• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Pekerja Perempuan pada Indus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Partisipasi Pekerja Perempuan pada Indus"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Partisipasi Pekerja Perempuan pada Industri Televisi di Indonesia Fitria Angeliqa1

Cici Eka Iswahyuningtyas, M.Soc,Sc.2

1,2 Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640 Telp. 021-7870451, Email: 1[email protected],

2

[email protected]

Perkembangan suatu Negara seringkali dibarengi dengan meningkatnya peran serta warga masyarakat, laki-laki maupun perempuan dalam pembangunan. Industri televisi di Indonesia yang maju pesat dewasa ini, membuka peluang yang sangat luas bagi perempuan dalam berkiprah di dalamnya. Asumsi dasarnya mengidentifikasi pekerja perempuan di industri televisi nasional beserta tingkat partisipasinya terutama yang berhubungan dengan konten media. Menggunakan paradigma positivis, dengan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menggunakan survey dengan kuesioner sebagai teknik pengumpulan datanya. Teknik analisa data yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian ini juga diperkuat dengan wawancara mendalam untuk mendapatkan data sekunder yang memperkuat hasilnya.

Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pekerja perempuan di industri televisi nasional ternyata tidak menempati posisi strategis sebagai pengambil kebijakan dalam pekerjaannya, meskipun tingkat partisipasinya dalam dunia kerja sangat tinggi. Selain itu, ketidakpahaman mereka tentang konsep gender yang sebenarnya juga tidak sesuai dengan tingkat partisipasi yang mereka tunjukan.

Kata kunci: partisipasi, pekerja perempuan, industri televisi, gender

I. Latar Belakang Penelitian

(2)

rupiah. Industri ini juga mampu menyerap tenaga kerja rata-rata tahun 2002-2006 sebesar 5.4 juta dengan tingkat partisipasi sebesar 5.8 %. Televisi sendiri mampu menyumbang pendapatan sebesar 2.136.827.023 triliun (2.04 %) dan menyerap 142.227 ribu (2.90 %) tenaga kerja. Data tersebut belum termasuk iklan, film, video dan musik yang pendapatan terbesarnya diperoleh dari pertunjukan di televisi (Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007).

Ironisnya, tingginya konstribusi televisi dalam mendukung perekonomian nasional justru belum mampu memberikan konstribusi serupa dalam pembangunan manusia berbasis kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan, mainstream media terbukti masih mendukung idiologi patriarki dimana representasi perempuan diciptakan, dikonsumsi, diubah dan digambarkan secara negatif (Smith, 1999; Wooden, 2003; Freeman & Valentine, 2004; Ford et al., 2005; Ramasubramanian & Oliver, 2003; Milburn et al., 2000; Kim & Lowry, 2005; Mckee 2005; Leon & Angst, 2005; Sommer & Triplett, 2005; dan Hoesin, 2007).

Padahal, dengan kemampuan yang dimiliki, televisi seharusnya mampu mengambil peran penting dalam mewujudkan kesetaraan gender dan kehidupan yang lebih baik bagi semua umat manusia tanpa memandang jenis kelamin. Sebagai media massa televisi masih terbukti efektif dalam mempengaruhi aspek afektif, kognitif dan behavioral khalayak (Gash & Conway, 1997; Milburn et.al., 2000; Febraga,t 2000; Ramasubramanian & Oliver, 2003; Freeman & Valentine, 2004). Apalagi, dibandingkan media massa lainnya jumlah penonton televisi adalah yang terbesar, menurut survey Nielsen Media Research (2005) 83 % penduduk Indonesia menonton televisi. Ini artinya, sebagai industri, televisi tidak saja bisa dimanfaatkan sebagai alat pembangunan masyarakat tetapi juga menawarkan banyak peluang ekonomi, karena ditonton lebih dari 200 juta orang. Keberagaman muatan televisi (musik, film, video, dll) tentunya jika dimanfaatkan dengan baik akan memberikan nilai tambah ekonomi yang besar, khususnya bagi perempuan yang selama ini masih terpinggirkan dalam industri ini.

(3)

perempuan. Mengingat perubahan representasi tidak berjalan sesederhana peningkatan peran serta perempuan dalam produksi televisi (Creedon & Cramer, 2007). Tetapi, sedari awal gerakan feminis, media massa termasuk juga televisi telah dilihat sebagai alat perjuangan gerakan perempuan atau feminisme. Televisi diyakini efektif sebagai alat idiologi untuk melawan penstreotipan representasi perempuan oleh laki-laki yang cenderung negatif. Khususnya, sebagai alat untuk meningkatkan penghargaan dan representasi perempuan yang diposisikan inferior (Nelmes, 2007).

Kenyataan tersebut membuktikan bahwa, ketimpangan gender atau rendahnya peran serta perempuan dalam produksi televisi diyakini berpengaruh siknifikan terhadap kecenderungan televisi dalam merepresentasikan perempuan. Di dalam masyarakat dimana akses politik dan kekuasaan perempuan terbatas maka peran perempuan akan dimaknai berdasarkan pada sistim ekonomi, politik dan budaya patriarki yang berlaku. Pada situasi ini televisi umumnya hanya berperan untuk menguatkan pemaknaan dan identitas gender yang terbentuk dan tersusun berdasarkan sudut pandang laki-laki dan untuk laki-laki.

Sebagai akibatnya, televisi kemudian hanya dilihat sebagai hasil fantasi laki-laki. Sebagai hasil fantasi televisi tentunya tidak merefleksikan realitas tetapi justru merepresentasikan kepentingan golongan tertentu, yaitu laki-laki. Pada kondisi ini, untuk melawan kecenderungan tersebut perempuan harus mulai mengekspresikan pemikiran dan fantasi mereka sendiri dengan memproduksi televisi (Lindsey, 1990). Ini artinya, peningkatan peran serta perempuan dalam produksi televisi penting dilakukan karena hanya dengan cara inilah pemikiran, pengalaman, dan realitas perempuan dapat digambarkan secara lebih utuh dan benar guna mewujudkan tatanan kehidupan yang berkeadilan gender.

(4)

banyak orang bahwa kebudayaan dominan sudah dikonfirmasikan lewat idiologi dan mitologi sehingga cukup sahih untuk ditampilkan di layar kaca, mengekspos budaya yang sudah diproses dan diproduksi, menyamakan status pihak dominan identitas individu dan mengirimkan pesan makna dari pihak dominan kepada masyarakat luas.

Sebagai akibatnya, ketika perempuan dikonstruksikan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan penilaian masyarakat, televisi kemudian ikut menyajikan realitas sosial masyarakat. Televisi menampilkan tayangan-tayangan tentang bagaimana seorang perempuan harus berperan, berposisi dan berprilaku. Televisi melakukan penilaian mulai dari cara berdandan dan berpenampilan hingga nilai-nilai yang wajib menjadi bagian dari tampilan perempuan (Luviana, 2003). Masyarakat kemudian menganggap apa yang ditampilkan oleh televisi adalah sesuatu yang benar sehingga layak ditiru. Televisi bukannya mendorong terciptanya perubahan masyarakat berkeadilan gender tetapi justru semakin mengokohkan ideologi patriarki.

Padahal telah lebih dari 20 tahun, gender dalam pembangunan telah menjadi isu utama dalam setiap bahasan di kongres-kongres perempuan. Dalam kenyataannya, banyak aspek berkaitan dengan faktor-faktor kultural dan sosial yang masih menghambat upaya pemberdayaan perempuan (Poerwandari, 1995). Terbukanya peluang industri kreatif, termasuk dalam produksi program televisi ternyata tidak dibarengi dengan peran serta perempuan dalam produksi programnya. Hal ini disebabkan karena minimnya jumlah perempuan pekerja media dibandingkan dengan laki-laki yang bekerja pada sektor tersebut. Dunia pertelevisian yang mengharuskan pekerjanya terjaga 24 jam serta penuh dengan resiko, dianggap bertolak belakang dengan sifat feminitas perempuan.

Berpijak pada latar belakang yang dikemukakan di atas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Bagaimana peran serta perempuan dalam produksi program televisi? 2. Bagaimana perempuan dalam menegosiasi keputusan dalam produksi

(5)

II. Kerangka Pemikiran

II.1. Peran Serta Perempuan dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan

Peran serta seringkali berkaitan dengan istilah partisipasi. Dalam ranah politik, McClosky dalam Budiardjo (1981) mendefinisikan partisipasi sebagai “kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa dan secara langusng atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijakan umum”[ CITATION Isb95 \l 1033 ]. Sementara, dalam buku yang sama Samuel P. Hutington dan Joan M. Nelson mengartikan partisipasi poitik sebagai, “kegiatan warga Negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi dengan maksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah. Partisipasi dapat bersifat individual atau kolektif, terorganisir, dan spontan, legal atau illegal, efektif atau tidak efektif” [ CITATION Isb95 \l 1033 ].

Dari definisi tersebut terlihat bahwa, partisipasi membutuhkan sebuah arena untuk penyampaian pendapat dalam rangka ambil bagian untuk mempengaruhi pembuat kebijakan. Kesempatan menyampaikan pendapat juga erat dengan konsep aspirasi, yang oleh Poerwandari diartikan sebagai, ”integrasi dari impian-impian, harapan-harapan, keinginan, cita-cita, tujuan-tujuan mengenai kehidupan, khususnya kehidupan di masa depan. Aspirasi dipengaruhi oleh aspek-aspek sosial yang melingkupi individu, dan dalam beberapa hal dapat membawa pengaruh terhadap aspek-aspek sosial di sekitar individu tersebut. Oleh karena itu, pembentukan aspirasi tidak dapat dilepaskan dari dua hal, (1) keinginan untuk mengembangkan diri (minat dororngan, cita-cita individu – suatu dorongan yang berasal dari dalam diri; dan (2) keinginan untuk memenuhi tanggung jawab sesuai dengan apa yang diharapkan lingkungan sosial individu, yang merupakan suatu tuntutan dari lingkungannya (Poerwandari, 1995).

(6)

oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peranan-peranan itu ditentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat (Suyanto, 1995).

Dengan demikian peran serta perempuan dapat diartikan sebagai bentuk partisipasi perempuan dalam sebuah arena yang bersifat public yang berhubungan dan/atau dapat mempengaruhi pembuat kebijakan. Peran serta ini ditandai dengan seperangkat keinginan dan harapan yang bersifat internal untuk mengembangkan diri sendiri, serta keinginan untuk memenuhi tanggung jawab sesuai dengan lingkungan sosial di mana individu berada.

Peran serta yang tinggi tentu pada akhirnya akan membawa perempuan pada posisi kesetaraan dengan laki-laki. Selama peran serta tersebut berhasil menggerakan pembuat kebijakan untuk tidak selalu berpihak pada mainstream

laki-laki. Dalam beberapa literature, kesetaraan gender merupakan isu perdebatan dan perebutan antara wacana fungsional dan konflik, mengingat ia berkecenderungan untuk melakukan homogenisasi perbedaan dalam norma yang dominan (Lombardo, 2007).

Dalam tradisi feminis, kesetaraan gender diartikan sebagai masyarakat yang bebas dari dominasi gender dan bebas penindasan yang dilihat sebagai bentuk artikulasi pada setidaknya tiga poin utama dalam perbedaan visi kesetaraan gender (Walby dalam Lombardo, 2007). Kesetaraan gender dapat didefinisikan sebagai suatu masalah pencapaian kesetaraan sebagai kesamaan (biasanya berhubungan dengan kesetaraan peluang), atau persetujuan atas perbedaan berdasarkan norma laki-laki, atau pentransformasian seluruh norma dan standar yang telah terbangun mengenai bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki (pengarusutamaan gender menjadi pertimbangan untuk menghasilkan strategi yang sesuai untuk mencapai hal tersebut (Rees 1998; Walby 2005; Squires 2005; Verloo 2005a dalam Lombardo, 2007).

(7)

peluang laki-laki dan perempuan diperlakukan sama dalam kesatuan prinsip, norma, dan standar (Squires 1999; Verloo 2005 dalam Lombardo, 2007).

Sedangkan pendekatan ‘pembalikan’ memiliki masalah keberadaan norma laki-laki yang tidak dipertanyakan tapi harus diimitasi oleh perempuan untuk mencapai sesuatu. Sehingga solusinya adalah dengan melakukan rekonstruksi politik dengan pengenalan perempuan sebagai bentuk identitas gender yang non-homogen yang seharusnya diperlakukan berbeda dengan budaya dan identitas normative laki-laki. Dengan demikian, rekomendasi yang dimunculkan adalah dengan meletakan gender dalam membangun kriteria untuk pekerjaan, promosi, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan institusi (Squires 1999; Verloo 2005; Ferguson 1993 dalam Lombardo, 2007).

Sementara visi transformasi atau pemindahan lebih bersifat postmodern. Ia menganggap, dunia dengan gender sendiri lah masalah utamanya, bukan semata karena perlakuan terhadap perempuan atau keberadaan norma laki-laki.Solusi yang ditawarkan adalah dengan dekonstruksi wacana politis yang engender dan mengadopsi perbedaan politis. Langkah transformative yang dapat dilakukan mengacu pada Squires (2005) adalah dengan memberlakukan pengarusutamaan gender. Verloo (2005) juga mendukung proses transformasi ini dengan mengaitkan pada aspek pemberdayaan, yang dapat menjadi dasar terbukanya ruang-ruang public untuk mengekspresikan debat-debat politik tentang feminis untuk memaknai kesetaraan gender tersebut.

II.2. Representasi Perempuan dalam Media

(8)

terbentuknya image ideal bagi perempuan dan perbedaan peranan seksual (Kirca, 2001).

Representasi perempuan dalam media adalah sebuah praktik sosial dimana nilai-nilai tentang perempuan direkonstruksi dan kegiatan mengkonsumsi representasi ini tidak sekedar berarti mendapat kepuasan pribadi. Namun juga, semakin mengokohkan budaya patriaki yang ada. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa sosok perempuan yang ditampilkan media massa ternyata tidak lebih sebagai obyek, ini artinya perempuan masih berperan sebagai pihak yang dipandang (Van, 1996).

Representasi perempuan dalam media massa juga akan dipengaruhi bagaimana konstruksi sosial yang melingkupinya, termasuk di dalam majalah wanita. Oleh karena sebagai politik kapitalis, industri media sangat dipengaruhi berbagai hal, baik yang ada dalam organisasi media maupun ekstra media, sebagaimana dikemukakan. Ada lima tataran yang mempengaruhi isi media, yaitu tataran individual pekerja, tataran rutinitas media, tataran organisasai media, tataran ekstra media, dan faktor ideologi (Yang, 2008).

Berdasarkan pada penjelasan tersebut maka representasi peranan gender bisa didefinisikan sebagai bagaimana peranan gender direpresentasikan di dalam teks media dan seberapa baik pekerja media dalam hal ini adalah televisi merepresentasikan perempuan, seperti, bagaimana karakter perempuan dalam konteks sejarah pada zamannya, bagaimana karakter perempuan distreotipkan, seberapa aktif dan pasif perempuan digambarkan, dan apakah perempuan memerankan peranan positif atau negatif (Bernard, 1995).

III. Metode Penelitian

(9)

mendalam posisi, potensi dan kemampuan mereka menegosiasi keputusan dalam produksi program televisi.

Menggunakan unit analisa individu, objek penelitian ini adalah praktisi perempuan yang terlibat memiliki peran serta dalam produksi program televisi nasional (SCTV, RCTI, Metro Tv, TV One, Indosiar, ANTV, TRANS TV, Trans7, MNCTV dan Gobal TV). Praktisi perempuan yang dipilih adalah mereka yang menduduki posisi sebagai Produser, Sutradara dan Penulis Skenario atau posisi yang setara dengan kedudukan tersebut, yaitu Pemimpin Redaksi, Redaksi Eksekutif, dll.

IV. Analisa Data Level Jabatan

Responden penelitian ini berasal dari berbagai level jabatan dalam pekerjaan mereka, seperti yang tergambar berikut ini;

Tabel 1. Level Jabatan

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%

70.00% 61.60%

14.00%

7.00% 3.50% 7.00% 7.00%

Level Jabatan

Level Jabatan

(10)

penentu kebijakan dalam menentukan materi program acara. Kenyataan ini diperkuat dengan pernyataan informan penelitian yang menduduki posisi top manajemen dalam wawancara mendalam, bahwa

“Jujur kalau di lingkungan manajemen tertinggi dimana saya satu-satunya perempuan di sana untuk hal-hal yang strategis suara perempuan itu seringkali terabaikan, mungkin karena posisinya itu empat dibanding satu, jadi kalau ada usulan-usulan dari pihak perempuan itu seringkali termarginalkan.”

Lebih jauh lagi beliau menambahkan bahwa,

“…ketika ada acara yang on screen yang memerlukan penonton banyak coba lihat sekarang wanita lebih banyak, sekarang acara yang jogged-joged itu perempuan lebih banyak, saya prihatin ini ada apa ya disana perempuan hanya diminta joged-joged...”

Prosentase partisipasi laki-laki dan perempuan seperti yang dijelaskan dalam wawancara di atas menunjukkan rendahnya partisipasi perempuan dalam produksi program televisi khususnya untuk posisi manajerial. Berbicara tentang kendala yang dihadapi pekerja televisi perempuan dalam menempati posisi sebagai pengambil kebijakan atau berada di level middle atau bahkan top manejemen adalah karena laki-laki dianggap cenderung menguasai pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pengambilan kebijakan dan belum adanya peraturan tertulis baik dari pemerintah atau industri pertelevisian yang mengatur kuota perempuan dalam industri televisi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam wawancara berikut ini,

(11)

Lebih lanjut lagi informan dalam penelitian ini juga menambahkan bahwa penerapan sistim kuota sebagaimana yang diterapkan di parlemen untuk mendorong partisipasi perempuan dalam produksi televisi dalam konteks sekarang ini penting dilakukan karena demokrasi di Indonesia masih belum berada pada titik ideal sebagaimana juga yang terjadi dalam industri televisi seperti yang disampaikan dalam wawancara berikut ini,

“Pertama, penguasaan bidang, sih perempuan itu harus lebih lagi untuk menguasai profesi itu sebelum terjun kecah itu, trus perempuan itu harus bisa menunjukkan bahwa dia memang punya kemampuan di bidang itu...”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sistem kuota saja tidak cukup untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam produksi program televisi. Hal ini karena sistim kuota hanya mampu meningkatkan partisipasi secara kuantitas. Kerasnya kompetisi dalam sektor pekerjaan ini, ditambah dengan masih adanya budaya patriarki maka untuk bertahan dan menduduki posisi sebagai pengambil kebijakan maka perempuan harus memiliki kemampuan dan mampu menunjukkan kemampuannya sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni. Bahkan, serngkali untuk berada di titik pekerjaan yang sama perempuan dituntut memiliki kemampuan yang lebih tinggi daripada laki-laki.

Karakteristik Responden Berkaitan dengan Gender

(12)

18%

82%

Adakah Perbedaan Perlakuan Laki dan Perempuan di Tempat Kerja

ya tidak

Hasil survey di atas menggambarkan bahwa secara umumnya tidak ada perbedaan perlakukan antara laki-laki dan perempuan, khususnya berkaitan dengan kesempatan untuk terjun dalam bidang produksi program televisi. Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan terjadi dalam pengambilan keputusan. Informan dalam penelitian ini mengaku bahwa suara perempuan seringkali tidak didengarkan dan diabaikan dalam hal implementasi kebijakan dan pengambilan keputusan. Seperti yang dinyatakan dalam wawancara berikut ini,

“Kalau kesempatan sudah sama jadi tidak masalah menurut saya untuk kesempatan itu, hanya ketika saat implementasi, suara-suara perempuan itu yang belum, tidak banyak didengarkan dan diakomodasi secara penuh...”.

Dalam pengambilan keputusan suara perempuan seringkali masih terabaikan. Hal ini tidak saja karena secara kuantitatif untuk posisi manjerial jumlah perempuan masih menjadi minoritas, situasi ini juga karena laki-laki cenderung ingin mendominasi perempuan dengan tidak mengakui pendapat atau ide perempuan. Seperti yang dinyatakan dalam wawancara berikut ini,

(13)

Tingkat Partisipasi Perempuan

Fokus utama dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana peran serta perempuan terutama para praktisi perempuan yang bergerak pada produksi program televisi nasional. Adapun konsep peran serta perempuan dalam penelitian ini diukur melalui tingkat partisipasi perempuan dalam sebuah arena yang bersifat publik yang berhubungan dan/atau dapat mempengaruhi pembuat kebijakan.

Tabel 3. Tingkat Partisipasi Perempuan

rendah sedang tinggi

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%

1.10% 4.50%

94.30%

Tingkat Partisipasi Perempuan

Tingkat Partisipasi Perempuan

Tingginya partisipasi perempuan dalam produksi program televisi ini ditunjukkan melalui keinginan dan harapan dalam mengembangkan diri dan keinginan dalam memenuhi tanggung jawab. Sayangnya, seperti yang dijelaskan dalam wawancara mendalam tingginya tingkat partisipasi tersebut baru berada pada level afektif dan kognitif atau pengetahuan dan sikap dalam tataran behavioral atau perilaku industri televisi kerapkali masih mendiskriminasikan perempuan, khususnya dalam pengambilan keputusan.

(14)

secara kuantitaf jumlah perempuan jauh lebih sedikit, dalam pengambilan kebijakan suara perempuan juga kerap termarginalkan dan tidak didengar. Berdasarkan pada kenyataan di atas berikut adalah hal-hal yang bisa kita lakukan bersama, baik oleh perempuan, industri televisi maupun pemerintah.

“Pertama, sudah ada aturan tertulis dari pemerintah, kalau diperlukan sekian persen dari pekerja di media itu perempuan...alasan-alasannya kan banyak karena perempuan itu masih bisa menjaga konten, itu secara idealistik bagi kepentingan negeri ini atau apa. Kedua, setelah perempuan masuk dalam tataran manajerial atau whateverlah, didiklah jangan dibiarkan seperti itu, kasih semacam induksi-induksi yang berkaitan dengan apa yang diperlukan di televisi...ada induksi bagaimana perempuan berkiprah di media...ada motivasi untuk lebih berkarya lagi.”

Ini artinya untuk mendorong partisipasi perempuan dalam produksi program televisi secara hakiki, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas penting bagi pemerindah dan industri media untuk menerapkan sistim kuota senyampang demokrasi masih belum bisa diimplementasikan. Selanjutnya, induksi untuk meningkatkan kemampuan penguasaan pekerjaan dan kepedulian dan pengetahuan akan isu-isu perempuan penting untuk dilakukan. Dengan kedua cara tersebut tidak saja suara perempuan dapat terakomodir tetapi representasi perempuan juga dapat diperbaiki.

V. Diskusi

(15)

Situasi tersebut terjadi karena tingginya partisipasi perempuan dalam produksi program televisi sebagaimana yang ditunjukkan dalam hasil survey hanya menggambarkan aspek afektif dan kognitif perempuan terkait dengan keinginan dan harapan mereka untuk mengembangkan diri dan kenginan untuk memenuhi tanggung jawab. Dari hasil wawancara yang dimaksudkan untuk menggali data survey diketahui bahwa dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan masih kerap terjadi dalam bidang pekerjaan ini. Situasi ini umumnya terjadi pada level manajerial atau pengambilan kebijakan, dimana perempuan masih menjadi minoritas. Situasi yang lebih baik justru terjadi pada tataran operasional, disini tidak saja perempuan relatif mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki tetapi secara kuantitatif jumlah perempuan dan laki-laki juga sudah berimbang.

Ini artinya perempuan dalam industri televisi tidak teridentifikasi sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan-keputusan tentang program acara. Media selama ini banyak dituding sebagai antek malestream (Griffin, 2006). Bahasa media adalah bahasa laki-laki yang perlu untuk diterjemahkan dalam bahasa perempuan. Oleh karena ketidakmampuan perempuan mentransformasikan pembicaraaan yang setara, laki-laki membangun struktur dalam masyarakat, dimana perempuan bekerja dalam struktur yang dibangun laki-laki tersebut. Jika media dikuasai oleh laki-laki dan cenderung melegitimasi posisi perempuan dalam peran-peran domestik melalui program-program acara yang ditayangkan, walhasil masyarakat pun akan menciptakan kebenaran intersubyektif akan posisi perempuan tersebut. Bahkan tidak jarang, fakta tersebut diwariskan dan disosialisasikan terus–menerus sehingga menciptakan ketimpangan gender yang terstruktur.

(16)

program acara perempuan atau justru tingginya jumlah program acara yang menempatkan perempuan sebagai obyek, merupakan indikasi utama praktek diskriminasi dan posisi gender yang tidak setara.

Padahal menurut Habermas, di dalam model liberal ruang publik, media massa memainkan peranan penting dalam menginformasikan dan memandu opini publik, terutama sejak masyarakat secara simultan mulai menghilangkan batas-batas gender/kelas/ras (Papacharissi, 2010). Deliberasi hubungan publik dalam ruang publik media menjadi tertunda karena media seringkali membingkai isu-isu yang memang menjadi prioritas, ketimbang mendorong terjadinya deliberasi rasional masyarakat (Papacharissi, 2010). Dengan demikian, media yang awalnya diharapkan mendorong deliberasi karena terhapusnya berbagai batasan dalam masyarakat (laki-laki dan perempuan), justru terkalahkan dengan kepentingan komersial yang sayangnya masih memuat kepentingan laki-laki sebagai pembentuk struktur --jika meminjam istilah Kramarae di atas.

Isu-isu yang tidak penting dan tidak mengakomodir kepentingan pemilik kuasa menjadi terpinggirkan dan diubah dalam bentuk-bentuk program acara yang semakin ‘mendiamkan’ dan memarjinalisasi kelompok perempuan. Sebut saja program acara sinetron berseri panjang yang targetnya adalah perempuan, yang membuat isu perempuan semakin ‘ridicule´ dan di bawah kontrol laki-laki.

DAFTAR PUSTAKA

Bernard, A. (1995). Experiecing problems the relationship between women’s studies and feminist theory. Women’s Studies International Forum.

Fergamon.

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. (2007). Pengembangan ekonomi

kreatif Indonesia 2025. Rencana pengembangan ekonomi kreatif Indonesia

2009-2015.

Deming, Caren J & Becker, Samuel L. (1988). Media and society; reading in mass communication.

Fabregat, A. A. (2000). Personality and curiosity about TV and Film violence in adolescents. Journal of Personality and Individual Differences 29: 379-392. Pergamon.

(17)

Freeman, M. L. & Valentine, D. P. (2004). Through the eyes of Hollywood; images of social workers in film. Journal of Social Work 49 (2). p. 151-161. Health & Medical Complete.

Gash, H. & Conway, P. (1997). Images of heroes and heroines: how stable.

Journal of Applied Developmental Psychology 18: 349-372.

Griffin, E. M. (2006). A Firts Look of Communication Theory 6th Edition.

Singapore: McGrawHill.

Kim, K. & Lowry, D. T. (2005). Television commercials as a lagging social indicator: gender role stereotypes in Korean Television Advertising. Sex

Roles (Spring) 53: 901-910. Science and Business Media.

Kirca, S. (2001). Turkish women’s magazine; the popular meets the political.

Women’s Studies International Forum 24 (314): 457-468. Pergamon.

