerti, kita harus memahami tuturan tersebut lebih dalam karena tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya.

Tuturan tidak langusng mencerminkan ketidaksesuaian antara tuturan dengan tindakan yang diharapkan dengan tujuan agar tuturan dianggap lebih sopan. Ketika berbicara penutur tidak memberi kesan memerintah pada mitra tutur, maka tuturan perintah dapat diucapkan dengan menggunakan bahasa yang

(24)

33

lebih sopan misalnya dengan kalimat berita. Ketika tuturan ini terjadi, maka tindak tutur tersebut merupakan tindak tutur tidak langsung. Contoh tindak tutur tidak langsung sebagai berikut,

(25) “So hot in here.”

Kalimat tersebut, bila diucapkan oleh seorang dosen ketika memasuki ruangan dengan air conditioner yang tidak berfungsi dan jendela yang tertutup maka maksud penutur adalah menyuruh mitra tuturnya (mahasiswa) utnuk menghidupkan air conditioner atau membuka seluruh jendela. Jadi tuturan tersebut bukan hanya menginformasikan bahwa penutur sedang kepanasan melainkan juga memberi perintah.

c. Tuturan Literal

Tuturan literal yakni tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Sebagai contoh, seorang penonton di bioskop mengenakan topi panjang. Penonton yang duduk di belakangnya tidak dapat melihat tayangan karena terhalang topi tersebut. Karena itu ia menyampaikan permintaan maaf dengan berkata:

(26) “sorry, your hat is blocking my view”

(25)

34

d. Tuturan Non- Literal

Tuturan tidak literal adalah maksud tuturan tersebut tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Contoh:

(27) “You have a nice hat, you ask me to watch your hat?”

Kata “bagus” dan ungkapan “menonton topi” tidak memiliki makna literal di sini karena penutur sama sekali tidak sedang memuji bentuk atau warna topi itu, ia sesugguhnya mengeluhkan keberadaan topi tersebut dan meminta penonton yang duduk didepannya untuk melepaskan topinya.

Apabila tindak tutur langsung dan tak langsung diinteraksikan dengan tindak tutur literal dan tak literal, maka akan terdapat 4 (empat) kemungkinan bentuk tindak tutur sebagai berikut:

e. Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act)

Tuturan langsung literal yakni tuturan yang mencerminkan kesamaan bentuk dan makna literal tuturan dengan tindakan yang diharapkan. Contoh,

(28) “open your mouth, I’m going to see your throat”

Tuturan di atas dilontarkan oleh dokter kepada pasiennya. Maksud dari tuturan (28) tersebut penutur minta pasiennya untuk membuka mulutnya lebar-lebar, agar dokter itu dapat memeriksa tenggorokan mitra tutur.

(26)

35

f. Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act)

Tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud penuturnya, akan tetapi makna kata-kata secara leksikal sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh penutur. Contoh,

(29) “Your car is dirty”.

Ujaran yang disampaikan seorang ayah (29) kepada anaknya itu tidak dimaksudkan hanya sekedar memberikan informasi, bahwa mobil itu kotor, tetapi penutur sekaligus menyampaikan perintah atau permintaan agar mobil tersebut dibersihkan.

g. Tindak tutur langsung tidak literal (direct non- literal speech)

Merupakan ujaran yang diungkapkan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud dan tuturan, tetapi makna literal kata- katanya tidak sama dengan maksud penuturnya. Contoh,

(30) “You have a cool bike”

Pada tuturan ini, penuturnya sebenarnya ingin mengatakan bahwa sepeda kawan tuturnya tidak bagus.

h. Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect non- literal speech act) Diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang ingin diutarakan. Untuk menyuruh seorang pembantu menyapu lantai kotor, seorang majikan dapat saja mengutarakan dengan kalimat tuturan tidak langsung dan tidak literal. Contoh,

(27)

36

(31) “the floor is very clean, huh?”

Si penutur pun dapat menyuruh anaknya untuk mencuci mobil dengan mengatakan, “your car is very clean”.”

2.2 Konteks

Konteks berhubungan dengan situasi berbahasa (speech situation). Konteks mempunyai pengaruh kuat pada penafsiran makna kata. Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa (Rani, 2004:190). Konteks sangat penting dalam kajian pragmatik. Konteks didefinisikan oleh Leech (1983:13) sebagai background knowledge assumed to be shared by s and h and which contributes to h’s interpretation of what’s mean by a given utterance. Latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur maupun lawan tutur sehingga latar tutur dapat membuat interpretasi mengenai apa yang dimaksud oleh penutur pada waktu membuat tuturan tertentu.

Menurut Cutting (2003) ada tiga jenis konteks yang dapat menjadi acuan penelitian terhadap sebuah percakapan yaitu konteks situasi (situational context) yaitu mengenai hal-hal yang diketahui oleh penutur tentang apa yang mereka lihat disekitarnya; konteks latar belakang dan pengetahuan (background and knowledge context) yaitu mengenai hal-hal yang diketahui oleh penutur dan mitra tutur tentang dirinya masing-masing dan hal-hal lain yang berkaitan dengan mereka dan dunia dan konteks dalam teks (co-textual context) yaitu mengenai hal-hal yang mereka ketahui tentang apa yang sedang bicarakan.

(28)

37

Arti atau makna dari sebuah kalimat sebenarnya baru dapat dikatakan benar bila kita mengetahui siapa pembicaranya dan siapa pendengarnya. Menurut Filmore dalam Lubis (2011:59) mengatakan,

“The task is to determine what ‘we can know about the meaning and context of an utterance given only the knowledge that the unterance has occured... I find that whenever I notice some sentences in context, immediately find myself asking what the effect would have been if the context had been slightly different”

Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui betapa pentingnya konteks untuk menentukan makna suatu ujaran. Pemaknaan sebuah ujaran bukan dari makna literalnya atau dari sebuah ujaran menurut arti lazimnya, melainkan pemahaman terhadap apa yang tersirat dibalik ujaran tersebut.

Suatu konteks harus memenuhi delapan komponen yang diakronimkan sebagai S-P-E-A-K-I-N-G Hymes dalam Chaer dan Leonie (2004:48-49). Komponen tersebut adalah:

1. S (Setting and Scene), setting berkenaan dengan tempat dan waktu tuturan berlangsung, scene adalah situasi tempat dan waktu

2. P (Participants), pihak-pihak yang terlibat dalam tuturan. 3. E (End), merujuk pada waktu dan tujuan tuturan.

4. A (Act Sequence), mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran.

5. K (Keys), mengacu pada nada, cara dan semangat dimana suatu pesan disampaikan dengan senang hati, serius, mengejek dan bergurau.

(29)

38

7. N (Norm of Interaction and Interpretation), mengacu pada tingkah laku yang khas dan sikap yang berkaitan dengan peristiwa tutur.

8. G (Genre), mengacu pada jenis penyampaian.

Setting and scene. Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicara. Waktu, tempat dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di atas panggung pada saat membawakan acara dalam situasi yang formal tentu berbeda dengan pembicaraan di rumah, anda mungkin akan berbicara informal.

Participants adalah pihak-pihak yang telibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa atau pengirim dan penerima pesan. Sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang bos dan rekan kerjanya sedang mengadakan rapat. Rekan kerja yang berbeda status sosialnya akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang lebih sopan dibandingkan kepada teman-temannya.

Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud menyelsaikan suatu kasus perkara; namun partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil.

Act sequence, mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunanya, dan

(30)

39

hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga isi ujaran yang dibicarakan.

Key, mengacu pada nada, cara dan semangat di mana suatu pesan

disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek. Hal ini dapat juga ditujukan dengan gerak tubuh dan isyarat.

Instrumenalis, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalies ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, fragam atau register.

Norm of Interaction and Interpretation, mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.

Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa dan sebagainya.

Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan mengenai konteks di atas adalah bahwa konteks merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu percakapan untuk mencapai tujuan dilakukannya percakapan. Sebuah percakapan dapat berjalan dengan lancar jika pelaku percakapan mengetahui konteks dari percakapan yang dilakukan, maka pemberian pemahaman terhadap konteks percakapan adalah hal yang sangat penting sehingga terhindar dari kesalahpahaman.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :