BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hindia Belanda adalah masa dimana negara ini masih berada dibawah kekuasaan Belanda. Tahun 1602 VOC berdiri dan pusat perdagangan dipindahkan dari Ambon ke Jayakarta. Batavia adalah nama Jayakarta setelah diduduki oleh VOC sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Batavia didirikan oleh Jan Pieterszoon Coen pada 1619 sebagai sebuah benteng dan pos dagang di sebuah kota pelabuhan, Kelapa, yang jatuh ke tangan Banten dan waktu itu bernama Jayakarta. Orang Belanda membangun Batavia seperti negeri Belanda dengan banyak kanal kanal dan rumahrumah berarsitektur Belanda.
Batavia merupakan salah satu kota pelabuhan terpenting di era kolonial. Eksistensi orang Belanda di Jacatra membawa berbagai perubahan ekologi kota, baik secara infrastruktur, sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Perpindahan kekuasaan dari pemerintah lokal ke pemerintah kolonial ditandai dengan adanya perubahan nama kota dari Jayakarta menjadi Batavia. J.P. Coen dengan berbagai kebijakannya mencoba untuk menghadirkan Batavia layaknya Amsterdam di Nusantara dengan berbagai perubahan infraksturk di berbagai aspek. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan wajah kota Batavia yang semula dimitoskan sebagai kota yang membawa wabah dan bencana telah bertransformasi menjadi kota elite, strategis, dan krusial bagi perkembangan jaringan bisnis di Hindia Belanda dan dunia pada awal abad XX.
pemerintahan Kolonial Belanda diawali sekitar tahun 1864 dengan dibangunnya jalur rel kereta api dari Semarang sampai Tanggung, Jawa Tengah dan selanjutnya perkembangan kereta api di masa itu begitu pesat dengan dibangunnya berbagai jalur dan jaringan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Di Batavia juga terdapat pelabuhan Tanjung Priok yang masih memiliki keterkaitan dengan stasiun Tanjung Priok sebagai satukesatuan. Selain itu, untuk mendukung segala kegiatan juga dibangun jalanjalan yang menghubungkan antara kawasan di Batavia. Jalan Pos yang dibangun masa Daendels juga melalui kawasan Batavia. Jalan jalan di Batavia memiliki pola yang unik dan sampai sekarang jalan tersebut disekelilingnya terdapat bangunanbangunan peninggalan masa Hindia Belanda.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana infrastruktur berupa bangunan di Batavia pada masa Hindia Belanda?
1.2.2 Bagaimana infrastruktur berupa jalan raya di Batavia pada masa Hindia Belanda?
1.2.3 Bagaimana infrastruktur berupa transportasi di Batavia pada masa Hindia Belanda?
1.2.4 Bagaimana infrastruktur berupa pelabuhan di Batavia pada masa Hindia Belanda?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka dapat disusun tujuan sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui infrastruktur berupa bangunan di Batavia pada masa Hindia Belanda.
1.3.3 Untuk mengetahui infrastruktur berupa transportasi di Batavia pada masa Hindia Belanda.
BAB II PEMBAHASAN
Berdasarkan latar belakang di atas, maka di dalam pembahasan ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai berbagai infrastruktur yang ada di Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda dari abad 16 sampai awal abad 20 masehi, yakni sebagai berikut.
2.1 Infrastruktur Berupa Bangunan Di Batavia Pada Masa Hindia Belanda
Belanda (abad ke17 sampai akhir abad ke18), periode gaya transisi (akhir abad ke18—abad ke19), dan modernisme Belanda (abad ke20). Arsitektur kolonial Belanda di Jakarta dapat ditemui di gedunggedung seperti rumah atau villa, gereja, gedung pemerintahan, dan perkantoran di kota administratif Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.
dibelah Sungai Ciliwung. Sungai tersebut dialihkan ke sebuah kanal lurus (kelak disebut Grote Rivier atau Kali Besar). Kota baru ini bernama Batavia (sekarang Jakarta). Sesuai model Stevin, benteng Batavia adalah bangunan paling mencolok di kota ini dan melambangkan pusat kekuatan, sedangkan balai kota, pasar, dan bangunan umum lainnya tersebarsebar. Di dalam benteng, dibangun rumahrumah untuk para koloni, yang bentuknya mula mula sederhana seperti rumah penduduk asli, tetapi kemudian meniru rumahrumah dari negeri asal (Sumintardja,1978:115). Tata kota Jakarta yang ini bisa dilihat di Kota Tua Jakarta melalui penataan jalanan dan kanalkanalnya, meski banyak struktur asli abad ke17 sudah dihancurkan atau digantikan oleh struktur baru abad ke20.
Gambar.1 Kota Tua, terlihat Museum Fatahilah Sumber : www.wikipedia.com
reruntuhannya dipakai untuk membangun struktur baru di selatan, seperti Istana Gubernur Jenderal Daendels (sekarang Departemen Keuangan Indonesia) dari reruntuhan Kastil Batavia, dan Batavia Theatre (sekarang Gedung Kesenian Jakarta) dari reruntuhan Spinhuis. Menurut Sumintardja (1978:119) Ide itu dilaksanakan oleh Gubernur Jendral Daendels, dengan perintah membangun istana baru, pada tahun 1809. Bangunan yang besar, tetapi tidak pernah menjadi istana karena kekurangan biaya dan bergaya neorenainsance ini sekarang menjadi Departemen Keuangan. Selanjutnya, tanahtanah kosong di Kota Tua dimanfaatkan oleh strukturstruktur baru abad ke20. Struktur abad ke17—18 yang tersisa dijadikan warisan budaya Jakarta, misalnya Toko Merah, Gereja Sion, dan Museum Sejarah Jakarta.
Perencanaan kota Batavia, yang disusun atas perintah Gubernur Jenderal Spex, selesai tahun 1670 dan selama 150 tahun rencana itu dipertahankan dan dilaksanakan pembangunannya (Sumintardja,1978:117). Perencanaan Batavia sebagai kota air ternyata kurang tepat, karena berada di daerah tropis. Misalnya bangunan di muara Ciliwung semakin lama semakin jauh dari laut, juga terusanterusan di dalam kota mengganggu kesehatan dan sukar pemeliharaannya.
John Crawfurd dalam bukunya Descriptive Dictionary of The Indian Islands and Adjacent Countries (1856) menuliskan :
terbawa oleh angin darat bahkan ke jalanjalan di luar kota. Akibatnya, meluaslah penyakit demam yang mematikan. Keadaan ini makin parah selama 80 tahun sesudah Batavia didirikan, oleh serentetan gempa bumi hebat yang berlangsung pada tanggal 4— 5 November 1699. Gempa tersebut menyebabkan terjadinya gunung longsor, tempat pangkal sumber air ini. Aliran airnya terpaksa mencari jalan baru dan banyak lumpur terbawa arus. Tidak pelak lagi, sungai sungai di Batavia bahkan tanggultanggulnya penuh dengan lumpur. Penanggulangan keadaan buruk itu baru dilaksanakan waktu pemerintahan Marsekal Daendels pada zaman Perancis tahun 1809 (zaman Perancis sesungguhnya hanya berlangsung dari bulan Februari sampai Agustus 1811). Penanggulangan tersebut diteruskan sampai pada 1817 di bawah pemerintahan Belanda yang ditegakkan kembali. Banyak sungai di timbun dan kirikanan sungai dibentengi tanggul sampai sejauh satu mil masuk teluk. Operasi yang dilanjutkan oleh para insinyur yang cakap, berhasil menormalkan arus sungai tersebut. Sesudahnya Batavia tidak sehat daripada kota pantai tropis manapun. Bagian kota yang baru atau pinggiran kota tidak pernah mempunyai reputasi jelek” (www.jakarta.go.id).
Molenvliet (Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk), Riswijkstraat (Jalan Majapahit), Noordwijk (Jalan Ir.Juanda) dan Weltevreden (khusus untuk Weltevreden merupakan kawasan peristirahatan elite bagi para pembesar VOC waktu itu). Diantara gedunggedung dari abad tersebut yang masih dapat dilihat ialah gedung yang kini digunakan sebagai Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada. Gedung ini dahulunya pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Renier de Klerk (1777—1780) (Kutoyo,1978:46). Pada dasarnya wilayah Weltevreden bukanlah sebuah wilayah baru dalam peta Batavia. Wilayah ini sudah terbentuk sejak abad 17, bermula saat Anthonij Paviljoun membangun vilavila peristirahatan diatas lahan pemberian pemerintah kolonial tahun 1648 dengan nama Weltevreden. Kompleks perumahan inilah yang merupakan cikal bakal kawasan Weltevreden (letak kompleks tersebut saat ini berada disekitar Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto).
