• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN TATA LAKSANA TERAPI PASIEN OSTEOMIELITIS DI RSUP SANGLAH APRIL OKTOBER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN TATA LAKSANA TERAPI PASIEN OSTEOMIELITIS DI RSUP SANGLAH APRIL OKTOBER"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

i ABSTRAK

GAMBARAN TATA LAKSANA TERAPI PASIEN OSTEOMIELITIS DI RSUP SANGLAH APRIL 2015 - OKTOBER 2016

Latar belakang: Osteomielitis merupakan peradangan pada tulang yang dapat disebabkan oleh adanya keterlibatan infeksi dari organisme – organisme tertentu. Umumnya organisme yang menginfeksi adalah bakteri pyogenik dan mikobakteri. Penatalaksanaan osteomielitis harus dilakukan dengan cepat dan tepat,mengingat bahwa ostoemielitis merupakan kasus kegawatdaruratan dalam orthopedi dimana penatalaksaan dipengaruhi oleh gambaran histologi dan durasi osteomielitis (akut dan kronis).

Tujuan: Mengetahui gambaran tata laksana terapi operatif dan non operatif pasien osteomielitis di RSUP Sanglah April 2015 – Oktober 2016.

Metode: Desain penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder. Populasi sampel penelitian ini adalah semua pasien osteomielitis berdasarkan data rekam medis di ruang rawat inap ortopedi RSUP Sanglah, Denpasar pada April 2015 – Oktober 2016 dengan metode random sampling yang menghasilkan 15 data sampel. Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medis.

Hasil: Hasil analisis data terhadap 15 pasien osteomielitis berdasarkan data rekam medis di RSUP Sanglah periode tahun April 2015 - Oktober 2016 dan didapatkan bahwa sebagian besar kasus ditemukan pada laki-laki (66.7%), dan lebih sedikit pada perempuan (33.3%). Mayoritas umur pasien osteomielitis pada penelitian ini yakni umur <18 tahun dan 40-49 tahun (26.7%). Klasifikasi diagnosis terbanyak adalah osteomielitis kronis (53.3%) dengan pola kuman terbanyak Staphylococcus aureus (50%) dan 4 pasien (26.7%) memiliki riwayat post operatif dengan lokasi tersering pada cruris(26.7%) dimana tata laksana yang sering dilakukan yakni kombinasi terapi antara antibiotik, antipiretik serta tindakan operatif.(66.7%).

Saran: Masyarakat umum diberikan pemahaman baik tentang pengertian osteomielitis, faktor resiko serta gejala umum yang dapat terjadi. Selain itu perlu diedukasi pula mengenai bahaya dari penyakit osteomielitis ini termasuk komplikasinya. Selain itu diperlukan pembuatan arsip yang lengkap secara digital guna mempermudah pencarian data rekam medis dan menghindari terjadinya kehilangan data.

Kata Kunci: Osteomielitis, Tata Laksana, Operatif dan Non Operatif.

(2)

ii ABSTRACT

PATTERN MANAGEMENT THERAPY OF OSTEOMYELITIS PATIENT AT SANGLAH GENERAL HOSPITAL DURING APRIL 2015 -

OCTOBER 2016

Background: Osteomyelitis is an inflammatory disease at bone caused by the involvement of organism infections. In general, the organism that caused this condition is pyogenic bacteria and microbacteria. Management of osteomyelitis must quick and appropriate, because osteomyelitis is one of the emergency case at orthopedic department. Which the management depends on histology findings and onset of the osteomyelitis (acute or chronic).

Objective: To determine the pattern management therapy operative and non operative of osteomyelitis patient at Sanglah General Hospital during April 2015 - Oktober 2016.

Methods: By descriptive retrospective study using secondary data. Sample population is all of osteomielitis patient on medical records at orthopedic department of Sanglah General Hospital during April 2015 - Oktober 2016 with random sampling methods that produce 15 samples. The device that be used in this research is a medical records.

Results: Result of analysis osteomyelitis 15 patient based on medical records at General Hospital Sanglah during April 2015 - Oktober 2016 showed that the major case found in mens (66.7%) and its more rare in woman (33.3%). The majority age is <18 years and 40-49 years (26.7%). The most diagnosis classification is chronic osteomyelitis (53.3%) with the most bacterial pattern is Staphylococcus aureus (50%) and four patient (26.7%) had post operative history with the most location is cruris (26.7%) which the major management therapy that patient do is the combination therapy between antibiotic, antipyretic, and then operative procedures.

Advice: The general society must got a good comprehension about the definition of osteomyelitis, risk factor, and then clinical manifestation that might happens. Other that, society must educated about the serious condition from this osteomyelitis included its complications. And then, its must have a good records on digital system to made searching the medical records become more easier and to avoid lost of data.

