• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identitas Kota Bandung pada Batik Komar Berdasarkan Teori Kevin Lynch

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Identitas Kota Bandung pada Batik Komar Berdasarkan Teori Kevin Lynch"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL NARADA ISSN 2477-5134 Volume 6 Edisi 2 September 2019

.

IDENTITAS KOTA BANDUNG PADA BATIK

KOMAR BERDASARKAN TEORI KEVIN LYNCH

Oleh:

Nukke Sylvia

Program Studi Desain Produk, Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana

[email protected]

Denta Mandra Pradipta B

Program Studi desai Komunikasi Visual, Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana

Abstrak

Industri produk mainan sedang menggeliat dan menjadi salah satu major company dalam dunia Identitas adalah suatu ciri atau ke khasan dari suatu tempat, yang membuat seseorang mengingat kembali dan mau berkunjung kembali ketempat yang dituju karena tepat tersebut mempunyai perbedaan dengan tempat lain karena memiliki karakter dan keunikan. Kota juga berarti suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya ibukota kabupaten, ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan. Salah satu yang mempunyai ciri tersebut adalah Kota Bandung, Kota Bandung adalah salah satu tempat yang mempunyai keunikan dan karakter sendiri, baik itu dalam tempat pariwisata, kuliner makanan dan lainnya. Salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun manca Negara dalam mencari cendera mata atau buah tangan adalah Batik. Salah satu tempat Batik yang terkenal di Bandung adalah Batik Komar, Batik Komar adalah salah satu tempat yang memproduksi Batik dengan motif Kota Bandung. Oleh karena itu penulis ingin mengkaji motif Kota Bandung yang dibuat oleh Batik Komar dengan teori Kevin Lynch, agar sejarah dari Batik Kota Bandung tersebut bisa dipertahankan keberadaannya. Setelah menghasilkan analisis Batik Bandung maka dapat disimpulkan Batik Komar sebagai pembuat batik sudah cukup mencerminkan identitas Kota Bandung.

Kata Kunci : Identitas kota bandung, Batik Komar,kota Bandung. Abstract

Identity is a characteristic or to the repertoire of a place, which makes someone recall and wants to visit again where they are intended because it has differences with other places because it has character and uniqueness. The city also means an urban living environment that has non-agrarian characteristics, for example, the district capital, the capital of the sub-district which functions as the center of growth. One that has these characteristics is the city of Bandung, the city of Bandung is one place that has its own uniqueness and character, both in places of tourism, food, and other foods. One of the places visited by many local and foreign tourists in searching for souvenirs or souvenirs is Batik. One of the famous Batik venues in Bandung is Komar Batik, Batik Komar is one place that produces Batik with Bandung City motif. Therefore the author wants to examine the Bandung City motif made by Batik Komar with the theory of Kevin Lynch so that the history of the Bandung Batik can be maintained. After producing the Bandung Batik analysis, it can be concluded that Batik Komar as a batik maker reflects the identity of Bandung City.

(2)

Identitas adalah suatu ciri atau ke khasan dari suatu tempat yang bisa membuat seseorang mengingat kembali dan mau berkunjung kembali ketempat yang dituju karena tepat tersebut mempunyai perbedaan dengan tempat lain karena memiliki karakter dan keunikan. Identitas adalah hal mendasar yang sangat penting. Hal ini dikarenakan identitas adalah sesuatu yang digunakan untuk mengenali, membedakan suatu tempat dengan tempat lainnya kevin lynch, ´good city formµ (1984;131). Menurut peraturan Mendagri RI No. 4 th. 1980, Kota adalah suatu wadah yang memiliki batasan administrasi wilayah seperti kotamadya dan kota administratif. Kota juga berarti suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya ibukota kabupaten, ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan. Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City (1960) mendefinisikan identitas kota sebagai berikut :

´identitas kota bukan dalam arti keserupaan suatu objek dengan yang lain, tetapi justru mengacu kepada makna individualitas yang mencerminkan perbedaannya dengan objek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiriµ /\QFK

1960)

´identitas kota adalah citra mental yang terbentuk dari ritme biologis tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time), yang

itu sendiriµ /\QFK

Identitas kota tersebut oleh tangan dingin pengusaha Batik H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds dibuat sebuah motif, dan lahirlah sebuat motif Kota Bandung. Batik Komar adalah salah satu tempat Wisata Batik dengan pendirinya yaitu H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds. lahir dan dibesarkan di Desa Trusmi Plered Cirebon. Terlahir dari lingkungan pengrajin batik Trusmi Cirebon dan merupakan generasi ke lima dari keluarga pengrajin batik yang handal. Batik Komar membuat banyak karya lebih dari 10000 desain yang telah dikeluarkan dan membuat karya reka ulang Batik Bandung yang diminta oleh Alm. Lalam. Sampai saat ini Batik Komar masih tetap mengembangkan karya- karyanya dan selalu membuat inovasi baru. Beberapa karya yang dibuat diantaranya Desain batik dengan tema Moluska (Kerang) dari filum Gastropoda dan filum Bivalvia, motif Salju (kristal air), motif Satwa Laut, motif Pamor Keris, motif Satwa Liar, motif Sekarjagad Latar Belah Ketupat, Tiga Ranting Rendeng-rendeng, Sekar Padu Suplir Mekar, Antares, Rumpun Bambu dan lain-lain. Dari banyaknya karya yang dibuat, Batik bandung adalah salah satu batik yang banyak diminati oleh wisatawan.

Identitas merujuk pada salah suatu ciri atau kekhasan dari suatu tempat, yang bisa

(3)

JURNAL NARADA ISSN 2477-5134 Volume 6 Edisi 2 September 2019

membuat seseorang mengingat kembali dan mau berkunjung kembali ketempat yang dituju karena tepat tersebut mempunyai perbedaan dengan tempat lain karena memiliki karakter dan keunikan. Bagi sebuah kota, identitas adalah hal yang sangat penting, karena dapat digunakan untuk mengenali, membedakan suatu tempat dengan tempat lainnya (Lynch, 1960; 1972).

Batik Komar menghadirkan identitas kota Bandung dalam rangkaian desain yang bersifat kontemporer dan modern, contohnya adalah Motif Pasopati, Kimerak, Angklung, Ciawi, Kimerak Kombinasi Burung Cangkurileung, Kimerak Kombinasi Angklung dan Aksara Sunda yang dibuat pada 1998 (Kudiya, 2011)

Penelitian ini terfokus pada pembahasan mengenai upaya Batik Komar untuk menghadirkan identitas Bandung sebagai kota kebudayaan dalam motif batik. Hal tersebut dirumuskan dalam pertanyaan penelitian:

a. Bagaimana dasar pemikiran atau konsep Batik Komar?

b. Bagaimana keterkaitan antara motif dengan upaya untuk menghadirkan identitas kota Bandung berdasarkan teori Kevin Lynch?

B. TINJAUAN PUSTAKA

Identitas

Identitas adalah suatu ciri atau ke khasan dari suatu tempat yang bisa membuat

seseorang mengingat kembali dan mau berkunjung kembali ketempat yang dituju karena tepat tersebut mempunyai perbedaan dengan tempat lain karena memiliki karakter dan keunikan. Identitas adalah hal mendasar yang sangat penting. Hal ini dikarenakan identitas adalah sesuatu yang digunakan untuk mengenali, membedakan suatu tempat dengan tempat lainnya kevin lynch, good city form (1984;131).

Menurut peraturan Mendagri RI No. 4 th. 1980, Kota adalah suatu wadah yang memiliki batasan administrasi wilayah seperti kotamadya dan kota administratif. Kota juga berarti suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya ibukota kabupaten, ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan.

Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City (1960) mendefinisikan identitas kota sebagai berikut :

´LGHQWLWDV NRWD EXNDQ GDODP DUWL NHVHUXSDDQ VXDWX

objek dengan yang lain, tetapi justru mengacu kepada makna individualitas yang mencerminkan perbedaannya dengan objek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiriµ /\QFK

1960)

´identitas kota adalah citra mental yang terbentuk

dari ritme biologis tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time), yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial-ekonomi-budaya masyarakat kota itu sendiriµ /\QFK

Elemen pembentuk kota

(4)

yang melekat pada kota yang dapat menciptakan representasi kota bagi penduduk maupun pengunjung.

Citra kota pada umumnya dipengaruhi oleh aspek fisik kota tersebut. Dalam bukunya Image of The City, Kevin Lynch mengungkapkan ada 5 elemen pembentuk

image kota secara fisik,

yaitu: path (jalur), edge(tepian), distric (kawasan ), nodes (simpul), dan landmark (penanda). Kelima elemen ini dirasa dapat mewakili citra rasa dari suatu kawasan dan memberikan citra yang kuat terhadap kota. Kelima elemen ini digunakan untuk membentuk mental map (peta mental) yang digunakan untuk memudahkan mengingat atau merekam elemen-elemen fisik dalam suatu kota.

1. Elemen Jalan/Jejalur (Path )

Path adalah jalur-jalur dimana pengamat biasanya bergerak dan melaluinya. Path dapat berupa jalan raya, trotoar, jalur transit, canal, jalur kereta api.

Path mempunyai identitas yang lebih baik kalau memiliki tujuan besar (misalnya ke stasiun, tugu, alun-alun, dan lain-lain), serta ada penampakan yang kuat (misalnya fasad, pohon, dan lain-lain), atau ada belokan yang jelas.

2. Elemen Tepian (Edges)

Edges adalah elemen linear yang tidak digunakan atau dipertimbangkan sebagai path oleh pengamat. Edges adalah

batas-kereta api, tepian bangunan, dinding.

Edges juga merupakan elemen linier yang dikenali manusia pada saat dia berjalan, tapi bukan merupakan jalur/paths. Batas bisa berupa pantai, dinding, deretan bangunan, atau jajaran pohon/ lansekap. Batas juga bisa berupa barrier antara dua kawasan yang berbeda, seperti pagar, tembok, atau sungai. Fungsi dari elemen ini adalah untuk memberikan batasan terhadap suatu area kota dalam menjaga privasi dan identitas kawasan, meskipun pemahaman elemen ini tidak semudah memahami paths.

3. Elemen Kawasan (District)

Distrik (district) adalah kawasan kota yang bersifat dua dimensi dengan skala kota menengah sampai luas, dimana manusia

PHUDVDNDQ ·PDVXN· GDQ ·NHOXDU· GDUL kawasan yang berkarakter beda secara umum. Karakter ini dapat dirasakan dari dalam kawasan tersebut dan dapat dirasakan juga dari luar kawasan jika dibandingkan dengan kawasan dimana si pengamat berada.

Elemen ini adalah elemen kota yang paling mudah dikenali setelah jalur/paths, meskipun dalam pemahaman tiap individu bisa berbeda.Districts merupakan wilayah yang memiliki kesamaan (homogen). Kesamaan tadi bisa berupa kesamaan karakter/ciri bangunan secara fisik, fungsi wilayah, latar belakang sejarah dan sebagainya.

(5)

JURNAL NARADA ISSN 2477-5134 Volume 6 Edisi 2 September 2019

Nodes adalah titik-titik, spot-spot strategis dalam sebuah kota dimana pengamat bisa masuk, dan yang merupakan fokus untuk ke dan dari mana dia berjalan. Nodes bisa merupakan persimpangan jalan, tempatbreak (berhenti sejenak) dari jalur, persilangan atau pertemuan path, ruang terbuka atau titik perbedaan dari suatu bangunan ke bangunan lain.

Elemen ini juga berhubungan erat dengan elemen district, karena simpul kota yang kuat akan menandai karakter suatu district. Untuk beberapa kasus, nodes bisa juga ditandai dengan adanya elemen fisik yang kuat. Nodes menjadi suatu tempat yang cukup strategis, karena bersifat sebagai tempat bertemunya beberapa kegiatan/aktifitas yang membentuk suatu ruang dalam kota.

5. Elemen Tengaran/ Penanda (Landmark)

Landmark adalah elemen fisik suatu kota sebagai referensi kota dimana pengamat tidak dapat masuk kedalamnya, tetapi penanda bersifat eksternal terhadap pengamat. Biasanya dikenali melalui bentuk fisik dominan dalam suatu kawasan kota seperti bangunan, monumen, toko, atau gunung. Landmark sudah dikenali dalam jarak tertentu secara radial dalam kawasan kota dan dapat dilihat dari berbagai sudut kota; tetapi ada beberapa landmark yang hanya dikenali oleh kawasan tertentu pada jarak yang relatif dekat.

Batik

.DWD ´EDWLNµ EHUDVDO GDUL EDKDVD -DZD GDUL NDWD ´DPEDµ \DQJ EHUDUWL PHQJJDPEDU GDQ ´WLNµ \DQJ EHUDUWL NHFLO 6HSHUWL PLVDOQ\D

terdapat dalam kata-kata Jawa lainnya yakni

´NOLWLNµ ZDUXQJ NHFLO ´EHQWLNµ

(persinggungan kecil antara dua benda),

´NLWLNµ NXWX NHFLO GDQ VHEDJDLQ\D 7HJXK

Suwarto, dkk, 1998: 8). Pengertian lain dari batik menjelaskan bahwa batik merupakan suatu seni dan cara menghias kain dengan penutup lilin untuk membentuk corak hiasannya, membentuk sebuah bidang pewarnaan, sedang warna itu sendiri dicelup dengan memakai zat warna bisa (Endik S, 1986: 10). Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa batik merupakan suatu seni menghias kain dengan menggambar pola-pola tertentu di atas kain dengan menggunakan malam.

Berdasarkan teori identitas dan 5 element dari Kevin Lynch, motif yang dibuat oleh batik Komar dapat dikaji berdasarkan teori tersebut, sehingga dapat diketahui bahwa motif tersebut sudahmenggambarkan identitas kota bandung.

C. METODE

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif Obyek penelitian adalah Batik Bandung motif Pasopati. Data diperoleh melalui observasi lapangan di Studio Batik Komar, Jl. Cigadung Raya

(6)

pemilik Batik Komar, Dr. Komaruddin Kudiya.

Analisis terhadap obyek dilakukan berdasarkan teori identitas Kevin Lynch, dihubungkan dengan teori mengenai sejarah dan kebudayaan Sunda. Salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung ke Batik Komar. Teknik pengumpulan data ini dipilih karena peneliti harus mengamati dan terjun langsung ke lapangan (yakni studio Batik Komar) dan melihat Objek penelitian adalah Batik Bandung seperti , Motif Kimerak, Angklung, Ciawi, Kimerak Kombinasi burung Cangkurileung, Kimerak kombinasi Angklung dan Aksara Sunda, yang diperoleh dengan cara studi kasus dan diambil dengan cara pengamatan di lapangan (Studio Batik Komar).

Teknik dokumentasi untuk merekam proses uji coba yang akan di teliti baik berupa video, foto ataupun hasil scan dari objek penelitian, sehingga bisa menjadi bukti dan menambah refrensi untuk dijadikan bahan penelitian.

Studi literatur digunakan untuk mencari penelitian dan pengatahuan terdahulu dari berbagai sumber mengenai motif batik, batik dan kota Bandung.

Gambar 1 Batik Pasopati

Hasil

Dasar pemikiran dari haji komar pada karyanya terinspirasi dari lingkungan hidup dan kebudayaan maupun kesenian masyarakat yang ada disekitarnya. Dimana semua karya yang dibuat berdasarkan observasi lapangan terlebih dahulu. Konsep pada karya batik Bandung yang dibuat berdasarkan falsafah kehidupan dan adat istiadat masyarakat daerah Priangan khususnya Bandung.

Batik Pasopati yang dibuat oleh batik Komar mempunyai beberapa motif diantaranya :

x Jembatan Pasopati

Gambar 2 Pasopati

Motif jembatan pasopati ini diambil dari landmark yang berada dikawasan Cihampelas sampai gasibu sebagai salah satu

(7)

JURNAL NARADA ISSN 2477-5134 Volume 6 Edisi 2 September 2019

ciri khas kota Bandung.

x Motif Banji

Gambar 3Motif Baji

Pola Batik Banji merupakan salah satu pola batik tertua, yang berupa silang diberi tambahan garis-garis pada ujungnya dengan gaya melingkar kekanan dan kekiri. Motif yang seperti ini terkenal di berbagai kebudayaan kuno di seluruh dunia dan sering disebut swastika. Di Nusantara pola ini tidak terbatas pada seni batik saja, tetapi dapat dijumpai pula sebagai hiasan benda-benda lain yang tersebar di banyak pulau. Pola batik banji termasuk pola geometris.

x Bunga Patrakomala

Gambar 4 Batik Pasopati

Bunga Patrakomala salah satu flora yang menjadi ciri khas kota Bandung dan bunga tersebut motifnya sudah dipatenkan oleh pemda kota Bandung.

x Burung Cangkurileung

Gambar 5 Motif Cangkurileung

Burung Cangkurileung adalah salah satu fauna yang menjadi ciri khas kota Bandung dan dijadikan motif batik oleh Batik Komar.

x Aksara Sunda

Gambar 6 Motif Aksara Sunda

Aksara Sunda Kuno adalah aksara yang digunakan pada prasasti-prasasti dan piagam (serta naskah) jaman kerajaan Sunda (yang tertua ditemukan pada prasasti Kawali abad XIV) (Darsa. dkk, 2007: 12). Selanjutnya Holle (1882: 15-18, dalam Darsa, 2007: 15) menyatakan aksara tersebut sebagai modern schrift uit de Soenda-landen, en niet meer dan + jaar oud ¶DNVDUD PRGHUQ GDUL

(8)

kota Bandung seperti contoh diatas Pembahasan

x Elemen Jalan/Jejalur (Path )

Gambar 7 Elemen Jalan

Elemen jalan atau jejalur diwakili oleh gambar jembatan pasopati yang secara berurutan atau dibuat berulang dari arah kiri kekanan, menggambarkan jalur kota Bandung.

x Elemen Tepian (Edges)

Gambar 8 Elemen Tepian

Elemen tepian diwakili dengan motif banji yang berada ditepi kiri dan kanan. Yang menggambarkan batasan satu wilayah dengan wilayah lainnya di Kota Bandung.

x Elemen Kawasan (District)

Gambar 9 Elemen Kawasan

Kawasan atau distrik diwakilkan oleh motif mulai dari kiri kekanan, dari motif banji yang berada pada tepi kiri mengambarkan batasan dan pintu masuk ke kawasan kota Bandung dan diakhiri dengan motif baji yang berada disebelah kanan yang menggambarkan pintu keluar dari kawasan kota Bandung.

x Elemen Simpul (Nodes)

Gambar 10 Elemen Simpul

Elemen Simpul diwakili oleh struktur pola motif burung kimerak yang berada ditengan antara bunga patrakomala dan jembatan pasopati menggambarkan ruang terbuka yang ada di Bandung.

(9)

JURNAL NARADA ISSN 2477-5134 Volume 6 Edisi 2 September 2019

x Elemen Tengaran/ Penanda (Landmark)

Gambar 11 Elemen Tengaran

Elemen tengaran atau landmark diwakili oleh gambar jembatan pasopati, jembatan ini menggambarkan arus keluar masuk kota Bandung dari tol luar maupun dalam kota. Selain itu jembatan pasopati juga menjadi salah satu bangunan yang sangat dikenali oleh turis lokal maupun mancanegara.

E. KESIMPULAN

Kesimpulan

Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis, pembahasan Batik Komar dengan motif Jembatan Pasopati yang menghadirkan identitas kota Bandung dengan menghadirkan ikon yang menjadi ciri khas Kota Bandung berupa landmark kota, flora-fauna, serta aksara Sunda yang menunjukkan jatidiri kebudayaan sebagai

urang Sunda. Struktur motif dan pola batik ini yang berangkat dari kehidupan sosial budaya, falsafah hidup dan adat istiadat urang Sunda, juga memberikan nuansa baru pada batik kota Bandung.

Dengan berpijak pada Teori Identitas Kevin Lynch, pemilihan bentuk dan susunan/struktur motif-motif tersebut juga membentuk lima elemen pembentuk citra kota, yakni elemen tegaran/penanda, elemen jalar/jejalur (path), elemen tepian (edges),

elemen kawasan (district), dan elemen simpul

(nodes). Gabungan motif dasar geometris dan non-geometris menghadirkan kombinasi yang dinamis, tapi sekaligus juga harmonis. Saran

Batik sudah menjadi bagian dari seni dan budaya Indonesia yang sudah dikenal hingga mancanegara. Dengan adanya karya ² karya yang dihasilkan oleh Batik Komar, sejarah dari Batik Kota Bandung tersebut bisa dipertahankan keberadaannya.

F. UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih diberikan kepada Hibah Penelitian Dosen Muda Dikti dan Universitas Mercu Buana sebagai sponsor yang telah mendanai penelitian serta seluruh rekan-rekan yang mendukung terseleng-garanya penelitian dan penulisan artikel ilmiah ini.

G. DAFTAR PUSTAKA

Achjadi. J. (1999) ´Batik Spirit 2I ,QGRQHVLDµ. Yayasan Batik Indonesia.

(10)

dan seni budaya. Yayasan Harapan Kita. ISBN no. 979-8735-07-2.

Rosidi, A., Dkk. (2000). Ensiklopedi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.

Bodgan, R., & Taylor, S. J. (1993). Kulitatif Dasar - Dasar Penelitian (Terjemahan Roni Sianturi). Surabaya: Usaha Nasional.

Bambang, As., Irawati, S. ´,6(1-IS(1µ 7KH

Passion of Tati Suroyo. Pt. Ciriajasa Rancang Bangun. ISBN 978-602-18443-0-4.

Budiman, K. (2005). Ikonisitas: Semiotika Sastra Dan Seni Visual. Yogyakarta: Buku Baik.

Judith N. Martin, Thomas K. Nakayama. (2009). ´Intercultural Communication in Contextsµ. McGraw Hill. p. 180-92. ISBN 978 - 0-07-338512-9.

James D. F. (2014). "What is Identity (As We Know Use The Word)" (PDF).

Kudiya, K., Djatmiko, D., Herman, J., Rais, Z., Ken, A., & Syaftiyaningsih. ´%DWLN

Pesisir Selatan Jawa Baratµ. Yogyakarta, ISBN:978-602-7949-18-8.

Kudiya, K. (2011). ´Batik, eksistensi untuk Tradisiµ. Yogyakarta: Dian Rakyat, ISBN:978-979-078-355-3.

Kusrianto, A. (2013). ´%$7,. , filosofi, motif

GDQ NHJXQDDQµ. Yogyakarta : ANDI,

ISBN :978-979-29-4062-6.

Larry, A. S., Richard, E. P., Edwin McDaniel. (2009). µCommunication Between Culturesµ.

Lynch, K. (1960). The Image of The City.

Cambridge: MIT Press.

Maleong, L.J. (1993). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rizali, N. (2014). Nafas Islami Dalam Batik Nusantara. Surakarta:UNS Press. Nadia, N. (1991). Il batik.

Ulissedizioni ISBN 88-414-1016-7 PAD Jawa Barat. (2003). Indonesia's

3RSXODWLRQµ (WKQLFLW\ DQG 5HOLJLRQ LQ D

Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies.

Steinmann, A. (2003). THE ART OF BATIK. Ciba Review 58, Juli 1947. pp.2090-2101.

Sobur, A. Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosda.

Trijoto, S., M. (2010). ´0(1*(1$/

DAN MEMBUAT 027,) %$7,.µ

Menggali Sumber Inspirasi Pembuatan Motif Batik. Gama Media. ISBN: 978-979-1104-48-7.

Veldhuisen. H.C. (1993). ´%$7,.

BELANDA 1840 ² µ 'XFWK

Gambar

Gambar  1 Batik Pasopati
Gambar 3Motif Baji
Gambar 9 Elemen Kawasan
Gambar 11 Elemen Tengaran

Referensi

Dokumen terkait