3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID
http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 1/4
h p://rilis.id/home
,
Da ar
h p://rilis.id/da ar /Masu h p://rilis.id/login
RILIZEN h p://rilis.id/rilizen/u h p://rilis.id/kategori/elektoral h p://rilis.id/kategori/mu h p://rilis.id/kategor h p://rilis.id/kategori/polemik h p://rilis.id/indeks
Search...
HOME (http://rilis.id/) ò RILIZEN (http://rilis.id/rilizen/user_point) ò OPINI (http://rilis.id/kategori/opini)
Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri .
Rony K. Pratama h p://ril… Maret 8, : 7 WIB
POPULER
TOP RILIZEN
h p://www.rilis.id/page/karir
Keponakan
Bocorkan Cawapres
Prabowo
h p://rilis.id/keponakan‐ bocorkan‐cawapres‐prabowo
Prabowo Tak
'Nyapres', Begini
Skenario PDIP
h p://rilis.id/prabowo‐tak‐ nyapres‐begini‐skenario‐pdip‐ menangkan‐jokowiGerindra: Proyek
Infrastruktur Jokowi
Tak Berikan
h p://rilis.id/gerindra‐proyek‐ infrastruktur‐jokowi‐tak‐ berikan‐manfaat
Ini Dia Penyebab
Prabowo Tak
Kunjung Deklarasi
h p://rilis.id/ini‐dia‐ penyebab‐prabowo‐tak‐ kunjung‐deklarasi‐capresJaksa Sebut
Novanto yang
Mengancam Miryam
h p://rilis.id/jaksa‐sebut‐ novanto‐yang‐mengancam‐ miryam‐untuk‐cabut‐bapTrade War Picu
World War?
h p://rilis.id/Trade‐War‐Picu‐ World‐War
Gurindam Cinta
Anies Baswedan
Pada Mereka yang
h p://rilis.id/Gurindam‐Cinta‐ Anies‐Baswedan‐Pada‐ Mereka‐yang‐TerpinggirkanDampak Ekonomi
dari Pilkada, Piala
Dunia, dan Asian
h p://rilis.id/Dampak‐ Ekonomi‐dari‐Pilkada‐Piala‐ Dunia‐dan‐Asian‐Games‐8
Anggota DPR
Terpilih karena Uang
3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID
http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 2/4
Dentuman ilmu pengetahuan terapan pada ap ranah membawa konsekuensi logis tertentu berikut implikasi jangka panjangnya. Pendidikan dalam konteks formal sekolah turut terseret narasi modernitas yang membopong beban otomasi dan digitalisasi. Era disrupsi, demikian khalayak abad ke‐
mengatakan, membawa serangan eksplisit di jagat pendidikan. Terutama seputar orientasi dan kontestasi pembelajaran.
Pihak yang mengurusi regulasi pendidikan pusat kemudian merespons dengan tegas dan lekas agar pendidikan formal menyiapkan diri sebelum dikondisikan zaman. Sasaran pragma k seper kecakapan kerja di lapangan ba‐ ba dinomorsatukan sebagai tujuan utama sekolah maupun perguruan nggi. Makna pendidikan lambat‐laun mengikis sebatas kesiapan lapangan. Filsafat pendidikan juga berubah menjadi kerja, kerja, dan kerja. Wilayah pendidikan dianggap seksi untuk membentuk manusia. Maka tak mengherankan bila manusia modern, anak zaman Revolusi Industri . , dicetak sedemikian rupa guna mengisi pos‐pos industri. Sekolah berperan signifikan untuk menyiapkan insan‐insan pengekor disrupsi itu.
Kurikulum nasional dibonsai agar kualitas manusianya memenuhi harapan dunia kerja. Pendeknya, sekolah diposisikan sama dengan laboratorium menuju kerja. Dogma ini dipatenkan terus‐menerus melalui produksi wacana, "Bangsa kita ter nggal dan harus mengejar keter nggalannya."
