KUDA-
KUDA-
KUDA
KUDA
LENGKUNG
LENGKUNG
Perencana : Muhammad Miftakhur Riza
Perencana : Muhammad Miftakhur Riza
RS
PERENCANAAN KUDA- KUDA LENGKUNG
PERENCANAAN KUDA- KUDA LENGKUNG
DENGAN PROFIL BAJA PIPA
DENGAN PROFIL BAJA PIPA
A.
A. Pemodelan Struktur
Pemodelan Struktur
Analisis struktur rangka
Analisis struktur rangka kuda- kuda lengkung dilakukan dengan dengan Program SAP v14kuda- kuda lengkung dilakukan dengan dengan Program SAP v14 ((Structure Analysis ProgramStructure Analysis Program). Desain kuda- kuda tersebut ditunjukkan pada Gambar). Desain kuda- kuda tersebut ditunjukkan pada Gambar berikut.
berikut.
Gambar 1. Perencanaan Struktur
Gambar 1. Perencanaan Struktur Kuda- kuda (AutoCAD)Kuda- kuda (AutoCAD)
Gambar 2. Desain Kuda-
Gambar 2. Desain Kuda- kuda Lengkung dengankuda Lengkung dengan Curved Frame GeometryCurved Frame Geometry dari SAP dari SAP 4,5m
4,5m
7,5m 7,5m
Pemodelan struktur kuda- kuda dengan SAP ditunjukkan pada Gambar berikut :
Gambar 3. Pemodelan Struktur Kuda- kuda secara 2D dengan SAP
B. Peraturan dan Standar Perencanaan
1. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung SNI 03 - 1729 – 2002. 2. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung, PPPURG 1987. 3. Tabel Profil Baja.
C. Data Teknis
Bentang kuda- kuda = 37 meter
Jarak antar kuda- kuda = 6 meter
Profil kuda- kuda = Pipa 2”
Mutu baja = BJ 37
Alat sambung = Las
Tegangan putus minimum (fu) = 370 Mpa
Tegangan leleh minimum (fy) = 240 Mpa
Profil Gording = C 125.50.20.3,2
Berat profil gording = 6,76 kg/m
Sudut Kemiringan (α) = 15,7º
Penutup Atap = galvalum
Berat penutup atap = 12 kg/m2
Jenis Profil yang digunakan ditunjukkan pada Gambar berikut :
Tampilan Extrude profil yang digunakan pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :
Gambar 7. Tampilan Extrude Profil Pipa 2˝ yang Digunakan dalam Struktur Kuda- kuda
D. Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang bekerja pada struktur Kuda- kuda diinput dengan program SAP v14 dengan cara mengisi jenis beban apa saja yang bekerja dengan cara Define – Load Pattern, seperti ditunjukkan pada Gambar berikut :
Kombinasi pembebanannya dapat diinput dengan cara Define – Load Combinations. Kombinansi pembebanan dijabarkan sebagai berikut :
1) 1,4 D 2) 1,2D + 1,6L 3) 1,2D + 0,5L + 0,8 Angin Kanan 4) 1,2D + 0,5L - 0,8 Angin Kanan 5) 1,2D + 0,5L + 0,8 Angin Kiri 6) 1,2D + 0,5L - 0,8 Angin Kanan
Kombinasi pembebanan yang diinput dengan SAP ditunjukkan pada Gambat ber ikut.
Gambar 9. Kombinasi Pembebanan yang Digunakan dalam Analisis
E. Perhitungan Beban : 1. Beban Mati
Beban penutup atap galvalum 12 Kg/m² x 6 = 72 kg
Beban gording C 125.50.20.3,2 x 6 m = 6,76 x 6 = 40,56 kg
Berat instalasi ME ( Mechanical Electrical ) = 25 kg
Beban mati (dead load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda dianggap beban titik yang terpusat pada tiap joint. Input beban mati (dead load ) dapat dilakukan dengan cara Assign – Joint Loads – Force - Dead , dengan arah beban FZ (-) dari atas ke bawah.
Gambar 10. Input Beban Mati ( Dead Load ) pada Struktur Kuda- kuda
Beban mati (dead load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :
Gambar 11. Beban Mati (dead load ) yang Bekerja pada Struktur Kuda- kuda
2. Beban Hidup
Berat pekerja di setiap joint = 100 kg
Berat air hujan = 40 – 0,8. α= 40 – 0,8 x 15,7 = 27,44 kg
Beban hidup (live load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda dianggap beban titik yang terpusat pada tiap joint. Input beban hidup (live load ) dapat dilakukan dengan cara Assign – Joint Loads – Force – Live, dengan arah beban FZ (-) dari atas ke bawah.
Input beban hidup pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut.
Gambar 12. Input Beban Hidup ( Live Load ) pada Struktur Kuda- kuda
Beban hidup (live load ) yang bekerja pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :
3. Beban angin
Berdasarkan PPPURG 1987, koefisien angin untuk gedung tertutup adalah sebagai berikut :
Tekanan angin di luar daerah pantai (qw) = 25 kg/m2
Sudut kemiringan kuda- kuda = 15,7º
Koefisien angin tekan = 0,02
α
- 0,4 = 0,02 x 15,7- 0,4 = 0,086Koefisien angin hisap = -0,4
a. Angin tekan (QT) = L jrk. antar gordingx Bantar kk x Koef tekan x qw = 1 x 6 x 0,086 x 25
= 12,9 kg
Beban angin vertikal (VT) = QTx cos α
= 12,9 x cos 15,7° = 12,42 kg
Beban angin horizontal (HT) = QTx sin α
= 12,9 x sin 15,7° = 3,49 kg
b. Angin hisap (QH) = L jrk. antar gordingx Bantar kk x Koef hisap x qw
= 1x 6 x 0,4 x 25 = 60 kg
Beban angin vertikal (VH) = QHx cos α
= 60 x cos 15,7° = 57,76 kg
Beban angin horizontal (HH) = QHx sinα
Input beban angin (dari arah kanan) pada struktur kuda- kuda dilakukan dengan cara Assign – Joint Loads – Force, dengan arah beban sumbu X dan Z seperti Gambar berikut.
Gambar 14. Beban Angin Tekan (dari Kanan) Gambar 15. Beban Angin Hisap
Beban angin (wind load ) dari arah kanan pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :
Input beban angin (dari arah kiri) pada struktur kuda- kuda dilakukan dengan cara Assign – Joint Loads – Force, dengan arah beban sumbu X dan Z seperti Gambar berikut.
Gambar 17. Input Beban Angin Tekan (dari Kiri) Gambar 18. Input Beban Angin Hisap
Beban angin (wind load ) dari arah kiri pada struktur kuda- kuda ditunjukkan pada Gambar berikut :
Setelah semua beban dimasukkan, struktur kuda- kuda harus di Release karena tiap joint kuda- kuda adalah sambungan, maka diasumsikan adanya sendi pada tiap joint dengan cara Assign - Frame – Release – Moment 33.
Gambar 20. Assign Frame Release, untuk Mengasumsikan Sendi pada Tiap Joint
Struktur kuda- kuda yang telah di release ditunjukkan pada Gambar berikut :
F. Analisis Struktur
Acuan perencanaan yang akan digunakan dilakukan dengan cara Design – Steel Frame Design – View/ Revise Preferences. Kemudian pilih AISC-LRFD 99.
Gambar 22. Steel Frame Design Berdasarkan AISC- LRFD 99
Memilih kombinasi pembebanan yang bekerja pada Struktur dengan cara Define -Steel Frame Design – Select Design Combos seperti berikut.
Karena struktur dianalisis secara 2 dimensi, maka pilih Analysis Options dengan sumbu XZ Plane.
Gambar 24. Set Analysis Option XZ Plane
Untuk melihat kemampuan struktur dalam menerima beban dapat dilakukan dengan cara Design – Steel Frame Design – Start Design/ Check of Structures.
Nilai rasio tegangan (perbandingan tegangan yang terjadi dengan tegangan yang direncanakan, σ/ σr ) pada setiap elemen batang dapat diketahui dengan cara Design –
Steel Frame Design – Display Design Info – PM Ratio Color and Values.
Gambar 26. Nilai Rasio Tegangan pada Elemen Struktur Kuda- kuda
Untuk menampilkan gaya- gaya yang bekerja (tekan dan tarik) pada struktur dapat dilakukan dengan cara Display – Show Table – Analysis Result – Element Output – Frame Output – Element Forces seperti berikut :
G. Kontrol Hitungan
Dari output SAP diperoleh :
Gaya tarik maksimum = 2276,29 Kg Gaya tekan minimum = 2200,30 Kg
Profil baja yang dianalisis adalah pipa 2˝ dengan spesifikasi sebagai berikut :
Diameter terluar (dluar ) = 6,05 cm
Diameter dalam (ddalam) = 5,29 cm
Tebal profil (tw) = 0,38 cm
Luas penampang (An) = ¼ x π x d2 luar- ¼ x π x d2 dalam
= ¼ x 3,14 x 6,052 - ¼ x 3,14 x 5,292= 6,76 cm2
Profil harus direncanakan agar memenuhi persyaratan kekuatan ( strenght ) dan syarat kekakuan ( stiffness).
1.
Analisis Batang Tarik
i) Cek Kekuatan Batang Tarik ( Strenght )
Tegangan tarik yang terjadi, σ =
P
=
, K
,
=
336,73 kg/cm2Tegangan tarik rencana,σr = Ø x fy
= 0,9 x 2400 = 2160 kg/cm2
Rasio tegangan, stress ratio = σ
σ
=
,
= 0,155 < 1 → OK..!!Baja 37
Tegangan putus minimum (fu) = 370 Mpa
Tegangan leleh minimum (fy) = 240 Mpa
Syarat, σ < σr
336,73 < 2160 → OK..!! Profil mempunyai kekuatan cukup.
ii) Cek Kekakuan Batang Tarik ( Stiffness)
Momen inersia penampang, I = 1/64 x π x (d4luar - d4dalam)
= 1/64 x 3,14 x (6,054 – 5,294) = 27,31 cm4 Jari- jari inersia batang, i =
I
A
=
27,31
6,76
= 2Panjang batang, Lk = 100 cm
Nilai kelangsingan, λ = Lk / i
= 100/ 2 = 50
Syarat, λ < λ max
50 < 300 →OK..!! Profil mempunyai kekakuan cukup.
2.
Analisis Batang Tekan
i) Cek Kekuatan Batang Tekan ( Strenght )
Panjang batang, L = 120 cm
Faktor panjang efektif batang, k = 1 (ujung batang merupakan sendi)
Panjang tekuk batang, Lk = k x L = 1 x 120 = 120 cm
Jari- jari inersia batang, i =
I
A
Kelangsingan batang tekan, λ c =
x
L
x
fy
E
=
3,14
1
x
x
2400
200000
= 2,09Karena λ c ≥ 1,2
Maka faktor tekuk, ω = 1,25 x λ 2c
= 1,25 x 2,092 = 5,46
Tegangan tekan yang terjadi, σ =
P
=
,
, ²
= 325,48 kg/cm2Tegangan tekan rencana, σr = Ø x
= 0,85 x
,
= 373,63 kg/cm2Rasio tegangan, stress ratio = σ
σ
=
,
,
= 0,87 < 1 →OK..!!
Syarat, σ < σr
325,48 < 373,63 → OK..!! Profil mempunyai kekuatan cukup.
ii) Cek Kekakuan Batang Tekan ( Stiffness)
Panjang batang, Lk = 120 cm
Jari- jari inersia batang, i =
I
A
Kelangsingan batang, λ = L / i
= 120 / 2 = 60 Syarat kelangsingan batang tekan,
λ < 200
60 < 200 →OK..!! Profil mempunyai kekakuan cukup.
3.
Cek Lendutan Maksimum yang Terjadi
Lendutan yang terjadi akibat beban mati dan hidup dapat diketahui dengan program SAP dengan cara, Display – Show Deformed Shapes seperti ditunjukkan pada Gambar berikut.
Gambar 28. Deformasi Struktur Akibat Beban Mati dan Hidup
Kontrol lendutan :
Nilai lendutan yang terjadi < Lendutan yang diizinkan
2,09 mm < 1/300 x L = 1/300 x 1000 mm
H. Kesimpulan
1. Perencanaan struktur kuda- kuda lengkung menggunakan profil baja pipa, untuk menghindari adanya tekuk lateral karena profil pipa mempunyai kekakuan yang sama ke segala arah, tidak ada sumbu lemah sumbu kuat.
2. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa struktur kuda- kuda aman dan mampu menerima berbagai macam kombinasi pembebanan yang meliputi : beban mati, beban hidup, dan beban angin.
