• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lentera Sejarah dan Tokoh Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Lentera Sejarah dan Tokoh Islam"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Lentera Sejarah

dan Tokoh Islam

Daftar Isi :

- Meneladani Kepemimpinan Umar - Mengenal Imam Bukhari - Mengenal Ibnu Qudamah al-Maqdisi - Fitnah Yang Menimpa Sang Imam - Mengenal Muhammad bin Abdul Wahhab - Sekilas Biografi Syaikh Ahmad an-Najmi - Mengenal Abdul Ghani al-Maqdisi - Mengenal Imam Ibnu Katsir - Mengenal Imam Ibnu Mandah - Memuliakan Para Sahabat Nabi - Mewaspadai Penyimpangan Khawarij - Revolusi dan Pertumpahan Darah - Demonstrasi Bukan Solusi - Biografi Ringkas Ibnu Abi ‘Ashim - Mengenal Imam al-Humaidi

Penyusun:

Redaksi al-mubarok.com

Fanspage : Kajian Islam al-Mubarok Telegram : Belajar Tauhid al-Mubarok Website : Yukberinfak.com

E-mail : [email protected]

Bagian 1.

Meneladani Kepemimpinan Umar

Umar bin Khaththabradhiyallahu’anhuadalah manusia terbaik kedua setelah Abu Bakar ash-Shiddiqradhiyallahu’anhu. Sementara Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah para nabi

‘alaihimus salam.

Syaikh Abdurrazzaq al-Badrhafizhahullahberkata,

“Beliau -Abu Bakar- radhiyallahu’anhu adalah manusia terbaik diantara seluruh umat setelah

para nabi. Bukan semata-mata orang terbaik di antara umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, beliau adalah orang terbaik setelah para nabi pada segenap umat. Tidak ada seorang pun diantara umat para nabi yang lebih utama daripada Abu Bakar radhiyallahu’anhu.”

(lihatash-Shidqu ma’a Allah, hlm. 38-39)

Kemuliaan Umar bin Khaththab adalah diantara buah dari doa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa beliau pernah berdoa,“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu diantara dua orang ini yang lebih Engkau cintai; yaitu antara Abu Jahal atau Umar bin Khaththab.”Dan ternyata yang lebih dicintai Allah adalah Umar (HR. Ahmad dan Tirmidzi, hasan sahih)

Diantara dalil yang menunjukkan keteguhan agama dan iman yang ada pada diri Umar adalah hadits berikut ini. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallampernah berkata kepadanya,“Wahai Ibnul Khaththab! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah ada setan yang bertemu denganmu di suatu gang/jalan melainkan dia akan memilih jalan selain gang yang kamu lalui.”

(Muttafaq ‘alaih)

Umar adalah seorang yang diberikan anugerah ilmu serta firasat yang benar. Sebagaimana

disebutkan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sungguh diantara umat-umat terdahulu ada orang-orang yang diberikan ilham selain para nabi. Kalaulah ada diantara umatku ini orang yang diberi ilham semacam itu maka orangnya adalah Umar.”(Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah

radhiyallahu’anhu)

Kebenaran telah Allah tampakkan melalui lisan dan hati Umar. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati Umar.”(HR. Ahmad dan Tirmidzi dan disahihkan al-Albani)

(2)

sesudahku, yaitu Abu Bakar dan Umar.”(HR. Tirmidzi, disahihkan al-Albani)

Umar adalah orang yang paham tentang Kitabullah dan mengerti dengan baik mengenai agama Islam. Ibnu Mas’udradhiyallahu’anhu

berkata,“Umar adalah orang paling berilmu diantara kami mengenai Kitabullah dan paling paham tentang agama Allah.”(dinukil dari‘Umar bin al-Khaththab, hlm. 10)

Diantara keutamaan beliau adalah; beliau adalah orang pertama yang digelari dengan Amirul Mukminin. Beliau juga orang pertama yang menuliskan penanggalan hijriah. Beliau juga orang pertama yang berpatroli di malam hari di Madinah untuk menjaga masyarakat dan menangkap penjahat. Beliau juga orang pertama yang memasang lampu-lampu di masjid di bulan Ramadhan, sampai-sampai Ali bin Abi Thalib berkata,“Semoga Allah menerangi Umar di dalam kuburnya, sebagaimana beliau menerangi kami di masjid-masjid kami.”Beliau pula orang pertama yang mengirimkan pasukan guna menaklukkan berbagai kota dan negeri (lihat‘Umar bin al-Khaththab, hlm. 11-12)

Umar adalah orang yang sangat mencintai Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai untuk mendengar berita wafatnya beliau pun Umar tidak sanggup. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang masyhur, beliau mengatakan,

“Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggal.”Kemudian datanglah Abu Bakar membuka penutup wajah nabi lalu

menciumnya. Lalu beliau berkata kepada orang-orang,“Ketahuilah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Tidak Mati.”(HR. Bukhari)

Umar adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip dan tegas dalam bersikap. Dari Aslam maula Umar, dia berkata,“Umar bin Al-Khaththab berkata -kepada kaum nasrani/ahli kitab dan kafir dzimmi- : Sesungguhnya kami tidak akan masuk ke dalam gereja-gereja kalian, disebabkan

gambar-gambar/patung yang ada di dalamnya.”

(HR. Abdur Razzaq, lihatJami’ al-Atsar al-Qauliyah wal Fi’liyah, hlm. 99)

Umar adalah seorang pemimpin yang tidak malu duduk dan makan bersama rakyat jelata. Ibnu Abi Mulaikah menceritakan : Abu Mahdzurah berkata :

“Suatu saat aku duduk bersama Umar kemudian datanglah Sofwan bin Umayah membawa senampan besar makanan yang dipikul oleh sekelompok orang. Lalu mereka meletakkannya di hadapan Umar. Lalu Umar pun mengundang orang-orang miskin dan budak-budak yang ada di sekitar tempat itu, maka mereka pun makan bersama beliau.”(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, lihatJami’ al-Atsar, hlm. 104-105)

Umar adalah seorang penguasa yang gigih dalam membela akidah dan melindungi umat dari bahaya syirik dan penyimpangan tauhid. Amr bin Dinar mengatakan bahwa dia mendengar Bajalah berkata,“Umar mengirim pesan/ketetapan hukum agar kalian/hakim membunuh setiap penyihir lelaki dan penyihir perempuan.”Bajalah berkata,

“Kami pun berhasil membunuh tiga orang penyihir.”

(lihatJami’ al-Atsar, hlm. 225)

Umar adalah seorang pemimpin yang tidak rela berjuang dengan cara-cara selain Islam dalam meraih kejayaan. Beliau berkata dalam sebuah ucapan yang masyhur,“Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka kapan saja kami mencari kemuliaan dengan cara selain Islam niscaya Allah akan menghinakan kami.”(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Mudah-mudahan sekelumit gambaran kepribadian dan kepemimpinan Umar ini bisa mendorong semangat kita untuk terus

(3)

Bagian 2.

Mengenal Imam Bukhari

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi. Dalam bahasa Persia kata 'bardizbah' bermakna 'petani'. Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara pada hari Jum'at setelah sholat Jum'at tanggal 13 Syawwal tahun 194 H.

Ketika beliau masih kecil ayahnya sudah

meninggal. Karena itulah beliau tumbuh di bawah asuhan ibunya. Beliau telah giat menimba ilmu sejak masih belia. Imam Bukhari menceritakan,

“Dahulu aku mendapat ilham untuk menghafalkan hadits semenjak masih berada di kuttab/sekolah dasar.”Ketika itu beliau masih berumur 10 tahun atau bahkan kurang.

Dalam usia yang masih belia, beliau telah menyibukkan diri dengan menimba ilmu dan mendegar hadits-hadits. Diantara ulama di negerinya yang beliau simak haditsnya adalah Muhammad bin Sallam dan Muhammad bin Yusuf al-Baikandi. Kemudian, pada tahun 210 H beiau menunaikan ibadah haji bersama ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Setelah itu ibu dan kakaknya pulang sedangkan Bukhari tetap tinggal untuk menimba ilmu di Mekah dan Madinah.

Setelah itu beliau pun mengadakan perjalanan untuk menimba ilmu kepada para ahli hadits di berbagai wilayah seperti Khurasan, Syam, Mesir, Iraq, bahkan beliau sempat mendatangi kota Baghdad hingga berkali-kali. Para penduduk Baghdad pun berkumpul di dalam majelisnya dan mereka mengakui keunggulan beliau dalam periwayatan dan pemahaman hadits.

Imam Bukhari memiliki kecerdasan dan kekuatan hafalan yang sangat menakjubkan. Muhammad bin Hamdawaih menceritakan : Aku mendengar Bukhari berkata,“Aku menghafal seratus ribu hadits yang sahih dan dua ratus ribu hadits yang tidak sahih.”Suatu ketika Imam Bukhari hadir di majelis pengajian Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari hanya mendengar dan tidak mencatat. Ada yang bertanya kepada teman-temannya mengapa dia tidak mencatat. Maka dijawab,“Dia

akan kembali ke Bukhara dan mencatat dengan hafalannya.”

Imam Bukhari menceritakan : Apabila aku bertemu dengan Sulaiman bin Harb maka beliau berkata kepadaku, “Terangkan kepada kami letak kesalahan Syu'bah -dalam periwayatan hadits, pent-.” Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Negeri Khurasan belum pernah memunculkan seorang ulama semisal Muhammad bin Isma'il -yaitu Imam Bukhari-.”

Suatu saat sampai kepada 'Ali bin al-Madini ucapan Bukhari,“Tidaklah aku merasa kecil/tidak ada apa-apanya kecuali apabila sedang berada di majelis 'Ali bin al-Madini.”Maka Imam Ibnul Madinirahimahullah-salah seorang guru Imam Bukhari- mengomentari perkataan itu kepada orang yang menyampaikannya,“Tinggalkan ucapannya itu. Sesungguhnya dia tidak pernah melihat orang lain yang semisal dengan dirinya.”

Roja' bin Roja' mengatakan, “Beliau -yaitu Imam Bukhari- adalah salah satu diantara ayat/tanda kekuasaan Allah yang berjalan di atas muka bumi.” Imam Ibnu Khuzaimahrahimahullah-yang

digelari dengan imamnya para

imam-mengatakan,“Aku belum pernah melihat di bawah kolong langit ini orang yang lebih berilmu tentang hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan lebih hafal tentangnya daripada Muhammad bin Isma'il al-Bukhari.”

Diantara karya Imam Bukhari adalah kitabnya al-Jami' ash-Shahih -yang terkenal dengan nama Sahih Bukhari-, kemudian al-Adab al-Mufrad, Raf'ul Yadain fish Sholah, al-Qira'ah khalfal imam, Birrul walidain, Khalqu af'alil 'ibaad, dll.

Beliau wafat di Khartank salah satu kota di Samarqand pada malam Sabtu setelah sholat 'Isyak dan itu bertepatan dengan malam idul fithri kemudian dikubur setelah sholat Zhuhur pada hari raya Iedul Fithri yaitu di tahun 256 H. Umur beliau ketika itu adalah 62 tahun kurang 13 hari. Semoga Allah merahmatinya.

(4)

Meskipun beliau telah meninggal akan tetapi ilmunya tidak terputus. Bahkan ia terus mengalir dan memberikan manfaat. Sebagaimana

disebutkan dalam hadits Nabishallallahu 'alaihi wa sallam,“Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara..” diantaranya adalah “ilmu yang bermanfaat”(HR. Muslim)

Sumber: Biografi Ringkas Imam Bukhari oleh Syaikh Abdul Muhsin al-'Abbadhafizhahullah. Bisa dibaca lebih lengkap dalamKutub wa Rasa'il 'Abdil Muhsin(2/11-19)

Bagian 3.

Mengenal Ibnu Qudamah

al-Maqdisi

Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi. Beliau dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun 541 H. Beliau lahir di daerah Jammaa'il di bukit Nablus Palestina. Beliau datang ke Damaskus bersama keluarganya ketika beliau berusia 10 tahun.

Pada tahun 561 H bersama dengan saudara sepupunya Abdul Ghani al-Maqdisi beliau melakukan perjalanan menimba ilmu ke kota Baghdad. Beliau adalah seorang yang berilmu, zuhud, dan wara'. Waktunya penuh dengan ilmu dan amal. Beliau juga berguru kepada saudaranya Abdul Ghani al-Maqdisi dan para ulama lain di masanya. Bahkan ada diantara guru beliau beberapa orang syaikhah/ulama perempuan. Beliau dijuluki dengan al-Muwaffaq/orang yang diberi taufik.

Imam Ibnush Sholahrahimahullahberkata mengenai beliau,“Aku belum pernah melihat orang seperti syaikh al-Muwaffaq -yaitu Ibnu Qudamah-.”Ibnu Taimiyahrahimahullah

mengatakan,“Tidak ada yang memasuki Syam -setelah al-Auza'i- orang yang lebih paham agama daripada syaikh al-Muwaffaq.”Imam Ibnu Katsir

rahimahullahberkata,“Beliau adalah Syaikhul Islam, seorang imam, ahli ilmu yang mumpuni, tidak ada di masanya bahkan tidak pula dalam

beberapa waktu sebelum masanya orang yang lebih fakih daripada dirinya.”

Diantara karya beliau adalahLum'atul I'tiqad al-Hadi ila Sabil ar-Rasyaddalam bidang aqidah,

al-Mughnidalam bidang fikih, dan lain-lain banyak sekali. Beliau meninggal pada hari Sabtu bertepatan dengan hari raya Idul Fitri tahun 620 H di rumahnya di Damaskus. Semoga Allah

memberikan rahmat kepada beliau dan pahala sebesar-besarnya atas jasa-jasanya.

Sumber: Biografi Imam Ibnu Qudamah

rahimahullahdalam mukadimah kitabItsbat Shifat al-'Uluwwhal. 10 – 28 penerbit ad-Dar

as-Salafiyah cet. I tahun 1406 H tahqiq Syaikh Badr bin Abdullah al-Badrhafizhahullah.

Keterangan Tambahan :

Diantara karya Imam Ibnu Qudamah yang sangat berharga adalah kitabLum'atul I'tiqadyang membahas seputar dasar-dasar aqidah Islam. Di dalam kitab ini beliau telah memaparkan intisari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Oleh sebab itu para ulama memiliki perhatian besar untuk menjelaskan kandungannya seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaiminrahimahullah

dalam kitab syarahnya, Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhalirahimahullahdalam kitab syarahnya, dan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

hafizhahullahdalam syarahnya.

Di dalam kitab syarahnya, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaiminrahimahullahmemberikan mukadimah penting yang berisi kaidah-kaidah dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kemudian mukadimah ini dijelaskan secara lebih luas oleh Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq bin Musa al-Jaza'irihafizhahullah-salah seorang pengajar di Darul Hadits Salafiyah di Dammaj Yaman- dalam bagian awal kitabnyaal-Is'ad fi Syarh Lum'ah al-I'tiqad.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

rahimahullahsendiri pun telah menyusun sebuah buku khusus yang membahas seputar

(5)

Asmaa-ihil Husna. Kitab ini bahkan diberi kata pengantar dan rekomendasi dari Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah.

Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi

hafizhahullahmenulis sebuah buku khusus dalam hal asma' wa shifat dengan judul'Mu'taqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah fi Tauhid al-Asma' wa Shifat'. Di bagian awal kitab ini terdapat penjelasan mengenai urgensi tauhid asma' wa shifat.

Bagian 4.

Fitnah Yang Menimpa Sang Imam

Pada tahun 250 H, Imam Bukhari datang ke Naisabur. Beliau menetap di sana selama beberapa waktu dan terus beraktifitas mengajarkan hadits. Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli -tokoh ulama di kota itu dan juga salah satu guru Imam Bukhari- mengatakan kepada murid-muridnya,“Pergilah kalian kepada lelaki salih dan berilmu ini, supaya kalian bisa

mendengar ilmu darinya.”Setelah itu, orang-orang pun berduyun-duyun mendatangi majelis Imam Bukhari untuk mendengar hadits darinya. Sampai, suatu ketika muncul 'masalah' di majelis

Muhammad bin Yahya, dimana orang-orang yang semula mendengar hadits di majelisnya berpindah ke majelisnya Imam Bukhari.

Sebenarnya, sejak awal, Imam adz-Dzuhli tidak menghendaki terjadinya masalah antara dirinya dengan Imam Bukhari,semoga Allah merahmati mereka berdua. Beliau pernah berpesan kepada murid-muridnya,“Janganlah kalian tanyakan kepadanya mengenai masalah al-Kalam

(keyakinan tentang al-Qur'an kalamullah, pent). Karena seandainya dia memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang kita anut pastilah akan terjadi masalah antara kami dengan beliau, yang hal itu tentu akan mengakibatkan setiap Nashibi (pencela ahli bait), Rafidhi (syi'ah), Jahmi, dan penganut Murji'ah di Khurasan ini menjadi mengolok-olok kita semua.”

Ahmad bin 'Adi menuturkan kisah dari

guru-gurunya, bahwa kehadiran Imam Bukhari di kota itu membuat sebagian guru yang ada di

masa itu merasahasad/dengki terhadap beliau. Mereka menuduh Bukhari berpendapat bahwa al-Qur'an yang dilafalkan adalah makhluk. Suatu ketika muncullah orang yang menanyakan kepada beliau mengenai masalah melafalkan al-Qur'an. Orang itu berkata,“Wahai Abu Abdillah, apa pandanganmu mengenai melafalkan al-Qur'an; apakah ia makhluk atau bukan makhluk?”. Setelah mendengar pertanyaan itu, Bukhari berpaling dan tidak mau menjawab sampai tiga kali pertanyaan. Orang itu pun memaksa, dan pada akhirnya Bukhari menjawab,“al-Qur'an adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Sementara perbuatan hamba adalah makhluk. Dan menguji seseorang dengan pertanyaan semacam ini adalah bid'ah.”Yang menjadi sumber masalah adalah tatkala orang itu secara gegabah menyimpulkan,“Kalau begitu, dia -Imam Bukhari- berpendapat bahwa al-Qur'an yang aku lafalkan adalah makhluk.”Dalam riwayat lain, Bukhari menjawab,“Perbuatan kita adalah makhluk. Sedangkan lafal kita termasuk perbuatan kita.”Hal itu menimbulkan berbagai persepsi di antara hadirin. Ada yang mengatakan,“Kalau begitu al-Qur'an yang saya lafalkan adalah

makhluk.”Sebagian yang lain membantah,“Beliau tidak mengatakan demikian.”Akhirnya, timbullah kesimpang-siuran dan kesalahpahaman di antara para hadirin.

Tatkala kabar yang tidak jelas ini sampai ke telinga adz-Dzuhli, beliau pun berkata,“al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggap bahwa al-Qur'an yang saya lafalkan adalah makhluk -padahal Imam Bukhari tidak menyatakan demikian, pent- maka dia adalah mubtadi'/ahli bid'ah. Tidak boleh bermajelis kepadanya, tidak boleh berbicara dengannya. Barangsiapa setelah ini pergi kepada Muhammad bin Isma'il -yaitu Imam Bukhari- maka curigailah dia. Karena tidaklah ikut menghadiri majelisnya kecuali orang yang sepaham dengannya.”

Semenjak munculnya ketegangan di antara adz-Dzuhli dan Bukhari ini maka orang-orang pun bubar meninggalkan majelis Imam Bukhari kecuali Muslim bin Hajjaj -Imam Muslim- dan Ahmad bin Salamah. Saking kerasnya permasalahan ini sampai-sampai Imam adz-Dzuhli menyatakan,

(6)

tentang lafal -sebagaimana Bukhari, pent- maka tidak halal hadir dalam majelis kami.”Mendengar hal itu, Imam Muslim mengambil selendangnya dan meletakkannya di atasimamah/penutup kepala yang dikenakannya, lalu beliau berdiri di hadapan orang banyak meninggalkan beliau dan dikirimkannya semua catatan riwayat yang

ditulisnya dari Imam adz-Dzuhli di atas punggung seekor onta. Ada sebuah pelajaran berharga dari Imam Muslim dalam menyikapi persengketaan yang terjadi diantara kedua imam ini. al-Hafizh Ibnu Hajarrahimahullahberkata,“Muslim telah bersikap adil tatkala dia tidak menuturkan hadits di dalam kitabnya -Shahih Muslim-, tidak dari yang ini -Bukhari- maupun yang itu -adz-Dzuhli-.”

Pada akhirnya, Imam Bukhari pun memutuskan untuk meninggalkan Naisabur demi menjaga keutuhan umat dan menjauhkan diri dari gejolak fitnah. Beliau menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Allah lah Yang Maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Sebab beliau tidaklah menyimpan ambisi kedudukan maupun kepemimpinan sama sekali. Imam Bukhari berlepas diri dari tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang hasad kepadanya. Suatu saat, Muhammad bin Nashr al-Marruzi menceritakan: Aku mendengar dia -Bukhari- mengatakan,

“Barangsiapa yang mendakwakan aku

berpandangan bahwa al-Qur'an yang aku lafalkan adalah makhluk, sesungguhnya dia adalah

pendusta. Sesungguhnya aku tidak berpendapat seperti itu.”

Abu Amr Ahmad bin Nashr berusaha menelusuri permasalahan ini kepada Imam Bukhari. Dia berkata,“Wahai Abu Abdillah, di sana ada

orang-orang yang membawa berita tentang dirimu bahwasanya kamu berpendapat al-Qur'an yang aku lafalkan adalah makhluk.”Maka Imam Bukhari menjawab,“Wahai Abu Amr, hafalkanlah

ucapanku ini; Siapa pun diantara penduduk Naisabur dan negeri-negeri yang lain yang mendakwakan bahwa aku berpendapat al-Qur'an yang aku lafalkan adalah makhluk maka dia adalah pendusta. Sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan hal itu. Yang aku katakan adalah perbuatan hamba adalah makhluk.”

(Kisah ini disusun ulang dariHadyu as-Sari Muqaddimah Fath al-Bari, hlm. 658-659)

Abdullah anak Imam Ahmad berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahkurahimahullah. Aku berkata,“Apa pendapatmu mengenai orang yang mengatakan bahwa tilawah adalah makhluk dan lafal kita dengan al-Qur'an adalah makhluk, sedangkan al-Qur'an adalah kalamullah dan bukan makhluk? Apa pendapatmu tentang sikap menjauhi orang seperti ini? Apakah dia layak disebut sebagai ahli bid'ah?”. Beliau menjawab,

“Orang semacam ini semestinya dijauhi. Itu adalah ucapan ahli bid'ah. Dan itu merupakan perkataan kaum Jahmiyah.”(lihatas-Sunnahkarya Abdullah bin Ahmad, no. 178). Abdullah juga mengatakan,

“Aku mendengar ayahku rahimahullah berkata: Barangsiapa yang mengatakan bahwa lafalku dengan al-Qur'an adalah makhluk maka dia adalah penganut Jahmiyah.”(lihatas-Sunnah

karya Abdullah bin Ahmad, no. 180)

Ketika membahas tentang biografi sekilas Imam Bukhari di dalam kitabnyaJarh wa Ta'dil

Abdurrahman bin Abi Hatimrahimahullahberkata,

“Ayahku -Abu Hatim- dan Abu Zur'ah mendengar hadits darinya. Kemudian mereka berdua

meninggalkan haditsnya, yaitu ketika Muhammad bin Yahya an-Naisaburi mengirimkan surat kepada mereka berdua yang menceritakan bahwasanya di daerah mereka -Naisabur- dia menampakkan pemahaman bahwa lafalnya dengan al-Qur'an adalah makhluk.”(lihatal-Jarh wa at-Ta'dil

VII/191).

Imam adz-Dzahabirahimahullahtelah

membantah perkataan ini dalam kitabnyaSiyar A'lam an-Nubala'. Beliau berkata,“Apabila mereka berdua meninggalkan haditsnya, ataupun tidak meninggalkannya, maka Bukhari tetap saja seorang yang tsiqah/terpercaya, kredibel, dan riwayatnya dijadikan hujjah di seluruh penjuru dunia.”(lihatDhawabith al-Jarh wa at-Ta'dil 'inda al-Hafizh adz-DzahabiII/633 risalah magister karya Abu Abdirrahman Muhammad ats-Tsani)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa

(7)

Ahmadrahimahullahberkata,“Setiap orang yang telah terbukti kuat keadilan/kredibilitasnya maka tidak boleh diterima tajrih/celaan kepada dirinya dari siapa pun hingga perkara itu diterangkan kepadanya sampai pada suatu keadaan yang tidak ada lagi kemungkinan yang lain kecuali memang harus menjatuhkan jarh/celaan kepadanya.”(lihat

Dhawabith al-Jarh wa at-Ta'dil 'inda al-Hafizh adz-DzahabiII/634)

Pelajaran Yang Bisa Dipetik

Kisah di atas mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita kaum muslimin, terlebih lagi bagi para penimba ilmu dan para da'i. Pelajaran terpenting dari kisah ini adalah pentingnya setiap muslim maupun muslimah untuk mempelajari aqidah Islam dengan sebaik-baiknya agar terhindar dari berbagai penyimpangan

pemahaman dan kesesatan. Karena aqidah inilah yang menjadi landasan agama kita. Hendaknya setiap muslim memahami hakikat keimanan dan tauhid yang menjadi intisari aqidah Islam.

Jangan sampai seorang muslim -apalagi penimba ilmu atau bahkan da'i- meremehkan masalah aqidah ini. Masalah aqidah adalah masalah yang sangat penting dan mendasar.

Selain itu, kisah di atas juga memberikan pelajaran kepada kita untuk menjadi seorang penimba ilmu dan da'i yang ikhlas berjuang di jalan Allah. Bukan menjadi orang yang memburu popularitas atau beramal karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Hendaklah kita menjadi orang yang berusaha untuk senantiasa mencari ridha Allah, bukan mengejar ridha manusia. Orang arab mengatakan,“Ridha manusia adalah cita-cita yang tak akan pernah tercapai.”Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf bahwa ikhlas itu adalah

melupakan pandangan manusia dengan senantiasa melihat kepada penilaian al-Khaliq, yaitu Allah.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita untuk berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan berita. Karena bisa jadi berita yang kita terima tidak benar atau tidak sempurna sehingga akan menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang mendengarnya. Apalagi jika berita itu terkait

dengan orang yang memiliki kedudukan di masyarakat, baik dari kalangan ulama ataupun penguasa. Kewajiban kita sebagai sesama muslim adalah menjaga kehormatan dan harga diri saudara kita, apalagi mereka adalah orang yang memiliki kedudukan dan keutamaan di mata publik.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita -terutama para da'i dan tokoh masyarakat- untuk menjaga lisan dan cermat dalam berkata-kata. Terlebih lagi jika kita berada di depan orang banyak, karena penggunaan kata-kata yang kurang tepat atau menimbulkan kerancuan bisa menimbulkan suasana yang kurang harmonis, kekacauan, dan bahkan permusuhan yang tidak pada tempatnya.

Kisah ini juga memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita, bahwasanya terkadang permasalahan atau perselisihan yang timbul diantara sesama guru atau da'i itu timbul dan semakin bertambah parah akibat ulah sebagian murid-murid mereka yang suka membuat masalah. Oleh sebab itu seorang guru harus objektif dan berhati-hati dalam menerima berita dari muridnya. Demikian pula, seorang murid juga tidak boleh sembarangan dalam menafsirkan perkataan gurunya tanpa meminta kejelasan terhadap ungkapan yang diduga bisa memicu

permasalahan. Apalagi di dalam situasi fitnah (kekacauan), hendaknya seorang murid fokus kepada tugasnya yaitu belajar dan tidak

disibukkan denganqila wa qola(kabar burung) dan pembicaraan yang kurang bermanfaat baginya.

(8)

yang harus diperhatikan. Memang,

memperingatkan dari kemungkaran adalah suatu kebaikan yang sangat besar. Akan tetapi

mengingkari kemungkaran pun ada kaidahnya, tidak boleh secara serampangan.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada para penimba ilmu dan para da'i untuk membersihkan hati mereka dari sifat hasad atau dengki. Karena banyak permasalahan yang terjadi diantara mereka diantara penyebabnya adalah karena sifat yang tercela ini. Oleh sebab itu ada suatu

ungkapan yang populer di kalangan para ulama

Jarh wa Ta'dil:Kalamul aqraan yuthwa wa laa yurwa, artinya:“Kritikan antara orang-orang yang sejajar kedudukannya cukup dilipat -tidak

diperhatikan- dan tidak diriwayatkan.”Karena terkadang kritikan yang muncul diantara sesama mereka adalah karena faktor hasad. Kita

berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian itu.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita untuk bersikaphusnuzhan/berprasangka baik kepada saudara kita. Karena perasaan

su'uzhan/buruk sangka yang tidak dilandasi dengan fakta-fakta yang kuat adalah termasuk perbuatan dosa. Selain itu, kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain. Memang meluruskan kesalahan orang lain adalah termasuk nasehat, akan tetapi hendaknya kita tidak

mencari-cari kesalahannya. Dan yang

tidak kalah pentingnya adalah semestinya kita lebih sibuk untuk memperbaiki

kesalahan-kesalahan diri kita sendiri, yang bisa jadi kesalahan kita itu tidak kecil dan tidak sedikit.

Allahul musta'aan.

Kisah ini juga menunjukkan kepada kita,

bahwasanya seorang da'i harus siap menghadapi berbagai rintangan dan cobaan di tengah-tengah perjalanan dakwahnya. Seorang da'i harus

senantiasa sabar dan tawakal kepada Allah dalam menyikapi berbagai masalah yang dijumpainya. Begitu pula seorang penimba ilmu. Bahkan, setiap orang yang beriman pasti mendapatkan ujian dari Allah yang menuntut mereka untuk bersabar

tatkala mendapatkan musibah dan bersyukur tatkala mendapatkan kenikmatan.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita mengenai kebesaran hati dan kelapangan dada para ulama rabbani dalam menyikapi fitnah yang menimpa mereka serta menempuh sikap yang bijak demi menjaga keutuhan umat. Mereka menyadari bahwasanya tugas mereka sebagai ulama adalah mendakwahkan ilmu dan membimbing umat menuju kebaikan. Mereka sama sekali tidak menyimpan ambisi-ambisi politik atau mengejar target-target duniawi. Ulama sejati tidak takut celaan para pencela dan tidak khawatir apabila ditinggalkan jama'ah, selama dia tegak di atas kebenaran.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita tentang besarnya bahaya kebid'ahan; yaitu ajaran-ajaran baru yang tidak ada tuntunannya di dalam agama Islam. Bid'ah ini tidak hanya

berkutat dalam masalah amalan, tetapi ia juga terjadi dalam masalah aqidah atau keyakinan. Bahkan, diantara keyakinan yang bid'ah itu ada yang bisa menyebabkan kafir bagi orang yang meyakininya. Oleh sebab itu para ulama salaf sangat keras dalam mengingkari para pelaku kebid'ahan. Sebagian diantara mereka mengatakan,“Bid'ah itu lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Karena pelaku maksiat masih mungkin untuk bertaubat, sedangkan bid'ah hampir tidak mungkin pelakunya bertaubat.”

Sebab pelaku kebid'ahan menganggap dirinya tidak melakukan kesalahan. Berbeda dengan pelaku maksiat yang masih mengakui bahwa dirinya memang telah berbuat maksiat.

Kisah ini juga memberikan pelajaran kepada kita untuk bersikap teguh dalam membela kebenaran dan memerangi kebatilan walaupun harus menyelisihi banyak orang, bahkan meskipun mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kedudukan di dalam pandangan kita.

Sesungguhnya kebenaran itu diukur dengan al-Kitab dan as-Sunnah, bukan dengan si fulan atau 'allan. Sebagian ulama salaf berpesan,

(9)

jalan-jalan kebatilan. Dan janganlah kamu merasa gentar karena banyaknya orang yang binasa.”

Dan yang terakhir, kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa perselisihan yang terjadi diantara sebagian ulama -dalam sebagian permasalahan- adalah realita yang tidak bisa kita pungkiri. Sebagai penuntut ilmu kita dituntut untuk bersikap bijak dan menempatkan diri sebagaimana mestinya. Ulama adalah pewaris para nabi. Kita harus memuliakan dan

menghormati mereka dengan tidak berlebih-lebihan di dalamnya.

Di sisi lain, kita juga harus ingat bahwa ulama bukanlah nabi yang semua ucapannya harus diikuti. Meskipun demikian, kita tidak boleh meremehkan, melecehkan, atau bahkan menjelek-jelekkan mereka. Apabila kebenaran yang mereka sampaikan -yaitu berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah- maka wajib untuk diikuti. Namun, apabila sebaliknya maka tidak kita ikuti dengan bersangka baik dan tetap menghargai jerih payah mereka.

Imam Syafi'irahimahullahberpesan kepada para pengikutnya,“Apabila kamu temukan di dalam bukuku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah/tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka berpendapatlah dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku.”

Bagian 5.

Mengenal Muhammad bin Abdul

Wahhab

Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali dari keturunan Musyarrif dari kabilah bani Tamim yang masyhur.

Beliau dilahirkan pada tahun 1115 H di 'Uyainah wilayah di dekat kota Riyadh. Beliau telah

menghafalkan al-Qur'an ketika masih belia. Beliau belajar kepada ayahnya seorang Qadhi/hakim di Uyainah pada masa itu. Beliau juga menimba ilmu dari para ulama yang lain di Nejed, Madinah, Ahsa', dan Bashrah. Dengan itulah beliau mendapatkan ilmu sebagai bekalnya untuk berdakwah.

Pada saat itu telah bertebaran berbagi bentuk bid'ah dan khurafat, perbuatan mencari berkah kepada kubur, pohon dan batu-batu. Maka beliau pun bangkit menegakkan dakwah untuk

memurnikan aqidah dan mengikhlaskan ibadah untuk Allah semata. Beliau pun menulis banyak kitab untuk itu, salah satunya yang paling terkenal adalah Kitab Tauhid.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjalani masa hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama dan berdakwah di jalan Allah. Beliau menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Sampai beliau wafat di Dir'iyyah sebuah wilayah di dekat kota Riyadh pada tahun 1206 H. Berkat didikan dan binaan beliau telah muncul sekian banyak para ulama dan pemimpin dakwah.

Semoga Allah memberikan pahala yang melimpah kepadanya dan menjadikan surga sebagai tempat tinggalnya.Wa shallallahu 'ala Nabiyyina

Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.

Sumber: Biografi Ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalamal-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid(halaman 7) karya Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzanhafizhahullah.

Bagian 6.

Sekilas Biografi Syaikh Ahmad

an-Najmi

Beliau adalah Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syubair an-Najmi. Beliau

dilahirkan pada 22/10/1346 H di kota Nijamiyah. Beliau anak tunggal dari dua orang tua yang salih. Beliau menimba ilmu kepada ulama besar

bernama Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar'awirahimahullahyang mendirikan

madrasah salafiyah di Shamithah pada tahun 1359 H.

Setelah belajar kepada gurunya ini, Syaikh Ahmad pun diberikan tugas untuk mengajar di Ma'had al-'Ilmi di Shamithah pada tahun 1374 H ketika pertama kali ma'had itu dibuka. Beliau terus

(10)

Kemudian setelah itu beliau pun berpindah meneruskan kegiatan mengajar di Universitas Islam Madinah.

Diantara guru-guru beliau adalah :

a. Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar'awi

rahimahullah-ulama besar di arab selatan-b. Syaikh Hafizh bin Ahmad Hakami

rahimahullah

c. Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu Syaikh

rahimahullah-mufti arab saudi di masa itu-d. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz

rahimahullah

Adapun diantara murid-murid beliau adalah :

1. Syaikh Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhali

hafizhahullah

2. Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhalirahimahullah

3. Syaikh Dr. Ali bin Nashir Faqihihafizhahullah

4. Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi al-Madkhali

hafizhahullah

Diantara karya-karya Syaikh Ahmad an-Najmi adalah :

1) Itmamul Minnah penjelasan Ushul Sunnah karya Imam Ahmad

2) Fat-hu Rabbil Ghani penjelasan Syarh Sunnah karya Imam al-Muzani

3) Fat-hu Rabbil Wadud penjelasan Kitab as-Sunnah dari Sunan Abu Dawud

4) Irsyad as-Saari penjelasan Syarh Sunnah karya Imam al-Barbahari

5) at-Ta'liqat al-Bahiyah 'ala Rasa'il 'Aqadiyah 6) asy-Syarh al-Mujaz penjelasan Kitab Tauhid

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab 7) Fat-hu Rabbil Ghafur penjelasan al-Wajibat

al-Mutahattimat

8) al-Fatawa al-Jaliyah 'anil Manahij ad-Da'awiyah

Diantara tanda kerendahan hati beliau adalah beliau menukil di dalam sebagian kitabnya faidah-faidah yang bersumber dari sebagian muridnya, dan hal ini tentu menunjukkan ketawadhu'an beliau yang luar biasa.

Syaikh Zaid bin Hadirahimahullahmensifati gurunya ini dengan ucapannya, “Syaikh Ahmad adalah seorang murabbi/pentarbiyah. Dan benar-benar beliau adalah sosok pendidik yang utama dengan akhlaknya, sosok pendidik dengan interaksinya bersama murid-muridnya,

teman-temannya, dan juga masyarakatnya.”

Suatu ketika dalam salah satu acara pengajian beliau disanjung dengan sanjungan yang sangat besar maka beliau pun berkata, “Innama ana thuwailibu 'ilmin shaghiir” artinya, “Saya ini hanyalah seorang penimba ilmu pemula yang masih kecil.”

Syaikh Ahmad adalah seorang guru yang sangat sabar dalam mengajar. Dalam sehari beliau terkadang mengajar sampai tujuh pelajaran. Belum lagi ditambah dengan banyaknya orang yang datang meminta fatwa kepada beliau baik dari dalam ataupun luar daerah. Bahkan sampai pun ketika beliau sedang berada di atas

pembaringan karena sakit baik di rumahnya maupun ketika berada di rumah sakit. Beliau tetap menyimak kitab yang dibacakan kepadanya dan berusaha untuk memberikan jawaban kepada orang-orang yang meminta fatwa kepadanya.

Syaikh Ahmad juga seorang yang sangat menjaga kehormatan/'iffah. Dikisahkan, bahwa suatu ketika beliau melewati sebuah toko roti. Beliau

mengatakan kepada muridnya,“Saya ingin membeli roti satu real.”Kemudian si murid pun mengambilkan roti itu dari toko roti.

Pegawai toko roti itu berkata, “Kamu tidak perlu minta 1 real dari Syaikh. Katakan kepada beliau : Perkara ini mudah (tidak usah dibayar, pent).” Maka Syaikh berkata kepada muridnya, “Katakan kepada mereka : Silahkan pilih; mereka ambil uang 1 real ini atau aku kembalikan rotinya.” Akhirnya mereka pun bersedia mengambil uang 1 real itu.

(11)

membaca biografi beliau dalam mukadimah kitab

at-Ta'liqat al-Bahiyah 'ala ar-Rasa'il al-'Aqadiyah, hlm. 41-54 (cet. Darul Minhaj)

Bagian 7.

Mengenal Abdul Ghani al-Maqdisi

al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi (penulis kitab Umdatul Ahkam). Beliau dilahirkan pada tahun 541 H di kota Jammaa'il di Nablus. Kemudian berhijrah bersama keluarganya ke Damaskus pada tahun 551 H. Pada tahun 561 H beliau mulai melakukan perjalanan menimba ilmu bersama dengan saudara sepupunya Ibnu Qudamah al-Maqdisi menuju kota Baghdad. Kemudian mereka berdua kembali ke Damaskus pada tahun 565 H dan pada saat itu beliau berumur 24 tahun.

Pada tahun 566 H beliau kembali mengadakan perjalanan untuk menimba ilmu ke Iskandariah di Mesir dan belajar kepada seorang ulama hadits bernama Abu Thahir as-Silafi (wafat 576 H). Setelah itu beliau pun mengadakan perjalanan menimba ilmu ke berbagai negeri dan kota yang lainnya. Beliau belajar hadits dan

mendakwahkannya sehingga tersebar luas di Syam.

Abdul Ghani al-Maqdisi adalah seorang ulama yang berpegang teguh dengan aqidah dan manhaj salaf serta menjauhi jalan-jalan kaum ahlil ahwaa' dan penebar bid'ah. Beliau pun

mendakwahkan aqidahnya mengenai sifat-sifat Allah dan karena itu pula beliau banyak

mendapatkan tekanan dan permusuhan dari kaum yang menyimpang semacam Asya'irah.

Beliau adalah orang yang memiliki akhlak mulia, dermawan dan berlapang dada serta konsisten dengan adab para salafus shalih. Beliau senantiasa menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Tidak membuat beliau gentar celaan dan cacian orang-orang yang tidak suka dengan dakwahnya. Karena itulah beliau sering mendapatkan

gangguan dan makar dari orang-orang yang menyimpang sampai pada akhirnya beliau berhijrah ke Mesir dan meninggal di sana.

Beliau wafat di Mesir pada tahun 600 H dalam usia 59 tahun. Beliau telah meninggalkan banyak karya ilmiah bagi umat, diantaranya adalah : Umdatul Ahkam, al-Kamal fi Asma'i Rijal, al-Iqtishad fil I'tiqad, Mukhtashar Sirah an-Nabi wa Ash-habihil Asyarah, al-Amru bil Ma'ruf wa an-Nahyu 'anil Munkar, dll. Semoga Allah membalas jasa-jasa beliau dan mengampuni dosa-dosanya.

Sumber: Biografi ringkas Abdul Ghani al-Maqdisi

rahimahullahdalam kitabnyaFadha'il Ramadhan, hal. 9-13 dengan tahqiq Abu Abdillah Ammar bin Sa'id al-Jaza'iri.

Keterangan Tambahan:

Imam Abdul Ghani al-Maqdisi telah menulis sebuah kitab khusus dalam hal aqidah yang dikenal dengan namaAqidah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi. Kitab ini telah

disyarah/dijelaskan oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badrhafizhahullahdalam sebuah buku/kitab yang berjudul'Tadzkiratul Mu'tasi Syarh Aqidah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi'.

Kitab syarah beliau ini pada asalnya adalah ceramah yang beliau sampaikan dalam kegiatan daurah ilmiah/kajian intensif yang diadakan di Kota Madinah Saudi Arabia kemudian rekaman daurah tersebut -dengan usulan dari sebagian penimba ilmu- ditranskrip sehingga terbit menjadi sebuah buku. Dijelaskan oleh Syaikh Abdurrazzaq mengapa beliau tertarik untuk mengupas

kandungan kitab matan ini. Beliau katakan, bahwa Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullahdahulu pernah mengatakan bahwa matanAqidah

al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisitermasuk matan yang beliau hafalkan pada masa awal-awal

menimba ilmu agama (lihat mukadimah beliau dalam kitabnyaTadzkiratul Mu'tasi, hal. 3 cet I. Penerbit Ghiras 1424 H/2003 M)

Semoga Allah memberikan balasan

(12)

Bagian 8.

Mengenal Imam Ibnu Katsir

Beliau adalah seorang imam (ulama besar), al-Hafizh, al-Muhaddits, ahli sejarah Islam,

'Imadud Din Abul Fida' Isma'il bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi asy-Syafi'i.

Beliau dilahirkan di kota Mijdal sekitar tahun 700 H. Beliau tumbuh di rumah yang penuh dengan nuansa ilmu dan agama. Bapaknya yaitu Umar bin Hafsh bin Katsir mengambil ilmu dari an-Nawawi dan al-Fazari, dan beliau -bapaknya itu- adalah khatib di kotanya. Bapaknya telah meninggal ketika Ibnu Katsir masih berusia kurang lebih tiga tahun. Setelah itu keluarganya berpindah ke Damaskus pada tahun 707 H. Beliau pun diasuh dan diajari ilmu oleh saudaranya sendiri yang bernama Abdul Wahhab semenjak meninggalnya sang bapak.

Diantara guru Ibnu Katsir adalah :

a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah b. al-Hafizh Abul Hajjaj al-Mizzi c. al-Hafizh Abu Abdillah adz-Dzahabi d. Syaikh Abu Ishaq al-Fazari

Adapun diantara murid-muridnya adalah :

1. Muhammad bin Isma'il bin Katsir -anaknya

sendiri-2. Imam Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi -penulis syarah Aqidah

Thahawiyah-Diantara karya Ibnu Katsir adalah :

- Tafsir al-Qur'an al-'Azhim - Ahadits al-Ushul

- Ikhtishar 'Ulum al-Hadits - al-Bidayah wa an-Nihayah - Manaqib Ibnu Taimiyah

Beliau wafat pada hari Kamis 26 Sya'ban 774 H di Damaskus lalu dimakamkan di pemakaman Sufiyah di sisi makam gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Sumber: Diringkas dari mukadimah tahqiqTafsir al-Qur'an al-'Azhim, hal. 13-17 oleh Syaikh Sami bin Muhammad as-Salamah penerbit Dar Thaibah cet. ke-2 1420 H.

Tambahan Keterangan:

Salah satu guru dari Imam Ibnu Katsir yang tidak disebutkan di atas adalah Imam Ibnul Qayyim. Syaikh Salim al-Hilali menyebutkan bahwa diantara murid-murid Ibnul Qayyim adalah :

- Ibnu Rajab al-Hanbali - Ibnu Katsir

- adz-Dzahabi - Ibnu Abdil Hadi - al-Fairuz Abadi

Sumber: Mukadimah tahqiq kitabal-Fawa'id, hal. 10 cet. Maktabah ar-Rusyd

Bagian 9.

Mengenal Imam Ibnu Mandah

Nasab dan Keluarganya

Muhammad bin Ishaq. Beliau adalah al-Imam al-Hafizh, Sang pengembara yang mencari ilmu ke berbagai negara, seorang pakar hadits Islam Abu Abdillah Muhammad, putra seorang ahli hadits yang bernama Abu Ya'qub Ishaq bin al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Yahya bin Mandah. Nama asli Mandah adalah Ibrahim bin al-Walid bin Sandah, berasal dari Ashfahan.

Keturunan keluarga Mandah adalah orang-orang yang sangat perhatian dalam meriwayatkan hadits-hadits Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu muncullah dari keturunan mereka para ulama besar dalam bidang hadits dan pakar dalam memahami kandungannya. Dalam

(13)

Ishaq- anak seorang muhaddits -Ishaq bin Mandah- yang juga putra seorang muhaddits -Mandah-.”

Dalam usia yang masih belia, Ibnu Mandah sudah mulai mendengar penuturan hadits-hadits Nabi

shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada waktu itu -tahun 318 H- Ibnu Mandah masih berumur antara 7 hingga 8 tahun. Beliau mendengarkan hadits dari ayahnya -Ishaq- dan juga dari paman ayahnya Abdurrahman bin Yahya bin Mandah, dan juga dari para ulama Ashbahan yang lain.

Kelahiran dan Tempat Tinggalnya

Beliau dilahirkan pada tahun 310 atau 311 H. Di dalamLisan al-Mizan, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

“Ibnu Mandah lahir pada tahun 316 H dan mulai mendengar hadits pada tahun 318 H dan

sesudahnya.”Namun ucapan Ibnu Hajar ini adalah jelas sebuah kekeliruan, sebagaimana ditegaskan oleh pen-tahqiqKitabat-Tauhidkarya Ibnu Mandah.

Ibnu Mandah dilahirkan di Ashbahan, salah satu kota di wilayah Khurasan. Di kota inilah banyak dilahirkan sosok ulama besar semacam Abu Nu'aim al-Ashbahani penulisHilyatul Auliya', Dawud azh-Zhahiri, Abul Fadhl al-Ashbahani -yang dijuluki denganQowamus Sunnah- dan lain sebagainya. Di kota inilah Ibnu Mandah menimba ilmu, belajar akhlak dan mengejar keutamaan kepada para ulamanya. Pada tahun 330 H -ketika itu umurnya tidak lebih dari 20 tahun- beliau mulai mengadakan perjalanan untuk menimba ilmu ke Naisabur. Beliau pun terus melakukan perjalanan untuk menimba ilmu ini ke berbagai negeri selama 40 tahun lamanya. Setelah itu, beliau pulang ke negeri asalnya dalam keadaan telah menjadi seorang ulama besar yang telah mencatat ilmu dari 1700 orang guru.

Di Ashbahan itulah, ketika umurnya sudah melewati 60 tahun, Ibnu Mandah menikah lalu dikaruniai beberapa orang anak. Salah satu putranya bernama Abdurrahman yang biasa dipanggil dengankun-yahAbul Qasim. Putranya ini pun tumbuh menjadi ulama besar. Imam adz-Dzahabi memujinya dengan ungkapan,

“Beliau adalah al-Hafizh, al-'Alim, al-Muhaddits...”

Yahya bin Abdul Wahhab berkomentar tentang Abdurraman ini -pamannya-,“Pamanku adalah pedang yang menebas ahli bid'ah...”

Gigih Dalam Menimba Ilmu dan Berdakwah

Ibnu Mandah mengadakan perjalanan ke berbagai negeri untuk menimba ilmu. Beliau datang ke Naisabur, Iraq, Damaskus, Beirut, Gaza, Baitul Maqdis (Palestina), Mesir, Mekah, Madinah, dan kota-kota yang lainnya. Ibnu Mandah adalah sosok yang sangat mencintai Sunnah dan membenci bid'ah. Diriwayatkan dalam kitab

Thabaqat al-Hanabilah, bahwa beliau pernah mengatakan,“Aku telah berkeliling ke negeri Timur dan Barat sebanyak dua kali. Aku tidak pernah mau mendekat (belajar) kepada orang yang tidak jelas. Dan aku pun tidak mau mendengar dari para ahli bid'ah walaupun cuma satu hadits.”

Beliau juga menyusun kitab-kitab bantahan untuk ahli bid'ah. Di antara karyanya adalahar-Radd 'alal Lafzhiyahdanar-Radd 'alal Jahmiyah.Beliau juga sangat perhatian dalam masalah akidah, oleh karenanya beliau menulis kitabnya yang sangat terkenal Kitab at-Tauhid. Ibnu Mandah bukan hanya pakar dalam bidang hadits, beliau juga ahli di bidang tafsir dan mumpuni di bidang sejarah dan qiro'at.

Sanjungan Para Ulama

Ahmad bin Ja'far al-Hafizh berkata,“Aku telah mencatat hadits dari 1000 orang guru lebih, dan tidak ada di antara mereka yang lebih kokoh hafalannya daripada Ibnu Mandah.”Ja'far bin Muhammad al-Mustaghfiri berkata,“Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Abdillah Ibnu Mandah...”

Abu Isma'il al-Anshari -guru besar di negeri Harat-berkata,“Abu Abdillah Ibnu Mandah adalah sayyid/pemimpin umat di masanya.”Imam adz-Dzahabi menyebutnya sebagai da'i kepada Sunnah dan penjaga atsar.

Qowamus SunnahAbul Fadhl al-Ashbahani

(14)

dalam hafalan, ketekunan beragama, dan pembelaan terhadap Sunnah serta mematikan bid'ah. Dia berkeliling dunia untuk mencari hadits. Aku mengetahui kedudukannya sejak dia masih muda. Yaitu tatkala Abu Ahmad al-'Assal --'al-'Assal adalah seorang imam di masanya'--mengirim surat kepadanya ketika dia berada di Naisabur, menanyakan kepadanya tentang suatu hadits yang sulit dipahami. Maka Ibnu Mandah menjawabnya dan menerangkan hal itu kepadanya.”Abu Nu'aim pun memuji Ibnu

Mandah dengan mengatakan bahwa beliau adalah

Jabalun minal Jibaal; artinya beliau adalah termasuk jajaran ulama penghafal hadits yang sangat handal.

Guru-Guru Ibnu Mandah

Diantara ulama yang menjadi guru Ibnu Mandah dan paling banyak menjadi narasumber

riwayatnya adalah: Abu Ahmad al-'Assal, Abu Ishaq bin Hamzah, Abu Sa'id bin al-A'rabi, Abul 'Abbas al-Asham, dan lain-lain. Ibnu Mandah menuturkan,“Aku telah mencatat ilmu dari seribu tujuh ratus guru, dan aku belum pernah melihat ada di antara mereka yang seperti al-'Assal dan Abu Ishaq bin Hamzah.”

Abu Ahmad al-'Assal adalah salah seorang imam besar dalam ilmu hadits. Abu Nu'aim pun memujinya,“Abu Ahmad -al-'Assal- adalah termasuk jajaran ulama besar yang memiliki ilmu yang mendalam, pemahaman yang mapan dan hafalan yang kuat.”Demikian pula Abu Ishaq bin Hamzah -guru Ibnu Mandah yang lain- adalah seorang imam ahli hadits besar. Abu Nu'aim berkata tentangnya,“Beliau adalah orang yang memiliki hafalan paling kokoh di masanya.”Ibnu Mandah juga berkata,“Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Ishaq bin Hamzah.”

Murid-Murid Ibnu Mandah

Diantara murid Ibnu Mandah yang kemudian menjadi ulama besar dan yang paling terkenal di antara mereka adalah: Abu Amr Abdul Wahhab bin Mandah -anaknya-, Hamzah bin Yusuf

as-Sahmi, Abu Bakr bin Manjawaih, dan Tammam

bin Muhammad ar-Razi. Abu 'Ali al-Ahwazi

berkata,“Aku belum pernah melihat orang sehebat Tammam. Beliau adalah seorang ulama yang sangat mengetahui hadits dan mendalami seluk-beluk periwayatnya.”

Perselisihan Ibnu Mandah dan Abu Nu'aim

Para ulama menceritakan bahwasanya antara kedua ulama ini telah terjadi perselisihan dalam sebagian masalah akidah, yaitu tentang persoalan lafaz al-Qur'an. Bangkitlah Abu Nu'aim menulis bantahan kepada Ibnu Mandah dengan kitabnya

ar-Radd 'alal Hurufiyah wal Hululiyah. Demikian juga sebaliknya, Ibnu Mandah menulis bantahan dengan kitabnyaar-Radd 'alal Lafzhiyah.

Keduanya saling men-jarh/mengkritik satu sama lain.

Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa Abu Nu'aim termasuk penganut paham Asy'ari. Beliau lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwatilawahatau bacaan al-Qur'an adalah makhluk. Adapun Imam Ibnu Mandah berpegang kepada akidah salaf. Beliau berpendapat

bahwasanya lafaz al-Qur'an bukanlah makhluk. Peselisihan yang terjadi antara Imam Bukhari dengan Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli pun muncul akibat permasalahan serupa.

Oleh sebab itu para ulama tidak menerima komentar miring dari salah seorang di antara mereka berdua terhadap lawannya. Tatkala menanggapi komentar miring dari Abu Nu'aim tentang Ibnu Mandah, Imam adz-Dzahabi berkata,

“Kami tidak mau ambil pusing dengan ucapanmu mengenai musuhmu karena permusuhan yang ada. Sebagaimana kami juga tidak mau mendengar komentar darinya mengenai anda...”Inilah kaidah yang dipegang oleh para ulama. Imam Ahmad bin Hanbal berkata,“Setiap orang yang telah terbukti kredibilitasnya, maka tidak bisa diterima celaan atasnya dari siapa pun kecuali apabila tuduhan itu benar-benar didukung keterangan yang jelas sehingga tidak ada kemungkinan lain kecuali harus mengarahkan jarh/kritikan kepada dirinya.”

(15)

Dalam bidang akidah, beliau menulis kitab:

al-Iman, ar-Radd 'alal Jahmiyah, ar-Ruh wa an-Nafs, danar-Radd 'alal Lafzhiyah. Dalam bidang hadits:Ma'rifatush Shahabah, al-Amali, al-Kuna wal Alqaab, al-Asami wal Kuna, dan lain-lain. Dalam bidang sejarah:Tarikh Ashbahan, at-Tarikh, Dala'il an-Nubuwah. Dalam bidang ilmu al-Qur'an:an-Nasikh wal Mansukh. Ibnu Mandah juga memiliki kitab-kitab yang lain seperti

as-Sunnah, sebagaimana disinggung oleh Ibnu Taimiyah dan al-Kattani. Namun sayangnya, sebagian kitab-kitab tersebut hilang atau tidak ditemukan seperti kitabal-Fawa'id, at-Tarikh, Dala'il an-Nubuwah, danan-Nasikh wal Mansukh.

Salah satu kitab karyanya yaitu Kitabal-Iman, telah diterbitkan oleh penerbit Universitas Islam Madinah cetakan pertama tahun 1401 H, dengan

tahqiqoleh Dr. Ali Nashir al-Faqihi

hafizhahullah-seorang ulama guru besar di Universitas Islam Madinah, dosen pembimbing Ustadz Dr. Ali Musri, M.A.hafizhahullah, pen-. Demikian juga Kitabat-Tauhid, telah dicetak oleh Dar Hadyu Nabawi Mesir dan Dar al-Fadhilah Saudi pada tahun 1428 H, dengan tahqiq oleh Dr. Muhammad bin Abdullah al-Wuhaibi dan Dr. Musa bin Abdul Aziz al-Ghushnhafizhahumallah. Pada asalnya kitab ini adalah risalah magister (S2) milik mereka berdua di bawah pengawasan Syaikh Dr. Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin yang diajukan kepada Universitas Islam Muhammad bin Su'ud dan dipresentasikan pada tahun 1406 H. Judul lengkap kitab ini adalahat-Tauhid wa Ma'rifatu Asma'illahi 'Azza wa Jalla wa Shifatihi 'alal Ittifaq wat Tafarrud.

Kitabat-Tauhidkarya Ibnu Mandah adalah kitab akidah yang dibawakan dengan metode ahli hadits. Di dalamnya beliau menyebutkan

hadits-hadits tentang tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma' wa shifat. Metode ini adalah metode kebanyakan ulamamutaqaddimin/terdahulu dalam karya-karya mereka, seperti kitabal-Iman

karya Abu Bakr bin Abi Syaibah,as-Sunnahkarya Abdullah putra Imam Ahmad,as-Sunnahkarya Ibnu Abi 'Ashim,Khalqu Af'alil 'Ibadkarya Imam Bukhari,Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnahkarya Imam al-Lalika'i,'Aqidatu Ash-habil Haditskarya ash-Shabuni, dan lain sebagainya.

Wafatnya Ibnu Mandah

Ibnu Mandah wafat pada tahun 395 H. Sebagaimana penjelasan Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya;Siyar A'lam an-Nubala',

Tadzkiratul Huffazh, danMizanul I'tidal. Demikian pula penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnyaLisanul Mizan. Keterangan Ibnu Abi Ya'la dalam kitabnyaThabaqat al-Hanabilah,Ibnul 'Imad dalamSyadzarat adz-Dzahab. Dan keterangan Ibnu Taghri Bardi dalaman-Nujum az-Zahirah. Dan inilah pendapat Abu Nu'aim dalamTarikh Ashbahan.

Sementara para ulama yang lain berpendapat bahwa Ibnu Mandah wafat pada tahun 396 H. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnul Jauzi dalamal-Muntazham, Imam Ibnu Katsir dalamal-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnul Atsir dalamal-Kamil, dan ash-Shofadi dalam

al-Wafi bil Wafayat. Dan ini adalah pendapat al-Hakim an-Naisaburi. Kedua pendapat ini dibawakan oleh Imam Ibnu 'Asakir dalam kitabnya

Tarikh Damaskus.

Pen-tahqiqKitabat-Tauhidkarya Ibnu Mandah menjelaskan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Abu Nu'aim. Karena Abu Nu'aim dan Ibnu Mandah tinggal di negeri yang sama. Terlebih lagi antara keduanya telah terjadi permasalahan; suatu sebab yang boleh jadi menjadi pendorong untuk mengikuti berita-berita tentangnya. Selain itu, Abu Nu'aim juga

membawakan tambahan ilmu (ziyadah).

Sementara sebagaimana dimaklumi di kalangan para ulama hadits bahwaziyadatu tsiqah

-tambahan keterangan dari perawi yang terpercaya- itu diterima.

(16)

Bagian 10.

Memuliakan Para Sahabat Nabi

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah... Keimanan kita kepada agama Islam tidak mungkin

dipisahkan dengan penghormatan kepada orang-orang yang sangat besar jasanya kepada kita. Mereka adalah para Sahabat Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang yang telah menginfakkan umurnya untuk membela dakwah dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya.

Setiap mukmin tentu jatuh cinta ketika membaca pujian demi pujian yang Allah dan Rasul-Nya tujukan kepada mereka. Setiap muslim pun akan terharu tatkala melihat besarnya pengorbanan yang mereka berikan demi tegaknya agama! Karena bagi mereka iman dan tauhid jauh lebih berharga di atas segala kenikmatan dunia. Bukan hanya harta, waktu, pikiran, dan tenaga yang mereka curahkan. Bahkan nyawa pun rela untuk mereka persembahkan...

Surga Untuk mereka

Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah mendapat janji Surga dari Allahsubhanahu wa ta'ala. Sebuah keistimewaan yang tidak bisa ditukar dengan emas. Bahkan, dunia dan seisinya tidak ada apa-apanya dibandingkan secuil

kenikmatan di Surga! Allahta'alaberfirman (yang artinya),“Orang-orang yang terdahulu dan

pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhai-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya

sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.”(at-Taubah: 100)

Mereka Sebaik-baik Manusia

Apabila kita ingin menjadi orang baik, tentu saja kita ingin meniru dan mempelajari keteladanan orang-orang yang baik pula. Kebaikan yang dengannya kita akan selamat dari azab Allah dan meraih keutamaan di sisi-Nya. Sementara para

Sahabat adalah barisan terdepan dari orang-orang terbaik di muka bumi ini.

Dari Ibnu Mas'udradhiyallahu'anhu, Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Ada Yang Menandingi Mereka

Adakah diantara kita orang kaya raya yang mampu dan mau berinfak emas sebesar gunung? Kalaupun ada, ketahuilah bahwa infak semahal itu belum bisa mengalahkan infak seorang Sahabat, walaupun hanya segenggam tangan!

Dari Abu Sa'id al-Khudriradhiyallahu'anhu, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

“Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian ada yang berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Para Sahabat Laksana Bintang

Para Sahabat adalah penjaga umat ini. Ketika mereka pergi maka berbagai masalah dan

kekacauan pun merebak di tengah umat manusia.

Dari Abu Musa al-Asy'ariradhiyallahu'anhu, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

“Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.”

(HR. Muslim)

(17)

Siapakah yang meragukan keutamaan para Sahabat terbaik semacam Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali bin Abi Thalib

radhiyallahu'anhum?

Putra Ali bin Abi Thalibradhiyallahu'anhuyang bernama Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya, “Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Beliau menjawab, “'Umar.” Dan aku khawatir jika beliau mengatakan bahwa 'Utsman adalah sesudahnya, maka aku katakan, “Lalu anda?”. Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah

seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Mereka adalah orang-orang terbaik yang menjadi teladan bagi kaum muslimin dalam hal ilmu dan amalan, contoh dalam hal kejujuran dan

kedermawanan, teladan dalam hal keberanian dan kesabaran. Abdullah bin 'Umar

radhiyallahu'anhumaberkata, “Dahulu di masa Nabishallallahu 'alaihi wa sallammasih hidup kami memilih-milih siapakah orang yang terbaik. Maka menurut kami yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian 'Umar, kemudian 'Utsman bin 'Affan. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.” (HR. Bukhari)

Keselamatan Dengan Mengikuti Mereka

Berbagai macam konflik dan persengketaan yang timbul semenjak wafatnya Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallamdan berpulangnya generasi terbaik merupakan sunnatullah atas

hamba-hamba-Nya. Tidak ada jalan keluar darinya selain berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan Sunnah para Khalifah yang lurus dan terbimbing oleh hidayah.

Dari al-'Irbadh bin Sariyahradhiyallahu'anhu, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

“Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku, niscaya akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah para Khulafa'ur rasyidin yang berada di atas

petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah sesat.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih)

Bagaimana Sikap Kita?

Dengan mencermati dalil-dalil di atas, teranglah bagi kita -kaum muslimin- bahwa kecintaan dan pemuliaan kepada para Sahabat

radhiyallahu'anhum merupakan sebuah kewajiban dan kebenaran yang tidak boleh diragukan.

Maka bukanlah perilaku seorang muslim yang baik, menjelek-jelekkan para Sahabat, menuduh mereka berkhianat, membenci mereka, apalagi sampai mengkafirkan mereka!!

Imam Abu Ja'far ath-Thahawirahimahullah

berkata, “Kita mencintai para Sahabat Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallamdan kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang diantara mereka. Kita juga tidak berlepas diri dari siapapun diantara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjatuhkan kehormatan mereka. Kita tidak menyebutkan mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka adalah termasuk bagian agama, ajaran keimanan dan sikap ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap yang melampaui batas.” (lihatal-'Aqidah ath-Thahawiyah)

al-Khathib al-Baghdadirahimahullah

meriwayatkan bahwa Imam Abu Zur'ah ar-Razi mengatakan, “Apabila kamu melihat ada

seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam

maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallamtelah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur'an yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur'an dan

(18)

Sahabat-hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat kitabal-Kifayah)

Imam Ahmad bin Hanbalrahimahullahberkata, “Termasuk Sunnah adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh para Sahabat Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat

Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallamatau salah seorang diantara mereka maka dia adalah seorang tukang bid'ah pengikut paham Rafidhah/Syi'ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama-dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.” (lihat kitab beliauas-Sunnah)

Doa Untuk Mereka dan Untuk Kita

Sebagai orang-orang yang telah mendapatkan hidayah kepada Islam sudah selayaknya kita berterima kasih kepada para pendahulu kita. Karena melalui dakwah dan perjuangan mereka (baca: para Sahabat Nabi) ajaran-ajaran Islam ini tersampaikan kepada kita.

Dikatakan dalam sebuah riwayat, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak

berterima kasih kepada sesama manusia.” Apa yang bisa kita berikan untuk para Sahabat kalau bukan doa agar mereka -dan juga kita- senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan dari-Nya. Inilah doanya orang-orang yang beriman.

Allahsubhanahu wa ta'alaberfirman (yang artinya),“Adapun orang-orang yang datang sesudah mereka -sesudah Muhajirin dan Anshar-berdoa; Robbanaghfirlanaa wa li

ikhwaaninalladziina sabaquuna bil iimaan, wa laa taj'al fii quluubinaa ghillal liliadziina aamanuu. Robbanaa innaka ro'uufurr rahiim. “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman sebelum kami, dan janganlah Kau jadikan di dalam hati kami ada perasaan dengki terhadap orang-orang yang

beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.”(al-Hasyr: 10)

Imam Ibnu Abil 'Izz al-Hanafirahimahullah

berkata, “Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadap kaum mukminin terbaik dan pemimpin para wali Allah ta'ala setelah para Nabi. Bahkan Yahudi dan Nasrani memiliki satu

kelebihan di atas mereka. Orang Yahudi ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat Musa.” Orang Nasrani ditanya, “Siapakah

orang-orang terbaik diantara pemeluk agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat 'Isa.” Kaum Rafidhah/Syi'ah ditanya, “Siapakah orang-orang terjelek diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat

Muhammad.” Mereka tidak mengecualikan kecuali sedikit sekali. Bahkan diantara orang yang mereka cela itu terdapat orang yang jauh lebih baik daripada yang mereka kecualikan.” (lihatSyarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah)

:: Artikel ini disarikan dari kitabQothful Jana ad-Daani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani(hlm. 155-165) karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad al-Badr

hafizhahullah, dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.

Bagian 11.

Mewaspadai Penyimpangan

Khawarij

Imam al-Ajurrirahimahullahmenyebutkan dalam kitabnyaasy-Syari'ahsebuah bab dengan judul 'Celaan atas Khawarij dan keburukan madzhab mereka, boleh memerangi mereka, dan pahala bagi orang yang membunuh mereka atau terbunuh oleh mereka' (lihatasy-Syari'ah, 1/325)

(19)

sholat dan puasa serta bersungguh-sungguh dalam hal ibadah. Maka itu semua tidak

bermanfaat bagi mereka. Mereka menampakkan diri beramar ma'ruf dan nahi mungkar, dan hal ini pun tidak bermanfaat bagi mereka. Karena mereka adalah kaum yang menyelewengkan makna al-Qur'an sebagaimana yang mereka inginkan. Mereka melakukan kedustaan atas kaum muslimin. Allahta'alatelah memperingatkan kita dari

bahaya mereka. Demikian pula Nabishallallahu 'alaihi wa sallamtelah memperingatkan dari bahaya mereka. Begitu pula para khulafa'ur rasyidin setelah beliau memperingatkan kita dari bahaya mereka. Para sahabatradhiyallahu'anhum

memperingatkan kita dari bahaya mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun telah memperingatkan darinya.” (lihat

asy-Syari'ah, 1/325)

Imam al-Ajurri juga mengatakan, “...Mereka memberontak kepada para imam/ulama dan penguasa. Dan mereka menghalalkan

pembunuhan kepada kaum muslimin.” Beliau melanjutkan, “Dan generasi pertama dari mereka ini telah muncul pada masa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam. Yaitu seorang lelaki yang mencela Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam

ketika beliau sedang membagi-bagikan

ghanimah/harta rampasan perang. Dia berkata,

“Berbuat adillah, wahai Muhammad. Aku tidak melihat kamu berbuat adil.”Maka beliau menjawab,“Celakalah kamu! Lantas siapakah yang berbuat adil jika aku sendiri tidak berbuat adil?!.”

“Umarradhiyallahu'anhupun bermaksud untuk membunuhnya. Nabishallallahu 'alaihi wa sallam

pada saat itu melarangnya dari membunuh lelaki itu. Beliau mengabarkan bahwa orang ini dan para pengikutnya nanti akan membuat salah seorang dari kalian -para sahabat- meremehkan sholatnya apabila dibandingkan dengan sholat mereka. Dan para sahabat pun akan menganggap remeh puasanya bila dibanding puasa mereka. Mereka itu -Khawarij- keluar/melesat dari agama -sebagaimana halnya anak panah yang menembus sasarannya-. Beliau pun

memerintahkan dalam banyak hadits untuk memerangi mereka. Beliau juga menerangkan

keutamaan orang yang membunuh mereka atau terbunuh oleh mereka.” (lihatasy-Syari'ah, 1/326-327)

Imam al-Ajurrirahimahullahberkata, “Maka tidak sepantasnya terkecoh orang yang melihat

kesungguh-sungguhan seorang penganut Khawarij -dalam beramal/beribadah- padahal dia telah melakukan pemberontakan kepada

imam/pemerintah -apakah pemimpin itu bertindak adil atau aniaya- dimana dia memberontak dan mengumpulkan

massa/kelompok/jama'ahnya. Dia menghunuskan pedangnya dan menghalalkan untuk memerangi kaum muslimin. Tidak layak baginya -orang yang melihat mereka- terpedaya karena kemampuan mereka dalam membaca al-Qur'an. Jangan terpedaya oleh lamanya orang itu dalam menunaikan sholat. Jangan tertipu oleh

lama/terus-menerusnya puasa yang dia lakukan. Demikian pula jangan terkecoh oleh

kepandaiannya bersilat lidah dalam hal ilmu; apabila ternyata orang itu adalah mengikuti madzhab/pemahaman kaum Khawarij.” (lihat

asy-Syari'ah, 1/345)

Dari Abu Umamahradhiyallahu'anhu, Rasulullah

shallallahu 'alaihi wa sallambersabda tentang Khawarij,“Mereka adalah anjing-anjing neraka. Seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik orang yang mati terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka.”

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan hasan oleh al-Albani) (lihat takhrij risalahTarikh al-Khawarijoleh Syaikh Shalih as-Suhaimi

hafizhahullah, hlm. 4)

Penganut Paham Khawarij di Masa Kini

Syaikh Shalih as-Suhaimihafizhahullahberkata, “Betapa miripnya malam ini dengan malam kemarin! Nabishallallahu 'alaihi wa sallamtelah mengabarkan bahwasanya mereka -Khawarij- itu pasti akan muncul. Dan sampai pada akhirnya nanti mereka akan bergabung bersama Dajjal. Dan benarlah, kenyataannya mereka muncul pada masa seluruh negara Islam yang sedang

Referensi

Dokumen terkait

Ketika Rashid membunuh Imam dan melemparkan tubuhnya yang suci di jembatan di Baghdad, mereka menolak menerima kenyataan itu atau mempercayainya, dan mereka berkata, ‘Itu sebuah

Ibnu Athiyyah berkata, “dalam pandangan saya, Allah mengisyaratkan pada masa jahiliyah di zaman mereka. Maka Allah memerintahkan untuk melakukan perubahan dalam

73 Difahami daripada pengakuan ini bahawa istilah Khawarij merujuk kepada Muslimin yang memberontak ke atas Saidina Utsman, memeranginya dan membunuhnya yang menurut mereka telah