Panduan UKAI Sumatif 2017 E5 - Menuju UKAI
Bebas
86
0
0
Teks penuh
(2) APOTEKER MUDA REPUBLIK INDONESIA Tel [Telephone] Fax [Fax] [Website]. PANDUAN UKAI PANDUAN UKAI SUMATIF 2017 SUMATIF 2017 MENUJU UKAI, MENUJU MASA DEPAN EDISI REVISI PANDUAN UKAI FORMATIF 2016.
(3) KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia yang diberikan sehingga penyusunan Panduan UKAI Sumatif 2017 dapat diselesaikan. Panduan UKAI ini dibuat merujuk pada Panduan UKAI Formatif 2016 yang disusun oleh Mahasiswa Alumnus Program Studi Profesi Apoteker yang berasal dari Universitas Gadjah Mada. Panduan ini direvisi dengan merujuk pada gambaran try out UKAI pada 29 Oktober 2016 lalu untuk memudahkan mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker untuk mempelajari materi yang diujikan pada UKAI Sumatif 2017. Konten yang ada dalam panduan ini merupakan hasil saduran yang direvisi kembali dari Panduan UKAI Formatif 2016 untuk memenuhi kebutuhan materi selama persiapan menuju UKAI Sumatif 2017. Pada edisi revisi ini, konten dibagi atas 3 bagian besar, yakni bagian farmasi klinis yang memuat konsep-konsep terkait obat dan farmakoterapi, bagian pharmaceutical science yang mencakup aspek industri farmasi dan analisis kimia, serta bagian etika dan praktek kefarmasian yang membahas praktek profesi apoteker hingga manajemen bisnis apotek. Seperti halnya penyusunan Panduan UKAI Formatif 2016, dalam penyusunan Panduan UKAI Sumatif 2017 ini tentunya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: 1. Penyusun Panduan UKAI Formatif 2016, Alumnus dari Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada atas kerja kersanya sehingga menghasilkan Panduan UKAI Formatif 2016 yang sangat membantu penyusun dalam menyelesaikan Panduan UKAI Sumatif 2017. 2. Rekan-rekan dari Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran atas segala dukungannya dalam penyusunan Panduan UKAI Sumatif 2017. 3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas bantuan dan dukungan yang diberikan, sehingga penyusunan Panduan UKAI Sumatif 2017 dapat diselesaikan. Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan Panduan UKAI Sumatif 2017 ini. Seperti kata pepatah, “tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu, penyusun terbuka untuk kritik dan saran dari berbagai pihak yang membangun demi perbaikan Panduan UKAI ini kedepannya. Semoga Panduan UKAI Sumatif 2017 ini dapat bermanfaat dan membantu rekan-rekan calon Apoteker diseluruh Indonesia. Bandung, 1 Januari 2017. Penyusun. ii.
(4) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... i. KATA PENGANTAR .................................................................................. ii. DAFTAR ISI ................................................................................................ iii. BAGIAN I FARMASI KLINIS .................................................................... 1. 1.1. Penggolongan Obat ........................................................................... 1. 1.2. Konsep Reseptor ............................................................................... 3. 1.3. Konsep Induksi Saraf Simpatis dan Parasimpatis ......................... 3. 1.4. Farmakologi Golongan Obat ........................................................... 4. 1.5. Keamanan Obat dan Toksikologi ................................................... 8. 1.6. Cara Pemakaian Obat........................................................................ 11. 1.7. Penggunaan Obat Off-Label (Unlabeled) ........................................... 11. 1.8. Farmakokinetika................................................................................. 12. 1.9. Kapita Selekta Farmakoterapi .......................................................... 14. BAGIAN II PHARMACEUTICAL SCIENCE ........................................... 55. 2.1. Sediaan Farmasi.................................................................................. 55. 2.2. Uji Stabilitas ........................................................................................ 63. 2.3. Farmasi Industri ................................................................................. 64. 2.4. Konsep Kimia Dasar ......................................................................... 65. 2.5. Kimia Analisis Konvensional ........................................................... 68. 2.6. Kimia Analisis Instrumental ............................................................. 69. BAGIAN III ETIKA DAN PRAKTEK KEFARMASIAN .......................... 73. 3.1. Praktek Apoteker ............................................................................... 73. 3.2. Aturan Hukum Terkait Lainnya ...................................................... 74. 3.3. Praktek Apoteker di Industri Farmasi ............................................ 75. 3.4. Praktek Apoteker di Rumah Sakit ................................................... 76. 3.5. Praktek Apoteker di Puskesmas ...................................................... 77. 3.6. Praktek Apoteker di Apotek ............................................................ 78. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 81. iii.
(5) BAGIAN I FARMASI KLINIS 1.1. Penggolongan Obat Golongan Obat. Logo. Keterangan Dapat digunakan untuk. Obat Bebas. swamedikasi. Dapat digunakan untuk swamedikasi, harus. Obat Bebas Terbatas. diberikan informasi lebih karena mengandung obat keras. Harus dengan resep dokter.. Obat Keras. Khasiat yang dicantumkan merupakan khasiat empiris di Jamu. masyarakat, belum sepenuhnya terstandar, dan belum dilakukan uji praklinik dan klinik. Khasiat yang dicantumkan sudah dibuktikan dengan uji praklinik, sudah. Obat Herbal Terstandar. terstandar, dan sudah dilakukan uji praklinik dan/atau uji klinik belum lengkap.. 1.
(6) 2. Khasiat yang dicantumkan sudah dibuktikan dengan uji Fitofarmaka. praklinik dan klinik, sudah terstandar, dan sudah dilakukan uji klinik dengan lengkap (fase 1, fase 2, dan fase 3). Harus dengan resep dokter dan mengakibatkan. Narkotika. ketergantungan yang kuat. Distribusinya dikendalikan oleh pemerintah. Harus dengan resep. Psikotropika. dokter dan kadang mengakibatkan ketergantungan. Obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker dengan syarat dan. Obat Wajib Apotek. ketentuan yang berlaku menurut undang-undang, dapat digunakan untuk swamedikasi atau pengobatan rutin..
(7) 3. 1.2. Konsep Reseptor Berikut ini adalah kondisi yang terjadi ketika reseptor diinduksi oleh substrat-substrat agonis.. 1.3. Konsep Induksi Saraf Simpatis dan Parasimpatis Berikut ini kondisi yang terjadi ketika sistem saraf simpatis dan parasimpatis mengalami induksi..
(8) 4. Adrenergik dan Kolinergik berkerja BERLAWANAN Antiadrenergik dan Kolinergik berkerja SERUPA Simpatomimetik dan Parasimpatomimetik berkerja BERLAWANAN Simpatomimetik dan Parasimpatolitik berkerja SERUPA Efek Adrenergik (Simpatomimetik) adalah efek yang serupa dengan ketika saraf simpatis diinduksi Efek Kolinergik (parasimpatomimetik) adalah efek yang serupa dengan ketika saraf parasimpatis diinduksi Contoh : Atenolol = Beta Bloker = Obat Antiadrenergik (Adrenolitik), artinya bekerja melawan efek induksi sistem saraf simpatis, dampaknya adalah terjadi penurunan tekanan darah, hal ini serupa dengan efek kolinergik yang menginduksi sistem saraf parasimpatis. 1.4. Farmakologi Golongan Obat Golongan. Mekanisme Aksi. Contoh Obat. Anastesi Amida. Blokade reversibel pada. Lidokain, Bupivikain. Anastesi Ester. kanal natrium pada akson. Benzokain, Prokain. Inhibisi hidrolisis Antikolinesterase. asetilkolin pada enzim. Piridostigmin, Neostigmin. kolinesterase Agonis Muskarinik Agonis Nikotinik. Memacu reseptor muskarinik Memacu reseptor nikotinik. Pilokarpin Nikotin. Menghambat reseptor Antagonis. muskarinik dan. Atropin, Hiosin,. Muskarinik. mengakibatkan efek. Ipatropium. excitatory.
(9) 5. Menghambat reseptor alfa Alfa Bloker. adrenergik, sehingga. Prazosin. terjadi dilatasi vena. - Beta-1 selektif: Beta Bloker. Menghambat reseptor beta adrenergik.. Bisoprolol, Atenolol, Metoprolol - Beta bloker non-selektif: Propanolol. Meningkatkan kerja Agons Beta-2. reseptor beta adrenergik 2,. Salbutamol, Formoterol,. sehingga terjadi relaksasi. Salmeterol. otot polos bronkus. Menghambat perubahan ACE Inhibitor. angiotensin I menjadi angiotensin II. Captopril, Lisinopril, Enalapril. Angiotensin. Menghambat pada. Valsartan, Losartan,. Receptor Blocker. reseptor angiotensin. Candesartan. Calcium Channel Blocker. Menghambat masuk kalsium pada sel otot jantung. - DHP : Amlodipin, Nifedipin - Non DHP : Diltiazem, Verapamil. Menghambat reabsorbsi natrium di tubulus distal, Diuretik Thiazid. sehingga meningkatkan. Hidroklortiazid. eksresi air, natrium, dan ion hidrogen. Menghambat reabsorbsi natrium dan klorida di Diuretik Sulfon. tubulus proksimal, tubulus distal, dan lengkung Henle, sehingga. Furosemid.
(10) 6. meningkatkan eksresi air, natrium, klorida, magnesium, dan kalsium. Mengikat reseptor aldosteron di tubulus Antagonis Aldosteron. distal, sehingga meningkatkan sekresi. Spironolakton. natrium dan klorida dan menahan kalium dan ion hidrogen. Modulasi metabolisme lipid, karbohidrat, dan protein serta mempertahankan keseimbangan cairan.. Kortikosteroid. Mengontrol sintesis protein, menekan migrasi. Metilprednisolon, Hidrokortison. PMN dan fibroblas, mengubah kapilaritas membran, dan menstabilkan lisosom. Menurunkan produksi glukosa hepatik, menurunkan absorbsi Biguanida. glukosa di saluran cerna,. Metformin. dan meningkatkan sensitivitas reseptor insulin. Meningkatkan sekresi Sulfonilurea. insulin, Menurunkan produksi glukosa hepatik,. Glibenklamide, Glimepiride.
(11) 7. dan meningkatkan sensitivitas reseptor insulin. Menghambat enzim HMG-CoA. pengubah substrat. Simvastatin, Atorvastatin,. Reductase Inhibitor. kolesterol (HMG-CoA. Rosuvastatin. Reductase) Menghambat lipolisis Asam Fibrat. perifer dan menurunkan. Gemfibrozil, Fenofibrate,. pengambilan asam lemak. Cipofibrate. bebas oleh hati. Resin Asam. Mengikat asam empedu. Kolestipol, Koleselvam,. Empedu. pada saluran cerna.. Kolestiramin. Mengikat kristal hidroksiapatit pada tulang dan menghambat Bifosfonat. osteoklast serta menghambat pelepasan. Asam Alendronat, Asam Risendronat. mineral dan kolagen dari tulang. Proton Pump Inhibitor. Menghambat pompa proton dalam sekresi ion hidrogen pada lambung.. Omeprazol, Pantoprazol, Lansoprazol. Menghambat reseptor HH-2 Receptor Antagonis. 2 pada sel parietal lambung, sehingga. Famotidin, Ranitidin. menghambat sekresi asam lambung.. H-1 Receptor Antagonis. Menghambat reseptor H1, sehingga tidak tejadi aktivasi oleh histamin.. - Generasi lama : Klorfeniramin Maleat..
(12) 8. - Generasi baru : Loratadin, Cetirizin, Fexofenadin. Antibiotika Penisilin. Amoksisilin, Ampisilin Menghambat sintesis. - Generasi 1 : Cefradoksil. Antibiotika. dinding bakteri (golongan. - Generasi 2 : Cefuroksim. Sefalosporin. beta laktam).. - Generasi 3 : Ceftriakson, Cefotaksim, Ceftazidim. Menghambat sintesis protein dengan mengikat Antibiotika. subunit ribosom 30S dan. Tetrasklin, Oksitetrasiklin,. Tetrasiklin. 50S dan mengikat logam. Doksisiklin. untuk metabolisme bakteri. Antibiotika Quinolon. Menghambat DNA girase, sehingga merusak struktur double helix DNA.. Ciprofloksasin, Levofloksasin. Menghambat sintesis Antibiotika. protein dengan mengikat. Azitromisin, Claritomisin,. Makrolida. subunit ribosom 30S dan. Eritromisin. 50S. Menghambat sintesis Antibiotika Fenikol. protein dengan mengikat. Kloramfenikol, Tiamfenikol. subunit ribosom 50S. 1.5. Keamanan Obat dan Toksikologi 1.5.1. Keamanan Obat a. Indeks Kehamilan Masa kehamilan merupakan masa kritis pertumbuhan janin. Namun, tidak jarang ditemui ibu hamil yang menderita penyakit tertentu saat hamil. Berikut adalah indeks kehamilan dan keterangan mengenai indeks kehamilan :.
(13) 9. Indeks Kehamilan. Keterangan. Penggunaan Klinis. Studi terkontrol pada wanita hamil tidak memperlihatkan A. adanya resiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1. Dapat digunakan secara aman bagi wanita hamil.. dan trimester berikutnya. Studi terhadap reproduksi binatang memperlihatkan B. tidak ada resiko terhadap janin, tetap belum ada studi. Dapat digunakan relatif aman bagi wanita hamil.. terkontrol terhadap manusia. Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek terhadap janin C. dan studi terkontrol pada wanita dan binatang tidak tersedia atau tidak dapat. Penggunaan obat harus mempertimbangkan manfaat klinis dan resiko terhadap janin.. dilakukan. Terdapat bukti adanya resiko pada janin pada binatang. D. percobaan atau studi pada manusia.. binatang memperlihatkan adanya abnormaltas pada janin.. digunakan dalam kasus life-threatening atau apabila ada alternatif lebih baik harus diutamakan.. Studi pada manusia dan X. Penggunaan obat dapat. Tidak dianjurkan penggunaannya selama masa kehamilan.. b. Efek Samping Beberapa Obat Obat. Efek Samping Khas. Amlodipin. Edema dan edema paru.
(14) 10. Kaptopril. Batuk. Pirazinamid. Nyeri tulang, hepatotoksik. INH. Kesemutan, hepatotoksik. Rifampisin Streptomisin Asetosal. Mengubah warna urin menjadi merah, induksi sitokrom Ototoksis, nefrotoksis Perdarahan, iritasi saluran cerna, tinitus. Hidroklortiazid. Hipokalemia, kenaikan asam urat. Kortikosteroid Inhalasi. Candidasis. Kortikosteroid Oral (e.g MP). Iritasi saluran cerna, moon face karena retensi Na dan Air, keropos tulang. Etambutol. Buta warna, kebutaan. Fenitoin. Gingival hyperplasia, induser sitokrom. Karbamazepin. Hepatotoksik dari metabolitnya, induser sitokrom. Orlistat. Feses berlemak. Antibiotika Kuinolon. Menghambat pertumbuhan anak. Antibiotika Tetrasiklin. Kolorasi gigi menjadi kuning. Antibiotika Aminoglikosida. Nefrotoksis. Bifosfonat. Iritasi saluran cerna. Semua OAT. Mual dan muntah. Kodein. Konstipasi. Metformin. Mual, kembung. Metronidazole. Mengubah warna urin menjadi kecokelatan. 1.5.2. Toksikologi Kasus keracunan selalu ditemukan terkait dengan penggunaan bahan kimia sebagai obat atau kecelakaan. Berikut adalah daftar senyawa yang dapat bersifat racun dan antidot yang dapat diberikan :.
(15) 11. Substrat Racun. Antidot. Parasetamol. Asetilsistein. Logam berat (As, Hg, Cu). BAL (dimecaprol). Logam berat (Pb). EDTA. Ferrum. Deferoksamin. Opioid, Dextromethorphan. Nalokson. Antikolinesterase (Insektisida). Atropin, Pralidoksim. Sianida. Nitrit, Nitrat. Metanol, Etilen Glikol. Etanol. Beta Bloker (Atenolol, Propanolol). Adrenalin, Isoprenalin. Benzodiazepin. Flumazenil. TCA. Diazpam. Kumarin, Warfarin. Vitamin K. Digoksin. Fenitoin, MgSO4, Atropin. Heparin. Protamin. INH. Piridoksin. Nitrit. Metilen Blue. Karbonmonoksida. Oksigen. 1.6. Cara Pemakaian Obat Pemakaian obat yang tepat memiliki beberapa pertimbangan, salah satunya adalah sifat fisika kimia obat, mengikuti ritme biologis tubuh dan/atau mengikuti t1/2 obat yang digunakan. Sebagai contoh penggunaan atorvastatin dan simvastatin memiliki perbedaan. Atorvastatin dapat diberikan pada sore hari, sedangkan simvastatin harus diberikan malam hari. Hal ini terjadi karena t1/2 atorvastatin adalah 14 jam, sedangkan simvastatin 2 jam, sehingga simvastatin harus segera digunakan pada waktu biologis tubuh untuk sintesis kolesterol, yaitu pada waktu malam hari. Golongan bifosfonat harus diberikan dengan cara pasien harus duduk dikarenakan sifat kimia obat yang iritatif, sehingga dengan duduk diharapkan berinteraksi singkat dengan saluran cerna atas dan segera memasuki lambung..
(16) 12. 1.7. Penggunaan Obat Off-Label (Unlabeled) Penggunaan obat off-label adalah penggunaan obat di luar indikasi yang disetujui oleh lembaga yang berwenang. Penggunaan obat off-label terdiri dari dua jenis, pertama adalah obat yang disetujui untuk mengobati penyakit tertentu, tetapi kemudian digunakan untuk penyakit yang sama sekali berbeda, contohnya amitriptilin, disetujui sebagai antidepresi, namun digunakan juga untuk mengatasi nyeri neuropatik. Kedua, obat yang disetujui untuk mengobati penyakit tertentu, kemudia diresepkan untuk keadaan yang masih terkait, tetapi diluar spesifikasi yang disetujui, contohnya sildenafil, diindikasikan untuk mengatasi disfungsi ereksi pada pria, tetapi juga digunakan untuk meningkatkan gairah seksual pria meskipun tidak mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Beberapa contoh obat off-label antara lain. Obat. Indikasi Awal. Indikasi Off-Label. Amitriptilin. Antidepresi. Analgesik Neurpatik. Domperidon. Antimual-Muntah. Pelancar ASI. Ketotifen. Antialergi. Meningkatkan Nafsu Makan. Levimasol. Antikonvulsan. Imunomodulator. Metformin. Antidiabetes. Memperbaiki Siklus Haid. Misoprostol. Anti Ulkus Peptik. Induksi Persalinan. Sildenafil. Disfungsi Ereksi. Peningkat Gairah Seksual. Siproheptadin. Antialergi. Meningkatkan Nafsu Makan. 1.8. Farmakokinetika 1.8.1. Kecepatan Infus R=. ᶵ. Keterangan: R = kecepatan infus S = fraksi aktif ᶵ. = interval pemberian.
(17) 13. Contoh: Pasien ATS menerima infus teofilin dengan dosis 40 mg tiap jam. Berapakah kecepatan infus yang harus diatur? Diketahui teofilin memiliki fraksi aktif sebesar 80 %. R=. =. ᶵ. ,. = 32 mg/jam. 1.8.2. Perubahan Dosis Intravena ke Dosis Peroral Umumnya diberikan pada keadaan tunak rerata (Cav), dengan rumus : ᶵ. D= Keterangan: D. = dosis peroral. Cav = konsentrasi tunak rerata k. = konstanta eliminasi. Vd. = volume distribusi. F. = fraksi bioavaibilitas. S. = fraksi aktif. ᶵ. = interval pemberian. Contoh: Pasien RA 28 tahun, 78 kg diresepkan Tetrasiklin HCl untuk keluhan Gonorrhae. Tetrasiklin HCl memiliki bioavabilitas oral 77 % dengan semua fraksi aktif. Volume distribusi sebesar 0,2 L/kgBB, waktu paro eliminasi adalah 10,6 jam. Kadar tunak rerata yang digunakan dalam pengobatan RA di rumah sakit adalah 35 mg/mL.. Apabila RA diizinkan pulang oleh dokter dan. meneruskan terapi tetrasiklin HCl peroral dengan interval tiap 6 jam, berapakah dosis yang disarankan? Diketahui: Vd K. = 0,2 L/kgBB x 78 kg = 15,6 L = 0,693/t1/2 = 0,693/10,6 = 0,065 /jam. Ditanya: Dosis yang disarankan? Jawab: D=. ᶵ. ,. =. ,. ,. = 276,54 mg ≡ 300 mg.
(18) 14. 1.9. Kapita Selekta Farmakoterapi 1.9.1. Hipertensi Algoritma Penatalaksanaan Hipertensi Berdasarkan JNC 8.
(19) 15. Berdasarkan JNC 8, target terapi dan pilihan regimen dalam penatalaksanaan hipertensi adalah sebagai berikut : Kondisi. Pilihan Obat - Tunggal: ACEi ARB, CCB, atau diuretic. Normal. - ACEi atau ARB + diuretic; serta ACEi atau ARB + CCB. CKD. ACEi atau ARB - First Line : ACEi atau ARB. Diabetes Mellitus. - Second Line : CCB - Third Line : diuretic atau BB. Heart Failure Post-MI CAD Pencegahan Kekambuhan Stroke Kehamilan. ACEi atau ARB + BB + diuretic + spironolactone BB + ACEi atau ARB ACEi, BB, diuretic, CCB ACEi, diuretic Labetolol (first line), nifedipin, metidopa. Beta-Bloker Selektif Beta-1 seperti metoprolol, bisoprolol, betaxolol, dan acebutolol lebih aman untuk pasien dengan PPOK, asma, dibetes dan peripheral vascular disease. 1.9.2. Dislipidemia dan Obesitas Menurut ATP III, dalam tatalaksana penurunan LDL dan manajemen resiko penyakit degeneratif ada faktor resiko yang harus diketahui, berikut adalah faktor resiko menurut ATP III. Faktor Resiko Mayor yang Membutuhkan Modifikasi LDL Kebiasaan merokok Tekanan darah (BP > 140/90 mmHg atau dalam pengobatan hipertensi Kolesterol HDL rendah (< 40 mg/dL)* Family history of premature CHD Usia (pria ≥ 45 tahun, wanita ≥ 55 tahun) *Kolesterol HDL ≥ 60 mg/dL dapat dihilangkan dari hitungan faktor resiko.
(20) 16. Jika memiliki ≥ 2 faktor resiko dengan atau tanpa CHD, lakukan assesment terhadap 10-years (short-term) CHD risk dengan hitungan pada tabel Framingham. Dengan mengetahui faktor resiko, target penurunan LDL dan memulai terapi dapat diketahui. Berikut adalah target dan nilai LDL memulai terapi : Faktor Resiko. Target LDL. Hasil Assesment. (mg/dL). Nilai LDL untuk Mulai. < 100. Terapi Obat. TLC. CHD or CHD Risk Equivalents (10-years. Nilai LDL Mulai. ≥ 100. risk > 20%). ≥ 130 (100-129 drug optional)* 10-year risk 10-20%. ≥ 2 Risk Factors (10-years risk ≤ 20%). < 130. ≥ 130. ≥ 130 10-year risk < 10% ≥ 160. 0 – 1 Risk Factor. < 160. ≥ 160. ≥ 190 (160-189 drug optional). Keterangan: TLC (Therapeutics Lifestyle Changes); (*) beberapa ahli merekomendasikan penggunaan obat penurun LDL jika target < 100 mg/dL tidak dapat tercapai dengan TLC TLC Features TLC diet Lemak jenuh < 7% dari kalori, kolesterol < 200 mg/hari Konsumsi serat (10-20 g/hari) Manajemen berat badan serta meningkatkan aktivitas fisik Berikut adalah pilihan obat yang dapat diberikan : Golongan. HMG CoA Reductase Inhibitor. Contoh Obat. Simvastatin Lovastatin, Pitavastatin, Rosuvastatin. Efek Terapi. Efek Samping. Menurunkan. Miopati,. LDL dan. meningkatkan. trigliserida,. enzim hati. Kontraindikasi. Penyakit liver aktif dan kronis.
(21) 17. menaikkan HDL Colestipol. Resin Asam Empedu. Coleselvam Colestiramin. Asam. Asam. Nikotinat. Nikotinat. Menurunkan. GI Upset. LDL,. Konstipasi. Trigliserida >. menaikkan. Menurunkan. 400 mg/dL. HDL. absorbsi obat. Menurunkan. Muka merah. LDL dan. Hipoglikemi. Penyakit liver. trigliserida,. Hiperurisemia. kronis. menaikkan. Hepatotoksis. Gout parah. HDL. GI Upset. Menurunkan Asam. Gemfibrozil. Fibrat. Fenofibrat. LDL dan trigliserida,. Dispepsia Batu empedu. menaikkan. Miopati. Gangguan ginjal dan hati parah. HDL Penurunan berat badan dapat digunakan orlistat, apabila target dengan terapi non-farmakologi tidak mencapai penurunan 10% berat badan. Orlistat memiliki efek samping feses berlemak dan dapat menggangu absorbsi vitamin, siklosporin, dan levotiroksin. 1.9.3. Metabolisme dan Darah Kondisi Polycystic Ovary Syndrome (POS). Tanda dan Gejala Hirsutisme (tumbuh rambut), glukosa tinggi, menstruasi tidak teratur. Gugup, cemas, takikardi,. Hipertiroid. tremor (gejala tirotoksikosis), kelemahan otot, turun berat badan. Obat Pilihan Klomifen Sitrat, Metformin Beta Blocker (Atenolol atau Propanolol) untuk gejala tremor, takikardi, dan cemas (gejala tirotoksikosis);.
(22) 18. agen antitiroid (Propilthiourasil, Methimazol, KI) Hipotiroid. Kelemahan, bradikardi,. Levotiroksin,. mudah mengantuk, goiter. Liothironin. Nilai MCV besar, nilai Anemia. kadar B12 rendah, atau. Sianokobalamin, Asam. Megaloblastik. nilai kadar asam folat. Folat. rendah. - Agen imunosupres-an: MP, Siklosporin. Anemia Aplastik. Kelemahan, perdarahan. - Hemapoetic Growth. gusi, bengkak pada kaki,. Factor : Filgastrim. serta nilai rendah pada. - Agen antineoplastik :. retikulosit dan WBC.. Fludarabin - Kelator : Deferoxamin. Anemia Defisiensi. Nilai MCV rendah dan. Besi. serum feritrin rendah.. Fe Sulfat, Fe Fumarat Suplementasi kalsium. Osteoporosis. Sakit pada tulang tertentu,. (kalsium karbonat,. penurunan tinggi badan,. kalsium sitrat), first line. perubahan struktur tubuh,. (Asam Alendronat,. nilai T score di bawah –. Asam Risendronat),. 2,5.. alternatif (Raloksifen, Asam Ibandronat). 1.9.4. Diabetes Diabetes ditanda dengan gejala: polivagi (banyak makan), poliuria (banyak buang air kecil), dan polidipsi (banyak minum). Diabetes digolongkan menjadi dua tipe utama, yaitu tipe I dan tipe II..
(23) 19. Pada tipe I, pasien lebih cenderung memiliki berat badan rendah dan mengalami ketoasidosis, sedangkan pada tipe II cenderung obesitas. Berikut adalah target terapi dari diabetes mellitus :. Glycemic Control Algorithm Based on AACE 2015.
(24) 20. Selain antidiabetika oral, dapat pula digunakan insulin seperti pada algoritma pengobatan, khusus untuk DM tipe I, insulin dimulai sejak pasien didiagnosa mengalami diabetes. Berikut adalah jenis insulin yang dapat digunakan : Kerja Insulin. Contoh Humalog (insulin lispro),. Rapid Acting. NovoLog (insulin aspart), Apidra (insulin glulisine). Short Acting. Humulin R, Novolin R. Intermediate. Humulin N, Novolin N. Long Acting. Lantus (insulin glargine), Levemir (insulin detemir). Penggunaan 5 – 15 menit sebelum makan 30 menit sebelum makan Umumnya 1 x sehari Umumnya 1 x sehari di waktu yang sama.
(25) 21. Algorithm For Adding/Intensifying Insulin. Profiles of Antidiabetic Medications.
(26) 22. Diabetes Pada Kehamilan Anak yang lahir dari ibu dengan pre-gestasional diabetes melitus (PGDM) atau gestasional diabetes melitus (GDM) memiliki resiko yang meningkat untuk mengalami slight gross and fine motor deficits. Anak-anak ini juga memiliki resiko melambatnya kemampuan belajar dan dapat mengalami masalah hiperaktifitas (ADHD). Sehingga penting untuk melakukan pengontrolan gula darah selama masa kehamilan. A. Insulin DM tipe I harus dikontrol dengan baik melalui penggunaan insulin sebelum merencanakan kehamilan. Human insulin adalah pilihan dalam pengobatan ini. Seorang wanita yang kadar gulanya terkontrol dengan baik menggunakan insulin lispro dan aspart tidak boleh diganti selama masa kehamilan. Namun untuk long-acting analogs bagaimanapun harus dihentikan dan diganti. Wantia hamil dengan DM tipe II atau GDM yang gula darahnya tidak dapat terkontrol dengan baik melalui diet, harus mendapatkan terapi insulin. Pada kasus kadar gula mencapai titik kritis dan fetal macrosomia, terapi insulin harus di investigasi. Pada wanita hamil yang telah menggunakan insulin, penggunaan dapat ditingkatkan. Untuk pengontrolan terapi, USG terhadap perkembangan biometrika janin harus dilakukan. Penggunaan glukokortikoid dan tokolitik harus dibatasi agar tidak terjadi toleransi karbohidrat, disamping itu pengontrolan kondisi metabolik sangat disarankan ketika obat ini diberikan. B. Antidiabetes Oral (OAD) Antidiabetes oral (OAD) bukanlah horman dan tidak bekerja seperti halnya insulin, sehingga keduanya bukan merupakan produk yang dapat saling disubstitusi. OAD secara primer digunakan pada penanganan DM tipe II. Evidence-based end-point related positive effectiveness proofs on diabetes-specific late complications are available for insulin, metformin and sulfonilurea preparations. OAD sering digunakan selama kehamilan, khususnya pada penanganan GDM yang disertai diet. Beberapa OAD yang lazim digunakan adalah sebagai berikut..
(27) 23. • Turunan sulfonilurea menstimulasi sel. -pankreas yang masih memiliki. fungsi, yang termasuk golongan ini adalah glibenclamide, gliclazide, glimepiride dan gliquidone. • Metformin merupakan satu-satunya golongan biguanida yang ada di pasaran. Obat ini bekerja dengan cara mencegah pembentukan glukosa di hati, memperlambat penyerapan glukosa pada intestinal dan meningkatkan ambilan glukosa pada otot. • Inhibitor -glukosidase, seperti akarbose dan miglitol, bekerja dengan cara membatasi penyerapan karbohidrat pada intestinal. • Glinide, seperti nateglinide dan repaglinide merupakan regulator glukosa postprandial, yang berkerja dengan cara menginduksi sekresi insulin (shortterm). • Modulator inkreatin, seperti vildagliptin, sitagliptin, dan saxagliptin bekerja seperti hormon yang disekresikan di intestinal, yang ditujukan untuk meningkatkan sekresi insulin yang diperlukan saat makan. Pada pasien dengan diabetes, produksi inkreatin sangat minim jika dibandingkan dengan orang sehat. Sitagliptin bekerja dengan memblok enzim yang secara normal memecah inkreatin. • Glitazone, seperti pioglitazone dan rosiglitazone, disebut sebagai insulin sensitizer, yang bekerja dengan cara meningkatkan sensitifitas sel periferal terhadap insulin. • Exenatide dan liraglutide merupakan glucagon-like peptides (GLP-1)-receptor antagonists, yang hanya digunakan secara subkutan dan hanya dikombinasikan dengan OAD. Pada penelitian terhadap hewan uji, keduanya menunjukkan adanya peningkatan toksisitas. The transplacental transfer of exenatide was only minimal in a palcenta model. There is no experince availiable during pregnancy. 1) Glibenclamide Pada placenta model in vitro, glibencalmide (=glyburide) hanya ditemukan dalam jumlah kecil pada fetus dan pada percobaan dengan hewan uji, terbukti tidak teratogen. Demikian pula pada manusia, no.