Perencana Struktur,
A. DATA BAHAN
Tegangan leleh baja (yield stress ), f y = 240 MPa Tegangan tarik putus (ultimate stress ), f u = 370 MPa
, r
Modulus elastik baja (modulus of elasticity ), E = 200000 MPa Angka Poisson (Poisson's ratio ),
υ
= 0.3B. DATA PROFIL BAJA
Lip Channel : C 125.50.20.3,2ht = 125 mm b = 50 mm a = 20 mm t = 3.2 mm A = 781 mm2 Ix = 1810000 mm 4 I = 270000 mm4 Sx = 29000 mm 3 Sy = 8020 mm 3 r x = 48.2 mm r y = 18.5 mm c = 16.8 era pro , = . g m
Faktor reduksi kekuatan untuk lentur,
φ
b = 0.90Faktor reduksi kekuatan untuk geser,
φ
f = 0.75Sudut miring atap,
α
= 15.7 °C. SECTION PROPERTY
G = E / [ 2 * (1 +υ
) ] = 76923.077 MPa h = ht - t = 121.80 mm J = 2 * 1/3 * b * t3 + 1/3 * (ht - 2 * t) * t 3 + 2/3 * ( a - t ) * t3 = 2754.70 mm4 Iw = Iy * h 2 / 4 = 1.001E+09 mm6 X1 =π
/ Sx * √ [ E * G * J * A / 2 ] = 13936.14 MPa X2 = 4 * [ Sx / (G * J) ] 2 * Iw / Iy = 0.00028 mm 2 /N2 Zx = 1 / 4 * ht * t 2 + a * t * ( ht - a ) + t * ( b - 2 * t ) * ( ht - t ) = 24034 mm 3 Z = h *t* c - t / 2 + 2*a*t* b - c - t / 2 + t * c - ty 2+ t * b - t - c 2= 13597 mm3G = modulus geser, Zx = modulus penampang plastis thd. sb. x, J = Konstanta puntir torsi, Zy = modulus penampang plastis thd. sb. y, Iw = konstanta putir lengkung, X1 = koefisien momen tekuk torsi lateral,
h = tinggi bersih badan, X2 = koefisien momen tekuk torsi lateral,
1. BEBAN PADA GORDING
2.1. BEBAN MATI (DEAD LOAD )
No Material Berat Satuan Lebar Q (m) (N/m) 1 Berat sendiri gording 61.3 N/m 61.3 2 Atap baja (span deck ) 120 N/m2 1.0 120.0
Total beban mati, QDL = 181.3 N/m
2.2. BEBAN HIDUP (LIVE LOAD )
Beban hidup akibat beban air hujan diperhitungkan setara dengan beban genangan air
setebal 1 inc = 25 mm. qhujan = 0.025 * 10 = 0.25 kN/m
2
Jarak antara gording, s = 1 m
* * 3
e an a r u an, qhujan s = m
Beban hidup merata akibat air hujan, QLL = 250 N/m
Beban merata, Qu = 1.2 * QDL + 1.6 * QLL = 617.56 N/m
Beban terpusat, Pu = 1.6 * PLL = 1600.00 N
Sudut miring atap,
α
= 0.27 rad Beban merata terhadap sumbu x, Qux = Qu * cosα
*10-3
= 0.5945 N/mm Beban merata terhada sumbu , Quy = Q * sinu
α
*10-3= 0.1671. N/mm Beban terpusat terhadap sumbu x, Pux = Pu * cosα
= 1540.31 N Beban terpusat terhadap sumbu y, Puy = Pu * sinα
= 432.96 N4. MOMEN DAN GAYA GESER AKIBAT BEBAN TERFAKTOR
Panjang bentang gording terhadap sumbu x, x = 1 = mm
Panjang bentang gording terhadap sumbu y, Ly = L2 = 2000 mm
Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu x,
Mux = 1/10 * Qux * Lx2 + 1/8 * Pux * Lx = 3295502 Nm
Momen pada 1/4 bentang, M A = 2471626 Nm
Momen di tengah bentang, MB = 3295502 Nm
Momen pada 3/4 bentang, MC = 2471626 Nm
Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu y,
Muy = 1/10 * Quy * Ly 2
+ 1/8 * Puy * Ly = 175085 Nmm
Gaya geser akibat beban terfaktor terhadap sumbu x,
Vux = Qux * Lx + Pux = 5107 N ,
Vuy = Quy * Ly + Puy = 767 N 5. MOMEN NOMINAL PENGARUH LOCAL BUCKLING
Pengaruh tekuk lokal (local buckling) pada sayap :
Kelangsingan penampang sayap,
λ
= b / t = 15.625 Batas kelangsingan maksimum untuk penampang compact ,λ
p = 170 / √ f y = 10.973Batas kelangsingan maksimum untuk penampang non-compact ,
Momen batas tekuk terhadap sumbu y, Mry = Sy * ( f y - f r ) = 1363400 Nmm
Momen nominal penampang untuk :
a. Penampang compact ,
λ ≤ λ
p → Mn = Mp b. Penampang non-compact ,λ
p<λ ≤ λ
r → Mn = Mp - (Mp - Mr ) * (λ
-λ
p) / (λ
r -λ
p) c. Penampang langsing ,λ
>λ
r → Mn = Mr * (λ
r /λ
)2λ
>λ
p danλ
<λ
r - , -Momen nominal penampang terhadap sumbu x dihitung sebagai berikut :
compact : Mn = Mp = - Nmm
non-compact : Mn = Mp - (Mp - Mr ) * (
λ
-λ
p) / (λ
r -λ
p) = 5544068 Nmmlangsing : Mn = Mr * (
λ
r /λ
)2 = - NmmMomen nominal terhadap sumbu x penam non-compact Mnx = 5544068 Nmm
Momen nominal penampang terhadap sumbu y dihitung sebagai berikut :
compact : Mn = Mp = - Nmm
non-compact : Mn = Mp - (Mp - Mr ) * (
λ
-λ
p) / (λ
r -λ
p) = 2755451 Nmmlangsing : Mn = Mr * (
λ
r /λ
)2 = - NmmL
≤
Lp → Mn = Mp = f y * Zx b. Bentang sedang : Lp≤
L≤
Lr → Mn = Cb * [ Mr+ ( Mp - Mr ) * ( Lr - L ) / ( Lr - Lp ) ]≤
Mp c. Bentang panjang : L > Lr → Mn = Cb *π
/ L*√ [ E * Iy * G * J + (π
* E / L )2 * Iy * Iw ]≤
MpPanjang bentang maksimum balok yang mampu menahan momen plastis,
Lp = 1.76 * r y * √ ( E / f y ) = 940 mm
Tegangan leleh dikurangi tegangan sisa, f L = f y - f r = 170 MPa
torsi lateral, Lr = r y * X1 / f L * √ [ 1 + √ ( 1 + X2 * f L2 ) ] = 3035 mm Koefisien momen tekuk torsi lateral,
Cb = 12.5 * Mux / ( 2.5*Mux + 3*M A + 4*MB + 3*MC) = 1.14
Momen plastis terhadap sumbu x, Mpx = f y * Zx = 5768049 Nmm
Momen plastis terhadap sumbu y, Mpy = f y * Zy = 3263201 Nmm *
Momen batas tekuk terhadap sumbu x, rx= x y - r = 4 Nmm
Momen batas tekuk terhadap sumbu y, Mry = Sy * ( f y - f r ) = 1363400 Nmm
Panjang bentang terhadap sumbu y (jarak dukungan lateral), L = L2 = 2000 mm
L > Lp dan L < Lr
Termasuk kategori : bentang sedang Momen nominal terhadap sumbu x dihitung sebagai berikut :
Mnx = Mpx = f y * Zx = - Nmm
Mnx = Cb * [ Mrx+ ( Mpx - Mrx ) * ( Lr - L ) / ( Lr - Lp ) ] = 6072754 Nmm Mnx = Cb *
π
/ L*√ [ E * Iy * G * J + (π
* E / L )2
* Iy * Iw ] = - Nmm
Momen nominal thd. sb. x untuk : bentang sedang Mnx = 6072754 Nmm
Mnx > Mpx
Momen nominal terhada sumbu x an di unakan, M = 5768049 Nmm Momen nominal terhadap sumbu y dihitung sebagai berikut :
Mny = Mpy = f y * Zy = - Nmm
Mny = Cb * [ Mry+ ( Mpy - Mry ) * ( Lr - L ) / ( Lr - Lp ) ] = 2615868 Nmm Mny = Cb *
