146
PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA DALAM
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN
Development student creativity in learning to increase learn quality Hasnawati
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah STAIN Bukittinggi, Jl. Gurun Aur Kubang Putih Kab. Agam Indonesia
ABSTRAK
Proses kreativitas sejajar dengan belajar. Siswa yang menggunakan konten dalam cara kreatif, belajar konten dengan baik. Siswa juga belajar strategi untuk mengidentifikasi masalah, mengambil keputusan, dan menentukan solusi di dalam sekolah, dan di luar sekolah. Kelas yang diorganisasikan untuk mengembangkan kreativitas menjadi tempat belajar dan menakjubkan, yaitu, “senang ingin tahu.”
Kreativitas sisiva sangar diperlurkan pada pembelajaran tetapi kenyataannya di kelas, kreativitas tidak tampak pada pembelajaran karena ada sebahagian guru yang kurang mau melakukan inovasi dalam pembelajaran dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran tidak dilakukan lagi oleh guru sebagai tenaga pendidik tetapi dilakukan oleh birokrat, contohnya UN, kurikulum pendidikan kita tidak diperkaya dengan nilai-nilai budaya dan masyarakat juga cendrung untuk menentukan lebel sekolah berdasarkan peringkat hasil UN tertinggi, padahal soal Un tidak mundorong siswa untuk berfikir karena pertanyaannya masih banyak bersifat konvergen.
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk: (I) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka tentang cara mengembangkan kreativitas dalam diri siswa, (2) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka bahwa kreativitas siswa dapat berkembang melalui mata pelajaran sain, dan (3) menemutunjukkan cara merancang pembelajaran yang efektif yang menekankan pada bentuk pertanyaan divergen.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian quasi eksperimen. Perlakuan diberikan selama satu semester. Desain penelitian yang digunakan adalah “Pre Test – Post Test”. Instrumen tes untuk mengukur berfikir divergen dan kreativitas diukur dengan menggunakan angket.
Setelah dilakukan penghitungan dan analisis data maka terbukti bahwa kreativitas dapat berkembang melalui berfikir divergen.
Kata kunci: Kreatif, kreativitas, divergen, dan organisasi kelas.
1. PENDAHULUAN
Di dunia yang begitu cepat berubah, kreativitas menjadi penentu keunggulan. Daya kompetitif suatu bangsa sangat ditentukan pula oleh kreativitas sumber daya manusianya. Kreativitas juga menjadi prasyarat bagi kesuksesan hidup individu.
Menurut Alexander (2007), kesuksesan hidup individu sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk secara kreatif menyelesaikan masalah, baik dalam skala besar maupun kecil. Individu yang kreatif dapat memandang suatu masalah dari
147 berbagai persepktif berbeda. Cara pandang demikian memungkinkan individu tersebut memperoleh berbagai alternatif solusi yang sesuai untuk menyelesaikan masalah tersebut. Betapa pentingnya kreativitas juga dikemukakan oleh DeBono (McGregor, 2007). Menurutnya, individu memerlukan kreativitas untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, mendesain sesuatu, menyelesaikan masalah, mengkreasi perubahan, dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu sistem.
Kreativitas merupakan aspek yang penting dalam pembelajaran akan tetapi sekolah belum mampu mengembangkannya secara optimal, karena adanya perasaan diantara guru yang enggan melakukan inovasi pembelajaran dan juga pola pemikiran masyarakat yang lebih dominan mementingkan nilai UN siswa ketimbang ilmu yang diperoleh oleh siswa. Masyarakat akan memberi lebel pada sekolah yang memiliki nilai UN terendah dengan lebel gagal, dan jelek, sehingga sekolah lebih banyak memilih pada posisi aman jika melakukan pendekatan belajar yang mengutamakan drill dan role learning.
Hasil pembelajaran yang seperti ini adalah lahirnya siswa yang hanya memiliki convergent thinking ( tertutup), biasanya respon siswa terhadap pertanyaan ditekankan untuk menemukan satu jawaban yang benar atau yang paling tepat terhadap suatu persoalan. Pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban singkat yang bersifat ingatan atau hafalan. Cara memperoleh jawaban tersebut sering kali telah ditentukan guru dan tidak boleh menyimpang dari cara itu. Kenyataan ini tentu saja menjadi pola pembelajaran sehari-hari dengan cara berpikir yang tidak merangsang pemikiran kreatif, bahkan bisa sebaliknya anak menjadi kaku dan sempit dalam cara berpikir dan memecahkan masalah.
Sampai saat ini perhatian terhadap pengembangan kreativitas masih relatif rendah. Setidaknya hal ini diindikasikan oleh sedikitnya artikel atau penelitian terkait dengan pengembangan kemampuan tersebut, yakni hanya terdapat 44 dari 2.426 artikel atau kurang dari 2%, yang terdapat dalam data base Educational Resources Information Center (ERIC) pada bulan September 2002 (Park, 2004). Dengan demikian, saat ini, masih terbuka peluang untuk mengeksplorasi kemampuan berpikir kreatif serta upaya pengembangannya. Dalam tulisan ini akan dilakukan tinjauan terhadap kreativitas dalam pembelajaran matematika dan pengembangannya.
Untuk menjamin kreativitas siswa dapat berkembang di sekolah, maka system pembelajaran harus dapat dikondisikan kearah munculnya berbagai pemikiran divergen (terbuka) dari para siswa. Guilford (Ali & Asrori, 2005) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif. Salah satunya adalah kemampuan berpikir divergen. Kemampuan berpikir divergen merupakan kemampuan individu untuk mencari berbagai alternatif jawaban terhadap suatu persoalan. Guilford menekankan bahwa orang-orang kreatif lebih banyak memiliki cara berpikir divergen daripada konvergen (cara berpikir individu yang menganggap hanya ada satu alternatif jawaban dari suatu permasalahan).
.Ada beberapa pertanyaan dalam permasalahan yang perlu diimuskan, yaitu: (1) Bagaimana cara untuk mengembangkan kreativitas siswa? (2) Apakah kreativitas siswa dapat berkembang melalui mata pelajaran sain? dan (3) Bagaimana cara merancang pembelajaran yang efektif yang menekankan pada bentuk pertanyaan divergen?
148
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk: (I) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka tentang cara mengembangkan kreativitas dalam diri siswa, (2) menggali informasi berdasarkan kajian pustaka bahwa kreativitas siswa dapat berkembang melalui mata pelajaran sain, dan (3) menemutunjukkan cara merancang pembelajaran yang efektif yang menekankan pada bentuk pertanyaan divergen.
1.1 Teori Kreativitas
Satu di antara rumusan tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2003) adalah pengembangan kreativitas peserta didik. Istilah kreativitas oleh Rhodes (dalam Munandar, 1993) disebut sebagai konsep 4P atau The Four Pk of Creativity, yaitu produk, proses, dorongan, dan pribadi. Kreativitas sebagai suatu produk adalah kemauan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sebagai suatu proses kegiatan berkreasi yang tidak pemah bosan membentuk kombinasi baru. Anak kreatif menunjukkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas (keaslian) dalam ungkapan dan gagasannya, dalam pemikiran, maupun perilakunya. Anak yang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian antara lain: (a) mempunyai rasa ingin tahu, (b) mempunyai daya imajinasi yang kuat, (c) mempunyai minat yang has, tekun, dan ulet dalam mengerjakan tugas. Ditinjau dari segi dorongan, dapat berupa dorongan dari dalam diri sendiri ataupun dorongan dari luar. Anak mempunyai keinginan dan kesempatan untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan.
Sumarjan (1983) menyatakan bahwa kreativitas merupakan sifat pribadi, bukanmerupakan sifatsosial yang dihayati masyarakat. Selanjutnya Semiawan et al. (1987) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antara hal-ha1 yang sudab ada sebelumnya. Gibbs dalam studinya pada tahun 1972 (dtilam Amin, 1983) mengemukakan bahwa kreativitas mempunyai relevansi untuk proses pendidikan yang dapat dipupuk atau dikembangkan. Untuk mengembangkan kreativitas siswa, guru perlu: (1) mengembangkan kepercayaan yang tinggi pada siswa untuk mengurangi timbulnya rasa takut, (2) memberi semangat pada siswa dalam suatu komunikasi yang bebas dan terarah, (3) memperkenankan siswa untuk menentukan sendiri sasaran dan evaluasi terhadap dirinyasendiri, dan (4) pengawasan yang tidak terlalu ketat (kaku) dan otoriter.
