• Tidak ada hasil yang ditemukan

Revolusi Biru Melalui Pemberdayaan Masya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Revolusi Biru Melalui Pemberdayaan Masya"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULAN

1.1Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Dengan garis pantai sepanjang 81 kilometer yang melingkupi 17.508 pulau, patut jika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP, 2010) menyusun visi “Indonesia Menjadi Penghasil Produk

Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015” dan misi Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan”.

Sayangnya, hingga saat ini aset alam tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini bisa dilihat dari data KKP (2010) yang menunjukkan share

sektor perikanan hanya 2,2 persen PDB. Angka yang sangat kecil jika melihat potensi laut yang dimiliki Indonesia (Nugroho dan Rokhim, 2012). Selain share

yang sangat kecil terhadap PDB, umumnya kondisi ekonomi masyarakat di wilayah pesisir juga masih berada dalam garis kemiskinan, bahkan menempati rangking tertinggi dalam struktur penduduk miskindi Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2010 terdapat sekitar 7,87 juta masyarakat pesisir miskin dan 2,2 juta jiwa penduduk pesisir sangat miskin yang tersebar tersebar di 10.640 desa. Badan Pusat Statitisk (BPS) menegaskan bahwa jumlah tersebut lebih dari 25% dari total penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan.

Nugroho dan Rokhim (2012) menjelaskan, bahwa umumnya ketimpangan ekonomi yang terjadi di kawasan pesisir disebabkan mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan yang sangat tergantung pada musim. Pada musim penangkapan mereka sangat sibut melaut, tetapi pada musim peceklik kebanyakan mereka terpaksa menganggur karena kegiatan melaut yang berkurang.

Kampung Nelayan Kenjeran merupakan salah satu kawasan pesisir di

(2)

hingga lambung ikan. Sentra produksi kerupuk olahan hasil laut ini terletak di Pesisir Pantai Kenjeran, khususnya di kelurahan Sukolilo. Sedangkan pemasarannya melalui kios-kios sepanjang jalan menuju Pantai Kenjeran, salah satu tempat wisata di Surabaya.

Nilai ekonomis hasil laut yang telah diolah menjadi kerupuk jauh lebih tinggi dibandingkan hasil laut yang langsung dijual mentahnya. Sebagai contoh, teripang yang masih basah (mentah) harganya hanya Rp1.500 per kilogram, sedangkan setelah menjadi kerupuk harga jualnya saat ini mencapai Rp160.000 per kilogram. Pedagang keupuk hasil laut tersebut bisa meraih omset Rp. 400.000 hingga Rp. 1.000.000 per hari.Produk ini juga telah merambah pasar ekspor, yaitu ke Dubai dan Korea. (http://www.surabayapost.co.id, 2013).

Usaha pengolahan kerupuk hasil laut ini sangat potensial dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir. Kegiatan produksinya menggunakan potensi SDA dan SDM setempat, produk memiliki

value added yang tinggi, memiliki prospek pasar domestik dan ekspor yang sangat bagus dan dapat memicu pertumubuhan ekonomi di berbagai sektor terkait,

khususnya di daerah pesisir. Sayangnya, usaha ini masih dalam skala kecil karena proses produksinya yang relatif rumit dan lama, dan manajemen pemasaranya yang masih sangat sederhana.

Melihat potensi dan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan analisis SWOT usaha kerupuk olahan hasil laut di Kenjeran untuk menemukan strategi yang tepat bagi pengembangan usaha tersebut guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal, khususnya bagi masyarakat pesisir.

1.2Rumusan Masalah

1. Sektor usaha apa saja yang menjadi sektor basis di Surabaya?

2. Bagaimana gambaran umum dan analsisi SWOT usaha pengolahan kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran, Surabaya?

3. Bagaimana grand strategy yang tepat untuk mengembangkan usaha pengolahan kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran Surabaya sebagai

(3)

1.3Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui sektor usaha yang menjadi sektor basis di Surabaya. 2. Untuk mengetahui gambaran umum dan SWOT usaha pengolahan

kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran, Surabaya

4. Untuk mengetahui grand strategy yang tepat untuk mengembangkan usaha pengolahan kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran Surabaya sebagai

leading sector pemberdayaan masyarakat pesisir di Indonesia? 1.4Manfaat Penulisan

1. Manfaat Bagi Penulis

Dapat melatih dan meningkatkan kemampuan penulis dalam membuat karya tulis serta memperluas wawasan keilmuan khususnya dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal masyarakat pesisir.

2. Manfaat Bagi Pembaca

Dapat menambah wawasan keilmuan dan sebagai referensi dalam

meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal masyarakat pesisir. 3. Manfaat Bagi Pemerintah

(4)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Masyarakat Pesisir dan Revolusi Biru

Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama mendiami suatu wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan suberdaya pesisir (Satria, 2004 dalam Satria, 2009). Sebagai masyarakat yang hidup di dekat laut, umumnya masyarakat pesisir memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan selain

pembudidaya ikan, pengolah ikan dan pedagang ikan.

Karakteristik utama masyarakat nelayan, yaitu ketergantungan mereka pada musim. Pada musim penangkapan mereka sangat sibut melaut, tetapi pada musim peceklik kebanyakan mereka terpaksa menganggur karena kegiatan melaut yang berkurang. Hal ini menyebabkan, kondisi perekonomian mereka sangat rentan. Biasanya pada musim paceklik, mereka seringkali terpaksa meminjam uang kepada para pedagang pengumpul (tauke) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya, mereka harus menjual hasil tangkapannya kepada para pedagang pengumpul dengan harga yang sangat rendah. Selain itu keterbatasan fasilitas pengolahan dan pengawetan membuat mereka harus segera menjual hasil tangkapannya meskipun dengan harga yang rendah.

Karakteristik lain dari masyarakat pesisir adalah aktivitas kaum wanita dan dan anak-anak yang ikut mencari nafkah. Selain bekerja sebagai pedagang ikan, umumnya kaum wanita akan mengolah ikan dalam skala kecil untuk dijual sendiri maupun sebagai buruh di perusahaan pengolahan ikan. Sedangkan anak-anak nelayan seringkali juga membantu dalam kegiatan melaut, sehingga banyak diantara mereka yang tidak bersekolah (Nugroho dan Rokhim, 2012: 283-284).

Data BPS tahun 2002 menyebutkan bahwa sebesar 32, 14 persen dari 16,420.000 jiwa masyarakat pesisir yang hidup di 8.090 desa masih berada di

(5)

Tabel 2.1 Kondisi Umum Masyarakat Pesisir di Indonesia, 2002 No. Kondisi Masyarakat Pesisir Jumlah

1 Desa Pesisir 8.090 desa

3 Prosentase yang hidup di bawah garis

kemiskinan 5.254.400 jiwa

Sumber: DKP (2007) dalam Satria (2009)

Hal senada juga disampaikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bahwa pada tahun 2010 terdapat sekitar 7,87 juta masyarakat pesisir miskin dan 2,2 juta jiwa penduduk pesisir sangat miskin yang tersebar tersebar di 10.640 desa. Badan Pusat Statitisk (BPS) menegaskan bahwajumlah tersebut lebih dari 25% dari total penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan.

Melihat kondisi masyarakat pesisir dan potensi laut yang kontrakdiktif tersebut, maka KKP sebagai kementerian yang bertanggung jawab dalam pemberdayaan perikanan dan kelautan menggagas Revolusi Biru. Revolusi Biru adalah perubahan cara berpikir dari daratan ke maritime dengan konsep ekonomi pembangunan berkelanjutan untuk meningkatkan produksi kelautan. Ada empat pilar yang melandasi revolusi biru, yaitu: (1) Perubahan cara berpikir dan orientasi

pembangunan dari daratan ke maritime, (2) Pembangunan berkelanjutan, (3) Peningkatan produksi kelautan dan perikanan, dan (4) Peningkatan pendapatan rakyat yang adil, merata, dan pantas.

Revolusi Biru diimplemetasikan melalui sistem pembangunan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan menggunakan konsep

Minapolitan yang bisa diartikan “Kota Perikanan”. Umumnya kegiatan ekonomi

(6)

dipercepat melalui pendekatan dan sistem menejemen kawasan cepat tumbuh seperti sebuah kota (Nugroho dan Rokhim, 2012: 216 dan 284-285).

2.1 Teori Basis Ekonomi (Location Quention)

Teori basis ekspor murni dikembangkan pertmana kali oleh Tiebot. Teori ini membagi kegiatan produksi/ jenis pekerjaan yang terdapat di dala satu wilayah atas sektor basis dan sektor non basis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat eksogenous berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Sedangkan kegiatan non basis adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah tersebut. Artimya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara keseluruhan (Tarigan, 2004 : 53)

Analisis basis ekonomi adalah berkenan dengan identifikasi pendapatan basis (Richardson, 1977 : 14). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan,

yang selanjutnya menambah permintaan terhadap barang dan jasa di dalam wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan volume kegiatan non basis. Sebaliknya berkurangnya aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu wilayah, sehingga akan menyebabkan turunya permintaan produk dari aktivitas non basis.

(7)

Location Quotient (kuosien lokasi) adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/ industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/ industri tersebut secara nasional. Ada banyak variable yang bisa diperbandingkan, tetapi yang umum adalah nilai tambah (tingkat pendapatan) dan jumlah lapangan kerja, berikut ini digunakan adalah nilai tambah (tingkat pendapatan). (Tarigan 2005 : 30-42) dengan rumus sebagai berikut :

LQ = vi/vt : Vi/Vt Keterangan :

vi = pendapatan sektor tertentu pada suatu daerah. vt = total pendapatan daerah tersebut.

Vi = pendapatan sektor tertentu secara regional atau nasional Vt = total pendapatan regional atau nasional.

2.3 Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah suatu instrument strategi perencanaan dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan (Strenght) dan kelemahan (Weakness) internal, serta kesempatan (Opportunitiy) dan ancaman (Threat) eksternal (Start

dan Ingie dalam New Weave (2002:170) dan Schuler (1986) Empowerment and the Law).

Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan strength

dan opportunities, namun secara bersamaan dapat meminimalkan weaknesses dan

threats. Hasil dari analisis SWOT digunakan untuk merancang empat strategi, yaitu: (1) Strategi S-O, strategi yang menggunakan strength untuk memanfaatkan

opportunity, (2) Strategi W-O, strategi yang menanggulangi weakness dengan memanfaatkan opportunity, (3) Strategi S-T, strategi yang menggunakan strength

untuk mengatasi threat, dan (4) Strategi W-T, strategi yang memperkecil

weakness dan menghindari threat (Rangkuti, 2001 dalam Mangiwa).

2.4 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah

(8)

daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya swasta secara bertanggungjawab (Arsyad, 1999: 127). Dengan adanya pembangunan ekonomi tersebut diharapkan output atau kekayaan ekonomi suatu daerah dapat bertambah serta menyerap pengangguran (Irawan dan Suparmoko, 2002).

Menurut Sumodiningrat (2012) terdapat tiga tahapan dalam pembangunan wilayah, yakni perkembangan industri, efisiensi industri dan keunggulan wilayah: 1. Industri berkembang untuk memenuhi permintaan dari luar wilayah yang

dipandu oleh teori export base. Keberhasilan tahapan ini ditentukan oleh peran pemerintah dalam berbagai insentif antara lain pajak, infrastruktur, kawasan industri dan fasilitas lainnya.

2. Efisiensi industri dimana dalam tahap ini industri kecil melaksanakan konsolidasi untuk mengefiseinsikan sistem produksi dan memperbaikai skala ekonomi. Pemerintah dalam hal ini memfasilitasi dengan berbagai bentuk

deregulasi agar terbentuk lingkungan bisnis yang kompetitif.

3. Keunggulan wilayah yang ditandai dengan kekuatan internal yang

menghasilkan nilai tambah yang signifikan dalam pasar global. Ekonomi wilayah tidak lagi diperankan oleh usaha besar tetapi oleh usaha kecil dan menengah yang lincah dan efisien.

(9)

sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor-sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. menggabungkan kebijakan jalur cepat dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.

2.5 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Industri merupakan kegiatan ekonomi yang berupa pengolahan bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi, dan barang jadi menjadi barang dengan nilai yang nilainya lebih tinggi, atau menciptakan nilai tambah dari bahan yang ada menjadi barang baru dengan tujuan memperoleh keuntungan. Industri dapat dibedakan menjadi industri ekstraktif yang mengolah langsung dari bahan alam, industri non-esktraktif dan industri jasa. Industri pengolahan ikan termasuk dalan industri ekstraktif, yaitu pengolahan langsung dari bahan alam. Berdasarkan skala usahanya, ada industri skala rumah tangga (mikro), kecil, menengah dan besar.

Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pengertian UMKM dibagi menjadi tiga macam:

1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan

usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tersebut.

2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tersebut.

(10)

Sumber: Kementrian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah RI, 2013

Gambar 2.1 Kriteria Klasifikasi UMKM menurut Asset dan Omzet

Tabel 2.2

Permasalahan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

No. Faktor Internal Faktor Eksternal

1. Kurangnya permodalan dan terbatasnya akses pembiayaan

Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif

2. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Terbatasnya sarana dan prasarana

3. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar

Implikasi otonomi daerah

4. Mentalitas pengusaha Usaha Mikro Kecil dan menengah

Implikasi perdagangan bebas

5. Kurangnya transparasi Terbatasnya akses

pasar dan informasi

(11)

BAB 3

METODE PENULISAN

3.1Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang kami gunakan diringkas dalam

gambar 3.1.

Gambar 3.1 Skema Metode Pengumpulan Data 3.2.TeknikPengolahan Data

Gambar 3.2 Skema Teknik Pengolahan Data

Input : Data yang dikumpulkanmeliputi data sekunder yang berasal dari jurnalpenelitian dan hasil survei baik cetak maupun elektronik (internet), literatur buku maupun dari situs-situskoran online.

input proses output

Analisis data sekunder

Pengamatan lapangan

Profil Industri Kerupuk di Kenjeran

Rekomendasi Kebijakan

Analisis Deskriptif

Analisis SWOT

(12)

Proses : menganalisis data yang terkumpul yang berkaitandenganpermasalahan yang diangkatdalamkaryatulis.

Output : penyajian data berupa makalah karyatulis 3.3. TeknikAnalisis Data

Analisis data yang dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Hal ini dilakukan karena kami ingin berusaha mengerti dan memahami secara komprehensif mengenaisektor di Surabaya yang termasuk sektor basis, menganalisis sektor basis potensial yang dapat dikembangkan di Surabaya khususnya berbasis UMKM dan melakukan analisis SWOT untuk menentukan

(13)

BAB 4

HASIL ANANLISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Sektor Basis Dan Non Basis Di Surabaya

Dalam merencanakan pembangunan ekonomi di suatu wilayah termasuk Surabaya, perlu mengetahui sektor ataupun komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Perkembangan sektor basis tersebut akan mendorong sektor

lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Untuk menganalisisnya kami menggunakan Location Quention. Adapun hasil

perhitungannnya kami sajikan dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan LQ Kota Surabaya

(14)

Dari tabel diatas, bisa kita klasifikasikan mana yang termasuk sektor basis atau sektor non basis di Kota Surabaya. Sebagaimana telah dijelaskan pada Bab 2.1, sektor basis merupakan sektor yang mampu mencukupi kebutuhan domestik di kabupatennya (LQ=1) atau bahkan mampu mengekspor hasilnya ke luar kabupatennya (LQ>1). Adapun sektor non-basis merupakan sektor yang belum mampu memenuhi kebutuhan domestik di kabupaten tersebut (LQ<1) sehingga butuh impor dari daerah lain. Apakah sektor tersebut basis (B) atau non-basis (NB) kami sajikan secara ringkas dalam tabel 4.2.

Tabel 4.2 Penentuan Sektor Basis dan Non-Basis di Kota Surabaya

No Sektor 2007 2008 2009 2010 sektor basis adalah sektor industri pengolahan; listrik, gas, air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sedangkan sektor non basis meliputi sektor

(15)

pada tahun 2007 hingga 2008 sektor tersebut menjadi sektor basis tetapi pada tahun selanjutnya, yaitu tahun 2009 hingga 2010 menjadi sektor non basis.

Berdasarkan hasil penentuan sektor basis dan non basis tersebut diatas, wajar jika sektor industri pengolahan; listrik, gas, air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor basis di Kota Surabaya mengingat kota ini merupakan kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Mayoritas penduduk Surabaya menggantungkan hidup mereka pada keenam sektor tersebut. Sedangkan perubahan yang terjadi pada industri pengolahan dimungkinkan mulai beralihnya pelaku usaha dalam industri pengolahan ke sektor lain yang dinilai lebih prospektif seperti sektor listrik, gas, air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Demikian juga dengan sektor pertanian dan jasa yang menjadi sektor non basis, hal ini sangat wajar karena masyarakat Surabaya bukanlah masyarakat

agraris, dan sektor jasa yang dilakukan oleh masyarakat umumnya adalah sektor jasa perusahaan.

Melihat hasil perhitungan LQ dan analisis di atas, meskipun industri pengolahan mengalami perubahan dari sektor basis menjadi sektor non basis namun bukan berarti industri pengolahan tidak patut dikembangkan, justru dengan pernah menjadi sektor basis maka industri pengolahan di Surabaya sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan.

4.2Gambaran Umum dan Analisis SWOT Usaha Pengolahan Kerupuk Hasil Laut di Pesisir Kenjeran

(16)

penduduk perempuan sejumlah 1.342.702 jiwa, dengan tingkat kepadatan 8.277 jiwa / km2.

Secara ekonomi, sampai saat ini pertumbuhan ekonomi Surabaya selalu di atas Provinsi Jawa Timur dan pertumbuhan ekonomi bahkan Nasional. Sektor riil berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi dari Surabaya pada tahun 2009 untuk menghadapi krisis ekonomi global. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian tahun 2008, ketika ekonomi kota tumbuh di atas 6%, belum lagi posisinya sebagai etalase komersial di Indonesia Timur. Pada tahun 2009, kota ini dianugerahi sebagai biaya efektivitas terbaik kota di antara 133 kota masa depan Asia oleh Majalah Financial Times.

Salah kelurahan di Surabaya adalah Sukolilo yang memiliki letak berdekatan dengan Pantai Kenjeran, satu-satunya lokasi wisata bahari di Surabaya. Salah satu kelurahan Kecamatan Bulak ini memiliki wilayah seluas 0,9 km2 dengan jumlah penduduk 4.916 jiwa. Angkatan kerja Kelurahan Sukolilo sebagian

besar adalah tamatan SD/sederajat. Penduduk Kelurahan Sukolilo yang berpendidikan tamat SLTA hanya tercatat sejumlah 599 Jiwa lebih sedikit

dibandingkan jumlah penduduk lulusan SLTP yakni 691 jiwa, sedangkan jumlah penduduk tamatan S1 tercatat hanya 31 jiwa. Kualitas SDM yang kurang baik ini menjadi salah satu faktor utama penyebab kondisi ekonomi masyarakatnya rata-rata menengah ke bawah. (Laporan Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Surabaya 2013. 2013)

(17)

Proses produksi usaha kerupuk ini kebanyakan masih dilakukan secara individual dan konvensional. Biasanya para pengolah kerupuk ini mengerjakan produksinya sendiri di rumah masing-masing, tapi ada sebagian yang sudah mampu mempekerjakan karyawan untuk membantu proses produksi. Peralatan produksi yang digunakan masih sangat sederhana dan seadanya, seperti tempat penjemuran dari bambu dan sebagainya. Selain itu proses penjemuran bahan baku juga masih menggunakan panas matahari sehingga sangat tergantung pada kondisi cuaca. Hal ini menyebabkan proses produksi relatif rumit sehingga memakan waktu yang lama. Pengemasannya pun masih sangat sederhana dan belum memiliki merek. Selain itu, seringkali pasokan bahan baku yang hanya tergantung pada hasil tangkap nelayan setempat belum memenuhi jumlah yang dibutuhkan untuk produksi, sehingga usaha ini masih dalam skala kecil.

Proses pemasaran dan distribusi produk dilakukan melalui kios-kios sepanjang jalan di Kelurahan Kenjeran dan komplek wisata Pantai kenjeran.

Sebagian pedagang juga merangkap sebagai produsen, dan sebagian lain adalah pengecer. Untuk mengembangkan usaha perikanan, pemerintah kota Surabaya

telah membangun Sentra Ikan Bulak (SIB) yang disedikan khusus sebagai pusat berbelanja oleh-oleh aneka produk olahan laut. Bangunan yang terletak di Jl. Bulak Cumpat No. 1 Surabaya ini menyediakan 212 kios yang menjual aneka produk olahan laut termasuk kerupuk. Posisinya yang berhadapan langsung dengan laut sehingga pengunjung bisa lebih nyaman berbelanja sambil menikmati pemandangan laut yang menawan. Sayangnya, kebanyakan para pedagang kerupuk lebih suka menjajakan jualannya sendiri langsung kepada wisatawan di Pantai Kenjeran. Hal ini mungkin karena pengunjung Pantai Kenjeran lebih ramai daripada pengunjung SIB.

Walaupun usaha pengolahan kerupuk hasil laut tersebut masih dalam skala kecil namun produk ini sudah merambah pasar ekspor di Dubai dan Korea. Sayangnya, produk ini justru belum terlalu dikenal oleh masyarakat domestik sehingga perkembangannya sangat lambat.

(18)

laut di Kenjeran baik faktor internal maupun eksternal. Aspek internal usaha pengolahan memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut: (1) Produk bersifat khas, yaitu cita rasa olahan hasil laut; (2) Bahan baku berupa SDA lokal yang mudah didapatkan; (3) Tenaga kerja berasal dari penduduk setempat dengan jumlah yang memadai; (4) Proses pengolahan menggunakan peralatan yang sederhana sehingga tidak membutuhkan modal yang besar; (5) Produk memiliki

value added yang tinggi sehingga dapat meningkatkan penghasilan nelayan; (6) Sentra produksi dan distribusi terletak di kawasan pariwisata sehingga akan mempermudah promosi untuk menarik konsumen; (7) Adanya Sentra Ikan Bulak (SIB) sebagai pusat promosi dan distribusi produk yang akan mempermudah pemasaran. Selain keunggulan-keunggulan tersebut, usaha ini juga memiliki kelemahan internal yaitu: (1) Bahan baku masih belum mencukupi kebutuhan produksi karena sumber pasokannya hanya dari nelayan setempat; (2) Proses pengolahan cukup rumit dan membutuhkan waktu yang relatif lama; (3) Proses

pengolahan belum diuji secara klinis; (4) Proses pengeringan menggunakan sinar matahari sehingga sangat tergantung pada kondisi cuaca; (5) Desain produk dan

(19)

para calon konsumen untuk mengunjungi daerah tersebut. (3) Usaha sejenis juga dikembangkan di salah satu kota lain, yaitu di Semarang walaupun distribusinya masih sebatas di kota tersebut tapi tetap ada peluang persaingan antara kedua kegiatan usaha ini. Jika para pengusaha di Kenjeran kalah cepat mengembangkan usahanya, maka tidak menutup kemungkinan potensipasar akan dikuasai oleh pengusaha di Semarang. Analisis SWOT tersebut kami rangkum dalam tabel 4.3.

Strength dan Weakness menguraikan faktor-faktor internal, sedangkan

(20)

Tabel 4.3 Analisis SWOT Usaha Pengolahan Kerupuk Hasil Laut di Pesisir Kenjeran, Surabaya

Strength (S) Weakness (W)

 Produk bersifat khas  Bahan baku adalah potensi

lokal

 Ketersediaan tenaga kerja yang memadai

 Proses pegolahan tidak membutuhkan peralatan yang mahal

 Nilai jual jauh lebih tinggi dari penjualan ikan mentah

 Sentra produksi dan distribusi terletak di kawasan wisata sehingga akan mempermudah promosi produk

 Telah dibangun Sentra Ikan Bulak (SIB) sebagai pusat promosi dan distribusi Produk

 Ketersediaan bahan baku lokal yang belum memenuhi kebutuhan

produksi

 Proses pengolahan dilakukan secara konvensional dengan menggunakan alat yang sederhana sehingga relatif lama dan rumit

 Proses pengolahan belum teruji secara klinis

 Proses pengolahan (pengeringan) tergantung cuaca

 Desain produk dan kemasannya yang relatif sederhana

Opportunity (O) Threath (T)

 Masyarakat menyukai cemilan

 Adanya bantuan modal dari dinas pemerintah dan paguyuban setempat

 Kurangnya promosi secara luas oleh pemerintah setempat

 Lingkungan sekitar sentra produksi dan distribusi yang kumuh

 Adanya peluang persaingan dengan industri sejenis

(21)

3.3 Grand Strategy Pengembangan Usaha Pengolahan Kerupuk Hasil Laut di Pesisir Kenjeran Berdasarkan Analisis SWOT

Menurut Charles (2011) dalam Satria (2009:26-27) pemberdayaan masyarakat pesisir harus mengacu pada konsep keberlanjutan yang meliputi empat dimensi, yaitu: (1) Keberlanjutan ekologis, terwujud dari praktek perikanan yang tidak merusak lingkungan, (2) Keberlanjutan sosial ekonomi yang mengacu pada tercapainya kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat pesisir, (3) Keberlanjutan komunitas yang mengacu pada stabilitas sistem sosial, terjaminnya peran masyarakat dalam pembangunan, dan akses masyarakat pada sumberdaya baik untuk pemanfaatan maupun pengelolaan, dan (4) Keberlanjutan institusi yang merupakan prasyarat tercapainya tiga dimensi keberlanjutan sebelumnya.

Rancangan strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan kerupuk hasi laut di Kenjeran dapat diderivikasikn dari hasil analisis SWOT yang telah

dipaparkan dalam tabel 4.1.

Berdasarkan hasil analisis SWOT dan konsep pemberdayaan Charles,

maka strategi pengembangan usaha pengolahan kerupuk hasi laut di Kenjeran meliputi: (1) Perbaikan menejemen usaha meliputi kegiatan produksi, distribusi dan segala hal yang menyangkut pengembangan usaha, (2) Pembagian job

(22)

SWOT

Strength (S) Weakness (W)

 Produk bersifat khas

 Bahan baku adalah potensi lokal

 Ketersediaan tenaga kerja dengan jumlah yang memadai

 Proses pegolahan tidak membutuhkan peralatan yang mahal

 Nilai jual jauh lebih tinggi dari penjualan ikan mentah

 Sentra produksi dan distribusi terletak di kawasan wisata sehingga akan

mempermudah promosi produk

 Ketersediaan bahan baku lokal yang belum memenuhi kebutuhan produksi  Proses pengolahan dilakukan secara

konvensional dengan menggunakan alat yang sederhana sehingga relatif lama dan rumit

 Proses pengolahan belum teruji secara klinis

 Proses pengolahan (pengeringan) tergantung cuaca

 Desain produk yang relatif masih sangat sederhana

Opportunity (O) Strategi S-O Strategi W-O

 Masyarakat menyukai cemilan kerupuk (peluang pasar domestik)  Jalan Kembar yang direncanakan

akan dibangun akan mempermudah akses konsumen ke Pantai Kenjeran  Terbukanya peluang pasar ekspor  Adanya bantuan modal dari dinas

pemerintah dan paguyuban setempat

 Telah dibangun Sentra Ikan Bulak (SIB) sebagai pusat promosi dan distribusi Produk

Pembenahan menejemen produksi,

distribusi dan segala hal yang menyangkut pengembangan usaha

Pembagian job diantara para pelaku usaha, terkait pemasok bahan baku, pengolah dan pedagang produk.

Pengembangan promosi ke pasar ekspor dengan media yang lebih modern dan melalui baleho-baleho di area Pantai Wisata Kenjeran, Jalan Kembar yang akan dibangun dan tempat-tempat strategis lainnya

 Membangun kerjasama dengan para nelayan di berbagai wilayah Indonesia untuk memasok bahan baku maupun sebagai cabang usaha

 Pengembangan proses produksi dengan peralatan yang lebih modern.

(23)

Kurangnya promosi secara luas oleh pemerintah setempat

Lingkungan sekitar sentra produksi dan distribusi yang kumuh

Adanya peluang persaingan dengan industri sejenis

Pengembangan produk yang berdaya saing tinggi dengan muatan cirri khas lokal.

Perbaikan packaging produk agar bisa bertahan dalam persaingan di pasar. Perbaikan infrastruktur area sentra

produksi dan distribusi produk untuk menarik minat konsumen mengunjungi daerah tersebut.

(24)

Dalam rangka memastikan keberlangsungan implementasi gagasan ini, diperlukan langkah strategis sebagai key factor (poin kunci) keberhasilan, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya, khususnya pemerintah dan masyarakat setempat sehingga pelaksanaan strategi akan mendapat dukungan dari banyak pihak. Secara ringkas skema implementasi strateginya kami sajikan dalam gambar 4.1.

Sumber: Penulis, 2013

Gambar 4.1 Skema Impelementasi Grand Strategy Pengembangan Usaha Pengolahan Kerupuk Hasil Laut

Proses impelementasi grand strategy dimulai dari Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) sebagai penanggung jawab bidang perikanan dan kelautan nasional. KKP melakukan koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Surabaya untuk merancang grand strategy pengembangan usaha pengolahan kerupuk hasi laut secara nasional. Selanjutanya KKP melakukan analisis potensi wilayah pesisir lainnya untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berpotensi

(25)

mendukung pengembangan usaha pengolahan kerupuk hasil laut yang selanjutnya dikoordinasikan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Sedangkan Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Surabaya berkoordinasi dengan para pelaku usaha di Kenjejeran untuk membentuk komunitas sebagai media perantara antara pelaku usaha dan pemerintah serta pihak eksternal lain yang mungkin akan menjalin kerjasama dalam pengembangan usaha. Setelah komunitas tersebut dibentuk, kemudian bersama Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Surabaya merancang grand strategy pengembangan usaha pengolahan kerupuk hasi laut di Kenjeran sebagai basic leader pemberdayaan masyarakat pesisir nasional. Selanjutnya, komunitas para pelaku usaha pengolahan kerupuk hasil laut di Kenjeran mulai menjalin kerjasama dengan komunitas sejenis di wilayah pesisir lainnya untuk mengembangkan usaha, baik dengan menjadikan komunitas terkait sebagai pemasok bahan baku, cabang usaha maupun bentuk kerjasama yang lain.

Dengan skema impelementasi yang melibatkan berbagai pihak tersebut,

diharapkan grand strategy pengembangan usaha pengolahan kerupuk hasi laut di Kenjeran dapat dilaksanakan dengan baik dan semaksimal mungkin, sehingga bisa

(26)

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya,

maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Sektor usaha di Surabaya yang menjadi sektor basis adalah sektor industri pengolahan; listrik, gas, air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi serta keuangan, persewaan dan jasa perusahaa. Namun ada perubahan dalam sektor industri pengolahan, pada tahun 2007 hingga 2008 sektor tersebut menjadi sektor basis tetapi pada tahun selanjutnya, yaitu tahun 2009 hingga 2010 menjadi sektor non basis. Hal ini dimungkinkan karena mulai beralihnya pelaku usaha dalam industri pengolahan ke sektor lain yang dinilai lebih prospektif seperti

sektor listrik, gas, air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi serta keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan.

2. Usaha pengolahan kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran sangat potensial dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir. Keunggulan dalam kelemahan baik internal maupun eksternal yang telah dianalisis menggunakan metode SWOT, memunculkan berbagai peluang strategi yang dapat diimpelementasikan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

(27)

kerupuk hasil laut di Pesisir Kenjeran sebagai leading sector

pemberdayaan masyarakat pesisir nasional. 5.2 Saran

Dari kesimpulan diatas maka ada beberapa saran yang dapat disampaikan

oleh penulis, meliputi:

1. Pemerintah Kota Surabaya perlu melakukan analis sektor basis dan non basis secara rutin dalam periode tertentu sebagai landasan pengambilan kebijakan perencanaan dan pembangunan wilayah.

2. Pembangunan dan perbaikan infrastruktur di Pesisir Kenjeran patut dipertimbangkan menjadi salah satu prioritas pembangunan Pemerintah Kota Surabaya mengingat potensi perikanan dan kelautan yang dimilikinya.

3. Kebijakan peningkatan kualitas SDM di Pesisir Kenjeran melalui pendidikan formal maupun pelatihan sangat perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota

Surabaya, melihat kondisi angkatan kerja yang rata-rata pendidikannya adalah tamatan SD/sederajat.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Daerah. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Badan Pusat Statitik (BPS) Nasional, 2010.

Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Surabaya 2013. 2013. Laporan

Akhir Kajian Akdemik Persiapan Pelaksanaan Penggabungan Kelurahan di

Kota Surabaya. (Online). (http://jdih.surabaya.go.id, diakses September 2013)

BPS. Analisis SWOT. (Online). (http://daps.bps.go.id, diakses September 2013)

Geti Area. 2013. Wisata Kerupuk Kenjeran. (Online) (http://get2iarea.blogspot.com, diakses September 2013)

Hamid, Edy Suandi dan Y. Sri Susilo. 2011. Strategi Pengembangan UKM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 12 No 1.

Jaya. 2012. Meraup Untung dari Gurihnya Bisnis Kerupuk Hasil Laut. (Online). (http://sumberseni.blogspot.com, diakses September 2013).

Junaidi. 2013. Kerupuk Terung Sukolilo Sudah Merambah Dubai dan Korea.

(Online) . (http://www.surabayapost.co.id, diakses September 2013)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 2010.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2011. Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

Kementrian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah RI, 2013

(29)

Mangiwa, Simbong. Analisis Strategis Bisnis Jasa Warung Internet : Studi Kasus

pada Warnet “Global Internet” Kota Depok. (Online).

(http://www.gunadarma.ac.id, diakses September 2013)

Nugroho dan Rokhim. 2012. Perencanaan dan Pembangunan Daerah.

Satria, Arif. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor: IPB Press.

Schuler. 1986. Empowerment and the Law. (Online). (www.smeru.or.id, diakses September 2013)

(30)

Lampiran 1

GAMBAR USAHA PENGOLAHAN KERUPUK HASIL LAUT DI PESISIR KENJERAN, SURABAYA

Gambar 1. Proses pengolahan dan penjemuran kerupuk hasil laut

(31)

Gambar 3. Lokasi dan kios penjualan kerupuk hasil laut

(32)

Gambar 4. Wisata Pantai Kenjeran yang berdekatan dengan sentra produksi dan distribusi usaha pengolahan kerupuk hasil laut

(33)

Lampiran 2

CURICULUM VITAE

NamaLengkap : Yessy Yuliana Amalia Tempat, tanggallahir : Surabaya, 04 Juni 1992 JenisKelamin : Perempuan

AsalUniversitas : Airlangga

NIM : 041011018

Jurusan/Fakultas : Ekonomi Pembangunan /FEB

Alamat : Jalan Prapen masjid Gang Buntu 2f Surabaya No. Hp : 0856 484 32 450

Alamat email : [email protected]

Karya ilmiah/Tulisan yang pernah dibuat:

No Judul Kategori Tahun

1. Implementasi Contract Farming Sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Petani Di PulauJawa

LKTI Hipotex R IPB

2011

2. Optimalisasi Kebijakan Larangan Ekspor Rotan Mentah : Ekspansi Industri Kreatif Melalui Pembangunan Daerah Tertinggal Berbasis Keunggulan Potensi Lokal

LKTI Univ. Riau

2012

(34)

4. RTA (Revealed Comparative Trade Advantage) : Analisis Daya Saing Hortikultura (KomoditasBuah-Buahan)

Nasional Terhadap Thailand

LKTI Concern

UNDIP 2012

5. RTA (Revealed Comparative Trade Advantage): Analisis Daya Saing Industri tpt (Tekstil Dan ProdukTekstil) Indonesia

Pasca Acfta (Asean-China Free Trade)

LKTI Hipotex

R IPB 2012

6. Optimalisasi Obligasi Daerah Sebagai SumberPembiayaan Rekonstruksi

PelabuhanTanjung Perak Surabaya

Lomba Esai

IEO UI 2013 2012

7. Koperasi Hulu Rotan Sulawesi Barat

Sebagai Upaya Minimalisir Disparitas Distribusi Rotan : Langkah Strategis Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015

LKTI ESF Un.

Udayana Bali

2012

8. Analisis Strategi Peningkatan Daya Saing

Koperasi Dalam Menghadapi “Free Movement Goods” Menuju Masyarakat

Ekonomi ASEAN 2015

(35)

9. Konversi Energi Terbarukan Berbasis Sektor Pertanian (Biofuel) Sebagai Upaya

Optimalisasi Potensi Indonesia Menuju Energi Berkelanjutan

Lomba Debat

(36)

CURICULUM VITAE

Nama : Musyarrofah

Tempat tanggal lahir : Sumenep, 26 Pebruari 1992 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

2. MI Babul Huda Duko Kec. Rubaru Kabupaten Sumenep

3. MTs 1 Annuqayah Putri Guluk-Guluk SumenepMadura

4. MA 1 Annuqayah Putri Guluk-Guluk Sumenep Madura

5. Universitas Airlangga, Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Prestasi:

1. Finalis Lomba Essay IEO 2013, Universitas Indonesia.

2. Juara III Lomba Desain Produk Agroindustri 2011 Tingkat Unversitas se-Indonesia Universitas Brawijaya (2011).

3. Lolos PMW PPKK Unair (2011).

4. Finalis Lomba Karya Tulis Mahasiswa Internal FEB Unair (2010). 5. Juara II LKTI Tingkat MA 1 Annuqayah Putri

6. Juara III LKTI Tingkat MA 1 Annuqayah Putri

7. Juara I Lomba Mading Tingkat MA 1 Annuqayah Putri

(37)

Karya Tulis yang pernah dibuat:

1. Proposal Bisnis “Herbal BatiQ: Alternatif Edukasi Herbal Indonesia melalui Media Batik “. (2012)

2. Artikel “Selamatkan Petani Garam, Selamatkan Indonesia!. (2012)

3. Lembaga Bina Zakat Mandiri Desa (Bazmada) sebagai Solusi Alternatif dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa. (2011).

4. Proposal Bisnis “Permen Sirih Penguat Email Gigi

(PERSEGI)”. (2011)

5. Penerapan Good Governance pada Pasar Tradisional melalui Perluasan Struktural Organisasi, Pengaturan Lokasi dan Pemanfaatan Potensi Daerah. (2010) .

6. Borali (Boneka Ramah Lingkungan) sebagai Sebuah Konsep Terpadu Upaya Pemberdayaan Pemulung,

Pelestarian Lingkungan dan Pelestarian Kebudayaan Indonesia. (2010)

7. Menggagas Blog Multifungsi di MA 1 Annuqayah Putri. (2010)

Gambar

Tabel 2.1 Kondisi Umum Masyarakat Pesisir di Indonesia, 2002
Gambar 2.1 Kriteria Klasifikasi UMKM menurut Asset dan Omzet
gambar 3.1.
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan LQ Kota Surabaya
+7

Referensi

Dokumen terkait