• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rustaman dan Anna L.H.D Residues of Pesticides on Farm Level and Effects on the environment. Semi Annual Report July-December 1988.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rustaman dan Anna L.H.D Residues of Pesticides on Farm Level and Effects on the environment. Semi Annual Report July-December 1988."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Adiyoga, W., R. Sinung-Basuki, Y. Hilman, dan B.K. Udiarto. 1999. Studi Lini Dasar Pengembangan Teknologi PHT pada Tanaman Cabai di Jawa Barat. J. Horti. 9(1): 67-83

Ameriana, M., R.S. Basuki, E. Suryaningsih dan W. Adiyoga. 2000. Kepedulian Konsumen terhadap Sayuran Bebas Residu Pestisida (Kasus pada Sayuran Tomat dan Kubis). Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.

Astawan, M. 2007. Sehat Optimal dengan Sayur dan Buah. www.kompas.com. Astawan, M. dan Andreas LK. 2008. Khasiat Warna-Warni Makanan. Jakarta. [BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2004. Aplikasi Kajian Risiko

Bahan Tambahan Pangan: Studi Kasus Penggunaan Pemanis Aspartam. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya. Jakarta.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2001a . Prinsip-prinsip Analisis Risiko. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya. Jakarta.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2001b . Analisis Risiko Keamanan Mikrobiologis: Kajian Risiko Mikrobiologis. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya. Jakarta.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2001c . Aplikasi: Kajian Risiko Mikrobiologis. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Deputi Bidang Pengawasan Pangan dan Bahan Berbahaya. Jakarta.

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2007. Mekanisme dan Prosedur Tetap (PROTAP) Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan di Indonesia. Jakarta.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2005. Kabupaten Banggai dalam Angka 2005. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banggai. Banggai.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2007. RSNI3 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian. Jakarta.

[Deptan] Departemen Pertanian. 1997. Metode Pengujian Residu Pestisida dalam Hasil Pertanian. Komisi Pestisida Departemen Pertanian. Jakarta.

[Deptan] Departemen Pertanian. 2007. Pestisida Pertanian dan Kehutanan, Pusat Perizinan dan Investasi Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian. Jakarta. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 1990. Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia Edisi 1990. Direktorat Bina Gizi Masyarakat dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi.

(2)

Dibiyantoro, A.L.H. dan Rustaman, E.S. 1993. Residu Insektisida pada Tanaman Sayuran di Sentra Produksi Sayuran Dataran Rendah Jawa Propinsi Jawa Tengah dan DI Jogyakarta. Bull. Penelitian Hortikultura XXV (3): 72-78 Direktorat Jenderal Hortikultura. 2006a. Panduan Budidaya Buah yang Benar

(Good Agricultura Practices) Sistem Sertifikasi Pertanian Indonesia. Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian. Jakarta.

Direktorat Jenderal Hortikultura. 2006b. Pedoman Budidaya Sayuran yang Benar (Good Agricultura Practices). Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian. Jakarta.

Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Metode Pemantauan Pestisida. Direktorat Perlindungan Tanaman Departemen Pertanian. Jakarta.

Fanany, F. 1996. Bahaya Residu Pestsida dalam Sayuran di dalam Sinar Tani No. 2598. Tahun XXVII: 7.

Ketahanan Pangan Kabupaten Banggai. 2006. FIA (Food Insecurity Atlas) Kabupaten Banggai Tahun 2005. Banggai.

[IOM] Institute of Medicine. 2002. Dietary Reference Intake: Application in Dietary Assessment. Washington DC.

Insel, Paul; Turner, Elaine R. dan Ross, Don (2002). Nutrition. Sudbury, MA: Jones and Bartlett.

[JECFA] Joint FAO/WHO Expert Committe on Food Additives. 2001. Guidelines for the Preparation of Working Papers on Intake of Food Additives for the Joint FAO/WHO Expert Committe on Food Additives. Geneva. Switzerland.

Jensen, B. 2000. Juicing Therapy Nature’s Way to Better Health and a Longer Life. New York.

Laksanawati, H. Dibyantoro, O.S. Gunawan, R.E. Suriaatmadja, L. Sulastri, dan M. Suparman. 1994. Detection of Pesticide Residues in Carrot and Celery in some Production Centres in West Java and Central Java. Buletin Penelian Hortikultura 27(1): 89-97.

Matsumura, F. 1985. Toxicology of insecticides. 2nd Edition. Plenum Press. London.

Masri, S. Dan Sofian, E. 1989. Metode Penelitian Survey. Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.

[PANAP] Pesticide Action Network Asia and the Pacific. 1999. Pestisida Berbahaya bagi Kesehatan. www.panap.net/uploads/media/Health_ module_ BIndonesia.pdf

Parker, T.C.B. dan R.B. Tompkin. 2000. Risk and Microbiological Criteria di dalam Lund, Barbara M. dkk (eds) The Microbiological Safety and Auality of Food: Volume II. Aspen Publisher, Inc. Maryland.

(3)

Rustaman dan Anna L.H.D. 1988. Residues of Pesticides on Farm Level and Effects on the environment. Semi Annual Report July-December 1988. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.

[SNI] Standar Nasional Indonesia. 1998. SNI – 19 – 0428 – 1998. Petunjuk Pengambilan Contoh Padatan.

Soejitno, J. 2002. Pesticide Residues on Food Crops and Vegetables in Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 21 (4). Bogor.

Suhardjo dan Riyadi, H. 1990. Penilaian Keadaan Gizi Masyarakat. Pusat antar Universitas -IPB. Bogor.

Soeriatmadja, R.E. dan S. Sastrosiswojo. 1988. Pemeriksaan Residu Insektisida dalam Buah Tomat dan Tanaman Kubis di Kecamatan Lembang, Pangalengan dan Cisurupan. Media Penelitian Sukamandi No. 6: 13-21. Sulaeman, A. 2007. GAP dan Aplikasinya di Indonesia. Bahan Presentasi pada

Kuliah Good Practices dalam Rantai Pangan 21 April 2007. Program Magister Profesi Teknologi Pangan IPB. Bogor.

Sumatra, M. 1991. Analisis Residu Pestisida. LIPI. Pusat Penelitian da Pengembangan Oseanologi. Proyek Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Air Tawar Jakarta. Jakarta.

Susilo, H. 1986. Introduction to Pesticide Residue Problems with Special Reference to Foodstuffs. FAO/Biotrop Training Course on Integrated Pest Management of Legumes and Coarse grains.

Sutamihardja, R.T.M., D. Nandika, A. Indriawan, Syahbuddin. 1982. Tinjauan tentang Penggunaan Pestisida di Indonesia. Fakultas Pascasarjana. Juruan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB. Bogor.

Suwantapura, D. 1983. Pengaruh Pengolahan Lepas Panen terhadap Residu Pestisida Diasinon pada Sayuran Petsai (Brassica pekinensis). Universitas Padjadjaran. Bandung.

Tarumingkeng, R.C. 1992. Insektisida. Sifat, Mekanisme Kerja dan Dampak Penggunaannya. Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta.

[UNEP] United Nations Environment Programme. 1992. 1-5 juta Kasus Keracunan Pestisida Terjadi pada Pekerja di dalam Mengutip data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Program Lingkungan Persatuan Bangsa-bangsa (UNEP). http://www.alumni-ipb.or.id/index.php?option=com_content&task=

view&id=487&Itemid=37-34k-www.kompas.com/kompas-cetak/0308 /17/ iptek/498254.htm -

Untung, K. 1998. Achievements in Pesticide Application for Agricultural use and its Residues Control in Indonesia in I.R. Kennedy, J.H. Skerritt and E. Highley (eds). Seeking Agricultural Produce Free of Pesticide Residue. ACIAR Proceeding (85): 11-16.

[WHO] World Health Organisation. 1985. Guidelines for the Studi of Dietary Intakes of Chemical Contaminants. Geneva.

(4)

[WHO] World Health Organisation. 1987. Principles for the Safety Assesment of Food Additives and Contaminant in Food. Geneva.

[WHO] World Health Organisation. 1997. Food Consumption and Exposure Assesment of Chemicals. Report of a FAO/WHO Consultations. Geneva. Switzerland.

Whitney, EN. Dan SR. Rolfes. 1999. Understanding Nutrition. Edisi ke-8. Wadsworth Publishing Company. Belmont, CA.

[WNPG] Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. 2004. Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Jakarta.

(5)

Lampiran 1 Daftar isian pemantauan konsumsi sayuran

A. IDENTITAS RESPONDEN

1 Propinsi 2 Kabupaten/Kota 3 Kecamatan 4 Desa/Kelurahan 5 RT/RW/Dusun 6 Nama Responden

B. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA

No. Nama Umur

(th) Berat Badan Jenis kelamin Hubungan dg Responden Pendidikan Pekerjaan utama 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

(6)

C. KEBIASAAN MAKAN

x Silang jawaban yang sesuai

1. Apakah keluarga ibu biasa mengkonsumsi sayuran?

tidak

2. Bila ya, sebutkan jenis sayurannya?

………

3. Bagaimana biasanya ibu mengolah sayur? (jawaban bisa lebih dari satu)

Ditumis Diurap

Disayur bening Lainnya (lalab,dsb)

(7)

D. JENIS DAN JUMLAH KONSUMSI SAYURAN

HARI KE : ……

Waktu Nama Jenis Banyaknya

makan masakan bahan URT Gram

1 2 3 4 5 Makan pagi ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. Makan siang ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. Makan malam ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. …….. ………. ………. ……….. ……..

(8)

Lampiran 2 Konversi ukuran rumah tangga

Bahan makanan Satuan Padanan

URT Berat

Bayam 1 ikat kecil 250 g

1 ikat besar 400 g

Kangkung 1 ikat 300 g

Kacang panjang 1 ikat kecil 250 g

1 ikat besar 500 g

Tomat 1 buah kecil 25 g

1 buah sedang 50 g

1 buah besar 100 g

Daun kacang panjang 1 ikat 200 g

Daun ketela rambat 1 ikat 300 g

Daun labu siam 1 ikat 200 g

Daun labu wuluh 1 ikat 200 g

Katuk 1 ikat 400 g

Kelor 1 gelas 100 g

Buah melinjo 1mok 250 g

Daun melinjo 1 ikat 200 g

Daun pakis 1 ikat 300 g

Kacang merah 1 mok 500 g

Kacang tanah 1 mok 500 g

Kacang hijau 1 mok 500g

Kacang kapri 1 mok 300 g

Genjer 1 ikat 200 g

(9)

Bahan makanan Satuan Padanan

URT Berat

Rebung 1 mok 300g

Toge 1 mok 200 g

Pepaya muda 1 mok 200 g

Bunga papaya 1 mok 200 g

Daun pepaya 1 ikat 200 g

Terong 1 buah 100 g

Terong lalap 1 buah sedang 50 g

Kemangi 10 tangkai 100 g

Buncis 1 ikat 250 g

Wortel 1 buah sedang 100 g

Kol 1 mok/ ¼ buah sdg 250 g

Kentang 1 buah 100 g

Seledri 5 rumpun 100 g

Daun bawang 5 batang / 1 ikat 150 g Sayur lilin 5 bh sdg tanpa kulit 100 g

Waluh/sambiki ¼ buah 400 g

Sawi putih 1 buah sedang 800 g

Sawi hijau 1 ikat 300 g

Ketimun 1 buah 100 g

Daun singkong 1 ikat 300 g

Kecipir 1 ikat 450 g

Gambas (oyong) 1 buah 100 g

Galundung 1 ikat 450 g

Selada air 1 ikat 250 g

Jagung muda 1 ikat 200 g

Labu siam 1 buah 400 g

Nangka muda 1/8 ptg/ 1 mok 200 g

Jantung pisang 1 buah sedang 1500 g

Pare 1 buah sedang 100 g

Pisang muda 1 buah 100g

Sumber: Petunjuk Teknis Diversifikasi Konsumsi Pangan dan hasil survei di pasar tradisional di Kabupaten Banggai

(10)

Lampiran 3 Daftar isian penggunaan pestisida

Nama Petani : Desa/Kecamatan :

Jenis Sayuran Nama Pestisida

Konsentrasi ml(gr) per lt

Dosis lt(kg) per ha

Interval aplikasi Jumlah aplikasi Aplikasi pestisida terakhir (hari sblm panen) Pestisida dibeli dari mana Bawang Merah Bawang Putih Daun Bawang Kentang Kubis/Kol Petsai/Sawi Wortel Kacang Merah Kacang Panjang Cabe Tomat Terung Buncis Ketimun Labi Siam Kangkung Bayam

(11)

Lampiran 4 Contoh komposisi makanan untuk memenuhi angka kecukupan gizi per hari berdasarkan kelompok umur

Kelompok umur

Nasi Lauk Sayur Buah Susu Minyak

100g nasi atau padanannya

50g daging atau padanannya

50g tempe atau

padanannya 100g sayuran 50g buah 200g sususegar

5g minyak kelapa Anak-anak 1 – 3 tahun 3x 1x 1x 1.5x 3x 1x 3x 4 – 6 tahun 4x 2x 2x 2x 3x 1x 4x 7 – 9 tahun 4.5x 3x 3x 3x 3x 1x 5x Laki-laki remaja 10- 12 tahun 5x 2.5x 3x 3x 4x 1x 5x 13 – 15 tahun 6.5x 3x 3x 3x 4x 1x 6x 16 – 18 tahun 8x 3x 3x 3x 4x - 6x Wanita remaja 10-12 tahun 4x 2x 3x 3x 4x 1x 5x 13 -15 tahun 4.5x 3x 3x 3x 4x 1x 5x 16 – 18 tahun 5x 3x 3x 3x 4x - 5x Laki-laki dewasa 19 - 29 tahun 8x 3x 3x 3x 5x - 7x 30 – 49 tahun 7x 3x 3x 3x 5x - 6x 50 – 64 tahun 6x 3x 3x 4x 5x 1x 6x 65 tahun ke atas 5x 3x 3x 4x 4x 1x 4x Wanita dewasa 19 - 29 tahun 4.5x 3x 3x 3x 5x - 5x 30 – 49 tahun 4.5x 3x 3x 3x 5x - 6x 50 – 64 tahun 4.5x 3x 3x 4x 5x 1x 4x 65 tahun ke atas 4x 3x 3x 4x 4x 1x 4x Hamil 6x 3x 3x 3x 4x 1x 5x Menyusui 6x 3x 4x 4x 4x 1x 6x

(12)

Lampiran 5 Rata-rata Berat Badan (kg) di Indonesia dibandingkan dengan baku WHO-NCHS (1983)

Kelompok Umur AKG 1998 Hasil Hitung 2003 AKG 2004 WHO 1983 (-2 SD) WHO 1983 (Median) WHO 1983 (+2 SD) Anak 0-6 bl 5.5 5.9 6.0 4.0 5.6 7.1 7-12 bl 8.5 8.1 8.5 6.9 8.8 10.9 1-3 th 12.0 11.5 12.0 10.4 13.2 16.2 4-6 th 18.0 16.2 18.0 14.8 19.1 24.9 7-9 th 24.0 20.7 25.0 19.3 26.7 38.0 Laki-laki 10-12 th 30.0 32.7 35.0 25.5 37.5 56.1 13-15 th 45.0 48.7 48.0 37.2 53.5 77.7 16-18 th 56.0 55.0 55.0 48.3 66.0 92.9 19-29 th 62.0 56.3 60.0 48.3 66.0 92.9 30-49 th 62.0 57.4 62.0 48.3 66.0 92.9 50-64 th 62.0 56.0 62.0 48.3 66.0 92.9 65 th+ 62.0 55.2 62.0 48.3 66.0 92.9 Perempuan 10-12 th 35.0 38.4 38.0 25.9 39.1 59.5 13-15 th 46.0 44.6 49.0 35.6 51.6 75.9 16-18 th 50.0 46.3 50.0 41.2 56.5 81.3 19-29 th 54.0 47.8 52.0 41.2 56.5 81.3 30-49 th 54.0 48.7 55.0 41.2 56.5 81.3 50-64 th 54.0 49.4 55.0 41.2 56.5 81.3 65 th+ 54.0 47.4 55.0 41.2 56.5 81.3

Catatan: Angka berat badan yang dicetak miring dan bergaris bawah disamakan dengan angka pada kelompok mur sebelumnya, kerena tidak ada pada baku WHO-NCHS (1983)

(13)

Lampiran 6 Batas Maksimum Residu Pestisida Hasil Pertanian

Jenis Pestisida Komoditas BMR

(mg/kg)

Ket KLORPIRIFOS

CHLORPYRIFOS

Alfalfa kering (pakan ternak) 5 Alfalfa segar (pakan ternak) 20

Almond 0,05

Anggur 0,5

Apel 1 (*)

Bawang bombay, umbi 0,2

Beras 0,5 Biji Kapas 0,3 (*) Biji Kopi 0,05 Bit gula 0,05 (*) Brokoli 2 Buah persik 0,5

Bunga Kubis/ Kembang Kol 0,05 (*) Daging ayam 0,1 (fat) Daging ayam belanda 0,2 (fat) V

Daging babi 0,02

Daging domba 1

Daging sapi 1

Daging unggas 0,01 Daun atau pucuk gula bit (pakan ternak) 40

Gandum 0,5

Ginjal sapi 0,01

Hati sapi 0,01

Jagung 0,05

Jagung manis bertongkol 0,01 Jamur merang 0,05 (*) Jerami dan pakan ternak gandum, kering 5 Jerami jagung kering (pakan ternak) 10 Jerami jagung segar (pakan ternak) 20 Jerami kacang tanah kering (pakan ternak) 2 T

Jerami kacang tanah segar (pakan ternak) 10 T Jerami kapas kering (pakan ternak) 30

Jerami sorgum segar dan kering (pakan

ternak) 2

Jeroan babi 0,01

Jeroan kambing 0,01 Jeroan unggas 0,01

Jeruk 1

Kacang kedelai (kering) 0,1 Kacang polong (Polong dan polong muda 0,01

(14)

(mg/kg) KLORPIRIFOS

CHLORPYRIFOS

Kacang-kacangan (polong dan atau biji

muda) 0,01 Kaelan 1 Kemiri 0,05 Kenari 0,05 Kentang 2 (*) Kismis 0,1 Kiwi 2 Kubis 1 (*)

Minyak biji kapas dapat dimakan 0,05 Minyak biji kapas, mentah 0,05 (*)

Minyak Jagung 0,2

Minyak kacang kedelai, sulingan 0,03 Pakan biji kapas (pakan ternak) 0,05

Paprika 0,5

Paprika, Manis 2

Pea vines (green) 1

Petsai 1 Pir 1 Pisang 2 Plum(termasuk prun) 0,5 Pome 1 Selada bokor 0,1 Seledri 0,05 (*) Sorgum 0,5 Strawberi 0,3 Susu 0,2 T

Susu sapi, kambing dan domba 0,02 Teh, hijau, hitam 2

Telur 0,01 (*) Tepung Terigu 0,1 Terung 0,2 Tomat 0,5 Wortel 0,1 METIDATION METHIDATHION

Alfalfa segar (pakan ternak) 10

Almond 0,05 (*)

Alpokat 0,2

Anggur 1

Apel 0,5

Artichoke 0,05 (*)

Bawang bombay, umbi 0,1

(15)

(mg/kg) METIDATION

METHIDATHION

Biji Bunga Matahari 0,5

Biji kanola 0,1 Biji Kapas 1 Biji kopi 0,1 Bit gula 0,05 (*) Buah Anggur 2 Buah persik 0,2 Ceri 0,2 Ceri 0,2 Daging 0,02 Daging kambing 0,02 (*) Daging sapi, babi dan domba 0,02 (*) Daging unggas 0,02 (*)

Gandum 0,1

Hops, Kering 5

Jagung 0,1

Jeroan kambing 0,02 (*) Jeroan sapi, babi dan domba 0,02 (*) Jeroan unggas 0,02 (*)

Jeruk 2

Jeruk lemon atau limau 2

Jeruk, Manis, Asam 2 Kacang Macadamia 0,01 (*) Kacang polong (Kering) 0,1 Kacang polong (polong dan biji muda) 0,1

Kacang-kacangan 0,1 Kacang-kacangan kering 0,1 Kemiri 0,05 (*) Kenari 0,05 (*) Kentang 0,02 (*) Ketimun 0,05 Kubis 0,1

Kubis Bunga/kembang kol 0,2 Lemak babi 0,02 (*) Lemak domba 0,02 (*) Lemak kambing 0,02 (*) Lemak sapi 0,02 (*) Lemak unggas 0,02 (*) Lobak 0,05 (*) Mandarin 3

Minyak biji kapas, mentah 2 Minyak zaitun 1

(16)

(mg/kg) METIDATION

METHIDATHION

Minyak zaitun, Virgin 2

Nectarine 0,2

Nenas 0,05

Pir 1

Plum (termasuk prun) 0,2

Sayuran Daun 0,2

Sorgum 0,2

Susu 0,001

Teh, hijau, hitam 0,5

Telur 0,02 Tembakau 0,1 Tomat 0,1 PROFENOFOS PROFENOFOS Biji Kapas 2 Bit gula 0,05 (*)

Daging mamalia (selain hewan laut) 0,05 (*) Jeruk, Manis, Asam 1

Kacang kedelai (kering) 0,05 (*)

Kentang 0,05 (*)

Kubis 1

Kubis Bunga/ kembang kol 0,5 Minyak biji kapas dapat dimakan 0,05 (*) Minyak kacang kedelai, Sulingan 0,05 (*)

Paprika, cabe 5 Paprika, Chili 5 Paprika, Manis 0,5 Susu 0,01 Telur 0,02 Tomat 2 Tunas kecambah/touge 0,5 SIPERMETRIN CYPERMETHRIN

Akar dan Sayuran umbi 0,05

Alfalfa segar (pakan ternak) 5 Dry wt

Anggur 1

Batang bawang putih 0,5 Bawang bombay, umbi 0,1

Bawang daun 0,5

Bayam 2

Berries and other small buah 0,5 Biji Kopi 0,05 (*)

(17)

Jenis Pestisida Komoditas BMR (mg/kg) Ket SIPERMETRIN CYPERMETHRIN Ceri 1 Crucifer 1

Daging mamalia (selain hewan laut) 0,2 (fat) V Daging unggas 0,05

Gandum 0,5

Gandum 0,2

Jagung 0,05 (*)

Jagung manis bertongkol 0,05 (*)

Jamur merang 0,05

Jamur merang 0,05 (*) Jerami gandum segar dan kering (pakan

ternak) 5

Jerami jagung kering (pakan ternak) 5 Dry wt Jerami sorgum segar dan kering (pakan

ternak) 5

Jeroan mamalia 0,05 (*) V

Jeruk 2

Kacang kedelai (kering) 0,05 (*) Kacang polong (polong-polong dan biji muda) 0,05 (*) Kacang tanah 0,05 (*) Kacang tanah 0,05 Kacang-kacangan (polong dan atau biji

muda) 0,5

Kacang-kacangan dengan kulit 0,05 Kacang-kacangan dengan kulit, polong 0,05 (*)

Kaelan 1

Ketimun 0,2

Kubis 1

Minyak biji, kecuali Kacang tanah 0,2 Minyak kacang-kacangan 0,2 Minyak sayuran yang dapat dimakan 0,5

Nectarine 2

Paprika 0,5

Plum (termasuk prun) 1

Pome 2

Sayuran kubis-kubisan 1

Selada 2

Susu 0,05

Teh, hijau, hitam 20

Telur 0,05

Terong 0,2

(18)

Jenis Pestisida Komoditas BMR (mg/kg) Ket SIHALOTRIN CYHALOTHRIN Biji Kapas 0,02 Daging mamalia 0,5 Daging unggas 0,02 (*) Jerami kanola kering (pakan ternak) 2

Jerami legum kering (pakan ternak) 2 Jerami sereal segar (pakan ternak) 1

Jeroan mamalia 0,02 (*) Jeroan unggas 0,02 (*)

Kentang 0,02

Kubis/kol 0,2

Legum pakan ternak segar 1 Limbah biji kapas (pakan ternak) 1 Limbah kubis-kubisan segar (pakan ternak) 1

Minyak biji kapas dapat dimakan 0,02 Minyak biji kapas, mentah 0,02

Pome 0,2

Susu 0,5

Telur 0,02 (*)

Catatan :

(*) : BMR pada atau mendekati batas penetapan E (pada MRLs=EMRLs) : BMR yang ditetapkan berdasarkan paparan

pestisida di lingkungan

F (untuk susu) : BMR residu pestisida yang larut dalam lemak pada produk susu yang diturunkan seperti dinyatakan dalam “Codex Maksimum Residue Limits/Extraneous Maximum Residue Limits untuk susu dan produk susu”

(fat) (untuk daging) : BMR berlaku untuk lemak yang berasal dari daging Po : BMR yang ditetapkan berdasarkan perlakuan pasca

panen terhadap komoditi tersebut

PoP (untuk makanan olahan) : BMR yang ditetapkan berdasarkan perlakuan pasca panen terhadap komoditi primer pangan tersebut. T : BMR yang hanya berlaku sementara tanpa

memperhatikan status ADI sampai informasi yang diperlukan telah tersedia dan dievaluasi.

V : untuk produk yang berasal dari BMR yang ditetapkan berdasarkan penggunaan veteriner hewan

Referensi

Dokumen terkait

If you have an idea on the right car, then a little research on the value of the car in the market to date will be able to help the you when approaching a dealer.. This can be done

The decision to purchase an extended service contract or mechanical break down policy as they are sometimes called is a decision that has many variables.. Depending on the age of

But there are a few simple things you can do to enhance your fuel economy no matter what type of vehicle you drive, which means you’ll buy less gas and have more money to enjoy

Seiring dengan naiknya angle of attack, terjadi perbedaan yang signifikan pada kedua kondisi ini, seperti terlihat pada gambar 7(c) dan 7(d) Pada sudut sebesar 16.00°, posisi

Peningkatan kemampuan kognitif dalam pengenalan konsep bilangan berbantuan media kartu angka bergambar pada anak kelompok B1 melalui penerapan metode bermain berbantuan

Bentuk yang bisa dikategorikan kekerasan gender antara lain : (a) pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk perkosaan dalam perkawinan; (b) tindakan pemukulan dan serangan fisik; (c)

Perhitungan analisis stabilitas lereng dengan menggunakan program Plaxis V.8.2 di lokasi penelitian STA.263+650 untuk mendapatkan nilai faktor aman, deformasi, perpindahan,

Apabila produsen atau pelaku usaha industri rokok tidak memenuhi ketentuan mengenai ketentuan pelabelan diatur sanksi dalam Pasal 23 bahwa Setiap orang yang memproduksi dan/atau