• Tidak ada hasil yang ditemukan

III KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Tataniaga Pertanian

Menurut Limbong dan Sitorus (1985), tataniaga pertanian adalah segala kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang hasil pertanian dan barang-barang kebutuhan usaha pertanian dari tangan produsen ke tangan konsumen, termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari barang yang ditujukan untuk lebih mempermudah penyalurannya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumennya. Kegiatan pemasaran dapat dikatakan efisien apabila telah tercipta keadaan di mana pihak produsen, lembaga pemasaran, dan konsumen memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas pemasaran tersebut.

3.1.2 Fungsi Tataniaga

Menurut Limbong dan Sitorus (1985), fungsi tataniaga terdiri atas tiga fungsi yaitu : (1) fungsi pertukaran, (2) fungsi fisik, dan (3) fungsi fasilitas. Fungsi pertukaran adalah kegiatan untuk memperlancar perpindahan milik atas barang dan jasa dari penjual kepada pembeli. Fungsi pertukaran terdiri dari fungsi penjualan dan fungsi pembelian. Fungsi penjualan merupakan kegiatan untuk mencari tempat dan waktu yang tepat untuk melakukan penjualan barang sesuai dengan yang diinginkan konsumen baik dilihat dari jumlah, mutu bentuk, dan mutunya. Fungsi pembelian merupakan kegiatan untuk menentukan jenis barang yang akan dibeli yang sesuai dengan kebutuhan untuk dikonsumsi langsung atau untuk kebutuhan produksi. Kegiatan utama pada fungsi pembelian adalah menentukan jenis, jumlah, kualitas, tempat pembelian serta cara pembelian barang jasa yang akan dibeli.

Fungsi fisik adalah semua tindakan yang langsung berhubungan dengan barang dan jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, kegunaan bentuk, dan kegunaan waktu. Fungsi fisik meliputi fungsi penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan. Fungsi penyimpanan diperlukan untuk menyimpan barang selama

(2)

24 belum dikonsumsi atau menunggu diangkut ke daerah pemasaran atau menunggu sebelum diolah. Fungsi pengangkutan bertujuan untuk menyediakan barang dan jasa di daerah konsumen sesuai dengan kebutuhan konsumen baik menurut waktu, jumlah, dan mutunya. Fungsi pengolahan bertujuan untuk meningkatkan kualitas barang bersangkutan baik dalam rangka memperkuat daya tahan barang tersebut maupun dalam rangka meningkatkan nilainya.

Fungsi fasilitas merupakan semua tindakan yang memperlancar kegiatan pertukaran yang terjadi antara produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas terdiri dari empat fungsi : (1) Fungsi standarisasi dan grading, (2) fungsi penanggungan resiko, (3) fungsi pembiayaan, dan (4) fungsi informasi pasar. Pada fungsi standarisasi dan grading, standarisasi merupakan suatu ukuran atau penentuan mutu suatu barang dengan menggunakan berbagai ukuran seperti warna, susunan kimia, ukuran bentuk, kekuatan atau ketahanan, kadar air, tingkat kematangan, rasa, dan kriteria-kriteria lainnya. Sedangkan grading adalah tindakan mengklasifikasikan hasil-hasil pertanian menurut suatu standarisasi yang diinginkan sehingga kelompok-kelompok barang yang terkumpul sudah menurut satu ukuran standar, masing-masing dengan nama dan etiket tertentu. Fungsi penanggungan resiko merupakan kegiatan penanggungan resiko yang mungkin terjadi pada saat proses pemasaran berlangsung. Resiko yang mungkin terjadi diantaranya : kerusakan, kehilangan, kebakaran, penurunan harga, dan lain-lain. Penanggungan resiko ini dapat ditanggung para produsen maupun lembaga pemasaran sendiri, tetapi dapat juga dialihkan kepada lembaga lain yaitu lembaga asuransi. Fungsi pembiayaan adalah penyediaan biaya untuk keperluan selama proses pemasaran dan juga kegiatan pengelolaan biaya tersebut. Pada fungsi informasi pasar, terdapat kegiatan pengumpulan informasi pasar serta menafsirkan data informasi pasar tersebut.

(3)

25 3.1.3 Lembaga Tataniaga

Menurut Hanafiah dan Saefuddin (1983), lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dengan mana barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Badan perantara dibutuhkan keberadaannya untuk menggerakkan barang dan jasa dari titik produksi ke titik konsumsi, karena jarak antara produsen dan konsumen seringkali berjauhan.

Limbong dan Sitorus (1985) menyatakan bahwa lembaga pemasaran dapat digolongkan pada :

1. Lembaga tataniaga menurut fungsi yang dilakukan : • Lembaga fisik tataniaga, seperti badan pengangkut.

• Lembaga perantara tataniaga, seperti pedagang pengecer dan grosir. • Lembaga fasilitas tataniaga, seperti bank desa, kredit desa, dan KUD. 2. Lembaga tataniaga menurut penguasaan terhadap barang

• Lembaga tataniaga yang tidak memiliki tetapi menguasai barang, seperti agen, perantara, dan broker.

• Lembaga tataniaga yang memiliki dan menguasai barang, seperti pedagang pengumpul, pedagang pengecer, grosir, eksportir/importir.

• Lembaga tataniaga yang tidak memiliki dan tidak menguasai barang, seperti pengangkutan, pergudangan, asuransi, dan lain-lain.

3.1.4 Saluran Tataniaga

Komoditi pertanian pada umumnya mempunyai sifat-sifat mudah rusak (perishable), mudah busuk, dan mempunyai bobot dan volume yang besar (bulky). Berdasarkan sifat-sifat komoditi tersebut, sistem penyalurannya harus mempunyai sifat mampu memberikan perlindungan dan keamanan bagi barang tersebut.

Menurut Limbong dan Sitorus (1985), saluran tataniaga dapat diartikan sebagai himpunan perusahaan dan perorangan yang mengambil alih hak, atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa tertentu selama barang atau jasa tersebut berpindah dari produsen ke konsumen.

Saluran tataniaga dapat dicirikan dengan memperhatikan banyaknya tingkat saluran. Panjangnya suatu saluran tataniaga akan ditentukan oleh

(4)

26 banyaknya tingkat perantara yang dilalui oleh suatu barang dan jasa. Pada Gambar 1.dapat ditunjukkan beberapa saluran pemasaran yang panjangnya berbeda-beda.

Saluran nol tingkat

Saluran satu tingkat

Saluran dua tingkat

Saluran tiga tingkat

Gambar 1. Contoh Saluran Tataniaga dengan Beberapa Tingkat Sumber : Limbong dan Sitorus (1985)

Saluran nol tingkat (zero level channel) atau dinamakan juga sebagai saluran tataniaga langsung, adalah saluran yang di mana produsen dan atau pabrikan secara langsung menjual produknya kepada konsumen. Tiga cara utama dalam penjualan langsung adalah door to door, mail, order, dan toko milik pabrikan sendiri.

Saluran satu tingkat (one level channel), adalah saluran yang menggunakan perantara. Dalam pasar konsumsi perantara ini adalah pengecer, dalam pasar industrial perantara tersebut adalah agen penjualan atau pialang.

Saluran dua tingkat (two level channel) mencakup dua perantara. Dalam pasar konsumsi perantara ini adalah grosir dan pengecer, sedangkan dalam pasar industrial perantara tersebut adalah distributor dan dealer industrial.

Pada saluran tingkat tiga (three level channel) terdapat tiga perantara. Dalam hal ini selain grosir dan pengecer terdapat pemborong (jobber). Pemborong tersebut membeli barang dari pedagang grosir dan menjualnya ke pedagang pengecer kecil, yang umumnya tidak dapat dilayani oleh pedagang grosir.

Produsen Konsumen

Produsen Pengecer Konsumen

Produsen Pengecer Konsumen

Produsen Pengecer Konsumen

Grosir

(5)

27 Pola saluran pemasaran yang terdapat pada Gambar 1. pada umumnya ditemui untuk barang industri dan barang atau komoditi pertanian. Penyaluran komoditi-komoditi pertanian biasanya dimulai dengan petani-petani yang menjual hasil-hasil pertaniannya kepada pedagang pengumpul di tingkat pedesaan, kemudian disalurkan ke grosir dan pengecer.

3.1.5 Fungsi Saluran Tataniaga

Saluran tataniaga menjalankan pekerjaan memindahkan barang dari produsen sampai pada konsumen. Saluran tataniaga membantu dalam mengatasi kesenjangan waktu, tempat, dan kepemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari mereka yang akan menggunakan barang dan jasa tersebut. Beberapa fungsi pokok saluran tataniaga diantaranya :

a. Riset, yaitu pengumpulan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan memudahkan pemasaran akan pertukaran.

b. Promosi, yaitu pengembangan dan penyebaran komunikasi yang persuasif mengenai tawaran.

c. Hubungan, yaitu pencarian dan berkomunikasi dengan calon pembeli.

d. Pemadanan, yaitu pembentukan dan penyesuaian tawaran dengan kebutuhan pembeli, yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan, grading, perakitan dan pengemasan.

e. Perundingan, yaitu usaha untuk mencapai persetujuan akhir atas harga dan ketentuan lainnya mengenai tawaran agar pengalihan pemilikan dapat terjadi. f. Distribusi fisik, yang meliputi pengangkutan dan penyimpanan barang.

g. Pembiayaan, yaitu perolehan dan penyebaran dana untuk menutupi biaya pekerjaan saluran pemasaran.

h. Pengambilan resiko, yaitu menerima adanya resiko dalam hubungan dengan pelaksanaan pekerjaan saluran pemasaran.

3.1.6 Pendekatan Structure-Conduct-Perfromance (S-C-P)

Menurut Gonarsyah (1996/1997), untuk menganalisis sistem pemasaran dikenal dua pendekatan yang ekstrim yaitu:

1. Pendekatan Structure-Conduct-Performance (S-C-P) 2. Pendekatan Chicago School

(6)

28 Pendekatan S-C-P timbul dengan didasarkan pada kajian empiris, sedangkan pendekatan Chicago School umumnya bersifat agregasi, lebih bersifat kuantitatif, lebih menekankan price determination, lebih mudah melihat pengaruh pemerintahan dalam penentuan harga. Sedangkan pendekatan S-C-P lebih menekankan pada aspek deskriptif, bersifat kasus-kasus, pembahasan aspek kelembagaan secara detail dan lebih menekankan price discovery serta menjelaskan tindakan perusahaan yang melakukan market power.

Menurut Philips dalam Asmarantaka (2009), studi-studi dalam pemasaran menggunakan beberapa pendekatan dimana tipe-tipe perbedaan dari pasar digolongkan dalam kelompok market structure. Praktik-praktik bisnis dikelompokkan dalam market conduct, sedangkan pengaruh-pengaruh terhadap harga dan output, dan sebagainya digolongkan dalam market performance.

Philips mengajukan konsep yang bersifat dinamis, keterkaitan hubungan dua arah yang bersifat timbal balik dan sifat hubungan endogenous diantara variabel-variabel S-C-P serta memperhitungkan waktu. Pendekatannya menunjukkan bahwa structure (S), conduct (C), dan performance (P) dalam suatu waktu berada pada sistem dimana S dan C adalah faktor penentu dari P; dilain waktu S dan C ditentukan oleh P. Hal ini menunjukkan suatu sistem dinamis yang mengembangkan respon penyesuaian dari perusahaan terhadap kondisi pasar dan keadaan yang memungkinkan.

1. Struktur Pasar (Market Structure)

Menurut Asmarantaka (2009), struktur pasar (market structure) merupakan tipe atau jenis pasar yang didefinisikan sebagai hubungan (korelasi) antara pembeli (calon pembeli) dengan penjual (calon penjual) yang secara strategi mempengaruhi penentuan harga dan pengorganisasian pasar. Mc Kie dalam Asmarantaka (2009), mengemukakan bahwa beberapa ukuran untuk melihat market structure antara lain:

a. Market concentration (konsentrasi pasar); market concentration diukur berdasarkan persentase dari penjual/asset/pangsa pasar.

b. Exit-entry (kebebasan keluar masuk calon penjual); perusahaan yang besar mempunyai kelebihan dalam melakukan tindakan price control, dalam rangka mempertahankan konsentrasinya didalam pasar.

(7)

29 c. Product differentiation (diferensiasi produk); pada perusahaan yang

mempunyai konsentrasi pasar yang tinggi mempunyai kelebihan untuk menentukan product differentiation dalam rangka usaha meningkatkan keuntungannya. Usaha ini dilakukan dengan jalan mengubah kurva permintaan yang elastik menjadi tidak elastik. Artinya dengan sejumlah produk tertentu dia akan menerima harga yang lebih tinggi. Dengan perkataan lain berusaha agar konsumen lebih loyal terhadap produk perusahaan tersebut.

Hammond dan Dahl (1977), mengemukakan lima (5) jenis struktur pasar pangan dan serat dengan berbagai karakteristiknya, secara terinci dapat dilihat pada Tabel 9. di bawah.

Tabel 9. Lima Jenis Pasar Sistem Pangan dan Serat

Karakteristik Struktural Struktural Pasar dari Sisi Jumlah Perusahaan Sifat Produk Penjual Pembeli

Banyak Standarisasi Persaingan Sempurna Persaingan Sempurna Banyak Diferensiasi Persaingan

Monopolistik

Persaingan Monopsonistic Sedikit Standarisasi Oligopoli Murni Oligopsoni Murni Sedikit Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Oligopsoni

diferensiasi

Satu Unik Monopoli Monopsoni

Sumber : Hammond dan Dahl (1977)

Usaha product differentiation dilakukan dengan meningkatkan product

differentiation sehingga banyak kelompok masyarakat yang menyenangi produk

perusahaan tersebut. Usaha ini efektif pada barang dimana konsumen tidak punya keahlian untuk mengevaluasi barang tersebut. Selain itu tepat sekali untuk barang-barang yang jarang dibeli konsumen dan barang-barang-barang-barang yang secara teknis tidak sederhana namun dapat memenuhi berbagai kebutuhan personal baik secara fisik maupun kejiwaan. Usaha product differentiation dilakukan dengan cara:

1. Advertising: promosi-promosi sehingga menggugah konsumen untuk membeli.

2. Packaging: usaha pengemasan yang membuat konsumen berminat untuk membeli dikarenaka bentuk kemasannya yang menarik.

3. Perubahan bentuk produk itu sendiri. Kadangkala dengan mengubah bentuk sedikit saja yang disertai dengan modifikasi tertentu, membuat konsumen lebih tertarik untuk membeli.

(8)

30 Azzaino (1981) mengungkapkan perbedaan ekstrim antara pasar persaingan murni (atomistik) dengan struktur pasar bersaing tidak sempurna (monopsonistik/oligopolistik) seperti pada Tabel 10.

Tabel 10. Sifat-sifat Utama Bentuk Pasar Bersaing Murni (Atomistik) dan Oligopolistik dikembangkan dengan Sistem Tataniaga

Kriteria Atomistik Oligopolistik

1. Jumlah tataniaga Sangat banyak Sedikit sekali 2. Bersekongkol

dalam menetukan harga (Collusive

Pricing)

Tidak mungkin Pada umumnya dilakukan

secara terselubung

3. Hambatan masuk pasar (Entry

barriers)

a. Modal dasar Hanya sedikit yang diperlukan

Dibutuhkan modal yang sangat besar

b. Waktu yang diperlukan

Tidak begitu lama Diperlukan waktu yang

cukup c. Pola

perdagangan

Tidak bisa dibedakan Sudah maju (well

developed)

4. Pengetahuan terhadap permintaan

Tidak sempurna Hubungan antara harga

input-output sudah diketahui

5. Penyesuaian terhadap permintaan

“Sticky”, non adjusted Kegiatan pembelian dan penjualan terkontrol sehingga mudah disesuaikan

6. Mengurangi pengangguran

Sistem tataniaga dalam

bentuk atomistik merupakan dasar untuk

mengurangi penganggur

Hanya sedikit tenaga kerja dan lembaga tataniaga yang dapat masuk dalam struktur pasar oligopolistik

7. Marjin tataniaga Rendah pada setiap tingkat lembaga tataniaga

Tinggi pada setiap tingkat lembaga tataniaga

Sumber : Azzaino (1981)

2. Perilaku Pasar (Market Conduct)

Menurut Asmarantaka (2009), market conduct atau perilaku pasar adalah seperangkat strategi dalam pemilihan yang ditempuh baik oleh penjual maupun pembeli untuk mencapai tujuannya masing-masing. Ada tiga (3) cara mengenal perilaku, yakni:

a. Penentuan harga dan setting level of output; penentuan harga adalah menetapkan harga dimana harga tersebut tidak berpengaruh terhadap

(9)

31 perusahaan lain, ditetapkan secara bersama-sama penjual atau penetapan harga berdasarkan pemimpin harga (price leadership).

b. Product promotion policy; melalui pameran dan iklan atas nama perusahaan. c. Predatory and exclusivenary tactics; strategi ini bersifat illegal karena

bertujuan mendorong perusahaan pesaing untuk keluar dari pasar. Strategi ini antara lain menetapkan harga dibawah biaya marjinal sehingga perusahaan lain tidak dapat bersaing secara sehat. Cara lain adalah berusaha menguasai bahan baku (integrasi vertikal ke belakang) sehingga perusahaan pesaing tidak dapat berproduksi dengan menggunakan bahan baku yang sama secara persaingan sehat.

3. Keragaan Pasar (Market Performance)

Menurut Asmarantaka (2009), market performance atau keragaan pasar dapat diukur dengan beberapa ukuran. Secara khusus ukuran tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Pricing efficiency, ukurannya adalah seberapa jauh harga mendekati biaya total. Dapat dilakukan melalui beroperasi pada produksi yang efisien atau efisiensi output.

b. Cost efficiency or productive efficiency, ukuran yang digunakan dapat dalam jangka pendek yaitu efisiensi pada fungsi produksi dan efisiensi alokasi sumber daya. Sedangkan ukuran dalam jangka panjang adalah excess

capacity dan optimal size.

c. Sales promotion cost, ukurannya dapat dilihat dari volume penjualan.

d. Technical progressive (dynamic product efficiency); pengukuran ini dapat dilihat dari seberapa jauh menurunnya Long-run Average Total Cost.

e. Rate of Product Development atau inovasi; pengukurannya bagaimana dapat memproduksi (how to produce) dengan kualitas, efisiensi dan higienitas sehingga dihasilkan produk yang memiliki keunggulan kompetitif.

f. Exchange efficiency; meliputi efisiensi biaya dalam penentuan harga dan

transportasi.

g. Market externality; bagaimana dapat meminimalkan market externalities yang negatif dan meningkatkan yang positif.

(10)

32 h. Conservation, berkaitan dengan isu-isu antara lain ekolabeling dan

greenpeace.

i. Price flexibility, dalam kaitan bagaimana penyesuaian atau perubahan harga

dengan adanya perubahan biaya.

Pada pendekatan S-C-P, dikenal lima (5) pendekatan dalam analisis pemasaran yaitu Pendekatan Fungsi (Functional Approach), Kelembagaan (Institutional Approach), Pendekatan Komoditas, Pendekatan Sistem (System Approach), dan Pendekatan Permintaan-Penawaran (Purcell, 1977; Gonarsyah, 1996/1997; Kohls dan Uhl, 1990 dan 2002). Secara lebih rinci, kelima pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pendekatan Fungsi terdiri dari tiga (3) kelompok utama yaitu:

• Fungsi pertukaran terdiri dari fungsi pembelian atau pengumpulan dan fungsi penjualan.

• Fungsi fisik tediri dari fungsi penyimpanan (gudang), pengangkutan, dan fungsi pengolahan.

• Fungsi fasilitas terdiri dari fungsi standarisasi, pembiayaan, penanggungan resiko, dan intelijen pemasaran.

Kegunaan Functional Approach:

• Mempertimbangkan bagaimana pekerjaan harus dilakukan

• Analisis fungsional dari berbagai pedagang perantara membantu mengevaluasi biaya pemasaran, misalnya biaya pemasaran di tingkat pengecer lebih besar daripada di tingkat pedagang besar (grosir). • Membantu mengerti perbedaan-perbedaan biaya pemasaran berbagai

variasi komoditas, karena adanya perbedaan-perbedaan perlakuan. b. Pendekatan Institusi atau Kelembagaan Pemasaran

Pendekatan ini mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang perantara (middleman), hubungan agen dan susunan/perlengkapan organisasi. Middleman adalah perantara individu-individu atau yang mengkonsentrasikan spesialisasi bisnis dalam pelaksanaan-pelaksanaan fungsi marketing, termasuk fungsi pembelian dan penjualan barang-barang dalam aliran produk dari produsen ke konsumen akhir.

(11)

33 Perantara di sini mengandung pengertian tidak harus organisasi. Dapat saja individu, gabungan (partnerhip atau koperasi atau non-koperasi). Macam-macam middleman of marketing:

• Merchant middleman adalah perusahaan yang memiliki dan memperdagangkan produk (menguasai dan memiliki) yang terdiri dari

retailers dan wholesalers.

• Agent middleman adalah perusahaan yang mewakili pemilik dalam memperdagangkan produk yang terdiri dari brokers dan commission

men.

• Speculative middleman adalah perusahaan yang mencari untung dari penjualan atau pembelian produk dikarenakan fluktuasi harga dalam jangka pendek.

• Processors and manufactures adalah organisasi yang melakukan aktivitas mengubah bentuk.

• Facilitative organizations adalah organisasi yang tidak secara langsung berhubungan dengan proses pemasaran tetapi membantu kelancaran proses pemasaran.

c. Commodity Approach (pendekatan komoditas)

Commodity Approach (pendekatan komoditas) menekankan kepada apa

yang diperbuat dan bagaimana penanganan terhadap komoditas sepanjang gap antara petani (the original point of production) dengan konsumen akhir. Dengan demikian, pendekatan ini menggambarkan “what is done and how to handle the

commodity” agar penanganannya efisien. d. System Approach (pendekatan sistem)

System Approach (pendekatan sistem) menekankan kepada keseluruhan

sistem, efisiensi dan proses yang kontinu membentuk suatu sistem. Dengan demikian pendekatan ini menganalisa keterkaitan yang kontinu diantara subsistem-subsistem (misalnya subsistem pengumpulan atau penyediaan bahan baku, pengolahan dan distribusi) yang memberikan tingkat efisiensi tinggi.

e. Pendekatan Analisa Permintaan dan Harga

Titik tolak pendekatan analisa permintaan dan harga adalah pendekatan analitis dari kegiatan ekonomi di bidang pemasaran antara petani dan konsumen.

(12)

34 Kegiatan ekonomi disini adalah berhubungan dengan proses transformasi komoditas usahatani menjadi bermacam-macam produk yang diinginkan oleh konsumen. Proses transformasi ini pada asasnya adalah penciptaan suatu komoditas lebih berguna bagi konsumen. Proses transformasi ini merupakan kegiatan produktif dalam sistem pemasaran karena menciptakan atau menambah nilai guna produk. Secara konseptual ada tiga (3) macam kegunaan:

Kegunaan Tempat (space utility)

Karena hasil-hasil komoditas pertanian biasanya terpencar di beberapa daerah produksi dan konsumennya juga terpencar di daerah yang berlainan (antar kota, antar pulau, dan bahkan luar negeri), maka peranan transportasi, pergudangan, serta ongkos-ongkos yang menyangkut kegiatan ini akan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen.

Kegunaan Bentuk (form utility)

Perubahan atau pengolah suatu produk menjadi produk yang lebih berguna akan menambah kepuasan konsumen, seperti singkong menjadi tepung tapioca atau pellet. Dalam hal ini proses standarisasi dan grading akan mempengaruhi ongkos tataniaga serta margin pedagang dari produk tersebut.

Kegunaan Waktu (time utility)

Karena produk pertanian dihasilkan secara musiman sedangkan konsumsinya sepanjang tahun, maka peranan penyimpanan (storage) antara musim panen adalah penting sekali.

3.1.7 Efisiensi Tataniaga

Asmarantaka (2009) mengemukakan, secara teoritis tataniaga yang efisien adalah pasar persaingan sempurna (perfect competition). Tetapi struktur pasar ini tidak dapat ditemukan. Ukuran efisiensi adalah kepuasan dari konsumen, produsen, maupun lembaga-lembaga yang terlibat di dalam mengalirkan barang dan jasa mulai dari petani sampai ke konsumen akhir. Ukuran untuk menentukan tingkat kepuasan tersebut sulit dan sangat relatif. Oleh sebab itu, efisiensi tataniaga pada umumnya dapat diukur dengan mempergunakan indikator efisiensi operasional (teknik) dan efisiensi harga.

(13)

35 Efisiensi operasional berhubungan dengan penanganan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan rasio dari output-input tataniaga. Rasio efisiensi tataniaga (operasional) dapat dilihat dari peningkatan dalam dua cara yaitu : (1) pada perubahan sistem tataniaga dengan mengurangi biaya perlakuan pada fungsi-fungsi tataniaga tanpa mengubah manfaat/kepuasan konsumen dan (2) meningkatkan kegunaan output dari proses tataniaga tanpa meningkatkan biaya tataniaga.

Efisiensi harga adalah bentuk kedua dari efisiensi tataniaga. Efisiensi ini menekankan kepada kemampuan dari sistem tataniaga yang sesuai dengan keinginan konsumen. Sasaran dari efisiensi harga adalah efisiensi alokasi sumberdaya dan maksimum output (ekonomi). Efisiensi harga dapat tercapai apabila masing-masing pihak yang terlibat dengan kegiatan tataniaga memperoleh kepuasan atau memiliki sikap yang responsif terhadap harga yang berlaku. Efisiensi harga dapat dianalisis melalui ada tidaknya keterpaduan pasar (integrasi) antara pasar acuan dengan pasar pengikutnya.

3.1.8 Marjin Tataniaga

Menurut Asmarantaka (2009), marjin tataniaga sering dipergunakan sebagai perbedaan antara harga di berbagai tingkat lembaga tataniaga di dalam sistem tataniaga. Pengertian marjin tataniaga ini sering dipergunakan untuk menjelaskan fenomena yang menjembatani gap (bridging the gap) antara pasar di tingkat petani (farmer) dengan pasar di tingkat eceran (retailer).

Menurut Tomek dan Robinson dalam Asmarantaka (2009), terdapat dua alternatif dari definisi marjin tataniaga yaitu :

1. Perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen (petani).

2. Merupakan harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitas-aktivitas bisnis yang terjadi dalam sistem pemasaran tersebut.

Definisi yang pertama menjelaskan secara sederhana bahwa marjin tataniaga adalah perbedaan harga di tingkat konsumen (Pr) dengan harga yang diterima petani (Pf) dengan demikian marjin tataniaga adalah M = Pr – Pf. Sedangkan pengertian yang kedua lebih bersifat ekonomi dan definisi ini lebih tepat, karena memberikan pengertian adanya nilai tambah (added value) dari

(14)

36 adanya kegiatan tataniaga dan juga mengandung pengertian dari konsep derived

supply dan derived demand.

Derived demand memiliki pengertian permintaan turunan dari primary demand yang dalam hal ini adalah permintaan dari konsumen akhir, sedangkan derived demand-nya adalah permintaan dari pedagang perantara (grosir atau

eceran) ataupun dari perusahaan pengolah (processor) kepada petani, sedangkan

derived supply adalah penawaran di tingkat pedagang eceran yaitu merupakan

penawaran turunan dari penawaran di tingkat petani (primary supply).

Dari kedua konsep marjin tataniaga tersebut, marjin tataniaga merupakan M = Pr – Pf atau marjin tataniaga terdiri dari biaya-biaya dan keuntungan perusahaan yang terlibat dalam sistem tataniaga tersebut. Dengan demikian, marjin tataniaga juga didefenisikan sebagai M = C + π, di mana C = biaya-biaya (input pemasaran) dan π = keuntungan perusahaan. Efisiensi operasional, lebih tepat mempergunakan rasio antara keuntungan dengan biaya karena pembanding

opportunity cost dari biaya adalah keuntungan, sehingga indikatornya adalah π / C

dan nilainya harus positif (> 0).

Pengertian dari derived demand ini memiliki interpretasi dapat diperluas mencakup hubungan : (a) elastisitas antara berbagai tingkat pasar dan (b) elastisitas antara gabungan produk dan komoditas turunannya. Dari pengertian ini muncul konsep atau besaran elastisitas di tingkat petani (Ef), elastisitas di tingkat eceran atau di tingkat konsumen akhir (Er), dan elastisitas transmisi. Elastisitas transmisi adalah suatu ukuran seberapa jauh perubahan harga di tingkat pasar eceran ditransmisikan ke pasar di tingkat petani. Secara matematis elastisitas transmisi adalah sebagai berikut :

ET =

Keterangan dari persamaan tersebut adalah sebagai berikut δ Pr/Pr adalah perubahan harga di tingkat eceran (konsumen akhir) dan δ Pf/Pf adalah perubahan harga di tingkat petani. Untuk komoditas pertanian, umumnya nilai elastisitas transmisi diantara 0-1. Nilai ET = 1 menunjukkan bahwa sistem pemasaran produk tersebut efisien (pasar persaingan sempurna).

(15)

37 Gambar 2. Marketing Margin (Sumber : Asmarantaka, 2009)

Marjin tataniaga adalah selisih harga di tingkat konsumen dan petani dikalikan dengan jumlah produk yang dipasarkan (Asmarantaka, 2009). Secara matematik sederhana the value of the marketing margin (VMM) = (Pr-Pf) Q. Pandangan ini sama dengan konsep dari nilai tambah.

Nilai dari marjin tataniaga adalah ukuran dari marketing bill dan the

market basket statistics. Nilai dari marjin tataniaga (VMM) dapat dipandang

secara agregat atau ke dalam dua aspek yang berbeda. Aspek pertama dari VMM adalah penerimaan dari input yang dipergunakan dalam proses pengolahan atau jasa pemasaran yang dipergunakan dari tingkat petani sampai konsumen, (marketing costs or returns to factors) ; termasuk ke dalam kelompok ini adalah upah, suku bunga, sewa, dan keuntungan. Aspek lain analisis VMM adalah

returns to institutions or marketing charges yaitu retailers, wholesalers, processor, dan assemblers.

Hubungan marjin tataniaga dengan perubahan jumlah kuantitas dapat

absolute atau persentase. Marjin tataniaga yang absolute dapat menurun, konstan,

ataupun meningkat searah dengan peningkatan jumlah yang dipasarkan. Demikian pula tipe marjin tataniaga dengan persentase tertentu yaitu menurun, konstan, dan meningkat persentasenya, searah dengan peningkatan jumlah produk yang

Qr,f Harga (P) Sr = Derived Supply Sf = Primary Supply Dr = Primary Demand Dr = Derived Demand Marjin Harga (P) Pr Pf

(16)

38 dipasarkan. Tetapi yang disarankan untuk marjin tataniaga produk pertanian adalah kombinasi dari marjin absolute dan marjin persentase.

3.1.9 Farmer’s Share

Farmer’s share merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk

menentukan efisiensi tataniaga yang dilihat dari sisi pendapatan petani. Menurut Kohls dan Uhl (1985), farmer’s share merupakan persentase harga yang diterima

oleh petani dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen dari kegiatan usahatani yang dilakukannya. Farmer’s share mempunyai hubungan negatif dengan marjin tataniaga. Marjin tataniaga yang semakin tinggi umumnya akan mengakibatkan

farmer’s share akan semakin kecil, begitu juga sebaliknya, semakin kecil marjin

tataniaganya maka farmer’s share akan semakin besar. 3.1.10 Peran Kelompok Tani

Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan serta mengembangkan usaha anggota. Berdasarkan batasan tersebut, maka fungsi dari kelompok tani adalah :

1. Kelas belajar

Sebagai kelas belajar, kelompok tani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusahatani, sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah, dan akhirnya berdampak pada kehidupan yang lebih sejahtera.

2. Wahana kerjasama

Sebagai wahana kerjasama, kelompok tani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan kegiatan usahataninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

(17)

39 3. Unit produksi

Sebagai unit produksi, usahatani yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompoktani, secara keseluruhan harus dipandang sebagai kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas.

Selain kelompok tani, dikenal pula istilah gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang didefenisikan sebagai kumpulan dari beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerjasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha. Di dalam Gapoktan setiap kelompok tani akan dikembangkan dan diarahkan untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan fungsinya. Fungsi dari Gapoktan yang dimaksud adalah sebagai usahatani, unit usaha pengolahan, unit usaha sarana dan prasarana produksi, unit usaha pemasaran dan unit usaha keuangan mikro, serta unit jasa penunjang lainnya. Jika fungsi-fungsi tersebut berjalan dengan baik maka Gapoktan akan menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri.

Sebagai unit usaha pemasaran, hendaknya Gapoktan mempunyai kemampuan sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi serta menganalisa potensi dan peluang pasar berdasarkan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan komoditi yang dikembangkan/diusahakan guna memberikan keuntungan usaha yang lebih besar.

2. Merencanakan kebutuhan pasar berdasarkan sumberdaya yang dimiliki dengan memperhatikan segmentasi pasar.

3. Menjalin kerjasama/kemitraan usaha dengan pemasok-pemasok kebutuhan pasar.

4. Mengembangkan penyediaan kebutuhan pasar akan produk pertanian. 5. Mengembangkan kemampuan memasarkan produk-produk hasil pertanian. 6. Menjalin kerjasama atau kemitraan usaha dengan pihak pemasok

hasil-hasil produksi pertanian.

7. Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis potensi usaha masing-masing anggota untuk dijadikan satu unit usaha yang menjamin pada permintaan pasar dilihat dari kuantitas, kualitas, serta kontinuitas.

(18)

40 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Kontribusi hortikultura terhadap manusia dan lingkungan cukup besar. Salah satu jenis produk hortikultura yang memegang peranan penting dalam perekonomian negara adalah sayuran. Tahun 2004 sampai tahun 2006 ekspor sayuran mengalami peningkatan sebesar 30 persen. Akan tetapi pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17 persen dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008 sebesar lima persen (dapat dilihat pada Tabel 1). Salah satu produk sayuran unggulan ekspor adalah brokoli (Brassicae oleraceae L). Brokoli dijadikan sebagai keperluan bahan pangan dan dapat berfungsi sebagai obat pada penyakit tertentu.

Berdasarkan informasi melalui komunikasi lisan dengan pihak dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Kecamatan Cisarua Puncak menjadi daerah sentra produksi brokoli untuk wilayah Bogor. Kecamatan Cisarua Puncak memiliki ketinggian yang memenuhi kriteria bertumbuhnya brokoli, yaitu pada ketinggian 800 sampai dengan 900 mdpl. Usahatani brokoli di wilayah ini dimulai pada tahun 2008 (dapat dilihat pada Tabel 2). Usahatani brokoli terpusat di dua desa, yaitu Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan.

Di Desa Tugu Utara terdapat satu kelompok tani yang menjalankan usaha tani brokoli, yaitu kelompok tani Suka Tani yang merupakan anggota gabungan kelompok Tani Tugu Utara. Kelompok tani ini memulai usahatani brokoli pada tahun 2009. Tingkat produksi yang dihasilkan, memberi sumbangsih yang besar untuk lingkungan Kecamatan Cisarua Puncak. Tahun 2009, kelompok tani ini mampu memperoleh tingkat produksi sebesar 59,52 persen dari total produksi brokoli yang ada di wilayah Cisarua, dan pada tahun 2010 mampu memperoleh tingkat produksi sebesar 54,11 persen dari total produksi di wilayah Cisarua tersebut.

Kelompok tani ini sebenarnya mampu memasarkan produknya secara langsung kepada konsumen. Akan tetapi terdapat beberapa kendala yang membuat kelompok tani ini tidak dapat memasarkan produknya secara langsung ke konsumen, sehingga harus berhubungan dengan penyalur yang dapat membantu menyalurkan produk tersebut. Kendala yang dihadapi oleh kelompok tani tersebut adalah produk yang dijual sifatnya mudah rusak (bulky), dan cepat busuk

(19)

41 (perishable). Kendala lain yang dihadapi adalah jarak lokasi pemasaran dari areal usahatani yang dimiliki oleh setiap petani, sehingga memerlukan penanganan, mulai dari penyimpanan, pengangkutan dan bongkar muat. Hal tersebut dapat mengakibatkan biaya yang dikeluarkan oleh kelompok tani tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperolehnya. Dalam memasarkan brokoli, petani juga belum dapat menentukan harga jual. Hal ini dikarenakan harga seringkali ditentukan oleh pihak pedagang, sehingga petani berstatus sebagai penerima harga saja (price taker). Jika dilakukan pengamatan pada Tabel 5. dan Tabel 6., dapat disimpulkan bahwa telah terbentuk suatu marjin pemasaran yang cukup besar diantara petani sampai ke pedangang pengecer. Dalam hal ini petani mendapatkan bagian yang paling sedikit dari total penerimaan pemasaran brokoli tersebut. Penguraian latar belakang dan permasalahan yang ada pada kelompok tani ini, menjadi dasar bagi penulis untuk melakukan suatu penelitian berupa analisis pada sistem tataniaga sayur brokoli yang dihasilkan oleh kelompok tani ini.

Penelitian ini menggunakan alat analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif meliputi analisis fungsi-fungsi tataniaga, saluran tataniaga, struktur pasar, dan perilaku pasar. Analisis kuantitatif meliputi marjin tataniaga, farmer’s

(20)

42 Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional

Fakta usahatani brokoli yang dihadapi petani : 1. Marjin tataniaga tinggi.

2. Harga fluktuatif

Analisis kualitatif 1. Analisis saluran tataniaga 2. Analisis lembaga tataniaga 3. Analisis fungsi-fungsi

tataniaga

4. Struktur pasar dan perilaku pasar

Analisis kuantitatif 1. Marjin tataniaga 2. Farmer’s share 3. Rasio keuntungan dan

biaya

Alternatif saluran tataniaga sayur brokoli yang paling efisien

1. Bagaimana sistem tataniaga brokoli yang dilakukan oleh kelompok tani Suka Tani, di desa Tugu Utara ?

Gambar

Gambar 1. Contoh Saluran Tataniaga dengan Beberapa Tingkat                     Sumber : Limbong dan Sitorus (1985)
Tabel 9. Lima Jenis Pasar Sistem Pangan dan Serat
Tabel 10.   Sifat-sifat Utama Bentuk Pasar Bersaing Murni (Atomistik) dan   Oligopolistik dikembangkan dengan Sistem Tataniaga

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui kadar antioksidan pada buah kiwi, dilakukan serangkaian analisis... Analisis kuantitatif berupa penentuan aktivitas antioksidan, kadar flavonoid kadar fenolik

Massa air di lapisan termoklin diduga berasal dari Pasifik Utara (NPSW) yang masuk ke Selat Lombok melalui Selat Makassar dibuktikan dengan nilai salinitas 34,63 Psu pada

Berkaitan dengan hal di atas, Doni Koesoema mengandaikan adanya pendekatan yang integral diantara empat agen utama pendidikan, yaitu keluarga, lembaga pendidikan,

Prosedur dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah dengan melakukan observasi terhadap kebutuhan dari mitra, pelaksanaan observasi dengan melakukan pertemuan antara

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan desain one shot case study dengan mengacu pada four D Model.Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu keterlaksanaan

Berdasarkan hasil dari pelaksanaan program Tha Prink: Pengolahan limbah tusuk sate yang telah dilaksanakan di desa Bendungan kecamatan Kudu kabupaten Jombang, dapat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi belanja aparatur pada Dinas PPKAD Kabupaten Kupang tahun 2011-2013. Hasil penelitian ini

ELECTRONICS SOLUTION/TELESINDO - LT.2 (MALL DEPOK)_HHP ELECTRONICS SOLUTION - LT.1 BLOK A (TERAS KOTA MALL)_HHP ELECTRONICS SOLUTION - LT. 2 B2 (GRAND GALAXY PARK)_HHP