Indonesia
Menggugat
Ir. Sukarno
Pendahuluan
Tuantuan Hakim yang terhormat.
Tatkala kami pada tanggal 16 Juni 1930 di dalam surat kabar membaca pidatopembukaan
Volksraad oleh gouverneurgeneraal, yang antara lainlain hal berisi pula permakluman, bahwa kami akan terus dituntut dimuka pengadilan, maka tatkala itu juga kami berkata: “ini menjadi proses yang menggemparkan!”
Memang sedari mula diadakan penggerebekan dan tangkapantangkapan pada hari 29 Desember 1929, maka kekagetan yang meletus di dalam udara pergaulan hidup Indonesia dan negeri Belanda itu tak berhentilah terus mengumandangnya, perhatian dan kegemparan itu teruslah menggetarkan udarapolitik Indonesia dan Negeri Belanda sampai pada hari ini.
Dan perhatian itu bukanlah sekalikali berhubung dengan diri kamiorang persoonlijk, tetapi ialah disebabkan oleh maknanya proses ini, − sesuatu proses terhadap pada suatu pergerakan yang memang sedari lahirnya adalah hidup di dalam pusatnya perhatian, perhatian kawankawannya dan perhatian musuhmusuhnya. Perhatian dan kegemparan itu adalah melebihi perhatian dan kegemparan di zamannya proses “afdeeling B” , melebihi perhatian dan kegemparan di zamannya prosesproses “P.K.I.”, melebihi perhatian dan kegemparan di zamannya proses manapun juga, − tak lain tak bukan, yakni oleh karena proses ini adalah proses terhadap suatu pergerakan, yang menurut katanya Middendorp adalah dengan sebenarbenarnya “dagingnya daging dan darahnya darah” segenap pergerakan nasionalis di Indonesia adanya.
Tak usahlah kami uraikan lagi, bahwa proses ini adalah proses politik; ia, oleh karenanya, di dalam pemeriksaannya tidak boleh dipisahkan daripada soalsoal politik yang menjadi sifat dan azasnya pergerakan kami, dan yang menjadi nyawanya pikiranpikiran dan tindakantindakan kami; ia di dalam pemeriksaannya harus memasukkan soalsoal politik itu di dalam gedung mahkamah ini, agar supaya Tuantuan Hakim bisa mengerti segala azas dan sifatnya pergerakan kami itu, mengerti segala sebabsebab dan maksudmaksudnya tindakantindakan atau perkataanperkataan kami yang menjadi pemeriksaan Tuantuan itu.
Tuantuan Hakim yang terhormat, kami tidak sejak wasangka, kami percaya, bahwa Tuan, − bagaimana juga barangkali Tuan punya keyakinan politik −, kami percaya bahwa Tuan ada berdiri sama tengah. Maka oleh karenanyalah kami tersenyum akan caranya suratsuratkabar, misalnya A.I.D. de Preangerbode atau lainlain suratkabar yang benci kepada kami dan pergerakan kami, menghasut kepada Tuantuan Hakim bahwa di dalam proses ini kami tentu
akan mendapat hukuman, yakni bahwa “putusan bebas tak bisa jadi”. Kami tersenyum pula, oleh karena suratsuratkhabar yang demikian itu adalah menunjukkan moralnya yang sebenarnya.
Kami tidak tahu apaapa tentang Tuantuan punya keyakinan politik. Kamipun tidak perlu mengetahuinya. Tetapi kami percaya bahwa peringatannya Mr. Dr. Schumann adalah tak perlu bagi Tuantuan, yakni peringatan bahwa:
“het is zoo verleidelijk om in den opruier tevens te straffen den tegenstander op politik gebied”. 1
“adalah begitu menarikhati, menjatuhkan hukuman atas si penghasut, karena ia adalah
musuh di atas lapang politik”.1
Kami percaya, kami yakin, bahwa juga peringatannya Prof. Molengraaff ada tak perlu bagi Tuan. Prof. Molengraaff yang mengatakan, bahwa:
“aan de zijde waar onze sympathie is, door ons allicht ook het recht wordt gevonden”.2 “Pihak yang kita senangi, itulah yang kita pandang benar”. 2
− meskipun barangkali Tuantuan (kami tidak tahu), sepanjang katanya Mr. van Houten ada termasuk dalam golongangolongan hakim. yang “ook menschen zijnde, niet altijd staan buiten een conflict”.232 “karena juga manusia, tidak selamanya berdiri di luar sesuatu perjuangan”.2 malahan barangkali ada berdiri “midden in de politike beweging”. “di tengahtengah pergerakan politik”. atau “een werkzaam aandeel in elken strijd nemen”.2 “ikut mempunyai bagian di dalam tiaptiap perjuangan”. 2
Kami ulangi lagi: kami percaya bahwa Tuantuan hakim ada berdiri samatengah. Dan jikalau nanti kami uraikan segala kamipunya keyakinan politik, jikalau nanti kami beberkan segala sifat P.N.I. dan segala penglihatanpenglihatan atau ideologiideologi kami, jikalau nanti kami masukkan “politik” di dalam gedung mahkamah ini, maka itu bukan untuk mempropagandakan kebenaran kamipunya keyakinan itu, melainkan hanyalah supaya Tuantuan bisa mengetahui azas, sifat dan aksinya P.N.I., dan bisa menakar, bisa mengerti, bisa
begrijpen kami punya penglihatan politik, − dan dus begrijpen isi dan maksudnya segala perkataanperkataan dan tindakantindakan kami yang Tuantuan periksa dalam proses ini. Hanya inilah maksud kami dengan mengucapkan pidato ini. Bagian yang bersangkutan dengan hukuman adalah bagiannya kamipunya pembelapembela Mr. Sastromuljono cs.
2 Bij Duys, Pleidooi Indonesische Studenten 32 Bij Duys, Pleidooi Indonesische Studenten
Sebab, Tuantuan Hakim, kami di sini didakwa bersalah menjalankan halhal, yang sangat sekali mengasih kesempatan lebar pada subjectiefoordeel, yakni pada pendapatan yang kurang sama tengah. Kami didakwa melanggar artikel 169 yang di dalam aktetuduhannya berisi tuduhantuduhan pelanggaran artikelartikel pemberontakan, artikel 161 bis, artikel 171 hukumsiksa. Kami didakwa menjalankan halhal yang di dalam buku hukumsiksa itu dikalimahkan dengan cara yang membuka jalan bagi subjectiviteit itu, − subjectiviteit atas pertanyaan “apakah yang dinamakan menyindir”, “apakah yang dinamakan voorwaardelijk”, “apakah yang dinamakan dengan katakata tertutup”, − subjectiviteit atas pertanyaan “apakah yang dinamakan ketertiban umum”, “apakah yang dinamakan melanggar”, − subjectiviteit atas pertanyaan “apakah yang dinamakan membangun rasa”, subjectiviteit atas pertanyaan “apakah yang dinamakan kabarbohong”, “apakah yang dinamakan perikehidupan ekonomi dari pergaulan hidup”, dan lainlain sebagainya. Terutama sekali artikelartikel 161 bis 153 bis sangatlah sekali membuka kesempatan lebar pada subjectiviteitoordeel itu. Kita, kaum politik Indonesia, kita sejak mulamulanya artikelartikel ini diterbitkan, tidak berhentihentinya mengkritiknya, tidak berhentihenti memprotesnya. Kita anggap artikelartikel ini sebagai suatu halangan besar bagi menjalankan “hak berserikat dan berkumpul” yang toh tadinya sudah terancam sekali oleh adanya “haatzaaiartikelen” (artikelartikel penyegah menyebar rasa kebencian), oleh adanya “hak penDigulan” dan sebagainya itu. Kalau “haatzaaiartikelen” itu.
sudah tersohor dengan nama
”allerergerlijkst elastieke bepaling”,
”aturankaret yang keliwat kekaretannya”,
nama apakah harus dikasihkan kepada misalnya artikel 153 bis itu? Tiada salahnya, kalau tuan Mendels di dalam TweedeKamer Staten Generaal, − algemeene beschowingen Indesche begrooting 1926 −, menyebutkan:
artikel ini “een horribel strafwetartikel”, “artikel hukumsiksa yang mendirikan bulu”, yang ia “in de laatste jaren nog niet ontmoet”, “di dalam tahuntahun yang akhir ini belum pernah jumpakan”, Ia mengatakan, “maar laat men dan niet meer spreken van een rechtstoestand”: “tetapi kalau begitu, janganlah bilang, bahwa di sini ada aturanhukum”: Ia mengatakan: “het is de zuivere rechteloosheid”. “Ini sebenarnya berarti tidak ada aturanhukum”. Ya ia mengatakan: “het is de terreur met de wet in de hand”. “ini adalah kesewenangwenangan wet di dalam tangan”.
Tuantuan Hakim, kami harap, kami percaya, bahwa di dalam Tuantuan punya tangan, artikel ini tidak dibikin sewenangwenang!
En Toh berhubung dengan kekaretan artikelartikel yang diancamkan atas diri kamiorang itu, berhubung pula dengan soal, yang oleh Prof. Simons disebutkan:
“de vraag in hoeverre en op welke wijke het strafrecht rekening moet houden met de overtuiging van den dader”. 4
“soal, sampai berapa jauh dan bagaimana hukumsiksa itu harus memperingati keyakinannya terdakwa”.3
atau berhubung dengan apa yang diperingati oleh Mr. Dr. Schumann, bahwa hakim harus,
“rekening houden met de verschillende omstandigheden, − met de meerdere of mindere welvaart der bevolking, met de meerdere of mindere provocatie”.3
“memperingati keadaankeadaan, memperingati melaratmakmurnya penduduk, memperingati ada atau tidakadanya sebabsebab yang memaksakan kepada terdakwa menjalankan perbuatan itu”.3
maka perlu sekalilah kami uraikan kepada Tuantuan segala bagianbagiannya kamipunya keyakinanpolitik yang terpenting, beserta bagianbagiannya pergerakan P.N.I. yang
perluperlu, − agar supaya Tuantuan lantas bisa mengerti dengan gampang, bahwa P.N.I. dan kami orang tidaklah bersalah atas halhal yang dituduhkan semuanya.
Maaflah, Tuantuan Hakim, kalau kami di dalam pidato ini minta Tuantuan punya perhatian sampai berjamjam lamanya. Maaflah pula, kalau kami di sana sini mendalilkan beberapa dalil dari beberapa buku, sebab dalildalil itu perlu sekalilah untuk membuktikan kepada Tuantuan, bahwa apa yang kami ucapkan, − terutama yang pahit dan getir, − bukanlah hisapan dari jempol kami sendiri, tetapi ialah bersendi atas pengetahuannya orangorang bijaksana dan tulus hati.
Atas salah satu pertanyaan Tuan Voorzitter di dalam verhoor, kami adalah menjawab, bahwa kami dengan sikap sama tengah yang bagaimanapun juga, sebagai kaum kiri adalah melihat lebih banyak kejelekan daripada kebagusan di dalam nasibnya negeri dan rakyat Indonesia sekarang ini. Kami adalah terkenal sebagai pengkritik nasibnya negeri dan rakyat yang jelek itu. Kami memang sering menjatuhkan kritik di atasnya. Tetapi kami tak pernahlah mengucapkan kritik yang palsu, kami tak pernahlah meninggalkan sikap yang adil. Sikap kami yang adil itu, akan mendapatlah buktibukti pula di dalam dalildalil itu, akan mendapatlah buktibukti di dalam sedikitangkaangka yang nyata.
Dengan permintaan maaf yang demikian itu, sekarang kami mulaikan kami punya pembelaan diri.
Imperialisme dan Kapitalisme
Tuantuan Hakim yang terhormat!
Di dalam aksi kami seringseringlah kedengaran katakata “kapitalisme” dan “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataan, inipun menjadi penyelidikan. Kami antara lainlain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya, kami berkata “kapitalisme harus dilenyapkan”. Kami dituduh membahayai pemerintah kalau kami berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya kami dituduhkan berkata bahwa kapitalisme = bangsa Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang! Adakah bisa jadi benar tuduhan ini ? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah, mengatakan bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah; kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau kami berkata kapitalisme, tidak pernah memaksudkan pemerintah atau openbareorde atau apa saja kalau kami berkata imperialisme. Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan impeslisme kalau kami berkata imperialisme!
Apa dan artinya kapitalisme? Tuantuan Hakim, di dalam verhoor sudah kami katakan: Kapitalisme adalah stelsel pergaulanhidup yang timbul daripada cara productie 1) yang 5 memisahkan kaumburuh dari alatalat produetie 2). Kapitalisme adalah timbul dari ini 6 caraproductie, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya meerwaarde 37 ) tidak jatuh di dalam tangannya kaumburuh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah menyebabkan kapitaalacumulatie 4 8 ), kapitaalconcentratie 59 ),
51) Productie = pembikinan sesuatu barang
62) alatalat productie yaitu misalnya mesinmesin, pabrikpabrik, dll 73) tambahnya harga oleh kerjanya yang membikin
kapitaalcentratie 610 ) dan industrieelereservearmee 7). Kapitalisme adalah mempunyai arah11 kepada Verelendung. 8) 12
Haruslah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa, − tetapi ialah suatu faham, suatu
begrip, suatu stelsel? Haruslah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah stelselnya caraproduksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu! Ah, Tuantuan Hakim, kami rasa tidak, Sebab tidak ada satu intellektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu. Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu sudah diselidiki dari kanankiri, luar dalam, sebagai kapitalisme itu tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu besar litteratuurnya (pustakanya), sebagai kapitalisme itu − hingga berpuluhpuluhan jilid, berpuluhpuluhanribu studiën dan
standaardwerken dan brochures.
Tetapi arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu begrip. Ia bukan sebagai yang dituduhkan pada kami itu. Ia bukan ambtenaar B.B. , bukan pemerintah, bukan gezag, bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu stelsel menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri bangsa lain, − suatu stelsel overheerschen atau beheerschen economie atau negeri bangsa lain. Ia adalah suatu verschijnsel , suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusankeharusan atau
noodwendigheden di dalam geraknya “ekonomibangsa”, selama ada “ekonominegeri”, selama itu dunia economie sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomibangsa”, selama ada “ekonominegeri”, selama itu dunia adalah melihat imperialisme. Ia kita dapatkan di dalam nafsunya burung Garuda Romein terbang kemanamana menakluknaklukkan negerinegeri sekelilingnya dan di luarnya LautanTengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsunya bangsa Spanyol menduduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggeris, ia kita dapatkan di dalam nafsunya kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan negeri penanjung Melaka, menaklukkan kerajaan Melayu, mempengaruhi rumahtangganya negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di dalam nafsunya negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai ke Borneo, dari Sumatera sampai ke Maluku. Ia kita dapatkan di dalam nafsunya kerajaan Japan menduduki penanjung Korea, mempengaruhi negeri Manchuria, menguasai pulaupulau di LautanTeduh. Imperialisme adalah terdapat di semua zaman “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada imperialisme itu.
Bukan pada bangsa kulitputih saja ada imperialisme, tetapi juga pada bangsa kulitkuning, juga pada bangsa kulithitam, juga pada bangsa kulitmerah sawo sebagai kami, − sebagai terbukti di dalam zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; − imperialisme adalah suatu
“economische gedetermineerde noodwendigheid” , suatu keharusan yang ditentukan oleh rendahtingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu.
Dan sebagai yang tadi saya katakan, − imperialisme bukanlah saja stelsel atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tetapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau stelsel mempengaruhi ekonominya negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pelebaran negeridaerah dengan
95) kapitaal kecilkecil menjadi satu kapitaal besar 106) kapitaal besarbesar menjadi satu kapitaal besar 117) tentara kaum werkloos
kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol. 9), − tetapi ia bisa juga berjalan hanya 13 dengan “putarlidah” atau cara “halushalusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “penetration pacifique”.
Terutama di dalam sifatnya mempengaruhi (beheerschen) rumah tangganya bangsa lain, maka imperialisme zaman sekarang sama berbuah “negerinegeri mandaat” alias
“mandaatgebieden”, “daerahdaerah pengaruh” alias “invloedssferen” dan lainlain sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah negeri jajahan, − koloniaalbezit.
Dan bukan saja di dalam dua macam itu, imperialisme bisa kita bagikan, − imperialisme bisalah juga kita bagikan dalam imperialismetua., dan imperialismemodern. Tidaklah besar beda antara imperialismetua daripada bangsa Portugis atau Spanyol atau East India Company Inggeris atau Oost Indische Compagnie Belanda dalam abad ke16, ke17, dan ke18 − dengan imperialismemodern yang kita lihat di dalam abad ke19 atau ke20, imperialismemodern yang mulai menjalar ke manamana, sesudah modernkapitalisme bertahta kerajaan di benua Europa dan di benua AmerikaUtara?
Imperialismemodern, − imperialismemodern yang kini merajalela di seluruh benua dan kepulauan Asia dan yang kini kami musuhi itu, − imperialismemodern itu adalah anaknya modernkapitalisme. − Imperialismemodernpun sudah mempunyai literatuur, tetapi belum begitu terkenallah ia di dalam artiartinya dan rahasiarahasianya sebagai soal kapitalisme. Imperialismemodern itu, oleh karenanya, Tuantuan Hakim, mau kami dalilkan artinya agak lebar sedikit dari bukubuku satudua. Kami tidak akan mendalilkan bukunya Sternberg “Der Imperialismus” yang walau sangat menarikhati dan tinggiilmu, toh rada “kering” itu, rada
“droog” buat mendengarnya, − kami mendalilkan Mr. Pieter Jelles Troelstra, itu pemimpin Belanda yang baru wafat yang menulis :
“Ik versta onder imperialisme dit verschijnsel, dat het grootendeels onder de macht der banken staande grootkapitaal van een bepaald land, de buitenlandsche politik van dat land aan zijn belangen weet dienstbaar te maken.
De snelle economische ontwikkeling van de negentiendeeeuw bracht met zich een verbitterde concurrentie op agrarisch en industrieel gebied.
Dat aan het einde van die eeuw de portectie snel veld won, was een van de gevolgen. De moderne grootindustrie was ontstaan, de produetiviteit van die grootindustrie was sterk opgevoerd, doch de afzetmogenjkheden in het eigen land waren beperkt en de noodzakelijkheid bestond, afzetgebieden buiten de grenzen te vinden.
Deer eenerzijds op de beschermde binnenlandsche markt de prijzen op te voeren, andt.!r zijds op de buitenlandsche markten de dumpingtatktiek toe te passen, trachte de werkkrachten goedkoop zijn, en de winst niet door arbeidsgrootindustrie in de mogelijkheid te voorzien, zonder de winst aan te tasten. Deze “aggressieve protectie” bracht op zichzelf reeds grootere spanning in de internationale verhoudingen teweeg. Daarnaast stond de snene ontwikkeling der groote banken, die over ste”eds grooter kapitalen beschikken, waarvoor bij de binnenlandsche industrie en handel niet voldoende plaatsing was te vinden. Hieruit vloeide voorts kapitaaIexport, die zieh in het bijzonder DaM eoonomische − AchterIijke, kapits.aJanne landeD richtte. (Bijvde stroom van
Fransch en Engelsch kapitaal naar Rusland, en van Nederlandsch kapitaal naar de Ooost). Deze kapitaaluitvoer geschiedt niet aneen in den vorm van geld. Machines worden door de kapitaaluitvoerende mogendheden verschaft, fabrieken gebouwd, spoorwegen en havens aangelegd, enz. In vele gevanen is het voor de kapitaalbeleggers voordeeliger hun geld te exploiteeren in ondernemingen in economischAchterlijke landen, waar de wetgeving e.d. wordt beperkt”.
“Yang saya artikan dengan imperialisme ialah: itu kejadian pergaulan hidup, yang terjadi karena modalbesar dari sesuatu negeri yang kebanyakan ada di bawah kekuasaannya bankbank, memperusahakan politikluarnegeri daripada negeri itu guna kepentingannya modalbesar itu sendiri.
Kemajuan abad yang kesembilanbelas yang cepat itu sudahlah melahirkan suatu persaingan matimatian di atas lapang perusahaantanah dan perusahaankepabrikan.
Salah satu hasilnya persaingan ini ialah bahwa, pada penghabisan abad itu, politik “melindungi negeri sendiri” makin lama makin laku.
Kepabrikanbesar sudahlah lahir, jumlahnya barangbarang yang dibikin oleh kepabrikanbesar ini sangatlah tambahnya, tetapi di negeri sendiri barangbarang itu tak bisalah habis terjual, maka timbunah keperluan mencarikan pasar baginya di luar negeri sendiri.
Caranya kepabrikanbesar itu mengatur kesukaran ini dengan tak mengurangkan untungnya ialah: menjual barangbarang itu di pasarnegerisendiri yang terlindungi itu dengan harga mahal, dan menjual barangbarang itu di pasar luarnegeri dengan politik “dumping”, yakni menjual barangbarang itu dengan harga yang lebih murah daripada hargabiasanya disitu. Maka cara “melindungi diri sendiri dengan menyerang orang lain” ini saja sudahlah membikin tambah “panasnya” sikap antara negeri satu terhadap negeri yang lain.
Selainnya itu, bankbank yang besar adalah menjadi makin subur, makin besar jumlah kapitalnya, yang tidak bisa diusahakan di dalam pabrikpabrik dalam negerisendiri. Maka lantas mengalirlah kapital itu ke luar, teristimewa ke negerinegeri yang masih belum maju ekonominya dan yang kekurangan modal. (Misalnya aliran kapital Perancis dan Inggeris ke negeri Roes, dan aliran kapital Belanda ke Timur). Aliran kapital keluar ini, tidaklah hanya berupa aliran harta saja. Negerinegeri yang mengeluarkan kapital itu jugalah mengirimkan mesinmesin, mendirikan pabrikpabrik, membikinkan jalanjalan kereta api dan pelabuhanpelabuhan dan sering kali juga kaum kapital itu adalah lebih beruntung lagi dengan memasukkan uangnya dalam ondernemingonderneming di negerinegeri yang belum maju ekonominya, di mana kaum buruhnya murah dan di mana untung tidak terancam oleh arbeidswetgeving atau sesuatu hukumperburuhan”
Begitulah keterangan Mr. Pieter Jenes Troelstra. Marilah kita sekarang mendengarkan seorang socialist lain, yakni R.N. Brailsford, itu pengarang Inggeris yang termashur. 1) 14
“Rijkdom in onze dagen is in de eerste plaats de gelegenheid voor buitengewoon voordeelige belegging. Verovering in den ouden zin is uit de mode geraakt ...
Het jagen van concessies in het buitenland en het exploiteeren van de potentieele rijkdommen van zwakke staten en stervende rijken wordt meer en meer een officieele onderneming, een nationale affaire.
In deze fase is uitvoer van kapitaal voor de heerschende klasse gewichtiger en aantrekkelijker geworden dan de uitvoer van waren.
Imperialisme is eenvoudig de pontieke uitdrukking van de groeiende neiging van het Impitaal, dat opgestapeId is in de meer beschaafde industrieele landen, zich te exploiteeren naar de minder beschaafde en minder bewoonde”.
“Di dalam zaman sekarang, yang dinamakan kekayaan itu ialah pertamatama kesempatan menjalankan modal dengan untung yang besar sekali. Perampasan negeri dengan terangterangan seperti zaman dulu, kini sudahlah tak laku lagi ...
Menurut concessieconcessie di luarnegeri, dan membuka kekayaankekayaannya kerajaankerajaan yang lembek dan negerinegeri yang hampir mati, itulah kini makin menjadi perusahaan officieel, perusahaan nasional.
Di atas tingkat ini maka bagi kaum atasan adalah lebih penting dan lebih menarikhati, mengalirkan uang keluar daripada mengalirkan barangbarang.
Imperialisme baresnya, ialah suatu keadaan politik, yang ditimbulkan oleh nafsu yang makin lama makin keras daripada modal yang ditimbuntimbunkan di negerinegeri kepabrikan yang lebih maju, akan menggerakkan diri di negerinegeri yang kurang maju dan yang kurang banyak penduduk”.
Bukanlah dengan dua contoh ini telah ternyata sebenarbenarnya, bahwa yang pengiraan yang imperialisme itu kaum ambtenar, atau bangsa kulitputih, atau pemerintah, atau “gezag” dalam umumnya, ada salah samasekali? Tetapi marilah kita mendengarkan satu kali lagi uraiannya seorang sosialis lain, yakni uraiannya Otto Bauer 10) yang termashur itu, yang 15 melihat di dalam modernimperialisme itu, suatu politik melebarkandaerah.
suatu expansiepolitik *) yang 16
“dient steeds het doel, aan het kapitaal beleggingssfeer en afzetmarkten te verzekeren. In de kapitalistische volkseconomie scheidt zich elk oogenblik een deel van het maatschappelijke geldkapitaal uit de circulatie van het industrieele kapitaal af ... Een deel van het maatschappelijke kapitaal is dus elk oogehblik doodgelegd, ligt elk oogenblik braak.
Is veel geldkapitaal doodgelegd, heeft het terugstroomen der vrijgekomen kapitalisplinters naar de productiesferen slechts langzaam plaats, dan daalt anereest de vraag naar produksimiddelen en naar arbeidskrakhten. Dit beteekent het onmiddelijk dalen der prijzen en winsten in de productiemiddelenindustrie, de verzwaring van den va kvereenigingsstrijd, het dalen der arbeidsloonen. Beide verchijnselen werken echter ook terug op die industrieen, die de verbruiks goederen vervaardigen. De vraag naar de goederen, die onmiddellijk diellen tot bevrediging der menschelijke beboeften daalt, omdat eenerzijds de kapitalisten, die hun inkomen uit de arbeidsmiddelenindustrieen trekken, geringer insten bekomen, en omdat anderzijds de grootere werkeloosheid en de dalende
1510) Nationalitatenfrage p. 461 e.v. 16*)
loonen de koopkrakht der arbeidersklasse verminderen.
Daardoor worden ook in de bedrijven voor verbruiksgoederen de prijzen. winsten, arbeidsloonen kleiner; zoo heeft het afscheiden van een grooter deel van het geldkapitaal uit de kringloop van het kapitaal in de gezamenlijke industrie, dalende prijzen, winsten, loonen, vermeerderde werkloosheid, tengevolge. Deze kennis is. nu voor ons doel van groot belang, want nu eerst kunnen we de doeleinden van de kapitalistische beheerspolitik begrijpen. Ze streeft naar beleggingssferen voor bet kapitaal en naar afzetmarkten voor de waren. Nu begrijpen wij, dat deze geen arzondelijke opgaven zijn, doch in wezen een en dezelfde opgaaf.
“selamanya bermaksud, mengasihkan kepada modal itu lapanglapang bergerak dan pasar penjualan barang. Di dalam rumah tangga kemodalan maka tiaptiap waktu adalah sebagian modaluang yang memisahkan diri daripada modal yang diusahakan dikepabrikan ... Tiap waktu oleh karenanya, maka sebagian daripada modal itu menjadilah “mati”, menjadilah “bero” (jav.).
Jikalau banyak modal menjadi “mati” demikian itu jikalau modalmodal yang terlepas ini tak gampang mengalir kembali ke dalam perusahaanperusahaan pabrik dengan cepat, maka pertamatama lantas menjadi kuranglah larisnya penjualan tenagakaumburuh: Ini adalah berarti bahwa hargaharga dan untunguntung di dalam perusahaanperusahaan yang membikin alatalat produksi itu dengan segera merosotlah ke bawah; perjuangan pergerakan kaum sekerjapun menjadilah lebih berat oleh karenanya, upahupah kaum buruh menjadi turun. Tetapi duadua hal ini berpengaruh juga atas perusahaanperusahaan yang membikin barangbarang bekal hidup. Barangbarang bekal hidup hidup seharihari inipun menjadilah kurang banyak pembelinya, yakni oleh karena pertamatama kaum modal dari perusahaanperusahaan alatproduksi itu kini kurang besar untungnya, dan kedua oleh karena kelas kaum buruh itu, yang kini banyak werkloos dan upahnya turun, kekuatannya pembeli menjadi kurang.
Oleh karena itu, maka juga di dalam perusahaanperusahaan bekal hidup lantas merosotlah hargaharga, untunguntung dan upahupah.
Demikianlah keadaannya, bagaimana terpisahnya modal dari perusahaanperusahaan umum sudah berbuntutlah merosotnya hargaharga, untunguntung dan upahupah beserta tambah banyaknya kaum werkeloos.
Pengetahuan ini adalah amat penting sekali bagi kita, sebab baru sekaranglah kita bisa mengerti maksudmaksudnya politik mengungkungi negerinegeri lain itu. Politik ini bermaksud mencarikan lapanglapang usaha bagi kapital dan pasarpasar bagi barangbarangnya. Sekarang mengertilah kita, bahwa dua hal ini bukanlah soalsoal yang terpisah satu dari yang lainnya, tetapi di dalam hakekatnya ialah satu soal yang sama”. Sekianlah dalildalil kami tentang artinya kata imperialisme dari penanya orangorang socialist. Marilah kita sekarang mendengarkan keterangannya orang yang bukan socialist, yakni keterangannya tuan Dr. J.S. Bartstra di dalam bukunya “Geschiedenis van het moderne imperialisme”, di mana nanti akan tertampak juga kebenaran perkataan kami, bahwa imperialisme itu ialah bukan regeering, bukan sesuatu anggota regeering, bukan sesuatu bangsa asing, tetapi suatu kehausan, suatu nafsu, suatu stelsel menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri lain adanya:
het streven om de zelfbesturende kolonien, wier e trekkingen tot het moederland in het afgeloopen “liberaletijdperk” vrij los waren geworden, weer vaster aan Engeland te verbinden. Opmerkelijk is, dat het woord deze oorspronkelijke beteekenis geheel verloren heeft” .
... langzamelhand begon het woord een andere beg ripsinhoud te krijgen: het werd nu het streven van die Britten, die “het rijk” een nog veal grootere koloniale uitbreiding wilden geven, hetzij door de verwerving van landen, die door hun aardrijkskundige Jigging een gevaar zouden kunnen opleveren in de handen van concurrenten, hetzlj door de hand te leggen op zulke gebieden, die ean goede afzetmarkt konden worden of waar veel grondstoffen te vinden waren voor binnenIandsche nijverheid, welke juist in dien tijd moor en meer te lijden begon te krijgen van buitenlandsche modedinging”
“In de beteekenis van omgebreidelde koloniale uitbreiding kon het begrip weldra algemeen worden ...
“Perkataan “imperialisme” mulamula dipakainya ialah di negeri Inggeris kirakira dalam
tahun 1880. Yang dimaksudkan orang dengan kata itu ialah usaha menarikkan lebih keras lagi pertalian yang menggabungkan kolonikoloni dengan pemerintahan sendiri. *) kepada 17 negeri Inggeris, sebab pertalian ini di dalam “zaman liberaal” adalah menjadi terlampau longgar. Sangat menarik perhatian ialah, bahwa perkataan ini sekarang sudah hilanglah samasekali maknanya yang mulamula itu”.
... lamalama, maka perkataanperkataan ini mendapatlah arti nafsunya itu bangsa Inggeris, yang mau lebih melebarkan lagi daerah jajahan Inggeris dengan jajahanjajahan baru, baik dengan merampas negerinegeri yang bila di tangan musuh bisa menjadi bahaya, maupun dengan menguasai negerinegeri yang bisa menjadi pasarpasarpenjualan bagi barangbarang bikinan pertukangan negerisendiri, atau di mana ada terdapat banyak bekalbekal untuk pertukangan negeri sendiri itu, yang justru pada waktu itu, makin menderita banyak rugi daripada persaingan negeri luaran”
“Di dalam arti melebarlebarkan daerah dengan jajahanjajahan baru itu, maka faham imperialisme itu kini menjadi umum ...”
Maka sesudah itu, Dr. Bartstra lantas mengasih keterangan lebih jauh atas penglihatannya kaum sosialis terhadap pada imperialisme itu:
“Dat het woord echter zoo'n ell01' popUlarhelt verk.t'\;.gea heeft, danKt het aan de SOClaald.emOCL”aIolI:lClle pL'Opd.ganua, we het versclllJnsel VOOrS\;eld.e als de CO~tUmt;le van het kapitahscSClle productaesysteem. :l::l.et zijn dan ook !vJ.aI'Xistische sCllrijvers geweest, zooals .Houdolf .tillferd.1ng, Karl !tenner, ook de bekende B.N. Brailsford, die aan het woord een veel diepere en wijdere beteekenis hebDen gegeven. V olgens hen is het imperialisme de noodwendige buitenlandsche polltiek van staten met oon “overrijp kapitalisme”. Daaronder wordt daD verstaan oon kapitallsme met ver doorgevoerde bedrijfs en bankconcentratie. Daardoor en niet het minst door de veranderde functie van het protectioniSDle, van middel om zichzelf staande te houden tegenover het
buitenland tot “dumpingstelsel” −, heeft het niet langeI genoeg aan de traditioneele liberale denkbeelden van staatsontliouding, vrije concurrentie en pacifisme. Die zijn dan als het ware omgeslagen in het tegendeel daarvan, n.1. het streven om de zuiver polltieke makhtsmiddelen van de staat aan te wenden voor economische doeleinden, als : beinvloeden en veroveren van afzet en grond stofgebieden, ook het waarborgen der rentebetalingen van kapitalen, die uitgezet zijn in economischakhterlijke landen.
Op het laatste punt, dat van de zg. “kapitaalexport” wordt door de genoemde schrijvers bijzonder de nadruk gelegd. Door het veel intenser drijven van de nijverheid, door de concentratie in het bankwezen en het “dumpingstelsel” waren, zoo zeggen zij, ontzaglijke kapitalen opgehoopt, die in het binnenland dikwijls niet genoeg aangewend konden worden. Vandaar dat neer en meer de noodzakelijkheid werd gevoeld om groote kapitalen uit te zettcn in economischakhterlijke landen,
natuurlijk tegen zoo hoog mogelijke interest. Men kan dan tevens bereiken, dat
groote bestellingen werden gedaan van spoorwegen, makhines, enz. bij de eigen nijverheid. Gevolg van een en ander: verscherpte verhoudingen tot het buitenland, oorlogsgevaar, militaire expedities, “invloedssferen” in overzeesche gewesten, controle op de inkomsten en uitgaven van vreemde landen door consortia van Europeesche bankiers, jakht naar kolonien. Ziedaar het imperialisme !”
“Sebabnya perkataan itu menjadi terkenal ke manamana, ialah oleh propagandanya kaum sociaaldemocraat, yang mengatakan, bahwa imperialisme itu ialah suatu keadaan yang tidakboleh tidak tentu dilahirkan oleh caraproduksi kemodalan. Memang kaum Marxistlah, sebagai Rudolf Hilferding, Karl Renner dan juga H.N. Brailsford yang terkenal itu, yang mengasihkan kepada perkataan itu suatu arti yang lebih dalam dan lebih lebar lagi. Menurut mereka, maka imperialisme itu ialah politikluarnegeri yang tidakboleh tidak pasti dijalankan oleh negerinegeri yang kapitalismenya sudah terlampau matang. Yang mereka maksudkan dengan katakata belakangan ini ialah: suatu kapitalisme yang aturanaturan perusahaan dan aturanaturan banyaknya sudah sangat rapat tergabung tersusunnya. Oleh sebab inilah, dan bukan buat bagian kecil, juga oleh rubahnya pekerjaannya protectionisme, − dulu protectionisme ini cuma buat melindungi negerisendiri saja terhadap pada persaingannya negeriluaran, sekarang ia sudah menjadi stelsel “dumping”− *) maka kapitalisme yang demikian itu tak puaslah lagi dengan 18 fahamfaham liberal yang biasanya, yakni faham yang mana staat tak boleh ikut campur di dalam urusan partikelir, faham persaingan merdeka, dan faham menjunjung tinggi altar perdamaian.
Fahamfaham ini seolaholah terputarlah samasekali menjadi sebaliknya, yaitu menjadi nafsu memperusahakan kekuasaanpolitik daripada staat itu guna kepentingankepentingan rezeki, misalnya guna merebut dan mempengaruhi pasarpasar perdagangan dan tempattempat pengambilan bekalbekal kepabrikan, beserta guna menjaga supaya bunganya modalmodal, yang dijalankan di negerinegeri yang ekonominya rendah, tidak terganggulah suburnya. Fatsal yang belakangan inilah, yakni fatsal pengaliran kapital ke negeri luar, oleh penulispenulis tadi sangat sekali ditunjukkan kepentingannya. Tersebabkan oleh banyak lebih keras bekerjanya pertukangan, tersebabkan oleh pergabungannya bankbank, dan tersebabkan oleh stelsel dumping, maka, begitulah mereka
berkata menjadi bukan mainlah banyaknya modal yang tertimbuntimbunkan, yang di dalam negeri sendiri sering tak cukup kesempatan buat menjalankan. Itulah sebabnya, yang Makin lama lantas makin terasalah perlunya menjalankan banyak modal di negerinegeri asing yang ekonominya masih mundur, tentu saja dengan bunga yang setinggitingginya. Selainnya dari itu lantas bisalah juga tercapai, yang industri di negerisendiri lantas mendapat pesanan yang besar daripada alatalat jalan keretaapi, mesinmesin dll. Buntut satu dengan lainnya ialah: sikap negerinegeri luaran menjadi lebih “panas”, bahaya peperangan, pengirimanpengiriman militair, daerahdaerahpengaruh” di negerinegeri seberang, pengawasan atas keluarmasuknya uang di negerinegeri asing oleh serikatserikat kaum bankir Europah, pemburuan mencari negeri jajahan. Itulah imperialisme!”
Akhirnya maka Dr. Bartstra sekali lagi mengatakan dengan saksama apa yang ia sebutkan modernimperialisme:
“Onder modernimperialisme wordt verstaan het streven naar ongelimiteerde uitbreiding van koloniaal bezit, zooals dat in de periode :f: 1880 tot heden de buitenlandsche staat kunde van bijna aIle groote cultuurlanden dreef, in hoofdzaak ten bate van hun industrie en bankkapitaal.
Het is in het minst niet de eenige, zelfs niet. op aIle momenten de meest frappante van de zeer verschillende beweeg krachten van het tijdvak geweest, maar wel is het in zijn gevolgen een der meest gewichtige geworden, omdat het toonneel der algemeene geschiedenis erdoor is uitgebreid, voor het eerst en voor goed, over de geheele aarde”.
“Yang disebutkan modernimperialisme ialah nafsu melebarkan jajahan dengan takberbatas, sebagaimana semenjak th. 1880 sampai sekarang menjadi penyorongnya politik luar negeri dari hampir semua negerinegeri besar, terutama guna kepentingan industri sendiri dan modalbanksendiri.
Imperialisme ini bukan sekalikali tenagapenyorong yang satusatunya daripada zaman tersebut, malahan bukan yang paling membangunkan perhatian daripada tenagatenaga penyorong yang bermacammacam daripada zaman itu, − tetapi di dalam buntutbuntutnya ia adalah menjadi yang paling penting, yakni oleh karena lapangsifatnya riwayatdunia menjadi dilebarkanlah olehnya, sampai ke seluruh mukabumi, − buat pertama kali ini seterusnya.
Begitulah artinya modernimperialisme. Dan artinya perkataan imperialismetua?
Imperialismetua, sebagai yang kita alamkan dalam abadabad sebelumnya bagiankedua dari abad ke 19 −, imperialismetua di dalam hakekatnya adalah sama dengan imperialismemodern: nafsu, zucht, streven, neiging, stelsel untuk menguasai atau mempengaruhi rumahtangganya negeri lain atau bangsa lain, nafsu untuk melancarkan tangan keluar pagar negerisendiri. Sifatnya lain, azasazasnya lain, wujutnya lain, − tetapi hakekatnya, wezennya sama!
Di dalam abadabad yang pertama atau di dalam abad ke 19, di dalam abad ke 16 atau ke 20, −duaduanya adalah Imperialisme! Imperialisme, − begitulah kami katakan tadi −, adalah
terdapat pada semua zaman! Ya, sebagai Prof. Jos. Schumpeter mengatakan:
“is zoo oud als de wereld”, “de ongebreidelde lust van een staat om zich gewelddadig uit te breiden buiten zijn natuurlijke grenzen”
“adalah samatuanya dengan dunia”, − nafsu yang tiada berhingga daripada sesuatu staat,
melebarlebarkan daerahnya keluarpagar dengan kekerasan dan perkosaan”.
Imperialisme mana − juga yang kita ambil, imperialismetua atau imperialismemodern, −
bagaimana juga kita bolakbalikkan, darimana juga kita pandangkan, − imperialisme tetaplah
suatu faham, suatu nafsu, suatu neiging, suatu zucht, suatu lust, suatu streven, suatu stelsel, −dan bukan ambtenaar B.B., bukan pemerintahan, bukan gezag, bukan bangsa Belanda, bukan bangsa asing manapun jua, − pendekkata bukan lichaam, bukan manusia, bukan benda atau materie!
Nafsu, neiging, zucht atau stelsel ini sejak zaman purbakala sudahlah menimbulkan politikluarnegeri, menimbulkan perseteruan dengan lain negeri, menimbulkan perlengkapan senjatadarat dan senjataarmada, menimbulkan perampasanperampasan negeri asing, menimbulkan kolonikoloni yang diambili rezekinya, − zaman modern ia menimbulkan “Bezugliinder” yakni tempat pengambilan bekal kepabrikan, menimbulkan afzetgebieden atau pasarpasar penjualan hatsilnya kepabrikan itu, menimbulkan lapang bergerak bagi modal yang tertimbuntimbun, menimbulkan “daerahpengaruh”, menimbulkan “protectoraten”, menimbulkan “negerinegeri mandaat” dan kolonikoloni dan macammacam “lapanglapang usaha” lainlain, sehingga imperialisme adalah juga suatu bahaya bagi negerinegeri yang merdeka.
Baik “daerahdaerahpengaruh” maupunnegerinegerimandaat”, baik “protectoraten” maupun “kolonikoloni”, −semuanya terjadinya begitu sebagai ternyata pula dari dalildalil kami tadi itu, untuk pencarian rezeki atau untuk penjagaan pencarian rezeki, semuanya ialah hasilnya keharusankeharusan urusan ekonomi. Partai Nasional Indonesia menolak semua teori, yang mengatakan bahwa asalasalnya kolonisatie dalam hakekatnya ialah bukan pencarian rezeki, menolak semua teori yang mengajarkan, bahwa sebabsebabnya rakyat Europa dan Amerika mengembara di seluruh dunia dan mengadakan koloni di manamana itu, ialah keinginan mencari kemashuran, atau keinginan kepada segala hal yang asing, atau keinginan menyebarkan kemajuan dan kesopanan. Teorinya Gustav Klemm yang mengajarkan, bahwa menyebarnya bangsamenang” kemanamana itu selainnya oleh nafsu mencari kekayaan ialah terdorong pula oleh “nafsu mencari kemashuran”, “nafsu mencari keakuran”, “nafsu melihat negeriasing”, “nafsu mengumbara merdeka”, atau teorinya Prof. Thomas Moon, yang mengatakan, bahwa imperialisme itu selainnya berazas ekonomi juga adalah berazas nationalisme dll., sebagai ia diuraikan dalam iapunya buku “Imperialism and Worldpolitics”, −teoriteori itu buat sebagian
besar kami tolak sama sekali. Tidak! bagai Partai Nasional Indonesia penjadahan itu asalasalnya yang dalam, asalasalnya yang diepliggend dan fundamonteel, ialah nafsu mencari benda, nafsu mencari rezeki belaka adanya.
“De eerste oorzaak tot kolonisatie is bijna altijd de beenging der levensverhoudingen in het eigen land”.
“Asalasalnya kolonisasi yang paling penting ialah hampir selamanya sempitnya keadaan rezeki di negerisendiri”.
begitulah Prof. Dietrich Schafer menulis 1), dan Dernburg, kolonialdirector negeri Jerman 19 sebelumnya perang, dengan terusterang mengakui pula: 2) 20
“Koloniseeren is het geschikt maken van den grond, van zijn onderaardsche schatten, van de flora, van de fauna, en vooral van de bevolking, ten gunste van de economische behoeften van de koloniseerende natie” ...
“Penjajahan adalah usahamengolah tanah, mengolah tambangtambang, mengolah tanamantanaman mengolah sesatoan, dan terutama sekali adalah usaha mengolah penduduknya, bagi keperluan rezekinya bangsa yang menjajahkan ...
O, memang, Tuantuan Hakim, penjajahan membawa pengetahuan, penjajahan membawa kemajuan, penjajahan membawa kesopanan. Tetapi maksud yang sedalamdalamnya ialah urusan rezeki, atau sebagai Dr. Abraham Kuyper menulisnya di dalam iapunya buku “Antirevolutionaire staatkunde”: − “suatu urusan perdagangan”, “een mercantiele betrekking”!
“Kolonis zonder eigen gezinskolonisatie geven kans om het land van de Inlanders tot rijke productie te brengen, er de mijnen te ontginnen, er onze koopwaren ter markt te brengen, en omgekeerd aan koopwaren der kolonie ten onzent een markt te doen vinden, maar het verband blijft economisch. Het gaat om ontginningen, om fabricage, am marktverkeer en handel over zee, maar tot zelf in taal en zeden, en vooral in de religie kan het bezettende volk zich tegenover het onderworpen volk geheel vreemd houden. Het is en blijft een mercantiele betrekking, die het bezettende land verrijkt en het bezette land niet zelden verarmt”.
“Kolonis”, − begitulah pemimpin besar ini menulis 1), ”kolonis zonder penanaman 21
sumahsumah kulit putih buat berdiam menjadi penduduk di koloni itu selamalamanya, adalah mengasih kesempatan menyuburkan perhasilannya negeri bumiputera itu, menggali tambangtambangnya, menjual barang kita disitu dan sebaliknya mencarikan pasarpasar urusan rezeki. Urusan ini ialah urusan pembukaan tanah, urusan memberikan barangbarang urusan pasar dan perdagangan seberanglaut, tetapi sampai di dalam urusan bahasa dan adatistiadatpun, dan terutama sekali di dalam urusan agamanya rakyat yang kalah itu maka bangsa yang menang bisalah juga tak ikut campur samasekali. Urusan ini adalan dan tetaplah urusan perdagangan, yang mengayakan negeri yang menjajahkan dan yang tak jarang memelaratkan negeri yang dijajahkan.
Dan Brailsford di dalam bukunya yang paling baru 2) adalah berkata: 22
“Het imperialisme heeft het prachtige epos van zijn durf en organiseerend genie in de aardkorst zelve gegrijpt van het met ijs bedekte Siberie tot de zandvlakten van ZuidAfrika. Doch de geschenken aan opvoeding, intellectueele prikkels en menschelijker bestuur, die het meebrengt, zijn steeds bijprodu'cten van zijn zelfzuchtige activiteit. Deze gaven te schenken is zelden, zoo nooit, het motief van zijn robuste pioniers. Indien zij eenige motief hebben, dat een weinig hoogeI' staat dan materieele winst, is het de glorie en de
191) Kolonial Geschichte p.12.
202) Bij DouwesDekker, Kolonial ideaal 211) Bij Snouk Hurgronje, Colijn over Indie 222) Hoe lang nog? p.227 e.v.
vergrooting van het moederland. Doch de drang, die hen, naar deze “plaatsen in de zon” drijf was gewoonlijk, of de begeerte om een markt van grondstoffen te monopoliseeren, of de nog lager berekening, dat er een goedkoope en ongeorganiseerde massa arbeidskracht ligi te wachten, om geexploiteerd te worden. Wanneer het dit aIles niet is, is het een berekening, die ontspringt uit het spel van materieele belangen met geographische gegevens ...
Het bijproduct van de beschaving is een gemak, dat al te duidelijk onze eigen bedoelingen dient.”
“Imperialisme itu sudahlah menguraikan iapunya sejarah kegagahan dan iapunya sejarah kecerdikan menyusun di atas mukabumi sendiri, dari Siberia yang tertutup airbeku itu sampai ke padangpadang pasir di AfrikaKidul. Tetapi anugerahanugerah pendidikan, kemajuanpikiran dan aturanmemerintah yang lebih layak, yang ia bawa, hanyalah “rontonganrontongan” saja dari iapunya keasyikan yang angkaramurka itu. Mengasihkan “anugerahanugerah” ini, tak pernahlah menjadi maksud bagi barangbarang perdagangan koloni di negeri kita, − tetapi urusan ini tetaplah yang pertamatama dari pemukapemuka yang gagah itu. Bila umpamanya mereka benarbenar mempunyai maksud yang agak lebih tinggi sedikit daripada keuntungan benda, maka itu ialah maksud menambahkan kebesaran dan kemuliaan tanah tumpah darahnya sendiri. Tetapi nafsu yang mendorongkan mereka pergi ke”tempattempat di cahya matahari” ini, biasanya ialah keinginan menggagahisendiri sesuatu pasar bekalbekal kepabrikan, atau ialah perhitungan yang lebih durjana lagi, bahwa disitu adalah tersedia rakyatburuh yang murah harga dan tak tersusun, yang mereka nanti bisa suruh bekerja mandi keringat. Jikalau bukan halhal ini semuanya, maka mereka adalah terdorong oleh suatu perhitungan yang timbul daripada campurannya alasanalasankekayaan dengan alasanalasandaerah ...
Rontongan kesopanan itu tadi, nyatalah suatu keperluan bagi kitapunya kepentingan sendiri”.
Tidakkah benar sekali oleh karenanya, kalau Prof. Anton Menger menulis:
“Het ware doel der kolonisatie is de exploitatie van een volk, dat op een lageren trap van ontwikkeling staat; in vrome tijden verbergt men dit achter het mom van “Christendom” en in verlichte tijden achter dat van ‘beschaving’ der Inlanders” ,
“Maksud penjajahan yang sebenarbenarnya ialah menarik keuntungan daripada kerjanya suatu rakyat yang lebih rendah tingkatkemajuannya; di zamanalim maksud ini ditutupilah dengan kedok “Agama Kristen” ; dan di zamankemajuan dengan kedok ‘mau menyopankan’ bumiputera”,
atau kalau Friedrich Engels bersendagurau :
“De Engelschen zeggen altijd Christendom en meenen dan katoen”?
“Bangsa Inggeris selamanya berkata Christendom, tetapi yang dimaksudkan sebenarnya ialah kapas”?
Nafsu akan rezeki, Tuantuan Hakim, nafsu akan rezekilah yang menjadi penyorongnya Columbus menempuh samudra Atlantika yang luas itu; nafsu akan rezekilah yang menyuruh
Bartholomeus Diaz dan Vasco de Gama menentang hebatnya gelombang samudra Hindia; pencarian rezekilah yang menjadi “noordster” dan “kompasnya” 1) Admiraal Drake, 23 Magelhaens, Heemskerk atau Cornelis de Houtman. Nafsu akan rezekilah yang menjadi nyawanya compagnie di dalam abad ke17 dan ke18; nafsu akan rezekilah pula yang menjadi sendisendinya balapan cari jajahan di dalam abad ke 19, yakni sesudah modernkapitalisme menjelma di Eropah dan Amerika.
Sebelum zaman modernkapitalisme itu, maka bangsa Inggeris sudahlah menguasai sebagian dari Amerika, sebagian dari Hindustan; sebagian dari Australia dan lainlain sebagainya, yakni sudahlah menaruh sendisendinya “British Empire”, nantinya, − sudahlah
bangsa Perancis menguasai sebagian pula dari Amerika dan sebagian juga dari Hindustan, −
sudahlah bangsa Portugis mengibarkan benderanya di AmerikaKidul dan di beberapa tempat di seluruh Asia, −sudahlah bangsa Spanyol menguasai AmerikaTengah dan kepulauan Philipina, −
sudahlah bangsa Belanda menduduki AfrikaKidul, beberapa bagian kepulauan Indonesia, terutama Maluku, Jawa, CelebesKidul dan Sumatera. Sudahlah di zaman itu kita melihat hebatnya tenagaberusaha daripada nafsu mencari rezeki itu tadi, yakni geweldige
daadkrachtnya imperialisme tua adanya!
Dan tatkala modernkapitalisme beranak modernimperialisme, maka kita menjadi saksi atas “balapan cari jajahan” yang seolaholah tiada terhingga! Kini orang Inggeris sudah bisa mengusir bangsa Perancis dan Portugis dan Belanda dari Hindustan. Tiada imperialismenya, tiada hingganya lagi bendera Inggeris ditanam kemanamana, tiada puaspuasnya kehausan kapitalisme Inggeris mencari dan meminum sumbersumber kekayaan di luar pagar daripada
“hetrijk” sendiri, − tiada suatu benua yang tak mendengar dengungnya pekikperjuangan imperialisme Inggeris: “When Britain first on Heaven's command. Arose from out the azure main. This was be charter of the land. And angelic voices sung this strain. Rule, Britannia, rule the waves! Britons never shall be slaves!” “Ketika Inggeris atas sabdanya Gusti. Menjelma dari samudera biru. Itu memanglah haknya negeri. Dan bidadari menyanyikan lagu. Perintahlah, Inggeris, perintahlah ombak! Bangsa Inggeris tak menjadi budak !”
Hindustan takluk Singapore dan Malaka diduduki. Tiongkok direbut haknya menetapkan bea dan hakhak exterritoriaal, beserta dibikin “daerahpengaruh” dengan jalan keras dan jalan “halushalusan”. Egypte “diperlindungi”. Mesopotamia “dimandati”, Hongkong, kepulauan Fiji, WestIndia, Kepulauan Falkland, Gibraltar, Malta, Cyprus, Afrika, ... imperialisme Inggeris
seolaholah tiada puasnya! Dan negerinegeri yang lainlain? Negeri yang lainlainpun ikut lari di dalam balapan ini:
Perancis menaruhkan kakinya di AfrikaUtara, di IndoChina, di Martinique, di Guadeloupe, di Reunion, di Guyana, di Somali, di NieeuwCaledonia, −Amerika merebut Cuba,
Portoriko, Philipina, Hawaii dll., − Jerman melancarlancarkan tangan imperialisme ke pulau
Marshall, ke Afrika BaratTimur, ke Togo, ke Kamerun, ke pulaupulau Carolinen, ke Kiautsjiau, kekepulauan Marianen, geger perkara Marokko dan lainlain, − Italia hibuk memperusahakan iapunya pendudukan Assab dekat selatan Bab El Mandeb, mengaturngaturkan kekuasannya di AfrikaUtara, mengambil Kossala, mencoba menaklukkan Abessinia, mengautaut di Tripola dan lainlain pula.
Bahwasanya, balapan mencari kolonie yang kita alamkan di dalam zaman modernkapitalisme itu, yang mengautaut ke kiri dan ke kanan dan memasang mulut serta mengulurulurkan kukunya sebagai MahaKala yang angkaramurka, −balapan mencari koloni
ini tak adalah persamaannya di seluruh riwayat manusia.
Dan di Asia sendiripun − modernimperialisme itu membuktikan asalturunannya:
Asalturunannya daripada kekacauankekacauan ekonomi, anak daripada kapitalisme, yang di dalam lingkungan rumahtangga sendiri kekurangan lapang usaha. Di atas sudah kami katakan, bahwa imperialisme itu bukan tabiat bangsa kulitputih saja, bukan “kejahatanhati” kulitputih saja: −Bukan saja modernimperialisme, tetapi juga imperialismetua adalah kita dapatkan pada
manamana bangsa. Kita ingat akan imperialisme bangsa Tartar yang di dalam abad ke13 dan ke14 sebagai “angin simum” menakluknaklukkan sebagian besar dari benua Asia; kita ingat akan imperialisme bangsabangsa Aria, Machmud Gazni dan Barber yang memasuki negeri Hindustan; kita ingat akan imperialisme Sriwijaja yang menaklukkan pulaupulau sekelilingnya; kita ingat akan imperialisme Majapahit, yang menguasai hampir semua kepulauan Indonesia beserta Malaka. Tetapi modernimperialisme Asia barulah kita lihat pada negeri Jepang tempo yang akhirakhir ini: modernimperialisme di Asia. adalah suatu “barangbaru”, suatu unicum, suatu nieuwigheid; memang hanya negeri Jepang saja daripada negerinegeri Asia yang sudah masuk ke dalam modernkapitalisme itu. Modernkapitalisme Jepang yang butuh akan minyaktanah dan arangbatu, modernkapitalisme Jepang yang juga membangkitkan tambahnya penduduk yang deras sekali sehingga melahirkan nafsu mencari negerinegeri emigratie *),24 −
modernkapitalisme Jepang itu membikin rakyat Jepang lupa akan keksatriaannya dan menamakan kukukukucengkeramannya di penanjung Sachalin dan Sohalin dan Korea dan Manchuria.
Nama, “kamipunya rakyatrakyat Asia yang diperbudakkan” bagi Jepang, nama itu adalah suatu barang bohong, suatu barang justa, suatu impian kosong bagi nationalisten kolot, yang mengira bahwa Japanlah yang akan membentuk kepada imperialisme Barat dengan dengungan suara: “Berhenti!”. − Bukan membentak “berhenti!”, tetapi dia sendirilah ikut menjadi
belorongimperialisme yang angkaramurka! Dia sendirilah yang ikut menjadi hantu yang mengancam keselamatan negeri Tiongkok, dia sendirilah yang nanti di dalam perguletan mahahebat dengan belorongbelorongimperialisme Amerika dan Inggeris ikut membahayai keamanan dan keselamatan negerinegeri sekeliling LautanTeduh, dia sendirilah salah satu belorong yang nanti akan perangtanding di dalam perang Pacifik!