Belum terserap ke dunia kerja, anak didik cetakan sekolahan itu sudah dibentak misi utopis: kelak manusia segera tergan kan dengan kehadiran robot. Ar ficial Intelligence AI atau kecerdasan buatan dimitoskan total guna menggeser tenaga manusia. Mitos ini mewujud ke dalam sistem dan instrumen prak s yang menginduk pada teknologi mutakhir. Bentuknya bisa beraneka rupa dan ditengarai lebih fantas s ke mbang manusia yang memiliki kecerdasan natural.
Perkuliahan atau pembelajaran jarak jauh salah satunya. Sekolah hingga perguruan nggi turut
merayakan selebrasi atas nama efisiensi transfer pengetahuan. Melegi masikan metode ini ternyata juga dianggap pro terhadap kemajuan. Sekalipun ia baru diraih oleh ins tusi pendidikan yang unggul secara finansial.
Amnesia Filsafat Manusia
Tren disrupsi membawa konsekuensi logis terhadap perubahan pola pembelajaran. Ti k balik ini acap membayangi se ap transformasi yang diakibatkan oleh revolusi industri. Bila ditengok ga gelombang revolusi teknologi sebelumnya, ia membawa tekanan sekaligus destruksi masing‐masing.
Sebelum ilmuan menemukan komputer, semisalnya, manusia masih berdaulat atas kemampuan menulis secara manual. Kesalahan ke k cukup disadari dengan baik. Kecenderungan salin‐tempel hampir absen karena fitur demikian tak ditemukan pada mesin ke k tradisional. Namun, ak vitas semacam itu kini berubah dras s. Akurasi dan konsentrasi tulis‐menulis tak setajam generasi lampau. Mereka dilenakan atau dimanjakan oleh pelbagai fitur otoma s yang dihasilkan teknologi.
Teknologi meniscayakan sisi posi f dan nega f yang saling beririsan. Ia juga bisa menjadi bumerang bagi krea vitas manusia tatkala teknologi itu diposisikan sebagai alat bantu primer. Determinasi teknologi, dengan kata lain, mampu meremukkan daya krea f yang bersumber pada kepercayaan natural manusia. Albert Camus menyebut kondisi ini sebagai krisis akut atas ketergantungan peran ar fisial.
Persoalan fundamental dunia pendidikan di se ap jenjang manakala menyikapi gelombang teknologi antara lain disorientasi epistemologis: bagaimana mengawal orientasi aksiologis pendidikan Indonesia tanpa durhaka terhadap nilai filsafa nya. Pandangan ini dikemukakan agar ia tetap mengiku disrupsi teknologi secara cair tapi sekaligus masih mengakar pada konsep Ki Hadjar Dewantara yang
mendudukan manusia sebagai subyek utama.
Membangun manusia tak boleh luput dari tujuan pendidikan nasional. Pengabaian terhadapnya justru membawa senjakala peradaban di kemudian hari. Segi humanisme yang dimaksudkan melipu bagaimana subyek menemukan kedaulatan diri. Ki Hadjar memberi sinyal agar pendidikan berbasis kemanusiaan tak salah alamat, yakni memfokuskan pada prinsip penemuan bakat.
Jamak sekolah hari ini yang melupakan poin bakat sebagai k krusial pembelajaran. Mereka cenderung mengiku arus industri yang banyak mengeksplorasi keterampilan kerja. Hal ini bagus di satu sisi, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan mengedepankan preferensi internal subyek. Bila tak demikian, peserta didik sebagai pihak pelaksana akan menjadi korban dari egoisme sekolah.
Korban Struktural
Problem empiris di lapangan, terutama sekolah, sukar bergerak sesuai idealisme sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Ia terikat ikatan struktural ver kal yang membuatnya patuh sebagai objek kurikulum nasional. Pretensi ini bukan menganggap buruk kurikulum yang dikonstruksi pemerintah pusat, melainkan diperlukan autokri k terhadap kurikulum itu sendiri yang jelas mensekunderkan bakat peserta didik.
