Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...i
DAFTAR TABEL...iv
DAFTAR GAMBAR...vi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG ...1-Error! Bookmark not defined.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN ...1-Error! Bookmark not defined.
1.3. RUANG LINGKUP...1-Error! Bookmark not defined.
1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah ...1-Error! Bookmark not defined.
1.3.2. Ruang Lingkup Tugas...1-Error! Bookmark not defined.
1.4. KELUARAN/ OUTPUT...1-Error! Bookmark not defined.
1.5. SISTEMATIKA PEMBAHASAN ...1-Error! Bookmark not defined.
BAB 2 PEMAHAMAN TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI
2.1. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.1. Konsep Dasar...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.2. Kawasan Ekonomi di Dunia ...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.3. Pokok-Pokok Penting Pengembangan Kawasan Ekonomi 2-Error! Bookmark not defined.
2.2. PERKEMBANGAN KAWASAN EKONOMI DI INDONESIA...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.1. Kawasan Free Zone...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.2. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) ...2-Error! Bookmark not defined.
2.2.3. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)...2-Error! Bookmark not defined.
2.3. KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG DALAM KONSTELASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAMBI...2-Error! Bookmark not defined.
BAB 3 KEBIJAKAN TERKAIT PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG ...3-1
3.1. IMPLIKASI KEBIJAKAN TATA RUANG...3-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
ii
3.1.2. RTRW Nasional sebagai Arahan Kebijakan Strategi Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional ...3-Error! Bookmark not defined.
3.1.3. RTRW Provinsi Jambi sebagai Arahan Pemanfaatan Ruang Provinsi... 3-Error! Bookmark not defined.
3.1.4. Struktur dan Pola Ruang Kabupaten Tanjung Jabung Timur...3-Error! Bookmark not defined.
3.2. MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI) 2011-2025...3-Error! Bookmark not defined.
3.2.1. MP3EI Merupakan Bagian Integral Perencanaan Pembangunan Nasional ...3-Error! Bookmark not defined.
3.2.2. Peningkatan Potensi Ekonomi Wilayah Melalui Koridor Ekonomi...3-Error! Bookmark not defined.
3.2.3. Koridor Ekonomi Indonesia...3-Error! Bookmark not defined.
3.2.4. OverviewKoridor I ( Koridor Ekonomi Sumatera ) ...3-Error! Bookmark not defined.
BAB 4 KAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG
4.1. PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN REGIONAL DAN GLOBAL SEBAGAI PELUANG PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.1. Perkembangan Ekonomi Global...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.2. Perkembangan Perdagangan Regional dan Global ...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.3. Perkembangan Pasar Komoditas Global ...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.4. Perkembangan Supply Chain Management Regional &Global...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.5. Perkembangan Investasi Indonesia...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.6. Kinerja Ekspor Indonesia...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7. Industrialisasi Dan Potensi Pengembangan Ekonomi Wilayah ...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7.1. Kebijakan Pengembangan Industri Pada Masa Reformasi4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7.2. Pengembangan Industri Dan Kebutuhan Teknologi... 4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7.3. Pengembangan Industri Dan Pendidikan Teknologi... 4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7.4. Percontohan Teknologi...4-Error! Bookmark not defined.
4.1.7.5. Bentuk Industrialisasi Dalam Kebijakan Industri Nasional 4-Error! Bookmark not defined.
4.2. KAJIAN POTENSI EKONOMI...4-Error! Bookmark not defined.
4.2.1. Pertanian ...4-Error! Bookmark not defined.
4.2.2. Industri ...4-Error! Bookmark not defined.
4.2.3. Pertambangan...4-Error! Bookmark not defined.
4.3. KAJIAN POTENSI EKONOMI KREATIF ...4-Error! Bookmark not defined.
4.3.1. Umum...4-Error! Bookmark not defined.
4.3.2. Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional ...4-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
iii
4.4.1. Industri Berbasis Kelapa Sawit ...4-Error! Bookmark not defined.
4.4.2. Industri Berbasis Karet ...4-Error! Bookmark not defined.
4.4.3. Industri Berbasis Kelapa...4-Error! Bookmark not defined.
4.4.4. Industri Berbasis Minyak dan Gas ...4-Error! Bookmark not defined.
4.4.4.1. Industri Berbasis Gas Bumi...4-Error! Bookmark not defined.
4.4.4.2. Industri Petrokimia ...4-Error! Bookmark not defined.
BAB 5 MODEL PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG
5.1. KEGIATAN POKOK KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG...5-Error! Bookmark not defined.
5.1.1. Dasar Pertimbangan dan Kriteria Pemilihan Kegiatan ...5-Error! Bookmark not defined.
5.1.2. Pilihan Kegiatan...5-Error! Bookmark not defined.
5.2. PENETAPAN KEGIATAN POKOK DAN LOKASI KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG ...5-Error! Bookmark not defined.
5.2.1. Penetapan Kegiatan Pokok...5-Error! Bookmark not defined.
5.2.2. Lokasi Kawasan Ekonomi...5-Error! Bookmark not defined.
5.3. SKEMA PEMBIAYAAN INVESTASI ...5-Error! Bookmark not defined.
5.3.1. Sumber Pendanaan ...5-Error! Bookmark not defined.
5.3.2. Bentuk Kerjasama Pembangunan kawasan ekonomi ...5-Error! Bookmark not defined.
BAB 6 RENCANA STRATEGIS KAWASAN EKONOMI UJUNG JABUNG.6-Error! Bookmark not defined.
6.1 Visi dan Misi Kawasan Ekonomi Ujung jabung ...6-Error! Bookmark not defined.
6.2 Tujuan Pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung jabung ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3 Kebijakan Pengembangan Kawasan ekonomi Ujung jabung...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.1 Kebijakan Infrastruktur...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.2 Kebijakan Sistem logistik dan Rantai Suplai ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.3 Kebijakan Energi, Air Bersih dan Informasi & Komunikasi & Telekomunikasi ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.3.1 Kebijakan Energi...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.3.2 Kebijakan Air Bersih ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.3.3 Kebijakan Informasi & Komunikasi dan Telekomunikasi ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.4 Kebijakan Sanitasi dan Penyehatan Lingkungan ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.5 Kebijakan Investasi ...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.6 Kebijakan Standarisasi...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.7 Kebijakan Suprastruktur...6-Error! Bookmark not defined.
6.3.8 Kebijakan Pengembangan Perumahan dan Permukiman.6-Error! Bookmark not defined.
6.4 Strategi pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung jabung...6-Error! Bookmark not defined.
6.5 Rencana peruntukan lahan...6-Error! Bookmark not defined.
6.6 Kerangka Institusi pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung jabung...6-Error! Bookmark not defined.6
6.7 Tahapan dan Program Pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung ..6-Error! Bookmark not defined.7
7.1 Kesimpulan ...7-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Karateristik Sejumlah Tipologi SEZ...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 2. 2 Pengelolaan Kawasan Ekonomi di Zhuhai (Cina)...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 2. 3 Pengelolaan Kawasan Ekonomi di Subic Bay (Filipina) ...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 2. 4 Insentif Investasi Kawasan Ekonomi di Berbagai Negara...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 2. 5 Perkembangan Beberapa Kawasan Ekonomi dan Kawasan Khusus Lainnya di Indonesia
...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 2. 6 KEPPRES dan Sektor Unggulan KAPET...2-Error! Bookmark not defined.
Tabel 3. 1 Penetapan Kawasan Andalan, Sektor Unggulan, Sistem Kota, Pelabuhan, dan Bandar Udara Pendukung Provinsi Jambi ...3-Error! Bookmark not defined.
Tabel 3. 2 Sistem Pusat Kegiatan di Provinsi Jambi Tahun 2011 20313-Error! Bookmark not defined.
Tabel 3. 3 Rencana Kawasan Lindung Provinsi Jambi Tahun 2011 20313-Error! Bookmark not defined.
Tabel 3. 4 Luas Kawasan Lindung Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2010 2030...3-Error! Bookmark not defined.
