Hubungan a
ntara Kredibilitas Karyawan “Preanger Brasserie”
dengan Kepuasan Pelanggan terhadap Grand Hotel Preanger
Arshindy Amaliza Nuradi1, Wawan Setiawan2, Evi Novianti3
Jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Corresponding Author: [email protected]
ABSTRACT
The goal of this research was to understand the relationship between the employee expertness, trustworthness, and attractiveness with the level of customer satisfaciton in Grand Hotel Preanger. This research used the correlation method. Analysis technique used is descriptive and inferential analysis. The sample was taken with simple random sampling. The theory used in this research is The Theory of Source’s Credibility.Based on the result of the research data collection by distriuting questionnaires, interviews, observation, and literature study can be obtained the result that credibility of ‘Preanger Brasserie’ employee has a correlation with customer satisfaction toward Grand Hotel Preanger. The conclusions of this research is there is a substantial correlation between expertness, trustworthness, and attractiveness of ‘Preanger Brasserie’ employee with customer satisfaction toward Grand Hotel Preanger which consists of expectations and perceived performance. A substantial correlation means that if the credibility of employee to be increased, it will also increase customer satisfaction..The advice which can be given by research is ‘Preanger Brasserie’ employee should increase the expertness, trustworthness, and attractiveness so that customer satisfaction toward Grand Hotel Preanger will be increasing.
Keywords: Source of Credibility, Customer Relations, Customer Satisfaction
1Penulis
Pendahuluan
Hotel merupakan salah satu
pendukung sektor pariwisata yang
selalu melakukan pembangunan dan
perkembangan inovasi. Agar dapat
bersaing di perindustrian ini,
perhotelan selalu melakukan
peningkatkan kualitas baik dari segi
pelayanan maupun fasilitas.
Peningkatan dilakukan sesuai dengan
apa yang paling dibutuhkan publik
pada saat itu. Tujuannya adalah
supaya dapat memberikan kepuasan
pada pelanggan dan hotel tersebut
tidak ditinggalkan oleh publiknya.
Bandung merupakan salah satu
kota di Indonesia yang paling banyak
dijadikan tujuan pariwisata baik
domestik maupun mancanegara. Pada
momen libur panjang, jumlah
kendaraan yang masuk ke Bandung
mencapai kurang lebih 220.000 unit
per hari. Mayoritas kendaraan
didominasi oleh wisatawan yang
berasal dari Jakarta4. Seiring
berjalannya waktu, semakin banyak
hotel – hotel dengan berbagai kelas
4Sumber:
http://jabar.tribunnews.com/2012/05/17/ra tusan-ribu-kendaraan-masuki-bandung diakses pada 21 Mei 2012 pukul 21.50 WIB
yang dibangun di kota ini.
Berdasarkan data Perhimpunan Hotel
dan Restoran Indonesia (PHRI)
Bandung, jumlah hotel saat ini telah
mencapai lebih dari 300 unit5. Jumlah
total kamar hotel di Bandung
mencapai 1790 kamar.
Hotel yang berkualitas adalah
hotel yang ditunjang dengan berbagai
faktor mulai dari lingkungan, fasilitas,
hingga sumber daya manusia. Selain
lingkungan sebagai faktor eksternal,
faktor internal seperti fasilitas dan
sumber daya manusia hotel itu sendiri
sangat memengaruhi kualitas hotel.
Untuk sumber daya manusia, kualitas
dapat dilihat dari karyawan –
karyawan yang kredibel ditunjukan
dengan pelayanannya kepada tamu.
Proses komunikasi yang terjadi antara
karyawan dengan tamu akan
memengaruhi sikap tamu terhadap
hotel. Apabila fasilitas hotel lengkap
dan baik namun tidak ditunjang
dengan karyawan-karyawan yang
5Sumber:
kredibel maka kecil kemungkinan
bagi tamu untuk datang kembali ke
hotel di masa mendatang6.
Pelayanan yang meyakinkan akan
menciptakan kepuasan terhadap tamu.
Hal ini dikarenakan tamu akan merasa
kebutuhannya terpenuhi oleh
pelayanan yang diberikan hotel. Pada
perkembangannya hotel bukan
sekadar tempat bermalam akan tetapi
juga sebagai salah satu tempat dimana
banyak proses komunikasi yang
terjadi. Kegiatan komunikasi yang
terjadi dapat membuat tamu hotel
terpuaskan dan tidak akan segan –
segan untuk kembali ke hotel tersebut
saat sedang berwisata. Kepuasaan
yang ditunjukkan tamu akan
memerlihatkan sikap yang positif
terhadap hotel.
Kepuasan yang ditunjukan oleh
tamu dapat dilihat dari penilaian tamu
terhadap karyawan, apakah pelayanan
yang mereka terima sesuai atau
bahkan lebih dari apa yang mereka
harapkan atau tidak. Bila ada yang
tidak sesuai, biasanya tamu akan
memberikan kritik dan saran secara
6Hasil observasi penulis selamaJob Training
di Grand Hotel Preanger Bandung, 26 Oktober 2011 25 Januari 2012
langsung kepada pihak hotel.
Kepuasan yang muncul akan
membentuk sikap dari tamu apakah ia
akan datang kembali atau bahkan
merekomendasikan hotel kepada
orang lain. Hal ini menjadi
keuntungan tersendiri bagi pihak
hotel7.
Grand Hotel Preanger, salah satu
hotel bintang lima yang terletak di
pusat kota Bandung, menyadari
pentingnya aspek – aspek tersebut
untuk dapat memenuhi kebutuhan dan
harapan pelanggan demi
kelangsungan hotel. Lingkungan yang
nyaman bagi tamu dibangun melalui
kredibilitas karyawannya. Kredibilitas
karyawan dapat dilihat melalui
karyawan – karyawan yang
ditempatkan di fasilitas umum hotel,
misalnya bagian restoran, yang paling
banyak terjadi interaksi antara
karyawan dengan tamu. Sebagai salah
satu fasilitas yang paling utama di
hotel, restaurant merupakan salah
satu bagian yang mewakili ciri
kenyamanan hotel. Restaurant ini
merupakan salah satu tempat dimana
7Hasil wawancara penulis dengan Ibu Tegi
tamu paling banyak menghabiskan
waktu di hotel. Berbagai aktivitas
dilakukan sambil menikmati
hidangan. Selain makanan, suasana
dan pelayanan resto juga sangat
berpengaruh terhadap kenyamanan
tamu hotel8.
Pada aplikasinya, tamu yang
datang ke restoran yang diberi nama
“Preanger Brasserie” ini bukan hanya
tamu – tamu yang menginap di hotel.
Akan tetapi, banyak pula tamu yang
sengaja memesan tempat di “Preanger
Brasserie” baik untuk breakfast,
lunch, maupun dinner untuk
kepentingan bisnis. Saat occupancy
100%, dalam sehari pengunjung
“Preanger Brasserie” dapat mencapai
jumlah lebih dari 500 tamu setiap
harinya. Demi tetap memberikan
pelayanan yang prima dan untuk
memenuhi kebutuhan para tamu,
Grand Hotel Preanger meng-upgrade
bagian restoran ini baik dari segi
konsep tempat maupun pelayanan
agar dapat memberikan kepuasan bagi
tamu.
8Hasil observasi penulis di Preanger
Brasserie Grand Hotel Preanger, 5 Januari 2012
Berbagai elemen manajemen di
restaurant ini turut serta dalam
mewujudkan kepuasan pelanggannya,
mulai dari Food and Beverage
Manager, Restaurant Manager, chef,
hingga waiter. Semua berupaya
memberikan pelayanan terbaik
dengan menunjukkan kredibilitas
yang sesuai dengan bidangnya masing
– masing. Melalui kredibilitas yang
ditunjukkan karyawan “Preanger
Brasserie”, akan membantu tamu
untuk lebih yakin akan kualitas hotel
tempat mereka menginap dan
menerima pelayanan tersebut.
Peningkatan kredibilitas ini disadari
betul oleh Grand Hotel Preanger
sebagai tuntutan yang harus terpenuhi
agar dapat memberikan kepuasan bagi
pelanggannya, sehingga mewujudkan
pelanggan yang setia dan tidak mudah
berpaling pada kompetitor yaitu hotel
bintang lima lainnya di Bandung.
Kepuasan tamu hotel turut
dipengaruhi oleh kredibilitas yang
dimiliki karyawan “Preanger
Brasserie”. Sebagai salah satu fasilitas
penting di hotel, penilaian tamu
terhadap “Preanger Brasserie”
tamu puas dan akan datang kembali,
menginap di Grand Hotel Preanger
atau justru sebaliknya. Restoran
sebagai salah satu komponen penting
dalam hotel turut memengaruhi
kepuasan tamu. Setelah dilakukan
upgrading, tamu yang sebelumnya
tidak memiliki minat untuk datang
kembali kemudian menjadi lebih
tertarik karena kepuasan yang
sebelumnya mereka rasakan.
I. Penjelasan
Sebelumnya, konsep dari
‘Preanger Brasserie’ Grand Hotel
Preanger kurang membuka akses
interaksi bagi karyawan dengan
tamunya. Tamu yang datang ke
restaurant mengambil dan memesan
makanan namun tidak banyak terjadi
proses komunikasi di sini. Akan
tetapi, setelah dilakukan upgrading,
konsep restaurant menjadi open
kitchen yang memberikan akses bagi
tamu untuk berkomunikasi langsung
dengan chef yang menghidangkan
makanan mereka, seperti menanyakan
menu, komposisi, dan berbagai
informasi lain yang ingin diketahui
tamu. Tidak hanya hal – hal yang
berkaitan dengan restoran, informasi
secara umum mengenai keseluruhan
hotel juga perlu diketahui oleh
karyawan “Preanger Brasserie”.
Konsep dari restaurant baru ini juga
memungkinkan kemudahan akan
kedekatan antara karyawan dan
tamunya melalui komunikasi
interpersonal. Misalnya, saat tamu
membawa anak-anak, karyawan
restaurant tidak akan segan-segan
untuk membantu tamu menjaga
anak-anaknya saat sedang menyantap
hidangan dan masih banyak
kegiatan-kegiatan komunikasi lainnya.
Pesan yang disampaikan melalui
proses komunikasi antara karyawan
dengan tamu sebagai pelanggan hotel
akan memengaruhi bagaimana
kepuasan pelanggan kepada
perusahaan, apakah harapan mereka
terpenuhi atau tidak. Misalnya bila
kegiatan komunikasi yang dilakukan
karyawan menunjukkan kredibilitas
tinggi, maka tamu hotel yang semula
tidak memiliki penilaian positif
terhadap hotel akan memiliki
niat untuk kembali ke hotel di masa
yang akan datang.
Upaya untuk menunjukan
kredibilitas karyawan sebagai
komunikator dalam berinteraksi
dengan tamunya dilakukan dengan
berbagai bentuk, misalnya dengan
berusaha memberikan informasi
tentang jasa dan fasilitas yang
disediakan oleh pihak hotel sehingga
tamu merasa yakin dengan
kualitasnya atau dengan keahliannya
dalam memenuhi permintaan. Pada
akhirnya, penilaian yang baik
mencerminkan kepuasan tamu.
Tercipta hubungan yang harmonis
antara karyawan dan tamu,
memberikan dasar yang baik bagi
terciptanya loyalitas tamu, dan
publikasi secara tidak langsung dari
rekomendasi tamu kepada calon tamu
lain (word-of-mouth) yang sangat
menguntungkan bagi pihak hotel.
Bagi tamu sebagai pelanggan,
profesionalisme melayani merupakan
wujud nyata menghargai pelanggan.
Meski karyawan sudah berusaha
melayani dengan baik, terkadang
terdapat kesenjangan antara fakta dan
realita. Sebagai contoh, layanan yang
diterima oleh tamu tidak tepat waktu
atau tidak sesuai dengan pesanan, dan
sebagainya. Hal ini akan
menimbulkan keraguan pada keahlian
karyawan sebagai komunikator. Oleh
karena itu, perusahaan harus
memusatkan perhatian pada kualitas
pelayanan yang diberikan
karyawannya meliputi nilai – nilai
berupa pelayanan yang istimewa
sebagai upaya meningkatkan
kepuasan tamu.
Menurut Hovland, Janis, dan
Kelley (1953) dalam teori i paling
tidak terdapat dua komponen
kredibilitas komunikator, yakni
keahlian (expertness) serta dapat
dipercaya (trustworthness). Memadai
atau tidaknya keahlian karyawan
dalam memberikan informasi dapat
dilihat dari ada atau tidaknya keluhan
pelanggan mengenai informasi yang
dirasakan apakah detail atau lugas.
Kepercayaan dapat dilihat dari akurat
atau tidaknya informasi yang
didapatkan pelanggan. Unsur lain
yang juga penting yaitu daya tarik
(attractiveness) yang dapat dilihat
Kepuasan pelanggan merupakan
tujuan yang hendak dicapai oleh
perusahaan. Hal ini adalah tujuan
yang sangat penting, perlu dimonitor
dan ditingkatkan secara rutin untuk
hasil yang maksimal. Semakin tinggi
kepuasan pelanggan, semakin besar
kemungkinan pelanggan tetap setia
pada perusahaan.
Sebagai salah satu fungsi
manajemen perusahaan, Public
Relations memiliki peran dalam
memantau kredibilitas pelayanan
yang diberikan karyawan kepada
tamu hotel. Hubungan baik yang
terjalin antara karyawan dengan tamu
hotel melalui pelayanan yang baik
pula merupakan salah satu langkah
untuk membina customer relations.
Customer relations sangat penting
bagi kelangsungan perusahaan itu
sendiri.
Meningkatnya intensitas
persaingan hotel dan jumlah hotel
yang berdiri saat ini juga menuntut
setiap hotel untuk selalu
memperhatikan kebutuhan dan
keinginan pelanggannya serta
memenuhi apa yang mereka harapkan
dengan cara yang lebih memuaskan
daripada yang dilakukan pesaing.
Perhatian suatu hotel sebagai
perusahaan tidak lagi hanya terbatas
pada produk (barang atau jasa yang
dihasilkan) tetapi juga pada aspek
proses, customer relations itu sendiri,
sumber daya manusia, dan lingkungan
yang dibangun dalam hotel tersebut.
Dengan demikian hanya hotel yang
benar – benar berkualitas yang dapat
bersaing dalam pasar global.
II. Metodologi 2.1 Teori
Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Source
Credibility Theory yang dikemukakan
oleh Hovland, Janis, dan Kelley
(1953). Menurut teori ini, efektivitas
komunikasi ditentukan oleh
kredibilitas komunikator yang di
dalamnya meliputi penilaian
komunikan pada keahlian dan
keterpercayaan yang dimiliki oleh
komunikator. Teori ini menyatakan
bahwa orang lebih mungkin
dipersuasi ketika sumber komunikasi
menunjukkan dirinya sebagai orang
Paling tidak terdapat dua
komponen kredibilitas sumber, yakni
keahlian (expertness) dapat dipercaya
(trustworthiness) (Rakhmat,
2005:260).
Dalam kredibilitas, identifikasi
diri juga merupakan hal yang penting.
Identifikasi terjadi bila individu
mengambil perilaku yang berasal dari
orang atau kelompok lain karena
perilaku itu berkaitan dengan
hubungan yang mendefinisikan diri
yang artinya memperjelas konsep diri.
Dimensi yang paling relevan dengan
identifikasi ialah daya tarik
komunikator (attractiveness)
(Rakhmat, 2005:257)
Kredibilitas yang ditunjukkan
perusahaan akan memberikan
kepuasan bagi pelanggan. Hal ini
dijelaskan dalam Functional Model of
Credibility yang merupakan bagian
dari teori kredibilitas sumber (Source
Credibility). Functional model of
credibility berasumsi bahwa
kredibilitas sebagai sebuah tingkatan
dimana seorang sumber dapat
memuaskan kebutuhan penerima
(Credibility as the degree to which a
source satisfies the receiver’s needs).
Dari penjelasan di atas dapat
diketahui bahwa seorang sumber
(komunikator) akan dinilai sebagai
seseorang yang memiliki kredibilitas,
jika komunikator tersebut dapat
memenuhi kebutuhan penerima
(komunikan) dengan baik.
2.2 Variabel
Adapun variabel X dari
penelitian ini berdasarkan teori
tersebut adalah Kredibilitas karyawan
meliputi aspek keahlian, kepercayaan,
dan daya tarik. Sedangkan Variabel Y
adalah Kepuasan pelanggan meliputi
aspek harapan dan penilaian.
Variabel X, Kredibilitas karyawan
“Preanger Brasserie”
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikasi tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi tersebut terkandung dua hal, yaitu: (1) kredibilitas adalah persepsi komunikasi; jadi tidak inheren dalam diri komunikator, (2) kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator yang selanjutnya disebut
sebagai komponen-komponen
kredibilitas (Rakhmat, 2005:257).
Pada penelitian ini, keahlian
“Preanger Brasserie” dalam
memenuhi kebutuhan pelanggan
seperti kebutuhan memenuhi
informasi, kemampuan dalam
menangani keluhan, penguasaan
informasi, dan penggunaan bahasa
yang baik. Sedangkan kepercayaan
dalam penelitian ini merupakan kesan
pelanggan terhadap karyawan
“Preanger Brasserie” yang terbentuk
melalui kesan yang berkaitan dengan
watak para karyawan dalam
memberikan layanan secara jujur dan
sapan. Daya tarik meliputi
penampilan karyawan dan cara
karyawan menyampaikan informasi.
Variabel Y, Kepuasan Pelanggan
Grand Hotel Preanger
Kepuasan pelanggan merupakan
tujuan yang hendak dicapai oleh
perusahaan. Hal ini adalah tujuan
yang sangat penting, perlu dimonitor
dan ditingkatkan secara rutin untuk
hasil yang maksimal. Semakin tinggi
kepuasan pelanggan, semakin besar
kemungkinan pelanggan tetap seria
pada perusahaan. Kepuasan
pelanggan merupakan tujuan yang
hendak dicapai oleh Grand Hotel
Preanger melalui kredibilitas
pelayanan yang diberikan kepada
tamu.
Menurut kotler, kepuasan
pelanggan merupakan tingkat
perasaan seseorang setelah
membandingkan jasa yang
dipersepsikan dengan harapannya
(2003:122). Sedangkan Babbin &
Griffin dalam Barnes juga
mengartikan konsep kepuasan
pelanggan sebagai:
Suatu emosi yang dihasilkan dari penilaian – penilaian atas rangkaian pengalaman. Penilaian – penilaian terdiri dari berbagai proses yang melibatkan sisi emosional (perasaan) dalam melakukan penilaian terhadap suatu jasa yang dirasakannya, sebagai hasil dari perbandingan dengan harapannya (2003:75-77).
2.3 Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan metode
korelasional.
2.4 Populasi dan Sampel
Populasi adalah para tamu yang
datang ke Grand Hotel Preanger,
tepatnya “Preanger Brasserie” yang
memberikan masukan melalui Voice
berkunjung lebih dari 4 kali semenjak
“Preanger Brasserie” diresmikan pada
Januari 2012 hingga update data
terbaru pada Mei 2012 sebanyak 741.
Sampel diambil menggunakan
teknik sampel acak sederhana dan
didapat jumlah responden sebanyak
125 responden.
2.5 Teknik pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang
dilakukan dari penelitian ini adalah
dengan beberapa cara:
1. Angket.
Skala yang dipilih untuk variabel
X adalah skala ordinal. Untuk
variabel Y juga skala yang digunakan
adalah skala ordinal. Peneliti ingin
mengetahui apakah sampel setuju
atau tidak setuju dengan pernyataan
(statement) yang diajukan dalam
angket. Pernyataan dilakukan secara
tertutup.
Kuesioner atau angket
merupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara
seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. Kuesioner
merupakan teknik pengumpulan data
yang efisien bila peneliti tahu dengan
pasti variabel yang diukur dan tahu
apa yang bisa diharapkan dari
responden. Selain itu, kuesioner juga
cocok digunakan bila jumlah
responden cukup besar.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan
dengan maksud tertentu. Wawancara
mendalam merupakan salah satu
teknik pengumpulan data ini untuk
memperoleh informasi terkait tentang
Grand Hotel Preanger dan kredibilitas
karyawannya. Pada prinsipsnya,
kegiatan wawancara mendalam terdiri
dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan,
tahap pelaksanaan dan tahap analisis
atau tahap penarikan kesimpulan.
Percakapan tersebut dilakukan
oleh kedua belah pihak yaitu
pewawancara (interviewer) yang
bertugas mengajukan pertanyaan, dan
yang diwawancara (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan
yang dilontarkan pewawancara,
seperti yang dikemukakan oleh
Mulyana, “wawancara adalah bentuk
komunikasi antara dua orang,
melibatkan seseorang yang ingin
memproleh informasi dari seseorang
pertanyaan-pertanyaan berdasarkan
tujuan tertentu”.
Pihak-pihak yang akan di
wawancara berkaitan dengan
penelitian ini adalah Public Relations
(Marketing Communications), Food
and Beverage Manager, Restaurant
Manager, dan karyawan “Preanger
Brasserie” Grand Hotel Preanger.
3. Pengamatan (observasi)
Observasi adalah mengadakan
pengamatan secara langsung terhadap
objek atau subjek dengan
menggunakan seluruh alat indera
(Arikunto, 1998: 141). Observasi
merupakan pengamatan dan
pencatatan secara sistimatik terhadap
unsur-unsur yang tampak dalam suatu
gejala atau gejala-gejala dalam objek
penelitian.
Pada penelitian ini observasi
dibutuhkan untuk dapat memehami
proses terjadinya wawancara dan
hasil wawancara dapat dipahami
dalam konteksnya. Observasi yang
akan dilakukan adalah observasi
terhadap subjek, perilaku subjek
selama wawancara, interaksi subjek
dengan peneliti dan hal-hal yang
dianggap relevan sehingga dapat
memberikan data tambahan terhadap
hasil wawancara.
Observasi yang dilakukan oleh
peneliti terdiri dari kegiatan
pengumpulan data yang formal
hingga yang bersifat kausal terhadap
objek penelitian. Pengumpulan data
formal adalah peneliti melakukan
observasi dengan protokol atau
batasan yang telah dibuat terlebih
dahulu dengan jangka waktu
observasi yang telah ditentukan.
Bersifat kausal adalah ketika
melakukan observasi langsung saat
kunjungan lapangan termasuk
kesempatan-kesempatan selama
pengumpulan bukti.
4. Studi pustaka
Studi pustaka adalah
pengumpulan data dengan membaca
atau mengutip teori-teori yang berasal
dari buku dan tulisan-tulisan lain yang
relevan dengan penelitian. Dilakukan
oleh penulis untuk mencapai sumber
literatur dan referensi yang
berhubungan dengan kajian
2.6 Hasil dan Simpulan
Hasil dan simpulan secara umum
yang bisa diambil dari penelitian ini
adalah terdapat hubungan yang cukup
berarti antara Kredibilitas Karyawan
‘Preanger Brasserie’ dengan
Kepuasan Pelanggan Grand Hotel
Preanger terhadap Hotel. Artinya,
semakin ditingkatkan kredibilitas
karyawan, akan semakin meningkat
pula kepuasan pelanggan terhadap
hotel. ‘Preanger Brasserie’ sebagai
salah satu fasilitas yang penting dala
hotel turut berpengaruh terhadap
kepuasan pelanggan. Kredibilitas
karyawan ini mencakup keahlian,
kepercayaan dan daya tarik karyawan.
sedangkan kepuasan pelanggan
mencakup harapan dan penilaian
pelanggan terhdap hotel.
Lebih lanjut, hasil dan simpulan
dalam penelitian berjudul “Hubungan
Antara Kredibilitas Karyawan
Preanger Brasserie dengan Kepuasan
Pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap Hotel” ini adalah sebagai
berikut:
1. Terdapat hubungan antara
keahlian karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan harapan
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang cukup berarti.
Karyawan dinilai memiliki
kemampuan yang handal dalam
bidangnya sehingga pelanggan
menaruh harapan yang tinggi
pada karyawan untuk
menunjukkan kredibilitas dalam
pelayanan yang terbaik.
2. Terdapat hubungan antara
keahlian karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan penilaian
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang cukup berarti.
Semakin ahli karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dalam melayani
tamunya, penilaian pelanggan
terhadap hotel juga akan semakin
tinggi karena ia merasa puas
dengan kebutuhan – kebutuhan
yang dapat dipenuhi oleh
karyawan ‘Preanger Brasserie’.
3. Terdapat hubungan antara
kepercayaan karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan harapan
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang cukup berarti.
pelanggan tidak memiliki maksud
memanipulasi dan tidak
mengambil keuntungan saat
memberikan informasi sehingga
pelanggan menaruh harapan
mendapatkan pemenuhan
kebutuhan–kebutuhannya.
4. Terdapat hubungan antara
kepercayaan karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan penilaian
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang cukup berarti.
Karyawan ‘Preanger Brasserie’
dianggap jujur, tulus, bermoral,
adil, sopan, dan etis sehingga
penilaian pelanggan kepada hotel
secara keseluruhan menjadi
positif.
5. Terdapat hubungan antara daya
tarik karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan harapan
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang rendah tapi pasti.
Daya tarik yang ditunjukkan
karyawan membuat pelanggan
lebih merasa dihargai saat proses
komunikasi diantara keduanya
berlangsung sehingga pelanggan
menaruh harapan akan pelayanan
yang baik dari karyawan.
6. Terdapat hubungan antara daya
tarik karyawan ‘Preanger
Brasserie’ dengan penilaian
pelanggan Grand Hotel Preanger
terhadap hotel dengan tingkat
hubungan yang rendah tapi pasti.
Daya tarik menjadi salah satu
faktor penting yang turut
memengaruhi terbentuknya
kredibilitas komunikator karena
dapat menentukan efektivitas
persuasi yang dilakukan oleh
komunikator. Akan tetapi
hubungannya masih tergolong
rendah karena pelanggan lebih
mementingkan aspek keahlian
Saran yang dapat diberikan pada
penelitian ini antara lain:
1. Kredibilitas Karyawan
‘Preanger Brasserie’ Grand
Hotel memiliki hubungan
yang cukup berarti dengan
kepuasan pelanggan terhadap
hotel. Artinya, apabila
kredbilitas karyawan di
tingkatkan maka kepuasan
akan turut meningkat. Yang
dapat dilakukan pihak
manajeman untuk terus
meningkatkan kredibilitas
karyawan ‘Preanger Brasserie’
adalah dengan melakukan
pelatihan rutin setiap bulan
dan briefing serta evaluasi
kinerja setiap harinya.
2. Dari aspek kredibilitas
karyawan yaitu keahlian,
kepercayaan, dan daya tarik,
aspek yang perlu mendapat
perhatian lebih adalah aspek
daya tarik karyawan.
Dibandingkan aspek keahlian
dan kepercayaan yang
berkategori hubungan cukup
berarti, daya tarik karyawan
termasuk dalam katagori
hubungan rendah tapi pasti.
Aspek ini perlu lebih
ditingkatkan, karena daya
tarik termasuk dalam aspek
kredibilitas yang
memengaruhi kepuasan
pelanggan. Oleh karena itu,
bila daya tarik karyawan baik
dari segi penampilan maupun
cara penyampaian informasi
ditingkatkan, maka kepuasan
pelanggan juga akan
meningkat. Salah satu cara
yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan aspek daya
tarik yaitu dengan
mengadakan personality
training dan beauty class
tingkat lanjutan. Melalui cara
tersebut dapat membantu
karyawan untuk meningkatkan
Aditya
Ardianto, Elvinaro. 2008. Public Relations Praktis. Bandung: Widya Padjadjaran
.2010. Metode Penelitian untuk Public Relations. Bandung: Simbiosa.
Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka. Cipta
Azwar, Saifudin. 1998. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
. 2000. Sikap Manusia, Teori, dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Belajar
.2003. Reliabilitas dan Validitas Edisi Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barnes, James. 2003. Secrets of Customer Relationship Management.Yogyakarta: Andi.
Cangara, Hafied. 1998. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Cutlip, Scott, Allen Center dan Glen Boom. 2006. Effective Public Relations Edisi 9. Jakarta: Kencana.
Effendy. 2005. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Endar, Sugiarto dan Sri S. 1996. Pengantar Akomodasi dan Restaurant. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Fisher, Aubrey . 1986. Teori-teori Komunikasi. Bandung: Remaja Karya.
Hovland, Carl I Janis, irving L, Harold. L. Kelley. 1953. Persuasion & Communications.
Infante, Dominica, Andrew S. Rancer, and Deane F. Womack. 1993. Building Communication Theory: Second Edition. Illinois: Waveland Press. Inc.
Kaplan, Robert M. & Saccuzzo, Dennis. 1993. Psycological Testing Principles, Applications, and Issues. Brooks/Cole Publishing Company. Pacifics Grove, California.
Kotler, Philip. 1995. Manajemen Pemasaran Edisi 8, Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga.
. 2003. Marketing Management Analysis Planning Implementation and Control.
Mar’at. 1982. Sikap Manusia, Perubahan, serta Pengukurannya. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia
Moore, H. Frazier. 2000. Hubungan masyarakat: Prinsip, Kasus, Masalah. Bandung : Remaja Rosda Karya
Mulyana, Deddy. 2001. Prinsip-prinsip Dasar Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.
. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nasution, M. Nur. 2005. Psikologi Pelayanan. Bandung: Alfabeta.
Nawawi & Martini. 1991. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. UGM: Gadjah Mada University Press.
Prijana. 2005. Metode Sampling Terapan untuk Penelitian Sosial. Bandung: Humaniora
Rakhmat, Jalaludin. 1997. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
.2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Rangkuti. 2006. Mesuring Customer Satisfaction. Jakarta: PT. Gramedia
Ruslan, Rosady. 1998. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi: Konsep dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Siegel, Sidney and Castellan, N.John, Jr. 1988. Nonparametric Statistics for the Behavioral Sciences Second Edition. New York: McGraw Hill International Editions.
Soemirat. Soleh dan Elvinaro Ardianto. 2004. Dasar-dasar Public Relations. Bandung: Remaja Rosda Karya
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiarto, Endar. 1999. Psikologi Pelayanan dalam Industri Jasa. , Jakarta: PT Gramedia.Pustaka Utama.
Sugiyono. 1997. Statistika II. Bandung: Transito.
. 2002. Metode Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
. 2004. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta
Tan Alexis. 1981. Mass Communications & Research. Grid Publishing Inc. Colombus Ohio.
Tarmoezi, Trizno, dan Manurung, Heldin. 2000. Profesional Hotel Front Liner. Jakarta: Visipro
Tjiptono, Fandy. 1995 Strategi Pemasaran edisi II. Jogjakarta: CV. Andi
. 1996. Manajemen Jasa. Jogjakarta: CV. Andi
. 2005. Pemasaran Jasa, Malang: Bayumedia Publishing
. 2007. Service, Quality, Satisfaction Edisi II. Jogjakarta: Andi
. 2008. Service Management, Mewujudkan Layanan Prima. Jogyakarta: Andi
Umar, Husein. 2002. Metode Riset Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Sumber Lain:
Company Profile Grand Hotel Preanger
http://jabar.tribunnews.com/2012/05/17/ratusan-ribu-kendaraan-masuki-bandung diakses pada 21 Mei 2012 pukul 21.50 WIB
http://www.bisnis.com/articles/kota-bandung-20-hotel-baru-siap-beroperasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_hotel_di_Bandung diakses pada 30 April 2012 pukul 21.18
Groller Electronic Publishing Inc. (Cambridge, 1995)
Webster’s New World Dictionary (1988)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996)
Surat Keputusan Menparpostel No. KM 37/PW340/MPPT-86, tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel
Ketentuan dalam Undang–undang No. 69 Tahun 1985
PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi No. 69/PW 304/MPPT–85