PERBANDINGAN KONSTITUSI INGGRIS, AMERIKA SERIKAT, DAN INDONESIA JAKARTA
A. Latar Belakang
Konstitusi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap bangsa dan negara, baik yang sudah lama merdeka maupun yang baru saja memperoleh kemerdekaannya. Melalui konstitusi kita dapat melihat sistem ketatanegaraan suatu negara. Konstitusi merupakan hukum yang dianggap paling tinggi tingkatannya di setiap negara. Istilah konstitusi pada mulanya berasal dari perkataan latin, constitutio yang berkaitan dengan kata jus atau ius yang berarti “hukum atau prinsip”.
Herman Heller menyatakan bahwa konstitusi mempunyai arti lebih luas dari undang-undang dasar. Sedangkan menurut pendapat Solly Lubis bahwa konstitusi memiliki dua pengertian yaitu konstitusi tertulis (Undang-undang dasar) dan konstitusi tidak tertulis (konvensi). Bentuk Konstitusi itu sebetulnya tidak ada keharusan tertulis maupun tidak tertulis. Bagi negara yang menggunakan konstitusi yang tidak tertulis seperti Inggris dan Canada tetap dianggap mempunyai dan mengunakan konstitusi.
Pembedaan konstitusi tertulis dengan konstitusi tidak tertulis tidak mutlak benar. Menurut CF Strong ketika menjelaskan mengenai perbandingan konstitusi dalam bukunya yang berjudul Modern Political Constitutions mengatakan bahwa sebenarnya pembedaan konstitusi tertulis dan tidak tertulis tidaklah benar karena tidak ada konstitusi yang benar-benar tertulis maupun yang benar-benar tidak tertulis. Yang disebut tertulis biasanya dimaksudkan sebagai dokumen konstitusi yang mempunyai kesakralan khusus sedangkan yang tidak tertulis adalah konstitusi yang berkembang atas dasar adat istiadat (costum).
konstitusi itu sendiri. Di Indonesia Dalam Makalah ini akan dilakukan perbandingan konstitusi dari segi muatan konstitusi ketiga negara tersebut sehingga akan diperoleh perbedaan dan persamaan dari masing-masing konstitusi serta akan diperoleh kelebihan serta kekurangannya sehingga akan memperkaya wawasan serta pengetahuan kita mengenai hukum konstitusi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah bentuk perbandingan konstitusi di negara Inggris, Amerika Serikat, dan Indonesia?
PEMBAHASAN
NEGARA INGGRIS
Sistem Administrasi dan Pemerintahan Inggris :
sistem pemerintahan parlemen yang dapat diterapkan dengan baik untuk pertama kali. Sistem ini memeberikan hak kepada masyarakat untuk memilih wakilnya melalui pemilihan umum yang demokratis untuk dapat mengatasi persoalan sosial ekonomi kemasyarakatan sehingga tercipta kesejahteraan rakyat.
Kostitusi di inggris tidak tertulis(konvensi) dalam bentuk teks namun tersebar dalam bentuk pelbagai hukum, peraturan, dan konvensi. Sistem Pemerintahan Inggris
Pemerintahan Inggris dijalankan oleh Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan dibantu para menteri. Ratu dan Raja Inggris hanyalah kepala negara yang berfungsi sebagai simbol kenegaraan(simbol kedaulatan, keagungan dan persatuan negara).
Parlemen atau Dewan Perwakilan terdiri dari dua ruang (bikameral), yakni House of Commons & House of Lord. House of Commons atau disebut juga Majelis Rendah adalah badan perwakilan rakyat yang anggota-anggotanya dipilih oleh rakyat di antara calon-calon partai politik. House of Lord atau Mejelis Tinggi adalah perwakilan yang berisi para bangsawan dengan berdasarkan warisan. House of Commons memiliki keuasaan yang lebih besar daripada House of Lord. Inggris menerapkan Parliament Soverengnity, artinya kekuasaan yang sangat besar pada diri parlemen.
Kabinet merupakan menteri-menteri yang dipimpin oleh perdana menteri. Kabinet tersebut yang benar-benar melaksanakan roda pemerintahan. Anggota kabinet pada umumnya berasal dari House of Commons. Perdana menteri merupakan pemimpin dari partai mayoritas di House of Commons. Masa jabatan kabinet sangat tergantung pada kepercayaan dari House of Commons. Parlemen memiliki kekuasaan membubarkan kabinet dengan mosi tidak percaya.
Terdapat oposisi yang dijalankan oleh partai yang kalah dalam pemilu. Para pemimpin oposisisi membuat semacam kabinet tandingan. Jika sewaktu-waktu kabinet runtuh, partai oposisi dapat menggantikan penyelenggaraan pemerintahan.
Inggris menggunakan sistem dwipartai. Di Inggris berdiri 2 partai yang saling bersaing dan memerintah. Partai tersebut adalah Partai Buruh dan Partai Konservatif. Partai yang menang dalam pemilu dan mayoritas di parlemen merupakan partai yang memerintah, sedangkan partai yang kalah menjadi partai oposisi.
Badan Peradilan ditentukan oleh kabinet sehingga tak ada hakim yang dipilih. Meskipun demikian, mereka melaksanakan peradilan yang adil(bebas dan tidak memihak), termasuk juga memutuskan sengketa antara warga dengan pemerintah.
Inggris sebagai negara kesatuan menerapkan sistem desentralisasi. Kekuasaan pemerintah daerah berada pada Council (dewan) yang dipilih oleh rakyat di daerah. Sekarang ini, Inggris terbagi dalam tiga daerah, yaitu England, Wales dan Greater London.
Sistem Peradilan dan Konstitusi
di bawah Undang-undang Uni 1707 dan 1800. Situs web ini membahas peradilan Inggris dan Wales. Kami menyebutkan secara singkat Tribunals Service, yang meluas ke Skotlandia, dan Mahkamah Agung Inggris, yang memiliki yurisdiksi atas seluruh Inggris sejak menggantikan Komite Yudisial House of Lords pada bulan Oktober 2009.
Sistem peradilan adalah salah satu dari tiga cabang negara. Dua cabang lainnya adalah eksekutif, atau pemerintah, dan legislatif, yang merupakan dua Gedung Parlemen. Di kebanyakan negara demokrasi ketiga cabang negara ini terpisah satu sama lain. Mereka memiliki peran dan fungsi yang didefinisikan dalam konstitusi tertulis, mencegah konsentrasi kekuasaan di cabang manapun dan memungkinkan masing-masing cabang berfungsi sebagai cek pada dua cabang lainnya. Ini dikenal sebagai pemisahan kekuasaan.
Inggris, yang terkenal dan hampir unik, tidak memiliki konstitusi yang terkandung dalam instrumen konstitusional tertulis. Konstitusinya dapat ditemukan dalam undang-undang yang disahkan oleh Parlemen dan dalam common law, undang-undang tersebut berkembang selama berabad-abad dalam keputusan pengadilan. Hanya dua negara lain, Israel dan Selandia Baru, seperti Inggris yang tidak memiliki instrumen konstitusional tertulis. Ketiga negara ini berbeda dengan cara ini dari hampir semua negara lain. Instrumen konstitusional semacam itu, misalnya di Amerika Serikat, yang memiliki salah satu konstitusi tertulis paling terkenal, seringkali memiliki status lebih tinggi daripada peraturan perundang-undangan biasa dan ketentuan konstitusional hanya dapat diundangkan dan dicabut dengan prosedur khusus yang berbeda dengan prosedur untuk membuat dan membatalkan undang-undang biasa.
Kurangnya konstitusi tertulis kita adalah salah satu konsekuensi dari cara Inggris dan institusi politik dan hukumnya telah berkembang sejak tahun 1066. Konsekuensi lainnya adalah bahwa institusi kita tidak memisahkan fungsi dan wewenang dari tiga cabang negara yang berbeda, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Misalnya, pemerintah (atau eksekutif) terdiri dari anggota parlemen dan rekan kerja yang juga anggota badan legislatif (House of Commons dan House of Lords). Di Amerika Serikat
sebaliknya, Presiden dan anggota kabinet, (eksekutif), sepenuhnya terpisah dari legislatif, (Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat).
Tumpang tindih antara cabang yudisial negara bagian dengan cabang lainnya sebagian besar diakhiri pada abad ke-19. Namun ada satu pengecualian penting untuk ini: kantor Lord
Chancellor. Kantor Lord Chancellor adalah salah satu yang tertua di Inggris, yang berasal dari beberapa orang di zaman Anglo-Saxon, namun dengan sejarah formal dimulai pada tahun 1068 setelah Penaklukan Norman. Selama berabad-abad banyak tokoh terkenal telah menjabat sebagai Lord Chancellor. Mereka termasuk; Thomas á Becket, Kardinal Wolsey, Thomas More dan Francis Bacon.
Kantor Lord Chancellor adalah contoh paling jelas bagaimana konstitusi Inggris tidak memisahkan dan memang mencampuradukkan tiga cabang negara. Lord Chancellor adalah seorang menteri kabinet senior dan oleh karena itu menjadi anggota eksekutif, hakim dan kepala pengadilan Inggris dan Wales, dan anggota badan legislatif, memang orang yang memimpin pertimbangan Dewan Lords, pada dasarnya Pembicara. Satu kantor melibatkan dan
menggabungkan ketiga cabang pemerintahan tersebut. Ini mungkin bisa diterima saat kantornya berdiri. Keberadaannya yang terus berlanjut dalam bentuk itu bagaimanapun telah dipertanyakan dalam beberapa kesempatan dalam dua ratus tahun terakhir. Yang paling terkenal, dikritik oleh Walter Bagehot dalam The English Constitution (1867) dengan istilah berikut:
"Seluruh kantor Lord Chancellor adalah tumpukan anomali. Dia adalah hakim, dan bertentangan dengan prinsip yang jelas bahwa setiap bagian administrasi harus dipercayakan kepada
hakim; Pada saat yang sangat menyedihkan bahwa administrasi peradilan harus dijaga dari godaan jahat. Namun Lord Chancellor, hakim utama kami, duduk di kabinet, dan membuat pidato partai di Lords. "
Kekhawatiran seperti itu terus meningkat selama abad ke-20. Meski sejak tahun 1960-an Lord Chancellor duduk sebagai hakim lebih jarang, dia terus menunjuk hakim. Selain itu, tanggung jawab administratif kantor untuk sistem pengadilan meningkat secara signifikan sebagai hasil dari reformasi yang diperkenalkan oleh Pengadilan Negeri 1971 yang mengalihkan tanggung jawab untuk banyak pengadilan dari kota dan pemerintah daerah sampai pemerintah pusat dan Kanselir Tuhan.
Keprihatinan tersebut akhirnya ditangani pada tahun 2003 ketika pemerintah mengusulkan penghapusan jabatan Lord Chancellor. Akibat dari apresiasi prinsip-prinsip pemisahan kekuasaan yang lebih jelas ini dalam kaitannya dengan fungsi peradilan, bagaimanapun, bukan
penghapusan jabatan tapi reformasi. Undang-Undang Reformasi Konstitusional 2005 membawa perubahan yang signifikan dalam sifat kantor, yang pada dasarnya menghapus posisi Lord Chancellor sebagai hakim dan kepala pengadilan di Inggris dan Wales, dan berposisi sebagai Ketua Dewan Lords. Lord Chancellor sekarang menjadi Sekretaris Negara dan, seperti menteri Kabinet lainnya, juga anggota dewan legislatif.
Undang-undang tahun 2005 lebih dari sekedar mereformasi kantor Lord Chancellor. Ini mengacu pada dua prinsip dasar konstitusi kita, peraturan hukum dan independensi peradilan. Sementara independensi peradilan telah lama menjadi isu yang telah disebut dalam undang-undang, seperti Undang-Undang Hak 1689 atau Undang-Undang Penyelesaian 1701, ini adalah pertama kalinya peraturan undang-undang tersebut secara khusus disebutkan dalam undang-undang. Pemahaman umum telah berkembang selama berabad-abad mengenai apa yang dimaksud, namun mengingat perubahan lainnya, hal itu dianggap penting bagi Undang-Undang untuk merujuk pada mereka dan dengan demikian memberi mereka kekuatan hukum. Rincian perubahan kunci yang dibawa oleh Undang-Undang tersebut meliputi:
Kewajiban hukum yang eksplisit pada menteri pemerintah untuk menegakkan
independensi peradilan. Para menteri secara khusus dilarang mencoba mempengaruhi keputusan pengadilan melalui akses khusus ke hakim. Lord Chancellor juga memiliki kewajiban hukum khusus untuk mempertahankan independensi peradilan. Misalnya, tugas ini mengharuskan Lord Chancellor untuk membela anggota peradilan yang menjalankan fungsi peradilan mereka dari komentar buruk oleh anggota pemerintah lainnya. Contoh paling awal dari hal ini muncul sebagai konsekuensi kasus Sweeney pada bulan Juni 2006. Craig Sweeney dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Hakim hukuman diharuskan menetapkan masa hukuman minimum sebelum Dewan Parole tidak dapat mempertimbangkan pembebasannya atas izin dan, sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan dan pedoman hukuman hakim menetapkan jangka waktu minimum lima tahun dan 108 hari. Baik Sekretaris Rumah Tangga dan seorang menteri junior di Departemen Urusan Konstitusional, mengkritik hal ini. Menteri DCA bahkan mengatakan pada Radio 4 bahwa hukuman itu salah, meskipun dia kemudian menarik kembali
komentarnya. Lord Chancellor berbicara menentang rekan-rekan pemerintahannya dan secara terbuka membela hakim hukuman tersebut. Dengan berbuat demikian, dia bertindak konsisten dengan tugas yang dijatuhkan pada Kanselir Tuhan untuk membela peradilan;
Pengalihan fungsi peradilan Lord Chancellor kepada Lord Chief Justice yang menjadi Presiden Pengadilan Inggris dan Wales. Sebagai konsekuensi dari pengalihan tanggung jawab ini, Lord Chief Justice mendapatkan tanggung jawab atas pelatihan, bimbingan dan penerapan Hakim. Dia juga memiliki tanggung jawab untuk mewakili pandangan
peradilan Inggris dan Wales kepada Parlemen dan menteri;
Penciptaan Mahkamah Agung Inggris yang terpisah dari dan independen dari House of Lords. Pengadilan baru memiliki sistem penunjukan independen, staf, anggaran, dan bangunan di bekas Guildhall Middlesex, di seberang Gedung Parlemen;
Pembentukan Komisi Penunjukan Yudisial independen. Komisi memiliki tanggung jawab yang efektif untuk memilih hakim, walaupun secara formal Komisi membuat
rekomendasi kepada Kanselir Tuhan. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa, sementara penghargaan tetap menjadi satu-satunya kriteria untuk pengangkatan, sistem
Pembentukan Tanggung Jawab dan Ombudsman Yudisial, bertanggung jawab untuk menyelidiki dan membuat rekomendasi mengenai keluhan tentang proses peradilan, dan penanganan pengaduan tentang perilaku peradilan.
Perubahan posisi konstitusional sejak 2003 juga memiliki konsekuensi praktis yang penting. Ini berhubungan dengan kepemimpinan sehari-hari di pengadilan, cara hakim diangkat dan
bagaimana keluhan ditangani. Perubahan ini telah membantu mengklarifikasi independensi peradilan dan dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas, kepercayaan publik dan efektivitas kerja peradilan. Penciptaan Kementerian Kehakiman di tahun 2007 yang mempertemukan pertanggungjawaban atas peradilan pidana, penjara, dan kebijakan pidana (sebelumnya tanggung jawab Sekretaris Rumah Tangga) dan tanggung jawab untuk layanan pengadilan dan bantuan hukum (sebelumnya tanggung jawab Lord Chancellor) menyebabkan kesepakatan lebih lanjut antara pemerintah dan yudikatif pada bulan Januari 2008. Ini mengakui bahwa pengadilan memiliki tanggung jawab yang berbeda untuk memberikan keadilan secara independen.
Hakim dan Parlemen
Kedua Rumah Parlemen memiliki kekuatan untuk mengajukan petisi kepada Ratu untuk pengangkatan hakim Pengadilan Tinggi atau Pengadilan Banding. Kekuasaan ini berasal dari Undang-Undang Penyelesaian 1701 dan sekarang terdapat dalam bagian 11 (3) Undang-Undang Mahkamah Agung 1981. Pengadilan tidak pernah dilakukan di Inggris dan Wales. Ini sebenarnya baru sekali dieksekusi satu kali, ketika Sir Jonah Barrington dikeluarkan dari jabatannya sebagai hakim Pengadilan Tinggi Angkatan Laut Irlandia pada tahun 1830 karena korupsi: dia
menyalahgunakan dana karena para penggugat. Tidak ada Hakim Pengadilan Tinggi Inggris atau Pengadilan Tinggi yang pernah dikeluarkan dari jabatannya di bawah kekuasaan ini. Sirkuit dan Hakim Distrik bisa diangkat oleh Lord Chancellor. Namun, dia hanya bisa melakukannya jika Ketua Majelis Hakim setuju.
Beralih ke bentuk pertanggungjawaban lain, "peraturan" sub pengadilan mencegah diskusi mengenai kasus-kasus yang sedang berlangsung di Parlemen, namun, jika perlu, keputusan dan keputusan Hakim perorangan dapat disebutkan dalam perdebatan di House of Parliament manapun. Namun, ini tidak berarti bahwa hakim bertanggung jawab kepada Parlemen atas keputusan mereka dalam kasus tertentu, kecuali sejauh Parlemen dapat membuat undang-undang untuk membalikkan efek keputusan atau mengubah undang-undang sebagaimana ditetapkan atau ditafsirkan oleh keputusan pengadilan.
terlihat di media, atau dikomentari oleh politisi, cenderung berfokus pada masalah kriminal atau hak asasi manusia, namun ada banyak contoh lain tentang pengawasan yudisial yang
memungkinkan Negara untuk memperbaiki hasil undang-undang yang tidak terduga sebelumnya. Namun keliru jika mengatakan bahwa peradilan dapat, dengan menggunakan Undang-Undang Hak Asasi Manusia 1998, membatalkan undang-undang. Undang-undang tersebut hanya mengizinkan Pengadilan Tinggi, Pengadilan Banding atau House of Lords / Mahkamah Agung untuk menyatakan undang-undang agar tidak sesuai dengan hak
Konvensi. Pernyataan ketidakcocokan tidak membuat undang-undang atau menghapusnya dari buku undang-undang, seperti yang terjadi di beberapa yurisdiksi. Di Amerika Serikat, misalnya, Mahkamah Agung dapat menyatakan bahwa undang-undang tersebut bukan hukum yang sah karena tidak konstitusional. Deklarasi ketidakcocokan di bawah Undang-Undang tahun 1998, bagaimanapun, meninggalkan keabsahan hukum tertentu secara utuh. Mereka hanya meminta Parlemen untuk mempertimbangkan untuk mengubah undang-undang agar membuatnya sesuai dengan ketentuan Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia. Keputusan terakhir tetap ada di Parlemen dan bukan di bidang peradilan. Pada akhirnya, pengadilan tidak lagi, atau kurang, berdasarkan Undang-Undang tahun 1998 daripada melaksanakan fungsi konstitusionalnya untuk menafsirkan dan menerapkan undang-undang yang disahkan oleh Parlemen. Mereka hanya memiliki kekuatan seperti Parlemen memberi mereka dalam Undang-Undang Hak Asasi Manusia 1998.
Hakim individu juga dapat diundang untuk memberikan bukti kepada Komite Parlemen. Di zaman modern, hakim yang telah diminta untuk hadir melakukannya secara sukarela, tunduk pada peraturan dan konvensi mapan dan lama yang menghalangi hakim untuk mengomentari masalah tertentu. Komite Parlementer menghormati peraturan dan konvensi ini. Hal-hal yang dilarang meliputi: manfaat kebijakan pemerintah (kecuali jika kebijakan tersebut mempengaruhi administrasi peradilan di dalam wilayah pengadilan tertentu mengenai tanggung jawab
peradilan);manfaat masing-masing kasus atau keputusan (walaupun percobaan tertentu dapat digunakan sebagai contoh praktik saat membahas masalah kebijakan umum) atau pejabat peradilan, politisi, dan tokoh masyarakat lainnya, dan manfaat, makna atau kemungkinan dampak ketentuan dalam undang-undang prospektif (sedemikian rupa yang dapat dilihat untuk mempertanyakan ketidakberpihakannya terhadap keadilan); dan administrasi peradilan yang berada di luar wilayah tanggung jawabnya atau tanggung jawab sebelumnya.
Perbedaan penting selanjutnya adalah apakah hakim yang hadir sebelum sebuah Komite melakukannya sebagai individu, yang dipanggil karena pengalaman atau keahlian hakim tersebut, atau mewakili peradilan secara keseluruhan. Sejak reformasi yang diperkenalkan oleh Komite Reformasi Konstitusional 2005 Komite semakin tertarik pada jenis penampilan yang terakhir. Komite Parlementer dapat menjadi forum yang tepat bagi hakim untuk memberikan pandangan mereka mengenai isu-isu terkini yang mempengaruhi administrasi peradilan dan memungkinkan mereka memberikan komentar mengenai topik yang sesuai. Belakangan ini peradilan senior telah menanggapi undangan untuk mengomentari pembentukan Kementerian Kehakiman.
mereka harus mengadili masalah tersebut. Ada risiko bahwa hal-hal yang dikatakan oleh hakim kepada Komite Parlemen dapat menyebabkan pengadilan dianggap sebagai 'pemain' lain dalam proses politik, yang merusak persepsi publik tentang ketidakberpihakan dan independensi mereka. Hakim harus berhati-hati dengan apa yang mereka katakan dan juga tentang mendorong keyakinan bahwa wilayah yang sesuai bagi mereka untuk diminta memberikan komentar publik harus diperluas.Memang, reformasi konstitusional baru-baru ini yang meningkatkan pemisahan peradilan dari cabang negara lain menunjukkan bahwa hakim tidak mungkin memberikan komentar mengenai beberapa hal yang telah mereka lakukan di masa lalu.
Rekrutmen Mahkamah Konstitusi daan Masa Jabatan
Sesuai dengan bagian 70 Undang-Undang Reformasi Konstitusional 2005, sebagaimana telah diubah oleh Undang-Undang Kejahatan dan Pengadilan tahun 2013, panel menentukan proses seleksi yang harus diikuti dan berkonsultasi dengan Lord Chancellor dan First Minister of Wales mengenai proses yang diikuti.
Sesuai dengan s.10 (3) Undang-Undang Pengadilan Negeri 1981 c.54, latihan seleksi terbuka untuk semua pemohon yang memenuhi persyaratan pemenuhan janji peradilan dalam waktu 7 tahun atau menjadi hakim di Mahkamah Agung, Pengadilan Banding, atau Pengadilan Tinggi.
Mengingat kebutuhan untuk menyampaikan reformasi Pengadilan yang signifikan dan untuk mengarahkan peradilan melalui jalan keluar dari UE, kandidat diharapkan dapat melayani paling sedikit 4 tahun.
NEGARA AMERIKA SERIKAT
Sistem Ketatanegaraan :
Konstitusi Amerika Serikat dan pelaksanaan Konstitusi
Konstitusi Amerika Serikat disusun dan diterima beberapa tahun setelah Pernyataan Kemerdekaan Amerika Serikat ditanda tangani padatahun 1776. Pada tanggal 25 Mei 1787 dibuka dengan resmi Sidang Konstituante yang terdiri dari 55 orang utusan dari 13 negara-negara yangada di Amerika pada waktu itu. Perbincangan 55 orang utusan berlangsung sampai 17 September 1787 dan menghasilkan rancangan naskah konstitusi. Rancangan Naskah tersebut diterima sebagai naskah resmiuntuk dimintakan persetujuan dari pemerintah-pemerintah 13 Negara untuk dapat berlaku efektif sebagai Konstitusi Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1787, 9 negara memberikan persetujuan dan secara formal sudahdapat berlaku sah, karena sudah mencapai mayoritas 2/3.Konstitusi Amerika Serikat mewujudkan prinsip-prinsip yangdinyatakan dalam suatu
(1776). Deklarasitersebut diangkat dari filosofi Prancis dan aliran pencerahan Inggris.Tujuan utama konstitusi Amerika Serikat adalah menjamin hak-hak
Negara bagian. Negara Amerika Serikat memiliki motto (1776) “Pluribus Unum” artinya “dari banyak, menjadi satu”, dan pada tahun 1956 dengan motto “In God We Trust” artinya” kepada Tuhan kami Percaya” ini memiliki sistem pemerintahan demokrasi presidensiil. Konstitusi tersebut menjelaskan kekuasan yang dapat diselenggarakan organ pemerintahan bersama, yaitu pemerintahan federal. Sedangkan kekuasaan yang tidak disebutkan dalam konstitusi menjadi milik pemerintah Negara bagian
Sistem Pemerintahan : Amerika Serikat merupakan sebuah negara serikat/federal berbentuk republik beribukota di Washington D.C. yang mempunyai 50 negara bagian. Sedangkan sistem pemerintahan yang dianut adalah Sistem Pemerintahan Presidensial. Presiden Amerika adalah kepala negara juga sekaligus sebagai kepala pemerintahan.Terdapat pemisahan kekuasaan yang jelas antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang dinamakan “Separation of Power Teory” yang berasal dari ajaran Trias Politika (Montesquieu) yang membedakan kekuasaan dalam suatu negara dipisahkan menjadi 3 cabang kekuasaan :
a.Eksekutif : kekuasaan yang melaksanakan Undang-Undang
Kekuasaan eksekutif dipengang oleh Presiden yg dipilih oleh masyrakyat. Presiden menduduki jabatan sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Presiden dan wapres dipilih melalui pemilihan umum, jadi tidak memberikan pertanggungjawaban kepada Kongres namun jika presiden dinyatakan melakukan pelanggran berat(high crimmines and misdemeasnors) & kejahatan yaitu kegiatan melawan negara atau hukum seperti : membunuh, korupsi besar, penghianatan, dll maka presiden dapat dipecat/dimakzulkan (impeachment).
b.Legislatif : kekuasaan yang menyusun/membuat Undang-Undang
Kekuasaan legislatif berada pada parlemen atau disebut Konggres (congress). Konggres terdiri atas dua kamar, yakni Senat & House of Representatif. Anggota Senat (perwakilan dari negara bagian) perwakilan tiap tiap negara bagian masing-masing dua orang jadi jumlahnya ada 100 senator. Sedangkan House of Representatif (Dewan Perwakilan Rakyat) ditentukan berdasarkan jumlah penduduk.
c.Yudikatif : kekuasaan yang mengawasi pelaksanaan UU dan memberikan sanksi bagi pelanggar UU
, Ini ini dimaksudkan agar terwujudnya check and balance sehingga tidak ada kekuasaan yang terlalu dominan. Kekuasaan yudikatif ada di tangan Mahkamah Agung (Supreme of Court) yang bebas dan merdeka dan tidak dapat dipengaruhi oleh kekuasaan yang lainnya.
Amerika Serikat menerapkan sistem kepartaian dwipartai. Hanya terdapat dua partai yang dominan di Amerika Serikat, yakni Partai Republik dan Demokrat.
Sistem Pemilu
Pemilu di Amerika menggunakan sistem distrik.
Perbedaan Pemilu Sistem Proporsional dan Sistem Distrik 1. Sistem distrik
Sistem ini berdasarkan lokasi daerah pemilihan, bukan berdasarkan jumlah penduduk. Dari semua calon, hanya akan ada satu pemenang. Dengan begitu, daerah yang sedikit penduduknya memiliki wakil yang sama dengan daerah yang banyak penduduknya, dan tentu saja banyak suara terbuang. Karena wakil yang akan dipilih adalah orangnya langsung, maka pemilih bisa akrab dengan wakilnya.
Kelebihan Pemilu sistem Distrik
Sistem ini merangsang terjadinya integrasi diantara partai, disebabkan kursi kekuasaan yang diperebutkan hanya satu.
Perpecahan partai dan pembentukan partai baru bisa dihambat, bahkan bisa mendorong penyederhanaan partai secara natural.
Distrik ialah daerah kecil, karena itu wakil terpilih kemungkinan akan dikenali dengan baik oleh komunitasnya, dan hubungan dengan pemilihnya menjadi lebih dekat
Untuk partai besar, lebih gampang untuk memperoleh kedudukan mayoritas di parlemen. Jumlah partai yang terbatas menyebabkan stabilitas politik mudah tercapai.
Kelemahan Pemilu Sistem Distrik
Partai besar lebih berkuasa karena terdapat kesenjangan persentase suara yang diperoleh dengan jumlah kursi di partai politik
Partai kecil dan minoritas merugi sebab sistem ini menyebabkan banyak suara terbuang. Sistem ini kurang mewakili kepentingan masyarakat heterogen & pluralis.
Anggota Parlemen terpilih cenderung mengutamakan kepentingan daerahnya dibanding kepentingan nasional.
Sistem yang melihat pada jumlah penduduk yang merupakan peserta pemilih. Berbeda dengan sistem distrik, wakil dengan pemilih kurang dekat karena wakil dipilih melalui tanda gambar kertas suara saja. Sistem proporsional banyak dianut oleh negara multipartai, seperti Italia, Indonesia, Swedia, dan Belanda.
Kelebihan Pemilu Sistem Proporsional
Dinilai lebih mewakili suara rakyat sebab perolehan suara partai sama dengan persentase kursinya di parlemen.
Setiap suara dihitung dan tidak ada yg terbuang jadi partai kecil & minoritas memiliki kesempatan memperoleh suara dan menempatkan wakilnya di parlemen. Sistem ini dianggp lebih memihak masyarakat pluralis dan heterogen.
Kekurangan Sistem Proporsional
Sistem proporsional ini kurang mendukung adanya integrasi partai politik. Jumlah partai yang semakin banyak menghambat integrasi partai.
Wakil rakyat kurang dekat dengan pemilihnya, tapi lebih dekat dengan partainya. Hal ini memberikan kedudukan yang kuat pada dewan pimpinan partai untuk menentukan wakilnya di parlemen.
Banyaknya partai yang bersaing menyebabkan kesulitan bagi suatu partai untuk menjadi mayoritas. Hal ini menyebabkan sulitnya mencapai stabilitas politik dalam parlemen, karena partai harus menyandarkan diri pada koalisi.
Electoral College
Dalam sistem pemilu di USA, pilihan rakyat tak mutlak menentukan kemenangan seorang calon presiden/kandidat sebab dalam pelaksanana pemilihan calon presiden & wakil presiden, Amerika Serikat memakai sistem “Electoral College”. Electoral College adalah dewan pemilih yang akan memilih presiden. Anggotanya dipilih oleh rakyat pada hari pemilu. Para utusan itu sudah berjanji di awal untuk memilih kandidat tertentu. Jumlah utusan pada dewan pemilih yaitu dua orang ditambah jumlah anggota DPR dari negara bagian tersebut. Jadi, beberapa negara bagian memiliki jumlah utusan terbanyak, seperti contohnya, California, dan menjadi begitu menentukan dalam pemenangan pemilu. Dengan demikian, pemilihan presiden dan wakil presiden sebenarnya merupakan pemilu dengan cara tidak langsung tetapi diwakilkan pada dewan pemilih sebab pemenangnya ditentukan oleh suara para pemilih dalam Electoral College saat hari pencoblosan.
Tata cara pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden di Amerika:
Dalam rangka pelaksanaan pemilihan umum presiden & wakil presiden di Amerika Serikat ,masyarakat menggunakan hak pilihnya sebanyak dua dua kali,yaitu :
· Kedua, untuk memilih utusan berjumlah 538 yang mewakili 50 negara bagian.Utusan inilah yang berhak memilih presiden. Jadi, pilihan rakyat hanya berguna untuk menentukan popularitas kandidat.
Sistem Peradilan : Sistem hukum Amerika Serikat menjadi sebuah federasi yang tersusun dari negara-negara bagian yang sistem hukumnya berdiri sendiri-sendiri dengan segala otoritasnya yang oleh Konstitusi Federal tidak diserahkan kepada organ-organ Federal. Dalam hal terdapat beberapa bidang yang memiliki yuridiksi yang sama antara pemerintahan negara bagian dengan pemerintah federal, maka hukum federal lah yang dianggap lebih penting dari hukum negara bagian.
Sistem hukum negara-negara bagian sepenuhnya dibangun di atas tradisi hukum common law yang saling berhubungan dengan sangat erat, kecuali negara bagian Louisiana yang masih memperlihatkan jejak hukum peninggalan hukum Prancis seperti Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tahun 1808. Negara-negara bagian masing-masing mempertahankan dan
mengembangkan aturan hukum dibidang-bidang seperti: hukum kontrak, hukum korporasi, hukum pidana, hukum keluarga, hukum waris, hukum properti, tort, dan konflik hukum (hukum perdata internasional). Sedangkan, hukum laut, kepailitan dan hukum patent diatur dengan aturan-aturan federal.
Meski banyak perbedaan-perbedaan hukum diantara negara-negara bagian, hukum negara federal berlaku di semua negara bagian dan teritori, persamaan-persamaan itulah yang memungkinkan adanya “hukum Amerika”. Oleh para Lawyer/Pengacara yang cerdas perbedaan-perbedaan bisa dimanfaatkan untuk mencari pengadilan-pengadilan yang dapat menerima kasus-kasus yang ditangani atau memilih negara-negara bagian yang legislasinya lebih menguntungkan kliennya. Misalnya, dalam hal hukum korporasi, maka negara bagian Delaware banyak dipilih untuk mencatatkan perusahaan-perusahaan oleh pengusaha, atau negara bagian Nevada banyak dipilih oleh pasangan-pasangan yang ingin bercerai dengan cepat. Perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara hukum-hukum di berbagai negara bagian, menjadikan aturan tentang konflik hukum menjadi sangat penting. Umumnya pengadilan Amerika menggunakan aturan yang sama untuk memutuskan konfik hukum internasional dan konflik hukum antar negara bagian, tetapi tentu saja aturan-aturan ini diterapkan dengan selalu mempertimbangkan pilihan hukum antar negara bagian.
Keseragaman hukum
Ada beberapa modus penyeragaman hukum dalam sistem hukum Amerika, antara lain: a. Tindak pidana yang terjadi di dan berdasarkan hukum negara bagian merupakan kejahatan, tetapi jika hasil kejahatan dibawa ke negara bagian lainnya, maka pelaku dapat dihukum karena melakukan kejahatan federal, yaitu karena pengangkutan barang curian melintasi perbatasan negara bagian. Untuk itu pelaku dapat dituntut dan dijatuhi hukuman di pengadilan federal dan dihukum di penjara federal.
mempertimbangkan hukum-hukum di negara bagian lain. Dan biasanya negara bagian tidak mengadopsi aturan-aturan yang sangat bertentangan dengan aturan-aturan yang berlaku di kebanyakan negara bagian lain.
c. Pengesahan sukarela “model codes” oleh lembaga legislatif tiap-tiap negara bagian merupakan cara lain untuk mencapai keseragaman hukum Amerika. Sebuah lembaga khusus bernama “National Conference of Commissioners on Uniform State Law” sejak akhir abad kesembilan belas menghasilkan sekitar seratus model “codes” seragam yang diadopsi oleh negara-negara bagian dengan tingkat bervariasi. Aturan atau hukum seragam yang penting dan paling berhasil adalah “Unform Commercial Code (UCC) of 1951dengan
erubahan-perubahannya, diadopsi oleh 50 negara bagian, yang mencakup bagian luas dari hukum bisnis, termasuk kontrak-kontrak untuk penjualan barang, surat obligasi (bond), surat wesel (bill of exchange), cek, macam-macam ak sekuritas dan konosemen (bill of lading).
Konstitusi Amerika sebagai dokumen yang hidup “Konstitusi Amerika adalah apa kata apara hakim mengenainya”, begitulah untuk menggambarkan betapa dinamis dan berkembangnya konstitusi Amerika, baik konstitusi federal maupun konstitusi negara bagian. Konstitusi Amerika Serikat berasal dari tahun 1787, terdiri dari tujuh Article yang relatif luas dan 27 Amandemen. Di dalam praktek, Konstitusi tersebut nampak seperti hukum yang terkodifikasi. Hal ini terlihat dari ketentuan-ketentuan yang melindungi hak-hak sipil individu dalam sepuluh Amandemen sejak 1791 yang disebut Bill of Right. Konstitusi, melalui penafsiran-penafsiran pengadilan, tertama dari Mahkamah Agung Amerika Serikat melahirkan putusan-putusan yang mengikat semua pengadilan negara bagian dan federal juga otoritas lainnya. Maka dapat disimpulkan pengadilan itulah yang menetapkan aturan konstitusional yang sesungguhnya.
Konstitusi Amerika Serikat adalah inti utama sistem hukum Amerika Serikat tidak hanya secara formal tapi juga dalam kenyataan. Konstitusi Amerika Serikat bukanlah deklarasi politik yang tak memiliki daya terap (aplikable), tetapi justru terdiri dari aturan-aturan raktis yang kerapkali diterapkan oleh pengadilan-pengadilan. Karenanya setiap Undang-Undang negara bagian atau federal atau peraturan kota yang bertentangan dengan Konstitusi boleh ditentang dan ditolak penerapannya. Biasanya pelanggaran-pelanggaran terhadap Konstitusi biasanya menyangkut hal-hal: pelanggaran hak-hak sipil, tidak sesuai dengan pembagian kekuasaan antara otoritas
legislatif, eksekutif dan yudikatif, atau pembagian kekusaan antara organ-organ federal dengan negara bagian. Perubahan mengenai hak sipil seperti Amandemen Pertama yang menjamin kebebasan berbicara dan beragama dan Amandemen keempat Belas mengenai erlindungan yang sama dan proses hukum yang sepantasnya.
Judicial Review
Judicial review terhadap konstitusionalitas legislasi tidak secara eksplisit disebutkan dalam Konstitusi Amerika Serikat, tetapi secara tegas ditetapkan dalam kasus Mahkamah agung
tetapi biasanya keputusannya terbatas pada penolakan untuk menerapkan undang-undang tersebut dalam suatu kasus.
Salah satu karakteristik litigasi konstitusional di Amerika Serikat ialah kecenderungan lembaga yudikatif mengembangkan dan mengubah aturann dalam Konstitusi guna disesuaikan dengan perkembangan dalam masyarakat, karena itu konstitusi Amerika Serikat ini dicirikan sebagai “dokumen yang hidup”. Kasus “Brown Vs Board of Education of Topeka” merupakan bukti bahwa penafsiran dan penerapan Konstitusi diterapkan dengan cara yang jelas-jelas belum pernah diramalkan sebelumnya, melalui putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1954 ini diumumlkan bahwa sistem sekolah terpisah antara anak-anak kulit hitam dan anak-anak kulit putih melanggar Konstitusi.
Lembaga Yudikatif Amerika Serikat
Di amerika Serikat, ada pengadilan federal dan ada pengadilan negara bagian. Sistem pengadilan negara bagian bervariasi dari satu negara bagian dengan negara bagian lainnya. Biasanya terdiri dari pengadilan-pengadilan tingkat pertama (trial court, atau umum disebut municipal court atau county court) yang memutuskan perkara, pengadilan menengah untuk banding (Appellate Courts), dan sebuah Mahkamah Agung (Supreme Court) sebagai pengadilan tingkat tertinggi (di New York disebut “Court of Appeals”).
Kebanyakan perkara-perkara perdata maupun pidana (lebih dari 90%) ditangani di pengadilan negara bagian. Keputusan Mahkamah Agung negara bagian bisa dimintakan banding ke
Mahkamah Agung Amerika Serikat, tetapi jika ada sangkut paut dengan persoalan federal. Hal ini bisa terjadi ketika pengadilan yang berwenang ic Mahkamah Agung AS (appellant)
menyatakan Undang-undang negara bagian yang menjadi dasar keputusan melanggar Konstitusi AS, atau apabila MA negara bagian menolak menerapkan undang-undang federal yang diketahui akan berbenturan dengan konstitusi federal.
Pengadilan-pengadilan federal terdiri dari 94 pengadilan distrik (U.S. District Courts) dan dua pengadilan yuridiksi khusus mengadili perkara dengan hakim tunggal, 13 pengadilan banding (U.S. Courts of Appeals) mengadili perkara dengan tiga orang hakim dan Mahkamah Agung Amerika Serikat (Supreme Court of the United States). Kongres menentukan jumlah hakim pada sistem pengadilan federal. Akan tetapi Kongres tidak dapat meniadakan Mahkamah Agung. Dari 13 pengadilan banding federal, sebelas diantaranya mencakup kawasan geografis tertentu yang disebut circuit, misalnya Circuit ke 5 meliputi negara bagian Mississippi, Louisiana, dan Texas. U.S Court of Appeals untuk Circuit ke 12 memeriksa banding dari Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Columbia. Court of Appeals federal yang ke 13, U.S. Court of Appeals for Federal Circuit (didirikan 1982) untuk memeriksa banding yang ditujukan terhadap keputusan-keputusan yang dikeluarkan beberapa pengadilan khusus federal atau badan-badan semi yudisial, seperti U.S. Claims Court (menangani tuntutan terhadap pemerintah Amerika Serikat), Patent and Trademark Office (menangani kasus patent dan merek dagang), serta Court of International Trade (menangani kasus-kasus bea cukai).
Meski ada dua Mahkamah Agung (MA) sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman di Amerika Serikat (AS) yaitu MA Amerika Serikat (Supreme Court of the United States) dan MA Negara Bagian (Supreme Court) sebagai kekuasaan kehakiman tertinggi, namun secara tegas ada pembagian tugas yang jelas, yaitu MA Negara Bagian hanya menagani kasus-kasus yang diajukan peradilan dibawahnya yaitu perkara banding melalui pengadilan tinggi negara bagian (Appellate Courts) dan pengadailan negara bagian (trial court). Sedangkan MA Amerika Serikat mememeriksa perkara-perkara yang diajukan peradilan dibawahnya yaitu pengadilan tinggi federal (US Court of Appeals) dan US District Court. Supreme Court of US dapat membatalkan putusan Supreme Court Negara Bagian jika menerapkan aturan perundangan yang menjadi dasar putusan yang bertentangan dengan Konstitusi. Peran pengadilan di AS tidak hanya mengadili sengketa, tetapi juga menjadi penjaga konstitusi, artinya setiap tingkatan pengadilan selain memutus sengketa juga menyatakan suatu peraturan perundang-undangan tidak mempunyai kekuatan hukum karena bertentangan dengan Konstitusi (Judicial Review)..
Mahkamah Agung AS, terdiri dari seorang Chief Justice dan delapan orang Associate Justice, yang diangkat seumur hidup oleh Presiden dengan persetujuan majelis tinggi Kongres Amerika Serikat, Senat (Majelis rendahnya House of Refresentatives). Inilah gambaran mekanisme – checks and balances—antara legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mahkamah Agung dalam melaksanakan tugasnya lebih memusatkan diri pada persoalan hukum (question of fact) bukan pada persoalan fakta (question of fact), jika ada fakta-fakta tambahan yang harus diperiksa, maka kasusnya akan dikirim kembali ke pengadilan tingkat pertama (trial court) untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan pernyataan opini Mahkamah Agung tentang hukum tersebut. Mempunyai yuridiksi eksklusif atas sengketa dua negara bagian, dan yuridiksi noneksklusif dalam kasus yang diajukan oleh duta besar negara asing. Dalam keadaan normal, MA Amerika Serikat memeriksa perkara banding yang jumlahnya lebih dari 5.000 kasus pertahun, untuk membatasi beban kerjanya, MA dapat menolak perkara (writ of certiorari) seperti kasus-kasus yang tidak penting secara prinsip.
Selain hakim-hakim MA yang diangkat untuk masa jabatan seumur hidup oleh Presiden dengan persetujuan Kongres & Senat, hakim-hakim pengadilan Distrik dan pengadilan tinggi (Courts of Appeals) juga ditunjuk oleh Presiden untuk masa jabatan seumur hidup dengan persetujuan dari Senat.
Yuridiksi
Dalam pengadilan-pengadilan negara bagian tingkat pertama (state trial courts) maupun
pengadilan-pengadilan federal (federal trial courts), penggunaan juri merupakan hal yang biasa, dimana tugas juri menentukan persoalan-persoalan fakta (question of fact), namun bukan sesuatu yang bersifat keharusan. Jika kedua belah pihak tidak meminta pemeriksaan oleh juri, maka hakim tidak hanya akan memutuskan persoalan hukum (question of law) tetapi juga memutus persoalan faktanya (question of fact).
NEGARA INDONESIA
Sejarah Ketatanegaraan : Pemikiran mengenai pentingnya suatu mahkamah konstitusi telah muncul dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia sebelum merdeka. Pada saat pembahasan rancangan UUD di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), anggota BPUPKI Prof. Muhammad Yamin telah mengemukakan pendapat bahwa Mahkamah Agung (MA) perlu diberi kewenangan untuk membanding undang-undang. Namun ide ini ditolok oleh Prof. Soepomo berdasarkan dua alasan, pertama, UUD yang sedang disusun pada saat itu (yang kemudian menjadi UUD 1945) tidak menganut paham trias politika. Kedua, pada saat itu jumlah sarjana hukum kita belum banyak dan belum memiliki pengalaman mengenai hal ini
Sistem Pemerintahan : Sistem pemerintahan yang di terapkan di Indonesia adalah sistem presidensil. Dengan demikian presiden sebagai kepala pemerintahan mempunyai kekuasaan yang sangat besar di dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Presiden sebagai kepa;la pemerintahan sekaligus sebagai kepala Negara. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya,presiden selain dibantu oleh seorang wakil juga oleh sejumlah menteri yang diangkat dan langsung bertangungjawab kepadanya. Meskipun menteri pembantu dan tergantung kepada presiden,akan tetapi para menteri mempunyai kedudukan dan kekuatan besar dalam menjalankan kekuasaan pemeintah secara operasional.
Untuk kelancaran tugasnya presiden di samping sebagai kepala eksekutif juga di lengkapi dengan sejumlah kekuasaan legislatif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif yang dimaksud adalah di dalam perumusan undang- undang .Undang-undang dibuat oleh presiden dengan DPR. Disamping undang-undang ,presiden juga menetapkan peraturan pemerintah . sementara kekuasaan yudikatif tercermin dari haknya untuk memberi grasi,abolisi,amnesty,dan rehabilitasi. Dengan demikian ,sistem pemerintahan Indonesia tidaklah mengikuti asas trias politika secara murni.
bidang yang merupakan tugas pemerintah pusat dan tidak di serahkan kepada pemerintahan daerah yaitu : agama,yustisi,keamanan,moneter,dan fiskal. Bentuk Negara kesatuan Indonesia adalah Republik dan Kedaulatan sepenuhnya ada di tangan rakyat.
Sistem Peradilan :
A. MAHKAMAH AGUNG
UU No. 14 Tahun 1985 jo UU No. 5 Tahun 2005 I. PERADILAN UMUM
a. Pengadilan Anak (UU No. 3 Tahun 1997) b. Pengadilan Niaga (Perpu No. 1 Tahun 1989) c. Pengadilan HAM (UU No. 26 Tahun 2000)
d. Pengadilan TPK (UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2002) e. Pengadilan Hubungan Industrial (UU No. 2 Tahun 2004)
f. Mahkamah Syariah NAD (UU No. 18 Tahun 2001) g. Pengadilan Lalu Lintas (UU No. 14 Tahun 1992) II. PERADILAN AGAMA
Mahkamah Syariah di Nangro Aceh Darussalam apabila menyangkut peradilan Agama. III. PERADILAN MILITER
– Pengadilan Militer untuk mengadili anggota TNI yang berpangkat prajurit.
– Pengadilan Militer Tinggi, untuk mengadili anggota TNI yang berpangkat perwira s.d kolonel
– Pengadilan Militer Utama, untuk mengadili anggota TNI yang berpangkat Jenderal. – Pengadilan Militer Pertempuran, untuk mengadili anggota TNI ketika terjadi perang. IV. PERADILAN TATA USAHA NEGARA
– Pengadilan Pajak (UU No. 14 Tahun 2002) V. PERADILAN LAIN-LAIN
b. Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) B. MAHKAMAH KONSTITUSI
(UU No. 24 Tahun 2003)
Rekrutmen Hukum MK : Rekrutmen hakim konstitusi yang dilakukan oleh tiga lembaga negara, yaitu DPR, Presiden dan MA. Setalah melalui tahapan seleksi sesuai mekanisme yang berlaku pada masing-masing lembaga tersebut, masing-masing lembaga mengajukan tiga calon hakim konstitusi kepada Presiden untuk ditetapkan sebagai hakim konstitusi.
Jumlah Hakim : 9 Hakim
Masa Jabatan : Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh Hakim Konstitusi untuk masa jabatan 3 tahun. Masa jabatan Ketua MK selama 3 tahun yang diatur dalam UU 24/2003. Tetapi masa jabatan Hakim Konstitusi sendiri adalah 5 tahun, sehingga berarti untuk masa jabatan kedua Ketua MK dalam satu masa jabatan Hakim Konstitusi berakhir sebelum waktunya (hanya 2 tahun).
Kewenangan : kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah menguji undang-undang terhadap UUD 1945; memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945; memutus pembubaran partai politik; dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Selain itu, berdasarkan Pasal 7 ayat (1) sampai dengan (5) dan Pasal 24C ayat (2) UUD 1945 yang ditegaskan lagi oleh Pasal 10 ayat (2) UU 24/2003, kewajiban Mahkamah Konstitusi adalah memberikan keputusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum, atau perbuatan tercela, atau tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.