PAYUNG HUKUM PERDAGANGAN ELEKTRONIK (E-COMMERCE)
DALAM TATA HUKUM INDONESIA
Disusun Oleh: Ikhwan Nul Yusuf Maulana
Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet telah berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Salah satunya adalah aspek ekonomi dengan hadirnya kemudahan cara bertransaksi secara elektronik yang disebut sebagai e-commerce atau perdagangan elektronik.
Dalam riset Google bersama Temasek baru-baru ini disebutkan, digital ekonomi di Indonesia semakin meningkat terutama pada dua sektor yaitu e-travel
dan e-commerce. Valuasi transaksinya pada 2025 diperkirakan akan mencapai US$ 81 miliar (kurang lebih 900 triliun). E-commerce diperkirakan akan tumbuh 39 persen per tahun, tumbuh dari 1,7 miliar dollar AS di 2015 menjadi 46 miliar dollar AS di 2025. Sementara untuk e-travel dapat berkembang menjadi 17 persen per tahun dari 5 miliar dollar AS di 2015 menjadi 24,5 miliar dollar AS di 2025.1
Payung hukum berupa peraturan perundang-undangan menjadi hal yang sangat penting dalam hal ini sebagai sarana dan upaya dalam mendorong perkembangan dan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia serta melindungi berbagai pihak yang terlibat didalamnya. Diantaranya pengaturan mengenai hak dan kewajiban sehingga dapat menciptakan suatu kepastian hukum yang menjamin pelaku (produsen) maupun konsumen dalam bertransaksi secara elektronik dengan aman dan nyaman.
Pembahasan
Negara Indonesia sebagai negara hukum memiliki tujuan hidup bernegara salah satunya adalah melindungi seluruh warga negaranya dalam setiap aspek
kehidupan, termasuk aspek perekonomian dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyatnya.2 Dengan demikian sudah menjadi kewajiban konstitusional bagi negara guna melindungi setiap warga negaranya dengan membentuk suatu tata hukum yang menjamin kepastian hukum dalam setiap perbuatan hukum.
Mochtar Kusumaatmadja memberikan pandangan bahwa hukum seharusnya tidak hanya dipandang sebagai suatu perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tetapi harus pula mencakup lembaga (instituions) dan proses (procces) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.3
Sehubungan dengan teori hukum pembangunan, Mochtar Kusumaatmadja menjelaskan bahwa hakikat pembangunan dalam arti seluas-luasnya yaitu meliputi segala segi dari kehidupan masyarakat dan tidak terbatas pada satu segi kehidupan. Masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan sehingga peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur. Perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau bahkan kombinasi dari kedua-duanya, sehingga dapat dikatakan bahwa hukum menjadi suatu alat yang tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.4
Adapun masalah-masalah dalam suatu masyarakat yang sedang membangun yang harus diatur oleh hukum secara garis besar dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu: Pertama, masalah-masalah yang langsung mengenai kehidupan pribadi seseorang dan erat hubungannya dengan kehidupan budaya dan spritual masyarakat. Kedua, masalah-masalah yang bertalian dengan masyarakat dan kemajuan pada umumnya dikaitkan dengan faktor-faktor lain dalam masyarakat
2 Pembukaan Alinea ke-4 dan Bab I, Pasal 1, Ayat (3), UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen ke-4
3 Mochtar Kusumaatmadja dalam Otje Salman dan Eddy Damian (Eds), Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan, Bandung: Alumni, 2002, hlm 91.
terutama faktor ekonomi, sosial dan kebudayaan, serta bertambah pentingnya peranan teknologi dalam kehidupan masyarakat moderen.5
Landasan konstitusional dan pandangan dari Mochtar Kusumaatmadja diatas dapat direfleksikan sebagai dasar bahwa hukum harus selalu hadir mengatur dan menjadi alat suatu pembangunan dan pembaruan di masyarakat sehingga perubahan tersebut dapat berjalan secara teratur dan tertib ke arah yang telah direncanakan. Termasuk dalam hal ini adalah e-commerce sebagai bentuk daripada kemajuan teknologi yang perlu memperoleh legitimasi hukum.
Kaidah Hukum Positif di Indonesia tentang E-commerce
Secara yuridis, sebenarnya transaksi jual-beli sebagai salah satu bentuk perjanjian sudah diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, khususnya pada Buku III dengan judul tentang Perikatan. Akan tetapi pengaturan pada Buku III KUH Perdata tersebut hanya mengatur transaksi jual-beli dalam model konvensional yang tidak mengatur sama sekali tentang transaksi
e-commerce.
E-commerce baru diatur secara jelas dan khusus pada 11 Maret 2014 dengan disahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Sebelumnya aturan e-commerce hanya bersandar pada UU ITE dan KUH Perdata dalam pelaksanaannya. Namun setelah UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disahkan oleh pemerintah, maka berlaku asas Lex specialis derogat legi generali pada undang-undang tersebut yang mengatur secara khusus diantaranya mengenai e-commerce.
Pengaturan e-commerce tersebut memberikan kepastian dan kesepahaman mengenai apa yang dimaksud dengan Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (selanjutnya disingkat PMSE) dan memberikan perlindungan dan kepastian kepada pedagang, penyelenggara PMSE, dan konsumen dalam melakukan kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik.6
5Ibid. hlm 90
http://www.pajak.go.id/content/e-commerce-di-Dalam UU Perdagangan diatur bahwa setiap pelaku usaha yang memperdagangkan Barang dan atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data dan atau informasi secara lengkap dan benar. Setiap pelaku usaha dilarang memperdagangkan Barang dan atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data dan atau informasi dan penggunaan sistem elektronik tersebut wajib memenuhi ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Data dan atau informasi PMSE paling sedikit harus memuat identitas dan legalitas Pelaku Usaha sebagai produsen atau Pelaku Usaha Distribusi, persyaratan teknis Barang yang ditawarkan, persyaratan teknis atau kualifikasi Jasa yang ditawarkan, harga dan cara pembayaran Barang dan atau Jasa, dan cara penyerahan Barang.
UU Perdagangan sendiri mendefinisikan PMSE sebagai perdagangan yang transaksinya dilakukan melalui serangkaian perangkat dan prosedur elektronik. Jenis pelaku usaha PMSE meliputi pedagang (merchant) dan Penyelenggara Perdagangan Secara Elektronik ("PPSE"), terdiri atas Penyelenggara Komunikasi Elektronik, Iklan Elektronik, penawaran elektronik, Penyelenggara sistem aplikasi Transaksi Elektronik, Penyelengara jasa dan sistem aplikasi pembayaran dan Penyelenggara jasa dan sistem aplikasi pengiriman barang.
Bentuk Perusahaan PMSE dapat berbentuk orang perseorangan atau berbadan hukum. Penyelenggara Sarana Perdagangan Secara Elektronik dapat berbentuk perorangan atau berbadan hukum.
Permasalahan Hukum dalam e-commerce dan Penyelesaiannya menurut Hukum Positif di Indonesia
Transaksi dan perdagangan secara elektronik tidak dapat dipungkiri sering kali menimbulkan beberapa permasalahan hukum. Hal ini disebabkan oleh transaski elektronik yang tidak sama dengan transaksi secara tradisional. Pada transaksi tradisional semua aktivitas mulai dari penawaran sampai dengan
perjanjian dilakukan dengan menitikberatkan pada dokumen fisik yang tertulis (papered based transaction) dan bahkan dilakukannya negosiasi secara tatap muka langsung.
Sedangkan pada transaksi e-commerce aktivitas transaksi sejak dilakukannya penawaran oleh pihak penjual (produsen) sampai dengan lahirnya kesepakatan perjanjian jual-beli dan pelaksanaannya, semua menggunakan sarana berbentuk data elektronik dengan memanfaatkan jaringan koneksi internet dan komputer, sehingga transaksi tersebut dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan cara yang sangat fleksibel.
Dengan karakteristiknya yang unik tersebut, terkadang menimbulkan masalah dalam kepastian hukum. Permasalahan yang lebih luas terjadi pada bidang keperdataan karena transaksi elektronik untuk kegiatan transaksi jual-beli berbasis e-commerce telah menjadi bagian dari perniagaan nasional dan internasional. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konvergensi di bidang teknologi informasi, media, dan informatika (telematika) berkembang terus tanpa dapat dibendung, seiring dengan ditemukannya perkembangan baru di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Menurut TID UN ESCAP (2007), terdapat sekitar 10 permasalahan utama dalam penggunaan e-commerce, yaitu:7
1. Kontrak elektronik
2. Tandatangan elektronik/tandatangan digital 3. Pembayaran elektronik dan jaminan keamanan 4. Penyelesaian sengketa
5. Batas negara dan hukum yang digunakan 6. Perlindungan konsumen
7. Kejahatan internet
8. Hak kekayaan intelektual 9. Pajak
10. Harmonisasi sistem hukum
Menurut Vera, Ellen dan Melissa (2008), beberapa permasalahan hukum dalam aktivitas e-commerce:
1. Otentikasi subyek hukum yang membuat transaksi melalui internet; 2. Saat perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan megikat secara hukum; 3. Obyek transasksi yang diperjual belikan;
4. Mekanisme peralihan hak;
5. Hubungan hukum dan pertanggung jawaban para pihak yang terlibat dalam transaksi baik penjual, pembeli, maupun para pendukung seperti perbankan, internet service provider (ISP), dan lain sebagainya;
6. Legalitas dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital sebagai alat bukti;
7. Mekanisme penyelesaian sengketa;
8. Pilihan hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam penyelesaian sengketa
Hukum perjanjian Indonesia menganut azas kebebasan berkontrak berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata. Azas ini memberikan kebebasan kepada para pihak yang sepakat untuk membentuk suatu perjanjian untuk menentukan sendiri bentuk serta isi suatu suatu perjanjian. Dengan demikian para pihak yang membuat perjanjian dapat mengatur sendiri hubungan hukum diantara mereka. Sebagaimana dalam perdagangan konvensional, e-commerce menimbulkan perikatan antara para pihak untuk memberikan suatu prestasi. Implikasi dari perikatan itu adalah timbulnya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak yang terlibat.
Menurut Marhum Djauhari (2009), permasalahannya tidaklah sesederhana itu. E-commerce merupakan model perjanjian jual beli dengan karakteristik dan aksentuasi yang berbeda dengan model transaksi jual beli konvensional, apalagi dengan daya jangkau yang tidak hanya lokal tapi juga bersifat global. Adaptasi secara langsung ketentuan jual beli konvensional akan kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteks e-commerce. Sebagai fenomena yang relatif baru, bertransaksi bisnis melalui internet memang menawarkan kemudahan, namun memanfaatkan internet sebagai fondasi aktivitas bisnis memerlukan tindakan terencana agar berbagai implikasi yang menyertainya dapat dikenali dan diatasi.
Dalam aspek hukum, saat ini Indonesia telah memiliki perangkat hukum Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE), yang didalamnya antara lain mengatur upaya melindungi masyarakat dari transaksi elektronik. Selain itu juga Indonesia telah memiliki Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 yang mengatur secara khusus mengenai perdagangan elektronik yang termuat didalamnya. Dengan demikian seluruh transaksi dan perdagangan elektronik di Indonesia telah memiliki dasar hukum yang jelas.
Menurut UU Nomor 7 Tahun 2014 Pelaku Usaha dalam perdagangan elektronik dinyatakan wajib melakukan pendaftaran dan memenuhi ketentuan teknis dari instansi yang terkait. Setiap pelaku usaha harus memiliki dan mendeklarasikan etika bisnis (business conduct atau code of practices). Pelaku usaha dilarang mewajibkan konsumen untuk membayar produk yang dikirim tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu (inertia selling). Informasi atau dokumen elektronik dapat digunakan sebagai suatu alat bukti. Informasi atau dokumen elektronik memiliki nilai kekuatan hukum yang sama dengan akta otentik.
ketentuan perpajakan Indonesia karena dianggap memenuhi kehadiran secara fisik dan melakukan kegiatan usaha secara tetap di Indonesia.
Terkait bea materai, pengenaan bea materai terhadap dokumen bukti transaksi elektronik diberlakukan terhadap bukti transaksi yang dilakukan secara tertulis di atas kertas. Situs yang telah diaudit berhak memperoleh trustmark. Situs yang tidak bertanggungjawab dapat dimasukkan dalam blacklist.
Perihal kontrak elektronik, kontrak perdagangan elektronik sah ketika terdapat kesepakatan para pihak. Kontrak Perdagangan Elektronik paling sedikit harus memuat identitas para pihak, spesifikasi barang dan atau Jasa yang disepakati, legalitas barang dan atau jasa, nilai transaksi perdagangan, persyaratan dan jangka waktu pembayaran, prosedur operasional pengiriman barang dan atau jasa, dan prosedur pengembalian barang dan atau jika terjadi ketidaksesuain.
Kontrak Perdagangan Elektronik dapat menggunakan tanda tangan elektronik dan harus dibuat dalam bahasa Indonesia. Kontrak Perdagangan Elektronik harus disimpan dalam jangka waktu tertentu. PPSE wajib membuat sistem yang memungkinkan penyimpanan kontrak elektronik.
Dalam hal terjadi sengketa terkait dengan transaksi dagang melalui sistem elektronik, orang atau badan usaha yang mengalami sengketa dapat menyelesaikan sengketa tersebut melalui pengadilan atau melalui mekanisme penyelesaian sengketa lainnya.
Terkait yuridiksi, pilihan hukum dan forum penyelesaian sengketa ditentukan oleh para pihak dan atau mengikuti kaedah dalam hukum perdagangan internasional. Atas transaksi antara pelaku usaha asing dengan konsumen Indonesia dan antara pelaku usaha asing dengan pemerintah Indonesia, berlaku hukum perlindungan Indonesia.
Penutup
Dengan demikian dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus selalu disertai dengan payung hukum yang jelas berupa peraturan perundangan-undangan yang menjadi alat pembangunan dan pembaruan di masyarakat sehingga perubahan tersebut dapat berjalan secara teratur dan tertib ke arah yang telah direncanakan. Artinya hukum tidak boleh tertinggal tapi berjalan berdampingan dengan kemajuan teknologi.
Adapun payung hukum e-commerce di Indonesia diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang diharapkan dapat menciptakan ketertiban dan kepastian hukum dalam pelaksanaan transaksi perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Kusumaatmadja, Mochtar. 2002. Konsep-Konsep Hukum dalam Pembangunan
dalam Otje Salman dan Eddy Damian (Eds). Bandung: Alumni. Subekti, R., dan R. Tjitrosudibio. 2009. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(Burgerlijk Wetboek). Jakarta: Balai Pustaka.
B. Sumber lain
SWA, “Riset Google: Peluang Digital Indonesia Capai US$ 81 miliar”, 26 Agustus 2016, <https://swa.co.id/swa/trends/riset-google-peluang-digital-indonesia-capai-us-81-miliar> [diakses 01 Mei 2017]
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, “e-Commerce di Indonesia Sudah Diatur Dalam UU Perdagangan”, 17 Oktober 2014, <http://www.pajak.go.id/content/e-commerce-di-indonesia-sudah-diatur-dalam-uu-perdagangan> [diakses 01 Mei 2017]
Rachmoez Jack, “Penggunaan E-Commerce dan Permasalahan Hukum”, 2015,
<http://dominique122.blogspot.co.id/2015/05/penggunaan-e-commerce-dan-permasalahan.html> [diakses 01 Mei 2017]
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI. 2013
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan