• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Indus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Indus"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID

http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 1/4

h p://rilis.id/home

,

Da ar

h p://rilis.id/da ar /Masu h p://rilis.id/login

RILIZEN h p://rilis.id/rilizen/u h p://rilis.id/kategori/elektoral   h p://rilis.id/kategori/mu h p://rilis.id/kategor h p://rilis.id/kategori/polemik   h p://rilis.id/indeks

Search...

HOME (http://rilis.id/) ò RILIZEN (http://rilis.id/rilizen/user_point) ò OPINI (http://rilis.id/kategori/opini)

Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri  .

Rony K. Pratama  h p://ril…  Maret  8,  : 7 WIB

POPULER

TOP RILIZEN

 

h p://www.rilis.id/page/karir

Keponakan

Bocorkan Cawapres

Prabowo

h p://rilis.id/keponakan‐ bocorkan‐cawapres‐prabowo

Prabowo Tak

'Nyapres', Begini

Skenario PDIP

h p://rilis.id/prabowo‐tak‐ nyapres‐begini‐skenario‐pdip‐ menangkan‐jokowi

Gerindra: Proyek

Infrastruktur Jokowi

Tak Berikan

h p://rilis.id/gerindra‐proyek‐ infrastruktur‐jokowi‐tak‐ berikan‐manfaat

Ini Dia Penyebab

Prabowo Tak

Kunjung Deklarasi

h p://rilis.id/ini‐dia‐ penyebab‐prabowo‐tak‐ kunjung‐deklarasi‐capres

Jaksa Sebut

Novanto yang

Mengancam Miryam

h p://rilis.id/jaksa‐sebut‐ novanto‐yang‐mengancam‐ miryam‐untuk‐cabut‐bap

Trade War Picu

World War?

h p://rilis.id/Trade‐War‐Picu‐ World‐War

Gurindam Cinta

Anies Baswedan

Pada Mereka yang

h p://rilis.id/Gurindam‐Cinta‐ Anies‐Baswedan‐Pada‐ Mereka‐yang‐Terpinggirkan

Dampak Ekonomi

dari Pilkada, Piala

Dunia, dan Asian

h p://rilis.id/Dampak‐ Ekonomi‐dari‐Pilkada‐Piala‐ Dunia‐dan‐Asian‐Games‐

8

Anggota DPR

Terpilih karena Uang

(2)

3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID

http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 2/4

Dentuman ilmu pengetahuan terapan pada  ap ranah membawa konsekuensi logis tertentu berikut implikasi jangka panjangnya. Pendidikan dalam konteks formal  sekolah  turut terseret narasi modernitas yang membopong beban otomasi dan digitalisasi. Era disrupsi, demikian khalayak abad ke‐

mengatakan, membawa serangan eksplisit di jagat pendidikan. Terutama seputar orientasi dan kontestasi pembelajaran.

Pihak yang mengurusi regulasi pendidikan pusat kemudian merespons dengan tegas dan lekas agar pendidikan formal menyiapkan diri sebelum dikondisikan zaman. Sasaran pragma k seper  kecakapan kerja di lapangan  ba‐ ba dinomorsatukan sebagai tujuan utama sekolah maupun perguruan  nggi. Makna pendidikan lambat‐laun mengikis sebatas kesiapan lapangan. Filsafat pendidikan juga berubah menjadi kerja, kerja, dan kerja. Wilayah pendidikan dianggap seksi untuk membentuk manusia. Maka tak mengherankan bila manusia modern, anak zaman Revolusi Industri  . , dicetak sedemikian rupa guna mengisi pos‐pos industri. Sekolah berperan signifikan untuk menyiapkan insan‐insan pengekor disrupsi itu.

Kurikulum nasional dibonsai agar kualitas manusianya memenuhi harapan dunia kerja. Pendeknya, sekolah diposisikan sama dengan laboratorium menuju kerja. Dogma ini dipatenkan terus‐menerus melalui produksi wacana, "Bangsa kita ter nggal dan harus mengejar keter nggalannya."

Belum terserap ke dunia kerja, anak didik cetakan sekolahan itu sudah dibentak misi utopis: kelak manusia segera tergan kan dengan kehadiran robot. Ar ficial Intelligence  AI  atau kecerdasan buatan dimitoskan total guna menggeser tenaga manusia. Mitos ini mewujud ke dalam sistem dan instrumen prak s yang menginduk pada teknologi mutakhir. Bentuknya bisa beraneka rupa dan ditengarai lebih fantas s ke mbang manusia yang memiliki kecerdasan natural.

Perkuliahan atau pembelajaran jarak jauh salah satunya. Sekolah hingga perguruan  nggi turut

merayakan selebrasi atas nama efisiensi transfer pengetahuan. Melegi masikan metode ini ternyata juga dianggap pro terhadap kemajuan. Sekalipun ia baru diraih oleh ins tusi pendidikan yang unggul secara finansial.

Amnesia Filsafat Manusia

Tren disrupsi membawa konsekuensi logis terhadap perubahan pola pembelajaran. Ti k balik ini acap membayangi se ap transformasi yang diakibatkan oleh revolusi industri. Bila ditengok  ga gelombang revolusi teknologi sebelumnya, ia membawa tekanan sekaligus destruksi masing‐masing.

Sebelum ilmuan menemukan komputer, semisalnya, manusia masih berdaulat atas kemampuan menulis secara manual. Kesalahan ke k cukup disadari dengan baik. Kecenderungan salin‐tempel hampir absen karena fitur demikian tak ditemukan pada mesin ke k tradisional. Namun, ak vitas semacam itu kini berubah dras s. Akurasi dan konsentrasi tulis‐menulis tak setajam generasi lampau. Mereka dilenakan atau dimanjakan oleh pelbagai fitur otoma s yang dihasilkan teknologi.

Teknologi meniscayakan sisi posi f dan nega f yang saling beririsan. Ia juga bisa menjadi bumerang bagi krea vitas manusia tatkala teknologi itu diposisikan sebagai alat bantu primer. Determinasi teknologi, dengan kata lain, mampu meremukkan daya krea f yang bersumber pada kepercayaan natural manusia. Albert Camus menyebut kondisi ini sebagai krisis akut atas ketergantungan peran  ar fisial.

Persoalan fundamental dunia pendidikan di se ap jenjang manakala menyikapi gelombang teknologi antara lain disorientasi epistemologis: bagaimana mengawal orientasi aksiologis pendidikan Indonesia tanpa durhaka terhadap nilai filsafa nya. Pandangan ini dikemukakan agar ia tetap mengiku  disrupsi teknologi secara cair tapi sekaligus masih mengakar pada konsep Ki Hadjar Dewantara yang

mendudukan manusia sebagai subyek utama.

Membangun manusia tak boleh luput dari tujuan pendidikan nasional. Pengabaian terhadapnya justru membawa senjakala peradaban di kemudian hari. Segi humanisme yang dimaksudkan melipu  bagaimana subyek menemukan kedaulatan diri. Ki Hadjar memberi sinyal agar pendidikan berbasis kemanusiaan tak salah alamat, yakni memfokuskan pada prinsip penemuan bakat.

Jamak sekolah hari ini yang melupakan poin bakat sebagai  k krusial pembelajaran. Mereka cenderung mengiku  arus industri yang banyak mengeksplorasi keterampilan kerja. Hal ini bagus di satu sisi, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan mengedepankan preferensi internal subyek. Bila tak demikian, peserta didik sebagai pihak pelaksana akan menjadi korban  dari egoisme sekolah.

Korban Struktural

Problem empiris di lapangan, terutama sekolah, sukar bergerak sesuai idealisme sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Ia terikat ikatan struktural ver kal yang membuatnya patuh sebagai objek kurikulum nasional. Pretensi ini bukan menganggap buruk kurikulum yang dikonstruksi pemerintah pusat, melainkan diperlukan autokri k terhadap kurikulum itu sendiri yang jelas mensekunderkan bakat peserta didik.

Sekolah hari ini, bahkan sejak empat dekade lampau, tak memanifestasikan secara serius filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Menteri pendidikan pertama di Indonesia itu hanya dianggap sebagai simbol ma  yang sering dipampangkan secara visual‐verbal: patung, jargon, dan papan sekolah. Lebih‐ lebih Tut Wuri Handayani sekadar disakralkan di papan kertas dan diujarkan secara hiperbolis dalam kesempatan pidato.

Bejibun pelajaran yang dipaketkan sekolah kepada siswa mengaburkan sasaran utama pendidikan dalam rangka eksplorasi bakat. Potret ini bisa di lik dari komposisi pelajaran dari SD hingga SMA. Alih‐alih memberi kebebasan meneroka bakat peserta didik, sekolah justru arogan dengan sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan dan wajib tempuh. Tak ada celah membina diri mencari apa dan bagaimana bakat itu dimiliki. Sebuah lanskap pendidikan ar fisial yang terus mengakar.

ž



Ř

É

h p://facebook.com/rilisonline

h p://twi er.com/rilisonline

h p://instagram.com/rilisid

h p://plus.google.com/+RILISID PLATFORMh p://rilis.id/page/pla orm

DISCLAMER h p://rilis.id/page/disclamer

HISTORYh p://rilis.id/page/history REDAKSI

h p://rilis.id/page/redaksi KARIRh p://rilis.id/page/karir

KONTAK h p://rilis.id/page/kontak

KODE ETIKh p://rilis.id/page/kode‐ e k

PEDOMAN MEDIA SIBER

(3)

3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID

http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 3/4

Tags

6 #revolusiindustri .  pendidikan sekolah disrupsi

Komentar

POST COMMENT

KOMENTAR 

Rony K. Pratama | Peneli  Pendidikan Literasi Yogyakarta  

Isi Komentar Anda

Bagaimana reaksi anda

dengan artikel ini?

 

Suka

%

h p://rilis.id/login

Sedih

%

h p://rilis.id/login

Tidak suka

%

h p://rilis.id/login

Tekejut

%

h p://rilis.id/login

Bosen

%

h p://rilis.id/login

Bingung

%

h p://rilis.id/login

Marah

%

h p://rilis.id/login

TOP OPINI

Opini

h p://rilis.id/kategori/opini

Daulat Guru atau Kuasa UN?

h p://rilis.id/daulat‐guru‐atau‐kuasa‐un h p://rilis.id/kategori/opini

Jumat,  8/ / 6  . 8

Opini

h p://rilis.id/kategori/opini

Krisis Epistemologi

h p://rilis.id/krisis‐epistemologi   h p://rilis.id/kategori/opini

Rabu,  8/ / 8  . 6

Opini

h p://rilis.id/kategori/opini

Jalan Baru HMI

h p://rilis.id/jalan‐baru‐hmi   h p://rilis.id/kategori/opini

Selasa,  8/ /   . 7

TERKINI

Humor

h p://rilis.id/kategori/humor

Anggota DPR Terpilih karena Uang

h p://rilis.id/anggota‐dpr‐terpilih‐karena‐uang h p://rilis.id/kategori/humor

Kamis,  8/ / 9  . 9

Ekonomi

h p://rilis.id/kategori/ekonomi

Dampak Ekonomi dari Pilkada, Piala Dunia, dan Asian Games 8

h p://rilis.id/dampak‐ekonomi‐dari‐pilkada‐piala‐dunia‐dan‐ asian‐games‐ 8   h p://rilis.id/kategori/ekonomi

Kamis,  8/ / 9  6. 9

Opini

h p://rilis.id/kategori/opini

Gurindam Cinta Anies Baswedan Pada Mereka yang Terpinggirkan

h p://rilis.id/gurindam‐cinta‐anies‐baswedan‐pada‐mereka‐ yang‐terpinggirkan   h p://rilis.id/kategori/opini

Rabu,  8/ / 8  7.

Ekonomi

h p://rilis.id/kategori/ekonomi

(4)

3/30/2018 Ilusi Teknologi Perangkap Revolusi Industri 4.0 - RILIS.ID

http://rilis.id/ilusi-teknologi-perangkap-revolusi-industri-40 4/4

h p://rilis.id/trade‐war‐picu‐world‐war h p://rilis id/kategori/ekonomi

Rabu,  8/ / 8  .

Opini

h p://rilis.id/kategori/opini

Krisis Epistemologi

h p://rilis.id/krisis‐epistemologi   h p://rilis.id/kategori/opini

Referensi

Dokumen terkait