• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN_PERHITUNGAN_STRUKTUR_KUDA-KUDA_L.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN_PERHITUNGAN_STRUKTUR_KUDA-KUDA_L.pdf"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

 KUDA-

 KUDA-

KUDA

KUDA

LENGKUNG

LENGKUNG

Perencana : Muhammad Miftakhur Riza

Perencana : Muhammad Miftakhur Riza

 RS

(2)

PERENCANAAN KUDA- KUDA LENGKUNG

PERENCANAAN KUDA- KUDA LENGKUNG

DENGAN PROFIL BAJA PIPA

DENGAN PROFIL BAJA PIPA

A.

A. Pemodelan Struktur

Pemodelan Struktur

Analisis struktur rangka

Analisis struktur rangka kuda- kuda lengkung dilakukan dengan dengan Program SAP v14kuda- kuda lengkung dilakukan dengan dengan Program SAP v14 ((Structure Analysis ProgramStructure Analysis Program). Desain kuda- kuda tersebut ditunjukkan pada Gambar). Desain kuda- kuda tersebut ditunjukkan pada Gambar  berikut.

 berikut.

Gambar 1. Perencanaan Struktur

Gambar 1. Perencanaan Struktur Kuda- kuda (AutoCAD)Kuda- kuda (AutoCAD)

Gambar 2. Desain Kuda-

Gambar 2. Desain Kuda- kuda Lengkung dengankuda Lengkung dengan Curved Frame GeometryCurved Frame Geometry dari SAP dari SAP 4,5m

4,5m

7,5m 7,5m

(3)

Pemodelan struktur kuda- kuda dengan SAP ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 3. Pemodelan Struktur Kuda- kuda secara 2D dengan SAP

(4)

B. Peraturan dan Standar Perencanaan

1. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung SNI 03 - 1729 – 2002. 2. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung, PPPURG 1987. 3. Tabel Profil Baja.

C. Data Teknis

Bentang kuda- kuda = 37 meter

Jarak antar kuda- kuda = 6 meter

Profil kuda- kuda = Pipa 2”

Mutu baja = BJ 37

Alat sambung = Las

Tegangan putus minimum (fu) = 370 Mpa

Tegangan leleh minimum (fy) = 240 Mpa

Profil Gording = C 125.50.20.3,2

Berat profil gording = 6,76 kg/m

Sudut Kemiringan (α) = 15,7º

Penutup Atap = galvalum

Berat penutup atap = 12 kg/m2

Jenis Profil yang digunakan ditunjukkan pada Gambar berikut :

(5)

Tampilan  Extrude profil yang digunakan pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 7. Tampilan Extrude Profil Pipa 2˝ yang Digunakan dalam Struktur Kuda- kuda

D. Kombinasi Pembebanan

Kombinasi pembebanan yang bekerja pada struktur Kuda- kuda diinput dengan program SAP v14 dengan cara mengisi jenis beban apa saja yang bekerja dengan cara  Define –  Load Pattern, seperti ditunjukkan pada Gambar berikut :

(6)

Kombinasi pembebanannya dapat diinput dengan cara  Define – Load Combinations. Kombinansi pembebanan dijabarkan sebagai berikut :

1) 1,4 D 2) 1,2D + 1,6L 3) 1,2D + 0,5L + 0,8 Angin Kanan 4) 1,2D + 0,5L - 0,8 Angin Kanan 5) 1,2D + 0,5L + 0,8 Angin Kiri 6) 1,2D + 0,5L - 0,8 Angin Kanan

Kombinasi pembebanan yang diinput dengan SAP ditunjukkan pada Gambat ber ikut.

Gambar 9. Kombinasi Pembebanan yang Digunakan dalam Analisis

E. Perhitungan Beban : 1. Beban Mati

Beban penutup atap galvalum 12 Kg/m² x 6 = 72 kg

Beban gording C 125.50.20.3,2 x 6 m = 6,76 x 6 = 40,56 kg

Berat instalasi ME ( Mechanical Electrical ) = 25 kg

Beban mati (dead load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda dianggap beban titik yang terpusat pada tiap joint. Input beban mati (dead load ) dapat dilakukan dengan cara  Assign – Joint Loads – Force - Dead ,  dengan arah beban FZ (-) dari atas ke bawah.

(7)

Gambar 10. Input Beban Mati ( Dead Load ) pada Struktur Kuda- kuda

Beban mati (dead load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :

Gambar 11. Beban Mati (dead load ) yang Bekerja pada Struktur Kuda- kuda

2. Beban Hidup

Berat pekerja di setiap joint = 100 kg

Berat air hujan = 40 – 0,8. α= 40 – 0,8 x 15,7 = 27,44 kg

(8)

Beban hidup (live load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda dianggap beban titik yang terpusat pada tiap joint. Input beban hidup (live load ) dapat dilakukan dengan cara  Assign – Joint Loads – Force – Live, dengan arah beban FZ (-) dari atas ke bawah.

Input beban hidup pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut.

Gambar 12. Input Beban Hidup ( Live Load ) pada Struktur Kuda- kuda

Beban hidup (live load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :

(9)

3. Beban angin

Berdasarkan PPPURG 1987, koefisien angin untuk gedung tertutup adalah sebagai  berikut :

Tekanan angin di luar daerah pantai (qw) = 25 kg/m2

Sudut kemiringan kuda- kuda = 15,7º

Koefisien angin tekan = 0,02

α

- 0,4 = 0,02 x 15,7- 0,4 = 0,086

Koefisien angin hisap = -0,4

a. Angin tekan (QT) = L jrk. antar gordingx Bantar kk  x Koef  tekan x qw = 1 x 6 x 0,086 x 25

= 12,9 kg

Beban angin vertikal (VT) = QTx cos α

= 12,9 x cos 15,7° = 12,42 kg

Beban angin horizontal (HT) = QTx sin α

= 12,9 x sin 15,7° = 3,49 kg

b. Angin hisap (QH) = L jrk. antar gordingx Bantar kk  x Koef hisap x qw

= 1x 6 x 0,4 x 25 = 60 kg

Beban angin vertikal (VH) = QHx cos α

= 60 x cos 15,7° = 57,76 kg

Beban angin horizontal (HH) = QHx sinα

(10)

Input beban angin (dari arah kanan) pada struktur kuda- kuda dilakukan dengan cara  Assign –  Joint Loads – Force, dengan arah beban sumbu X dan Z seperti Gambar berikut.

Gambar 14. Beban Angin Tekan (dari Kanan) Gambar 15. Beban Angin Hisap

Beban angin (wind load ) dari arah kanan pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar  berikut :

(11)

Input beban angin (dari arah kiri) pada struktur kuda- kuda dilakukan dengan cara  Assign –  Joint Loads – Force, dengan arah beban sumbu X dan Z seperti Gambar berikut.

Gambar 17. Input Beban Angin Tekan (dari Kiri) Gambar 18. Input Beban Angin Hisap

Beban angin (wind load ) dari arah kiri pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar  berikut :

(12)

Setelah semua beban dimasukkan, struktur kuda- kuda harus di  Release  karena tiap joint kuda- kuda adalah sambungan, maka diasumsikan adanya sendi pada tiap joint dengan cara  Assign - Frame – Release – Moment 33.

Gambar 20. Assign Frame Release, untuk Mengasumsikan Sendi pada Tiap Joint

Struktur kuda- kuda yang telah di release ditunjukkan pada Gambar berikut :

(13)

F. Analisis Struktur

Acuan perencanaan yang akan digunakan dilakukan dengan cara  Design – Steel  Frame Design – View/ Revise Preferences. Kemudian pilih AISC-LRFD 99.

Gambar 22. Steel Frame Design Berdasarkan AISC- LRFD 99

Memilih kombinasi pembebanan yang bekerja pada Struktur dengan cara  Define -Steel Frame Design – Select Design Combos seperti berikut.

(14)

Karena struktur dianalisis secara 2 dimensi, maka pilih Analysis Options dengan sumbu XZ Plane.

Gambar 24. Set Analysis Option XZ Plane

Untuk melihat kemampuan struktur dalam menerima beban dapat dilakukan dengan cara Design – Steel Frame Design – Start Design/ Check of Structures.

(15)

 Nilai rasio tegangan (perbandingan tegangan yang terjadi dengan tegangan yang direncanakan, σ/ σ) pada setiap elemen batang dapat diketahui dengan cara Design –

Steel Frame Design – Display Design Info – PM Ratio Color and Values.

Gambar 26. Nilai Rasio Tegangan pada Elemen Struktur Kuda- kuda

Untuk menampilkan gaya- gaya yang bekerja (tekan dan tarik) pada struktur dapat dilakukan dengan cara  Display – Show Table – Analysis Result – Element Output –  Frame Output – Element Forces seperti berikut :

(16)

G. Kontrol Hitungan

Dari output SAP diperoleh :

Gaya tarik maksimum = 2276,29 Kg Gaya tekan minimum = 2200,30 Kg

Profil baja yang dianalisis adalah pipa 2˝ dengan spesifikasi sebagai berikut :

Diameter terluar (dluar ) = 6,05 cm

Diameter dalam (ddalam) = 5,29 cm

Tebal profil (tw) = 0,38 cm

Luas penampang (An) = ¼ x π x d2 luar- ¼ x π x d2 dalam

= ¼ x 3,14 x 6,052 - ¼ x 3,14 x 5,292= 6,76 cm2

Profil harus direncanakan agar memenuhi persyaratan kekuatan ( strenght ) dan syarat kekakuan ( stiffness).

1.

Analisis Batang Tarik

i) Cek Kekuatan Batang Tarik ( Strenght )

Tegangan tarik yang terjadi, σ =

P



=

, K

, 

 =

336,73 kg/cm2

Tegangan tarik rencana,σ = Ø x fy

= 0,9 x 2400 = 2160 kg/cm2

Rasio tegangan, stress ratio = σ

σ

=

,



= 0,155 < 1 → OK..!!

Baja 37

Tegangan putus minimum (fu) = 370 Mpa

Tegangan leleh minimum (fy) = 240 Mpa

(17)

Syarat, σ < σr

336,73 < 2160 → OK..!! Profil mempunyai kekuatan cukup.

ii) Cek Kekakuan Batang Tarik ( Stiffness)

Momen inersia penampang, I = 1/64 x π x (d4luar  - d4dalam)

= 1/64 x 3,14 x (6,054 – 5,294) = 27,31 cm4 Jari- jari inersia batang, i =

 

I

A

=

 

 27,31

6,76

= 2

Panjang batang, Lk  = 100 cm

 Nilai kelangsingan, λ  = L / i

= 100/ 2 = 50

Syarat, λ  < λ max

50 < 300 →OK..!! Profil mempunyai kekakuan cukup.

2.

Analisis Batang Tekan

i) Cek Kekuatan Batang Tekan ( Strenght )

Panjang batang, L = 120 cm

Faktor panjang efektif batang, k = 1 (ujung batang merupakan sendi)

Panjang tekuk batang, Lk = k x L = 1 x 120 = 120 cm

Jari- jari inersia batang, i =

 

I

A

(18)

Kelangsingan batang tekan, λ c =

 x

L

 x

 

fy

E

=

3,14

1

x



 x

 

 2400

200000

= 2,09

Karena λ c 1,2

Maka faktor tekuk, ω = 1,25 x λ 2c

= 1,25 x 2,092 = 5,46

Tegangan tekan yang terjadi, σ =

P



=

, 

, ²

= 325,48 kg/cm2

Tegangan tekan rencana, σ = Ø x



= 0,85 x



,

= 373,63 kg/cm2

Rasio tegangan, stress ratio = σ

σ

=

,

,

= 0,87 < 1 →OK..!!

Syarat, σ < σr

325,48 < 373,63 → OK..!! Profil mempunyai kekuatan cukup.

ii) Cek Kekakuan Batang Tekan ( Stiffness)

Panjang batang, Lk = 120 cm

Jari- jari inersia batang, i =

 

I

A

(19)

Kelangsingan batang, λ  = L / i

= 120 / 2 = 60 Syarat kelangsingan batang tekan,

λ  < 200

60 < 200 →OK..!! Profil mempunyai kekakuan cukup.

3.

Cek Lendutan Maksimum yang Terjadi

Lendutan yang terjadi akibat beban mati dan hidup dapat diketahui dengan  program SAP dengan cara,  Display – Show Deformed Shapes seperti ditunjukkan  pada Gambar berikut.

Gambar 28. Deformasi Struktur Akibat Beban Mati dan Hidup

Kontrol lendutan :

 Nilai lendutan yang terjadi < Lendutan yang diizinkan

2,09 mm < 1/300 x L = 1/300 x 1000 mm

(20)

H. Kesimpulan

1. Perencanaan struktur kuda- kuda lengkung menggunakan profil baja pipa, untuk menghindari adanya tekuk lateral karena profil pipa mempunyai kekakuan yang sama ke segala arah, tidak ada sumbu lemah sumbu kuat.

2. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa struktur kuda- kuda aman dan mampu  menerima berbagai macam kombinasi  pembebanan yang meliputi : beban mati, beban hidup, dan beban angin.

Perencana Struktur,

(21)

A. DATA BAHAN

Tegangan leleh baja (yield stress ), y = 240 MPa Tegangan tarik putus (ultimate stress ), u = 370 MPa

,

Modulus elastik baja (modulus of elasticity ), E = 200000 MPa  Angka Poisson (Poisson's ratio ),

υ

 = 0.3

B. DATA PROFIL BAJA

Lip Channel : C 125.50.20.3,2

ht = 125 mm b = 50 mm a = 20 mm t = 3.2 mm  A = 781 mm2 Ix = 1810000 mm 4 I = 270000 mm4 Sx = 29000 mm 3 Sy = 8020 mm 3 r x = 48.2 mm r y = 18.5 mm c = 16.8 era pro ,  = . g m

Faktor reduksi kekuatan untuk lentur,

φ

b = 0.90

Faktor reduksi kekuatan untuk geser,

φ

f  = 0.75

(22)

Sudut miring atap,

α

 = 15.7 °

C. SECTION PROPERTY

G = E / [ 2 * (1 +

υ

) ] = 76923.077 MPa h = ht - t = 121.80 mm J = 2 * 1/3 * b * t3 + 1/3 * (ht - 2 * t) * t 3  + 2/3 * ( a - t ) * t3 = 2754.70 mm4 Iw = Iy * h 2  / 4 = 1.001E+09 mm6 X1 =

π

 / Sx * √ [ E * G * J * A / 2 ] = 13936.14 MPa X2 = 4 * [ Sx / (G * J) ] 2  * Iw / Iy = 0.00028 mm 2 /N2 Zx = 1 / 4 * ht * t 2  + a * t * ( ht - a ) + t * ( b - 2 * t ) * ( ht - t ) = 24034 mm 3 Z = h *t* c - t / 2 + 2*a*t* b - c - t / 2 + t * c - ty 2+ t * b - t - c 2= 13597 mm3

G = modulus geser, Zx = modulus penampang plastis thd. sb. x, J = Konstanta puntir torsi, Zy = modulus penampang plastis thd. sb. y, Iw = konstanta putir lengkung, X1 = koefisien momen tekuk torsi lateral,

h = tinggi bersih badan, X2 = koefisien momen tekuk torsi lateral,

1. BEBAN PADA GORDING

2.1. BEBAN MATI (DEAD LOAD )

No Material Berat Satuan Lebar Q (m) (N/m) 1 Berat sendiri gording 61.3 N/m 61.3 2 Atap baja (span deck ) 120 N/m2 1.0 120.0

Total beban mati, QDL = 181.3 N/m

2.2. BEBAN HIDUP (LIVE LOAD )

Beban hidup akibat beban air hujan diperhitungkan setara dengan beban genangan air 

setebal 1 inc = 25 mm. qhujan = 0.025 * 10 = 0.25 kN/m

2

Jarak antara gording, s = 1 m

* * 3

e an a r u an, qhujan  s = m

Beban hidup merata akibat air hujan, QLL = 250 N/m

(23)

Beban merata, Qu = 1.2 * QDL + 1.6 * QLL = 617.56 N/m

Beban terpusat, Pu = 1.6 * PLL = 1600.00 N

Sudut miring atap,

α

 = 0.27 rad Beban merata terhadap sumbu x, Qux = Qu * cos

α

 *10

-3

 = 0.5945 N/mm Beban merata terhada sumbu , Quy = Q * sinu

α

*10-3= 0.1671. N/mm Beban terpusat terhadap sumbu x, Pux = Pu * cos

α

 = 1540.31 N Beban terpusat terhadap sumbu y, Puy = Pu * sin

α

 = 432.96 N

4. MOMEN DAN GAYA GESER AKIBAT BEBAN TERFAKTOR

Panjang bentang gording terhadap sumbu x, x = 1 = mm

Panjang bentang gording terhadap sumbu y, Ly = L2 = 2000 mm

Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu x,

Mux = 1/10 * Qux * Lx2 + 1/8 * Pux * Lx = 3295502 Nm

Momen pada 1/4 bentang, M A = 2471626 Nm

Momen di tengah bentang, MB = 3295502 Nm

Momen pada 3/4 bentang, MC = 2471626 Nm

Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu y,

Muy = 1/10 * Quy * Ly 2

 + 1/8 * Puy * Ly = 175085 Nmm

Gaya geser akibat beban terfaktor terhadap sumbu x,

Vux = Qux * Lx + Pux = 5107 N ,

Vuy = Quy * Ly + Puy = 767 N 5. MOMEN NOMINAL PENGARUH LOCAL BUCKLING 

Pengaruh tekuk lokal (local buckling)  pada sayap :

Kelangsingan penampang sayap,

λ

= b / t = 15.625 Batas kelangsingan maksimum untuk penampang compact ,

λ

p = 170 / √ f y = 10.973

Batas kelangsingan maksimum untuk penampang non-compact ,

(24)

Momen batas tekuk terhadap sumbu y, Mry = Sy * ( f y - f r  ) = 1363400 Nmm

Momen nominal penampang untuk :

a. Penampang compact ,

λ ≤ λ

pMn = Mp b. Penampang non-compact ,

λ

p<

λ ≤ λ

Mn = Mp - (Mp - M) * (

λ

 -

λ

p) / (

λ

 -

λ

p) c. Penampang langsing ,

λ

>

λ

Mn = Mr * (

λ

 /

λ

)2

λ

>

λ

p dan

λ

<

λ

r  -  , - 

Momen nominal penampang terhadap sumbu x dihitung sebagai berikut :

compact : Mn = Mp = - Nmm

non-compact : Mn = Mp - (Mp - Mr ) * (

λ

 -

λ

p) / (

λ

r  -

λ

p) = 5544068 Nmm

langsing : Mn = Mr * (

λ

r  /

λ

)2 = - Nmm

Momen nominal terhadap sumbu x penam non-compact  Mnx = 5544068 Nmm

Momen nominal penampang terhadap sumbu y dihitung sebagai berikut :

compact : Mn = Mp = - Nmm

non-compact : Mn = Mp - (Mp - Mr ) * (

λ

 -

λ

p) / (

λ

r  -

λ

p) = 2755451 Nmm

langsing : Mn = Mr * (

λ

r  /

λ

)2 = - Nmm

(25)

L

Lp → Mn = Mp = f y * Zx b. Bentang sedang : Lp

L

LMn = Cb * [ Mr+ ( Mp - M ) * ( L - L ) / ( L - Lp ) ]

Mp c. Bentang panjang : L > LrMn = Cb *

π

 / L*√ [ E * Iy * G * J + (

π

 * E / L )2 * Iy * Iw ]

Mp

Panjang bentang maksimum balok yang mampu menahan momen plastis,

Lp = 1.76 * r y * √ ( E / f y ) = 940 mm

Tegangan leleh dikurangi tegangan sisa, f L = f y - f r  = 170 MPa

torsi lateral, L = r y * X1 / f L * √ [ 1 + √ ( 1 + X2 * f L2 ) ] = 3035 mm Koefisien momen tekuk torsi lateral,

Cb = 12.5 * Mux / ( 2.5*Mux + 3*M A + 4*MB + 3*MC) = 1.14

Momen plastis terhadap sumbu x, Mpx = f y * Zx = 5768049 Nmm

Momen plastis terhadap sumbu y, Mpy = f y * Zy = 3263201 Nmm *

Momen batas tekuk terhadap sumbu x, rx= x y - r   = 4 Nmm

Momen batas tekuk terhadap sumbu y, Mry = Sy * ( f y - f r  ) = 1363400 Nmm

Panjang bentang terhadap sumbu y (jarak dukungan lateral), L = L2 = 2000 mm

L > Lp dan L < Lr

Termasuk kategori : bentang sedang  Momen nominal terhadap sumbu x dihitung sebagai berikut :

Mnx = Mpx = f y * Zx = - Nmm

Mnx = Cb * [ Mrx+ ( Mpx - Mrx ) * ( Lr  - L ) / ( Lr  - Lp ) ] = 6072754 Nmm Mnx = Cb *

π

 / L*√ [ E * Iy * G * J + (

π

 * E / L )

2

 * Iy * Iw ] = - Nmm

Momen nominal thd. sb. x untuk : bentang sedang Mnx = 6072754 Nmm

Mnx > Mpx

Momen nominal terhada sumbu x an di unakan, M = 5768049 Nmm Momen nominal terhadap sumbu y dihitung sebagai berikut :

Mny = Mpy = f y * Zy = - Nmm

Mny = Cb * [ Mry+ ( Mpy - Mry ) * ( Lr  - L ) / ( Lr  - Lp ) ] = 2615868 Nmm Mny = Cb *

π

 / L*√ [ E * Iy * G * J + (

π

 * E / L )

2

 * Iy * Iw ] = - Nmm

Momen nominal thd. sb. y untuk : bentang sedang Mny = 2615868 Nmm ny < py

(26)

Mnx =

Berdasarkan pengaruh lateral buckling , Mnx = 5768049 Nmm

Momen nominal terhadap sumbu x (terkecil) yg menentukan, Mnx = 5544068 Nmm

Tahanan momen lentur terhadap sumbu x,

φ

b * Mnx = 4989661 Nmm

Momen nominal terhadap sumbu y :

Berdasarkan pengaruh local buckling , Mny = 2755451 Nmm

Berdasarkan pengaruh lateral buckling , Mny = 2615868 Nmm

Momen nominal terhadap sumbu y (terkecil) yg menentukan, Mny = 2615868 Nmm

Tahanan momen lentur terhadap sumbu y,

φ

b * Mny = 2354281 Nmm

Momen akibat beban terfaktor terhada sumbu x, Mux = 3295502 Nmm Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu y, Muy = 175085 Nmm

Mux / (

φ

b * Mnx ) = 0.6605 Muy / (

φ

b * Mny ) = 0.0744

Syarat yg harus dipenuhi : Mux / (

φ

b * Mnx ) + Muy / (

φ

b * Mny ) ≤ 1.0 Mux / (

φ

b * Mnx ) + Muy / (

φ

b * Mny ) = 0.7348 < 1.0 AMAN (OK)

8. TAHANAN GESER

Ketebalan plat badan tanpa pengaku harus memenuhi syarat,

h / t 6.36 *

(

E / f y )

38.06 < 183.60 Plat badan memenuhi syarat (OK)

Gaya geser akibat beban terfaktor terhadap sumbu x, Vux = 5107 N

Luas penampang badan,  Aw = t * ht = 400 mm

2

Tahanan gaya geser nominal thd.sb. x, Vnx = 0.60 * f y * Aw = 57600 N

Tahanan gaya geser terhadap sumbu x,

φ

 * Vnx = 43200 N Ga a eser akibat beban terfaktor terhada sumbu , V = 767 N Luas penampang sayap,  Af  = 2 * b * t = 320 mm

2

Tahanan gaya geser nominal thd.sb. y, Vny = 0.60 * f y * Af  = 46080 N

Tahanan gaya geser terhadap sumbu x,

φ

 * Vny = 34560 N Vux / (

φ

f  * Vnx ) = 0.1182 Vuy / (

φ

f  * Vny ) = 0.0222

Syarat yang harus dipenuhi :

Vux / (

φ

f  * Vnx ) + Vuy / (

φ

f  * Vny) 1.0

(27)

Mu / (

φ

b

*

 Mn ) + 0.625 * Vu / (

φ

f  * Vn ) 1.375 Mu / (

φ

b * Mn) = Mux / (

φ

b * Mnx ) + Muy / (

φ

b * Mny ) = 0.7348

Vu / (

φ

f  * Vn) = Vux / (

φ

f  * Vnx ) + Vuy / (

φ

f  * Vny ) = 0.1404 Mu / (

φ

b

*

 Mn ) + 0.625 * Vu / (

φ

f  * Vn ) = 0.8226

0.8226 < 1.375 AMAN (OK)

10. TAHANAN TARIK SAGROD

Beban merata terfaktor pada gording, Quy = 0.1671 N/mm

Beban ter usat terfaktor ada ordin , Puy = 432.96. N/m Panjang sagrod (jarak antara gording), Ly = L2 = 2000 m Gaya tarik pada sagrod akibat beban terfaktor,

Tu = Quy * Ly + Puy = 767 N

Tegangan leleh baja, f y = 240 MPa

Tegangan tarik putus, f u = 370 MPa

Diameter sagrod, d = 8 mm Luas penampang brutto sagrod,  Ag =

π

 / 4 * d

2

 = 50.27 mm2 Luas penampang efektif sagrod,  Ae = 0.90 * Ag = 45.24 mm

2

Tahanan tarik sagrod berdasarkan luas penampang brutto,

φ

 * Tn = 0.90 * Ag * f y = 10857 N

Tahanan tarik sagrod berdasarkan luas penampang efektif,

φ

 * Tn = 0.75 * Ae * f u = 12554 N

Tahanan tarik sagrod (terkecil) yang digunakan,

φ

 * Tn = 10857 N

Syarat yg harus dipenuhi : Tu

φ

* Tn

Gambar

Gambar 1. Perencanaan Struktur Kuda- kuda (AutoCAD) Kuda- kuda (AutoCAD)
Gambar 4. Pemodelan Struktur Kuda- kuda secara 3D dengan SAP
Gambar 5. Profil Kolom IWF 250x250x9x14  Gambar 6. Profil Baja Pipa 2 ˝
Gambar 7. Tampilan Extrude Profil Pipa 2 ˝  yang Digunakan dalam Struktur Kuda- kuda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Na pake kainanurã, nuku  hãtxa kui  anurã, ketash kene xarabu retsami kaina xarabunã, haskai nuku yui kiki; ki inu  , kiki inu  , kiaki rã hamapai haskai

Dengan kegiatan membaca, siswa dapat menjelaskan dampak pelaksanaan tanggung jawab sebagai warga negara dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat dipandu melalui Group

Untuk penghawaan udara, Animated Comic Studio dapat menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner khususnya pada area kerja yang berhubungan dengan produksi komik dan

Wawancara yang dilakukan peneliti terhadap para pedagang asongan atau kaki lima di sekitar pasar Belimbing, diketahui bahwa sebagian besar pedagang dalam

Masalah ekonomi terkait dengan masalah biaya dengan adanya kelemahan dalam penyampaian informasi yang dilakukan secara manual maka akan membutuhkan dana yang

Berdasarkan permasalahan terdapat pada Jatar belakang, yaitu rendahnya kinetja karena belum diberikannya perhatian lebih terhadap usaha peningkatan remunerasi,

Ertutur adalah suatu tradisi suku Karo dalam menyusur keturunan yang berkaitan dengan Merga Silima , Rakut Sitelu dan Tutur Siwaluh serta.. Perkade-kaden Sisepuluh dua

yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Timur tahun 2008-2012. Variabel yang digunakan adalah tingkat kemiskinan sebagai variabel