Cara Mudah Membaca Gambaran EKG Atau Rekam Gelombang Jantung Ione Nasition Sabtu, 16 Januari 2016 Membaca EKG
Advertisement
Bagaimana caranya membaca hasil EKG atau rekam jantung? Bagi masyarakat awam, tentu ini perkara yang sulit, jangankan Anda, petugas kesehatan saja banyak yang belum bisa membaca gelombang jantung ini. Tapi, Anda tidak usah khawatir, karena tidak ada sesuatu di dunia ini yang susah untuk dipelajari, asal ada niat dan usaha yang keras, kami yakin Anda pasti bisa menaklukkan
gambaran EKG yang seperti gunung berapi ini.
Cara membaca EKG ini akan kami bagi menjadi beberapa bagian, mulai dari dasar pembacaan EKG (rekam jantung), mengenal gelombang jantung (EKG) yang normal hingga cara membaca EKG yang tidak normal. Hal ini kami lakukan agar Anda memahami secara benar tentang pembacaan rekam jantung ini. Baca Juga: Apakah Nyeri Dada Tanda Seseorang Menderita Penyakit Jantung?
Dasar pembacaan rekam jantung (EKG) akan mulai dipostingan kali ini. Pada kesempatan ini akan akan menjabarkan bagaimana menghitung kotak di EKG dan bagaimana gambaran setiap gelombang EKG.
Cara membaca atau menghitung kotak kertas EKG (Rekam Jantung). Sebelum membaca hasil rekam jantung, Anda terlebih dahulu harus tahu bagaimana cara menghitung kotak (baik kotak kecil maupun kotak besar) di kertas EKG. Cara membaca kotak dikertas EKG adalah dengan mengetahui garis horizontal (garis datar) dan garis vertikal (garis ke atas).
Mengapa Anda harus mengetahui garis horizontal dan vertical ini? Karena
dengan mengetahui ini Anda akan mengetahui gambaran EKG normal atau tidak. Dimana garis horizontal merupakan garis yang menggambarkan waktu
Dimana garis horizontal, satu kotak kecil bernilai 0,04 detik, maka satu kotak besar bernilai 0,2 detik ( hasil perkalian antara 0,04 x 5 kotak kecil). Sedangkan garis vertikal, satu kotak kecil bernilai 0,1 mV dan satu kotak besar 0,5 mV (hasil perkalian 0,1 mV x 5 kotak kecil).
Mungkin Anda bingung, apa itu kotak kecil apa itu kotak besar? Anda bisa melihat penjelasan dari gambar berikut ini:
NB: Ingat! Pembacaan kotak ini berlaku untuk kalibrasi 1 miliVolt (umumnya perekam jantung menggunakan kalibrasi ini) yang akan menimbulkan defleksi 10 mm, pada keadaan tertentu kalibrasi dapat diperbesar yang akan menimbulkan defleksi 20 mm atau bisa juga diperkecil yang akan menimbulkan defleksi 5 mm. Sampai sini Anda sudah paham? Jika iya, dikesempatan berikutnya kita akan membahas tentang Pengenalan Gelombang EKG , dari mulai: gelombang P, gelombang Q, gelombang R, gelombang S, gelombang T sampai gelombang U.
Cara Mudah Membaca Gelombang EKG
Ione Nasition Senin, 18 Januari 2016 Membaca EKG Advertisement
Cara membaca gelombang EKG – pada kesempatan kali ini kita akan belajar bagaimana cara membaca gelombang rekam jantung (EKG), mulai dari
pembacaan gelombang P, gelombang Q, gelombang R, gelombang S, gelombang T sampai dengan gelombang U.
Sebelum ke materi ini, bagi Anda yang belum mengetahui Cara Membaca Kotak ECG , disarankan untuk membaca dan memahami materi tersebut, karena jika Anda belum memahaminya, maka akan sulit menerima materi pembacaan gelombang EKG ini.
Untuk membaca hasil gelombang EKG, Anda terlebih dahulu harus paham, apa itu gelombang P, gelombang, Q, gelombang R, gelombang S, gelombang T dan gelombang U.
Apa itu gelombang P pada EKG? Gelombang P adalah gambaran proses
depolarisasi ( perubahan muatan ion di dalam sel dari negatif menjadi positif) atrium. Dimana gelombang P yang normal adalah: lebar kurang dari 0,12 detik (3 kotak kecil pada garis horizontal: garis datar), tinggi kurang dari 0,3 miliVolt (3 kotak kecil pada garis vertikal: garis ke atas), dimana gelombang P selalu postif di Lead II dan selalu negatif di lead AVR.
Apa itu gelombang QRS pada EKG? Gelombang Q, R, S adalah gambaran proses depolarisasi ventrikel. Dimana gelombang QRS yang normal adalah: Lebar direntang 0,06 sampai dengan 0,12 detik (1 ½ kotak – 3 kotak kecil pada garis horizontal) dan tinggi tergantung lead. Yang mana akan di bagi jadi 3
gelombang: Q, R dan S:
Apa itu gelombang Q pada EKG? Gelombang Q adalah defleksi negatif pertama pada gelombang QRS. Gelombang Q yang normal: lebar kurang dari: 0,04 detik (1 kotak kecil pada garis horizontal: garis datar) dan tinggi/dalamnya kurang dari 1/3 R. Dimana gelombang Q yang tidak normal (lebih dari 1/3 R) disebut Q Patologis yang menandakan adanya OMI (Old Miokard Infark: serangan jantung yang lama).
