• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan

Budi Gunawan

Oleh : Kristo Tan1 Selfianus Laritmas, SH.MH2 [email protected]

Abstrak

Putusan Pengadilan terhadap Kasus praperadilan Komjen Pol Budi Gunawan atas penetapan tersangka yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menimbulkan Kontroversi karena telah dikabulkan sebagian Permohonan oleh Hakim Sarpin Rizaldi. Salah satu amarnya,

“Menyatakan tidak sah segala keputusan atau penetapan lebih lanjut yang dikeluarkan oleh Termohon yang berkaitan dengan penetapan Tersangka oleh Termohon”. Pertimbangan hukum Praperadilan yang

menyatakan bahwa pengadilan berwenang memeriksa dan mengadili permohonan a quo, dan kedua, bahwa pemohon (Komjen. Pol. Budi Gunawan) bukan merupakan subjek hukum pelaku. Sesuai Pasal 77 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), bukanlah merupakan objek praperadilan. karena kewenangan Praperadilan adalah berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini tentang Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan dan Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan” sehingga praperadilan yang diajukan tentang Penetapan tersangka tidak masuk dalam objek praperadilan dan Putusan Praperadilan dilakukan hanya berdasarkan tafsiran hakim.

Praperadilan dalam Sistem hukum yang berlaku di Indonesia tidak sama seperti sistem hukum

Anglo-Saxon yang menganut aliran freie rechtslehre, yang memperbolehkan hakim untuk menciptakan

hukum (judge made law). Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 20 Algemene Bepalingen van

Wetgeving voor Indonesie (AB –AB masih berlaku sepanjang belum dicabut secara tegas oleh

Undang-Undang berdasarkan Aturan Peralihan UUD 1945--), yang menyatakan: “Hakim harus mengadili

berdasarkan Undang-Undang”. Hal ini berarti, bahwa dalam hukum yang berlaku di Indonesia, hakim

dilarang menafsirkan lebih dari yang seharusnya jika sudah jelas pengaturannya. Namun bukan berarti hakim menjadi tidak bebas dalam menjalankan kewenangannya. Hakim diperkenankan untuk menafsirkan lebih luas suatu peraturan di kala peraturan tersebut tidak jelas maksudnya atau hakim diperkenankan untuk membuat suatu kaidah hukum di saat terjadi kekosongan hukum karena pada hakekatnya, hakim dilarang menolak perkara dengan alasan tidak ada hukumnya. perkara praperadilan yang diajukan Komjen. Pol. Budi Gunawan mengenai penetapan tersangka tidak diatur dalam KUHAP, Para ahli hukum bahkan menyatakan bahwa objek atau alasan praperadilan berdasarkan Pasal 77 KUHAP bersifat limitatif sehingga Hakim tidak bisa menafsir aturan melampauwi kewenanganya karena ketentuan hukum prapradilan bukan multitafsir.

1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum

(2)

2 dikabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan dan Apakah Putusan Praperadilan oleh Budi Gunawan Masuk Dalam Kewenangan Praperadilan

Penelitian ini dilaksanakan dengan mengunakan tipe penelitian hukum normativ sehingga sumber bahan untuk dianalisa adalah bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan, dan pendekatan kasus. Terhadap Hasil penelitian “Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan”

Kata Kunci : Kewenangan Praperadilan

Pendahuluan

Negara Republik Indonesia adalah Negara Hukum, yang mewajibkan setiap manusia untuk selalu bertindak sesuai dengan hukum yakni sejalan dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang merupakan dasar dan pondasi utama pelaksanaaan tatanan hukum di Indonesia. Undang-undang Dasar 1945 NRI memberi perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia, hal ini dapat di lihat dari Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman yang memuat asas pokok perlindungan hak asasi manusia. Namun ketentuan yang dibuat oleh pemerintah Kolonial Belanda mengenai acara pidana yaitu Het Herziene Inlandsch Reglement (HIR), jelas hanya mengutamakan kepentingan penguasa sehingga kurang memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia dalam hal ini hak-hak tersangka/terdakwa. Dalam hal lain juga tidak ada ketentuan Undang-undang yang memberikan kewenangan pada suatu lembaga untuk mengawasi sampai sejauh mana penegak hukum menjalankan tugasnya, sehingga

memungkinkan mereka melakukan tindakan sewenang-wenang.

Sejalan dengan berkembangnya pemikiran hukum maka lahirlah Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang termuat dalam LN.Tahun 1981 Nomor 76 dan TLN No.3209 sebagai pengganti Het Herzeine Inlandsch Reglement yang ditandai dengan pencabutan HIR (S.1941 No.44) jo. Undang-undang No.1 Drt Tahun 1951 (LN.Tahun 1951 No.59 dan TLN No.81) sepanjang yang mengatur Hukum Acara Pidana. Kelahiran KUHAP adala merupakan nafas baru bagi kehidupan peradilan pidana Indonesia dimana telah memberikan spesialisasi, deferensiasi, dan kompetenisasi dalam pelaksanaan dan pembagian tugas antara penyidik, penuntut umum dan hakim. Dalam menjalankan tugasnya di tuntut baik dalam berfikir maupun bersikap harus sesuai dengan Undang-undang yang berlaku dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Terlepas dari itu para penegak hukum adalah manusia biasa, yang tidak terlepas dari khilaf dan salah. Penangkapan atau penahanan yang bertujuan untuk

(3)

3

kepentingan pemeriksaan ternyata kadang-kadang dilakukan terhadap orang yang tidak bersalah sehingga mengakibatkan tersangka/terdakwa menderita lahir dan batin, hal ini sudah tentu saja merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Dengan adanya lembaga Praperadilan ini, KUHAP telah menciptakan sebuah mekanisme kontrol bagi para penegak hukum dalam menjalankan tugas senantiasa fokus dan meningkatkan profesionalisme kerja sehingga tidak terjadi kesalahan penangkapan, penahanan, yang nyata melanggar hak asasi manusia yang telah dilindungi oleh Undang-undang 1945 umumnya dan KUHAP dalam bentuk sebuah asas praduga tak bersalah pada khususnya.

Praperadilan adalah salah satu lembaga untuk menguji suatu proses perkara sampai pada tahap beracara dalam Pengadilan Negeri. Menurut Pasal 77 sampai 83 KUHAP adalah Praperadilan merupakan wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutuskan menurut cara yang telah diatur dalam Undang-undang ini tentang : Pertama, Sah atau tidaknya suatu penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Kedua, Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.

Terhadap kasus Komjen Budi Gunawan yang mengajukan Praperadilan penetapan tersangka terhadap dirinya Dari aspek yuridis Tidak diatur dalam KUHAP, mengenai Praperadilan diatur dalam pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Komjen Budi

Gunawan (BG) telah menimbulkan kontroversi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan BG sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji selama menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier (Karobinkar) Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan lainnya di Kepolisian. Pasal 11 huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi mengatur sejumlah hal yang menjadi kewenangan KPK. Disebutkan, KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara.

Olehnya itu berdasarkan Gugatan yang diajukan Komjen Budi gunawan hakim praperadilan semestinya Sarpin harus menolak gugatan kuasa hukum pemohon Pra Peradilan BG dengan alasan penetapan tersangka adalah tidak masuk dalam ranah Prapreradilan Karena dalam Pasal 77 junto 82 ayat 1 junto 95 ayat 1 dan 2 KUHAP serta Pasal 1 angka 10 KUHAP memang tidak disebutkan secara jelas mengenai penetapan tersangka sebagai objek Praperadilan akan tetapi penetapan tersangka merupakan bagian dari proses penyidikan sebagaimana dalam butir 2 bahwa praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memutuskan sah atau tidaknya penghentian penyidikan.

Karena setidaknya putusan hakim tunggal Sarpin Rizaldi dalam sidang praperadilan terhadap Komjen Budi

(4)

4

Gunawan. telah melampaui kewenangan dan menggunakan penafsiran berbeda dalam memutuskan perkara tersebut, menunjukkan sikap inkonsisten dalam melakukan penafsiran, terhadap obyek praperadilan yang telah tegas dan jelas diatur dalam KUHAP.

Dengan demikian berdasarkan putusan Hakim tersebut maka setiap Tersangka yang disangkakan dapat mengajukan Praperadilan seperti Surya Dharma Ali sebagai Menteri Agama dan beberapa tersangka lainnya, hal demikian sangat berpengaruh bagi berlaku mekanisme Praperadilan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana)

Berdasarkan pemikiran diatas saya tertarik untuk melakukan Penulisan tentang “Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan”

Tinjauan Pustaka

a. Praperadilan Dalam Sistem Hukum Indonesia

Seperti kita ketahui bahwa Fungsi dan Tujuan Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang lazim disebut sebagai Hukum Pidana Formil adalah bagaimana agar terciptanya tertib proses hukum dan terjaminnya penegak hukum pidana Materiil seperti KUHP dan Undang-Undang, ketentuan Hukum acara pidana (KUHAP) lebih dimaksudkan untuk melindungi para tersangka dan terdakwa dari tindakan yang sewenang-wenang. (M Sofyan Lubis, 2010 : 64)

Proses Pra peradilan yang lama tidak pernah muncul, mulai menjadi bahan kajian kembali bagi ahli hukum terutama berkaitan dengan efektifitas pra peradilan melindungi HAM dalam tindakan upaya paksa aparat hukum, serta perdebatan mengenai perlu tidaknya pra peradilan diganti dengan peran hakim komisaris sebagaimana tercantum dalam RUU KUHAP. Banyak pihak menganggap pra peradilan masih di perlukan dalam perlindungan Hak Azasi Manusia (HAM) dari kesewenang – wenangan hukum penguasa serta untuk menguji seberapa jauh aturan hukum acara pidana telah di jalankan aparat hukum.

Praperadilan dalam hukum acara pidana dapat dipahami dari bunyi pasal 1 butir 10 Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menyatakan bahwa Pra Peradilan adalah wewenang pengadilan untuk memeriksa dan memutus dan memutus :

1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan, atas permintaan tersangka atau keluarganya atau permintaan yang berkepentingan demi tegaknya hukum dan keadilan;

2. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan yang berkepntingan demi tegaknya hukum dan keadilan dan;

3. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan yang berkepntingan demi tegaknya hukum dan keadilan dan;

(5)

5

Secara limitattif umumnya mengenai pra peradilan diatur dalam pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP. Selain dari pada itu, ada pasal lain yang masih berhubungan dengan pra peradilan tetapi diatur dalam pasal tersendiri yaitu mengenai tuntutan ganti kerugian dan rehabilitasi sebagaimana di atur dalam pasal 95 dan 97 KUHAP. Kewenangan secara spesifik pra peradilan sesuai dengan pasal 77 sampai pasal 88 KUHAP adalah memeriksa sah atau tidaknya upaya paksa (penangkapan dan penahanan) serta memeriksa sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, akan tetapi dikaitkan pasal 95 dan 97 KUHAP kewenangan pra peradilan ditambah dengan kewenangan untuk memeriksa dan memutus ganti kerugian dan rehabitilasi. Ganti kerugian dalam hal ini bukan hanya semata – mata mengenai akibat kesalahan upaya paksa, penyidikan maupun penuntutan, tetapi dapat juga ganti kerugian akibat adanya pemasukan rumah, penggeledahan dan penyitaan yang tidak sah secara hukum sesuai dengan penjelasan pasal 95 ayat (1) KUHAP.

Dalam keputusan Menkeh RI No. M.01.PW.07.03 tahun 1982, pra peradilan disebutkan dapat pula dilakukan atas tindakan kesalahan penyitaan yang tidak termasuk alat bukti, atau seseorang yang dikenankan tindakan lain tanpa alasan yang berdasarkan undang – undang karena kekeliruan orang atau hukum yang diterapkan.

Ganti kerugian diatur dalam Bab XII, Bagian Kesatu KUHAP. Perlu diperhatikan dalam pasal 1 butir 22 menyatakan “ Ganti kerugian adalah hak seseorang untuk

mendapatkan pemenuhan atas tuntutannya yang berupa imbalan sejumlah uang karena ditangkap, ditahan, ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan undang – undang atau karena kekeliruan orangnya atau hukum yang diterapkan menurut cara yang diatur undang – undang ini. Beranjak dari bunyi pasal diatas, dapat ditangkap dengan jelas bahwa ganti rugi adalah alat pemenuhan untuk mengganti kerugian akibat hilangnya kenikmatan berupa kebebasan karena adanya upaya paksa yang tidak berdasar hukum. Kiranya sangat tepat jika negara bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi, sebab tindakan upaya paksa tentu dilakukan oleh aparat hukum yang merupakan bagian dari negara.

Khusus dalam hal pra peradilan yang dilakukan oleh penyidik terhadap penghentian penuntutan atau penuntut umum terhadap penghentian penyidikan hendaknya di pahami bukan untuk mencampuri urusan kewenangan masing – masing kelembagaan tetapi lebih di pahami sebagai kontrol mekanisme penegakan hukum acara. Peran serta masyarakat baik itu melalui LSM maupun secara individu juga mutlak di perlukan dalam pengawasan penegakan hukum.

Pengajuan pra peradilan di lakukan di pengadilan negeri, dengan membuat permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk nantinya di register dalam register khusus tentang pra peradilan. Dari permohonan tersebut, sesuai ketentuan pasal 78 ayat (2), Ketua Pengadilan Negeri akan menunjuk seorang hakim tunggal untuk memeriksa perkara pra peradilan dengan dibantu dengan seorang panitera.

(6)

6

Untuk penetapan hari sidang sesuai dengan pasal 82 ayat (1) huruf c mensyaratkan untuk segera bersidang 3 hari setelah di catat dalam register dan dalam tempo 7 hari perkara tersebut sudah harus di putus, sedangkan untuk pemanggilan para pihak dilakukan bersamaan dengan penetapan hari sidang oleh hakim yan ditunjuk.

Memperhatikan Pasal 82 ayat (1) huruf d yang berbunyi “ Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan pra peradilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur” maka pra peradilan dianggap gugur apabila :

 Perkaranya telah diperiksa oleh Pengadilan Negeri dan

 Pada saat perkaranya di periksa Pengadilan Negeri, pemeriksaan pra peradilan belum selesai.

Pra peradilan adalah hal biasa dalam membangun saling kontrol antara kepolisian, kejaksaan dan tersangka melalui kuasa hukumnya. Tidak usah suatu proses pra peradilan di tanggapi dengan kecurigaan bahwa antara lembaga hukum akan saling menjatuhkan. Dalam suatu negara hukum, saling kontrol adalah suatu hal lumrah untuk menghindari kesewenang – wenangan penerapan upaya paksa (penangkapan dan penahanan) atau penghentian penyidikan dan penuntutan (SP 3 dan SKPPP) secara tidak beralasan apalagi diam – diam. Upaya kontrol itu perlu sebagai peningkatan kinerja di lembaga penegak hukum, serta untuk membangun kembali citra penegak hukum yang saat ini telah terpuruk. Oleh sebab itu semua proses pra peradilan harus dapat diterima dengan lapang dada, begitu pula

dengan putusan yang di hasilkan pra peradilan. Kepolisian, kejaksaan, hakim dan advokat harus mampu bekerja sama menampilkan hukum yang pasti, jelas dan memadai. Kepastian hukum akan membuat keadaan negara harmonis dan pencari keadilan merasa terlindungi.

b. Wewenang Praperadilan dalam

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (disingkat KUHAP) memuat prinsip-prinsip/ asas hukum. Diantaranya prinsip legalitas, prinsip keseimbangan, asas praduga tidak bersalah, prinsip pembatasan penahan, asas ganti rugi dan rehabilitasi, penggabungan pidana dan tuntutan ganti rugi, asas unifikasi, prinsip diferensiasi fungsional, prinsip saling koordinasi, asas keadilan sederhana, cepat, dan biaya ringan, dan prinsip peradilan terbuka untuk umum (Harahap, 2002: 35 – 56).

Pemuatan prinsip-prinsip hukum (the principle of law) tersebut dalam KUHAP tidak lain untuk menjamin penegakan hukum dan hak asasi manusia yang telah digariskan baik dalam landasan konstitusional (baca: UUD 1945) maupun dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999. Pengaturan perlindungan hak asasi dalam wilayah/ konteks penegakan hukum ditegaskan dalam Pasal 28 D ayat 1 Undang-undang Dasar 1945 “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama di hadapan hukum.” Demikian juga secara jelas

(7)

7

ditegaskan dalam Pasal 34 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia “setiap orang tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan atau dibuang secara sewenang-wenang.”

KUHAP yang mengakomodasi kepentingan hak dan asasi/ privasi setiap orang, berarti dalam tindakan atau upaya paksa terhadap seseorang tidak dibenarkan karena merupakan perlakuan sewenang-wenang. Menurut Yahya Harahap (2002: 3) mengemukakan bahwa setiap upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penyitaan, pada hakikatnya merupakan perlakukan yang bersifat:

1. Tindakan paksa yang dibenarkan Undang-undang demi kepentingan pemeriksaan tindak pidana yang disangkakan kepada tersangka. 2. Sebagai tindakan paksa yang

dibenarkan hukum dan Undang-undang, setiap tindakan paksa yang dengan sendirinya merupakan perampasan kemerdekaan dan kebebasan serta pembatasan terhadap hak asasi tersangka.

Karena tindakan yang dilakukan oleh pejabat penyidik merupakan pengurangan, pengekangan dan pembatasan hak asasi tersangka. Maka tindakan itu harus dilakukan secara bertanggung jawab berdasarkan prosedur hukum yang benar. Tindakan upaya paksa yang dilakukan bertentangan dengan hukum dan Undang-undang merupakan pemerkosaan terhadap hak asasi tersangka.

Tujuan dan maksud dari praperadilan adalah meletakkan hak dan kewajiban yang sama antara yang memeriksa dan yang

diperiksa. Menempatkan tersangka bukan sebagai objek yang diperiksa, penerapan asas aqusatoir dalam hukum acara pidana, menjamin perlindungan hukum dan kepentingan asasi. Hukum memberi sarana dan ruang untuk menuntut hak-hak yang dikebiri melalui praperadilan. Secara detil Yahya Harahap (2002: 4) mengemukakan “lembaga peradilan sebagai pengawasan horizontal atas tindakan upaya paksa yang dikenakan terhadap tersangka selama ia berada dalam pemeriksaan penyidikan atas penuntutan, agar benar-benar tindakan itu tidak bertentangan dengan ketentuan hukum dan Undang-undang.”

Undang-Undang telah memberi otoritas (kewenangan) kepada pejabat penyidik untuk melakukan tugas dan wewenangnya. Jika dalam pelaksanan tugas dan kewenangan itu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, maka lembaga praperadilan yang akan menilai dari pada tindakan pejabat tersebut apakah di luar atau bertentangan dengan ketentuan hukum yang telah diberikan kepadanya.

Selain itu, Yahya Harahap (2002 : 5 – 8) juga mengemukakan secara rinci wewenang praperadilan yang disesuaikan dengan ketentuan KUHAP (Pasal 1 butir 10, Pasal 77, Pasal 95, Pasal 97) sebagai berikut:

1. Memeriksa dan memutus sah atau tidaknya upaya paksa berupa penangkapan dan penahanan. 2. Memeriksa sah atau tidaknya penghentian penyidikan dan penuntutan.

3. Berwenang memeriksa tuntutan ganti rugi.

(8)

8

5. Praperadilan terhadap tindakan penyitaan.

Metodologi Penelitian

a. Materi Penelitian

Materi pokok Penelitian Hukum ini

adalah “Implikasi Hukum Terhadap Di

Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan”

a) Metode Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah Yuridis Normatif.

1. Tipe Penelitian

Mengingat penelitian ini

merupakan Penelitian Hukum, maka tipe yang di gunakan adalah penelitian hukum Normatif. penelitian hukum merupakan proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang di hadapi. Penelitian Ini, terutama mengkaji

ketentuan-ketentuan hukum positif

maupun asas-asas hukum yang

bertujuan untuk mencari pemecahan atas isu hukum serta permasalahan yang timbul di dalamnya, sehingga hasil yang akan di capai kemudian

adalah memberikan preskripsi

mengenai apa yang seyogyanya atas isu yang di ajukan. (Peter Mahmud Marzuki, 2005 : 35)

b) Pendekatan Masalah

Untuk menganalisis isu hukum dalam penelitian ini, maka di gunakan beberapa pendekatan antara lain:

a. Pendekatan

Perundang-undangan (statute approach)

Pendekatan undang-undang adalah dengan menelaah semua undang-undang, yang bersangkut paut dengan isu permasalahan hukum yang sedang terjadi, dimana adanya konsistensi dan kesesuaian antar suatu undang-undang dengan undang-undang-undang-undang lainnya, dan dari hasil telaah tersebut merupakan suatu argument untuk memecahkan pokok permasalahan yang dihadapi.

b. Pendekatan Kasus

Adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi. Dengan tujuan mempelajari norma-norma atau kaidah-kaidah hukum yang dilakukan dalam praktek hukum. c) Sumber Bahan Hukum

1. Bahan utama dari penelitian ini adalah data sekunder yang dilakukan dengan menghimpun materi bahan hukum yang dijadikan objek permasalahan dalam penulisan ini antara lain :

a) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat berupa undang-undang dan peraturan pelaksana yang lainnya yaitu peraturan dalam Praperadilan, sebagai berikut : 1) Undang-undang Nomor 8

Tahun 1981 tentang KUHAP b) Bahan hukum sekunder, yaitu

(9)

9

penjelasan mengenai bahan-bahan hukum primer antara lain : tulisan atau pendapat para pakar hukum dibidang hukum Pidana, majalah dan informasi-informasi ilmiah lainnya yang berkaitan dengan Kewenangan Praperadilan terhadap penetapan tersangka. c) Bahan hukum tertier, yaitu bahan

hukum yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, antara lain : 1) Kamus besar bahasa

Indonesia 2) Kamus hukum

3) Surat kabar dan internet juga menjadi tambahan bagi penulisan ini sepanjang memuat informasi yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.

d) Analisa Bahan Hukum

Setelah bahan hukum primer dan sekunder dikumpulkan, diedit, diklasifikasikan, kemudian dipilah-pilah sesuai dengan urgensinya dan dijadikan sebagai bahan analisis terkait dengan permasalahan yang sudah dirumuskan untuk mendapatkan jawaban dan solusi yang tepat. Bahan-bahan hukum yang diperoleh, ditelaah relevansinya dengan permasalahan dan klasifikasi terkait dan subyek penelitian, yaitu “Implikasi Hukum Terhadap Di Kabulkannya Permohonan Praperadilan Budi Gunawan”

Hasil Penelitian dan Pembahasan

a. Implikasi Hukum Putusan Praperadilan

Penetapan Tersangka Budi Gunawan

Putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Sarpin Rizaldi yang mengabulkan gugatan praperadilan penetapan tersangka Komjen Budi Gunawan (BG) telah menimbulkan kontroversi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan BG sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji selama menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier (Karobinkar) Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 20032006 dan jabatan lainnya di Kepolisian. Pasal 11 huruf a Undang-Undang Nomor 30Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi mengatur sejumlah hal yang menjadi kewenangan KPK. Disebutkan, KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara.

Praperadilan merupakan suatu sidang pengadilan yang diselenggarakan untuk menguji keabsahan suatu tindakan paksa yang dilakukan oleh pejabat yang berwenang selaku penegak hukum. Terkait dengan dasar hukum praperadilan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP“) dan Undang-Undang Mahkamah Agung.

(10)

10

Kemudian dalam Pasal 77 KUHAP ditegaskan kembali mengenai tujuan diadakannya praperadilan dan batas wewenang hakim yang menyatakan: “Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undangundang ini tentang:

1. Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan;

2. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.”

1. Putusan Praperadilan

Hakim tunggal praperadilan Sarpin Rizaldi mengabulkan permohonan praperadilan BG, karena menganggap objek permohonan praperadilan yang diajukan pemohon termasuk dalam objek praperadilan. Dengan demikian, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berhak memeriksa sah atau tidaknya penetapan status tersangka terhadap pemohon. Dalam pertimbangannya, Hakim Sarpin mengatakan, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan nomor 03/01/01/2015 pada 12 Januari 2015, BG ditetapkan sebagai tersangka dalam kapasitasnya sebagai kepala biro pengembangan karir (Karo Binkar) Deputi SSDM Polri. Peristiwa pidana itu dilakukan dalam rentang tahun 2003-2006.

Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri, jabatan Karobinkar merupakan jabatan administrasi atau pelaksana staf

yang berada di bawah deputi Kapolri. Jabatan Karobinkar setingkat dibawah pejabat eselon II dan bukan penegak hukum dan tidak termasuk dalam golongan penyelengggara Negara karena tidak masuk eselon. Menurut Hakim, peristiwa pidana yang dilakukan BG saat itu tidak termasuk dalam subjek kewenangan KPK sebagaimana ditegaskan bahwa salah satu kewenangan KPK yang diatur dalam Undang-Undang antara lain adalah penyelenggara negara atau penegak hukum.

Berdasarkan dalil pertimbangan tersebut, Hakim Sarpin menyatakan bahwa, Surat perintah penyidikan (Sprindik 03/01/01/2015) yang menjadi dasar dalam penyidikan terhadap BG tidak sah dan tidak berdasar hukum dan tidak mempunyai kekuatan mengikat, oleh karenanya penyidikan atas kasus yang disangkakan terhadap BG juga dinyatakan tidak sah dan tidak berdasar hukum sehingga tidak mempunyai kekuatan mengikat.

Lebih lanjut, karena Sprindik sebagai legalitas dianggap tidak sah, maka segala tindakan yang dilakukan berdasarkan Sprindik 03/01/01/2015 termasuk penyidikan dan penetapan tersangka atas BG tersebut dinyatakan tidak sah. Selain membatalkan penetapan status tersangka atas BG, Hakim Sarpin juga menyatakan bahwa keputusan atau penetapan yang merupakan tindak lanjut yang dikeluarkan KPK sepanjang masih berkaitan dengan permasalahan

(11)

11

penetapan BG selaku tersangka akan dianggap tidak sah.

Dalam putusan praperadilan tersebut, Hakim Sarpin tidak mengabulkan seluruh gugatan yang diajukan BG selaku pemohon. Gugatan BG untuk mendapatkan Ganti Rugi secara materiil dari KPK ditolak oleh Hakim Sarpin. Selain itu, dalam putusannya Hakim Sarpin juga menghapuskan biaya perkara yang harus ditanggung negara.

Putusan praperadilan tersebut terdapat kelemahan dalam putusan praperadilan tersebut. Pertama, Hakim Sarpin telah melampaui kewenangannya dalam memutus perkara praperadilan tersebut. Dalil-dalil yang dipertimbangkan oleh Sarpin seperti kualifikasi penyelenggara negara/penegak hukum adalah pembuktian terhadap unsur-unsur tindak pidana.

Hal tersebut seharusnya diperiksa pada persidangan pokok perkara bukan praperadilan. Kedua, Hakim Sarpin juga tidak konsisten dalam melakukan penafsiran hukum. Di satu sisi, hakim memperluas penafsiran terhadap objek praperadilan yang telah tegas dan jelas diatur dalam KUHAP. Namun, di sisi lain, penafsiran yang diperluas itu tidak dilakukan dalam konteks pemaknaan terhadap penyelenggara negara/penegak hukum.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mantan pimpinan KPK Busyro Muqoddas, menyatakan seharusnya hakim Sarpin Rizaldi menggunakan Kitab Undang-undang Hukum Acara

Pidana (KUHAP) sebagai landasan putusan. Secara fundamental setiap hakim wajib mengadili berdasarkan Undang-undang. Undang-undang jelas isinya tidak boleh ditafsirkan melainkan sesuai dengan tafsir gramatikal dalam spirit asas kepastian hukum.

Terlepas dari kontroversi putusan praperadilan tersebut, Pasal 20 Algemene

Bepalingen van Wetgeving voor

Indonesie (AB) yang menyatakan:

“Hakim harus mengadili berdasarkan Undang-Undang”. sampai saat ini, AB masih berlaku sepanjang belum dicabut secara tegas oleh UndangUndang berdasarkan Aturan Peralihan UUD 1945. Hal ini berarti, bahwa dalam Hukum yang berlaku di Indonesia, hakim dilarang menafsirkan lebih dari yang seharusnya jika sudah jelas pengaturannya. Namun demikian, hal ini bukan berarti hakim menjadi tidak bebas dalam menjalankan kewenangannya sepanjang tidak melanggar ketentuan yang ada. Hakim diperkenankan untuk menafsirkan lebih luas suatu peraturan dikala peraturan tersebut tidak jelas maksudnya atau hakim diperkenankan untuk membuat suatu kaidah hukum di saat terjadi kekosongan hukum, karena pada hakekatnya, hakim dilarang menolak perkara dengan alasan tidak ada hukumnya. Hal itu tentunya bertolak belakang dengan system hukum Anglo-Saxon yang menganut aliran freie

rechtslehre, yang memperbolehkan

hakim untuk menciptakan hukum (judge made law) (H.M.A Kuffal, 2004 : 5).

Oleh karenanya dalam perkara praperadilan yang diajukan oleh BG,

(12)

12

pendapat hakim praperadilan yang menyatakan bahwa mengenai permohonan yang diajukan oleh BG mengenai penetapan tersangka tidak diatur dalam KUHAP, sehingga terjadi kekosongan Hukum adalah pertimbangan yang patut untuk dipertanyakan. Dengan menyebutkan klausa “…penyidikan yang dilakukan oleh termohon…” dalam amar putusannya, artinya hakim mengakui bahwa yang dimohonkan untuk diuji keabsahannya adalah sah atau tidaknya penyidikan, sehingga seharusnya hakim tidak memiliki alasan untuk menyatakan permohonan tersebut belum diatur, karena mengenai praperadilan yang berkaitan dengan penyidikan telah diatur dalam Pasal 77 KUHAP, yaitu mengatur hanya tentang sah atau tidaknya penghentian penyidikan, maka seharusnya hakim tidak menafsirkan lebih dari yang diatur dalam Pasal 77 KUHAP ini, sebab ketentuan tersebut bukan aturan yang multi tafsir, oleh karenanya, dapat dipahami, disaat para ahli hukum menyatakan bahwa obyek atau alasan praperadilan berdasarkan Pasal 77 KUHAP bersifat limitative.

2. Implikasi Hukum Putusan Praperadilan

Putusan praperadilan yang mengabulkan sebagian permohonan BG tersebut menimbulkan berbagai pendapat dikalangan para ahli hukum, Jaksa Agung AM Prasetyo menegaskan bahwa, untuk saat ini putusan hakim Sarpin itu tidak bisa dijadikan sebagai sumber acuan hukum atau yurisprudensi karna baru satu putusan pengadilan. Selain itu, pendapat

lain juga diungkapkan oleh Ketua Komisi Yudisial, Suparman Marzuki mengingatkan, putusan Praperadilan yang dikeluarkan oleh Hakim Sarpin Rizaldi berimplikasi luas pada system penegakan hukum pidana khususnya tugas penyidik.

Selain itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD juga menambahkan, dengan putusan praperadilan tersebut, ke depan setiap penetapan tersangka berpotensi akan di praperadilankan. Pengadilan negeri dapat dibanjiri permohonan praperadilan terkait penetapan tersangka oleh KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan. Hal senada juga diungkapkan oleh Nursyahbani Katjasungkana, yang menyatakan bahwa putusan praperadilan tersebut menjadi preseden yang sangat buruk. Penetapan tersangka dalam dua tahun ke belakang dapat dibatalkan semua. Bahkan, mereka yang sudah dijadikan tersangka dan ditahan KPK pun bisa mengajukan praperadilan.

Bahkan, segera setelah putusan praperadilan tersebut dikeluarkan, Surya Dharma Ali, tersangka kasus korupsi dana haji mengajukan permohonan Praperadilan atas penetapan dirinya sebagai tersangka dalam pengelolaan dana haji. Hal ini dapat menjadi bukti bahwa putusan praperadilan yang diajukan oleh BG dan dikabulkan sebagian oleh Hakim Sarpin Rizaldi memberi peluang bagi para tersangka, khususnya yang penetapan statusnya oleh KPK mengajukan gugatan karena sudah pernah ada permohonan praperadilan yang mengabulkan permohonan pembatalan status tersangka.

(13)

13

Selain membawa preseden tentang pembatalan status tersangka, melalui sidang praperadilan. Putusan yang dikeluarkan oleh Hakim Sarpin Rizaldi membawa implikasi yang lain, yaitu bagaimana status perkara yang disangkakan terhadap BG dengan adanya putusan tersebut. sedangkan seperti kita ketahui bersama KPK tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penghentian perkara.

Sekretaris Tim 9 atau Tim Independen, Jimly Assidiqque menyatakan status tersangka BG memang gugur dengan sendirinya karena materi praperadilan yang diajukan oleh BG hanya membahas prosedur penetapannya sebagai tersangka. Belum masuk pada materi substansi. Dengan demikian unsur kejahatan yang ada dalam perkara tersebut tidak hilang.

Dengan tidak hilangnya unsure kejahatan dalam perkara yang disangkakan kepada BG, maka KPK dapat melakukan perbaikan dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Serta memperkuat data dan bukti yang dibutuhkan. Dengan demikian substansi kejahatan yang menjadi pokok perkara dapat dibuktikan di pengadilan yang adil. a. Eksistensi Lembaga Praperadilan Dalam System Peradilan di Indonesia

Ketentuan ini membatasi wewenang Praperadilan karena proses pemeriksaan Praperadilan ”dihentikan” dan perkaranya menjadi gugur pada saat perkara pidana pokoknya mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri. Kalau proses

Praperadilan yang belum selesai lalu dihentikan dan perkaranya yang sedang diperiksa menjadi dianggap gugur atas dasar alasan teknis karena perkara pidana pokok sudah mulai disidangkan, yang bukan alasan prinsipiil maka tujuan Praperadilan menjadi tidak berfungsi kabur dan hilang. Karena tujuan Praperadilan memberikan keputusan penilaian hukum tentang pemeriksaan pendahuluan terhadap tersangka seperti yang dimaksud dalam Pasal 77 KUHAP, yang keputusannya menjadi dasar untuk membebaskan tersangka dari penangkapan dan/atau penahanan yang tidak sah serta tuntutan ganti rugi Untuk menjamin agar KUHAP dapat dilaksanakan dengan baik sebagaimana yang dicita-citakan, maka dalam KUHAP diatur lembaga baru dengan nama PRAPERADILAN. wewenang tambahan kepada Pengadilan Negeri untuk melakukan pemeriksaan terhadap kasus-kasus pidana yang berkaitan dengan penggunaan “upaya paksa” seperti penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dll, yang dilakukan oleh Penyidik dan atau Penuntut umum.

Terkait aparat kepolisian yang melakukan tindakan-tindakan yang kurang sesuai dengan Undang-Undang tidak sedikit terjadi di masyarakat. Banyak pendapat dari masyarakat tentang aparat Kepolisian yang sengaja memanfaatkan jabatannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya baik itu masih dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya maupun diluar tugasnya sebagai pelindung masyarakat. Entah itu semua

(14)

14

benar atau tidak namun dari segala apa yang berkembang dalam masyarakat mari fokuskan permasalahan pada masalah kesalahan penangkapan, penahanan, penyitaan, penghentian penyidikan dan penuntutan yang dilakukan penyidik yang didalamnya termasuk juga aparat Kepolisian yang semua ini berujung pada lahirnya lembaga Praperadilan sebagai suatu hukum pada tindakan penyidik menyangkut perbuatan-perbuatan yang diatur dalam Praperadilan itu.

Penangkapan, penahanan, penyitaan dan lain sebagainya yang bersifat mengurangi dan membatasi kemerdekaan dan hak asasi tersangka. Karenanya, tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan lembaga praperadilan ini adalah untuk menghindari adanya pelanggaran dan perampasan hak asasi tersangka atau terdakwa.Demi untuk terlaksananya kepentingan pemeriksaan tindak pidana,

Perubahan yang terjadi di dalam struktur hukum terutama dengan dibentuknya sebuah lembaga baru otomatis membawa pengaruh bagi kondisi sosial dengan bergesernya pola berfikir dan tingkah laku dalam masyarakat, Hal ini sejalan dengan pandangan Soejono Soekanto (Satjipto Raharjo,1984:117) bahwa Ada dua fungsi yang dapat dijalankan oleh hukum di dalam masyarakat yaitu sebagai sarana kontrol (a tool of sosial kontrol) dan sebagai sarana untuk melakukan rekayasa sosial (a tool of social ingieneering).

Apabila kita mengkaitkan praperadilan dengan adanya a tool of social control ini maka pada dasarnya,

praperadilan berfungsi sebagai perlindungan terhadap tindakan yang sewenag-wenang dari para aparat hukum yang pada pelaksanaan tugasnya sering melakukan tindakan yang kurang pantas sehingga melanggar hak dan harkat manusia. Namun untuk lebih menjamin pelaksanaan sebuah praperadilan maka diperlukan sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang praperadilan terutama dalam masyarakat sehingga lebih mengerti tentang manfaat dan fungsi praperadilan. Selanjutnya hukum sebagai a tool of social engineering, praperadilan dapat membawa masyarakat kepada situasi dan kondisi hukum yang lebih baik menuju ke arah pembangunan hukum ke depan. Pendapat Schuyt (Satjipto Raharjo, 1984:117-188), sebagai berikut Orang-orang yang mempelajari lahirnya Undang-undang, efek-efek sampingan yang negatif atau positif, orang mempelajari apakah tujuan yang di cantumkan dalam Undang-undang itu, seringkali merupakan endapan perjuangan politik, atau keinginan-keinginan politik, ia merupakan sarana yang dipergunakan orang untuk mencoba menimbulkan suatu keadaan yang tertentu dalam masyarakat, kadang-kadang orang yang ingin menggunakan perundang-undangan itu untuk menimbulkan suatu perubahan sosial yang nyata. Penguasaan atau pengarahan proses sosial ini, juga di sebut “Social engineering”.

Sehingga eksistensi Praperadilan harus tetap menempatkan posisinya sesuai dengan kewenangannya karena Praperadilan Komjen Budi Gunawan

(15)

15

tidak sesuai dengan kewenangan Praperadilan, olehnya itu eksistensi lembaga pengadilan harus tetap berdiri tegak untuk mengakan hokum, karna hukum adalah panglima.

Penutup

Hasil Penelitian ini disimpulkan bahwa Putusan praperadilan yang mengabulkan permohonan Komjen Budi Gunawan adalah putusan yang Inkonstitusional karena kewenangan Praperadilan menurut pasal 1 ayat 10, pasal 77 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP tidak memberikan kewenangan untuk dilakukan pengujian terhadap penetapan tersangka pada Praperadilan, karena yang hanya menjadi kewenangan praperadilan bagi Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan dan Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. Sehingga hakim Sarpin dalam melakukan tafsirannya telah melampaui kewenangan Hukumnya dan membawa konsekwensi hukum yang besar bagi perkembangan hukum diindonesia, karena semua tersangka bisa saja mengajukan praperadilan terhadap lembaga penegak hukum yang menetapkan dirinya sebagai tersangka. Hal demikian terlihat setelah putusan kasus Praperadilan Komjen Budi Gunawan banyak tersangaka mengajukan Gugatan seperti Suryadharma Ali, Sultan Batu gana dan tersangka lainnya. Maka Saran yang dapat penulis buat adalah Kewenangan untuk melakukan Praperadilan harus berdasarkan

ketentuan Hukum yang ada dan Hakim tidak boleh menfsifkan berdasarkan pendapatnya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Faisal Salam, Moch, 2001, Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek, CV.Mandar Maju, Bandung.

H.M.A Kuffal, 2004, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang

M Yahya Harahap, 1985,.Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Peyidikan dan Penuntutan, Jakarta, Penerbit Sinar Grafika Edisi Kedua. M Sofyan Lubis, 2010,. Prinsip Miranda Rule,

Yogyakarta Penerbit Pustaka Yustisia,. R Soenarto Soerodibroto, 2003,.KUHP dan

KUHAP Dilengkapi Yurisprudensi Mahkamah Agung Dan HOGE RAAD, Jakarta Penerbit PT RajaGrafindo Persada Edisi Kelima.

R Abdoel Djamali, 1984,.Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta, Penerbit PT Raja Grafindo Persada.

Raharjo, Satjipto. 1984. Hukum Dan Masyarakat. Angkasa, Bandung.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM

Referensi

Dokumen terkait