Lombardo, M. V. (2007). Contested Gender Equality and Policy Variety in Europe: Introducing a Critical Frame Analysis Approach. In M. Verloo,

Multiple Meanings of Gender Equality, A Critical Frame Analysis of

Gender Policies in Europe (p. 18). Budapest: Central European University

Press.

Leon, K. & Angst, E. (2005). Portrayal of step families in film: using media images in remarriage education. Journal of Family Relations 54 (1): 3-23. ProQuest Education Journals.

Lindsey, L. L. (1990). Gender roles a sociological perspective. New Jersey. Prentice Hall, Englewood Cliffts.

Luviana. (2010). Perempuan dan cerita (kuasa televisi). Jurnal Perempuan Untuk Pencerahan dan kesetaraan

Mckee, A. (2005). The objectification of women in mainstream pornographic videos in Australia. The Jornal of Sex Research 42: 277-290. Queensland University of Technology.

Milburn, M. A, Mather, R. & Conrad, S. D. (2000). The effect of viewing R-rated movie scenes that objectify women on perceptions of date rape. Journal of

Sex Roles 43: 645-664. ProQuest Education Journals.

Nelmes, J. (2007). Gender and film. In Nelmes, J (ed). Introduction to film studies 4th edition, pp. 221-273. New York. Roudledge.

Nielsen Media Research. (2005). Konsumsi Media Massa di Indonesia.

Papacharissi, Z. A. (2010). Digital Media and Society. USA: Polity.

Poerwandari, E. K. (1995). Aspirasi Perempuan Bekerja dan Aktualisasinya. In T. O. Ihromi, Kajian Wanita dalam Pembangunan (p. 315). Jakarta: Yayasan Obor.

Ramasubramanian, S & Oliver, M. B. (2003). Portrayals of sexual violence in popular Hindi film 1997-1999. Sex Roles 48: 327-336. ProQuest Education Journals.

Suyanto, I. (1995). Peranana Sosialisasi Politik Terhadap Partisipasi Politik Perempuan. In T. O. Ihromi, Kajian Wanita Dalam Pembangunan (p. 491). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

(18)

Sommer. E, Tara. M, Triplett. L. (2005). The impact of Film Manipulation on men’s and women’s attitudes toward momen and film editing. Sex Roles.

Van Zoonen, Lisbeth. (1994). Feminist media studies. Sage Publications.

Wooden, S. R. (2003). “You even forget yourself” the cinematic construction of anorexic women in the 1990s Austen film. Journal of Popular Culture 221-235. EBSCO Publishing.

Yang, Yin. (2008). “Representasi Perempuan Dalam Majalah Wanita”. Jurnal

Gambar

Tabel 1. Level Jabatan
Tabel 3. Tingkat Partisipasi Perempuan

Referensi

Dokumen terkait

Di Jakarta Timur, terdapat pesantren yang padat penghuni dan santrinya banyak yang mengeluh kudisan sehingga sering sakit. Untuk mengetahui apakah keluhan tersebut adalah

En el primer caso, se opina que se está ante variantes 150 de una misma locución (fenómeno que, como se ha dicho previamente, el diccionario identifica

Ni- lai ini menunjukkan bahwa hubungan an- tar fekunditas dengan panjang tubuh cu- kup erat, sebab nilai koefisien korelasi men- capai 0,73 atau mendekati 1, meskipun ha- nya 54,8%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran konflik intelektual berdampak pada aspek kognitif mengenai permasalahan pengembangan emosional

Melihat fenomena praktik qardh(utang-piutang) seperti ini penulis tertarik untuk menelitinya yang mengacu pada pokok masalah, yaitu: bagaimana analisis hukum Islam terhadap

Dengan menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (research & development), pada penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu produk baru atau

Himpunan fuzzy memberikan nilai keanggotaan antara 0 dan 1 yang menggambarkan secara lebih alami sebuah kumpulan anggota dengan himpunan, Sebagai contoh, jika seorang berumur

Tingginya bakteri probiotik dalam pakan tidak dapat memberikan hasil yang optimal dalam kelangsungan hidup ikan yang dikarenakan proporsi jumlah koloni bakteri