Tabel 3. 5 Rencana Luas Kawasan Budidaya Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2010 2030... ...3-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 1 Indikator Ekonomi Utama Dunia...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 2 Dinamika Perubahan Prospek Pertumbuhan Tahun 2011...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 3 Indeks Daya Saing Indonesia 2010 - 2013...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 4 Identifikasi Permasalahan MP3EI 2012...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 5 Validasi Investasi MP3EI 2012...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 6 Indikasi Total Investasi MP3EI 2014 ...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 7 Rencana Pembiayaan MP3EI di Sektor Infrastruktur 2014 ..4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 8 Ekspor Nonmigas Berdasarkan Negara Tujuan ...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 9 Wilayah Potensial Untuk Pertanian dan Industri di Provinsi Jambi4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4.10 Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Komoditi Karet di Provinsi Jambi dan Wilayah Hinterland Tahun 2010-2011...4-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
v
Tabel 4.12 Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Komoditi Kelapa Dalam di Provinsi Jambi dan Wilayah Hinterland Tahun 2010-2011...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 13 Potensi Bahan Galian di Wilayah Provinsi Jambi...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 14 Klasifikasi Industri Hilir Kelapa Sawit...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 15 Tabel Pemanfaatan Gas Bumi di Indonesia...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 4. 16 Pelaku dan Pangsa Pasar Industri Hilir Gas Bumi...4-Error! Bookmark not defined.
Tabel 5.1 External Strategic Situational Analysis ...5-Error! Bookmark not defined.
Tabel 5.2 Internal Strategic Situational Analysis...5-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Zone Within Zone...2-Error! Bookmark not defined.
Gambar 2. 2 Sinergitas Pendekatan Daerah Tertinggal-KAPET-FTZ-KEK2-Error! Bookmark not defined.
Gambar 2. 3 Rencana Kawasan Strategis Provinsi Jambi...2-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 1 Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi Jambi...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 2 Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi Jambi...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 3 Rencana Kawasan Strategis Provinsi Jambi...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 4 Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 5 Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 6 Kawasan Strategis Kabupaten Tanjung Jabung Timur ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 7 Posisi MP3EI di Dalam Rencana Pembangunan Pemerintah3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 8 Ilustrasi Koridor Ekonomi...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 9 Peta Koridor Ekonomi Indonesia...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 10 Tema Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 11 Nilai dan Pertumbuhan PDRB per Kapita Kabupaten/Kota di Koridor Ekonomi Sumatera ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 12 Produksi Minyak Kelapa Sawit Indonesia dan Malaysia (Juta Ton)3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 13 Area untuk Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 14 Rantai Nilai Kegiatan Ekonomi Utama Kelapa Sawit Perkebunan3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 15 Produktivitas dari Beberapa Kategori Pemilik Perkebunan dan Benchmark
Lainnya...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 16 Margin dari Setiap Rantai Nilai...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 17 Porsi Produksi Karet Provinsi di Indonesia...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 18 Rantai Nilai Kegiatan Ekonomi Utama Karet...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 19 Produksi Industri Karet Berdasarkan Kepemilikan Perkebunan Karet di Indonesia
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
vii
Gambar 3. 20 Perbandingan Produktivitas Karet Indonesia dengan Negara Lain3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 21 Penggunaan Karet Alami di Indonesia ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 22 Cadangan Batubara di Indonesia dan Sumatera...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 23 Cadangan Batubara Berdasarkan Calori Value (CV)...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 24 Sebaran Tambang Batubara di Sumatera ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 25 Kapasitas Industri Perkapalan Nasional (Reparasi)...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 26 Kapasitas Industri Perkapalan Nasional (Bangunan Baru)3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 27 Pohon Industri Besi Baja ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 28 Cadangan Bijih Besi ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 29 Margin dari Setiap Rantai Nilai...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 30 Rantai Nilai Industri Besi Baja ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 31 Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Pulau Besar,Tahun 20103-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 32 Jumlah Investasi di Koridor Ekonomi Sumatera...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 33 Peta investasi Koridor Ekonomi Sumatera...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 34 Aglomerasi Indikasi Investasi ...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 35 Indikasi Investasi Infrastruktur oleh Pemerintah, BUMN dan Campuran...3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 3. 36 Konstelasi Kawasan Ekonomi Ujung Jabung dengan MP3EI3-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.1 Grafik Aktivitas Perdagangan Negara-negara Asia ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.2 Grafik Aktivitas Perdagangan Negara-negara Eropa...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.3 Keterkaitan Kebijakan Perdagangan Luar Negeri dengan Kebijakan Utama Lainnya...
4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.4 Kualitas Infrastruktur ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.5 Pertumbuhan Ekonomi Global untuk Tiap Dekade ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.6 Pemetaan Populasi Asia dan Dunia...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.7 Grafik Indeks Harga Komoditas Global ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.8 Grafik Pertumbuhan Volume Perdagangan Global...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.9 Grafik Perkembangan Harga Minyak ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.10 Grafik Pasokan dan Permintaan Minyak...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.11 Grafik Harga Komoditas Pertambangan ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.12 Grafik Harga Komoditas Pertanian...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.13 Persentase Investasi Kawasan...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.14 Perkembangan Realisasi MP3EI 2011 2012 ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.15 Skema Pembiayaan MP3EI...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.16 Grafik Ekspor Nonmigas Berdasarkan Sektor ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.17 Grafik Pangsa Negara Tujuan Ekspor Batubara dan CPO4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.18 Keterkaitan Sektor Industri Dasar...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.19 Proses Industri Explosive...4-Error! Bookmark not defined.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
viii
Gambar 4.21 Model Indonesia In-Corporate Sebagai Basis Keselarasan Program4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.22 Struktur Industri Turunan Kelapa Sawit...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.23 Jenis Produk dari Industri Hilir Produk Kelapa Sawit ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.24 Struktur Produk Turunan Kelapa Sawit...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.25 Wilayah Potensial Penghasil Karet di Indonesia ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.26 Jumlah Industri Karet di Daerah Indonesia...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.27 Pohon Industri Karet ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.28 Pohon Industri Kelapa...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.29 Rantai Produksi dalam menghasilkan Produk Turunan Kelapa4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.30 Beberapa contoh produk industry turunan Kelapa ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.31 Pengeboran minyak di Okemah, Oklahoma, 1922 ...4-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.1 Kegiatan Kawasan Ekonomi Dan Pendukungnya...5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.2Business Strengths(Kekuatan Bisnis)...5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.3 Peta Pencadangan Lahan untuk Kawasan Ekonomi Ujung Jabung berdasarkan Surat Keputusan Bupati Tanjung Jabung Timur ...5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.4 Arahan Struktur Ruang Provinsi Jambi...5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.5 Peta Bathymetri Perairan Ujung Jabung...5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 5.6 Kondisi Lingkungan Lokasi Kawasan Ekonomi Ujung Jabung5-Error! Bookmark not defined.
Gambar 6. 1 Posisi Geografis Jambi dalam Konstelasi Internasional ...6-Error! Bookmark not defined.
Gambar 6. 2 Posisi Geografis Jambi dalam Konstelasi Regional...6-Error! Bookmark not defined.
Gambar 6. 3 Site Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung...6-Error! Bookmark not defined.
yu
u t w
u u
1-1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Perkembangan ekonomi global Indonesia perlu memfokuskan pada peningkatan ekspor dan investasi pada beberapa kawasan khusus yang memang mendapatkan fasilitas perpajakan dan kepabeanan. Beberapa keunggulan Indonesia dapat menjadi peluang dalam menarik investasi, diantaranya, letak geografis Indonesia yang sangat ideal bagi pengembangan pusat logistik dan distribusi karena dilewati oleh jalur maritim internasional dan posisi Indonesia terletak di tengah pasar yang sangat besar, yaitu pasar ASEAN.
Sementara itu, pengembangan kawasan ekonomi di Indonesia bukanlah hal yang asing. Pasalnya pada tahun 1970 Indonesia berhasil mengembangkan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui UU NO. /1970, dilanjutkan pada tahun 1972 dikembangkan pula Kawasan Berikat (Bounded Warehouse)Kemudian tahun 1989 dikembangkan Kawasan Industri, setelah itu pada tahun 1996 dikembangkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), dan terakhir pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus pada tahun 2009. Terkait dengan pengembangan kawasan ekonomi tersebut, Provinsi Jambi memiliki kawasan strategis yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekonomi. Dalam RTRW Provinsi Jambi telah menetapkan kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan ekonomi salah satu lokasinya adalah di Ujung Jabung yaitu di Kawasan Strategis Pantai Timur Provinsi Jambi. Kawasan Pantai Timur Provinsi Jambi merupakan wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam yang banyak khususnya potensi minyak dan gas bumi. Selain itu tingkat perkembangan ekonomi yang berkembang baik dan kedekatan dengan wilayah Malaysia dan Singapura telah menempatkan Kawasan Pantai Timur Provinsi Jambi dalam suatu sistem perdagangan internasional.
Untuk membangun suatu kawasan ekonomi Ujung Jabung secara komprehensif sehingga diperlukan studi penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
1-2 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi ini adalah adanya suatu pedoman perencanaan penanganan sebuah kawasan terpadu sebagai salah satu generator ekonomi bagi provinsi Jambi dengan pelabuhan laut sebagai sarana pendukung utama dari kawasan sehingga diharapkan pelaksanaan kegiatan pembangunan dapat dilakukan secara terstruktur, menyeluruh dan tuntas, mulai dari tahap perencanaan, konstruksi, operasional termasuk pemeliharaan, pembiayaan serta adanya partisipasi masyarakat.
Tujuannya adalah sebagai acuan dalam pelaksanaan penanganan kawasan ekonomi di Ujung Jabung Provinsi Jambi, sehingga kegiatan pembangunan yang ada daoat optimal dan daoat mengurangi permasalahan yang timbul pada waktu kawasan tersebut terbentuk.
1.3. RUANG LINGKUP
1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah
Wilayah studi kegiatan Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi secara administratif berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.
1.3.2. Ruang Lingkup Tugas
Lingkup tugas yang akan dilaksanakan dalam proses perencanaan ini adalah : • Persiapan
• Survey lapangan
• Penyusunan Rancangan Rencana • Rencana (Master Plan)
1.4. KELUARAN/ OUTPUT
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah: 1. Menciptakan citra kawasan Ekonomi Terpadu
2. Mengembangkan pemanfaatan lahan dengan fungsi yang jelas berdasarkan jaringan infrastruktur dan kondisi lingkungan yang tertata baik
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
1-3
4. Menciptakan desain kawasan dan bangunan Arsitektural yang fungsional, mampu mengikuti perkembangan zaman, ramah lingkungan serta dapat mencirikan karakter budaya Jambi.
5. Mengutamakan penghijauan sesuai dengan iklim tropis serta ruang terbuka yang berperan positif bagi pembangunan kawasan ekonomi terpadu
6. Menyediakan ruang-ruang pendukung di kawasan bagi pengembangan sektor ekonomi warga kota.
1.5. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika penulisan dalam dokumen laporan ini akan mengikuti urutan sebagai berikut
Bab 1 Pendahuluan
Pada bab ini berisikan latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup pekerjaan serta sistematika pembahasan.
Bab 2 Pemahaman terhadap Kawasan Ekonomi
Bab ini berisikan beberapa hal sebagai berikut : prinsip-prinsip pengembangan kawasan ekonomi yang meliputi konsep dasar pengembangan kawasan ekonomi, keberhasilan kawasan ekonomi di Dunia, pengalaman pengembangan kawasan ekonomi di Indonesia, serta pokok-pokok penting pengembangan kawasan ekonomi. Pembahasan mengenai kawasan ekonomi ujung jabung berdasarkan RTRW, baik itu RTRW Provinsi Jambi maupun RTRW Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Bab 3 Kebijakan terkait terhadap Pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung
Bab ini berisikan tentang berbagai kebijakan yang berimplikasi dan berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung. Beberapa kebijakan yang di kaji meliputi : kebijakan tata ruang (RTRW) baik pada tingkat wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, maupun pada tingkat Nasional, serta Kajian tentang MP3EI.
Bab 4 Kajian Potensi Kawasan Ekonomi Ujung Jabung
Bab ini berisikan tentang kajian terhadap trend perekonomian global yang mempengaruhi terselenggaranya Kawasan Ekonomi Ujung Jabung, serta kajian tentang industri prospektif yang dapat dikembangkan di kawasan ekonomi Ujung Jabung.
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
1-4
Bab ini akan menjabarkan model pengembangan kawasan ekonomi Ujung Jabung meliputi kegiatan pokok kawasan ekonomi, penetapan kegiatan pokok dan lokasi kawasan ekonomi serta skema pembiayaan investasi.
Bab 6 Rencana Strategis Kawasan Ekonomi Ujung Jabung
Bab ini akan menjabarkan rencana strategis kawasan ekonomi ujung Jabung, yang meliputi visi misi, tujuan, kebijakan dan strategi, rencana peruntukkan lahan, kerangka institusi serta tahapan dan program pengembangan kawasan ekonomi.
Bab 7 Kesimpulan dan Rekomendasi
Penyusunan Master Plan Kawasan Ekonomi Ujung Jabung Provinsi Jambi
1-5
1.1. LATAR BELAKANG...1
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN...2
1.3. RUANG LINGKUP...2
1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah...2
1.3.2. Ruang Lingkup Tugas...2
1.4. KELUARAN/ OUTPUT...2
yuu t w ! "#u$%&u $ '! !% & !
BAB II
PEMAHAMAN TENTANG
PENGEMBANGAN
KAWASAN EKONOMI
2.1. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI
2.2.1. Konsep Dasar
Dalam Xiangming Chen (1995), Kawasan Ekonomi merupakan suatu bentuk evolusi pengembangan Free Economic Zone (FEZ) yang berawal dari tahun 1500-an ketika
Historical Freeports yang antara lain terdapat di Genoa (Italia) dan Gibraltar (Spanyol) terbentuk. Secara perlahan konsep Freeports ini kemudian berevolusi memunculkan varian baru yang disebut Free Trade Zone (FTZ) yang kemudian pada gilirannya mempengaruhi pula munculnya Custom Bonded Warehouse (CBW). Freeport dan FTZ yang menggejala hingga tahun 1930an ini dianggap sebagai fase pertama FEZ. Evolusi berikutnya adalah dengan munculnya Border Industrialization Program (BIP), seperti yang kemudian berkembang di Maquiladora (Meksiko), yang memunculkan pula varian lebih besar yang disebutExport Processing Zone(EPZ). Varian ini kemudian berkembang lagi menjadi Investment Promotion Zone (IPZ), seperti yang dijumpai di Sri Lanka,
Industrial Estate, seperti di Singapura, dan Free Industrial Zone (FIZ), seperti yang dijumpai di Port Said (Mesir). EPZ dengan berbagai variannya inilah, yaitu yang berkembang dari akhir 1950-an hingga awal 1970-an, yang disebut sebagai fase kedua FEZ. Fase ketiga FEZ, yaitu pada tahun 1980an, adalah terbentuknya SEZ yang antara lain berkembang di Shenzhen (Cina). Fase keempat adalah terbentuknya FEZ yang bertemakan lebih spesifik namun integratif, seperti Science-based Industrial Park (SIP), seperti yang muncul di Silicon Valley (AS) dan Tzukuba City (Jepang). Apabila varian-varian ini masih berada dalam wilayah suatu negara, maka muncul pula kecenderungan terbentuknya Cross-National Zone seperti yang dijumpai pada IMS-GT maupun Chinese Triangle (Cina Selatan-Hong Kong-Taiwan).
( ) *yu+u* , * -, +t) .(/ , *0 ,w,+ ,*1 23*345 67u*89,:u* 8( .3 ;5 * +59,4: 5
Industrial zone, yang kemudian seringkali dikaitkan dengan suatu kawasan berikat (bonded zone), sebagai salah satu varian terkecil SEZ memiliki karateristik dasar sebagai berikut:
o Merupakan zona yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan industri, umumnya
tidak dibatasi jenis industrinya
o Industrial zone yang merupakan zona kawasan berikat akan memperoleh
fasilitas fiskal untuk kegiatan produksi dan ekspor
o Merupakan zona yang di dalamnya tidak diperbolehkan adanya kegiatan
komersial lain serta pemukiman
o Tidak selalu mensyaratkan adanya fasilitas pelabuhan laut secara langsung,
walaupun keberadaan fasilitas pelabuhan laut tentu menjadi sangat penting bagi aktivitas perdagangan
o Industrial zone yang merupakan kawasan berikat akan diberikan pagar pembatas
dengan pengawasan akses pintu masuk dan keluar kawasan tersebut oleh kantor kepabeanan untuk menjamin bahwa insentif fiskal yang diberikan hanya terbatas pada kegiatan produksi dan ekspor
o Luas kawasan ini umumnya relatif kecil
Sebagai salah satu bentuk varian FEZ, Kawasan Ekonomi tentu memiliki karateristik yang berbeda dengan FTZ, EPZ, ataupun SIP. Apakah yang membedakan bentuk-bentuk tersebut?
Tabel 2. 1 Karateristik Sejumlah Tipologi SEZ
TIPOLOGI TUJUAN LUAS LOKASI KEGIATAN PASAR
Industrial Zone
(IZ) Pengembanganindustri < 100 ha Mixed Industri Domestik danekspor Free Trade Zone
(FTZ) perdaganganMendukung < 50 ha Pelabuhan lautdan udara Sebagian besar jasadan proses yang berkait dengan
produk industri < 200 ha Pelabuhan lautdan udara Sebagian besarindustri Ekspor
Special
< = >yu?u> @ > A@ ?t= B<C @ >D @w@? @>E FG>GHI JKu>LM@Nu> L< BG OI > ?IM@HN I o Merupakan zona yang peruntukannya adalah pada kegiatan perdagangan serta
jasa penunjang perdagangan, termasuk kegiatan re-export. Kegiatan industri dapat dilakukan di dalamnya sepanjang langsung ditujukan untuk menunjang perdagangan
o Merupakan zona yang di dalamnya tidak diperboleh adanya kegiatan komersial
serta pemukiman umum.
o Kegiatan komersial (hotel, duty free shops, dan kegiatan pariwisata) masih
dimungkinkan berada di dalamnya selama ditujukan bagi wisatawan asing
o Kegiatan pemukiman masih dimungkinkan selama terbatas bagi karyawan
perusahaan yang berlokasi di wilayah tersebut dan sifat pemukimannya bukan merupakan pemukiman pribadi namun masih merupakan bagian dari wilayah perusahaan
o Memperoleh fasilitas fiskal bagi kegiatan konsumsi dan produksi di wilayah
tersebut
o Mensyaratkan adanya akses langsung terhadap sarana transportasi laut dan
udara yang langsung mengarah pada perdagangan internasional
o Dikelilingi oleh pagar pembatas dengan pengawasan akses pintu masuk dan
keluar kawasan tersebut oleh kantor kepabeanan
o Luas kawasan ini umumnya relatif lebih besar dibandingkan dengan industrial
(bonded) zone
EPZ memiliki karateristik umum yang hampir sama dengan FTZ, yaitu:
o Merupakan zona yang peruntukannya adalah pada kegiatan industri yang
ditujukan untuk ekspor
o Merupakan zona yang di dalamnya tidak diperboleh adanya kegiatan komersial
serta pemukiman umum.
o Kegiatan komersial (hotel, duty free shops, dan kegiatan pariwisata) masih
dimungkinkan berada di dalamnya selama bersifat terbatas dan ditujukan bagi wisatawan asing
o Kegiatan pemukiman masih dimungkinkan selama terbatas bagi karyawan
perusahaan yang berlokasi di wilayah tersebut dan sifat pemukimannya bukan merupakan pemukiman pribadi namun masih merupakan bagian dari wilayah perusahaan
o Memperoleh fasilitas fiskal bagi kegiatan konsumsi dan produksi di wilayah
P Q RyuSuR T R UT StQ VPW T RX TwTS TRY Z[R[\] ^_uR`aTbuR `P V[ c] R S]aT\b ] o Mensyaratkan adanya akses langsung terhadap sarana transportasi laut dan
udara yang langsung mengarah pada perdagangan internasional
o Dikelilingi oleh pagar pembatas dengan pengawasan akses pintu masuk dan
keluar kawasan tersebut oleh kantor kepabeanan
o Luas kawasan ini umumnya relatif lebih besar dibandingkan dengan industrial
(bonded) zone
Kawasan Ekonomi dengan SEZ merupakan bentuk terluas dengan karakteristik:
o Merupakan integrated, large scale, mega zones yang dapat terdiri dari wilayah
pelabuhan, new town, industri, turisme, komersial, dan utilitas. Di dalam wilayah ini dapat dibentuk pula FTZ, EPZ, serta BZ. Walaupun di dalamnya masih dimungkinkan kegiatan komersial umum, namun jumlah, tipe, dan luasnya dibatasi serta diatur sehingga bersifat selektif dan ditujukan terbatas untuk melayani wisatawan asing, karyawan perusahaan serta anggota keluarganya yang berlokasi di wilayah tersebut
o Memiliki basis teknologi informasi dan jaringan yang memadai o Mengandalkan pada pasar domestik, internal wilayah SEZ dan ekspor
o Mensyaratkan adanya akses langsung terhadap sarana transportasi laut dan
udara yang langsung mengarah pada perdagangan internasional
o Memperoleh berbagai insentif, baik fiskal maupun non-fiskal. Besaran dan jenis
fasilitas fiskal dan non-fiskal disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan.
Sebagai wilayah yang diberikan status khusus, BZ, FTZ, EPZ maupun SEZ mensyaratkan adanya prosedur perijinan yang lebih sederhana dan efisien (efficient and streamlined investment procedures) serta infrastruktur yang moderen dan memadai. Salah satu persyaratan lain yang tak kalah pentingnya adalah lokasi geografis yang strategis.
Melihat perkembangan konsep FEZ di dunia yang menunjukkan adanya evolusi yang sangat nyata, yang terutama muncul pada 50 tahun terakhir, pertanyaan yang timbul adalah sejauh manakah penerapan konsep ini memberikan manfaat bagi negara-negara yang mengadopsinya dan manfaat apakah yang diperoleh oleh negara-negara-negara-negara tersebut dengan adanya FEZ? Apakah daya tarik FEZ begitu besar sehingga bahkan suatu negara seperti Korea Utara, yang sangat kapitalis, mau tidak mau harus membuka keran liberalisasi perdagangannya dengan membentuk suatu Special Economic zone di Sinuiju di bagian barat daya Korea Utara yang berbatasan dengan China1. Secara khusus, istilah Kawasan Ekonomi atau SEZ mengacu pada salah satu
d e fyuguf h f ih gte jdk h fl hwhg hfm nofopq rsuftuhvuf td jo wq f gquhpv q
varian FEZ, namun secara generik istilah ini dapat dipergunakan secara bergantian dengan FEZ sehingga selanjutnya istilah Kawasan Ekonomi atau SEZ yang bersifat generik akan dipergunakan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya.
Terdapat banyak teori yang melandasi mengapa suatu negara memberlakukan Kawasan Ekonomi. Salah satu yang paling sederhana pembentukan Kawasan Ekonomi dalam berbagai variannya adalah untuk menghasilkan suatu bentuk trade creation.Trade creationadalah suatu fenomena bertambahnya volume perdagangan internasional akibat extra output atas produksi suatu negara. Extra outputtersebut bisa terjadi karena meningkatnya spesialisasi, economics of scale serta kebebasan hubungan perdagangan antar negara termasuk dengan dibentuknya zona-zona pertumbuhan ekonomi. Hal ini secara teoritis akan meningkatkan kesejahteraan dunia karena akan meningkatkan volume perdagangan dan memungkinkan penduduk (konsumen) melakukan pilihan atas produksi dan kombinasi barang yang lebih banyak dan harga yang lebih murah. Logika sederhana di balik ini adalah, adanya Kawasan Ekonomi akan merangsang produksi dunia meningkat sehingga konsumen akan memiliki lebih banyak pilihan barang pada tingkat harga yang lebih murah. Walaupun dengan sangat mudah pembentukan zona pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan, namun dalam perkembangannya debat tentang dampak positif dan negatif pembentukan zona pertumbuhan tersebut tetap ada baik dalam tataran teori maupun fakta mengingat trade creation hanyalah satu di antara berbagai implikasi pembentukan Kawasan Ekonomi. Dalam hal ini muncul 2 pandangan besar yang melihat dampak Kawasan Ekonomi bagi suatu negara.