Apa itu gelombang R pada EKG? Gelombang R adalah: defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Dimana gelombang R ini umumnya positif di lead I, II, V5 dan V6. Sedangkan dilead AVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atau tidak ada sama sekali.
Apa itu gelombang S pada EKG? Gelombang S adalah: defleksi sesudah
gelombang R. Dimana gelombang S ini akan akan terlihat dalam mulai dari lead AVR dan V1 tapi dari V2 ke V6 akan terlihat makin lama makin menghilang atau berkurang dalamnya.
Apa itu gelombang T pada EKG? Gelombang T adalah: proses repolarisasi (perubahan muatan ion di dalam sel dari positif menjadi negatif) ventrikel. Umumnya gelombang T positif di lead I, II, V3 – V5 dan terbalik AVR.
Apa itu gelombang U pada EKG? Gelombang U adalah gelombang yang timbul setela gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebab gelombang U masih belum diketahui namum diduga akibat repolarisasi lambat sistem
konduksi interventrikel.
Selain gelombang yang disebutkan di atas, ada beberapa gelombang yang perlu diketahui, seperti:
Interval PR: mengukur waktu mulai dari awal depolarisasi atrium hingga awal depolarisasi ventrikel.
Interval QT: mengukur waktu mulai dari awal depolarisasi ventrikel hingga akhir repolarisasi ventrikel.
Segmen ST: merekam waktu dari mulai dari akhir depolarisasi ventrikel hingga awal repolarisasi atrium.
Itulah tadi pengenalan dan pembahasan gelombang EKG, mulai: gelombang Q, R, S, T dan U. Selanjutnya kita akan masuk kepembahasan: Cara menilai EKG: Menghitung Frekwensi (Heart Rate) Pada Jantung
Cara Menilai EKG: Menentukan Frekwensi (Heart Rate) Pada Jantung Ione Nasition Kamis, 28 Januari 2016 Membaca EKG
Advertisement
Cara cepat belajar EKG – Pada kesempatan ini kita akan mempelajari cara menilai EKG, dimana penilaian ini berupa: bagaimana cara menentukan
frekwensi (heart rate)?, menentukan irama jantung (rhythm)?, sumbu jantung (axis)?, menentukan ada atau tidaknya tanda hipertropi? menentukan ada
tidaknya tanda iskemia dan infark miokard? Dan menentukan ada tidaknya tanda akibat gangguan lain seperti efek obat-obatan atau gangguan keseimbangan elektrolit?
Sebaiknya, bagi Anda yang ingin mempelajari cara menilai EKG dibagian ini, Anda harus memahami pokok bahasan kita terdahulu ( Cara Menghitung Kotak Kertas EKG dan Mengenal Gelombang EKG ), karena kalau langsung melangkah ke bab cara penilaian EKG ini, maka bisa dipastikan Anda akan mengalami kesukaran. Karena pada bagian ini, Anda harus tahu dasar-dasar mengenai EKG.
Hal yang pertama kita pelajari pada kesempatan ini adalah cara menentukan frekuensi (Heart Rate) pada kertas EKG.
Cara menentukan frekwensi (heart rate) pada gelombang EKG ini dapat dilakukan melalui tiga cara:
Cara pertama menilai frekwensi jantung adalah: menggunakan kotak besar sebagai dasar perhitungan, dimana biasanya cara ini digunakan bagi gelombang EKG reguler (teratur) dan bagi Anda yang ingin mengetahui frekwensi jantung secara cepat.
Adapun rumusnya sebagai berikut: 300/jumlah kotak besar antar R ke R.
berapa heart rate pada gelombang EKG di atas:
untuk mengetahuinya: ketahui terlebih dahulu berapa jumlah kotak besar R ke R. jika kita lihat diatas jarak antar R ke R adalah: 3 kotak besar. Jadi 300/3 = 100 x/menit. Jadi heart rate gelombang EKG diatas adalah: 100 x/menit.
Cara kedua menilai frekwensi jantung adalah: menggunakan kotak kecil sebagai dasar perhitungan, dimana biasanya cara ini digunakan bagi gelombang EKG reguler (teratur) dan bagi Anda yang ingin mendapatkan hasil yang akurat. Adapun rumusnya sebagai berikut: 1500/jumlah kotak kecil antara R ke R
Berapa heart rate EKG di atas? Jika dilihat jumlah kotak kecilnya ada 16. jadi: 1500/16: 93. Jadi heart rate gambaran EKG di atas adalah: 93 x/menit.
Cara ketiga menghitung frekwensi jantung adalah: dengan menggunakan gelombang EKG selama 6 detik, kemudian hitung jumlah QRS dan kalikan 10.
Berapa heart rate di atas? Karena iramanya tidak teratur, maka kita hitung dengan mengambil gelombang selama 6 detik. Karena jumlah R ada 7 dalam 6 detik tersebut, maka 7 x 10 = 70. Jadi Heart Rate EKG di atas adalah 70 x/menit. Bagaimana cara mengetahui irama itu teratur (reguler) dan tidak teratur
(irreguler)? Caranya gampang, Anda hanya membandingkan antara R satu dengan R lain, kalau sama jumlah kotaknya maka iramanya reguler, kalau tidak sama berarti ireguler.
Atau bisa juga ambil EKG selama 12 detik, kemudian hitung jumlah QRS dan kalikan dengan 5.
Demikianlah, cara menentukan frekwensi jantung (heart rate) pada gelombang EKG. Pada kesempatan selanjutnya, kita akan mempelajari cara membaca irama jantung (rhytm)
Membaca Hasil EKG: Irama Jantung (Rhytm) Ione Nasition Sabtu, 30 Januari 2016 Membaca EKG Advertisement
Dalam membaca hasil EKG, ada tujuh kriteria untuk menilai hasil gelombang rekam jantung tersebut. Apakah hasil gelombang EKG tersebut normal? Atau justru ada kelainan. Dimana tujuh kriteria dalam menginterprestasi hasil EKG tersebut adalah: Frekwensi (heart Rate), Irama (Rhytm), Gelombang P (P Wave), Jarak P – QRS (PR Interval), Kompleks QRS, Segmen S-T dan gelombang T (T Wave).
Dipelajaran sebelumnya, telah kita bahas bagaimana cara membaca atau menginterpretasi frekwensi pada jantung. Maka pada pembahasan kita kali ini, kita akan membahas bagaimana cara membaca irama jantung pada hasil EKG. Disarankan bagi Anda yang belum membaca pembahasan sebelumnya, agar memahami terdahulu pelajaran sebelumnya (baca: Cara Mudah Membaca EKG ). Karena, jika Anda belum memahami pelajaran pembacaan EKG terdahulu, maka bisa dipastikan pada bagian pembacaan hasil irama jantung ini, Anda akan mengalami kesukaran.
Baiklah tanpa berlama-lama kita akan masuk kepembahasan cara membaca irama jantung:
1. Membaca atau menentukan irama jantung pada hasil EKG
Dalam menentukan irama jantung, urutan yang harus ditentukan adalah sebagai berikut:
a. Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak: caranya Anda cukup mencari pembuluh darah penderita, lalu rasakan denyut nadinya. Apakah denyutan teratur? Atau tidak?
b. Tentukan berapa frekwensi jantung (Heart Rate): bagi Anda yang masih bingung cara menentukan frekwensi jantung dapat membaca pembahasan Cara Membaca Frekwensi Jantung (Heart Rate).
c. Tentukan gelombang P normal atau tidak: bagi Anda yang sudah membaca pelajaran sebelumnya akan tahu cara membedakan P normal atau tidak.
d. Tentukan interval PR normal atau tidak: bisa dilihat dipembahasan sebelumnya.
e. Tentukan gelombang QRS normal atau tidak
2. Cara praktis menentukan irama jantung teratur atau tidak
Sebenarnya, dalam menentukan irama jantung itu tidak susah. Anda tinggal membandingkan gelombang R dimasing-masing kotak. Jika jumlah kotak yang
dilewati R sama, bisa dipastikan irama jantung itu reguler atau teratur. Tapi, jika tidak sama antara jarak R dengan R yang lain bisa dipastikan juga irama jantung penderita tidak teratur.
3. Pembacaan irama (Rhythm) jantung:
a. Bila irama jantung teratur (reguler) dan gelombang P selalu diikuti gel. QRS-T yang normal itu disebut sebagai sinus Ritme (irama sinus).
b. Bila irama cepat lebih dari 100 kali/menit disebut sinus tachikardi. Jika kurang dari 60 kali/menit disebut bradikardi.
c. Selain dari yang disebut diatas adalah aritmia.
Demikianlah cara membaca irama jantung teratur atau tidak. Semoga pembahasan kita kali ini dapat dimengerti dan dipahami. Pada kesempatan selanjutnya, kita akan membahas beberapa contoh Gambaran Irama Jantung
Cara Membaca Gambaran EKG Yang Normal Dan Yang Ada Kelainan Ione Nasition Sabtu, 27 Februari 2016 Membaca EKG
Advertisement
Membaca hasil EKG— pada pelajaran sebelumnya kita telah belajar cara
membaca irama jantung. Pada kesempatan kali ini kita akan melihat gambaran irama jantung. Baik irama jantung yang normal maupun gambaran irama jantung yang tidak normal. Sebaiknya, bagi Anda yang baru saja menemukan materi di bagian ini, agar membuka materi sebelumnya ( Di Sini ) . Karena jika Anda langsung mempelajari bagian ini, bisa dipastikan Anda akan kesukaran dalam memahaminya, kecuali Anda sudah menguasai dasar-dasar EKG.