Rumah ini selanjutnya dinamakan Istana Weltevreden. Secara bertahap Weltevreden menjadi semakin lengkap dengan hadirnya gerejagereja baru, sekolah, klab dan lainlain yang semakin mempertegas ciri khas kota Eropa modern. Di daerah pedalaman Batavia, terutama pegunungan Priangan, dibangun perkebunan perkebunan yang luas serta pesanggrahan indah tempat tinggal juragannya, yang keindahannya melebihi hampir semua rumah di Nieuw Batavia. Realitas tersebut mengembalikan citra dan gelar “Ratu dari Timur” yang pernah disandang pada masa Oud Batavia (Hanna,1988:191).
bangunan ini baru selesai dibuat semasa pemerintahan Gubernur Jenderal Du Bus de Ghisignies (18261828).
Selain membuat Het Groote Huis, Deandels juga membangun sebuah lapangan yang menjadi lapangan terbesar di Asia sebagai tempat latihan para militernya. Lapangan ini dikenal dengan nama Bufflesveld/Champs de Mars. Tahun 1818 lapangan ini berganti nama menjadi Koningsplein/Lapangan Raja (sekarang Lapangan Monas). Ketika era Daendels berakhir, perkembangan pusat pemerintahan Batavia baru semakin terpusat diwilayah seputaran Koningsplein. Hal ini ditandai dengan dibelinya Istana Riswijk (Hotel van den GouverneurGeneraal) yang merupakan bekas rumah peristirahatan J.A Van Braam di tahun 1821 oleh pemerintah kolonial Belanda untuk digunakan sebagai gedung pemerintahan dan lokasi penginapan para Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat berkunjung ke Batavia (sekarang Istana Negara). Dikarenakan ruang Istana Riswijk yang kecil hingga tidak dapat menampung tamutamu undangan dalam upacara resmi kenegaraan, maka atas inisiatif Gubernur Jendral J.W Vans Lansberge tahun 18731879 dibangunlah sebuah istana baru dalam lahan yang sama. Istana ini kemudian diberi nama Istana Gambir (sekarang Istana Merdeka). Mulanya, yang saat ini menjadi istana Negara juga sebuah Landhuis (“Rijk wijk”) yang oleh pemiliknya sering disediakan sebagai tempat bermalam, bialaman Gubernur Jendral berdinas di Jakarta. Bangunan itu, berbatasan dengan sebuah lapangan bekas tempat penggalian tanah untuk pebrik bata ketika Batavia masih berpusat di Kota (lapangan itu sekarang menjadi lapangan merdeka) (Sumintardja,1978:119).
Republik Indonesia. Beberapa bangunan bersejarah masa lalu seperti Paleis van Daendels (Istana Daendels), Schouwburg (gedung kesenian Jakarta), Istana Riswijk (Istana Negara), Istana Merdeka, gedung Museum Nasional, Waterloplein (Kawasan Lapangan Banteng) dan Stasiun Weltevreden (Stasiun Gambir) tetap dipertahankan dan terawat cukup baik. Sementara wilayah yang tidak kalah penting seperti kawasan Senen, Tanah Abang dan kawasan MentengGondangdia yang merupakan kota taman pertama dalam tata kota modern selain dari jalur Thamrin SudirmanKuningan yang dikembangkan di era presiden Soekarno terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman.
Menurut Sunjayadi, salah satu faktor arus migrasi yang terjadi di Batavia adalah adanya potensi di bidang periwisata yang menawarkan Hindia Belanda, terutama Jawa, sebagai salah satu objek wisata dunia dengan tagline (semboyan) yang dikenal dengan Mooi Indie (Onghokham,2009:163—164).
Nieuwe Batavia dapat dikatakan telah mengalami tranformasi menjadi kota yang kosmopolitan dengan aspek yang melingkupinya. Nieuw Batavia dapat disejajarkan dengan kota kota besar dunia seperti Paris dan London. Kota ini menjadi semacam magnet dengan segala hal yang menjadi ciri kota urban tersedia di Batavia, mulai dari pusat pemerintahan, pusat kebudayaan, peluang bisnis, pendidikan, hiburan hingga sektor pariwisata.
2.2 Infrastruktur Berupa Jalan Raya Di Batavia Pada Masa Hindia Belanda
maka kita akan mengingat satu tokoh Belanda atau koloni yang telah membuka jalan raya pertama di Nusantara yaitu Gouverneurgeneraal (Gubernur Jenderal) Herman Willem Daendels. Daendels adalah perintis infrastruktur yang sangat luar biasa dampaknya bagi kemajuan ekonomi di Jawa, yakni pembuatan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) atau populer disebut Jalan Daendels.
Kompas (2008:16) menjelaskan sebagai berikut.
Jalan raya yang membentang dari Anyer hingga Panarukan dibangun oleh Herman Willem Daendels ketika menjabat sebagai GubernurJenderal di Jawa pada 14 Januari 1808 sampai dengan 16 Mei 1811. Berdasarkan dokumen yang ada, Daendels diangkat menjadi gubernur Jenderal di wilayah Hindia Timur pada 28 Januari 1807. Sebagai Gubernur Jenderal ia merupakan wakil kuasa negara Belanda, di bawah perintah menteri Perdagangan dan Koloni. Ia akan menjalankan kekuasaan tertinggi atas semua wilayah, benteng pemukiman, tempat pejabat negara di Asia dan sebagai penguasa tertinggi angkatan darat dan angkutan laut di wilayah Asia.
Sejak menjabat menjadi Gubernur Daendels pernah mengeluarkan dua kebijakan penting yang menjadi titik tolak perkembangan infrastruktur di Jawa antara lain Pembangunan kota modern terutama di Batavia (Jakarta), Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Surabaya, serta pembangunan jalan raya yang menghubungkan ujung barat dan ujung timur Jawa dan memfungsikannya sebagai jalur pos. Kompas (2008:18) menjelaskan “Rencana pembangunan jalan raya yang menghubungkan ujung barat dan timur Jawa dilaksanakan tidak hanya untuk memenuhi kepentingan pertahanan militer semata. Pembangunan jalan ini juga memiliki fungsi memenuhi kepentingan ekonomi”.
mahal. Dengan adanya jalan raya ini maka pengangkutan hasil bumi akan lebih mudah menuju pelabuhanpelabuhan, selain itu jalan raya ini berfungsi sebagai sarana komunikasi pos karena sulitnya komunikasi antara Batavia dengan kerajaan serta penguasa setempat, dan terutama untuk tujuan strategi dan kepentingan militer yaitu mobilisasi pasukan dengan cepat demi mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.
Hubertus (2008:284) menjelaskan sebagai berikut. “Untuk meningkatkan komunikasi, setelah kini Britania sepenuhnya mengendalikan laut, satu jalan raya dibangun dari Banten di barat sampai Pasuruan di timur. Sebagian besar pekerjaan dilakukan petani yang dipanggil untuk bekerja rodi. Jalan raya itu selesai dalam waktu satu tahun, dengan mengorbankan nyawa orang dalam jumlah besar.”
Jadi saat itu Daendels memerintah dengan tangan besinya, ia dikenal sangat kejam dikalangan pribumi, jalan raya itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Jalan Raya Pos menghubungkan kotakota berikut: Anyer Serang Tangerang Jakarta Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Sumedang Cirebon Brebes Tegal Pemalang Pekalongan Kendal Semarang Demak Kudus Rembang Tuban Gresik
Surabaya Sidoarjo Pasuruan Probolinggo Panarukan.
