ELEKTRONIKA DASAR
Petemuan Ke-9
Pemodelan BJT
2 Penguat BJT satu tingkat
Struktur dasar
Gambar menunjukkan rangkaian dasar penguat BJT dengan pemberian
bias dengan arus yang konstan. Yang perlu diperhatikan adalah memilih RB
yang besar untuk menjaga resistansi masukan pada base yang besar. Tetapi
penurunan tegangan dan pengaruh β pada RB harus dibatasi. Tegangan dc
VB menentukan simpangan sinyal yang dibolehkan pada collector.
Gambar 59. Struktur dasar rangkaian yang dipakai untuk merealisasikan penguat BJT diskrit satu tingkat.
3 Penguat BJT satu tingkat
Struktur dasar
Gambar menunjukkan rangkaian dasar penguat BJT dengan pemberian
bias dengan arus yang konstan. Yang perlu diperhatikan adalah memilih RB
yang besar untuk menjaga resistansi masukan pada base yang besar. Tetapi
penurunan tegangan dan pengaruh β pada RB harus dibatasi. Tegangan dc
VB menentukan simpangan sinyal yang dibolehkan pada collector.
Gambar 59. Struktur dasar rangkaian yang dipakai untuk merealisasikan penguat BJT diskrit satu tingkat.
4 Karakterisasi Penguat BJT
Tabel 5. Parameter karateristik penguat Rangkaian:.
Definisi:
Resistansi masukan tanpa beban: Definisi:
Resistansi masukan tanpa beban:
L R i i i i v R Resistansi masukan: i i in i v R
5 Resistansi keluaran 0 sig v x x out i v R
Penguatan tegangan hubung terbuka
L R i o vo v v A Penguatan tegangan i o v v v A i o v v v A
Penguatan arus hubung singkat
0 L R i o is i i A Penguatan arus i o i i i A
6 Penguatan tegangan menyeluruh hubung terbuka
sig o v v v G L R sig o vo v v G
Penguatan tegangan menyeluruh
Transkonduktansi hubung singkat
0 L R i o m v i G
Resistansi keluaran penguat ‘proper’
0 i v x x o i v R
7 Rangkaian ekivalen
A.
B
8 Persamaan: o m vo o L L vo v sig in in sig i R G A R R R A A R R R v v o L L vo v vo sig in in vo o L L vo sig in in v R R R G G A R R R G R R R A R R R G o L L vo v vo sig in in vo o L L vo sig in in v R R R G G A R R R G R R R A R R R G
9 Contoh soal 17:
Sebuah penguat transistor dicatu oelh sebuah sumber sinyal yang
mempunyai tegangan hubung terbuka vsig = 10 mV dan mempunyai
resistansi dalam Rsig = 100 kΩ. Tegangan vi pada masukan penguat dan
tegangan keluaran vo diukur tanpa dan dengan resistansi beban.RL = 10 kΩ
yang dihubungkan pada keluaran penguat. Hasil pengukuran itu adalah sebagai berikut:
vi (mV) vo (mV)
Tanpa RL 9 90
Dengan RLterhubung 8 70
Carilah parameter penguat. Jawab:
Dengan data RL= ∞, tentukan Avo dan Gvo
Contoh soal 17:
Sebuah penguat transistor dicatu oelh sebuah sumber sinyal yang
mempunyai tegangan hubung terbuka vsig = 10 mV dan mempunyai
resistansi dalam Rsig = 100 kΩ. Tegangan vi pada masukan penguat dan
tegangan keluaran vo diukur tanpa dan dengan resistansi beban.RL = 10 kΩ
yang dihubungkan pada keluaran penguat. Hasil pengukuran itu adalah sebagai berikut:
vi (mV) vo (mV)
Tanpa RL 9 90
Dengan RLterhubung 8 70
Carilah parameter penguat. Jawab:
Dengan data RL= ∞, tentukan Avo dan Gvo
k 900 10 10 9 V/V 9 10 90 V/V 10 9 90 i i i vo sig i i vo vo vo R R R A R R R G G A
10
Dengan menggunakan data RL = 10 kΩ tentukan Av dan Gv
V/V 7 10 70 V/V 75 , 8 8 70 v v G A
Harga Av dan Avo dapat dipakai untuk menentukan Ro
k 43 , 1 10 10 10 75 , 8 o o o L L vo v R R R R R A A k 43 , 1 10 10 10 75 , 8 o o o L L vo v R R R R R A A
Harga Gv dan Gvo dapat dipakai untuk menentukan Rout
k 86 , 2 10 10 9 7 out out out L L vo v R R R R R G G
11
Harga Rin dapat ditentukan dari
k 400 100 10 8 in in in sig in in sig i R R R R R R v v
Transkonduktansi hubung singkat Gm dapat dihitung seperti berikut
mA/V 7 43 , 1 10 o vo m R A G 7 mA/V 43 , 1 10 o vo m R A G
Penguatan arus Ai dapat ditentukan sebagai berikut:
A/A 350 10 400 75 , 8 L in v L in i o in i L o i R R A R R v v R v R v A
12 Penguatan arus hubung singkat dapat ditentukan sebagai berikut. Dari
rangkaian ekivalen A, arus keluaran hubung singkat adalah
o i
vo
osc A v R
i
Untuk menentukan vi perlu diketahui harga Rin yang diperoleh dengan RL =
0. Dari rangkaian pengganti C, arus keluaran hubung singkat adalah:
out sig
vo
osc G v R
i
Dari kedua persamaan untuk iosc dan ganti Gov dengan:
Dari kedua persamaan untuk iosc dan ganti Gov dengan:
vo sig i i vo A R R R G Dan vi dengan sig R in R in sig i R R R v v L L 0 0
13 k 81,8 1 1 0 out o i sig sig R in R R R R R R L Maka: V/V 572 43 , 1 / 8 , 81 10 0 i osc is o R in i vo osc i i A R R i A i L
14 Penguat Common Emitter
Gambar 60 (a) Struktur Penguat Common Emitter (b) Model Rangkaian Pengganti Hybrid-π
15
CE adalah kapasitor bypass yang mempunyai harga cukup besar, yang
fungsinya membuat ground untuk sinyal atau ac ground pada emitter.
Artinya untuk sinyal ac, impedansi CE kecil sekali (idealnya nol), jadi arus
sinyal akan men-bypass resistansi keluaran dari sumber arus I.
CC1 dan CC2 adalah kapasitor coupling yang fungsinya menghubungkan
sumber sinyal dan resistansi beban dengan penguat tanpa mengganggu arus tegangan bias. Jadi kapasitor ini akan memblock dc dan menjadi hubung singkat untuk sinyal ac.
Untuk menentukan karakteristik terminal dari penguat CE, yaitu resistansi masukan, penguatan tegangan dan resistansi keluaran, gunakan model rangkaian pengganti sinyal kecil hybrid-π. Penguat ini penguat unilateral,
jadi Rin = Ri dan Rout = Ro. Analisa rangkaian ini akan di mulai dari sisi
masukan.
CE adalah kapasitor bypass yang mempunyai harga cukup besar, yang
fungsinya membuat ground untuk sinyal atau ac ground pada emitter.
Artinya untuk sinyal ac, impedansi CE kecil sekali (idealnya nol), jadi arus
sinyal akan men-bypass resistansi keluaran dari sumber arus I.
CC1 dan CC2 adalah kapasitor coupling yang fungsinya menghubungkan
sumber sinyal dan resistansi beban dengan penguat tanpa mengganggu arus tegangan bias. Jadi kapasitor ini akan memblock dc dan menjadi hubung singkat untuk sinyal ac.
Untuk menentukan karakteristik terminal dari penguat CE, yaitu resistansi masukan, penguatan tegangan dan resistansi keluaran, gunakan model rangkaian pengganti sinyal kecil hybrid-π. Penguat ini penguat unilateral,
jadi Rin = Ri dan Rout = Ro. Analisa rangkaian ini akan di mulai dari sisi
masukan. ib B i i in R R i v R ||
16 Karena emitter terhubung ke ground:
r
R ib
Biasanya dipilih RB >> rπ, sehingga:
r
R in
Jadi resitansi masukan dari penguat CE biasanya beberapa kilo-ohm. Tegangan pada masukan penguat:
B sig B sig sig in in sig i R r R r R v R R R v v || || B sig B sig sig in in sig i R r R r R v R R R v v || || Untuk RB >> rπ sig sig i R r r v v Catatan: i v v
17 Pada sisi keluaran penguat:
o C L
m
o g v r R R
v || ||
Ganti vπ dengan vi, maka penguatan tegangan penguat, yaitu penguatan
tegangan dari base ke collector:
o C L
m
v g r R R
A || ||
Penguatan tegangan hubung terbuka diperoleh dengan men-set RL = ∞
o C
m
vo g r R
A ||
Efek dari ro adalah mengurangi penguatan tegangan sedikit saja karena ro
>> RC, jadi
Efek dari ro adalah mengurangi penguatan tegangan sedikit saja karena ro
>> RC, jadi
C m
vo g R
A
Resistansi keluaran diperoleh dengan melihat ke arah terminal keluaran
dengan menghubung singkat sumber vsig. Hal ini akan menghasilkan vπ = 0
o C
out R r
18
Jadi ro mengurangi resistansi keluaran penguat hanya sedikit saja karena
biasanya ro >> RC
C
out R
R
Untuk penguat unilateral ini Ro = Rout, kita bisa menggunakan Avo dan Ro
untuk mendapatkan penguatan tegangan Av
o L L vo v R R R A A
Penguatan tegangan menyeluruh dari sumber ke beban, Gv,dapat
diperoleh dengan mengalikan (vi/vsig) dengan Av
Penguatan tegangan menyeluruh dari sumber ke beban, Gv,dapat
diperoleh dengan mengalikan (vi/vsig) dengan Av
m o C L sig B B v g r R R R r R r R G || || || || Untuk RB >> rπ sig L C o v R r R R r G || ||
19
Dari persamaan ini didapatkan jika Rsig >> rπ, penguatan menyeluruh
sangat tergantung dari β. Hal ini tidak diinginkan karena β bervariasi.
Pada sisi lain, jika Rsig << rπ, penguatan menyeluruh akan menjadi:
o C L
m
v g r R R
G || ||
Yang sama dengan penguatan Av, yang tidak tergantung dari β.Biasanya
penguat CE dapat memberikan penguatan pada orde ratusan. Hanya saja respon pada frekuensi tingginya agak terbatas.
Untuk menghitung penguatan arus hubung singkat, Ais
Yang sama dengan penguatan Av, yang tidak tergantung dari β.Biasanya
penguat CE dapat memberikan penguatan pada orde ratusan. Hanya saja respon pada frekuensi tingginya agak terbatas.
Untuk menghitung penguatan arus hubung singkat, Ais
in m i os is in i i m os R g i i A R i v v v g i Gantilah Rin = RB|| rπ. Jika RB >> rπ, |Ais| = β
Kesimpulan: CE mempunyai penguatan tegangan dan arus yang besar
20 Penguat Common Emitter dengan Resistansi Emitter
Gambar 61(a) Penguat CE dengan resistansi emitter (b) Model rangkaian pengganti T
21 Model rangkaian pengganti yang dipakai adalah model T karena adanya
resistansi emitter RE yang dapat diserikan dengan re.
Pada model rangkaian ini tidak disertakan resistansi keluaran ro karena
akan membuat analisa lebih rumit dan pada rangkaian penguat diskrit
pengaruh ro kecil.
Rin adalah resistansi paralel antara RB dan Rib
ib B
in R R
R ||
Rib adalah resistansi pada base
e e
ib e e i e e e b b i ib R r R R r v i i i i i v R 1 1 1
e e
ib e e i e e e b b i ib R r R R r v i i i i i v R 1 1 1 Jadi, resistansi masukan melihat ke arah base sama dengan (β+1) kali
resistansi total pada emitter. Faktor (β+1) disebut ‘resistance-reflection
22 Pada persamaan tersebut terlihat bahwa dengan penambahan resistansi
pada emitter akan menambah Rib. Rasio penambahan pada Rib adalah
e m e e e e e e ib e ib R g r R r R r R R R R 1 1 1 1 tanpa dengan
Jadi, Re dapat dipakai untuk mengendalikan harga Rib yang juga
merupakan harga Rin. Agar pengendalian ini menjadi efektif, RB harus jauh
lebih besar dari Rib, artinya Rib adalah resistansi masukan yang dominan.
Untuk menentukan penguatan tegangan:
Jadi, Re dapat dipakai untuk mengendalikan harga Rib yang juga
merupakan harga Rin. Agar pengendalian ini menjadi efektif, RB harus jauh
lebih besar dari Rib, artinya Rib adalah resistansi masukan yang dominan.
Untuk menentukan penguatan tegangan:
e e L C v e e L C i o v L C e L C c o R r R R A R r R R v v A R R i R R i v || 1 || || ||
Jadi, penguatan tegangan dari base ke collector sama dengan
perbandingan resistansi total pada collector dengan resistansi total pada emitter.
23
Penguatan tegangan hubung terbuka: RL = ∞
e m C m e e C m vo e e C e vo e e C vo R g R g r R R g A r R R r A R r R A 1 1 1
Jadi, penambahan Re akan mengurangi penguatan tegangan dengan faktor
(1+gmRe) yang sama dengan faktor penambahan resistansi masukan Rib.
Resistansi keluaran:
Rout = RC
Untuk penguat ini Rin = Ri dan Rout =Ro
Penguatan arus hubung singkat:
Jadi, penambahan Re akan mengurangi penguatan tegangan dengan faktor
(1+gmRe) yang sama dengan faktor penambahan resistansi masukan Rib.
Resistansi keluaran:
Rout = RC
Untuk penguat ini Rin = Ri dan Rout =Ro
Penguatan arus hubung singkat:
e e B ib is i e in is in i i e os R r R R A v i R A R v i i i ||
24 Untuk RB >> Rib e e e e is R r R r A 1
Penguatan tegangan menyeluruh dari sumber ke beban:
e e L C in sig in v sig i v R r R R R R R A v v G ||
Ganti Rin = RB||Rib dan asumsikan RB >> Rib
e e sig L C v e e ib R r R R R G R r R 1 || 1 e e sig L C v e e ib R r R R R G R r R 1 || 1
Catatan: penguatan lebih kecil dari penguatan penguat CE. Tetapi penguatan ini lebih tidak sensitif terhadap β.
Dengan penambahan Re, penguat dapat menangani sinyal masukan yang
lebih besar tanpa menimbulkan distorsi non linier, karena hanya sebagian
kecil dari sinyal masukan yang ada pada base, vi, yang nampak antara base
dan emitter e m e e e i r R g R r v v 1 1
25
Jadi untuk vπ yang sama, sinyal pada terminal masukan penguat, vi, dapat
lebih besar dengan faktor (1+gmRe) jika dibandingkan dengan sinyal pada
penguat CE. Kesimpulan:
Dengan penambahan resistansi Re pada emitter, penguat CE mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
1. Resistansi masukan Rib meningkat dengan faktor (1+gmRe)
2. Penguatan tegangan dari base ke collector, Av, berkurang dengan faktor
(1+gmRe).
3. Untuk distorsi non linier yang sama, sinyal masukan vi dapat meningkat
dengan faktor (1+gmRe)
4. Penguatan tegangan menyeluruh tidak terlalu tergantung dengan β. 5. Respons terhadap frekuensi tinggi menjadi lebih baik.
Re juga merupakan umpan balik negatif pada rangkaian penguat.
Re juga disebut emitter degeneration resistance
Jadi untuk vπ yang sama, sinyal pada terminal masukan penguat, vi, dapat
lebih besar dengan faktor (1+gmRe) jika dibandingkan dengan sinyal pada
penguat CE. Kesimpulan:
Dengan penambahan resistansi Re pada emitter, penguat CE mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
1. Resistansi masukan Rib meningkat dengan faktor (1+gmRe)
2. Penguatan tegangan dari base ke collector, Av, berkurang dengan faktor
(1+gmRe).
3. Untuk distorsi non linier yang sama, sinyal masukan vi dapat meningkat
dengan faktor (1+gmRe)
4. Penguatan tegangan menyeluruh tidak terlalu tergantung dengan β. 5. Respons terhadap frekuensi tinggi menjadi lebih baik.
Re juga merupakan umpan balik negatif pada rangkaian penguat.
26 Penguat Common Base
Base dihubungkan ke ground. Sinyal masukan dipasangkan pada emitter dan sinyal keluaran diambil dari collector. Base merupakan terminal
bersama.
Dengan terhubungnya base ke ground, tegangan ac dan dc pada base sama
dengan nol, maka RB tidak ada. Kapasitor CC1 dan CC2 berfungsi sebagai
kapasitor coupling.
Model rangkaian pengganti T terlihat pada gambar 62(b). Di sini ro tidak
disertakan karena pengaruhnya tidak terlalu besar pada kinerja penguat CB diskrit.
Dari gambar 62(b) dapat ditentukan resistansi masukan: Penguat Common Base
Base dihubungkan ke ground. Sinyal masukan dipasangkan pada emitter dan sinyal keluaran diambil dari collector. Base merupakan terminal
bersama.
Dengan terhubungnya base ke ground, tegangan ac dan dc pada base sama
dengan nol, maka RB tidak ada. Kapasitor CC1 dan CC2 berfungsi sebagai
kapasitor coupling.
Model rangkaian pengganti T terlihat pada gambar 62(b). Di sini ro tidak
disertakan karena pengaruhnya tidak terlalu besar pada kinerja penguat CB diskrit.
Dari gambar 62(b) dapat ditentukan resistansi masukan:
e
in
r
R
re mempunyai harga antara beberapa ohm sampai beberapa kilo ohm.
27
Gambar 62(a) Rangkaian penguat Common Base (b) Model rangkaian pengganti T
28 Untuk menentukan penguatan tegangan:
C L
e i o v e i e L C e oR
R
r
v
v
A
r
v
i
R
R
i
v
||
||
Penguatannya sama dengan penguatan pada penguat CE. Hanya tidak ada pembalikan fasa.
Penguatan tegangan hubung terbuka, RL = ∞
C m
vo
g
R
A
Penguatannya sama dengan penguatan pada penguat CE. Hanya tidak ada pembalikan fasa.
Avo sama dengan Avo pada penguat CE. Hanya tidak ada pembalikan fasa.
Resistansi keluaran:
C
out
R
29
Jika ro diabaikan, penguat CB adalah penguat unilateral, maka Rin = Ri dan
Rout = Ro
Penguatan arus hubung singkat Ais:
e e i e is i i i i A sig e e sig i i sig i R r r R R R v v
Walaupun penguatan dari penguat ‘proper’ CB sama dengan penguatan pada CE, penguatan menyeluruhnya tidak demikian halnya. Dengan
resistansi masukan yang kecil, maka sinyal masukan akan teredam cukup besar. sig e e sig i i sig i R r r R R R v v
Kecuali pada kondisi Rsig pada orde yang sama dengan re, faktor transmisi
sinyal vi/vsig akan kecil sekali.
Salah satu pemakaian rangkaian CB adalah untuk memperkuat sinyak frekuensi tinggi yang muncul pada kabel coaxial. Untuk menghindari refleksi sinyal pada kabel, penguat CB harus mempunyai resistansi masukan sama dengan resistansi karakteristik kabel yang biasanya berkisar antara 50 Ω - 75 Ω.
30
sig e L C L C m sig e e v R r R R R R g R r r G || || Penguatan menyeluruh, GvKarena α ≈ 1, penguatan menyeluruh merupakan perbandingan antara resistansi total pada rangkaian collector dengan resistansi total pada rangkaian emitter. Penguatan penyeluruh tidak tergantung dari harga β. Kesimpulan:
Penguat CB mempunyai resistansi masukan yang rendah, penguatan arus hubung singkat yang hampir sama dengan satu, penguatan tegangan
hubung terbuka yang positif (non inverting) dan resistansi keluaran yang tinggi.
Penguat CB mempunyai respon yang baik pada frekuensi tinggi.
Penggunaan penguat CB yang paling menonjol adalah sebagai penguat arus dengan penguatan satu atau disebut current-buffer. Artinya menerima arus sinyal masukan dari resistansi masukan yang rendah dan mengirimkan arus yang sama ke resistansi keluaran yang tinggi pada collector.
Karena α ≈ 1, penguatan menyeluruh merupakan perbandingan antara resistansi total pada rangkaian collector dengan resistansi total pada rangkaian emitter. Penguatan penyeluruh tidak tergantung dari harga β. Kesimpulan:
Penguat CB mempunyai resistansi masukan yang rendah, penguatan arus hubung singkat yang hampir sama dengan satu, penguatan tegangan
hubung terbuka yang positif (non inverting) dan resistansi keluaran yang tinggi.
Penguat CB mempunyai respon yang baik pada frekuensi tinggi.
Penggunaan penguat CB yang paling menonjol adalah sebagai penguat arus dengan penguatan satu atau disebut current-buffer. Artinya menerima arus sinyal masukan dari resistansi masukan yang rendah dan mengirimkan arus yang sama ke resistansi keluaran yang tinggi pada collector.
31 Penguat Common Collector atau Emitter Follower
Gambar 63(a) Rangkaian penguat Emitter Follower
32
Gambar 63(c) Rangkaian pengganti seperti pada gambar 63(b) dengan ro
paralel dengan RL.
Pada penguat ini collector dihubungkan dengan ground, jadi RC
dihilangkan. Sinyal masukan dipasangkan pada base, dan sinyal keluaran diambil dari emitter yang dihubungkan melalui kapasitor coupling ke resistansi beban.
Pada analisa sinyal resistansi beban RL diserikan dengan emitter sehingga
model rangkaian pengganti yang digunakan adalah model T. Pada
rangkaian ini resistansi ro nampak paralel dengan resistansi beban
RL.(lihat gambar 63(c)).
Gambar 63(c) Rangkaian pengganti seperti pada gambar 63(b) dengan ro
paralel dengan RL.
Pada penguat ini collector dihubungkan dengan ground, jadi RC
dihilangkan. Sinyal masukan dipasangkan pada base, dan sinyal keluaran diambil dari emitter yang dihubungkan melalui kapasitor coupling ke resistansi beban.
Pada analisa sinyal resistansi beban RL diserikan dengan emitter sehingga
model rangkaian pengganti yang digunakan adalah model T. Pada
rangkaian ini resistansi ro nampak paralel dengan resistansi beban
33 Rangkaian emitter follower tidak unilateral, artinya resistansi masukan
tergantung dari RL dan resistansi keluaran tergantung dari Rsig.
Dari gambar 63(c) terlihat bahwa BJT mempunyai sebuah resistansi (ro||
RL) yang diserikan dengan resistansi emitter re. Dengan menggunakan
‘resistance-reflection rule’ menghasilkan rangkaian seperti pada gambar 64(a). (resistansi pada sisi base sama dengan (β+1) resistansi pada sisi emitter)
Resistansi masukan pada base, RR ib
1
r e ib :
r o || R L
Resistansi masukan total:
ib B
in R R
R ||
Untuk mendapatkan efek penuh dari kenaikan Rib, dapat dipilih RB
sebesar mungkin (dengan memperhatikan titik kerja). Dan jika
memungkinkan CC1 dapat juga dihilangkan, jadi sumber sinyal
34
Gambar 64(a) Rangkaian ekivalen emitter follower dengan merefleksikan semua resistansi pada emitter ke sisi base.
(b) Penggunaan teori Thévenin pada rangkaian masukan.
Penguatan menyeluruh Gv:
Gambar 64(a) Rangkaian ekivalen emitter follower dengan merefleksikan semua resistansi pada emitter ke sisi base.
(b) Penggunaan teori Thévenin pada rangkaian masukan.
Penguatan menyeluruh Gv:
sig B
e o L L o B sig B v R r r R R R r R R R G || 1 || || 1 Perhatikan: penguatan tegangan lebih kecil dari satu.
Untuk RB >> Rsig dan (β+1)[re+(ro|| RL)] >> (Rsig|| RB), penguatan
menjadi mendekati satu. Jadi tegangan pada emitter mengikuti tegangan pada masukan.Itulah sebabnya disebut emitter follower
35
Gambar 65(a) Rangkaian ekivalen emitter follower dengan merefleksikan semua resistansi pada base ke sisi emitter.
(b) Penggunaan teori Thévenin pada rangkaian masukan
Alternatif lainnya, kita dapat merefleksikan resistansi base ke sisi emitter. Agar tegangan tidak berubah, semua resistansi di sisi base dibagi dengan
(β+1). Hasilnya dapat dilihat pada gambar 65(a). Dengan menggunakan teori Thévenin pada sisi masukan, diperoleh rangkaian seperti pada gambar 65(b) Gambar 65(a) Rangkaian ekivalen emitter follower dengan merefleksikan semua resistansi pada base ke sisi emitter.
(b) Penggunaan teori Thévenin pada rangkaian masukan
Alternatif lainnya, kita dapat merefleksikan resistansi base ke sisi emitter. Agar tegangan tidak berubah, semua resistansi di sisi base dibagi dengan
(β+1). Hasilnya dapat dilihat pada gambar 65(a). Dengan menggunakan teori Thévenin pada sisi masukan, diperoleh rangkaian seperti pada gambar 65(b)
36
Penguatan tegangan menyeluruh, Gv:
o L e B sig L o B sig B v R r r R R R r R R R G || 1 || ||
Untuk RB >> Rsig dan ro >> RL:
L e sig L sig o R r R R v v 1
Penguatan mendekati satu jika Rsig/(β+1) << RL atau (β+1)RL >> Rsig. Hal
ini adalah peran penyangga (buffering action) dari emitter follower, yang akan menghasilkan penguatan arus hubung singkat hampir sama dengan (β+1).
Tegangan keluaran hubung terbuka menjadi Gvovsig, di mana Gvo diperoleh
dengan RL= ∞
Penguatan mendekati satu jika Rsig/(β+1) << RL atau (β+1)RL >> Rsig. Hal
ini adalah peran penyangga (buffering action) dari emitter follower, yang akan menghasilkan penguatan arus hubung singkat hampir sama dengan (β+1).
Tegangan keluaran hubung terbuka menjadi Gvovsig, di mana Gvo diperoleh
dengan RL= ∞ o e B sig o B sig B v r r R R r R R R G 1 ||
37
Catatan: biasanya ro besar dan suku kedua menjadi hampir sama dengan
satu. Suku pertama mendekati satu jika RB >> Rsig. Resistansi Thévenin
adalah resistansi keluaran Rout. Kurangi vsig menuju nol, lihat resistansi dari
terminal emitter ke arah rangkaian
1 || || B sig o o out R R r r R
Biasanya ro >> komponen yang diparalelkan dalam tanda kurung dan
dapat diabaikan, jadi
1 || B sig o out R R r R 1 || B sig o out R R r R
Jadi resistansi keluaran emitter follower rendah. Rangkaian ekivalen
Thévenin dari rangkaian keluaran emitter follower dapat digunakan untuk
mencari vo dan Gv untuk harga RL sembarang. (lihat gambar 66).
Kesimpulan: emitter foilower mempunyai resistansi masukan yang tinggi, resistansi keluaran yang rendah, penguatan tegangan yang lebih kecil dari satu dan penguatan arus yang cukup besar.
38
Gambar 66. Rangkaian ekivalen Thévenin dari rangkaian keluaran emitter follower
Jadi pemakaian ideal dari emitter follower adalah untuk menghubungkan sumber yang mempunyai resistansi yang tinggi ke beban yang mempunyai resistansi yang rendah, biasanya sebagai tingkat terakhir dari penguat
bertingkat (multistage amplifier) yang tujuannya bukan untuk
memperkuat tegangan tetapi untuk memberikan penguat bertingkat ini resistansi keluaran yang rendah.
Gambar 66. Rangkaian ekivalen Thévenin dari rangkaian keluaran emitter follower
39 Pada emitter follower hanya sebagian kecil dari sinyal yang akan tampak
antara base dan emitter. Jadi emitter follower dapat bekerja secara linier untuk variasi amplitudo sinyal yang cukup besar. Tetapi harga absolut batas atas amplitudo tegangan keluaran ditentukan oleh kondisi cut off dari transistor.
Perhatikan gambar 63(a) jika sinyal masukan adalah gelombang
sinusoida. Jika masukan negatif, keluaran vo akan negatif dan arus pada
RL akan mengalir dari ground ke terminal emitter. Transistor akan cut off
bila arus ini menjadi sama dengan arus bias I. Jadi harga amplitudo dari
vo adalah: L o L o IR V I R V
Pada emitter follower hanya sebagian kecil dari sinyal yang akan tampak antara base dan emitter. Jadi emitter follower dapat bekerja secara linier untuk variasi amplitudo sinyal yang cukup besar. Tetapi harga absolut batas atas amplitudo tegangan keluaran ditentukan oleh kondisi cut off dari transistor.
Perhatikan gambar 63(a) jika sinyal masukan adalah gelombang
sinusoida. Jika masukan negatif, keluaran vo akan negatif dan arus pada
RL akan mengalir dari ground ke terminal emitter. Transistor akan cut off
bila arus ini menjadi sama dengan arus bias I. Jadi harga amplitudo dari
vo adalah: L o L o IR V I R V
Maka harga vsig menjadi:
v L sig G IR V
Jika amplitudo vsiglebih besar dari harga di atas, tansistor akan cut off dan
40 Kesimpulan dan perbandingan
1. Konfigurasi CE cocok digunakan untuk penguat yang menghendaki penguatan yang besar.
2. Dengan menambahkan Re pada CE dapat memperbaiki kinerja penguat
tetapi penguatan akan berkurang.
3. Konfigurasi CB dipergunakan sebagai penguat frekuensi tinggi, karena mempunyai respon yang baik pada frekuensi tinggi, hanya saja
resistansi masukannya kecil.
4. Emitter follower dipakai sebagai penyangga tegangan, untuk menghubungkan sumber yang mempunyai resistansi yang tinggi dengan beban yang mempunyai resistansi rendah. Konfigurasi ini digunakan juga sebagai tingkat keluaran dari penguat bertingkat. Kesimpulan dan perbandingan
1. Konfigurasi CE cocok digunakan untuk penguat yang menghendaki penguatan yang besar.
2. Dengan menambahkan Re pada CE dapat memperbaiki kinerja penguat
tetapi penguatan akan berkurang.
3. Konfigurasi CB dipergunakan sebagai penguat frekuensi tinggi, karena mempunyai respon yang baik pada frekuensi tinggi, hanya saja
resistansi masukannya kecil.
4. Emitter follower dipakai sebagai penyangga tegangan, untuk menghubungkan sumber yang mempunyai resistansi yang tinggi dengan beban yang mempunyai resistansi rendah. Konfigurasi ini digunakan juga sebagai tingkat keluaran dari penguat bertingkat.
41 Tabel 5.Karakteristik dari penguat diskrit satu tingkat
Common Emitter in m is sig L C o L C o m sig B B v C o out L C o m v e B B in R g A R r R R r R R r g R r R r R G R r R R R r g A r R r R R || || || || || || || || || 1 || ||
42 Common Emitter dengan Resistansi Emitter
Abaikan ro Abaikan ro e m i e e sig L C v C out e m L C m e e L C v e e B in R g v v R r R R R G R R R g R R g R r R R A R r R R 1 1 1 || 1 || || 1 ||
43 Common Base Abaikan ro Abaikan ro
is e sig L C v C out L C m v e in A r R R R G R R R R g A r R || ||44 Common Collector atau Emitter Follower
1 || 1 || || 1 || || || || || 1 || is L o e B sig L o B sig B v B sig e o out L o e L o v L o e B in A R r r R R R r R R R G R R r r R R r r R r A R r r R R 1 || 1 || || 1 || || || || || 1 || is L o e B sig L o B sig B v B sig e o out L o e L o v L o e B in A R r r R R R r R R R G R R r r R R r r R r A R r r R R
45
Inverter digital BJT
Gambar 67. Rangkaian dasar inverter digital BJT
Pada inverter logika, rangkaian bekerja pada mode cutoff dan daerah jenuh.
Jika tegangan masukan vI ‘high’ mendekati tegangan catu daya VCC
(menyatakan logika ‘1’) transistor akan ‘terhubung’ dan dalam keadaan
jenuh (dengan memilih harga RB dan RC yang tepat). Sehingga tegangan
keluaran akan VCEsat ≈ 0,2V, yang menyatakan logika ‘0’.
Sebaliknya, jika tegangan masukan ‘low’ pada tegangan mendekati ‘ground’
(misal VCEsat), sehingga transistor ‘cutoff’, iC akan nol dan vO = VCC, yang
merupakan logika ‘1’
Gambar 67. Rangkaian dasar inverter digital BJT
Pada inverter logika, rangkaian bekerja pada mode cutoff dan daerah jenuh.
Jika tegangan masukan vI ‘high’ mendekati tegangan catu daya VCC
(menyatakan logika ‘1’) transistor akan ‘terhubung’ dan dalam keadaan
jenuh (dengan memilih harga RB dan RC yang tepat). Sehingga tegangan
keluaran akan VCEsat ≈ 0,2V, yang menyatakan logika ‘0’.
Sebaliknya, jika tegangan masukan ‘low’ pada tegangan mendekati ‘ground’
(misal VCEsat), sehingga transistor ‘cutoff’, iC akan nol dan vO = VCC, yang
46 Pemilihan keadaan ‘cutoff’ dan ‘jenuh’ sebagai mode operasi dari BJT
pada rangkaian inverter didasari oleh 2 faktor:
1. Disipasi daya pada rangkaian relatif rendah pada keadaan ‘cutoff’ dan ‘jenuh’. Pada keadaan ‘cutoff’ semua arus sama dengan nol dan pada keadaan ‘jenuh’ tegangan pada transistor juga rendah.
2. Level tegangan keluaran (VCC dan VCEsat) terdifinisi dengan baik.
Sebaliknya, jika transistor bekerja pada daerah aktif, vO = VCC – iCRC =
47 Karakteristik transfer tegangan
Gambar 68. Karakteristik transfer tegangan rangkaian inverter dengan
48
1. Pada vI = VOL = VCEsat = 0,2 V, vO = VOH = VCC = 5 V
2. Pada vI = VIL, transistor mulai ‘on’ → VIL ≈ 0,7 V
3. Untuk VIL < vI < VIH, transistor berada pada daerah aktif dan beroperasi
sebagai penguat dengan penguatan sinyal kecil:
B C v B B C i o v R R A R r r R R v v A B C v B B C i o v R R A R r r R R v v A
4. Pada vI =VIH, transistor memasuki daerah jenuh → VIH adalah harga yang
menyebabkan transistor berada pada ambang saturasi.
CEsat C CC B R V V I Dengan harga-harga yang digunakan, IB = 0,096 mA dan
49
5. Untuk vI = VOH = 5 V, transistor berada pada keadaan jenuh yang dalam
dengan vO = VCEsat = 0,2 V, dan
CCOH CEsatBE
B C forced R V V R V V 6. Noise margin: NMH = VOH – VIH = 5 – 1,66 = 3,34 V NML = VIL – VOL = 0,7 – 0,2 = 0,5 V7. Penguatan pada daerah transisi dapat dihitung dari koordinat pada titik X dan Y
6. Noise margin:
NMH = VOH – VIH = 5 – 1,66 = 3,34 V
NML = VIL – VOL = 0,7 – 0,2 = 0,5 V
7. Penguatan pada daerah transisi dapat dihitung dari koordinat pada titik X dan Y V/V 5 7 , 0 66 , 1 2 , 0 5 tegangan Penguatan