JAKARTA 11 DESEMBER 2012
ANGGARAN DASAR DAN
ANGGARAN RUMAH
TANGGA
DEWAN PENGURUS PUSAT
IKATAN PENYULUH KELUARGA BERENCANA (IPeKB) INDONESIA
2012
ASUS [Type the company name] [Pick the date]
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, berkat rahmat dan karunia-Nya Rapat Kerja Nasional DPP Ikatan Penyuluh KB telah berlangsung dengan lancar.
Keberhasilan suatu organisasi dalam menjaga keberlangsungannya akan dikaitkan dengan seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai. Salah satu cara yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu organisasi yaitu pengukuran efektivitas.
Musyawarah Nasional Ikatan Penyuluh KB Indonesia telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2012. Sesuai dengan Anggaran Dasar IPeKB pasal 16 dan amanat peserta Munas, Dewan Pengurus Pusat (DPP) IPeKB berkewajiban untuk menterjemahkan amanat tersebut. Salah satu cara untuk menterjemahkan amanat tersebut adalah dengan menggunakan forum Rapar Kerja Nasional (Rakernas). Agar proses ini bersinergi dengan program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) khususnya di tingkat lapangan, agar keberlangsungan organisasi ini dapat berjalan dan bersinergi dengan baik.
Akhirnya semoga sumbangsih saran dari teman – teman Penyuluh Keluarga Berencana dan para Dewan Pengurus Pusat IPeKB Indonesia dalam menuntaskan amanah Musyawarah
Nasional (Munas) II tahun 2012 dapat membawa perubahan yang signifikan untuk kemajuan IPeKB Indonesia.
ANGGARAN DASAR
IKATAN PENYULUH KELUARGA BERENCANA
INDONESIA (IPeKB INDONESIA)
MUKADIMAH
Bahwa sesungguhnya masyarakat adil dan makmur melalui norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera adalah bagian dari tujuan negara, sebagai cita-cita luhur bangsa indonesia. Oleh karena itu masalah kependudukan, harus dikendalikan oleh seluruh komponen bangsa, yang memiliki kepedulian dan atau keberpihakan pada perjuangan untuk mewujudkan cita-cita dimaksud.
Bahwa Perjuangan meraih cita-cita perwujudan Keluarga Kecil, bahagia sejahtera melalui pelaksanaan Program Keluarga Berencana Nasional, dalam perkembangannya mengalami fluktuasi yang sangat berarti, sebagai akibat dari perubahan lingkungan strategis global yang berimplikasi terhadap tuntutan perubahan arah kebijakan program, dimana pelaksanaan yang semula menggunakan pendekatan demografis, harus menjadi lebih difokuskan kepada pemenuhan hak-hak asasi manusia dan hak-hak reproduksi keluarga.
Pada sisi yang lain, perubahan lingkungan strategis nasional yang ditandai dengan pergeseran sistem pemerintahan sentralistik menuju ke desentralistik sesuai UU
No. 22 tahun 1999, sebagaimana dirubah dengan UU No. 32 tahun 2004 yang lebih dikenal dengan otonomi daerah, secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kesinambungan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Dampak secara nyata dari pelaksanaan otonomi daerah tersebut dalam pelaksanaan Program KB Nasional, salah satunya adalah berkurangnya tenaga pelaksana program di lini lapangan, khususnya Petugas Lapangan Keluarga Berencana Nasional (PKB dan PLKB), maupun pengelola dan atau pengendali program di tingkat Kecamatan yang mengalami pengurangan jumlah yang sangat signifikan dibanding kebutuhan, yang disebabkan adanya mutasi dan atau pengalihan fungsi.
Menyadari sepenuhnya kondisi seperti yang di uraikan di atas, maka untuk mempertahankan eksistensi keberadaan dan untuk memperkuat kedudukan peran dan fungsi Penyuluh KB, atas berkat Rachmat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, disertai rasa tanggung jawab yang tinggi, dengan ini petugas pengelola, penyuluh KB dan kelompok masyarakat maupun individu yang memiliki keinginan yang sama, menyatakan sikap untuk membentuk suatu wadah organisasi profesi dibawah binaan BKKBN dengan Anggaran Dasar sebagai berikut :
BAB I
NAMA DAN KEDUDUKAN Pasal 1
1. Organisasi ini bernama “Ikatan Penyuluh Keluarga
Berencana Indonesia” disingkat IPeKB Indonesia.
2. IPeKB Indonesia berkedudukan di Ibukota Negara, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
BAB II AZAS Pasal 2
IPeKB Indonesia berazaskan Pancasila dan UUD 1945.
BAB III
STATUS DAN SIFAT Pasal 3
IPeKB Indonesia memiliki status:
1. Tidak ada hubungan hirarki dengan organisasi/lembaga lain maupun perorangan ditingkat manapun.
2. Organisasi Profesi
3. Tidak berafiliasi pada partai politik, suku, agama dan golongan tertentu.
Pasal 4
IPeKB Indonesia memiliki sifat: :
1. Demokratis, independen dan sosial kemasyarakatan. 2. Memiliki keleluasaan untuk mengembangkan diri. 3. Berdasarkan kesamaan tujuan.
BAB IV TUJUAN
Pasal 5
IPeKB Indonesia bertujuan :
1. Menyatukan Penyuluh Keluarga Berencana, Pengelola Keluarga Berencana dan individu yang mempunyai cita-cita yang sama.
2. Meningkatkan kompetensi profesi.
3. Memperjuangkan aspirasi,hak dan kesejahteraan anggota.
4. Meningkatkan kepedulian, peranserta masyarakat dan
membangun kemitraan dalam mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera.
BAB V
KEANGGOTAAN Pasal 6
1. Anggota IPeKB Indonesia adalah warga Negara Republik Indonesia.
2. Status keanggotaan IPeKB : a. Anggota Biasa.
b. Anggota Luar Biasa c. Anggota Kehormatan.
3. Ketentuan anggota diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART).
BAB VI
STRUKTUR KEPENGURUSAN Pasal 7
Struktur Kepengurusan IPeKB Indonesia terdiri dari:
1. Di Pusat disebut Dewan Pengurus Pusat (DPP)
IPeKB Indonesia.
2. Di Provinsi disebut Dewan Pengurus Daerah
(DPD) IPeKB Indonesia.
3. Di Kabupaten/Kota disebut Dewan Pengurus
Cabang (DPC) IPeKB Indonesia.
Pasal 8
Kepengurusan IPeKB Indonesia terdiri dari :
1. Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang.
2. Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang terdiri dari pengurus inti, Unsur Pengurus Inti, Departemen, Bidang, Seksi dan Unit lainnya.
3. Pengurus inti terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum.
4. Selain Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang juga dilengkapi dengan Dewan Penasehat dan Dewan Pembina.
5. Pengurus inti dipilih oleh Musyawarah Nasional IPeKB Indonesia, Musyawarah Daerah dan Musyawarah Cabang untuk jangka waktu 4 (empat) tahun.
6. Selain pengurus inti diangkat (diusulkan) oleh formatur terpilih bersama Pengurus inti.
BAB VII
TUGAS DAN KEWAJIBAN PENGURUS Pasal 9
1. Dewan Pengurus Pusat memimpin kepengurusan dan
bertanggungjawab atas pelaksanaan keputusan
Musyawarah Nasional.
2. Dewan Pengurus Pusat berkewajiban memberikan laporan atas pelaksanaan ayat 1 kepada Musyawarah Nasional berikutnya.
3. Dewan Pengurus Daerah memimpin kepengurusan dan bertanggungjawab atas pelaksanaan keputusan Musyawarah Daerah.
4. Dewan Pengurus Daerah berkewajiban memberikan laporan atas pelaksanaan ayat 3 kepada Musyawarah Daerah berikutnya.
5. Dewan Pengurus Cabang memimpin kepengurusan dan bertanggungjawab atas pelaksanaan keputusan Musyawarah Cabang.
6. Dewan Pengurus Cabang berkewajiban memberikan laporan atas pelaksanaan ayat 5 kepada Musyawarah Cabang berikutnya.
BAB VIII
MUSYAWARAH DAN RAPAT Pasal 10
1. Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah
Daerah (MUSDA) dan Musyawarah Cabang
(MUSCAB) IPeKB Indonesia merupakan otoritas tertinggi untuk menetapkan Pengurus inti, kebijakan
umum dan menilai serta mensyahkan
pertanggungjawaban pengurus.
2. Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah
Daerah (MUSDA) dan Musyawarah Cabang
(MUSCAB) IPeKB Indonesia dilaksanakan 4 (empat) tahun sekali.
Pasal 11
1. Musyawarah Nasional (MUNAS) IPeKB Indonesia dihadiri oleh Dewan Pengurus Pusat, utusan Dewan
Pengurus Daerah dan utusan Dewan Pengurus Cabang serta Anggota dan undangan lainnya.
2. Musyawarah Daerah (MUSDA) IPeKB Indonesia dihadiri oleh Dewan Pengurus Daerah dan utusan Dewan Pengurus Cabang serta anggota dan undangan lainnya.
3. Musyawarah Cabang (MUSCAB) IPeKB Indonesia di Kabupaten/Kota dihadiri oleh Dewan Pengurus Cabang, Anggota dan undangan lainnya.
Pasal 12
1. Rapat Kerja adalah tindaklanjut dari hasil
Musyawarah Nasional (MUNAS), Musyawarah
Daerah (MUSDA) dan Musyawarah Cabang
(MUSCAB) IPeKB Indonesia
2. Rapat Kerja dilaksanakan minimal satu kali dalam satu tahun.
Pasal 13
Macam-macam rapat antara lain: 1. Rapat Kerja Pengurus.
2. Rapat Kerja Koordinasi. 3. Rapat Kerja Pimpinan. 4. Rapat Kerja Konsultasi.
BAB IX
KEUANGAN DAN KEKAYAAN Pasal 14
Keuangan IPeKB Indonesia bersumber dari : 1. Iuran anggota.
2. Sumbangan, bantuan, hibah dan sumber-sumber lain yang tidak mengikat.
3. Hasil Usaha yang dilakukan oleh Unit Khusus IPeKB.
Pasal 15
Kekayaan IPeKB Indonesia adalah seluruh
barang/inventaris baik bergerak maupun tidak bergerak yang menjadi aset organisasi.
BAB X
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 16
1. Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan
melalui Musyawarah Nasional (MUNAS) atau
2. Musyawarah Nasional (MUNAS) atau Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB) pada ayat (1) minimal harus dihadiri oleh 2/3 dari Dewan Pengurus Pusat, dan 2/3 utusan Dewan Pengurus Daerah.
3. Keputusan Perubahan Anggaran Dasar harus disetujui minimal oleh 1/2 +1 peserta yang hadir.
Pasal 17
Organisasi IPeKB Indonesia dapat dibubarkan secara internal oleh :
1. Musyawarah Nasional (MUNAS) yang dilakukan khusus untuk itu, apabila diusulkan oleh 2/3 pengurus Pusat, 2/3 pengurus daerah dan 2/3 pengurus cabang. 2. Keputusan pembubaran ini sah apabila dihadiri oleh 2/3 utusan tersebut pada ayat 1 dan diputuskan oleh 1/2+1 dari yang hadir.
3. Keputusan pembubaran diberitahukan kepada pihak-pihak yang terkait paling lambat 7 (tujuh) hari kemudian.
4. Segera setelah pembubaran IPeKB Indonesia maka mantan pengurus pada periode terakhir harus menyelesaikan urusan hutang-piutang dan kewajiban lainnya.
5. Kekayaan yang masih ada diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XI ATRIBUT
Pasal 18
IPeKB Indonesia mempunyai atribut khusus yang diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART).
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 19
1. Anggaran Dasar ini berlaku sejak ditetapkan dan disahkan oleh Musyawarah Nasional (MUNAS) atau Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB).
2. Ketentuan yang belum tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) ini selanjutnya akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) dan Peraturan Organisasi (PO).
ANGGARAN RUMAH TANGGA
IKATAN PENYULUH KELUARGA BERENCANA INDONESIA
( IPeKB INDONESIA )
BAB I
ATRIBUT
Pasal 1
1. Lambang organisasi IPeKB Indonesia adalah segi lima warna biru muda yang didalamnya terdapat gambar keluarga dengan dua anak dan 8 pilar berwarna biru tua yang menggambarkan 8 fungsi keluarga, ikatan pita berwarna kuning emas bertuliskan IKATAN PENYULUH KELUARGA BERENCANA INDONESIA, dan bertulis kependekannya: IPeKB INDONESIA serta berpondasi tiga tangga berwarna biru tua.
2. Bendera organisasi IPeKB Indonesia dasar berwarna biru muda bergambar lambang pada ayat satu, ukuran bendera menyesuaikan peraturan yang berlaku.
3. Lencana IPeKB Indonesia dalam ukuran kecil sesuai dengan lambang KB pada ayat satu.
4. Kop surat berisi lambang organisasi dipojok kiri, nama organisasi, alamat, nomor telepon, nomor fax, dan alamat email, dengan huruf resmi.
5. Stempel berbentuk lingkaran disesuaikan dengan lambang IPeKB Indonesia dengan tinta biru.
6. Mars dan Hymne yang merupakan ciri khas yang akan diatur oleh pengurus pusat.
7. Bentuk kartu anggota berlogo, tertulis identitas anggota yang disahkan dan ditandatangani oleh ketua umum dan sekretaris umum pengurus pusat, serta berlaku sepanjang yang bersangkutan masih menjadi anggota organisasi.
BAB II
KEANGGOTAAN Pasal 2
Syarat menjadi anggota biasa adalah
1. Petugas Lapangan Keluarga Berencana ( PLKB ) dan atau Penyuluh Keluarga Berencana ( PKB ).
2. Pengelola KB Kecamatan, yang selanjutnya disebut Koordinator Penyuluh KB, Kepala Unit Pelaksana Teknis, Pengawas PLKB atau sebutan lain yang sejenis.
3. Mantan PLKB / PKB yang masih aktif sebagai PNS
dan memiliki komitmen terhadap program
Kependudukan dan Keluarga Berencana ( KKB ). 4. Butir 1, 2 dan 3 secara otomatis menjadi anggota. 5. Memiliki kartu anggota yang telah ditetapkan.
Pasal 3
Syarat menjadi anggota luar biasa adalah
1. Pensiunan PLKB / PKB.
2. Tenaga Kontrak / honorer aktif sebagai PLKB
3. Perorangan yang peduli dan berperan serta dalam
Program Kependudukan dan KB.
4. Pejabat / Staf pemerintah / swasta yang peduli dan
berperan serta dalam program Kependudukan dan KB.
5. Mengajukan secara tertulis kepada Pengurus Cabang
/ Pengurus Daerah atau Pengurus Pusat .
6. Memiliki Kartu Anggota yang telah ditetapkan.
Pasal 4
Syarat menjadi anggota kehormatan adalah
1. Tokoh Formal / Non Formal yang berpengaruh dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana. 2. Mempunyai kepedulian dan peran serta dalam
Program Kependudukan dan KB.
3. Diminta kesediaannya atas dasar musyawarah / rapat
pengurus dan yang bersangkutan menyatakan
kesediaannya.
Pasal 5
Status keanggotaan seseorang sebagai anggota berhenti apabila meninggal dunia, atas permintaan
sendiri, dan dibatalkan oleh Dewan Pengurus Pusat atas usul DPD / DPC.
Pasal 6
Status keanggotaan seseorang dapat dibatalkan apabila : Secara sah melanggar hukum dan dibuktikan dengan adanya keputusan hukum yang tetap.
1. Melakukan tindakan secara sistematis merusak citra dan nama baik organisasi.
2. Secara sah terbukti melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
3. Diputuskan oleh rapat pengurus.
BAB III
KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA
Pasal 7
Kewajiban anggota biasa adalah :
1. Aktif mengikuti setiap kegiatan organisasi.
2. Melaksanakan profesi dengan baik dan sungguh-sungguh.
Pasal 8
Kewajiban anggota luar biasa dan anggota kehormatan adalah,
1. Mendukung aktivitas dan program kerja organisasi.
2. Aktif memberikan dukungan untuk kemajuan
organisasi.
3. Aktif melakukan advokasi kepada pemangku
kepentingan untuk kemajuan organisasi.
