• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPMDI PERKEMBANGAN MODERNISME DI MESIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SPMDI PERKEMBANGAN MODERNISME DI MESIR"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

.

Oleh:

Fakih Kurnia Azis 1145010040 Hasna Nurfarida 1145010046 Jawad Mughofar KH 1145010071

JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

(2)

KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrohiim,

Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan apapun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.

Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Sejarah Pemikiran Modern dalam Islam I. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin.

Bandung, 27 Oktober 2015

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan ... 2

BAB II PEMBAHASAN A. Biografi dan Pemikiran Jamaluddin al- Afgani ... 3

B. Biografi dan Pemikiran Muhammad Abduh ... 6

C. Biografi dan Pemikiran Rasyid Ridha ... 10

D. Murid dan Pengikut Muhammad Abduh ... 16

BAB III PENUTUP A. Simpulan ... 22

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Faktor penyebab kemunduran Islam yang di mulai di penghujung abad ke-17, yang titik awalnya dimulai dari kekalahan-kekalahan yang diderita oleh angkatan perang Turki dalam pertempuran-pertempuran dengan

kekuatan-kekuatan bangsa Eropa. Mesir sebagai salah satu daerah kekuasaan Turki tidak terlepas dari gangguan bangsa Eropa. Tahun 1798 M, Mesir yang merupakan pusat kebudayaan Islam terbesar saat itu jatuh ketangan Perancis.1

Dalam faktor lain, hal yang menyebabkan kemunduran Islam yaitu dikarenakan umat Islam yang banyak terlena akan kejayaan Islam pada masa lalu dan banyaknya umat Islam yang disibukkan dengan masalah-masalah agama tanpa ingin mempelajari dan ingin membahas lebih dalam masalah kontemporer, terutama dalam bidang pendidikan. Inilah yang menyebabkan tertutupnya pintu Ijtihad, dikarenakan umat Islam banyak yang bersifat taqlik dan banyaknya perselisihan antar mazhab. Tidak hanya itu, banyak para pemimpin yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya karena para pemimpin banyak yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kesenangan pribadinya.

Para pemuka atau pemikir Islam mulai memikirkan cara untuk mengatasi dari berbagai masalah yang terjadi, dengan cara menimbulkan ide-ide yang dapat membawa pembaharuan dikalangan umat Islam. Para pemuka Islam yang resah terhadap kemunduran Islam pada masa itu adalah Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha begitupun juga dengan para murid atau pengikutnya. Yang lebih luasnya akan kami bahas dalam makalah ini. InsyaAllah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:

(5)

a. Bagaimana Biografi dan Pemikiran Jamaluddin al-Afgani? b. Bagaimana Biografi dan Pemikiran Muhammad Abduh? c. Bagaimana Biografi dan Pemikiran Rasyid Ridha? d. Siapa saja murid dan pengikut Muhammad Abduh?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk: a. Mengetahui Biografi dan Pemikiran Jamaluddin al-Afgani?

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Biografi dan Pemikiran Jamaluddin al- Afghani

a. Biografi Jamaluddin al- Afghani

Jamaludin lahir di afganistan pada tahun 1839 dan meninggal dunia di istambul di tahun 1897.2 Ali Rahmena (1998:19-20) tak ada sumber primer yang mendukung bahwa tempat lahir atau besarnya adalah Afghan, seperti yang biasa diakuinya, kini banyak sumber yang meperhatikan bahwa dia tak mungkin orang Afghan. Tetapi lahir dan mendapat pendidikan Syiah di Iran. Sumber-sumber ini antara lain surat untuk kemenakan Irannya, yang menulis satu-satunya biografi awal yang berdasar pada masa lahir dan kanak-kanak yang sebenarnya. Berbagai buku dan risalah bertahun ditemukan di antara tulisan-tulisan Afghani, memperhatikan bahwa akibat di didik di Iran dan hampir pasti di kota-kota suci Syi’ah di Irak dia piawai dalam Filsafat Islam dan juga dalam Syi’ah mazhab Syaikhi, yang merupakan ragam Syi’ah yang sangat filosofis pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas.3

Ketika baru berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu bagi pangeran Dost Muhammad Khan di Afganistan. Di tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian ia di angkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi Perdana Menteri. Dalam pada itu Inggris telah mulai mencampuri soal politik dalam negeri Afghanistan dan dalam pergolakan yang terjadi Al- Afghani memilih pihak yang melawan golongan yang di sokong Inggris. Pihak pertama kalah dan al- Afghani merasa lebih aman meninggalkan tanah tempat kelahirannya dan pergi ke India di tahun 1869.

Di India ia juga merasa tidak bebas bergerak karena negara ini telah jatuh ke bawah kekuasaan inggris dan oleh karena itu ia pindah ke mesir di tahun

2 Harun Nasution. 2011. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm. 43

(7)

1871. Ia menetap di kairo dan pada mulanya menjauhi persoalan-persoalan poitik Mesir dan memuasatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra arab.Rumah tempat ia tinggal menjadi tempat pertemuan murid –murid dan pengikut-pengikutnya .Disanalah ia memberikan kuliaah dan mengadakan diskusi.4

Afghani mendorong pengikutnya pada 1870an untuk menerbitkan Koran. Dikoran ini mereka menekankan isu politik. Pada tahun-tahun itu, perhatian dan keterlibatan politik orang mesir meningkat secara dramatis. Problem keuangan dan pajak, dipadu dengan peristiwa dalam dan luar negeri lainnya, menciptakan krisis politik.5

Di tahun 1889 al- Afghani diundang untuk datang ke Persia. Atas undangan Sultan Abdul Hamid, Al- Afghani Selanjutnya pindah ke istambul di tahun 1892. Pengaruh yang besar di bebagai negara Islam diperlukan dalam angka pelaksanaan politik Islam yang di rencanakan Istambul. Bantuan dari negara-negara Islam di perlukan dalam rangka pelaksanaan politik Islam yang di rencanakan Istambul. Bantuan dari negara-negara Islam amat dibutuhkan Sultan Abdul hamid untuk menentang eropa yang di waktu itu telah kian mendesak kedudukan kerajaan Usmani di timur tengah. Tetapi kerja sama antara Al- Afghani sebagai pemimpin yang mempunyai pemikiran-pemikiran demokratis tentang pemerintahan,dengan Abdul Hamid,sebagai sultan yang masih mempertahankan kekuasaan otokrasi lama,tidak bisa tercapai.Karena tkut akan pengaruh Al- Afghani yang demikian besar, kebebasannya dibatasi Sultan dan ia tak dapat keluar dari Istambul.Ia tetap tinggal di sana sampai ia wafat di tahun 1897.6

b. Pemikiran Jamaluddin al- Afghani

Dalam buku Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pegerakan (2011: 46-48) dijelaskan mengenai pemikiran pembaharuan Jamaluddin al-

(8)

Afghani berdasar atas keyakinan bahwa Islam adalah yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaaan. Kalau kelihatan ada pertentangan antara ajaran-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi penyesuaian dapat di peroleh dengan mengadakan interpretasi baru tentang ajaran-ajaran Islam seperti yang tercantum dalam Al Quran dan Hadis. Untuk interpretasi itu di perlukan ijtihad dan pintu ijtihad baginya terbuka.

Kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam, sebagai mana dianggap, tidak sesuai dengan perubahan zaman dan kondisi baru. Umat Islam mundur karena telah meninggalakan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya hanya tinggal dalam ucapan dan di atas kertas, sebagian dari ajaran-ajaran asing itu dibawa orang-orang yang pura-pura bersikap suci, sebagian lain oleh orang-orang yang mempunyai keyakinan-keyakinan yang menyesatkan dan sebagian lagi oleh hadits-hadits buatan, Paham Qodo dan Qodar umpanyanya, demikian al- Afghani, telah di rusak dan di ubah menadi fatalisme yang membawa umat Islam kepada keadan statis. Qada dan Qadar sebenarnya mengandung arti bahwa segala sesuatu terjadi menurut ketentuan sebab musabab. Kemauan manusia merupakan salah satu mata rantai sebab musabab itu. Di masa silam keyakinan pada Qada dan Qadar serupa ini memupuk keberanian dan kesabaran dalam jiwa umat Islam untuk menghadapi segala macam bahaya dan kesukaran, Karena percaya pada Qada dan Qadar inilah maka umat Islam di masa yang silam bersifat dinamis dan dapat menimbulkan peradaban yang tinggi.

(9)

Jalan untuk memperbaiki keadaaan umat Islam, menurut Al- Afghani ialah melenyapkan pengertian-pengertian salah yang di anut umat Islam umumnya, dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. Hati mesti di sucikan, budi pekerti luhur di di hidupkan kembali dan demikian pula kesedian berkorban untuk kepentingan umat. Dengan berpedoman pada ajaran-ajaran dasar, umat Islam akan dapat bergerak maju mencapai kemajuan.

Corak pemerintahan otokrasi harus diubah dengan corak demokrasi. Kepala negara harus mengadakan syura (musyawarah) dengan pemimpin-pemimpin masyarakat yang banyak mempunyai pengalaman. Pengetahuan manusia secara individual terbatas sekali. Islam dalam pendapat al- Afghani menghendaki pemerintahan republik yang di dalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat dan kewajiban kepala negara tunduk kepada undang-undang dasar.7

B. Biografi dan Pemikiran Muhammad Abduh a. Biografi Muhammad Abduh

Muhammad Abduh berakar pada bumi pedusunan mesir. Dia lahir di sebuah dusun Delta sungai Nil pada 1849. Keluarganya terkenal berpegang teguh kepada ilmu dan agama. Ayahnya beristri dua. Muhammad Abduh muda merasakan sejak dini sulitnya hidup dalam keluarga poligami. Hal ini menjadi pokok persoalan yang dia sampaikan dengan sangat yakin di kemudian hari ketika dia menegaskan perlunya permbaruan keluarga dan hak-hak wanita. Abduh belajar membaca dan menulis di rumah. Pada usia dua belas tahun dia rajin membaca al- Qur’an, sampai hafal. Salah seorang penulis biografinya mencatat bahwa, karena tidak belajar di lingkungan sekolah al- Qur’an, Abduh tak pernah merasakan hak yang dialami orang

(10)

yang hafal al- Qur’an, seperti ragu-ragu ketika menyampaikan kuliah atau mengutip al- Qur’an.8

Pada tahun 1877, Abduh menyelesaikan studinya di al- Azhar dengan mendapat gelaran Alim. Ia mulai mengajar, pertama di al- Azhar. Kemudian di Dar al- Ulum dan juga di rumahnya sendiri. Di antara buku-buku yang diajarkannya ialah buku akhlak karangan Ibnu Miskawaih, Mukaddimah Ibnu Khaldun dan Sejarah Kebudayaan Eropa karya Guizot, yang diterjemahkan al- Tahtawi kedalam bahasa Arab di tahun 1857. Sewaktu al- Afghani diusir dari Mesir di tahun 1879, karena di tuduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik, Muhammad Abduh yang juga dipandang turut campur dalam soal ini, dibuang keluar kota Kairo. Tetapi di tahun 1880 ia boleh kemnalo ke ibu kota dan kemudian diangkat menjadi redaktur surat kabar resmi pemerintahan mesir. Al- Waqa’i Fi Misriyah. Ada waktu itu perasaan kenasionalan Mesir telah mulai timbul. Di bawah pemimpinan Muhammad Abduh. Al-Waqa’i Fi Misriyah bukan hanya menyiarkan berita-berita resmi, tetapi juga artikel tentang kepentingan nasional Mesir.9

b. Pemikiran Muhammad Abduh Akal dan Wahyu

Pendapat tentang pembukaan pintu ijtihad dan pemberantasan taklid, berdasar atas kepercayaannya pada kekuatan akal. Menurut pendapatnya al- Quran berbicara, bukan semata kepada hati manusia tetapi juga kepada akalnya. Islam memandang akal mempunyai kedudukan tinggi. Allah menunjukan perintah-perintah dan larangan-larangannya kepada akal. Menurut Muhammad Abduh akal mempunyai kedudukan yang tinggi. Wahyu tak dapat membawa hal-hal yang bertentangan dengan akal. Kalau zahir ayat bertentangan dengan akal, haruslah di cari interpretasi yang

8 Utsman Amin, 1953, Muhammad Abduh. Washington: American Council of Learned Societies. Hlm. 3

(11)

membuat ayat itu sesuai dengan pendapat akal.10 Kepercayaan pada kekuatan akal adalah dasar peradaban sesuatu bangsa. Akal terlepas dari ikatan tradisi akan dapat memikirkan dan memperoleh jalan-jalan yang membawa pada kemajuan. Pemikiran akallah yang menimbulkan Ilmu Pengetahuan.

Tafsir al- Qur’an

Muhammad Abduh merasa memikul tugas besar memperbarui pandangan dunia Islam yang dominan pada zamannya, rencana pembaruan politik dan sosial Abduh menjadikan al- Qur’an reinterpretasi al- Quran untuk dunia modern sangat penting. Dia merasa bahwa al- Quran harus memainkan peranan sentral dalam mengangkat masyarakat, memperbaharui kondisi umat, dan menyodorkan peradaban Islam modern. Dengan demikian dia dapat menafsirkan Islam sebagai kampiun kemajun dan pembangunan, Katanya kembali ke nash al- Quran itu perlu. Dengan melepaskan nash dari ulasan yang di ulang-ulang dan terkadang bertentangan, Abduh memimpin upaya membuat nash dapat dimengerti oleh semakin banyak orang terdidik yang mampu membaca dan merenungkan makna dan pesannya.11

Pendidikan

Salah satu isu paling penting yang jadi perhatian Abduh sepanjang hayat dan karirnya adalah pembaharuan pendidikan. Baginya pendidikan itu penting sekali sedangkan ilmu pengetahuan itu waib di pelajari.12 Yang juga jadi perhatiannya adalah mencari alternatif untuk keluar dari stagnasi yang di hadapinya sendiri di sekolah agama Mesir, yang tercerminkan sekali dengan baik sekali dengan dalam pendidikannya di al- Azhar. Program yang di ajukannya sebagai salah satu fondasi utama adalah memahami dan menggunakan Islam dengan benar untuk mewujudkan kebangkitan

(12)

masyarakat. Dia mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing dan juga mengkritik sekolah yang didirikan pemerintahan. Katanya di sekolah misionaris, siswa dipaksa mempelajari Kristen, sedangkan di sekolah pemerintah, siswa ridak diajar agama sama sekali.

Perlu ditegaskan bahwa bagi Muhammad Abduh tidak cukup hanya kembali kepada ajaran asli itu, sebagai yang di anjurkan oleh Muhammad Abd al Wahab. Karena zaman dan suasana umat Islam sekarang telah jauh berubah dari zaman dan suasana umat Islam zaman klasik, ajaran-ajaran asli itu perlu di sesuaikan dengan keadaan modern sekarang.13

Politik

Abduh cenderung memandang kondisi pemerintah otoriter pada bangsa-bangsa Muslim sebagai akibat kebodohan faqih dan penguasa. Dia menganggap faqih bersalah karena tidak memahami politik dan bergantung kepada penguasa, sehingga penguasa tak mempertanggung jawabkan kebijakannya. Di suatu pihak, penguasa bukan saja tak tahu bagaimana memerintah dan menegakan keadilan, mereka juga merusak faqih dan memanfaatkan faqih untuk kepentingan sendiri dengan cara mendesak faqih mengeluarkan fatwa yang mempertahankan kebijakan pemerintah. Yang sangat penting bagi umat adalah persatuan politik dan keadilan. Persatuan politik dan keadilan, menurut abduh belum ada akibat ketidakpedulian pemimpin. Segenap keburukan yang menimpa kaum Muslim, merupakan akibat perpecahan. Pemimpin Muslim menyandang gelar tinggi, seperti pangeran dan sultan, hidup mewah dan berupaya mencari perlindungan dari pemerintah asing non-Muslim untuk memperkuat dirinya dalam meghadapi rakyanya sendiri. Pemimpin seperti ini menjarah kekayaan rakyat demi kesenagan pribadi dan tak menegakan keadilan pemimpin seperti ini juga tak merujuk ke kitab yang tepat atau mengikuti sunnah. Dengan demikian pemimpin seperti ini menjadi penyebab kerusakan akhlak umat.14

(13)

Dalam bidang ketatanegaraan Muhammad abduh juga berpendapat kekuasaan negara harus dibatasi. Menurut pendapatnya pemerintah wajib bersikap adil terhadap rakyat dan terhadap pemerintah yang serupa ini, rakyat harus patuh dan setia. Kepala negara adalah manusia yang dapat berbuat salah dan dipengaruhi oleh hawa nafsunya dan kesadaran rakyatlah yang bisa membawa kepala negara yang demikian sifatnya kembali kepada jalan yang benar. Kesadaran rakyat dapat dibnagunkan dengan prendidkan di sekolah sekolah, penerangan dalam surat kabar dan sebagainya.15

Peran Wanita

Abduh merasa perlu adanya permbaruan atas adat yang berkenaan dengan peranan dan kedudukan wanita, dia percaya bahwa hubungan suami istri haruslah berhubungan saling menghormati dan saling memikirkan, agar dapat membesarkan generasi sehat yang percaya diri dan tidak ketakutan tehadap orang asing. Dan ketahuilah bahwa pria yang berupaya menindas wanita supaya dapat menjadi tuan di rumahnya sendiri, berarti menciptakan generasi budak.

Muhammad Abduh menegaskan bahwa dalam Islam ada persamaan gender, pria dan wanita punya hak dan kewajiban yang sama; mereka juga memiliki nalar dan perasan yang sama. Dia mengakui bahwa antara pria dan wanita memiliki ada hak dan kewajiban terhadap satu sama lain, pria dan wanita memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap Allah, mereka mempunyai kewajiban dan iman Islam yang sama, mereka sama-sama diseru untuk menuntut ilmu16

C. Biografi dan Pemikiran Rasyid Ridha a. Biografi Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun 1282-1354 H/1865-1935 M. Dia adalah

(14)

Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhammad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Keluarganya dari keturunan yang terhormat berhijrah dari Baghdad dan menetap di Qalmun. Kelahirannya tepat pada 27 Jumad al-Tsanil tahun 1282 H/ 18 Oktober tahun 1865 M.17

Pendidikannya diawali dengan membaca al-Qur’an, menulis dan berhitung

di kampungnya, Qalamun, Suriah. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Muhammad Rasyid Ridha lebih senang menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain. Sejak kecil ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.18 Setelah lancar membaca dan menulis, Muhammad Rasyid Ridha masuk ke Madrasah ar-Rasyidiyah, yaitu sekolah milik pemerintah di kota Tripoli. Di sekolah itu ia belajar ilmu bumi, ilmu berhitung, ilmu bahasa, seperti nahu dan saraf (ilmu tata bahasa Arab), dan ilmu-ilmu agama, seperti akidah dan ibadah. Hanya setahun ia belajar di sini, karena ternyata sekolah itu khusus diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi pegawai pemerintah, sedangkan ia tidak berminat mengabdi untuk pemerintah.

Ketika berumur 18 tahun, ia kembali melanjutkan studinya dan sekolah yang dipilihnya adalah Madrasah al-Wataniyyah al-Islamiyyah yang didirikan Syekh Husain al-Jisr. Dibandingkan dengan Madrasah ar-Rasyidiyah, madrasah ini jauh lebih maju, baik dalam sistem pengajaran maupun materi yang diajarkan. Di sini ia belajar mantik, matematika, dan filsafat, di samping juga ilmu-ilmu agama. Gurunya, Syekh Husain al-Jisr, dikenal sebagai seorang yang banyak berjasa dalam menumbuhkan

semangat ilmiah dan ide pembaharuan dalam diri Rasyid Ridha kelak. Di antara pikiran-pikiran gurunya yang sangat mempengaruhi ide

pembaharuan Rasyid Ridha adalah bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan

17 Imarah Muhammad. 2005. Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada hlm. 1

(15)

pendidikan agama dan pendidikan umum dengan menggunakan metode Eropa. Syekh Husain al-Jisr berpendapat demikian karena sekolah-sekolah yang didirikan bangsa Eropa dan Amerika di Suriah saat itu banyak diminati anak-anak pribumi. Keadaan ini justru mengkhawatirkan al-Jisr karena di sekolah-sekolah itu tidak disajikan materi pelajaran agama.19

Pada usia dua puluh delapan tahun, tepatnya tahun 1310 H/ 1892, terjadi

revolusi besar dalam pemikirannya yang mengubah secara drastis pemahamannya terhadap Islam. Ini bermula ketika Rasyid Ridha menemukan beberapa edisi koranal-‘Urwatul Wutsq, yang concern dalam upaya mengobarkan spirit modernisasi pemikiran serta revivalisasi peradaban umat Islam yang tengah tiarap. Koran yang merupakan corong pemikiran Jamaluddin al-Afghani (1254 H/ 1839—1314 H/1897) dan Muhammad Abduh (1266 H/ 1848-1323 H/1905) ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Rasyid Ridha di sela-sela koleksi buku ayahnya.

Tulisan-tulisan kedua tokoh ini membuatnya tersadar bahwa Islam tidak hanya agama rohani yang berkutat pada dimensi batin manusia, namun merupakan agama yang menyeimbangkan antara aspek duniawi dan ukhrawi, rasional dan sangat concern pada pengembangan peradaban umatnya. Islam juga merupakan agama yang diturunkan untuk membawa kesejahteraan dalam kehidupan duniawi manusia serta mempersiapkannya menjadi khalifah Allah swt. yang bertanggung jawab mewujudkan kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Setelah membaktikan hidupnya selama puluhan tahun demi tercerahkannya kaum Muslimin, Rasyid Ridha akhirnya wafat 23 Jumadil

Ula 1354/ 22 Agustus 1935, ia meninggal dunia dengan aman sambil memegang al-Qur’an di tangannya,20 Ia dimakamkan di ibukota Mesir ini

bersebelahan dengan makam gurunya, Muhammad Abduh.

19 Sirojuddin Ar, hlm 162

(16)

b. Pemikiran Rasyid Ridha

Pada tahun 1898 Rasyid Ridha hijrah ke Kairo dengan maksud berguru dan bergabung dengan Muhammad Abduh. Langkah pertama yang dilakukan Rasyid di Mesir adalah mendesak Abduh untuk menerbitkan sebuah majalah sebagai corong mereka. Menurut Rasyid, hal ini penting karena cara yang tepat untuk menyembuhkan penyakit umat ialah

pendidikan serta menyiarkan ide-ide yang pantas untuk menentang kebodohan dan pikiran-pikiran yang mengendap dalam diri umat seperti fatalistik dan khurafat. Abduh menyetujui saran muridnya itu, kemudian terbitlah sebuah majalah yang diberi nama al-Manar. Nama yang diusulkan Rasyid dan disetujui Abduh. Dalam terbitan perdananya dijelaskan bahwa tujuan al-Manar sama dengan al-‘Urwah al-Wusqa, yakni sebagai media pembaharuan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, menghilangkan faham-faham yang menyimpang dari agama Islam, peningkatan mutu pendidikan, dan membela umat Islam dari kebuasan politik Barat.21

Pendidikan

Erat kaitannya dengan konsep “jihad” yang dikemukakannya, Rasyid menganjurkan umat Islam memiliki satu kekuatan untuk menghadapi beratnya tantangan dunia modern. Kekuatan itu hanya dapat dimiliki jika umat Islam bersedia menerima peradaban Barat. Jalan untuk memperoleh peradaban Barat itu ialah berusaha memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi Barat itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berlawanan dengan Islam, bahkan umat Islam wajib mempelajari dan

menerima ilmu pengetahuan dan teknologi itu bila mereka ingin maju.22 Dalam berbagai tulisannya, Rasyid mendorong umat Islam untuk

menggunakan kekayaannya dalam pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Menurut Rasyid, membangun lembaga pendidikan lebih baik dari membangun masjid. Baginya masjid tidaklah besar nilainya apabila

21 Kurnial Ilahi. hlm 58

(17)

orang-orang yang shalat di dalamnya hanyalah orang-orang bodoh. Dengan membangun lembaga pendidikan, kebodohan dapat dihapuskan dan dengan demikian pekerjaan duniawi dan ukhrawi akan menjadi baik. Satu-satunya jalan menuju kemakmuran adalah perluasan pendidikan secara umum.

Di bidang pendidikan ia mendirikan sekolah sebagai misi Islam

dengan nama Madrasah al-dakwah Wa al-Irsyad di Kairo pada tahun 1912 M. Para alumni madrasah ini disebarkan keberbagai dunia Islam. Muhammad Rasyid Ridha sebagai penggerak pembaharuan Islam yang masih condong pada ajaran-ajaran Ibnu Taimiyah. Ia sebagai penyokong aliran Wahabi, karena dalam ajaran aliran tersebut dikemukakan pengakuan bermazhab salaf yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam kepada al-Qur’an dan al-Hadis.

