SKRIPSI
ANALISIS KONTRIBUSI PETANI PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN KELUARGA
DITINJAU DARI PERPEKSTIF EKONOMI ISLAM (DESA LAMKUNYET KECAMATAN DARUL KAMAL
KABUPATEN ACEH BESAR)
Disusun Oleh:
Nurhaliza NIM. 160602115
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
BANDA ACEH 2020 M / 1442 H
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah dijalan Allah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum
datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafaat dan orang-orang kafir itulah yang zalim”
(Al-Baqarah[2]:254)
“Sedekah Tidak Mengurangi Harta Tetapi Menambah Keberkahan”
vii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kontribusi Petani Perempuan Dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga Ditinjau Dari Perspektif Ekonomi Islam (Desa Lamkunyet Kecamatan Darul Kamal Aceh Besar)” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Shalawat beserta salam penulis sampaikan kepada baginda Rasullullah Muhammad SAW, yang telah membawa risalah Islam sebagai tuntunan hidup yang sempurna bagi seluruh manusia. Kemudian Shalawat dan Salam juga kepada keluarga dan sahabat Rasulullah SAW.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini merupakan hasil kerja keras, namun juga tidak terlepas dari dukungan, arahan, dan bimbingan serta doa restu dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Zaki Fuad, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry.
2. Dr. Nilam Sari, M.Ag dan Cut Dian Fitri, SE., M.Si., Ak., CA selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry.
viii
3. Muhammad Arifin, Ph.D dan Rina Desiana, ME selaku Ketua dan Sekretaris Lab Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry.
4. Dr. Nevi Hasnita, M. Ag dan Dara Amanatillah, M.Sc Finn selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyak memberi waktu, pemikiran serta pengarahan baik berupa saran maupun arahan menuju perbaikan.
5. Dr. Analiansyah, S. Ag., M. Ag selaku penguji I dan Rina Desiana, M.E selaku penguji II yang telah meluangkan waktu dan memberikan masukan kepada penulis.
6. Seri Murni, SE., M.Si., Ak selaku Penasehat Akademik yang telah memberikan informasi dan pengarahan selama penulis menempuh perkuliahan.
7. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry yang telah banyak memberikan bantuan dan kemudahan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. 8. Terima kasih kepada perangkat desa dan seluruh informan
di Desa Lamkunyet yang telah bekerjasama dan berkontribusi dalam penelitian ini, sehingga penulis bisa menyelasaikan skripsi ini.
9. Kedua orang tua tercinta, ayahanda Hasanuddin dan ibunda Nurlaili yang senantiasa memberikan kasih sayang, cinta, doa serta motivasi yang tiada hentinya agar penulis memperoleh yang terbaik, didikan, dukungan serta semua jasa yang tidak ternilai harganya yang telah diberikan
ix
selama ini. Kakak dan adik, yang selalu mendoakan yang selalu memberikan semangat dan motivasi dalam menjalankan perkuliahan dan menyelesaikan penulisan ini guna memperoleh gelar sarjana dan ilmu yang diperoleh berkah juga bermanfaat bagi seluruh umat di muka bumi. 10. Sahabat-sahabat terbaikku Hanipah, Zialetha, Adhini,
Marza, Karin, Rizna, Heni, Balqis, Mirza, Fahrul, wais yang selalu memberikan dukungan penuh selama menempuh studi di UIN Ar-Raniry.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu dan mohon maaf kepada semua pihak baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih ada kekurangan, oleh karena itu penulis harapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.
Banda Aceh, 12 Juni 2020 Penulis,
x
TRANSLITERASI ARAB-LATIN DAN SINGKATAN Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K Nomor: 158 Tahun 1987 – Nomor: 0543 b/u/1987 1. Konsonan
No Arab Latin No Arab Latin
1 ا Tidak dilambangkan 16 ط Ṭ 2 ب B 17 ظ Ẓ 3 ت T 18 ع ‘ 4 ث Ṡ 19 غ G 5 ج J 20 ف F 6 ح H 21 ق Q 7 خ Kh 22 ك K 8 د D 23 ل L 9 ذ Ż 24 م M 10 ر R 25 ن N 11 ز Z 26 و W 12 س S 27 ه H 13 ش Sy 28 ء ’ 14 ص Ṣ 29 ي Y
xi
15 ض Ḍ
2. Vokal
Vokal Bahasa Arab, seperti vocal bahasa Indonesia, terdiri dari vocal tunggal atau monoftong dan vocal rangkap atau diftong.
a. Vokal Tunggal
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin
َ Fatḥah A
َ Kasrah I
َ Dammah U
b. Vokal Rangkap
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf, transliterasinya gabungan huruf, yaitu:
Tanda dan Huruf
Nama Gabungan Huruf
ي َ Fatḥah dan ya Ai
xii Contoh:
kaifa : فيك haula : لوه 3. Maddah
Maddah atau vocal panjang yang lambangnya berupa harkat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harkat dan Huruf
Nama Huruf dan Tanda
ا َ/ ي Fatḥah dan alif atauya
Ā
ي َ Kasrah dan ya Ī
ي َ Dammah dan wau Ū
Contoh: qāla : لا ق ramā : ى م ر qīla : لْي ق yaqūlu : ل ْو ق ي 4. Ta Marbutah (ة)
Transliterasi untuk ta marbutah ada dua. a. Ta marbutah (ة) hidup
xiii
Ta marbutah (ة) yang hidup atau mendapat harkat fatḥah, kasrah dan dammah, transliterasinya adalah t.
b. Ta marbutah (ة) mati
Ta marbutah (ة) yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah h.
c. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya ta marbutah (ة) diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta marbutah (ة) itu ditransliterasikan dengan h.
Contoh:
rauḍah al-aṭfāl/ rauḍatulaṭfāl : ْلا فْط لَْا ة ض ْو ر al-Madīnah al-Munawwarah/ : ة ر ّو ن مْلا ة نْي د مْل ا
al-Madīnatul Munawwarah
Ṭalḥah : ْة حْل ط Catatan:
Modifikasi
1. Nama orang berkebangsaan Indonesia ditulis seperti biasa tanpatransliterasi, seperti M. Syuhudi Ismail, sedangkan nama-nama lainnya ditulis sesuai kaidah penerjemahan. Contoh: Ḥamad Ibn Sulaiman.
2. Nama Negara dan kota ditulis menurut ejaan Bahasa Indonesia, seperti Mesir, bukan Misr; Beirut, bukan Bayrut; dan sebagainya.
xiv
3. Kata-kata yang sudah dipakai (serapan) dalam kamus Bahasa Indonesia tidak ditransliterasi. Contoh: Tasauf, bukan Tasawuf.
xv ABSTRAK
Nama : Nurhaliza
NIM : 160602115
Fakultas/Program Studi : Ekonomi dan Bisnis Islam/Ekonomi Syariah
Judul : Analisis Kontribusi Petani Perempuan Dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga Ditinjau Dari Perspektif Ekonomi Islam (Desa Lamkunyet Kecamatan Darul Kamal Aceh Besar) Pembimbing I : Dr. Nevi Hasnita, M.Ag
Pembimbing II : Dara Amanatillah, M.ScFinn
Perkembangan zaman dalam kehidupan ini menjadikan kebutuhan dalam keluarga meningkat sehingga mendorong perempuan untuk ikut bekerja. Perempuan di Desa Lamkunyet bekerja sebagai petani untuk membantu menunjang perekonomian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga ditinjau dari perspektif ekonomi Islam di desa Lamkunyet kecamatan Darul Kamal Aceh Besar. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Petani perempuan yang bekerja sangat membantu kondisi perekonomian keluarga. Dan perempuan yang berkerja sebagai petani di desa Lamkunyet sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.
Kata Kunci : Petani perempuan, Perekonomian
xvi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL KEASLIAN ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN SKRIPSI ... iii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
HALAMAN TRANSLITERASI ... x
ABSTRAK ... xv
DAFTAR ISI ... xvi
DAFTAR TABEL ... xviii
DAFTAR GAMBAR ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Sistematika Penulisan... 9
BAB II LANDASAN TEORI ... 11
2.1 Petani Perempuan dan Kontribusinya Terhadap Perekonomian Keluarga ... 11
2.1.1 Perempuan Berperan Sebagai Petani ... 12
2.1.2 Konsep Perempuan Bekerja dalam Islam ... 14
2.2 Peranan Perempuan dalam Keluarga ... 20
2.3 Hak dan Kewajiban Perempuan Pekerja ... 26
2.4 Konsep Gender ... 27
2.5 Perekonomian Keluarga ... 28
2.5.1 Peranan Perempuan dalam Perekonomian Keluarga Secara Islam ... 30
2.5.2 Konsep Kesejahteraan Keluarga ... 33
2.6 Teori Pembangunan Ekonomi Islam ... 44
2.7 Penelitian Terkait ... 47
xvii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 53
3.1 Desain Penelitian ... 53
3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 53
3.3 Populasi dan Sampel ... 54
3.4 Sumber Data ... 55
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 55
3.6 Analisis Data ... 58
BAB IV PEMBAHASAN ... 60
4.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 60
4.1.1 Gambaran Umum Konsdisi dan Lokasi Penelitian ... 60
4.1.2 Peta Wilayah ... 61
4.2 Analisis Hasil ... 61
4.2.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 62
4.3 Kontribusi Petani Perempuan dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga di Desa Lamkunyet Aceh Besar ... 66
4.4 Tinjauan Kontribusi Petani Perempuan Dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga Dari Perpekstif Ekonomi Islam Di Desa Lamkunyet Kecamatan Darul Kamal Kabupaten Aceh Besar ... 107
BAB V PENUTUP ... 111
5.1 Kesimpulan ... 111
5.2 Saran ... 111
DAFTAR PUSTAKA ... 113
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk Desa Lamkunyet Berdasarkan Jenis Kelamin ... 6 Tabel 1.2 Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Desa ...
Lamkunyet ... 6 Tabel 2.1 Penelitian Terkait ... 47 Tabel 4.1 Keadaan Umum Informan Berdasarkan Umur ... 62 Tabel 4.2 Keadaan Umum Informan Berdasarkan
Tingkat PendidikanTerakhir ... 63 Tabel 4.3 Keadaan Umum Informan Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Terakhir Suami ... 63 Tabel 4.4 Keadaan Umum Informan Berdasarkan Jumlah
Anak Yang Menjadi Tanggungan Dalam Keluarga 64
Tabel 4.5 Keadaan Umum Informan Berdasarkan Pekerjaan Suami ... 65
Tabel 4.6 Keadaan Umum Informan Berdasarkan Pendapatan Suami ... 66
xix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran... 51 Gambar 4.1 Peta Lokasi Penelitian ... 61 Gambar 4.2 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Anggota Keluarga
Makan Dua Kali Sehari atau lebih?” ... 92 Gambar 4.3 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Anggota Keluarga Memiliki Pakaian yang Berbeda Dirumah,
Bekerja/Sekolah dan Bepergian?” ... 93 Gambar 4.4 Tanggapan Informan Mengenai Mengenai
Pertanyaan “Apakah Rumah yang
Ditempati Keluarga Mempunyai Atap, Lantai dan Dinding yang Baik?” ... 94 Gambar 4.5 Grafik Tanggapan Informan Mengenai ...
Pertanyaan “Apabila Ada Anggota Keluarga Sakit apakah Dibawa ke Sarana Kesehatan?” .. 95 Gambar 4.6 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan ... “Apabila Pasangan Usia Subur Ingin Ber KB Pergi Apakah Dibawa ke
Sarana Pelayanana Kontrasepsi?” ... 96 Gambar 4.7 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Semua Anak Umur 7-15 Tahun Dalam Keluarga Bersekolah?” ... 97 Gambar 4.8 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah anggota
keluarga melaksanakan ibadah sesuai
xx
Gambar 4.9 Grafik Tanggapan Informan Mengenai Pertanyaan “Apakah Paling Kurang Sekali
Seminggu Seluruh Anggota Keluarga
Mmakan Daging/Ikan/Telur?” ... 99 Gambar 4.10 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Seluruh Anggota ... Keluarga Memperoleh Paling Kurang Satu
Stel Pakaian Baru Dalam Setahun?“ ... 100 Gambar 4.11 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Luas Lantai Rumah Paling Kurang 8 m2 untuk Setiap
Penghuni Rumah?” ... 101 Gambar 4.12 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Tiga Bulan Terakhir Keluarga Dalam Keadaan Sehat Sehingga Dapat Melaksanakan Tugas/Fungsi
Masing-Masing?” ... 102 Gambar 4.13 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Aada Seorang atau Lebih Anggota Keluarga yang Bekerja
untuk Memperoleh Penghasilan?” ... 103 Gambar 4.14 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Seluruh Anggota Keluarga Umur 10 – 60 Tahun Bisa Baca
Tulis Latin?” ... 104 Gambar 4.15 Grafik Tanggapan Informan Mengenai
Pertanyaan “Apakah Pasangan Usia Ssubur dengan Anak Dua atau Lebih Menggunakan Alat/Obat Kontarsepsi?” ... 105
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan keluarga semakin meningkat, sementara di sisi lain harga kebutuhan terlampau tinggi sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pendapatan dan kebutuhan. Hal ini memicu masyarakat baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan untuk berkerja lebih giat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Peran perempuan yang bekerja sangat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga termasuk dalam bidang ekonomi. Dengan adanya peran ganda perempuan dapat meningkatkan penghasilan keluarga dimana hal ini akan berdampak langsung terhadap kualitas kehidupan keluarga baik dari segi kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Salaa (2015) menjelaskan bahwa seiring dengan perkembangan ekonomi di Indonesia yang semakin pesat membuat kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang semakin meningkat mewajibkan masyarakat untuk lebih giat dalam melakukan pekerjaan agar mendapatkan hasil yang lebih baik atau mendapat tambahan pendapatan. Hal ini menjadi salah satu penyebab perempuan juga ikut serta dalam meningkatkan ekonomi keluarganya. Perempuan saat ini tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, namun juga bekerja pada sektor lain di luar rumah.
2
Dalam keluarga suami istri harus saling berkerja sama dalam mengelola rumah tangganya, tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga untuk mengatur rumah tangga haruslah berjalan dengan sebaik mungkin demi mensejahterakan keluarganya. Meskipun peran dan tanggung jawab dalam keluarga telah dilakukan dengan baik, namun masih terdapat keluarga yang rendah kesejahteraannya. Maka dari itu mendorong istri untuk ikut serta dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Banyak dasar yang membuat perempuan berkerja, yang pertama karena perempuan yang menjadi janda yang dicerai atau di tinggal mati oleh suami yang mengharuskan perempuan menggantikan posisi kepala rumah tangga untuk mencari nafkah agar terpenuhi semua kebutuhan keluarganya. Yang kedua perempuan yang sudah bersuami tetapi pendapatan suaminya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Ketiga perempuan yang belum bersuami yang masih tinggal dengan orang tua tetapi orang tuanya sudah tidak sanggup lagi mencari nafkah. Kondisi-kondsi demikianlah yang membuat perempuan ikut berperan aktif dalam menopang perekonomian keluarganya.
Demikian juga dengan yang dikemukakan oleh Muzdzakkar (2001: 189) bahwa partisipasi perempuan dalam dunia kerja, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kesejahteraan keluarga, khususnya bidang ekonomi. Angka perempuan pekerja di Indonesia dan juga di negara lain masih akan terus meningkat,
3
karena beberapa faktor seperti meningkatnya kesempatan belajar bagi perempuan, keberhasilan program keluarga berencana, banyaknya tempat penitipan anak, teknologi yang memungkinkan perempuan dapat menangani sekaligus masalah keluarga dan masalah kerja, serta peningkatan partisipasi kerja. Hal ini bukan hanya mempengaruhi pasar kerja, lebih dari itu juga mempengaruhi kesejahteraan perempuan itu sendiri dan kesejahteraan keluarganya. Perempuan yang bekerja akan menambah penghasilan keluarga, yang secara otomatis mampu meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan seluruh anggota keluarga.
Al-Qur’an telah menjelaskan pandangan terhadap perempuan yang bekerja bahwa Islam memberikan kesempatan untuk perempuan mengembangkan dirinya sebagai sumber daya di tengah-tengah masyarakat. Dan setiap muslim dianjurkan untuk bekerja dan berusaha memakmurkan dunia, kebebasan mencari rezeki sesuai dengan tuntutan agama dan tidak melanggar aturan syariat. Firman Allah SWT.
4
Artinya :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl [16]: 97)
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa setiap manusia termasuk perempuan berhak untuk bekerja dan mendapatkan imbalan yang setimpal apa yang mereka kerjakan. Sehingga dalam Islam hukum perempuan bekerja itu adalah mubah atau diperbolehkan. secara tegas bahwa untuk meciptakan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dipersyaratkan peran aktif setiap orang beriman, lelaki dan perempuan (secara eksplisit disebutkan lelaki dan perempuan), tentu dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang positif (amalan shalihah) (Muhibbudin, 2018).
Sektor pertanian di Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan pembangunan yaitu sebagai sumber kehidupan. Hal ini terlihat dari penyediaan lapangan kerja, penyediaan pangan dan penyumbangan devisa negara melalui ekspor. Perempuan sebagai sumber insani mempunyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria dalam pembangunan di segala bidang. Disamping itu juga berperan mengembangkan generasi muda, terutama anak-anak dan remaja
5
dalam pembangunan manusia seutuhnya. Perempuan dalam kehidupan bermasyarakat disamping sebagai ibu rumah tangga juga sebagai tenaga kerja pencari nafkah baik untuk dirinya maupun keluarganya (Leni, 2010:15). Indonesia sebagai negara agraris dimana aktifitas ekonomi masyarakatnya banyak dalam bidang pertanian didukung dengan kondisi alam yang sangat menjanjikan, sehingga tidak dipungkiri bahwa di perdesaan banyak kita temukan masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Hal ini dapat kita lihat dari keseharian masyarakat di perkampungan bahwa sebagian besar perempuan baik ibu rumah tangga ataupun yang belum berkeluarga berprofesi sebagai petani.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bunsaman (2018) menyimpulkan bahwa para perempuan ini berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan penghasilan dari suami yang notabene adalah kepala keluarga dianggap kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka bekerja untuk membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dewi (2015) menyimpulkan bahwa ibu rumah tangga yang turut bekerja, tidak hanya mementingkan diri mereka sendiri, mereka bekerja karena tuntutan kebutuhan ekonomi dan tekanan kebutuhan hidup yang terus menerus semakin naik. Kusmayadi (2017) menyimpulkan, semakin banyak perempuan yang bekerja seperti membantu suami mereka untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga karena kebutuhan dan permintaan dalam keluarga tumbuh tinggi. Selain itu, dalam keluarga perempuan dituntut untuk dapat mengelola
6
uang dengan baik dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi yang masih tidak stabil karena gaji suami tidak mampu memenuhi kebutuhan dan kebutuhan keluarga.
Sama halnya dengan Desa Lamkunyet Aceh Besar sebagian perempuan di desa tersebut berprofesi sebagai petani padi. Berdasarkan observasi pertama yang penulis lakukan profesi mereka sebagai petani ini mereka lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dan menambah penghasilan keluarga.
Tabel 1. 1
Jumlah Penduduk Desa Lamkunyet Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jumlah KK Laki-Laki (Orang) Perempuan (Orang)
1. 188 330 345
Sumber: Dokumentasi Desa Lamkunyet (2020)
Berdasarkan tabel diatas jumlah penduduk di Desa Lamkunyet adalah sebanyak 188 KK yang terdiri dari 330 berjenis kelamin laki-laki dan 345 perempuan. Berikut tabel jenis mata pencaharian masyarakat Desa Lamkunyet.
Tabel 1. 2
Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Desa Lamkunyet No. Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Kondisi
Usaha 1. Petani/Pekebun: a. Petani sawah b. Petani kebun 300 55 Aktif Aktif
7
Tabel 1. 3 - Lanjutan
No. Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Kondisi Usaha
2. Nelayan/Perikanan 1 Aktif
3. Buruh harian lepas 52 Aktif
4. Tukang jahit 12 Aktif
5. Peternak:
a. Peternak Unggas b. Peternak besar
(kambing, lembu, sapi) 25 45 Aktif Aktif 6. Pedagang : a. Pedagang tetap b. Pedagang keliling 25 45 Aktif Aktif 7. Pertukangan : a. Tukang batu b. Tukang kayu 35 30 Aktif Aktif 8. PNS/TNI/POLRI 8 Aktif 9. Sopir 6 Aktif
Sumber: Dokumentasi Desa Lamkunyet (2020)
Berdasarkan tabel diatas kita bisa melihat bahwa jenis pekerjaan masyarakat Desa Lamkunyet didominasi oleh petani sawah dengan jumlah 300 jiwa. Hasil observasi awal didapatkan informasi dari sekretaris Desa Lamkunyet terdapat 180 ibu rumah tangga dimana 40% darinya bekerja sebagai petani (Kantor desa Lamkunyet). Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk melakukan penelitian terhadap petani perempuan di Desa Lamkunyet.
8
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti ingin mengkaji ulang tentang “Analisis Kontribusi Petani Perempuan dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga Ditinjau dari Perspektif Ekonomi Islam (Desa Lamkunyet Kecamatan Darul Kamal Kabupaten Aceh Besar)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga di Desa Lamkunyet Aceh Besar?
2. Bagaimana tinjauan ekonomi Islam terhadap kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini mengacu pada permasalahan yang telah disebutkan di atas yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana kontribusi yang dilakukan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di Desa Lamkunyet Aceh Besar.
2. Untuk mengetahui bagaimana pandangan ekonomi Islam terhadap kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
9
1.4 Manfaat Penelitian 1. Secara Praktis
a) Bagi penulis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga berdasarkan perspektif ekonomi Islam.
b) Bagi umum
Menjadi salah satu sarana pengehetahuan tentang bagaimana kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
2. Secara Teoritis
a) Untuk menambah penghetahuan dan wawasan bagi pembaca, baik mahasiswa maupun masyarakat tentang bagaimana kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
b) Diharapkan menjadi tambahan referensi penelitian berikutnya mahasiswa yang ingin meneliti tentang bagaimana kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
1.5 Sistematika Penulisan
Kerangka penulisan dalam penelitian ini terbagi menjadi lima bab, setiap bab terdiri dari sub-sub bab, yaitu:
BAB I Pendahuluan berisi tentang pengantar keseluruhan skripsi. Pada bab ini terdapat lima sub bab, yaitu latar
10
belakang masalah yang menguraikan penelitian ini perlu untuk di teliti, rumusan masalah berisi tentang pokok permasalahan yang akan diteliti, tujuan manfaat penelitian berisi tentang kerangka penyusunan penelitian yang berkaitan dengan kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga.
BAB II Landasan teori berisi tentang teori-teori yang mendukung penelitian yaitu tentang kontribusi perempuan dalam bekerja sebagai petani dan teori kesejahteraan keluarga, penelitian-penelitian terkait dan kerangka berfikir.
BAB III Bab ini terdiri dari jenis dan pendekatan penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data serta metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini. BAB IV Pada bab ini menguraikan gambaran umum tentang
kontribusi petani perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga di Desa Lamkunyet Aceh Besar. Dan analisis hasil penelitian.
BAB V Penutup berisi tentang kesimpulan yang dirangkum berdasarkan hasil penelitian dan sarana berupa masukan-masukan yang ingin disampaikan baik
11
kepada pihak-pihak yang terkait maupun peneliti selanjutnya.
12 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Petani Perempuan dan Kontribusinya Terhadap Perekonomian Keluarga
Dalam Kamus Pertanian Umum petani (2013: 104) juga memiliki arti yaitu orang yang menjalankan usaha tani dengan melakukan kegiatan pertanian sebagai sumber mata pencarian pokoknya. Petani adalah orang yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian sebagai mata pencaharian utamanya. Secara garis besar terdapat tiga jenis petani, yaitu petani pemilik lahan, petani pemilik yang sekaligus juga penggarap, dan buruh tani. Secara umum, petani bertempat tinggal dipedesaan dan sebagian besar diantaranya, terutama yang tinggal di daerah-daerah.
Menurut undang-undang nomor 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani menyatakan petani adalah warga negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan atau peternakan. Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman seperti padi, bunga, buah dan lain-lain dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya ke orang lain.
Bahan pokok pangan tak terlepas dari hasil kerja keras seorang petani. Petani merupakan seorang penggelola tanah dengan memanfaatkan segala sumber daya hayati yang bertujuan untuk memelihara dan menumbuhkan tanaman. Petani berperan besar dalam kehidupan manusia, karena bahan dasar pangan manusia diproduksi oleh petani.
2.1.1 Perempuan Berperan Sebagai Petani
Menurut Friedman (dalam Nurmayasari, 2014: 24) peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diharapkan dalam suatu pekerjaan tertentu;
1. Peran itu sulit dikendalikan;
2. Peran itu dapat dipelajari dengan cepat dan dapat menghasilkan beberapa perubahan perilaku utama. 3. Peran dan pekerjaan (jobs) itu tidaklah sama, seseorang
yang melakukan satu pekerjaan bisa saja memainkan beberapa peran.
Ditinjau dari penyerapan tenaga kerja sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak terlibat dalam sektor kerja informal. Kondisi tersebut menjadi sangat dipahami mengingat peran. Perempuan sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja membutuhkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam menjalankan pekerjaannya demi mewujudkan keseimbangan perannya. Tuntutan ekonomi rumah tangga yang mendesak seringkali menjadi salah satu alasan perempuan terjun dalam dunia
kerja khususnya bagi perempuan yang tinggal di daerah pedesaan. Sektor pertanian dalam kenyataannya menyediakan kesempatan kerja informal yang memberikan kesempatan kepada petani perempuan di pedesaan untuk terlibat didalamnya. Melihat kondisi ini tentunya membutuhkan langkah-langkah yang strategis untuk meningkatkan kapasitas petani perempuan dalam sektor pertanian sehingga dapat mendorong kemampuan menciptakan berbagai peluang usaha sebagai upaya pembangunan pertanian diberbagai lini yang ada (Arsanti, 2013).
Petani memiliki pandangan sebagai pekerjaan yang berat dan kasar bagi perempuan. Pada dasarnya konstribusi perempuan sangat dibutuhkan dalam bidang pertanian (agribisnis) terutama dalam perumusan kebijakan. Pengaruh peranan perempuan dalam dunia pertanian berdampak cukup besar. Berdasarkan data dari FAO Focus (2009) yang dilansir oleh World Health Organization (WHO) konstribusi perempuan mampu memproduksi 60% sampai 80% pangan disebagian negara-negara berkembang dan bertanggung jawab pada sebagian produksi pangan dunia dengan kontribusi pada setiap subsistem pertanian. Jika perempuan memiliki akses, produktivitas pertanian dan rumah tangga mereka akan meningkat. Dengan begitu terjadinya peningkatan dan kestabilan pendapatan keluarga.
2.1.2 Konsep Perempuan Bekerja dalam Islam
Bekerja sesungguhnya merupakan perwujudan dari eksistensi dan aktualisasi diri manusia dalam hidupnya. Manusia, baik laki-laki maupun perempuan diciptakan Allah dengan daya fisik, pikir, kalbu serta daya hidup untuk melakukan aktifitas pekerjaannya yang merupakan bagian dari amal shaleh (Shihab: 2013). Adapun kriteria amal Shalih ada 3 menurut al-Shinqithi dalam (Solihatin, 2017) yaitu: 1) sesuai dengan ajaran yang dibawa Nabi, 2) Ikhlas karena Allah Ta’ala, 3) dibangun berdasarkan aqidah yang benar.
Dalam konteks pekerjaan, banyak sekali profesi yang termasuk kedalam amal shaleh. Islam melalui Al-Quran dan Hadis perempuan dan bekerja menjadi sebuah relasi yang tidak pernah lepas satu sama lain. Mengisahkan sejarah beberapa sosok perempuan pekerja yang turut berperan aktif dalam membangun peradaban, melakukan aktifitas sosial ekonomi, politik, pendidikan serta bergelut di berbagai profesi kerja yang dinilai sesuai dan memberikan manfaat (shaleh) bagi kemaslahatan umat.
Bekerja secara umum adalah mengerjakan suatu pekerjaan dengan target menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bekerja bukan hanya dengan tujuan untuk menghasilkan uang. Namun, bekerja juga bertujuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Artinya perempuan dapat bekerja bukan hanya sekedar untuk menghasilkan uang tetapi perempuan bekerja untuk mengurus rumah tangganya. Terdapat dua pandangan konsep perempuan dalam bekerja yaitu:
a. Secara Umum
Peningkatan kontribusi perempuan dalam perekonomian karena beberapa faktor, pertama: adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang sama pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan pria, serta makin didasari perlunya kaum perempuan ikut campur berkontribusi dalam pembagunan, yang kedua adalnya kemauan perempuan untuk mandiri dalam hal ekonomi yaitu berusaha untuk membiayai hidupnya dan keluarganya dengan penghasilan sendiri. Faktor lain yang menyebabkan peningkatan kontribusi perempuan dalam bekerja karena makin luasnya kesempatan kerja yang bisa menyerap kerjaan perempuan. Pada zaman modern yang kita rasakan sekarang ini tak terlepas dari kontribusi perempuan. Perempuan berperan penting dalam hal pembangunan negara. Perempuan juga ikut menyuarakan hak nya dalam berkarya.
Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan dituntut untuk bekerja dengan giat. Salah satu faktor yang mendorong manusia bekerja dengan giat ialah motivasi. Manusia memerlukan motivasi untuk melakukan kegiatan dengan semangat tinggi, dan dapat mendorong usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Siagian (1990) dalam Bertham (2011) menyatakan bahwa motivasi merupakan
dorongan dari dalam diri seseorang dan dari luar dirinya untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi kerja dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh motif, tujuan, kebutuhan setiap orang untuk bekerja, dan perbedaan waktu dan tempat.
Ambarini dalam (Bertham, 2011) menyatakan bahwa fungsi motivasi dalam hubungannya dengan alasan untuk melakukan kegiatan pekerjaan ialah:
1. Mencukupi kebutuhan keluarga. Perempuan yang telah menikah terdorong untuk bekerja terutama jika mereka mengetahui bahwa penghasilan suami tidak mencukupi untuk keluarga.
2. Alasan sosial psikologis. Perempuan yang mempunyai pendidikan lebih tinggi umumnya terdorong untuk mengaktualisasikan kemampuannya dan ingin mendapatkan pengetahuan baru tentang berbagai jenis pekerjaan serta menambah pergaulan sosial hidupnya.
3. Kebutuhan pembangunan nasional yaitu mobilitas untuk pembangunan bagi seluruh warga negara termasuk perempuan.
b. Secara Agama
Pada masa awal Islam juga sering kita jumpai seorang perempuan bekerja. Islam membolehkan perempuan bekerja dalam berbagai bidang, baik di dalam ataupun luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama-sama, dengan lembaga pemerintahan ataupun swasta, selama pekerjaan itu dilakukan dengan baik tidak bertentangan dengan agamanya serta dapat menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap dirinya dan lingkungannya. Islam telah memposisikan perempuan di tempat mulia sesuai dengan kodratnya. Islam menjamin bahwa perempuan berhak memiliki harta dan kepemilikannya atas harta tersebut yang diakui secara penuh termasuk dalam harta warisan, sebagai mana dijelaskan dalam surat An – Nisa:7 berikut:
Artinya :“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta
peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”. (Q.S. An-Nisa [4]: 7)
Qardhawi (2013: 54) pernah mengatakan, “Perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat”. Manusia adalah makhluk hidup yang dapat berfikir dan bekerja. Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada pria dan perempuan untuk bekerja. Pekerjaan adalah suatu wadah untuk memperoleh rezeki dari sumber yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Sujarwati dalam artikelnya menyebutkan bahwa motif tingginya keterlibatan perempuan bekerja adalah:
1. Kebutuhan finansial kondisi ekonomi keluarga seringkali memaksa perempuan untuk ikut bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak, membuat suami dan isteri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak mempunyai pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah.
2. Kebutuhan sosial-relasional perempuan memilih untuk bekerja karena mempunyai kebutuhan sosial
relasional yang tinggi. Tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan akan penerimaan sosial, akan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor menjadi agenda yang lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah.
3. Kebutuhan aktualisasi diri bekerja adalah salah jalan yang dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya berekreasi, mengekspresikan diri, mengembangkan diri, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu serta mendapatkan penghargaan, penerimaan, prestasi adalah bagian dari proses penemuan dan pencapaian pemenuhan diri melalui profesi atau pun karir. Ia merupakan suatu pilihan yang banyak diambil oleh para perempuan di zaman sekarang terutama dengan makin terbukanya kesempatan yang sama pada perempuan untuk meraih jenjang karir yang tinggi.
2.2 Peranan Perempuan dalam Keluarga
Perempuan memiliki peranan ganda, yaitu di dalam rumah tangganya maupun di lingkungan luar. Peranan ganda ini menuntut waktu dan perhatian penuh membuat karir perempuan tertinggal
jauh dari pria. Namun demikian, perempuan memiliki tiga peranan hebat yang dilakoninya sekaligus (Muri’ah, 2011: 147):
a. Perempuan Sebagai Istri
Dalam sebuah rumah, perempuan yang berperan sebagai istri tidak hanya bertugas menggurus rumah tangganya. Namun, istri berperan dalam mendampingi suaminya. Sekuat apa pun seorang pria, pasti ada titik kelemahannya membutuhkan seorang istri untuk mendampingi, menjadi penghibur lara, dan motivator dalam hidupnya. Perempuan sebagai istri harus bersedia menjadi patner, pendengar yang baik dan pemberi solusi terhadap masalah yang dihadapi suami. Istri juga harus bersedia memberi dorongan dan motivasi kepada suami dikala suami mengalami kegagalan.
Selain itu, ketika suami sedang terbawa arus hitam, maka istri pun muncul sebagai penasehat suami yang tidak dapat luput dari kesalahan yang kadang tidak disadarinya. Suami dan istri adalah sepasang makhluk manusia yang atas dasar cinta kasih suci mengikat diri dalam jalinan pernikahan. Keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Islam memuliakan seorang istri dengan penghormatan yang tidak pernah diterima oleh para istri dari umat-umat lainnya. Islam menjadikan pernikahan sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Allah berfirman:
Artinya :“Dan di antara tanda - tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri - istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q. S. Ar-Rum [30]: 21).
Ayat ini menjelaskan kepada seluruh umat manusia, bahwa istri diciptakan oleh Allah untuk suami agar suami dapat hidup tentram membina keluarga. Ketentraman seorang suami dalam membina istri dapat tercapai apabila diantara keduanya terdapat kerjasama timbal balik yang serasi, selaras dan seimbang. Masing-masing tidak bertepuk sebelah tangan. Kedua pihak bisa saling mengasihi dan menyayangi, saling mengerti antara satu dengan lainnya dengan kedudukannya masing-masing demi tercapainya rumah tangga yang sakinah (Fuad dan Kanima, 1997: 7).
b. Perempuan Sebagai Ibu
Perempuan sebagai ibu menjadi pendidik di institut keluarga, bukan hanya menyediakan makanan untuk keluarganya. Perempuan dikodratkan oleh sang Khaliq menjadi perantara lahirnya manusia ke dunia. Saat dalam kandungan, ibu mulai mendidik anak-anaknya sejak 120 hari dalam kandungan, dan saat anak masih dalam kandungan seorang ibu harus menjaga perilakunya, taat kepada Allah, ikhlas dan banyak membaca Al-Quran.
Ketika anak tersebut lahir, ibu senantiasa mendidik, mengayomi, mengajari dan menanamkan norma - norma kepada anak tersebut hingga beranjak dewasa. Hal tersebut yang membuat sosok ibu menjadi sangat dekat dengan anak - anaknya. Sosok ibu juga menjadi panutan bagi anak - anaknya. Di tangan ibu-lah setiap individu dibesarkan dengan kasih sayang yang tidak terhingga. Ibu, dengan taruhan jiwa raga telah memperjuangkan kehidupan anaknya, sejak anak masih dalam kandungan, lahir hingga dewasa. Secara tegas al-Qur’an memerintah setiap manusia untuk menghayati dan mengapresiasi ibu atas jasa-jasanya dengan berbuat baik kepadanya Firman Allāh dalam (QS. Luqman 31: 14).
Artinya :“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah -tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman [31]:14).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu dan bapaknya...” kami wasiatkan kepada manusia yaitu memerintahkan mereka berbuat baik, berbakti dan mentaati keduanya dalam hal yang ma’ruf serta tidak menyakiti mereka. Firman Allah Ta’ala,“ Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah...” Yakni dalam keadaan yang sangat lemah serta sangat susah payah, yaitu rasa sakit yang dideritanya ketika saat melahirkan. Rasa capek yang dia tanggungkan
dalam mengandung, melahirkan, dan ketika menyusui. Maka kondisi seorang ibu seperti ini lebih ditekankan untuk berbuat baik kepadanya melebihi kepada ayahnya dua kali lipat.
Firman-Nya, “Dan menyapihnya dalam dua tahun...” Yakni ibunya menyusui anaknya selama dua tahun. Dan boleh memisahkannya dari susuan antar dua tahun ini. Dan firman-Nya, “Bersyukurlah kepadaku dan kedua ibu bapakmu, hanya kepadaku-lah kembalimu.” Inilah yang diperintahkan Allah, yaitu bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, serta mengingat-Nya dengan hati dan lisan. Firman Allah Ta’ala, “Dan kepada dua orang ibu bapakmu...” karena mereka berdua telah berbuat baik kepadamu, maka kamu harus bersyukur kepada keduanya, yaitu berbakti, menyambung silaturahmi, dan taat kepada keduanya dalam hal yang ma’ruf dan bukan dalam rangka maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mentaati dan mensyukuri Allah adalah ketaatan serta syukur pertama kali yang harus dilakukan sebelum menaati dan mensyukuri kedua orangtua.
Firman Allah Ta’ala, “Hanya kepadaku-lah kembalimu...” setelah kematian. Kalimat ini adalah sebagai penguat atas kewajiban bersyukur kepada Allah
Ta’ala dan berbakti kepada kedua orangtua. Karena ayat ini mengandung kabar dan ancaman. Jadi, orang yang bertaqwa, yang kembali kepada Allah dia akan dimuliakan, sedangkan orang yang bermaksiat akan dihinakan-Nya. Dan selagi manusia akan kembali kepada Allah (manusia pasti kembali kepada-Nya) maka berbuat taat, bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orangtua adalah sesuatu yang wajib dan harus dilakukan (Thalib, 2012: 512).
c. Perempuan Sebagai Pekerja diluar Lingkup Keluarga Dalam kehidupan masyarakat, perempuan memiliki peran dalam menyukseskan pembangunan bangsa tersebut. Seperti yang dikatakan para ahlu hikmah, perempuan adalah tiang negara. Apabila suatu negara memiliki perempuan yang baik, maka baiklah negara itu, dan apabila suatu negara memiliki perempuan yang rusak, maka rusaklah negara tersebut. Meskipun kodrat perempuan sangat lemah, namun ternyata perempuan memiliki kelebihan yang luar biasa. Karier sangat diperlukan perempuan agar ia bisa mewujudkan jati diri dan membangun kepribadiannya. Sebab dalam hal ini perempuan tetap bisa mewujudkan jati dirinya secara sempurna dengan berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sambil berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial atau politik (Jauhari dan Khayyal, 2005: 91).
2.3 Hak dan Kewajiban Perempuan Pekerja
Dulu ketika negara-negara Muslim masih bisa mengambil manfaat dari keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan, menjadi sangat penting untuk mengevaluasi posisi Islam berkenaan dengan pemberdayaan tenaga kerja perempuan. Untuk memulainya, kita dapat mengatakan bahwa Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja dan memiliki profesi di luar rumah sepanjang pekerjaannya di luar rumah tersebut tidak mengganggu tugas-tugas rumah tangganya atau menurunkan martabatnya.
Sebaliknya, Islam malah memberikan hak kepada perempuan untuk memegang sebuah profesi dan melibatkan diri secara aktif dalam perniagaan dan perdagangan. Perempuan berhak bekerja di luar rumah dan memperoleh penghasilan. Pada masa awal Islam, kaum perempuan sering membantu laki-laki mengerjakan beberapa pekerjaan di luar ruangan dan mereka diperbolehkan bergerak secara bebas bersama laki-laki. Asma, putri khalifah pertama Abu Bakar, biasa membantu suaminya mengerjakan pekerjaan lapangan. Nabi sendiri memuji perempuan yang bekerja dengan keras dan baik, beliau juga mendorong kaum perempuan, termasuk para istri dan anak-anaknya, untuk melibatkan diri dalam pekerjaan yang menguntungkan.
2.4 Konsep Gender
Santrock (2003: 365) mengemukakan bahwa istilah gender dan seks memiliki perbedaan dari segi dimensi. Isilah seks (jenis
kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan. Perbedaan antara jenis kelamin dengan gender yaitu, jenis kelamin lebih condong terhadap fisik seseorang sedangkan gender lebih condong terhadap tingkah lakunya. Selain itu jenis kelamin merupakan status yang melekat/bawaan sedangkan gender merupakan status yang diperoleh/diperoleh. Gender tidak bersifat biologis, melainkan dikontruksikan secara sosial. Karena gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi, oleh sebab itu gender dapat berubah.
Kesetaraan gender memiliki kaitan dengan keadilan gender. Keadilan gender merupakan suatu proses dan perlakuan adil terhadap laki–laki dan perempuan. Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi baik terhadap laki–laki maupun perempuan. Sehingga dengan hal ini setiap orang memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan tersebut. Teori tentang kesetaraan gender terbagi dalam beberapa kajian teori diantaranya adalah “Teori Nurture” Menurut teori nurture, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakikatnya adalah hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan konstribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Perjuangan untuk persamaan dipelopori oleh orang-orang yang konsen memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki (kaum feminis) yang cenderung mengejar “kesamaan” yang kemudian dikenal dengan istilah kesamaan kuantitas (perfect equality) (Aldianto, Jasruddin, dan Quraisy, 2015).
2.5 Perekonomian Keluarga
Pengertian ekonomi menurut KBBI adalah segala hal yang bersangkutan dengan penghasilan, pembagian dan pemakaian barang-barang dan kekayaan (keuangan). Sedangkan keluarga adalah suatu bagian dari masyarakat yang terdiri dari istri, suami dan anak-anaknya yang selalu berupaya mewujudkan rasa aman dan tentram. Keluarga mempunyai beberapa fungsi dalam menjaga kelangsungan hidup anggota keluarganya yaitu salah satunya fungsi ekonomi.
Kepala keluarga memiliki peran yang cukup besar yaitu bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Sedangkan perempuan memiliki peran menggurus rumah tangga. Kedua peran ini menjadikan sebuah keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat yaitu keluarga yang mampu mendidik, membiayai pendidikan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan keluarganya Salah satu faktor yang mendukung menciptakan keluarga yang kuat adalah faktor ekonomi keluarga tersebut. Karena, keluarga yang kuat akan menghasilkan negara yang berdaulat yang memiliki orientasi melahirkan generasi yang hebat untuk meneruskan cita-cita
bangsanya. Untuk menciptakan perekonomian keluarga yang kuat, perempuan memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Perempuan dapat melakukan peranan ganda dalam menunjang perekonomian keluarga. Perempuan dapat bekerja sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjadi pekerja pada sebuah sektor. Masuknya perempuan ke dalam dunia kerja tentu berdampak baik bagi perekonomian keluarga. Peranan perempuan dalam dunia kerja juga memberi dampak baik bagi masyarakat, khususnya bagi pekerjaan yang membutuhkan tenaga ahli seorang perempuan.
Jadi perekonomian keluarga adalah suatu kajian tentang upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya melalui aktifitas yang dilakukan oleh seseorang yang bertanggung jawab atas kebutuhan dari kebahagiaan bagi kehidupannya (sekelompok komunitas).
2.5.1 Peranan Perempuan dalam Perekonomian Keluarga Secara Islam
Islam telah mengajarkan bahwa motivasi dan alasan bekerja adalah untuk mencari karunia Allah. Tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan harta agar seseorang dapat memenuhi kebutuhannya dan menikmati kesejahteraan hidup. Pekerjaan yang dilakukan haruslah dengan cara yang halal dan dapat bernilai sebagai ibadah. Dan hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang halal adalah hasil kepemilikan yang halal pula. Islam telah menjamin perempuan untuk bekerja sesuai dengan profesi nya namun tetap dalam peraturan syariat Islam yang berlaku. Meskipun dalam islam
perempuan disarankan bekerja mengurus rumah tangga, seperti yang dijelaskan pada Q.S Al – Baqarah (2): 233 (Ismail, 2018):
Artinya:“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu
menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”(Q.S. Al-Baqarah [2] :233). Namun demikian, tidak ada satupun petunjuk maupun pernyataan dalam agama Islam yang melarang perempuan bekerja diluar rumah, khususnya jika pekerjaan itu membutuhkan penangagan dan peranan perempuan. Ulama fiqih menyatakan dua alasan yang memperbolehkan perempuan bekerja diluar rumah yaitu:
1. Rumah tangga memerlukan biaya lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari untuk menjalankan fungsi keluarga, dan penghasilan suami belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apabila suami sakit atau meninggal, maka perempuan wajib mencari nafkah bagi dirinya sendiri maupun anak – anaknya.
2. Diperlukannya peranan perempuan di lingkungan masyarakat untuk melaksanakan tugas tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan. Islam telah
menghilangkan kebiasaan buruk kaum Quraish Jahiliah yang suka mengubur hidup bayi perempuan karena dianggap sebagai pembawa sial. Kemudian muncul sosok-sosok perempuan hebat seperti Ummul Mukminin Khadijah yang mendukung dakwah Rasulullah SAW baik secara material maupun spiritual. Khadijah menjadi bukti nyata bahwa dalam agama Islam perempuan diberikan kebebasan bekerja dan tetap.
2.5.2 Konsep Kesejahteraan Keluarga
Menurut Aisyah Dahlan dalam Suharto (2005), kesejahteraan diartikan sebagai berikut: “Pengertian kesejahteraan dengan kebahagiaan walaupun secara maknawi sulit dibedakan. Kesejahteraan berasal dari kata “sejahtera” yang dipakai untuk suatu yang konkret, riil, materiil. Telah diketahui bahwa kesejahteraan dapat diperoleh apabila terjadi keseimbangan atau keserasian antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Badan Pusat Statistik Indonesia (2000) menerangkan bahwa guna melihat tingkat kesejahteraan rumah tangga suatu wilayah ada beberapa indikator yang dapat dijadikan ukuran yakni:
2. Komposisi pengeluaran rumah tangga dengan
membandingkan pengeluaran untuk pangan dengan non-pangan
3. Tingkat pendidikan keluarga 4. Tingkat kesehatan keluarga.
5. Kondisi perumahan serta fasilitas yang dimiliki dalam rumah tangga.
Konsep Kesejahteraan Keluarga Menurut BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009). Tingkat Kesejahteraan Keluarga Menurut BKKBN Tingkat kesejahteraan keluarga dikelompokkan menjadi 5 (lima) tahapan beserta indikator-indikatornya yaitu (Astuti, Adyatma, dan Normelani, 2017):
1. Tahapan Keluarga Pra Sejahtera (KPS)
Yaitu keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator ”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs).
Yaitu keluarga mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I. Enam Indikator tahapan Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs), dari 21 indikator keluarga sejahtera yaitu:
1) Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.
Pengertian makan adalah makan menurut pengertian dan kebiasaan masyarakat setempat, seperti makan nasi bagi mereka yang biasa makan nasi sebagai makanan pokoknya (staple food), atau seperti makan sagu bagi mereka yang biasa makan sagu dan sebagainya.
2) Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
Pengertian pakaian yang berbeda adalah pemilikan pakaian yang tidak hanya satu pasang, sehingga tidak terpaksa harus memakai pakaian yang sama dalam kegiatan hidup yang berbeda beda. Misalnya pakaian untuk di rumah (untuk tidur atau beristirahat di rumah) lain dengan pakaian untuk ke sekolah atau untuk bekerja (ke sawah, ke kantor, berjualan dan sebagainya) dan lain pula dengan pakaian untuk bepergian (seperti menghadiri undangan perkawinan, piknik, ke rumah ibadah dan sebagainya).
3) Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding yang baik.
Pengertian Rumah yang ditempati keluarga ini adalah keadaan rumah tinggal keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding dalam kondisi yang layak ditempati, baik dari segi perlindungan maupun dari segi kesehatan.
4) Bila ada anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan.
Pengertian sarana kesehatan adalah sarana kesehatan modern, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, Apotek, Posyandu, Poliklinik, Bidan Desa dan sebagainya, yang memberikan obat obatan yang diproduksi secara modern dan telah mendapat izin peredaran dari instansi yang berwenang (Departemen Kesehatan/Badan POM). 5) Bila pasangan usia subur ingin berkeluarga
berencana (KB) pergi ke sarana pelayanan Kontrasepsi
Pengertian Sarana Pelayanan Kontrasepsi adalah sarana atau tempat pelayanan keluarga berencana (KB), seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Balai Pengobatan, Apotek, Posyandu, Poliklinik, Dokter Swasta, Bidan Desa dan sebagainya, yang memberikan pelayanan
keluarga berencana (KB) dengan alat kontrasepsi modern, seperti IUD, MOW, MOP, Kondom, Implan, Suntikan dan Pil, kepada pasangan usia subur yang membutuhkan. (Hanya untuk keluarga yang berstatus Pasangan Usia Subur).
6) Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah.
Pengertian Semua anak umur 7-15 tahun adalah semua anak 7-15 tahun dari keluarga (jika keluarga mempunyai anak 7-15 tahun), yang harus mengikuti wajib belajar 9 tahun. Bersekolah diartikan anak usia 7-15 tahun di keluarga itu terdaftar dan aktif bersekolah setingkat SD/sederajat SD atau setingkat SLTP/sederajat SLTP.
3. Tahapan Keluarga Sejahtera II
Yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I dan 8 (delapan) indikator KS II. Delapan indikator Keluarga Sejahtera II (KS II) atau indicator “kebutuhan psikologis” (psychological needs) keluarga, dari 21 indikator keluarga sejahtera yaitu:
1) Pada umumnya anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Pengertian anggota keluarga melaksanakan ibadah adalah kegiatan keluarga untuk
melaksanakan ibadah, sesuai dengan ajaran agama/kepercayaan yang dianut oleh masing masing keluarga/anggota keluarga. Ibadah tersebut dapat dilakukan sendiri-sendiri atau bersama sama oleh keluarga di rumah, atau di tempat tempat yang sesuai dengan ditentukan menurut ajaran masing masing agama/kepercayaan.
2) Paling kurang sekali seminggu seluruh anggota keluarga makan daging/ikan/telur.
Pengertian makan daging/ikan/telur adalah memakan daging atau ikan atau telur, sebagai lauk pada waktu makan untuk melengkapi keperluan gizi protein. Indikator ini tidak berlaku untuk keluarga vegetarian.
3) Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru dalam setahun.
Pengertian pakaian baru adalah pakaian layak pakai (baru/bekas) yang merupakan tambahan yang telah dimiliki baik dari membeli atau dari pemberian pihak lain, yaitu jenis pakaian yang lazim dipakai sehari hari oleh masyarakat setempat. 4) Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk setiap
penghuni rumah.
Luas Lantai rumah paling kurang 8 m2 adalah keseluruhan luas lantai rumah, baik tingkat
atas, maupun tingkat bawah, termasuk bagian dapur, kamar mandi, paviliun, garasi dan gudang yang apabila dibagi dengan jumlah penghuni rumah diperoleh luas ruang tidak kurang dari 8 m2.
5) Tiga bulan terakhir keluarga dalam keadaan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas/fungsi masing-masing.
Pengertian Keadaan sehat adalah kondisi kesehatan seseorang dalam keluarga yang berada dalam batas normal, sehingga yang bersangkutan tidak harus dirawat di rumah sakit, atau tidak terpaksa harus tinggal di rumah, atau tidak terpaksa absen bekerja/ke sekolah selama jangka waktu lebih dari 4 hari. Dengan demikian anggota keluarga tersebut dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kedudukan masing masing di dalam keluarga.
6) Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan.
Pengertian anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan adalah keluarga yang paling kurang salah seorang anggotanya yang sudah dewasa memperoleh penghasilan berupa uang atau barang dari sumber penghasilan yang dipandang layak oleh masyarakat, yang dapat
memenuhi kebutuhan minimal sehari hari secara terus menerus.
7) Seluruh anggota keluarga umur 10 - 60 tahun bisa baca tulisan latin.
Pengertian anggota keluarga umur 10 - 60 tahun bisa baca tulisan latin adalah anggota keluarga yang berumur 10 - 60 tahun dalam keluarga dapat membaca tulisan huruf latin dan sekaligus memahami arti dari kalimat kalimat dalam tulisan tersebut. Indikator ini tidak berlaku bagi keluarga yang tidak mempunyai anggota keluarga berumur 10-60 tahun.
8) Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/obat kontrasepsi.
Pengertian Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/obat kontrasepsi adalah keluarga yang masih berstatus Pasangan Usia Subur dengan jumlah anak dua atau lebih ikut KB dengan menggunakan salah satu alat kontrasepsi modern, seperti IUD, Pil, Suntikan, Implan, Kondom, MOP dan MOW.
4. Tahapan Keluarga Sejahtera III
Yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6 (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, dan 5 (lima) indikator KS III. Keluarga Sejahtera III (KS III), atau