• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia Menggugat. Ir. Sukarno

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Indonesia Menggugat. Ir. Sukarno"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

 

Indonesia 

Menggugat 

 

Ir. Sukarno 

 

 

 

(2)

Pendahuluan 

 

Tuan­tuan Hakim yang terhormat. 

Tatkala kami pada tanggal 16 Juni 1930 di dalam surat kabar membaca pidato­pembukaan       

Volksraad oleh   gouverneur­generaal, yang antara lain­lain hal berisi pula permakluman, bahwa        kami akan terus dituntut dimuka pengadilan, maka tatkala itu juga kami berkata: “ini menjadi        proses yang menggempar­kan!” 

Memang sedari mula diadakan penggerebekan dan tang­kapan­tangkapan pada hari 29        Desember 1929, maka kekagetan yang meletus di dalam udara pergaulan hidup Indonesia dan        negeri Belanda itu tak berhentilah terus mengumandangnya, perhatian dan kegemparan itu        teruslah menggetarkan udara­politik Indonesia dan Negeri Belanda sampai pada hari ini. 

Dan perhatian itu bukanlah sekali­kali berhubung dengan diri kami­orang persoonlijk,        tetapi ialah disebabkan oleh maknanya proses ini, − sesuatu proses terhadap pada suatu        pergerakan yang memang sedari lahirnya adalah hidup di dalam pusatnya perhatian, perhatian        kawan­kawannya dan perhatian musuh­musuhnya. Perhatian dan kegemparan itu adalah        melebihi perhatian dan kegemparan di zamannya proses       “afdeeling B”  , melebihi perhatian dan        kegemparan di zamannya proses­proses “P.K.I.”, melebihi perhatian dan kegemparan di        zamannya proses manapun juga, − tak lain tak bukan, yakni oleh karena proses ini adalah proses        terhadap suatu pergerakan, yang menu­rut katanya       Middendorp adalah dengan sebenar­benarnya        “dagingnya daging dan darahnya darah” segenap pergerakan nasionalis di Indonesia adanya. 

Tak usahlah kami uraikan lagi, bahwa proses ini adalah proses politik; ia, oleh karenanya,        di dalam pemeriksaannya tidak boleh dipisahkan daripada soal­soal politik yang menjadi sifat        dan azasnya pergerakan kami, dan yang menjadi nyawanya pikiran­pikiran dan        tindakan­tindakan kami; ia di dalam peme­riksaannya harus memasukkan soal­soal politik itu di        dalam gedung mahkamah ini, agar supaya Tuan­tuan Hakim bisa mengerti segala azas dan        sifatnya pergerakan kami itu, mengerti segala sebab­sebab dan maksud­maksudnya        tindakan­tindakan atau perkataan­perkataan kami yang menjadi pemeriksaan Tuan­tuan itu. 

Tuan­tuan Hakim yang terhormat, kami tidak sejak wa­sangka, kami percaya, bahwa Tuan,        − bagaimana juga barangkali Tuan punya keyakinan politik −, kami percaya bahwa Tuan ada        berdiri sama tengah. Maka oleh karenanyalah kami tersenyum akan caranya surat­surat­kabar,        misalnya A.I.D. de Preanger­bode atau lain­lain surat­kabar yang benci kepada kami dan          pergerakan kami, menghasut kepada Tuan­tuan Hakim bahwa di dalam proses ini kami tentu       

akan mendapat hukuman, yakni bahwa “putusan bebas tak bisa jadi”. Kami tersenyum pula, oleh        karena surat­surat­khabar yang demikian itu adalah menunjuk­kan moralnya yang sebenarnya. 

Kami tidak tahu apa­apa tentang Tuan­tuan punya keya­kinan politik. Kamipun tidak perlu        mengetahuinya. Tetapi kami percaya bahwa peringatannya Mr. Dr. Schumann adalah tak perlu        bagi Tuan­tuan, yakni peringatan bahwa: 

 

“het is zoo verleidelijk om in den opruier tevens te straffen den tegenstander op politik                              gebied”.   1

“adalah begitu menarik­hati, menjatuhkan hukuman atas si penghasut, karena ia adalah       

(3)

musuh di atas lapang politik”.1 

 

Kami percaya, kami yakin, bahwa juga peringatannya Prof. Molengraaff ada tak perlu bagi Tuan.        Prof. Molengraaff yang mengatakan, bahwa: 

 

“aan de zijde waar onze sympathie is, door ons allicht ook het recht wordt gevonden”.2   “Pihak yang kita senangi, itulah yang kita pandang benar”.  2

 

− meskipun barangkali Tuan­tuan (kami tidak tahu), sepanjang katanya Mr. van Houten ada        termasuk dalam golongan­golongan hakim.  yang  “ook menschen zijnde, niet altijd staan buiten een conflict”.23 “karena juga manusia, tidak selamanya berdiri di luar sesuatu perjuangan”.2    malahan barangkali ada berdiri  “midden in de politike beweging”.   “di tengah­tengah pergerakan politik”.    atau  “een werkzaam aandeel in elken strijd nemen”. “ikut mempunyai bagian di dalam tiap­tiap perjuangan”. ​2   

Kami ulangi lagi: kami percaya bahwa Tuan­tuan hakim ada berdiri sama­tengah. Dan        jikalau nanti kami uraikan segala kami­punya keyakinan politik, jikalau nanti kami beberkan        segala sifat P.N.I. dan segala penglihatan­penglihatan atau ideologi­ideologi kami, jikalau nanti        kami masukkan “politik” di dalam gedung mahkamah ini, maka itu bukan untuk        mempro­pagandakan kebenaran kami­punya keyakinan itu, melainkan hanyalah supaya        Tuan­tuan bisa mengetahui azas, sifat dan aksinya P.N.I., dan bisa menakar, bisa mengerti, bisa       

begrijpen kami punya penglihatan politik, − dan dus       begrijpen isi dan mak­sudnya segala          perkataan­perkataan dan tindakan­tindakan kami yang Tuan­tuan periksa dalam proses ini.        Hanya inilah maksud kami dengan mengucapkan pidato ini. Bagian yang bersangkutan dengan        hukuman adalah bagiannya kami­punya pembela­pembela Mr. Sastro­muljono cs. 

 

2 Bij Duys, Pleidooi Indonesische Studenten  32 Bij Duys, Pleidooi Indonesische Studenten 

(4)

Sebab, Tuan­tuan Hakim, kami di sini didakwa bersalah menjalankan hal­hal, yang sangat sekali        mengasih kesempatan lebar pada       subjectief­oordeel, yakni pada pendapatan yang kurang sama        tengah. Kami didakwa melanggar artikel 169 yang di dalam akte­tuduhannya berisi        tuduhan­tuduhan pelanggaran artikel­artikel pemberontakan, artikel 161 bis, artikel 171        hukum­siksa. Kami didakwa menjalankan hal­hal yang di dalam buku hukum­siksa itu        dikalimahkan dengan cara yang membuka jalan bagi       subjectiviteit itu, −     subjectiviteit atas    pertanyaan “apakah yang dinamakan menyindir”, “apakah yang dinamakan       voorwaardelijk”,  “apakah yang dinamakan dengan kata­kata tertutup”, −       subjectiviteit atas pertanyaan “apakah        yang dinama­kan ketertiban umum”, “apakah yang dinamakan melanggar”, −       subjectiviteit atas    pertanyaan “apakah yang dinamakan mem­bangun rasa”,       subjectiviteit atas pertanyaan “apakah        yang di­namakan kabar­bohong”, “apakah yang dinamakan peri­kehidupan ekonomi dari        pergaulan hidup”, dan lain­lain sebagai­nya. Terutama sekali artikel­artikel 161 bis 153 bis        sangatlah sekali membuka kesempatan lebar pada       subjectiviteit­oordeel itu. Kita, kaum politik          Indonesia, kita sejak mula­mulanya artikel­artikel ini diterbitkan, tidak berhenti­hentinya        mengkritik­nya, tidak berhenti­henti memprotesnya. Kita anggap artikel­artikel ini sebagai suatu        halangan besar bagi menjalankan “hak berserikat dan berkumpul” yang toh tadinya sudah        terancam sekali oleh adanya       “haatzaai­artikelen” (artikel­artikel penye­gah menyebar rasa          kebencian), oleh adanya “hak penDigulan” dan sebagainya itu. Kalau “haatzaai­artikelen” itu. 

sudah tersohor dengan nama 

”aller­ergerlijkst elastieke bepaling”,  

 ”aturan­karet yang keliwat kekaretannya”,   

nama apakah harus dikasihkan kepada misalnya artikel 153 bis itu? Tiada salahnya, kalau tuan        Mendels di dalam Tweede­Kamer Staten Generaal, − algemeene beschowingen Indesche        begrooting 1926 −, menyebutkan: 

(5)

artikel ini  “een horribel strafwetartikel”,   “artikel hukum­siksa yang mendirikan bulu”,  yang ia  “in de laatste jaren nog niet ontmoet”,  “di dalam tahun­tahun yang akhir ini belum pernah jumpakan”,    Ia mengatakan,  “maar laat men dan niet meer spreken van een rechtstoestand”:  “tetapi kalau begitu, janganlah bilang, bahwa di sini ada aturan­hukum”:     Ia mengatakan:  “het is de zuivere rechteloosheid”.  “Ini sebenarnya berarti tidak ada aturan­hukum”.     Ya ia mengatakan:  “het is de terreur met de wet in de hand”.  “ini adalah kesewenang­wenangan wet di dalam tangan”.    

Tuan­tuan Hakim, kami harap, kami percaya, bahwa di dalam Tuan­tuan punya tangan,        artikel ini tidak dibikin sewenang­wenang! 

En Toh berhubung dengan kekaretan artikel­artikel yang diancamkan atas diri kami­orang        itu, berhubung pula dengan soal, yang oleh Prof. Simons disebutkan:  

 

“de vraag in hoeverre en op welke wijke het strafrecht rekening moet houden met de                              overtuiging van den dader”.   4

“soal, sampai berapa jauh dan bagaimana hukum­siksa itu harus memperingati        keyakinannya terdakwa”.

 

atau berhubung dengan apa yang diperingati oleh Mr. Dr. Schumann,  bahwa hakim harus, 

“rekening houden met de verschillende omstandigheden, − met de meerdere of mindere                        welvaart der bevolking, met de meerdere of mindere provocatie”.3  

“memperingati  keadaan­keadaan,  memperingati  melarat­makmurnya  penduduk,  memperingati ada atau tidak­ada­nya sebab­sebab yang memaksakan kepada terdakwa        men­jalankan perbuatan itu”.3  

 

maka perlu sekalilah kami uraikan kepada Tuan­tuan segala bagian­bagiannya kami­punya        keyakinan­politik yang terpen­ting, beserta bagian­bagiannya pergerakan P.N.I. yang       

(6)

perlu­perlu, − agar supaya Tuan­tuan lantas bisa mengerti dengan gampang, bahwa P.N.I. dan        kami orang tidaklah bersalah atas hal­hal yang dituduhkan semuanya. 

Maaflah, Tuan­tuan Hakim, kalau kami di dalam pidato ini minta Tuan­tuan punya        perhatian sampai berjam­jam lamanya. Maaflah pula, kalau kami di sana sini mendalilkan        beberapa dalil dari beberapa buku, sebab dalil­dalil itu perlu sekalilah untuk membuktikan        kepada Tuan­tuan, bahwa apa yang kami ucapkan, − terutama yang pahit dan getir, − bukanlah        hisapan dari jempol kami sendiri, tetapi ialah bersendi atas pengetahuannya orang­orang        bijaksana dan tulus hati. 

Atas salah satu pertanyaan Tuan Voorzitter di dalam verhoor, kami adalah menjawab,        bahwa kami dengan sikap sama tengah yang bagaimanapun juga, sebagai kaum kiri adalah        melihat lebih banyak kejelekan daripada kebagusan di dalam nasibnya negeri dan rakyat        Indonesia sekarang ini. Kami adalah terkenal sebagai pengkritik nasibnya negeri dan rakyat yang        jelek itu. Kami memang sering menjatuhkan kritik di atasnya. Tetapi kami tak pernahlah        mengucapkan kritik yang palsu, kami tak pernahlah meninggalkan sikap yang adil. Sikap kami        yang adil itu, akan mendapatlah bukti­bukti pula di dalam dalil­dalil itu, akan mendapatlah        bukti­bukti di dalam sedikit­angka­angka yang nyata. 

Dengan permintaan maaf yang demikian itu, sekarang kami mulaikan kami punya        pembelaan diri. 

 

Imperialisme dan Kapitalisme 

 

Tuan­tuan Hakim yang terhormat! 

Di dalam aksi kami sering­seringlah kedengaran kata­kata “kapitalisme” dan        “imperialisme”. Di dalam proses ini, dua perkataan, inipun menjadi penyelidikan. Kami antara        lain­lain dituduh memaksudkan bangsa Belanda dan bangsa asing lain, kalau umpamanya, kami        berkata “kapitalisme harus dilenyap­kan”. Kami dituduh membahayai pemerintah kalau kami        berseru “rubuhkanlah imperialisme”. Ya kami dituduhkan berkata bahwa kapitalisme = bangsa        Belanda serta bangsa asing lain, dan bahwa imperialisme = pemerintah yang sekarang! Adakah        bisa jadi benar tuduhan ini ? Tuduhan ini tidak bisa jadi benar. Kami tidak pernah, mengatakan        bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah;        kami pun tidak pernah memaksudkan bangsa asing kalau kami berkata kapitalisme, tidak pernah        memaksudkan pemerintah atau open­bare­orde atau apa saja kalau kami berkata imperialisme.        Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan        impeslisme kalau kami berkata imperialisme! 

Apa dan artinya kapitalisme? Tuan­tuan Hakim, di dalam verhoor sudah kami katakan:   Kapitalisme adalah stelsel pergaulan­hidup yang timbul daripada cara productie 1) yang      5     memisahkan kaum­buruh dari alat­alat produetie 2). Kapitalisme adalah timbul dari ini        6       cara­productie, yang oleh karenanya, menjadi sebabnya       meerwaarde 37 ) tidak jatuh di dalam          tangannya kaum­buruh melainkan jatuh di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh        karenanya pula, adalah menyebabkan        kapitaala­cumulatie 4 8 ),  kapitaal­concentratie 59 ), 

51) Productie = pembikinan sesuatu barang 

62) alat­alat productie yaitu misalnya mesin­mesin, pabrik­pabrik, dll  73) tambahnya harga oleh kerjanya yang membikin 

(7)

kapitaal­centratie 610 ) dan   industrieele­reservearmee 7). Kapitalisme adalah mempunyai arah11       kepada Verelendung. 8) 12

Haruslah kami di dalam pidato ini masih lebih lebar lagi menguraikan, bahwa kapitalisme        itu bukan suatu badan, bukan manusia, bukan suatu bangsa, − tetapi ialah suatu faham, suatu       

begrip, suatu stelsel? Haruslah kami menunjukkan lebih lanjut, bahwa kapitalisme itu ialah        stelselnya cara­produksi, sebagai yang kami telah terangkan dengan singkat itu! Ah, Tuan­tuan        Hakim, kami rasa tidak, Sebab tidak ada satu intellektuil yang tidak mengetahui artinya kata itu.        Tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu sudah diselidiki dari kanan­kiri, luar dalam, sebagai        kapitalisme itu tidak ada satu hal di dunia ini, yang begitu besar litteratuurnya (pustakanya),        sebagai kapitalisme itu − hingga berpuluh­puluhan jilid, berpuluh­puluhan­ribu studiën dan       

standaardwerken dan brochures

Tetapi arti perkataan imperialisme? Imperialisme juga suatu faham, imperialisme juga suatu        begrip. Ia bukan sebagai yang dituduhkan pada kami itu. Ia bukan       ambtenaar B.B.   , bukan    pemerintah, bukan gezag, bukan badan apapun jua. Ia adalah suatu nafsu, suatu stelsel        menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri bangsa lain, − suatu       stelsel  overheerschen atau   beheerschen economie atau negeri bangsa lain. Ia adalah suatu        verschijnsel ,  suatu “kejadian” di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan­keharusan atau       

noodwendigheden di dalam geraknya “ekonomi­bangsa”, selama ada “ekonomi­negeri”, selama        itu dunia economie sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Selama ada “ekonomi­bangsa”, selama        ada “ekonomi­negeri”, selama itu dunia adalah melihat imperialisme. Ia kita dapatkan di dalam        nafsunya burung Garuda Romein terbang kemana­mana menakluk­naklukkan negeri­negeri        sekelilingnya dan di luarnya Lautan­Tengah. Ia kita dapatkan di dalam nafsunya bangsa Spanyol        menduduki negeri Belanda untuk bisa mengalahkan Inggeris, ia kita dapatkan di dalam nafsunya        kerajaan Timur Sriwijaya me­naklukkan negeri penanjung Melaka, menaklukkan kerajaan        Melayu, mempengaruhi rumah­tangganya negeri Kamboja atau Campa. Ia kita dapatkan di        dalam nafsunya negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia,        dari Bali sampai ke Borneo, dari Sumatera sampai ke Maluku. Ia kita dapatkan di dalam        nafsunya kerajaan Japan menduduki penanjung Korea, mempengaruhi negeri Manchuria,        menguasai pulau­pulau di Lautan­Teduh. Imperialisme adalah terdapat di semua zaman        “perekonomian bangsa”, terdapat pada semua bangsa yang ekonominya sudah butuh pada        imperialisme itu. 

Bukan pada bangsa kulit­putih saja ada imperialisme, tetapi juga pada bangsa kulit­kuning,        juga pada bangsa kulit­hitam, juga pada bangsa kulit­merah sawo sebagai kami, − sebagai        terbukti di dalam zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit; − imperialisme adalah suatu       

“economische gedetermineerde noodwendigheid”    , suatu keharusan yang ditentukan oleh        rendah­tingginya ekonomi sesuatu pergaulan hidup, yang tak memandang bulu. 

Dan sebagai yang tadi saya katakan, − imperialisme bukanlah saja stelsel atau nafsu        menaklukkan negeri dan bangsa lain, tetapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau stelsel        mempengaruhi ekonominya negeri dan bangsa lain! Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau        bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “pelebaran negeri­daerah dengan       

95) kapitaal kecil­kecil menjadi satu kapitaal besar  106) kapitaal besar­besar menjadi satu kapitaal besar  117) tentara kaum werkloos 

(8)

kekerasan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol. 9), − tetapi ia bisa juga berjalan hanya      13       dengan “putar­lidah” atau cara “halus­halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara “penetration        pacifique”. 

Terutama di dalam sifatnya mempengaruhi         (beheerschen) rumah tangganya bangsa lain,          maka  imperialisme  zaman  sekarang sama berbuah “negeri­negeri mandaat” alias       

“mandaatgebieden”, “daerah­daerah pengaruh” alias        “invloeds­sferen” dan lain­lain      sebagainya, sedang di dalam sifatnya menaklukkan negeri orang lain, imperialisme itu berbuah        negeri jajahan, − koloniaalbezit

Dan bukan saja di dalam dua macam itu, imperialisme bisa kita bagikan, − imperialisme        bisalah juga kita bagikan dalam imperialisme­tua., dan imperialisme­modern. Tidaklah besar        beda antara imperialisme­tua daripada bangsa Portugis atau Spanyol atau East India Company        Inggeris atau Oost Indische Compagnie Belanda dalam abad ke­16, ke­17, dan ke­18 − dengan        imperialisme­modern yang kita lihat di dalam abad ke­19 atau ke­20, imperialisme­modern yang        mulai menjalar ke mana­mana, sesudah modern­kapitalisme bertahta kerajaan di benua Europa        dan di benua Amerika­Utara? 

Imperialisme­modern, − imperialisme­modern yang kini merajalela di seluruh benua dan        kepulauan Asia dan yang kini kami musuhi itu, − imperialisme­modern itu adalah anaknya        modern­kapitalisme. − Imperialisme­modernpun sudah mempunyai      literatuur, tetapi belum      begitu terkenallah ia di dalam arti­artinya dan rahasia­rahasianya sebagai soal kapitalisme.        Imperialisme­modern itu, oleh karenanya, Tuan­tuan Hakim, mau kami dalilkan artinya agak        lebar sedikit dari buku­buku satu­dua. Kami tidak akan mendalilkan bukunya Sternberg “Der        Imperialismus” yang walau sangat menarik­hati dan tinggi­ilmu, toh rada “kering” itu, rada       

“droog” buat mendengarnya, − kami mendalilkan Mr. Pieter Jelles Troelstra, itu pemimpin        Belanda yang baru wafat yang menulis : 

“Ik versta onder imperialisme dit verschijnsel, dat het grootendeels onder de macht der                          banken staande grootkapitaal van een bepaald land, de buitenlandsche politik van dat land                          aan zijn belangen weet dienstbaar te maken. 

De snelle economische ontwikkeling van de negentiendeeeuw bracht met zich een                      verbitterde concurrentie op agrarisch en industrieel gebied. 

Dat aan het einde van die eeuw de portectie snel veld won, was een van de gevolgen. De                                    moderne grootindustrie was ontstaan, de produetiviteit van die grootindustrie was sterk                      opgevoerd, doch de afzetmogenjkheden in het eigen land waren beperkt en de                        noodzakelijkheid bestond, afzetgebieden buiten de grenzen te vinden. 

Deer eenerzijds op de beschermde binnenlandsche markt de prijzen op te voeren, andt.!r                          zijds op de buitenlandsche markten de dumping­tatktiek toe te passen, trachte de                        werkkrachten goedkoop zijn, en de winst niet door arbeids­grootindustrie in de                      mogelijkheid te voorzien, zonder de winst aan te tasten. Deze “aggressieve protectie”                        bracht op zichzelf reeds grootere spanning in de internationale verhoudingen teweeg.                      Daarnaast stond de snene ontwikkeling der groote banken, die over ste”eds grooter                        kapitalen beschikken, waarvoor bij de binnenlandsche industrie en handel niet voldoende                      plaatsing was te vinden. Hieruit vloeide voorts kapitaaI­export, die zieh in het bijzonder                          DaM eoonomische − AchterIijke, kapits.aJanne landeD richtte. (Bijvde stroom van                   

(9)

Fransch en Engelsch kapitaal naar Rusland, en van Nederlandsch kapitaal naar de Ooost).                          Deze kapitaaluitvoer geschiedt niet aneen in den vorm van geld. Machines worden door de                            kapitaal­uitvoerende mogendheden verschaft, fabrieken gebouwd, spoorwegen en havens                aangelegd, enz. In vele gevanen is het voor de kapitaalbeleggers voordeeliger hun geld te                            exploiteeren in ondernemingen in economisch­Achterlijke landen, waar de wetgeving e.d.                    wordt beperkt”. 

“Yang saya artikan dengan imperialisme ialah: itu kejadian pergaulan hidup, yang terjadi        karena modal­besar dari sesuatu negeri yang kebanyakan ada di bawah kekuasaan­nya        bank­bank, memperusahakan politik­luar­negeri dari­pada negeri itu guna kepentingannya        modal­besar itu sendiri. 

Kemajuan abad yang kesembilanbelas yang cepat itu sudahlah melahirkan suatu persaingan        mati­matian di atas lapang perusahaan­tanah dan perusahaan­kepabrikan.  

Salah satu hasilnya persaingan ini ialah bahwa, pada penghabisan abad itu, politik        “melindungi negeri sendiri” makin lama makin laku. 

 

Kepabrikan­besar  sudahlah  lahir,  jumlahnya barang­barang yang dibikin oleh          kepabrikan­besar ini sangatlah tambah­nya, tetapi di negeri sendiri barang­barang itu tak        bisalah habis terjual, maka timbunah keperluan mencarikan pasar baginya di luar negeri        sendiri. 

Caranya kepabrikan­besar itu mengatur kesukaran ini dengan tak mengurangkan untungnya        ialah: menjual barang­barang itu di pasar­negeri­sendiri yang terlindungi itu dengan harga        mahal, dan menjual barang­barang itu di pasar luar­negeri dengan politik       “dumping”, yakni    menjual barang­barang itu dengan harga yang lebih murah daripada harga­biasanya disitu.        Maka cara “melindungi diri sendiri dengan menyerang orang lain” ini saja sudahlah        membikin tambah “panasnya” sikap antara negeri satu terhadap negeri yang lain. 

Selainnya itu, bank­bank yang besar adalah menjadi makin subur, makin besar jumlah        kapitalnya, yang tidak bisa diusahakan di dalam pabrik­pabrik dalam negeri­sendiri. Maka        lantas mengalirlah kapital itu ke luar, teristimewa ke negeri­negeri yang masih belum maju        ekonominya dan yang kekurangan modal. (Misalnya aliran kapital Perancis dan Inggeris ke        negeri Roes, dan aliran kapital Belanda ke Timur). Aliran kapital keluar ini, tidaklah hanya        berupa aliran harta saja. Negeri­negeri yang mengeluarkan kapital itu jugalah mengirimkan        mesin­mesin, mendirikan pabrik­pabrik, membikinkan jalan­jalan kereta api dan        pelabuhan­pelabuhan dan sering kali juga kaum kapital itu adalah lebih beruntung lagi        dengan memasukkan uangnya dalam onderneming­onderneming di negeri­negeri yang        belum maju ekonominya, di mana kaum buruhnya murah dan di mana untung tidak        terancam oleh arbeidswetgeving atau sesuatu hukum­perburuhan” 

 

Begitulah keterangan Mr. Pieter Jenes Troelstra. Marilah kita sekarang mendengarkan        seorang socialist lain, yakni R.N. Brailsford, itu pengarang Inggeris yang termashur. 1) 14

 

“Rijkdom in onze dagen is in de eerste plaats de gelegenheid voor buitengewoon                          voordeelige belegging. Verovering in den ouden zin is uit de mode geraakt ...  

(10)

Het jagen van concessies in het buitenland en het exploiteeren van de potentieele                          rijkdommen van zwakke staten en stervende rijken wordt meer en meer een officieele                          onderneming, een nationale affaire. 

In deze fase is uitvoer van kapitaal voor de heerschende klasse gewichtiger en                          aantrek­kelijker geworden dan de uitvoer van waren. 

Imperialisme is eenvoudig de pontieke uitdrukking van de groeiende neiging van het                        Impitaal, dat opgestapeId is in de meer beschaafde industrieele landen, zich te exploiteeren                          naar de minder beschaafde en minder bewoonde”. 

“Di dalam zaman sekarang, yang dinamakan kekayaan itu ialah pertama­tama kesempatan        menjalankan modal dengan untung yang besar sekali. Perampasan negeri dengan        terang­terangan seperti zaman dulu, kini sudahlah tak laku lagi ...  

Menurut concessie­concessie di luar­negeri, dan membuka kekayaan­kekayaannya        kerajaan­kerajaan yang lembek dan negeri­negeri yang hampir mati, itulah kini makin        menjadi perusahaan officieel, perusahaan nasional. 

Di atas tingkat ini maka bagi kaum atasan adalah lebih penting dan lebih menarik­hati,        mengalirkan uang keluar daripada mengalirkan barang­barang. 

Imperialisme baresnya, ialah suatu keadaan politik, yang ditimbulkan oleh nafsu yang        makin lama makin keras daripada modal yang ditimbun­timbunkan di negeri­negeri        kepabrikan yang lebih maju, akan menggerakkan diri di negeri­negeri yang kurang maju        dan yang kurang banyak penduduk”.  

 

Bukanlah dengan dua contoh ini telah ternyata sebenar­benarnya, bahwa yang pengiraan        yang imperialisme itu kaum ambtenar, atau bangsa kulit­putih, atau pemerintah, atau “gezag”        dalam umumnya, ada salah samasekali? Tetapi marilah kita mendengarkan satu kali lagi        uraiannya seorang sosialis lain, yakni uraiannya Otto Bauer 10) yang termashur itu, yang      15       melihat di dalam modern­imperialisme itu, suatu politik melebarkan­daerah. 

suatu expansiepolitik *) yang 16

“dient steeds het doel, aan het kapitaal beleggingssfeer en afzetmarkten te verzekeren. In                          de kapitalistische volkseconomie scheidt zich elk oogenblik een deel van het                      maatschappelijke geldkapitaal uit de circulatie van het industrieele kapitaal af ... Een                        deel van het maatschappelijke kapitaal is dus elk oogehblik doodgelegd, ligt elk oogenblik                          braak. 

Is veel geldkapitaal doodgelegd, heeft het terugstroomen der vrijgekomen kapitalis­plinters                    naar de productiesferen slechts langzaam plaats, dan daalt anereest de vraag naar                        produksimiddelen en naar arbeidskrakhten. Dit beteekent het onmiddelijk dalen der prijzen                      en  winsten  in  de  productie­middelen­industrie,  de verzwaring van den va          kvereenigingsstrijd, het dalen der arbeidsloonen. Beide verchijn­selen werken echter ook                    terug op die industrieen, die de verbruiks goederen vervaardigen. De vraag naar de                          goederen, die onmiddellijk diellen tot bevrediging der menschelijke beboeften daalt, omdat                      eenerzijds de kapitalisten, die hun inkomen uit de arbeids­middelen­industrieen trekken,                    geringer insten bekomen, en omdat anderzijds de grootere werkeloosheid en de dalende                       

1510) Nationalitatenfrage p. 461 e.v.  16*)  

(11)

loonen de koopkrakht der arbeidersklasse verminderen. 

Daardoor worden ook in de bedrijven voor verbruiks­goederen de prijzen. winsten,                      arbeidsloonen kleiner; zoo heeft het afscheiden van een grooter deel van het geldkapitaal                          uit de kringloop van het kapitaal in de gezamenlijke industrie, dalende prijzen, winsten,                          loonen, vermeerderde werkloosheid, tengevolge. Deze kennis is. nu voor ons doel van groot                          belang, want nu eerst kunnen we de doeleinden van de kapitalistische beheerspolitik                        begrijpen. Ze streeft naar beleggingssferen voor bet kapitaal en naar afzetmarkten voor de                          waren. Nu begrijpen wij, dat deze geen arzondelijke opgaven zijn, doch in wezen een en                              dezelfde opgaaf. 

“selamanya bermaksud, mengasihkan kepada modal itu lapang­lapang bergerak dan pasar        penjualan barang. Di dalam rumah tangga kemodalan maka tiap­tiap waktu adalah sebagian        modal­uang yang memisahkan diri dari­pada modal yang diusahakan dikepabrikan ... Tiap        waktu oleh karenanya, maka sebagian daripada modal itu menjadilah “mati”, menjadilah        “bero” (jav.). 

Jikalau banyak modal menjadi “mati” demikian itu jikalau modal­modal yang terlepas ini        tak gampang mengalir kembali ke dalam perusahaan­perusahaan pabrik dengan cepat, maka        pertama­tama lantas menjadi kuranglah laris­nya penjualan tenaga­kaum­buruh: Ini adalah        berarti bahwa harga­harga dan untung­untung di dalam perusahaan­perusahaan yang        membikin alat­alat produksi itu dengan segera merosotlah ke bawah; perjuangan        pergerakan kaum sekerjapun menjadilah lebih berat oleh karenanya, upah­upah kaum buruh        menjadi turun. Tetapi dua­dua hal ini berpengaruh juga atas perusahaan­perusahaan yang        mem­bikin barang­barang bekal hidup. Barang­barang bekal hidup hidup sehari­hari inipun        menjadilah kurang banyak pembelinya, yakni oleh karena pertama­tama kaum modal dari        perusahaan­perusahaan alat­produksi itu kini kurang besar untungnya, dan kedua oleh        karena kelas kaum buruh itu, yang kini banyak werkloos dan upahnya turun, kekuatannya        pembeli menjadi kurang.  

Oleh karena itu, maka juga di dalam perusahaan­perusahaan bekal hidup lantas merosotlah        harga­harga, untung­untung dan upah­upah.  

Demikianlah keadaannya, bagaimana terpisahnya modal dari perusahaan­perusahaan umum        sudah berbuntutlah merosotnya harga­harga, untung­untung dan upah­upah beserta tambah        banyaknya kaum werkeloos.  

Pengetahuan ini adalah amat penting sekali bagi kita, sebab baru sekaranglah kita bisa        mengerti maksud­maksudnya politik mengungkungi negeri­negeri lain itu. Politik ini        bermaksud mencarikan lapang­lapang usaha bagi kapital dan pasar­pasar bagi        barang­barangnya. Sekarang mengertilah kita, bahwa dua hal ini bukanlah soal­soal yang        terpisah satu dari yang lainnya, tetapi di dalam hakekatnya ialah satu soal yang sama”.  Sekianlah dalil­dalil kami tentang artinya kata imperialisme dari penanya orang­orang        socialist. Marilah kita sekarang men­dengarkan keterangannya orang yang bukan socialist, yakni        keterangannya tuan Dr. J.S. Bartstra di dalam bukunya “Geschiedenis van het moderne        imperialisme”, di mana nanti akan tertampak juga kebenaran perkataan kami, bahwa        impe­rialisme itu ialah bukan regeering, bukan sesuatu anggota regeering, bukan sesuatu bangsa        asing, tetapi suatu kehausan, suatu nafsu, suatu stelsel menguasai atau mempengaruhi ekonomi        bangsa lain atau negeri lain adanya:  

(12)

het streven om de zelfbesturende kolonien, wier e trekkingen tot het moederland in het                            afgeloopen “liberaletijd­perk” vrij los waren geworden, weer vaster aan Engeland te                      verbinden. Opmerkelijk is, dat het woord deze oorspron­kelijke beteekenis geheel verloren                      heeft” . 

... langzamelhand begon het woord een andere beg ripsinhoud te krijgen: het werd nu                            het streven van die Britten, die “het rijk” een nog veal grootere koloniale uitbreiding                            wilden geven, hetzij door de verwerving van landen, die door hun aardrijkskundige Jigging                          een gevaar zouden kunnen opleveren in de handen van concurrenten, hetzlj door de hand te                              leggen op zulke gebieden, die ean goede afzetmarkt konden worden of waar veel                          grondstoffen te vinden waren voor binnen­Iandsche nijverheid, welke juist in dien tijd moor                          en meer te lijden begon te krijgen van buitenlandsche modedinging”  

“In de beteekenis van omgebreidelde koloniale uitbreiding kon het begrip weldra algemeen                        worden ... 

“Perkataan “imperialisme” mula­mula dipakainya ialah di negeri Inggeris kira­kira dalam

       

tahun 1880. Yang dimak­sudkan orang dengan kata itu ialah usaha menarikkan lebih keras        lagi pertalian yang menggabungkan koloni­koloni dengan pemerintahan sendiri. *) kepada      17     negeri Inggeris, sebab pertalian ini di dalam “zaman liberaal” adalah menjadi terlampau        longgar. Sangat menarik perhatian ialah, bahwa perkataan ini sekarang sudah hilanglah        samasekali maknanya yang mula­mula itu”. 

... lama­lama, maka perkataan­perkataan ini mendapatlah arti nafsunya itu bangsa        Inggeris, yang mau lebih melebarkan lagi daerah jajahan Inggeris dengan jajahan­jajahan        baru, baik dengan merampas negeri­negeri yang bila di tangan musuh bisa menjadi bahaya,        maupun dengan menguasai negeri­negeri yang bisa menjadi pasar­pasar­penjualan bagi        barang­barang bikinan pertukangan negeri­sendiri, atau di mana ada terdapat banyak        bekal­bekal untuk pertukangan negeri sendiri itu, yang justru        pada waktu itu, makin        menderita banyak rugi daripada persaingan negeri luaran”  

“Di dalam arti melebar­lebarkan daerah dengan jajahan­jajahan baru itu, maka faham        imperialisme itu kini menjadi umum ...”  

 

Maka sesudah itu, Dr. Bartstra lantas mengasih keterangan       lebih jauh atas penglihatannya        kaum sosialis terhadap pada imperialisme itu: 

 

“Dat het woord echter zoo'n ell01' popUlarhelt verk.t'\;.gea heeft,­ danKt het aan de                          SOClaald.emOCL”aIolI:lClle pL'Opd.ganua, we het versclllJnsel VOOrS\;eld.e als de                CO~tUmt;le van het kapitahscSClle productae­systeem. :l::l.et zijn dan ook !vJ.aI'Xistische                    sCllrijvers geweest, zooals .Houdolf .tillferd.1ng, Karl !tenner, ook de bekende B.N.                      Brailsford, die aan het woord een veel diepere en wijdere beteekenis hebDen gegeven. V                            olgens hen is het imperialisme de noodwendige buitenlandsche polltiek van staten met oon                          “overrijp kapitalisme”. Daaronder wordt daD verstaan oon kapitallsme met ver                    doorgevoerde bedrijfs ­ en bankconcentratie. Daardoor en niet het minst door de                        veranderde functie van het protectioniSDle, ­ van middel om zichzelf staande te houden                          tegenover het  

(13)

buitenland tot “dumping­stelsel”       , heeft het niet langeI genoeg aan de traditioneele                liberale denkbeelden van staatsontliouding, vrije concurrentie en pacifisme. Die zijn dan                      als het ware omgeslagen in het tegendeel daarvan, n.1. het streven om de zuiver polltieke                              makhtsmiddelen van de staat aan te wenden voor economische doeleinden, als :                        beinvloeden en veroveren van afzet­ en grond stofgebieden, ook het waarborgen der                        rentebetalingen van kapitalen, die uitgezet zijn in economisch­akhterlijke landen. 

Op het laatste punt, dat van de zg. “kapitaal­export” wordt door de genoemde schrijvers                            bijzonder de nadruk gelegd. Door het veel intenser drijven van de nijverheid, door de                            concentratie in het bankwezen en het “dumping­stelsel” waren, ­ zoo zeggen zij, ­                          ontzaglijke kapitalen opgehoopt, die in het binnenland dikwijls niet genoeg aangewend                      konden worden. Vandaar dat neer en meer de noodzakelijkheid werd gevoeld om groote                          kapitalen uit te zettcn in economischakhterlijke landen, 

natuurlijk tegen zoo hoog mogelijke interest. Men kan dan tevens bereiken, dat 

groote bestellingen werden gedaan van spoorwegen, makhines, enz. bij de eigen nijverheid.                        Gevolg van een en ander: verscherpte verhoudingen tot het buitenland, oorlogsgevaar,                      militaire expedities, “invloedssferen” in overzeesche gewesten, controle op de inkomsten                    en uitgaven van vreemde landen door consortia van Europeesche bankiers, jakht naar                        kolonien. Ziedaar het imperialisme !” 

“Sebabnya perkataan itu menjadi terkenal ke mana­mana, ialah oleh propagandanya kaum        sociaal­democraat, yang mengatakan, bahwa imperialisme itu ialah suatu keadaan yang        tidak­boleh tidak tentu dilahirkan oleh cara­produksi kemodalan. Memang kaum        Marxist­lah, sebagai Rudolf Hilferding, Karl Renner dan juga H.N. Brailsford yang terkenal        itu, yang mengasihkan kepada perkataan itu suatu arti yang lebih dalam dan lebih lebar lagi.        Menurut mereka, maka imperialisme itu ialah politik­luar­negeri yang tidak­boleh tidak        pasti dijalankan oleh negeri­negeri yang kapitalismenya sudah terlampau matang. Yang        mereka maksudkan dengan kata­kata belakangan ini ialah: suatu kapitalisme yang        aturan­aturan perusahaan dan aturan­aturan banyaknya sudah sangat rapat tergabung        tersusun­nya. Oleh sebab inilah, dan bukan buat bagian kecil, juga oleh rubahnya        pekerjaannya protectionisme, − dulu protectionisme ini cuma buat melindungi        negeri­sendiri saja terhadap pada persaingannya negeri­luaran, sekarang ia sudah menjadi        stelsel “dumping”− *) maka kapitalisme yang demikian itu tak puaslah lagi dengan  18       faham­faham liberal yang biasanya, yakni faham yang mana staat tak boleh ikut campur di        dalam urusan partikelir, faham persaingan merdeka, dan faham menjunjung tinggi altar        perdamaian. 

Faham­faham ini seolah­olah terputarlah sama­sekali men­jadi sebaliknya, yaitu menjadi        nafsu memperusahakan kekuasaan­politik daripada staat itu guna kepentingan­kepentingan        rezeki, misalnya guna merebut dan mem­pengaruhi pasar­pasar perdagangan dan        tempat­tempat pengambilan bekal­bekal kepabrikan, beserta guna menjaga supaya        bunganya modal­modal, yang dijalankan di negeri­negeri yang ekonominya rendah, tidak        terganggulah suburnya. Fatsal yang belakangan inilah, yakni fatsal pengaliran kapital ke        negeri luar, oleh penulis­penulis tadi sangat sekali ditunjukkan kepentingannya.        Tersebabkan oleh banyak lebih keras bekerjanya pertukangan, tersebab­kan oleh        pergabungannya bank­bank, dan tersebabkan oleh stelsel dumping, maka, begitulah mereka       

(14)

berkata menjadi bukan mainlah banyaknya modal yang tertimbun­timbun­kan, yang di        dalam negeri sendiri sering tak cukup kesem­patan buat menjalankan. Itulah sebabnya,        yang Makin lama lantas makin terasalah perlunya menjalankan banyak modal di        negeri­negeri asing yang ekonominya masih mundur, tentu saja dengan bunga yang        setinggi­tingginya. Selainnya dari itu lantas bisalah juga tercapai, yang industri di        negeri­sendiri lantas mendapat pesanan yang besar daripada alat­alat jalan kereta­api,        mesin­mesin dll. Buntut satu dengan lainnya ialah: sikap negeri­negeri luaran menjadi lebih        “panas”, bahaya peperangan, pengiriman­pengiriman mili­tair, daerah­daerah­pengaruh” di        negeri­negeri seberang, pengawasan atas keluar­masuknya uang di negeri­negeri asing oleh        serikat­serikat kaum bankir Europah, pemburuan mencari negeri jajahan. Itulah        imperialisme!” 

 

Akhirnya maka Dr. Bartstra sekali lagi mengatakan dengan saksama apa yang ia sebutkan        modern­imperialisme: 

“Onder modern­imperialisme wordt verstaan het streven naar ongelimiteerde uitbreiding                  van koloniaal bezit, zooals dat in de periode :f: 1880 tot heden de buitenlandsche staat  kunde van bijna aIle groote cultuurlanden dreef, in hoofdzaak ten bate van hun industrie en                              bank­kapitaal. 

Het is in het minst niet de eenige, zelfs niet. op aIle momenten de meest frappante van de                                    zeer verschillende beweeg krachten van het tijdvak geweest, maar wel is het in zijn                            gevolgen een der meest gewichtige geworden, omdat het toonneel der algemeene                      geschiedenis erdoor is uitgebreid, voor het eerst en voor goed, over de geheele aarde”. 

“Yang disebutkan modern­imperialisme ialah nafsu me­lebarkan jajahan dengan        tak­berbatas, sebagaimana semen­jak th. 1880 sampai sekarang menjadi penyorongnya        politik luar negeri dari hampir semua negeri­negeri besar, terutama guna kepentingan        industri sendiri dan modal­bank­sendiri. 

Imperialisme ini bukan sekali­kali tenaga­penyorong yang satu­satunya daripada zaman        tersebut, malahan bukan yang paling membangunkan perhatian daripada tenaga­tenaga        penyorong yang bermacam­macam daripada zaman itu, − tetapi di dalam buntut­buntutnya        ia adalah menjadi yang paling penting, yakni oleh karena lapang­sifatnya riwayat­dunia        menjadi dilebarkanlah olehnya, sampai ke seluruh muka­bumi, − buat pertama kali ini        seterusnya. 

 

Begitulah artinya modern­imperialisme.  Dan artinya perkataan imperialisme­tua? 

Imperialisme­tua, sebagai yang kita alamkan dalam abad­abad sebelumnya bagian­kedua        dari abad ke 19        −, imperialisme­tua di dalam hakekatnya adalah sama dengan        imperialisme­modern: nafsu, zucht, streven, neiging, stelsel untuk menguasai atau        mempengaruhi rumah­tangganya negeri lain atau bangsa lain, nafsu untuk melancarkan tangan        keluar pagar negeri­sendiri. Sifatnya lain, azas­azasnya lain, wujutnya lain,       − tetapi hakekatnya,    wezennya sama! 

(15)

Di dalam abad­abad yang pertama atau di dalam abad ke 19, di dalam abad ke 16 atau ke        20,   −dua­duanya adalah Imperialisme! Imperialisme,         ​− begitulah kami katakan tadi         −​, adalah  

terdapat pada semua zaman! Ya, sebagai Prof. Jos. Schumpeter mengatakan: 

“is zoo oud als de wereld”, “de ongebreidelde lust van een staat om zich gewelddadig uit                                te breiden buiten zijn natuurlijke grenzen” 

“adalah sama­tuanya dengan dunia”,         − nafsu yang tiada berhingga daripada sesuatu staat,       

melebar­lebarkan daerah­nya keluar­pagar dengan kekerasan dan perkosaan”.   

Imperialisme mana   − juga yang kita ambil, imperialisme­tua atau imperialisme­modern,      − 

bagaimana juga kita bolak­balikkan, darimana juga kita pandangkan,       − imperialisme tetap­lah   

suatu faham, suatu nafsu, suatu neiging, suatu zucht, suatu lust, suatu streven, suatu stelsel,       −dan  bukan ambtenaar B.B., bukan pemerintahan, bukan gezag, bukan bangsa Belanda, bukan bangsa        asing manapun jua,  pendek­kata bukan lichaam, bukan manusia, bukan benda atau materie! 

Nafsu, neiging, zucht atau stelsel ini sejak zaman purbakala sudahlah menimbulkan        politik­luar­negeri, menimbulkan perse­teruan dengan lain negeri, menimbulkan perlengkapan        senjata­darat dan senjata­armada, menimbulkan perampasan­perampasan negeri asing,        menimbulkan koloni­koloni yang diambili rezeki­nya,       − zaman modern ia menimbulkan        “Bezugliinder” yakni tempat pengambilan bekal kepabrikan, menimbulkan afzetge­bieden atau        pasar­pasar penjualan hatsilnya kepabrikan itu, menimbulkan lapang bergerak bagi modal yang        tertimbun­timbun,  menimbulkan  “daerah­pengaruh”,  menimbulkan  “pro­tectoraten”,  menimbulkan “negeri­negeri mandaat” dan koloni­koloni dan macam­macam “lapang­lapang        usaha” lain­lain, sehingga imperialisme adalah juga suatu bahaya bagi negeri­negeri yang        merdeka. 

Baik “daerah­daerah­pengaruh” maupun­negeri­negeri­mandaat”, baik “protectoraten”          maupun “koloni­koloni”,     −semuanya terjadinya begitu sebagai ternyata pula dari dalil­dalil kami        tadi itu, untuk pencarian rezeki atau untuk penjagaan pencarian rezeki, semuanya ialah hasilnya        keharusan­keharusan urusan ekonomi. Partai Nasional Indonesia menolak semua teori, yang        mengatakan bahwa asal­asalnya kolonisatie dalam hakekat­nya ialah bukan pencarian rezeki,        menolak semua teori yang mengajarkan, bahwa sebab­sebabnya rakyat Europa dan Amerika        mengembara di seluruh dunia dan mengadakan koloni di mana­mana itu, ialah keinginan        mencari kemashuran, atau keinginan kepada segala hal yang asing, atau keinginan menye­barkan        kemajuan dan kesopanan. Teorinya Gustav Klemm yang mengajarkan, bahwa menyebarnya        bangsa­menang” kemana­mana itu selainnya oleh nafsu mencari kekayaan ialah terdorong pula        oleh “nafsu mencari kemashuran”, “nafsu mencari keakuran”, “nafsu melihat negeri­asing”,        “nafsu mengumbara merdeka”, atau teorinya Prof. Thomas Moon, yang mengatakan, bahwa        imperialisme itu selainnya berazas ekonomi juga adalah berazas nationalisme dll., sebagai ia        diuraikan dalam ia­punya buku “Imperialism and World­politics”,       −teori­teori itu buat sebagian       

besar kami tolak sama sekali. Tidak! bagai Partai Nasional Indonesia penjadahan itu asal­asalnya        yang dalam, asal­asalnya yang diepliggend dan fundamonteel, ialah nafsu mencari benda, nafsu        mencari rezeki belaka adanya. 

“De eerste oorzaak tot kolonisatie is bijna altijd de beenging der levensverhoudingen in het                            eigen land”. 

“Asal­asalnya kolonisasi yang paling penting ialah hampir selamanya sempitnya keadaan        rezeki di negeri­sendiri”. 

(16)

 

begitulah Prof. Dietrich Schafer menulis 1), dan Dernburg, kolonialdirector negeri Jerman        19       sebelumnya perang, dengan terus­terang mengakui pula: 2) 20

“Koloniseeren is het geschikt maken van den grond, van zijn onderaardsche schatten, van                          de flora, van de fauna, en vooral van de bevolking, ten gunste van de economische                              behoeften van de koloniseerende natie” ... 

“Penjajahan adalah usaha­mengolah tanah, mengolah tambang­tambang, mengolah        tanaman­tanaman mengolah sesatoan, dan terutama sekali adalah usaha mengolah        penduduknya, bagi keperluan rezekinya bangsa yang menjajahkan ... 

 

O, memang, Tuan­tuan Hakim, penjajahan membawa pengetahuan, penjajahan membawa        kemajuan, penjajahan mem­bawa kesopanan. Tetapi maksud yang sedalam­dalamnya ialah        urusan rezeki, atau sebagai Dr. Abraham Kuyper menulisnya di dalam ia­punya buku        “Antirevolutionaire staatkunde”:  “suatu urusan perdagangan”, “een mercantiele betrekking”! 

“Kolonis zonder eigen gezins­kolonisatie geven kans om het land van de Inlanders tot rijke                            productie te brengen, er de mijnen te ontginnen, er onze koopwaren ter markt te brengen,                              en omgekeerd aan koopwaren der kolonie ten onzent een markt te doen vinden, maar het                              verband blijft economisch. Het gaat om ontginningen, om fabricage, am marktverkeer en                        handel over zee, maar tot zelf in taal en zeden, en vooral in de religie kan het bezettende                                    volk zich tegenover het onderworpen volk geheel vreemd houden. Het is en blijft een                            mercantiele betrekking, die het bezettende land verrijkt en het bezette land niet zelden                          verarmt”. 

“Kolonis”,   − begitulah pemimpin besar ini menulis 1), ”kolonis zonder penanaman        21        

sumah­sumah kulit putih buat berdiam menjadi penduduk di koloni itu selama­lamanya,        adalah mengasih kesempatan menyuburkan perhasilannya negeri bumiputera itu, menggali        tambang­tambangnya, menjual barang kita disitu dan sebaliknya mencarikan pasar­pasar        urusan rezeki. Urusan ini ialah urusan pem­bukaan tanah, urusan memberikan        barang­barang urusan pasar dan perdagangan seberang­laut, tetapi sampai di dalam urusan        bahasa dan adat­istiadatpun, dan terutama sekali di dalam urusan agamanya rakyat yang        kalah itu maka bangsa yang menang bisalah juga tak ikut campur sama­sekali. Urusan ini        adalan dan tetaplah urusan per­dagangan, yang mengayakan negeri yang menjajahkan dan        yang tak jarang memelaratkan negeri yang dijajahkan. 

 

Dan Brailsford di dalam bukunya yang paling baru 2) adalah berkata: 22

“Het imperialisme heeft het prachtige epos van zijn durf en organiseerend genie in de                            aardkorst zelve gegrijpt van het met ijs bedekte Siberie tot de zandvlakten van Zuid­Afrika.                            Doch de geschenken aan opvoeding, intellectueele prikkels en menschelijker bestuur, die                      het meebrengt, zijn steeds bijprodu'cten van zijn zelfzuchtige activiteit. Deze gaven te                        schenken is zelden, zoo nooit, het motief van zijn robuste pioniers. Indien zij eenige motief                              hebben, dat een weinig hoogeI' staat dan materieele winst, is het de glorie en de                             

191) Kolonial Geschichte p.12. 

202) Bij Douwes­Dekker, Kolonial ideaal  211) Bij Snouk Hurgronje, Colijn over Indie  222) Hoe lang nog? p.227 e.v. 

(17)

vergrooting van het moederland. Doch de drang, die hen, naar deze “plaatsen in de zon”                              drijf was gewoonlijk, of de begeerte om een markt van grondstoffen te monopoliseeren, of                            de nog lager berekening, dat er een goedkoope en ongeorganiseerde massa arbeidskracht                        ligi te wachten, om geexploiteerd te worden. Wanneer het dit aIles niet is, is het een                                berekening, die ontspringt uit het spel van materieele belangen met geographische                      gegevens ... 

Het bijproduct van de beschaving is een gemak, dat al te duidelijk onze eigen bedoelingen                              dient.” 

“Imperialisme itu sudahlah menguraikan ia­punya sejarah kegagahan dan iapunya sejarah        kecerdikan menyusun di atas muka­bumi sendiri, dari Siberia yang tertutup air­beku itu        sampai ke padang­padang pasir di Afrika­Kidul. Tetapi anugerah­anugerah pendidikan,        kemajuan­pikiran dan aturan­memerintah yang lebih layak, yang ia bawa, hanya­lah        “rontongan­rontongan” saja dari ia­punya keasyikan yang angkara­murka itu. Mengasihkan        “anugerah­anugerah” ini, tak pernahlah menjadi maksud bagi barang­barang perdagangan        koloni di negeri kita,         − tetapi urusan ini tetaplah yang pertama­tama dari pemuka­pemuka        yang gagah itu. Bila umpamanya mereka benar­benar mem­punyai maksud yang agak lebih        tinggi sedikit daripada keuntungan benda, maka itu ialah maksud menambahkan kebesaran        dan kemuliaan tanah tumpah darahnya sendiri. Tetapi nafsu yang mendorongkan mereka        pergi  ke­”tempat­tempat  di  cahya  matahari”  ini,  biasanya  ialah  keinginan  menggagahi­sendiri sesuatu pasar bekal­bekal kepabrikan, atau ialah perhitungan yang        lebih durjana lagi, bahwa disitu adalah tersedia rakyat­buruh yang murah harga dan tak        tersusun, yang mereka nanti bisa suruh bekerja mandi keringat. Jikalau bukan hal­hal ini        semuanya, maka mereka adalah terdorong oleh suatu perhitungan yang timbul daripada        campurannya alasan­alasan­kekayaan dengan alasan­alasan­daerah ... 

Rontongan kesopanan itu tadi, nyatalah suatu keperluan bagi kita­punya kepentingan        sendiri”. 

 

Tidakkah benar sekali oleh karenanya, kalau Prof. Anton Menger menulis: 

“Het ware doel der kolonisatie is de exploitatie van een volk, dat op een lageren trap van                                  ontwikkeling staat; in vrome tijden verbergt men dit achter het mom van “Christendom” en                            in verlichte tijden achter dat van ‘beschaving’ der Inlanders” , 

“Maksud penjajahan yang sebenar­benarnya ialah menarik keuntungan daripada kerjanya        suatu rakyat yang lebih rendah tingkat­kemajuannya; di zaman­alim maksud ini ditutupilah        dengan kedok “Agama Kristen” ; dan di zaman­kemajuan dengan kedok ‘mau        menyopankan’ bumiputera”,  

 

atau kalau Friedrich Engels bersenda­gurau : 

“De Engelschen zeggen altijd Christendom en meenen dan katoen”? 

“Bangsa Inggeris selamanya berkata Christendom, tetapi yang dimaksudkan sebenarnya        ialah kapas”? 

 

Nafsu akan rezeki, Tuan­tuan Hakim, nafsu akan rezekilah yang menjadi penyorongnya        Columbus menempuh samudra Atlantika yang luas itu; nafsu akan rezekilah yang menyuruh       

(18)

Bartholomeus Diaz dan Vasco de Gama menentang hebatnya gelombang samudra Hindia;        pencarian rezekilah yang menjadi “noordster” dan “kompasnya” 1) Admiraal Drake,      23       Magelhaens, Heemskerk atau Cornelis de Houtman. Nafsu akan rezekilah yang menjadi        nyawanya compagnie di dalam abad ke­17 dan ke­18; nafsu akan rezekilah pula yang menjadi        sendi­sendinya balapan cari jajahan di dalam abad ke 19, yakni sesudah modern­kapitalisme        menjelma di Eropah dan Amerika. 

Sebelum zaman modern­kapitalisme itu, maka bangsa Inggeris sudahlah menguasai        sebagian dari Amerika, sebagian dari Hindustan; sebagian dari Australia dan lain­lain        sebagainya, yakni sudahlah menaruh sendi­sendinya “British Empire”, nanti­nya,       − sudahlah 

bangsa Perancis menguasai sebagian pula dari Amerika dan sebagian juga dari Hindustan,       

sudahlah bangsa Portugis mengibarkan benderanya di Amerika­Kidul dan di beberapa tempat di        seluruh Asia,     −sudahlah bangsa Spanyol menguasai Amerika­Tengah dan kepulauan Philipina,       ​−

sudahlah bangsa Belanda menduduki Afrika­Kidul, beberapa bagian kepulauan Indonesia,        terutama Maluku, Jawa, Celebes­Kidul dan Sumatera. Sudahlah di zaman itu kita melihat        hebatnya tenaga­berusaha daripada nafsu mencari rezeki itu tadi, yakni geweldige       

daadkracht­nya imperialisme tua adanya!  

Dan tatkala modern­kapitalisme beranak modern­impe­rialisme, maka kita menjadi saksi        atas “balapan cari jajahan” yang seolah­olah tiada terhingga! Kini orang Inggeris sudah bisa        mengusir bangsa Perancis dan Portugis dan Belanda dari Hindustan. Tiada imperialismenya,        tiada hingganya lagi bendera Inggeris ditanam kemana­mana, tiada puas­puasnya kehausan        kapitalisme Inggeris mencari dan meminum sumber­sumber kekayaan di luar pagar daripada       

“hetrijk” sendiri,     − tiada suatu benua yang tak mendengar dengungnya pekik­perjuangan        imperialisme Inggeris:    “When Britain first on Heaven's command.  Arose from out the azure main.  This was be charter of the land.  And angelic voices sung this strain.  Rule, Britannia, rule the waves!  Britons never shall be slaves!”  “Ketika Inggeris atas sabdanya Gusti.  Menjelma dari samudera biru.  Itu memanglah haknya negeri.  Dan bidadari menyanyikan lagu.  Perintahlah, Inggeris, perintahlah ombak!  Bangsa Inggeris tak menjadi budak !”   

Hindustan takluk Singapore dan Malaka diduduki. Tiong­kok direbut haknya menetapkan        bea dan hak­hak exterritoriaal, beserta dibikin “daerah­pengaruh” dengan jalan keras dan jalan        “halus­halusan”. Egypte “diperlindungi”. Mesopotamia “dimandati”, Hongkong, kepulauan Fiji,        West­India, Kepulauan Falkland, Gibraltar, Malta, Cyprus, Afrika, ... imperialisme Inggeris       

(19)

seolah­olah tiada puasnya! Dan negeri­negeri yang lain­lain? Negeri yang lain­lainpun ikut lari        di dalam balapan ini: 

Perancis menaruhkan kakinya di Afrika­Utara, di Indo­China, di Martinique, di        Guadeloupe, di Reunion, di Guyana, di Somali, di Nieeuw­Caledonia,       −Amerika merebut Cuba,     

Portoriko, Philipina, Hawaii dll.,         − Jerman melancar­lancarkan tangan imperialisme ke pulau       

Marshall, ke Afrika Barat­Timur, ke Togo, ke Kamerun, ke pulau­pulau Carolinen, ke        Kiautsjiau, kekepulauan Marianen, geger perkara Marokko dan lain­lain,       − Italia hibuk    memperusahakan  ia­punya  pendudukan  Assab  dekat  selatan  Bab  El  Mandeb,  mengatur­ngaturkan kekuasannya di Afrika­Utara, mengambil Kossala, mencoba menaklukkan        Abessinia, mengaut­aut di Tripola dan lain­lain pula. 

Bahwasanya, balapan mencari kolonie yang kita alamkan di dalam zaman        modern­kapitalisme itu, yang mengaut­aut ke kiri dan ke kanan dan memasang mulut serta        mengulur­ulurkan kukunya sebagai Maha­Kala yang angkara­murka,       −balapan mencari koloni     

ini tak adalah persamaannya di seluruh riwayat manusia. 

Dan di Asia sendiripun         − modern­imperialisme itu mem­buktikan asal­turunannya:       

Asal­turunannya daripada kekacauan­kekacauan ekonomi, anak daripada kapitalisme, yang di        dalam lingkungan rumahtangga sendiri kekurangan lapang usaha. Di atas sudah kami katakan,        bahwa imperialisme itu bukan tabiat bangsa kulit­putih saja, bukan “kejahatan­hati” kulit­putih        saja:   −Bukan saja modern­imperialisme, tetapi juga imperialisme­tua adalah kita dapatkan pada       

mana­mana bangsa. Kita ingat akan imperialisme bangsa Tartar yang di dalam abad ke­13 dan        ke­14 sebagai “angin simum” menakluk­naklukkan sebagian besar dari benua Asia; kita ingat        akan imperialisme bangsa­bangsa Aria, Machmud Gazni dan Barber yang memasuki negeri        Hindustan; kita ingat akan imperialisme Sriwijaja yang menaklukkan pulau­pulau sekelilingnya;        kita ingat akan imperialisme Majapahit, yang menguasai hampir semua kepulauan Indonesia        beserta Malaka. Tetapi modern­imperialisme Asia barulah kita lihat pada negeri Jepang tempo        yang akhir­akhir ini: modern­imperialisme di Asia. adalah suatu “barang­baru”, suatu unicum,        suatu nieuwigheid; memang hanya negeri Jepang saja daripada negeri­negeri Asia yang sudah        masuk ke dalam modern­kapitalisme itu. Modern­kapitalisme Jepang yang butuh akan        minyak­tanah dan arang­batu, modern­kapitalisme Jepang yang juga membangkitkan tambahnya        penduduk yang deras sekali sehingga melahirkan nafsu mencari negeri­negeri       emigratie *),24    

modern­kapitalisme Jepang itu membikin rakyat Jepang lupa akan keksatriaannya dan        menamakan kuku­kuku­cengkeraman­nya di penanjung Sachalin dan Sohalin dan Korea dan        Manchuria. 

Nama, “kami­punya rakyat­rakyat Asia yang diperbudak­kan” bagi Jepang, nama itu adalah        suatu barang bohong, suatu barang justa, suatu impian kosong bagi nationalisten kolot, yang        mengira bahwa Japanlah yang akan membentuk kepada imperialisme Barat dengan dengungan        suara: “Berhenti!”.     − Bukan membentak “berhenti!”, tetapi dia sendirilah ikut menjadi       

belorong­imperialisme yang angkara­murka! Dia sendirilah yang ikut menjadi hantu yang        mengancam keselamatan negeri Tiongkok, dia sendirilah yang nanti di dalam perguletan        maha­hebat dengan belorong­belorong­imperialisme Amerika dan Inggeris ikut membahayai        keamanan dan keselamatan negeri­negeri sekeliling Lautan­Teduh, dia sendirilah salah satu        belorong yang nanti akan perang­tanding di dalam perang Pacifik! 

Referensi

Dokumen terkait