Gambar 2. Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Daendels. Sumber : www.wikipedia.org
penguasa pribumi lokal untuk memperdayakan rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Tenaga yang dikerahkan untuk pembuatan jalan bukan berasal dari wilayah di sekitar jalan karena penduduk yang tinggal disekitar jalur jalan raya ini sedang panen komoditas yang sangat diperlukan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, mereka diberi upah yang jumlahnya bervariasi disesuaikan dengan kondisi medannya. Pelaksanaan pemberian upah dibawah tanggung jawab Komisaris Urusan pribumi. Komisaris Urusan Pribumi diizinkan mengambil peralatan yang diperlukan dari gudanggudang di Batavia. Bersama para pengawas dan para bupati, peralatan itu dibagikan kepada para pekerja untuk memudahkan pembangunan (Kompas, 2008:2122). Jadi setelah pembangunan sampai di Cirebon, Daendels menemukan banyak masalah seperti lahan rusak, pemberontakan, dan terjadi kekosongan kas. Lalu ia memerintahkan untuk melanjutkan pembangunan dari Cirebon ke Semarang ke Surabaya ke Panarukan tetapi dengan meminta bantuan kepada Bupati untuk mengerahkan kerja wajib .
Toer (2005:20) menjelaskan bahwa pada mulanya Daendels memerintahkan perbaikan dan pelebaran jalan AnyerBatavia. Pertama kali Daendels mendarat di Anyer ia melalui jalan ini, jadi jalan ini sudah ada sebelumnya. Ia menempuh jarak itu dalam waktu 4 hari. Setelah dilebarkan dan diperkeras jalannya maka perjalanan dapat ditempuh dalam sehari saja.
kota tersebut, dan untuk menangkal serbuan Inggris tanpa bentang kota, ia pusatkan pertahanannya lebih ke selatan Weltevreden, ke Meester Cornelis, yang kemudian disebut Mester, dan kemudian dinamai Jatinegara (Toer,2005:49).
Disini dapat disimpulkan bahwa jalanjalan di Batavia semasa Daendels telah memenuhi syarat untuk pengangkutan pasukan militer, logistik, dan alatalat perang dari Mester sampai ke pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan terpusatnya militernya di selatan Weltevreden, pembangunan mulai tumbuh disana. Namun setelah pemerintahan Jepang mulai menguasai yaitu tiga setengah tahun Jakarta (Batavia) sudah tidak terurus lagi kebersihannya, aspal jalanan terkelupas, banyak jalan aspal yang berlubang karena beban truk, tank, dan panser Jepang.
2.3 Infrastruktur Berupa Transportasi Di Batavia Pada Masa Hindia Belanda
Gambar 3. Jaringan jalan Kereta Api pada tahun 1888 dan tahun 1925, di Pulau Jawa seperti yang terlihat di peta. Jaringan jalan Kereta Api di Jawa merupakan salah satu jaringan yang terlengkap di Asia pada jamannya.
Sebelum kereta api ada di Batavia, orang Belanda maupun pribumi menggunakan transportasi berupa trem kuda, akan tetapi orang Eropa menganggap trem kuda menurunkan kelas sosial mereka, karena siapapun boleh naik dan tidak membedakan ras serta kelas sosial mereka. (Blackburn, 2011:71). Kendaraan lain yang lebih popular adalah layanan trem uap yang menggantikan trem kuda pada 1881. Orang miskin—maksudnya orang Indonesia —naik dalam gerbong terpisah. Begitu populernya trem ini sehingga layanan yang awalnya berlangsung setiap 10 menit, pada 1889 harus diubah menjadi setiap 7,5 menit.
kereta api dan trem negara digabungkan dengan Gouverments Beddrijven atau Departemen Perusahaan Negara. Ketika trem berlokomotif uap menggantikan trem kuda yang ada di Batavia, kereta api dalam pengelolaan Nederladsche Indische Tramweg Maatschappij (NITM) tahun 1881, jalur trem uap ada disepanjang Tanah Abang, Rijwijk, Kramat, dan Meester Cornelis (Jatinegara).
Tahun 1899 trem berlokomotif listrik mulai ada di Batavia dibawah kelola Batavia Electriche Tram Maatschappij (BETM). Sedangkan kereta listrik pertamakali beroperasi tahun 1925 dengan jalur WeltevredenTandjoengpriok (Ngadimin,2013) Pembangunan jalur kereta di Tanjung Priok diakibatkan karena pintu masuk ke Batavia hanya ada di pelabuhan Tanjung Priok.