Pandangan pertama adalah Kaum Ortodoks yang kemudian dikenal sebagai
Neoclassical Theory2. Pandangan Orthodoks lebih banyak menjelaskan pesimisme
terhadap pemberlakukan Kawasan Ekonomi. Hal ini terutama didukung oleh pendapat dari World Bank. World Bank (1992) menekankan bahwa evaluasi terhadap Kawasan Ekonomi harus ditekankan pada dua hal utama : 1) Dampak utama Kawasan Ekonomi terhadap perekonomian, dan 2) Dampak Kawasan Ekonomi terhadap reformasi ekonomi secara umum. Dengan demikian dampak Kawasan Ekonomi terhadap kenaikan devisa suatu negara bukan suatu ukuran utama keberhasilan penerapan suatu Kawasan Ekonomi. Namun sebenarnya, pandangan ortodoks memperlihatkan temuan yang bercampur antara keberhasilan dan kegagalan Kawasan Ekonomi. Peter Warr (1999) menyatakan bahwa, sampai dengan
x y zyu{uz | z }| {ty ~x | z |w|{ |z z uz|uz x ~ z { |
tahun 1990-an, keberhasilan Kawasan Ekonomi hanya terlihat dalam aspek ketenagakerjaan dan devisa, serta tidak bisa mencakup aspek ekonomi lain secara luas. Hal ini ditegaskan dengan temuan bahwa untuk negara pada level awal
pembangunan (early stages of development), pembentukan Kawasan Ekonomi
memang merupakan alat yang produktif dalam menyerap kelebihan tenaga kerja di negara berkembang, walaupun hal ini juga disertai dengan employment abused di dalamnya. Kawasan Ekonomi juga merupakan media untuk memaksa perusahan domestik mengikuti iklim kompetisi global dengan mencontoh perusahaan-persahaan asing yang ada di zona tersebut. Sayangnyademonstration effectini pada beberapa zona di negara berkembang tidak bisa dikatakan berkelanjutan. World Bank sebagai pihak yang mendukung pandangan ini menekankan analisa dan evaluasi Kawasan Ekonomi terhadap efek dari kesejateraan yang ditentukan oleh dua hal yaitu : 1) peningkatan pendapatan nasional dan 2) tercapainya efisiensi ekonomi yang dicapai dengan berbagai kebijakan. Pandangan ini lebih melihat Kawasan Ekonomi dalam persepsi yang pesimis dimana Kawasan Ekonomi justru bisa menyebakan turunnya kesejahteraan dan efisiensi alokasi. Mesikipun untuk hal peningkatan pendapatan nasional, sudah tidak diragukan dampak positif dari pemberlakukan economic zone. Tidak tercapainya efisiensi alokasi ini disebabkan karena privilege yang diberikan dalam suatu zona justru bisa menyebabkan timbulnya distorsi dalam perekonomian (Hamada,1974). Balasubramanyam (1988), kurang lebih memiliki pendapat yang sama bahwa dengan adanya Kawasan Ekonomi perekonomian akan diwarnai oleh proteksi yang ketat, orientasi substitusi impor pada perekonomian domestik yang ditandai dengan konsentrasi investasi pada barang-barang padat modal. Sementara pada daerah yang di-enclave, produksi justru ditekankan pada proses yang padat karya. Hal ini akan menyebabkan inefisiensi alokasi sumberdaya dan eksploitasi comparative advantage (pada faktor produksi tenaga kerja). Menurut pandangan ini, Kawasan Ekonomi merupakan pilihan terakhir dalam menggerakkan suatu perekonomian. Penekanan pertama adalah liberalisasi total negara (countrywide liberalization)dan pilihan kedua adalah sistem perdagangan dengan pembebasan impor (economy wide duty free import systems). Sehingga iklim ekonomi akan berjalan beriringan baik oleh pelaku usaha domestik maupun asing (yang berada dalam zona-zona tersebut).
yuu t w uu
pembentukan institusi dan pembangunan (development state theory). Optimisme kaum heterodoks, misalnya ditekankan oleh Appadu (1989) pada kasus Mauritius menjelaskan bahwa dampak adanya Kawasan Ekonomi lebih dominan pada terjadinya transfer teknologi dan ilmu pengetahuan. New growth theory
menjelaskan bahwa selain faktor ekonomi itu sendiri, terdapat faktor sosial dan politis yang akan menentukan alokasi faktor produksi modal dan tenaga kerja. Dengan kata lain aspek ekonomi tidak menjadi satu-satunya yang menentukan tingkat kesejahteraan melainkan aspek sosial yang terbentuk setelah adanya akumulasi human capital. Sementara neo instititusional merujuk pada Amsden (1992) menekankan pada bagaimana meningkatkan produktivitas dan efisiensi dari penggunaan faktor produksi di suatu negara. Negara-negara berkembang menghahadapi productivity gap, dimana tenaga kerja tidak serta merta terserap dengan memanfaatkancomparative advantagedi negara yang bersangkutan. Dalam hal ini pemerataan teknologi menjadi kunci utama dalam meminimalkanproductivity gap. Hal ini mengimplikasikan optimisme dari pandangan heterodoks, dimana salah satu efek positif dari Kawasan Ekonomi adalah adanya transfer teknologi.
Berdasarkan hal-hal di atas, pandangan heterodoks terhadap Kawasan Ekonomi adalah:
o Kawasan Ekonomi merupakan suatu instrumen yang diberlakukan pemerintah
untuk lebih memanfaatkan comparative advantage yang ada dengan membuat suatu zone yang disertai suatu rezim kebijakan (fiskal, dan sebagainya) yang berlaku khusus.
o Kawasan Ekonomi merupakan suatu instrumen yang dilakukan pemerintah
untuk membuat suatu langkah jumping dalam mencapai level penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa.
o Karena itu, untuk optimalisasi Kawasan Ekonomi harus menerapkan hal-hal
sebagai berikut :
Menciptakan iklim yang kondusif sdalam memperlancar transfer
pengetahuan antara domestik dan asing.
Menggeser prioritas perusahaan domestik menjadiexport oriented.
¡ ¢yu£u¢ ¤ ¢ ¥¤ £t¡ ¦ § ¤ ¢¨ ¤w¤£ ¤¢© ª«¢«¬ ®¯u¢°±¤²u¢ ° ¦« ³ ¢ £±¤¬²
Kawasan Ekonomi merupakan isntrumen katalisator bagi stakeholders domestik: pengambil kebijakan, enterpreneur, dan tenaga kerja untuk mendapatkan pembelajaran dari perusahaan asing yang ada di zona.
2.2.2. Kawasan Ekonomi di Dunia
Sebagian besar dari kawasan-kawasan ekonomi yang telah ada, dikembangkan dengan tujuan untuk membangkitkan minat investasi swasta di daerah yang bersangkutan. Pengaruh positif yang diharapkan akan muncul kemudian adalah terserapnya tenaga kerja, seiring dengan terbukanya peluang ekonomi di masyarakat. Tujuan lain pembentukan kawasan ekonomi adalah mempercepat pertumbuhan dan melakukan diversifikasi ekspor dengan mendorong investasi. Dalam studinya, Cling dan Lentily menemukan bahwa China merupakan negara yang paling berhasil dalam menerapkan Kawasan Ekonomi jika dilihat dari hasil penyerapan tenaga kerjanya. Sampai dengan tahun 1998, terdapat 850 SEZ di seluruh dunia yang mempekerjakan 27 juta tenaga kerja. Dari jumlah tersebut 20 juta diantaranya terserap di kurang lebih 100 SEZ di China. Dengan tidak menghitung penyerapan di China, Kawasan Ekonomi Amerika Latin menyerap 48% dari seluruh angkatan kerja yang bekerja di zone tersebut, di susul dengan Asia 40% dan Afrika 5% (dimana kecuali Mauritius dan Madagaskar, hampir keseluruhan negera Afrika gagal menerapkan Kawasan Ekonomi). Perkembangan Kawasan Ekonomi sendiri dari tahun ke tahun terlihat cukup nyata. Pada tahun 1975, terdapat 25 negara yang memiliki Kawasan Ekonomi dan mempekerjakan 800 ribu tenaga kerja. Jumlah tersebut meningkat pada tahun 1986 menjadi 47 negara dan menyerap 1.9 juta pekerja. Pada survey tahun 1997, dari 173 negara di dunia, 93 di antaranya memiliki Kawasan Ekonomi dan mempekerjakan 4.9 juta tenaga kerja. Dari 14 negara utama yang menerapkan Kawasan Ekonomi (Bangladesh, Korea Selatan, India, Indonesia, Malaysia, Mauritius, Mexico, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Taiwan dan Togo), maka akselerasi penyerapan tenaga kerja terbesar (diukur dari berapa besar multiplikasi jumlah tenaga kerja terserap selama lima tahun) adalah di Mexico, disusul Sri Lanka, Malaysia, Filipina, dan Dominika. Hal ini tidak merujuk pada jumlah tenaga kerja absolute yang dipekerjakan di Kawasan Ekonomi. Dari tiga negara terbesar efek multiplikasinya, terdapat kecenderungan peningkatan ekspor yang cukup drastis sebagai berikut :
´ µ ¶yu·u¶ ¸ ¶ ¹¸ ·tµ º´» ¸ ¶¼ ¸w¸· ¸¶½ ¾¿¶¿ÀÁ ÂÃu¶ÄŸÆu¶ Ä´ º¿ ÇÁ ¶ ·ÁŸÀÆ Á
2. Di Mauritius, pada tahun 1999 terdapat 500 perusahaan dalam semua Kawasan Ekonomi dengan proporsi ekspor sejumlah 75% dari seluruh total ekspor, dimana sebagian besar didominasi oleh tekstile dan pakaian (65%)
3. Di Mexico, 4.000 perusahaan dalam seluruh Kawasan Ekonomi menyumbangkan 36% dari seluruh total ekspor pada tahun 1997 (kedua terbesar setelah minyak bumi).
È É ÊyuËuÊ ÌÊÍ ÌËtÉ ÎÈÏÌÊÐÌwÌË Ì ÊÑÒÓÊÓÔÕ Ö×uÊØÙ ÌÚuÊ ØÈÎÓ ÛÕ Ê ËÕÙÌÔ ÚÕ Tabel 2. 2 Pengelolaan Kawasan Ekonomi di Zhuhai (Cina)
ASPEK KETERANGAN
Status SEZ dengan fokus pada pembangunansoftware park, dapat dikategorikan sebagaiScience-based Industrial Park(SIP) Zoning 300.000 m2meliputi:
1. Wilayah Selatan (70.000 m2)pusat pengembangan software industri dan bank komersil Cina
2. Wilayah Barat (150.000 m2)software, pusat pengembangan, pusat pengujian dan pengendalian mutu, pameran, penjualan, produksi hardware, bengkel kerja integrasi sistem
3. Wilayah Timur (80,000 m2)gedung-gedung untuk jasa pengembangan, produksi, kendali mutu, pelatihan, komunikasi, dan teknis Perimeter
securing Dengan pagar untuk memisahkan dengan area pemukiman
Otoritas Pemerintah SEZ Zhuhai dengan bekerjasama dengan pemerintah provinsi dan pusat
Tanggung jawab Southern Software Park (Zhuhai) Development Co. Ltd bertanggung jawab atas perencanaan, pembangunan dan pengelolaan dengan bekerjasama dengan American Apple Computer Inc membentuk Apple SSP (Zhuhai) Technology Co. Ltd untuk mengembangkan software sistem dan aplikasi. Bekerjasama pula dengan Tsinghua University.
Hubungan antar
institusi SSP (Zhuhai) Development Co. Ltd dibentuk bersama oleh Ministry of Electronic Industry, the State Development Investment Corp. dan pemerintahdaerah Zhuhai Insentif investasi 1. Zhuhai Administrative and Service Center for Foreign Investment dibentuk oleh pemerintah kota, memberikan satu paket pelayanan yang meliputi
konsultasi kebijakan serta negosiasi dan persetujuan proyek investasi. 2. Infrastruktur yang sangat baik dan memadai
3. High tech preferential treatmentdenganmulti-entry go abroad document
4. Pembentukan unit khusus untuk menangani perpajakan, ketenagakerjaan, dan administrasi registrasi usaha 5. Penghuni dan anggota keluarga memperoleh residential cards dengan sejumlah fasilitas
6. Deposito pekerja asing dibebaskan dari PPh
7. Diijinkannya penjualan domestik hingga 100% untuk kegiatan-kegiatan tertentu yang memperoleh prioritas
Ü Ý ÞyußuÞ àÞá àßtÝ âÜãàÞäàwàß à ÞåæçÞçèé êëuÞìí àîuÞ ìÜâç ïé Þ ßéíàè îé Tabel 2. 3 Pengelolaan Kawasan Ekonomi di Subic Bay (Filipina)
ASPEK KETERANGAN
Status Subic Bay Freeport (SBF) diperluas menjadi Subic Special Economic and Freeport Zone (SSEFZ) yang akan meliputi kota Olangapo dan wilayah Zambales
Zoning 1.939 ha terdiri dari:
1. Industrial area (285 ha)
2. Warehouse / industrial area (91 ha) 3. Tourism area (333 ha)
4. Commercial area (110 ha) 5. Residential area (360 ha) 6. Community facilities (100 ha) 7. Utilities (70 ha)
8. Special areas (170 ha) 9. Eco-tourism (75 ha) Perimeter
securing Pemagaran sekeliling untuk memisahkan dengan wilayah pemukiman
Otoritas Konversi dan pengembangan SBF dilakukan oleh Subic Bay Metropolitan Authority (SMBA), organisasi milik pemerintah, dan melapor langsung kepada presiden
Tanggung
jawab SBMA diberikan kewenangan penuh untuk merencanakan dan mengembangkan SBF serta menarik dan mempromosikaninvestasi ke SBF Hubungan
ð ñ òyuóuò ôò õ ôótñ öð÷ôòøôwôóô òùúûòûüý þÿuò ôuò ðöû ý ò óýôü ý
ASPEK KETERANGAN
Technopark. Insentif
investasi 1. Tax and duty free importation2. Pengecualian dari seluruh pajak daerah dan Negara dengan hanya 5% Corporate tax on Gross Income 3. Unrestricted entry atas FDI
4. Tidak ada control devisa
5. Pemberian visa bagi orang asing dengan mudah
6. Investor asing diberikan kebebasan penuh untuk memilih tenaga kerja (termasuk dari negaranya sendiri)
Infrastruktur 1. Pelabuhan laut moderen (41 ha) dengan dilengkapi movable pier, fasilitas cold storage, lebih dari 20 gudang, 2 area open storage, dan container yard
2. Pelabuhan udara internasional yang telah memperoleh sertifikasi the Federal Aviation Administration, dengan fasilitas moderen sistem keamanan, navigasi, komunikasi, dan meterologi
3. Jalan yang baik dan lebar
4. Fasilitas telekomunikasi moderen 5. Cybercity
6. Agila 2, satelit yang paling kuat di Asia
7. Listrik, air bersih, dan pembuangan limbah yang memadai
Akses 1. Jalur perkapalan ke Kaohsiung dan Singapura
yuu t w
u u
Tabel 2. 4 Insentif Investasi Kawasan Ekonomi di Berbagai Negara
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
1. Bangladesh Pembebasan pajak selama
10 tahun
Pembebasan pajak secara
keseluruhan terhadap
dividen selama 10 tahun
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
EPZ diperkecualikan dari UU ketenagakerjaan
Serikat pekerja tidak ada dalam zones
Ketidakadaan pajak untuk pinjaman modal
Repatriasi penuh untuk profit dan modal ke negara investor masing-masing
2. Republik
Dominika Penghapusan segala jenispajak sampai dengan 10 tahun
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin dan bahan baku (meskipun tegas dinyatakan bahwa barang kebutuhan perusahaan di zones yang dibebaskan pajak harus disetujui oleh pengelola zone terlebih dahulu)
Sampai dengan batas-batas tertentu, serikat pekerja tidak ada di zones, kecuali jika terdapat suatu kondisi ekstrim (perlakukan tidak adil dari perusahaan yang ada di zone)
Repatriasi penuh untuk profit
3. Mauritius Semula : Penghapusan pajak
atas laba dan dividen selama 5 tahun
Perundangan yang baru : penghausan pajak laba dan deviden sepanjang 10 tahun
namun perusahaan
dikenakan pajak perusahaan
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Tidak ada aturan tentang
yuu t w !"##$% &'u() *u (# +% %)$ *%
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
(pajak badan) sebesar 15% untuk sepanjang waktu beroperasinya di zones.
4. Mexico Tidak ada perlakukan spesifik Tidak terdapat bea apapun
untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Walapun tidak secara tegas
dilarang, pemerintah
menghendaki tidak adanya serikat pekerja di zones.
5. Filipina Penghapusan pajak berlaku
pada 4 8 tahun sesuai
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
6. Tunisia Perusahaan yang setidaknya
memiliki orientasi ekspor 80% dari nilai produksinya
akan mendapatkan
pembebasan pajak selama 10 tahun. Setelah masa 10 tahun besar porsi ekspor boleh berkurang hingga 50%.
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Reinvestasi dari profit
mendapatkan kebebasan
, - .yu/u. 0. 1 0/t- 2,30.40w0/0 .567.789 :;u.<= 0>u. <,27 ?9 . /9=08 >9
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
Perusahaan dengan tingkat orientasi ekspor kurang dari 80% akan tetap dikenakan 10 tahun mencakup profit, earning, capital gain dan dividen untuk perusahaan
yang setidak-setidaknya
memiliki orientasi ekspor sebesar 95% dari total produksinya.
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Hanya 35 menit dari Florida sebagai pintu masuk Amerika Serikat
Merupakan jalur perantara perdagangan di Amerika Utara dan Selatan serta Eropa
Pajak atas real estate
@ A ByuCuB DBE DCtA F@GDBHDwDC D BIJKBKLM NOuBPQ DRuB P@FK SM B CMQDL RM
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
8. Belarusia (Free Economics Zone Minsk)
Tidak dirinci secara khusus, namun ditekankan terdapat preferential fiscal untuk perusahaan dalam zones tersebut.
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin dan bahan
Tidak terdapat bea apapun untuk mesin, bahan baku dan peralatan yang dipakai selama proses produksi
Dihapuskannya pajak
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Tidak ada aturan khusus Lebih mengarah pada free
port(dengan jam operasi 24 jam)
Tidak terdapat biaya
penyimpanan untuk 30 hari
pertama untuk full
container dan 15 hari
T U VyuWuV XVY XWtU ZT[XV\XwXW X V]^_V_`a bcuVde XfuV dTZ_ ga V WaeX` fa
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
10. Polandia
(Euro Park
MIELEC)
Tax Holiday selama 10 tahun pertama.
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Tidak diatur secara
spesifik Zone dilengkapi denganairport dengan kapasitas take-off weight 250 ton, yang bias menampung yang jelas, namun tertulis bahwa tingkat pajak yang berlaku rendah
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut
Tidak diatur secara
h i jyukuj ljm lkti nholjplwlk l jqrsjstu vwujxy lzuj xhns {u j kuylt zu
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
12. Jordania
Pajak restoran dan hotel sebesar 7%
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut dimana 1 US$ di peg dalam 0.7 Jordania $
Jangka waktu penggunaan zones adalah 50 tahun
(dengan
| } ~yuu~ ~ t} |~w ~ ~ u~ u~ | ~
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
13. Iran
ekspor untuk barang yang keluar dari zone tersebut Penjualan ke bagian negara Iran yang lain (mainland)
yuu t w u ¡ ¢u £ ¡ ¢
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
13. Sumber energi yang
¤ ¥ ¦yu§u¦ ¨¦© ¨§t¥ ª¤«¨¦¬¨w¨§ ¨ ¦®¯¦¯°± ²³u¦´µ ¨¶u¦ ´¤ª¯ ·± ¦ §±µ¨° ¶±
No Negara Perpajakan Kepabeanan Ketenagakerjaan Insentif lain
15. India
most consumable goods Bebas bea untuk semuakeperluan oeprasi, produksi dan perawatan perusahaan di zone
¸ ¹ ºyu»uº ¼º½ ¼»t¹ ¾¸¿¼ºÀ¼w¼» ¼ ºÁÂúÃÄÅ ÆÇuºÈÉ ¼Êuº ȸ¾Ã ËÅ º »ÅÉ¼Ä ÊÅ
NO NEGARA PERPAJAKAN KEPABEANAN KETENAGAKERJAAN INSENTIF LAIN
Pembebasan pajak untuk perjualbelian dari satu zone ke zone yang lain atau ke sub zone yang lain.
Dengan kata lain
perusahaan di zone akan kebal dengan kebijakan
perdagangan Amerika
Ì Í ÎyuÏuÎ Ð ÎÑÐÏtÍ ÒÌÓ Ð ÎÔ ÐwÐÏ ÐÎÕÖ×Î×ØÙ ÚÛuÎÜÝÐ ÞuÎÜÌ Ò× ß Ù Î ÏÙ Ý Ð Ø ÞÙ
2-à á
Dalam beberapa kajian, China selalu dikecualikan dalam analisa evaluasi keberhasilan Kawasan Ekonomi. Hal ini berkaitan dengan begitu besarnya jumlah investasi yang ada di China serta penyerapan tenaga kerja dari berbagai Kawasan Ekonomi yang ada di dalamnya. Sampai dengan tahun 2002, berdasarkan data dari tdctrade.com, di China terdapat 45
Economic and Technology Development Zone. Sampai dengan tahun 2001, dalam 45 Kawasan Ekonomi yang ada di China dihasilkan nilai GNP sebesar 232.920 milyar Yuan dengan total output industri sebesar 610.954 milyar Yuan. Nilai ekspor dari berbagai Kawasan Ekonomi tersebut mencapai 20.144 milyar US$ dan nilai investasi asing sebesar 6.209 miluar US$. Perkembangan pesat tersebut juga dilihat dari kenyataan bahwa saat ini banyak dari tp 500 perusahaan dunia telah menaruh investasinya pada berbagai Kawasan Ekonomi di China, seperti AT&T, Motorola, Coca-Cola, Pepsi, Volkswagen, Nestle, Shell, Yamaha, Samsung, Yazaki Auto, dan sebagainya.3
2.2.3. Pokok-Pokok Penting Pengembangan Kawasan Ekonomi
Dari pembahasan di atas terlihat bahwa keberhasilan penerapan Kawasan Ekonomi di berbagai negara terutama terlihat pada:
1. Tingginya pertumbuhan penyerapan tenaga kerja yang terutama pada tenaga kerja wanita
2. Relatif lebih tingginya rata-rata tingkat gaji yang ditawarkan dan dengan kenaikan yang relatif pesat
3. Adanya keberhasilan dalam mendorong ekspor, yang terutama dijumpai pada negara-negara kecil
4. Terjadinya transfer keterampilan dan teknologi
Namun, SEZ juga menunjukkan kegagalan di sejumlah negara karena:
1. Pengembangan SEZ cenderung mendorong perkembangan sektor publik dibandingkan sektor swasta
2. Tidak didukung kebijakan investasi yang bersifat kompetitif
3. Prosedur dan pengawasan perijinan investasi masih cenderung bersifat birokratis 4. Tidak didukung oleh struktur kelembagaan yang memadai
5. Kurang didukung oleh pendekatan pembangunan yang terintegrasi
â ã äyuåuä æ äçæåtã èâé æ äê æwæå æäëìíäíîï ðñuäòóæ ôuäòâ èí õ ï ä åï ó æ î ôï
2-ö ÷
Oleh karena itu pokok-pokok penting yang harus dimiliki dalam pengembangan Kawasan Ekonomi adalah sebagai berikut:
1. Pengelolaan dan pengoperasian SEZ harus mengarah pada prinsip-prinsip profesionalisme, seperti halnya yang berlaku pada sektor swasta
2. Pengelolaan SEZ harus dilakukan dengan kriteria pengembangan dan peruntukan yang jelas
3. Pengembangan SEZ hendaknya dilakukan melalui kerangka kemitraan pemerintah dan swasta yang bersinergi dan baik
4. Membutuhkan dukungan yang terintegrasi dari top-level government
5. Legal dan regulatory framework harus dirampingkan, sementara persaingan diletakkan atas dasar pemfasilitasan dan pelayanan yang prima dibandingkan pemberian insentif 6. Otoritas SEZ harus mandiri, fleksibel namun tetap berfokus pada regulasi, namun
dengan kapasitas administrasi yang kuat
Sementara itu, perkembangan Kawasan Ekonomi akandipengaruhi oleh trend Industri dan tren kerangka prosedur dan kebijakan baru. Tren industri yang saat ini berkembang adalah sebagai berikut:
1. Jaringan produksi global, contract manufacturing & outsourcing, peningkatan sektor jasa 2. Makin kecilnya jumlah pabrik-pabrik besar dengan orientasi pada multiple markets,
menurunnya kegiatan usaha yang murni berorientasi ekspor
3. Pertarungan pada Supply Chain Management (biaya logistik cenderung lebih besar dibandingkan biaya produksi)
4. Keunggulan kompetitif yang didorong oleh hubungan dengan pelanggan, distribusi, dan penjualan
5. Bermunculannya berbagai cluster penjualan yang didukung oleh kegiatan produksi Trend industri yang demikian tak terlepas dari perkembangan kerangka kebijakan makro internasiona, seperti:
1. Integrasi global melalui WTO
2. Pendalaman struktur pada berbagai blok perdagangan regional
3. Dorongan diberlakukannya harmonisasi insentif perpajakan dan ketentuan investasi 4. Liberalisasi teknologi informasi dan telekomunikasi
5. Crack-downterhadapoff-shore tax havens
ø ù úyuûuú ü úýüûtù þøÿ ü ú üwüû üúú uú ü uúø þ ú û ü
2
-7. Berakhirnya MFA
Sementara itu, tren kerangka prosedur dan kebijakan baru yang saat ini berkembang adalah: 1. Diperbolehkannya kegiatan yang makin beragam pada SEZ
2. Dihilangkannya keharusan untuk melakukan ekspor
3. Pergeseran ke arah insentif perpajakan yang bersifat lebihuniversal
4. Pemberian insentif bagi pengembang swasta 5. Deregulation dan demonopolization
6. Pengacuan pada hak-hak tenaga kerja yang bersifat universal 7. Penekanan pada lebih pada post-audit dibandingkan screening 8. Pemanfaatan teknologi baru (EDI, smart cards)
9. Penekanan pada pemfasilitasan dibandingkan pengawasan
2.2. PERKEMBANGAN KAWASAN EKONOMI DI INDONESIA
Sebagian besar dari kawasan-kawasan ekonomi yang telah ada, dikembangkan dengan tujuan untuk membangkitkan minat investasi swasta di daerah yang bersangkutan. Pengaruh positif yang diharapkan akan muncul kemudian adalah terserapnya tenaga kerja, seiring dengan terbukanya peluang ekonomi di masyarakat. Tujuan lain pembentukan kawasan ekonomi adalah mempercepat pertumbuhan dan melakukan diversifikasi ekspor dengan mendorong investasi.
Pengembangan kawasan ekonomi di Indonesia bukanlah hal yang asing. Pasalnya pada tahun 1970 Indonesia berhasil mengembangkan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui UU NO. /1970, dilanjutkan pada tahun 1972 dikebangkan pula Kawasan Berikat (Bounded Warehouse) Kemudian tahun 1989 dikembangkan Kawasan Industri, setelah itu pada tahun 1996 dikembangkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), dan terakhir pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus pada tahun 2009.
Tabel 2. 5 Perkembangan Beberapa Kawasan Ekonomi dan Kawasan Khusus Lainnya di Indonesia
Bentuk Kawasan Landasan Hukum Definisi/Tujuan Kawasan Berikat (7 lokasi) PP No. 33/1996
à PP No.32/2009
yuu t w u u !
2-"6 Kawasan Industri (86 Lokasi) Keppres No. 41/1996
à PP No. 24 /2009
Kawasan yang memiliki potensi cepat tumbuh, sektor unggulan dan potensi pengembalian investasi yang besar
FTZ atau KPBPB (4 lokasi) UU No.37/2000 PP No. 46, 47, 48 Tahun 2008
Kawasan dengan batas tertentu yang terpisah dari daerah pabean sehingga terbebas dari bea masuk, PPN, PPnBM dan cukai
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) (Tahun 2012 telah ada 2 lokasi)
UU No. 39/2009 Perpres No. 33/2010 Kepres No. 8/2010
Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah NKRI untuk menyelenggarakan fungsi perekonmian yang bersifat khusus dan memperoleh fasilitas tertentu.
Sumber: Bulletin Elektronik Tata Ruang
2.2.1. Kawasan Free Zone
Kawasan Free Zone di Indonesia atau yg disebut juga dengan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di mulai sejak tahun 1970, yang mana pada saat itu pemerintah pusat menetapkan daerah Sabang sebagai daerah Free Zone pertama di Indonesia melalui UU No 4 Tahun 1970 Tentang "Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang". Alasan utama mengapa Pemerintah Pusat memberikan status Sabang sebagai daerah Free Zone adalah karena memang sejak zaman Belanda, Sabang merupakan daerah transit kapal laut dan juga merupakan Jalur Maritim International dari Asia Tenggara ke Negara Uni Eropa dan Negara Timur Tebgah, Asia Tenggara ke Amerika serta Asia Tenggara ke Australia. Pada masa itu kapal - kapal laut yang mengangkut barang-barang untuk perdagangan akan melewati selat Singapura dan berhenti di Singapura untuk mengisi kebutuhan bahan bakar dan keperluan logistik Kapal. Kemudian di lanjutkan berlayar ke pelabuhan berikutnya yaitu pelabuhan Sabang untuk mengisi lagi kebutuhan bahan bakar dan logistik kapal, karena memang pada zaman tersebut teknologi kapal laut masih belum bisa menempuh untuk jarak jelajah yang jauh.
# $ %yu&u% ' %('&t$ )#* ' %+ 'w'& '%,-.%./0 12u%34' 5u%3# ). 6 0 % &0 4 ' / 50
2-77
Kemudian pada tahun 2000, Pemerintah Pusat menerbitkan UU 36 tahun 2000 yang kemudian sebagai rujukan UU 37 thn 2000 tentang penetapan kembali Sabang sebagai daerah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. UU 36 tersebut oleh Pemerintah pusat dan daerah dalam hal ini Provinsi KEPRI digunakan sebagai pijakan hukum untuk menyusun UU FTZ untuk Batam, Bintan dan Karimun, Karena pada waktu itu apabila akan membuat lagi undang-undang FTZ seperti Sabang, maka FTZ Batam, Bintan dan Karimun akan membutuhkan waktu yang lama karena harus ada pembahasan dan persetujuan dari DPR Pusat. Karena pada waktu itu dianggap darurat di bidang ekonomi dan Iklim Investasi di Batam yang tidak kondisif, dan sering terjadinya kebijakan yang berubah rubah, maka pemerintah mengambil inisiatif dengan mengambil referensi UU 36 tahun 2000 menjadi UU 44 2007 setelah melalui perubahan-perubahan beberapa kali melalui PERPU.
Dengan terbitnya UU 44 Thn 2007 tentang FTZ Batam, Bintan dan Karimun maka pemerintah pusat menerbitkan peraturan pelaksananya yaitu PP 46, 47 dan 48 tentang FTZ Batam, Bintan Karimun dan di ikuti aturan teknis yaitu PP 2 thn 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan 45, 46 dan 47 tahun 2009 tetang tatalaksana di bidang perpajakan, cukai dan kepabeanan. Sejak mulai 1 April 2009 Batam telah resmi secara legalitas menjadi suatu Kawasan Free Zone.
2.2.2. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
Berdasarkan Keppres 89/1996, yang dimaksud dengan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan :
Memiliki potensi untuk cepat tumbuh;
Mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya; dan/atau
Memiliki potensi pengembalian investasi yang besar.
Keputusan Presiden No. 120 Tahun 1993 tentang Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP KTI) merupakan kebijakan embrio terbentuknya KAPET. Dewan ini bertugas menggagas dan merumuskan konsepsi pengembangan KTI, termasuk kebijakan yang diperlukan untuk mendukungnya. Sebagai wujudnya, tersusun Keputusan Presiden No. 89 Tahun 1996 yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Presiden No. 9 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET).
8 9 :yu;u: < :=<;t9 >8? < :@ <w<; <:ABC:CDE FGu:HI< Ju:H8 >C K E : ;E I < D JE
2-L8
Tabel 2. 6 KEPPRES dan Sektor Unggulan KAPET
No Nama KAPET No. Keppres Sektor Unggulan
1 KAPET Banda ACEHDarussalam - NAD Keppres 171/1998 Pertanian,Perikanan,Industri, Pariwisata
2 KAPET Khatulistiwa -KALBAR Keppres 13/1998 Pertanian, Kehutanan,Pertambangan, Perkebunan
3 KAPET DAS Kakab -KALSEL Keppres 168/1998
Pertanian, Perkebunan, Industri, Peternakan, Perikanan, Pariwisata, Pertambangan
4 KAPET Batulicin - KALSEL Keppres 11/1998 Perkebunan, Kehutanan,Pertambangan
5 KAPET SASAMBA -KALTIM Keppres 12/1998 Pertanian, Perikanan,Industri,Peternakan, Pertambangan
6 KAPET Manado-Bitung -SULUT Keppres 14/1998 Pariwisata,Perikanan,Pertambangan, Agro Industri
7 KAPET Batui - SULTENG Keppres 167/1998
Pertanian,
Perikanan,Perkebunan, Pertambangan, Pariwisata, Kehutanan
8 KAPET Bukari - SULTRA Keppres 168/1998 Pertambangan,Kehutanan, Perikanan
9 KAPET Pare-pare - SULSEL Keppres 164/1998
Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Peternakan, Pertambangan, Pariwisata
10 KAPET Bima - NTB Keppres 166/1998
Pertanian, Perikanan, Pariwisata,
Pertambangan, Perkebunan
11 KAPET Mbay - NTT Keppres 15/1998 Kehutanan, Perikanan,Industri,Pariwisata, Peternakan
12 KAPET Seram - Maluku Keppres 165/1998 Perkebunan,Pertambangan, Perikanan
13 KAPET Biak - Irian Jaya Keppres 10/1998 Pariwisata,Perikanan