• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Linguistik Bahasa Bajawa Ngadha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Linguistik Bahasa Bajawa Ngadha"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Bentuk Interferensi dan Campur Kode dalam Bahasa Bajawa

serta Pengaruhnya

terhadap Praksis Berbahasa Suku Bangsa Ngadha

Mata Kuliah: Linguistik Umum

Oleh:

Stefanus Fua Tangi

NPM: 12.75.5202

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT KATOLIK

LEDALERO

(2)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah masyarakat yang inklusif, kontak bahasa merupakan satu hal yang pasti. Kontak bahasa itu kemudian memungkinkan terjadinya bilingualisme dan multilingualisme. Dari sana, muncul beberapa kasus pemakaian bahasa seperti interferensi, integrasi, alih kode, dan campur kode.1 Di satu sisi, hal ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk saling

memperkaya antara masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Namun di sisi lain, bermacam-macam persoalan bahasa bisa saja timbul karena masing-masing kebudayaan tidak memiliki kesamaan persepsi untuk menentukan sejauh mana kontak bahasa tersebut dapat berterima.

Dari antara kasus-kasus pemakaian bahasa yang timbul akibat kontak bahasa, interferensi dan campur kode merupakan fenomena umum yang sering terjadi di kalangan masyarakat penutur bahasa Bajawa. Hal ini disebabkan karena adanya kontak bahasa antara bahasa Bajawa sendiri sebagai bahasa ibu masyarakat penuturnya dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua (juga dengan bahasa daerah lainnya). Tak heran jika dalam tuturan bahasa Bajawa sehari-hari, sering dijumpai masuknya unsur-unsur bahasa Indonesia (umumnya berupa kata) dalam wujud interferensi dan campur kode. Kenyataan ini menyajikan paradoks yang menarik; bahasa Indonesia menemukan ragam baru setelah dipengaruhi bahasa Bajawa, sementara bahasa Bajawa menjadi semakin menyimpang dari originalitasnya.

Paradoks yang muncul sebagai akibat kontak bahasa antara bahasa Bajawa dengan bahasa Indonesia tadi sering kali kurang disadari keberadaannya. Masyarakat Ngada yang umumnya bilingual begitu saja memakai bahasa daerah mereka tanpa berpikir soal untung-rugi di balik hasil kontak bahasa tersebut. Akibatnya, ketika generasi berganti, originalitas bahasa Bajawa pun perlahan-lahan memudar. Penggunaan bahasa Bajawa yang asli akhirnya terbatas pada ritus-ritus adat belaka, tak lagi dipahami dengan baik oleh generasi masa kini atau bahkan yang akan datang. Lantas sikap apa yang harus diambil: membiarkan bahasa Indonesia semakin memperkaya khazanah bahasa Bajawa atau membatasi pengaruh bahasa Indonesia terhadap bahasa Bajawa demi menjaga originalitasnya? Sikap bijak sangat diperlukan berhadapan dengan pilihan-pilihan semacam ini.

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Judul Tulisan ini yakni: “Bentuk Interferensi dan Campur Kode dalam Bahasa Bajawa serta Pengaruhnya dalam Praksis Berbahasa Suku Bangsa Ngadha”. Tulisan ini hendak menemukan akar masalah di balik fenomena interferensi dan campur kode dalam bahasa Bajawa. Pertanyaan-pertanyaan inti yang hendak dijawab ialah: 1) bagaimana bentuk interferensi dan campur kode dalam bahasa Bajawa?; 2) mengapa masyarakat Ngadha pada umumnya gemar mencampuradukkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dalam tuturan sehari-hari?; 3) apakah ada faktor tertentu yang menyebabkan hal itu terjadi?; 4) dapatkah bahasa Bajawa tetap bertahan di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan originalitasnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penulis mencoba menggunakan pendekatan kajian fonologis (khususnya fonetik artikulatoris dan fonemis) terhadap bahasa Bajawa untuk menemukan kekhasannya di antara bahasa-bahasa lain. Selanjutnya, guna menjelaskan fenomena interferensi dan campur kode dalam bahasa Bajawa, pendekatan teoretis yang memadai pun akan disertakan.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan utama dari tulisan ini yaitu menjawab pertanyaan inti pada rumusan masalah di atas dari sudut pandang linguistik. Selain itu, tulisan ini pun hendak menemukan solusi etis yang bisa dipakai untuk menjamin kelestarian bahasa Bajawa sebagai kekayaan budaya kita. Lebih jauh, tulisan ini pun merupakan usaha awal untuk suatu proyek jangka panjang yakni membuat kajian linguistik terhadap bahasa daerah Ngada dengan segala kekhasannya secara komprehensif.

II. BAHASA BAJAWA: BAHASA DENGAN KEKHASANNYA 2.1 Mengenal Bahasa Suku Bangsa Ngadha

(4)

suku bangsa Ngadha sebagai “kultur provinz”2 memiliki luas sekitar 900 km2 (kilometer

persegi).3

Nama “Ngadha” (dilafalkan dengan nga’- dha) berasal dari nama “Repungadha” yang merupakan nama ibu leluhur suku bangsa Ngadha.4 Menurut legenda, ada seorang pria

bernama Jawa Mézé datang dari Jawa One5 bersama tujuh orang putranya (Ratu Jawa, Bima, Jati Jawa, Todo, Dara, Sama, dan Faga) dan tujuh orang putrinya (Ngadha, Naru, Wato, Lodo, Gisi, Siga, dan Rani). Jawa Mézé kemudian kembali ke Jawa One beserta ketujuh putranya, sementara ketujuh putrinya tinggal menetap. Ngadha sebagai putri tertua diambil namanya menjadi nama wilayah yang mereka diami tersebut. Keturunan Ngadha kini tersebar di kampung adat Bajawa (terletak di sisi Barat kota Bajawa saat ini) dan kampung-kampung sekitarnya. 6

Pada masa lalu, masyarakat Ngadha hidup berkelompok dalam ulu eko (satu kesatuan wilayah adat yang dipimpin oleh seorang Mosalaki, terdiri atas beberapa kampung), nua

(“kampung”, terdiri atas beberapa suku), dan woe (“suku”). Di sekitar daerah kota Bajawa sekarang, terdapat tujuh kampung yang dijuluki Nua Limazua, yaitu: Bhajawa, Bongiso, Bokua, Boseka, Pigasina, Boripo, dan Wakomenge. Nua Bhajawa (dilafalkan bha’-jawa) merupakan kampung terbesar dan cukup berpengaruh dari antara ketujuh kampung tersebut. Ketika pemerintahan kolonial Belanda menguasai sebagian besar wilayah Ngadha, ditunjukklah mosalaki dari kampung terbesar itu untuk menjadi raja. Raja bertugas membantu pemerintahan kolonial untuk menjamin ketertiban dan keamanan kegiatan pemerintahan serta mengontrol pemungutan pajak dan kerja rodi. Kata Bhajawa kemudian diganti dengan penyebutan yang lebih sederhana yakni Bajawa untuk mempermudah orang Belanda melafalkannya. Maka tak heran bila nama Bajawa pun menjadi nama umum untuk

2 “Kultur Provinz” yakni suatu wilayah yang didiami oleh suatu suku bangsa ditinjau dari aspek historis-kultural-antropologis. H. Muda, “Kepercayaan Orang Ngada akan Kehidupan sesudah Kematian menurut P. Paulus Arndt, SVD”. Praskripsi. Maumere: STFK Ledalero, 1972. hlm. 6-9, mengutip P. Arndt, “Gesellschaftliche Verhaltnisse der Ngada”. Studia Instituti Anthropos, vol. 8 (1954). p. 4.

3 Zakarias Kaju, “Pesta Reba Masyarakat Ngada dalam Perspektif Iman Katolik”. Praskripsi. Maumere: STFK Ledalero, 1980. hlm. 2.

4 Paul Arndt, Masyarakat Ngadha: Keluarga, Tatanan Sosial, Pekerjaan, dan Hukum Adat (Ende: Penerbit Nusa Indah, 2009). Hlm. 5.

5 Hingga kini letak Jawa One tidak diketahui pasti. Kemungkinan para leluhur orang Ngadha sempat singgah di Pulau Jawa sebagaimana terungkap dalam ritus su’i uwi pada perayaan Reba (Pesta Tahun Baru Adat Ngadha). Namun, tetap tidak ada petunjuk pasti bahwa leluhur orang Ngadha berasal dari Jawa. C. Dhogo, Su’i Uwi;Ritus Budaya Ngadha dalam Perbandingan dengan Perayaan Ekaristi (Maumere: Ledalero, 2009), hlm. 8.

(5)

menyebutkan nama pusat pemerintahannya, nama suku bangsanya, hingga nama bahasa yang digunakan.7

Bahasa Bajawa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Rumpun bahasa ini kurang lebih terdiri atas 700-800 bahasa yang tersebar di Asia Tenggara, Taiwan, Mikronesia, Polinesia, dan Madagaskar. Kemungkinan besar dulu pernah ada orang-orang berbahasa Austronesia yang mendiami daerah pinggiran sungai di Cina Selatan dan Vietnam Utara pada pertengahan milenium IV sebelum masehi. Mereka ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain, termasuk wilayah Nusantara, dengan membawa bahasa yang mereka gunakan. Bahasa tersebut lalu mengalami perkembangan selama ribuan tahun dan menjadi bahasa-bahasa yang sekarang kita gunakan.8

Berdasarkan rekonstruksi kosa kata atas bahasa Austronesia awal, tampak bahwa pendatang Austronesia pertama di Asia Tenggara kepulauan memanen padi, ubi jalar, talas, sukun, pisang, kelapa, dan biji-bijian. Mereka juga beternak kerbau, babi, anjing, dan ayam. Ciri utama kebudayaan masyarakat Austronesia antara lain mengayau dan mendirikan batu besar (megalit) untuk keperluan ritual adat. Kesamaan unsur lain dalam kebudayaan kebendaan adalah bentuk rumah adat, perahu layar bercadik, tembikar, tenunan, berbagai perkakas zaman batu, dan lain sebagainya.9 Semua hal yang telah dibahas di atas hendak

menunjukkan bagaimana bahasa Bajawa, yaitu bahasa suku bangsa Ngadha, sesungguhnya telah melalui suatu proses panjang sebelum mendapatkan bentuknya yang khas saat ini.

2.2 Kajian Linguistik Bahasa Bajawa

Pada umumnya, bahasa-bahasa daerah di Flores tidak memiliki sistem tulisan. Kemampuan berbicara dalam beberapa kebudayaan dianggap sebagai satu-satunya manisfestasi bahasa yang telah berlangsung selama berabad-abad.10 Bahasa Bajawa yang khas

pun berkembang dalam paradigma ini. Akan tetapi dengan pendekatan linguistik, bahasa Bajawa yang bersifat ujaran lisan tersebut dapat dijelaskan secara rasional.

Kajian Lingustik yang sesuai untuk menemukan kekhasan bahasa Bajawa ialah kajian fonologis. Fonologi adalah bagian dari ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa. Objek studi fonologi menurut 7 Secara etimologis kata Bajawa merupakan perpaduan antara kata bha (berarti “piring”) dan jawa (berarti “perdamaian”, juga berarti “Tanah Jawa”). Dengan demikian, Bajawa berarti “piring perdamaian”. Bajawa (kota) (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Bajawa_%28kota%29, diakses 12 Desember 2015).

8 ”Arsitektur”, Indonesian Heritage, Jld. VI, Jakarta: Buku Antar Bangsa (Grolier International, Inc.), 2002, hlm. 10.

9 Ibid.

(6)

hierarki dibedakan atas fonetik dan fonemik. Fonetik berurusan dengan bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi bahasa tersebut berperan sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.11 Berikut ini merupakan kajian fonologis terhadap bahasa Bajawa.

2.2.1 Bahasa Bajawa menurut Pendekatan Fonetik Artikulatoris

Fonetik artikulatoris merupakan bidang fonetik yang sesuai untuk menemukan kekhasan bahasa Bajawa. Di dalamnya, dipelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.12 Bahasa Bajawa layaknya bahasa Indonesia memiliki bunyi (huruf) vokal

dan konsonan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan yang khas antara bahasa Bajawa dan bahasa Indonesia.

A. Bunyi (huruf) Vokal

 Keenam huruf vokal (a, i, u, e, é, dan o) memang terdapat dalam bahasa Bajawa. Namun, keunikan pengucapannya terdapat jelas dalam kata-kata yang diawali huruf vokal. Dalam bahasa Indonesia, pengucapan vokal selalu dilakukan dengan terlebih dahulu merapatkan pita suara (dalam kajian fonetik dinamakan bunyi bersuara13). Semua kata bahasa Bajawa

yang diawali bunyi (huruf) vokal selalu diucapkan tanpa merapatkan pita suara sebelumnya. Hal ini juga terdapat dalam pengucapan kata tertentu oleh suku bangsa lain (contoh pengucapan kata “inang” untuk orang Sikka). Berikut ini contoh kata-kata bahasa Bajawa dibandingkan dengan kata bahasa Indonesia yang berdekatan pengucapannya di dalam kurung.

 Bahasa Bajawa pun memiliki kata-kata berdiftong (bervokal rangkap) seperti aé, au, éi, ou, oé, dan ui. Perhatikan contoh berikut ini!

C

(7)

Bhou = kerabat Hui = daging Moé = seperti

 Kadang kala, kata tertentu yang memuat satu huruf vokal di dalamnya diucapkan dengan tambahan bunyi yang beraspirasi dengan bunyi /h/ atau /c/ sebagai hasil kombinasi antara bunyi vokal dengan bunyi konsonan. Huruf vokal amat memengaruhi terciptanya bunyi baru. Perubahan bunyi ini disebut aspirasi14 yang berlaku hanya untuk klan tertentu saja

misalnya klan Wogo dan klan Toda. Perhatikan contoh berikut! C

¿ artinya /t/ yang beraspirasi dengan /c/ Bajawa---> [ jc

¿ artinya /j/ yang beraspirasi dengan /c/

Contoh 4:

Kami pergi nonton tivi.---> [ kh ami ph ergi nonton tc ivi] Jangan marah, lha! ---> [ jc angan marah, lha!]

 Sebagian besar kata dalam bahasa Bajawa memuat konsonan ganda seperti bh, dh, ng,dan gabungan dari dua konsonan ganda tersebut.

(menyerupai /t/, diucapkan seperti kata “there” dalam bahasa Inggris), yang dalam sistem transkripsi dilambangkan dengan [ ð¿ seperti pada contoh berikut.

Contoh 6:

14 “Aspirasi” atau hembusan udara yang mengikuti pelepasan hambatan suara dengan atau tanpa afrikasi, yaitu bunyi letupan suara yang dihasilkan lewat celah sempit pada mulut (mis. pengucapan kata church). R. H. Robins, op.cit., hlm. 115-116.

15 Bunyi “apikodental” yaitu bunyi yang dihasilkan antara lidah dan gigi atas. J.W.M. Verhaar, Asas-Asas Linguistik Umum (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), hlm. 31.

(8)

 Kata-kata yang memuat konsonan semivokal labiodental16 /w/ biasanya diucapkan dengan

aspirasi terhadap konsonan /v/. Contoh 7:

Wolo Sasa [ wv olo sasa] = bukit Sasa wawasan [ wv a wva san]

 Ada lagi cara pengucapan yang khas dengan bunyi konsonanhamzah17 di antara dua bunyi

vokal untuk kata-kata tertentu sebagaimana terungkap dalam contoh berikut. C

Secara garis besar, pendekatan fonetik artikulatoris telah membuktikan bahwa bahasa Bajawa memiliki kekhasan yang jarang terdapat pada budaya lain. Bagi penutur bahasa lain yang hendak belajar bahasa ini, kesulitan dalam mengucapkan kata tertentu pasti menjadi masalah utama.

2.2.2 Bahasa Bajawa menurut Pendekatan Fonemis

 Dalam bahasa Bajawa, terdapat cukup banyak kata yang berkontras minimal (berpasangan minimal). Umumnya kata-kata tersebut dapat dibedakan lewat fonem / / seperti pada kataә “tenang“ dan fonem /é/ seperti pada kata “bebek“.

C

 Ada pula fonem lain yang berperan sebagai pembeda makna seperti: j, l, p, s, t, bh, gh, dan sebagainya.

16 Konsonan “semivokal” adalah jenis konsonan yang memiliki artikulasi agak marginal (terletak di perbatasan antara konsonan dan vokal). Contoh bunyi ini misalnya pada fonem /w/ atau /y/. Fonem /w/ disebut secara khusus sebagai bunyi “labiodental” karena dihasilkan antara bibir bawah dengan gigi atas. Bdk. Ibid.

hlm. 40. dan R.H.Robins, op.cit. hlm. 119.

(9)

Dari sudut pandang fonemik, bahasa Bajawa ternyata tersusun atas banyak kata yang berpasangan minimal. Konsekuensinya, bahasa ini menjadi tampak semakin rumit bagi orang-orang yang mau mempelajarinya.

2.2.3 Fenomena Kontak Bahasa dalam Bahasa Bajawa

Bahasa Bajawa yang khas rupanya tidak luput dari pengaruh kontak bahasa. Dalam percakapan sehari-hari, orang Ngadha yang menggunakan tuturan bahasa Bajawa, sering memasukkan kata-kata bahasa Indonesia ke dalam percakapan mereka. Percakapan tersebut dapat terjadi di mana saja seperti di rumah, di kebun, di gereja, di pasar, di jalan, dan sebagainya. Sebagai akibat, bahasa Indonesia yang dituturkan oleh orang-orang berlatar belakang budaya Ngadha pun menemukan ragam baru, yaitu bahasa Indonesia dialek Bajawa. Fenomena kontak bahasa tersebut menghasilkan dua kasus umum yang sering terjadi yaitu: interferensi dan campur kode.

Interferensi

Interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang sedang digunakan itu. Interferensi terjadi karena ketidaktahuan penutur atau pengguna bahasa. Interferensi bisa terjadi pada semua tataran bahasa: fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon.18 Dalam bahasa Bajawa, interferensi hanya dapat terjadi pada tataran fonologi,

sintaksis, dan leksikon. Patut juga diperhatikan bahwa untuk menemukan interferensi yang dimaksud kita harus mengandaikan bahasa Bajawa dan bahasa Indonesia dialek Bajawa sebagai satu kesatuan. Contoh interferensi fonologi akan tampak jelas apabila penutur bahasa Bajawa mencoba mengucapkan kata bahasa Indonesia yang dibuka dengan fonem /j/, /p/, dan /t/ (lihat contoh 3 di atas).

Interferensi pada tataran sintaksis ditandai dengan seringnya sintaksis bahasa daerah diterjemahkan secara lurus ke dalam bahasa Indonesia.

Contoh 11:

Mari kita pergi ke atas kios mereka Om Ande (Mai kita la’a pe zeta kios hoga om Ande). Pola semacam ini paling banyak terjadi di kalangan para penutur bahasa Indonesia dialek Bajawa.

Sedangkan interferensi pada tataran leksikondapat ditemukan dalam contoh berikut: Contoh 12:

Pemerentah bha’i biasa naka go ngawu masaraka (Pemerintah tidak biasa mencuri barang milik masyarakat).

(10)

Jika diterjemahkan secara lurus dalam bahasa daerah, kalimat tadi akan berbunyi:

Pemerentah bha’i dhoma naka go ngawu kita ata.

Kata-kata yang digaris-bawahi di atas merupakan kata-kata dari bahasa Indonesia yang dimasukkan ke dalam tuturan bahasa Bajawa dengan sedikit perubahan yang diperlukan. Perubahan kata “pemerintah” menjadi pemerentah atau kata “masyarakat” menjadi masaraka

merupakan hasil dari kombinasi antara bahasa Indonesia dan kebiasaan bertutur dalam bahasa daerah Bajawa yang berlangsung secara tak disengaja.

Campur Kode

Campurkodeialah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan. Berbeda dari interferensi, campur kode diciptakan dengan sengaja oleh pengguna bahasa.19 Fenomena campur kode di daerah Ngadha rupanya kerap dilakukan oleh penutur

bahasa Bajawa yang berasal dari suatu tradisi tutur yang berbeda. Contoh 13:

“Ne’e dhéké da dheké pe zeta tolo lemari” (ada tikus naik ke atas lemari).

Bagi orang Ngadha asli, kalimat tadi tidak begitu sulit untuk diucapkan dengan fasih. Akan tetapi bagi seorang wanita asal Timor (Dawan) yang bersuamikan orang Ngadha misalnya, kemungkinan besar kalimat tadi akan diucapkannya:

“Ne’e deke da nae pe eta tolo lemari”.

Kita simak dalam kalimat baru ini muncul unsur-unsur baru yaitu deke yang menggantikan

dhéké, nae ( “naik”) yang menggantikan dheké, dan eta yang menggantikan zeta. Wanita asal Timor tersebut kemungkinan besar mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata yang telah digantikannya tadi. Hal ini disebabkan karena dalam bahasa Dawan, bahasa asli wanita bersangkutan, tidak terdapat konsonan /dh/atau /z/. Namun, bagi penutur asli bahasa Bajawa sendiri, kalimat si wanita masih bisa dimengerti dengan baik.

Campur kode juga bisa terjadi pada penutur bahasa Bajawa yang berasal dari suku bangsa dengan kemiripan bahasa terdekat, misalnya suku bangsa Nage atau suku bangsa Keo. Kedua suku bangsa ini memiliki tradisi tutur tersendiri yang bagaimanapun juga berlainan dengan suku bangsa Ngadha. Salah satu perbedaan itu misalnya terlihat lewat akumulasi konsonan ganda dalam bahasa masing-masing. Dapat dipastikan bahwa bahasa Bajawa memuat lebih banyak konsonan ganda tersebut dibanding suku-suku bangsa tetangganya. Hal ini tentu berpengaruh langsung terhadap interaksi bahasa di antara suku-suku bangsa tersebut. Sebagai akibat, orang Nage atau Keo yang tidak memiliki kata bha’i (“tidak”) dalam bahasa daerahnya itu akhirnya menggantikan kata tersebut dengan kata mona yang artinya sama

(11)

karena alasan praktis memudahkan pengucapan. Kata mona tersebut kini dipakai berdampingan dengan kata bha’i dalam bahasa Bajawa untuk menegasi sesuatu.

2.2.4 Penilaian terhadap Fenomena Kontak Bahasa dan Konsekuensinya

Pada abad XIX, Wilhelm von Humboldt amat yakin bahwa ada ketergantungan antara pemikiran dan bahasa. Maksudnya, pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat sangat ditentukan oleh bahasa masyarakat itu sendiri. Apabila salah seorang dari anggota masyarakat ini ingin mengubah pandangan hidupnya, ia harus mempelajari dahulu satu bahasa lain. Teori ini didukung pula oleh hipotesis Sapir-Whorf tentang bahasa yang memengaruhi kebudayaan.20 Sekilas pandangan ini ada benarnya juga, terlebih jika suatu bahasa seperti

bahasa Bajawa yang khas dianggap sebagai pintu masuk berkenalan dengan suku bangsanya yang memiliki aneka kekayaan budaya. Maka demi memperluas wawasan berpikir, kesulitan macam apa pun dalam mempelajari bahasa lain bukanlah hal yang patut dicemaskan.

Akan tetapi teori yang lebih banyak diikuti orang ialah kebalikan dari hipotesis von Humboldt dan Sapir-Whorf di atas. Kebanyakan antropolog yakin bahwa kebudayaanlah yang memengaruhi bahasa.21 Berdasarkan paradigma ini, kita bisa menilai bahwa fenomena

interferensi dan campur kode dalam bahasa Bajawa jelas disebabkan oleh pertemuan bahasa Bajawa dengan kebudayaan lain (misalnya bahasa Indonesia atau bahasa daerah lainnya). Karena pengaruh perkembangan zaman, orang Ngadha masa kini semakin mudah terlibat kontak dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa yang lain; entah lewat hubungan perkawinan (baik perkawinan “ke dalam” maupun perkawinan “ke luar”), perpindahan penduduk, media komunikasi sosial, atau pun perkembangan pariwisata lokal. Dalam dinamika sosial yang jamak seperti ini, orang Ngadha tentunya akan selalu memiliki kemungkinan untuk dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan lain. Demikian pula orang-orang dari kebudayaan lain akan terintegrasi ke dalam lingkungan budaya Ngadha lalu menghasilkan aneka perpaduan sebagai kekayaan baru di antara budaya-budaya tersebut. Tanpa kebudayaan lain, bahasa Bajawa akan tetap menjadi suatu bahasa yang eksklusif bagi suku bangsa Ngadha saja.

Apakah hal ini lantas membahayakan originalitas dan kelestarian bahasa Bajawa sendiri? Jawaban atas pertanyaan ini ada pada tangan generasi penerus kebudayaan Ngadha. Di tengah arus globalisasi sekarang, peran bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari perlahan-lahan bergeser. Bahasa Bajawa asli tidak lagi digunakan secara meluas, tetapi terbatas dalam ritus-ritus adat saja atau dianggap bahasa kaum tua. Dalam percakapan sehari-20 A. Chaer, Psikolinguistik; Kajian Teoretik (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm. 51.

(12)

hari, bahasa Bajawa tidak lagi menjadi pilihan utama generasi muda. Mereka cenderung lebih akrab dengan bahasa-bahasa gaul atau prokem22. Model bahasa ini muncul dalam berbagai bentuk komunikasi yang selalu berhubungan dengan dunia kaum muda seperti dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa sinetron, bahasa SMS, bahasa di media-media sosial (facebook, twitter, BBM, dan seterusnya), hingga bahasa karya-karya sastra masa kini (seperti novel teenlit, cerpen, atau puisi).

Solusi etis yang dapat diperjuangkan ialah paradigma kembali kepada nilai-nilai budaya yang asli. Tanpa kembali kepada yang asli, generasi penerus bakal kehilangan identitas mereka yang sesungguhnya. Bahasa merupakan satu dari sekian banyak kekayaan budaya asli yang perlu didalami guna menemukan hakikat kebudayaan yang pelan-pelan tergerus zaman.

Sehubungan dengan ini, pandangan Paul Arndt dalam kajian antropologisnya patut diperhatikan. Ia menulis:

Suku bangsa Ngadha memiliki dalam dirinya sesuatu yang keras dan kasar, yang masif, dibandingkan dengan suku bangsa lain di Flores. Demikian ia berbeda dalam seluruh perilaku, dalam bahasanya dengan ungkapan-ungkapan yang keras, dalam korban persembahannya yang besar, dan dalam pesta-pesta persembahan seperti juga dalam doa-doa persembahan yang keras, dalam keseniannya, dalam tatanan masyarakatnya, dan hukum pidananya.23

Istilah “keras” atau “kasar” yang digunakan Arndt sama sekali jauh dari tendensi legitimasi terhadap praktik kekerasan dalam budaya Ngadha. Kedua istilah tersebut mewakili aspek originalitas yang membedakan suku bangsa Ngadha dengan suku bangsa lain. Originalitas ini pun tampak dalam banyak hal, khususnya dalam bahasa daerah. Peranan bahasa Bajawa amat sentral terutama dalam upacara-upacara adat yang dilestarikan oleh suku bangsa ini sampai sekarang.

Ungkapan-ungkapan kuno dalam bahasa Bajawa berupa pepatah berisi nasihat sering digaungkan kembali oleh tokoh-tokoh adat (yang jumlahnya semakin berkurang) pada kesempatan berbagai macam upacara adat. Pepatah-pepatah adat yang lahir dari kearifan lokal tersebut berfungsi mengungkapkan pesan-pesan kemanusiaan masa lampau yang cukup kontekstual hingga saat ini. Umumnya, pepatah-pepatah adat itu tersusun atas kata-kata yang sudah tidak digunakan lagi, sehingga untuk menterjemahkannya perlu “kepekaan terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai kemanusiaan”.

22 Bahasa “gaul” atau “prokem” adalah ragam bahasa para remaja atau kelompok masyarakat tertentu yang ditandai dengan penggunaan kosa kata baru dan berubah-ubah dengan maksud agar kelompok lain tidak memahami bahasa mereka. I Wayan Wisnawa, “Hegemoni Bahasa Gaul terhadap Bahasa Bali pada Syair-Syair Lagu Bali di Kota Denpasar”. Tesis. Denpasar: Universitas Udayana, 2015, mengutip A. Haryanta, Kamus Kebahasaan dan Kesusastraan, Surakarta: Aksara Sinergi Media, 2012.

(13)

Kita ambil contoh pepatah adat berikut ini: kolo setoko, aze setebu.24 Jika diterjemahkan secara langsung, pepatah ini tidak dapat dipahami. Akan tetapi dengan terbiasa untuk peka terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai kemanusiaan, pepatah ini dapat diartikan sebagai ajakan bagi kita agar “hidup rukun dalam kebersamaan”. Tugas untuk menemukan kekayaan tersembunyi ini tentu perlu mendapat perhatian serius generasi muda Ngadha. Jika ingin budaya Ngadha tetap eksis, generasi muda wajib mengetahui pesan-pesan moral para leluhurnya lewat partisipasi yang konsisten dalam setiap upacara adat. Dengan ini, kaum muda akan tergerak untuk semakin mencintai dan menjaga kelestarian kekayaan budayanya sendiri di tengah perkembangan zaman.

Sampai kapan pun juga, bahasa Bajawa akan senantiasa menggambarkan masyarakatnya yang khas karena mengalir dari kekayaan budaya yang khas pula. Bagi generasi penerus pandangan ini patut dipertimbangkan untuk menilai persoalan kontak bahasa dalam bahasa Bajawa secara tepat. Interferensi dan campur kode memang tak dapat dihindari sebagai akibat langsung dari perjumpaan dengan kebudayaan lain. Namun patut diperhatikan agar di tengah dinamika kebudayaan semacam fenomena kontak bahasa, kita tetap tidak kehilangan akar kebudayaan yang asli. Selama kebudayaan Ngada yang khas tersebut dipelihara, antara lain dengan melestarikan upacara Reba misalnya, bahasa Bajawa akan tetap eksis tanpa kehilangan keasliannya.

III. KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari tulisan ini terungkap dalam lima gagasan berikut

1. bentuk interferensi dan campur kode dalam bahasa Bajawa tampil dengan cara yang sangat khas dan hanya dapat kita temukan bila diandaikan bahwa bahasa Bajawa dan dialek Bajawa merupakan satu kesatuan;

2. kebiasaan masyarakat Ngada mencampuradukkan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari terjadi karena adanya kontak bahasa, berupa interferensi dan campur kode, dengan kebudayaan lain;

3. faktor yang memengaruhi kontak bahasa tersebut antara lain pertemuan antara kebudayaan Ngada dengan kebudayaan lain misalnya lewat hubungan perkawinan,

24 ”Kolo” merupakan bilahan bambu yang digunakan sebagai ukuran untuk mendirikan rumah adat

(14)

perpindahan penduduk, media komunikasi sosial, serta perkembangan pariwisata lokal;

4. bahasa Bajawa dapat tetap bertahan di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan originalitasnya, asalkan kebudayaan Ngadha yang khas dan kaya itu tetap dilestarikan. Ini merupakan tugas sekaligus tantangan bagi generasi muda Ngadha. Mereka perlu berusaha menemukan pesan-pesan moral leluhurnya di balik setiap upacara adat yang sarat makna.

DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU

Arndt, P. Masyarakat Ngadha: Keluarga, Tatanan Sosial, Pekerjaan, dan Hukum Adat. Ende: Penerbit Nusa Indah, 2009.

Chaer, A. Psikolinguistik; Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009. Robins, R. H. Linguistik Umum; Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Verhaar, J. W. M. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006.

MANUSKRIP

Muda, H. Kepercayaan Orang Ngada akan Kehidupan sesudah Kematian menurut P. Paulus Arndt, SVD. Praskripsi. Maumere: STFK Ledalero, 1972. hlm. 6-9, mengutip P. Arndt, “Gesellschaftliche Verhaltnisse der Ngada”. Studia Instituti Anthropos, vol. 8 (1954). p. 4. Orong, Y. Linguistik Umum. (ms). Maumere: STFK Ledalero, 2014.

Zakarias Kaju, “Pesta Reba Masyarakat Ngada dalam Perspektif Iman Katolik”. Praskripsi. Maumere: STFK Ledalero, 1980. hlm. 2.

TESIS

(15)

INTERNET

Referensi

Dokumen terkait

dalam penelitian yang dilakukan oleh Pusat Bahasa (2008), antara bahasa Paser.. dan Lawangan memiliki persentase perbedaan sebesar 87,75%

Dari persentase kata kerabat yang menunjukan bahwa bahasa Sasak dan bahasa Sumbawa sebesar 53%, bahasa Sasak dan bahasa Bima sebesar 57%, serta bahasa Sumbawa dan bahasa

Dalam implikatur lirik lagu yang dicekal atau dibatasi keberadaannya oleh KPI, fungsi representasi menjadi fungsi bahasa yang dominan muncul, disusul oleh fungsi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekerabatan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Minang dialek Bukittinggi dan waktu pisah antara bahasa Indonesia dengan

materi kebahasaan untuk kemudian ditransformasikan dalam pembelajaran bahasa asing, salah satunya bahasa arab. hal tersebut telah tampak dengan adanya pelangi

Selain itu dalam bahasa BJR tidak ditemukan fonem glottal /q/ tetapi fonem tersebut ditemukan dalam bahasa PSR dan LWG, dan juga bahasa BJR ditemui fonem

Kata dasar bahasa Arab ditandai dengan 3 (tiga) konsonan, seperti contoh pada kata بدا diserap menjadi /adab/ dalam bahasa Indonesia dan ندب diserap dalam bahasa Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data kekerabatan Bahasa Angkola BAn dengan Bahasa Aceh BAc dalam daftar 200 kata Swadesh, ditemukan hasil sebanyak 37 kata yang berkerabat 18.5%, baik