OLEH :
ERLINA MAGHFIROH
3613100022
KONSEP PENGEMBANGAN KOTA
PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2015
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kota sebagai perwujudan manusia senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Suatu Kota berawal dari komunitas kecil kemudian berkembang menjadi suatu komunitas besar. Perkembangan tersebut dipengaruhi karena adanya faktor manusia, kegiatan manusia serta adanya pergerakan manusia menyebabkan perkembangan perkotaan semakin pesat.
Metropolitan sebagai wujud perkembangan yang alamiah dari perkotaan yang berkembang pesat. Metropolitan muncul akibat pertumbuhan jumlah penduduk di perkotaan yang sangat pesat menyebabkan kawasan ini cenderung padat dengan berbagai aktivitas manusianya. sebagai contoh salah satu Kota Metropolitan yang terdapat di Indonesia adalah Jabodetabek. Munculnya Jabodetabek dikarenakan adanya keterkaitan antar wilayah yang membuat adanya suatu hubungan sehingga Kota atau Kabupaten yang berada di dalamnya terus berkembang. Metropolitan Jabodetabek direncakan memiliki struktur polisentris (Dirjen Penataan Ruang, 2006) akan tetapi pada kenyataannya wilayah metropolitan Jabodetabek masih terpusat sehingga menyebabkan kejenuhan pada Kota inti yaitu jakarta.
Untuk mengurangi kejenuhan tersebut dikembangkan sebuah Kota Baru dalam rangka dekonsentrasi perkotaan. Pembangunan Kota Baru dilakukan pada kawasan pinggiran yaitu daerah pinggiran dalam (inner zone) ataupun pinggiran luar (outer zone). Pengembangan Kota Baru awalnya dilakukan oleh pemerintah yang menjadikan Kota Baru menjadi bagian Kota administratif akan tetapi seiring berkembnagnya waktu pihak developer swasta turut andil dalam mengembangkan Kota Baru guna untuk menangkap pasar akan kebutuhan perumahan.
Pembangunan Kota Baru yang dilakukan oleh pihak developer swasta belum memperlihatkan adanya upaya dekonsentrasi perkotaan. Hal ini disebabkan developer swasta hanya berupaya menangkap keinginan pasar atau lebih dikenal dengan market oriented atau market driven. Kondisi ini bertolak belakang dengan konsep pengembangan Kota Baru yang berupaya mengurangi tingkat kepadatan pusat Kota (Goleny, 1976). Sehingga tujuan semula dari dibangunnya Kota Baru tidak tercapai sepenuhnya. Dengan kata lain, Kota Baru yang dikembangkan oleh pihak developer swasta hanya sebatas mengalihkan fungsi perumahan dari Kota inti ke kawasan pinggiran.
Bagaimana peran Kota Baru kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek dalam mendukung upaya dekonsentrasi perkotaan?
Tujuan
Mengidentifikasi peran Kota Baru kawasan pinggiran di metropolitan Jabodetabek dengan cara:
1. Mengidentifikasi pola persebaran Kota Baru di wilayah Jabodetabek 2. Mengidentifikasi karakteristik Kota Baru di wilayah Jabodetabek 3. Mengidentifikasi kemandirian Kota Baru di wilayah Jabodetabek
Manfaat
Dapat mengetahui peran Kota Baru dalam upaya dekonsentrasi perkotaan
Metodologi
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Kota Baru
Menurut (Gideon Golany, 1978) secara umum Kota Baru diartikan sebagai berikut :
- Kota Baru adalah Kota yang direncanakan, dibangun dan dikembangkan pada saat suatu atau beberapa Kota lainnya yang direncanakan dan dibangun sebelumnya telah tumbuh dan berkembang.
- Kota lengkap yang ditentukan, direncanakan, dibangun dan dikembangkan di wilayah yang belum terdapat konsentrasi penduduk
- Kota lengkap yang direncankan dan dibangun dalam rangka meningkatkan kemampuan dan fungsi permukiman atau Kota kecil yang telah ada di sekitar Kota induk untuk membantu pengembangan wilayah sekitar Kota atau mengurangi beban Kota induk
- Kota yang cukup mampu untuk berfungsi sebagai Kota yang mandiri, dalam arti dapat memenuhi kebutuhan pelayanan serta kegiatan usahanya sendiri atau sebagian besar dari penduduknya
- Kota Baru juga dapat berupa suatu lingkungan permukiman berskala besar yang direncanakan dan dibangun untuk mengatasi masalah kekurangan perumahan di Kota besar. Secara fungsional, Kota Baru demikian masih banyak tergantung pada peran dan fungsi Kota induknya. Dari segi jarak, lokasinya berdekatan dengan induknya. Kota Baru ini dikatakan juga sebagai Kota satelit dari Kota induk tersebut.
Kategorisasi Kota Baru
- Kota Baru yang direncanakan akan dikembangkan dalam kaitan dengan Kota yang telah tumbuh dan berkembang. Umumnya jenis Kota Baru demikian dimaksudkan sebagai salah satu upaya dalam membantu memecahkan masalah di Kota yang telah ada. Kota Baru demikian dimaksudkan, dimisalkan, untuk memecahkan masalah kekurangan perumahan atau dalam rangka perluasan Kota. Kota Baru demikian dapat dikatakan sebagai supporting new town atau Kota Baru penunjang, karena berperan sebagai penunjang eksistensi Kota yang telah ada serta berkembang. Dengan demikian batasan Kota Baru penunjang adalah sebagai berikut :
1. Permukiman lengkap berskala besar di pinggiran atau di luar Kota induk (dormitory town) yang disebut Kota satelit
2. Kota kecil di sekeliling Kota induk yang ditingkatkan dan dikembangkan
- Kota Baru yang direncanakan dan dikembangkan tersendiri, meski fungsinya berkaitan dengan Kota – Kota yang telah tumbuh dan berkembang, tetapi Kota – Kota ini dikembangkan dengan fungsi khusus yang berkaitan dengan potensi tertentu. Kota demikian dapat dibangun sama sekali Baru di atas wilayah perawan atau dari suatu permukiman atau Kota kecil kemudian dikembangkan sehingga memiliki kelengkapan sebagai Kota. Kota Baru demikian dikatakan sebagai independent new town atau self sufficient new town atau Kota Baru mandiri. Jarak fisik Kota Baru ini lebih besar 80 kilometer yang termasuk Kota Baru mandiri ini adalah pusat pemerintahan, Kota industri, Kota pertambangan, Kota usaha kehutanan, Kota instalasi ketenagaan, Kota instalasi militer, Kota pusat rekreasi, dan permukiman khusus berskala besar.
Definisi Urban deconcentration
ANALISIS
Salah satu konsep dekonsentrasi perkotaan yaitu pengembangan Kota Baru. Dengan adanya Kota Baru diharapkan Kota pusat tidak terlalu padat, baik secara penduduk maupun secara kegiatan perkotaan. Studi kasus pada analisis berikut ini adalah Kota Baru di Kawasan Jabodetabek. Kota Baru di kawasan Jabodetabek ini dikembangkan oleh developer swasta yang berlokasi umumnya di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek karena pihak developer swasta ingin mendapatkan profit yang besar sehingga pembangunan Kota Baru dilakukan di kawasan pinggiran karena disamping harga lahan yang relatif murah.
Kota Baru di Metropolitan Jabodetabek cenderung memliki pola berlokasi pada daerah yang memliki akses langsung dengan Kota pusat, yaitu jalan tol. Selain itu, Kota Baru memiliki pola semakin jauh dari Kota inti maka akan semakin besar pula luas dari Kota Baru tersebut seperti Kota Baru kawasan pinggiran luar (outer zone) memiliki luasan wilayah yang lebih luas dan besar dibandingkan Kota Baru pinggiran dalam (inner zone).
Dalam mengetahui output untuk peran Kota Baru sebagai dekonsentrasi perkotaan hal yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Karakteristik Kota Baru
Identifikasi karakteristik Kota Baru yaitu dilihat secara internal maupun eksternal karena hal ini dapat memberikan gambaran akan karakteristik Kota Baru secara lengkap dan untuk mengetahui lebih dalam akan kondisi Kota Baru yang terdapat di metropolitan Jabodetabek secara fisik.
Analisis yang dilakukan yaitu mengangkat sebuah studi kasus Kota Baru di kawasan pinggiran luar (outer zone) Metropolitan Jabodetabek dengan daerah Bekasi. Alasan pemilihan Bekasi adalah karena adanya pengembangan kawasan industri selain Kota Baru sehingga Kota Baru yang terdapat di Kabupaten Bekasi memiliki sektor yang berpotensi sebagai kegiatan ekonomi utama. Adapun Kota Baru di KabupatenBekasi adalah sebagai berikut :
Berdasarkan hasil peninjauan secara internal terhadap Kota Baru yang terdapat di Kabupaten Bekasi, dapat disimpulkan bahwa dari tiga Kota Baru, satu Kota Baru memiliki pola penggunaan lahan dengan dominasi kawasan perumahan dan fasilitas penunjang. Ketiga Kota Baru juga memiliki master plan yang menggambarkan rencana pengembangan Kota Baru.
Sedangkan berdasar tinjauan eksternal lebih ditekankan kepada lokasi secara geografis kedudukan Kota Baru dalam rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Bekasi. Ketiga Kota Baru yang berada di Kabupaten Bekasi terhubung dengan jalan nasional dan jalan Kabupaten. Adanya akses langsung terhadap jalan tol menjadi salah satu alasan berkembangnya ketiga Kota Baru di jalan tol menandakan bahwa ketiga Kota Baru memiliki kemudahan akses trasnportasi (ditunjukkan dengan peta berikut ini)
Peta lokasi Kota Baru di Kabupaten Bekasi yang berdekatan dengan tol
Cikarang Pusat sebagai Pusat Kegiatan Nasional sekaligus berfungsi sebagai ibuKota Kabupaten Bekasi dan pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi.
2. Identifikasi mengenai tingakt kemandirian Tingkat kemandirian dapat dilihat dari : (1) posisi Kota Baru dalam sistem perkotaan (2) kegiatan ekonomi dari Kota Baru.
Posisi Kota Baru mempengaruhi pengembangan Kota Baru yang berdampak pada perkembangan kawasan perkotaan dikarenakan penambahan fasilitas perkotaan pada Kota Baru. Dapat dilihat dalam peta Kota Baru jababeka dan Kota lippo cikarang merupakan bagian dari salah satu kawasan perkotaan hirarki pertama sedangkan deltamas masuk kategori ketiga sehingga menyebabkan peran masing – masing berbeda.
Peta posisi Kota Baru dalam sistem perkotaan
Diagram perbandingan jumlah Industri di Jakarta dan Kota Baru di Kabupaten Bekasi
Sebuah Kota Baru juga dapat dikatakan mandiri jika mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduknya. Salah satu jenis lapangan pekerjaan yang tersedia adalah jumlah lapangan kerja yang tercipta akibat adanya pengembangan sektor industri di Kota Baru. Kota Jababeka merupakan Kota yang memiliki perbandingan jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih banyak dari kebutuhan akan lapangan kerja. Kota Lippo Cikarang belum mampu menjadi kegiatan perekonomian utama.
Diagram Perbandingan Ketersediaan Lapangan Kerja dalam Sektor Industri di Kota Baru Kabupaten Bekasi
Sehingga pola persebaran Kota Baru, karakteristik Kota Baru dan tigkat kemandirian Kota Baru dapat disajikan dalam tabel berikut ini secara ringkas yang nantinya dapat mengetahui peran Kota Baru dalam dekonsentrasi perkotaan.
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa
- Kota Baru dapat dijadikan sebagai pusat pengembangan Industri. Semakin pesatnya perkembangan industri pada Kota Baru ini menyebabkan sektor industri semakin berkembang di kawasan pinggiran sehingga menarik para pekerja di Kota inti, Jakarta beralih pada kawasan industri Kota Baru sehingga dapat mengurangi kejenuhan pada Kota inti jakarta
- Kota Baru dapat dijadikan sebagai pusat perumahna dan fasilitas dalam skala perkotaan. Kota Baru seperti ini cenderung sebagai Kota satelit dan hanya sebatas tempat tinggal bagi para komuter
- Kota Baru dapat dijadikan sebagai pusat pengembangan industri dan pusat pemerintahan lokal. Kota Baru dengan peran seperti ini selain mengembangkan sektor industri juga sebagai pusat pemerintahan dari Kota atau Kabupaten. Dengan berperan sebagai pusat pemerintahan, diharapkan Kota Baru ini dapat berkembang menjadi pusat kegiatan wilayah.
LESSON LEARNED
DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Nurrahman Putra.”Peran Kota Baru dalam Upaya Dekonsentrasi Perkotaan di Wilayah Metropolitan Jabodetabek”.Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V1N1 ITB.
Budiharjo, Eko.2005.”Kota Berkelanjutan”.Bandung:P.T Alumni Bandung.