BAB II TINJAUAN PUSTAKA

32 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

2.1 Perilaku

2.1.1 Defenisi Perilaku

Dipandang dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bisa dilihat, sedangkan perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berjalan, berbicara, menangis, tertawa, membaca dan sebagainya, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).

Setiap manusia akan bertindak dan bertingkah laku untuk berinteraksi dengan makhluk lain, hakikat manusia sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Perilaku manusia ditujukan sebagai tanda pengenal dirinya sebagai makhluk sosial yang senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Perilaku manusia yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamakan, karena pribadi manusia merupakan hal yang sangat unik dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya masing-masing.

Karakteristik perilaku menurut Purwanto (2009) dibedakan menjadi 2 yaitu perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku tertutup (covert behavior) adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu misalnya berpikir, berkhayal,

(2)

sedih, bermimipi, dan takut. Sedangkan perilaku terbuka (overt behavior) adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat bantu misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anggotanya ke puskesmas untuk diimunisasi, atau seseorang yang melakukan tes VCT-HIV ke fasilitas kesehatan yang tersedia.

2.1.2 Determinan Perilaku

Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan, faktor-faktor yang membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi 2 macam yakni:

1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yangbersangkutan yang bersifat given atau bawaan, misalnya tingkatkecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.

2. Determinan atau faktor eksternal yakni lingkungan, baiklingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa perilaku adalahmerupakan totalitas penghayatan dan aktifitas seseorang, yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.

Bloom (1998) sebagaimana dikutip oleh Notoatmodjo (2010) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manusia itu kedalam 3 karakteristik, ranah atau kawasan yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.

(3)

Perilaku manusia menurut Purwanto (2009) terdapat banyakmacamnya yaitu: 1) Perilaku refleks

Perilaku refleks merupakan perilaku yang dilakukan manusia secara otomatik. Contohnya : mengecilkan kelopak mata, menaikkan bahu ketika bernafas, menganggukan kepala ketika menandakan persetujuan, dan menggelengkan kepala ketika menunjukkan penolakan.

2) Perilaku refleks bersyarat

Merupakan perilaku yang muncul karena adanya rangsangan tertentu. 3) Perilaku yang mempunyai tujuan

Disebut juga perilaku naluri.

Usaha yang dapat dilakukan untuk menanggulangi perilaku negatif seseorang dapat dilakukan dengan :

1. Peningkatan peranan keluarga terhadap perkembangan dari kecilhingga dewasa.

2. Peningkatan status sosial ekonomi keluarga. 3. Menjaga keutuhan keluarga.

4. Mempertahankan sikap dan kebiasaan sesuai dengannorma yang disepakati. 5. Pendidikan keluarga yang disesuaikan dengan status anggota keluarga baik

itu anggota tunggal, anggota tiri, dan lain-lain.

Menurut Skinner seorang ahli psikologi yang dikutip Notoatmodjo (2010) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsang dari luar). Dalam teori Skinner ada 2 (dua) respon, yaitu:

(4)

1. Respondent respon atau flexive, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus tertentu). Stimulus semacam ini disebut eleciting stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap. 2. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul dan

berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsangtertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer karena memperkuat respon.

Tim ahli WHO (2004) menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok yaitu :

1. Pemikiran dan perasaan

Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap, persepsi, kepercayaan- kepercayaan, dan penilaian - penilaian seseorang terhadap objek (dalam hal ini adalah objek kesehatan ). dan lain-lain.

2. Orang penting sebagai refrensi

Apabila seseorang itu penting bagi kita maka apapun yang ia lakukan ataupun katakan cenderung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok refrensi seperti kepala suku, guru, kepala desa, dan lain-lain.

3. Sumber-sumber daya

Yang termasuk adalah fasilitas - fasilitas misalnya: waktu, uang , tenaga kerja, keterampilan, pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.

(5)

Norma, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut dengan kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh terhadap perilaku. Kebudayaan selau berubah, baik lambat ataupun cepat, sesuai dengan peradaban umat manusia.

Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang sebagian terletak dalam diri individu sendiri yang disebut sebagai faktor internal dan sebagian terletak di luar dirinya atau disebut dengan faktor eksternal atau faktor lingkungan

2.1.3 Domain Perilaku

Lawrence Green dalam Mandy (2010) menganalisis bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu:

a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain sikap, pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai tradisi, persepsi berkenaan dengan motivasi seseorang untuk bertindak.

b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

Faktor pemungkin mencakup berbagai keterampilan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perilaku kesehatan. Sumber daya itu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, personalia atau petugas yang tersedia, klinik atau sumber daya yang hampir sama. Faktor pemungkin ini juga menyangkut keterjangkauan berbagai sumber daya, biaya, jarak, ketersediaan transportasi, jam buka dan sebagainya.

(6)

c. Faktor Penguat/Pendorong (Reinforcing Factors)

Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja bergantung pada tujuan dan jenis program atau kegiatan yang dilakukan. Di dalam pendidikan pasien, penguat berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan sebagainya. Apakah penguat itu positif atau negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan. Misalnya pada pendidikan kesehatan sekolah di tingkat sekolah lanjutan tingkat atas, yang penguatnya datang dari teman sebaya, guru, dan pejabat sekolah. Penelitian tentang perilaku remaja menunjukkan bahwa perilaku penggunaan obat di kalangan remaja sangat dipengaruhi oleh dorongan teman-teman, terutama teman dekat. Begitupun dengan anggota komunitas perilaku yang mudah ditiru ialah perilaku dari orang terdekat, seperti anggota komunitas yang lain, teman sebaya, dan sebagainya.

Seorang ibu hamil yang tidak mau memeriksakan kehamilannyadi fasilitas kesehatan disebabkan karena orang tersebut tidak atau belum mengetahui manfaat dari pemeriksaankehamilan tersebut. Tetapi barangkali juga karena rumahnya jauh dari fasilitas kesehatan tempat pemeriksaaan kehamilan atau peralatan yang tidak lengkap (Enabling Factors). Sebab lain mungkin karena para petugas kesehatan ataustakeholderlain disekitarnya tidak pernah memberikan contoh ataupunpenyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan (Reinforcing Factors).

(7)

Cara mengukur perilaku ada 2 cara (Notoatmodjo, 2010) yaitu:

1. Perilaku dapat diukur secara langsung yakni wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall).

2. Perilaku yang diukur secara tidak langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

2.1.4 Pembentukan Perilaku

Pembentukan perilaku menurut Ircham (2005) ada beberapa cara, diantaranya:

1. Kebiasaan (Conditioning)

Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan conditioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan akhirnya akan terbentuklah perilaku.

2. Pengertian (Insight)

Pembentukan perilaku yang didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai dengan adanya pengertian.

3. Menggunakan Model

Cara ini menjelaskan bahwa domain pembentukan perilaku pemimpin dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory)atau observational learning theory oleh Bandura (1977).

(8)

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam (Dewi, 2010) yakni:

1. Bentuk Pasif

Respons internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.

2. Bentuk Aktif

Perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung, oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata disebut overt behavior. 2.1.5 Teori Terjadinya Perilaku

Perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada. Perilaku manusia didorong oleh motif tertentu sehingga manusia berperilaku (Ircham, 2005).

Teori perilaku menurut Ircham, antara lain: 1. Teori Insting

Menurut Mc Dougal (2008) perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan perilaku yang innate atau perilaku bawaan dan akan mengalami perubahan karena pengalaman.

2. Teori Dorongan (Drive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan itu

(9)

berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku.

3. Teori Insentif (Incentive Theory)

Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif, dengan insentif akan mendorong organisme berperilaku. Insentif atau reinforcement ada yang positif dan ada yang negatif. Reinforcement yang positif adalah berkaitan dengan hadiah dan akan mendorong organisme berbuat atau berperilaku.

4. Teori Atribusi

Teori ini menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku seseorang. Apakah itu disebabkan oleh disposisi internal (misal motif, sikap) atau oleh keadaan eksternal.

Menurut WHO yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010) , perubahan perilaku dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

1. Perubahan alamiah (natural change) ialah perubahan yang dikarenakan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya, ataupun ekonomi dimana ia beraktifitas.

2. Perubahan terencana (planned change) ialah perubahan ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.

3. Perubahan dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change) ialah perubahan yang terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang akan terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami

(10)

perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesedian untuk berubah yang berbeda-beda.

Berdasarkan teori Health Belief Model berkembangnya pelayanan kesehatan masyarakat akibat kegagalan dari orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan atau penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider (Edberg, 2009). Ada 6 variabel yang menyebabkan seseorang mengobati penyakitnya:

1. Persepsi Kerentanan (Perceived Susceptibility)

Persepsi seseorang terhadap resiko dari suatu penyakit. Agar seseorang bertindak untuk mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasakan kalau ia rentan terhadap penyakit tersebut.

2. Persepsi Keparahan (Perceived Seriousness)

Tindakan seseorang dalam pencarian pengobatan dan pencegahan penyakit dapat disebabkan karena keseriusan dari suatu penyakit yang dirasakan misalnya dapat menimbulkan kecacatan, kematian, atau kelumpuhan, dan juga dampak sosial seperti dampak terhadap pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial.

3. Persepsi Manfaat (Perceived Benefits)

Penerimaan seseorang terhadap pengobatan penyakit dapat disebabkan karena keefektifan dari tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyakit. Faktor lainnya termasuk yang tidak termasuk dengan perawatan seperti, berhenti merokok dapat menghemat uang.

(11)

4. Persepsi Hambatan (Perceived Barriers)

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan pencegahan penyakit akan mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Pada umumnya manfaat tindakan lebih menentukan daripada rintangan atau hambatan yang mungkin ditemukan dalam melakukan tindakan tersebut.

5. Petunjuk untuk Bertindak (Cues to Action)

Kesiapan seseorang akibat kerentanan atau manfaat yang dirasakan dapat menjadi faktor yang potensial untuk melakukan tindakan pengobatan. Selain faktor lainnya seperti faktor lingkungan, media massa atau anjuran dari keluarga, teman-teman dan sebagainya.

6. Efikasi Diri (Self Efficacy)

Efikasi diri adalah kepercayaaan seseorang terhadap kemampuannya dalam pengambilan tindakan.Health Belief Model (HBM) mengasumsikan proses internal dan rasional, yakni seseorang menilai derajat resiko mereka dan membuat perhitungan untung rugi jika mereka tidak ikut dalam perilaku kesehatan preventif atau kegiatan berorientasi kesehatan. Namun perhitungan tersebut bervariasi berdasarkan informasi dan interpretasi yang dibuat.

2.2 Perilaku Kesehatan

2.2.1 Pengertian Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman dan serta lingkungan. Karakteristik perilaku kesehatan dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu perilaku pemeliharaan kesehatan

(12)

(health maintenance), perilaku perencanaan dan penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, dan perilaku kesehatan lingkungan. Perilaku pemeliharaan kesehatan adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk mendapatkan penyembuhan bilamana sakit. Oleh karena sebab itu perilaku pemeliharaan kesehataan ini terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit, serta perilaku peningkatan kesehatan apabila seseorang dalam keadaan sehat, dan perilaku gizi (makanan) dan minuman (Notoatmodjo, 2010).

2.2.2 Klasisfikasi Perilaku Kesehatan

Becker (1979) dalam Dewi (2010) mengklasifikasikan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan sebagai berikut :

1. Perilaku Kesehatan (Health Behavior)

Hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk tindakan mencegah penyakit, kebersihan perorangan dan sebagainya.

2. Perilaku Sakit (Illness Behavior)

Tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab sakit, serta usaha mencegah penyakit tersebut.

3. Perilaku Peran Sakit (The Sick Role Behavior)

Tindakan atau kegiatan yang dilakukan individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan.

(13)

Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua kategori (Dewi, 2010), yaitu:

1) Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar.

2) Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar.

Perilaku-perilaku disengaja atau tidak disengaja yang membawa manfaat bagi kesehatan individu dan sebaliknyaperilaku yang disengaja atau tidak disengaja berdampak merugikan kesehatan antara lain:

a.) Perilaku sadar yang menguntungkan kesehatan

Mencakup perilaku yang secara sadar oleh seseorang yang berdampak menguntungkan kesehatan. Golongan perilaku ini langsung berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pencegahan penyakit serta penyembuhan penyakit yang dijalankan secara sadar atas dasar pengetahuan bagi diri seseorang.

b.) Perilaku sadar yang merugikan kesehatan

Perilaku sadar yang dijalankan secara sadar diketahui bila perilaku tersebut tidak menguntungkan kesehatan terdapat pula dikalangan orang berpendidikan atau professional, atau secara umum pada masyarakat yang sudah maju.

c.) Perilaku tidak sadar yang merugikan kesehatan

Golongan masalah ini paling banyak dipelajari, terutama karena penanggulangannya merupakan salah satu tujuan utama berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat.

(14)

Golongan perilaku ini menunjukkan bahwa tanpa sadar pengetahuan seseorang dapat menjalankan kegiatan-kegiatan tertentu yang secara langsung atau tidak langsung memberi dampak positif terhadap derajat kesehatan mereka. 2.3 Masyarakat

2.3.1 Pengertian Masyarakat

Menurut Kontjaraningrat (2009) masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana agar warganya dapat saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh rasa identitas bersama.

Soekanto (2009) menjelaskan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang telah hidup bersama dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas yang dirumuskan dengan jelas. Masyarakat juga merupakan kelompok individu yang saling berhubungan, bergantung, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan (Mubarak, 2009).

Terdapat ciri-ciri masyarakat sehat, yaitu peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan terutama untuk ibu dan anak, peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup, peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat,

(15)

penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit (Mubarak, 2009).

Menurut WHO (World Health Organization) ada beberapa indikator untuk masyarakat sehat yaitu keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan. Keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat memiliki dua indikator yaitu komprehensif dan spesifik. Pada indikator komprehensif yang menjadi penilaian adalah angka kematian kasar menurun, rasio angka mortalitas proporsional rendah dan umur harapan hidup meningkat. Sedangkan pada indikator spesifik yang menjadi penilaian adalah angka kematian ibu dan anak menurun, angka kematian karena penyakit menular menurun dan angka kelahiran menurun. Sebagai indikator pelayanan kesehatan memiliki poin penting yaitu rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang, distribusi tenaga kerja merata, informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas kesehatan lain dan sebagainya, informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan diantaranya rumah sakit dan Puskesmas rumah bersalin dan sebagainya (WHO, 2008).

