http://ainilatifah.blogspot.co.id/2013/04/teknik-pengolahan-Evaluasi pembelajaran merupakan bagian penting dalam proses belajar mengajar, hal ini
menjadi penting sebab dengan adanya evaluasi dapat mengetahui kelemahan-kelemahan dan
kekurangan
serta
perkembangan
proses
belajar
me
ngajar dan masih banyak hal lain yang berhubungan dengan pentingnya dan tujuan evaluasi.
Dapat dikatakan bahwa semakin baik atau semakin buruknya sebuah pembelajaran sangat
ditentukan oleh proses pengevaluasiannya.
Kebanyakan pengajar tidak begitu memperdulikan teknik-teknik yang baik
dalam menyelenggarakan suatu instrumen dan ilmu-ilmu yang ada dalam evaluasi
pembelajaran. Dalam evaluasi pembelajaran terdapat teknik-teknik pelaksanaan suatu instrumen,
macam-macamnya, pemilihan soal-soal yang baik, cara penskoran, pengolahannya dan lain
sebagainya.
Patut untuk diperhatikaan oleh para pengajar tentang pentingnya menguasai ilmu
pengolahan hasil evaluasi. Dengan ilmu ini maka tidak dikhawatirkan terjadi ketidak adilan
dalam pemberian nilai pada peserta didik.
B.
Tujuan Penulisan Makalah
Adapun makalah ini ditulis untuk membahas tentang:
1.
Teknik pengolahan data hasil evaluasi
yaitu data-data yang berbentuk angka, sedangkan untuk data kualitatif, yaitu data yang berbentuk
kata-kata, tidak dapat diolah dengan statistic.
Menurut Zainal Arifin (2006) dalam mengolah data hasil tes, ada empat langkah pokok
yang harus ditempuh.
Pertama,
menskor, yaitu member skor pada hasil tes yang dapat dicapai
oleh peserta didik. Untuk memperoleh skor mentah diperlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci
jawaban, kunci scoring, dan pedoman konversi.
Kedua
, mengubah skor mentah menjadi skor
standart sesuai dengan norma tertentu.
Ketiga
, mengkonversikan skor standart kedalam nilai,
baik dalam bentuk huruf ataupun angka.
Keempat
, melakukan alalisis soal (jika diperlukan)
untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya
pembeda.
[1]
Bila semua jawaban siswa dalam suatu tes sudah diperiksa dan diberikan skor, maka kita
akan memperoleh skor akhir untuk setiap siswa. Skor inilah yang disebut dengan skor mentah.
[2]
Kegiatan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena menjadi dasar bagi pengolahan
hasil tes menjadi nilai prestasi. Kita tidak dapat menjadikan skor mentah ini sebagai nilai akhir
untuk siswa, kita harus mengubah dan mengolahnya terlebih dahulu menjadi skor terjabar.
Dalam mengolah skor mentah (raw score) menjadi nilai huruf dan skor standart dengan urutan
uraian sebagai berikut:
[3]
Sebelum membahas pengelolaan skor kita buat perumpamaan terlebih dahulu. Terdapat 60
item soal pilihan ganda pelajaran bahasa Arab, tiap item yang benar berbobot 1. Skor mentah
yang diperoleh 20 siswa adalah 32, 36, 27, 50, 22, 34, 35, 37, 43, 17, 21, 42, 46, 32, 31, 28, 5 7,
57, 54, 51.
Prosedur yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
[4]
a.
Mencari skor ideal, yaitu skor yang mungkin dicapai jika semua item dapat dijawab dengan
benar. Skor ideal diperoleh dengan jalan menghitung jumlah item yang diberikan serta bobot dari
tiap-tiap item.
Dari contoh diatas diketahui skor idealnya adalah 60
b.
Mencari rata-rata ideal (id) dengan rumus:
= ½ x skor ideal = ½ x 60 = 30
c.
Mencari deviasi (SD) ideal dengan cara:
SD =
1/
3
x SD =
1/
3x 30 = 10
d.
Menyusun kebutuhan konversi sesuai dengan yang dibutuhkan.
Adapun pedoman konversi dengan adalah:
[5]
Untuk mengubah skor mentah menjadi skor terjabar dalam skala 1 – 10 dapat digunakan
ketentuan-ketentuan berikut:
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa siswa yang mendapat skor 53 – 60
mendapat nilai 10, 48 – 52 = 9, 43 – 47 = 8, 38 – 42 = 7, 33 – 37 = 6, 28 – 32 = 5, 23 – 27 = 4,
18 – 22 = 3, 13 – 17 = 2, 8 – 12 = 1, dan skor dibawahnya 0.
1,75 (SD) dan 1,25 (SD) dapat ditempatkan 1,50 (SD) yang ekuivalen dengan nilai 8,5 dan
begitu seterusnya.
[7]
3.
Pengolahan skor mentah menjadi skor standar Z dan T
Pengolahan skor mentah menjadi skor Z ini sering kali dirasakan perlunya karena dengan
hanya melihat skor mentah saja kita belum dapat memberikan tafsiran yang baik dan tepat.
Dengan menggunakan rata-rata dan SD kita dapat menjabarkan atau mengubah skor-skor yang
diperoleh menjadi skor Z dengan menggunakan rumus dibawah ini.
Z =
=
= 0,5
X = skor mentah yang diperoleh siswa.
Sedangkan T- Score disebut juga skala 0-100. Rumus T- Score adalah:
T = (
) 10 + 50 = (
) 10 + 50 = 30
C.
Penilaian Acuan Norma (PAN)
Penilaian acuan norma menskor peserta didik dengan membandingkan hasil belajar satu
peserta dengan hasil peserta lainnya dalam satu kelompok kelas.
[8]
Contoh diketahui 20 siswa
mengikuti ujian akhir semester mata pelajaran bahasa Arab memperoleh skor mentah sebagai
berikut:
32, 36, 27, 50, 22,
34, 35, 37, 43, 17,
21, 42, 46, 32, 31,
28, 57, 57, 54, 51.
Penyelesaian nilai peserta didik dengan pendekatan PAN:
[9]
1.
Menyusun skor terkecil hingga terbesar
17, 21, 22, 27, 28,
31, 32, 32, 34, 35,
36, 37, 42, 43, 46,
50, 51, 54, 57, 57.
a.
Mencari rentangan (
range
) yaitu skor terbesar dikurangi skor terkecil
57 – 17 = 40
b.
Mencari banyak kelas interval
= 6 (dibulatkan)
c.
Mencari interval kelas
Interval =
=
= 6,666 = 7 (dibulatkan)
d.
Menyusun daftar distribusi frekuensi
Kelas interval
tabulasi
frekuensi
52 - 58
III
3
45 - 51
III
3
38 - 44
II
2
31 - 37
IIIIIII
7
24 - 30
II
2
17 - 23
III
3
Jumlah
20
2.
Menghitung rata-rata actual
Interval kelas Frekuensi (f)
Nilai tengah (Nt)
(f.Nt)
f.Nt
252 – 58
3
55
165
9075
45 – 51
3
48
144
6912
38 – 44
2
41
82
3362
31 – 37
7
34
238
8092
24 – 30
2
27
54
1458
17 – 23
3
20
60
1200
Jumlah
743
30099
Rumus rata-rata actual
[10]
=
=
= 37.15
3.
