• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lomba Cipta Cerita Pendek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Lomba Cipta Cerita Pendek"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Cita Rasa Indonesia

Peringkat V

Shiba Mutiara Nabilah

SMA IT Al-Kahfi, Jawa Barat

Beragam, tapi tetap satu, Banyak rasa, tapi tetap satu,

Adat yang berbeda, tapi tetap satu,

Bhinneka Tunggal Ika, aku cinta Indonesia

Menit itu aku menemukannya. Cita rasa baru yang menyentuh

per ukaa lidahku. I i gudeg, M ak? Begitulah perta yaa e erapa ora g

yang telah merasakan resep terbaruku ini. Sungguh, aku mencintai ide cemerlang ini. Pastel isi Gudeg. Belum terpikir olehku nama unik dari harta karun terindah yang dihasilkan otakku setelah berpikir keras. Hanya merasa bangga pada daerah tercinta, Jogjakarta. Meski dahulu terasa pahit di hati.

***

10 tahun silam.

Assala u alaiku .

Wa alaiku sala .... Ada apa Kiara, kok teriak-teriak? .

Aku terus berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan Ibu. Sore yang kelam bagiku. Sepulang sekolah langsung saja aku pergi membawa biola kesayanganku menuju taman dekat rumah.

Tidak ingin pulang. Biarlah semilir angin membelai kepalaku dengan lembut. Bahkan burung-burung berbaik hati menyanyikan sebuah lagu yang indah. Sementara aku masih bergetar, meringkuk. Di bawah rindang pohon, kutaruh biola pemberian Ibu tepat di sisiku.

Jawa ka pu g! Maka a ya a eh! Ma is a get rasa ya! Ka u gak

(2)

uata ku! HAHAHAAA .

Masih terngiang. Ejekan Radit soal masakan Ibu.

Sudah seminggu aku tinggal di Sulawesi Selatan. Tak begitu lama dibanding dulu tinggal di Jogja. Aku belum terbiasa di sini. Memang, orang-orang di sini baik. Tapi ada salah satu temanku yang selalu mengejek masakan Ibu untuk bekalku di sekolah. Awalnya aku terima, lama-lama aku muak.

Bahkan aku tak tahu harus apa bila besok Radit memberiku makanan pedas? Aku tak bisa memakannya. Aku tak bisa makan pedas. Lidahku bisa terbakar nanti. Bisa saja aku mengadu pada Ibu. Tapi untuk apa? Percuma! Aku tetap akan sekolah di tempat yang sama. Sebab, Ayahku memang di tugaskan di pulau kecil ini, Selayar. Terletak tepat di bawah kaki Sulawesi Selatan. Budayanya indah, tapi tidak dengan Radit!.

***

Keesokan harinya.

Kiara? Kok, asih di si i? Tidak takut? .

Ah, lagi-lagi Radit. Biar saja dia berbicara sesuka hati. Aku pura-pura tidak dengar saja.

Kiara! Ka u de gar gak, sih?! ‘adit e ggertak.

Apa?! Mau ka u apa?! Aku e a ta g ya. Ka u au makan bekal buatan I uku?! .

Tunggu, kali ini Radit malah pergi. Tidak menghiraukanku. Apa ada? Ah, aku tidak peduli.

Alih-alih hatiku er isik se uah ke aika . Ha piri ia, Kiara . Baiklah, aku mengangguk mantap. Sepertinya Radit memang tak bermaksud menyakiti hatiku. Entahlah. Biar aku coba berbicara dengannya.

Rupanya Radit sedang melamun di belakang kelas. Dia tidak bergerak. Diam saja seperti batu.

Ada apa, Dit? Ta yaku pela , ha pir tak terde gar. Pergi sa a! Ja ga e gha piri atau e gikutiku lagi! .

Radit berdiri, hendak beranjak pergi. Tidak, dia tidak jadi melangkah

pergi. Ia e oleh ke arahku. Juga ja ga awa ekal dari I u u lagi! .

(3)

mengerti, ada apa dengan Radit? Apakah sesuatu membuat ia marah? Hingga aku yang kini menjadi pelampiasannya. Aku tak peduli. Sungguh.

***

Pulang sekolah kali ini aku sedikit tenang. Kau tahu?. Ini semua sebab tidak ada gangguan dari Radit. Soal janjinya ingin memberiku makanan pedas. Tidak hari ini mungkin besok. Entahlah. Aku tetap senang karena sore ini aku hendak bermain biola dengan tenang di taman dekat rumah.

‘adit? Ngapai di si i? .

Tiba-tiba saja taman tempatku bermain terisi orang yang tidak ingin kulihat. Hal bodoh macam apa ini?.

Hai Kiara. ‘u ahku juga dekat si i. Gak ada ya g tahu ru ahku. ‘adit

berkata lembut.

Alisku mengernyit, tidak biasanya Radit begini.

Boleh aku i ta aaf? ‘adit erkata lirih sa il terus e u dukka

kepala.

Ke apa? Ta yaku ya g asih elu e gerti.

Aku suka ekal u, e ak. Aku ha ya iri. I uku dulu juga seri g

membuatkanku makanan daerah asal Sulawesi Selatan. Seperti Ibumu

memperkenalkan kuliner daerah asalmu. Kita sama. Bedanya, bagiku semua itu telah lampau. Bagimu tidak. Ibuku sudah tidak bisa memasak. Ia terbaring

le ah di ru ah sakit .

Ke apa? Aku e yela, pe asara . Tu or otak, ‘a. “ejak dua i ggu lalu.

“udahlah, gak usah sedih. Ayo ke ru ahku, kita uatka I u u gudeg

buatan Ibuku. Nanti kamu akan diajarkan bagaimana membuatnya. Tapi kamu juga harus mengajarkanku dan Ibu cara memasak makanan daerah Sulawesi

“elata i i, Oke? .

Radit me ga gkat kepala, tidak lagi e u duk ersedih. Ka u aka

kuajarka e uat Jala gkote, asal kau i gi e aafka ku. Te a g ‘adit, kita te a uka ? .

(4)

tawa. Bukan lagi amarah atau sebuah kesedihan. Semoga tetap seperti ini.

***

Waktu terus berjalan. Bumi nampaknya masih ingin berputar. Itu bagus. Sebab aku masih ingin menemukan Radit.

Umurku sudah dua puluh tahun kini. Sudah tumbuh menjadi seorang koki di tempat asalku, Jogjakarta, kembali pulang. Memikirkan apa yang akan aku perbuat ke depan. Belum lagi Radit, kemana orang itu? Mencari haruskah aku?.

Memikirkan Radit membuatku mendapat ide cemerlang! Jalangkote, pastel dengan kuah pedasnya yang terkenal dan isinya dengan tambahan kari. Gudeg, manis dengan sayur nangkanya. Bagaimana jika mereka bertemu? Seperti aku dan Radit. Seperti Indonesia, yang meski banyak ragam suku dan adat istiadatnya namun tetap satu. Akan kubuat Jalangkote berisi gudeg yang disiram sedikit kari dan tambahan saus pedas. Bukankah itu cemerlang? Terima kasih Tuhan, kau ciptakan Radit sebagai inspirasiku. Sungguh, ini karunia.

***

M ak, de gar-de gar di si i ada e u aru ya? .

Ada, Mas. Jala gkote isi Gudeg. . “aya pesa dua. .

Baik, aka segera dia tarka . .

Sayup-sayup aku mendengar percakapan salah satu pelayan berbicara dengan sosok yang tak asing bagiku. Aku mengintip sebentar lagi dari balik kaca tempat aku memasak. Pelayan tadi menghampirinya lagi. Melakukan sedikit perbincangan dan menghampiriku. Tunggu, apa kubilang tadi? Pelayan tadi menghampiriku. Apa masakanku tak enak, ya?.

Bu, di ari sa a pela gga di depa . Pelaya itu e garahka

(5)

Ada ya g isa di a tu. Pak? Tuturku sopa sedikit e u duk.

Masaka u e ak, ‘a. Be ar-benar percampuran Sulawesi Selatan dan Jogja banget. Kamu berhasill menggabungkannya. Membuat keanekaragaman

I do esia terasa di lidah. Aku a gga. .

Tidak mungkin. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat dan dengar di

hadapa ku i i, terpera gah. ‘adit? .

Me a g ya sudah lupa de ga garis wajahku? Ja ga erle iha , ah. Hahaha. .

Tak terasa air mataku terjatuh membasahi pipi. Aku rindu, teman.

Ya, aku tahu e a g iki ka ge . Lagi-lagi ia terkekeh jahil. I uku

sudah gak ada, ‘a. Tapi te a g aku ikhlas. Dia erpesa sesuatu. . Aku terdia . He i g sesaat. Apa? ta yaku lirih.

I u ila g, au gak ka u e eri a la ara ku? Ke udia kita aka

gabungkan dua daerah ya g er eda de ga kasih saya g. .

Detik itu aku tak dapat berkata-kata. Bukankah ini skenario Tuhan. Ia ciptakan Indonesia dengan keaneka ragaman, namun tetap bersatu. Bhinneka Tunggal Ika. Aku cinta Indonesiaku.

***

Kini aku dan Radit mendirika se uah afe de ga a a Cita ‘asa

I do esia . Ada a yak perpadua rasa di dala ya. Juga a eka a a ora g

yang berkunjung dengan adat istiadatnya. Ah, betapa indahnya melihat semua ini. Indonesia benar-benar bersatu. Benar-benar saling mencintai.

Ka u pi tar, Kiara. Me iptaka se ua i i. .

Kare a ka u juga, Dit. “udah a yak e a tuku. .

Bukan, ini semua berkat Tuhan ciptakan Indonesia.

Radit menciptakan sajak singkat. Dia memang bisa diandalkan soal

tulisa . Judul ya Cita ‘asa I do esia . Sepeti nama cafe kami. Ia tulis untuk diapajang pada etalase toko. Sebagai pengingat bahwa kita harus saling mencintai.

Cita Rasa Indonesia.

(6)

Jika kau bergumam, bagaimana Indonesia bersatu? Tanyakan saja pada dirimu sendiri.

Bagaimana kau terlahir di Indonesia tapi tidak cinta? Cinta terhadap keragamannya.

Cinta terhadap orang-orang di sekitarmu. Mulailah mencintai perbedaan.

Karena kita satu. Bhinneka Tunggal Ika. - Radit -

(7)

Ke

a g di

Persimpangan Jalan

Peringkat VI

Fida Aifiya Chusna

SMAN 1 Talun, Jawa Timur

Eeh... hei, hei, ke apa itu ka u taruh situ, hah? Ke apa pake gitu

-gitua segala? .

Sukarmin dengan tubuhnya yang kurus ringkih nyaris ambruk gemetaran karena suara tinggi Haji Dullah.

Ke apa pertigaa dikasih ke a g tujuh rupa segala? Musyrik itu a a ya! Kata Haji Dullah de ga ata e tar-mentar macam lampu sorot merah, membuat Sukarmin makin gemetaran. Tangan besarnya di taruh di pinggang, sebagian karena menyangga perut buncit yang nyaris luruh ke tanah, sebagian karena beliau mau pamer jam Rolex yang dia beli waktu jalan-jalan ke Dubai minggu lalu.

A-a-ampun Pak Haji, sa-saya cuman disuruh sama Kang Tarjo. Sa-saya mah, ga tahu apa-apa. Ta-tadi saya pulang dari sawah tiba-tiba dikasih ini, katanya suruh ditaruh di pertigaan, suara “ukar i ge etar. Dia harus membela diri. Haji Dullah itu bak harimau di Kampung Sutojayan. Kalau lihat apa-apa, walaupun masih sekali lihat, prasangka pertamanya lurus sekali, tajam macam tombak. Kalau tak ada yang menjelaskan, bisa-bisa tombak itu melayang sampai tembus tulang iga korbannya.

Ka g Tarjo... Ka g Tarjo... dari dulu kalau ada apa-apa, kamu selalu menyalahkan Kang Tarjo. Kamu tahu kan, Kang Tarjo itu orang kepercayaan saya di kampung ini. Kamu mau memutuskan tali di silaturahmi dan rasa saling

per aya ka i, hah? ta ga Haji Dullah e ga u g-acung ke wajah Sukarmin. Yang diacung-acungi Cuma bisa mengkerut sambil memiringkan kepala sebisa mungkin. Takutnya jari-jari Haji Dullah yang sebesar pisang raja dan berkuku panjang itu menusuk bola matanya.

A-a pu Pak Haji... i i e ara .. .

Alaah... ka u itu– .

(8)

ngasih kembang tujuh rupa di pertigaan sini. Kalau nggak percaya, aku

saksinya! Udah, ayo cepet pulang. Ngapain juga ngurusi yang beginian?

Buang-ua g waktu. Ari i, putri tu ggal Haji Dulah e atika ti daka kasar

bapaknya dalam kalimat yang menjelaskan segalanya. Seperti biasa, kembang desa itu mencuatkan durinya. Seperti biasa pula, bapaknya yang kena durinya.

Ari i e eri tatapa ayo pula g ya g sa gat taja pada Haji Dullah.

Meskipun itu tidak mendinginkan api di dada Haji Dullah, setidaknya sikap ketus-tegas Arini menjadi payung peneduh yang tak terduga bagi Sukarmin.

Nduk, ka u itu ke apa to, selalu egitu sa a A ah? Masa ada a ak

perempuan bicara keras sama bapaknya di tempat umum? Kan malu kalau dilihat orang. Mbok ya yang kalem, halus, biar nanti – .

Arini yang berjalan di depan bapaknya berbalik tiba-tiba, mengagetkan Haji Dullah. Mukanya masih masam. Jengkel, kepanasan, dan muak oleh tabiat buruk bapaknya, sehingga wajah yang dipahat dengan begitu artistik itu tiba-tiba nampak seperti wajah penjaga pintu neraka. Dengan suara tegas seperti

tadi, dia erkata lurus pada wajah terkejut Haji Dullah, Bah, kau ggak au di e tak, ja ga e tak ora g lai ! .

Kata-kata itu mendidihkan emosi di dada Haji Dullah. Uapnya sampai ke ubun-ubun, membuat wajahnya merah serupa lobster. Ia hendak membentak balik Arini, tapi putrinya itu sudah pergi duluan. Arini melemparkan tungkainya jauh-jauh pada setiap langkah, dengan ritme super cepat, sehingga Haji Dullah yang punya encok itu tidak bisa mencapainya.

Sampai rumah, Arini mengunci pintu kamarnya. Hajjah Maimunah, ibunya yang kalem dan penakut hanya menonton dengan rasa panik dan waswas putrinya pulang tidak bersama si bapak.

Ari i! Ari i, ja ga kura g ajar ka u sa a A ah! Haji Dullah

memasuki rumah dengan kaki dihentak-hentak dengan nafas hampir putus-putus, dia masih terlihat seperti badak murka. Berhenti di depan pintu kamar Arini, Haji Dullah membuka lagi kasus Sukarmin dan kembang tujuh rupa di pertigaan, A ah tadi au eluruskan Sukarmin! Menaruh kembang tujuh rupa di pertigaan itu sama saja mempercayai kalau ada roh nenek moyang yang melindungi tempat itu, yang minta diberi persembahan. Percaya sama

roh e ek oya g itu usyrik, ka u juga tahu itu! .

(9)

seindah-indahnya lagu, kalau yang menyanyikan anjing, jadinya tetap gonggongan.

Arini melempar dirinya tengkurap di atas tempat tidur. Wajahnya

menghadap ke arah jendela. Dari sana tampak seseorang... Arini memicingkan matanya, Kang Tarjo! Pria itu tengah menuntun sepeda pancalnya yang

berkarat ke arah barat. Biasanya sore-sore begini Kang Tarjo baru pulang dari kebun tebu majikannya. Laki-laki itu, seperti kebanyakan laki-laki di kampung Sutojayan, bertubuh kurus dengan kulit legam terbakar matahari. Hidup sederhana di gubuk sederhana dengan keluarga yang sederhana juga. Setiap subuh pergi ke surau, setiap kerja bakti selalu datang dengan antusias, seolah-olah hidupnya dipersembahkan untuk Kampung Sutojayan dan masyarakat di sini. Tapi Arini yang cuek tak pernah repot-repot memperhatikan laki-laki itu pulang dari Kebun tebu majikan, kecuali sekarang. Ada dorongan aneh dalam dirinya yang mengatakan dia harus menghampiri laki-laki itu dan memintanya menjelaskan masalah kembang tujuh rupa di pertigaan pada Haji Dullah.

Bangun dari tempat tidurnya, Arini meraih kerudungnya, tapi kemudian meletakkannya kembali begitu mendengar suara Haji Dullah memanggil Kang

Tarjo. Jo, Tarjo, si i! .

Kang Tarjo menghentikan langkahnya, menengok kanan-kiri. Rasanya dia tadi mendengar panggilan, tapi ia tak menduga kalau yang memanggil adalah Haji Dullah.

“i i, Jo! Haji Dullah keluar ke teras ru ah supaya Kang Tarjo melihatnya.

Oooh, Pak Haji! Tak pikir siapa... .

Dengan senyum polos-ramah tipikal orang kampung. Kang Tarjo mnuntun sepedanya ke pelataran rumah Haji Dullah. Dia pikir pak Haji galak yang biasanya baik padanya itu kali ini juga memanggilnya untuk memberi perlakuan baik lain, tapi laki-laki polos itu sedang dalam nasib malang.

Eh, ka u gapai suruh “ukar i aruh ke a g tujuh rupa di pertigaa , hah? .

(10)

tahu, sekarang dia dalam masalah.

Tadi se ua ora g si uk. Pak Haji, ya g ada Cu a “ukar i , jadi saya suruh dia.... .

Buka itu asalah ya! e tak Haji Dullah.

Sepeda pancal reyot Kang Tarjo nan rapuh nyaris jatuh ke tanah karena bentakan Haji Dullah.

Ke apa harus pakai ke a g tujuh rupa segala, hah?? Itu syirik

namanya! Menyekutukan Allah! Besar dosanya. Kamu nggak pernah baca

Al-Qur a ya? Nggak per ah de gar era ah? “udah jelas ka , di Al-Qur a tidak akan masuk surga orang yang menyekutukan Allah. Mereka kekal di neraka!

Ka u au asuk eraka?? .

Wajah Kang Tarjo pucat pasi, kaki dan tangannya lemas. Setelah berkali-kali melihat warga kampung lain dibentak Haji Dullah, baru berkali-kali ini dia

merasakan pengalaman serupa. Pantas saja warga kampung banyak yang alergi kalau berdekatan dengan Haji Dullah.

Ndak, Pak Haji, saya dak au asuk eraka. “aya Cu a gikut tradisi

di Kampung Sutojayan, kalau malam tahun baru, harus dikasih kembang tujuh

rupa di tiap persi pa ga jala . .

Tradisi... tradisi... tradisi syirik itu namanya! Udah, cepetan kamu ambil

ke a g ya. “i gkirka se ua! .

Terbirit-birit Kang Tarjo menuntun sepedanya pergi ke persimpangan jalan. Dipungutinya kembang tujuh rupa yang sudah ditaruh Sukarmin atas perintahnya sendiri.

Malam itu, malam tahun baru, ketika kembang api meledak di langit berbintang, muda-mudi berkumpul di pinggir jalan dengan maksud yang tak terlalu terpuji, Kang Tarjo berbaring di atas kasur kapuk, memikirkan ceramah yang dibentakkan Haji Dullah. Di tengah lamunannya, suara benda dihantam keras dan jeritan perempuan terdengar dari pertigaan dekat rumahnya. Semua orang keluar, melihat dengan panik. Dua korban jatuh. Laki-laki-perempuan boncengan. Yang laki-laki berdarah kepalanya, yang perempuan berdarah sepanjang lengan kanan.

I i gara-gara tidak ada ke a g tujuh rupa! gerutu ora g-orang kampung.

I ilah kalau tidak taat tradisi.. .

(11)

diletakkan di persimpangan jalan, termasuk di pertigaan dekat rumah Haji Dullah.