(28) 24. teratogenicity has been described. Newer case report and a retrospective analysis terhadap 379 wanita hamil dengan pre-existing diabetes tidak menunjukkan adanya peningkatan resiko terjadinya malformasi kongenital. 2) Metofrmin Kontras dari glibenclamide, metformin tidak menstimulasi sekresi insulin dan tidak menyebabkan terjadinya hipoglikemia. Pada pasien dengan kelebihan berat badan, pemberian obat yang dapat meningkatkan sensitifitas insulin dan penurunkan kebutuhan insulin lebih diperlukan daripada pemberian glibenclamide. Metformin adalah satu-satunya yang diterima untuk DM tipe II, dan juga digunakan untuk GDM dan untuk wanita dengan polycystic ovary syndrome (POS) dalam konteks fertility treatment. 3) Pioglitazone Pioglitazone terbukti tidak toksik pada percobaan hewan namun belum ada penelitian yang membuktikan keamanannya pada manusia. Rekomendasi. Pasien dengan DM tipe II yang mendapat terapi OAD harus diganti dengan insulin apabila merencanakan kehamilan, namun melanjutkan penggunaan OAD masih dapat diterima. In any case, the use of any oral antidiabetic drug does not justify a risk-grounded termination of the pregnancy. USG secara mendetail pada trimester kedua harus dilakukan terutama pada wanita hamil dengan DM tipe II. Should there be important grounds in individual cases againt insulin therapy, metformin would be the most likely OAD to be considered. C. Glukagon Glukagon hormon polipeptida dengan 29 asam amino yang disekresikan oleh sel -pankreas. Kerjanya berlawanan dengan insulin karena menyebabkan peningkatan kadar gula darah dengan meningkatkan glikogenolisis dan glukoneogenesis. Glukogon dapat diberikan selama kehamilan pada trimester berapapun saat terdiagnosa terjadi hipoglikemi parah dan glukosa intravena tidak dapat diberikan..
(29) 25. 1.9.5. Asam Urat Gout merupakan penyakit yang ditandai dengan kadar asam urat serum lebih besar dari 6,8 atau 7,0 mg/dL. Pada manajemen terapi gout dan hiperurisemia, tujuan terapinya adalah : 1. Mengurangi serangan akut. 2. Menghindari terjadinya serangan. 3. Menghindari komplikasi yang disebabkan oleh penumpukan kronis kristal asam urat di jaringan. Penggunaan obat pada terapi gout adalah untuk mendukung tercapainya tujuan terapi. Kondisi inflamasi dapat di atasi dengan pemberian NSAID, kortikosteroid, atau kolkisin, sedangkan untuk mencegah serangan gout dengan mengatur kadar asam urat dalam darah agar tidak lebih dari 6,8 atau 7,0 mg/dL dapat digunakan allopurinol, febuxostat, atau probenecid. Kondisi. Keterangan First line yang digunakan adalah allopurinol atau febuxosat. Apabila alergi terhadap xanthine oxidase inhibitor (XOI) bisa. Hiperurisemia. digunakan probenecid. Kombinasi XOI (allopurinol atau febuxosat) dan agen urikosurik (probenesid) terkadang dibutuhkan. Penderita gagal ginjal harus mengatur dosis allopurinol. Harus di-assesment tingkat inflamasi dan tingkat nyeri (nyeri digunakan visual analog. Inflamasi. scale (VAS)). Dapat digunakan terapi tunggal atau kombinasi. Obat pilihan antara lain NSAID, kortikosteroid, dan kolkisin.. Terapi Antigout Pada Kehamilan Probenecid dapat dikatakan sebagai obat pilihan untuk eliminasi asam urat selama kehamilan. Allopurinol relatif dikontraindikasikan, walaupun belum ada studi lebih lanjut yang membuktikan bahwa paparan allopurinol pada.
(30) 26. trimester pertama dapat menyebabkan terminasi kehamilan. Pegloticase sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan karena minimnya informasi. Hingga minggu ke-28, ibuprofen adalah obat pilihan pertama untuk penanganan serangan gout saat kehamilan. Kortikosteroid intraartikuler atau sistemik dapat diberikan pada trimester berapapun. Kolkisin hanya disarankan untuk digunakan pada kondisi khusus. Penggunaan kolkisin jangka panjang diperlukan pada kondisi kehamilan yang didiagnosa mengalami Familial Mediterranean Fever. 1.9.6. Manajemen Nyeri Manajemen nyeri secara umum menggunakan WHO Pain Ladder. Berikut adalah pembagian tingkat nyeri dan terapi yang digunakan : Tingkat Nyeri. Terapi Parasetamol 650 mg, aspirin 500 mg, ibuprofen 400 mg, atau NSAID bisa. Ringan (0 – 3). ditambah NSAID lain, antidepresan trisiklik, dan obat kejang. Sedang (4 – 6) Berat (7 – 10). Parasetamol 325 mg + opioid (kodein) Morfin atau fentanil bisa ditambah NSAID lain, antidepresan trisiklik, dan obat kejang. Terapi Analgesik Pada Kehamilan A. Analgesik 1) Parasetamol Parasetamol adalah analgesik dan antipiretik yang menjadi pilihan pertama selama kehamilan dan dalam digunakan pada trimester berapapun saat diperlukan. 2) Asetosal Aspirin bukanlah analgesik atau antiinflamasi yang menjadi pilihan pertama selama kehamilan. Parasetamol lebih disarankan atau saat antiinflamasi diperlukan, ibuprofen atau diklofenak dapat menjadi opsi pertama untuk AINS pilihan. Aspirin dan AINS seharusnya tidak digunakan secara rutin selama trimester terakhir. Penggunaan yang.
(31) 27. berkepanjangan setelah minggu ke-28 dapat menyebabkan prematur closure of the fetal ductus arterious. Aspirin dosis rendah dapat digunakan secara aman tanpa adanya batasan selama memang diindikasikan. B. Anti Inflamasi Non-Steroid 1) COX Non-Selective Inhibitor Ibroprofen adalah analgesik yang menjadi pilihan kedua setelah parasetamol dan antiinflamasi pilihan pertama hingga kehamilan mencapai minggu ke-28. Penggunaan diklofenak juga memungkinkan. Setelah kehamilan memasuki minggu ke-28, penggulangan dalam penggunaan AINS harus dihindari. Jika digunakan selama trimester ketiga, maka ductal flow dan amniotic fluid volume harus dipantau dengan USG. 2) COX-2 Selective Inhibitor Inhibitor COX-2 selektif (celecoxib, etricoxib, dan parecoxib) dikontraindikasikan selama kehamilan karena minimnya informasi dan berpotensi memiliki efek pada janin terutama dalam proses pematangan ginjal dan efek samping lain terkait AINS. Penggunaan inhibitor COX-2 selektif secara berkelanjutan dalam mencegah terjadinya pembuahan dan harus dihindari selama fase periovulatory. C. Pengobatan Migrain 1) Terapi Serangan Migrain Metoklopramide direkomendasikan sebagai antiemetik yang aman pada trimester berapapun. Untuk analgesik, gunakan parasetamol (3 x 1 g), parasetamol dan kodein, atau ibuprofen (3 x 800 mg) atau diklofenak (2-3 x 50 mg) terbukti aman untuk digunakan pada serangan migrain. Sama seperti parasetamol, penggunaan naproxen dan aspirin juga dapat diterima bila dikombinasikan dengan kodein. Penggunaan AINS secara berulang sebaiknya dihindari setelah minggu ke-28. Alkaloid ergot dikontraindikasikan pada trimester berapapun. 2) Pencegahan Migrain Selama kehamilan, pengobatan yang dapat diberikan untuk mencegah terjadinya migrain adalah beta-bloker seperti metoprolol, propanolol, atau saat sangat diperlukan dapat menggunakan bisoprolol..
(32) 28. Obat lain yang dapat diterima termasuk antidepresan trisiklik (amitriptilin, nortriptilin). Antikonvulsan sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan untuk pencegahan migrain. Penggunaan obat-obat yang bekerja pada sistem RAS (ACEi dan ARB) dikontraindikasikan, termasuk flunarizin, agen CCB yang juga minim informasi. 1.9.7. Epilepsi Jenis Epilepsi. First Line Menurut. Alternatif Menurut UK. UK Guideline. Guideline. Partial Seizure. Karbamazepin,. (Diagnosis Baru). Lamotrigin. Partial Seizure. Lamotrigin,. (Refractory. Oxcarbazepin,. Monotherapy). Topiramat. Levetiracetam, Oxkarbazepin, Asam Valproat -. Karbamazepin, Klobazam, Gabapentin,. Lacosamid,. Partial Seizure. Lamotrigin,. Fenobarbital, Fenitoin,. (Refractory Adjunct). Levetiracetam,. Pregabalin, Tiagabin,. Oxcarbazepin, Asam. Vigabatrin, Zonisamid. Valproat, Topiramat Generalized Seizure Absence. Etoksusimid,. Klobazam, Klonazepam,. Lamotrigin, Asam. Levetiracetam,. Valproat. Topiramat, Zonisamid. Asam Valproat, Primary General. Lamotrigin,. (Tonic-Clonic). Karbamazepin, Oxkarbazepin. Juvenile Myoclonic Epilepsy. Klobazam, Levetiracetam, Topiramat. Etoksusimid,. Klobazam, Klonazepam,. Lamotrigin, Asam. Levetiracetam,. Valproat. Topiramat, Zonisamid.
(33) 29. Terapi Antiepilepsi Pada Kehamilan • Tidak ada satupun wanita hamil yang seharusnya mendapat pengobatan antiepilepsi tanpa adanya alasan yang jelas. Pada kasus untuk indikasi berupa kondisi neurologik non-epileptik atau psikiatrik, penggunaan antiepilepsi harus dihindari, terkecuali lamotrigine yang mungkin dapat ditoleransi. • Valproic Acid (VPA) harus dihindari pada masa-masa produktif. Kecuali pengobatan epilepsi gagal dengan pengobatan lain. • Monoterapi lebih disarankan, penggunaan beberapa obat antiepilepsi beresiko terhadap perkembangan embrio, walaupun pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa VPA merupakan faktor resiko utama. • Selama masa organogenesis, dosis pengobatan harus serendah mungkin yang masih bisa digunakan. Jika VPA harus diberikan, dosis harus dibagi dalam 24 dosis per hari. • Jika antieplepsi yang diresepkan adalah yang memiliki klirens tinggi, maka penentuan kadar obat bebas harus ditentukan minimal sekali pada tiap trimester. Peningkatan klirens selama kehamilan terutama terjadi pada lamotrigine dan levetiractam. Selain itu juga dapat terjadi pada ozcarbazepine, phenytoin dan carbamazepin walau peningkatannya lebih rendah. • Pada kasus idiopatik, kejang umum, lamotrigine is the best tolerated drug by embryo/fetus, although VPA is more effective. Untuk focal epilepsy, carbamazepine seefektif VPA tapi dengan resiko yang lebih rendah. 1.9.8. Ansietas Berdasarkan Panduan Canadian Network for Mood and Anxiety Treatments GAD SSRI†, st. 1 Line. *. SSRI,. †. SNRI , Buspirone. 2nd Line. PhD. TCA. †. RIMA SNRI. PTSD SSRI, TCA. ‡. OCD. PaD. SSRI†,. SSRI†,. TCA‡. SNRI. SNRI,. SNRI,. MAOi. SARI. TCA.
(34) 30. 3rd Line / Adjunct. BDZ. BDZ. BDZ,. BZD, D2-. Divalproexm. Bloker,. Clonidine. Gabapentin. BDZ, MAOi. Keterangan: GAD = Generalized Anxiety Disorder, MAOi = Monoamine Oxidase Inhibitor, OCD = Obssesive-Compulsive Disorder, PTSD = Post-Traumatic Stress Disorder, RIMA = Reversible Inhibitor of Monoamine Oxidase, SARI = Serotonin Antagonis/Reuptake Inhibitor, SNRI = Serotonin Norepinephrine Reuptake Inhibitor, SSRI = Selective Serotonin Reuptake. Inhibitor, TCA = Tricyclic Antidepressant (*) First Line = Level 1 Evidence/Tolerated Based on Mixed Age Studies (†) Beberapa bukti pada pasien dengan usia > 65 tahun (‡) Direkomendasikan pada orang dewasa yang lebih muda, penggunaan pada pasien dengan usia > 65 tahun umumnya dibatasi oleh adanya efek samping. Terapi Antidepresan Pada Kehamilan • Faktor primer yang menjadi dasar pemilihan antidepresan selama kehamilan adalah riwayat pengobatan yang dijalani. The drug to which she has responded, or ideally remitted (recovered fully to functional status prior to depressive episode), serta memiliki efek samping yang dapat diterima akan menjadi pilihan pertama. Pemilihan obat dengan respon dan efek samping yang belum jelas pada pasien harus dipertimbangkan secara hati-hati. • Terapi non-farmakologi seperti psikoterapi, berjemur, akupuntur, dan transcranial magnetic stimulation dapat dilakukan selama kehamilan. • Antidepresan. selectives. serotonin-reuptake-inhibitors. (SSRI). adalah. antidepresan yang paling sering digunakan dalam terapi farmakologi untuk ganggunan depresi mayor, karena memiliki toksisitas yang rendah walau dalam kondisi overdosis. SSRI are among the most comprehensively studied group of medication taken by pregnant women. • The serotonin-noreponephrine reuaptake inhibitors (SNRI) have been included with the group of SSRI medications as wel as separately for pregnancy exposure studies. • Tricyclic antidepresan (TCA) are less well studied than SSRI; namun TCA berguna untuk wanita yang tidak responsif terhadap SSRI atau terganggu dengan efek samping. Semua antidepresan memiliki efek yang mirip untuk depresi..
(35) 31. • Salah satu keuntungan TCA adalah kadar serum berkaitan dengan respon, sehingga berguna dalam proses evaluasi pasien. Pemantauan kadar serum juga memberikan keuntungan yakni dapat dengan segera mengetahui perubahan farmakokinetika selama kehamilan yang mungkin akan membutuhkan penyesuaian dosis untuk mempertahanan efikasi. • Buspropion, suatu dopamin-norepinephrine reuptake inhibitors telah diuji pada wanita hamil dan juga telah disetujui oleh FDA sebagai tambahan terapi untuk menghentikan kebiasaan merokok. • Mengoptimalkan dosis obat tunggal harus diutamakan sebelum menambahkan obat lainnya. A. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) Termasuk dalam golongan ini adalah fluoxetine, sertaline, paroxetine, citalopram, escitalopram (isomer aktif dari citalopram) dan fluvoxamine. Bekerja secara selektif dalam menghambat reuptake serotonin dari celah sinaps. SSRI memiliki efek antikolinergik yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan TCA. Semua SSRI dapat menembus sawar plasenta, dengan citalopram adalah yang terbesar diikuti dengan fluoxetine. Sedangkan yang terendah adalah sertaline, diikuti dengan paroxetine. B. Tri- dan Tetracyclic Antidepressant Meta-analisis menunjukkan bahwa SSRI lebih memiliki efikasi dan lebih dapat ditoleransi apabila dibandingkan dengan TCA. However SSRIs were not as effective in treating inpatient and amitriptyline was more effective than SSRI comparators. SSRI lebih tidak toksik pada kondisi overdosis apabila dibandingkan dengan TCA. TCA bekerja dengan cara memblok reuptake neurotransmiter (noradrenalin dan serotonin) pada saraf adrenergik. Prototype dari TCA adalah imipramine. Similar medications are clomipramine, dibenzepin and lofepramine. Obat yang spesifik memiliki efek stimulasi pada sebagian pasien seperti desipramine (metabolit imipramine), nortriptyline (metabolit amitriptyline) dan trimipramine (secara kimia mirip imipramine). Obat tipikal lainnya memiliki efek sedatif seperti amitriptyline, dosuleprine,.
(36) 32. doxepin dan opopramol yang memiliki karakter seperti antidepresan dan antipsikotik. C. Beberapa Rekomendasi Obat 1) Amitiptyline Amitiptyline adalah obat golongan TCA yang sering digunakan untuk efek sedasi, namun sebenarnya obat ini memiliki efek antikolinergik yang dapat menyebabkan konstipasi dan hipertensi ortostatik terutama pada wanita hamil di bulan-bulan akhir. There is no eveidence of teratogenic effects. 2) Buspirone Disebut pula amfebutamone, merupakan antidepresan atipikal yang berkerja dengan cara menghambat reuptake noradrenaline dan sedikit dopamin. Diindikasikan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Penelitian terhadap lebih dari 700 wanita hamil pada trimester pertama yang mendapatkan terapi buspiron tidak menunjukkan adanya peningkatan resiko malformasi. Namun penelitian lebih lanjut terhadap buspiron khususnya pada trimester kedua menunjukkan peningkatkan resiko terjadinya kondisi hiperaktif pada anak. 3) Citalopram Sama seperti SSRI lainnya, resiko malformasi tidak dilaporkan pada penggunaan citaprolam. Pada studi cohort retrospektif, membuktikan bahwa SSRI tidak terkait dengan malformasi, namun dalam analsisi secara tunggal penggunaan citaprolam terkait dengan neural tube defects. 4) Clomipiramine Clomipiramine adalah antidepresan TCA yang unik karena memiliki efek serotonergik substansial dan menjadi pilihan pertama dalam penanganan obsessive compulsive disorder. Efek serotonergik substansial dan efek samping antikolinergik menyebabkan obat ini menjadi pilihan kedua pada terapi kebanyakan pasien. 5) Duloxetine Dulocetine adalah agen SNRI yang diindikasikan pada penanganan depresi dan gangguan ansietas, nyeri neuropatik, diabetic peropheral neurophaty, nyeri muskuoskeletal, hingga fibromyalgia. Berdasarkan.
(37) 33. analisis database dari FDA Adverse Events Reporting System (AERS), there was no disproportionate elevation of adverse pregnancy outcomes includinh congenital anomalies, miscarriage, ectopic pregnancy and stillbirth in patients treated with duloxetine. 6) Fluoxetine Fluoxetine adalah SSRI dengan aktivitas stimulasi pada sebagian pasien. Obat ini digunakan pada penanganan depresi, obsessive-compulsive dan gangguan panik serta premenstrual dysphoric disorder. 7) Sertaline Merupakan SSRI pilihan pertama yang dapat digunakan selama kehamilan karena lebih dapat ditoleransi dan minim interaksi dengan pengobatan lainnya. 1.9.9. Asma Pada kondisi asma, pasien harus sering dikontrol. Kontrol dapat menggunakan spirometri dan memantau frekuensi serangan asma. Berikut adalah tahapan dalam terapi asma dan rekomendasi yang diberikan..
(38) 34. Obat yang digunakan dalam terapi asma adalah sebagai berikut : Obat. Keterangan. LABA (Long Acting Beta-2 Agonis) :. Digunakan rutin dalam. Salmeterol, Formoterol. pengobatan asma. SABA (Short Acting Beta-2 Agonis) :. Digunakan apabila merasa akan. salbutamol (Albuterol). sesak Harus ada mekanisme tappring.. Kortikosteroid. Apabila digunakan secara inhalasi harus kumur untuk menghindari jamur di mulut Sebaiknya digunakan di jam yang. Teofilin. sama dan waspada terhadap obat induser maupun inhibitor enzim. Keterangan: obat adrenergik seperti albuterol dan formoterol serta kortikosteroid inhalasi seperti budesonide menjadi pilihan dalam manajemen asma jangka panjang pada wanita hamil (Global Initiative for Asthma 2012). 1.9.10. Osteroarthritis Pedoman tatalaksana osteoarthritis merujuk pada American Pain Society Guidelines..
(39) 35. 1.9.11. Infeksi dan Penggunaan Antibiotika Dalam memilih antibiotika, hendaknya memperhatikan dua faktor yaitu faktor antibiotika dan faktor pasien. Faktor antibiotika seperti dosis, rute, bentuk obat, penetrasi ke tempat infeksi, lama terapi, frekuensi, hingga harga. Sedangkan faktor pasien seperti adanya penyakit penyerta, alergi, ataupun kehamilan. Faktor terbatasnya penetrasi ke tempat infeksi seperti pada meningitis, osteomyelitis, protatitis, infeksi kandung empedu membatasi antibiotika yang dapat dipilih. Sehingga perlu benar-benar dipikirkan antibiotik yang dapat menembus infeksi di daerah tersebut. Penetrasi. Antibiotika Chloramphenicol, Metronidazole, Rifampicin, Cotrimoxazole (Sangat Baik) Penicillin dan Turunannya, Gol Carbapenem, Cefepime,. CNS. Cefotaxim, Ceftazidim, Ceftizoxim, Ceftriaxone, Cefuroxim, Ciprofloxacin, Ofloxacin (Baik) Aminoglikosida, Azithromycin, Clarithomycin, Clindamycin, Erithromycin, Vancomycin (Kurang – Buruk). Tulang. Cefazolin (Sangat Baik). Prostat. Cotrimoxazole, Fluoroquinolon. Sumber: Optimizing the Dose of Fluconazole (Dutcher, 2008) dalam Praktik Farmasi Klinik (Widyati, 2015).. A. Tatalaksana Beberapa Penyakit Infeksi Infeksi. Colistridium difficile Infection (CDI). Tatalaksana Asimptomatis. Do NOT treat (promote relaps). Ringan-Sedang. Metronidazole 500 tid. Berat. Vamcomycin 125 qid. Berat+Komplikasi. Metronidazole + Vancomycin. Lama Terapi 10-14 Hari Diare. Campylobacter sp. Azithromycin 500 qd. Lama Terapi 1 – 3 Hari.
(40) 36. E.coli (enterotoksigenk, enteropatogenik, enteroinvasif) atau terapi. Ciprofloxacin 500 bid. empirik untuk traveler’s diarrhea Lama Terapi 1 – 3 Hari Ciprofloxacin 500 bid Salmonella sp (non-typhoid) TMP/SMX 160/800 bid Ceftriaxone 1 g (iv) Lama Terapi 5 – 7 Hari; 14 Hari untuk Pasien Immunocompromised TMP/SMX 160/800 bid. Shigella sp. Ciprofloxacin 500 bid. Lama Terapi 3 Hari; 7 Hari untuk Pasien Immunocompromised TMP/SMX 160/800 bid Yersinia sp. Ciprofloxacin 500 bid Doxycycline 100 bid. Lama Terapi 3 Hari; 3 – 5 Hari unutk TMP/SMX Entamoeba histolytica. Metonidazole 750 tid Tinidazole 1 g bid. Setiap pasien harus menerima terapi tambahan berupa Paromomycin 500 tid selama 7 hari Lama Terapi 5 – 10 Hari untuk Metronidazole dan 3 Hari untuk Tinidazole Lini Pertama Amoxicillin 1 g +Clarithomycin 500 Helicobacter pylori. Kasus Baru. + Pantoprazole 40 (bid) Alergi Penicillin Clarithomycin 500 + Metronidazole 500 + Pantoprazole 40 (bid).