π
/ L*√ [ E * Iy * G * J + (π
* E / L )2
* Iy * Iw ] = - Nmm
Momen nominal thd. sb. y untuk : bentang sedang Mny = 2615868 Nmm ny < py
Mnx =
Berdasarkan pengaruh lateral buckling , Mnx = 5768049 Nmm
Momen nominal terhadap sumbu x (terkecil) yg menentukan, Mnx = 5544068 Nmm
Tahanan momen lentur terhadap sumbu x,
φ
b * Mnx = 4989661 NmmMomen nominal terhadap sumbu y :
Berdasarkan pengaruh local buckling , Mny = 2755451 Nmm
Berdasarkan pengaruh lateral buckling , Mny = 2615868 Nmm
Momen nominal terhadap sumbu y (terkecil) yg menentukan, Mny = 2615868 Nmm
Tahanan momen lentur terhadap sumbu y,
φ
b * Mny = 2354281 NmmMomen akibat beban terfaktor terhada sumbu x, Mux = 3295502 Nmm Momen akibat beban terfaktor terhadap sumbu y, Muy = 175085 Nmm
Mux / (
φ
b * Mnx ) = 0.6605 Muy / (φ
b * Mny ) = 0.0744Syarat yg harus dipenuhi : Mux / (
φ
b * Mnx ) + Muy / (φ
b * Mny ) ≤ 1.0 Mux / (φ
b * Mnx ) + Muy / (φ
b * Mny ) = 0.7348 < 1.0 AMAN (OK)8. TAHANAN GESER
Ketebalan plat badan tanpa pengaku harus memenuhi syarat,
h / t 6.36 *
√
(
E / f y )38.06 < 183.60 Plat badan memenuhi syarat (OK)
Gaya geser akibat beban terfaktor terhadap sumbu x, Vux = 5107 N
Luas penampang badan, Aw = t * ht = 400 mm
2
Tahanan gaya geser nominal thd.sb. x, Vnx = 0.60 * f y * Aw = 57600 N
Tahanan gaya geser terhadap sumbu x,
φ
f * Vnx = 43200 N Ga a eser akibat beban terfaktor terhada sumbu , V = 767 N Luas penampang sayap, Af = 2 * b * t = 320 mm2
Tahanan gaya geser nominal thd.sb. y, Vny = 0.60 * f y * Af = 46080 N
Tahanan gaya geser terhadap sumbu x,
φ
f * Vny = 34560 N Vux / (φ
f * Vnx ) = 0.1182 Vuy / (φ
f * Vny ) = 0.0222Syarat yang harus dipenuhi :
Vux / (
φ
f * Vnx ) + Vuy / (φ
f * Vny) 1.0Mu / (
φ
b*
Mn ) + 0.625 * Vu / (φ
f * Vn ) 1.375 Mu / (φ
b * Mn) = Mux / (φ
b * Mnx ) + Muy / (φ
b * Mny ) = 0.7348Vu / (
φ
f * Vn) = Vux / (φ
f * Vnx ) + Vuy / (φ
f * Vny ) = 0.1404 Mu / (φ
b*
Mn ) + 0.625 * Vu / (φ
f * Vn ) = 0.82260.8226 < 1.375 AMAN (OK)
10. TAHANAN TARIK SAGROD
Beban merata terfaktor pada gording, Quy = 0.1671 N/mm
Beban ter usat terfaktor ada ordin , Puy = 432.96. N/m Panjang sagrod (jarak antara gording), Ly = L2 = 2000 m Gaya tarik pada sagrod akibat beban terfaktor,
Tu = Quy * Ly + Puy = 767 N
Tegangan leleh baja, f y = 240 MPa
Tegangan tarik putus, f u = 370 MPa
Diameter sagrod, d = 8 mm Luas penampang brutto sagrod, Ag =
π
/ 4 * d2
= 50.27 mm2 Luas penampang efektif sagrod, Ae = 0.90 * Ag = 45.24 mm
2
Tahanan tarik sagrod berdasarkan luas penampang brutto,
φ
* Tn = 0.90 * Ag * f y = 10857 NTahanan tarik sagrod berdasarkan luas penampang efektif,
φ
* Tn = 0.75 * Ae * f u = 12554 NTahanan tarik sagrod (terkecil) yang digunakan,
φ
* Tn = 10857 NSyarat yg harus dipenuhi : Tu