Sekolah hari ini, bahkan sejak empat dekade lampau, tak memanifestasikan secara serius filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Menteri pendidikan pertama di Indonesia itu hanya dianggap sebagai simbol ma yang sering dipampangkan secara visual‐verbal: patung, jargon, dan papan sekolah. Lebih‐ lebih Tut Wuri Handayani sekadar disakralkan di papan kertas dan diujarkan secara hiperbolis dalam kesempatan pidato.
Bejibun pelajaran yang dipaketkan sekolah kepada siswa mengaburkan sasaran utama pendidikan dalam rangka eksplorasi bakat. Potret ini bisa di lik dari komposisi pelajaran dari SD hingga SMA. Alih‐alih memberi kebebasan meneroka bakat peserta didik, sekolah justru arogan dengan sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan dan wajib tempuh. Tak ada celah membina diri mencari apa dan bagaimana bakat itu dimiliki. Sebuah lanskap pendidikan ar fisial yang terus mengakar.
Ř
É
h p://facebook.com/rilisonline
h p://twi er.com/rilisonline
h p://instagram.com/rilisid
h p://plus.google.com/+RILISID PLATFORMh p://rilis.id/page/pla orm
DISCLAMER h p://rilis.id/page/disclamer
HISTORYh p://rilis.id/page/history REDAKSI
h p://rilis.id/page/redaksi KARIRh p://rilis.id/page/karir
KONTAK h p://rilis.id/page/kontak
KODE ETIKh p://rilis.id/page/kode‐ e k
PEDOMAN MEDIA SIBER
3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID
http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 3/4
Tags
6 #revolusiindustri . pendidikan sekolah disrupsiKomentar
POST COMMENT
KOMENTAR
Rony K. Pratama | Peneli Pendidikan Literasi Yogyakarta
Isi Komentar Anda
Bagaimana reaksi anda
dengan artikel ini?
Suka
%
h p://rilis.id/login
Sedih
%
h p://rilis.id/login
Tidak suka
%
h p://rilis.id/login
Tekejut
%
h p://rilis.id/login
Bosen
%
h p://rilis.id/login
Bingung
%
h p://rilis.id/login
Marah
%
h p://rilis.id/login
TOP OPINI
Opini
h p://rilis.id/kategori/opini
Daulat Guru atau Kuasa UN?
h p://rilis.id/daulat‐guru‐atau‐kuasa‐un h p://rilis.id/kategori/opini
Jumat, 8/ / 6 . 8
Opini
h p://rilis.id/kategori/opini
Krisis Epistemologi
h p://rilis.id/krisis‐epistemologi h p://rilis.id/kategori/opini
Rabu, 8/ / 8 . 6
Opini
h p://rilis.id/kategori/opini
Jalan Baru HMI
h p://rilis.id/jalan‐baru‐hmi h p://rilis.id/kategori/opini
Selasa, 8/ / . 7
TERKINI
Humor
h p://rilis.id/kategori/humor
Anggota DPR Terpilih karena Uang
h p://rilis.id/anggota‐dpr‐terpilih‐karena‐uang h p://rilis.id/kategori/humor
Kamis, 8/ / 9 . 9
Ekonomi
h p://rilis.id/kategori/ekonomi
Dampak Ekonomi dari Pilkada, Piala Dunia, dan Asian Games 8
h p://rilis.id/dampak‐ekonomi‐dari‐pilkada‐piala‐dunia‐dan‐ asian‐games‐ 8 h p://rilis.id/kategori/ekonomi
Kamis, 8/ / 9 6. 9
Opini
h p://rilis.id/kategori/opini
Gurindam Cinta Anies Baswedan Pada Mereka yang Terpinggirkan
h p://rilis.id/gurindam‐cinta‐anies‐baswedan‐pada‐mereka‐ yang‐terpinggirkan h p://rilis.id/kategori/opini
Rabu, 8/ / 8 7.
Ekonomi
h p://rilis.id/kategori/ekonomi
3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID
http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 4/4
h p://rilis.id/trade‐war‐picu‐world‐war h p://rilis id/kategori/ekonomi
Rabu, 8/ / 8 .
Opini
h p://rilis.id/kategori/opini
Krisis Epistemologi
h p://rilis.id/krisis‐epistemologi h p://rilis.id/kategori/opini