(41) 37. atau Tetracycline 500 (qid) + Metronidazole 500 (tid) + Bismuth Subsalicylate 525 (qid) + Pantoprazole 40 (bid) Lama Terapi 10 – 14 Hari Sebisa mungkin hindari antibiotik yang sudah pernah digunakan. Tetracycline 500 (qid) + Kambuhan. Metronidazole 500 (tid) + Bismuth Subsalicylate 525 (qid) + Pantoprazole 40 (bid) Lama Terapi 14 Hari. H-2 RA dapat digunakan untuk menggantikan PPI Trichomoniasis. Metronidazole 2 g qd. Trichomonas vaginalis. Metronidazole 500 bid. Lama Terapi 7 Hari. Tatalaksana Empiris PPOK Eksaserbasi PPOK M.catarrhalis S.penumoniae. Doxycycline 100 bid. Lama Terapi 5 Hari. Azithromycin 500 qd. Lama Terapi 3 Hari. Co-amoxiclav 875 bid. Lama Terapi 5 Hari. Cefpodoxime 200 bid. Lama Terapi 5 Hari. Cefdinir 300 bid. Lama Terapi 5 Hari. Standar Selulitis. Co-amoxiclav 875 bid. Streptococcus. Cephalexin 500 qid. Staphylococcus. Alergi Penicillin. Lama Terapi 5 – 7 Hari. Clindamycin 300 tid. Candidiasis Orofaring. Kasus Baru Kambuhan. Clotrimazole 10 Troche (5x) Nystatin 100.000 U/mL Suspensi qid Fluconazole 100-200 qd Lama Terapi 5 – 10 Hari.
(42) 38. Candida vaginitis. Fluconazole 150 qd Miconazole 2% Krim (intravaginal) (7x) Ciprofloxacin tidak direkomendasikan untuk penanganan empiris. Urinary Tract Infections (UTI) Acute Cystitis. Nitrofurantoin 100 bid. Lama Terapi 5 Hari. Cephalexin 500 qid. Lama Terapi 5 Hari. Cefpodoxime 100 bid. Lama Terapi 5 Hari. Cefdinir 300 bid. Lama Terapi 5 Hari. TMP/SMX DS tab bid. Lama Terapi 3 Hari. Pada pasien dengan komplikasi, lama terapi diperpanjang menjadi 7 – 14 Hari Standar (Lama Terapi 5 – 7 Hari) Ciprofloxacin 15 mg/kg Ofloxacin 15 mg/kg Cefixime 15-20 mg/kg (7 – 14 Hari) Ringan. Alternatif (Lama Terapi 14 – 21 Hari) Chloramphenicol 50-75 mg/kg Amoxicillin 75-100 mg/kg Cotrimoxazole 8-40 mg/kg Azithromycin 8-10 mg/kg (7 Hari). Demam Typhoid. Standar (Lama Terapi 10 – 14 Hari) Ciprofloxacin 15 mg/kg Ofloxacin 15 mg/kg Cefixime 15-20 mg/kg Berat. Alternatif (Lama Terapi 14 – 21 Hari) Chloramphenicol 100 mg/kg Amoxicillin 100 mg/kg Cotrimoxazole 8-40 mg/kg Cefotaxime 80 mg/kg (10 – 14 Hari). Tuberculosis. Singaktan nama obat; H=Isoniazid; R=Rifampicin; Z=Pyrazinamide; E=Ethambutol; S=Streptomycin.
(43) 39. 2 Bulan Pertama Kasus Baru. HRZE (qd) 4 Bulan Lanjutan HR (3 hari sekali). Sputum Smear pada bulan kedua dan kelima. 2 Bulan Pertama HRZES Kambuhan. Sputum Smear. 1 Bulan Lanjutan. pada bulan. HRZE. ketiga, kelima. 5 Bulan Terakhir. dan kedelapan. HRE Grup 1 (Injeksi). Resistensi MDR-XDR. Streptomycin. 15-20 mg/kg. Amikacin. 15-20 mg/kg. Capreomycin. 15-20 mg/kg. Kanamycin. 15-20 mg/kg. Grup 2 (FluorQ) Ofloxacin. 750-1000 mg qd. Levofloxacin. 750-1000 mg qd. Moxifloxacin. 400 mg qd. Sumber: Antibiotic Guidelines 2015-2016 (Cosgrove et al, 2015); Guidelines for the Management of Typhoid Fever (WHO, 2011); Tuberculosis Treatment and Management (Zumla et al, 2015). B. Ringkasan Penggunaan Antiviral, Antimikroba, dan Antijamur Berdasarkan Teratogen Information System (TERIS) Estimasi Resiko oleh FDA Obat Asiklovir. TERIS Risk Topical: undetermined Sistemik: unlikely. FDA Risk Rating B. Amoxicillin. Unlikely. B. Ampicillin. None. B. Azithromycin. Undetermined. B. Cefixime. Undetermined. B.
(44) 40. Chloramphenicol. Unlikely. C. Chloroquine. None to minimal. C. Ciprofloxacin. Unlikely. C. Claritomycin. Undetermined. C. Clindamycin. Undetermined. B. Clortimazole. Unlikely. B. Erythromycin. None. B. Fluconazole. Undetermined. C. Gentamicin. Undetermined. C. Griseofulvin. Undetermined. C. Ketokonazole. Undetermined. C. Metronidazole. None. B. Unlikely. C. Nystatin. None. C. Penicillin. None. B. Undetermined. C. Moderate. D. Spiramycin. Undetermined. C. Terconazole. Undetermined. C. Tetracycline. Unlikely. D. Trimethroprim. Minimal. C. Valacyclovir. Undetermined. B. Vancomycin. Undetermined. C. Zidovudine. Unlikely. C. Norfloxacin. Pyrazinamide Quinine. Sumber: Drugs and Pregnancy: A Handbook (Little, 2006). C. Pemilihan Antimikroba pada Kehamilan Obat atau Golongan Obat Penicillin dan Inhibitor Lactamase. Rekomendasi Penicillin merupakan kelompok obat yang menjadi pilihan selama kehamilan.. Jika.
(45) 41. terindikasi adanya resistensi, penicllin dalam dikombinasikan dengan asam klavulanat, sulbaktam atau tazobaktam. Sama. seperti. penicillin,. cephalosporin. merupakan antibiotik yang dapat menjadi Cephalosporin. pilihan selama kehamilan, jika mungkin, gunakan cephalosporin yang telah lazim khususnya cefalor, cefalexin, dan cefuroxim.. Carbapenem dan Monobactam. Azetronam, imipenem dan meropemen dapat digunakan ketika hasil tes resistensi menunjukkan bahwa antimikroba ini diperlukan. Erithromycin, clarithomycin, azithromycin dan roxithromycin dapat digunakan misalnya dalam kasus resistensi atau ketika pasien. Erithromycin dan. alergi terhadap golongan penicillin. Karena. Makrolida Lain. hepatotoksik, erithromycin estolate sebaiknya tidak diberikan selama trimester kedua dan ketiga. Spiramycin adalah pilihan terapi untuk toksoplasmolisis pada trimester pertama. Clindamycin dan lincomycin hanya diberikan. Clindamycin dan. ketika penicillin, cephalosporin, dan makro-. Lincomycin. lida tidak berhasil. Clindamycin tidak boleh digunakan secara rutin pasca dental procedures.. Tetracycline Sulfonamida dan Trimetoprim. Tetracycline. dikontraindikasikan. setelah. memasuki minggu kelima kehamilan. Sulfonamida, trimetoprim dan cotrimoxazole adalah antibiotik yang menjadi pilihan kedua selama kehamilan. Antibiotik quinolon adalah antibiotik pilihan. Quinolone. kedua selama kehamilan khususnya untuk norflaxacin dan ciproflaxacin..
(46) 42. Chloramphenicol dan Tiamphenicol Streptomycin. Penggunaan chloramphenicol dan tiamphenicol secara sistemik dikontraindikasikan pada wanita hamil. Streptomycin. dikontraindikasikan. selama. kehamilan karena bersifat ototoksik.. Sumber: Drugs During Pregnancy and Lactation (Schaefer et al, 2015). D. Kombinasi Antibiotika Kombinasi antibiotika diberikan pada penderita: neutropenic fever, penumonia, sepsis, infeksi saluran cerna, dan infeksi polimikrobial lain. Kombinasi antibiotika umumnya bertujuan untuk: 1) Memperluas cakupan antibiotik Contoh: Ceftriaxone + Metronidazole akan memperluas cakupan yakni aerob Gram positif sedikit dan aerob Gram negatif luas serta anaerob Gram positif dan Gram negatif 2) Memperkuat daya bunuh terhadap bakteri tertentu Contoh: Ceftazidime + Amikacin akan memperkuat daya bunuh bakteri aerob Gram negaitf. Kombinasi ini seringkali digunakan pada penumonia nosokomial, sepsis, neutropenic fever 3) Sinergisme Contoh: Cefalosporin yang bekerja mengahmbat sintesis dinding bakteri bila dikombinasikan dengan quinolon yang menghambat sintesis DNA bakteri menghasilkan daya bunuh yang masksimal. 4) Menekan resistensi antbiotik E. Kegagalan Antibiotika Kegagalan antibiotika disebabkan antara beberapa hal seperti pemilihan antibiotika yang kurang tepat, penetrasi antibiotika kurang baik ke tempat infeksi, bakteri telah resisten, dosis dan lama terapi kurang tepat, kondisi imun yang kurang baik, adanya penyakit penyerta seperti DM yang tidak terkontrol dengan baik atau sudah mengalami peripheral vascular diseases.
(47) 43. yang berakibat distribusi antibiotik ke tempat infeksi kurang baik, serta superinfeksi F. Penambahan Kortikosteroid kepada Antibiotika Penambahan kortikosteroid tidak direkomendasikan khususnya pada sepsis, infeksi berat lainnya, dan infeksi pada immunocompromised. Hal ini disebabkan karena kortikosteroid dapat menurunkan demam sehingga menutupi tanda-tanda infeksi (masking infection sign). Di sisi lain, kehadiran kortikosteroid yang juga merupakan immunosupresan dapat memperparah infeksi dengan melemahkan sistem imun. Selain itu pemberian kortikosteroid dapat menyebabkan leukositosis palsu (bukan infeksi) sehingga mempersulit interpretasi progresifitas infeksi. 1.9.12. Terapi Infeksi HIV Europenan AIDS Clinical Society (EACS) Guidelines for the Clinical Management and Treatment of HIV-infected Adults.
(48) 44. Penatalaksanaan Infeksi HIV dengan Regimen yang Direkomendasikan Regimen yang Disarankan. Keterbatasan • Tidak dapat digunakan. NNRTI. Efavirenz + Tenofovir +. based. Emtricitabine. pada trimester pertama kehamilan • Not in women without adequate contraception. Darunavir + Ritonavir +. Ruam. Tenofovir + Emtricitabine. PI based. Atazanavir + Ritonavir + Tenofovir + Emtricitabine Reltegnavir + Ritonavir + Tenofovir + Emtrivitabine. • Jangan gunakan bersama PPI • Ruam Twice daily (not once). Regimen Alternatif. Keterbatasan. Efavirenz + (Abacavir atau. Efikasi turun pada kondisi. Zidovudine) + Lamivudine. viral load tinggi (Abacavir) • Tidak bisa untuk pasien gangguan hati sedang –. Nevirapine + Zidovudine + PI based. Lamivudine. berat • Wanita dengan CD4 > 250 atau pria dengan CD4 > 450. Atazanavir-Ritonavir + (Abacavir atau Zidovudine). Lihat diatas. + Lamivudine Regimen atau Komponen yang Sebaiknya tidak Digunakan Regiman atau Komponen. Alasan. Semua regimen NRTI. Efikasi rendah. Abacavir +Diadanosine + Tenofovir. Data tidak memadai.
(49) 45. • Dapat menyebabkan fat loss Stavudine. • Neuropati perifer • Asidosis laktat. Ritonavir. Intoleransi GI. Keterangan: NRTI = Nucleoside Reverse Transciptase Inhibitors, NNRTI = Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors, PI = Protease Inhibitors. Karakter Farmakologi Beberapa Obat Antiretroviral Obat. Efek Samping. Nucleoside Reverse Transciptase Inhibitors (NRTI) Abacavir. Hipersensitivitas. Didanosine. Neuropati perifer, pankeatitis. Emtricitabine Lamivudine. Pigmentasi Sakit kepala, pankreatitis. Stavudine. Lipoatropi, neuropati perifer. Tenofovir. Tokisisitas ginjal. Zidovudine. Anemia, neutropenia, miopati. Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) Delavirdine. Ruam, peningkatan hasil tes hati. Efavirenz. Gangguan SSP, teratogen. Etravirine. Ruam, mual. Nevirapine. Potensial ruam, hepatoksik Protease Inhibitors (PI). Atazanavir. Ruam. Indinavir. Nefrolitiasis. Lopinavir. Hiperlipidemia, intoleransi GI. Ritonavir. Intoleransi GI. Saquinavir. Mual, kembung. Nelfinavir. Diare. Sumber: Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-Infected Adult and Adolscents (DHHS, 2009).
(50) 46. Terapi Antiretroviral Pada Kehamilan Tujuan dari terapi antiretroviral (ARV) selama kehamilan adalah untuk mencegah terjadinya transmisi vertikal dari ibu kepada anak dan juga untuk mengoptimalkan pengobatan yang diterima ibu. Obat ARV dapat digunakan selama kehamilan. Spesific risks for the prophylaxis of transmission and the therapy of maternal HIV infection need to be observed. Pemilihan dan pemberian obat di waktu yang tepat harus diputuskan berdasarkan pasien. Saat memilih obat, harus ditandai bahwa terdapat beberapa ARV yang perlu dihindari selama kehamilan. Salah satunya adalah efavirenz (memiliki efek teratogenik) dan kombinasi stavudin/didanosine (asidosis laktat). Untuk pengobatan baru seperti maraviroc, reltegravir, dan etravirine hanya terdapat beberapa data yang memungkinkan obat ini dapat digunakan selama kehamilan. Perhatian harus diberikan pada nevirapine yang digunakan pada wanita dengan jumlah sel CD4 < 250 (hepatoksisitas). Jika nevirapine digunakan selama kehamilan, pemantauan fungsi hati harus dilakukan, terutama selama 18 minggu pertama pengobatan. 1.9.13. Jerawat (Acne Vulgaris) Patogenesis terjadinya jerawat terdiri dari empat tahap utama, yakni (1) peningkatan kreatinisasi folikular, (2) peningkatan produksi sebum, (3) lipolisis trigliserida sebum menjadi asam lemak oleh bakteri, dan (4) inflamasi. Jerawat diawali dengan proses pematangan kelenjar adrenal dan produksi hormon androgen serta aktivitas kelenjar sebaceous. Untuk penanganan jerawat ringan hingga sedang dengan noninflammatory lesions (komedo), few inflammatory lesion, dan no scar, agen aktif adalah pilihan pertama yang bekerja dengan cara melawan keratinisasi dengan memproduksi eksfolasi, contohnya seperti retinoid, asam salisilat, dan benzoil peroksida. Dalam penanganan jerawat sedang hingga parah dengan predominantly inflammatory lesions (papul, pustul dan nodul) dan some scars, penting untuk mengontrol populasi bakteri pada folikel. Pilihannya dapat menggunakan benzoil peroksida, antibiotik topikal (seperti clindamycin, tunggal atau kombinasi dengan benzoil peroksida dan antibiotik oral seperti erythromycin,.
(51) 47. tetracycline, atau minocycline). Sedangkan untuk penanganan jerawat parah dimana terjadi inflamasi (papul, pustul) dan muncul nodul-nodul besar, penggunaan obat yang dapat menurunkan aktifitas kelenjar sebaceous seperti agen antiandrogen, isotreonin atau antibiotik topikal dapat menjadi pilihan. Patogenesis Jerawat dan Mekanisme Kerja Obat Antijerawat. 1.9.14. Beberapa Pengobatan yang Mempengaruhi Laktasi Pengobatan dengan obat yang memiliki efek antidopamine seperti phenothiazine, haloperidol, dan nuroleptik lainnya seperti sulpiride dan risperidone, selain itu antihipertensi seperti metildopa dan pengobatan yang menstimulasi peristaltik usus seperti domperidon dan metoclopramide dapat menyebabkan peningkatan sekresi prolaktin yang menstimulasi produksi air susu. Selain itu obat dengan kerja simpatikolitik seperti reserpin memiliki efek serupa. Beberapa obat yang diketahui dapat menyebabkan masalah selama periode menyusui antara lain: A. Antineoplastik B. Radionuklida C. Terapi kombinasi dengan psikotropik atau antiepilepsi.
(52) 48. D. Iodine-containing contrast media, iodine-containing expectorants, and broad-based iodinecontaining disinfectants (Iodine memiliki rasio Milk/Plasma sebesar 15-65, sehingga sebagian besar obat dapat berada dalam air susu) E. Opioid if more than single doses up to 2 days Penanganan nyeri pada post-partum sering kali menjadi tantangan. Codein telah umum digunakan karena merupakan pilihan yang aman. Namun ada wanita yang dapat dengan cepat memetabolisme codein menjadi morfin tetapi ada pula yang lambat. Pada pasien yang memetabolisme codein secara lambat, penggunaan codein tidak memberikan keuntungan. Keamanan penggunaan codein pada saat menyusui tergantung pemahaman sang ibu dalam menangani obat tersebut karena depresi SSP yang mengancam jiwa dapat terjadi pada bayi yang menyusui karena bayi pada usia 2 hingga 6 bulan sangat lambat dalam memetabolisme morfin. Sehingga direkomendasikan untuk membatasi penggunaan codein maksimal 4 hari. Lakukan pemantauan secara seksama terhadap tanda dan gejala depresi SSP yang dapat terjadi pada bayi. 1.9.15. Menstruation-Related Disorder Gangguan terkait menstruasi umumnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa kondisi, seperti amenorrhea, menorrhagia, anovulatory bleeding, dysmenorrhea, premenstrual syndrome (PMS), dan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Ovarium memiliki fungsi kritis dalam proses menstruasi. Ovarium harus mampu merespon kerja follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dengan mensekresi estrogen dan progesteron dalam jumlah yang sesuai untuk mempengaruhi perkembangan dan penebalan endometrium..
(53) 49. A. Amenorrhea Amenorrhea dapat dibedakan menjadi amenorrhea primer dan sekunder. Amenorrhea primer merupakan kondisi tidak terjadinya mens hingga usia 16 tahun (dengan perkembangan yang normal dari ciri seks sekunder) atau tidak mens hingga usia 14 tahun (dengan tidak terjadinya perkembangan ciri seks sekunder). Sedangkan amenorrhea sekunder merupakan kondisi tidak terjadinya mens hingga tiga siklus atau 6 bulan sejak mens terakhir kali. B. Menorrhagia Didefinisikan sebagai kondisi dimana menstrual blood loss lebih dari 80 mL per siklus. C. Anovulatory Bleeding Merupakan terminologi standar untuk mendeskripsikan perdarahan endometrium akibat disfungsi dari menstrual system, namun tidak termasuk perubahan anatomis uterus. D. Dysmenorrhea Merupakan salah satu kondisi yang paling umum terjadi dengan kondisi nyeri serta kram pada panggul selama mens. E. PMS dan PMDD PMS is a constellation of symptoms including mild mood disturbances and physical symptoms occuring prior to menses and resolving with menses initiation. It is distinct from PMDD. Therapeutic Agents for Selected Menstrual Disordes Kondisi. Amenorrhea (Primer atau Sekunder). Amenorrhea (Sekunder). Therapeutic Agent CEE. Keterangan ES: tromboemboli, mual, GI upset, udem. Etinil Estradiol. Seperti CEE. Kombinasi OC. Seperti CEE. Oral MPA. ES: edema, weight gain or loss, LDL naik dan HDL turun.
(54) 50. Norethindrone. Berikan selama 7-10 Hari. Progesteron. Berikan selama 7-10 Hari. Amenorrhea terkait. Bromocriptine. ES: hipotensi, konstipasi. Hiperprolaktin. Cabegroline. Anovulatory Bleeding. Kombinasi OC. Seperti CEE. Kombinasi OC. Seperti CEE. Depo MPA Levonorgestrel Dysmenorrhea. Seperti Bromocriptine. Seperti Oral MPA ES: irregular mens, amenorrhea Diclofenac, Ibuprofen,. AINS. Asam Mefenamat, Naproxen. Celexoib. Menorrhagia. Kombinasi OC. Seperti CEE. Levonorgestrel. Lihat Levonogestrel. Oral MPA ANIS Asam Traneksamat Clomipramine Drospirenone. PMDD. -. Leuprolide. Lihat Oral MPA Lihat AINS Berikan selama 4-7 Hari ES: diare, kembung ES: mulut kering, vertigo keringatan Seperti Kombinasi OC hiperkalemia ES: sakit kepala, keringat malam, hot flashes Citalopram,. SSRI. Escitalopram,. Fluoxetine, Sertaline, Fluvoxamine, Paroxetine ES: insomia, diare. PCO. Depo MPA Kombinasi OC. Seperti Oral MPA Seperti CEE.
(55) 51. Oral MPA. Lihat Oral MPA. Metformin. ES: diare, flatulen Pioglitazone, Rosiglitazone. Thiazolidinedione. ES: weight gain, LDL, HDL, total kolesterol naik, udem, sakit kepala. Keterangan: CEE = Conjugate Equine Estrogen, IUD = Intrautrine Device, MPA = Medroxy Progesterone Acetate, OC = Oral Contraceptive, Bromocriptine dan Cabergoline adalah Agonis Dopamin. • Norethindone atau dikenal juga sebagai norethisterone merupakan bentuk sintetis dari progesteron. Norethindrone dapat digunakan untuk mengatasi menstruasi yang tidak teratur atau dapat pula digunakan untuk menunda mens. • Kontrasepsi oral kombinasi (estrogen-progesteron) dapat menyebabkan gangguan kardiovaskuler (meningkatnya curah jantung) akibat kerja obat ini yang dapat mempengaruhi metabolisme dalam tubuh, seperti metabolisme lemak dan karbohidrat. Progesteron diketahui lebih dominan mempunyai efek dalam metabolisme karbohidrat yakni menyababkan gangguan penggunaan glukosa di dalam tubuh. Sedangkan estrogen dapat meningkatkan kolesterol total, trigliserida, HDL, dan LDL. 1.9.16. Vaksin Vaksin. Kegunaan. Diberikan Pada Bayi < 3 bulan, jika > 3 tahun, lakukan. BCG. Tuberkulosis. uji tuberkulin, jika hasil positif, jangan diberikan.. Difteri DPT. Pertusis Tetanus. Diberikan sebanyak 5 kali pada usia: 2-4-6-18 bulan-(4-6) tahun atau 2-3-4-18 bulan-SD kelas 1 Dapat diulang 10 tahun sekali.
(56) 52. Campak. Campak. Bayi usia 9 bulan dan diulang pada. (Virus Morbili). umur 2 tahun dan pada saat masuk SD Bayi usia 12-15 bulan, jika hingga usia. Cacar Air. Cacar Air (Varicella zoster). 13 tahun ke atas (belum mengalami cacar atau belum mendapat vaksin) harus diberikan dua dosis dengan interval sekurang-kurangnya 28 hari Bayi mendapat 3 dosis vaksin Dosis pertama: Saat lahir sebelum usia. Hepatitis B. Hepatitis B. 12 jam Dosis kedua: Saat usia 1-2 bulan Dosis ketiga: Saat usia 6-12 bulan. Meningitis Hib. Pneumonia (Haemophilus influenzae B). Influenza. Flu. Diberikan 3 atau 4 dosis pada usia 2, 4, 6 bulan dan diulang pada umur 12-15 bulan Diberikan tiap tahun pada usia 6 bulan sampai 8 tahun. Meales. MMR. (Campak). Diberikan dalam 2 dosis vaksin. Mumps. Dosis pertama: Usia 12-15 bulan. (Gondongan) Rubella. Dosis kedua: Usia 4-6 tahun (atau lebih cepat). (Campak Jerman) Pneumonia Sepsis Pneumokokus. Otitis Media. Konjugasi. Meningitis (Streptococcus pneumoniae). Diberikan secara rutin pada bayi usia 2, 4, 6 dan 12-15 bulan.
(57) 53. Diberikan 4 dosis vaksin dengan jadwal sebagai berikut, dosis pertama saat Polio. Polio. lahir, dilanjutkan pada usia 2, 4, 6 bulan Vaksin polio diulang pada usia 18 bulan dan pada 4-6 tahun Jadwal pemberian vaksin rabies prapaparan adalah dalam 3 dosis. Rabies. Rabies. Dosis satu: Bila dibutuhkan Dosis dua: 7 hari setelah dosis satu Dosis tiga: 21 hari atau 28 hari setelah dosis satu Diberikan 2 atau 3 dosis. Rotavirus. Diare. Vaksin diberikan pada usia 2, 4, (dan 6 bulan bila 3 dosis) dengan cara diminum bukan disuntik Wisatawan yang akan pergi ke wilayah. Tifoid. Demam Tifoid (Salmonella typhi). endemik tifoid (satu suntikan 2 minggu sebelum berangkat) Dosis booster dapat diberikan setiap 3 tahun sekali. Sumber: Informasi Vaksin Untuk Orang Tua (IDAI, 2014). 1.9.17. Penggunaan Dekongestan pada Pasien dengan Hipertensi Terapi utama dalam penanganan common cold umumnya meliputi istirahat, mengonsumsi cukup air, humidification for expectorian and avoidance of others to minimize viral transmission. Namun, banyak diantara obat-obat over-the-counter mengandung dekongestan sebagai agen farmakologi pilihan pada penanganan common cold. Dekongestan merupakan agen simpatomimetik yang secara mayor bekerja pada reseptor -adrenergik dengan sedikit pada reseptor -adrenergik. Aktivitas sebagai agonis. menyebabkan vasokonstriksi pada pembuluh darah. yang ada pada saluran nafas, reducing edema, nasal congestion, and tissue hyperemia, and increasing nasal patency..
(58) 54. agonis Pse RC. Phe RC. FGA / H1RA. agonis Nap C. Oxy C. Tet RC. Chl RC. SGA / H2RA. Cle. Dip. Aze. Cet. Fex. Lor. Des. -. -. -. -. -. -. -. Keterangan: RC = Relatively Contraindicated C = Contraindicated FGA= First Generation Antihistamine SGA= Second Generation Antihistamine Pse = Pseudoephendrine Phe = Phenylephrine Nap = Naphazoline Oxy = Oxymetazoline Tet = Tetrahydrazoline Chl = Chlorpheniramine Dip = Diphenhydramine Aze = Azelastine Cet = Cetirizine Fex = Fexofenadine Lor = Loratadine Des = Desloratdine.
(59) BAGIAN II PHARMACEUTICAL SCIENCE 2.1. Sediaan Farmasi 2.1.1. Biofarmasetika Pada pembuatan obat, harus diperhatikan kelas penggolangan obat menurut BCS. Berikut adalah kelas pembagian obat berdasarkan BCS : Kelas BCS I (kelarutan besar, permeabilitas tinggi). Rate Limiting Step. Solusi Menambahkan bahan. Kecepatan disolusi. untuk mempercepat disolusi Menambahkan bahan. II (kelarutan kecil, pemeabilitas tinggi). Kelarutan senyawa. yang dapat meningkatkan kelarutan senyawa. III (kelarutan tinggi,. Permeabilitas. permeabilitas rendah). senyawa. IV (kelarutan rendah, permeabilitas rendah). Menambahkan permeability enhancer pada formulasi. Tidak diketahui (tidak ada hubungan antara. -. in vitro dan in vivo). 2.1.2. Padat/Solid Sediaan padat contohnya adalah serbuk, granul, tablet, dan kapsul. Pada sediaan padat apabila ingin dibuat tablet harus memperhatikan bentuk partikel, ukuran partikel, dan sifat kimia, sehingga dapat ditentukan cara pembuatan tablet. Metode. Keterangan Senyawa aktif tahan air dan panas, sifat. Granulasi Basah. alir jelek, dilakukan pembuatan massa. 55.
(60) 56. dengan pengikat, dikeringkan lalu diayak. Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, Granulasi Kering. sifat alir jelek, dilakukan kempa dengan bahan pengisi lalu dihancurkan dan diayak.. Kempa Langsung. Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, sifat alir baik.. Pada pembuatan kapsul, harus diperhatikan sifat alir campuran karena berpengaruh pada keseragaman bobot saat pengisian kapsul. Analisis bahan sediaan padat dapat berupa penetapan bulk density dan sudut diam. Dalam kontrol kualitas sediaan padat dapat dilakukan keseragaman bobot, keseragaman kadar, dan uji disolusi. Untuk uji stabilitas dapat dilakukan menurut ICH. A. Eksipien Formulasi Tablet Komposisi tablet umumnya terdiri atas zat aktif dan eksipien (ada sejumlah tablet yang dapat dibuat tanpa eksipien). Eksipien tablet antara lain: 1. Pengisi Turunan Selulosa (Avicel PH-MCC) PH-101 = untuk kempa langsung dan granulasi basah PH-102 = untuk meningkatkan sifat alir PH-103 = baik untuk zat aktif peka kelambaban Amilum 2. Pengikat Povidon K-29/32, Kopovilidon, Gelatin dan Gom Alam 3. Penghancur (desintegran/super desintegran) Croscarmellose, Crospovidon, Amprotab, Primogel, Ac-disol 4. Pelincir (lubrikan) Magnesium Stearat 5. Anti lengket (antiadheran) Talk.
(61) 57. 6. Pelicin (glidants) Silikon Dioksida 7. Pembasah (weting/surface active agents) 8. Zat warna (colour/pigments) 9. Peningkat rasa (flavors) 10.Pemanis 11.Penutup rasa Pemilihan eksipien pada formulasi tablet tergantung pada zat aktif, tipe tablet, karakteristik yang dibutuhkan, dan proses manufaktur yang akan diaplikasikan. B. Evaluasi Mutu Tablet Evaluasi mutu tablet meliputi evaluasi bentuk dan ukuran, kekerasan tablet, friabilitas, friksibilitas, keseragaman bobot, keseragaman kandungan, waktu hancur, dan disolusi. Uji Disolusi Lazimnya menggunakan 2 tipe apparatus untuk uji sediaan padat, yaitu apparatus tipe I (basket/keranjang) dan apparatus tipe II (paddle/dayung), dasar pemilihan apparatus umumnya merujuk pada kompendial. Kriteria Penerimaan Untuk Uji Disolusi Tahap. Sampel Uji. S1. 6. Kriteria Penerimaan Tiap unit tidak kurang dari Q+5% Rata-rata dari 12 unit (S1+S2) adalah sama. S2. Ditambah 6. dengan atau lebih dari Q dan tidak boleh ada satupun unit yang kurang dari Q-15% Rata-rata dari 24 unit (S1+S2+S3) adalah sama dengan atau lebih dari Q dan tidak. S3. Ditambah 12. lebih dari 2 unit yang kurang dari Q-15% serta tidak boleh ada satupun unit yang kurang dari Q-25%.
(62) 58. C. Masalah dan Solusi Terkait Pembuatan Sediaan Padat 1. Lengket pada Cetakan Kondisi. : melekat pada die dan sulit dikeluarkan, bunyi keras pada mesin, sisi tablet menjadi kasar. Solusi. : meningkatkan antiadheren dan lubrikan, penggantian lubrikan. 2. Sticking dan Picking Kondisi. : permukaan tablet terlihat ada goresan, bentuk tablet berlekuklekuk. Solusi. : menurunkan ukuran granul, mengganti lubrikan, bersihkan dan salut permukaan punch dengan minyak mineral. 3. Capping Kondisi. : bagian atas tablet terpisah dari bagian utamanya. Solusi. : tambahkan pengikat kering, regranulasi, menurunkan jumlah lubrikan. 4. Chipping/Cracking Kondisi. : tablet rusak di bagian tepi. Solusi. : poles permukaan punch dan die, perkecil ukuran granul, tambahkan pengikat kering, kurangi jumlah fines. 2.1.3. Semipadat Sediaan semipadat contohnya adalah salep, krim, dan gel. Pada pembuatan sediaan semipadat, harus memperhatikan sifat hidrofilisitas dan stabilitas senyawa aktif, sehingga dapat ditentukan cara pembuatan sediaan semipadat. Apabila dalam pencampuran krim dengan salep harus digunakan surfaktan agar tidak terjadi pemisahan fase. Pemilihan emulgator dalam pembuatan krim sangat diperlukan dengan menghitung nilai HLB yang diperlukan. Umumnya senyawa yang hidrofob dibuat sediaan salep dan krim emulsi o/w serta senyawa hidrofil dibuat sediaan gel atau krim emulsi w/o. Dalam kontrol kualitas sediaan semipadat dapat dilakukan keseragaman bobot, keseragaman kadar, uji pelepasan obat, uji daya lekat, dan uji penyebaran. Untuk uji stabilitas dapat dilakukan menurut ICH..
Dokumen terkait