Menghitung simpangan baku aktual
SD =
=
4.
Menyusun pedoman konversi
Pedoman konversi yang digunakan sama dengan PAP, hanya berbeda pada penghitungan
rata-rata () dan simpangan baku (SD).
[11]
D. Merangking Siswa dari Beberapa Mata Pelajaran
Dibawah ini terdapat 5 siswa yang mempunyai variasi skor yang unik. Hanya dengan
melihat jumlah skor saja dapatkah ditentukan siapa yang menduduki tempat tertinggi?
[12]
Bid.Studi
Nama
MTK
IPA
IPS
B.IND B.ARB
Jumlah No.
Tina
90
90
90
90
90
253
I
Rita
70
70
70
70
70
251
II
Haya
50
50
50
50
50
250
III
Dita
30
30
30
30
30
249
IV
Alia
10
10
10
10
10
247
V
MEAN
50
50
50
50
50
S.DEVIASI
31.84
14.14 7.07
3.69
1.41
Mean =
SD =
Melihat keadaan nilai kelima siswa tersebut, nampaknya Tina menduduki peringkat teratas
karena memiliki jumlah skor terbanyak. Sedangkan Ani memiliki skor paling sedikit sehingga
menduduki peringkat paling bawah. Apakah ketentuan ini adil?. Dengan menggunakan
Z-score dapat lain bahkan menjadi sebaliknya.
Contoh nilai MTK Tina adalah 90. Rata-rata nilai matematika tersebut adalah 50 dengan
standar deviasi 31.84. Maka Z-score Tini adalah:
Z =
= 1,26
Dengan cara yang sama akan dapat dicari Z-score masing-masing siswa untuk seluruh
bidang studi. Dan hasilnya sebagai berikut:
[13]
a.
studi
nama
MTK
IPA
IPS
B.IND B.ARB
Jumlah No.
Haya
0.00
-0.00
-0.00 -0.00
-0.00
-0.00
III
Dita
0.63
0.71
0.71
0.81
0.71
2.31
II
Alia
1.26
1.41
1.41
1.36
1.42
4.34
I
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Teknik Pengolahan Data Hasil Evaluasi dengan cara diantaranya sebagai berikut:
a.
Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf
b.
Mengolah skor mentah menjadi skor standart 1-10
c.
Mengolah skor mentah menjadi skor standart Z dan T
2.
Pedoman konversi yang digunakan PAP dan PAN sama, hanya berbeda pada penghitungan
rata-rata () dan simpangan baku (SD).
3.
Dalam memberikan peringkat siswa, menggunakan prosedur z-score akan lebih evektif dan jauh
Daftar Pustaka
Arifin, Zainal, 1991.
Evaluasi Instruksional
. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arifin, Zainal. 2009.
Evaluasi Pembelajaran.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1996.
Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan
. Jakarta: Bumi Aksara.
Mudjijo. 1995.
Tes Hasil Belajar
. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, Ngalim. 2006.
Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran
. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) , h.221
[2] Mudjijo, Tes Hasil Belajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 91
[3] Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), h. 87
[4] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 259
[5] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991), h. 102
[6]Op. Cit., Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar EvaluasiPendidikan, h. 250
[7]Op. Cit., Mudjijo, h. 93
[8]Op. Cit., Zainal Arifin, EvaluasiPembelajaran. h, 240
[9] Ibid., h. 241
[10] Op. cit., Zainal Arifin, evaluasi instruksional, h. 94
[11][11]Op. Cit., Zainal Arifin, EvaluasiPembelajaran. h, 244
[12][12]Op. Cit., Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar EvaluasiPendidikan, h. 277
PENGOLAHAN HASIL EVALUASI
Dari pelaksanaan penilaian (melalui pengukuran atau tidak) dapat dikumpulkan sejumlah data atau informasi yang dibutuhkan dalam evaluasi hasil belajar. Data yang terkumpul dari penilaian dengan teknik tes akan berupa data kuantitatif, sedangkan teknik non tes akan menjaring data kualitatif maupun kuantitatif sekaligus. Data yang terkumpul baik melalui teknik tes maupun teknik non tes merupakan data mentah yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Kegiatan mengolah data yang berhasil dikumpulkan melalui kegiatan penilaian inilah yang disebut kegiatan pengolahan hasil penilaian.
Prosedur pelaksanaan pengolahan hasil penilaian adalah sebagai berikut :
1. Menskor, yakni memberikan skor pada hasil penilaian yang dapat dicapai oleh responden (peserta didik).
Untuk menskor atau memberikan angka diperlukan 3 (tiga) macam alat bantu, yakni kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman pengangkaan. Tiga macam alat bantu penskoran atau pengangkaan berbeda-beda cara penggunaannya untuk setiap butir soal yang ada dalam alat penilai.
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar, yakni kegiatan evaluator menghitung untuk mengubah
skor yang diperoleh peserta didik yang mengerjakan alat penilaian disesuaikan dengan norma yang dipakai.
3. Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai, yakni kegiatan akhir dari pengolahan hasil penilaian yang
berupa pengubah skor ke nilai, baik berupa huruf atau angka. Hasil pengolahan hasil penilaian ini akan digunakan dalam kegiatan penafsiran hasil penilaian. Untuk memudahkan penafsiran hasil penilaian, maka hasil akhir pengolahan hasil penilaian dapat diadministrasikan dengan baik.
[1]
Dalam bukunya Zainal Arifin ditambah satu prosedur lagi yaitu melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan reabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.Jika data sudah diolah dengan aturan-aturan tertentu, langkah selanjutnya adalah menafsirkan data sehingga dapat memberikan makna. Langkah penafsiran data sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pengolahan data itu sendiri, karena setelah mengolah data dengan sendirinya akan menafsirkan hasil pengolahan itu. Interpretasi terhadap suatu hasil evaluasi didasarkan atas kriteria tertentu yang disebut norma. Norma bisa ditetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam melaksanakan evaluasi. Sebaliknya, jika penafsiran data itu tidak berdasarkan kriteria atau norma tertentu, maka itu termasuk kesalahan besar. Dalam kegiatan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan kriteria yang bersumber pada tujuan setiap mata pelajaran (standar kompetensi, kompetensi dasar). Kompetensi itu tentu masih bersifat umum, karena itu harus dijabarkan menjadi indikator yang dapat diukur dan diamati.
[2]
Untuk menafsirkan data, dapat digunakan dua jenis penafsiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual. Penafsiran kelompok adalah penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui
sikap kelompok terhadap guru dan materi pelajaran yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya adalah sebagai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok, dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok. Penafsiran individual adalah penafsiran yang hanya tertuju pada individu saja. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau dalam situasi klinis lainnya. Tujuan utamnya adalah untuk melihat tingkat kesiapan peserta didik (readiness), pertumbuhan fisik, kemajuan belajar, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
[3]
Sebelum melakukan tes, guru harus menyusun pedoman pemberian skor, bahkan sebaiknya guru sudah berpikir tentang strategi pemeberian skor sejak merumuskan kalimat pada setiap butir soal. Pedoman penskoran sangat penting disiapkan terutama bentuk soal esai. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisai subjektivitas penilai. Begitu juga ketika melakukan tes domain afektif dan psikomotor peserta didik, karena harus ditentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Rumus penskoran yang digunakan bergantung pada bentuk soalnya, sedangkan bobot (weight) bergantung pada tingkat kesukaran soal (difficulty index), misalnya sukar, sedang, dan mudah.
[4]
B. Teknik Pengolahan Skor
1. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf
Disamping penilaian yang dinyatakan dengan angka kita mengenal pula penilaian dengan huruf. Seperti penilaian yang dilakukan oleh guru taman kanak-kanak. Pengolahan skor mentah menjadi huruf menggunakan sifat-sifat yang terdeapat pada kurva normal atau distribusi normal sebagai dasar perhitungan.
Adapun cirri-ciri distribusi normal antara lain adalah sebagai berikut:
1. Memiliki jumlah atau kepadatan frekuensi yang tetap pada jarak deviasi-deviasi tertentu.
2. Pada distribusi normal, mean, median, dan mode berimpit (sama besar),terletak tepat ditengah kurva dan
membagi dua sama besar jarak deviasi.
Berdasarkan sifat-sifat distribusi normal itulah maka untuk penjabaran skor mentah enjadi nilai huruf dipergunakan mean dan DS.
[5]
1. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean (M) dan Deviasi Standar (DS).
Mencari mean (M) dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang diolah kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal; dan jika banyaknya skor yang diolah lebih dari 30, misalnya sampai 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini sebuah contoh yang menggunakan tabel distribusi tunggal.
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil test yang telah diberikan kepada 20 orang peserta didik sebagai berikut:
73, 70, 68, 68, 67, 67, 65, 65, 63, 62, 60, 59, 59, 58, 58, 56, 52, 50, 41, 40.
Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. Untuk itu membuat tabel sebagai berikut
[6]
:Langkah-langkah menysun tabel:
a. Masukan nama siswa (kedalam kollom satu) dan skor masing-masing siswa (kedalam kolom 2),
b. Menghitung mean dengan membagi jumlah skor itu dengan N (banyaknya peserta didik yang
dites). Jadi, rumus untuk mencari M adalah M = .
c. Mengisi kolom tiga dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M).
d. Mengisi kolom 4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3. Kemudian jumlahkan sehngga
memperoleh ∑ (X-M)2.
e. Langkah terakhir adalah iialah menghitung mean dan DS dengan rmus-rumus sebagai berikut:
M = DS =
TABEL UNTUK MENGHITUNG MEAN DAN DS
Nama Siswa Skor mentah (X) (X-M)atau (d) (X-M)2 atau (d)2
Amrin 73 13 169
Budi 70 10 100
Fiki 68 8 64
Mardi 68 8 64
Popon 67 7 49
Sarman 67 7 49
Jufri 65 5 25
Pairah 65 5 25
Nana 63 3 9
Rini 62 2 4
Suci 60 0 0
Nandar 59 -1 1
Jamhari 59 -1 1
Jibok 58 -2 4
Kusnan 58 -2 4
Ida 56 -4 16
Tutik 52 -8 64
Paimo 50 -10 100
Waluyo 41 -19 361
Paiman 40 -20 400
Jumlah 1201 - 1509
DS = = = = 8,69
Penjabaran menjadi nilai huruf.
Dari perhitungan diatas maka kita telah memperoleh mean=60 dan DS= 8,69. Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai huruf melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pertama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya dalam penjabaran ini kita
menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal, yaitu diantara -3DS s.d. +3DS = 6DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah A-B-C-D-TL yang berarti 4 unit, dalam hal ini tentukan besarnyaSUD = 6DS:4 = 1,5DS. Jadi, SUD = 1,5×8,69 = 13,035, dibulatkan =13.
b. Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada skala penilaian
A-B-C-D-TL. Jadi kita telah mendapatkan SUD= 13 dan titik tengah C = M = 60.
c. Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah dan batasatas dari masing-masing nilai huruf.
d. Berdasarkan hasil perhitungan pada langkah c diatas, kita mentransfer skor mentah dari 20 orang
peserta didik kedalam nilai huruf sebagai berikut: 1) Skor 80 keatas = A = tidak ada
Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean dan DS yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini kami kemukakan sebuah contoh.
[7]
Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, TL. Untuk mencari mean dan DS kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali cara menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan besarnya interval dan kelas interval.
R= 97-16= 81
Kelas interval = + 1 = +1 =9
Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9. TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval
f
D
Fd
Fd × d
1
96 – 105
1
4
4
16
2
86 – 95
6
3
18
54
3
76 – 85
7
2
14
28
4
66 – 75
10
1
10
10
5
56 – 65
11
0
0
0
6
46 – 55
4
-1
-4
4
7
36 – 45
5
-2
-10
20
8
26 – 35
3
-3
-9
27
9
16 – 25
3
-4
-12
48
50
11
207
Dari tabel ini kita mencari mean dengan rumus: + i
Keterangan:
M= mean sebenarnya yang akan dicari M’= mean dugaaan dalam tabel ini = = = 60,5
I = interval = 10 ∑fd = 11
Dengan rumus diatas maka:
M= 60,5 +10 = 60,5 + = 60, 5 + 2,2 = 62,7= 63
Cara mencari deviasi standard adalah dengan rumus: DS=
DS = 10
= 10 = 10
= 10×1,9 = 19
Selanjutnya jika kita akan mengubah skor mentah yang diperoleh menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean caranya adalah sebagai berikut:
Telah ditentukan bahwa batas lulus = mean = 63. Jadi,skor mentah dari 63 keatas kita bagi menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan skor dibawah 63 dinyatakan TL. Dengan demikian untuk selanjutnya kita dapat menghitung dengan mudah batas atas dan batas bawah dari masing-masing nilai huruf itu sebagai berikut:
Dengan perhitungan diatas maka hasil kelulusan dari 50 peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh. Secara tradisional, dalam menentukan nilai peserta didik pada setiap mata pelajaran, guru menggunakan rumus sebagai
berikut
[8]
:Nilai = 10 (skala 0-100)
Keterangan : X = jumlah skor mentahƩ S = jumlah soal Ʃ
Telah dijelaskan dimuka bahwa standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, yakni :
1. Standar seratus (0-100),
2. Standar sepuluh (0-10), dan
Sedangkan skor baku baik skor z maupun skor T, jarang digunakan. Standar-standar tersebut (z dan T) hanya digunakan untuk keperluan khusus, misalnya untuk menganalisis kecakapan seseorang dibandingkan dengan orang lain dan membandingkan dua skor yang berbeda standarnya.
Konversi nilai bisa dilakukan dari standar seratus ke standar sepuluh dan ke standar empat, atau bisa juga dari standar sepuluh ke standar seratus atau ke standar empat. Dalam konversi nilai digunakan dua cara, yakni cara yang menggunakan rata-rata dan simpangan baku dan cara tanpa menggunakan rata-rata dan simpangan baku :
a. Konversi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan
Cara ini sangat sederhana, yakni dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk menentukan konversi nilai. Misalnya demgam ,menggunakan kriteria dalam bentuk presentase.
Presentase jawaban
Misalkan kepada peserta didik diberikan tes Fiqih dalam bentuk tes objektif pilihan berganda sebanyak 60 soal. Jawaban yang benar dibenar diberi skorsatu sehingga skor maksimal yang dicapai peserta didik adalah 60. Berdasarkan kriteria di atas, konversi nilai dalam standar huruf, standar sepuluh, dan standar empat adalah sebagai berikut
[9]
:Skor mentah
Nilai Konversi
Kurang dari 36
G (gagal)
Gagal
Gagal
Nilai 10 bila mencapai 60
b. Konversi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku
Mencari nilai rata-rata atau mean (M) dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang diolah kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal; dan jika banyaknya skor yang diolah lebih dari 30, misalnya sampai 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini sebuah contoh yang menggunakan tabel distribusi tunggal.
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil test yang telah diberikan kepada 20 orang peserta didik sebagai berikut:
Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. Untuk itu membuat tabel sebagai berikut:
Langkah-langkah menyusun tabel:
1. Masukan nama siswa (kedalam kolom satu) dan skor masing masing siswa (kedalam kolom 2),
kemudian jumlahkan.kita akan memperoleh .
2. Menghitung mean dengan membagi jumlah skor itu dengan N (banyaknya peserta didik yang
dites). Jadi, rumus untuk mencari M adalah M = .
3. Mengisi kolom tiga dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M).
4. Mengisi kolom 4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3. Kemudian jumlahkan sehngga
memperoleh ∑ (X-M)2.
5. Langkah terakhir adalah iialah menghitung mean dan DS dengan rmus-rumus sebagai berikut:
Dari tabel ini kemudian dicari mean dan DS dengan rumus sebagai berikut: M = = = 60,05 dibulatkan = 60
DS = = = = 8,69
Penjabaran menjadi nilai huruf
Dari perhitungan diatas maka kita telah memperoleh mean=60 dan DS= 8,69. Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai huruf melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pertama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya dalam penjabaran ini kita
menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal, yaitu diantara -3DS s.d. +3DS = 6DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah A-B-C-D-TL yang berarti 4 unit, dalam hal ini tentukan besarnya SUD = 6 DS:4 = 1,5 DS. Jadi, SUD = 1,5×8,69 = 13,035, dibulatkan =13.
b. Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada skala penilaian
A-B-C-D-TL. Jadi kita telah mendapatkan SUD= 13 dan titik tengah C = M = 60.
c. Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah dan batasatas dari masing-masing nilai huruf.
peserta didik kedalam nilai huruf sebagai berikut: a. Skor 80 keatas = A = tidak ada
b. Skor 67 - 79,5 = B = 6 orang
c. Skor 54 – 66,5 = C = 10 orang
d. Skor 34 – 53,5 = D = 4 orang
e. Skor dibawah 34 = TL = tidak ada
Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean.
Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean dan DS yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini kami kemukakan sebuah contoh :
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor dari hasil ujian semester dari 50 orang peserta didik sebagai berikut:
69, 67, 67, 67, 64, 63 63, 62, 62, 60 58, 57, 57, 56, 56, 54, 52, 50, 47, 45 43, 39, 36, 36, 32, 29, 27, 26, 20, 16
Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, TL. Untuk mencari mean dan DS kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali cara menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan besarnya interval dan kelas interval.
R= 97-16= 81
Kelas interval = + 1 = +1 =9
Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9. TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval
F
d
Fd
Fd × d
1
96 – 105
1
4
4
16
2
86 – 95
6
3
18
54
3
76 – 85
7
2
14
28
4
66 – 75
10
1
10
10
5
56 – 65
11
0
0
0
6
46 – 55
4
-1
-4
4
7
36 – 45
5
-2
-10
20
8
26 – 35
3
-3
-9
27
9
16 – 25
3
-4
-12
48
50
11
207
Dari tabel ini kita mencari mean dengan rumus: + i
Keterangan:
M= mean sebenarnya yang akan dicari M’= mean dugaaan dalam tabel ini = = = 60,5
I = interval = 10 ∑fd = 11
Dengan rumus diatas maka:
M= 60,5 +10 = 60,5 + = 60, 5 + 2,2 = 62,7= 63
DS=
Dari tabel diatas kita dapat menghitung DS sebagai berikut: DS = 10
= 10 = 10
= 10×1,9 = 19
Selanjutnya jika kita akan mengubah skor mentah yang diperoleh menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean caranya adalah sebagai berikut:
Telah ditentukan bahwa batas lulus = mean = 63. Jadi,skor mentah dari 63 keatas kita bagi menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan skor dibawah 63 dinyatakan TL. Dengan demikian untuk selanjutnya kita dapat menghitung dengan mudah batas atas dan batas bawah dari masing-masing nilai huruf itu sebagai berikut:
Dengan perhitungan diatas maka hasil kelulusan dari 50 peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:
Seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil ujian dengan peserta didik yang berjumlah 50, adapun hasil dari ulangan tersebut adalah sebagai berikut:
16 64 87 36 65 42 43 54 47 51 77 55 68 42 40 47 42 46 45 50 20 57 28 7 44 51 40 39 39 57 28 39 21 48 46 37 41 43 49 71 29 44 34 50 45 35 44 52 56 45
1. Kita tentukan banyaknya kelas interval dengan jalan:
a. Mencari range dengan rumus R=H-L
b. Bagilah range kedalam interval-interval yang sama sedemikian rupa sehingga jumlah kelas interval
antara 6-15atau 11-19. Adapun rumus untuk mencari kelas interval adalah + 1
2. Mengisi kolom 2 (kolom interval) didalam tabel yang telah tersedia.
3. Menghitung jumlah frekuensi tiap interval.
4. Menentukan deviasi pada lajur d dengan menetapkanmean dugaan (M') dengan angka nol. Untuk
menduga letak nol dapat kita pilih pada kelas yang mengandung frekuensi terbanyak. 5. Mengisi lajur fd.
6. Mengisi lajur fd × d.
Dari skor ujian ini kita dapat menyusun tabel distribusi frekuensi seperti berikut: H = 87
L = 7
R = 87 – 7 = 80
Banyaknya kelas interval : + 1 = + 1 = 11
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval F
D
Fd
Fd × d
1
87 – 94
1
6
6
36
2
79 – 86
0
5
0
0
3
71 – 78
2
4
8
32
4
63 – 70
3
3
9
27
5
55 – 62
4
2
8
16
6
47 – 54
11
1
11
11
7
39 – 46
18
0
0
0
8
31 – 38
4
-1
-4
4
9
23 – 30
3
-2
-6
12
10
15 – 22
3
-3
-9
27
11
7 – 14
1
-4
-4
16
50
19
181
Sekarang kita mencari angka rata-rata (mean) dari table di atas. Rumus mean adalah M = M' + i ( ) Dengan melihat table distribusi frekuensi maka:
M = 42,5 + 8 = 42,5 +3,04 = 45,54
Dari table ini sekarang kita mencari DS rumusnya adalah DS = i
DS = 8
= 8
= 8
=8 × 1,89 = 15,12 (dibulatkan) = 15
Setelah menemukan mean dan DS langkah selanjutnya adalah menjabarkan skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai 1 – 10 dengan menggunakan rumus penjabaran sebagai berikut:
M + 2,25 DS = 10 M + 1,75 DS = 9 M + 1,25 DS = 8 M + 0,75 DS = 7 M + 0,25 DS = 6 M + 0,25 DS = 5 M + 0,75 DS = 4 M + 1,25 DS = 3 M + 1,75 DS = 2
M + 2,25 DS = 1
Hasil perhitungan
Penjabaran
45,54 + (2,25 × 15) = 79 (dibulatkan) Skor 79 keatas = 10
45,54 + (1,75 × 15) = 72 (dibulatkan) 72 – 78 = 9
45,54 + (1,25 × 15) = 64 (dibulatkan) 64 – 78 = 8
45,54 + (0,75 × 15) = 57 (dibulatkan) 57 – 71 = 7
45,54 + (0,25 × 15) = 49 (dibulatkan) 49 – 63 = 6
45,54 - (0,25 × 15) = 42 (dibulatkan)
42 – 56 = 5
45,54 - (0,75 × 15) = 34 (dibulatkan)
34 – 48 = 4
45,54 - (1,25 × 15) = 27 (dibulatkan)
27 – 41 = 3
45,54 - (1,75 × 15) = 19 (dibulatkan)
19 – 33 = 2
45,54 - (2,25 × 15) = 12 (dibulatkan)
12 – 18 = 1
11 kebawah = 0
Dengan penjabaran diatas maka guru dapat langsung memasukkan atau mengubah nilai skor mentah yang diperoleh setiap peserta didik kedalam nilai 1 – 10.
Dengan penjabaran secara statistikdengan membuat tabel distribusi frekuensi dan menggunakan mean dan DS maka dengan bagaimana punhasil tes yang kita peroleh akan menghasilkan nilai diantara 1- 10. Sehingga akan terdapat anak yang memperoleh nilai yang tinggi dan nilai yang terendah,karena penyusunan tabel yang menjadi dasar perhitungan menggunakan skor maksimum dan skor minimum yang benar-benar dicapai oleh kelompok peserta didik yang dites.
Yang dimaksud dengan skor Z adalah skor yang penjabarannya didasarkan atas unit deviasi standar dari mean. Dalam hal ini mean dinyatakan = 0 (nol). Oleh karena itu, dengan penjabaran skor-skor tersebut dibandingkan dengan rata-rata skor-skor sekelompoknya; apakah ia terletak di atas rata-rata kelompok (mean) atau di bawahnya.
Rumus Z score =
Mengolah skor mentah menjadi skor standar T
Dengan bersumber pada skor Z seperti telah dibicarakan di muka, banyak pula dikembangkan skor-skor standar lainnya yang dikenal orang sebagai angka skala.
Jenis skor standar yang merupakan angka skala yang telah banyak dikenal orang antara lain ialah skor T. yang dimaksud dengan skor T ialah angka skala yang menggunakan dasar maen = 50 dan jarak tiap deviasi standar (DS) = 10. Di dalam range -3 DS sampai dengan +3 DS, T tersebar dari 20 s.d 80, tanpa bilangan-bilangan minus.
Rumus T score = 50 + 10z D. Teknik Analisis Hasil Penilaian
Model yang banyak digunakan untuk mengolah data hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Tendensi sentral
Salah satu tekhnik analisis data yang banyak digunakan untuk mengolah data evaluasi adalah tendensi sentral atau ukuran kecenderungan memusat. Ada tip teknik utama yang digunakan untuk mengukur tendensi sentral yaitu mean, median,dan mode.
2. Variabelitas
Variabelitas adalah keanekaragaman angka-angka dalam suatu distribusi skor. Variabelitas merupakan variasi sebaran skor dari mean. Semakin luas penyebaran angka-angka, semakin besar pula variabelitas distribusinya. Hal itu berarti skor yang ada cenderung heterogen. Sebaliknya, semakin kecil penyebaran angka-angka berarti semakin kecil juga variabelitasnya. Hal itu berarti skor yang ada cenderung homogen. Secara sederhana, ada tiga tekhnik untuk melihat ukuran variabelitas, yaitu jarak sebaran atau range, deviasi rata-rata dan deviasi standar atau simpangan buku. Range dicari dengan mengurangi angka tertinggi dengan terendah.
Rumus Range = (R - Xtertinggi - Xterendah).
Penyimpangan angka merupakan selisih antara angka tersebut dengan mean. Rumus untuk mencari deviasi rata-rata adalah sebagai berikut ini:
Devisa Rata-rata =
Keterangan:
X = Skor yang diperoleh M = Nilai rata-rata
Dibandingkan range dan deviasi rata-rata, simpangan baku merupakan
cara terbaik untuk pengukuran penyebaran. Simpangan baku adalah jarak standar yang terletak diatas dan dibawah mean. Rumus untuk mencari simpangan baku (dari populasi) adalah:
Keterangan:
SD = Simpangan baku X = Skor uang diperoleh M = Nilai rata-ratas 3. Skor standar
Kadang kala untuk kebutuhan menentukan nilai secara cepat tanpa melihat tabel konversi
secara keseluruhan, maka dapat dihitung dengan skor z. Banyak manfaat yang bisa diambil dengan menggunakan skor standar z. Skor z merupakan salah satu tekhnik untuk mengetahui posisi testee dalam kelompoknya. Dengan skor z, dapat membandingkan antara skor satu dengan yang lainnya. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.
Z =
Keterangan:
X = Skor yang diperoleh M = rata-=rata (mean) SD = Simpangan baku. 4. Skor Komposit
Kadang kala, nilai skor akhir siswa, tidak didasarkan pada hasil tes tunggal. Nilai akhir pada bidang studi tertentu merupakan gabungan atau kombinasi dari skor-skor yang diperoleh dari beberapa hasil pengukuran. Bila skor tersebut didasarkan pada beberapa komponen, maka skor akhir dapat diperoleh dengan melakukan penggabungan skor yang disebut dengan skor komposit. Salah satu rumus komposit yang bisa digunakan adalah sebagai berikut.
Skor Komposit :
Keterangan:
b = Bobot komponen
z = Skor Z setiap komponen
5. Penentuan Nilai Akhir
beberapa faktor, yaitu faktor pencapaian prestasi, faktor usaha, faktor kebiasaan kerja atau faktor pribadi dan sosial.
Untuk menentukan nilai akhir, ada beberapa rumus yang bisa digunakan. Hal ini disesuaiakan dengan formula yang digunakan oleh lembaga. Berikut ini beberapa formula, yang pernah digunakan disekolah/madrasah.
a. Nilai akhir diperoleh dengan memperhitungkan nilai tugas (T), ulangan harian (H), dan nilai ulangan
umum (U).
Keterangan: N = Nilai akhir T = Nilai tugas H = Nilai harian
U = Nilai ulangan umum.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean (M) dan Deviasi Standar (DS),
sedangkan rumus mencari M adalah M = , dan rumus DS adalah DS = .
2. Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus. Rumus mencari M adalah +
i dan cara mencari deviasi standard adalah dengan rumus:
DS=
3. Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar
menggunakan rumus sebagai berikut: Nilai = 10 (skala 0-100). Skor mentah itu akan diolah
menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. 4. Mengolah skor mentah menjadi skor standar Z
Rumus Z score =
5. Mengolah skor mentah menjadi skor standar T Rumus T score = 50 + 10z
6. Model yang banyak digunakan untuk mengolah data hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Ada tip teknik utama yang digunakan untuk mengukur tendensi sentral yaitu mean, median,dan mode.
b. Variabelitas adalah keanekaragaman angka-angka dalam suatu distribusi skor. Variabelitas
merupakan variasi sebaran skor dari mean. Semakin luas penyebaran angka-angka, semakin besar pula variabelitas distribusinya.
c. Skor standar: Kadang kala untuk kebutuhan menentukan nilai secara cepat tanpa melihat tabel konversi
secara keseluruhan, maka dapat dihitung dengan skor z.
d. Skor komposit: Nilai akhir pada bidang studi tertentu merupakan gabungan atau kombinasi dari skor-skor
yang diperoleh dari beberapa hasil pengukuran. Bila skor tersebut didasarkan pada beberapa komponen, maka skor akhir dapat diperoleh dengan melakukan penggabungan skor yang disebut dengan skor komposit.
Rumus :
b = Bobot komponen
z = Skor Z setiap komponen e. Penentuan Nilai Akhir
Setelah satu tekhnik analisis yang perlu dipahami adalah tekhnik
menentukan nilai akhir. Nilai akhir diperlukan untuk menentukan penguasaan siswa, kelulusan siswa memberikan bimbingan, atau memberikan balikan proses pembelajaran. Untuk menentukan nilai akhir, harus mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu faktor pencapaian prestasi, faktor usaha, faktor kebiasaan kerja atau faktor pribadi dan sosial.
Rumus :
N = Nilai akhir T = Nilai Tugas H = Nilai harian U = Nilai ulangan umu
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Zainal Arifin, M. Pd, 2009.
Evaluasi Pembelajaran.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Ngalim purwanto, 2010.
Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran
Bandung. PT Remaja
Rosdakarya.
Nana Sudjana, 1995.
Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar
. Bandung :PT Remaja
Rosdakarya.
Kunandar, 2007.
Guru Professional.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
[1] Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,(Jakarta: PT Rineka Cipta,1999), hal. 218
[2] Drs. Zainal Arifin, M. Pd, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 221
[3]Ibid.,hal. 222
[4]Ibid.,hal.223
[5] Ngalim purwanto, Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran (Bandung. PT Remaja Rosdakarya: 2010) hal. 89
[6] Ibid,.hal 90
[7] Ibid,. Hal 92
[8] Zainal Arifin,, Evaluasi Pembelajaran ...hal.232
Teknik Pemeriksaan, Pemberian Skor dan
Pengolahan Tes Hasil Belajar
https://bagiilmukuliah.wordpress.com/2015/01/13/teknik-pemeriksaan-pemberian-skor-dan-pengolahan-tes-hasil-belajar/
13
JANPEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN ASSESMEN
Asesmen adalah kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pelaksanaan pembelajaran dan pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai.
Ada beberapa pengertian tentang asesmen menurut para ahli :
1. Menurut Robert M Smith (2002)
“Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
2. Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
3. Menurut Bomstein dan Kazdin (1985)
Mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi
Memilih dan mendesain program treatmen
Mengukur dampak treatmen yang diberikan secara terus menerus.
Mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi.
4. Menurut Lidz 2003
Proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak. Hasil Kajian dari Pengertian diatas adalah sebagai berikut :
2.2 Tujuan Asesmen
1. Menurut Robb
Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
Untuk merancang individualisasi pendidikan
Untuk memonitor kemajuan anak secara individu
Untuk mengevaluasi kefektifan program.
2. Menurut Sumardi & Sunaryo (2006)
Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini
Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi,
potensi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya
dan memonitor kemampuannya.
3. Menurut Salvia dan Yesseldyke seperti dikutif Lerner (1988: 54)
Asesmen dilakukan untuk lima keperluan yaitu :
Penyaringan (screening)
Pengalihtanganan (referal)
Klasifikasi (classification)
Perencanaan Pembelajaran (instructional planning)
Pemantauan kemjuan belajar anak (monitoring pupil progress)
Berdasarkan hasil kajian dari teori-teori diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa : “Asesmen dilakukan untuk mengetahui keadaan anak pada saat tertentu (Waktu dilakukan asesmen) baik potensi-potensinya maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak sebagai bahan untuk menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan layanan / intervensi secara tepat.
Ruang Lingkup
2.3 TEKNIK PEMERIKSAAN, PEMBERIAN SKOR DAN PENGOLAHAN TES HASIL BELAJAR
Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen.
Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade).
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari angka-angka dari setiap butir soal yang telah di jawab oleh test dengan benar, dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya.
1. Teknik pemeriksaan hasil tes tertulis
Sebagai mana telah dibahas dalam materi sebelumnya bahwa tes hasil belajar yang diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu tes hasil belajar tertulis bentuk uraian dan tes hasil belajar tertulis bentuk objektif, kedua bentuk tes hasil itu memiliki karakteristik yang berbeda.
Tenik ini dilakukan dengan begitu soal tes uraian selesai disusun hendaknya tester segera membuat kunci jawaban/pedoman jawaban, kunci jawaban ini digunakan sebagai pegangan atau patokan dalam pemeriksaan atau pengoreksian terhadap tes hasil tes uraian dengan cara membandingkan antara jawaban yang diberikan oleh teste dengan kunci jawaban yang dibuat oleh tester.
Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil – hasil tes hasil tes uraian ini terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan yaitu:
1. Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes hasil belajar
Artinya apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu didasarkan pada standar mutlak maka, prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
Membaca jawaban yang diberikan oleh teste dan membandingkannya dengan kunci jawaban
yang sudah dibuat.
Atas dasar hasil perbandingan antara jawaban teste dengan kunci jawaban tersebut, tester dapat
memberikan skor untuk setiap butir soal dan menuliskan pada jawaban teste tersebut.
Menjumlahkan skor-skor tersebut dalam pengolahan dan penentuan nilai lebih lanjut.
2. Pengolahan dan penentuan nilai hasil tes subjektif itu didasarkan pada standar relatif
Artinya apabila nantinya pengolahan dan penentuan nilai didasarkan pada standar relatif maka prosedur pemeriksaannya sebagai berikut :
Memeriksa jawaban atas soal nomor satu misalnya yang diberikan oleh selurus teste sehingga
diperoleh gambaran maka dapat diketahui mana teste yang lengkap,kurang lengkap dan tidak tepat sama sekali.
Memberikan skor terhadap jawaban tersebut misalkan jawaban yang tepat diberi skor 5, kurang
tepat 3.
Setelah jawaban atas seluruh teste tersebut selesai maka dapat dilakukan penjumlahan skor
yang nantinya dijadikan bahan untuk mengolah nilai.
1. Teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar bentuk objektif
Memeriksa atau mengoreksi jawaban atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu sebagai berikut :
1) Kunci berdampingan ( strip keys )
Kunci jawaban berdamping ini terdiri dari jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa kemudian cocokanlah dengan lembar jawaban yang diberikan oleh tested an apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan apabila salah diberi tanda ( – ).
2) Kunci system karbon ( carbon system key )
setiap jawaban yang benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah benar.
3) Kunci system tusukan ( panprick system key )
Pada dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak perbedaannya ialah pada kunci sitem ini, untuk jawaban yang benar diberi tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban teste berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar jawaban yang ada dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan dsedangkan yang salah tidak.
4) Kunci berjendela ( window key )
Prosedur kunci berjendela ini adalah sebagai berikut :
1. a) Ambilah blanko lembar jawaban yang masih kosong
2. b) Pilihan jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai jendela
3. c) Lembar jawaban teste diletakan dibawah kunci berjendela
4. d) Melalui lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga
jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.
5. Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes lisan
Pemeriksaan atau koreksi yang dilaksanakan dalam rangka menilai jawaban – jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan, pada umumnya bersifat subjektif, sebab dalam tes lisan itu tester tidak berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati, melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup yang masing – masing mempunyai cirri dan karakteristik berbeda sehingga memungkinkan bagi tester untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.
Dalam hubungan ini, pemeriksaan terhadap jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai berikut :
1. a) Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee.
Pernyataan tersebut mengandung makna “ apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi semua unsure yang seharusnya ada dan sesuai dengan pedoman/ kunci jawanban yang telah disusun oleh tester
1. b) Kelancaran testee dalam mengemukakan jawaban
Mencakup apakah dalam memberikan jawaban lisan atas soal – soal yang diajukan kepada testee itu cukup lancer sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang diajukan kepadanya
1. c) Kebenaran jawaban yang dikemukakan
Jawaban panjang yang dikemukakan oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang benar sehingga tester harus benar – benar memperhatikan jawaban testee tersebut, apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau sebaliknya.
Maksudnya, apakah jawaban yang diberikan dengan penuh kenyakinan akan kebenarannya atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh testee secara ragu – ragu merupakan salah satu indicator bahwa testee kurang menguasai materi yang diajukan kepadanya tersebut.
Demikian seterusnya, penguji dapat menambahkan unsure lain yang dirasa perlu dijadikan bahan penilaian seperti : perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi penguji ( tester )
3. Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes perbuatan
Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan hasil – hasil tes nya dilakukan dengan menggunakan observasi ( pengamatan ). Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan lain sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes perbuatan itu diperlukan adanya instrument tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu pula.
Contoh: misalkan instrument yang dipergunakan dalam mengamati calon guru yang melaksanakan praktek mengajar, aspek – aspek yang diamati meliputi 17 unsur dengan skor minimum 1 (satu) dan maksimum 5 (lima).
1. Pemberian skor pada tes uraian
Pada tes uraian ini, pemberian skor umumnya mendasar pada bobot soal yang diberikan pada setiap butir soal, atas dasar tingkat kesulitan atau banyak sedikitnya unsure yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap jawaban paling benar.
Sebagai contoh misalkan tes subyektif memberikan lima butir soal, pembuat soal (tester) telah menetapkan bahwa kelima butir dari soal tersebut mempunyai derajat kesukaran yang sama dan unsure yang terdapat pada setiap butir soal telah dibuat sama banyaknya, maka atas dasar itu tester dapat menetapkan bahwa setiap jawaban yang dijawab oleh testee benar diberikan skor maksimum 10 jika hanya benar setengahnya maka diberi 5 dan apa bila tidak menyangkut sama sekali diberi skor 0 dan seterusnya.
2. Pemberian skor pada tes obyektif
Pada tes obyektif, untuk memberikan skor pada umumnya digunakan rumus correction for guessing atau sering dikenal dengan istilah denda. Untuk pemberian skor pada tes obyektif ini dibagi menjadi 3 bentuk yaitu:
1. Untuk tes obyektif ben true-false misalkan, setiap item diberi skor 1 (satu), apabila seorang testee
menjawab dengan benar maka diberi skor 1 (satu) namun apabila dijawab salah maka skornya 0 (nihil).
Adapun cara untuk menghitung skor terakhir dari seluruh item bentuk ini, dapat digunakan dua macam rumus yaitu:
Rumus yang memperhitungkan denda yaitu:
S = R – W dibagi o – 1
Dimana :
R = jumlah jawaban benar
W = jumlah jawaban salah
O = option, jawaban yang kemungkinan benar or salah
1 = bilangan konstan
rumus yang tidak memperhitungkan denda yaitu :
S = R
1. sedangkan untuk tes obyektif bentuk matching,fill in dan completion perhitungan skor akhir pada
umumnya tidak memperhitungkan sanksi berupa denda sehingga rumus yang digunakan yaitu :
S = R
1. adapun untuk tes obyektif bentuk multiple choice items dapat digunakan salah satu dari dua buah
rumus yaitu rumus yang memperhitungkan denda dan rumus yang tidak memperhitungkan denda.
Rumus perhitungan skor dengan memperhitungkan denda :
S = R – ( W dibagi o – 1 )
Sedangkan untuk rumus yang mangabaikan denda yaitu:
S = R
Sasaran yang diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes perbuatan diperlukan instrumen-instrumen tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu
2.4 Pemberian Skor
2.4.1 Pengertian
Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade).
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari angka-angka dari setiap butir soal yang telah di jawab dengan benar, dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya. ( Mali El-Bustani)
1. Perbedaan Antara Skor dan Nilai
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (=memberikan angka) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan betul, dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya. Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah angka (bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lainnya, serta disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu. Itulah sebabnya mengapa nilai sering disebut skor standar.
penghargaan yang diberikan oleh tester kepada testee atas jawaban betul yang diberikan oleh testeedalam hasil tes belajar. Artinya, makin banyak jumlah butir soal dapat dijawab dengan betul, maka penghargaan yang diberikan oleh tester kepada testee akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika jumlah butir item yang dapat dijawab dengan betul itu hanya sedikit, maka penghargaan yang diberikan kepada testee juga kecil atau rendah.
2. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes, Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar (Standard Score)
Ada dua hal penting dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai, yaitu:
1) Dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara, yaitu:
1. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu
atau mendasarkan diri pada kriterium (patokan).
2. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu
atau mendasarkan diri pada norma atau kelompok.
2) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat menggunakan berbagai macam skala, yaitu: skala lima dengan nilai huruf A, B, C, D dan F. Skala Sembilan dengan nilai 1 sampai dengan 9. Skala sebelas dengan rentang nilai mulai dar 0 sampai dengan 10.
1. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar dengan
Mendasarkan Diri atau Mengacu pada kriterium
2. Hal-hal yang harus dipelajari oleh tesetee adalah mempunyai struktur hierarkis tertentu, dan
bahwa masing-masing taraf harus dikuasai secara baik sebelum testee tadi maju atau sampai pada taraf selanjutnya.
3. Evaluator atau tester dapat mengidentifikasi masing-masing taraf itu sampai tuntas. Atau
setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
1. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar dengan
Mendasarkan Diri atau Mengacu pada Norma atau Kelompok
Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar dengan mendasarkan diri atau mengacu pada norma atau kelompok serinh dikenal dengan istilah PAN (singkatan dari Penilaian berAcuan Norma) atau PAK (singkatan dari Penilaian berAcuan Kelompok).
Penilai beracuan kelompok ini mendasarkan pada asumsi sebagai berikut:
1) Pada setiap populasi peserta didik yang sifatnya heterogen (berbeda jenis kelamin, berbeda latar belakang pendidikan dan sebagainya), yang distribusinya membentuk kurva normal atau kurva simetrik. Asumsi ini mengandung bahwa pada setiap kegiatan pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik, sebagaian dari peserta didik tersebut nilai-nilai hasil belajarnya terkonsentrasi atau memusat di sekitar nilai pertengahan dan hanya sebagian kecil saja yang nilainya sangat tinggi atau sangat rendah.
Dalam hal ini yang berhubungan dengan nilai standar kiranya perlu diketahui bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan, khususnya evaluasi hasil belajar dikenal berbagai jenis nilai standar, seperti:
1. Nilai standar berskala lima, yang sering dikenal dengan istilah nilai huruf, yaitu nilai A, B, C, D
dan F.
2. Nilai standar brskala Sembilan, yaitu rentangan atau skala nilai yang bergerak mulai dari 1
sampai dengan 9.
3. Nilai standar berskala sebelas, yaitu skala nilai yang bergerak mulai dari nilai 0 sampai dengan
nilai 10.
4. Nilai standar z.
5. Nilai standar T.
1. Pengubahan Skor Mentah Hasil Menjadi Nilai Standar Berskala Lima
1) Mengatur, menyusun dan menyajikan skor-skor mentah hasil ujian dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
2) Mencari, menghitung nilai rata-rata hitung yang melambangkan prestasi kelompok, dan deviasi standar yang mencerminkan variasi dari skor-skor mentah hasil ujian yang dicapai oleh peserta didik.
3) Mengubah skor-skor mentah menjadi nilai standar skala lima.
4) Mengkonversi skor-skor mentah yang dimiliki oleh masing-masing individu mahasiswa menjadi nilai standar berskala lima (nilai huruf A, B, C, D dan E).
2. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar Berskala Sembilan
Nilai standar berskala Sembilan adalah nilai standar yang meniadakan nilai 0 dan nilai 10. Nilai standar tersebut tidak lazim digunakan di Indonesia. Berhubung dengan itu dirasa tidak perlu untuk menyajikan contoh penggunaan praktisnya.
3. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar Berskala Sebelas
Nilai standar berskala sebelas adalah rentangan nilai standar mulai dari 0 sampai 10. Jadi disini akan kita dapati 11 butir nilai standar, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10.
4. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar z
Nilai standar z umumnya dipergunakan untuk mengubah skor-skor mentah yang diperoleh dari berbagai jenis pengukuran yang berbeda-beda. Nilai standar z yang diperoleh dengan rumus:
Dimana: z = z score
x = Deviasi skor X, yaitu selisih antara skor X dengan Mx.
SDx = Deviasi standar dari skor-skor X.
5. Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Menjadi Nilai Standar T
T score adalah angka skala yang menggunakan mean sebesarr 50 (M=50) dan devisiasi standar sebesar 10 (SD=10). T score dapat diperoleh dengan jalan memperkalikan z score dengan angka 10, kemudian ditambah dengan 50:
T score = 50 + 10 z
2.4.2 Teknik Pengolahan Data
Adapun pada umumnya, pengolahan data hasil tes menggunakan bantuan statistik. Menurut Zainal Arifin (2006) dalam pengolahan data hasil test menggunakan empat langkah pokok yang harus di tempuh.
1) Menskor, yaitu memperoleh skor mentah daritiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci scoring dan pedoman konversi.
2) Mengubah skor mentah menjadi skor standar
3) Menkonversikan skor standar kedalam nilai
4) Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan realibilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index) dan daya pembeda.
Adapun cara pemberian skor terhadap hasil tes hasil belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, tes uraian (essay) atau tes obyektif (objektive test)
1. Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Uraian
Pada tes uraian, pemberian skor didasarkan pada bobot (weight) yang diberikan pada setiap butir soal, didasarkan dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari soal tersebut dan atau banyak sedikitnya unsur yang terdapat dalam jawaban yang dianggap paling benar.
Menurut Zainal Arifin (2011:223) system bobot ada dua macam:
Pertama bobot yang dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya.
Rumus : skor = ΣX
Σs
Keterangan:
ΣX= jumlah skor
S = jumlah soal
Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat kesukaran soal.
Rumus: skor = ΣXB keterangan:
ΣB TK = Tingkat kesukaran
X = skor tiap soal
ΣXB = jumlah hasil perkalian X dengan B
1. b)Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Objektif
Ada dua cara untu memberikan skor pada bentuk tes objektif:
1. Tanpa Rumus Tebakan (Non-Guessing Formula)
Pemberian skor pada tes objektif pada umumnya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kerumitannya. Untuk soal obyektif bentuk true-false misalnya, setiap item diberi skor maksimal 1 (satu). Apabila testee menjawab benar maka diberikan skor 1 dan apabila salah maka diberikan skor 0.
1. Menggunakan Rumus Tebakan (Guessing Formula)
Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu pernah diujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya.
Adapun rumus-rumus tebakan sebagai berikut:
Bentuk Benar-salah (True or False)
S = ΣB- ΣS
Keterangan:
S = skor yang dicari
ΣB = Jumlah Jawaban yang benar
ΣS = Jumlah Jawaban yang Salah
Bentuk Pilihan Ganda (multiple choice)
S = ΣB – ΣS n-1
keterangan:
S = skor yang dicari
ΣB = Jumlah Jawaban yang benar
ΣS = Jumlah Jawaban yang Salah
n = Alternatif jawaban yang disediakan
= Bilangan Tetap
2.4.3 Skor Total (Total Skor)
penjumlahan skor yang disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu yang pada dasarnya merupakan lambang kemampuan testee terhadap materi atau bahan yang diteskan.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan nilai, maka skor-skor yang telah
didapat masih merupakan skor mentah (raw score) dan perlu diolah sehingga skor dapat berubah
menjadi nilai-nilai jadi. Pengolahan skor yang dimaksudkan untuk menetapkan batas lulus (passing
grade) dan untuk mengubah skor mentah menjadi terjabar (drived score) atau menjadi skor yang sifatnya baku atau standar (Standard Score). Untuk menentukan batas lulus maka harus dihitung terlebih dahulu rata-rata (mean) dan simpangan baku (standard deviation), kemudian mengubah skor mentah menjadi skor terjabar atau skor standar.
2.4.4 Konversi Skor
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik kedalam skor terjabar atau standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor stdandard atau nilai yaitu :
1. a) Dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor standard atau nilai terdapat dua cara
yang dapat ditempuh yaitu :
1) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada kriterium (Criterion) atau sering juga disebut dengan patokan. Cara pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion referenced evaluation. Di dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilain Acuan Patokan (PAP) ada juga yang mengatakan dengan istilah Standar Mutlak.
2) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara kedua ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation. Di dalam dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Norma (PAN)
1. b) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan berbagai macam skala,
misalnya : skala 5 (Stanfive), yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan F. Skala sembilan (Stanine) yaitu nilai standar berskala sembilan dimana rentang nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai =0 dan >10), skala sebelas (standard eleven/ eleven points scale) rentang nilai mulai dari 0 sampai dengan 10, z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T).
2.4.5 Cara Memberi Skor Skala Sikap
Untuk mengukur sikap dan minat belajar siswa, guru dapat menggunakan alat penilaian model skala, seperti sikap dan skala minat. Skala sikap dapat menggunakan lima skala, yaitu; Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala yang digunakan 5,4,3,2,1 (untuk pernyataan positif) dan 1,2,3,4,5 (untuk pernyataan negative). Begitupun dengan skala minat, guru dapat menggunakan lima skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat (KB), dan Tidak Berminat (TB).
2.4.6 Cara Memberi Skor untuk Domain Psikomotor