Klaim Dasar Sains dan Spiritualitas: Kemungkinan dan Ketidakmungkinan Konvergensi?
*Harjo Winoto
Dalam dunia modern kontemporer, sains dikenal sebagai suatu aktivitas intelektual dan praktis tentang studi suatu sistem, struktur, dan perilaku materi fisik (natural world) melalui observasi dan eksperimen. Dalam pikiran orang awam, kata "sains" (atau science dalam bahasa Inggris) dibayangkan sebagai buku teks yang tebal, jaket lab berwarna putih dan mikroskop, seorang astronom yang sedang menerawang melalui teleskop, seorang naturalis di hutan hujan tropis, atau persamaan Einstein (E=MC2) di papan tulis. Secara umum,
gambar-gambar tersebut muncul sebagai bagian dari imaginasi tentang adanya suatu alat atau penemuan yang dapat mengatasi permasalahan manusia. Namun, gambaran ini tidak pernah secara utuh menjelaskan sains.
Berikut beberapa pendekatan dalam sistem yang dinamakan "scientific"
1. Asumsi aksiomatik
Beberapa filsuf mencoba mengartikulasi asumsi aksiomatik yang menjadi dasar sains, suatu bentuk foundationalism. Pendukung pendekatan ini menyatakan bahwa asumsi ini cukup masuk akal dan diperlukan untuk menjalankan aktivitas sains. Misalnya, Hugh Gauch mengargumentasikan bahwa sains mengasumsikan bahwa "dunia fisik bersifat teratur dan dan dapat dipahami". Sama halnya, seorang biologis Stephen Jay Gould, mengutip hukum alam konstansi sebagai suatu asumsi yang harus diasumsikan seorang peneliti sebelum memulai kegiatan geologi.
2. Koherentisme
"keyakinan". Suatu observasi tentang "transit of Venus" mempersyaratkan diyakininya beberapa hal lain, yaitu optik teleskop, mekanika teleskop, dan pemahaman akan mekanika selestial. Jika prediksi tersebut gagal dan suatu transit tidak dapat diobservasi, maka akan ada penyesuaian dengan sistem yang ada, perubahan dari asumsi sandingan (auxiliary assumption), ketimbang penolakan terhadap keseluruhan sistem teori tersebut.
Beberapa ilmuwan menyatakan ketidakmungkinan untuk menguji suatu teori dalam kondisi tertutup (terisolasi). Uji tersebut hanya dapat dilakukan melalui hipotesis sandingan (auxiliary hypotheses) untuk membuat prediksi yang dapat diuji. Sebagai misal, untuk menguji hukum Newton tentang gravitasi dalam setting sistem tata surya, seorang ilmuwan memerlukan informasi tentang massa dan posisi Matahari dan seluruh planet. Sejarah mencatat suatu kejadian yang terkenal di kalangan ilmuwan di abad ke-19 yaitu kegagalan untuk memprediksi orbit Uranus tidak sekonyong-konyongnya mengakibatkan penolakan terhadap hukum Newton namun mengakibatkan penolakan tentang hipotesis bahwa sistem tata surya terdiri dari hanya 7 planet. Investigasi lanjutan menghasilkan penemuan planet ke-8, Neptunus. Jika suatu tes gagal, berari ada sesuatu yang salah. Akan tetapi, terdapat masalah untuk menemukan apa "sesuatu' itu, misalnya, ada planet yang belum terobservasi, alat uji yang tidak terkalibrasi dengan baik, kurvatur ruang yang tidak disangka-sangka.
3. "Apa saja" masuk
Seorang filsuf sains Paul Feyerabend mengargumentasikan bahwa tidak ada satupun penjelasan metode sains yang cukup luas untuk mencakup semua pendekatan dan metode yang digunakan seorang ilmuwan. Dia mengklaim bahwa tidak ada aturan metodologi yang berguna dan bebas dari pengecualian. Feyerabend menolak metode sains yang preskriptif dengan dasar bahwa metode semacam itu akan melumpuhkan perkembangan sains. Dengan kata lain, menurut Feyerabend "satu-satunya prinsip yang tidak menghambat perkembangan sains adalah "apa saja" masuk".
Feyerabend merasa bahwa sains dimulai sebagai suatu gerakan yang meliberalisasi, namun seiring waktu sains menjadi dogmatik dan kaku, dan oleh karenanya cenderung menjadi suatu ideologi, dan, atas kesuksesan tersebut, sains telah menjadi alat untuk mengekang. Ia merasa dominasi sains yang bersifat eksklusif telah menjadikannya suatu alat untuk mengarahkan masyarakat ke dalam bentuk otoritarianisme.
Suatu paradigma merupakan hal yang diyakini secara kolektif oleh anggota-anggota komunitas sains. Sebaliknya, suatu komunitas sains terdiri dari orang-orang yang meyakini paradigma tersebut secara kolektif. Menurut Thomas Kuhn, sains hanya dapat dilakukan sebagai bagian dari suatu komunitas, dan secara inheren merupakan aktifitas komunal. Jelas bahwa faktor sosial yang mempunyai peran penting dan langsung dalam metode sains. Lebih lanjut, walaupun dari perspektif ini sains merupakan konstruksi sosial, tidak berarti bahwa realita adalah sekedar konstruksi sosial.
5. Filsafat kontinental
Filsuf dengan tradisi kontinental tidak dikenal (atau dikategorisasikan) sebagai filsuf sains. Namun, mereka berbicara banyak tentang sains, bahkan beberapa dari mereka mengusung tema-tema yang berbau tradisi analitis. Contohnya, Nietzsche yang mengedepankan tesis "Genealogi Moral" dalam pencarian kebenaran dalam sains sebagai suatu ideal yang aksetik. Secara umum, sains dalam filosofi kontinental dilihat dari perspektif sejarah peradaban. Georg Wilhelm Friedrich Hegel merupakan salah satu pendukung pendekatan ini. Semua pendekatan ini meliputi perspektif sejarah dan sosial, dengan memprioritaskan "pengalaman organik", ketimbang pendekatan progres atau anti-sejarah yang dilakukan oleh tradisi analitis.
Perkembangan sains modern, yang ditandai oleh subyek fisika kuantum yang mengobservasi realita fisik dalam skala nano (10-9) dan yokto (10-24). Fisika kuantum
berupaya menjelaskan konstruksi realitas fisik dengan memisahkan semua obyek fisik dalam ukuran terkecilnya (konstituen atom terkecil). Dalam suatu karya graphic novel, the Watchmen, kuantum fisika digambarkan melalui proses pemisahan suatu obyek fisik hingga komponen terkecilnya melalui mesin Akselerator Partikel. Tujuannya adalah mengobservasi hukum-hukum alam yang berlaku untuk interaksi partikel sub-atomik.
Konvergensi Metode: Sains dan Spiritualitas
realitas fisik. Konstruksi ini untuk sementara didasarkan pada bahasa matematika. Namun, yang ingin penulis tekankan adalah implikasinya. Bila dapat dibuktikan (bukan hanya sekedar pembuktian internal ala matematika (proof), dan dimanifestasikan (dinyatakan dalam suatu wujud fisik (evidence) atau ditemukan suatu metode atau alat observasi), maka pemahaman fisikawan tentang dunia realitas fisik diprediksi akan mengalami perubahan yang cukup fundamental. Perubahan fundamental yaitu pada asumsi kita tentang momentum dan lokasi, yaitu semua obyek fisik berprilaku secara deterministik (ada di lokasi tertentu) dan dapat diprediksi. Dalam level kuantum, semakin jelas lokasi suatu partikel, semakin kabur informasi tentang momentumnya dan sebaliknya.
Saat ini ada beberapa alternatif String-Theory, yakni 11D supergravity, Type IIA, Type IIB, Type I, E8E8, dan S0(32) heterotic. M-Theory merupakan metode untuk mengunifikasi semua
teori tersebut (penambahan satu dimensi dari 3 dimensi hingga 11 dimensi menunjukkan munculnya fitur-fitur masing-masing teori).
Tanpa bermaksud menjelaskan secara teknis, yang perlu digarisbawahi dari metode M-Theory adalah kemampuannya untuk menciptakan "payung" yang lebih besar yang mampu menjelaskan seluruh pecahan-pecahan teori kecil. Tentunya, seluruh teori ini dibangun melalui observasi yang kemudian dibahasakan dalam konstruksi matematika. Konvergensi ini mengandung suatu metode yang mampu (jika terbukti secara utuh dan dapat diuji berulang kali) menghilangkan sifat eksklusifitas dan dualisme dalam berbagai anomali fisika, misalnya dualisme gelombang-partikel elektron.
Saya ambil contoh pendekatan konvergensi sains dan spiritualitas dari pemikiran Dalai Lama. Buddhisme mempercayai bahwa terdapat perbedaan yang mendasar dari peran deduksi dalam proses pemikiran (reasoning) Buddhisme dengan sains. Sains menggunakan konstruksi matematika yang kompleks, sementara Buddhisme, seperti halnya filsafat India kuno, selalu berkutat pada hal konkret dalam penggunaan logika, di mana pemikiran (reasoning) diterapkan pada suatu konteks yang partikular. Matematika memungkinkan proses abstraksi yang luar biasa besar dalam sains. Perbedaan lain dan mungkin lebih penting adalah proses falsifikasi, yaitu teori sains harus memuat di dalamnya kondisi-kondisi dimana teori tersebut dapat dibuktikan salah. Contoh yang dikemukakan Dalai Lama adalah teori bahwa Tuhan menciptakan alam semesta tidak mungkin menjadi suatu teori yang scientific karena dalam teori tersebut tidak terdapat kondisi-kondisi dimana ia dapat dibuktikan salah. Dalam, Buddhisme arena pemikiran tidak hanya terbatas pada realitas fisik, namun juga termasuk pengalaman subyektif tentang nilai (values), metafisika dan etika. Hanya dengan melihat ketiga komponen tersebut dalam satu kerangka yang utuh barulah tercapai pemahaman yang lebih akurat.
Dalam tradisi Buddhisme, mereka mengenal prinsip "ranah negasi", yang mendelineasi "apa yang tidak ditemukan/terbukti" dengan "apa yang terbukti tidak ada". Logika dalam dikhotomi ini, bila diaplikasikan dalam pertanyaan "Apakah Tuhan ada?", maka fakta bahwa sains tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan tidak berarti Tuhan tiada bagi kaum yang mempraktikkan tradisi teistik. Problematika yang hendak dijelaskan dalam butir ini adalah pertanyaan tentang prima causa, atau asal muasal alam semesta.
Selanjutnya, topik yang banyak diteliti dewasa ini adalah mengenai kesadaran (consciousness) manusia. Penelitian tentang persepsi dan bangunan proses kita sebagai manusia dalam memahami dunia di sekitar kita merupakan merupakan kunci untuk mengetahui benar-tidaknya atau setidaknya batasan dari kemampuan observasi kita. Sudut pandang ini mulai mempersempit jarak sains dan spritualitas (yang mengusung pengalaman subyektif dari sang pelaku).
Titik-titik konvergensi
Dari paparan singkat metode sains dan spiritualitas di atas, terdapat beberapa titik kovergensi.
Pertama, titik konvergensi dalam hal pengalaman subyektif individu yang mempunyai dampak terhadap "obyek" (dalam dikhotomi klasik tentang subyek-obyek). Artinya, terdapat relasi dalam hubungan keduanya dengan bau hermeneutika. Implikasinya adalah konteks atau sudut pandang dimulainya suatu observasi berpengaruh terhadap "obyek". Artinya, obyek bukanlah semata-mata suatu fenomena independen yang eksistensinya konstan sepanjang masa dengan atau tanpa hadirnya subyek. Selama ini toh semua obyek selalu dibungkus dan diorganisasi oleh subyek (manusia). Catatan dari penulis adalah bahwa dikhotomi subyek-obyek harus diluluhkan untuk menerawang kemungkinan adanya potensi relasi lain di antara subyek-obyek. Atau bahkan mungkin keduanya adalah satu hal yang sama. Dalam bahasa spiritualitas, zat yang dinamakan Tuhan atau Higher Being tidaklah semata-mata suatu kenyataan obyektif yang kaku dan independen. Namun, suatu zat/entitas yang dinamis dalam relasinya dengan manusia.
Kedua, titik konvergensi dalam hal realitas fisik yang terbatas. Fisika kuantum secara gamblang menggambarkan keterbatasan kemampuan observasi manusia, yang dari sana lah dirumuskan teori 11 dimensi. Keberadaan suatu obyek fisik yang melampaui 3 dimensi manusia tidak dapat dibuktikan dengan kondisi dan alat dalam dimensi tersebut. Para ilmuwan fisika kuantum meyakini perkembangan teknologi akan membawa manusia untuk mampu menciptakan alat untuk menerawang melampaui 3 dimensi tersebut. Realitas fisik yang terbatas berarti tercipta ruang bagi suatu zat yang melampaui manusia. Belum tentu zat itu tuhan sebagaimana diyakini kaum teistik, dengan variasi, politeistik, deistik maupun monoteistik. Setidaknya, pada titik ini ruang ini membongkar asumsi klasik sains tentang obyek material. Sebagaimana halnya pelampauan tersebut, agama-agama Samawi hanya dapat berkonvergensi dengan sains bila terdapat "pencairan" teks dan interpretasi teks serta tradisi yang mampu merespons perkembangan sains. Dengan kata lain, teks tidak seharusnya diperlakukan sebagai obyek mati yang sudah selesai. Penerapan dan reinterpretasi nilai teks harus menjadi bagian yang utuh dalam kehidupan spritualitas.
para ilmuwan "siapa tahu tuhan ada di dimensi yang lain (lebih tinggi) dan manusia ternyata sains adalah jawaban iman".
Penulis menutup tulisan ini dengan catatan bahwa dikhotomi sains dan spritualitas hendaknya diperlakukan dengan sikap mencoba menjalin dialog. Bila akhirnya tidak terdapat titik temu, setidaknya kita sudah membuktikan divergensi tersebut. Namun, pada titik ini perlu dilakukan upaya memahami satu sama lain melalui penyamaan kosa kata.
*Karena hujan lebat yang tak kunjung henti, seorang pendeta yang terjebak di atap rumahnya pun berdoa meminta bantuan tuhannya. Setelah berjam-jam menunggu, ia tidak melihat satupun tanda-tanda. Tiba-tiba, terdengar suara mesin yang berdengung dan semakin dekat semakin jelas bahwa beberapa orang menggunakan boat kecil untuk menolong korban yang tertinggal. Sang pendeta menolak bantuan orang-orang tersebut. Berikut beberapa jam kemudian, terdengar suara menderu dari sebuah helikopter. Sang pendeta pun tetap menolak pertolongan itu dan meyakini tuhannya akan mengirimkan pertolongan. Beberapa jam kemudian, terlihat beberapa orang korban yang sedang menggunakan barang-barang tersisa untuk membuat pelampung dan meminta bantuan pendeta tersebut supaya mereka bisa berenang mencari bantuan. Sang pendeta pun tetap menolak dan menyakini tuhannya akan menolongnya. Sang pendeta pun meninggal karena kelaparan, rasa capek, dan kedinginan. Sesampainya ia di Surga, ia bertanya mengapa tuhan tidak menolongnya. Tuhan menjawab "Saya sudah mengirim tiga bantuan dan kamu tetap menolaknya"