MUJTABA HAMDI |2013 1
T
RANSPORTASI PUBLIK
,
(
RE
)
PRODUKSI RASA
(
TAK
)
AMAN DAN
SIASAT PEREMPUAN
O
LEHM
UJTABAH
AMDIABSTRAK
Kepadatan ruang transportasi publik yang dilatarbelakangi oleh mobilitas ulang-alik masyarakat industrial yang menggobal dari pinggiran ke pusat kota memungkinkan para antropolog untuk menganalisis praktik-praktik sosial keruangan (spatialized social practices) yang saling bersaing.
Tulisan ini berupaya mengeksplorasi bagaimana praktik-praktik sosial keruangan itu bertalian dengan pembentukan ulang struktur ruang sosial. Secara khusus, tulisan ini menyoroti subjek perempuan yang secara aktif menjalankan siasat spasial guna mengantisipasi berbagai tindakan yang mengancamnya, semisal pelecehan seksual. Melalui analisis terhadap data etnografis terkini mengenai ruang transportasi kereta api komuter di salah satu kota terpadat di Asia, tulisan ini memperlihatkan hubungan saling memengaruhi antara ruang dan tindakan. Tindakan pelecehan
seksual dimungkinkan oleh struktur keruangan tertentu yang merupakan gabungan antara kepadatan, proyek pendisiplinan dan keintiman sosial. Namun, siasat tindakan keruangan perempuan
menunjukkan dapat dijinakkannya struktur keruangan tersebut. Hubungan saling memengaruhi antara ruang dan tindakan itu dimediasi oleh proses-proses (re)produksi diskursus sosial yang
bertalian dengan berbagai bentuk media massa.
Keywords: anthropology of space, gendered space, feminist geography, spatial tactics, sexual harrassment, urban public space
PROLOG
obilitas sosial dalam masyarakat industrial modern yang mengglobal menempatkan perempuan dalam posisi yang ambigu. Khususnya di kota-kota besar di Indonesia, kita dapat saksikan bahwa kenyataan makin terbukanya lapangan kerja, kian mengaburnya batas-batas pembagian kerja domestik, makin luasnya kesempatan menempuh pendidikan dan, bahkan, berubahnya pembatasan agama terhadap gerak sosial perempuan, telah memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Mobilitas perempuan dari rumah ke ruang sosial lain, tempat kerja, pendidikan, pasar, dan lainnya, di masyarakat industrial modern yang kian mengglobal menjadi rutinitas yang sudah tak dianggap asing (lihat Sassen 1991, 2000). Dalam bermobilitas, mengingat berubahnya orientasi kebudayaan keluarga, kita juga dapat lihat bahwa perempuan nyaris selalu tak disertai
MUJTABA HAMDI |2013 2
anggota keluarganya. Perempuan memiliki mobilitas sosial yang jauh lebih tinggi dibanding, katakanlah, tiga atau empat dekade yang lalu.
Namun, di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa kondisi sosial dan budaya masyarakat kota modern yang belum sepenuhnya lepas dari bias-bias patriarkal membuat perempuan masih terus menghadapi perlakuan-perlakuan yang kurang menyenangkan. Kondisi transportasi publik, ruang dimana perempuan (dan laki-laki) kota industrial menjalani mobilitasnya sehari-hari, dapat kita tunjuk sebagai contoh lokus yang mencerminkan masih menonjolnya masalah tersebut. Kesaksian sehari-hari dapat membantu memperjelas isu ini. Beberapa waktu lalu, misalnya, saya berbincang dengan seorang teman perempuan yang secara rutin mondar-mandir Depok-Jakarta menggunakan kereta api listrik (KRL). Kebetulan saya juga pengguna KRL, meski tak sehari-hari, tapi paling tidak dalam seminggu, saya menumpang KRL dua kali. Pendapat dan pengalaman teman saya tak jauh beda dengan saya. KRL AC (sekarang Commuter Line) relatif aman, atau setidaknya dia merasa aman. Sementara KRL Non-AC tidak demikian, apalagi jika harus pulang malam. Dengan kondisi berdesakan, dan kadang kalau malam tanpa penerangan, situasi tidak aman langsung menyergap. Bagi saya, yang laki-laki, kekuatiran itu muncul jangan-jangan ada barang saya yang dicopet. Saya sendiri pernah mengalami setidaknya tiga kali kecopetan gadget di dalam kereta.
Teman perempuan saya tidak saja cemas dicopet, tapi juga kuatir di-“gerayangi” oleh penumpang lain. Kekuatiran yang masuk akal, sebab kondisi KRL Non-AC, di waktu sibuk (berangkat dan pulang kerja), senantiasa penuh berdesakan, yang memungkinkan banyak pelaku pelecehan seksual menjalankan aksi. Sebagai contoh, teman perempuan saya lainnya pernah bercerita kalau dia merasa ada barang keras bergesekan sewaktu di dalam KRL Non-AC. Teman perempuan saya jelas tidak bisa berbuat apa-apa, sebab kondisi kereta ekonomi non-AC itu penuh sesak, sehingga lumrah kalau satu penumpang dan penumpang lain bergesekan. Tetapi dia tiba-tiba merasakan ada yang basah. Ternyata itu sperma yang keluar. Tentu teman saya ingin marah, tapi juga tidak bisa mengidentifikasi orang mana yang tadi bergesekan. Akhirnya, setiba di rumah, dia hanya bisa curhat dengan teman dan keluarga.
Banyak yang mengatakan bahwa ancaman kejahatan seksual di transportasi publik tersebut disebabkan karena sang perempuan berpakaian minim, terlihat seksi, atau mengundang birahi lawan jenisnya. Asumsi ini mengandung generalisasi yang gegabah, tentu saja. Kenyataannya, sebagaimana sering saya dengar, banyak kasus korban pelecehan seksual di transportasi publik bukanlah orang-orang yang berpakaian minim nan molek itu. Teman saya yang digesek-gesek di KRL Non-AC itu berjilbab tertutup. Beberapa waktu lalu, saya mendengar cerita langsung dari seorang ibu berusia 50an, yang secara fisik jauh dari imajinasi keseksian di televisi dan majalah-majalah gaya hidup, juga mengalami pelecehan seksual. Itu terjadi di angkutan kota (angkot), sepulang dia kerja. Dia merasa ada seseorang yang menggesek-gesekkan selangkangannya ke bagian tubuhnya. Untungnya, si ibu langsung menyikut secara keras sang pelaku, sehingga membuat sang pelaku langsung turun dari angkot.
MUJTABA HAMDI |2013 3
transportasi publik. Lebih dari itu, saya ingin juga menyelami bagaimana perempuan mempersepsi ruang transportasi publik dalam relasinya dengan keamanan dan ketidakamanan dirinya dari tindakan pelecehan seksual. Saya ingin melihat, sejauhmana persepsi mengenai ruang tersebut dibangun dan direproduksi dalam wacana keseharian, baik melalui media maupun perbincangan sehari-hari. Terakhir, saya juga ingin melihat bagaimana siasat-siasat perempuan menghadapi situasi ruang transportasi tersebut, mengingat perempuan mau tidak mau harus melakukan mobiltias sehari-hari.
Tulisan ini berpegang pada data etnografis yang mengambil fokus pada situs transportasi publik KRL Jabodetabek jalur Bogor-Jakarta. Pengambilan data saya lakukan dalam rentang waktu antara Maret 2013 hingga Mei 2013. Setiap hari, diperkirakan 500.000 penumpang menggunakan kereta api ini untuk menjalani aktivitas rutin dari pinggiran ke pusat kota, dan sebaliknya. Meskipun tidak setiap hari, saya termasuk pengguna moda transportasi ini. Setidaknya dalam seminggu dua-tiga kali pulang-pergi saya menggunakan KRL. Data penelitian ini saya peroleh, selain melalui pengamatan terlibat di stasiun dan ruang kereta, melibatkan wawancara mendalam dengan subjek-subjek pengguna aktif dan rutin angkutan KRL, terutama pengguna perempuan.
KERANGKA KONSEPTUAL
Dalam mendiskusikan data etnografis, saya meletakkannya dalam konteks perbincangan isu-isu antropologi ruang dan praktik-praktik sosial keruangan (spatialized social practices) (Low dan Lawrence-Zuniga 2003). Berikut saya akan menjelaskan secara ringkas tema-tema penting yang saya tarik untuk membantu menerangi temuan-temuan lapangan.
Ruang sebagai Produksi Sosial
Dalam penelitian ini, tindakan-tindakan sosial yang dilakukan terhadap, dan oleh, perempuan dipahami dalam kerangka hubungan yang saling menentukan antara ruang dan tindakan. Di sini ruang memang dipahami bukan sebagai realitas yang terberi, ada begitu saja. Dalam penelitian ini, saya memahami ruang sosial (social space) sebagai lokasi yang diproduksi oleh berbagai interaksi antara subjek dan sekaligus juga oleh diskursus sosial yang beredar. Setiap ruang, mengikuti gagasan Henri Lefebvre, pada hakikatnya adalah ruang sosial. Sebab setiap ruang senantiasa melibatkan hubungan sosial. Ruang tidak hanya ditopang oleh berbagai hubungan sosial, melainkan juga menghasilkan dan dihasilkan oleh hubungan sosial (Low dan Lawrence-Zuniga 2003, Lefebvre 1991: 286, Schmid 2008).
MUJTABA HAMDI |2013 4 Ruang Publik dan (Re)Produksi Kecemasan
Sebagai ruang sosial publik yang diproduksi oleh interaksi antara para penumpang yang tak selalu saling mengenal, transportasi publik menciptakan tingkat kepercayaan yang goyah. Tingkat kepercayaan yang goyah itu juga terjadi pada ruang-ruang “urban” yang lain. Setha M. Low memperlihatkan bagaimana “urban fear” menjangkiti warga Amerika Serikat sehingga menciptakan perumahan-perumahan berpagar, segregasi wilayah perumahan berdasarkan etnis dan penghasilan (Low 2003). Segregasi perumahan tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan etnis dan tingkat penghasilan. Di transportasi publik Jakarta, penciptaan ruang khusus perempuan menjadi menarik ditelaah untuk melihat apakah konsepsi “urban fear” juga relevan diterapkan di sini. Memang, komunitas berpagar (gated communities) muncul lebih dilatarbelakangi bias etnis, warna kulit, dan tingkat penghasilan. Namun demikian, yang penting dicatat adalah adanya dialektika antara hubungan sosial dengan orang “asing” (penumpang asing dalam transportasi publik Jakarta maupun orang berwarna kulit beda dalam kehidupan kota Amerika Serikat) dan pelekatan makna kecemasan pada ruang.
Pemetaan dan Siasat Keruangan
Subjek perempuan, dalam memasuki ruang sosial publik sehari-hari, tidak bertindak pasif. Ia juga turut memproduksi ruang sosial publik itu sendiri. Ruang sosial publik itu tidak luput dari pemaknaan strategis subjek perempuan yang didasarkan pada pengalaman dan antisipasi atas kemungkinan yang bakal dihadapi. Pemetaan ruang sosial publik yang “aman” dan yang “tak aman” menjadi salah satu bentuk produksi ruang yang dihasilkan. Rachel H Pain menunjukkan bagaimana perempuan senantiasa secara aktif memproduksi dan mereproduksi ruang yang “aman” dan yang “tak aman” (Pain: 1997). Hal itu terutama berkaitan dengan perkara kriminal di perkotaan, yang tidak harus dialami secara langsung oleh subjek, tapi yang kerap memenuhi diskursus sosial di media maupun perbincangan sehari-hari.
Proses-proses keruangan yang melibatkan persaingan kekuasaan antara pihak yang mempertahankan struktur sosial tertentu dan yang berupaya mengubahnya tak selalu terjadi melalui desain besar dan gerakan terencana, semisal perencanaan ulang kota, perubahan total gerbong kereta atau blokade jalur transportasi. Subjek perempuan dapat secara aktif menentang reproduksi struktur ruang yang tidak memihaknya melalui apa yang disebut “siasat keruangan” (spatial tactics) (Low dan Lawrence-Zuniga 2003: 30-36). Subjek perempuan menjalani cara-cara tertentu (ways of operating) (de Carteau dalam Low dan Lawrence-Zuniga 2003: 31) ketika melakukan mobilitas sosial, menerapkan gerakan tubuh dan gestur tertentu dalam ruang sosial agar terhindar dari berbagai bentuk pelecehan seksual dalam bentuk visual (melihat dan menatap), verbal (ucapan), atau tindakan kontak tubuh langsung (menyentuh, meraba, menggesek-gesek). Siasat ruang tidak mensyaratkan adanya perubahan struktur ruang secara total, sebab ia merupakan tindakan “konsumsi ruang” dengan cara yang melenceng dari apa yang dikehendaki oleh struktur-struktur dominasi dan pendisiplinan.
MUJTABA HAMDI |2013 5
meskipun ia berangkat dari pemetaan tertentu mengenai ruang aman dan ruang tak aman. Praktik keruangan konkrit memiliki pengaruh transformatif terhadap pemetaan ruang. Pada titik tertentu, subjek perempuan dalam mobilitas sehari-hari secara sadar maupun tak sadar memproduksi “ruang jinak” (tamed space) bagi dirinya sendiri (Koskela 2005: 261). Proses subjek perempuan memproduksi ruang jinak tersebut berlangsung sangat dinamis, sebab ia melibatkan tidak saja dialektia pengalaman personal dan struktur ruang eksternal, melainkan juga diskursus spasial yang berbedar sehari-hari, baik melalui media massa maupun perbincangan sosial.
TEMUAN-TEMUAN
Saya menyoroti temuan-temuan lapangan secara tematik dengan kerangka konseptual yang saya jelaskan di atas. Setelah meletakkan situasi transportasi publik dalam konteks yang relevan, saya menguraikan temuan empiris mengenai hubungan struktur ruang dan gender, serta bagaimana subjek perempuan menjalani praktik sosial dalam ruang yang tersegregasi berdasarkan jenis kelamin semacam itu. Berikutnya, saya menggambarkan bagaimana subjek perempuan membangun pemetaan terhadap ruang sebagai navigator aktivitas sehari-hari. Dalam konteks itu, saya menguraikan mengapa diskursus sosial yang bertalian dengan media turut berperan membentuk pengalaman dan pemetaan ruang subjek perempuan. Terhadap struktur eksternal ruang maupun diskursus sosial, saya kemudian menggambarkan bagaimana perempuan tidak melulu pasif, melainkan aktif membangun siasat-siasat untuk menjinakkan ruang secara terus-menerus. Keaktifan dan siasat itu, meski tak mengubah keseluruhan struktur dan diskursus ruang, memampuan subjek perempuan menjalani kegiatan sehari-hari dalam tingkat kenyamanan yang dibutuhkan di tengah kepadatan dan ‘represi’ ruang urban.
Transportasi Publik, Praktik Ruang Sosial dan Mobilitas Perempuan
Transportasi publik menjadi ruang yang memperlihatkan denyut nadi masyarakat industrial modern yang mengglobal. Kesibukan kerja sebagai bagian dari konsekuensi produksi dan distribusi barang dan jasa secara global menjadi kenyataan “normal” sehari-hari. Kepadatan aktivitas sosial pada tranportasi publik pun seolah mengikuti alunan waktu kerja produktif. Di kereta Jakarta-Bogor, prinsip ini juga berlaku. Kepadatan arus penumpang KRL “Eko” maupun CL terjadi pada pagi saat berangkat kerja, dan sore saat pulang kerja. Arusnya cenderung memusat, dari arah Bogor ke Jakarta. Ketika pagi, arus padat berlangsung pada jalur Bogor menuju Jakarta, sedangkan pada sore hari sebaliknya, dari Jakarta ke arah Bogor.
Pola mobilitas dan densitas tersebut cenderung konsisten. Ketika saya berangkat ke arah Jakarta pada jam 5 sore, misalnya, situasi gerbong kereta terlihat longgar. Berikut catatan lapangan saya:
MUJTABA HAMDI |2013 6 meski saya hanya sampai Stasiun Cikini rencananya.... Saya tak menunggu lama. Kereta CL datang. Lumayan kosong. Saya mendapat duduk lega. AC berfungsi baik. Saya membatin, mungkin ini memang arah sebaliknya, sehingga sepi. Pada jam-jam orang pulang kantor begini, arah Bogor-Jakarta sepi, tapi mungkin sebaliknya padat bukan main. Saya mengamati orang-orang di sekeliling. Di barisan tempat duduk depan saya, ada 6 orang. Padahal bisanya, ada 8-10 orang dalam satu barisan tempat duduk. (8 April 2013)
Pada jam yang sama, arah sebaliknya justru memiliki tingkat kepadatan yang tinggi. Bukan saja tempat duduk yang penuh, pada posisi berdiri pun tetap terasa sesak. Bahkan, tingkat kepadatan sudah dapat dilihat sejak di kursi tunggu. Ini seperti yang saya saksikan di Stasiun Manggarai. Di Stasiun Manggarai itu, suara pengumuman tak henti-henti. Petugas terus-menerus memberi informasi. “Commuter Line Bogor saat ini berangkat Stasiun Juanda. Commuter Line Bogor berikutnya tiba Stasiun Sawahbesar.” Sebentar-sebentar, petugas juga mengingatkan melalui pengeras suara jika ada kereta yang melewati jalur secara langsung. Biasanya kereta yang langsung, tidak berhenti, adalah kereta jalur antar propinsi.
Tingkat kepadatan berbeda antara KRL “Eko” dan CL. “Eko” memiliki tingkat kepadatan lebih tinggi, lantaran jadwal pemberangkatan yang lebih jarang dibanding CL, sementara tarifnya lebih murah sehingga menarik minat penumpang lebih banyak. Dari jadwal resmi yang diedarkan petugas, jalur yang berangkat dari Jakarta Kota/Jatinegara ke arah Depok/Bogor hanya tersedia 27 kali dari 151 pemberangkatan. Artinya, setiap 5 atau 6 kali pemberangkatan CL, hanya 1 kali pemberangkatan kereta Eko. Sebagai contoh, jadwal “Eko” pada jam padat ini ada pada jam 16.34, 17.23, 18.13, dan 18.30, sedangkan jadwal CL ada pada tiap 15 atau 10 menit.
Kepadatan itu juga diperparah dengan kelambatan keberangkatan. Semakin lambat, semakin banyak penumpang menumpuk. Pada sore 8 April 2013 itu, misalnya, jam sudah menunjukkan 18.00, tapi kereta “Eko” dengan jadwal 17.23 belum tampak. Baru muncul dan berangkat sekita jam 18.30. Dengan berdesak-desakan, bau keringat aneh-aneh, saya berhasil masuk. Dan di dalam, tak seluruh gerbong terang. Lampu sebagian mati, atau sengaja dimatikan. Tingkat kepadatan yang bahkan kaki pun tidak menginjak sempurna, karena kadang harus menginjak kaki penumpang lain, kerap digambarkan melalui kalimat “sudah kayak pepes”. Artinya seperti ikan yang ditumpuk-tumpuk untuk direbus.
Tingkat kepadatan akan makin menggila lagi jika terjadi kerusakan kereta. Kerusakan kereta di tengah operasi perjalanan, biasa disebut “mogok”, biasanya diumumkan petugas lewat speaker. Ini kadang juga makin membuat penumpang panik. Efeknya, situasi gerbong kereta yang padat makin kacau tidak beraturan. Sore itu pula, 8 April 2013, kereta tidak juga berangkat meski sudah beberapa menit penumpang sudah masuk semua. Karena tak tahan terlalu lama tak berjalan, banyak orang keluar. Di “Eko” tidak ada pendingin. Kipas angin juga jarang berfungsi. Udara terasa agak lega ketika kereta berjalan, tapi jika berhenti, orang bahkan sulit bernafas. Sore itu, terdengar suara dari pengeras bahwa kereta Eko Bogor mogok. Penumpang pun kecewa. Mereka berhamburan keluar. Saya juga ikut keluar.
MUJTABA HAMDI |2013 7
bergerak, saya melompat. Saya tak bisa masuk, hanya bisa di pintu, bergelantungan. Hanya satu kaki saya yang menginjak lantai kereta, persisnya tangga masuk kereta. Sementara, kereta melaju makin kencang. Ada orang, bapak-bapak, berkacamata, di depan saya bilang, “Menghadap keluar, Mas.” Iya, Pak, saya bilang. Benar, agak riskan kalau badan saya di luar dan saya menghadap ke dalam kereta. Maka saya perlahan berjuang menempatkan kaki saya agak ke dalam, kemudian menggeser sedikit, sehingga kaki kiri saya bisa menginjak, dengan posisi miring. Dari miring, perlahan saya bergeser sedikit, sehingga saya mulai menghadap keluar. Tangan bergelantungan di atap pintu.
Bagaimana pengalaman perempuan di tengah kepadatan gerbong kereta seperti itu? Rachel, salah satu informan saya, memberi deskripsi ringkas: “nengok aja susah”. Rachel perempuan berusia sekitar 35 tahun. Ia mengakui bahwa memang ada perbedaan antara KRL “Eko” dan CL. Meski cenderung menumpangi CL, tapi dia kadang-kadang harus mengejar waktu, sehingga kereta mana yang berangkat dahulu, itulah yang ditumpangi. Kereta “Eko” pun tak masalah.
Di kereta “Eko”, Rachel harus berdesakan. Dan kerapkali, entah bagaimana, dalam kondisi berdesakan itu, ia senantiasa mendengar orang berkata ke dia, “Biasa, Mbak, naik (KRL) Ekonomi memang begini.” Entah apakah para penumpang itu langsung bisa mengidentifikasi bahwa Rachel memang tak biasa naik KRL Ekonomi entah hanya komentar acak saja, itu tidak jelas. Rachel sendiri merasa, para penumpang Ekonomi itu sudah memiliki kelompok-kelompok, sehingga mudah mengidentifikasi “orang baru”. Atau, saking terbiasanya, sehingga bisa melihat gelagat orang yang tak biasa naik Ekonomi. Pernah, Rachel dalam kondisi berdesakan begitu merasa ada orang mendesak-desak tidak keruan. Pertama-tama, terasa ada tangan orang yang menempel di punggung, lama-lama berpindah menghampiri ke arah dada. Ketika saya bertanya, “Kenapa nggak langsung ditepis saja?” Dia jawab, “Mending bisa. Nengok aja susah.”
Rachel tentu tidak sendiri. Dalam transportasi publik itu, mobilitas perempuan dari rumah ke tempat kerja berlangsung sehari-hari. Biasanya rumah berada di pinggiran seperti Depok atau Bogor, sedangkan kantor berada di pusat Jakarta. Apa yang dialami Rachel juga dialami ratusan ribu perempuan lainnya. Mereka berhimpitan di tengah kereta, harus menghadapi berbagai perilaku tidak mengenakkan atas nama “kereta penuh”. Mobilitas sehari-hari ini terus membentuk pengalaman spasial subjek perempuan. Praktik-praktik sosial keruangan di dalam kereta cenderung dibentuk oleh arus kepadatan sosial yang dipengaruhi oleh jam kerja produktif.
Transportasi Publik dan Ruang Berjenis Kelamin
MUJTABA HAMDI |2013 8
Suatu sore, di Stasiun Manggarai, rangkaian kereta yang ditunggu-tunggu penumpang itu akhirnya tiba. Penumpang yang sedari tadi berdiri di jalur enam ini satu per satu melangkah menuju gerbong berpendingin udara itu, KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bogor. Saya perhatikan, mereka semua perempuan. Tak tampak satu pun penumpang lelaki menerobos masuk. Padahal, di salah satu stasiun kereta api paling sibuk di Jakarta ini, ribuan penumpang lain mengantri. Gerbong itu berwarna merah muda. Seluruh gerbong. Semua dicat warna pink. Tertera satu teks besar: “Kereta Khusus Wanita”. Ini barangkali yang membuat tak ada lelaki yang nekat masuk.
Penciptaan ruang berjenis kelamin perempuan mungkin memang dibutuhkan. Desi, salah seorang informan saya lainnya, memilih gerbong perempuan ketika menaiki Commuter Line. “Nggak terlalu ngotot kalau berdesakan,” ujarnya. Kalau di gerbong laki-laki, ia merasa tidak kuat beradu dorong. Maklum, di jam-jam sibuk, pagi pada jam berangkat kerja atau senja pada jam pulang kerja, kereta penuh bukan main. Harus dengan tenaga ekstra untuk bisa terangkut kereta. Bagi penumpuang perempuan lain, berdesakan dengan tubuh laki-laki, mungkin juga melahirkan kekhawatiran. Cerita tentang bagaimana penumpang perempuan merasa ada yang menggesek-gesek tubuhnya, kemudian terasa basah yang ternyata itu sperma laki-laki, mungkin sudah sering kita dengar. Di gerbong perempuan, kita tak pernah lagi mendengar cerita itu.
Di sisi lain, proyek pendisiplinan ruang itu juga tak senantiasa berdampak sama. Bukan saja lantaran praktik sosial senantiasa mampu berjalan melenceng, melainkan juga proyek pendisiplinan itu sendiri dibatasi oleh kemampuan dirinya untuk mengejawantah. Untuk memperjelas apa yang saya maksud, kenyataan di Stasiun Cikini bisa ditunjuk sebagai contoh. Di sini tanda-tanda pendisiplinan itu tampak. Banyak tanda-tanda petunjuk tentang kereta khusus perempuan. Di petunjuk itu, dituliskan gerbong khusus perempuan dengan arah panah warna putih dengan latar cat warna pink. Arah menunjuk pada ujung peron stasiun. Artinya, gerbong khusus perempuan ada di kedua ujung: gerbong paling depan dan belakang (gerbong satu dan delapan).
Pada saat itulah, di depan saya, di arah berseberangan ada kereta masuk. Saya amati, ternyata ada hal menarik. Itu kereta ekonomi, semua gerbong dicat pink dengan tulisan “Kereta Khusus Wanita”. Namun, semua penumpangnya laki-laki. Desi, informan yang waktu itu sedang bersama saya, bilang, “Itu dulu gerbong khusus perempuan Mas. Sudah nggak ada sekarang.” Entahlah, Desi hanya menebak, atau memang benar begitu riwayat gerbong pink yang pintunya terbuka lebar itu (yang agaknya sulit ditutup itu). Yang ingin saya tegaskan, di tengah berbagai upaya pendisplinan lewat berbagai bentuk tanda yang bertalian dengan segregasi ruang, ada tanda yang jelas menunjukkan pendisiplan ruang, namun bertabrakan dengan kemampuan mesin pendisiplin itu sendiri. Akibatnya, tanda itu mengacu pada kenyataan, praktik sosial lelaki masuk gerbong bertuliskan “Kereta Khusus Wanita” berlangsung dalam konteks demikian.
Perempuan dan Pemetaan Ruang
MUJTABA HAMDI |2013 9
pemahaman ruang yang spesifik, khusus untuk membuat mobilitasnya sehari-hari dapat dijalani dengan perasaan yang kurang lebih nyaman. Dalam memperoleh pemahaman atau sebutlah pemetaan ruang semacam ini, proses yang dijalani Rachel tidak sehari-dua, melainkan setiap hari selama bertahun-tahun. Selain itu pemahaman Rachel juga dibentuk oleh cerita-cerita, saran-saran, perbincangan-perbindangan yang beredar di sekeliling, baik di keluarganya maupun di media.
Rachel mengidentifikasi, misalnya, kondisi berdesakan itu cenderung tidak aman, dan potensial untuk terjadi pelecehan seksual. Berdasarkan pengalaman, kondisi berdesakan membuat orang mendesak-desak tidak keruan. Rachel merasa ada tangan orang yang menempel di punggung, lama-lama berpindah menghampiri ke arah dada. Rachel pun sulit menepis tangan jahil itu. Menurut dia, “Mending bisa (menepis). Nengok aja susah.” Rachel tidak cuma sekali mengalami hal itu. Maka itu, dia harus segera mencari cara untuk menghindari pengalaman serupa. “Kalau ada yang begitu, gua langsung turun di stasiun berikutnya. Gua naik taksi. Atau ngojek,” kata Rachel. Bagi Rachel, ketika naik KRL merasa tak aman, ia pun segera turun, dan naik taksi.
Dalam hal ini, Rachel memetakan taksi sebagai ruang aman dibandingd dengan KRL yang penuh penumpang. Akan tetapi ketika didesak lagi, apakah berdasarkan pengalaman taksi pasti aman, dia juga jawab bahwa taksi pun tak selalu aman. Demikian pula dengan ojek, yang kadang Rachel pakai untuk menembus kepadatan jalan Jakarta. Tapi karena praktik keruangan Rachel lebih luas, ia merasa bisa memilih dan memilah mana kendaraan yang aman dan mana yang tak aman. Di samping pengalaman sendiri, Rachel juga belajar dari kakaknya, persisnya juga dinasihati kakaknya, yang juga belajar untuk memilah-milah mana tumpangan aman dan tak aman. Menurut Rachel, kalau naik ojek, di Jakarta Utara dan di Bekasi itu tidak aman. Tapi di Bogor, Jakarta Pusat, Selatan, itu aman. Jam atau waktu menumpang juga menentukan. Naik taksi, kalau malam, jangan pernah ke jalan atau jalur yang tak biasa. Begitu ujar Rachel. Rachel juga bercerita lebih detil lagi tentang cara-cara mengambil tumpangan yang aman, mengidentifikasi tukang ojek dan taksinya, dan seterusnya.
Pemetaan subjek perempuan terhadap ruang transportasi publik sangat mungkin berbeda-beda. Namun yang menjadi penting digarisbawahi, pemetaan itu sangat dinamis bergantung pada hubungan timbal-balik antara praktik sosial keruangan sehari-hari dan sedimentasi pemetaan sebelumnya. Di luar itu, diskursus di luar pengalaman sendiri juga mengambil peranan, apakah diskursus dalam bentuk media atau perbincangan sosial konkrit.
Media, Diskursus Sosial dan (Re)produksi Kecemasan
MUJTABA HAMDI |2013 10
bergelantungan di pegangan atas. Celana pantalon. Baju dimasukkan, warna putih dengan motif garis-garis. Baju lengan panjang itu digulung.
Pertanyaannya, kenapa harus pakai kata “Cewek”, sebagai korban perampokan, “cewek kemayoran” pula? Padahal bisa saja dibuat judul: “Lagi, Sopir Taksi Rampok Penumpang” atau lainnya. Saya merasa, media dengan keinginan untuk menarik perhatian cepat pembaca menggunakan kata-kata itu (“cewek”). Padahal, hal itu juga berefek pada psikologi perempuan di transportasi publik. Media seolah makin meningkatkan ketidaknyamanan perempuan di ruang publik, bahkan di taksi yang notabene dianggap aman, sebab tidak ada penumpang asing lain. Tidak seperti di KRL atau di angkot yang berdesakan penumpang asing.
Dalam konteks ini, media juga turut menciptakan konstruksi tidak amannya perempuan di angkutan publik, bahkan di angkutan sewa pribadi semacam taksi. Barangkali kalau kita sisir, pemberitaan semacam ini berterbaran di berbagai media cetak, elektronik maupun online, yang secara langsung atau tidak langsung, kita konsumsi sehari-hari.
Di samping media, diskursus sosial sehari-hari juga turut membentuk kecemasan. Pengalaman salah satu teman Desi dapat ditunjuk menjadi contoh di sini. Ada teman Desi yang punya ketakutan luar biasa kalau keluar menggunakan angkutan publik, apakah angkutan kota, bus, atau kereta. “Dia selalu minta ditemani,” kata Desi. Ketika saya tanya, apakah dia memiliki trauma tertentu, Desi menjawab tidak, tapi mungkin karena omongan ibunya. Ibu teman Desi kerap memperingatkan teman Desi agar selalu berhati-hati, sebab banyak peristiwa buruk terjadi pada perempuan di kendaraan umum. Menurut Desi, temannya itu seringkali menganggap peringatan ibunya banyak benarnya, apalagi dengan banyaknya pemberitaan media tentang perempuan yang dicopet lah, diculik, diperkosa, dan seterusnya. Memang, lagi-lagi, dalam proses (re)produksi kecemasan itu, diskursus sosial sehari-hari pun berkelindan dengan diskursus media. Ini tak lain karena dalam masyarakat industrial modern, hubungan sosial juga semakin termediasi oleh berbagai bentuk media.
Transportasi Publik dan Siasat Ruang Perempuan
Pendisiplinan ruang melalui berbagai penataan ruang dan (re)produksi kecemasan tidak serta merta membuat subjek perempuan tunduk terhadap dominasi struktur pendisiplinan tersebut. Mobilitas sehari-hari membuat perempuan juga bersiasat, menjalankan praktik-praktik kecil sehari-hari yang memampukannya tetap bergerak di ruang sosial, dalam hal ini transportasi publik, dengan tingkat kenyamanan personal tertentu. Rachel menjalankan siasat keruangan dengan berpindah-pindah moda transportasi. Ketika ada orang yang menyenggol-nyenggol tubuhnya dengan intensi yang cenderung mengarah ke tindakan pelecehan seksual, Rachel turun dan pindah naik taksi atau menyewa ojek motor.
MUJTABA HAMDI |2013 11
tampak takut, kata Desi, justru malah menjadi sasaran empuk bagi pencopetan maupun pelecehan seksual. Desi pernah memarahi temannya yang tampak takut-takut kalau naik KRL. “Kamu jangan gitu,” katanya, “Kalau kamu lemes, kamu malah dikerjain orang. Aku ajarin ya, kamu mukanya harus judes. Kalau ada orang nyenggol-nyenggol nggak jelas, pelototin aja. Jangan ramah-ramah kalau di kereta.”
Ketika saya tanya Desi, apakah pernah mengalami pelecehan seksual, apa pun bentuknya itu, dia menjawab kalau yang kecil-kecil sih biasa, kata Desi. Maksudnya, misalnya ada orang mepet-mepet, padahal tempatnya juga nggak padat-padat amat. “Kalau sudah gitu, langsung aku judesin: ‘hoi ngapain nyenggol-nyenggol’. Biasanya langsung pindah tempat,” ujar Desi. Kalau sampai ada yang menggesek-gesek alat kelaminnya, Desi tidak pernah mengalaminya. Menurutnya, itu karena dia selalu menggunakan strategi ‘muka jutek’. Di sini, Desi memperlihatkan bagaimana siasat spasial untuk menghindari pelecehan seksual tak senantiasa tampak jelas bagi orang luar. Pasang muka ‘jutek’ merupakan siasat spasial yang tampak efektif bagi Desi.
EPILOG
Tulisan ini membahas bagaimana situasi ruang transportasi publik dibentuk dan bagaimana subjek perempuan menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu menguntungkannya, bahkan kerap menjadi ancaman, terutama ancaman pelecehan seksual. Dengan memanfaatkan berbagai konsep dalam antropologi ruang dan geografi sosial, saya menunjukkan apa saja yang membentuk praktik sosial keruangan dalam konteks transportasi publik. Saya menunjukkan mobilitas perempuan juga dipengaruhi oleh pendisiplinan ruang itu, namun perempuan juga tidak pasif, melainkan aktif membentuk pemetaan, juga aktif membangun siasat-siasat spasial. Di akhir tulisan ini, saya ingin memberikan sejumlah pernyataan kesimpulan dan saran teoretis. Sejumlah saran praksis saya sampaikan pada bagian paling akhir.
Kesimpulan dan Saran Teoretis
Pertama, terkait dengan isu pelecehan seksual, berdasar sejumlah temuan yang saya uraikan di atas, saya ingin mengajukan argumen bahwa bentuk-bentuk tindakan pelecehan seksual dan tindakan lain yang tidak mengenakkan bagi perempua tidak dapat dilepaskan dari struktur keruangan dimana praktik itu berlangsung. Struktur keruangan itu dibentuk oleh mobilitas sosial yang cepat dengan tingkat densitas yang tinggi sebagai akibat dari arus barang dan jasa global yang memusat di pusat kota. Upaya-upaya pendisiplinan ruang dalam bentuk segregasi ruang berdasarkan jenis kelamin, sebagai strategi menghambat terjadinya praktik pelecehan seksual, tidak mampu secara utuh mengendalikan praktik sosial keruangan ketika mobilitas dan densitas sosial itu tidak berubah secara signifikan. Ini pernyataan paling umum yang dapat saya tarik.
MUJTABA HAMDI |2013 12
sosial sehari-hari tanpa kecemasan, namun di sisi lain juga membuat kecemasan makin mapan.
Ketiga, berkaitan dengan argumen kedua, bentuk-bentuk kecemasan itu tidak melulu dibentuk oleh pemetaan yang bersumber pada praktik sosial-eksperiensial subjek perempuan, melainkan kuat dipengaruhi diskursus sosial yang bertalian dengan berbagai bentuk media. Media me(re)produksi kecemasan perempuan dan kemudian di(re)produksi lagi oleh orang-orang di sekeliling subjek perempuan tersebut. Artinya, diskursus sosial/media tidak hanya memediasi praktik sosial dan pemetaan mental, melainkan juga memperantarai pemetaan mental dan tindakan sosial yang dilahirkan darinya. Inilah yang membedakan subjek perempuan yang satu menyelami ruang transportasi publik dengan kecemasan, sementara lainnya tidak.
Keempat, berangkat dari pernyataan umum bahwa struktur ruang dan tindakan saling menentukan (bukan hanya struktur ruang yang menentukan tindakan, tapi juga bisa sebaliknya), saya ingin menegaskan bahwa subjek perempuan secara aktif membangun siasat keruangan. Tindakan aktif itu tidak sekadar berjalan pada level mental (semisal sekadar pemetaan ruang secara mental semata), melainkan juga berlangsung dalam tindakan eksperiensial. Bentuk-bentuk siasat itu bervariasi, bergantung pada pembelajaran nyata dalam praktik sehari-hari, selain juga bergantung pada diskursus yang tersedia bagi masing-masing subjek. Siasat-siasat ini memang tidak mengubah secara drastis struktur keruangan, tetapi mampu mengubah pola tindakan orang terhadap subjek perempuan sehingga tingkat kenyaman personalnya dapat diperoleh. Di samping itu, siasat keruangan ini juga bukan merupakan hasil dari pendisiplinan ruang. Justru siasat-siasat keruangan tetap berlangsung di dalam ruang yang terdisiplinkan (tersegregasi). Dengan kalimat lain, subjek perempuan juga tidak pasif menghadapi proyek pendisiplinan ruang, namun juga menjalankan siasat-siasat kreatif.
Saran Praksis
Terakhir, di luar keempat saran teoretis tersebut, saya ingin mengemukakan sejumlah saran praksis, lebih tepatnya mungkin aspirasi, terutama kepada analis kebijakan, aktivis hak asasi manusia dan pemegang otoritas. Aktivis HAM perlu saya sebut di sini lantaran mereka merupakan aktor penting dalam mendesakkan rumusan perubahan.
MUJTABA HAMDI |2013 13
Ketika prinsip ini dijalankan pada berbagai rumusan perubahan, dibayangkan tingkat mobilitas dan densitas akan menurun, sebab arus persebaran orang menyebar, tidak memusat melulu ke ibukota. Dengan tingkat mobilitas memusat berkurang, dan tingkat densitas dengan demikian berkurang, maka setengah struktur ruang sudah berubah secara signifikan. Sisanya, pengaturan terhadap ruang menjadi lebih memungkinkan untuk mengurangi hingga mencegah berbagai tindakan pelecehan seksual terhadap perempuan. Bukan berarti tingkat pelecehan seksual menjadi nol, namun upaya untuk menguranginya hingga tingkat minimal menjadi sangat mungkin dijangkau.
Kedua, sebagai konsekuensi dari saran pertama, perubahan regulasi ke depan diarahkan tidak hanya pada aturan-aturan yang terkait isu perempuan. Saya memandang bahwa berbagai tindakan pelecehan seksual di transportasi publik berkaitan erat dengan masalah “ketidakadilan ruang” (spatial injustice). Karena itu, regulasi-regulasi yang cenderung merumuskan ruang berdasarkan melulu pada produktifitas ekonomi harus diubah, dan diarahkan pada pewujudan keadilan ruang. Tentu saja berbagai upaya untuk mendesakkan berbagai regulasi yang mempromosikan keadilan gender harus tetap diusung, namun untuk memperoleh efek lebih maksimal dan awet harus disinergikan dengan perspektif keadilan spasial.
Ketiga, mengingat beberapa kali disampaikan di atas mengenai peran penting media, menjadi penting untuk mengubah cara pandang media dalam merepresentasikan isu hubungan ruang transportasi publik dan pengalaman perempuan. Sebagaimana dijelaskan di atas, media berperan secara signifikan dalam me(re)produksi kecemasan yang justru memperparah situasi perempuan. Karena itu, diskursus media mengenai peristiwa negatif yang dialami perempuan di transportasi publik harus diarahkan pada isu keadilan gender yang bertalian dengan masalah keadilan ruang. Upaya mengubah media ini dilakukan bukan melalui langkah sensor, melainkan melalui kritik-kritik yang tajam dan yang terorganisasi secara baik. Diskusi-diskusi publik menjadi penting untuk digerakkan secara aktif dan kontinu untuk mendorong arah perubahan media ke jalur yang diinginkan, yakni keadilan gender berprespektif keadilan ruang, atau keadilan ruang berperspektif keadilan gender.
REFERENSI
Koskela, Hille. 2005. “Urban Space in Plural: Elastic, Tamed, Suppressed”. Dalam Lise Nelson dan Joni Seager (peny.), A companion to feminist geography. Blackwell Publishing.
Low, Setha M. 2003. “The Edge and the Center: Gated Communities and the Discourse of Urban Fear”. Dalam The anthropology of space and place: locating culture. Penyunting: Setha M. Low dan Denise Lawrence-Zuniga. Oxford: Blackwell.
Low, Setha M. and Denise Lawrence-Zuniga. 2003. “Locating Culture”. Dalam The anthropology of space and place: locating culture. Penyunting: Setha M. Low dan Denise Lawrence-Zuniga. Oxford: Blackwell.
MUJTABA HAMDI |2013 14 Questioning geography: fundamental debates: essays on a contested discipline. Blackwell Publishing.
Pain, Rachel H. 1997. “Social geographies of women’s fear of crime”. Transactions of the Institute of British Geographers, New Series, Vol. 22, No. 2. (1997), hal. 231-244. Sassen, Saskia. 1991. The Global City: New York, London, Tokyo. Princeton: Princeton
University Press.
Sassen, Saskia. 2000. Cities in a world economy. Thousand Oaks, Calif. : Pine Forge Press.