Agama

Ada beberapa faktor yang menyebabkan umat Islam lemah dan jauh ketinggalan oleh orang Barat, di antaranya Islam telah kemasukan ajaran-ajaran yang nampaknya Islam, tetapi sebenarnya bukan. Hal itu menyebabkan umat Islam melaksanakan ajaran yang tidak sesuai lagi dengan ajaran Islam sebenarnya.

Menurut Rasyid Ridha, umat Islam dapat mengejar ketinggalannya dari bangsa Eropa, jika mereka kembali kepada ajaran Islam sebenarnya sebagaimana telah diajarkan Nabi Muhammad saw dan dipraktekkan oleh sahabat.23 Dengan demikian, Rasyid menganjurkan untuk menggali

kembali teks al-Qur’an.

Ijtihad adalah modal awal demi keberlangsungan syariat Islam yang memenuhi seluruh kebutuhan pembaruan “karena syariat Islam adalah syariat penutup dari Tuhan, dan hikmah dari semua itu adalah bahwasanya Allah swt, telah menyempurnakan agama ini dan menjadikannya agama

(18)

yang universal antara ruh dan jasad, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada umatnya untuk berijtihad yang benar dan dalam mengambil istinbat. Kedua sisi ini sangat sesuai dengan kemaslahatan manusia di setiap tempat dan waktu.

Politik dan Hukum

Walaupun Rasyid Ridha mengakui kemajuan peradaban Barat, tetapi dia tidak setuju dengan ide kebangsaan yang dibawa bangsa Barat. Menurut Rasyid, umat Islam tidak perlu meniru ide kebangsaan Barat, karena dalam Islam rasa kebangsaan itu dibangun atas dasar keagamaan. Sejalan dengan konsepnya ini, Rasyid merindukan pulihnya kesatuan dan persatuan umat. Ia mengajak umat Islam untuk bersatu kembali di bawah satu sistem hukum dan moral. Untuk melaksanakan hukum harus ada kekuasaan dalam bentuk negara. Negara yang dianjurkan Rasyid Ridha ialah negara dalam bentuk kekhalifahan. Kepala negara dibantu oleh ulama-ulama pembantu. Khalifah hendaklah seorang mujtahid, karena ia mempunyai kekuatan legislatif. Di bawah kekhalifahan seperti inilah kesatuan dan kemajuan umat dapat tercapai.24

Konsep kekhalifahan yang diajukan Rasyid sebagai yang termuat dalam buku al-Khalifah, kelihatannya semata-mata hasil renungan dan pandangannya terhadap sejarah perjalanan khalifah al-Rasyidin. Dia hanya melihat pada fungsi negara dengan mengenyampingkan persepsi negara ditinjau dari sudut pertumbuhan penduduk. Dengan kata lain, Rasyid kurang menghayati dinamika sejarah pemerintahan Islam pada zaman klasik dan

pertengahan. Secara administrasi, sistem kekhalifahan itu memancing instabilitas dan perebutan kekuasaan karena secara langsung menutup

kreativitas dan aspirasi rakyat. Tampaknya sistem kekhalifahan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

(19)

Pendedahan awalnya terhadap gerakan politik dan islah tercetus setelah terbaca jurnal al-‘Urwa al-Wuthqa yang diterbitkan pada tahun 1884 (yang dikeluarkan secara berkala selama 8 bulan) di Paris, oleh Jamal Din al-Afghani yang mengungkapkan ide-ide pembaharuan dan mengapungkan faham anti kolonialisme, pemberdayaan reformasi dan pemacuan ijtihad.

Semangat yang dipugar daripada pembacaan al-‘Urwa al-Wuthqa ini terus

menggilap karakter dan mengukuhkan daya perjuangan Ridha, yang mengilhamkannya untuk berhijrah ke Mesir dan bergabung dengan al-Afghani dan Abduh bagi melanjutkan perjuangan Pan-Islamisme: “Setelah beliau [al-Afghani] meninggal, harapanku semakin tinggi untuk menemu

wakilnya Shaykh Muhammad Abduh untuk meraih ilmu dan pandangannya

tentang reformasi Islam. Aku menunggu sehingga terbukanya peluang pada

bulan Rajab tahun 1315 (1897) dan itu adalah sebaik saja aku menamatkan pengajian di Tripoli, memperoleh status ‘alim, dan tauliah untuk mengajar secara bebas, daripada mentor-ku, Shaikh Husayn al-Jisr. Kemudian itu

aku lansung berhijrah ke Mesir dan melancarkan al-Manar untuk menyeru

kepada pembaharuan.”

D. Murid dan Pengikut Muhammad Abduh

Harun Nasution (2011: 68-79) menguraikan tentang murid dan pengikut Muhammad Abduh, diantaranya:

Muhammad Farid Wajdi

(20)

menjadi argumen kuat untuk membuktikan kebenaran Islam. Dan ia juga brpendapat bahwa Islam sejati adalah yang sesuai dengan peradaban.

Farid Wajli juga mengarang ensiklopedia yang bernama Dairah Al-Ma’arif Al-Qur’an Al-Isyrin dan tersusun dari sepuluh jilid. Menurut keterangan buku itu ia karang tanpa bantuan orang lain. Ensiklopedi ini banyak mengandung ide-ide modern.

Syaikh Tantawi Jauhari

Syaikh Tantawi Jauhari adalah Murid Muhammad Abduh yang menonojolkan ajarannya tentang Sunatullah. Guru banyak menyebutkan Sunatullah yang tidak berubah-ubah, hukum alam yang diciptkan tuhan dan yang harus di patuhi alam dalam peredarannya. Oleh karena itu Syaikh Tantawi Jauhari banyak menulis tentang ilmu bintang dan ilmu alam dalam buku-buku Al-Jaj Al- Murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Al ulum (mahkota yang dihiasi dengan permata-mata Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan) Jamal al-’lam (keindahan alam), dan Al-Nizam Wa al-’alam (peraturan dan alam).

Qasim Amin

Qasim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di prancis dan mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Muhammad Abduh, sehingga beliau di katakan murid dan pengikut Muhammad Abduh karena sempat bergaul dan belajar bersama.

Di sini terdapat perbedaan antara guru dan murid, Muhammad Abduh masih terikat pada masa lampau dan memandang peradaban Islam di zaman klasik sebagai contoh yang harus ditiru, sedangkan Qasim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban Islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban Islam klasik. Kalau Rasyid Rida tidak seliberal guru. Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam keliberalan.

(21)

(Emansipasi Wanita). Menurut pendapatnya, umat Islam mundur karena kaum wanita, yang di mesir merupakan setengah dari penduduk, tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu, bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat memberikan didikan dasar bagi anak-anak.

Ia menantang pilihan sepihak, yaitu dari pihak pria dalam soal perkawinan, menurut pendapatnya, wanita harus di beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh. Oleh karena itu ia menuntut supaya istri diberi hak cerai, sungguhpun poligami di sebut dalam Al-Qur’an ia berpendapat bahwa Islam pada hakikatnya menganjurkan monogami.

Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah wanita dan pemisahan wanita dalam pergaulan bukanlah Ajaran Islam karna tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Menurut pendapatnyapenutupan wajah dan pemisahan wanita membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan.

Dari berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang di kemukakan Qasim Amin itu sehingga ia melihat perlu memberi jawaban yang keluar dalam bentuk buku bernama Al-Mar’ah Al-Jadidah (wanita modern) dalam buku itu ia lebih kuat lagi mempertahankan kebebasan wanita.

(22)

Sa’ad Zaglul

Sa’ad Zaglul seorang yang dikenal dengan Bapak kemerdekaan Mesir. Ia adalah sama dengan Muhammad Abduh, berasal dari lingkungan desa yang belum kenal pada Sekolah Modern. Pendidikan pertamanya di Madraah tradisional dan pada tahun 1871 ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar dan menjadi murid jamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh, bahkan ia turut serta dan pernah ditangkap bersama gurunya pada waktu menjalankan kegitan politik.

Sa’ad Zaglul pernah bekerja sebagai Pengacara dan Hakim. Maka untuk memperdalam pengetahuannya tentang Hukum Barat ia memasuki ”Perguruan Tinggi Hukum Prancis” di Kairo, namanya mulai di kenal pada tahun 1896, ia kawin dengan Putri Perdana Menteri yang ada pada waktu itu.

Tujuan politik Sa’ad Zaglul ialah mewujudkan ide gurunya, yait membatai kekuasaan otokrasi khedewi (sultan) Mesir dan melepaskan Mesir dari kekuaaan Inggris.

Sasaran politik utama Sa’ad Zaglul bukan lagi pemerintahan khedewi, tetapi kekuaan Inggris di Mesir. Tujuan utamanya ialah kemardekaan Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaannya. Paham Nasionalisme Sa’ad Zaglul sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, mengambil tanah air sebagai dasar, yang di perjuangkan ialah Nasionalisme Mesir dan bukan Nasionalisme Arab.

(23)

Ahmad Lutfi al- Sayyid

Ahmad Lutfi Al-Sayyid, seperti Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaqlul, ia berasal dari daerah pedesaan Mesir tetapi setelah memasuki Madrasah tradisional pindah ke kairo untuk belajar pada sekolah Modern.

Pada tahun 1889 ia meneruskan pelajaran pada Perguruan Tinggi Hukum. Di Kairo ia masuk ke dalam lingkungan teman dan murid Muhammad Abduh, ia banyak membaca buku karangan filosof-filosof barat.

Ide-ide Lutfi Sayyid ialah tentang ide kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasannya ialah dalam berfikir dan kemerdekaan dalam hidup kemasyarakatan dari ikatan-ikatan politik yang berlebih-lebihan. Negara yang menjadi idamannya ialah Negara yang bercorak Liberal, sedangkan Negara yang menjadi pimpinan oleh seorang rasa yang Absolut ia tantang, karena menurut pendapatnya kemerdekaan individu erat hubungannya dengan kemerdekaan Negara. Lutfi Sayyid juga menganut paham Nasionalisme, dan Nasionalismenya ialah Nasionalisme Mesir.

Ali Abd al- Raziq

Ali Abd Al-Rariq adalh putra dari seorang sahabat Muhammah Abduh tetapikarena masih kecil ia tidak sempat menjadi muridnya, setelah selesai dari Al-Azhar ia meneruskan studi di Oxford.

Persoalan di zaman Ali Abd Al-Raziq ialah tentang khalifah yang telah di hapuskan Mustafa Kamal pada tahun 1924. Dan persoalan ini menimbulkan kehebohan di dunia Islam, karena mereka menganggap sistem Khalifah merupakn ajaran daar dan penghapusannya bertentangan dengan Ilam

Ali Abd Al-Raziq berpendapat lain yang ia jelaskan dalam buku ”Al-Islam Wa Al-Hukm” (Islam dan ketatanegaraan), menurut pendapatnya sistem pmerintahan tidak di singgung-singgung oleh Al-Qur’an dan Hadits.

(24)

Abd Raziq itu akan memperlemah umat Islam, selain itu juga Ali Abd Al-Raziq mendapat tantangan keras yang datang dari Al-Azhar, mereka menganggap buku itu mengandung pendapat yang bertentangan denagn ajaran Islam. Sehingga Ali Abd Al-Raziq tidak dapat di akui sebagai seorang ulama, dan namanya dihapus dari daftar Al-Azhar, selanjutnya ia di pecat pula dari jabatan hakim agama yang dipegangnya

Taha Husain

Taha Husain berasal dari keluarga petani yang dimasa kecilnya mendapat penyakit yang membuat ia kehilangan penglihatannya. Setelah lulus dari madrasah ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar. Di sinilah ia bertemu dengan ide-ide Muhammad Abduh dan murid-muridnya, terutama Lutfi Sayyid. Selanjutnya ia belajar bahasa prancis, mengikuti kuliah di Universita Kairo dan kemudian pergi ke Paris. Di sana ia belajar selama empat tahun dan kawin dengan putri prancis. Setelah itu pada tahun 1919 ia kembali ke Kairoh dan bekerja sebagai Dosen di Universitas Kairoh dan Universitas Alexandria. Ia banyak mengarang terutama bidang Sastra Arab. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari Sastra Arab Jahiliah.

(25)

BAB III PENUTUP A. Simpulan

Jamaludin lahir di afganistan pada tahun 1839 dan meninggal dunia di istambul di tahun 1897, Menurut al- Afghani jalan untuk memperbaiki keadaaan umat Islam, menurut Al- Afghani ialah melenyapkan pengertian-pengertian salah yang di anut umat Islam umumnya, dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. Hati mesti di sucikan, budi pekerti luhur di di hidupkan kembali dan demikian pula kesedian berkorban untuk kepentingan umat. Dengan berpedoman pada ajaran-ajaran dasar, umat Islam akan dapat bergerak maju mencapai kemajuan

Muhammad Abduh berakar pada bumi pedusunan mesir. Dia lahir di sebuah dusun Delta sungai Nil pada 1849. Keluarganya terkenal berpegang teguh kepada ilmu dan agama. Pemikiran dari Muhammad Abduh meliputi: Akal dan Wahyu, Tafsir al- Qur’an. Pendidikan, Politik dan Peran Wanita.

Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun 1282-1354 H/1865-1935 M. Dia adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhammad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Keluarganya dari keturunan yang terhormat berhijrah dari Baghdad dan menetap di Qalmun. Kelahirannya tepat pada 27 Jumad

al-Tsanil tahun 1282 H/ 18 Oktober tahun 1865 M. Pemikiran Rasyid Ridha meliputi: Pendidikan, Agama, Politik dan Hukum.

Murid dan pengikut Muhammad Abduh, diantaranya: 1. Muhammad Farid Wajdi

2. Syaikh Tantawi Jauhari 3. Qasim Amin

4. Sa’ad Zaglul

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Utsman. 1953, Muhammad Abduh. Washington: American Council of Learned Societies

Ar, Sirojuddin. 2001. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ihctiar Baru

Asmuni. 1995. Dirasah Islamiah III: Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Ilahi, Kurnial. 2002. Perkembangan Modern dalam Islam. Riau: Lembaga Penelitian dan Perkembangan Fakultas Usuluddin UIN SUSKA dan Yayasan Pusaka Riau

Muhammad, Imarah. 2005. Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada

Nasution, Harun. 2011. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang

Referensi

Dokumen terkait

(2) Peraturan dan/atau Surat Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Lembaga. (3)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu sistem perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membantu perusahaan dalam proses perumusan tahap awal dan

Dapat disimpulkan bahwa body piercing adalah bentuk dari seni modifikasi tubuh dengan cara menindik bagian-bagian tubuh tertentu yang bertujuan untuk memakai perhiasan pada

Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan disposisi matematis siswa setelah menggunakan pembelajaran dengan model pembelajaran SSCS lebih

[r]

Berdasarkan nilai kisaran pH menurut EPA (Environtmental Protection Agency) untuk kehidupan organisme air adalah 6,5 – 8,5. Menurun nya kualitas air ditandai dengan semakin

Untuk interpretasi foto digital, karena adanya lubang bekas tali di tengah contoh uji untuk merangkai kayu, maka perhitungan persentase kerusakan dilakukan dengan dua cara:

384 IA KURNIA SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH BANDUNG. 385 WANDY ZULKARNAEN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI