• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buruh Eksploitasi dan Kesenjangan Kelas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Buruh Eksploitasi dan Kesenjangan Kelas"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BURUH, EKSPLOITASI, DAN KESENJANGAN KELAS DITINJAU DALAM PERSPEKTIF MARXISME

Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Teori Hubungan Internasional

Dosen Pengampu:

Musa Maliki, M.Si

Oleh:

Nadia Sarah Azani

0801511002

HI A 2011

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS AL-AZHAR INDONESIA 2013

(2)

Sebuah berita mengenai penyekapan sekitar dua puluh orang buruh pabrik pengolahan alumunium oleh sang majikan di Tangerang, Banten, pada awal 2013 lalu cukup menggemparkan tanah air. Penyekapan tersebut bukan hanya semata-mata “penyekapan”, akan tetapi juga membuktikan adanya suatu ketimpangan sosial yang berwujud cerita lama, yaitu perbudakan. Media online Kompas yang terbit pada 4 Mei 2013 lalu menyatakan bahwa buruh-buruh tersebut dipekerjakan secara tidak layak dan diperlakukan seperti budak.1 Selama

berbulan-bulan, mereka “dipaksa” tinggal di sebuah ruangan semipermanen dengan ukuran 8x6 meter tanpa fasilitas-fasilitas yang memadai.2 Kebutuhan primer mereka tidak cukup terpenuhi,

baik pakaian maupun uang dan handphone disita oleh pemilik pabrik.3 Pada saat pihak

kepolisian datang menggerebek pabrik tersebut, kondisi para buruh cukup memprihatinkan. Sebagian di antaranya mengalami luka pada tubuh akibat penyiksaan.4

Kasus di atas kemudian disinggung oleh Arif Novianto dalam artikelnya yang berjudul “Hancurnya Etika dan Moral Kapitalisme” yang dimuat oleh Suar Okezone pada 14 Mei 2013. Ia menyebutkan bahwa penindasan terhadap buruh-buruh tersebut merupakan perbudakan model kuno (Classical Slavery) di era globalisasi ini yaitu dengan proses perampasan hak kehidupan para buruh. Meski ia menuturkan bahwasanya perbudakan model kuno tersebut sudah hampir jarang terjadi, tetapi sudah bermetamorfosis dengan skema baru sehingga menjadi sistem perbudakan yang lebih halus dan mencoba bersikap manusiawi walaupun sebenarnya tidak, seperti tercermin pada sistem outsourcing.5 Arif juga menuturkan bahwa sebenarnya perbudakan

model kuno tidak dapat berjalan berdampingan dengan sistem kapitalisme modern saat ini. Sistem kapitalisme modern sangat memerlukan pasar yang dinamis dan fleksibel. Dan pola perbudakan kuno tersebut memiliki sifat yang statis, sehingga menghambat pola relasi pasar yang diinginkan oleh sistem kapitalisme, baik pasar tenaga kerja atau pasar produksi.6 Fenomena

yang terjadi di sebuah pabrik pengolahan alumunium di Tangerang tersebut memang mengindikasikan adanya perbudakan kuno di era kapitalisme modern, hal itu disebabkan oleh

1 Laksono Hari W, Buruh Korban Perbudakan di Tangerang, 4 Mei 2013, dikutip dari:

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/04/15553570/Buruh.Korban.Perbudakan.di.Tan gerang diakses 9 Juli 2013

2 Ibid. 3 Ibid. 4 Ibid.

(3)

matinya etika dan moral di dalam sistem kapitalisme ini, yaitu tepatnya telah hilang sifat kemanusiaan dari para kapitalis.7

Arif kemudian mengutip ungkapan Slavoj Zizek8 mengenai bagaimana proses panjang

sejarah perubahan masyarakat hierarkis pada abad pertengahan menjadi masyarakat borjuis (pemilik modal atau alat-alat produksi) yang modern telah mencapai suatu titik temu di mana semakin mencuatnya sifat kebinatangan dari binatang manusia (human animal) yang egosentris. Artinya manusia terobsesi untuk menumpuk kekayaan dan kenikmatan secara instan dengan menonjolkan sifat individualitas dan egonya sendiri.9 Hal tersebut tak pelak mengaminkan

terjadinya penindasan antar manusia, yang terjadi karena supremasi mekanisme pasar dan diminimalisirnya daya proteksi dari pemerintah di dalam sistem kapitalisme, sehingga membuat manusia seolah bebas mengakumulasi kapital mereka tanpa ada batas dan kontrol yang besar dari negara.10 Etika dan moral yang semestinya dikedepankan oleh pemilik pabrik pengolahan

alumunium tersebut kemudian hancur lebur oleh desakan kompetisi pasar yang menghimpit, sehingga memilih cara pola produksi dengan sistem perbudakan yang tidak manusiawi.11

Karl Marx: Eksploitasi Buruh dan Kelas Masyarakat

Mengenai pola produksi dari kasus di atas yang mencerminkan adanya eksploitasi buruh, telah lama digaungkan oleh Karl Marx sebagai suatu bentuk adanya kesenjangan sosial dari perekonomian kapitalis yang cenderung eksploitatif daripada kontributif. Dalam bukunya yang berjudul Das Kapital, yang merupakan dasar pemikiran Marxisme, diuraikan bahwa keberadaan perekonomian yang eksploitatif kapitalis telah menciptakan struktur kelas dalam hubungan internasional yang diidentikkan dengan konflik kelas, antara borjuis (pemilik modal) dan proletar (tidak memiliki modal).12 Ada tiga pandangan Marxisme terhadap kapitalisme yang eksploitatif

yaitu pertama, kapitalisme adalah segala sesuatu yang melibatkan produksi yang bisa ditukarkan

7 Ibid.

8 Professor of Philosophy and Psychoanalysis, international director of the Birkbeck Institute for the Humanities, University of London

9 Arif Novianto, Op.Cit. 10 Ibid.

11 Ibid.

(4)

(jual beli) dipertukarkan untuk hal lain. Intinya setiap barang memiliki nilai termasuk jam kerja buruh; kedua, kapitalisme adalah semua hal yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan produksi yang dimiliki oleh kapitalis; dan ketiga, pekerja adalah orang yang bebas, akan tetapi untuk bertahan hidup mereka harus menyerahkan ketenagakerjaan pada kapitalis.13

Konsep Historical Materalism dan Dialectic Materialism merupakan ideologi utama yang melahirkan konsep kelas, hubungan antara kelas dan perjuangan kelas dalam gagasan pemikiran Marxisme.14 Mengutip pernyataan Marx dalam The Communist Manifesto:

The history of all hitherto existing societies is the history of class struggles. Freeman and slave, patrician and plebeian, lord and serf, guild-master and journeyman, in a word, oppressor and oppressed, stood in constant opposition to one another, carried on an interrupted, now hidden, now open fight, a fight that each time ended in a revolutionary reconstruction of society at large, or in the common ruin of the contending classes.15

Kelas proletar dan borjuis memiliki fungsi sosial yang berbeda di mana kelas borjuis memiliki alat-alat produksi dan menguasai proses pengeluaran secara keseluruhannya, sedangkan kelas proletar dianggap sebagai objek dalam proses pengeluaran dengan menjual “tenaga kerja” mereka dan mengenakan gaji atau upah yang rendah.16 Dalam buku Tentang Das Kapital Marx

yang ditulis oleh Frederich Engels, disebutkan bahwa tenaga kerja mempunyai suatu nilai tukar yang ditentukan seperti semua barang dagangan lainnya yaitu waktu kerja yang diperlukan untuk produksi dan reproduksi.17

Mengenai kelas yang tertindas, yaitu kelas proletar (buruh), Karl Marx dalam Poverty of Philosophy menjelaskan bahwa eksploitasi atas kaum proletar akan melahirkan unsur “antagonisme kelas” yang akan merangsang bentuk perlawanan atas penindasan.18 Kelas yang

tertindas tersebut akan mendesak kepada perubahan struktur sosial melalui cara kekerasan perampasan kekuasaan secara revolusi. Marx mengharapkan kelas proletar menjadi kelas penguasa dan merampas kedudukan kelas borjuis dan memusatkan segala aktivitas produksi di

13 Stephen Hobden & Richard Wyn Jones, Marxist Theories of International Relation, in: John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition. Oxford University Press, 2001

14 Indriaty Ismail & Mohd Zuhaili Kamal Basir, Karl Marx dan Konsep Perjuangan Kelas Sosial, International Journal of Islamic Thought, Vol. 1: (June ) 2012 hal. 27

15 Ibid. hal. 29 16 Ibid.

(5)

bawah genggaman kelas buruh.19 Model kelas baru yang akan didirikan oleh kelas proletar

bukanlah bercirikan sistem kelas sosial feodalisme dan kapitalisme, tetapi menghapuskan semua kelas masyarakat. Masyarakat tanpa kelas (classless) yang diperjuangkan oleh mereka merupakan titik permulaan kepada lenyapnya jurang pemisah antara kelas masyarakat dan kekuasaan akan jatuh ke tangan rakyat. Dengan demikian, sistem kekuasaan tersebut tidak lagi berfungsi sebagai alat penindasan terhadap masyarakat.20

Antara Marxisme dan Eksploitasi Buruh di Indonesia

Jika kembali melihat kasus yang menimpa buruh pabrik pengolahan alumunium di Tangerang beberapa waktu lalu dengan perspektif Marxisme seperti yang telah dijabarkan di atas, eksploitasi para buruh yang terjadi merupakan salah satu kegagalan sistem kapitalisme yang tengah berlangsung saat ini. Dengan kembali mengamini pernyataan Arif Novianto sebelumnya, bahwa telah terjadinya degradasi moral yang menyebabkan pihak pemilik modal (dalam hal ini pemilik pabrik) sampai hati mengeksploitasi para pekerja bukan hanya sebatas jam kerja dan tenaga, tetapi juga kebebasan para buruh. Eksploitasi buruh tersebut bermula pada persaingan ekonomi yang tengah dihadapi oleh pemilik pabrik. Selain itu, keinginan untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya dan mengeluarkan pengeluaran sekecil-kecilnya kemudian yang menjadi satu alasan kuat adanya pengabaian hak-hak buruh yang berujung kepada eksploitasi. Tindakan yang dilakukan kepada para buruh tersebut merupakan upaya untuk menekan biaya operasi.

Apa yang menimpa para buruh tersebut menjadi suatu gambaran bahwa pemilik modal dengan mudahnya memperlakukan kaum pekerja dengan tindakan yang semena-mena. Pemilik modal seolah memiliki power, sementara kaum pekerja justru menggantungkan hidup dengan para pemilik modal sehingga dapat dipengaruhi dengan power tersebut, meski hal itu bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Perlu diketahui bahwasanya pemilik pabrik tersebut melakukan tindak pidana, yakni Pasal 333 KUHP tentang merampas kemerdekaan orang lain dan Pasal 351 KUHP tentang tindakan penganiayaan.21

19 Ibid. 20 Ibid.

(6)

Penindasan terhadap kaum buruh bukan kali ini saja terjadi di Indonesia. Sejarah kelam mengenai penindasan buruh telah lama terjadi, bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Sejarah masuknya sistem kapitalis di Nusantara bermula sejak kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di awal abad ke-17.22 Kedatangan VOC secara tidak langsung mengubah

tatanan ekonomi masyarakat Indonesia termasuk di pedesaan. Masuknya VOC dengan ekonomi kapitalistiknya yang meningkatkan produksi komoditas perkebunan lewat praktik tanam paksa, telah memilah komunitas perdesaan ke dalam dua kelas: kelas pertama adalah para pemilik kekuatan modal produksi yang dalam hal ini ialah pemilik lahan, teknologi, dan kapital; dan kelas kedua adalah yang memiliki sedikit kepemilikan (kekayaan) dan sumber pokok penghidupannya berasal dari penjualan jasa tenaga kerja. Hal ini yang memunculkan apa yang disebut dengan proletariat perdesaan.23

Para buruh yang bekerja paksa pada masa VOC mengalami penindasan dengan jam kerja yang terlalu panjang dan upah yang sedikit. Bahkan tidak sedikit buruh kerja paksa yang tidak diupah. Tindakan eksploitasi proletar pada saat itu juga dicerminkan dengan perampasan lahan petani oleh para pemilik modal untuk dijadikan perkebunan dengan sistem kapitalis. Pada saat itu perkebunan gula merupakan usaha yang paling dominan di Hindia Belanda.

Dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer, juga banyak diulas mengenai penindasan kaum proletar oleh para borjuis Belanda maupun pribumi di awal abad ke-20. Salah satu dari rangkaian tetraloginya yang berjudul Anak Semua Bangsa, banyak menceritakan mengenai kehidupan arus bawah pribumi yang tidak berdaya melawan kekuatan Eropa. Pada waktu itu diceritakan meski zaman modern telah memasuki Hindia Belanda, tetapi eksploitasi kepada kaum buruh dan tani pribumi masih marak terjadi.

Era Orde Baru, atau yang biasa disebut sebagai Era Pembangunan, tragedi penindasan terhadap kaum buruh terjadi pada Mei 1993. Seorang aktivis buruh arloji PT. Catur Putra Surya, Sidoarjo bernama Marsinah ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan pada 8 Mei 1993, setelah menghilang selama tiga hari.24 Sebelum peristiwa tersebut, Marsinah dan beberapa

22 Dede Mulyanto, dkk, Kapitalisasi Dalam Penghidupan Perdesaan, Akatiga: 2009, hal 1-3 23 Ibid. hal. 7

(7)

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/09/064479081/20-Kasus-Marsinah-Gelap-buruh lainnya melakukan aksi mogok total untuk mengajukan beberapa tuntutan.25 Salah satu

tuntutannya ialah meminta perusahaan menaikkan upah pokok buruh dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Mereka juga memperjuangkan tunjangan tetap Rp 550 per hari. Tuntutan ini sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen dari gaji pokok.26

Hingga kini, motif dan kelanjutan kasus Marsinah masih berupa misteri. Meski begitu, terdakwa kasus tersebut yang merupakan pemilik dari PT. Catur Putra Surya, Yudi Susanto, telah divonis bebas.27 Hal ini tentu membuat para aktivis pembela buruh dan HAM menuntut kejelasan

kasus Marsinah. Sampai saat ini belum ditemukan titik terang dari peristiwa tersebut. Padahal kasus ini telah menjadi catatan penting ILO (Organisasi Buruh Internasional) dengan nomor kasus 1713.28 ILO pun telah mendesak pemerintah Indonesia untuk mengungkap kasus ini secara

sungguh-sungguh hingga tuntas.29

Banyak praduga bahwa Kasus Marsinah juga melibatkan oknum-oknum militer. Entah adanya kerjasama antara militer dengan pemilik perusahaan atau antara pemilik perusahaan dengan pemerintah. Perlu dicatat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada era Orde Baru, di mana militer juga memegang peranan penting dalam kehidupan politik maupun sosial.

Ketimpangan sosial yang dicerminkan dengan adanya dikotomi antara dua kelas masyarakat di Indonesia memang belum sepenuhnya terselesaikan bahkan hingga saat ini. Ironisnya, eksploitasi buruh dengan cara perbudakan kuno justru terjadi pada masa sekarang yaitu pada peristiwa penyekapan buruh pabrik yang telah dipaparkan di atas. Kesalahan yang utama yaitu pada letak kecacatan sistem kapitalisme yang berdampak kepada “kehausan” akan keuntungan yang sebesar-besarnya, meski tidak menutup kemungkinan mengikis kehormatan sesama. Persaingan ekonomi yang tidak sehat karena tidak seimbang inilah yang menjadi “penyakit” yang menjangkiti kaum pemilik modal. Sistem kapitalisme seolah-olah memberi peluang kepada pemilik modal untuk bertindak sesuai ego dan kehendaknya.

(8)

Telah disebutkan di atas, bahwa kesenjangan sosial yang terbagi ke dalam kelas-kelas menimbulkan “antagonisme kelas” yang merangsang adanya perlawanan dari kaum buruh. Perlawanan serupa pernah terjadi pada 1993 oleh sekumpulan buruh yang tergabung dalam serikat aktivis pekerja. Kondisi ekonomi yang tidak seimbang di antaranya upah yang kecil dan jam kerja yang panjang membuat para buruh kemudian berinisiatif melancarkan tuntutan untuk dipenuhi hak-haknya sebagai pekerja. Naasnya, nasib malang yang menimpa perempuan bernama Marsinah seolah menjadi kejutan bagi kaum buruh bahwa kebebasan berbicara pun nihil dimiliki. Saat itu memang era Orde Baru di mana pemerintah sangat sensitif terhadap “suara rakyat”. Ditambah, tuntutan buruh tersebut mengingatkan pada peristiwa gerakan kaum proletar yang tergabung di dalam partai terlarang pada 1965 sehingga muncul suatu kekhawatiran akan bertambah besar dan meluas. Pemerintah Orde Baru juga sangat sensitif terhadap gerakan-gerakan yang berhaluan kiri atau bernapaskan ideologi Marxisme.

Satu hal yang mengganjal bagi penulis, adalah kenyataan bahwa eksploitasi buruh dengan cara yang sudah sangat tertinggal zaman yaitu dengan cara perbudakan nyatanya masih ditemui di era saat ini. Penulis memandang bahwa fenomena pembagian kelas sudah sangat kompleks di masyarakat. Tanpa pernah mempelajari ide-ide Karl Marx ataupun ide-ide Adam Smith sekalipun, masyarakat sudah terkotak-kotakkan oleh lingkungan sehingga terbagi ke dalam dikotomi kelas-kelas di masyarakat. Penulis menyetujui dengan apa yang ditegaskan oleh Arif Novianto bahwa kegagalan sistem kapitalisme-lah yang menyebabkan terkikisnya etika dan moral manusia sebagai makhluk sosial. Keserakahan akan kapital untuk sebanyak-banyaknya meraup keuntungan ternyata justru berdampak pada tergesernya nilai-nilai moral dan sosial. Agaknya ini yang menjadikan pembenaran atas ungkapan Slavoj Zizek mengenai sifat “kebinatangan” manusia atau human animal.

Kesimpulan

(9)

pembunuhan Marsinah pada Mei 1993 yang tak kunjung menemukan titik terang hingga kini, menjadi dua di antara sekian peristiwa eksploitasi buruh di Indonesia. Eksploitasi buruh merupakan kegagalan sistem kapitalisme yang berdampak kepada degradasi etika dan moral. Adapun eksploitasi ini diterapkan untuk menyeimbangkan pemilik modal dan tuntutan dari tingkat persaingan yang cukup sengit di antara kalangan pemilik modal. Sistem kapitalisme yang berpedoman kepada keuntungan yang sebesar-besarnya dan kerugian yang sekecil-kecilnya ini yang menjadi alasan para buruh tidak mendapatkan haknya secara penuh. Penolakan akan eksploitasi buruh memang telah lama digaungkan oleh Marxisme, yang memandang bahwasanya kaum buruh (proletar) harus melakukan perlawanan untuk menjatuhkan kekuasaan monopoli kaum pemilik modal (borjuis), dengan kekuasaan berada di tangan kaum proletar, maka Marxisme mempercayai bahwa dikotomi kelas tersebut akan hilang dan akan adanya minimalisir dominasi kaum pemilik modal dalam meraup keuntungan. Sehingga kesejahteraan yang tanpa kelas akan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Buku, Jurnal, Artikel:

Engels, Frederick, alih bahasa Oey Hay Djoen, ed. Edi Cahyono, Tentang Das Kapital Marx, judul asli On Marx’s Capital, Oey’s Renaissance, 2007

Hobden, Stephen & Jones, Richard Wyn, Marxist Theories of International Relation, in: John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition. Oxford University Press, 2001

Ismail, Indriaty & Basir, Mohd Zuhaili Kamal, Karl Marx dan Konsep Perjuangan Kelas Sosial, International Journal of Islamic Thought, Vol. 1: (June ) 2012

Mingst, Karen, The Essentials of International Relations, New York: Norman Pub. 2009,

Mulyanto, Dede, dkk, Kapitalisasi Dalam Penghidupan Perdesaan, Akatiga: 2009

(10)

Internet:

Ali Akhmad, 20 Tahun Kasus Marsinah Gelap, Aktivis Nyalakan Lilin, 9 Mei 2013, dikutip dari http://www.tempo.co/read/news/2013/05/09/064479081/20-Kasus-Marsinah-Gelap-Aktivis-Nyalakan-Lilin diakses 9 Juli 2013

Laksono Hari W, Buruh Korban Perbudakan di Tangerang, 4 Mei 2013, dikutip dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/04/15553570/Buruh.Korban.Perbudakan.di.Tanger Tan diakses 9 Juli 2013

Referensi

Dokumen terkait