Memantau Anggaran dan
Belanja Daerah
Panduan untuk Komunitas Lingkar Tambang
Memantau Anggaran dan
Belanja Daerah
Panduan untuk Komunitas Lingkar Tambang
Memantau Anggaran dan Belanja Daerah Panduan untuk Komunitas Lingkar Tambang
ISBN 978-602-72039-8-3
Penulis
Yenny Sucipto Yenti Nurhidayat
Reviewer Jensi Sartin Maryati Abdullah Meliana Lumbantoruan
Hak cipta dilindungi undang-undang Edisi Pertama, 2015
Panduan ini diterbitkan oleh Yayasan Transparasi Sumberdaya Ekstraktif-Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, dengan dukungan dari Southeast Asia Technology and Transparency Initiative (SEATTI)/Hivos. Isi panduan ini adalah tanggung jawab PWYP Indonesia dan tidak serta-merta mencerminkan pandangan SEATTI/Hivos.
Publish What You Pay Indonesia
Daftar Isi
datar Gambar ... iv
Kata Pengantar ...v
Bagian I. Memahami Anggaran Daerah ...1
Ruang Lingkup Anggaran ...1
Fungsi Anggaran ...2
Prinsip Penyelenggaraan Anggaran ...3
Bagian II. Konsep, Regulasi dan Alur Perencanaan Penganggaran Daerah (PPD) .. 5
Konsep Perencanaan Penganggaran daerah ...5
Regulasi Perencanaan dan Penganggaran daerah ...7
Alur Perencanaan dan Penganggaran daerah ...8
Bagian III. Struktur dan Komponen APBD ... 11
Pendapatan daerah ...11
dana Transfer daerah ... 13
Belanja daerah ... 15
Pembiayaan daerah ... 16
Bagian IV : Metode Pemantauan (Strategi Advokasi) ...18
Advokasi ... 18
Advokasi Anggaran ... 19
Faktor Penghambat dan Pendukung Advokasi Anggaran ... 20
Strategi Advokasi Anggaran ... 20
Lampiran ...24
datar Pustaka ... 30
Biodata Penulis ... 31
Daftar Gambar
Gambar 1. Ruang Lingkup Anggaran ... 2
Gambar 2. Fungsi Anggaran daerah ...3
Gambar 3. Prinsip Penyelenggaran Anggaran ...4
Gambar 4. Alur Perencanaan Program dan Penganggaran ...6
Gambar 5. Proses Penganggaran dan Peraturannya ...7
Gambar 6. Siklus dan Kalender Perencanaan dan Penganggaran Tahun ...9
Gambar 7. Komponen Pendapatan daerah ... 12
Gambar 8. Komposisi dan Pembagian dana Bagi Hasil ... 13
Gambar 9: Postur Transfer daerah TA 2014 dan 2015 ... 14
Gambar 10. Klasiikasi Belanja daerah... 15
Gambar 11. Komposisi Belanja daerah ... 16
Gambar 12. Komposisi Pembiayaan daerah ... 17
Gambar 13. Wilayah Kerja Advokasi ... 19
Gambar 14. Ruang Partisipasi Masyarakat dalam Advokasi Anggaran daerah ... 19
Gambar 15. Faktor Pendukung dan Penghambat Advokasi ... 20
Kata Pengantar
d
alam rangka mendorong penguatan kapasitas komunitas khususnya di daerah kaya sekitar tambang, Publish What You Pay (PWYP) Indonesia menerbitkan buku panduan yang dapat digunakan untuk pemantauan Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBd). oleh karena keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran merupakan hal yang penting, maka PWYP Indonesia berharap kiranya buku panduan ini dapat digunakan oleh komunitas masyarakat untuk terlibat aktif dalam memantau proses perencanaan dan penganggaran daerah.Penerbitan buku panduan ini hadir dari dukungan program Southeast Asia Technology and Transparency Initiative (SEATTI)/Hivos yang bertujuan mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam proses perumusan kebijakan dan mendorong keterbukaan dan adanya data terbuka dalam aspek kebijakan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemantauan penganggaran daerah.
Secara umum buku panduan ini berisikan pemahaman, konsep, regulasi, komponen dan struktur penganggaran daerah. di bagian akhir dari buku panduan ini juga dipaparkan tentang metode-metode yang dapat digunakan oleh komunitas masyarakat dalam melakukan advokasi dan pemantauan penganggaran di daerah.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk segenap pihak yang sudah mendukung penerbitan buku ini. Secara khusus kami mengucapkan terima kasih untuk Seknas FITRA yang sudah berkontribusi dalam penulisan buku ini, dan seluruh rekan Sekretariat Nasional PWYP Indonesia (Jensi, Meli, Ary, Abud, Kiki, dewi, Asri, dilah, Sri, Ibeth dan Wiko) atas dukungan dalam pembuatan buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat.
Jakarta, Juni 2015
Maryati Abdullah
Bagian I.
Memahami Anggaran Daerah
Pokok Bahasan
Pada materi ini masyarakat akan diajak untuk memahami ruang lingkup, fungsi dan prinsip-prinsip penyelenggaraan anggaran. Penyampaian materi pada sesi ini memberi pemahaman tentang pokok bahasan tersebut agar mampu memahami anggaran dalam konteks keuangan daerah dan kewajiban pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Ruang Lingkup Anggaran
Anggaran atau sering juga disebut budget adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan, yang dinyatakan dalam unit satuan moneter dan berlaku dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Anggaran juga dapat digunakan sebagai alat untuk merencanakan dan mengendalikan keuangan dan penyusunannya dilakukan secara periodik.
Anggaran daerah dapat dipahami dan dikaji dari 2 sisi:
1. Makro
Secara makro, keuangan daerah dapat dipahami sebagai rencana kerja pemerintah daerah yang diwujudkan dalam bentuk uang selama periode waktu tertentu (1 tahun anggaran).
2. Mikro
Ruang lingkup dari anggaran meliputi aspek kewajiban, penerimaan, pengeluaran, pengelolaan kekayaan, dan pemungutan pajak daerah.
Gambar 1. Ruang Lingkup Anggaran
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang. Keuangan daerah juga temasuk segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Pengelolaan keuangan daerah merupakan seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggung jawaban dan pengawasan keuangan daerah.
Fungsi Anggaran
Anggaran merupakan cerminan dari tanggung jawab dan kewenangan negara anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian dan penyusunan keuangan negara selayaknya mencerminkan tanggung jawab dan kewenangan negara dan daerah dalam melaksanakan fungsi-fungsi yang diamanatkan oleh undang-undang dan ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Berikut beberapa fungsi anggaran daerah:
Hak memungut pajak dan retribusi daerah
serta melakukan pinjaman Kekayaan pihak lain yang
dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan
tugas pemerintah daerah dan / atau kepentingan umum
Kewajiban untuk menyelenggarakan urusan
pemerintah daerah dan membayar tagihan pihak
ketiga
Ruang Lingkup Anggaran
Kekayaan yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain baik berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak
lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang
dipisahkan pada perusahaan daerah
Pengeluaran daerah
Gambar 2. Fungsi Anggaran Daerah
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Prinsip Penyelenggaraan Anggaran
Untuk mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara, maka penyelenggaraan anggaran harus diselenggarakan secara profesional, terbuka dan bertanggung jawab dengan berpegang pada prinsip transparan, partisipatif, disiplin, berkeadilan, eisien dan efektif, serta rasional dan terukur.
Fungsi otorisasi: anggaran daerah menjadi dasar untuk merealisasi pendapatan dan belanja daerah pada tahun bersangkutan. Tanpa dianggarkan, maka sebuah kegiatan tidak memiliki kekuatan untuk dilaksanakan
Fungsi perencanaan: anggaran merupakan pedoman bagi pemerintah daerah untuk menyelenggarakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan
Fungsi pengawasan: anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pemerintah daerah
Fungsi alokasi: anggaran harus diarahkan untuk
menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan pemborosan sumberdaya serta untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas perekonomian daerah
Fungsi distribusi: kebijakan-kebijakan penganggaran daerah harus memiliki rasa keadilan dan kepatutan
Fungsi stabilitasi: anggaran daerah merupakan alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah
Gambar 3. Prinsip Penyelenggaran Anggaran
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Pertanyaan Kunci:
1.
Apa yang dimaksud dengan anggaran?
2.
Sebutkan komponen-komponen ruang lingkup
anggaran!
3.
Sebutkan enam fungsi APBD!
4.
Sebutkan 6 prinsip penyelenggaraan anggaran!
Penyelenggaraan keuangan daerah harus dilakukan secara transparan. Pemerintah wajib membuka dan memberikan informasi terkait pengelolaan keuangan daerah baik perencanaan, pelaksanaan ataupun evaluasi.
Penyelenggaraan anggaran publik harus dilakukan secara rasional, dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan latar belakang serta dapat memperkirakan pencapaian yang tepat dan terukur.
Penyelenggaraan anggaran publik harus dilakukan secara efisien dan efektif dengan berorientasi pada pemberian manfaat kepada masyarakat secara maksimal.
Penyelenggaraan anggaran publik harus dilakukan secara berkeadilan, memahami dan memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa diskriminasi apapun.
Penyelenggaraan anggaran publik harus dilakukan dengan disiplin, Kejelasan dalam klasifikasi
anggaran dan konsisten antara perencanaan dengan implementasi.
Penyelenggaraan keuangan daerah harus melibatkan masyarakat untuk memastikan dan menjamin kesesuaian antara kebutuhan dan ketersediaan anggaran.
Efisien dan Efektif
Berkeadilan
Disiplin
Partisipatif
Transparansi
Bagian II.
Konsep, Regulasi dan
Alur Perencanaan dan
Penganggaran Daerah (PPD)
Pokok Bahasan
di dalam sesi ini masyarakat akan diajak untuk memahami konsep, regulasi, alur dan tahapan Perencanaan Penganggaran daerah (PPd). Masyarakat diharapkan mampu melihat peluang-peluang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi proses (advokasi) PPd mulai dari tahap perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pelaporan hingga pertanggungjawaban.
Konsep Perencanaan Penganggaran Daerah
Gambar 4. Alur Perencanaan Program dan Penganggaran
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Secara umum, PPd dapat dibedakan menjadi dua;
1. Perencanaan dalam menentukan arah dan kebijakan umum APBd atau biasa disebut perencanaan kebijakan (policy planning) anggaran daerah. dalam prakteknya, perencanaan kebijakan disusun dan disepakati secara bersama-sama oleh dewan Perwakilan Rakyat daerah (dPRd) dan Pemerintah daerah (Pemda). Perencanaan kebijakan harus memuat kejelasan tujuan dan sasaran yang akan dicapai sebagai acuan bagi proses pertanggungjawaban kinerja keuangan daerah pada akhir tahun anggaran.
2. Perencanaan rangkaian strategis, prioritas, program dan kegiatan yang diperlukan dalam mencapai arah dan kebijakan umum APBd atau disebut juga sebagai perencanaan operasional (operational planning) anggaran daerah. perencanaan operasional ini dibebankan kepada Pemda.
Perencanaan dan penganggaran yang berbasis partisipasi masyarakat berperan penting dalam mendorong terselenggaranya forum yang menyerap aspirasi masyarakat. Partispasi masyarakat dalam forum tersebut dapat membantu proses penentuan skala prioritas perencanaan program pembangunan dan pendokumentasian dan pengawalan usulan masyarakat dalam pembuatan rancangan APBd.
Alur Perencanaan Program & Penganggaran
PENGANGGARAN
Pemerintah
Pusat
Pemerintah
Regulasi Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Landasan hukum perencanaan dan penganggaran di Indonesia diatur dalam beberapa regulasi pokok antara lain:
• UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
• UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional • UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah
• UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan daerah • PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pedoman Keuangan daerah
• Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan daerah
• Permendagri No. 27 Tahun 2014 tentang Pemerintah daerah
Regulasi-regulasi tersebut tidak hanya mengatur kewenangan pusat dan daerah dalam pelaksanaan perencanaan dan penganggaran, tetapi juga mengatur alur, mekanisme serta dokumen yang dibutuhkan dalam setiap tahapan proses perencanaan penganggaran.
Namun, dalam beberapa kajian yang dilakukan oleh kelompok masyarakat maupun akademisi masih ditemukan adanya ketidaksingkronan dan inkonsistensi antar regulasi-regulasi terkait sehingga menghambat tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Gambar 5. Proses Penganggaran dan Peraturannya
• UU 17 tahun 2003
Proses Penganggaran dan Aturan Per-UU-nya
Perencanaan
Pembahasan/ Penetapan APBD
Pelaksanaan
Efektifitas dan efisiensi Penatausahan
dan akuntansi
Prioritas usulan dan anggaran
Laporan BPKP/ bawasda dan BPK
Alur Perencanaan dan Penganggaran Daerah
Merujuk pada penjelasan sebelumnya bahwa proses PPd dilaksanakan pada dua aras yaitu: spasial dan sektoral. Pada aras spasial, proses PPd dimulai dari level terendah yaitu desa/ kelurahan hingga berakhir pada level kapupaten/ kota. Sementara itu, pada saat yang bersamaan proses PPd juga berlangsung pada aras sektoral yang dilakukan oleh instansi-instansi pemerintahan. Keseluruhan proses PPd di kedua aras ini dimulai dengan tahapan perencanaan pada bulan Januari melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa/ Kelurahan hingga tahapan Penetapan APBd pada akhir desember.
dengan mengenali siklus dan jadwal penyelenggaraan dari setiap proses PPd, akan memberi ruang yang semakin besar bagi kelompok masyarakat untuk dapat berpatisipasi secara aktif untuk menentukan arah dan kebijakan anggaran yang akan ditetapkan.
Secara umum, siklus anggaran (APBN dan APBd) terdiri dari 4 (empat) tahapan, yaitu penyusunan anggaran, pembahasan anggaran, penetapan anggaran dan pertanggungjawaban anggaran. Sikulus anggaran di Indonesia dilakukan selama 2,5 tahun dengan rincian: 1 tahun proses penyusunan, 1 tahun proses pelaksanaan dan 5 (lima) bulan proses pertanggungjawaban/audit.
Tahap Penyusunan Anggaran
dalam tahap ini pemerintah melakukan review terhadap pelaksanaan anggaran tahun sebelumnya, rencana pembangunan, dan memperhatikan masukan dari masyarakat.
Tahap Pembahasan Anggaran
Pada tahap ini eksekutif menyusun drat usulan anggaran dibahas bersama dPRd melalui konsultasi publik, pembahasan internal, meminta pendapat ahli.
Tahap Pelaksanaan Anggaran
Pada tahapan ini, drat usulan yang sudah disetujui noleh dPRd dilaksanakan oleh pemerintah dan sekaligus melakukan monitoring pelaksaan anggaran.
Tahap Pengawasan/Audit
Kelender Perencanaan & Penganggaran Tahunan
Siklus Perencanaan & Penganggaran Tahunan
RPJMD
Renstra SKPD
Rancangan
Renja SKPD Forum SKPD
• Prioritas pemb. • Pagu Indika
-tif berdasar fungsi SKPD, sumber dana & Wilayah Kerja
Rancangan RKPD
Rancangan
Akhir RKPD Penetapan RKPD RAPBD
Mei
Pembahasan & Kesepakatan KUA antara KDH dengan
DPRD (Juni) Pembahasan & Kesepakatan PPAS antara KDH dengan DPRD (Juni)
Penyusunan RKA-SKPD & RAPBD (Juli-September)
Pembahasan dan Persetujuan Rancangan APBD dengan DPRD (Oktober-November)
Evaluasi Rancangan Perda APBD(Desember)
Penetapan Perda APBD(Desember)
Penyusunan DPA SKPD(Desember) Pelaksanaan APBD
Januari tahun berikutnya Penetapan RKPD
(Mei) Musrenbang Kab/Kota (Maret)
Forum SKPD
Penyusunan Kerja SKPD Kab/Kota (Maret)
Gambar 6. Siklus dan Kalender Perencanaan dan Penganggaran Tahunan
Studi Kasus
Perencanaan dan Penganggaran di DKI Jakarta
Pada awal tahun 2015, Indonesia dikagetkan dengan berita kisruhnya proses penetapan APBD Propinsi DKI Jakarta. Ada dua versi Rancangan APBD DKI yang dikirimkan kepada Kemendagri untuk disahkan. Kemudian diketahui bahwa, kisruh ini bermula ketika Gubernur DKI saat itu mengetahui adanya dana-dana “siluman”
yang muncul tanpa melalui proses dan tahapan perencanaan dan penganggaran
yang seharusnya sesuai ketentuan undang-undang.
Usulan program dan kegiatan seharusnya muncul di dalam proses perencanaan,
mulai dari musrenbang tingkat kelurahan hingga penetapan KUA PPAS. KUA PPAS
merupakan rancangan program dan kegiatan prioritas beserta patokan maksimal anggaran yang akan digunakan oleh SKPD dalam penyusunan RKA SKPD sebelum
disahkan oleh DPRD.
Dalam kasus RAPBD DKI, program dan kegiatan siluman muncul pada saat
pembahasan RAPBD di DPRD dimana seharusnya sidang dioptimalkan untuk melihat apakah program dan kegiatan tersebut sudah sesuai dengan prioritas yang
dibutuhkan daerah. Tidak boleh lagi ada usulan program dan kegiatan baru pada tahap ini.
Kisruh ini kemudian memperlihatkan betapa selama ini proses perencanaan dan
penganggaran masih sangat tertutup. Partisipasi masyarakat di dalam proses ini cenderung masih sangat minim. Banyak usulan-usulan program dan kegiatan
yang sangat dibutuhkan masyarakat tiba-tiba menghilang di tengah perjalanan dan digantikan oleh program dan kegiatan yang menguntungkan pihak-pihak tertentu
saja. **
Pertanyaan Kunci:
1.
Sebutkan tahapan PPD!
2.
Sebutkan 4 (empat) tahapan siklus APBD!
3.
Ceritakan siklus perencanaan dan penganggaran
Bagian III.
Struktur dan Komponen APBD
Pokok Bahasan
dalam sesi ini, masyarakat diajak untuk mengenal dan memahami struktur dan komponen APBd dan melihat peranan masyarakat sebagai stakeholder pembangunan yang memiliki kepentingan di dalamnya. Penyampaian materi pada sesi ini akan merekonstruksi pemahaman dan memperkuat keterampilan masyarakat untuk berpartisipasi dalam keseluruhan siklus perencanaan dan penganggaran daerah mulai dari tahap penyusunan, pelaksanaan hingga tahap pertanggungjawaban anggaran.
Pendapatan Daerah
Pendapatan daerah merupakan seluruh penerimaan kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi hak daerah. dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah disebutkan bahwa pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui menambah kekayaan bersih daerah pada periode tahun yang bersangkutan.
Pendapatan daerah berasal dari :
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2. Dana Bagi Hasil (DBH) yaitu dana-dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka desentralisasi.
PENDAPATAN DAERAH
Pendapatan Asli Daerah
Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Lain-Lain PAD yang Sah
Dana Perimbangan
Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Hibah
Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi dan Pemda Lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan dari Propinsi dan Pemda Lainnya
Gambar 7. Komponen Pendapatan Daerah
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
Pendapatan Asli Daerah merupakan kegiatan ekonomi yang berasal dari
daerah itu sendiri. PAD merupakan cerminan kemandirian daerah.
Dana Perimbangan
• Dana Bagi Hasil (DBH Pajak & Non Pajak)-->berdasarkan persentase (%)
• Dana Alokasi Umum (DAU) pemerataan kemampuan keuangan daerah berdasarkan Alokasi Dasar dan Celah Fiskal (Kebutuhan Fiskal - kapasitas Fiskal)
a. Kebutuhan fiskal=kebutuhan daerah untuk membiayai pegawai dan infrastruktur dasar
b. Kapasitas Fiskal = DBH + PAD
No Jenis DBH
KOMPOSISI/PEMBAGIAN Menurut UU 33 Tahun 2004
Pusat Daerah
Jumlah Propinsi Kab/Kota
1 PAJAK
2 SDA (Non Pajak)
a. Kehutanan :
6% kab/kota penghasil
0,5% 0,5% 0,1% prop yg bersangkutan
- 0,2% kab/kota penghasil - sisanya 0,2% dibagi
merata utk seluruh kab/
kota dalam prop. yg
bersangkutan e. Gas Bumi 69,5% 30,5% 6% utk prop.
yg bersangkutan
12% utk kab/kota penghasil
0,5% 0,5% 0,1% prop yg bersangkutan
- 0,2% kab/kota penghasil - sisanya 0,2% dibagi
merata untuk seluruh
kab/kota dlm prop.yg
bersangkutan f. Panas Bumi (komponen
PNBP)
20% 80% 16% utk prop. yg bersangkutan
32% utk kab/kota penghasil
Gambar 8. Komposisi dan Pembagian Dana Bagi Hasil
Sumber: UU No. 33 Tahun 2004 Dana Transfer Daerah
Postur Transfer ke Daerah TA 2014
Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otsus Papua
Dana Otsus Aceh
Dana Intras Otsus Papua Dana Intras Otsus PaBarat Dana Keistimewaan DIY
Tamb Penghasilan Guru Tunjangan Profesi Guru Bantuan Op Sekolah
Dana Insentif Daerah
Dana P2D2
Dana Penyesuaian Dana Otsus & Penyesuaian
Dana Otsus Papua BRT
Dana Perimbangan
Postur Transfer ke Daerah dan Dana Desa TA 2015
Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otsus Papua
Dana Otsus Aceh
Dana Intras Otsus Papua Dana Intras Otsus PaBarat Dana Keistimewaan DIY
Tamb Penghasilan Guru Tunjangan Profesi Guru Bantuan Op Sekolah
Dana Insentif Daerah
Dana P2D2
Dana Perimbangan Dana Transfer
ke Daerah
Dana Otsus Papua BRT
Dana Keistimewaan
DI Yogyakarta
Dana Otsus
Dana Transfer Lainnya
Transfer ke daerah ditetapkan dalam APBN, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang selanjutnya dituangkan dalam datar Isian Pelaksanaan Anggaran (dIPA) yang ditandatangani oleh direktur Jenderal Perimbangan Keuangan (dJPK) selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atas nama Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran untuk tiap jenis transfer ke daerah dengan dilampiri rincian alokasi per daerah.
Berikut rincian jenis-jenis transfer dana ke daerah:
a. Transfer dana Perimbangan, meliputi: 1. Transfer dana Bagi Hasil Pajak;
2. Transfer dana Bagi Hasil Sumber daya Alam; 3. Transfer dana Alokasi Umum; dan
4. Transfer dana Khusus.
b. Transfer dana otonomi Khusus dan Penyesuaian, meliputi: 1. Transfer dana otonomi Khusus Papua dan Papua Barat;
2. Transfer dana otonomi Khusus Nanggroe Aceh darussalam; dan 3. Transfer dana Penyesuaian.
Pasca dikeluarkannya UU No. 6 Tahun 2014 yang memberikan transfer selain ke daerah (provinsi dan kabupaten) namun juga untuk desa. Maka postur transfer dana ke daerah juga berubah. Berikut gambar perbedaan postur transfer dana daerah untuk tahun anggaran 2014 (sebelum diberlakukannya UU. No. 6 Tahun 2014) dan tahun anggaran 2015 (setelah diberlakukannya UU No. 6 Tahun 2014) sebagai berikut:
Gambar 9: Postur Transfer Daerah TA 2014 dan 2015
Klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari :
1) klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan untuk tujuan pengelolaan pemerintahan daerah 2) klasifikasi belanja berdasarkan fungsi pengelolaan
keuangan negara.
Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan merupakan penjabaran dari kebijakan umum anggaran sesuai dengan misi dan agenda prioritas dari masing-masing organisasi
Klasifikasi belanja berdasarkan organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintah daerah
Program/Kegiatan Organisasi Fungsi Belanja Daerah
Berdasarkan UU No. 17 Tahun 2003, Belanja daerah dideinisikan sebagai kewajiban Pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih daerah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 yang kemudian dijabarkan dalam Permendagri 13 Tahun 2006, belanja diklasiikasikan berdasarkan jenis belanja yaitu: belanja tidak langsung dan belanja langsung. Kelompok belanja tidak langsung merupakan belanja yang penganggarannya tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang penganggarannya terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.
Belanja daerah diklasiikasikan sebagai berikut:
Gambar 10. Klasifikasi Belanja Daerah
• Belanja Langsung --> belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan
• Belanja Tidak Langsung --> belanja yang
dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan
BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung
Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil Kepada Prop/Kab/ Kota dan Pemdes
Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga
Belanja Langsung
Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal
Gambar 11. Komposisi Belanja Daerah
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Pembiayaan daerah
PEMBIAYAAN DAERAH Penerimaan Pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
Sebelumnya (SILPA)
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah
Jumlah Penerimaan Pembiayaan
Pengeluaran Pembiayaan
Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
Jumlah Pengeluaran Pembiayaan
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA)
Gambar 11. Komposisi Pembiayaan Daerah
Sumber: Seknas FITRA, diolah dari Permendagri
Pertanyaan Kunci:
1.
Apa yang dimaksud dengan Pendapatan daerah,
belanja daerah dan Pembiayaan Daerah?
2.
Sebutkan komponen Pendapatan Asli Daerah/PAD!
3.
Sebutkan komponen belanja daerah!
Bagian IV.
Metode Pemantauan
(Strategi Advokasi)
Pokok Bahasan
dalam sesi ini masyarakat diajak untuk memahami metode pemantauan dan strategi advokasi yang dapat digunakan dalam mempengaruhi dan mengawal proses perencanaan dan penganggaran sesuai dengan siklus PPd. Pada sesi ini masyarakat juga akan diberi pemahaman tentang gerakan advokasi dalam melihat peluang-peluang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi proses advokasi PPd mulai dari tahap perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pelaporan hingga pertanggungjawaban.
Advokasi
Advokasi merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk mempengaruhi keputusan dan kebijakan publik yang ditujukan untuk membantu kelompok masyarakat yang dirugikan, dan termarjinal. Advokasi biasanya dilakukan secara terorganisir, terencana dan sistematis sehingga perubahan yang diinginkan dapat tercapai. Pelibatan masyarakat dalam proses advokasi merupakan salah satu syarat yang penting.
Gambar 13. Wilayah Kerja Advokasi
Sumber: Seknas FITRA Advokasi Anggaran
Proses perencanaan dan penganggaran merupakan salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik. oleh karena itu, diperlukan partisipasi masyarakat dalam membantu terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik.
Partisipasi masyarakat menjadi komponen yang penting dalam proses perencanaan dan penganggaran karena menentukan ketepatan sasaran perencanaan dan penggunaan anggaran. Terdapat beberapa titik ruang partisipasi yang dapat digunakan masyarakat yaitu:
Gambar 14. Ruang Partisipasi Masyarakat dalam Advokasi Anggaran Daerah merupakan wilayah yang terkait dengan peraturan
hukum dan perundang-undangan. Contoh kegiatan
yang dilakukan dalam wilayah ini antara lain: menyusun naskah akademis, legal drafting, counter legal drafting
dan judicial review.
merupakan wilayah para penyusun dan pengambil
kebijakan. Kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan di wilayah ini antara lain: lobbying, diskusi, audiensi dll.
merupakan wilayah penyadaran masyarakat. Kegiatan
yang dilakukan di wilayah ini antara lain: pendidikan dan pelatihan, pengembangan opini publik melalui media dan
kampanye, demontrasi dan mobilisasi massa.
Legislasi
Kelurahan hinggamusrenbang kecamatan
Penyusunan RKPD hingga KUA PPAS
Forum SKPD
Penyusunan RKA SKPD hingga Penetapan APBD
Faktor Penghambat dan Pendukung Advokasi Anggaran
dalam melakukan advokasi anggaran, terdapat faktor-faktor yang mendukung dan yang menghambat advokasi. Berikut komponen-konponen yang termasuk dalam kedua faktor tersebut:
Gambar 15. Faktor Pendukung dan Penghambat Advokasi
Sumber: Seknas FITRA
Strategi Advokasi Anggaran
dalam proses penyusunan advokasi anggaran maka penggunaan strategi yang dilakukan dengan teroganisir, terstruktur, dan sistematis dengan memperhatikan beberapa langkah berikut ini:
Faktor
Pendukung
Faktor
Penghambat
Inisiatif politis dari
aktor-aktor kunci di daerah Kemauan untuk
bersinergi dan berjaringan yang lemah Kelembagaan dan
ketersediaan akses informasi publik baik terpusat pada satu SKPD ataupun
masing-masing-masing SKPD
Legal basis daerah yang tidak jelas
Kepemimpinan daerah yang masih menutup
diri Adanya regulasi yang
menjamin partisipasi publik dan keterbukaan
informasi publik
Birokrasi yang membatasi akses masyarakat atas
Gambar 16. Tahapan Strategi Advokasi
Sumber: Seknas FITRA
Tahap 1: Identifikasi dan Analisis Isu
Analisis isu merupakan langkah pertama dalam setiap kegiatan advokasi yang sangat penting. Pentingnya identiikasi dan analisis isu untuk mendapatkan informasi yang akurat dan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh terhadap isu yang akan diadvokasi.
Tahap 2: Merumuskan Tujuan Advokasi
Hasil analisis isu berkontribusi terhadap penentuan tujuan advokasi. Tujuan yang dirumuskan harus memenuhi kriteria SMART (Speciic, Measureable, Achievable, Relevant, Time-bound).
Tahap 3: Identifikasi dan Analisis Aktor/Stakeholders
dalam tahapan ini dilakukan analisis berdasarkan isu dan tujuan advokasi yang sudah ditetapkan. datar aktor/stakeholders disusun lalu dikategorisasi berdasarkan tingkat relevansinya terhadap isu dan tujuan advokasi.
evaluasi dan monitoring
pelaksanaan rencana
posisi lembaga/ kelompok
analisis situasi/ masalah
riset kebijakan memetakan
kekuasaan
menentukan target advokasi menentukan dan
Tahap 4: Memilih Taktik/Cara advokasi
Setelah pemetaan dilakukan maka tahap selanjutnya adalah melakukan pemilihan terhadap cara advokasi yang akan digunakan, dapat juga menggunakan berbagai macam media.
Tahap 5: Membuat Rencana Kerja Advokasi
dalam tahapan ini dilakukan penyusunan rencana kerja advokasi. Rencana kerja meliputi kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan advokasi yang dilengkapi dengan kerangka waktu, sumberdaya yang dibutuhkan dan pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap kegiatan tersebut.
Tahap 6: Monitoring dan Evaluasi
Setiap kegiatan yang direcanakan dan hasil yang dicapai harus dimonitoring dan dievaluasi sesuai dengan tujuan advokasi.
Studi Kasus:
Advokasi Anggaran Kesehatan di Polewali Mandar *
Kabupaten Polewali Mandar (Polman) merupakan salah satu kabupaten yang berada
di wilayah Sulawesi Barat. Polman terbagi atas 16 kecamatan dengan 455.572 jiwa.
Dari segi infrastruktur terjadi kesenjangan yang sangat tinggi antara daerah perkotaan
dengan perdesaan. Infrastruktur yang relatif baik hanya terdapat di 2 kecamatan di wilayah perkotaan saja yaitu Kecamatan Polewali dan Kecamatan Wonomulyo.
Sementara kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perdesaan minim fasilitas
publik baik sarana maupun prasarana. Mereka juga kesulitan akan akses terhadap listrik, pendidikan, kesehatan bahkan sarana kebersihan (MCK).
Berdasarkan data UNDP pada tahun 1999, Angka Harapan Hidup di Polman
termasuk rendah bila dibandingkan dengan daerah lain. Sementara itu, alokasi
anggaran kesehatan hanya sebesar 5,4% dari total APBD dengan rincian 15,2% untuk
belanja aparatur dan 84,8% untuk belanja publik. Namun setelah dianalisa lebih dalam
ternyata 84,8% belanja publik ini lebih banyak digunakan untuk belanja pegawai yaitu
sebesar 76,8%. Sehingga dengan demikian, alokasi anggaran yang riil digunakan untuk kepentingan masyarakat hanya sebesar 15,2%.
Alokasi anggaran kesehatan yang sangat minim ini berbanding terbalik dengan
penerimaan yang diterima dari sektor kesehatan. Pada tahun 2005, penerimaan dari
retribusi kesehatan mencapai sebesar 1,3 Milyar atau 50% dari total penerimaan
retribusi daerah. Dan itu sama artinya bahwa pembangunan di Polman dibiayai oleh orang sakit.
dan ketidakadilan dalam alokasi anggaran, YASMIB mulai melakukan pengorganisiran terhadap kelompok-kelompok masyarakat terutama perempuan.
Kenapa perempuan?
Dalam banyak kasus, buruknya pelayanan kesehatan sangat terkait dengan
kepentingan perempuan. Perempuan yang paling mendapatkan dampak ketika ada
anggota keluarga yang sakit dan perempuan pula yang paling sering menjadi korban
akibat buruknya pelayanan kesehatan misalnya ketika melahirkan.
Setelah memetakan siapa yang menerima dampak paling buruk akibat kebijakan
ini, YASMIB kemudian mulai melakukan pendampingan dan penyadaran melalui pendidikan (transformasi informasi). Langkah-langkah pendampingan diperlukan
untuk membangun kedaulatan rakyat atas anggaran yang terindikasi dari tumbuhnya
pertisipasi dan kontrol masyarakat terhadap jalannya pembangunan.
Intervensi terhadap kebijakan dilakukan dengan cara mengontrol dan mengkritisi
secara langsung setiap kebijakan dan anggaran pemerintah terutama yang terkait
dengan sektor kesehatan. Intervensi diawali dengan melakukan assessment (penilaian)
terhadap kemiskinan dan ketimpangan gender yang terjadi di dalam masyarakat. Kemudian dilakukan analisis berbagai dokumen kebijakan dan anggaran. Hasilnya
kemudian digunakan untuk membangun opini publik melalui media massa dan
membangun komunikasi politik dengan kuasa anggaran (eksekutif dan legislatif).
Selain itu juga dibarengi dengan memantau dan mengawal setiap proses dan tahapan perencanaan dan penganggaran; mulai dari perencanaan, penetapan, hingga
pelaksanaan anggaran.
Seiring dengan gerakan advokasi anggaran yang dilakukan YASMIB, pada tahun
2006 mulai terlihat beberapa perbaikan dimana anggaran kesehatan Polman mengalami
peningkatan sebesar 9% dari tahun sebelumnya. Kemudian juga bermunculan berbagai
perogram dan kegiatan yang lebih berpihak pada kepentingan rakayat miskin seperti
program pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin.**
*disarikan dari buku Belajar dari Tanah Mandar; Mengawali Gerakan Gender Budget di Polewali Mandar, ditulis oleh: Yenny Sucipto, Sunarti Sain dan Rosniaty.
Pertanyaan Kunci:
1.
Sebutkan 3 (tiga) wilayah kerja advokasi!
2.
Sebutkan tahapan strategi advokasi anggaran!
3.
Sebutkan faktor-faktor pendukung dan penghambat
advokasi anggaran!
4.
Pada tahapan apa sajakah terdapat peluang
24
Lampiran 1 – Contoh Prioritas Platform dan Anggaran Sementara
LAMPIRAN
Lampiran 4 – Contoh Dokumen Pelaksanaan Anggaran Sumber: htp://kalbarprov.go.id
LAMPIRAN Lampiran 6 - Rekapitulasi Belanja Pemerintah Daerah
Daftar Pustaka
Yenny Sucipto, dkk (2014). Modul Magang; Perencanaan dan Penganggaran responsif Gender. Jakarta: Forum Indonesia untuk Transparansi
Anggaran (FITRA).
Fridollin Berek, dkk (2006).Kumpulan Modul Pendidikan Politik Anggaran Bagi Warga. Bandung; Bandung Institute for Governance Studies(BIGS),
Biodata Penulis
Yenny Sucipto. Lulusan S1 Universitas Brawijaya Malang, dan tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana Ilmu Ekonomi IPB dan pasca sarjana Kajian Gender dan Transformasi Sosial UI. Sejak Tahun 2013 dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA). Aktif sebagai aktivis lembaga swadaya masyarakat dan peneliti APBN/d sudah sejak tahun 2002, hingga dipercaya menjadi kontributor untuk isu anggaran sektoral di beberapa publikasi lembaga, dan beberapa tulisan opininya juga pernah dipublikasikan di media, seperti Kompas maupun Jurnal Nasional. Yenny juga menulis beberapa publikasi, di antaranya “Gerakan Advokasi Pro Poor Budget” (2007); “Belajar dari Tanah Mandar” (2008); “Inovasi Partisipasi” (2009); “Beban Keuangan Negara Terhadap Pemekaran daerah” (2010); “Kebijakan Anggaran HIV dan Aids” (2011); Pak Bujet: Melek Anggaran” (2012); dan “Hubungan Keuangan Pusat dan daerah” (2013)”, “APBN Konstitusi Tahun Anggaran 2014” (2013), “APBN 2014: Anggaran Kesejahteraan Sosial” (2014). dapat dihubungi melalui email: [email protected]
Yenti Nurhidayat. Sejak kuliahdi Universitas 17 Agustus Jakarta pada tahun 1993 aktif mengeluti dunia advokasi dan kampanye dengan merancang berbagai kegiatan kesenian yang ditujukan untuk membangun kesadaran publik terhadap isu-isu kemanusiaan. Pernah bekerja sebagai campaign oicer Komnas Perempuan pada tahun 2002-2004. Mulai terlibat dalam riset dan kajian sejak tahun 2007 dan awal 2015 mulai bergabung dengan Seknas FITRA sebagai staf riset.
Tentang Koalisi Publish What You Pay (PWYP) Indonesia
Publish What You Pay (PWYP) Indonesia merupakan koalisi 39 organisasi masyarakat sipil untuk transparansi dan akuntabilitas tata kelola sumber daya
ekstraktif migas, pertambangan, kehutanan dan sumber daya alam lainnya. PWYP Indonesia terailiasi dalam kampanye global Publish What You Pay. Berdiri sejak tahun 2007, dan terdatar sebagai badan hukum Indonesia sejak
tahun 2012 dengan nama Yayasan Transparansi Sumberdaya Ekstraktif. Aktivitas PWYP Indonesia berada di sepanjang rantai nilai sumberdaya ekstraktif yang berfokus pada transparansi dan akuntabilitas fase sebelum
kontrak dan operasi (publish why you pay and how you extract) dan pendapatan negara (publish what you pay); fase pemanfaatan pendapatan