Menurut Widayanti (2012:6—7) menjelaskan bahwa; Stasiun Tanjung Priuk dibangun pertama kali pada tahun 1885 tepatnya satu kilometer di sebelah utara bangunan yang ada sekarang. Dikarenakan aktivitas dan tingkat keramaian di Pelabuhan Tanjung Priuk semakin melonjak mengakibatkan stasiun yang pertama tidak memadai lagi untuk menampung jumlah penumpang dan barangbarang kiriman yang terus meningkat dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan arsiteknya adalah C.W. Koch yang merupakan insinyur utama dari StaatsSpoormegen (SS perusahaan kereta api Negara Hindia Belanda yang berdiri sejak 6 April 1875. Stasiun Tanjung Priuk dibangun semasa pemerintahaan Gubernur Jendral A.F.W Indeenburg tahun 1914, dan merupakan stasiun pengganti dari stasiun lama yang dianggap tidak lagi memadai untuk menampung arus manusia dan barang. Stasiun Tanjung Priuk pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 6 April 1925 bertepatan dengan ulang tahun ke50 Staats Spoorwegen (instansi perkeretaapian Belanda) dengan jalur kereta listrik (trem) Tanjung Priok – Mesteer Cornelis menggunakan lokomotif listrik seri SS.3200 (lokomotif listrik pertama yang dioperasikan di Indonesia).
besar adalah hutan dan rawarawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priuk dengan kawasan pusat kota melalui Batavia Centrum (Stasiun Jakarta Kota). Meskipun bukan merupakan stasiun pusat, stasiun Tanjung Priuk dibangun di atas tanah seluas 46.930 m2 dengan luas bangunan 3.768 m2 yang megah dan mewah. Memiliki delapan peron sehingga nyaris sebesar stasiun Jakarta Kota.
Fungsinya pada masa itu tidak hanya untuk stasiun saja tetapi juga menyediakan penginapan bagi penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamarkamar penginapan tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang khusus disediakan untuk penumpang Belanda dan orang Eropa, serta dilengkapi dengan ruang di bawah tanah yang diperkirakan berfungsi sebagai gudang logistik.
Stasiun Tanjung Priuk diresmikan penggunaaannya tepat pada ulang tahun ke50 Staats Spoorwegen (SS) tanggal 6 April 1925 dan bersamaan dengan pembukaan jalur Tanjung Priuk Beos Jakarta Kota) yang dilayani kereta dengan lokomotif listrik seri ESS 3200 (buatan Werkspoor, Belanda) serta jaringan listrik aliran atas (LAA) yang terbentang mulai dari Tanjung Priuk Bogor, dan jalur lingkar sekitar Jakarta. Adapun stasiunstasiun di Batavia yaitu stasiun Jakarta Kota (1929), stasiun Pasar Senen (1916), serta stasiun Cikampek (1894). Jalur BataviaWeltevreden dilayani oleh dua jawatan yang berbeda yaitu Staatsspoorwegen (SS) sebagai milik pemerintah dan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang dikelola oleh swasta.
melewati stasiun Koningsplein. Kereta api pagi berangkat dari pukul 06.14 yakni rute Tandjong PriokBatavia, sedangkan kereta api terusan berangkat pukul 09.06 menuju Koningsplein. Rute Tandjong PriokKoningsplein dapat ditempuh dalam waktu 38 menit, dengan biaya 0,6 gulden untuk kelas satu dan 0,35 gulden untuk kelas dua.
Batavia Zuid (stasiun selatan) dibangun tahun 1870 dan tidak berumur panjang karena kemudian ditutup tahun 1926. Batavia Zuid (stasiun selatan) sekarang keberadaanya digantikan oleh Stasiun Kota karena stasiun Batavia Zuid dihancurkan dan kemudian dibangun Stasiun Kota, yang letaknya selisih 200 meter dari posisi awal, stasiun ini dirancang oleh arsitek Belanda yang bernama Frans Johan Louwerens Ghijsels. Selain itu juga terdapat Batavia Noord (Batavia Utara) yang awalnya merupakan milik NISM merupakan stasiun yang terminus yang kemudian diserahkan kepada SS.
2.4 Infrastruktur Berupa Pelabuhan Di Batavia Pada Masa Hindia Belanda
warna untuk ditukar dengan lada yang pada masa itu menjadi komoditas ungguksn pada saat itu.
