• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEMOKRASI WUJUD KEPEMIMPINAN KERAKYATAN. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DEMOKRASI WUJUD KEPEMIMPINAN KERAKYATAN. pdf"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BIODATA

Nama Lengkap Isodorus Hardiman Milik

Sapaan Ardy

Tempat Tanggal Lahir Kapan, 9 Juni 1992 Alamat Rumah/ PO.

BOX

Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang-NTT. Jln. Prof. Dr. Herman Yohanes. (8500)

Alamat Universitas Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang-NTT. Fakultas Filsafat. Jln. Prof. Dr. Herman Yohanes. (8500)

(2)

DEMOKRASI: WUJUD KEPEMIMPINAN KERAKYATAN DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

(Sebuah Tinjauan Filosofis atas Paham Demokrasi) Pengantar

Secara historis teori demokrasi lahir di kota Athena pada masa pasca reformasi

Kleithenes tahun 508/7 SM. Demokrasi mencapai puncak kejayaannya pada masa

Perikles tahun 500-429 SM. Kata demokrasi sendiri secara etimologis berasal dari kata

demos yang artinya “rakyat” dan kratein yang berarti “kuasa” sehingga terjemahan harafiahnya ialah “kekuasaan oleh rakyat”.

Bentuk pemerintahan demokrasi modern, diklasifikasikan dengan perwakilan

oleh badan eksekutif, legislatif dan yudikatif yang terpilih melalui pemilihan umum

yang langsung, umum, bersih, jujur dan adil. Unsur-unsur pemerintahan ini dicetuskan

oleh Jhon Locke (1632-1704) dalam bukunya; 2nd Treatise of Goverment-paham ini

kemudian dikembangkan oleh seorang ahli hukum Perancis Montesquieu (1689-1755)

dalam ajarannya “pemisahan kekuasaan” (separation of power) dengan mengganti

kekuasaan federatif menjadi kekuasaaan yudikatif atau mahkamah peradilan. Alhasil,

konsepsi model pemerintahan ini dinamakan oleh Imanuel Kant sebagai teori Trias

Politica.

Seturut pemahaman dalam ranah politik praktis secara universal diakui bahwa

demokrasi merupakan hasil penemuan sistem pemerintahan terbaik hingga abad ke-21

ini. Ada empat faktor mengapa demokrasi diklaim sebagai pencerahan dalam tatanan

politik. Pertama, demokrasi mengagungkan kebebasan individual; kedua, demokrasi

mengutamakan partisipasi aktif warga negara dalam proses pengambilan keputusan

politik; ketiga, demokrasi berlangsung atas dasar prinsip kompetitif; keempat,

demokrasi mengedepankan tipologi efisiensi, transparansi dan fleksibilitas dalam

mengatasi problem sosial.

Konsep demokrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

(3)

telah mengakar dalam budaya dan tradisi (local genius) bangsa Indonesia yang biasanya

bermufakat dalam pengambilan keputusan bersama. Sistem pemerintahan demokrasi

yang sekarang dan saat ini (hic et nunc) diaktualisasikan pemerintahan Negara Republik

Indonesia merupakan kristalisasi dari kultur bangsa ini dengan asosiasi dari teori-teori

demokrasi barat modern.

Teori politik demokrasi konstitusional telah digulirkan pemerintah Indonesia

sejak runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1999. Proses demokratisasi yang

mencakup kebebasan bersuara dan berpendapat mulai digemakan sejak saat itu. Orde

reformasi pun mulai berkumandang. Maka, diselenggarakanlah pemilihan umum yang

benar-benar demokratis dengan tidak hanya memilih calon anggota legislatif, tetapi juga

pemilihan calon presiden dan wakil presiden sejak tahun 2004 dengan keikutsertaan (24

parpol nasional), 2009 (38 parpol nasional dan 6 parpol lokal) dan 2014 (12 parpol

nasional dan 3 parpol lokal).

Demokrasi di hadapan Hukum

Prinsip Kedaulatan Rakyat atau “Herrschaft des Volkes” menjamin

berlansungnya suatu pemerintahan yang mengatasnamakan suara rakyat dalam

implikasi penetapan kebijakan publik yang sesuai dengan UUD Negara Kesatuan

Republik Indonesia tahun 1945, pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Kedaulatan berada di

tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.

Pemimpin yang demokratis tunduk di bawah hukum, sehingga pencapaian

terbaik dari kepemimpinan demokratis ialah mengejawantahkan amanah rakyat.

Pemerintah sebagai representasi suara rakyat dituntut agar wajib mengutamakan

kepentingan kolektif di atas segala-galanya. Setiap elemen penting kekuasaan politik

demokratis dipimpin oleh wakil rakyat yang mendapat legitimasi kepemimpinannya

melalui perolehan suara terbanyak dalam sebuah pemilihan yang demokratis.

Dalam realitas politik demokrasi; kekuasaan dilandaskan atas konstitusi yang

(4)

negara yang menjamin: supremasi hukum (supremacy of law), kesetaraaan dihadapan

hukum (equality before the law) dan penegakan hukum yang sesuai dengan hukum

yang berlaku (due process of law).

Realitas Demokratisasi di dalam NKRI dan Pengatasannya

Akan tetapi, nyatanya realitas berbicara lain; hukum yang adalah landasan

utama pemerintahan hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas di dalam

aktualisasinya. Korupsi merasuki birokrasi pemerintahan, kaum kapitalis menjadi tuan

atas pemerintahan. Pemerintah lebih patuh pada keinginan segelintir orang berpunya

daripada rakyat yang mendukungnya sepenuh hati. Sistem demokrasi di negeri ini jadi

sarat dengan ketimpangan akut.

Negara ini menjadi identik dengan kekerasan; kekebasan bersuara dibungkam,

sesama warga negara saling membantai dalam konflik kepentingan subjektif, intoleransi

dan diskriminasi pada kaum minoritas meluas-Kemudian genaplah kata Hobbes “homo

homini lupus”-“manusia adalah serigala bagi yang lain”; pemerintah dan aparaturnya

pun seperti tak bertaji. Dengan demikian, demokratisasi pemerintahan saat ini

cenderung melegalkan banalisasi kejahatan seperti pandangan Hannah Arendt.

Merujuk pada fenomena aktual seperti ini, maka sangatlah urgent untuk

mendekonstruksi bagunan hukum menjadi lebih demokratis. Korelasi antara hukum

dan kehendak bebas mengarah pada legitimasi yang menentukan penetapan

undang-undang. Tahapan ini menjadi asumsi bahwa aturan-aturan yang dibakukan secara

yuridis kemudian dapat diterima secara rasional. Dengan demikian proses demokratisasi

undang-undang menjadi locus integrasi sosial yang riil. Konsekuensinya, warga negara

hukum mesti mempunyai kemungkinan sekaligus diwajibkan untuk mendefinisikan diri

sebagai pencipta hukum serta sebagai peserta dalam sebuah praksis politis.

Penutup: Refleksi Kritis

Melihat fakta yang mencoreng esensi demokrasi ini. Kita tak mungkin serta

(5)

dan proses demokrasi hendaknya harus selalu dikontrol dan dikoreksi agar aspirasi

masyarakat sungguh-sungguh mendapat tempatnya. Substansi utama demokrasi yang

mengutamakan kehendak bebas warga negara merujuk pada penggunaan akal yang

mampu menghasilkan keputusan rasional demi kepentingan bersama.

Pencanangan restorasi atas pereduksian demokratisasi hanya mungkin terjadi

bila kesadaran bahwa dalam politik yang sudah tersekularisasi secara sempurna dalam

Negara hanya mungkin bertahan dengan ditopang oleh demokrasi radikal. Radikalitas

demokratisasi dicapai melalui rekonstruksi imanen dalam proses pembuatan hukum.

Dengan demikian, lahirlah ide tentang keadilan demokratis reflektif prosedural; yang

berdiri pada prinsip dasar bahwa yang valid hanyalah norma-norma yang dihasilkan

melalui prosedur diskursif argumentatif dan perbincangan bebas serta egaliter.

Dengan mengkombinasikan antara “diskursus dan forma hukum nyatanya

dapat membuka argumentasi yang lengkap tentang sistem hukum yang menjadi basis

legitimasi negara hukum demokratis” demikian kata Habermas. Institusi eksekutif,

legislatif dan yudikatif mesti terbuka pada kritikan sebagai tipe kehendak politis publik

yang terbentuk dalam komunikasi bebas represi. Kekuasaan komunikatif memberikan

basis legitimasi terhadap hukum dan hanya dapat dibuat dalam ruang publik yang belum

terkooptasi serta sebagai locus sosial bagi penggunaan rasionalitas publik.

Ketiga institusi pokok dalam negara ini diharapkan saling berkolaborasi

dalam melaksanakan aspirasi masyarakat. Pemberdayaan aparatur negara serta kontrol

penuh atas birokrasi pemerintahan dari rakyat; kiranya mampu mengeliminir situasi

kegelisahan yang melanda hebat negeri ini. Keutamaan yang ditutut dari

lembaga-lembaga pemerintahan yakni mengupayakan kesejahteraan demi mencapai kebaikan

bersama (bonum commune). Akhirnya, marilah kita membangun Indonesia yang lebih

(6)

DAFTAR PUSTAKA David Held, Models of Democracy, Cambridge: University Press,

Gusti Madung, Otto. Filsafat Politik.Maumere: Penerbit Ledelero, 2013.

, Politik difernsiasi versus Politik Martabat Manusia. Maumere:

Penerbit Ledelero, 2011.

Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas, 2014.

L. Tjahjadi, Simon Petrus. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Magnis Suseno, Franz. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19.

Yogyakarta: Kanisius. 1977.

Referensi

Dokumen terkait