AUTOMATIC TANK GAUGE (ATG)

65  62  Download (0)

Teks penuh

(1)

AUTOMATIC TANK GAUGE (ATG)

PENGUKURAN LEVEL PRODUK PADA TANGKI TIMBUN

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Oleh: Rachmat Fauzan

102116019

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat melaksanakan Mata Kuliah Kerja Praktik yang dilaksanakan di PT Pertamina Terminal BBM Plumpang Jakarta Group.

Kegiatan Kerja Praktik ini merupakan mata kuliah wajib pada program sarjana Universitas Pertamina dengan bobot 2 sks dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang diadakan. Sehingga penulis dapat meningkatkan wawasan dan menambah pengalaman kerja praktik mengamati dan mengalami secara langsung proses yang terjadi di dunia kerja baik budaya organisasi, sistem yang berlaku maupun penerapan ilmu yang sudah dipelajari selama proses pembelajaran di perkuliahan.

Penulisan laporan kerja praktik ini tentunya dapat dibentuk dengan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, mulai dari pengarahan selama kerja praktik, kegiatan di lapangan hingga penyusunan laporan. Oleh karena itu, penulisan mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bpk. Teguh Aryo Nugroho, MT. Selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan arahan, dan saran selama kegiatan kerja praktik.

2. Pihak Pertamina Corporate University yang telah membantu dan mengurus masalah administrasi dengan pihak perusahaan.

3. Bpk Dimas Oktara dari MOR 3 yang telah mengarahkan penulis untuk ditempatkan di TBBM Plumpang.

4. Bpk Hari Purnomo selaku Operation Head, yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan Kerja Praktik di TBBM Plumpang-Jakarta Group.

5. Jr. Spv. Dwi Jarwanto, selaku pembimbing perusahaan yang telah meluangkan waktu, dan mengarahkan penulis selama Kerja Praktik. 6. Bpk. Imam Rodhianto, Bpk Ayung, Bpk. Ery, Bpk. Arifin selaku

(6)

ii

7. Para Tenaga Kerja Jasa Penunjang (TKJP) yang telah mengawasi dan berbagi pengalaman dengan penulis selama berada di lapangan.

8. Pekerja Organik lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu 9. Semua unit fungsi TBBM Plumpang Jakarta group.

10. Teman-teman PKL penempatan MOR III, TBBM Plumpang dan Depot LNG serta teman-teman Teknik Elektro 2016.

Akhir kata penulis berharap semua pihak yang telah membantu mendapatkan balasan atas semua bentuk kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Semoga laporan kerja praktik ini, membawa manfaat terhadap PT.Pertamina (Persero), Universitas Pertamina maupun kepada pembaca. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis baik dalam aspek tata tulis Bahasa Indonesia, konten maupun informasi yang disampaikan jika keliru.

Jakarta, 1 September 2019

Penulis

(7)

iii

DAFTAR ISI

COVER

LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN KERJA PRAKTIK

KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...iii DAFTAR TABEL...iv DAFTAR GAMBAR...v BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Kerja Praktik ... 2

1.3 Manfaat Kerja Praktek ... 2

1.3.1 Bagi Perusahaan ... 2

1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi dan Program Studi ... 2

1.3.3 Bagi Mahasiswa ... 3

BAB II ... 4

PROFIL PERUSAHAAN ... 4

2.1 Sejarah PT Pertamina (Persero) ... 4

2.1.1 Visi dan Misi PT. Pertamina (Persero) ... 5

2.1.2 Tata Nilai Unggulan 6C ... 5

2.2 Profil Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang ... 5

2.2.1 Slogan TBBM Jakarta Group ... 7

2.3 Penempatan Kerja Praktik di Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang . 7 2.4 Struktur Organisasi ... 8

BAB III ... 9

KEGIATAN KERJA PRAKTIK ... 9

3.1 Tempat dan waktu pelaksanaan Kerja Praktik ... 9

3.1.1 Briefing Pagi Kantor ... 9

3.1.2 Pengenalan Lingkungan Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang ... 10

(8)

iv

3.3 Kegiatan fungsi R&S ... 12

3.3.1 Penerimaan Produk dari TBBM Balongan ... 13

3.3.2 Penerimaan Produk dari PMB Tanjung Priok ... 13

3.3.3 Pengukuran Tangki Timbun ... 14

3.3.4 Intertank ... 14

3.3.5 Safety Patrol & Control ... 14

3.3.6 Verifikasi ATG ... 14

BAB IV ... 15

HASIL KERJA PRAKTIK ... 15

4.1 Pembahasan Hasil Kerja Praktik ... 15

4.1.1 Tangki Timbun ... 15

4.1.2 Manual dipping ... 17

4.1.3 Automatic Tank Gauge ... 18

BAB V ... 24

TINJAUAN TEORITIS ... 24

5.1 Automatic Tank Gauging ... 24

5.2 Displacer ... 25

5.3 CIU ... 25

5.4 Motor Stepper ... 25

5.5 Encoder Disk ... 26

5.6 Daerah berbahaya (Hazardous Area) ... 26

5.7 Proteksi Kelistrikan ... 27

5.8 NEMA tipe 4 ... 28

BAB VI ... 29

KESIMPULAN DAN SARAN ... 29

6.1 Kesimpulan ... 29

6.2 Saran ... 29

(9)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kegiatan Kerja Praktik...9

Tabel 2 Data kapasitas tangki timbun...16

Tabel 3. Klasifikasi area dan material di zona berbahaya...27

(10)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Layout Area Terminal BBM Jakarta Group Area Plumpang...6

Gambar 2. Struktur Organisasi di TBBM Jakarta Group...8

Gambar 3. Alur bisnis Terminal BBM Jakarta Group...11

Gambar 4. Alur kegiatan fungi Distribusi untuk pemesanan BBM. ...11

Gambar 5 (a) Ruang panel. (b) tampilan HMI MOV. (c) Monitor R&S...12

Gambar 6 (a) Monitor ATG. (b) Monitor TSI. (c) Monitor Control room...17

Gambar 7 (a) Hasil pengukuran level minyak dengan pasta minyak. (b) Proses dipping. (c) Hasil pengukuran level air dengan pasta air...18

Gambar 8 (a) Hasil pengukuran densitas minyak. (b) Hasil pengukuran suhu...18

Gambar 9. Automatic Tank Gauge...18

Gambar 10 (a) Struktur ATG dan stelling weel (b) Struktur stelling weel hingga dasar...19

Gambar 11. Blok diagram kerja pengukuran level pada ATG 954 servo...20

Gambar 12. Blok diagram koneksi ATG dari field sampai control room...20

Gambar 13. VITO thermosensor thermometer...21

Gambar 14. Kompartemen ATG...21

Gambar 15. Nameplate ATG servo Honeywell enraf series 854 tipe servo...23

Gambar 16. Penampang bagian pengukuran level dalam ATG. ...24

(11)
(12)
(13)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Ketergantungan masyarakat terhadap produk bahan bakar minyak setiap tahun kian meningkat, Bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun mempengaruhi jumlah kebutuhan kendaraan bermotor, menurut laporan tahunan PT.Pertamina (Persero) tahun 2018, tingkat penjualan produk BBM tumbuh 5% dibandingkan tahun sebelumnya, meningkatnya kebutuhan supply and demand perlu diikuti dengan perkembangan teknologi yang layak, yang mampu menjaga kestabilan kegiatan proses industri [1]. Mengingat bahwa kegiatan industri dan teknologi tidak terpisahkan, maka Universitas Pertamina sebagai institusi pendidikan, berperan dalam pengembangan sumber daya manusia untuk menciptakan kualitas sumber daya yang sesuai dengan 6 nilai Universitas Pertamina (Spirituality, Integrity, Professional & Innovative, Excellence, Global Mindset, Socially Responsible) salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui program Kerja Praktik.