Bangsa Eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Sunda Kelapa ialah Portugis. Pada saat Albuquerque menguasai Malaka merencanakan untuk mengirim tiga armada untuk membangun monopoli Portugis. Dua armada berhasil di kirim ke Maluku (untuk mencari cengkih), dan ke Sunda (untuk mencari lada). Armada yang dikirim ke pelabuhan Sunda Kelapa terdiri dari empat kapal layar yang dipimpin de Alvin. Sunda Kelapa adalah pelabuhan kerajaan Pakuan Pajajaran.
Menurut catatan Pires dalam buku Sejarah Nasional Indonsia (Soejono,2009:15−16), ia menjelaskan bahwa.
“Sunda memiliki beras untuk dijual sampai sepuluh jung setiap tahun, sayuran yang tidak terhingga macamnya, daging yang tak terhitung, celeng, kambing, domba dan sapi dalam jumlah yang besar, memiliki anggur serta buahbuahan. Sunda sama kayanya dengan Jawa. Orang Sunda sering pergi ke Jawa untuk menjual beras dan bahanbahan makanan, dan setiap tahun dua atau tiga jung dayang dari Malaka ke Sunda untuk mengangkut budak belian, beras, lada. Setiap tahun banyak pangajava dari Sunda ke Malaka dengan membawa barang barang dagangan tersebut, dan dari sana mengangkut barangbarang berikut ke Sunda”
Dari penjelasan Pires tersebut dapat disimpulkan bahwa pada saat itu Sunda telah melakukan perdagangan dengan Malaka, dan tanah Sunda memiliki kekayaan yang hampir sama dengan Jawa. Armada de Alvin yang datang ke Sunda Kelapa atas permintaan Raja Surawisesa, yang merasa terancam keamanannya oleh Cerebon yang telah menganut Islam. Ia meminta agar Portugis membangun benteng di wilayahnya untuk menghindari bahaya tersebut, dan sebagai imbalan Portugis akan mendapat prioritas dalam membeli lada.
beberapa hari, dan dikarenakan oleh pasukan Faletehan yang tujuan yang sama, mencari rempahrempah. Rempahrempah pada saat itu menjadi komoditas unggulan di Belanda karena berbagai khasiatnya seperti obatobatan, penghangat badan, dan bahan wangiwangian. Meskipun pada awalnya untuk berdagang, namun pada akhirnya tujuan itu bergeser menjadi upaya penguasaan wilayah. Melihat lokasi Jayakarta yang strategis, VOC berambisi menguasainya. Pada tahun 1610 Belanda membuat perjanjian dengan Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta penguasa Jayakarta dan membuat suatu perjanjian. Di dalam perjanjian tersebut Belanda diijinkan untuk membuat gudang dan pos dagang di timur muara sungai Ciliwung.
Setelah perjanjian disetujui Belanda pun mendapat keuntungan yang sangat besar akibat perdagangan rempahrempah yang mereka lakukan di negara asal, Belanda akhirnya melakukan ekspansi dan kemudian mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.
Dalam karyanya yang berjudul Itinerario, Linschoten menulis:
Di bawah kekuasaan Belanda, pelabuhan Sunda Kelapa direnovasi, yang semula pelabuhan Sunda Kelapa yang tadinya hanya memiliki kanal sepanjang 810 m, diperbesar hingga menjadi 1.825 m. Mulai Masuk abad ke19, pelabuhan Sunda Kelapa mulai sepi akibat terjadinya pendangkalan air di daerah sekitar pelabuhan sehingga menyulitkan kapal dari tengah laut yang hendak berlabuh, padahal saat itu Terusan Suez baru saja dibuka dan seharusnya menjadi peluang besar bagi Pelabuhan Sunda Kelapa untuk dapat berkembang lagi. Melihat potensi ini, Belanda mulai mencari alternatif lain untuk mengembangkan pelabuhan baru. Perhatian Belanda untuk mengembangkan pelabuhan baru tertuju pada daerah Tanjung Priok. Tanjung Priok kemudian berhasil berkembang menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia, peran pelabuhan Sunda Kelapa pun tergantikan oleh Pelabuhan Tanjung Priok ini. Keberadaan Stasiun Tanjung Priuk tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Priuk yang dibangun pada akhir abad ke19 oleh Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge. Pelabuhan Tanjung Priuk merupakan pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak lagi memadai (Widayanti, 2012:7).
pembangunannya dimulai 1877 dirampungkan pada tahun1883. Bersamaan dengan itu disisi lain dibangun pula bendungan sebelah barat sepanjang 1.765 meter dan bendungan sebelah timur sepanjang 1.963 meter. Kedua bangunan ini di bangun untuk penahan gelombang, sehingga dengan mudah dan aman kapalkapal untuk bersandar di dermaga.
Pada tahun 1912 alur pelayaran diperluas dari 250 meter menjadi 300 meter dan diperdalam dari 8 meter menjadi 9,5 meter. Gudang yang ketika itu jumlahnya 7 buah diperluas dan dermaga baru dibangun sepanjang 121 meter, ini masih belum cukup, karena pelayanan di laut harus diimbangi dengan pelayanan di laut.
BAB III PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Setelah VOC menentukan pusat perdagangannya di pulau Jawa, berkembang pula kota Batavia. Belanda tahun 1619, Belanda memutuskan agar kantor pusat Vereenigde Oostindische Compagnie dibangun di sini. Pada tahun 1808, Daendels secara resmi memindahkan pusat kota ke selatan karena kondisi kota terdalam yang memburuk dan wabah malaria. Perencanaan kota Batavia, yang disusun atas perintah Gubernur Jenderal Spex, selesai tahun 1670 dan selama 150 tahun rencana itu dipertahankan dan dilaksanakan pembangunannya. Sementara itu, pembangunanpembangunan Landhuis, semakin banyak di Batavia sebelah selatan. Yang terpenting ialah Landhuis Weltevreden dibangun tahun 1749 di sekitar jalan Nusantara sekarang. Daerah ini kemudian dijadikan pusat kota yang dipindahkan ke situ dengan nama Weltevreden.
DAFTAR RUJUKAN
Buku :
Basundoro, Purnawan. 2012. Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta: Ombak.
Blackburn, Susan. 2011. Jakarta Sejarah 400 Tahun diterjemahkan Gatot Triwira. Jakarta: Masup Jakarta.
Departemen Penerangan. 1978. Kereta Api Indonesia. Jakarta: Departemen Penerangan Republik Indonesia.
Hanna, Willard A. 1988. Hikayat Jakarta.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hubertus, Bernard. 2008. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: PT Gramedia,
(Online), (https://books.google.co.id), diakses tanggal 11 Oktober 2015.
Kompas. 2008. Ekspedisi AnjerPanaroekan: Laporan Jurnlistik Kompas.
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, (Online), (https://books.google.co.id), diakses tanggal 12 Oktober 2015.
Kutoyo, Sutrisno. 1978. Sejarah Daerah DKI Jakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Niemeijer,Hendrik E.2012. BATAVIA : Masyarakat Kolonial Abad XVII. Jakarta:Masup Jakarta.
Onghokham. 2009. “Hindia yang Dibekukan “Mooi Indiё” dalam Seni Rupa dan Ilmu Sosial”, dalam Harsja W. Bachtiar, dkk. Raden Saleh, Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme.Depok: Komunitas Bambu.
Pradjoko, Didik. Atlas PelabuhanPelabuhan Bersejarah di Indonesia.(Online). (www.books.google.co.id). diakses pada 12 Oktober 2015.
Shahab, Alwi.2010. Batavia Kota Hantu.Jakarta: Republika.
Sumintardja,Djauhari.1978.Kompendium Sejarah Arsitektur Jilid I.Bandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan.
Toer, Pramoedya A. 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara.
Jurnal Ilmiah :
Handinoto.1999. Perletakan Stasiun Kereta Api Dalam Tata Ruang KotaKota Di Jawa (Khususnya Jawa Timur) Pada Masa Kolonial. Jurnal Teknik dan Perencanaan,27 (2): 48.
Widayanti, Rina.2012. Analisis Perkembangan Gaya Arsitektur Pada Fasade Bangunan Stasiun Kereta Tanjung Priuk. Jurnal Ilmiah Desain Dan Konstruksi, 11 (2): 6—7.
Internet :
www.kompas.com www.jakarta.go.id
http://ngadimanholigooners.blogspot.co.id/2013/03/indonesia tempodoloe.html
.diunduh pada 11 Oktober 2015.