2.3.2 Karakteristik Masyarakat

Secara umum karakteristik masyarakat adalah sebagai berikut : 1) Umur

Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan golongan umur. Misalnya, dikalangan balita banyak yang menderita penyakit infeksi sedangkan pada golongan usia lanjut lebih bnayak menderita

(16)

penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker dan lain-lain (Notoatmodjo, 2010).

2) Jenis Kelamin (Gender)

Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki oleh mahluk hidup, dalam hal ini manusia. Jenis kelamin sering dibagi ke dalam dua kategori, dengan menggunakan istilah masing-masing; laki-laki dan perempuan atau pria dan wanita. Dalam studi epidemiologi, jenis kelamin juga menjadi salah satu bagian dari karakteristik yang memiliki pengaruh terhadap kejadian kesakitan. Sebagai contoh, penyakit kanker serviks hanya dijumpai pada wanita, sedangkan kanker prostat hanya dijumpai pada pria (Notoatmodjo, 2010).

3) Agama

Menurut Az-Zamawi (2004) agama memang mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntutan hidup bagi penganutnya. Menurut Jalaludin Rahmat di dalam M. Mukshin Jamil mengatakan bahwa agama adalah kenyataan terdekat dan sekaligus misteri terjauh .

4) Status Sosial Ekonomi

Pelaksanaan pelayanan kesehatan akan dipengaruhi oleh tingkat ekonomi dimasyarakat. Semakin tinggi ekonomi seseorang, pelayanan kesehatan akan lebih diperhatikan dan mudah dijangkau, demikian juga sebaliknya apabila tingkat ekonomi seseorang rendah, maka sangat sulit menjangkau pelayanan kesehatan mengingat biaya dalam jasa pelayanan kesehatan membutuhkan biaya yang cukup mahal. Keadaan ekonomi ini yang akan dapat mempengaruhi dalam sistem pelayanan kesehatan (Hidayat, 2007).

(17)

5) Pendidikan

Koentjaraningrat (2009) mengatakan pendidikan adalah kemahiran menyerap pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan seseorang yang diserapnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah untuk menyerap pengetahuan.

6) Budaya

Kesehatan para anggota masyarakat berhubungan dengan pola kebudayaan mereka. Jelas bahwa praktik diet dan kebersihan dapat mempengaruhi timbulnya penyakit tertentu, tetapi praktik-praktik lain dari kebudayaan dapat mempengaruhi juga resiko timbulnya penyakit, misalnya memotong tali pusat bayi baru lahir dengan bambu tajam yang tidak disterilkan dapat mengakibatkan tetanus neonatorum. Dan dalam masyarakat kita sekarang, merokok, minum minuman keras dan sebagainya membawa resiko terhadap kesehatan (Maramis,2006). 2.4 Pola Pencarian Pengobatan Masyarakat

Masyarakat atau anggota masyarakat yang mendapat penyakit dan tidak merasakan sakit (disease but not illness) sudah tentu tidak akan bertindak apa-apaterhadap penyakitnya tersebut. Tetapi bila mereka diserang penyakit dan juga merasakan sakit, maka baru akan timbul berbagai macam perilaku dan usaha. Dari beberapa hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pola pencarian pengobatan pada beberapa daerah. Hal ini tidak dapat dijelaskan hanya karena adanya perbedaan morbidity rate atau karakteristik demografi penduduk, tetapi faktor-faktor sosial budaya yang menyebabkan tidak digunakannya fasilitas

(18)

kesehatan. Penggunaan pelayanan kesehatan tidak perlu diukur hanya dalam hubungannya dengan individu tetapi dapat diukur berdasarkan unit keluarga (Sarwono, 2007).

Young (2008) menyatakan bahwa ada tiga pertanyaan pokok yang biasanyadipakai dalam pengambilan keputusan yaitu :

1. Alternatif apa yang dilihat oleh anggota masyarakat agar mampu menyelesaikan masalahnya, disini alternatif yang dimaksud adalah pengobatan sendiri, pengobatan tradisional, paramedis, dokter dan rumahsakit.

2. Kriteria apa yang dipakai untuk memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ada. Kriteria yang dipakai untuk memilih sumber pengobatan adalahkeparahannya, pengetahuan tentang pengalaman sakit dan pengobatannya,keyakinan efektivitas pengobatan dan obat, serta biaya dan jarak yangterjangkau.

3. Bagaimana proses pengambilan keputusan untuk memilih alternatiftersebut. Proses pengambilan keputusan ini dimulai dengan penerimaaninformasi, memproses berbagai informasi dengan kemungkinandampaknya, kemudian mengambil keputusan dari berbagai kemungkinandan melaksanakannya. Masyarakat yang berpenyakit dan tidak merasakan sakit (disease but no illness)pasti tidak akan berbuat apa-apa mengenai penyakitnya. Ini berbeda apabila seseorang itu berpenyakit dan merasakan sakit, maka baru timbul berbagai macam perilaku dan usaha, misalnya:

(19)

1. Tidak melakukan apa-apa. Ini disebabkan oleh kondisi yang sakit tersebut tidak mengganggu kegiatan mereka sehari-hari. Mungkin mereka beranggapan bahwa tanpa bertindak apa pun gejala yang dideritanya akan lenyap dengan sendirinya. Selain itu ada juga yang beralasan bahwa kesehatan bukan prioritasdi dalam hidup dan kehidupannya. Alasan yang lain adalah fasilitas kesehatanjauh,para petugas kesehatan tidak simpatik, tidak sanggup biaya, takut kerumah sakit, dan lain-lain.

2. Tindakan berobat sendiri (self treatment). Alasannya juga sama seperti diatas. Perkara lain yang bisa dijadikan tambahan untuk tindakan mengobatsendiri ini adalah mereka percaya kepada diri sendiri karena pengalaman yanglalu dimana pengobatan sendiri mendatangkan kesembuhan. Hal ini mengakibatkan pencarian pengobatan keluar tidak diperlukan.

3. Tindakan berobat ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional (traditional remedy). Bagi masyarakat desa pengobatan tradisional ini masih menjadi pilihan utama. Selain itu bagi masyarakat sederhana pula pencarian pengobatan lebih cenderung ke arah sosial budaya masyarakat berbanding hal-hal yang masih dianggap masih asing.

4. Tindakan berobat melalui pembelian obat-obat di warung. Obat-obat dibeliumumnya tidak memakai resep dan belum menimbulkan masalah kesehatanyang cukup serius.

5. Tindakan berobat ke fasilitas-fasilitas pengobatan yang modern seperti balai pengobatan, puskesmas, dan rumah sakit.

(20)

6. Tindakan mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern yaitu ke praktikdokter.

Health Belief Model (HBM) mencakup 4 komponen utama (Fieldtheory, Lewin, 1954; Becker, 1974), yaitu:, apabila individu bertindak untukmengobati sesuatu penyakit, ada empat variabel yang penting dalam tindakan yang akan dilakukan yaitu :

1. Kerentanan yang dirasakan

Merupakan suatu tindakan pencegahan terhadap penyakit apabila seseorangtelah merasakan bahwa ia atau keluarganya rentan pada penyakit tersebut.

2. Keseriusan yang dirasakan

Merupakan suatu tindakan mencari pengobatan dan pencegahan penyakit karena didorong oleh keseriusan penyakit tersebut pada dirinya ataumasyarakat. 3. Manfaat dan rintangan- rintangan yang dirasakan

Apabila seseorang merasakan dirinya rentan untuk suatu penyakit, ia akan melakukan suatu tindakan tertentu. Tindakan ini akan tergantung pada manfaatyang dirasakan dan rintangan-rintangan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut.

4. Isyarat atau tanda- tanda

Faktor-faktor seperti pesan-pesan pada media massa, nasihat kawan-kawanatau individu lain perlu supaya pasien mendapatkan tingkat penerimaan yang benar mengenai kerentanan, kegawatan dan keuntungan sesuatu tindakan.

(21)

2.5. Reaksi dalam Proses Pencarian Pengobatan

Masyarakat atau anggota masyarakat yang mendapat penyakit, dan tidakmerasakan sakit (disease but no illness) sudah barang tentu tidak akan bertindak apa-apa terhadap penyakitnya tersebut. Tetapi bila mereka diserang penyakit dan juga merasakan sakit, maka baru timbul berbagai macam perilaku dan usaha. Penyelidikan E.A. Suchman (1965) tentang perilaku kesehatan dalam konteks sosial budaya cukup memberi harapan, dan menyangkut hubungan yang bersifathipotesis antara orientasi kesehatan atau perilaku dengan hubungan sosial atau struktur kelompok. Model Suchman yang terpenting adalah menyangkut pola sosial dan perilaku sakit yang tampak pada cara orang mencari, menemukan, dan melakukan perawatan. Pendekatan yang digunakan berkisar pada adanya 4 unsur yang merupakan faktor utama dalam perilaku sakit, yaitu:

1. Perilaku itu sendiri; 2. Sekuensinya;

3. Tempat atau ruang lingkup dan

4. Variasi perilaku selama tahap-tahap perwatan.

Suchman sangat memperhatikan perilaku sakit. Ia mendefenisikan sebagaicara bilamana gejala dirasakan, dinilai dan kemudian bertindak untuk mengenalinya sebagai rasa sakit, discomfort atau mengatasi rasa sakit tersebut. Analisis ini untuk mengidentifikasikan pola pencarian, penemuan dan penyelenggaraan perawatan. Oleh karena itu pengembangan teori yang mengikuti individu mulai dari cara pandang dan mengenal penyakit sehingga kembali sehat di tangan petugas kesehatan. Unsur pertama, perilaku sakit menyangkut

(22)

serangkaian konsep-konsep yang menggambarkan alternatif perilaku, berikut akibatnya yaitu:

1. Shopping, adalah proses mencari alternatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai dengan harapan si sakit.

2. Fragmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan padalokasi yang sama. Contoh : berobat ke dokter sekaligus ke sinse dan dukun.

3. Procastination ialah proses penundaan, menangguhkan atau mengundurkan upaya pencarian pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan. 4. Self medication adalah proses pengobatan sendiri dengan menggunakan

berbagai ramuan atau obat-obatan yang dinilainya tepat baginya.

5. Discontinuity adalah melakukan proses membatalkan atau penghentian pengobatan.

Menurut paradigma Suchman, urutan peristiwa medis dibagi atas 5 (lima) tingkat,yaitu: pengalaman dengan gejala penyakit, penilaian terhadap peran sakit, kontak dengan perawatan medis, jadi pasien, sembuh atau masa rehabilitasi. Pada setiap tingkat setiap orang harus mengambil keputusan-keputusan dan melakukan perilaku-perilaku tertentu yang berkaitan dengan kesehatan. Pada tingkat permulaan terdapat tiga dimensi gejala yang menjadi pertanda adanya ketidakberesan dalam diri seseorang, yaitu:

(23)

2. Pengetahuan seseorang tentang gejala tersebut mendorongnya membuat penafsiran-penafsiran yang berkaitan dengan akibat penyakit serta gangguan terhadap fungsi sosialnya.

3. Perasaan terhadap gejala penyakit tersebut berupa rasa takut atau cemas. Perlu diketahui bahwa kesimpulan yang diperoleh seseorang pada tahap pengenalan gejala penyakit (seperti juga pada tahap-tahap lainnya), berbeda satu sama lain. Secara teoritis, setelah tahap pengalaman gejala hingga tahap mengira bahwa dirinya sakit, terbuka beberapa alternatif yang dapat dipilih seseorang, misalnya menolak anggapan bahwa dirinya sakit atau mengulur waktu mencari pertolongan medis. Pada saat orang mengira bahwa dirinya sakit, maka orang akan mencoba mengurangi atau mengontrol atau mengurangi gejala tersebut melalui pengobatan sendiri. Sementara itu pihak keluarga dan teman-teman dimintai nasehat, sistem rujukan awam (lay-referral system) dapat mempengaruhi seseorang untuk berperan untuk berperan sakit, sedangkan upaya mendiskusikan gejala itu dengan orang-orang terdekat atau “orang penting” lainnya betujuan untuk memperoleh “pengakuan” yang diperlukan agar ia mendapat kebebasan dari tuntutan dan tanggung jawab sosial tertentu. Selanjutnya, pada saat berhubungan dengan pihak pelayanan kesehatan, pelaksana tenaga kesehatan dapat membantu kebutuhan fisik dan psikologis pasien, dengan jalan memberikan diagnosis dan pengobatan terhadap gejala, atau memberikan pengesahan (legitimacy) agar pasien dibebaskan dari tuntutan-tuntutan, tanggung jawab dan kegiatan tertentu. Seperti juga pada tahap-tahap sebelumnya, seseorang bisa dipercaya dan menerima tindakan atau saran untuk pengobatan, dan bisa juga

(24)

menolaknya. Boleh jadi juga ia akan mencari informasi serta pendapat-pendapat dari sumber pelayanan kesehatan lainnya.

Suchman (1965) memformulasikan suatu pernyataan teoritis mengenai hubungan antara struktur sosial dan orientasi kesehatan dengan variasi respon individu terhadap penyakit dan perawatan kesehatan. Dalam pengembangan model ini, Suchman membahas fungsi dari berbagai faktor lain (faktor tempat, variasi respon terhadap penyakit, perawatan kesehatan) sesuai dengan kelima tahap penyakit dan proses perawatan kesehatan tersebut.

Struktur sosial kelompok ditentukan oleh keadaan sosial dari tiga tingkat kelompok, yaitu tingkat komunitas, persahabatan, dan keluarga. Pada tingkatkomunitas, derajat hubungan sosial diukur dengan kuat tidaknya rasakesukuan, pada tingkat sosial diukur dengan solidaritas persahabatan, dan pada tingkat keluarga ditandai dengan kuat tidaknya orientasi terhadap tradisi dan otoritas. Ketiga dimensi hubungan sosial tersebut dikombinasikan kedalam suatu indeks kosmopolitan parokial struktur sosial. Parokialisme diartikan sebagai suatu keadaan sosial dimana terdapat rasa kesukuan yang kuat, solidaritas persahatan tinggi, dan sangat berorientasi pada tradisi dan otoritas dalam keluarga. Orientasi kesehatan seseorang dilihat sebagai suatu kontinum yang dibedakan atas orientasi ilmiah (bersifat objektif, profesional, dan impersonal) dan orientasi populer (bersifat subjektif, awam dan personal), yang disesuaikan menurut tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakit, skeptisisme terhadap perawatan kesehatan, dan ketergantungan seseorang akibat penyakit. Orientasi pada kesehatan populer ditandai oleh rendahnya tingkat pengetahuan tentang penyakit

(25)

(dimensi kognitif), tingginya tingkat skeptisisme terhadap perawatan medis (dimensi afektif ), dan tingginya tingkat ketergantungan seseorang akibat penyakit (dimensi perilaku).

Suchman (1965) mengemukakan hipotesis bahwa, perilaku kesehatan yang terjadi pada setiap tahap penyakit seperti dikemukakan di atas mencerminkan orientasi kesehatan serta afiliasi masing-masing kelompok sosial. Variasi perilaku ini mempengaruhi kemajuan setiap tahap penyakit tersebut. Misalnya, seseorang yang berorientasi kepada kesehatan polpuler dan cenderung pada afiliasi kelompok parokial akan berperilaku : kurang cepat tanggap dan kurang serius terhadap bahaya yang mungkin terjadi selama masa permulaan gejala yang dirasakan; meminta persetujuan orang lain secara berulang-ulang untuk menyakinkan bahwa ia bolehmeninggalkan tanggung jawab tertentu; berusaha melakukan pengobatan sendiri dengan obat paten atau ramuan-ramuan dan ragubertindak pada saat ia mengetahaui dirinya sakit; lalai dalam mencari pertolongan medis, bertukar-tukar dokter serta sanksi terhadap diagnosis pelayanan kesehatan, selama masa kontak dengan pelayanan medis; sulit mengatasi berbagai masalah yang timbul pada saat sakit dan tidak sanggup menjalankan aturan perawatan medis; dan cepat meninggalkan peran sakit atau bila ia menderita penyakit kronis ia menolak “sakit”berkepanjangan atau mengabaikan rehabilitasi kesehatannya.

2.6 Aspek Sosial Budaya Masyarakat dalam Pencarian Pengobatan

Walaupun jaminan kesehatan dapat membantu banyak orang yang berpenghasilan rendah dalam memperoleh perawatan yang mereka butuhkan,

(26)

tetapi ada alasan lain disamping biaya perawatan kesehatan, yaitu adanya celah diantara kelas sosial dan budaya dalam penggunaan pelayanan kesehatan. Seseorang yang berasal dari kelas sosial menengah ke bawah merasa diri mereka lebih rentan untuk terkena penyakit dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kelas atas. Sebagai hasilnya mereka yang berpenghasilan rendah lebih tidak mungkin untuk mencari pencegahan penyakit (Sarafino, 2006).

Faktor sosial dalam penggunaan pelayanan kesehatan atau pencarian pengobatan antara lain yaitu :

a. Cenderung lebih tinggi pada kelompok orang muda dan orang tua.

b. Cenderung lebih tinggi pada orang yang berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi.

c. Cenderung lebih tinggi pada kelompok Yahudi dibandingkan dengan penganut agama lain.

d. Persepsi sangat erat hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan (Sarafino, 2006)

Faktor kebudayaan yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan diantaranya adalah :

a. Rendahnya penggunaan pelayanan kesehatan pada suku bangsa terpencil. b. Ikatan keluarga yang kuat lebih banyak menggunakan fasilitas pelayanan

kesehatan.

(27)

d. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. Dengan asumsi jika pengetahuan tentang sakit meningkat maka penggunaan pelayanan kesehatan juga meningkat.

e. Sikap dan kepercayaan masyarakat terhadap provider sebagai pemberi pelayanan kesehatan (Sarafino, 2006).

2.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Pencarian Pengobatan a) Umur

Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor umur, dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia (bayi- lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda. Umur adalah lamanya waktu hidup terhitung sejak lahir sampai dengan sekarang. Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman jiwanya (Hurlock, 2012).Pembagian usia berdasarkan psikologi perkembangan (Hurlock, 2012) bahwa masa dewasa terbagi atas:

a. Masa Dewasa Dini, berlangsung usia 18 s/d 40 tahun

b. Masa Dewasa Madya, berlangsung antara usia 41 s/d 60 tahun c. Masa Usia Lanjut, berlangsung antara usia > 60 tahun

Menurut Erfandi (2009) bahwa usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakinberkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya

(28)

semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.

b) Pekerjaaan

Pekerjaan adalah suatu kegiatan/aktivitas yang dilakukan seseorang untuk memperoleh imbalan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Anderson dalam Notoatmodjo (2010), menyatakan bahwa struktur sosial yang salah satu diantaranya adalah pekerjaan menentukan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.

c) Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan (Erfandi, 2009).

Menurut Feldstein yang dikutip oleh Zulkiflan (2004), bahwa tingkat pendidikan dipercaya mempengaruhi permintaan akan pelayanan kesehatan. Pendidikan yang tinggi akan memungkinkan seseorang untuk mengetahui atau mengenal gejala-gejala awal. Kunjungan ke dokter yang rendah adalah sebagai akibat rendahnya pendidikan dan sikap masa bodoh terhadap pelayanan kesehatan.

(29)

d) Penghasilan

Penghasilan adalah akumulasi uang yang diterima setiap bulannya yang diperoleh seseorang yang digunakan untuk kehidupan sehari-harinya.

e) Petugas Kesehatan

Peran petugas kesehatan sangat penting terhadap keberlanjutan dan keberhasilan proses pengobatan yang dijalani pasien. Dukungan petugas kesehatan adalah partisipasi dan pertolongan dari petugas kesehatan sebagai pemberi informasi, saran, ajakan, motivasi, dan pengawasan dalam berobat. Semakin tinggi dukungan petugas kesehatan terhadap proses pengobatan yang dijalani, maka proses pengobatan akan semakin berjalan dengan baik.

Begitu juga sebaliknya apabila sikap petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya) berlaku tidak ramah atau tidak simpatik kepada pasien, dan tidak responsif saat menerima pasien serta dalam memberika tindakan medis dan keperawatan. Hal inilah yang menyebabkan menjadi enggan berobat ke sarana kesehatan, karena mereka tahu informasi tersebut dari anggota keluarga, teman, ataupun tetanggannya.

f) Dukungan Keluarga

Ada atau tidaknya informasi dan dukungan orang lain di sekitar lingkungan sosial dari seseorang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari terjadinya proses perubahan perilaku. Menurut Taylor dalam Sulistyorini (2007), dukungan tersebut dapat berupa bantuan yang dapat diberikan dalam bentuk uang, barang, jasa, informasi dan nasehat yang mana membuat si penerima dukungan akan merasa disayang, dihargai, dan tentram.

(30)

Struktur keluarga meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan saling berbagi, kemampuan sistem pendukung di antara anggota keluarga, kemampuan perawatan diri dan kemampuan menyelesaikan masalah.Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Dampak positif dari dukungan keluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan.

g) Media cetak/ elektronik

Kemunculan media memiliki dua pengaruh, baik positif maupun negatif, media kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronika sehingga sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya yang akhirnya dapat berubah perilaku kearah psotif terhadap kesehatan (Notoatmodjo, 2010) h) Jarak fasilitas kesehatan

Jauhnya jarak sarana kesehatan berpengaruh dalam mencari bantuan kesehatan. Semakin jauh jarak pusat kesehatan dari rumah maka mereka tidak pergi ke tempat pelayanan kesehatan tersebut, masyarakat lebih memilih mengobati sendiri ataupun pergi ke dukun atau orang pintar lainnya.

i) Dukungan Teman

Seperti halnya dukungan keluarga, dukungan teman sangat berperan untuk mempengaruhi perilaku seseorang untuk proses pengobatan. Dukungan teman adalah adanya partisipasi dan perhatian yang diberikan oleh orang yang dekat

(31)

dengan responden sebagai pemberi informasi, saran, ajakan, motivasi, pengawasan, maupun dana untuk berobat. Semakin tinggi dukungan teman terhadap proses pengobatan yang dijalani, maka proses pengobatan akan berjalan dengan baik. Begitu juga sebaliknya bila dukungan teman semakin rendah, maka ada kecendrungan proses pengobatan dapat terkendala atau tidak berjalan dengan baik.

2.8 Kerangka Pikir Penelitian

Respon Individu terhadap Penyakit

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

Pola Pencarian Pengobatan Masyarakat Desa Baru Kecamatan Pancur Batu Tahun 2016 Faktor Yang Mempengaruhi Pola Pencarian Pengobatan Masyarakat 1.Dukungan Budaya 2.Dukungan Keluarga dan

Masyarakat 3.Pengalaman Pengobatan Karakteristik Responden 1. Umur 2. Jenis Kelamin 3. Suku Bangsa 4. Tingkat Pendidikan 5. Jenis Pekerjaan 6. Tingkat Penghasilan 7. Jumlah Tanggungan dalam Keluarga 8. Agama

(32)

Berdasarkanskema kerangka pikir diatas diketahui bahwa karakteristik individu yang memengaruhi respon individu terhadap penyakit ialah dilihat dari aspek umur, jenis kelamin, suku bangsa, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat penghasilan, jumlah tanggungan dalam keluarga dan agama. Sedangkan faktor-faktor lain yang juga memiliki pengaruh dengan respon individu terhadap penyakit ialah dukungan budaya, dukungan keluarga dan masyarakat, dan pengalaman pengobatan, yang mana karakteristik responden dan faktor lain yang memengaruhi respon individu terhadap penyakit tersebut juga memengaruhi pola pencarian pengobatan masyarakat, termasuk pola pencarian pengobatan masyarakat dari Desa Baru Kecamatan Pancur Batu tahun 2016.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :