Kemungkinan Sebuah Otonomi Sejarah Modern di Asia Tenggara John R. W.Smail
Secara umum diterima bila sejarah adalah bagian dari budaya dan seorang sejarawan adalah anggota dari masyarakat, karenanya, dalam ungkapan Croce, satu-satunya sejarah yang benar adalah sejarah kontemporer. Bila diikuti dari sini bahwa saat terjadi perubahan besar dalam pandangan kontemporer, pastinya terdapat perubahan besar dalam historiografi, yang mana pandangan tersebut tidak melulu dari masa kini tapi juga masa lampau yang ikut berubah.
Jika perubahan dalam pandangan kontemporer sangat ekstrim dan cepat, kita dapat berkesimpulan adanya krisis dalam historiografi. Ini adalah contoh dari sejarah Asia Tenggara masa kini, dimana dalam 40 atau 50 tahun belakangan terjadi perubahan besar dalam situasi sosial dan budaya dan 50 tahun atau kurang ke belakang terdapat perubahan yang lebih besar dalam struktur politik dengan munculnya negara baru dan berkuasa dimana mereka sebelumnya adalah anggota koloni.
Badai di historiografi Asia Tenggara telah meledak dengan cepat. Pada mulanya dimulai tahun 1930 saat sejarawan dan sosiolog Belanda, J. C. van Leur meluncurkan serangan retorikanya pada sejarah ortodoks kolonial dari, terutama, Indonesia di abad 17:
“…Tetapi baik Speelman dan Kompeni menjadi bangkit di Indonesia dengan sebuah usaha keras dari kekuatan yang ada. Mengapa, lalu, cahaya tersebut tidak banyak jatuh di wilayah tersebut? Mengapa itu hanya dilihat sebagai antagonis: Mengapa itu semua hanya menjadi sangat abu-abu dan tidak terbedakan?”
dan, yang lebih penting, dalam tulisannya yang lain memberi petunjuk pada pandangan sesatnya pada sebuah pembangkitan keheranan yang jelas dari otonomi sejarah “wilayah Asia Tenggara”.
Pada masanya dia tidak banyak mendengarkan pada: kata-kata yang tidak enak tetapi mematikan yang sekarang digunakan untuk mendeskripsikan apa yang dia serang, “Eropa-sentris”, tidak muncul hingga 1948 dan tidak mendapat perhatian yang luas hingga publikasi History of South-East Asia oleh D. G. E. Hall di tahun 1955.
dalam sudut pandang, meskipun, tidak peduli bagaimana hasratnya mereka bersorak-sorai, adalah urusan yang menyakitkan dan membingungkan serta baru saja dimulai. Krisis ini sangat dekat dengan kita.
Kebingungan yang terlihat jelas dapat ditemukan dalam istilah dimana diskusi tentang krisis historiografi ini berjalan, terlebih istilah “Eropa-Sentris” dan “Asia-Sentris”. Bagian terbesar dari makalah ini akan dikhususkan pada pemeriksaan kritis yang wajar dari berbagai segi dimana istilah ini digunakan, baik eksplisit maupun implisit. Melalui pemeriksaan ini, saya harap dapat mendemonstrasikan kesimpulan pasti tentang bagaimana kita dapat atau seharusnya mendekati penulisan sejarah Asia Tenggara modern. Untuk lebih mempermudah, saya akan menggunakan kasus sejarah Indonesia selruhnya, meski analisis ini dimaksudkan untuk diterapkan secara umum untuk sejarah Asia Tenggara secara keseluruhan.
Terdapat satu pengertian dimana frasa “Eropa-Sentris” telah digunakan yang mana secara filosofis sangat mendasar dimana ini harus diperhatikan, dimana jika permasalahan yang mana ini meningkat dan tidak dapat diselesaikan maka tidak ada alasan lagi untuk memperoses lebih jauh dengan argumen ini. Ini adalah perasaan dimana orang Eropa memiliki penglihatan Eropa-sentris dengan definisi karena dia dibesarkan dalam budaya Eropa dan membaginya dengan dunia. Ini adalah pengertian yang digunakan oleh Profesor John Bastin dalam makalahnya yang terkini saat dia menulis (meringkas beberapa keterangan dari Pieter Geyl) yang mana “…tidak peduli seberapa baiknya maksud dari sejarawan Barat untuk meninggalkan pandangan Eropa-sentris, dia tidak akan sepenuhnya melarikan diri dari masa lalunya, dari adat kebiasannya”. Dapat dilihat dari sini bila Bastin menyangkal kemungkinan sejarah Asia-sentris ditulis oleh orang non-Asia, tetapi ini adalah bukti kalau dia tidak berani lebih jauh, karena beberapa kalimat lagi dia lalu menulis “Ini…terlihat bagi saya untuk membuat pembatasan keras untuk kemungkinan sejarawan Barat dapat dengan sukses menginterpretasi sejarah (Asia Tenggara) dari sudut pandang orang Asia”. Namun demikian, kita mempunyai tantangan yang sangat serius.
mengabaikan hak mereka untuk berbicara tentang hasil mereka sebagai “Asia-sentris” tetapi sejarawan Barat akan terus melanjutkan studi sejarah Asia Tenggara. Mereka akan dengan mudah mengekspresikan penemuan mereka dalam konsep asli kedalam alam pemikiran mereka. Masalahnya akan muncul seperti sebelumnya: Konsep apa, sudut pandang apa?
Tetapi tidak mungkin dalam penggunaan istilah Bastin “Eropa-sentris” dapat memiliki arti praktis dan seperti bila kita mengasumsikan keberadaan dari pemiliran alternatif dunia atau “warisan budaya” (atau lebih dari satu). Untuk kepentingan yang lebih mudah, mari kita asumsikan dan kita sebut sebagai alam pemikiran Asia. Sekarang kita memiliki sesuatu yang penting: dua tradisi budaya, otonom dan sama-sama valid, mencari sejarah Asia Tenggara, yang satu berkewajiban karena definisi kita mencarinya dari sudut pandang “Eropa-sentris”, yang lain, sama sama pentingnya, mencarinya dari sudut pandang “Asia-sentris”. Bastin (memenuhi syarat) menolak kemungkinan sejarawan Barat memperoleh pandangan Asia-sentris sekarang dapat sangat berarti, karena untuk istilah “Asia-sentris” sekarang dapat dibalik dengan definisi dari pengelihatan yang diperoleh oleh sejarawan Asia.
Tetapi Bastin tidak menegaskan hal ini. Pada satu poin dia terlihat menyatakan secara tidak langsung saat dia menulis, “ini….tidak untuk menolak validitas sejarawan Asia menulis sejarah Asia Tenggara seperti yang mereka lihat.” Tetapi beberapa halaman kemudian dia menegaskan posisinya: “…ini harus diingatkan kalau mayoritas sejarawan (Asia) dilatih dalam metode sejarah Barat…” dan, penyelesaiannya, “Tipe sejarah Asia dan Asia Tenggara yang ditulis sekarang, bahkan oleh sejarawan Asia sendiri, adalah tradisi sejarah Barat…”
Ini hanyalah pendapat. Bila bagaimana sejarawan Asia modern menulis sejarah dengan tradisi Barat, seperti yang dia tahu, lalu ini tidak mungkin lagi baginya dibandingkan secara etnis sejarawan Barat yang melarikan diri dari “warisan budaya” Barat, sama tidak mungkin baginya untuk memperoleh perspektif Asia-sentris dalam perasaan filsafat dasar. Jika ini terjadi tidak siapapun dapat mencapai perspektif asia, atau siapapun dapat mencapainya.
bagaimanapun nenek moyangnya berpikir, apa yang orang-orang di jalan pikirkan, sejarawan Indonesia hingga saat ini tidak mempercayai kalau tentara Demak berubah menjadi sekumpulan lebah yang berhasil menggulingkan Majapahit, seperti yang direkam di dalam Babad Tanah Djawi. Hal tersebut tidak lagi mungkin bagi mereka daripada bagi sejarawan Barat, dimana dia menjadi bagian dalam dunia pemikiran Barat
Kita tidak harus melihatnya secara negatif, meskipun, sama-sama benar bagi hal ini kalau apapun yang didapatkan oleh sejarawan Asia modern dalam perspektif Asia-sentris dapat juga diperoleh secara sama oleh sejarawan Barat. Saya akan menjelaskannya dengan gamblang, bagaimanapun. Tidak diragukan lagi kalau masalah perspektif yang hadir saat ini di antara sejarawan Barat dan Asia, dimana ini adalah cacat dalam literatur yang ada dan ini akan berlanjut menjadi permasalahan di masa depan. Tetapi ini adalah masalah praktis, bukan masalah filosofis (kecuali dalam wilayah pemikiran sendiri mengenai permasalahan sejarah secara umum yang tidak kita perhatikan di sini). Tidak ada batasan filsafat yang absolut untuk mencegah sejarawan Barat (atau sejarawan Asia modern) untuk memperoleh perspektif Asia-sentris yang valid.
II
Semua ini akan tampak lebih jelas, mungkin, jika kita kembali untuk melihat apa yang telah saya awali dalam paper ini, dari perubahan besar baru-baru ini dalam budaya dan masyarakat Asia Tenggara. Dilihat dalam pandangan jauh (visi), jumlah perubahan ini menuju ke hancurnya (putusnya) progresif partikularisme budaya dan peningkatan pendirian tetap dari budaya dunia tunggal, atau peradaban, di mana ada ilmu fisika universal tunggal (sudah hampir dicapai), sebuah sejarah universal tunggal dan sebagainya. Secara historis, budaya dunia ini berutang paling bayak pada budaya Barat, tapi di sini dan sekarang ini derivasi historis tidak terlalu penting; memang; penekanan atas itu cukup sering mengarah pada kesalahan serius dari berpikir, tidak untuk berbicara tentang kegagalan emosi.
Tetapi sistem tertutup lama tidak bisa, pada teori ini, diganti dengan sistem tertutup yang baru. Secara umum, saya pikir, ini ditanggung oleh fakta-fakta, kecuali (sementara?) dalam arti konstitusional sempit. Saya sadar bahwa di sana ada rasa historiografi nasionalis yang lebih khusus (di mana-mana di dunia, dalam hal ini) merupakan upaya untuk membuat atau mempertahankan sistem budaya tertutup, tapi saya yakin bahwa dalam konteks budaya dunia yang semakin berkembang kuat, sistem ini adalah lemah dan semakin lemah. Pada titik ini saya berpegang (sependapat) dengan Resink.
Para penulis sejarah Hindia Belanda dalam pengelolaan pra-perang kelas telah digantikan oleh para penulis sejarah Indonesia dalam pasca-perang, internasional, daripada nasional, kelas-elit.
Saya menerima itu bahwa kita di sini dalam konferensi ini adalah seluruh anggota kelas elite internasional ini, yang secara sadar atau tidak, kita semua menerima begitu saja bahwa kita berbagi dalil-dalil dari sejarah universal tunggal, namun kekurangan dalil ini mungkin digambarkan. Memang, asumsi ini hanya pembenaran, saya bisa melihat untuk menyelenggarakan konferensi ini sama sekali.
Kita sekarang dalam posisi, saya percaya, untuk mengatakan bahwa bagi para sejarawan, seperti halnya ilmuwan alam lainnya dan sosial, sekarang hanya ada dunia tunggal kebudayaan atau pemikiran-dunia; dengan demikian bahwa istilah "Eropasentris" dan "Asiasentris" (bersama dengan "Indosentris," "Jawasentris" dan sebagainya) tidak dapat digunakan untuk menggambarkan visi sejarah otonom pemikiran dunia. Dalam hal ini pikiran- dunia yang tunggal dari sejarah universal, maka, sudut pandang apa yang dapat atau harus kita adopsi untuk sejarah Asia Tenggara? Apa makna keberhasilan yang bisa kita tetapkan untuk istilah-istilah seperti "Eropasentris" dan "Asiasentris."
Masalah penghakiman nilai dalam sejarah Asia Tenggara adalah suatu yang luas dan menyakitkan. Kepuasan diri dan penghinaan dari kebanyakan sejarah kolonial, sama sekali belum mati, suatu kebencian terkadang ditemukan dalam tradisi anti-kolonialis yang lebih muda—ini adalah uncongenial pada sejarah, yang mana yang terbaik adalah studi yang paling manusiawi. Hal ini bukan hanya bahwa penghakiman nilai dibuat—ini tak terelakkan dan mungkin dengan cara sederhana bahkan diinginkan, jika mereka dengan berbagai cara membantu untuk mengekspresikan visi pribadi sejarawan—masalahnya adalah bahwa bias ini sistematis, seluruh sejarah dan seluruh kelas dari keseluruhan sejarawan. Keluarnya bias moral yang sistematis hanya bisa datang dari karikatur dan karikatur adalah seberapa besar hasil sejarah kita mengenai Asia Tenggara itu.
Tetapi setelah mengatakan ini, apa lagi yang bisa kita katakan? Bias moral yang sistematis adalah salah satu kejahatan yang melanda dalam penulisan sejarah, tetapi juga salah satu yang paling kurang dikerjakan. Ini adalah fakta keras bahwa cita-cita sejarah berisi (sendirinya sebuah produk budaya) kebanyakan lebih pada konflik dengan latar belakang budaya umum sejarawan dari aspek yang lebih profesional lainnya dari sikap kerjanya, yang orientasinya pada materinya. Mungkin proses perubahan sosial dan budaya menawarkan satu-satunya harapan yang pasti untuk perubahan sejarah yang bias. Jika demikian, di sana ada sedikit keuntungan dalam diskusi panjang dari masalah tersebut. Hal ini perlu untuk mengatakan bahwa sudut pandang "Asiasentris" dalam arti moral mengacu pada bias sistematis adalah bukan perbaikan yang kita cari ketika kita menolak bias Eropasentris. Setelah mengatakan ini, kita bisa menyampaikan pada pencarian hasrat perbaikan ini di tempat lain.
dibawa ke dalam kontak dengan China, India atau Barat…[ untuk ] sejarahnya ini tidak dapat dipandang dengan aman dari beberapa sudut pandang lainnya sampai terlihat dari dirinya sendiri." (hal. vii)
Saya masih bisa mengingat kegembiraan ketika saya membaca bagian ini untuk pertama kalinya, kegembiraan yang lebih besar yang datang dari visi van Leur ini mengenai jalur perdagangan Asia lama. Ini adalah tangis yang menggembirakan, seperti seruan Marx untuk perspektif pusat-proletar, dan tidak ada, saya pikir, yang dapat melihat pada sejarah Asia Tenggara dalam cara yang sama setelah mendengar itu. Namun, bahkan dalam waktu singkat sejak pertama kali mendengar, hal itu telah menjadi jelas bahwa tidak mudah untuk dipraktikkan, bahwa masalah ini, bahkan dalam teori, tidak sesederhana seperti yang pertama terlihat.
Kebingungan masa kini tentang hal ini pertama-tama karena pengelompokan ide-ide terkait di sekitar lebih asli atau konsep kurang murni yang hanya mengacu hanya untuk sebuah pertanyaan dari perspektif yang akan diadopsi oleh sejarawan (yaitu arti ketiga terisolasi di sini). Saya akan mengambil masalah ini terlebih dahulu, sebelum melanjutkan ke sumber kedua dan yang lebih penting dari kesulitan, di mana masalahnya terletak pada kegagalan untuk menganalisa implikasi dari konsep itu sendiri dengan kejelasan yang cukup.
Saya tidak akan mengulangi alasan dimana saya tiba pada kesimpulan bahwa perubahan perspektif kami mencari tidak dapat dilihat sebagai pergeseran ke pemikiran dunia yang berbeda, tetapi pergeseran yang terjadi dalam satu pemikiran-dunia (universal). Tetapi saya belum menjelaskan kenapa saya merasa itu menjadi sangat penting untuk memisahkan pengertian moral terkait dari istilah "Eropa-sentris" dari perspektifnya. Pada akhirnya, seperti yang saya katakan di atas, dua-duanya secara alami cenderung untuk berjalan bersama-sama; sejarawan, yang melihat Hindia dari galeri tinggi rumah-perdagangan (trading-house) akan cenderung beranggapan bahwa pedagang Belanda di belakang tempat tersebut adalah seorang yang baik pada umumnya.
Inilah sebabnya, dalam kasus tertentu dari sejarah Asia Tenggara, hal tersebut sangat penting untuk membedakan keduanya. Hal ini tidak hanya tidak memuaskan secara teoritis bahwa, dalam makalah yang telah saya kutip, Profesor Bastin (seperti lawan yang telah ia pilih, K. M. Panikkar) harus terus bergeser bolak-balik antara dua masalah yang cukup terpisah: (1) berapa banyak kepentingan yang harus kita tetapkan untuk peran Portugis di Asia modern awal (sebuah masalah perspektif) dan (2) seberapa baik atau buruk Portugis, dan kekuatan kolonial lainnya (sebuah masalah penghakiman nilai). Itu tidak tetap bahkan dalam makalah ini, selama semua terlalu sering (dibahas) dalam diskusi masalah ini, semakin banyak muatan-emosi (emotion-laden) masalah moral yang cenderung membayangi masalah perspektif hingga pada akhir makalah, setelah sebuah bantuan liberal dari Perbandingan Kekejaman dan Nazi dan Historiografi Soviet, kita sulit sekali untuk mengingat bahwa kita memulai dengan pertimbangan masalah perspektif. Hal yang utama adalah bahwa ketika dua masalah ini terjerat dengan satu sama lain sulit, itu untuk menghargai salah satu dari mereka dengan jelas dan untuk melihat sejauh mana perbedaan implikasinya.
Beberapa contoh akan menunjukkan apa yang saya maksud di sini. Kita bisa mulai dengan van Leur. Apa yang dia lakukan untuk abad 16 dan 17, pada dasarnya adalah untuk menggeser sudut pandang moral yang dari Eropa-sentris ke netral, sementara dia mengubah perspektif dari Eropa-sentris ke Asia-sentris. Karyanya berdiri sebagai sebuah model pada kedua hal ini dan mungkin apa yang kebanyakan dari kita pikirkan pertama ketika kita berbicara secara umum mengenai menafsirkan ulang sejarah Asia Tenggara. Namun, dia tidak memiliki banyak rekan.
Selanjutnya kita memiliki kelompok besar penulis yang dapat disebut sejarawan neo-kolonial, umumnya sarjana yang telah dewasa dalam pengalaman panjang mengenai satu atau lebih negara-negara Asia Tenggara. Untuk Indonesia, D. G. E. Hall sendiri dan B. H. M. Vlekke mewakili grup ini. Apa yang mereka lakukan untuk masa kolonial, pada dasarnya, adalah untuk menggeser sudut pandang moral dari Eropa-sentris ke sebuah posisi yang cukup dekat dengan netral tetapi gagal untuk mencapai standar, ketika mereka mengubah perspektif dari Eropa-sentris ke satu campuran dengan arti lebih dekat ke sisi Eropa-sentris.
adalah benar-benar netral, hampir-netral, semacam gerak badan moral yang mencondongkan tubuh ke depan dan kemudian mundur ke belakang. Perspektif van Leur koheren dan benar-benar Asia-sentris, mereka dengan bergantian Eropa-sentris (pada VOC) dan Asia-sentris (pada negara Indonesia seperti Mataram). Perspektif campuran ini akan diterima (setelah semua, jarang sekali bisa memiliki perspektif yang benar-benar murni dalam sejarah umum) jika perspektif dominan adalah Asia-sentris, tetapi sebaliknya terjadi.
Untuk periode-periode berikutnya, perspektif mereka bergeser ke arah Eropa sentris, sampai dengan ketinggian pada periode kolonial itu hampir sepenuhnya Eropa-sentris. Namun kemudian, dengan munculnya gerakan nasionalis, perspektif Indo-sentris kembali muncul dan buku mereka berakhir sekali lagi dengan perspektif yang beragam.
Untuk menggambarkan pendekatan neo-kolonial yang agak lebih detail, dan membuatnya cukup jelas mengenai apa yang dimaksud dengan perlunya membedakan antara sudut pandang moral dan perspektif, mari kita pertimbangkan perlakuan Vlekke terhadap Perang Aceh pada dekade terakhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Untuk memulainya, fotonya hampir secara keseluruhan menyingkirkan moral bias; Orang Aceh secara umum dipandang sebagai pemberani dan berpikiran independen, bukan sebagai orang berbahaya dan fanatik, beberapa slip yang ia buat lebih atau kurang seimbang di sisi lain oleh sejumlah komentar agak kritis tentang Belanda.
Dalam semua ini, orang Aceh merupakan antagonis yang lebih atau kurang terhormat, tetapi antagonis mereka tetap, "abu-abu dan tidak dibeda-bedakan." Kita melihat “masalah Aceh” tetapi tidak pernah “masalah Belanda”, kita melihat Belanda mencoba untuk memecahkan masalah Aceh dengan menangkap Teuku Umar, tetapi kita tidak melihat Teuku Umar mencoba untuk memecahkan masalah Belanda dengan berkolaborasi pertama; dengan Belanda kemudian kembali ke sisi orang Aceh. Sejauh perspektif yang bersangkutan, kita belum maju satu langkah pun dari sejarah kolonial ortodoks.
Sebuah variasi ketiga dalam cara pandang moral dan perspektif dapat digeser diwakili oleh kelompok besar (lihat catatan 9) penulis yang bisa disebut sejarawan anti-kolonial, sebuah kelompok yang mencakup sejarawan yang paling nasionalis dan sejumlah orang Barat. Pada dasarnya apa yang mereka lakukan (untuk periode kolonial) adalah untuk menggeser sudut pandang moral yang dari Eropa-sentris ke "Asia-sentris" (yaitu bertukar satu bias sistematis pada yang lain). Tetapi, secara mengejutkan, mereka menggeser perspektif dari Eropasentris tidak ke Asia-sentris, tetapi ke perspektif campuran yang condong ke sisi Eropa-sentris. Seperti dengan sejarawan neo-kolonial, mereka yang menyerupai begitu banyak dalam hal ini, posisi perspektif mereka sangat bervariasi, tergantung pada periode, insiden atau individu yang sedang dipertimbangkan, atau pada penulis, tetapi itu masih cukup adil untuk mengatakan bahwa posisi utama lebih dekat ke Eropa-sentris daripada Asia-sentris.
kemunculan gerakan nasionalis, tetapi bahkan untuk periode ini ada banyak hal yang terlihat Eropa-sentris.
Hal tersebut bermanfaat ketika membandingkan gambaran dari perang Aceh melalui wakil dari sejarawan Indonesia, Anwar Sanusi, yang diserahkan oleh Vlekke. Catatan Sanusi menjelaskan lebih rinci dari pada Vlekke dan dia memasukkan informasi yang lebih mengenai pmimpin Aceh. Sejak dia bersimpati kepada pemimpin tersebut, kita kadang-kadang berpandangan bagaimana pikiran tersebut dilihat oleh mereka; musuh dari orang Aceh tidak semuanya seperti bayangan saja, seperti halnya penjelasan Vlekke. Pada saat yang sama dia memasukkan semua hal yang diperlukan mengenai Belanda yang ditemukan pada catatan Vlekke. Lebih dari itu, dia waspada terhadap bahaya Belanda, terdapat sebuah rencana ketika dia bermusuhan dengan Belanda yang memunculkan perselisihan yang agak luar biasa atas sudut pandang moral dan perspektif. Mengambil gambaran secara keseluruhan yang seperti tanpa ada keragu-raguan akan ancaman yang melekat pada hal tersebut secara bersama yang merupakan kebijakan dari Belanda dan berhadapan dengan mereka. Perspektif Belanda itu dominan dan masuk akal, sementara perspektif orang Aceh hanya terbentuk sebagian.
Hal tersebut seperti sebuah pandangan moral yang anti kolonial dan sedikit menggunakan perspektif Eropa sentris yang membuat sesuatu yang aneh. Di lain hal mereka melakukan hal tersebut, seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya. Hal tersebut menarik untuk dicoba untuk menjelaskan sebagaimana mestinya sumber yang alami, terutama ketika kelompok anti kolonial (antara Indonesia dan Barat) cenderung sebagian lebih banyak bekerja dari sumber pendukung yaitu dari Belanda pada pendapat disini, sehingga saya berpikir lebih memilih untuk merubah perhatian dan melemparkan hal tersebut: pada wilayah anti kolonial yang begitu kuat yang sering membuat perspektif yang pokok yang hampir tidak sesuai. Pada saat yang sama, satu hal yang sulit diberitahukan adalah ketika cetakan pada halaman surat kabar terkadang digunakan untuk sosok wayang yang populer yang salah satunya banyak ditemukan di pasar.
yang anti kolonial (dan bukan sejarawan) berada di luar sejarawan neo kolonial, yang mencapai posisi yang murni sejarawan kolonial, pada perkiraan mereka atas tingkat dan durasi atas kekuatan kelompok Belanda dan NEI : hal tersebut merupakan “mitos atas 350 tahun” kaidah atas Belanda di Indonesia yang menemukan dukungan yang kuat sampai sekarang diantara para anti kolonial, antara Indonesia dan Barat. Manusia tersebut menemukan pendeta spiritual mereka diantara Belanda dengan tradisi anti kolonial yang lama dengan “Max Havelaar” juga “Eereschuld” serta “Millioenen uit Deli’s). Penulis Belanda juga menjadi salah satu perbincangan yang menerima penggabungan pandangan moral anti kolonial dan persepktif Eropa sentris. Ketika salah satu perspektif pada sudut pandang yang sama dari visi atau evaluasi yang penting yangkembali kepada fakta yang kita setujui disini dengan pandangan moral yang dominan dari perspektif. Sebab kita tidak bisa bertanya pada para anti kolonial untuk menyerahkan moral mereka yang anti kolonial. Seperti halnya orang yang berpolitik, kemungkinan anti kolonial sekarang yang membuat kita hanya bisa berharap atas pemisahan yang tepat pada pandangan moral dari perspektif yang bagaimana kita membangitkan kembali kepentingan masa depan. Seperti halnya kita hanya berharap bahwa kepentingan yang sama atas sejarawan neo kolonial yang bisa membawa pandangan atas asumsi dasar mereka.
Setelah mendiskusikan hubungan yang terkadang rumit antara konsep perspektif (murni) dan hubungan konsep pada pandangan moral, sekarang kita harus berubah untuk merubah pertimbangan atas konsep perspektif itu sendiri, untuk sulit melupakan kebohongan besar.
III
relatif pada beberapa elemen pada sebuah bagian sejarah yang seperti kita ketahui dengan melihat elemen ini pada istilahnya tersendiri dan sesuatu yang lebih valid yang kita akan merasakan sudut pandang yang akan menjadi sebuah visi.
Sejauh ini hal tersebut murni subjektif. Tetapi subjektif harus memiliki beberapa hal yang korelatif objektif di lain hal dimana sejarawan tidak bisa berkomunikasi yang begitu bermakna. Suatu sudut pandang pada visi, seperti sebuah aspek pada perspektif, yang menunjukkan tanpa adanya bantuan, bahwa tidak ada korelatif objektif. Tetapi relatif berguna dengan batasan yang jelas. Kita akan berbicara jika kita berharap melihat kerajaan Mataram dari sudut pandang seorang budak dan tidak ada dasar untuk menghentikan kita, lebih lagi apabila kita bisa menempatkan objek jika pihak lain ingin melihat subjek yang sama dari sudut pandang Sultan Agung. Tetapi hal ini juga pertanda sesuatu yang begitu relatif penting untuk budak ini pada keseluruhan (subjektif) gambaran kita mengenai Mataram, tanda lainnya juga sebagai sebuah relatif yang begitu penting untuk Sultan Agung pada keseluruhan gambaran mereka (subjektif). Perdebatan ini (subjektif) dinilai sebagai sesuatu yang relatif penting yang bisa membandingkan pada keterangan atas fakta (objektif), dan beberapa wacana atas alasan yang bisa diikuti.
Dari penjelasan tersebut, walaupun perdebatan persepktif cenderung diekspresikan pada teori dengan istilah sudut pandang visi, praktik dari pendapat yang digapai pada wacana yang didapatkan hampir tanpa terkecuali mengenai pertanyaan atas (objektif) yang relatif berguna. Karena hal tersebut berguna, maka untuk mempertimbangkan tetap sebagai jenis kriteria yang digunakan untuk menentukan (objektif) yang relatif penting pada elemen yang bervariasi yang diberikan pada situasi peristiwa sejarah. Kembali kepada masalah kita, kita harus mempertanyakan atas kriteria apa yang menegaskan bahwa elemen Asia bisa sebagai sesuatu yang begitu penting dalam sejarah baru di Asia Tenggara?
Poin ini, saya pikir, belum diapresiasi secara umum dan hal itu meningkatkan jumlah masalah penting, pertama mengenai pengertian kita atas Van Leur sendiri dan kedua tentang keseluruhan masalah untuk perspektif Asia sentris.
Seperti halnya keprihatinan Van Leur, pertama kita harus membuat apa kriterianya untuk menentukan kepentingan yang relatif tersebut, dan periode apa yang ada di pikirannya. Kriterianya—dia tidak sebutkan pada banyak kata, tetapi bisa atas alasan dugaannya—dijatuhkan kepada kedua bahasan politik. Pertama merupakan kriteria umum atas kekuatan politik militer dan ekonomi. Kedua adalah kriteria analitik dari sosiologinya: kategori seperti “bentuk” ekonomi pada level tertentu, “sifat” sejarah pada karakter khusus, level dari teknik militer dan sebagainya. Hal yang relatif tidak berguna atas Belanda pada abad ke-17 di Indonesia telah ditetapkan untuknya tidak hanya dari fakta atas konstitusi mereka yang tidak lebih dari “hasil Eropa” yang pertama atas batasan politik yang signifikan dan praktik tanpa kepentingan ekonomi di timur tetapi juga pada fakta yang terbentuk atau sifat karakteristik aktivitas mereka ataupun bagian dari “Eropa” yang juga merupakan bagian dari “Asia” yang menjadi bagian yang tidak lebih dari sebuah “nilai yang sama”.
Sejauh periode yang menyatukan ketidakpentingan relatif ini, kita bisa melihat progres yan menarik dibenaknya. Pada tesisnya (1934) dia membawakan pendapatnya sampai tahun 1600, tetapi instingnya menuju kepada Belanda pada abad ke-17. Pada artikelnya “Studi Sejarah Indonesia” pada tahun 1937, dia mengklaim keseluruhan abad ke-17. Dalam ulasannya dari volume 2 dan 3 dari Geschiedenis Stapel pada tahun 1939 ia mulai mengarahkan pandangan pada abad ke-18.
Untuk abad ke-18, ketika kekuatan Company Mulia telah berkembang dari benteng pesisir, pelabuhan, dan stasiun penjaga rempah-rempah dengan sebuah kekuatan dengan pengaruh teritorial, kekuatan nyata di antara negara-negara Oriental, atrofi dunia Indonesia menjadi sebuah pertanyaan, dan pada saat yang sama kepentingan relatif sejarah company meningkat, (hal. 262).
abad ke-19 sampai abad ke-20, tetapi hal itu belum terlaksana karena van Leur telah meninggal tahun 1942.
Terlihat beberapa keraguan di dalam artikel yang ia nyatakan dalam ulasannya pada tahun 1939, The Atrophy of the Indonesia word becomes a question. Abad ke-18 menjadi tolak ukur kemajuan zaman ketika bangsa Barat menguasai dan mengembangkan berbagai perusahaan. Hal itu yang nantinya akan menjadi industri kapitalis yang akan kemudian pengaruh tersebut dibawa ke Asia Tenggara. Pada tahun 1934 ia menulis:
... seiring berjalannya waktu, dengan kekuatan global Eropa Barat dan konsolidasi kapitalisme modem, dunia Asia akan semakin tertinggal dan jauh lebih lemah. (hal. 120).
Sekarang, dalam ringkasannya, ia menampilkan sebuah pernyataan:
... Ada kesatuan yang tak terputus di negara-negara dalam peradaban Asia dari abad ke-17 sampai 18 dan ke-19. . . Dua peradaban yang sama yang berkembang secara terpisah dari satu sama lain, Asia dalam setiap cara yang unggul secara kuantitatif. Kesetaraan tetap selama racun kapitalisme modem belum mempengaruhi Eropa ... (hlm. 284-5).
Menurut van Leur, Indonesia tumbuh pada abad ke-19 dan 20 melalui kapitalisme yang diterapkan Belanda. Hal ini mnegundang pertanyaan bagi kalangan sejarawan. Apakah ini merupakan sudut pandang Indonesiasentrik atau Eropasentrik. kita memiliki kekurangan unutk melihat hal itu dari sudut pandang Indonesiasentrik karena dibangun di atas seperangkat asumsi yang sesuai dengan kriteria van Leur.
Dilema menjadi lebih jelas jika kita mendekati dari sudut yang lain. Pada tahun 1937, dalam esainya "On The Study of Indonesia History", van Leur mengedepankan konsep otonomi sejarah Indonesia sebagai satu-satunya dasar yang kuat untuk membangun sejarah baru Indonesia. (pp. 147 dst.) Ia berpendapat bahwa hal ini tidak jelas sama sekali dan sejauh yang saya tahu dia tidak membawa masalah itu lagi, tapi saya pikir kita dapat cukup yakin bahwa apa yang ia bicarakan adalah metode yang orientasi ideologi yang harus diadopsi sejarawan untuk menentukan sumber-sunber dari sejarah Indonesia. Menurutnya, ini adalah tema sentral dalam karyanya dan kontribusi terbesar kepada historiografi Indonesia. Sejarawan mengambil contoh dari konsep dan kategori yang ia gunakan untuk sejarah Indonesia, membuat yang baru dan menolak kekeliruan yang dipinjamkan oleh sejarah Barat. secara eksplisit ide ini ia terapkan ke seluruh sejarah Indonesia. (hal. 147).
karena jika peristiwa sejarah pada dasarnya sama dengan, katakanlah Eropa, itu tidak akan cukup berbeda karena membutuhkan konsep dan kategori yang berbeda secara signifikan. Hal ini penting untuk melihat di mana otonomi dari peristiwa sejarah Indonesia diletakkan. Ini harus terletak dalam struktur sosial dan budaya; "otonomi" di sini harus berarti sesuatu seperti "keunikan dalam bidang sosial dan budaya." Hal ini tidak berarti otonom diartikan dalam konsep biasa, yaitu sebagai batas tertentu independen atau berdiri di atas kaki sendiri.
Ini adalah inti dari permasalah van Leur. Tidak ada keraguan bahwa sepanjang karyanya van Leur menerapkan ide otonomi dalam arti pertama, tetapi di samping itu ia juga menggunakan kedua sebagai keterbatasan pemikiran. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kepentingan relatif diukur otonomi hanya dalam pengertian terakhir ini: kriteria kekuasaan jelas begitu tetapi juga kriteria analitik (peradaban dari "nilai yang sama", "lebih tinggi" bentuk ekonomi dan sebagainya). Tumpang tindih ini atau kebingungan dalam terminologi tidak berpengaruh pada periode sampai sekitar 1700-an. Tapi mulai paruh kedua abad ke-18 hal itu semakin menyimpang (salah satu alasan, tentu, untuk ketidaknyamanan jelas dalam artikelnya pada abad ke-18) dan pada abad pertengahan abad ke-19 (untuk Java pada setiap tingkat) yang hampir menentang. Otonomi sebagai pengertian mendasar lewat referensi bagi kelangsungan tertutup menunjukkan bahwa ia menyadari setidaknya satu aspek dari ini.
Hal ini penting dalam kritik van Leur. Pertama, seperti komentar saya, ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerapkan ide-idenya (termasuk yang otonomi metodologis) dalam periode modern dan ia mungkin telah berhasil menemukan jalan keluar untuk memperbaiki ide-idenya tersebut. Kedua, harus ditekankan bahwa senjata untuk melawan mitos kolonial sangat kuat dan sebagai fakta sosial, seperti yang akan kita lihat sebentar lagi, tidak dapat diterapkan oleh van Leur. Hal ini tidak salah, karena van Leur adalah seorang sejarawan Barat yang sedikit banyak masih terpengaruh oleh pemikiran Barat.
kajian sosiologis atau ekonomi akan ditemukan pada historiografi Indonesia dalam mengkaji isu-isu politik konvensional, misalnya yang berhubungan dengan penaklukan Mataram. Tapi ini perbedaan dalam aplikasi, tidak pada prinsipnya. Jika pembahasan menggunakan sudut pandang Indonesia yang independen mulai menurun, maka akan semakin terjebak dalam historiografi Neerlandasentris.
Kita bisa melihat ini dalam banyak contoh. Saya telah mengatakan di atas bahwa akan terjadi kesulitan untuk menjelaskan apa perspektif keseluruhan dari kelompok neokolonial dan antikolonial yang karena perspektif mereka bergeser karena periode, menjadi lebih Eropasentris sebagai pengaruh kekuasaan Belanda. Ini jelas merupakan cerminan dari penilaian mereka dari tingkat kekuatan independen yang dimiliki oleh Indonesia. Juga perlu dicatat bahwa ada kecenderungan perdebatan antara Asiacentric vs Eropa sentris yang berpusat pada penulisan di abad 16 dan 17. Sekali lagi ini hanya berhubungan dengan apa posisi atau sudut pandang yang anda gunakan sehubungan dengan masa kolonial awal sampai periode kolonial akhir.
Tidak cukup dekat, saya harus berkata. Kita tidak bisa menolak hal penting di sini yang selesai dikerjakan oleh Profesor G.J. Resink lebih dari dekade terakhir, untuk pekerjaan ini dia telah memperluas sebuah campur tangan pada kemerdekaan Indonesia sebagai dunia yang benar menuju inti periode kolonial baru-baru ini. Hal yang lebih penting untuk tujuan kita di sini, dalam melakukan hal ini dia telah banyak menjelaskan batas-batas spasial dan temporal batasan dari kekuatan kemerdekaan, dan dengan demikian efek sikap akan lebih tajam pada pertanyaan historiografi tentang bagaimana untuk menghandel masa transisi dari penguasa kolonial.
Belanda mereka sendiri pada awal abad ke-20 mengambil sudut pandang ini. Lebih daripada ini—untuk hal ini boleh jadi kelihatannya kering dan sesuai dengan hukum untuk sejumlah—yang telah dia berikan, di salah satu artikelnya saat ini, sebuah ungkapan meyakinkan sebuah gambaran tentang dunia Indonesia yang dilihat oleh Joseph Conrad pada abad 19, sebuah dunia yang tidak ada Hindia Belanda tetapi hanya ada Belanda Jawa, dan sepanjang sisi bahwa sebuah keseluruhan otonomi pulau kekuatan dunia tidak berkurang. Ini adalah sebuah untuk mengatur disamping gambarnya van Leur pada jalur perdagangan lama.
Ini adalah sebuah prestasi yang mengesankan, dan tepatnya karena hal ini secara mengesankan menginterpretasikan sebuah bahaya untuk kita semua yang mengikuti langkah-langkah Resink dalam meninjau ulang “sejarah yang diterima” mengenai Indonesia dan Asia Tenggara. Untuk itu saya harus mengulangi pertanyaan bahwa pendekatan ini ditujukan untuk pemusatan perhatian pada hanya sebagian keseluruhan subyek dalam sejarah modern Indonesia—bagian dimana Belanda tidak hanya bermain pada sebuah peran penting. Secara esensial hal itu memotong ukuran VOC dan Hindia Belanda, untuk menghancurkan mitos 350 tahun penguasaan Belanda. Tapi bagimana kita untuk menangani Belanda Jawa pada gambaran Conrad-Resink, pulau-pulau lainnya setelah sekitar tahun 1910, periode kapitalis modern untuk keseluruhan sejarah Indonesia termasuk kedalam tulisannya van Leur? Gambaran Leur-Resink tentang dunia kemerdekaan Indonesia adalah sekarang hanya tentang kelengkapan bentuk utamanya. Kita tidak bisa melanjutkan selamanya pencarian sudut kecil dimana kekuatan Belanda tidak dapat ditemukan.
Kita dihadapkan dengan sebuah pilihan penting. Pada satu sisi, kita bisa mempertimbangkan masalah yang dekat, sudut pandang Indonesi-sentris yang dibawa sejauh hal itu bisa dijangkau, dan sebagai gantinya sebuah sudut pandang Belanda-sentris yang melanjutkan cerita. Hal ini faktanya, adalah implisit (Meskipun saya beripikir tidak secara penuh berniat) dalam tulisan van Leur dan Resink yang kita diskusikan dan kurang lebih diterima untuk diambil oleh penulis lainnya. Hal ini seperti yang saya katakan, sebuah posisi yang dapat dipertahankan. Tapi jika harus dilihat secara jelas, maka, hal itu diperlukan keterlibatan sebuah diskontinuitas umum, ketika kita datang untuk mempertimbangkan abad ke-20 dan dengan demikian membuat kemungkinan sebuah kelanjutan sejarah Indo-sentris.
kekuatan ekonomi, terlihat otonomi sewperti yang saya katakan. Kita bisa malahan kembali kepada van Leur asli dan perasaan fundamental tentang hubungan “otonomi” dan mengambil penekanan kita tidak pada kriteria kekuatan yang terlihat tetapi hal yang mendasari struktur sosial dan budaya. Dengan melakukan hal ini, kita membuka kesempatan silang batas antara otonomi kekuatan Indonesia, dan dominasi Belanda, kesempatan untuk memecahkan diskontinuitas dan pembentukan basis untuk sebuah kelanjutan sejarah Indo-sentris di Indonesia.
Ada sejumlah implikasi kejelasan pada pendekatan ini. Hal yang jelas, sebagai contoh, bahwa sebuah penekanan besar tentang faktor-faktro sosial dan budaya akan memproduksi sebanyak mungkin “sosiologis” sejarah daripada yang kita telah usahakan sekarang. Kebutuhan ini tidak menjadi masalah bagi kita—hal itu adalah sebuah tren yang ditandai secara jelas pada sejarah modern dimanapun—tapi itu memerlukan kita untuk datang menuju hubungan dengan konsep dan metode ilmu sosial lainnya, dan untuk menghadapi fakta bahwa sejarah baru ini akan melihat keanehan, bahkan mungkin kekonyolan, pada permulaanya.
Sebuah konsekuensi kurang jelas dari pendekatan ini adalah bahwa dengan masuknya ke dalam pertimbangan serius tentang masalah mengenai otonomi pada puncak periode kolonial yang kita tak bisa acuhkan mengenai pertimbangan akhir periode dan kembalinya pembentukan kekuatan politik Indonesia merdeka. Satu hal yang tidak bisa dipikirkan menuju eksistensi untuk sebuah pembicaraan “tak terlihat” tentang otonomi Indonesia di bawah penguasa kolonial Belanda tanpa hadir untuk melihat bahwa otonomi muncul lagi pada sebuah bentuk yang telihat pada akhir periode kolonial. Hal ini, memang, sebuah keuntungan besar terhadap sebuah basis pendekatan yang lebih luas tentang konsepsi otonomi, untuk itu menawarkan kemungkinan penghubung tidak hanya awal diskontinuitas yang besar dari Indo-sentris menuju Belanda-sentris yang sudah ditandai di atas, tapi juga yang kedua (dari Belanda-sentris kembali menuju Indo-sentris) yang mana tidak dilakukan bahkan sampai untuk pertimbangkan di bawah pandangan lama. Tapi pada waktu yang sama, secara jelas meningkat dengan pesat kompleksitas pada tugas.
Sebuah konsekuensi akhir pada pendekatan ini, meskipun demikian cukup tidak terduga. Seperti yang kita kerjakan melalui garis alasan terbuka di sini kita akan menemukan bahwa kita telah melebihi hubungan pada masalah sejarah Eropa sentris melawan Asia sentris dengan apa yang kita mulai. Kita akan melihat kemungkinan sebuah otonomi kebenaran sejarah tentang Asia Tenggara.
Melewati jalan pada sejarah Indonesia, jika hal itu bisa dilihat sebagai kontinutitas dan koheren pada kondisinya sendiri, terdapat sebuah penghalang yang hebat: Secara konvensional gambaran tentang masyarakat Indonesia pada waktu kolonial. Hal itu merupakan sebuah cerita sedih, sebagaimana kita temukan dalam literatur; Kita mendengar banyak kehancuran nilai-nilai hidup tradisional, mundur menju kehidupan pasif, kebohongan yang terbengkalai, peremehan yang berkurang, pada kemunduran dan kemerosotan. Kita mendengar sebanyak itu dari sejarawan dan penulis anti kolonial, yang berhasrat untuk menyalahkan, sebagaimana dari sejarawan kolonial, mencari justifikasi untuk kelanjutan penguasaan.
Ini adalah sebuah gambaran familiar. Dengan sejumlah pemesanan satu hal yang bisa dikatakan bahwa itu merupakan sebuah deskripsi yang adil tentang apa yang terjadi pada banyak suku Indian Amerika, Ainu, pada ratusan masyarakat kecil di seluruh dunia. Hal itu diaplikasikan secara umum dimanapun yang bisa didemonstrasikan sebuah kemerosotan populasi yang ditunjukkan kelompok jasmaniahnya atau pergantian budaya oleh penakluk. Tapi itu tidak bisa diaplikasikan secara layak di sini. Belanda tidak pernah lebih dari sebuah kelompok minoritas di Hindia Timur, kekuatan relatif tertinggi mereka, dalam sensus tahun 1930 sekitar 100.000 (tidak termasuk Eurasians) dibanding 60.0000.000 orang Indonesia. Untuk semua politik dan kekuatan ekonomi hebat mereka dan pengaruh budaya mereka, mereka tidak punya perasaan untuk menggantikan atau membuat lebih dari orang Indonesia, mereka melapiskan mereka sendiri dan mereka mengimpor elemen budaya baru, tidak lebih. Satu hal yang ditulis secara koheren sempurna (gagasan tidak lengkap) sejarah tentang Amerika Serikat tanpa orang Indian, tapi itu bisa menjadi tidak jelas untuk mencoba menuliskan sebuah sejarah tentang Hindia Belanda tanpa orang Indonesia.
Gagasan tentang kelemahan agak sulit untuk dijabarkan, tapi apapun itu artinya bisa dan harus dipisahkan dari gagasan kebusukan budaya. Itu dimulai dari kejelasan fakta bahwa militer Belanda, secara politik dan ekonomi mendominasi Indonesia (atau sebagian dari itu) selama 350 (sekitar 200 atau 50) tahun, tetapi banyak tulisan yang menyatakan gagasan untuk mengambil tambahan, tentang makna yang lebih fundamental. Satu hal yang mendapat kesan bahwa itu bukan hanya dominasi tetapi bahwa ada atau datang menjadi sesuatu yang secara organik salah dengan masyarakat Indonesia sebagai sebuah hasil (sudut pandang anti-kolonial) atau penyebab (sudut pandang kolonial) pada dominasi ini.
Pada pemeriksaan lebih dekat, bagaimanapun, ide dari kelemahan ini, dari sebuah hilangnya kekuatan yang digerenalisasi, tidak berdiri. Kekuatan yang kalah adalah elit domestik, yang terpaksa dierahkan ke asing elit. Tapi masyarakat yang memerintah tetap "kuat" secara sempurna oleh standar apa saja yang diambil. Itu bertambah banyak, untuk memulai dengan, sebuah tanda dari kelemahan; struktur sosialnya tetap koheren ketika melalui sejumlah perubahan; itu, di bawah organisasi Belanda, secara konsisten menghasilkan sebuah surplus ekspor besar. Jika pembangunan telah mengambil tempat di bawah elit domestik, saya tidak berpikir akan ada banyak pembicaraan tentang pelemahan atau atrofi. Semua ini, tentu saja, cukup dari apakah aturan oleh orang asing adalah politik atau secara moral diinginkan.
Faktanya adalah bahwa dalam sistem kontrol apapun oleh sebuah minoritas kecil atas mayoritas (seperti dalam semua sistem kolonial tetapi lebih umumnya dalam semua masyarakat pra demokratis di atas level suku) kita harus menolak gagasan bahwa kontrol dari logika itu seperti menyiratkan ketidaksignifikan atau kelemahan kontrol, kecuali dalam sebuah kesadaran militer politik murni. Memang, pertentangan itu benar: dalam perjalanan panjang, pengendali (controller) sukses, kerajaan mereka besar, hanya sejauh pada apa yang mereka kontrol adalah besar dan vital dan efektif.
Ide mengenai kerusakan budaya dan hal yang bersamaannya, peningkatan pengaruh budaya Belanda di Indonesia, adalah bagian yang masuk akal dari gambaran konvensional. Ini harus diambil dari dua judul. Yang pertama adalah apa yang mungkin disebut kerusakan budaya dalam arti sempit, apa yang dimaksud oleh istilah-istilah seperti fosilisasi, stagnasi, menjadi statis, kemerosotan. Meskipun hal itu sering secara implisit diterapkan untuk keseluruhan budaya, tempat lain seperti di Indonesia, hal ini nyata bahwa dalam prakteknya itu mengacu terutama pada ranah hidup dan seni, menjadi salah digeneralisasikan dari sana. Selain itu, pemikiran kritis dalam beberapa dekade terakhir semakin menunjukkan bahwa konsepsinya adalah palsu bahkan dalam hal seni, bahwa hal itu berdasarkan pada sebuah aplikasi dari standar kemajuan standar modern Barat dan kreatifitas tradisi budaya (termasuk tradisi Barat yang lebih tua itu sendiri) dimana itu tidak relevan.
Jenis lain dari kerusakan budaya adalah salah satu yang ditunjukkan seperti dalam frase penghancuran cara tradisional hidup, pemecahan komunitas tertutup, keruntuhan dari nilai-nilai budaya, dimana prosesnya bukan salah satu dari kemunduran dari "penyerahan" untuk budaya asing. Ini adalah lebih penting, pertama karena dibutuhkan budaya dalam arti yang paling penuh, tidak hanya sebagai seni, kedua karena itu dikenakan pada masalah kritis dari dampak kultural kolonial.
Dalam analisa ide ini, pertama-tama kita harus memisahkan secara ketat faktor pemerintahan asing dari faktor pengaruh budaya asing. Dapat memiliki aturan asing tanpa perubahan budaya (Ch’ing China) dan, lebih penting, dapat memiliki perubahan budaya tanpa kontrol asing (Meiji Jepang). Jika kita melihat gangguan cara hidup tradisional di akhir masa kolonial Indonesia itu hanya kebetulan karena Belanda menjadi dominan secara militer, politik dan ekonomi pada waktu itu. Jika ini menjadi meragukan, seseorang hanya perlu untuk melihat pada keberlanjutannya, memang sangat percepat, proses dari perubahan budaya pada masa kemerdekaan Indonesia.
kolonial. Namun demikian, poinnya memiliki implikasi praktis penting. Hal ini memungkinkan kita untuk menghargai bahwa ada distorsi fundamental yang terlibat dalam semua kecenderungan umum untuk menggunakan kata-kata konotasi yang tidak menguntungkan bagi kelanjutan proses yang sama di bawah elit domestik (pembangunan). Dengan demikian kita dibebaskan untuk menggunakan kosa kata moral secara netral dari akulturasi, untuk melihat bahwa "gangguan" dan "pembangunan" adalah aspek tak terpisahkan dari (atau hanya nilai penilaian tentang) proses yang sama. Untuk tujuan kami di sini, apa yang penting adalah kita sekarang dapat melihat lebih jelas terhadap aspek "positif" dari perubahan budaya di bawah rezim kolonial. Mengingat bahwa esensi akulturasi adalah penerimaan dari perubahan dengan akulturasi kelompok? Dan karenanya tidak bisa ada pertanyaan, di akhir analisis, mengenai perubahan budaya paksa? Kita bisa membawa masalah perubahan budaya pada akhir kolonial Indonesia di bawah judul yang lebih sugestif dari adaptasi kreatif.
Ketika kita melakukan ini, ide dari kelemahan bergeser dan kerusakan budaya diganti dengan kebalikannya, sebuah gambaran mengenai sebuah masyarakat yang kuat dan cukup vital untuk mengambil unsur budaya baru yang berguna, untuk tumbuh, singkatnya untuk tetap hidup. Jika ingin menemukan contoh kelemahan dalam situasi konflik budaya, maka harus melihat kasus kegagalan dengan jauh lebih baik untuk menyesuaikan diri, seperti dalam gerakan revitalisasi pada umumnya.
Perubahan pandangan ini terutama subur pada kasus pertumbuhan pendidikan Barat baru pada abad ke-20. Dalam kerangka ini tampak bahwa elit ini melakukan seuatu yang dilakukan elit pra-Hindu 1500 tahun yang lalu atau lebih dan apa yang dilakukan oleh para pangeran pesisiran pada abad ke-15 dan ke-16, mengadopsi sebuah pandangan dunia baru, seperangkat bentuk prinsip-prinsip baru, sebagai basis untuk menumbuhkan kekuatan baru. Tetapi pengaplikasiannya, pada prinsipnya, tidak dapat dibatasi pada kasus elit yang lebih menyolok.
bangunan baru, sebuah masyarakat yang, dengan menjadi hidup, menghasilkan sejarahnya sendiri, yang seperti sejarah lainnya yang pertama-tama harus dilihat dari dalam dan tidak hanya menerimanya. Akhirnya saya meletakkan penekanan pada sebagian besar masyarakat ini, Secara absolut dan relatif ke catatan elit Belanda, untuk (memberikan) skala adalah penting dalam praktek meskipun tidak dalam teori.
Sebuah contoh akan menyarankan kekayaan sejarah masyarakat otonom ini telah dihasilkan dan pada saat yang sama membawa kita lebih lanjut pada argumen. Kita telah melihat di atas bahwa Perang Aceh pada akhir abad 19 dan awal 20 muncul di buku sejarah sebagai tidak lebih dari bab ekspansi pemerintahan Belanda, tidak hanya di versi kolonial dan neo-kolonial tapi bahkan di versi anti-kolonial. Tetapi ada sebuah sejarah orang Aceh yang otonomi dan valid mengenai Aceh (meskipun sejauh yang saya tahu itu belum pernah tertulis) di mana Perang Aceh terjadi, sebuah peristiwa penting tapi hanya salah satu dari banyak peristiwa, dalam kerangka (Aceh) yang lebih besar. Tanpa berpura-pura tahu banyak tentang sejarah ini, saya bisa menunjukkan elemen yang sangat penting elemen mengenai itu, persaingan kuno untuk kekuasaan antara elit sekuler (Uleebalang dengan jabatan Teuku) dan elit religius (ulama dengan jabatan Teungku), tema dominan di sejarah Aceh untuk ratusan tahun, sebuah tema yang secara harafiah tidak disebutkan di bagian yang dikutip dalam de Graaf, Hall dan Anwar Sanusi dan hanya dua kalimat yang muncul dari Vlekke.
Tema ini sangat penting untuk memahami penuh Perang Aceh. Itu merupakan Uleebalang (bersama dengan unsur-unsur dari keluarga Sultan, Tuanku—faktor ketiga namun terlemah dalam persamaan) yang pertama kali menuntut perang terhadap Belanda, tetapi dengan berjalannya waktu kepemimpinan berlalu ke tangan para ulama sementara uleebalang ini cenderung beralih ke Belanda. Dengan demikian tidak ada kebetulan bahwa Teuku Umar, adalah seorang Teuku, bukan kesempatan bahwa pemukiman terakhir berdasarkan pada dukungan Belanda untuk para uleebalang. Ada banyak konflik juga, yang memuncak pada perkelahian aktual, antara kedua faksi, bahkan semasa perang.
yang terjadi berturut-turut yang sangat berbeda dari rangkaian di mana ia biasanya terlihat, yaitu ekspansi pemerintahan Belanda.
Yang paling jelas, kita dapat melihatnya dalam kerangka sejarah otonom Aceh. Tema uleebalang-ulama, untuk membatasi diri kita terhadap contoh-contoh yang ada, berakar jauh di masa lalu. Hal tersebut juga terbawa sampai abad ke-dua puluh, kembali muncul pada tahun 1942 dalam bentuk pemberontakan yang dipimpin oleh organisasi ulama PUSA melawan Belanda dan uleebalang dan kemudian pada tahun 1945-6 dalam bentuk “revolusi sosial” berdarah along the same lines as in 1942 tetapi tanpa Belanda. Hal tersebut kemudian memainkan peran yang sangat penting dalam Revolusi dan adalah salah satu penyebab pemberontakan Darul Islam bermula di Aceh pada tahun 1953. Di sini kita berurusan dengan rangkaian sejarah otonom yang berpotongan di titik-titik tertentu, khususnya dalam Perang Aceh dan pada tahun 1942, dengan urutan dari sejarah Hindia Belanda tetapi tidak kemudian kehilangan identitasnya. Kita tidak sedang mengisi detail dari gambaran yang sudah ada; kita sedang membuat sketsa yang baru.
Tentu saja, sejarah orang Aceh (setidaknya di masa sekarang) hanyalah sejarah regional. Seperti bagaimana hal itu terlihat kecil dan tidak penting. Mungkin kecil (meski tidak sekecil itu) tetapi kekecilan itu, saya percaya, adalah keuntungan baik saat ini dari karya kita. Karena dalam sejarah regional fakta-fakta lebih insisten dan mendorong revisi terhadap perspektif yang tidak disadari. Tampak tidak mungkin, contohnya, bahwa Piekaar, administratur lokal Belanda, bisa mencapai perspektif Indonesiasentris jika ia menggunakan seluruh Indonesia sebagai subyeknya, tetapi dalam menulis sejarah regional Aceh ia tidak memiliki materialnya. Ada banyak yang hendak dikatakan untuk memulai rekonstruksi ini mengenai sejarah Indonesia dengan studi-studi regional.
Keberatan lebih lanjut dan yang lebih tajam adalah bahwa sejarah regional sepertinya memberi kita potongan kecil-kecil, bukan satu sejarah Indonesia. Ini adalah masalah nyata, yang memerlukan pemikiran lebih serius dan khususnya lebih banyak studi regional dari yang kita miliki sekarang, sebelum dapat menjawabnya. Tetapi sejak saya telah secara sistematis mengeluarkan masalah ini dari makalah ini (lihat catatan 6)— tepatnya karena penting bahwa perkara tersebut membutuhkan perlakuan penuh—kita akan melewatinya, dengan mengingat bahwa kasus Aceh ini memberi kesan bahwa material regional dapat berisi tema0tema yang melampaui batas-batas regional.
besar sebagai bagian dari konflik panjang antara adat dan hukum Islam, elit lokal berdasarkan adat dan ulama, priyayi (atau abangan) dan santri di seluruh Indonesia. tema besar ini lebih dari sekedar antropologis. Tema tersebut kerap muncul dalam sejarah politik —di bawah pemerintahan Amangkurat I pada abad ke-tujuh belas, dalam Perang Jawa dan Perang Padri di Sumatera Barat pada awal abad ke-19, dan yang lain—dan berlanjut sampai abad ke-dua puluh dan sampai sekarang, rumit tetapi tidak tergelapkan oleh munculnya elit-elit baru. Sekali lagi: in the light of this theme, Perang Aceh menanggung signifikansi yang sama sekali berbeda dari apa yang dimilikinya dalam sejarah Belandasentris mengenai Indonesia.
V
Adalah jelas dari contoh Perang Aceh ini bahwa sebuah perspektif Indosentris menyingkap banyak material yang berguna, bahkan di jantung periode kolonial. Tetapi juga jelas bahwa menemukan material ini saja tidak cukup; kita harus mengetahui apa yang akan kita lakukan dengannya, kerangka apa yang cocok untuknya. Masalahnya bisa menjadi lebih tajam dan lebih mudah ditangani jika kita mempertimbangkan yang terakhir dan yang paling penting adalah rintangan-rintangan yang berdiri di antara kita dan kesadaran mengenai kemungkinan akan adanya sejarah Indosentris di Indonesia modern.
Rintangan ini adalah keasyikan dengan hubungan kolonial. Ini dapat ditemukan hampir di semua penulis, di antara sejarawan kolonial yang tidak bisa diacuhkan—bagi mereka sejarah Indonesia modern adalah sejarah koloni—tetapi juga dalam hanya sedikit sejarawan neo-kolonial dan anti-kolonial. Nama-namanya menunjukkan hal ini dengan jelas; saya memilihnya secara orisinil tanpa memikirkan poin yang saya buat di sini, karena mereka terlihat mengungkapkan orientasi umum yang paling tepat dari kedua kelompok, tetapi karena kita telah sampai di sini, mereka dengan rapi mengilustrasikan poinnya.
direbut dari pemerintah kolonial, pergerakan mereka mengendarai gelombang perubahan budaya yang sangat cepat yang awalnya diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial.
Lebih dari itu, hubungan kolonial, meski hal tersebut adalah tema besar, hanyalah bagian dari yang lebih besar, tema pertemuan Timur dan Barat, persebaran budaya Barat ke setiap bagian dunia dan metamorfosisnya yang baru saja dimulai menjadi satu-satunya kebudayaan dunia atau peradaban—tanpa diragukan lagi, tema dominan sejarah dunia di era kita.
Apakah hal tersebut akan banyak ditemukan dalam sejarah Asia Tenggara kita yang baru? Saya pikir begitu. Terlalu banyak hubungan kolonial, terlalu banyak Timur-Barat, dalam pikiran kita mengenai sejarah Asia Tenggara sebagaimana terlalu banyak Perang Dingin dalam pikiran kita mengenai kancah kontemporer. Tidak diragukan bahwa Perang Dingin ada di sini bersama kita di Asia Tenggara dan merupakan hal yang penitng. Tetapi saya yakin bahwa sebagian besar dari kita di waktu yang bersamaan telah memperhatikan betapa anehnya karikatur dari peristiwa-peristiwa di sini yang didapatkan seseorang dari pers umum di New York atau Moscow, London atau Peking (dan dalam pers lokal), terutama karena perspektif perang dingin. Sebuah pemilihan yang kita lihat berseteru di atas isu lokal dan nasional yang kompleks muncul sebagai entri sederhana bagi papan angka, begitu banyak untuk Kiri, begitu banyak untuk Kanan. Isunya tidak dengan sederhana berdiri di atas yang lain, tetapi memakan mereka; mengunyah realitas yang kompleks, mencernanya dan hanya meninggalkan sedikit untuk kita. Sama saja dengan hubungan kolonial sebagai tema dalam sejarah Asia Tenggara.
Efek dari tema omnivora ini cenderung mengurangi sejarah umum Indonesia modern sampai menjadi sejenis sejarah mengenai hubungan luar negeri antara Belanda dan Indonesia. Hubungan-hubungan ini sangat penting. Tetapi tidak peduli betapapun pentingnya mereka dinilai sebagai bukan sejarah Indonesia, terlebih sejarah Belanda. Dengan kata lain: jika kita menggunakan A sebagai sejarah umum Belanda, AB untuk sejarah hubungan Indonesia-Belanda, dan B untuk sejarah Indonesia, efek yang kita miliki di sini adalah AB menawarkan pada kita sebagai pengganti B, yang hampir-hampir belum tertulis.
hubungan Belanda-Indonesia; dengan dominasi Belanda dan di manapun mengambil inisiatif untuk hubungan ini dapat dipahami bahwa akan muncul bias Belandasentris. Dalam skema di atas hal ini akan diwakili oleh AB, untuk menunjukkan perspektif yang dominan.
Pada abad ke-dua puluh, pertama dengan munculnya pergerakan nasionals, kemudian permulaan revolusi, kita menemukan perspektif Indosentris berbalik. Tetapi skup “sejarah Indonesia” tetap sama bagi semua kelompok, jika apapun, masih berkonsentrasi pada hubungan kolonial. Versi anti-kolonial dari hubungan-hubungan luar negeri ini dapat diwakilkan sebagai AB, sementara perspektif neo-kolonial yang lebih bercampur dapat diwakilkan sebagai AB. Dalam seluruh literature mengenai sejarah modern Indonesia hanya sedikit karya yang dapat dikatakan mengabdi pada B, sejarah domestic Indonesia— yaitu, apa yang telah saya sebut sebagai sejarah otonom Indonesia.
Kembali ke Perang Aceh sebentar, kita kini dapat melihat mengaa menambahkan material baru Indosentris (atau Acehsentris) terhadap gambaran yang telah ada akan mendatangkan hal baik, untuk memberi kasus kepada kedua belah pihak. Selama minat kita tetap pada “hubungan luar negeri Belanda-Indonesia” Perang Aceh akan tetap terselesaikan dalam kerangka Belandasentris, karena dalam hubungan luar negeri di periode tersebut dan perang tersebut adalah Belanda yang mengambil inisiatif, Belanda adalah pihak yang dominan. Hal ini hanya mendorong hubungan luar negeri pada satu sisi untuk suatu masa dan memperbaiki perhatian pada sejarah negeri Indonesia atau Aceh yang kita dapat benar-benar menggunakan bahan itu, memasukkannya pada suatu tempat pada rangkaian sejarah yang padu dan bermakna.
Sebuah peristiwa dalam beberapa hal menjadi lebih kompleks ketika kita masuk ke dalam pergerakan nasionalis dan berjuang untuk kemerdekaan, untuk yang satu ini dapat membuat urutan sejarah Indo sentris yang koheren keluar dari hubungan luar negeri ; rangkaian biasanya diberikan berurutan pada gerakan nasionalis-revolusi kemerdekaan. Dengan kata lain adalah mungkin untuk mengembangkan gambar aB yang bermakna, sesuatu yang tidak mungkin untuk Perang Aceh. Memang gambar ini lebih memuaskan daripada alternatif Ab, gambar Belanda sentris dari hubungan luar negeri dari fase terakhir, terutama karena itu adalah orang Indonesia yang sekarang memiliki inisiatif, padahal sebelumnya itu Belanda.
dipandang Indosentris membuat sedikit perbedaan dalam hal ini. Pergeseran ke Indo-sentrisme, dengan sendirinya, tidak cukup untuk mengatasi masalah perspektif kita. Perlakuan adat dari gerakan nasionalis menunjukkan ini jelas. Pilihan istilah "gerakan nasionalis" itu sendiri sangat indikatif. Hampir selalu aspek khusus politik dari gerakan nasionalis (yaitu di mana pihak yang paling langsung pada hubungan kolonial) ditekankan dengan mengesampingkan pandangan sosial, ekonomi dan aspek keagamaan (yaitu akar domestik). Kami mendengar banyak dari Sarekat Islam, PNI dan partai "non-kooperatif" lainnya, yang bersifat politik dan lebih anti-kolonial; sedikit dari partai "kooperatif", seperti Parindara dan Pasoendan, yang lebih aktif dalam kegiatan ekonomi dan pendidikan dan sedikit anti-kolonial; walau dari organisasi umumnya non-politik seperti Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama, koperasi masyarakat dan tabungan bank, dana pendidikan dan "sekolah liar," kelompok pramuka dan organisasi kepemudaan dan klub latihan militer, lingkaran diskusi dan pers besar sekali. Semua lebih seperti campur aduk dan hiruk pikuk ketimbang suatu gerakan nasionalis dalam makna yang terbatas berupa keinginan mengusir Belanda. Self-help sebagai motto borjuis baru sebagai "Indonesia Merdeka". Sebagaimana pertumbuhan yang kuat dan lebih percaya diri secara alami untuk melihat ke depan untuk berangkat langsung atau Belanda untuk mulai merasa mampu memerintah sendiri, tetapi tidak secara historis maupun psikologis hal tersebut dimulai dengan tuntutan kemerdekaan. Penataan konvensional, disibukkan oleh "hubungan luar negeri" dari gerakan ini, di mana lebih kurang daripada kecenderungan mengambil untuk memberi gagasan tentang "Indonesia," pencapaian puncak gerakan intelektual dan contoh yang paling jelas dari kapasitas adaptasi kreatif. Terdapat dan dalam pertumbuhan dan eksistensi dari gerakan itu sendiri sebagai sebuah fenomena sosial-budaya, sebagai tema utama untuk sejarah Indonesia yang memiliki otonomi pada awal abad ke-20; tidak dalam kisah pertikaian kaum nasionalis dengan Belanda.
Revolusi Indonesia dari 1945-1950 adalah topi pas sebagai garis penalaran yang dapat kita ikuti. Di satu sisi, pada akhir krisis besar dari hubungan kolonial, tampaknya perlakuan permintaan dalam hal "kebijakan luar negeri," dan pada kenyataannya ini adalah bagaimana umumnya dirawat dalam literatur. Di sisi lain, pandangan yang lebih dekat menunjukkan juga bahwa sejarah domestik (sejarah negeri) tidak semestinya diabaikan.
tahapannya, di mana Inggris mengambil bagian penting dari September 1945 sampai November 1946 dan PBB dari Juli 1947 sampai Desember 1949. Secara rinci, itu adalah kisah negosiasi, dari ancaman dan intervensi,
gesekan militer yang konstan dan dua perang tanpa deklarasikan; lebih luas, itu adalah kisah runtuhnya pemerintahan kolonial dan munculnya negara merdeka.
Sejarah internal mengenai versi ini muncul dalam beberapa cara. Kadang-kadang datang sebagai hamba dari hubungan luar negeri, seperti dalam penataan kabinet Republik terutama dalam hal bagaimana mereka menangani masalah Belanda. Kadang-kadang agak merdeka dari hubungan luar negeri saat itu? seperti dalam kasus Peristiwa Madiun, yang umumnya diperlakukan sebagai bentuk krisis kepemimpinan politik dalam negeri, meskipun untuk hal ini jarang dilupakan peran Rusia yang memengaruhi kebijakan Amerika nanti. Hal ini dikatakan wajar terkait urusan dalam negeri yang hampir selalu menjadi subordinasi dari hubungan luar negeri, dengan benang utama hubungan Belanda-Indonesia. Gambaran konvensional adalah salah satu hubungan eksternal, dalam menggerakkan pencapaian kemerdekaan, rumit oleh turbulensi internal.
Saya akan mengalihkan gambar ini dan melihat Revolusi pertama sebagai kisah perkembangan internal yang cepat dan jauh dipersulit oleh gangguan dan serangan dari luar. Inti permasalahan? meskipun tidak seluruhnya, lebih pada hubungan luar negeri? adalah pengembangan spontan sebuah negara baru negara dalam beberapa jenis urutan kerja, dipimpin oleh kelas baru yang memiliki sedikit kepercayaandiri yang telah berkembang dalam beberapa dekade terakhir masa pemerintahan Belanda dan diasuh oleh pengalaman masa pendudukan Jepang dan masa semester pertama atau terlebih setelah kapitulasi Jepang. Di balik alarm dan upaya lain Belanda untuk memulihkan kedaulatan sesuatu yang jauh lebih penting yang terjadi adalah kelahiran Indonesia. Sebagai tema utama dari periode Revolusi adalah mitra dan kelanjutan dari tema periode sebelumnya, kelahiran Indonesia sebagai sebuah ide. Hal ini lebih dari sekedar permainan kata untuk membedakan pasangan tema konvensional ini. Tema dari gerakan nasionalis dan pencapaian kemerdekaan.
Indonesia. Dalam parafrase Brian Harrison, pertanyaannya adalah,” apa yang telah dicapai sendiri oleh pemerintah itu sendiri?"
Hubungan luar negeri mendekati seperti lampu kendaraan pada malam bulan purnama. Pencerahan adalah bagian yang sangat terang tetapi mengalihkan perhatian dari masa tenang. Mematikan lampu dan segala sesuatu yang selalu hadir pada semua hal. Revolusi menjadi sesuatu yang lebih ketimbang sebuah pertentangan atau perang antara Indonesia dan Belanda, sedikit contoh menjadi indikasi. Revolusi sosial di Aceh dan Sumatera Timur dan kejatuhan status kepangeranan di Solo adalah tanda reaksi yang tersebar pada hampir setiap bagian dari perlawanan nasional dalam membangun otoritas, baik itu kepemimpinan warisan atau administrasi sipil atau kepala desa, reaksi ini mancapai puncak di mana-mana pada waktu yang sama, fase anarkhi yang tinggi di akhir tahun 1945 dan awal 1946. Kerumitan internal dalam melawan Belanda? Cukup banyak. Tetapi tampak wajar sebagai proses mendirikan tatanan sosial yang baru dan sistem pemerintahan baru.
Demikian juga dengan tentara tidak tetap atau badan perjuangan yang dalam tulisan Belanda disebut ekstrimis dan dalam banyak [namun tidak semua] literatur Indonesia disebut patriot sejati, tetapi kedua kasus terlihat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam sejarah internal [sejarah negeri], bagaimanapun mereka adalah produk spontanitas dari fase anarki? Egoisme brutal dan idealisme yang tinggi adalah respon karakteristik terhadap anarki, sering muncul pada sisi-sisi individual atau kelompok. Cerita tentang kehadiran mereka perlahan-lahan berada di bawah kontrol tentara—dalam konteks ini harus dipahami sebagai kelompok elit terdidik—salah satu aspek penting dalam perkembangan Indonesia, sebuah kelompok yang hampir secara keseluruhan telah dilupakan.
Akhirnya, sebuah perhatian terhadap sejarah dari dalam memungkinkan kita untuk menempatkan massa rakyat ke dalam sejarah. Dalam pandangan luar, Revolusi secara mendasar merupakan pertarungan antara pihak asing dan elit lokal; keduanya merasa memiliki dukungan penuh dari rakyat, dan para sejarawan cenderung mengikuti satu pandangan atau pandangan lainnya, dengan demikian mengelakkan perhatian dari kompleksitas-kompleksitas dan pentingnya hubungan elit dengan massa (rakyat) dalam periode (revolusi) ini. Dalam aspek sejarah internalnya, Revolusi muncul sebagai periode dimana hubungan-hubungan antara elit lokal dan rakyat terbentuk dan berjalan dalam pelbagai cara, sebuah hubungan yang sering tak rampung (selesai) atau bahkan dangkal tetapi niscaya jauh lebih baik daripada yang bisa dicapai oleh elit asing (Belanda).tetapi inilah pencapaian pada periode itu, inilah sebagian fakta atas Indonesia saat itu. Kemerdekaan tidaklah diberikan, (tetapi) telah mewujud berabad-abad atau telah tumbuh secara penuh pada 17 Agustus; untuk menganggap, seperti para sejarawan anti kolonial umumnya, hilangnya satu dari perkembangan penting yang bersejarah dalam periode Revolusi.
VI
Tenggara, yang hingga kini tersembunyi oleh ketertarikan kita terhadap dampak dari kekuasaan colonial.
Istilah Eropa sentris dan Asia sentris, dalam penggunaan secara umum, merepresantasikan sebuah antithesis yang salah. Istilah-istilah itu berguna untuk sejarah Asia tenggara hingga periode awal colonial dan saya tidak akan mendebatnya; tetapi untuk periode akhir kolonial dan kontemporer, istilah-istilah itu tidaklah tepat. Kita bisa melihat itu saat kita menyatakan bahwa apa yang kita maksud dengan “sejarah Eropa sentris” Asia Tenggara adalah sejarah orang-orang Eropa di Asia Tenggara, hal ini merupakan sudut pandang orang Eropa, yang saya labeli sebagai Ab. Nampak jelas, meliputi sejarah internal bangsa-bangsa Eropa secara luas (A). tetapi disisi lain kita memiliki satu istilah, “sejarah Asia sentris”, yang untuk itulah harus menanggung beban ganda yang tidak sanggup dilakukan. istilah itu harus mengacu, satu sisi, kepada sejarah perkembangan kolonial dilihat dari sudut pandang orang-orang Asia (aB), yang dalam prakteknya dilakukan untuk periode modern dan disisi lain, kepada sejarah local Asia Tenggara (B) yang mestinya sama dengan perhatian pada sejarah internal orang-orang Eropa, dimana untukperiode modern tidak mendapat perhatian kita. persamaan dengan sejarah Eropa sentris adalah sejarah Asia sentris dari hubungan Asia Eropa, sementara dibelakangnya terdapat dua hal yang bertentangan, sejarah orang-orang Eropa dan sejarah local orang-orang Asia Tenggara. inilah kekacauan yang terdpat dalam istilah-istilah itu, seperti pendapat saya tentang perlunya sebuah perubahan fundamental dalam perspektif (sudut pandang), yang saya ambil dari pengertian mendasar van Leur atas kata otonomi dan saya menggunakan istilah “sejarah Asia Tenggara yang otonom” untuk merujuk pada sejarah local secara umum wilayah itu.
hanya sebagian saja. Mendesak bagi kita untuk mengalihkan perhatian kita dari urutan sejarah berdasar pada perkembangan kolonial (perluasan kekuasaan Eropa, kemerdekaan-nasionalisme) menuju urutan berdasarkan perkembangan dari dalam, saya tidak bermaksud untuk mengabaikan atau menolak yang sebelumnya, tetapi hanya sejak mereka telah menerima perhatian eksklusif hingga sekarang mereka harus disimpan untuk sementara waktu, disimpan di belakang pikiran kita sementara kita berkonsentrasi pada beberapa rincian dan implikasi dari rangkaian otonomi yang baru dan belum berkembang. Saya juga tidak berkamsud bahwa perkembangan dari dalam harus dilihat dalam sebuah isolasi buatan, seolah-olah tidak ada pertalian dengan orang-orang Eropa. Dengan demikian Belanda memang memainkan peran dalam sejarah orang-orang Aceh di Aceh seperti yang saya bicarakan, dimana kaum uleebalang akhirnya bersekutu dengan mereka, sehingga menjadi lebih kuat. Intinya adalah bahwa mereka (Belanda) memainkan peran dalam sejarah Aceh. Sejarah Asia Tenggara kita sekarang tidak begitu seimbang karena kita umumnya telah gagal untuk melihat kemungkinan adanya otonomi seperti sejarah Aceh ini, tidak menyebutkan tentang mereka dalam tulisan-tulisan kita.
VII
Seperempat abad yang lalu, berdasarkan prestasi brilian atas imajinasi historis, van Leur dipanggil ke dalam kehidupan baru dari sebuah “dunia mati”, “dunia” otonom yang bersejarah dari Asia Tenggara hingga masa awal kolonial. Apa yang terutama mencegah para pendahulunya dari pemahaman “dunia” ini adalah serangkaian gelombang budaya dan, karena mereka berpikir, penaklukan politik yang telah terjadi dan oleh karena itu menjadi bagian penting darinya untuk menunjukkan bahwa dunia ini (dalam hal ini terutama Indonesia bagian dari itu) telah melewati tiga masa peralihan—kedatangan Hindu-Budha, Islam dan orang-orang Eropa awal—tanpa kehilangan identitasnya. Dimana sebelumnya sejarawan telah melihat diskontinuitas, ia (justru) menunjukkan kontinuitas dan sebuah otonomi yang mendasar.