Pak Haji menggerutu, masih melanjutkan topik ceramah tentang kesyirikan. Arini diam saja. Saat lewat pertigaan malam itu, dia melihat sepasang laki-laki dan perempuan berboncengan. Awalnya motor melaju kencang, tapi begitu pengemudinya melihat objek sakral di pertigaan, jalannya melambat. Dari arah timur, ada kendaraan lain yang juga melambat setelah melihat kembang tujuh rupa. Arini yang tadinya waswas membayangkan dua kendaraan itu bertubrukan, akhirnya bernafas lega.

Sekarang dia paham, ada alasan dibalik segalanya. Siapapun yang menurunkan tradisi kembang tujuh rupa di persimpangan jalan setiap malam tahun baru adalah orang cerdik. Mereka tidak memikirkan makhluk gaib penunggu kampung, mereka memikirkan keselamatan manusia, bahkan mereka yang paling kurang bijaksana sekalipun.

Arini tersenyum. Langkahnya ke rumah terasa ringan. Sekarang dia tahu bagaimana cara menjawab gonggongan anjing yang menyalak.

(12)

Kisah Dalam Setangkup Roti

Peringkat VII

Sherina Salsabila

SMAN 67 Jakarta, DKI Jakarta

Aku mengoleskan mentega di roti itu. Lalu, menambahkan selai cokelat di atasnya. Sekarang, menangkupnya dengan selembar roti lagi. Aku

mengasurkan piring roti itu kepada gadis di hadapanku. Dia mengentikan ceritanya, mengambil roti itu dan mulai menggigit serta mengunyahnya pelan.

Dia kembali melanjutkan ceritanya.

Waktu itu aku seda g latiha Biola u tuk audisi. Lala data g da

langsung beteriak dan mengoceh tidak jelas seperti biasanya. Semakin aku memainkan Biola dengan tempo yang cepat, teriakan Lala juga ikut menyaut dengan tidak kalah keras. Aku sungguh kesal dengan Lala. Akupun

menghentikan latihanku dan pergi ke arah dapur, aku membuka lemari pendingin. Baru saja aku ingin mengambil botol air dingin itu, tetapi tangan putih dan gempal sudah tak terlebih dahulu merebutnya. Lala menenggak air

di gi itu de ga sekali teguk da ta das seketika, .

Dia berhenti sebentar, mengambil air mineral di depannya dan meminumnya. Sejak tadi, aku memperhatikan cara dia memakan roti itu. Menurutku, cara dia menggigit roti sangat aneh dan juga unik. Dia bercerita lagi.

Aku e ar-benar kesal pada Lala. Aku hanya melongo melihat kejadian di hadapanku. Dan kekesalanku sudah sampai ke ubun-ubun! Aku memaksa Lala unuk kembali ke rumahnya dan tidak menggangguku lagi. Tetapi ucapan dan teriakanku bahkan tidak membuat Lala merasa bersalah. Dia berlari lagi ke ruang keluarga di rumahku, dan mengambil Biolaku yang tadi belum sempat aku simpan. Kemudian menirukan gayaku ketika sedang bermain Biola. Lala memainkannya dengan asal-asalan. Aku merebut Biolaku, tetapi Lala tetap tidak ingin melepaskannya. Lalu terjadilah tarik menarik, memperebutkan Biola itu. Hingga akhirnya... se ar Biola itu putus. .

(13)

terus fokus mendengarkan ceritanya.

Aku erasa sa gat putus asa. Buka kare a se ar Biola kesaya ga ku

putus, tetapi karena senar itu mengenai mata Lala. Awalnya aku tidak peduli dengan semua yang terjadi, aku berlalu begitu saja ke kamarku di lantai atas. Aku masuk ke kamarku dan segera mengunci pintu. Aku berusaha untuk tidur

saja da elupaka se ua kejadia itu. .

Terde gar ketuka di pintu kamarku yang terkunci. Suara itu telah

e gga ggu tidur ye yakku. Ma a asuk ke ka ar, da erkata ‘i , ayo

beres-beres, cuci muka dan pakai jaketmu, kita semua akan segera ke rumah

sakit u tuk e ga tar Lala. Aku erdegup, da tidak e gatakan apapun

lagi. “egera elakuka apa ya g diperi tahka Ma a .

Rin berhenti mengunyah rotinya yang semakin kecil. Menaruhnya di dalam piring.

Ka i, ora g Maluku e a g e iliki kekera ata ya g asih sa gat

erat.. semuanya sudah dianggap keluarga. Apapun yang terjadi pada seseorang di kampung kami, maka semuanya akan tahu dan siap sedia untuk membantu. Oleh karena itulah, Mama dan Papa selalu sibuk saat terjadi sesuatu pada Lala. Walaupun Lala bukan anak kandung mereka tapi Mama dan Papa menyayangi Lala seperti mereka menyayangi aku. Saat aku tanyakan hal itu pada mereka, jawabannya selalu sama. Bahwa Lala itu berbeda. Dia tidak sama dengan

re aja lai seusiaku. .

Oh ya ‘i , agai a a akhir ya setelah ka u e awa Lala ke ru ah sakit? ta yaku pe asara .

“aat itu. Ka i se ua, aku, Ma a, Papa, da juga ora gtua Lala

menunggu dan menanti kabar tentang keadaan Lala. Ayah Lala di panggil oleh seorang dokter yang menangani Lala. Ketika Om Pedro keluar, dia berkata

de ga lirih Lala uta . Hal itu e uat dadaku menjadi sesak,

tenggorokanku terasa tersumbat, dan perutku mulas seketika. Di tambah lagi

Bu da Lala ya g er erita... Lala adalah a ugerah Tuha ya g sa gat di a ti

di keluarga kami, penantian yang sangat lama. Lala kecil begitu sempurna bagi kami. Putih, gempal, matanya hitam dan dalam, rambutnya lebat. Lala

membawa kebahagiaan dan keceriaan dalam hidup kami berdua. Tetapi, ketika Lala berusia 3 tahun, semua kebahagiaan itu barulah kusam. Lala ternyata mengidap autis hiperaktif. Kami sangat sedih, tapi tidak pernah

(14)

seperti kita.

“etelah kejadia itu, a yak hal ya g eru ah di hidupku. Aku

menyesal. Tapi, aku juga benci pada Lala. Setelah kejadian itu, aku merasa Lala juga jadi berubah. Dia menjadi tidak banyak bicara dan sering menangis.

Masyarakat juga telah mendengar berita ini. Tentu saja mereka memihak pada Lala. Semenjak Om Pedro, Ayah Lala tahu bahwa karena aku dan Biolakulah Lala jadi Buta, dia menjadi Marah padaku, bahkan Papa dan Mamaku.

Beberapan bulan aku mengurung diri di kamar karena trauma dan tidak bisa menerima keadaan ini. Sampai Kakek Barnes mengajakku berunding

ersa a Lala da keluarga ya. Kakek erkata ‘i , Lala, kalia adalah ge erasi

muda Maluku. Tetapi kalian harus selalu ingat bahwa ritual dan warisan nenek moyang tidak boleh kalian lupakan. Kita, sejak jaman nenek moyang sudah dikenal dengan kedamaian dan ketentramannya. Dan untuk menjaga hal itu, para nenek moyang kita telah membuat sebuah sumpah adat agar kita selalu menjalin keharmonisan dengan suku kita. Itu adalah adat Pela, dimana pihak yang berselisih atau bermasalah harus meminum darah mereka yang telah dicampurkan. Agar kalian mengerti bahwa kita semua rakyat Maluku tersusun dari satu badan yang utuh. Dan jika salah satunya hilang, maka kehidupan kita akan pincang. Tanpa kedamaian, tanpa kesatuan, kita tidak akan pernah bisa

erdiri se diri. .

***

Rin menghentikan ceritanya dan menatap roti yang kini tinggal bagian tengahnya saja, de ga kata erli a g. “ejak saat itu, aku ulai isa

menerima segala kekurangan Lala. Bunda Lala benar bahwa selama ini, Lala juga bisa merasakan sakit, senang dan sedih. Tetapi kemudian, kejadian lain menimpa Lala. Kampung kami terbakar, entah apa penyebabnya. Banyak yang bilang, bahwa api merambat dari hutan sebelah Kampung. Kejadiannya begitu tiba-tiba dan tidak terduga. Lala yang saat itu sedang asik menggambar di kamarku, tidak tahu bahwa api telah memenuhi ruangan. Aku ingin

menyelamatkan Lala sebagai tanda terima kasihku, tetapi semuanya

terla at, .

(15)

piring itu. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. Aku mengelus punggungnya, menenangkan.

‘i , sudahlah... ayo ha iska roti u. Lala kan sangat suka roti di bagian tengahnya. Lala juga pasti senang melihat kamu makan roti dengan cara dia

e aka ya. .

Rin menatapku, dia menghapus tangis di matanya.

Hari i i, tepat bulan kepergian Lala. Aku menyebkan matanya buta dan api itu membuatnya pergi dari hidupku da dari du ia ya. Aku jahat! .

Aku memeluk Rin, lalu dia memakan rotinya. Lalu tersenyum, dan kembali melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Memaikan biola dengan lagu-lagu menyayat hari. Dan melukiskan gambar yang sama. Dua orang gadis muda dengan kulit khas, dan senyum yang sama.

Aku mengambil buku Catatanku, dan mencatat semua yang terjadi hari ini. Percakapanku dengan Rin mengajarkanku bahwa pertentangan itu selalu bisa diatasi. Walaupun dengan cara yang berbeda, unik dan tidak biasa. Dan seseorang kadang hanya butuh didengarkan untuk dimengerti.

(16)

Mata Dadu

Peringkat VIII

Azizah Amatullah

SMAN 2 Cimahi, Jawa Barat

Aku menatap sosok cowok menyebalkan di depanku, yang kutatap hanya membalas dengan seringai senyum menyebalkannya.

Aku tidak tahu, apakah isi kepala u itu sedang konslet atau bagaimana. Apa mungkin ini efek UAS-UA“ aku e atap ya yi yir.

Ayolah, UA“ sudah erakhir, “arah, . Dia tergeletak. Mai o opoli

itu tidak masalah kan? Apalagi kita sudah lama tak memainkannya. Waktu kecil, watakmu yang egois itu selalu tidak mau kalah, kalau tidak, kau pasti

e a gis, lalu e gadu pada Ma a. .

Aku tersenyum masam. Kesal sekali mengingat Pras selalu menang melawanku Dia terlalu beruntung.

Pras membuka papan monopoli di lantai kayu rumah pohon kami. Rumah pohon yang menjadi saksi bisu masa kecil kami berdua. Rumah pohon ini adalah hadiah dari ayah waktu kami berdua berulang tahun yang kedua.

Well, kau oleh e ilih pio u, Tua Putri. Da kau isa ain lebih

dulu. .

“eperti iasa, war a erah, aku e ga il pio er e tuk kepala kuda war a erah, da kau war a iru. .

Aku melempar dua buah dadu. Kemudian muncul mata empat dan tiga. Tujuh langkah. Aku mulai menggerakkan pionku.

Heh, Pras. Me urut u apa itu kesatua ? aku e atap papa o opoli ya g sudah lu aya le ek. Mo opoli i i pu ya er agai a a

kota di Indonesia. Lihat, pionku berhenti di Medan! Seperti apa kesatuan yang ada di negeri kita? Terlalu banyak budaya di negeri kita, dan kita sedang

erada di se uah era. Di a a kada g, udaya itu dipa da g se elah ata. . Pras e ga gkat se elah alis ya, Kau i i ke apa sih, “ar? Masih ter aya g UA“ PKN ha ya dapat 7? .

Ha ha. tawaku datar. Aku ha ya erta ya, Pa gera . .

(17)

susah hidup berdampingan. Dengan adanya era globalisasi seperti sekarang ini, budaya asli perlahan hilang. Dan soal kesatuan, teknologi itu menyatukan kita sebenarnya. Bukan lagi seperti Deklarasi Juanda yang berkata bahwa laut adalah yang menyatukan pulau-pulau di Indonesia. Aku pikir, budaya hilang itu

jadi wajar saja. Pras Melempar dadu. Enam dan lima mata dadu. Sebelas

la gkah Pio ya erhe ti di kota Ba du g. Kesatua di egeri kita itu jelas

ada, Sayang. Tapi ini bukan lagi soal mempertahakan budaya kita. Bukan

asalah esar kalau udaya hila g. Hei hei, apa aksud u de ga udaya

tak pandai berbahasa Sunda. Era globalisasi atau budaya modern dengan

pe garuh arat, te tu saja sulit erda ai de ga udaya asli kita. .

Aku tertegun dengan kalimatnya barusan.

Kau lihat apa? Pras e u jukka dadu o opoli. H ... itu dadu? .

Oke, kita a alogikan dadu ini sebagai negeri kita, dan kemudian mata

dadu se agai udaya .

Pras mengangkat dadu mungil itu hingga sejajar dengan mataku. Aku

e erhatika ya, lalu? .

besar dari yang lain. Bukankah dadu ini menampakkan kesatuan. Kalau kita menyatukan semua budaya dengan menghilangkan beberapa budaya. Itu!

(18)

Oke, Bahasa “u daku oleh saja jelek, kataku e gakui. Toh, ora gtua ka i juga tidak egitu e ekoki ka i de ga Bahasa “u da. Tapi a alogi u itu uruk sekali, Pras, aku e ghela afas. Menatap ke luar jendela rumah pohon. Aku bisa melihat kolam ikan dan lapangan basket milik Pras. Dia memang gila basket.

Pras angkat bahu, lalu menggelindingkan dadu itu ke arah dekatku. Aku meraihnya kemudian seolah tanpa sengaja, aku melemparkannya ke luar

je dela. Ups aaf. .

“ar, ka u gapai sih? Kita ka lagi ai are g! Dia e dekatiku,

melihat ke arah luar jendela.

Budaya kita jatuh se ua ih, Pras, a ili do g! kataku sa il tertawa. Kita sudah asuk usia “MA, Pras “aya g. “e aki hari, udaya

semakin berubah. Tapi tanpa budaya, permainan kita tak isa di ulai. .

Kalau udaya di a alogika se agai ata dadu. Muka e a ata dadu adalah ya g pali g se pur a. Kita isa ela gkah le ih jauh! .

‘ight! aku menganggukan kepala. Setuju dengan apa yang ia utarakan.

Kare a tidak ada kese pur aa di dunia ini. Tapi kita tentu bisa mencoba

e jadi ya g ter aik. .

Pras terdiam. Mungkin dia mencoba mencerna apa yang sebenarnya

i gi aku ulas. Kesatua itu e a g ada, “aya g. Tapi kita ersatu uka

hanya soal satu hal. Tapi karena kita Indonesia. Dan Indonesia itu

macam-a macam-a sekmacam-ali udmacam-aymacam-a ymacam-a. .

Kalau kita a alogika ata dadu se agai takdir Tuha . E a ata dadu adalah takdir Tuha ya g pali g se pur a. Mak a kesatua itu ele gkapi. .

Yeah well kau e ar. Tapi uka ya udaya se diri saja kau tak paham? Kau boleh saja ribut soal keragaman budaya di Indonesia. Betapa indahnya kalau kita berbeda. Tapi lihat kenyataannya. Kita tetap bersatu dengan

(19)

Bahasa I ggris le ih pe ti g. .

Kita i i se e ar ya seda g de at atau asih o opoli sih? aku

tertawa. Turu yuk, Pras. Disi i pa as a get! Ka i e uru i ta gga ru ah

pohon.

Aku erkelili g ru ah poho . Ba tui ari dadu ya g tadi do g, Pras. .

Kami berdua kemudian berpencar mencari dadu kecil yang tadi kulempar. Tak lama kemudian, Pras kembali dengan sebuah dadu kecil di tangan.

Aku ha ya e e uka satu dadu ih, “ar, dia e yerahka dadu ya

kepadaku.

Padahal dadu ya sejarah a get uat kita ya, Pras? .

Iya a get. Mu gki tahu lalu ya kita perta a kali ai ga e

monopoli. Kamu sih, main analogi aja di lempar-lempar. .

Iya aaf atuh, Pras. A is ka u ye eli a get tadi. .

Maafi aku juga, “ar. Aku ila g ka u egois pas perta a ai , tapi ter yata aku se diri ya g egois. .

Aku e ga gguka kepala. Eh tapi, e a g ya dulu aku seegois itu ya? .

Iya a get loh. Sar. Dulu kamu juga suka lempar dadu ke luar jendela. Makanya pas kamu lempar dadu tadi, aku jadi inget kalau kamu marah lempar

dadu ke luar je dela. U tu g selalu kete u lagi. .

Aku tergelak. Meski menyebalkan mendengarkan Pras bercerita masa laluku, tentu saja itu menarik untuk dikenang.

Na ti saja deh erita ya. Dadu ya i i gi a a loh Pras erta ya kesal. Ter yata udaya itu i dah ya, Pras .

Pras e atapku kesal. Lah, kata ya udaha go o gi udaya ya? Kita sa pai ga jadi ai o opoli loh. .

Iya, i dah a get. Kita itu aru gerasa erarti sa a sesuatu kalau

udah ilang. Pasti diteliti, pasti dicariin. Pokoknya indah banget, kaya dadu kita.

(20)

dia yang menang.

Pras termenung sebentar, namun kemudian dia menganggukan kepala

Ayo! .

Semoga Pras paham, budaya itu bukan hanya untuk dilupakan. Semoga.

(21)

Di alik Per edaa

Peringkat IX

Jihan Aulia Zahra

SMAN 104 Jakarta, DKI Jakarta

Jika kalian pernah berpikir bahwa Jakarta adalah kota yang penuh dengan masalah-masalah sosial dan politik, maka pikiran kalian tak

sepenuhnya salah. Tapi belum sepenuhnya benar juga. Jika kalian perhatikan Jakarta dan semua sudut pandang, disanalah aku dan warga Jakarta lainnya dapat menikmati hidup. Bukan hidup yang keras seperti yang kalian

bayangkan. Namun hidup penuh persaingan.

Aku Dira. Lahir dan besar di Jakarta. Selama hampir 17 tahun. Walau sudah lama di Jakarta, bukan berarti segala sesuatu yang ada di Jakarta telah aku rasakan. Namun, jangan salah sangka! Sebutkan saja ikon Jakarta yang kamu ketahui dan aku akan menceritakan semua detail mengenai tempat itu. Atau bahkan cara untuk mencapai tempat itu dengan transportasi umum.

Waktu yang sangat ramai untuk menikmati destinasi wisata Jakarta adalah ketika liburan. Terutama liburan pergantian semester untuk anak-anak sekolah seperti sepupuku, datang jauh-jauh dari Surabaya hanya ingin

erasaka at osfer Jakarta ya g pe uh de ga asap. Biar asap, tapi gaul,

begitu katanya.

Dia memintaku mengajakanya ke tempat-tempat destinasi Jakarta yang orang-orang se Indonesia raya tak akan asing mendengarnya. Aku

menyetujuinya dan berjanji akan membawanya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang jaraknya dekat dengan rumah. Ditambah aku sudah khatam dengan TMII yang luasnya berkilo-kilo meter persegi.

Jadilah aku memboyong sepupuku bernama Widi ke TMII. Sempat terjebak macet yang penuh asap dan suara bising klakson kendaraan, Widi terlihat menikmatinya.

Wo g u a asap kok kese e ga ? ta yaku.

Ka iar isa e syukuri, M a, jawa ya sa il e yekir.

Yowes, terserah. ku pasa g asker ya g ku awa dari ru ah da

(22)

Sesampainya di TMII, keceriaan Widi semakin bertambah. Kami berjalan kaki mengelilingi trotoar TMII dan sempat mengunjungi beberapa rumah adat. Widi masih terlihat baik-baik saja sampai satu kejadian membuatnya ingin cepat-cepat ke rumah.

Kami berada di sebuah lapangan besar dengan berbagai macam atraksi dan pameran budaya saat itu. aku menikmati acaranya karena aku memang menyukai bagaimana orang-orang memamerkan budaya yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Namun tidak dengan Widi.

M a, pula g yuk! ajak ya. Terlihat eria tapi aku tahu itu di uat-buat olehnya.

Loh, kok pula g? I i lagi seru loh, tolakku halus.

Tapi aku au pula g! e tak ya, e uat orang-orang sekitar mulai

Aku menariknya keluar dari kerumunan orang-orang yang masih

e o to aktraksi, e ari te pat ya g agak sepi. ka u ke apa? aku ulai

kesal dengan perubahannya.

Widi gak suka geliat atraksi egitua . Widi gak au seperti ereka

karena Widi cuman mau jadi seperti orang-orang rumah. Dan lagipula, teman Widi di sekolah Papanya di kejar-kejar sama orang-orang berkulit hitam seperti

ereka. Widi gak suka! jelas ya histeris.

Aku mencoba memahami apa yang barusan di jelaskan Widi. Sebagai murid yang mempelajari sosiologi di sekolah, aku mengidentifikasi Widi memiliki sikap etnosentris atau memandang sebelah sebuah budaya. Sejujurnya aku sangat membenci orang yang memiliki sikap ini, mungkin penilaianku terhadap Widi berkurang, namun aku berusaha meluruskan pikiranku.

Widi..., pa ggilku. “eu ur hidupku ketika tu uh da erke a g

(23)

sangka. Kamu baru menemukan orang berbeda suku dan ras seperti tadi di pameran? Bagaimana bisa aku mengajakmu berkeliling Jakarta yang penuh dengan perbedaan? Yang ada kamu bakal bersikap seperti itu! ta ahku.

M a, tapi..., Widi i gi e ela.

“e aki ka u dewasa, ka u aka tahu arti ya per edaa . Di Jakarta,

percaya atau tidak, kami tak hanya menggunakan bahasa Indonesia. Ketika bertemu dengan orang-orang yang memiliki suku dan daerah yang sama, maka kami akan menggunakan bahasa daerah. Dan sikap orang lain tidak berasal dari budaya-nya. Namun bagaimana ia dibesarkan. Percayalah, tak semua orang berkulit hitam itu jahat. Bahkan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang luar biasa yang kamu akan tertarik untuk berbincang mengenai budaya

ereka, poto gku pa ja g.

Widi kalah. Dia tak bisa berkutik, bibirnya bahkan tak bergerak. Terlukis di wajahnya bahwa di bimbang.

Raut wajahnya menjadi buyar ketika melihat dua orang dengan menggunakan koteka berjalan menuju kami. Widi bahkan menjadi tegang, terlebih mereka berhenti tepat di depan kami.

Hai! “apa salah satu dari ereka. Aku terse yu .

ketika kami tampil. Kamu pikir, kami harus bertanya kepadamu apa

pe a pila ka i tidak agus sehi gga kalia e i ggalka a ara egitu saja?

dan yang satunya menganggukkan kepala tertanda setuju.

Tidak, pe a pila kalia sa gat agus. Ka i eyukai ya, uka egitu, Widi? .

Iya, a... aku e yukai kalia , jawa Widi.

“yukurlah kalau egitu. Ka i pikir pe a pila tadi tidak e uaska kalia , ereka saling pandang dan tersenyum.

Apa kalia asih pu ya waktu? ta yaku.

Oh, te tu. “etelah i i ka i sudah tak ada a ara lagi, jawa salah satu

dari mereka.

(24)

Ajakku yang membuat Widi tertegun.

Mereka saling pandang dan tersenyum, pertanda setuju. Kami langsung mencari restoran terdekat. Sepertinya Widi juga mulai kembali ceria dan menikmati obrolan dengan orang-orang berkulit hitam yang tak dia duga.

Mereka aik da asyik, isik Widi di sela-sela obrolan.

Besok au gak ke Kota Tua? ta yaku. “a a Mo as ya? .

Iya, ke a apu ka u au deh, .

Widi harus tahu bahwa menjadi anak gaul Jakarta bukanlah menjadi anak-anak yang hidup mewah di Jakarta. Melainkan menjadi anak gaul Jakarta adalah anak yang berteman dengan siapa saja tanpa memedulikan asal dan latar belakangnya.

(25)

‘esiprokal

Peringkat X

Nabila Gita Andani

SMA Labschool Jakarta, DKI Jakarta

Aku berkawan dengan bola bekel.

Biarkan saja bola karet itu bergelayut sesuka hati di antara jemariku; bukan perkara besar apabila ia terlontar jauh. Karena aku tahu, ia akan selalu pulang. Sejauh apapun ia melambung. Bola yang kini di genggamanku adalah salah satu koleksi kesukaanku. Bentuknya dirajut dengan presisi; amboi! Lihai benar ia menari-nari di telapak tanganku, alangkah pas dalam kepalan

tanganku.

Bola itu kulempar tinggi-tinggi. Mereka bilang, sebuah lemparan bertenaga dapat mengenyahkan risaumu. Jadi, kutaruh semuanya pada bola hijau itu lalu kuenyahkan, bersama dengan sosoknya yang melejit jauh ke langit. Terengah-engah, aku menahan keseimbanganku yang porak-poranda. Lalu menunggu ia mendarat.

Ya, aku yakin ia akan kembali. Seperti tuannya yang percaya bahwa ia setia, pun sama halnya dengan apa yang ia rasa; jemari-jemari itu seolah menariknya kembali.

Kutunggu, satu-dua menit. Ternyata, ia tak kembali.

***

Yang paling menyebalkan dari ayahku adalah kepalanya yang sekeras batu dan egonya yang dapat membuncah kapan saja. Parahnya, saat sifat-sifat itu menggelegak bak buih dari dirinya, ia menyalahkan daerah Betawi kental yang mengalir dalam pohon keluarganya. Ya ampun, itu kan stereotipe orang dulu, yang hanya mencocokkan persepsi dengan keadaan?.

(26)

persa a Bapak di si i. ke ta gaku, ia jejalka sele ar ota ya g telah kusut.

Aku menerimanya dengan agak sungkan. Melihat bonsai-bonsai bapak yang gemuk itu menyenangkan, tentu. Namun satu hal yang lebih menggembirakan bagiku adalah mengetahui kelanjutan proyekku yang sedang berlangsung di bilangan Jakarta Utara itu; terlebih bila adalah kabar menggembirakan yang dihembuskaannya.

Sentra tanaman bonsai yang harus kujajal itu ada di Dukuh Atas; sangat jauh dari lokasi proyek. Sekarang di sinilah aku, dengan plastik besar berisi tanaman dari famili pinus-pinusan yang telah kerdil.

Be tuk ya jelek a get, Aku ergu a se diri. Bata g ya a tat

dan besar, seperti gelambir lemak di perut pesumo. Pesumo ukuran mini yang ditanam dalam pot datar. Aku berada di barisan terdepan antrean penanti bus Transjakarta yang akan membawa puluhan manusia ke Halte Matraman. Memang posisiku sebagai kepala, namun orang-orang yang membuntutiku bersikap sangat anarkis. Aku dapat saja sewaktu-waktu terlontar ke busway, bersama dengan pohon bonsai keramatku.

***

Di dalam Transjakarta puna aku masih tak dapat tenang. Benakku dibayang-bayangi proyek yang stagnan sejak dua minggu lalu dan bagaimana cara berpegangan pada gantungan di langit-langit bus sembari membopong tanaman bonsai ini. Sempat tergoda melihat tempat duduk yang kosong nun jauh di ujung sana, namun apa daya posisi itu dilindungi ornmen merah jambu yang feminim.

Akhirnya aku diam saja di situ. Pasrah terombang-ambing di antara seorang eksekutif muda dengan kemeja yang dinodai aksen kekuningan di bagian ketiaknya dan seorang mahasiswa berjas almamater yang menyumbat kedua telinganya dengan headphone.

Aku meraba saku celanaku. Ada sebentuk bola bekel (koleksiku yang lainnya, kesayanganku yang nomor dua, tentu) dan handphone-ku yang

(27)

mendayagunakannya menjadi sebuah tempat persinggahan bagi orang-orang yang datang ke Jakarta melalui bibir di utaranya itu.

Bro, dari ‘a u lalu kita asih erurusa sa a atu ya g pali g esar

itu, yang gue kirim fotonya lewat Whats App itu. kita pakai mesin yang sama kayak proyek sebelumnya, tapi dia tetep kokoh di situ. Masih dipikirin sama

ya g lai te ta g solusi ya. Mu gki au di o a didoro g lewat awah, jelas

A, rekanku yang memimpin proyek di lapangan, kami berdua sama-sama sadar bahwa ini sebuah kondisi yang melibatkan konsumsi buah simalakama. Saat pengerjaan proyek tak memiliki grafik elevsi, kami terus ditatap oleh puluhan mitra yang menanamkan pundi-pundi uangnya sebagai pondasi proyek kali ini.

Selain dari itu, aku tak dapat fokus lebih jauh lagi dalam menjaga tanaman bonsaiku ini yang didesak orang-orang. Di halte berikutnya, aku langsung melompat turun. Aku hampir terjepit saat melewati palang otomatis, namun langkah tunggang-langgungku ini ada baiknya. Bajaj tak berpenumpang yang sedari tadi kutargetkan berhasil kurebut.

***

Pemilihan bajaj sama sekali tak salah. Kendaraan jingga itu berhasil melesat dengan kecepatan angin, bahkan mesin tuanya terbatuk-batuk keras saat berusaha menyejajari kecepatannya. Aku sampai dengan selamat di rumahku yang terletak di daerah Proklamasi.

Nah... i i aru a ak kesaya ga Bapak. Bapak terse yu su ri gah,

lebih lebar daripada saat menyambut kepulanganku dari rantu. Ini pasti ulah si bonsai.

Aku duduk-duduk di teras sambil memainkan bola bekelku. Di halaman rumah, Bapak dengan penuh semangat mengoyak plastik pembungkusnya.

Ca tik ya... Bapak e gelus ata g- ata g ge uk itu. I i kualitas

i it pi us ya g pali g u ggul. .

Aku sudah menyaksikan Bapak beraksi dengan bonsainya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Aku sudah hapal betul, ia akan mulai dari memangkas daun-daunnya yang dipandangnya terlalu besar.

Kau tahu, ‘a adha a, ujar eliau di sela deru gu ti g ta a a .

(28)

memodifikasinya. Kecantikan alam adalah kecantikan yang dipersepsikan

a usia. Gu ti g Bapak asih elaju, poto ga dau erserak di dekat kakinya. Aku masih memantulkan bola bekelku.

Ala selalu e ge alika apa ya g kita tu pahka pada ereka. .

Aku berhenti memainkan bolaku. Ia menggelinding begitu saja, seperti tak bertuan. Lalu kuraih handphone dari dalam saku celanaku. Nama kontak Kolega A terpampang di layar.

Kalau suatu saat ala tak e ge alika ya, agai a a, Pak? .

Kali ini hening turun, menjadi jeda di antara hembusan napas kami.

Mu gki , ala sudah puas de ga apa ya g kita eri. Mu gki juga, se e ar ya ia je gah. .

Lalu aku terdiam lebih lama lagi

***

Kecantikan alam berstandar manusia sudah sejak ada sejak era di mana tanaman bonsai digagas, mungkin sekitar tahun 970. Dan sejak saat itu pula manusia sadar mengenai apa yang sebenarnya mereka sukai dari alam. Seperti batang bonsai yang meliuk-liuk, alam dapat diputar-putar sedemikian rupa. Mereka patuh.

Lebih jauh lagi, mereka tetap berkembang selagi tunduk pada tangan-tangan manusia.

Dia suatu titik, manusia sadar bahwa warna yang mereka gubah pada alam tak hanya warna-warna cerah, namun juga beberapa yang kelabu; yang teraduk-aduk dengan komposisi tak bertakar. Bagiku, kesadaran itu diperolah melalui Bapak dan bonsainya.

Hakikatnya, alam dan manusia resiprokal; namun tak lagi ketika alam sudah jengah.

(29)

Halo? “uara dari sa u ga ter oda deru-deru mesin berat.

Oi, A; i i gue, ‘a a. .

Referensi

Dokumen terkait

Peran strategis KPH merupakan peluang untuk resolusi konflik dengan pertimbangan KPH dibangun secara lokal spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kepentingan masyarakat

Aplikasi media pembelajaran interaktif berbasis multimedia tentang pembudidayaan ikan lele ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran system pembudidayaan ikan

sebelum belajar belajar dengan bantuan belajar dengan khusyu” belajar dengan khusyu” dan lancar KD 3.12-4.12 Anak mampu menyusun huruf menjadi kata sesuai gambar

Tabel 3 menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada perubahan skor tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu serta tingkat kecukupan energi,

Dalam penelitian, yang dikatakan mahasiswa tentang perilaku berpasangan & berkencan tidak selalu sama per orang; yang dikatakan tidak harus sama dengan yang

Jadi kesimpulannya manajemen sumber daya manusia adalah rancangan sistem dalam mengatur sumber daya manusia yang merujuk kepada bakat manusia secara efektif untuk

Secara umum, Satlak PB, Satkorlak PB, Manggala Agni Dinas Kehutanan, TNI, Kepolisian dan instansi/sektor terkait tetap menyiagakan petugas untuk memantau perkembangan kondisi

Sama halnya pada hari ke-14 mempunyai persentase penyembuhan luka paling besar dibandingkan kelompok yang lain yaitu rata-rata sebesar 6,7%, dengan rata-rata persentase penyembuhan