• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: SITI MUTHI AH ISLAMI RODJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: SITI MUTHI AH ISLAMI RODJA"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

i

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN FIKIH MELALUI PENDEKATAN BLENDED LEARNING PESERTA DIDIK DI MTS

MUHAMMADIYAH WURING KABUPATEN SIKKA PROVINSI NUSA

TENGGARA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas

Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

SITI MUTHI’AH ISLAMI RODJA 105191105017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1442 H/2021 M

(2)

ii

BLENDED LEARNING PESERTA DIDIK DI MTS MUHAMMADIYAH WURING KABUPATEN

SIKKA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas

Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

SITI MUTHI’AH ISLAMI RODJA 105191105017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1442 H/2021 M

(3)
(4)
(5)
(6)

vi Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Siti Muthi‟ah Islami Rodja NIM : 105191105017

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Agama Islam

Kelas : B

Dengan ini menyatakan hal sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun)

2. Saya tidak melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam menyusun skripsi 3. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3

saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran

Makassar, 09 Dzulkaidah 1442 H 18 Juni 2021 M

Yang Membuat Pernyataan

Siti Muthi‟ah Islami Rodja NIM:105191105017

(7)

vii

Siti Mutiah Islami Rodja (105191105017). 2021. Efektivitas

Pembelajaran Fikih Melalui Pendekatan Blended Learning Peserta Didik di MTs Muhammadiyah Wuring Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Skripsi Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam.

Dibimbing oleh Rajiah Rusdy dan Rahmi Dewanti Palangkey.

Tujuan dari penelitian ini yaitu: untuk mengetahui penerapan pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs MuhammadiyahWuring Kab. Sikka, untuk mengetahui efektivitas pendekatan

Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring

Kab. Sikka, untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pendekatan

Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah wuring

Kab. Sikka.

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian adalah Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran Fikih dan Peserta Didik. Instrument penelitian yang digunakan yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara dan catatan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik reduksi kata, penyajian data dan verifikasi data.

Hasil penelitian dapat dirangkum sebagai berikut:

Dalam pembelajaran fikih, penerapan pendekatan Bleded learning pada pembelajaran fikih dilaksanakan dengan mengkombinasikan antara sistem e-learning dan sistem konvesional pada pembelajaran fikih demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Efektivitas blended learning pada pembelajaran fikih belum sepenuhnya efektif, karena sebagian besar peserta didik belum memahami terkait dengan model blended learning pada pembelajaran fikih, dan pada saat pembelajaran masih ada yang tidak aktif pada saat dimulainya pembelajaran.

Adapun faktor pendukung dan penghambat yaitu faktor pendukung, pertama) Tersedianya fitur e-learning sebagai sarana pembelajaran online, Kedua) Pihak sekolah menyediakan wifi/jaringan internet untuk memudahkan pendidik dan peserta didik jika sewaktu-waktu ada pembelajaran online ketika sedang di sekolah. Kemudian faktor penghambat. Pertama) Akses yang tidak lancar, jaringan yang tidak stabil, serta akses

e-learning yang lambat, Kedua) Kuota Internet sangat dibutuhkan pada saat

pembelajaran online, tanpa adanya kuota internet maka jaringan tidak dapat terhubung dengan media pembelajaran. Ketiga) Faktor ekonomi keluarga juga mempengaruhi pembelajaran blended learning.

(8)

viii

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai dengan selesainya penulisan Skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Fikih Melalui Pendekatan Blended Learning Peserta Didik di MTs Muhammadiyah Wuring Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur”.

Penulisan Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dengan selesainya penulisan Skripsi ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua Ayahanda Ali Rodja dan Ibunda Siti Mastura yang tidak henti-hentinya memberi motivasi, perhatian, kasih sayang , dan doa yang tulus tanpa pamrih. Begitu juga kepada kakak Arkam, kakak Syukran, dan keponakan tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat kepada penulis hingga akhir studi ini. Dan kepada seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah diberikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Karena itu ucapan

(9)

ix dengan hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Dr. Amirah Mawardi S.Ag M.Si. Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhmmadiyah Makassar.

3. Ibu Nurhidaya M. S.Pd.I., M.Pd.I selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar. 4. Ibu Dra. St. Rajiah Rusydi, M.Pd.I, selaku Pembimbing I yang

senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga Skripsi selesai dengan baik.

5. Ibu Dr. Hj. Rahmi Dewanti Lc., MA, selaku Pembimbing II yang telah memberikan semangat dan berkenan membantu penulis selama penyusunan Skripsi hingga ujian Skripsi.

6. Bapak/Ibu dan Asisten Dosen Fakultas Agama Islam Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

7. Segenap staff dan karyawan Fakultas Agama Islam Muhammadiyah Makassar.

8. Bapak Mohammad Fitri S.E selaku kepala sekolah MTs Muhammadiyah Wuring yang telah memberikan izin penelitian

9. Bapak/Ibu guru beserta seluruh staf di MTs Muhammadiyah Wuirng 10. Peserta Didik MTs Muhammadiyah Wuring

(10)

x

selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dalam aktvitas studi penulis.

12. Terima kasih kepada semua kerabat yang tidak bisa penulis tuliskan satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran. Motivasi dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulis skripsi ini.

Akhirnya, Sungguh penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan Skripsi ini. Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhmmadiyah Makassar.

Billahi fii Sabilil Haq. Fastabiqul Khairat, Wassamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar , Juni 2021 Penulis

(11)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv

PENGESAHAN SKRIPSI ... .v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 8

A. Konsep Pembelajaran Fikih ... 8

1. pengertian Pembelajaran Fikih ... 8

2.sumber Pembelajaran Fikih ... 12

3.metode Pembelajaran Fikih ... 17

4. Fungsi dan ruang lingkup fikih ... 24

B. Pendekatan Blended Learning ... 26

1. Pengertian Blended Learning ... 26

2. Komponen Blended Learning ... 29

3. Pelaksanaan Blended Learning di Dunia Pendidikan ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

A. Desain Penelitian ... 41

1. Jenis Penelitian ... 41

2. Pendekatan Penelitian ... 41

B. Lokasi Dan Objek Penelitian ... 41

C. Fokus Penelitian ... 42

D. Deskripsi Fokus Penelitian ... 42

E. Sumber Data ... 43

F. Instrument Penelitian ... 44

G. Teknik Pengumpulan Data ... 45

H.Teknik Analisis Data ... 46

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

(12)

ix

1. Profil Sekolah ... 51

2. Sejarah Sekolah ... 51

3. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah ... 53

4. Keadaan Guru ... 54

5. Keadaan Peserta Didik... 57

6. Sarana dan Prasarana ... 58

B. Hasil dan Pembahasan ... 60

1. Penerapan Pendekatan Blended Learning Pada pembelajaran Fikih di MTs Muhammadiyah Wuring ... 60

2. Efektivitas Pendekatan Blended Learning Pada Pembelajaran Fikih di MTs Muhammadiyah Wuring ... 67

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendekatan Blended learning Pada Pembelajaran Fikih ... 71

BAB V PENUTUP ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 79

DAFTAR RIWATAT HIDUP ... 82 LAMPIRAN………..

(13)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data Guru dan Karyawan MTs Muhammadiyah Wuring ... 54 Tabel 4.2 Data Peserta Didik MTs Muhammadiyah Wuring Tahun ajaran

2020/2021 ... 57 Tabel 4.3 Data Sarana dan Prasarana MTs Muhammadiyah Wuring ... 58

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang memiliki syariat untuk dijalankan oleh manusia sebagai bentuk penghambaan manusia kepada Allah swt, yang tercermin dari perintah melaksanakan Ibadah dan Khalifah di atas bumi. Syariat tersebut membutuhkan pengetahuan, pengembangan dan pembinaan.

Pembinaan dan pengembangan yang dimaksud adalah menempuh pendidikan Islam. Sebagai pendidikan Islam merupakan jalan untuk menanamkan ajaran-ajaran Islam yang berisi tata hidup yang diturunkan Allah kepada manusia.

Hakikat pendidikan Islam pada prinsipnya adalah untuk mengarahkan dan mengembangkan peserta didik supaya menjadi manusia dewasa sesuai tujuan pendidikan Islam.1 Hal ini dapat ditemukan dalam firman Allah swt Q.S An-Nahl (16):78:

ُطُب ٍِّۡۢۡي ۡىُكَجَس ۡخَا ُ هّاللَّو

ُىُكـَن َمَعَج َّو ۙ أً ـــۡيَش ٌَ ۡىًَُه ۡعَت َلَ ۡىُكِتههَّيُا ٌِ ۡى

َةَدِ ـۡفَ ۡلَاَو َس هصۡبَ ۡلَاَو َع ًَّۡسنا

ۙ

ٌَ ۡوُسُك َۡۡت ۡىُكَّهَعَن

Terjemahnya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."2

1 Nur uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam(IPI) (Bandung:CV, Pustaka setia, 1997), h. 10. 2 Kementrian Agama RI, Alquran dan Terjemahan ( Cet-1; Jakarta: Lautan Lestari, 2014),

(15)

Dari ayat diatas sangat jelas bahwa sejak manusia lahir sudah diberikan keistimewaan oleh Allah swt, untuk memulai belajar dalam upaya mengembangkan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Menurut Endang Saifudin Anshari sebagaimana dalam AzyumardiAzra: Pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntutan, dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, dan sebagainya). dan raga obyek didik dengan bahan-bahan meteri tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu, dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.3

Adapun tujuan pendidikan Islam menurut H.M. Arifin adalah: Mengembangkan pola kepribadian manusia yang bulat yang mencakup semua aspek baik aspek jasmaniah, spiritual, intelektual, ilmiah maupun bahasa yang diperlukan untuk hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Dan pendidikan Islam mendorong agar semua aspek dapat berkembang secara maksimal guna mencapai kesempurnaan hidup. Adapun tujuan akhir pendidikan Islam adalah terbentuknya sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia secara keseluruhan. Hal itu sejalan dengan ikrar setiap muslim dalam awal shalatnya sebagaimana yang diajarkan oleh Allah swt yang artinya : “sesungguhnya shalatku dan ibadahku dan hidup serta matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.”4

3 Endang Saifudin Anshari, Azumardy Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi

Menuju Milenium Baru,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2003), Cet. 5, h. 6

(16)

Salah satu usaha atau cara untuk membentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah guna mencapai kesempurnaan hidup yaitu melalui pendidikan Agama. Pendidikan Agama merupakan salah satu bidang studi yang diharapkan dapat memberikan peranan dalam usaha menumbuhkembangkan sikap beragama peserta didik. Sikap dan kemampuan peserta didik dalam memahami dan menjalankan tuntunan agama dengan benar merupakan cerminan dari keberhasilan guru agama di sekolah dalam mengajarkan ajaran agama melalui usaha pendidikannya. Salah satu bidang studi yang masuk dalam pendidikan agama adalah fikih.

Secara umum fikih merupakan salah satu bidang studi agama yang banyak membahas tentang hukum-hukum yang mengatur pola hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.5 Fikih diharapkan dapat menjadi alat kontrol bagi peserta didik dalam mengarungi kehidupannya, sehingga tercapai tatanan kehidupan yang harmonis. Dan dengan materi fikih diharapakan aktifitas peserta didik tidak keluar dari norma-norma agama yang bertujuan membina perilaku dan kepribadian peserta didik secara normatif. Tentunya harapan- harapan yang ingin dicapai dari pengajaran fikih ini harus didukung oleh proses belajar mengajar yang efektif dan dapat mempermudah pemahaman peserta didik terhadap bidang studi fikih itu sendiri.

Berkaitan dengan ini, guru mengemban tugas dan tanggung jawab yang sangat berat untuk mengantarkan peserta didik pada arah dan tujuan yang telah ditentukan. Sebagai pendidik guru harus mampu memilih pendekatan strategi

(17)

pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik dalam pembelajaran yang ada di sekolah. Dari sudut pandang strategi pembelajaran, dunia pendidikan saat ini sedang terganggu dengan mengguncangnya wabah Virus Corona. Hal ini berdampak pada semua lini kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, perekonomian, sosial, kesehatan, dan keamanan, yang memunculkan rasa takut bagi manusia. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengeluarkan protokol kesehatan dalam bentuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman untuk mencegah penyebaran virus. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan untuk bidang pendidikan, yaitu pelarangan untuk sementara waktu pembelajaran secara tatap muka. Sebagai gantinya dianjurkan menggunakan metode online dalam pembelajaran. Beberapa sekolah mulai dari tingkat terendah hingga tingkat Universitas menggunakan metode Blended Learning untuk pembelajaran, termasuk di MTs Muhammadiyah Wuring.

Blended Learning adalah mengacu pada pembelajaran yang mengombinasi

atau mencampur antara pembelajaran tata muka dan pembelajaran berbasis komputer (online dan offline). Metode pembelajaran Blended Learning digunakan untuk semua mata pelajaran, tidak terkecuali mata pelajaran fikih. Pembelajaran fikih masih terdapat permasalahan pada proses pembelajaran karena kondisi peserta didik yang kurang memahami konsep fikih seperti sholat, puasa, dan berkaitan dengan ibadah lainnya. Dengan adanya pendekatan Blended Learning diharapkan peserta didik dapat memahami dan menerapkan pembelajaran fikih di kehidupan sehari-hari dan dapat meningkatkan pemahaman dalam pembelajaran

(18)

menggunkan media teknologi, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik dan efesien.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Fikih melalui Pendekatan

Blended Leraning Peserta Didik di MTs Muhammadiyah Wuring Kabupaten

Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur” guna untuk mengetahui pengaruh metode tersebut dalam mengatasi degradasi ilmu pengetahuan peserta didik dilingkungan sekolah tersebut yang juga dapat diterapkan di sekolah yang lainnya. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab. Sikka?

2. Bagaimana efektivitas pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab. Sikka?

3. Apa faktor pendukung dan pengahambat pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab. Sikka?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penerapan pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab. Sikka.

(19)

2. Untuk mengetahui efektivitas pendekatan Blended Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab. Sikka.

3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pendekatan Blended

Learning pada pembelajaran fikih di MTs Muhammadiyah Wuring Kab.

Sikka.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini terdiri atas manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dalam menambah pengetahuan di bidang pendidikan, khususnya penggunaan pendekatan Blended

Learning pada pembelajaran fikih.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut : a. Bagi Peserta Didik

Melalui penelitian ini peserta didik dapat menggunakan dan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar khususnya dalam pembelajaran fikih. Dengan demikian pengetahuan peserta didik menjadi semakin luas dan sumber belajar tidak terpaku pada buku teks saja. Peserta didik tidak hanya belajar secara konvesional tetapi juga peserta didik diajak menggunakan fasilitas internet.

(20)

b. Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengalaman langsung tentang pendekatan

Blended Learning pada pembelajaran, dan dapat dijadikan salah satu

alternatif pembelajaran ketika peneliti menjadi guru. c. Bagi Guru

Dapat menambah pengetahuan serta keterampilan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman peserta didik.

d. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dalam meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran fikih di sekolah.

(21)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Pembelajaran Fikih

1. Pengertian Pembelajaran Fikih a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instructional. Pembelajaran berpijak pada psikologi kognitif holistik yang selanjutnya diikuti pandangan konstruktif, humanistik dan seterusnya. Pembelajaran juga dipengaruhi adanya perkembangan teknologi, bahwa belajar dapat dipermudah melalui berbagai sumber belajar selain guru/dosen, sehingga mengubah peran guru dalam pembelajaran.6

Pembelajaran dalam konteks ini adalah suatu disiplin yang menaruh perhatian pada upaya untuk meningkatkan dan memperbaiki proses belajar. Sasaran utamanya adalah mempreskripsikan strategi yang optimal untuk mendorong prakarsa dan memudahkan belajar. Pembelajaran adalah upaya menata lingkungan eksternal atau memfasilitasi agar terjadinya belajar pada peserta didik. Upaya menata lingkungan dilakukan melalui penyediaan sumber-sumber belajar. 7 b. Pengertian Fikih

Secara etimologi, fikih berasal dari kata faqqaha yufaqqhihu fiqhan yang berarti pemahaman. Pemahaman sebagaimana dimaksud di sini adalah

6 Karwono, Belajar dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar, ( Cet-1 ;

Depok : PT RajaGrafindo Persada, 2017), h. 8.

7 Wasis D. Dwiyogo, Pembelajaran Berbasis Blended Learning( Cet-1 ; Depok : PT

RajaGrafindo Persada, 2018), h.47.

(22)

pemahaman tentang agama Islam. Dengan demikian, fikih menunjuk pada arti memahami agama Islam secara utuh dan komperhensif. Kata fikih yang secara bahasa berarti pemahaman yang terambil dari firman Allah Swt dalam Q.S. Hud (11): 91:

َق

أًفۡيِعَض اَُۡيِف َكٮ هسَُـَن اََِّاَو ُل ۡىُقَت اًَِّّي أًسۡيِثَك ُهَقۡفََ اَي ُبۡيَعُۡهي ا ۡىُنا

ۚ

َلَ ۡىَنَو

َكهُ ًَۡجَسَن َكُطۡهَز

زۡيِزَعِب اَُۡيَهَع َتََۡا ۤاَيَو

Terjemahnya :

“ Mereka berkata: “ Hai Syu‟aib, Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya Kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara Kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah Kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi Kami.”

Secara istilah, fikih adalah:

تيهيصفتنا اهتندأ ٍي بستكًنا تيهًعنا تيعسۡنا واكحلأاب ىهعنا

Artinya :

“ Ilmu tentang hukum-hukum Syar‟I yang bersifat amali yang digali dari dalil-dalil yang terperinci.”

firman Allah Swt dalam Q.S. At-Taubah (9): 122

ًٔتَّفٓاَك ا ۡوُسِفَُۡيِن ٌَ ۡىُُِي ۡؤًُۡنا ٌَاَك اَيَو

ؕ

تَفِ ٮٓاََ ۡىُهُِّۡي تَق ۡسِف ِّمُك ٍِۡي َسَفََ َلَ ۡىَهَف

ۡوُزِرُُۡيِن َو ٍِۡيِّدنا ىِف ا ۡىُهَّقَفَتـَيِّن

ٌَ ۡوُزَر ۡحَي ۡىُهَّهَعَن ۡىِهۡيَنِا ا ۤۡىُعَجَزاَذِا ۡىُهَي ۡىَق ا

Terjemahnya :

(23)

“ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya ( ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”8

Kemudian dalam Hadits Rasulullah saw bersabda:

ٌايفس يبأ ٍب تيواعي ٍع

-هُع اللّ يضز

-لىسز لاق :لاق

اللّ

-ٍيدنا يف ُهْهِّقَفُي

اسيخ هب اللّ ِدِسُي ٍي« :-ىهسو هيهع اللّ ىهص

».

Artinya:

Dari Muaz bin Abi Sofyan Radiallahu „anhu berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, niscaya ia akan dipahamkan tentang urusan agamanya. ( HR. Bukhari dan Muslim).9

Melalui penjelasan di atas, kata fikih diawali pendefinisiannya dengan kata ilmu (pengetahuan), maka faham (sebagai makna dasarnya) tidak dapat dimaksudkan dengan sesuatu yang bersifat lumrah semata, akan tetapi ia harus melalui pemahaman yang mendalam. Oleh karenanya, jika seseorang yang mengetahui bahwa api itu panas, es itu dingin, bukan berarti ia telah menjadi seorang faqih atau orang yang faham. Karena seorang faqih harus memiliki seperangkat pengetahuan dan keahlian untuk memahami hal-hal yang berkaitan

8 Ibid, h. 206

9 Arief Budiman, Lc. “ Standar Kebaikan Seseorang disisi Allah”, diakses dari

https://muslim.or.id/27492-standar-kebaikan-seseorang-di-sisi-allah.html pada tanggal 20 Juni 2021

(24)

dengan masalah fikih yang sulit. Adapun di dalam Al-Qur‟an, Allah menggunakan kata fikih dalam pengertian “memahami” secara umum sebanyak 20 kali. Ungkapan al-Qur‟an (agar mereka melakukan pemahaman dalam agama), menunjukkan bahwa di masa Rasul istilah fikih tidak hanya digunakan dalam pengertian hukum saja, tetapi mempunyai arti yang lebih luas mencakup semua aspek kehidupan dalam islam, baik teologi, ekonomi, maupun hukum. Dengan menganalisa definisi-definisi di atas maka Abd. Rahman Dahlan di dalam buku ushul fiqh-nya menyimpulkan bahwa hakikat dari fikih pada 4 (Empat) bagian : a. Fikih adalah seperangkat ketentuan hukum-hukum syara‟ yang berasal dari

Allah swt melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Dengan demikian, hukum akal (logika), hukum kebiasaan (al‟-adat), hukum kausalitas, dan hukum-hukum lainnya yang murni berasal dari hasil pemikiran manusia, tidak termasuk ke dalam pengertian dan pembahasan fikih. b. Fikih berkaitan dengan perbuatan manusia. Artinya, masalah-masalah yang

tidak termasuk dalam kategori perbuatan manusia, tidak termasuk dalam pembahasan fikih. Misalnya yang berkaitan dengan keimanan dan kepercayaan, masalah ini dibahas dalam ilmu kalam atau ilmu tauhid. Demikian juga dengan masalah-masalah akhlak yang dibahas dalam ilmu akhlak

c. Hukum-hukum fikih itu sendiri didapat melalui usaha penelitian sungguh-sungguh yang dilakukan mutjahid untuk menggali dan memahami nushuh (teks-teks) syara‟, baik Al-Qur‟an maupun hadits, sehingga mutjahid tersebut dapat mengetahui bahwa hukum dari suatu perbuatan tertentu sesuai dengan yang ditetapkan Allah swt. Dalam konteks ini, pada hakikatnya tingkat kepastian hukum fikih tidaklah bersifat mutlak benar dan pasti (qath‟i atau absolute), dalam arti seratus persen benar, melainkan bersifat kuat dugaan (zhanni atau relative). Hal ini mengingat bahwa dalam penetapan hukum-hukum tersebut terdapat keterlibatan manusia untuk memahami dan menggali hukum-hukum fikih tersebut melalui kegiatan ijtihad, sedangkan manusia itu sendiri memiliki berbagai keterbatasan untuk menemukan kebenaran yang bersifat pasti.

(25)

d. Hukum yang pasti benar hanyalah yang secara jelas dan langsung berasal dari Allah swt. Oleh karena itu, menurut ilmu ushul fikih, ketentuan hukum tentang kewajiban shatlat 5 (lima) waktu, puasa di bulan Ramadhan, zakat, dan haji, atau tentang haramnya membunuh tanpa alasan yang sah, memakan babi, mencuri, berzina, dan meminum minuman keras, tidak termasuk dalam kategori fikih, karena tingkat kebenaran ketentuan-ketentuan hukum tersebut bersifat jelas dan pasti. Karena sifat tegas dan jelasnya nash-nash yang berkaitan dengan masalah-masalah di atas, maka untuk mengetahui hukum-hukum tersebut, tidak diperlukan upaya penelitian dan pemahaman yang mendalam terhadap nash al-Qur‟an dan hadits. Dengan kata lain, untuk mengetahui hal-hal tersebut tidak memerluka ijtihad.10

Menurut Amir Syarifuddin secara ringkas mendefinisikan bahwa fikih itu adalah, dugaan kuat yang dicapai seorang mujtahid dalam usahanya menemukan hukum Allah.11

2. Sumber Pembelajaran Fikih

Sumber dari Fikih adalah Kitabullah dan Sunnah Nabi yang diolah sedemikian rupa melalui kerja keras (ijtihad) para ulama mujtahidin. Setiap hukum dari satu perbuatan, apakah wajib ataupun sunnah, harus berlandaskan pada al-Qur‟an dan sunnah Nabi Muhammad saw. Tidak semua ayat Qur‟an atau hadits dapat dijadikan hukum dalam fikih, hanya ayat-ayat tertentu saja yang berkaitan dengan masalah perbuatan manusia. Ayat-ayat lain, walau tidak menjadi

10 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh, ( Cet-2; Jakarta: Amzah, 2011), h. 21.

11Ahmad Rajafi, Nalar Fiqih Quraish Shihab ( Cet- 2; Yogyakarta: Istana Publishing,

(26)

sumber fikih, ia berfungsi sebagai landasan filosofis bagi ayat-ayat hukum dan menjadi penopang kekuatannya.12

a. Al-Qur‟an

Al Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Menurut ulama Ushul Al-qur‟an adalah, “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang ditulis dalam mushhaf, berbahasa arab, dinukilkan kepada kita dengan jalan mutawatir, diawali dari surat Al-Fatihah, diakhiri dengan surat An-Nas dan membacanya merupakan ibadah.

Al Quran menjelaskan rambu-rambu masalah akidah dengan secara rinci, namun masalah ibadah dan hak-hak antar sesama dijelaskan dengan cara garis besar. Dalam syariat Islam Alquran adalah undang-undang atau sumber hukum dalam menetapkan aturan ibadah dan sosial. Ia sebagai tuntunan bagi Nabi saw dan pengikutnya. Karenanya, ia merupakan sumber utama dan pertama. Banyak hukum mengenai ibadah dalam Alquran disebutkan secara garis besar seperti hukum-hukum shalat, puasa, zakat, namun tidak dijelaskan secara terperinci cara melakukan shalat atau kadar yang dikeluarkan dalam zakat. Penjelasan rinci mengenai hal-hal tersebut terdapat dalam Sunnah baik dengan perkataan atau perbuatan Rasulullah saw.

12 Lukman Zain MS, Pembelajaran Fikih, (Cet-2; Jakarta Pusat: Direktorak Jenderal

(27)

Demikian halnya dengan perintah Alquran untuk memenuhi perjanjian dan akad serta halalnya jual beli dan haram riba disebutkan secara garis besar. Dalam Alquran tidak dijelaskan secara terperinci akad dan traksaksi jual beli yang sah dan dibenarkan atau yang tidak dibenarkan oleh syariat. Namun dalam beberapa hal, Alquran memberikan penjelasan terperinci seperti masalah warisan, mekanisme Li‟an (suami yang menuduh istrinya melakukan zina tanpa bukti yang cukup), sebagian hukuman hudud, perempuan yang haram dinikahi, dan beberapa hukum lainnya yang tidak berubah sepanjang zaman. Penguraian secara garis besar, terutama dalam masalah hukum-hukum muamalat sosial, sistem politik yang membantu dalam memahami dan mempraktekkan pada situasi yang berbeda, dengan tetap berpegang dengan pemahanan yang benar. Penguraian garis besar juga menegaskan bahwa Alquran dirinci oleh Rasulullah saw. dalam menentukan mekanisme hukum, kadarnya, dan batasannya.

b. As Sunnah

Menurut ulama hadits, Sunnah adalah, “Apa-apa yang datang dari Nabi saw. berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat-sifat beliau baik sifat jasmani ataupun sifat rohani (akhlak). Sunnah merupakan sumber syariat Islam setelah Alquran. Sunnah berfungsi merinci garis besar Alquran, menjelaskan yang musykil, membatasi yang muthlak, dan memberikan penjelasan hukum yang masih samar dalam Alquran. Sunnah juga merupakan sumber hukum independent

(28)

(mustaqil) yang tidak ada hukumnya dalam Alquran seperti warisan untuk nenek yang dalam sunnah disebutkan mendapatkan warisan 1/6 dari harta warisan. Namun demikian Sunnah mengikut Alquran sebagai penjelas sehingga sunnah tidak akan keluar dari kaidah-kaidah umum dalam Alquran. Maka memahami Sunnah secara umum merupakan suatu keharusan untuk memahami Alquran dengan benar sebab jika tidak ada sunnah alquran , maka kitab suci tidak mungkin dapat dipahami dan dipraktikkan dengan benar.

Sunnah sampai ke generasi saat ini melalui jalan periwayatan yang berantai hingga ke Rasulullah saw. Meski masa kenabian sudah usai, namun krediblititas agama dan moral para perawi (pembawa hadis) tidak diragukan karena sudah melalaui seleksi ketat oleh para ahli hadis, sehingga keotentikan hadis dan kebenarannya sudah melalui pembuktian yang ketat. Hadis shahih dan hasan saja yang bisa dijadikan sumber hukum. Sementara hadis hadis yang berstatus lemah (dhaif), atau bahkan palsu (maudlu‟) yang tidak bisa dijadikan referensi dan sumber hukum syariat. Kitab-kitab hadits yang dijadikan sumber utama adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kemudian kitab-kitab Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasai, Sunan At Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah. Disamping kitab Al Muwatta‟ karangan Imam Malik dan Musnad Ahmad karangan Imam Ahmad yang memiliki kedudukan penting bagi para ulama fikih.

(29)

Jadi seorang ahli fikih akan mencari dalil terlebih dahulu dari Alquran kemudian dari Sunnah. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bertanya kepada Muadz bin Jabal: Bagaimana kamu memutuskan masalah yang kamu hadapi? Muadz: Saya memutuskan dengan kitab Allah. Rasulullah: Bagaimana jika kamu tidak menemukan di dalamnya? Muadz: Dengan Sunnah Rasulullah,

” Kepada hakim Syuraih, Umar bin Khattab mengirim surat kepadanya yang berisi,”Hendaklah kamu memutuskan dengan kitab Allah, jika tidak menemukan maka dengan Sunnah Rasulullah saw.”13

Dalam kaitannya Alquran sebagai sumber hukum, menurut Abd al-Wahab Khalaf, ayat-ayat alquran terbagi dalam tiga kelompok:

1. Ayat-ayat yang berkaitan dengan keyakinan (i‟tiqad) 2. Ayat-ayat yang berkaitan dengan akhlak

3. Ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum perbuatan, yang terdiri dari:

a. Ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan do‟a

b. Ayat-ayat yang berkaitan dengan mu‟amalah, seperti hukum keluarga, pidana, perdata, kenegaraan, ekonomi dan sebagainya.

13 Untung Sugiyarto, “Sumber Hukum Dalam Islam”, diakses dari

https://alquranmulia.wordpress.com/2014/10/07/sumber-hukum-dalam-fiqih/amp/ pada tanggal 7 februari 2021 pukul 13:30

(30)

Adapun yang menjadi sumber bagi fikih adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum perbuatan, baik hukum-hukum ibadah maupun mu‟amalah.

Sedangkan sunnah, khususnya sunnah-sunnah hukum, menurut para

fuqaha, ia berfungsi sebagai:

1. Penguat (ta‟kid) hal-hal yang telah disebabkan hukumnya dalam Alquran. 2. Penjelas (tabyin, tafsil) ayaat-ayat Alquran yang sukar dipahami.

3. Pembatas (taqyid) keumuman pengertian ayat-ayat alquran.

4. Penambah hukum baru, bagi hukum-hukum yang tidak disebutkan Alquran.14

3. Metode Pembelajaran Fikih

Ilmu fikih merupakan salah satu cabang ilmu yang dapat mempengaruhi nilai ibadah seseorang dan ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan atau pemahaman tentang fikih. Ibadah dalam alquran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Perintah Allah berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang baik, sedangkan larangan-larangan Allah berkaitan dengan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Orang bertakwa yaitu orang yang berbuat baik jauh dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, Takwa adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan

(31)

menjauhi larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma‟ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan menjauhi dari hal yang tidak baik, merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa dan berperilaku mulia.15

Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar faktor penting yang mesti mendapat perhatian khusus adalah bahan atau materi pengajaran itu sendiri yang akan disampaikan dalam membawa peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Materi-materi tersebut adalah ajaran-ajaran agama Islam secara menyeluruh yang meliputi hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama manusia serta alam semesta. Adapun materi pelajaran fikih sebagai berikut:

a. Tharah (bersuci) b. Shalat c. I‟tikaf d. Puasa e. Zakat f. Haji

g. Jenazah, Ta‟ziyah dan ziarah kubur h. Sedekah dan infaq

i. Qurban, Aqiqah dan Khitan

15 Lihat Mohammad Rizqillah Masykur, Metedologi Pembelajaran Fikih, Jurnal

(32)

j. Mu‟amalah

k. Makanan dan Minuman l. Munakahat (Nikah) m. Pembagian harta warisan16

Untuk mengajarkan materi pembelajaran fikih, maka guru dapat melaksanakan dengan berbagai macam metode mengajar atau dapat mengkombinasikan metode mengajar secara variatif, antara lain:

a. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah penerapan atau penuturan secara lisan oleh guru kepada semua peserta didik di dalam suatu ruangan kelas yang bisa diikutsertakan dengan tanya jawab, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen, sosiodrama dan bermain peran serta metode latihan. Dalam Alquran disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk ceramah. Surat Yusuf ayat 3:

ٌَها ۡسُقۡنا اَرهه َكۡيَنِا ۤاَُۡيَح ۡوَا ۤاًَِب ِصَصَقۡنا ٍََس ۡحَا َكۡيَهَع ُّصُقََ ٍُ ۡحََ

ۖ

َت ُُۡك ٌِۡاَو

ٍَۡيِهِف هغۡنا ًٍََِن ٖهِهۡبَق ٍِۡي

Terjemahnya:

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.17

(33)

Untuk mencapai hasil yang baik dalam metode ini, guru harus menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memutuskan tujuan dan bahan pelajaran

2. Menyelidiki apakah metode ini cocok untuk digunakan

3. Mengarahkan perhatian peserta didik pada masalah yang diceramahkan 4. Mengadakan evaluasi untuk mengetahui apakah tujuan telah tercapai b. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah cara mengajar dengan jalan mendiskusikan suatu topik mata pelajaran tertentu, sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku peserta didik. Dalam metode ini semua peserta didik diikutsertakan secara aktif untuk mencari permasalahan mengenai topik tersebut, karena dalam diskusi memerlukan dan melibatkan beberapa peserta didik untuk bekerja sama dalam mencapai pemecahan masalah yang terbaik, maka metode ini juga bisa disebut dengan metode musyawarah.18

Metode diskusi adalah cara menyampaikan pelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada masalah yang bisa berupa pernyataan atau pernyataan yang problematik untuk dipecahkan bersama, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik atau kelompok peserta didik untuk saling tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat, membuat kesimpulan dan pemecahan masalah. Yang perlu mendapat perhatian adalah hendaknya para peserta didik berpatisipasi secara

17

Ibid, h. 235.

18 Imam Sah Aki Pandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum ( Surabaya: Usaha

(34)

aktif dalam forum diskusi. Semakin banyak peserta didik terlibat dan menyumbang pikirannya, semakin banyak pula yang mereka pelajari.19

Metode diskusi mempunyai tujuan antara lain:

1. Menanamkan dan menggambarkan keberanian untuk mengembangkan pendapat sendiri

2. Mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan-pertimbangan pendapat yang mungkin saja berbeda antara satu dengan lainnya 3. Belajar menemukan kesepakatan pendapat melalui musyawarah c. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama adalah penyajian bahan dengan cara memperhatikan peragaan, baik dalam bentuk uraian maupun kenyataan. Semua bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial drama yang kemudian diminta beberapa orang murid untuk memerankannya.

Dengan menggunakan metode sosiodrama proses belajar mengajar bertujuan untuk

1. supaya anak didik mendapatkan keterampilan sosial sehingga diharapkan nantinya tidak canggung menghadapi situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menghilangkan perasaan rendah diri pada subjek didik

19 Saipul Bahri Djamarah dan Azwar Zain, Strategi Belajar Mengajar ( Jakarta: Rineka

(35)

3. Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat

4. Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat orang lain.

Metode semacam ini sangat tepat digunakan dalam bidang pembelajaran fikih, karena dengan metode ini anak-anak akan lebih menghayati tentang pembelajaran yang diberikan, misalnya dalam menerangkan bagaimana sikap Muslim terhadap fakir miskin sebagaimana terdapat dalam Alquran dan hadis. d. Metode pemecahan masalah (problem solving)

Problem solving adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan dimana siswa dihadapkan dengan kondisi masalah, dari masalah yang sederhana menuju ke masalah yang sulit. Ini dimaksudkan untuk melatih keberanian peserta didik dan rasa tanggung jawab dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan kelak di masyarakat. Metode ini berdekatan dengan metode diskusi, di mana peserta didik dan guru bersama-sama memikirkan dan mengeluarkan pendapat serta memperdebatkan untuk memperoleh kesimpulan materi pelajaran fikih sesuai mempergunakan metode ini, misalnya mengapa manusia harus mengabdi kepada Tuhan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

(36)

e. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk menjelaskan suatu pengertian atau memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan pendidikan agama, metode demonstrasi dipergunakan dalam mendemonstrasikan atau mempraktekkan bagaimana sikap yang mencerminkan akhlakul karimah seperti sopan santun dan berbuat baik kepada sesama manusia maupun lingkungan.

Agar dapat dijalankan secara efektif dan efisien oleh seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, kelima metode diatas maka guru harus disampaikan oleh guru yang mempunyai sikap profesionalisme dalam menjalankan tugasnya. Hal ini dikarenakan guru profesional mempunyai tugas ganda, selain sebagai pengajar juga sebagai pendidik.

Guru merupakan elemen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan, karena ia merupakan ujung tombak pendidikan. Proses belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh bagaimana peserta didik memandang performance guru dan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran menarik minat siswa atau sebaliknya. 20

20 Syifa Siti Mukrimah, Metode Belajar Pembelajaran ( Bandung: Indonesia University

(37)

4. Fungsi dan Ruang Lingkup Fikih

Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam pembelajaran fikih juga menerapkan fungsi pendidikan nasional yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.21

Mengenai fungsi fikih, secara umum dapat disebutkan bahwa fikih berfungsi : “ Sebagai rujukan para mukallaf untuk mengetahui syariat Islam sehingga pola tingkah lakunya dapat terkendali pada landasan etika dan moral yang religius. Fungsi mata pelajaran fikih di Madrasah Tsanawiyah seperti yang termasuk dalam kurikulum 2004 Madrasah Tsanawiyah adalah :

a. Penanaman nilai-nilai dan kesadaran beribadah peserta didik kepada Allah swt sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat

b. Penanaman kebiasaan melaksankan hukum Islam dikalangan peserta didik dengan ikhlas dan perilaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku yang sesuai dengan peraturan yang berlaku di Madrasah dan masyarakat

c. Pembentukan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab sosial di Madrasah dan masyarakat.

d. Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, melanjutkan yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga.

e. Pembangunan mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui ibadah dan muamalah.

f. Perbaikan-perbaikan kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan dan pelaksanaan ibadah dalam kehidupan sehari-hari

(38)

g. Pembekalan peserta didik untuk mendalami fikih atau hukum Islam pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.22

Fikih berfungsi sebagai sumber hukum yang menjadi pendorong dan pembentuk tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum sehingga terbentuk komunitas masyarakat muslim yang memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai prasyarat terwujudnya kondisi hidup dan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

Ruang lingkup dan pembahasan fikih secara umum mencakup dua bidang, yaitu Fikih Ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, puasa, haji, memenuhi nazar, dan membayar kadarat terhadap pelanggaran sumpah. Kedua, Fikih Muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kajiannya mencakup seluruh bidang fikih selain persoalan ubudiyah, seperti ketentuan-ketentuan jual beli, sewa-menyewa, perkawinan, jinayah, dan lain-lain.23

Sementara itu, Musthafa A. Zarqa membagi kajian fikih menjadi enam bidang, yaitu:

1. Ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan bidang ubudiyah, seperti shalat, puasa, dan ibadah haji. Inilah, yang kemudian disebut Fikih Ibadah

22 Departemen Agama RI, Standar Kurikulum Madrasah Tsanawiyah, ( Jakarta :

Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam 2004), h. 46-47.

(39)

2. Ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, seperti perkawinan, perceraian, nafkah, dan ketentuan nasab. Inilah yang kemudian disebut Ahwal Saykhsiyah.

3. Ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan hubungan sosial antara umat Islam dalam konteks hubungan ekonomi dan jasa. Seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan gadai. Bidang ini kemudian disebut dengan Fikih Muamalah.

4. Ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan sangsi-sangsi terhadap tindak kejahatan kriminal. Misalnya, qiyas, diat, dan hudud. Bidang ini disebut dengan Fikih Jinayah.

5. Ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur hubungan warga Negara dengan pemerintahannya. Misalnya, politik dan birokrasi. Pembahasan ini dinamakan Fikih Siyasah.

6. Ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur etika pergaulan antara seorang muslim dengan lainnya dalam tatanan kehidupan sosial. Bidang ini disebut

Ahlam Khuluqiyah.24

B. Pendekatan Blended Learning 1. Pengertian Blended Learning

Blended Learning terdiri dari kata blended ( kombinasi/ campuran) dan learning (belajar). Yang paling umum makna asli Blended Learning adalah

mengacu pada belajar yang mengombinasi atau mencampur antara pembelajaran tata muka (face to face= F2f) dan pembelajaran berbasis komputer (online dan

offline).

Pembelajaran Berbasis Blended Learning berkembang sekitar tahun 2000 dan sekarang banyak digunakan di Amerika Utara, Inggris, dan Australia, di kalangan perguruan tinggi dan dunian pelatihan. Melalui Blended Learning semua

24 Hafsah, Pembelajaran Fiqih(Cet- 1; Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2013), h.

(40)

sumber belajar dapat “ memfasilitasi terjadinya proses belajar bagi orang yang belajar. 25

Pembelajaran Blended Learning dapat menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis komputer. Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dan kombinasi sumber-sumber belajar tatap muka dengan pengajar maupun yang dimuat dalam media komputer, telepon seluler atau mobile phone, saluran televisi satelit, konferensi video, dan media elektronik lainnya. Peserta didik dan pengajar/fasilitator bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tujuan utama pembelajaran Blended Learning adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik peserta didik agar dapat belajar dengan mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat.26 Dwiyogo menggambarkan sejarah Blended Learning yang berkembang di dunia pelatihan pada awalnya juga seperti yang dilakukan pada lembaga pendidikan yaitu sumber belajar utama adalah pelatih/fasilitator. Dengan ditemukannya teknologi komputer, pelatihan dilakukan menggunakan mainframe based yang dapat melakukan kegiatan pelatihan secara individual tidak bergantung pada waktu dan materi yang sama (tidak sinkron). Perkembangan berikutnya pembelajaran yang

25 Wasis D. Dwiyogo, Pembelajaran Berbasis Blended Learning, ( Cet-1; Depok:

Rajagrafindo Persada, 2018), h. 59.

26 Husamah, Pembelajaran Bauran Blended Learning, ( Cet- 1; Jakarta: Prestasi Pustaka

(41)

tetap menggunakan basis komputer tetapi daya jangkauannya menjadi lebih luas melintasi pulau dan benua karena perkembangan teknologi satelit.

Demikian pula, isi pelatihan menggabungkan semua itu agar pembelajaran menjadi lebih efektif, efesien dengan konsep kombinasi (blended).27Blended Learning memiliki dua kategori utama, yaitu :

a. Peningkatan bentuk aktivitas tatap-muka (fase-to-face), Banyak pengajar menggunakan istilah Blended Learning untuk merujuk kepada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktifitas tatap muka, baik dalam bentuknya yang memanfaatkan internet (web-dependent) maupun sebagai pelengkap (web-supplemented) yang tidak merubah model aktifitas.

b. Hybrid learning. Pembelajaran model ini mengurangi aktivitas tatap-muka (face-to-face) tapi tidak menghilangkannya, sehingga memungkinkan peserta didik untuk belajar secara online.

Perkembagan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet turut mendorong berkembangnya konsep pembelajaran jarak jauh ini. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, di mana saja, multiuser serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan pendidikan jarak jauh selanjutnya. Untuk saat ini sistem pembelajaran secara Blended

Learning masih sangat baik di terapkkan di Indonesia agar lebih dapat terkontrol

secara tradisional juga.28

27 Handoko Waskito, Learning Teori dan Penerapannya, (Cet- 1; Padang: LPTIK, 2018),

h. 6.

28 Sheren Dwi Oktaria, Model Blended Learning Berbasis Moddle, ( Cet- 1; jakarta Barat:

(42)

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka secara umum karakteristik

Blended Learning adalah sebagai berikut:

1) Pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.

2) Sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (fase-to-face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.

3) Pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dan cara penyampaiannya, cara mengajar dan gaya pembelajaran.

4) Pengajar dan orangtua peserta belajar memiliki peran yang sama penting, pengajar sebagai fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.29

Prinsip dasar Blended Learning adalah komunikasi langsung tatap muka dan komunikasi tertulis online. Konsep Blended Learning kelihatannya sederhana tetapi penerapannya lebih kompleks. Asumsi utama dari desain Blended Learning adalah (1) pemikiran menggabungkan belajar tatap muka dan online, (2) pemikiran ulang mendasar tentang desain mata pelajaran untuk mengoptimalkan keterlibatan peserta didik, dan (3) strukturisasi dan pengaturan ulang jam perkuliahan tradisional.

2. Komponen Blended Learning

Berdasarkan kesimpulan dari definisi blended learning menurut parah ahli, maka blended learning mempunyai 2 komponen pembelajaran yaitu pembelajaran tatap muka dan online learning (e-learning).

(43)

a. Pembelajaran Tatap Muka (Konvensional)

Pembelajaran tatap muka sebagai salah satu bentuk model pembelajaran konvesional yang mempertemukan guru dan murid dalam satu ruangan untuk belajar. Lebih lanjut, menjelaskan dalam metode pembelajaran konvesional guru menyampaikan materi secara lisan dan peserta didik mendengarkan, mencatat, mengajukan pertanyaan, dan dievaluasi.

Sementara itu, pembelajaran konvesional sebagai salah satu model pembelajaran yang hanya memusatkan pada metode pembelajaran ceramah.

Adapun tahap-tahap pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut: 1. Tahap pembukaan, dimana guru mengkondisikan peserta didik untuk

memasuki suasana belajar dengan menyampaikan salam dan tujuan pembalajaran.

2. Tahap pengembangan yaitu tahap dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang diisi dengan penyampaian materi secara lisan didukung oleh penggunaan media.

Tahap evaluasi dimana guru mengevaluasi belajar peserta didik dengan membuat kesimpulan atau rangkuman materi pembelajaran, pemberian tugas, dan diakhiri dengan penyampaian terima kasih atas keseriusan peserta didik dalam pembelajaran.

(44)

Berdasarkan definisi diatas, tergambar bahwa pembelajaran tatap muka (konvesional) merupakan proses belajar yang terencana pada suatu tempat tertentu dengan melibatkan aktivitas belajar pendidik dan peserta didik sehingga terjadilah interaksi sosial. Adapun peran guru dalam pembelajaran sangat penting dimana guru sebagai sumber belajar dan informasi. Pada pembelajaran tatap muka (konvesional) guru biasanya menggunakan berbagai macam metode dalam proses pembelajaran, meliputi ceramah, penugasan, tanya jawab, dan demonstrasi.

b. Online Learning (E-learning)

Online learning (e-learning) merupakan pembelajaran yang menggunakan

rangkaian elektronik LAN, WAN, dan internet untuk menyampaikan isi materi. Belajar dengan e-learning merupakan salah satu bentuk penggunaan media pembelajaran berbasis IT atau berbasis Internet. E-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa online learning (e-learning) merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan teknologi internet, intranet, dan berbasis web yang memungkinkan terjadinya interaksi belajar antara peserta didik dan pendidik dengan mengakses informasi dan materi pelajaran kapanpun dan dimanapun. Adapun persyaratan utama yang perlu dipenuhi dalam

(45)

e-learning adalah adanya akses dengan sumber informasi melalui internet dan

adanya informasi tentang letak sumber informasi yang ingin kita dapatkan.

Terdapat tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning adalah sebagai berikut:

1. e-learning bersifat jaringan yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan dan

sharing pembelajaran dan informasi.

2. e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui computer dengan menggunakan standar teknologi internet.

3. e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma dalam pelatihan.

Beberapa kriteria diatas menjadi patokan dasar yang terdapat dalam pembelajaran dengan sistem e-learning. Ada beberapa karakteristik e-learning adalah sebagai berikut.

1) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik. Dimana guru dan peserta didik, peserta didik dengan sesama peserta didik atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relative mudah dengan tanpa dibatasi waktu dan tempat.

2) Memanfaatkan keunggulan computer (Digital Media dan Computer

(46)

3) Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang disimpan di computer sehingga dapat diakses oleh guru dan peserta didik kapan saja dan dimana saja apabila yang bersangktan memerlukan.

4) Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil, kemauan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pe ndidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Berdasarkan karakteristik online learning menunjukkan bahwa pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan internet sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, penggunaan media, dan bahan ajar juga dikemas dalam suatu bentuk yang dapat diakses dengan menggunakan internet.30

Pada intinya tujuan dari Blended Learning yang dilaksanakan adalah untuk mendapatkan pembelajaran yang “paling baik” dengan menggabungkan berbagai keunggulan masing-masing komponen dimana metode konvensional memungkinkan untuk melakukan pembelajaran secara interaktif sedangkan metode online dapat memberikan materi secara online tanpa batasan ruang dan waktu sehingga dapat dicapai pembelajaran yang maksimal. Oleh karena itu, jika Anda adalah seorang pengajar (pengajar dan dosen ) ataupun instruktur, sangat mungkin Blended Learning ini dapat membantu anda agar para peserta didik dapat

30 Rita Kurniati, “ Pengembangan, Pembelajaran Model Blende Learning”, diakses dari

(47)

belajar secara maksimal serta bisa mendapatkan lebih banyak informasi yang dapat menunjang proses belajar mengajar.31 Carman, J, M telah mengidentifikasi lima kunci dalam mengembangkan Blended Learning, yaitu:

a) Live Events ( Pembelajaran Secara Tatap Muka)

Live events merupakan pembelajaran langsung secara tatap muka atau synchronous yang proses pembelajarannya dipimpin oleh instruktur dan

semua peserta didik berpartisipasi secara tatap muka dalam waktu dan tempat yang sama secara langsung di kelas (live classroom) ataupun dalam waktu sama tetapi tempat berbeda (virtual classroom). Pembelajaran secara tatap muka dapat digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar secara langsung yang menarik dan efektif sehingga mencapai tujuan pembelajaran.

b) Belajar mandiri dengan Online Content

Pengalaman belajar secara mandiri dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja (Asynchronous) dengan adanya konten online. Proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan menggunakan text-based maupun

multime diabased (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi

dari media tersebut), yang dapat diakses secara online (via web atau via

mobile dovice dalam aplikasi: streaming audio, streaming video, e-book,

yang dapat diakses oleh siswa kapan saja dan di mana saja, untuk diakses secara offline dalam bentuk CD, dan catrak.

c) Collaboration (Kolaborasi)

Mendesain suatu pembelajaran Blended Learning seorang pendidik atau instruktur harus mampu membangun kolaborasi antar peserta didik dan peserta didik dengan guru melalui tool-tool komunikasi yang dibangun dalam bentuk chatroom, forum diskusi, seperti misalnya e-mail, diskusi, chat online, website dan media sosial, untuk pendalaman materi, pemecahan masalah atau tugas projek. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan wawasan keilmuan siswa akan semakin luas karena melibatkan berbagai pihak dengan sumber belajar.

d) Assessment (Penilaian)

Seorang pendidik dalam meningkatkan pembelajaran dengan Blended

Learning dapat mengkombinasikan beberapa jenis assessmen bersifat tes

atau non-tes, atau tes otentik (authentic assessment) yang dapat di

(48)

tuangkan dalam bentuk proyek atau suatu produk yang dapat dilaksanakan baik secara online atau offline sehingga assessment yang diikuti peserta didik menjadi lebih fleksibel. Assement sangat penting dilakukan untuk ukuran pengetahuan peseta didik. Pre-assessments bisa dilakukan sebelum pembelajaran secara tatap muka dan pembelajaran mandiri untuk menentukan pengetahuan sebelumnya, dan post-assessment dapat dilakukan dengan mengikuti pembelajaran yang telah terjadwal secara online, untuk mengukur transfer-belajar.

e) Performance support materials (Dukungan bahan ajar)

Reference materials sebagai diperlukan untuk meningkatkan retensi belajar

dan hasil belajar peserta didik dalam model blended learning. Bahan ajar harus disiapkan dalam bentuk digital dan dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline maupun online agar mampu menunjang kompetensi siswa dalam menguasai suatu materi.32

Model Blended Learning memiliki klasifikasi model, yaitu:

1) Rotation Model

Pembelajaran ini mengintegrasikan pembelajaran secara online dan pembelajaran secara tatap muka di dalam kelas dengan pengawasan pengajar yang berputar secara bergantian dengan jadwal yang tetap. Pengajar akan mengumumkan saat waktu telah tiba untuk berotasi, dan semua peserta didik akan beralih ke aktivitas pembelajaran berikutnya.

2) Flex Model

Dengan pendekatan ini, materi disampaikan secara online. Meskipun pengajar berada di dalam ruangan untuk memberikan dukungan di tempat yang seperlunya, pembelajaran pada dasarnya dipandu sendiri, karena peserta didik

32 Syarif Izzudin. “ Pengaruh Model Blended Learning terhadap motivasi dan prestasi

(49)

yang bekerja pada jadwal yang disesuaikan yang berputar antara modalitas, salah satunya adalah pembelajaran onilne. Model flex memungkinkan perubahan real-time dalam jadwal untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang selalu berubah. Pendekatan pembelajaran campuran ini juga memungkinkan adanya konfigurasi kelas/ sekolah yang kreatif, misalnya dengan menggabungkan ruang belajar, laboraturium pembelajaran, kelompok kecil, dan area sosial.

3) Self Blend

Self-Blend merupakan penggabungan instruksi pribadi dengan pembelajaran online. Model ini populer di sekolah menengah atas, model

self-blend memberi peserta didik kesempatan untuk mengikuti kelas di luar apa yang

sudah ditawarkan di sekolah mereka. Sementara individu-individu ini akan menghadiri lingkungan sekolah, mereka juga memilih untuk melengkapi pembelajaran mereka melalui kursus online yang ditawarkan dari jarak jauh. Agar metode pembelajaran campuran ini berhasil, siswa harus sangat termotivasi.

Self-blend sangat ideal bagi peserta didik yang ingin mengikuti kelas tambahan.

4) Enriched Virtual Model

Model ini menunjukan peserta didik yang memerlukan pembelajaran secara tatap muka dengan pendidik dan kemudian mereka berkesempatan untuk menyelesaikan materi pelajaran yang tersisa secara jarak jauh dari guru . Banyaknya program virtual online dan kemudian dikembangkan program

(50)

campuran untuk mendukung pengalaman belajar peserta didik secara tatap muka di kelas33

3. Pelaksanaan Blended Learning dalam Dunia Pendidikan

Blended learning dipergunakan untuk mendeskripsikan suatu situasi

pembelajaran yang menggabungkan beberapa metode penyampaian yang bertujuan untuk memberikan pengalaman yang paling efektif dan efesien. Kombinasi yang dimaksud dapat berupa gabungan beberapa macam teknologi pengajaran, misalnya video, CD-ROM, film, atau internet dengan pengajaran tatap muka (face to face) yang dilakukan oleh dosen/pendidik. Singh menyebut hal ini dengan istilah Blended E-learning. Dari perpektif course design, jenis pengajaran

Blended ini dapat berada di antara pengajaran sepenuhnya tatap muka,

sepenuhnya pembelajaran online. Kerres and De Witt mengemukakan kerangka 3C untuk para pengajar yang hendak merancang blended learning, yang meliputi content (isi materi pembelajaran), communication (Komunikasi antara siswa dan guru serta antarsiswa sendiri), dan construction (penciptaan kondisi mental pembelajar untuk membantu memetakan posisi mereka dalam lanskap pembelajaran).34

33 Sheren Dwi Oktaria, Model Blended Learning Berbasis Moddle, h. 14-17.

(51)

Dari perspektif guru dan dalam dunia pendidikan, pendekatan Blended

E-learning memerlukan keterampilan baru agar pembelajar dapat menyerap

sebanyak-banyaknya dari pelajaran yang diberikan. Martyn mengakatakan bahwa suatu lingkungan Blended E-learning yang dapat berhasil terdiri dari satu pertemuan awal yang sepenuhnya tatap muka (face to face), penugasan online mingguan disertai dengan komunikasi (konsultasi) online, e-mail, dan tutup dengan satu ujian akhir yang berupa tatap muka atau ujian tertulis di kelas dengan dibantu pengawas. Dengan demikian, peserta didik akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri, meningkatkan kompetensi sosialnya, meningkatkan kepercayaan diri siswa, meningkatkan keterampilan menggali informasi dan meraih prestasi. Selain itu, guru juga akan lebih menghargai berbagai perbedaan dalam gaya dan kecepatan belajar yang dimiliki masing-masing peserta didik serta mendorong komunikasi, baik antar peserta didik sendiri maupun antara peserta didik dan guru. Untuk pelaksanaan Blended Learning dalam dunia Pendidikan, digunakan model

ADDIE (analysis, design, development, implemetasion, andevalution) yang

dikemukakan Dick, Carey, and Carey. Model pengajaran ini didasarkan pada pengembangan pembelajaran yang sistematis dan terdiri dari tujuh fase: analisis, desain, pengembangan, implementasi, pelaksanaan, evaluasi, dan feedback).

(52)

a) Analisis: fase ini menentukan apa yang akan diajarkan. Tujuan analisis adalah untuk mendeteksi karakteristik belajar dan kebutuhan peserta didik, menentukan lingkungan tempat pembelajaran akan dilakukan serta menghitung sumber daya yang tersedia. Karakteristik peserta didik ditentukan antara lain dengan mengumpulkan informasi demografis dan melakukan test pendahuluan untuk keterampilan memanfaatkan computer. Fase pertama ini akan menghasilkan tujuan pembelajaran bagi setiap modul serta muatan edukatif (pengetahuan dan keterampilan yang akan dipelajari beserta aktivitas yang akan dikembangkan)

b) Perancangan: fase ini menentukan bagaimana akan diajarkan. Yang diperoleh dari analisis pada tahap sebelumnya akan digunakan untuk menciptakan suatu cetak baru pengajaran, yang didalamnya telah dirinci hal-hal seperti: di mana proses pembelajaran akan dilakukan, pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, struktur informasi dari materi yang akan disampaikan (fakta-fakta, konsep, proses, prosedur, asas), standar yang akan digunakan, kriteria pelaksanaan, dan capaian yang diharapkan.

Metode pembelajaran, misalnya, dapat dibagi menjadi lima modul yang masing-masing terdiri dari pengetahuan dan keterampilan serta pre-test dan post-test. Dalam tahap perancangan ini, script atau storyboard sudah harus ditentukan. Script atau storyboard sudah cukup berupa tampilan demi tampilan deskripsi pada

Gambar

Tabel 4.1 Data Guru dan Karyawan MTs Muhammadiyah Wuring ...................... 54  Tabel 4.2 Data Peserta Didik MTs Muhammadiyah Wuring Tahun ajaran
Gambar  1:  Wawancara  dengan  Bapak  Mohammad  Fitri  S.E,  Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah Wuring (25 April 2021)
Gambar  5:  Wawancara  dengan  Rohma,  Peserta  Didik  Kelas  Vll  (20  Mei 2021)
Gambar 8: Wawancara dengan Huda, Peserta Didik Kelas Vll (20 Mei 2021)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melatih keterampilan bicara anak tunarungu, aplikasi terapi wicara pada perangkat mobile yang merupakan transformasi dari media konvensional ke media digital

Kanwil DJKN Lampung dan Bengkulu KPKNL Banda Aceh KPKNL Bandung KPKNL Banjarmasin KPKNL Bogor KPKf\IL Bontang KPKNL Bukittinggi KPKNL Cirebon KPKNL Jakarta I

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir dengan judul

Karena pendampingan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, tidak hanya dapat meningkatkan pengetahuan, tetapi juga lebih berpeluang mendorong perbaikan

perekaman KTP-el paling lambat 30 september 2006, hal ini mendorong masyarakat datang ke kecamatan dan dinas untuk melakukan perekaman KTP-el. Sebelum adanya instruksi

Menurutnya bahwa yang paling terpenting dari konsep negara khilafah atau Imamah yaitu bahwa negara mampu menerapkan Syari’at untuk mewujudkan kemashlahatan

Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (JSI- ITS). Pengembangan piranti lunak ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit sapi serta dapat merekomendasikan

Angkatan kerja di sektor pertanian terdiri dari 70.6 persen pria (323 399 orang) dan 29.4 persen wanita (217 294 orang), sedangkan tingkat partisipasi kerja terhadap penduduk