(3)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM... i

LEMBAR PENGESAHAN. ... ii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

RINGKASAN ... viii

SUMMARY ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

2.1 Definisi Osteomielitis ... 6 2.2 Epidemiologi Osteomielitis ... 7 2.3 Klasifikasi Osteomielitis ... 8 2.4 Etiologi Osteomielitis ... 12 2.5 Patogenesis Osteomielitis ... 13 2.6 Diagnosis Osteomielitis ... 15

2.6.1 Manifestasi Klinis Osteomielitis ... 16

2.6.2 Tes Darah Osteomielitis ... 16

2.6.3 Radiologi Osteomielitis ... 16

2.6.3.1 Radiografi Polos ... 16

2.6.3.2 Ultrasound ... 17

2.6.3.3 Isotope Scanning ... 18

2.6.3.4 Computed Tomography ... 18

2.6.3.5 Magnetic Resonance Imaging ... 19

2.6.3.6 Biopsi Tulang ... 19

2.3 Tata Laksana Terapi ... 20

2.3.1 Osteomielitis Akut... 21

2.3.1.1 Tindakan Awal ... 21

2.3.1.2 Tata Laksana Terapi Non Operatif (Antibiotik) .... 21

2.3.1.3 Tata Laksana Terapi Operatif (Pembedahan)... 23

2.3.1.4 Prognosis ... 23

2.3.2 Osteomielitis Kronik ... 24

2.3.2.1 Tindakan Awal ... 24

2.3.2.2 Tata Laksana Terapi Operatif (Pembedahan)... 24

(4)

iv

2.3.2.4 Tata Laksana Terapi Operaitf (Manajemen Jaringan

Lunak) ... 27

BAB III KERANGKA BERFIKIR DAN KERANGKA KONSEP ... 27

3.1 Kerangka Berfikir ... 27

3.2 Kerangka Konsep ... 28

BAB IV METODE PENELITIAN ... 29

4.1 Rancangan Penelitian ... 29

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 29

4.2.1 Tempat Penelitian ... 29

4.2.2 Waktu Penelitian ... 29

4.3 Variabel Penelitian ... 30

4.3.1 Identifikasi Variabel ... 30

4.3.2 Definisi Operasional Variabel ... 30

4.3.3 Bahan dan Instrumen Peneltian ... 32

4.4 Subjek dan Sampel Penelitian ... 33

4.4.1 Variabilitas Populasi ... 33

4.4.1.1 Populasi Target ... 33

4.4.1.2 Populasi Terjangkau ... 33

4.4.1.3 Sampel Penelitian ... 33

4.4.2 Teknik Penentuan Sampel ... 33

4.5 Analisis Data ... 34

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 35

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 41

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan ... 46

6.2 Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Klasifikasi Anatomi Osteomielitis oleh Cierny & Mader ... 9

(6)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Klasifikasi Osteomielitis menurut Waldvogel ... 9

Tabel 2.2 Terapi Antimikroba Untuk Infeksi Tulang ... 20

Tabel 5.1 Karakteristik Umum ... 36

Tabel 5.2 Klasifikasi Diagnosis ... 37

Tabel 5.3 Etiologi Osteomielitis ... 38

(7)

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penelitian

(8)

8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osteomielitis adalah peradangan pada tulang yang dapat disebabkan oleh adanya keterlibatan infeksi dari organisme – organisme tertentu (Kishner, 2015). Umumnya organisme yang menginfeksi adalah bakteri pyogenik dan mikobakteri (Parsonnet, 2010., Yeo, 2014). Sekitar 1 dari 675 pasien rawat inap di Amerika Serikat setiap tahunnya (50.000 kasus per tahun) adalah karena Osteomielitis.

Data Osteomielitis pasca–trauma terjadi sebanyak 47% osteomielitis dalam beberapa kasus. Osteomielitis hematogenous utamanya merupakan penyakit pada anak–anak, dengan 85% kasus terjadi pada pasien yang lebih muda dari 17 tahun, dan hal ini menyumbang sekitar 20% dari kasus osteomielitis secara keseluruhan.(BMJ, 2015). Sekitar 20% kasus pada pasien osteomielitis dewasa adalah hematogenous, yang lebih sering terjadi pada laki–laki untuk alasan yang tidak diketahui. Selama 41 tahun di Amerika dari 1969 sampai 2009 ditemukan 760 kasus baru osteomielitis dengan 59% merupakan kasus osteomielitis yang di diagnosis dengan minimal dua kali kultur tulang disertai adanya pertumbuhan mikrobial yang sama atau satu kultur tulang positif yang disertai kombinasi penemuan purulen dengan operasi, inflamasi akut pada pemeriksaan histologi dengan infeksi yang konsisten, atau adanya jalur sinus yang menghubungkan tulang (Kremers, 2015). Umumnya, sekitar 20% dari Staphylococcus aureus

(9)

9

yang terisolasi di Eropa merupakan methicilli-resistant, sedangkan di Amerika Serikat, prevalensi awal dari 33% berkembang menjadi 55% (BMJ, 2015).

Berbagai jenis mikroorganisme patogen dapat menginfeksi tulang. Pada orang dewasa, Staphylococcus aureus adalah organisme yang paling umum ditemukan, di Amerika 44% dari 760 kasus osteomielitis disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Namun, gram–positive cocci lainnya (termasuk coagulase–negative staphylococci dan Streptococcus spp.), gram–negative bacilli, dan organisme anaerobik (tercantum dalam urutan kejadian) juga sering ditemukan, dan beberapa organisme biasanya ditemukan pada osteomielitis contiguous focus. Pada bayi, mikroorganisme patogen yang paling sering ditemukan dari darah atau tulang yaitu Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, dan Escherichia coli. Namun, pada anak–anak lebih dari usia 1 tahun, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, dan Haemophilus influenzae yang paling sering ditemukan (Calhoun, 2009., Kremers, 2015). Setiap etiologi pola kuman yang mendasari osteomielitis ini akan memiliki penatalaksanaan yang berbeda pula.

Penatalaksanaan osteomielitis harus dilakukan dengan cepat dan tepat, dimana umumnya penatalaksaan dipengaruhi oleh gambaran histologi dan durasi osteomielitis (akut dan kronis). Secara umum, tata laksana terapi osteomielitis ini mecakup tindakan awal, tindakan non operatif (antibiotik), tindakan operatif (pembedahan), serta prognosis. Yang mana pada tata laksana terapi osteomielitis akut sangat ditekankan untuk sesegera mungkin memulai antibiotik dengan tujuan mengurangi resiko bacteremia, kematian, serta kerusakan tulang yang progresif. Sebaliknya, waktu bukan hal penting dalam tata laksana terapi osteomielitis kronis, dimana proses penetapan tujuan yang berpusat pada pasien sangat diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan pengobatan yang realitis dapat ditetapkan. Pada kasus kronis, selama kondisi medis pasien masih stabil, imaging dan diagnosis lainnya harus selalu dilakukan sebelum pemberian antibiotik dimulai, dan

(10)

10

perencanaan untuk pembedahan sangat diperlukan pada kebanyakan kasus osteomielitis kronis (Berendt, 2010).

Penatalaksanaan penting dilakukan dengan tepat dikarenakan berhubungan dengan prognosis osteomielitis ini. Dimana osteomielitis akut dapat dihentikan sebelum terjadi perkembangan tulang mati jika segera dilakukan pengobatan secara agresif dengan antibiotik yang sesuai serta pembedahan jika diperlukan. Osteomielitis kronis juga dapat tercetus dari adanya koeksistensi infeksi, jaringan nonviable, serta adanya respon host yang tidak efektif (Calhoun, 2009). Menurut sebuah penelitian, dimana tingkat kegagalan dalam pengobatan osteomielitis serta angka kekambuhan masih cukup tinggi pada 20% dari semua kasus osteomielitis (Roberts, 2014). Angka yang tergolong masih cukup tinggi ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada prognosis pasien, dimana jika tata laksana terapi tidak tepat akan mengakibatkan terjadinya kematian tulang yang akan memicu infeksi kronis (Berendt, 2010).

Penelitian terkait tata laksana terapi osteomielitis belum pernah dilakukan di RSUP Sanglah padahal sangat penting dilakukan demi prognosis osteomielitis dan evaluasi tata laksana terapi osteomielitis yang lebih baik kedepannya. Untuk dapat melakukan tatalaksana yang tepat dan cepat maka diperlukan pemahaman yang cukup mengenai tatalaksana osteomielitis itu sendiri. Sehingga, bedasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji mengenai “Gambaran Tata Laksana Terapi Pasien Osteomielitis di RSUP Sanglah APRIL 2015 - OKTOBER 2016”.

1.2 Rumusan Masalah

(11)

11

1. Bagaimana gambaran tata laksana terapi operatif pasien osteomielitis di RSUP Sanglah April 2015 - Oktober 2016?

2. Bagaimana gambaran tata laksana terapi non operatif pasien osteomielitis di RSUP Sanglah April 2015 - Oktober 2016?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui gambaran tata laksana terapi operatif pasien osteomielitis di RSUP Sanglah April 2015 - Oktober 2016.

2. Untuk mengetahui gambaran tata laksana terapi non operatif pasien osteomielitis di RSUP Sanglah April 2015 - Oktober 2016.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:

1. Menambah wawasan dan pengalaman penulis mengenai gambaran tata laksana terapi operatif dan non operatif pasien osteomielitis.

2. Dapat memberikan informasi secara ilmiah mengenai tata laksana terapi operatif dan non operatif pasien osteomielitis serta diharapkan mampu menjadi sumber refrensi untuk penelitian selanjutnya dalam bidang ortopedi.

Referensi

Dokumen terkait