Gambaran Irama Jantung:
1. Gambaran Sinus Takikardia (ST): Irama: Teratur
Frekwensi: 100-150 x/menit
Gelombang P: Normal, setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS dan T. Interval PR: Normal (0,12 – 0,20 detik)
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik). 2. Gambaran Sinus Bradikardi (SB):
Irama: Teratur
Frekwensi: Kurang dari 60 x/menit
Gelombang P: Normal, setiap gel P selalu di ikuti gelombang QRS dan T Interval PR: Normal (0,12 – 0,20 detik)
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 3. Gambaran Sinus Arrest:
Irama: Teratur, kecuali pada yang hilang Frekwensi: Biasanya kurang dari 60x/menit Gelombang P: Normal, kecuali pada yang hilang Interval PR: Normal, kecuali pada yang hilang Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Irama: Tidak teratur, karena ada irama yang timbul lebih awal Frekwensi: Tergantung irama dasarnya
Gelombang P: bentuk berbeda dari irama dasarnya Interval PR: Normal atay memendek
5. Gambaran Takikardia Atrial (PAT): Irama: Teratur
Frekwensi: 150 – 250 x/menit
Gelombang P: Sukar dilihat, kadang terlihat, tetapi kecil Interval PR: Tidak dapat dihitung atau memendek
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 6. Gambaran Flutter Atrial (AFI):
Irama: Biasanya teratur, bisa juga tidak
Frekwensi: Bervariasi (Bisa normal, lambat atau cepat)
Gelombang P: Tidak normal, seperti gigi gergaji, teratur dan dapat dihitung Interval: Tidak dapat dihitung
Gelombang QRS: Normal, tetapi tidak semua gel QRS mengikuti gelombang P, sehingga pada flutter atrial sering disertai blok 2: 1, 3:1 atau 4:1.
7. Gambaran Atrial Fibrasi (AF): Irama: Tidak Teratur
Frekwensi: Bervariasi (bisa normal, lambat atau cepat)
Gelombang P: Tidak dapat diidentifikasikan, sering terlihat keriting Interval PR: Tidak dapat dihitung
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Irama: Teratur
Frekuensi: 40-60 x/menit
Gelombang P: Terbalik didepan, di belakang atau menghilang Interval PR: Kurang dari 0,12 detik atau tidak dapat dihitung Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
9. Gambaran Ekstrasistol Junctional (JES/PJB/PJC)
Irama: Tak teratur karena ada irama yang timbul lebih awal Frekwensi: Tergantung irama dasarnya
Gelombang P: Tidak ada atau tidak normal, sesuai dengan letak impuls Interval PR: Tidak dapat dihitung atau memendek
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 10. Gambaran Takikardi Junctional (JT) Irama: teratur
Frekwensi: Lebih dari 100 x/menit
Gelombang P: Tidak ada/ada terbalik di depan atau di belakang gel QRS Interval PR: Tidak dapat dihitung atau memendek
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 11. Gambaran Ekstrasistol Supraventrikel (SVES)
Irama: Tidak teratur karena ekstrasistol yang timbul lebih awal Frekwensi: Tergantung irama dasar
Gelombang P: Tidak ada atau kecil (timbul lebih awal) Interval PR: Tidak ada atau memendek
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 12. Gambaran Takikardi Supraventrikel (SVT) Irama: Teratur
Frekwensi: 150 – 250 x/menit Gelombang P: Tidak ada atau kecil Interval PR: Tidak ada atau memendek
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik) 13. Gambaran Irama Idioventrikuler (IVR) Irama: Teratur
Frekwensi: 20-40 x/menit Gelombang P: Tidak ada Interval PR: Tidak ada
Gelombang QRS: Lebar, lebih dari 0,12 detik 14. Gambaran Ventrikel Fibrilasi (VF):
Irama: Tidak teratur
Frekwensi: Lebih dari 350 x/menit sehingga tidak dapat dihitung Gelombang P: Tidak ada
Interval PR: Tidak ada
Gelombang QRS: Lebar dan tidak teratur 15. Gambaran Blok Sinoatrial (SA BLOCK):
Irama: Teratur, kecuali pada gelombang yang hilang Frekwensi: Umumnya kurang dari 60 x/menit
Gelombang P: Normal, dan hilang pada saat terjadi blok Interval PR: Normal dan hilang pada saat terjadi blok Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
16. Ekstrasistol Ventrikel (VES/PVB/PVC)
Irama: Tidak teratur karena ada irama yang timbul lebih awal Frekwensi: Tergantung irama dasar
Gelombang P: Tidak ada Interval PR: Tidak ada
Gelombang QRS: Lebar, lebih dari 0,12 detik 17. Gambaran Ventrikel Takikardi (VT): Irama: Teratur
Gelombang P: Tidak ada Interval PR: Tidak ada
Gelombang QRS: Lebar, lebih dari 0,12 detik
18. Gambaran Blok Atrioventrikuler (AV Block) Derajat 1: Irama: Teratur
Frekwensi: umumnya normal antar 60-100x/menit Gelombang P: Normal
Interval PR: memanjang, lebih dari 0,20 detik Gelombang QRS: Normal (0,06-0,12 detik)
19. Gambaran Blok Atrioventrikuler (AV Block) derajat 2 tipe mobitz 1 Irama: Tidak teratur
Frekwensi: Normal atau kurang dari 60x/menit
Gelombang P: Normal, tetapi ada satu gel P yang tidak diikuti gel QRS
Interval PR: Makin lama makin panjang sampai ada gel P yang tidak diikuti gel QRS, kemudian siklus makin panjang
Gelombang QRS: Normal (0,06-0,12 detik)
20. Gambaran Blok Atrioventrikuler (AV Block) derajat 2 tipe mobitz 2 Irama: Umumnya tidak teratur, kadang bisa teratur
Frekwensi: Umumnya lambat kurang dariu 60x/menit
Gelombang P: Normal, tetapi ada satu atau lebih gel P yang tidak diikuti gel QRS Interval PR: Normal/memanjang secara konstan
21. Gambaran Blok Atrioventrikuler derajat 3 (Total AV Blok) Irama: Teratur
Frekwensi: Kurang dari 60x/menit
Gelombang P: Normal, tetapi gel P dan gel QRS berdiri sendiri-sendiri sehingga gelombang P kadang diikuti gel QRS kadang tidak
Interval PR: Berubah-ubah
Gelombang QRS: Normal atau memanjang lebih dari 0,12 detik 22. Gambaran Right Bundle Branch Block (RBBB):
Irama: Teratur
Frekwensi: umumnya normal antara 60-100x/menit
Gelombang P: Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS dan T Interval PR: Normal
Gelombang QRS: Lebar ( lebih dari 0,12 detik) Ada bentuk rSR (M Shape) di V1 dan V2
Gelombang S lebar dan dalam lead I, II dan AVL, V5 dan V6 Perubahan ST segmen dan gelombang T di V1 dan V2 23. Gambaran Left Bundle Branch Block (LBBB): Irama: Teratur
Frekwensi: umumnya normal antara 60-100x/menit Gelombang P: Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS Interval PR: Normal
Gelombang QRS: Lebar ( lebih dari 0,12 detik) Ada bentuk rSR (M Shape) di V5 dan V6
Gelombang Q lebar dan dalam lead V1 dan V2
Perubahan ST segmen dan gelombang T di V5 dan V6
Dipertemuan selanjutnya kita akan mempelajari cara menentukan Axis Jantung
Cara Menentukan Axis Jantung (Sumbu Jantung) Pada EKG Ione Nasition Sabtu, 27 Februari 2016 Membaca EKG
Advertisement
Cara mudah membaca EKG – di materi sebelumnya, kita telah mempelajari cara menentukan irama jantung ( Disini ) . Pada kesempatan kali ini kita akan
membahas tentang cara menentukan sumbu jantung (axis jantung). Hal ini sangat penting dilakukan, karena dengan menentukan sumbu jantung kita jadi tahu apakah posisi jantung normal atau justru ada kelainan.
Berikut cara praktis dan mudah dalam menentukan axis jantung:
Untuk menentukan sumbu jantung, kita terlebih dahulu harus mengetahui nilai normal dari sumbu jantung. Nilai dari sumbu jantung adalah: - 30 sampai + 1100 0 Bagaimana caranya kita menilai sumbu jantung? Caranya dengan melihat 2 lead yang berbeda, yaitu pada lead I dan Lead AVF. Lalu, apa yang dilihat pada lead I dan Lead AVF tersebut? Yang kita lihat adalah: QRS –nya.
Apabila hasil QRS pada sumbu jantung:
Pada lead I positif dan lead AVF positif maka : Aksisnya Normal
Pada lead I positif dan lead AVF negatif maka: Devisiasi aksis ke kiri dengan sudut -30 derajat sampai -90 derajat.
Pada lead I negatif dan lead AVF positif maka: Deviasi aksis ke kanan dengan sudut +110 derajat sampai +180 derajat
Pada lead I negatif dan lead AVF negatif maka: Deviasi aksis ekstrem ke kanan dengan sudut -90 derajat sampai +180 derajat
Jadi jika aksisnya normal berarti arah aliran listrik berada dalam rentang yang normal. Jika terjadi devisiasi aksis ke kiri maupun ke kanan, sebabnya
kemungkinan besar adalah:
Left anterior hemiblock (penyebab utama) Diafragma letak tinggi
Asites (pembengkakan) Emfisema
Tumor di area perut
Jantung normal (kadang-kadang) 2. Penyebab Devisiasi aksis ke kanan:
Hipertropi ventrikel kanan (pembesaran pada ventrikel sebelah kanan) Leff Posterior hemiblock
RBBB (Right Bundle Branch Block) Irama ektopik ventrikuler
Demikianlah cara menentukan axis jantung pada pembacaan hasil EKG. pada kesempatan selanjutnya kita akan membahas Cara Mudah Membaca Pembesaran Atrium Jantung pada pembacaan hasil rekam jantung (EKG).
Cara Mudah Membaca Pembesaran Atrium Jantung Pada Hasil EKG Ione Nasition Jumat, 11 Maret 2016 Membaca EKG
Advertisement
Bagaimana cara membaca adanya pembesaran dan hipertropi jantung pada EKG? Dipembelajaran sebelumnya, kita telah membahas bagaimana cara
membaca sumbu jantung pada hasil EKG, pada kesempatan kali ini kita akan membahas bagaimana cara menentukan pembesaran jantung (Atrium) pada hasil EKG.
Apakah hasil EKG dapat melihat pembesaran pada jantung? Jawabannya, bisa. Bagaimana caranya? Berikut cara mengetahui adanya pembesaran jantung (atrium) pada hasil EKG:
1. Menilai pembesaran atrium kanan:
Untuk menilai adanya pembesaran pada jantung kanan (atrium kanan), lihatlah gambaran pada sandapan II, sandapan III dan sadapan AVF pada hasil EKG. Jika terjadi pembesaran atrium kanan, pada hasil EKG akan terlihat gambaran P yang tingginya melebihi 2,5 mm atau melebihi 2 kotak ½ . Walaupun tinggi P
mengalami perubahan, biasanya pada pembesaran atrium kanan tidak mengalami perubahan pada lebar kotaknya.
Pembesaran atrium kanan ini disebut juga dengan P pulmonale karena biasanya diakibatkan oleh penyakit paru berat. Jika Anda kebigungan akan penjelasan di atas, ada baiknya Anda mempelajari Pembacaan EKG Dari Dasar .
Pembesaran atrium kiri dapat dilihat pada lead II dan V1. Biasanya pada atrium kiri terlihat gambaran tinggi P bagian akhir dapat meningkat dan harus menurun sekurang-kurangnya 1 mm (1 kotak kecil) di bawah garis isoelektrik pada
sadapan V1.
Lebar gelombang P meningkat dan lebar atrium kiri (P bagian akhir) gelombang P biasanya sama atau lebih lebar dari satu kotak kecil (0,04 detik).
Pembesaran atrium kiri ini disebut juga dengan P mitral. Hal ini dikarenakan adanya penyakit katub mitral yang memang menjadi penyebab pembesaran atrium kiri.
Demikianlah cara membaca pembesaran jantung (atrium kanan dan kiri) pada kertas EKG. Pada kesempatan selanjutnya, kita akan membahas bagian ventrikel jantung dalam: Cara Membaca Iskemia dan Infark Pada Jantung
Cara Menentukan Iskemia Dan Infark Miokard Pada Pembacaan EKG Ione Nasition Minggu, 27 Maret 2016 Membaca EKG
Advertisement
Bagaimana cara menentukan adanya tanda iskemia dan infark miokard pada pembacaan EKG? Caranya sangat mudah asal anda memahami dasar-dasar pembacaan EKG. Bagi anda yang belum memahami pembacaan EKG dapat melihatnya di Sini
Cara menentukan adanya iskemia dan infark miokard pada pembacaan EKG adalah sebagai berikut:
1. Cara menentukan adanya iskemia miokard:
Bagi anda yang kebingungan apa itu iskemia miokard berikut akan kami jelaskan secara singkat kalau iskemia adalah suatu keadaan otot jantung yang mengalami kekurangan oksigen.
Cara menentukan adanya iskemia pada pembacaan EKG adalah: anda dapat melihat pada segmen ST yang gelombangnya mengalami depresi (penurunan) atau T yang biasanya terbalik.
2. Cara menentukan adanya Infark Miokard:
Bagi anda yang bingung apa itu infark miokard kami akan jelaskan secara
singkat, kalau infark miokard adalah sebuah keadaan dimana jantung mengalami kematian akibat kurangnya aliran darah yang membawa nutrisi penting ke
jantung.
Cara menentukan adanya infark miokard pada pembacaan EKG adalah: adanya elevasi (peningkatan) segmen ST, lalu adanya gelombang Q patologis (gambaran Q yang kedalamannya melebihi 1/3 tinggi R.
Adapun untuk menentukan lokasi iskemia dan infark miokard digunakan ketentuan sebagai berikut:
a. Jantung anterior (depan): kelainnya di V2 – V4 b. Anteroseptal kelainnya di V1 – V3
c. Jantung Anterolateral (depan samping) di I, AVL, V5 – V6) d. Jantung Inferior (Bawah) kelainnya di II, III dan AVF
e. Jantung Posterior (Belakang) kelainannya di V1 – V2 f. Extensive Anterior kelainannya di I, AVL,V1 – V6
Demikianlah cara menentukan adanya iskemik dan infark miokard pada pembacaan EKG. Dikesempatan selanjutnya kita akan membahas: Cara Membaca Adanya AV Blok Pada Hasil EKG . Bagi anda belum mengerti memasang EKG dapat membacanya di: Cara Menempatkan Elektrode/Sandapan Pada Pemasangan EKG . Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam
Cara Menentukan Adanya AV Blok 1, AV Blok 2 Dan AV Blok 3 Pada Pembacaan Hasil EKG
Ione Nasition Sabtu, 09 April 2016 Membaca EKG Advertisement
Bagaimana cara membaca AV Blok pada hasil EKG? Bagaimana juga
membedakan antara AV Blok 1(satu)? AV Blok 2 (dua)? Dan AV Blok 3? Dalam kesempatan ini, kami akan menguraikan bagaimana cara menentukan seseorang tersebut terkena AV Blok pada pembacaan hasil rekam jantungnya (EKG).
Sebaiknya, bagi anda yang belum mengetahui dasar-dasar membaca EKG dapat belajar di Sini
Seperti disebutkan di atas, AV blok terbagi menjadi 3 tingkat yaitu: 1. AV Block satu (first degree AV blok)
2. AV Block dua (Second degree blok) , yang terdiri atas: - Mobitz I
- Mobitz II
3. AV Block derajat tiga (total AV blok)
Lalu, mengapa terjadi AV Blok? AV terjadi karena adanya gangguan sistem konduksi (penghantaran arus listrik). Dimana seperti kita ketahui jantung terdiri dari empat ruang yang berfungsi sebagai pompa, Yaitu: atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Hubungan fungsional antara atrium dan ventrikel diselenggarakan oleh jaringan susunan hantar khusus yang
mengantarkan implus listrik dari atrium ke ventrikel. Dimana sistem tersebut terdiri dari: nodus sinoatrial (SA), nodus Atrioventrikuler (AV), berkas HIS dan serabut purkinje. Nah, pada AV blok terjadi gangguan penghantaran impuls pada Nodus AV.
Lalu bagaimana cara menentukan seseorang terkena AV Blok baik derajat satu, dua atau tiga pada hasil EKG? Berikut cara membaca hasil EKG-nya:
Cara membaca AV Blok (Atrioventrikuler) derajat satu pada hasil EKG: Pada irama jantung : teratur
Frekwensi : umumnya normal atara 60 – 100 x/menit Gelombang P: normal
Interval PR: Memanjang, lebih dari 0,20 detik Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Cara membaca AV Blok (Atrioventrikuler) derajat dua pada hasil EKG: Membaca hasil EKG pada AV Blok derajat 2 tipe mobitz 1:
Irama: tidak teratur
Frekwensi: Normal atau kurang dari 60x/menit
Gelombang P: Normal, tetapi ada satu gelombang P yang tidak diikuti gelombang QRS
Interval PR: Makin lama makin panjang sampai ada gelombang Pyang tidak diikuti gelombang QRS, kemudian siklus makin panjang diulang.
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Membaca hasil EKG pada AV Blok derajat 2 tipe mobitz 2:
Irama: umumnya tidak teratur, kadang bisa teratur Frekuensi (HR): umumnya lambat kurang dari 60 x/menit
Gelombang P: Normal tetapi ada satu atau lebih gelombang P yang tidak diikuti gelombang QRS
Interval PR: Normal/memanjang secara konstan Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Cara membaca AV Blok (Atrioventrikuler) derajat tiga pada hasil EKG:
Irama: teratur
Frekwensi (HR): kurang dari 60x/menit
Gelombang P: Normal, tetapi gelombang P dan gelombang QRS berdiri sendiri-sendiri sehingga gelombang P kadang diikuti gelombang QRS kadang tidak Interval PR: berubah-ubah
Gelombang QRS: Normal atau memanjang lebih dari 0,12 detik
Demikianlah cara membaca AV Blok 1, 2 dan 3. Pada kesempatan selanjutnya kita akan mempelajari cara Membaca VT (Ventrikuler Takhikardi) Pada hasil EKG .
Cara Mudah membaca VT ( Ventricular Tachikardia) Pada Hasil EKG Ione Nasition Minggu, 10 April 2016 Membaca EKG
Advertisement
Bagaimana cara membaca VT ( Takikardia Ventrikular) pada hasil pembacaan EKG? Dimana VT ini merupakan disritmia (kelainan irama jantung) yang disebabkan gangguan pembentukan impuls di Ventrikel, yang mana VT ini merupakan satu kegawatan yang mengawali henti jantung dan memerlukan penanganan segera. Bagi Anda yang belum mengetahui dasar-dasar pembacaan EKG dapat belajar mulai dari Sini .
Tiga PVC atau lebih yang muncul berurutan disebut dengan Takikardia Ventrikular. Apa itu PVC? PVC adalah kontraksi ventrikuler prematur, dimana ditemukan kompleks QRS pada PVC tampak lebar dan aneh karena depolarisasi ventrikel tidak mengikuti jalur konduksi yang benar. Tapi, kompleks QRS belum tentu lebar pada seluruh sadapan, jadi rekamlah keseluruhan EKG 12 sadapan sebelum anda menegakkan sebuah diagnosa. Dimana biasanya VT ini memiliki frekuensi berkisar antara 150 dan 250 denyut permenit dan mungkin sedikit ireguler (tidak teratur).
Berikut cara membaca hasil EKG yang menandakan seseorang tersebut menderita atau terkena Takikardia Ventrikular (VT):
Hasil EKG pada Takikardia Ventrikular (VT): Irama: Teratur atau sedikit tidak teratur
Frekuensi: 150 – 250/menit
Gelombang P: Selalu tidak kelihatan Interval P – R: Tidak dapat diukur
Interval QRS: Lebar, Lebih dari 0,12 detik
Untuk lebih jelasnya dalam pembacaan EKG dengan Ventrikular Takikardia (VT) dapat dilihat pada contoh di bawah ini:
Ventrikular Takikardia (VT) dapat terlihat uniform atau seragam, setiap kompleks tampak serupa dengan kompleks sebelumnya, seperti pada gambar di atas atau dapat juga polimorfik atau gambarannya berubah-ubah dari denyut ke denyut. Dimana Ventrikular Takikardia (VT) polimorfik lebih sering ditemui pada iskemia (kekurangan O2) koroner akut atau infark (kematian jaringan).
pada pertemuan selanjutnya kita akan mempelajari tentang: Cara Membaca Atrial Fibrasi (AF) Pada EKG
Cara Membaca Adanya Atrial Fibrasi Pada Pembacaan EKG Ione Nasition Minggu, 17 April 2016 Membaca EKG
Advertisement
Bagaimana cara membaca atrial fibrasi pada hasil EKG? Sebelum membahas cara membaca atau menginterpretasi hasil Ekg yang mengidentifikasikan seseorang terserang atrial fibrasi, terlebih dahulu kita harus tahu apa itu atrial fibrasi? Bagaimana sampai terbentuk gambaran atau gambaran atrial fibrasi? Bagi Anda yang belum mengetahui dasar-dasar pembacaan hasil EKG (Rekam Jantung) dapat belajar di Sini
Atrial fibrasi terbentuk karena adanya gangguan pada irama jatung yang
disebabkan oleh gangguan pembentukan implus dari atrium. Pada fibrasi atrium, aktifitas atrium benar-benar kacau dan nodus AV dapat dibombardir
habis-habisan oleh lebih 500 impuls per menit! Itulah sebabnya gambaran fibrasi atrium ini seperti gigi yang bergergaji yang teratur pada hasil EKG.
Biasanya tampilan atrial fibrasi adalah kompleks QRS yang sangat tidak teratur dan pada gelombang P tidak dapat diidentifikasikan dan sering terlihat keriting. Berikut pembacaan hasil rekam jantung (EKG) untuk membaca adanya atrial fibrasi pada seseorang:
Irama: teratur
Frekwensi (hr): Bervariasi (bisa normal, lambat atau cepat)
Gelombang P: tidak dapat diidetifikasikan, sering terlihat keriting. Interval PR: Tidak dapat dihitung
Gelombang QRS: Normal (0,06 – 0,12 detik)
Untuk lebih jelasnya, gambaran atrial fibrasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Sebagai tambahan atrial fibrasi lebih sering ditemui pada seseorang yang mengalami hipertensi lama, adanya kelainan jantung sebelumnya terutama penyakit katup mitral atau penyakit arteri koroner. baca juga: mengenal apa itu av blok?
Demikianlah cara membaca adanya atrial fibrasi pada pembacaan EKG. semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan kita semua. Amiin.
Cara Membaca VES Pada Hasil EKG
Ione Nasition Jumat, 20 Mei 2016 Membaca EKG Advertisement
Bagaimana cara membaca Ventrikel ekstra sistol (VES) pada hasil EKG? Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari cara membaca VES pada lembar EKG. Bagi anda yang belum memahami dasar-dasar pembacaan EKG, sebaiknya membaca pembahasan dasar-dasar pembacaan EKG DiSini .
Sebelum mempelajari pembacaan VES pada hasil EKG, sebaiknya kita mengetahui apa itu VES? Jadi Ventrikel ekstra sistol (VES) adalah Aritmia (kelainan irama) ventrikel yang terjadi sewaktu tempat ektopik di ventrikel mengalami depolarisasi spontan dan menyebabkan kontraksi ventrikel. Biasanya terjadi sewaktu bagian ventrikel mengalami iritasi atau cidera akibat kekurangan oksigen.
Adapun gambaran EKG pada VES adalah sebagai berikut:
Irama: Tidak Teratur.
Frekwensi: Bervariasi, tergantung irama dasar. Gelombang P: Tidak ada.
Interval P-R: Tidak dapat diukur. Interval QRS: Lebar > 0,12 detik.
Biasanya diikuti ‘compensotory pause’ setelah PAC.
Pada VES ini ada beberapa macam gambaran pada hasil EKG-nya. Tapi, ada beberapa yang sangat berbahaya jika ditemukan dihasil lembaran EKG. Berikut lima bentuk Ekstrasistol Ventrikel (VES) yang berbahaya:
1. VES lebih dari 6x/menit (EKG VES banyak)
2. VES Bigemini: adalah VES yang mana disetiap satu kompleks normal diikuti satu VES
3. VES Multifokal: Ventrikel Ekstra Sistol yang memiliki bentuk beragam dalam lead yang sama. Disebut juga VES Multifokal. Ini menunjukan ada beberapa sumber impuls yang berbeda di Ventrikel.
4. VES Consecutif: yaitu VES yang muncul secara beruntun
5. VES R on T: yaitu VES yang muncul persis di gelombang T
Itulah kelima gambaran VES yang berbahaya bagi penderita. Semoga artikel singkat ini menambah pengetahuan kita semua. Sehingga kita lebih paham akan gambaran VES yang berbahaya bagi penderita dan dapat melakukan