Kerja Praktik adalah salah satu mata kuliah wajib dalam kurikulum Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Pertamina (UP) dengan bobot 2 Satuan Kredit Semester (SKS). Tujuan dasar dari kegiatan kerja praktik adalah meningkatkan pemahaman segi keilmuan bidang teknik elektro serta keterampilan dasar mahasiswa di lingkungan kerja, seperti bersosialisasi dengan karyawan perusahaan, mengamati kegiatan lapangan dan mempelajari konsep kerja teknologi di industri. Kerjasama antara perusahaan dengan institusi perguruan tinggi perlu terus ditingkatkan agar dunia akademik dapat meningkatkan standar kurikulum mengikuti trend teknologi yang sedang digunakan di dunia industri saat ini.

Dengan pertimbangan terhadap kegiatan custody transfer keakuratan teknologi pengukuran pada tangki penimbunan menjadi faktor yang sangat penting. Oleh karena itu, mahasiswa melakukan pemilihan lokasi di PT. Pertamina (Persero) Terminal BBM Jakarta Group sebagai tempat PKL dengan kegiatan operasionalnya adalah 3P (Penerimaan, Penimbunan, dan Penyaluran) bertujuan untuk mempelajari.

(14)

2

sistem kegiatan penimbunan, prinsip kerja alat ukur level tangki timbun dengan Automatic Tank Gauge (ATG) beserta teknologi penunjangnya.

1.2 Tujuan Kerja Praktik

Adapun tujuan dilaksanakannya kerja praktik di Terminal BBM Jakarta Group PT. Pertamina (Persero) sebagai berikut:

1) memenuhi mata kuliah kerja praktik yang mewajibkan mahasiswa untuk berhubungan secara langsung dengan lingkungan dunia kerja. dapat mengenal dan mengetahui profil PT. Pertamina sebagai perusahaan industri yang bergerak di sektor bisnis energi hilir.

2) Dapat mengamati dan mempelajari kondisi aktual kegiatan di fungsi Receive and Storage.

3) Dapat mengamati dan memahami konsep kerja Automatic Tank Gauge.

1.3 Manfaat Kerja Praktek

Manfaat dari kegiatan kerja praktek yang dilaksanakan di TBBM Jakarta Group adalah sebagai berikut:

1.3.1 Bagi Perusahaan

Pelaksanaan kerja praktik ini diharapkan memiliki manfaat bagi perusahaan seperti berikut:

1) Sarana penghubung dalam menjalin hubungan antara pihak Universitas dan perusahaan terkait.

2) Laporan Kerja Praktik dapat dijadikan sebagai literatur tambahan dan masukan yang membangun dari mahasiswa bagi perusahaan terkait.

1.3.2 Bagi Perguruan Tinggi dan Program Studi

Pelaksanaan kerja praktik ini diharapkan memiliki manfaat bagi perusahaan seperti berikut:

1) Sebagai referensi khususnya mengenai perkembangan industri di Indonesia, dan dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.

(15)

3 2) Memperkenalkan Fakultas Teknologi Industri Universitas Pertamina

kepada PT. Pertamina (Persero) TBBM Jakarta Group.

1.3.3 Bagi Mahasiswa

Dalam menghadapi dunia kerja mendatang, mahasiswa dituntut mampu bekerja dengan profesional dan memiliki integritas diri yang baik ditunjang dengan pengalaman, hard-skill dan soft-skill. Oleh sebab itu, manfaat yang didapatkan selama Kerja Praktik adalah sebagai berikut:

1) Mahasiswa dapat mengetahui secara lebih mendalam kondisi dunia industri sehingga nantinya diharapkan mampu menerapkan ilmu yang telah didapat dalam bidang industri.

2) Media mahasiswa untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan meningkatkan rasa percaya diri, disiplin dan tanggung jawab mahasiswa. 3) Menambah pengalaman serta gambaran dunia kerja supaya dapat

(16)
(17)
(18)

4 BAB II

PROFIL PERUSAHAAN 2.1 Sejarah PT Pertamina (Persero)

PT. Pertamina adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berwenang untuk mengelola penambangan sumber minyak dan gas bumi serta melakukan kegiatan usaha migas yang ada di Indonesia pada Sektor Hulu hingga Sektor Hilir, hal ini ditegaskan melalui PP no. 31 tahun 2003. Kegiatan usaha PT. Pertamina (Persero) di sektor hilir meliputi bisnis pengolahan, pemasaran, dan bisnis LNG.

Sebelumnya, PT. Pertamina (Persero) dibentuk pada tanggal 10 Desember 1957, atas perintah Mayjen Dr. Ibnu Soetowo, PT EMITSU diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (PT PERMINA). Kemudian dengan PP No. 198/1961 PT PERMINA diubah menjadi PN PERMINA. Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP No. 27/1968, PN PERMINA dan PN PERTAMINA dijadikan satu perusahaan yang bernama Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PN PERTAMINA). Sebagai landasan kerja baru, UU No. 8/1971 disahkan pada tanggal 15 September 1971. Sejak saat itu, nama PN PERTAMINA diubah menjadi PT. PERTAMINA, dan dengan PP No. 31/2003 PT. PERTAMINA menjadi (Persero), yang merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengelola semua bentuk kegiatan di bidang industri perminyakan di Indonesia [2].

Pertamina menjalankan bisnis pada dua segmen yang berbeda, yaitu segmen ritel dan segmen korporat. Pemasaran Ritel menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor transportasi, pelumas dan LPG untuk rumah tangga dan non rumah tangga, baik produk bersubsidi maupun produk non subsidi. Sementara pemasaran korporat menjual produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di sektor industri, aviasi, perkapalan, dan produk Non BBM lainnya seperti aspal dan produk petrokimia untuk sektor industri. Kedua fungsi utama tersebut didukung infrastruktur mulai dari mobil tangki BBM, skid tank, depot, pelabuhan hingga kapal.

(19)

5

2.1.1 Visi dan Misi PT. Pertamina (Persero)

Sebagai perusahaan BUMN yang memiliki kegiatan di sektor bisnis dan energi PT. Pertamina (Persero) memiliki visi dan misi sebagai berikut [3]:

2.1.1.1 Visi

Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia.

2.1.1.2 Misi

Menjalankan Usaha Minyak, Gas, Serta Energi Baru dan Terbarukan Secara Terintegrasi, Berdasarkan Prinsip-Prinsip Komersial Yang Kuat.

2.1.2 Tata Nilai Unggulan 6C

Dalam mencapai visi dan misinya berdasarkan standar global dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, Pertamina berkomitmen untuk menerapkan tata nilai yang didasarkan atas Surat Keputusan Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) no.Kpts-022/COOOOO/2013-S0 tentang penerapan tata nilai 6C 01 Pertamina dan anak perusahaan sebagai berikut [4].

 Clean  Competitive  Confident  Customer Focused  Commercial  Capable

2.2 Profil Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang

Terminal BBM Jakarta Group merupakan salah satu unit operasi Fungsi Supply & Distribution Region III. TBBM Jakarta Group yang terbagi menjadi 2 area yaitu area satu berlokasi di Plumpang dan area dua di Tanjung Priok, keduanya berlokasi di Jakarta Utara. Tepatnya untuk area satu berlokasi di Jl. Yos Sudarso Jembatan 1, Jakarta Utara

TBBM Tanjung Priok dioperasikan sejak tahun 1940, pada mulanya dibangun dan dioperasikan oleh Shell/Stanvac. Kemudian pada tahun 1957 memasuki masa orde baru setelah Indonesia merdeka, kepemilikan instalasi TBBM Tanjung Priok

(20)

6 dimiliki oleh PT. Pertamina sebagai perusahaan milik negara. Wilayah area satu, TBBM Plumpang dibangun pada tahun 1972 dan mulai dioperasikan pada tahun 1974 dengan luas lahan sebesar 48.352 Ha, TBBM Plumpang menjadi pemasok kebutuhan BBM terbesar dengan throughput rata-rata 16.500 KL/hari atau setara dengan 12% sales nasional tahun 2017 dan kapasitas penampungan mencapai 291.889 KL. Terminal BBM area Plumpang memiliki layout area seperti gambar 1 berikut.

Gambar 2 Layout Area Terminal BBM Jakarta Group Area Plumpang.

Terminal BBM Jakarta Group area Plumpang merupakan Area Jawa Bagian Barat (JBB) Terminal Jakarta Group (TBJG) objek vital nasional milik PT. Pertamina yang bertanggung jawab dalam memenuhi pasokan BBM retail dengan operasi kegiatan penerimaan, penimbunan, dan penyaluran. Produk yang disalurkan dari Terminal BBM Plumpang berupa produk Premium, Pertamax, Pertamax Turbo, FAME (Fatty Acid Methyl Ester), Dex, dan Solar dengan pipanisasi penerimaan pasokan BBM melalui 2 jalur, yaitu berasal dari pipa 16” Terminal Transit Utama Balongan sepanjang 221 km denga jalur satu pipa multi-produk, dan dermaga kapal Perancah Minyak Baru (PMB) maupun intertank dari TBBM Tj. Priok sejauh 5 km dengan jalur tiga pipa.

(21)

7

Untuk penimbunan, Terminal BBM Plumpang yang berkapasitas 324.276 KL memiliki 24 tangki produk dengan konfigurasi 2 tangki Pertamax Turbo, 7 tangki Pertamax (kapasitas ), 2 tangki FAME, 7 tangki Premium, 1 tangki Pertadex, 5 tangki Solar, dan tambahan 2 tangki feedstock.

Kegiatan operasi dan pelayanan penyaluran di TBBM Plumpang berlangsung selama 24 jam, dengan total throughput rata-rata sebesar 16.500 KL/hari, peningkatan pelayanan dilakukan dengan mengautomatisasi sistem penjadwalan dengan MS2 kemudian sistem terminal pengisian bahan bakar otomatis bernama New Gantry System, ditunjang Terminal Automation System yang meliputi akses gerbang i-button, titik pengisian dilengkapi interlock dan overfill sensor serta pengoperasian lapangan diatur secara remote dari control room, semua hal tersebut diintegrasikan kedalam sebuah sistem aplikasi bernama mySAP, hal ini mencegah terjadinya risiko kegagalan dan kecelakaan akibat human error, Instalasi Terminal BBM sudah memiliki pencapaian sertifikasi kelayakan izin beroperasi seperti PROPER HIJAU sebanyak 7 kali, audit Pertamina Operation & Service Excellence dengan pencapaian Platinum pada tahun 2018, ISO SERIES (9001, 14001, 18001).

2.2.1 Slogan TBBM Jakarta Group

Terminal BBM Jakarta Group memiliki 4 slogan yang menggambarkan perwujudan dari misi dan tata nilai 6C perusahaan yaitu:

1. “Kepuasan Pelanggan” dijawab “Prestasi Kami”. 2. “Utamakan HSSE” dijawab “YES!YES!YES!”. 3. “Zero Fatality” dijawab “Kita Bisa”.

4. “TBBM Jakarta Group” dijawab “Kami Siap”.

2.3 Penempatan Kerja Praktik di Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang Untuk pelaksanaan kegiatan Kerja Praktik mahasiswa ditempatkan pada fungsi Receive and Storage yang bertanggung jawab atas kegiatan operasional dan pengawasan penerimaan dan penimbunan produk dari RU Balongan, dan PMB Tanjung Priok serta penyaluran ke New Gantry System (NGS).

(22)

8 2.4 Struktur Organisasi

Struktur organisasi di PT Pertamina (Persero) berdasarkan data overview company profile TBBM Jakarta Group tahun 2019. Dikepalai oleh Operation Head yang bertanggung jawab terhadap TBJG Plumpang dan Tanjung Priok, dibawahi langsung oleh manajer Supply and Distribution Region III. Memiliki struktur organisasi sebagai berikut.

Gambar 2. Struktur Organisasi di TBBM Jakarta Group

S&D MOR III

OH TBBM Jakarta Group Hari Purnomo

Spv. Sales Service & GA Febriansyah Putra Perdana

Jr. Spv. Security Adi Supirman

Spv. Quantity & Quality Abdul Qohhar

Jr. Ast. Enviro Hygine & Industries Juwarin Jr. Spv. GA Dwi Jarwanto Jr. Spv Retail Fuel SS Rani Rikawati

Spv. Receiving, Storage and Distribution Hendarsyah Latief Operation Commander - Spv. Receiving & Storage - Spv. Distribution - Spv. Marine Administration Sr. Spv. HSSE Ryan Hendra Ast. HSSE Indra Perkasa

Sr. Spv. Maintenance Planning & Service Risman Eko Prasetyo

Spv. Maintenance Planning Gamma Kusuma P.S

Jr. Spv. Maintenance Service Aji Maulana Akbar Adm.HSSE & Sekretaris OH

(23)
(24)
(25)

9 BAB III

KEGIATAN KERJA PRAKTIK

3.1 Tempat dan waktu pelaksanaan Kerja Praktik

Kegiatan kerja praktik dilaksanakan di Terminal BBM Plumpang Jakarta Group yang berlokasi di RT.01/RW.03, Rawabadak Selatan, Koja, Jakarta Utara. Terhitung dimulai tanggal 8 Juli 2019 sampai dengan 31 Agustus 2019. Dengan waktu kegiatan yang berlangsung ditunjukkan dalam bentuk tabel 1 berikut ini.

Tabel 2 Kegiatan Kerja Praktik

No Uraian kegiatan Minggu

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Orientasi MOR III dan TBBM Plumpang 2 Studi Literatur 3 Praktik Lapangan 4 Penyelesaian Kerja Praktik Ket: : waktu pelaksanaan

Selama 8 minggu melaksanakan kerja praktik mahasiswa memperoleh data dengan melakukan kegiatan lapangan dan interview langsung dengan fungsi yang dituju, baik dengan pekerja organik maupun TKJP. Rutinitas kegiatan sehari-hari yang dilakukan di kantor berupa briefing sedangkan kegiatan wawancara yang dilakukan mahasiswa selama kerja praktik membahas seputar kegiatan penerimaan yang dilakukan fungsi distribusi dan kegiatan penimbunan dilakukan oleh fungsi Receive and Storage. Hasil yang diperoleh adalah penjelasan kegiatan umum yang dilakukan.

.

3.1.1 Briefing Pagi Kantor

Dalam mengawali aktifitas sebelum memulai pekerjaan, setiap jam 07.30, Operation Head, elemen-elemen karyawan organik dan sejumlah TKJP yang terlibat dikumpulkan dalam lobi kantor untuk melakukan briefing-- didalamnya

(26)

10

memberikan pengarahan kegiatan harian, dan membahas segala jenis aktivitas yang telah dilakukan pada hari sebelumnya, dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat itu. Umumnya briefing pagi berlangsung selama 30 menit.

3.1.2 Pengenalan Lingkungan Terminal BBM Jakarta Group-Plumpang Kegiatan berlangsung pada hari pertama kerja praktik dilaksanakan, mahasiswa diberikan pengarahan materi induction berupa profil perusahaan dan alur operasi di TBBM Jakarta Group. Materi profil perusahaan tersebut menjelaskan ruang lingkup pekerjaan di fasilitas Terminal BBM Plumpang. Beroperasi pada tahun 1974 dengan luas area 48.352 ha, Terminal BBM Jakarta Group dipimpin oleh seorang Operation Head dan dibantu oleh 45 karyawan, dan 402 pekerja TKJP. Sebanyak 45 pekerja tersebut terdiri atas 40 pekerja organik dan 5 karyawan keuangan. Terdapat 40 pekerja organik yang dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis berdasarkan jam kerjanya yaitu pekerja non-shift dan pekerja shift. Pekerja shift adalah pekerja yang standby selama 24 jam dengan pembagian waktu kerja 8 jam/shift terdiri dari 4 pekerja organik dimasing-masing fungsi Receive Storage & Distribution (RSD) sedangkan pekerja non-shift adalah pekerja mengikuti jam kerja 07.00-16.00.

Pada proses penerimaan, fungsi yang bertugas dan bertanggung jawab dalam kelancaran kegiatan terdiri atas fungsi R&S, Distribusi, dan HSSE. Pada proses penimbunan, fungsi yang bertanggung jawab meliputi fungsi R&S, HSSE dan Quality and Quantity. Kegiatan terakhir adalah proses penyaluran dilakukan oleh fungsi R&S, Distribusi dan NGS. Alur operasi yang berlangsung di TBBM Jakarta Group ditunjukkan dalam skema berikut.

(27)

11

Gambar 3. Alur bisnis Terminal BBM Jakarta Group

3.2 Kegiatan fungsi Distribusi

Fungsi Distribusi adalah fungsi organik di TBBM yang memiliki tugas mengurus administrasi, pemesanan & pendataan demand pelanggan berupa LO dan PO melalui aplikasi mySAP yang secara otomatis penjadwalan diatur oleh sistem MS2 yang berisi penjadwalan ritase mobil tangki (MT) dan mengonfirmasi validasi loading product. Skema kegiatan alur bisnis yang dilakukan fungsi distribusi adalah sebagai berikut.

Gambar 4. Alur kegiatan fungi Distribusi untuk pemesanan BBM.

Industri TNI/POLRI Retail NGS TBBM Tj. Priok TBBM Plumpang TBBM Balongan Kapal PMB Pesanan diterima melalui system MS2 MS2

SPBU melakukan permintaan pengiriman BBM

Terminal BBM

Bank SPBU

TBBM melakukan crosscheck dan optimasi serta broadcast outputnya BBM dikirim ke SPBU sesuai

MS2 dan Ketersediaan LO Pertamina Patra Niaga Penyiapan MT & AMT Mobil Tangki (MT) dan

Awak Mobil Tangki (AMT)

Patra Niaga Interface Intertank Konsumen 1. Kerosin 2. Solar 3. Dex 4. Fame 5. MFO 180 & 380 6. LAWS 2 & 5 1. Premium 2. Pertamax 3. 3. Pertamax Turbo 4. Dex 5. Fame 6. Solar Flushing

(28)

12

Kegiatan berlangsung dengan diawali pemesanan sms dan penebusan BBM melalui bank oleh pelanggan/pihak SPBU berupa Sales Order (SO), kemudian setoran yang diterima host to host secara online atau SO divalidasi dengan pesan sms yang diterima melalui sistem MS2 oleh pihak fungsi distribusi. Ketika sms sudah masuk ke sistem MS2, fungsi distribusi akan mencetak lembar Loading Order (LO). Pengaturan jadwal ritase sudah secara otomatis diatur oleh sistem MS2 sedangkan layanan jual melaksanakan optimalisasi pengiriman di MS2, dari hasil optimalisasi MS2 secara otomatis, data akan terekspor ke autoschedulling di NGS. LO akan diberikan ke Awak Mobil Tangki (AMT) beserta Delivery Order (DO) dan segel yang disesuaikan dengan permintaan pengiriman banyaknya buttom loading yang digunakan, pada hari pengiriman ke SPBU.Mobil tangki melakukan pengisian mengikuti jadwal ritase yang terdaftar sesuai Loading Instruction yang valid. Setelah selesai melakukan pengisian mobil tangki melakukan pengiriman ke SPBU.

3.3 Kegiatan fungsi R&S

Fungsi Receive & Storage di Terminal BBM merupakan fungsi operasional yang bertugas dalam menangani segala jenis kegiatan yang berhubungan dengan penerimaan, penimbunan dan penyaluran produk baik administrasi maupun operasionalnya. Dalam rutinitas operasional hal yang menjadi perhatian adalah pemantauan kondisi dan pengoperasian perangkat metering, mulai dari kondisi pipa, valve, dan tangki baik penerimaan dari TBBM Balongan, kapal tanker, maupun intertank dari TBBM Tanjung Priok. Sarana dan Fasilitas yang menunjang kerja fungsi R&S terdiri atas ruang control panel dan ruang monitor dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

(a) (b) (c)

Gambar 5 (a) Ruang panel. (b) tampilan HMI MOV. (c) Monitor R&S.

Jika dibahas lebih mendalam kegiatan difungsi Receive & Storage dapat dijabarkan sebagai berikut.

(29)

13 3.3.1 Penerimaan Produk dari TBBM Balongan

TBBM Plumpang menerima data dan mengevaluasi Batch Program dari Balongan untuk 1 bulan, kemudian fungsi distribusi dan R&S Plumpang melakukan pembuatan surat instruksi atau disposisi untuk pelaksanaan. Supervisor R&S memilih kebutuhan tangki timbun dan melakukan pengecekan serta pengawasan kelayakan untuk proses penerimaan. Proses penerimaan produk dilakukan dengan menyesuaikan batch, dalam memulai batch baru dikenal istilah interface atau kegiatan pergantian produk dalam satu pipa multi-produk, dengan kategori pengamatan, jika dari produk antar gasoline cukup diamati perubahan dari warna sedangkan jika pergantian produk gasoil ke gasoline seperti dari Solar ke Premium atau sebaliknya, pengamatan dilakukan dengan melakukan pengukuran densitas begitupun berlaku untuk produk gasoline ke gasoil dan sebaliknya. Lamanya estimasi penerimaan produk diukur pada sistem HMI metering.

Setelah produk diterima maka akan dilakukan verifikasi data produk antara hasil pengukuran Automatic Tank Gauge (ATG) dengan dipping dan diambil sampel produk untuk diuji kualitas mutu produk di lab uji. Setelah kegiatan lapangan selesai maka akan dilakukan pembuatan laporan CQD dan berita acara penerimaan TBBM Plumpang, laporan di submit melalui sistem mySAP. Nomor shipment dan data penerimaan yang diterima dimasukan ke mySAP dan diproses ke fungsi keuangan.

3.3.2 Penerimaan Produk dari PMB Tanjung Priok

Dalam penerimaan produk dari kapal tanker, TBBM Plumpang menerima produk berupa Premium, Pertamax, Pertamax Turbo, Solar, Pertadex, FAME. Ketika pengiriman dari PMB beralih produk dikenal istilah flushing atau kegiatan pergantian produk di PMB dengan cara mendorong cairan produk sebelumnya yang masih terdapat dalam pipa ke dalam tangki timbun, setelahnya valve tangki timbun yang telah di flushing ditutup dan dibuat jalur pipa untuk produk baru yang akan diterima.

(30)

14

3.3.3 Pengukuran Tangki Timbun

Dalam melakukan pengukuran ketinggian level minyak tangki timbun, terdapat 2 standar metode pengukuran yang dilakukan di PT. Pertamina (Persero) yaitu dipping dan ATG. Dipping adalah kegiatan melakukan pengukuran parameter-parameter cairan tangki meliputi level produk dan air, suhu serta densitas. Dalam pengukuran level air dan minyak menggunakan alat depth tape yang terdiri dari meteran dan bandul displacer yang masing-masing diolesi pasta minyak dan pasta air, ketika sudah menyentuh permukaan cairan yang berbeda maka pasta tersebut akan berubah warna, perubahan warna pada meter ukur tersebut dijadikan indikator pengukuran. Fungsi dilakukan dipping manual adalah untuk validasi dan verifikasi pengukuran pada ATG akurat. Kemudian pengukuran ATG adalah pengukuran dengan teknologi sehingga sistem pengukuran sudah otomatis dan cukup mengamati hasil pembacaan parameter pada layar komputer.

3.3.4 Intertank

Intertank adalah proses kegiatan pendistribusian produk dari satu tangki ke tangki lain yang memiliki label produk sejenis. Kegiatan intertank akan dilaksanakan ketika tangki timbun dalam kondisi build up stock dan kondisi operasional lain yang membutuhkan pengalihan produk ke tangki lain.

3.3.5 Safety Patrol & Control

Rutinitas setiap hari yang dilakukan fungsi R&S baik organic maupun TKJP melakukan penjadwalan pengawasan dan pemantauan kondisi sarfas dan lapangan di area tank yard dengan dibagi kedalam 11 checkpoint.

3.3.6 Verifikasi ATG

Kegiatan verifikasi ATG dilakukan setiap selesai kegiatan penerimaan produk, kegiatan verifikasi ATG meliputi pemantauan ke tangki bersangkutan, membandingkan dipping dengan pembacaan dari ATG, jika terjadi selisih pengukuran diluar toleransi maka harus dilakukan pengaturan ulang. nilai error yang disetujui didasarkan dari standar Pertamina dan standar spesifikasi beserta datasheet produk alat.

(31)
(32)
(33)

15 BAB IV

HASIL KERJA PRAKTIK

4.1 Pembahasan Hasil Kerja Praktik

Berdasarkan kegiatan yang dilakukan selama Kerja Praktik, hal yang dipelajari lebih lanjut adalah konsep kerja Automatic Tank Gauge pada tangki penimbunan. Automatic Tank Gauge merupakan alat ukur level ketinggian cairan dalam tangki timbun. Di Terminal BBM Jakarta Group saat ini berlangsung peralihan acuan standar kinerja utama pengukuran sebagai custody transfer, dari pengukuran manual (dipping) menjadi pengukuran otomatis dengan alat ukur Automatic Tank Gauge (ATG). TBBM Jakarta Group area Plumpang saat ini sudah menjadikan ATG sebagai acuan utama custody transfer yang terverifikasi dan sudah terintegrasi langsung terhubung dengan sistem mySAP. Sedangkan di area Tanjung Priok sedang dalam masa pengadaan dan verifikasi ATG. PT. Pertamina adalah industri bisnis energi dan minyak utama yang ada di Indonesia dan menjadi standar perindustrian minyak yang ada di Indonesia. Dengan mengetahui bahwa acuan utama custody transfer dalam pengukuran parameter pada tangki timbun di Terminal BBM sudah mengarah kepada kebutuhan automatisasi berupa Automatic Tank Gauge, maka pengetahuan terhadap pembahasan ATG dibutuhkan dalam mengikuti trend perkembangan teknologi yang digunakan.

4.1.1 Tangki Timbun

Tangki timbun merupakan fasilitas utama di area zona terbatas yang terdapat di Terminal BBM Plumpang sebagai wadah untuk menampung dan menyimpan sementara produk-produk BBM yang akan disalurkanterdapat di TBBM Plumpang dengan besar kapasitas tangki yang berbeda-beda menyesuaikan dengan jenis produknya. Dengan detail kapasitas tangki tiap produk ditunjukkan pada tabel berikut.

(34)

16

Tabel 2 Data kapasitas tangki timbun

Nomor Tangki Volume Safe Capacity (KL) Dead Stock (KL) Nomor Tangki Volume Safe Capacity (KL) Dead Stock (KL) 01 Ptx Turbo 11.106 751 (7%) 13 Ptx 93.078 13.091 (14%) 02 Ptx Turbo 14 P 117.385 16.963 (14%) 03 Ptx 93.078 13.091 (14%) 15 P 04 Ptx 16 P 05 Ptx 17 P 06 FAME 21.563 2.206 (10%) 18 P 07 FAME 19 Ptx 93.078 13.091 (14%) 08 Ptx 93.078 13.091 (14%) 20 S 58.950 3.499 (6%) 09 P 117.385 16.963 (14%) 21 Ptx 93.078 13.091 (14%) 10 P 22 S 58.950 3.499 (6%) 11 S 58.950 3.499 (6%) 23 Dex 9.461 1.044 (11%) 12 S 24 S 58.950 3.499 (6%) FS-A 1.021 FS-B 1.021 Keterangan: P = Premium Ptx = Pertamax Ptx Turbo = Pertamax Turbo

S = Solar

(35)

17 Pemantauan hasil pembacaan level tangki dapat dilakukan dari tiga lokasi, yaitu pertama melalui layar LCD pada ATG di atas tangki timbun, kedua dapat dilihat melalui layar TSI dilantai dasar, dan dapat dilihat dari layar monitor di control room.

(a) (b) (c)

Gambar 6 (a) Monitor ATG. (b) Monitor TSI. (c) Monitor Control room.

Dalam melakukan operasi penyaluran dalam pipa ke tangki, pembuatan jalur dalam pipa dibutuhkan dengan mengatur valve yang akan di open dan close. Dalam monitor HMI pada gambar 5(b) selain berfungsi untuk mengamati jalur pipa, dapat juga digunakan dalam melakukan pengaturan Motor Operate Valve secara remote. Dengan mengetuk lambang valve pada monitor tersebut.

4.1.2 Manual dipping

Pengukuran secara manual dilakukan untuk memastikan validitas dari ATG. Kegiatan dipping dilakukan dengan melakukan pengukuran secara manual dari atas tangki. Pengukuran yang dilakukan terdiri dari 4 macam kegiatan yaitu pengukuran level minyak dan air, pengukuran temperatur minyak dan pengukuran densitas minyak.

Pengukuran level dilakukan dengan memasukan depth tape beserta displacer kedalam tangki melalui dipping slot. Sebelumnya, meteran depth tape dilapisi pasta minyak dan displacer dilapisi pasta air, depth tape untuk mengukur level minyak sedangkan displacer sebagai pemberat dan pengukur level air.

(36)

18

(a) (b) (c)

Gambar 7 (a) Hasil pengukuran level minyak dengan pasta minyak. (b) Proses dipping. (c) Hasil pengukuran level air dengan pasta air.

Pada pengukuran diatas level minyak terbaca 978 mm dan diikuti level air 96 mm. Sedangkan untuk pengukuran densitas dan temperatur dilakukan dengan mengambil sampel minyak sebanyak 1 liter kedalam gelas sampel.

(a) (b)

Gambar 8 (a) Hasil pengukuran densitas minyak. (b) Hasil pengukuran suhu.

4.1.3 Automatic Tank Gauge

Pengukuran parameter pada tangki dilakukan dengan Automatic Tank Gauge (ATG) yang mampu melakukan pengukuran level minyak, level air, densitas dan temperature. ATG yang digunakan di Terminal BBM Plumpang adalah ATG tipe servo merk Honeywell enraf seri 954.

(37)

19 Struktur instalasi ATG pada tangki timbun ditunjukan pada skema berikut.

(a) (b)

Gambar 10 (a) Struktur ATG dan stelling weel (b) Struktur stelling weel hingga dasar.

Untuk penggunaan custody transfer, keakuratan ATG dalam mengukur level produk dan air setelah terpasang diatas tangki adalah maksimal ± 3 mm selisih dengan pengukuran manual dipping. Oleh karena itu, jika terdapat perbedaan pengukuran yang melebihi batas toleransi, ATG harus dikalibrasi ulang.

4.1.3.1 Prinsip Kerja

ATG tipe servo bekerja dalam mengukur level minyak dengan memanfaatkan peran perhitungan putaran motor servo dalam menaik-turunkan displacer dari posisinya di udara ke dalam minyak yang diukur. Untuk itu, ATG servo menggunakan displacer berdensitas tertentu menyesuaikan dengan viskositas minyak, sebagai elemen pengukur pertama yang terhubung dengan tranduser melalui sling wire. Ketika displacer menyentuh permukaan cairan produk, terjadi perubahan besar gaya tarik yang dialami displacer akibat gaya apung, apabila perubahan gaya tersebut terdeteksi oleh tranduser gaya, Servo Processor Unit akan menghentikan kerja motor stepper dan mengkonversi jumlah step yang diberikan motor menjadi nilai level permukaan minyak terhadap titik tertinggi tangki (TT) yang telah ditentukan sebelumnya. Satu rotasi penuh yang dilakukan motor stepper sebanding dengan panjang 10 mm gerakan vertikal displacer. Satu revolusi terbagi menjadi 200 step, oleh karena itu satu step atau 1/200 revolusi motor setara dengan 0,05 mm. Setiap step yang dilakukan motor akan dibaca oleh encoder disk. Dari

(38)

20

satuan ketinggian dikonversi menjadi satuan volume. Jika digambarkan dalam blok diagram, alur kerja pembacaan level dengan ATG ditunjukkan sebagai berikut.

Gambar 11. Blok diagram kerja pengukuran level pada ATG 954 servo.

Adapun wiring ATG terbagi menjadi wiring power dan wiring data communication. Untuk wiring communication membutuhkan tegangan DC 5V, blok diagram komunikasi kabel ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 12. Blok diagram koneksi ATG dari field sampai control room.

Dengan asumsi dimulai dari pemasangan pertama alat pada tangki, penggunaan ATG harus diset pertama kali dengan modul Portable Enraf Terminal (PET), dalam PET diatur penggunaan ATG sesuai dengan kebutuhan pengukuran pada setiap tangki timbun. Umumnya, di Terminal BBM Plumpang kebutuhan akan pengukuran terdiri atas: pengukuran level minyak, level air, densitas, suhu,

Legenda CPU Sensor Tranduser Aktuator Motor Stepper Encoder Tranduser Gaya Servo Processing Unit

CIU Instruksi diset melalui Portable Enraf Terminal Monitor HMI Density PROMS

VITO temperature TSI 977

Automatic Tank Gauge PC

Legenda

CPU Tampilan

(39)

21 scanning tinggi tangki maksimal, volume tangki yang terisi produk, dan pengukuran tangki area ullage. Untuk melakukan pengukuran suhu ATG diintegrasikan dengan thermosensor thermometer untuk melakukan pengukuran suhu dibeberapa titik. Pada sensor hanya dilakukan pengukuran suhu saja, data pengukuran langsung ditransmisikan ke modul proses VITO yang terdapat pada kompartemen elektronik di ATG melalui kabel komunikasi.

Gambar 13. VITO thermosensor thermometer.

Dari ATG, data ditransmisikan ke Tank Side Indicator (TSI) dan CIU Prime. Pada TSI hanya untuk pembacaan output dan pada CIU yang berfungsi sebagai field bus data, dikumpulkan data untuk setiap tangki timbun yang terpasang ATG untuk diproses ke CPU ATG.

4.1.3.2 Bagian-bagian ATG

Dalam menjalankan fungsi sebagai alat ukur ketinggian level, ATG terdiri dari komponen elektronik dan mekanik. Dalam satu kesatuan bentuk fisik ATG dapat dilihat pada gambar 12 berikut.

Gambar 14. Kompartemen ATG.

Pendesainan ATG terbagi menjadi 4 bagian kompartemen sebagai berikut: 1) Kompartemen Terminal Terminal Kompartemen Drum Kompartemen Elektronik Kompartemen displacer

(40)

22

Pada bagian terminal merupakan tempat ATG terkoneksi langsung dengan suplai daya. Daya tersebut dibagi menjadi dua kebutuhan suplai, yang pertama untuk suplai tegangan motor dengan tegangan 220 V dan yang kedua untuk suplai tegangan perangkat elektronik sebesar 5 V.

2) Kompartemen drum wiring

Pada bagian ini adalah tempat meletakkan drum wiring yang berisi lilitan kawat pengukuran dan terhubung langsung dengan displacer.

3) Kompartemen Displacer

Pada bagian ini adalah tempat displacer berada. Ukuran dan jenis displacer yang digunakan bergantung sesuai kebutuhan jenis viskositas produk tersebut.

4) Kompartemen Elektronik

Pada bagian elektronik berisi sejumlah mikroprosesor dan tranduser yang berfungsi untuk memproses data mekanikal kedalam bentuk pulsa listrik, kemudian data ditransmisikan ke XPU-2 ATG, dari ATG data ditransmisikan ke Terminal Side Indicator (TSI) dan ke Personal Computer di control room. Adapun kompartemen elektronik terdiri dari 4 layer papan PCB, yaitu:

a) SPU (Servo Processing Unit)

Pada papan SPU berfungsi untuk memproses instruksi hidup-mati motor stepper, memproses informasi putaran dan membaca banyaknya putaran dengan encoder disk.

b) HCU board (opsional)

HCU board merupakan board tambahan yang berfungsi memproses dan membaca data dari unit VITO temperature dan densitas.

c) XPU-2 (Xmission Processing Unit)

XPU-2 adalah layar LCD pada unit ATG berfungsi untuk melihat pembacaan angka dari hasil pengukuran.

d) GPS (Gauge Power Supply)

Bagian dari ATG yang terhubung dengan kabel sumber tegangan, berfungsi untuk memberikan daya untuk perangkat elektronik dan motor servo.

(41)

23

e) Force Tranducer

Tranduser berikut berfungsi dalam membaca perubahan tekanan atau gaya apung dari displacer dan sinyal ditransmisikan ke bagian processing unit untuk dilakukan pengolahan data.

f) Encoder disk

Bagian ini berfungsi untuk melakukan pengukuran atau pembacaan putaran pada motor stepper, hasil pembacaan pada encoder dalam satuan panjang akan di terjemahkan oleh processing unit untuk dikonversi kedalam satuan volume.

4.1.3.3 Nameplate

Penggunaan elektronik pada industri harus disesuaikan dengan batasan zona berbahaya yang diterapkan, pada area tangki timbun merupakan area intensitas tinggi mengeluarkan gas mudah terbakar atau zona 0, ATG yang dipasang harus memenuhi kriteria flammable proof, karena alat terpasang dilahan terbuka maka harus tahan terhadap gas, debu, dan hujan untuk mengetahuinya dapat dilihat dari spesifikasi nameplate pada alat.

Gambar 15. Nameplate ATG servo Honeywell enraf series 854 tipe servo.

Pada nameplate klasifikasi keamanan tertulis bahwa ATG termasuk alat untuk area hazardous Class I, Div. 1, Groups C dan D atau standar NEMA kategori 4. Bekerja dengan baik hingga tekanan 0.6 MPa namun untuk pemasangan di TBBM Plumpang dibatasi hingga tekanan 100 kPa. Panjang maksimal sling-wire dapat mengukur hingga level 27000 mm.

(42)
(43)
(44)

24 BAB V

TINJAUAN TEORITIS

5.1 Automatic Tank Gauging

Instrumen pengukur level otomatis atau yang dikenal dengan ATG (Automatic Tank Gauging) merupakan sebuah alat instrumen ukur level yang dioperasikan pada kegiatan pengukuran di dalam skala industri. ATG adalah instrumen level otomatis yang berfungsi memantau level fluida selama periode waktu tertentu. ATG dapat memberikan informasi level secara real time dalam satuan ukur panjang. Selain itu ATG dapat memberikan semua informasi penting tentang keadaan tangki seperti: volume fluida di dalam tangki, suhu di dalam tangki dan alarm peringatan level tangki saat permukaan fluida terbaca LOW dan HIGH. Prinsip kerja ATG didasarkan pada pendeteksian variasi gaya apung displacer. Displacer terdiri dari sling-wire pengukuran yang kuat dan fleksibel, yang disimpan di dalam drum, yang merupakan tempat lilitan sling-wire. Poros drum dihubungkan dengan stepper motor melalui kopling magnetik. Sebagai hasilnya, tenaga putaran pada coupling magnet berubah dan perubahan ini diukur oleh tranduser gaya. Tranduser gaya berfungsi sebagai pendeteksi berat (wire drum, wire dan displacer). Sinyal hasil pengukuran tranduser ini yang menunjukan posisi displacer dikirim melalui rotary encoder ke Central Processing Unit (CPU) [7]. Berat displacer diukur oleh transducer gaya. Keluaran aktual dari transducer dibandingkan dengan berat displacer yang diharapkan. Jika terdapat perbedaan antara nilai terukur dengan nilai yang diharapkan, modul software kontrol melakukan penyesuaian posisi motor stepper. Secara umum, bagian-bagian kerja ATG dapat ditunjukkan oleh Gambar 13.

(a)

(45)

25

5.2 Displacer

Displacer merupakan alat ukur level fluida, dengan memiliki 2 bentuk yaitu kanonikal dan jenis dan berat displacer yang digunakan mengikuti tingkat viskositas dari cairan tersebut. Prinsip kerja dari level transmitter ini menggunakan prinsip Bouyancy yaitu atas dasar Hukum Archimides yang mengatakan bahwa: “Bilamana suatu benda ditenggelamkan ke dalam fluida maka benda tersebut akan mendapat gaya tekan ke atas dari fluida sebesar berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut”. Oleh karenanya berat dari displacer akan berkurang sebesar berat gaya tekan ke atas dari fluida [7].

5.3 CIU

CIU adalah perangkat fieldbus yang berfungsi untuk mengolah dan mengintegrasikan sensor dan pengukuran pada lapangan dengan CPU dan kontroler di ruang kontrol. CIU tersebut terdiri atas 2 modul yaitu CIU Prime dan CIU Plus. CIU Prime bertindak sebagai antarmuka antara peralatan lapangan Honeywell Enraf dan sistem host. CIU Plus pada dasarnya adalah modul perhitungan, data dari semua aktuator pada tangki seperti volume dan estimasi waktu dihitung oleh CIU Plus setelah memperoleh data yang dibutuhkan dari bus komunikasi CIU Prime. Bentuk modular kedua CIU terhubung pada satu papan prosesor yang sama [8].

5.4 Motor Stepper

Motor Stepper adalah salah satu alat mesin listrik yang mengkoversi sinyal-sinyal listrik kedalam mekanis diskrit, motor dc berikut dikendalikan dengan pulsa digital. Spindel pada motor stepper dapat berputar akibat menerima sinyal step. Urutan sinyal pulsa dihubungkan langsung dengan arah rotasi spindle, hal ini mengakibatkan motor stepper memiliki tingkat presisi yang tinggi dibandingkan motor DC biasa. Motor ini dibagi menjadi 3 jenis yaitu Variable Reluctance (VR), Permanent Magnet (PM) dan PM-hybrid. Prinsip kerja didasarkan dari prinsip kerja kutub magnet

(46)

26 Gambar 17. Cara kerja motor stepper [14].

Lilitan stator dititik a dialiri arus maka lilitan stator a merupakan kutub selatan, stator b merupakan kutub utara dan titik c dan d dialiri arus juga sehingga titik c berpolaritas utara dan d berpolaritas selatan.

5.5 Encoder Disk

Rotary encoder adalah alat elektromekanik yang dapat memonitor gerakan dan posisi. Rotary encoder umumnya menggunakan sensor optik untuk menghasilkan serial pulsa yang dapat diartikan menjadi gerakan, posisi, dan arah. Sehingga posisi sudut suatu poros benda berputar dapat diolah menjadi informasi berupa kode digital oleh rotary encoder. Rotary encoder tersusun dari piringan tipis yang memiliki lubang-lubang pada bagian lingkaran piringan. LED ditempatkan pada salah satu sisi piringan sehingga cahaya akan menuju ke piringan. Di sisi lain, photo-transistor diletakkan sehingga photo-transistor ini dapat mendeteksi cahaya dari LED yang berseberangan. Piringan tipis dikopel dengan poros motor, apabila posisi piringan mengakibatkan cahaya dari LED dapat mencapai photo-transistor melalui lubang-lubang yang ada, maka photo-transistor akan mengalami saturasi dan akan menghasilkan pulsa gelombang persegi [12].

5.6 Daerah berbahaya (Hazardous Area)

Instalasi peralatan listrik di area industri yang memiliki potensi kebakaran atau ledakan membutuhkan peralatan bersertifikat khusus. Peralatan yang dirancang untuk beroperasi di lokasi berbahaya disertifikasi dan dilabeli oleh lembaga sertifikasi. Lokasi berbahaya diklasifikasikan berdasarkan sifat-sifat uap yang mudah terbakar, cairan, gas, debu atau serat yang mudah terbakar dan kemungkinan

(47)

27

area mengandung konsentrasi atau kuantitas yang mudah terbakar. Dalam melakukan pengamanan alat kelistrikan terdapat dua metode proteksi yaitu keamanan intrinsik, explosion-proof dan tahan api, sedangkan pengelompokkan lokasi alat kelistrikan dapat dilihat melalui standar IP (Ingress Protection), dan NEMA [5].

Sistem pengelompokkan lokasi berbahaya menurut International Electrotechnical Commission (IEC) dikelompokkan menjadi zones dan groups. Tabel 3. Klasifikasi area dan material di zona berbahaya.

Classification Type Information North America

Standard

Zones 0 Continous Hazard.

Division I 1 Intermittent Hazard.

2 Hazard under Abnormal

Condition. Division II Groups A Acetylene. Class I – Flammable Gases or Vapors B Hydrogen.

C Ethylene, ethyl ether, Cyclopropane. D Acetone, benzene, butane,

propane.

E Metal dust.

Class II – Combustible Dusts F Carbon, coal, coke dust.

G Flour, startch, grain dust. Not

Group Rayon, Cotton, wood.

Class III – Ignitible Fibers

5.7 Proteksi Kelistrikan

IEC memiliki sistem untuk mengklasifikasikan tingkat perlindungan yang diberikan oleh permukaan terhadap masuknya zat padat dan cairan. Sistem ini dijelaskan dalam Standar IEC 529 dan terdiri dari huruf "IP" diikuti oleh angka dua

(48)

28 digit. Digit pertama mewakili tingkat perlindungan terhadap masuknya partikel jenis debu. Digit kedua mewakili tingkat perlindungan terhadap penetrasi air [5]. Tabel 4. IP Codes.