1.2. Pertanyaan Divergen
Sekarang ini bidang sains, teknologi, dan lingkungan sering membutuhkan lebib dari satu penyelesaian. Karena itu berpikir divergen merupakan kecakapan yang sangat saat ini. Bagaimana guru mengajukan pertanyaan agar dapat merangsang berpikir divergen? Carin dan Sund (1989) menyatakan bahwapertanyaan divergen atau terbuka akan memberikan respon yang has dan dalam serta melibatkan siswa menjadi kreatifdan kritis. Penanyaan divergen merangsang siswa menjadi pengamat yang baik dan organisator yang baik, pada saat sekarang dan masa yang akan datang. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun siswa dalam menemukan, melihat hubungan, membuat hipotesis, dan menarik kesimpulan dari data. Suatu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan
149 kemampuan berpikir kritis dan kreatif a$ala"h pictorial riddle approach (Carin dan Sund, 1989). Suatu riddle biasanya bempa gambar, kemudian guru mengajukan pertanyaan berkaitan dengan riddle tersebut.
Pendekatan riddle menunjukkan bahwa pertanyaan konvergen mengevaluasi apa yang diamati siswa tentang suatu kejadian dan hanya mengevaluasi ingatan atau hafalan.Sebaliknya dengan mengajukan pertanyaan divergen siswa berada pada pemikiran tingkat tinggi dengan pemahaman yang dalam. Dalam pembelajaran harus ada keseimbangan antara konvergen dan divergen. Tetapi suatu studi menunjukkan bahwa 80% pertanyaan yang diajukan gum hanya jawaban singkat yang sederhana dari hafalad ingatan (Carin dan Sund; 1989).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan Kuasi Eksperimental. Pemilihan subyek penelitian secara acak sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol merupakan ciri disain eksperimen yang terpenting. Namun, kadang-kadang dalam penelitian pendidikan pemilihan acak semacam itu tidak mungkin dilakukan. Dalam kondisi semacam itu masih dimungkinkan untuk melakukan eksperimen yang memiliki validitas internal dan eksternal yang memadai. Disain eksperimen semacam itu oleh Campbell dan Stanley dalam Wayan Ardana (1987) dinamakan “eksperimen quasi”,
Penelitian ini menggunakan eksperimen quasi dengan Disain kelompok kontrol yang non-ekuivalen (Nonequivalent Control Group Design)
Tabel 1. Desain Penelitian
SEMESTER Pre Test Perlakuan Post Test
Eksperimen O1 X O2
Kontrol O3 - O4
Keterangan :
O1 : Test awal (Pre test) Semester Eksperimen O2 : Test akhir (Post test) Semester Eksperimen O3 : Test awal (Pre test) Semester Kontrol O4 : Test akhir (Post test) Semester Kontrol X : Metode Inkuiri terbimbing
Dalam penelitian ini ada suatu perlakuan (treatment) yaitu dengan menerapkan berfikir divergen yang diterapkan pada kelompok eksperimen, dalam periode waktu tertentu, kemudian dilihat pengembangannya. Penentuan kelompok tersebut dipilih secara acak (random) dan yang menjadi anggota kelompok mempunyai karakteristik yang homogen dalam usia dan jenis kelamin. Dalam mengimplementasikan berfikir divergen ini diintegrasikan dalam mata pelajaran sain, dan diberikan selama satu semester. Oleh karena itu metode yang paling cocok dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (quasi experimental) (Nana Syaodih, 2007). Metode ini digunakan atas dasar pertimbangan bahwa terdapat variabel bebas sebagai perlakuan yang akan diuji pengaruhnya terhadap varibel terikat. Penelitian eksperimen ini dilakukan selama satu semester (10 kali pertemuan). Pertemuan sebanyak 10 kali dirasakan
150
masih sangat singkat, mengingat tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya peningkatan berfikir divergen dan kreativitas.
Oleh karena itu agar penerapan ini dapat mencapai sasaran, diupayakan agar dalam proses pembelajarannya berlangsung secara optimal. Di samping itu peneliti bertindak sebagai pemberi model dengan mengajar langsung pada kelompok eksperimen, maupun pada kelompok kontrol. Dalam setiap pertemuan, peneliti dibantu oleh beberapa guru bidang studi sain.
Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V yang terdri dari dua lokal yaitiu V a dan V b yang berjumlah 60 orang masing-masing kelas berjumlah 30 orang mahasiswa.
Untuk mengukur berfikir divergen, maka instrumen yang digunakan berupa tes, Sedangkan untuk mengukur kreativitas yang berupa angket.
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini disajikan hasil analisis data guna menjawab permasalahan penelitian dan pengujian hipotesis.
3.1.Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Lilliefors dengan taraf nyata ( α) = 0,05. Kriteria pengujiannya adalah bahwa tolak hipotesis nol jika L observasi (Lo) yang diperoleh dari data pengamatan melebihi L tabel (Lt) dan
sebaliknya terima hipotesis nol apabila Lo yang diperoleh lebih kecil dari Lt. Secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut; Ho ditolak jika L0 (L observasi) > Lt (L table), sebaliknya H0 diterima jika L0 (L observasi) < Lt (L tabel)
Tabel 2. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data Berfikir kritis
Kelompok N Lo Lt Kesimpulan Berfikir divergen Awal kls eksperimen 30 0,100 0,886 Normal Berfikir divergen awal kelas kontrol
30 0,81 0,886 Normal Berfikir divergen akhir kelas eksperimen 30 0,105 0,886 Normal Berfikir divergen akhir kelas kontrol
30 0,122 0,886 Normal
Hasil perhitungan uji normalitas kedelapan kelompok rancangan penelitian di atas ternyata bahwa harga Lobservasi (Lo) yang diperoleh lebih kecil dari harga Ltabel
pada taraf nyata 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua kelompok data pada penelitian ini diambil dari populasi yang berdistribusi normal sehingga dapat digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian
151
Persyaratan analisis lainnya yang diperlukan dalam penelitian ini adalah
pengujian homogenitas varians. Pengujian homogenitas varians yang dilakukan dalam penelitian ini adalah; pengujian homogenitas data Berfikir divergen pada mata pelajaran sain dari dua kelompok yaitu antara kelompok proses pembelajaran yang menggunakan berfikir divergen dan tanpa menggunakan berfikir divergen.
3.3.Hasil Uji homogenitas varians dua kelompok (Perlakuan dan
kontrol)
Pengujian homogenitas varians dua kelompok dilakukan dengan menghitung F-ratio antara varians terbesar dengan varians terkecil dari kelompok yang diuji dengan cara membagi varians terbesar dengan varians terkecil. Hasil perhitungannya dibandingkan dengan harga F-tabel pada taraf signifikansi α =0,05.
Hasil perhitungan statistik diperoleh varians (S2) terbesar adalah 8,87 dan varians terkecil 8,69 adalah Indeks homogenitas varians antara dua kelompok yang diuji (Fo) adalah 1,02, sedangkan Ft (tabel) .adalah 4,15. Dengan demikian Fo < Ft,
yang berarti bahwa Ho diterima. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa kedua
kelompok yang diuji yaitu kelompok A1 dan A2 adalah berasal dari variansi populasi
yang homogen. Sebagai rangkuman hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Kelompok Fo Ft Keterangan A1 A2 17,56 1,02 4,15 Homogen
.3.4. Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian
Analisis yang penulis gunakan adalah analisis uji t untuk mencari perbandingan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, analisis yang digunakan adalah Paired- Sample T Test untuk melakukan pengujian terhadap dua sampel yang berhubungan. Salah satu desain bersifat percobaan berupa pre and post desain seperti di atas.
Tabel 4. Hasil Analisis Dengan Paired Sampel T Tes Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1 Berfikir1 34.6333 30 5.28161 .96429 finalberfi kir 40.4000 30 5.03505 .91927 Pair 2 Aktf1 65.8000 30 2.60503 .47561 finalaktif 72.1000 30 2.75869 .50366
Tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan 6 poin di atas rata-rata sesudah 3 kali eksperimen selama 4 bulan melakukan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan divergen dalam pembelajaran sain. Kemudian di antara 30
152
orang mahasiswa, kreaktivitas dalam belajar meningkat 7 poin sewaktu penerapan metode inkuiri terbimbing dalam pelaksanaan pembelajaran. Standar deviasi untuk pengukuran pre dan post pelaksanaan kreativitas di mana banyak variabel lebih respek ke aktivitas belajar dari pada penerapan berfikir divergen yang berkelanjutan, dengan kata lain bahwa perlakuan menggunakan berfikir divergen dapat teraplikasi dengan berkelanjutan dan konsisten akan dapat berkembang berfikir divergen siswa, sehingga tidak diperlakukan lagi dalam pembelajaran siswa akan dapat berkembang kreativitas siswa.
Tabel 5. Data Hasil Validasi Model Pembelajaran Terhadap Berfikir kritis Mahasiswa Kegiatan N Rata-rata Standar Deviasi Nilai t hitung Df T tabel Kel. Eksperimen 1 Kel kontrol 1 30 30 70,80 58,20 10,57 5,31 53,45 28 2,763 Kel. Eksperimen 2 Kel. Kontrol 2 30 30` 71,76 59,92 9,18 4,72 57,55 28 2,763 Kel. Eksperimen 3 Kel. Kontol 3 30 30 77,13 64,48 8,43 4,88 68,01 28 2,763
Hasil perhitungan diperoleh nilai rata-rata kelompok eksperimen 1 = 70,80 dan kelompok kontrol 1 = 58,20, sehingga nilai kelompok eksperimen lebih tinggi dari nilai kelompok kontrol. Harga t hitung = 53,45 dan t tabel = 2, 763. Berarti berfikir divergen dapat mengembangkan kreativitas siswa secara signifikan. Validasi ke dua dan ke tiga juga menunjukan demikian, di mana nilai kelompok kelas eksperimen lebih tinggi dari kelompok kelas kontrol yang tidak mendapat perlakuan dan harga t hitung lebih besar dari harga t tabel.
3.4.Pembahasan
Sangat disadari oleh kalangan pendidik utamanya para pengajar mata pelajaran sain bahwa masalah pengembangan berfikir divergen dan kreativitas hendaknya dilakukan sedini mungkin mengingat berfikir divergen dapat mengembangkan kreativitas dan hal ini merupakan fondasi dalam rangka membentuk manusia yang berkualitas di masa yang akan datang. Selain itu Suyanto (1995:2) mengatakan: ” . . . kreativitas bukanlah semata-mata bawaan dari kelahiran. Sebaliknya kreativitas memang bisa dilatihkan pada seseorang.” Sehubungan dengan hal tersebut mata pelajaran sain merupakan salah satu wadah yang tepat dalam meningkatkan berfikir divergen dan mengembangkan kreativitas, dan tujuan yang diharapkan itu akan berhasil jika lingkungan pembelajaran dapat saling mendukung dan terkelola dengan baik.
153 4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1.KESIMPULAN
Berdasarkan kajian dan pembahasan di atas dituliskan beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Kreativitas sangat penting dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan kreativitas dengan cara memberikan bentuk tugas yang divergen yang menantang siswa untuk berpikir divergen atau berpikir kreatif. b. Pendekatan pembelajaran yang tepat untuk mencapai kompetensi sain bukanlah pendekatan mengajar satu arah, tetapi pendekatan dua arah di mana siswa belajar aktif. Seld prose pembelajaran di kelas seyogyanya diarahkan untuk mendorong agar siswa kreatif.
Untuk mencapai ha1 tersebut siswa hams terlibat secara aktif mengembangkan keterampilan proses dalam inquiry melalui kegiatan mencari tahu dan berbuat yang meliputi menge-mukaan gagasan, merancang, membuat perbandigan, meng-ukur, mencari alasan, menun-jukkan persamaan dan perbedaan, mendemonstrasikan, menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel atau grafik, serta membuat kesimpulan terhadap suatu gejala. Pembelajaran sain tidak sekedar memperolehproducrdalam wujud jawaban benar, tetapi kreativitas dapat berkembang ketika siswa mengungkapkan kemampuannya dalam memberikan berbagai jawaban. c. Kreativitas perlu dipupuk untuk memungknkan anak mewujudkan potensinya secara optimal.
Beberapa cara guru untuk memupuk kreativitas siswa yaitu: (1) menerima anak sebagaimana adanya, dengan segala kekuatan dan kelemahannya, (2) tidak terlalu cepat memberikan penilaian terhadap sikap danperilaku anak, apalagi penflaian be~pa kritik atau celaan, (3) memberikan peluang bagi an& untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
4.2.SARAN
Karena berpikir divergen sangat diperlukan untuk mengembangkan kreativitas, disarankan agar guru melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya dalam membuat pertanyaan.
Beberapa saran membuat pertanyaan yang baik antara lain: (1) Menghindari pertanyaan yang dapat dijawab dengan ya atau tidak, (2) Perhatikan kata yang mengawali pertanyaan karena kata itu menentukan bentuk jawabannya, (3) Jika jawaban berupa ya atau tidak hams digunakan, dapat dibuat menjadi divergen dengan menambahkan kata: Mengapa? Bagaimana Anda rahu? Bagaimana Anda menjelaskan ha1 tersebur? Apa alasan Anda memberikan jawaban tersebut? Misalnya: Apakah baking powder menghasilkan gas? Jika jawaban Ya atau Tidak, maka harus d"'jlanjutkan dengan:
Bagaimana Anda merancang suatu percobaan untuk menguji ha1 remebut? (4) Membuat pertanyaan dimana siswa dapat menemukan. Misalnya: Apa yang dilakukan agar gaya magnet menjadi lebih kuaf? Atau Bagaimana cara agar lampu dapat menyala lebih terang dengan menggunakan kawat, saklar, dan batere? (5) Membuat pertanyaan yang mengharuskan siswa untuk menemukan atau membandingkan. Misalnya:
154
Dengan menggunakan berbagai benda dun seember air, benda yang mana yang terapung atau tenggelam dalam air? dan (6) Sedikit mungkin menggunakan pertanyaan kenvergen tetapi lebih sering menggunakan pertanyaan divergen untuk mencapai respon pada tingkat yang lebih tinggi.
Daftar Pustaka
Amin, Muhammad. 1983. Peranan Kreativitas dalam Pendidian. Suara Guru, 32(10): 27-37.
Carin, A.A. dan Sund, B.R. 1989. Teaching Science through Discove?y Colombus Ohio: Merrill Publishing Company.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang RINomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
Good, L.T dan Brophy, E.J. 1990. Educational Psychology: A Realistic Approach. New York, Longman.
Harlen, Wyne. 1986. Primary Science: Taking the Plunge. Great Britain: Heinemann Educational Books Ltd.
Munandar, Utami. 1993. Pengembangan Kreativitas Anak Sekolah: Strategi dan Penerapannya Oleh GUN dan Orangtua. Jurnal Rehabilitasi dun Remediasi (Jw, 6(2): 1- 14.
Munandar, Utami. 1999. Kreativitas dun Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi dan Bakat. Jakarta: Gramedia.
Nitko, J.A. 1996. Educational Assessment ofStudents. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
Pusat Kurikulum. 2002. Kerangka dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Balitbang Depdiknas. ..
Saefullah. 2000. Hubzingan antara Kebiasaan Belajar dun Kreativitas dengan Hasil Belajar Siswa. Tesis Magisty ~indidikan, Universitas Negeri Jakarta Semiawan, C., Munandar, AS. dan ~unandar, S.C.U. 1987. Memupuk bakat dan
Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.
Sumarjan, Selo. 1983. Kreativitas: Suatu Tinjauan dari Sudut Sosiologi. Jakarta: Dian Rakyit. -