Pasal 9
Hak anggota biasa adalah :
1. Memilih dan dipilih menjadi pengurus.
2. Mendapatkan peningkatan pengembangan profesi. 3. Mendapatkan manfaat dari kegiatan usaha organisasi
Pasal 10
Hak anggota luar biasa dan kehormatan adalah :
1. Memilih dan dipilih menjadi anggota dewan pembina. 2. Memberikan rujukan dan referensi kebijakan program
kerja.
BAB IV
HUBUNGAN TATA KERJA
Pasal 11
Hubungan organisasi meliputi :
1. Dewan Pengurus Pusat dapat berhubungan dengan Dewan Pengurus Cabang melalui Dewan Pengurus Daerah.
2. Dewan Pengurus Cabang dapat berhubungan dengan Dewan Pengurus Pusat melalui Dewan Pengurus Daerah.
3. Dewan Pengurus Pusat, Daerah dan Cabang dapat melakukan hubungan konsultasi dan koordinasi dengan Dewan Pembina masing-masing.
4. Hubungan antar Dewan Pengurus Daerah diketahui oleh Dewan Pengurus Pusat dan hubungan antar Dewan Pengurus Cabang diketahui oleh Dewan Pengurus Daerah.
5. Dewan Pengurus Pusat, Daerah dan Cabang dapat berhubungan dengan mitra / organisasi lain diatur berdasarkan peraturan pengurus.
Pasal 12
Bagan struktur organisasi tertuang dalam lampiran Anggaran Rumah Tangga ( ART ).
BAB V
KEPENGURUSAN
Pasal 13
Syarat umum menjadi pengurus adalah
1. Anggota biasa diusulkan dan dipilih oleh Musyawarah Nasional, Musyawarah Daerah dan Musyawarah Cabang.
2. Bersedia dan bertanggung jawab menjadi pengurus.
Pasal 14
Tugas pengurus adalah :
1. Menjalankan program kerja yang telah ditetapkan oleh MUNAS, MUSDA dan MUSCAB.
2. Menggali potensi sumber daya yang sah untuk optimalisasi pencapaian program kerja.
3. Menyampaikan laporan secara berjenjang setiap 1 ( satu ) tahun sekali
4. Menyelenggarakan MUNAS, MUSDA dan MUSCAB.
Pasal 15
Pengurus inti ( Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum ) berhalangan tetap / berhenti dari jabatannya, apabila :
1. Meninggal dunia. 2. Mengundurkan diri.
3. Beralih status keanggotaan, dari anggota biasa menjadi anggota luar biasa / kehormatan.
4. Keanggotaan dibatalkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6.
5. Merangkap jabatan sebagai pengurus inti ( Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum ), pada tingkatan organisasi yang sama.
Pasal 16
1. Pengurus yang kemudian hari beralih status
keanggotaan menjadi anggota luar biasa /
kehormatan, tetap dapat menjalankan tugasnya sampai ada keputusan hasil rapat pengurus.
2. Apabila pengurus meninggal dunia, mengundurkan diri dan atau tidak dapat melaksanakan tugas maka jabatannya diisi oleh anggota biasa yang ditetapkan melalui rapat pengurus.
3. Apabila Ketua Umum berhalangan tetap karena meninggal dunia, mengundurkan diri dan tidak dapat melaksanakan tugas, maka jabatannya dilaksanakan sementara oleh Sekretaris Umum dan Bendahara Umum sampai telah ditentukan penggantinya pada Musyawarah Umum berikutnya.
4. Apabila Sekretaris Umum dan Bendahara Umum berhalangan tetap maka jabatannya dilaksanakan sementara oleh anggota / pengurus lainnya yang dipilih melalui Rapat Pengurus.
BAB VI
STRUKTUR KEPENGURUSAN Pasal 17
Struktur Pengurus meliputi Dewan Pengurus dan Dewan Pembina.
1. Dewan Pengurus meliputi, Pengurus Inti, Pengurus Teras dan Pengurus Harian.
2. Pengurus Inti adalah pengurus yang dipilih oleh
Musyawarah Umum meliputi Ketua Umum,
Sekretaris Umum dan Bendahara Umum.
3. Pengurus Teras adalah bagian dari pengurus inti atau pimpinan pengurus yaitu Ketua I, Ketua II ( wakil ketua umum ), sekretaris I, sekretaris II ( wakil sekretaris umum ) dan bendahara I, bendahara II ( wakil bendahara ).
4. Pengurus Harian adalah bagian penting pengurus yang aktif melaksanakan kegiatan yang terhimpun dalam Departemen, bidang dan seksi serta unit pelaksana teknis.
5. Kelengkapan Dewan Pengurus Pusat ( DPP ) meliputi :
a. Departemen Organisasi dan Kepengurusan : 1) Bidang Pembinaan Pengurus
2) Bidang Penguatan Organisasi 3) Bidang Monitoring dan Evaluasi
b. Departemen Kompotensi dan kesejahteraan : 1) Bidang Pengembangan Kompotensi
3) Bidang Peningkatan Prestasi
c. Departemen Kemitraan dan Pengabdian Masyarakat :
1) Bidang Kemitraan
2) Bidang Pengabdian Masyarakat
3) Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat
d. Departemen Advokasi, Kependudukan dan Hukum:
1) Bidang Advokasi dan Penggerakan 2) Bidang Kependudukan
3) Bidang Bantuan Hukum e. Pengembangan Departemen:
1) Pos Pemberdayaan Keluarga ( Posdaya ) 2) Koperasi dan Pameran
3) Pendidikan dan Pelatihan 4) Media Cetak
5) Media Elektronik
6. Kelengkapan Dewan Pengurus Daerah ( DPD ) dan Dewan Pengurus Cabang ( DPC ) meliputi :
a. Bidang Organisasi dan Kepengurusan : 1) Seksi Pembinaan Pengurus
2) Seksi Penguatan Organisasi 3) Bidang Monitoring dan Evaluasi b. Bidang Kompotensi dan kesejahteraan :
1) Seksi Pengembangan Kompotensi 2) Seksi Peningkatan Kesejahteraan 3) Seksi Peningkatan Prestasi
c. Bidang Kemitraan dan Pengabdian
1) Seksi Kemitraan
2) Seksi Pengabdian Masyarakat
3) Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat
d. Bidang Advokasi, Kependudukan dan Hukum: 1) Seksi Advokasi dan Penggerakan
2) Seksi Kependudukan 3) Seksi Bantuan Hukum e. Pengembangan Departemen:
1) Pos Pemberdayaan Keluarga ( Posdaya ) 2) Koperasi dan Pameran
3) Pendidikan dan Pelatihan 4) Media Cetak
5) Media Eloktronik
7. Pengurus Teras I membina urusan internal ( Departemen / Bidang a dan b ) dan Pengurus Teras II membina urusan eksternal ( Departemen / Bidang c dan d ).
8. Kelengkapan Struktur kepengurusan Daerah dan cabang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah setempat.
BAB VII
DEWAN PENASEHAT DAN DEWAN PEMBINA
Pasal 18
1. Dewan Penasehat dan Dewan Pembina berada pada setiap tingkatan wilayah ( Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota ).
2. Dewan Pembina terdiri dari
a. Satu orang Ketua merangkap anggota. b. Wakil Ketua merangkap anggota.
c. Anggota.
3. Dewan Pembina meliputi unsur pejabat dan unsur perorangan.
4. Unsur Pejabat yang ditetapkan sebagai anggota dewan pembina disesuaikan dengan struktur organisasi yang ada di Pusat, Daerah dan Cabang. 5. Unsur Perorangan yang ditetapkan sebagai anggota
Dewan Pembina karena dedikasi dan integritasnya serta kepedulian yang tinggi terhadap program Kependudukan dan Keluarga Berencana ( KKB ). 6. Jumlah anggota dewan pembina dari unsur pejabat
minimal 4 maksimal 9 orang, dan dari unsur perorangan minimal 5 maksimal 12 orang.
7. Anggota Dewan Pembina Daerah dan Cabang disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.
Pasal 19
Syarat umum menjadi anggota Dewan Pembina adalah 1. Menunjukkan kepedulian dan peran serta dalam bidang
Kependudukan dan Keluarga Berencana ( KKB ).
2. Anggota Dewan Pembina diusulkan oleh peserta musyawarah dan ditetapkan oleh rapat pengurus.
3. Anggota Dewan Pembina dapat berhenti karena meninggal dunia, mengundurkan diri dan tak dapat aktif melaksanakan tugas.
4. Pergantian anggota Dewan Pembina ditetapkan melalui rapat pengurus.
Pasal 20
Tugas Dewan Pembina adalah :
1. Memberi masukan kepada pengurus dalam mengelola organisasi.
2. Memberi dukungan kepada pengurus dalam menuju kemajuan organisasi.
3. Mediator kepada pemangku kepentingan dan
kemitraan usaha organisasi.
4. Aktif berpartisipasi kegiatan organisasi.
BAB VIII
MUSYAWARAH DAN RAPAT
Pasal 21
1. Musyawarah terdiri dari Musyawarah Umum dan Musyawarah Luar Biasa.
2. Musyawarah umum dilakukan pada akhir masa
jabatan kepengurusan, sekaligus memilih dan
menetapkan pengurus yang baru.
3. Musyawarah Umum untuk Tingkat Nasional, Provinsi
dan Kabupaten / Kota selanjutnya disebut
Musyawarah Nasional ( Munas ), Musyawarah Daerah ( Musda ) dan Musyawarah Cabang ( Muscab ).
4. Pelaksanaan Musyawarah Umum dilaksanakan oleh pengurus di setiap tingkatan.
5. Musyawarah Umum disetiap tingkatan sah
dilaksanakan, apabila dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 2/3 utusan peserta.
6. Musyawarah Luar Biasa dilaksanakan apabila ada hal yang mendesak untuk diselesaikan menyangkut kepentingan organisasi dan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 utusan peserta.
7. Hak suara dalam Musyawarah Nasional adalah utusan dari unsur Pengurus Pusat, unsur Pengurus Daerah dan unsur Pengurus Cabang.
Pasal 22
1. Musyawarah Kerja IPeKB Indonesia disebut MUKER dilaksanakan minimal satu kali dalam dua tahun guna membahas evaluasi dan perencanaan program.
2. Musyawarah Kerja IPeKB dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari Kabupaten / Kota, Provinsi dan Pusat.
Pasal 23
Macam-macam rapat antara lain :
1. Rapat Kerja Pengurus adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh pengurus.
a. Rapat Kerja Pengurus Pusat dilaksanakan minimal 1 ( satu ) tahun sekali.
b. Rapat Kerja Pengurus Daerah dilaksanakan minimal 6 ( enam ) bulan sekali.
c. Rapat Pengurus Cabang dilaksanakan minimal 3 ( tiga ) bulan sekali.
2. Rapat Koordinasi adalah rapat yang dihadiri oleh unsur Pimpinan Pengurus dan Dewan Pembina dilaksanakan minimal 1 ( satu ) tahun sekali.
3. Rapat Pimpinan adalah rapat yang dihadiri oleh unsur Ketua, Sekretaris dan Bendahara di cabang, daerah dan pusat.
4. Rapat Konsultasi adalah rapat yang diselenggarakan oleh Cabang / Daerah yang dihadiri oleh pengurus setingkat di atasnya.
BAB IX
PRODUK HUKUM
Pasal 24
Produk Hukum Organisasi meliputi :
1. Surat Keputusan Pengurus merupakan dasar yang mengikat pengurus untuk melaksanakan tugas, wewenang, kewajiban dan hak.
2. Surat Edaran Pengurus merupakan pemberitahuan dari pengurus yang mendasari anggota berpartisipasi aktif dalam aktivitas.
3. Surat Perintah Tugas merupakan penugasan dari
pimpinan kepada pengurus / anggota untuk
4. Surat Peringatan merupakan teguran / peringatan yang ditujukan kepada seseorang / lembaga / anggota untuk diketahui bahwa yang bersangkutan telah
melakukan tindakan / sikap yang merugikan
kepentingan organisasi.
5. Surat Pemberhentian dan atau Pembatalan Anggota
merupakan tindakan pengurus setelah surat
peringatan tidak mendapat respon yang cukup.
Pasal 25
Penetapan Surat Keputusan Pengurus :
1. Susunan Dewan Pengurus Pusat ditetapkan dan disahkan oleh Tim Formatur Pusat, sebagai Majelis Sidang.
2. Dewan Pengurus Pusat dilantik dan dikukuhkan oleh
Kepala BKKBN atau pejabat kementerian /
kelembagaan negara.
3. Susunan Dewan Pengurus Daerah disahkan oleh Tim Formatur Daerah dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Dewan Pengurus Pusat.
4. Dewan Pengurus Daerah dilantik oleh Dewan Pengurus Pusat dan dikukuhkan oleh Pejabat Tingkat Provinsi.
5. Susunan Dewan Pengurus Cabang disahkan oleh Tim Formatur Cabang dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Dewan Pengurus Daerah.
6. Dewan Pengurus Cabang dilantik oleh Dewan Pengurus Daerah dan dikukuhkan oleh Pejabat Kabupaten / Kota.
7. Apabila Dewan Pengurus Cabang sudah terbentuk, sementara Dewan Pengurus Daerah belum terbentuk atau tak dapat menjalankan tugas maka susunan pengurus ditetapkan dengan Surat Keputusan Dewan Pengurus Pusat.
Pasal 26
Sistem administrasi organisasi ditetapkan melalui rapat kerja pengurus.
BAB X
TATA TERTIB PEMILIHAN
Pasal 27
1. Pemilihan Pengurus Inti ( Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara umum ) dilakukan melalui penetapan bakal calon dan pemilihan calon tetap. 2. Penetapan bakal calon Pengurus Inti dilakukan
dengan cara setiap Utusan Daerah / Cabang mengajukan paling banyak 3 ( tiga ) nama bakal calon Ketua Umum, 3 ( tiga ) nama bakal calon Sekretaris umum dan 3 ( tiga ) nama bakal calon Bendahara Umum.
3. Bakal calon Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum yang mendapat suara tertinggi 1 sampai 3 ditetapkan sebagai calon tetap.
4. Calon tetap Ketua Umum, Sekretaris Umum dan
Bendahara Umum dipilih oleh setiap peserta sidang dengan memiliki hak satu suara ( one man one vote ),
dan setiap peninjau hanya memiliki hak bicara.
5. Setiap Pengurus Pusat memiliki 1 ( satu ) suara, Pengurus Daerah memiliki 2 ( dua ) suara dan Pengurus Cabang memiliki 1 ( satu ) suara.
6. Calon Ketua Umum, calon Sekretaris Umum dan calon Bendahara Umum yang mendapatkan suara terbanyak ditetapkan sebagai Ketua Umum terpilih, Sekretaris Umum terpilih dan Bendahara Umum terpilih.
Pasal 28
1. Penyusunan kepengurusan dilakukan oleh Ketua
Umum terpilih, Sekretaris Umum terpilih dan
Bendahara Umum terpilih atas usulan Tim Formatur. 2. Tim Formatur terdiri dari Pengurus Inti terpilih dan
beberapa Utusan Daerah.
3. Jumlah Anggota Formatur dari Utusan Daerah / Utusan Cabang dan cara pemilihannya ditetapkan oleh Majelis Sidang.
4. Tugas Tim Formatur adalah :
a. Membentuk kelengkapan susunan pengurus
b. Mengusulkan anggota Dewan Penasehat dan Dewan Pembina
c. Menindaklanjuti agar kepengurusan mendapat surat keputusan / pengesahan dari Dewan Pengurus di atasnya dan Pelantikan serta pengukuhan oleh pejabat yang berwenang.
d. Pemilihan Pengurus memperhatikan kemampuan seseorang dan keterwakilan daerah geografis;
BAB XI
PERUBAHAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
Pasal 29
1. Perubahan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan melalui Musyawarah Nasional.
2. Musyawarah Nasional sah apabila dihadiri oleh 2/3 Pengurus Pusat, 2/3 dari jumlah provinsi dan atau 2/3 utusan daerah.
3. Keputusan musyawarah dianggap sah apabila disetujui oleh ½+1 anggota yang hadir.
Pasal 30
Keputusan Musyawarah Nasional berlaku kepada
organisasi yang sama pada setiap tingkatan baik yang telah terbentuk maupun yang akan dibentuk.