Digit pertama Proteksi Debu Digit Kedua Proteksi Air

0 Tidak terlindungi 0 Tidak terlindungi

1 Ukuran 50 mm atau lebih

1 Terlindung dari tetesan air vertical. 2 Ukuran 12.5 mm atau

lebih

2 Terlindung dari tetesan air secara vertikal dengan penutup miring

hingga 15 derajat 3 Ukuran 2.5 mm atau lebih 3 Spraying water 4 Ukuran 1 mm atau lebih 4 Cipratan air

5 Terlindung dari debu 5 Water jets

6 Kedap debu 6 Powerful water jets

7 Effects of temporary immersion in water 8 Effects of continuous

immersion in water

5.8 NEMA tipe 4

National Electrical Manufacturers Association (NEMA) memiliki standar tipe proteksi untuk housing alat kelistrikan. Untuk NEMA tipe 4 digunakan untuk penggunaan alat terpasang di outdoor dan mampu melindungi terhadap badai berdebu, hujan, cipratan air dan semprotan air langsung serta tahan terhadap beku es di permukaannya [5]. Meskipun ATG termasuk kedalam NEMA tipe 4, ATG tetap dapat digunakan pada zona 0 dengan syarat kelistrikan pada ATG sudah terlindungi dengan proteksi atau housing yang explotion proof.

(49)
(50)
(51)

29 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Pelaksanaan Kerja Praktik di Terminal BBM Jakarta Group PT. Pertamina (Persero) adalah berupa pembelajaran proses alur bisnis dan pengamatan langsung ke lapangan kegiatan proses penerimaan, penimbunan, dan penyaluran. Selama 8 minggu pelaksanaan Kerja Praktik mahasiswa mengenal lebih dekat dunia kerja dan memahami tugas fungsi Receive & Storage yang bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan operasional penyaluran produk dalam pipa berupa pembuatan jalur pipa untuk melakukan penerimaan. Pengaturan buka-tutup valve/MOV serta pengawasan penuh terhadap area sekitar tank yard. Pemahaman terhadap pengoperasian Automatic Tank Gauge juga semakin jelas, prinsip pengukuran yang dilakukan adalah melakukan pembacaan putaran servo menggunakan encoder, dari data yang dibaca servo berupa ketinggian dikalkulasikan kedalam satuan volume, dan dalam kegiatan operasinya jika pengukuran mengalami ketidakakuratan, maka perlu segera dicari faktor penyebab dan tindakan perawatan terhadap ATG harus segera dilaksanakan, namun tindakan yang diambil bergantung kepada keputusan supervisor Receive & Storage.

6.2 Saran

Selama 8 minggu melaksanakan kegiatan kerja praktik di Terminal BBM Jakarta Group, terdapat beberapa saran yang dapat membangun kegiatan pekerjaan yang berlangsung pada sisi pelaksanaan operasi. Saran yang dapat diberikan adalah melakukan pengarsipan dokumen kelistrikan yang tertata baik, terutama dokumen dari projek-projek yang telah terpasang pada instalasi Terminal BBM seperti layout wiring area tangki timbun baik layout grounding tangki, wiring ATG dan MOV serta wiring pompa motor listrik, dan terakhir dokumen alur kerja dari setiap perangkat teknologi yang terpasang, sehingga kedepannya jika terjadi kegagalan sistem kelistrikan, layout dan alur diagram tersebut dapat membantu proses perbaikan yang harus dilakukan.

(52)

30

DAFTAR PUSTAKA

[1] Pertamina, “Strengthening Commitment Securing Energy Tema Strengthening Commitment ,” 2018.

[2] PT Pertamina (Persero) sejarah.

http://www.pertamina.com/company-profile/sejarah-pertamina/ (Diakses pada 20 Agustus 2019)

[3] PT Pertamina (Persero) profile, visi dan misi. http://www.pertamina.com/company-profile/visi-dan-misi/ (Diakses pada 20 Agustus 2019)

[4] PT Pertamina (Persero) tata nilai perusahaan. http://www.pertamina.com/company-profile/tata-nilai-perusahaan/ (Diakses pada 20 Agustus 2019)

[5] H. L. Certification and F. E. Equipment, “Hazardous Location Certification For Electrical Equipment,” pp. 1–6.

[6] B. V Enraf, “Installation guide 854 ATG Installation guide 854 Advanced Technology Gauge,” 2010.

[7] Automatic Tank Gauge

http://jurnal.akamigas.ac.id/index.php/jesdm/article/view/16/36/ (Diakses 8 Agustus 2019)

[8] I. L. B.-E. . 2016. . F. F. National, “Fieldbus: Foundation Fieldbus Overview,” no. January, 2011.

[9] NEMA, “NEMA Enclosure Types from NEMA 250-2003,” pp. 1–9, 2005. [10] H. Sulistyo and F. F. Akbar, “Prototipe Automatic Tank Gauging Optik

untuk Pengukuran Level Fluida Statik,” J. Otomasi Kontrol dan Instrumentasi, vol. 6, no. 2, p. 121, 2015.

[11] F. K. M. Ui, “Penilaian Risiko..., Yunita Karmilasari, FKM UI, 2011,” 2011. [12] Rotary encoder https://konversi.wordpress.com/2009/06/12/sekilas-rotary-encoder/ (Diakses 7 September 2019) [13] Motor Stepper http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/195 912311985031-JAJA_KUSTIJA/MEKATRONIKA_MODUL_9.pdf (Diakses 7 September 2019).

(53)

31 LAMPIRAN

(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)

Figur

Gambar 2 Layout Area Terminal BBM Jakarta Group Area Plumpang.

Gambar 2

Layout Area Terminal BBM Jakarta Group Area Plumpang. p.20
Gambar 2. Struktur Organisasi di TBBM Jakarta Group

Gambar 2.

Struktur Organisasi di TBBM Jakarta Group p.22
Tabel 2 Kegiatan Kerja Praktik

Tabel 2

Kegiatan Kerja Praktik p.25
Gambar 4. Alur kegiatan fungi Distribusi untuk pemesanan BBM.

Gambar 4.

Alur kegiatan fungi Distribusi untuk pemesanan BBM. p.27
Gambar 5 (a) Ruang panel. (b) tampilan HMI MOV. (c) Monitor R&S.

Gambar 5

(a) Ruang panel. (b) tampilan HMI MOV. (c) Monitor R&S. p.28
Tabel 2 Data kapasitas tangki timbun

Tabel 2

Data kapasitas tangki timbun p.34
Gambar 6 (a) Monitor ATG. (b) Monitor TSI. (c) Monitor Control room.

Gambar 6

(a) Monitor ATG. (b) Monitor TSI. (c) Monitor Control room. p.35
Gambar 7 (a) Hasil pengukuran level minyak dengan pasta minyak. (b) Proses dipping.

Gambar 7

(a) Hasil pengukuran level minyak dengan pasta minyak. (b) Proses dipping. p.36
Gambar 10 (a) Struktur ATG dan stelling weel (b) Struktur stelling weel hingga dasar.

Gambar 10

(a) Struktur ATG dan stelling weel (b) Struktur stelling weel hingga dasar. p.37
Gambar 11. Blok diagram kerja pengukuran level pada ATG 954 servo.

Gambar 11.

Blok diagram kerja pengukuran level pada ATG 954 servo. p.38
Gambar 13. VITO thermosensor thermometer.

Gambar 13.

VITO thermosensor thermometer. p.39
Gambar 15. Nameplate ATG servo Honeywell enraf series 854 tipe servo.

Gambar 15.

Nameplate ATG servo Honeywell enraf series 854 tipe servo. p.41
Gambar 16. Penampang bagian pengukuran level dalam ATG.

Gambar 16.

Penampang bagian pengukuran level dalam ATG. p.44
Tabel 3. Klasifikasi area dan material di zona berbahaya.

Tabel 3.

Klasifikasi area dan material di zona berbahaya. p.47
Tabel 4. IP Codes.

Tabel 4.

IP Codes. p.48

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :