PENGELOLAAN
KAS NEGARA
PROGRAM DIPLOMA III KEBENDAHARAAN NEGARA
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
2016
ANALISIS
BELANJA
SUBSIDI
APBN
1.
PENGANTAR
Untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dan penguatan daya saing guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan, strategi yang dipilih adalah memperkuat stimulus fiskal, yang akan ditempuh baik melalui sisi pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran. Dari sisi pendapatan negara, pemberian insentif fiskal untuk kegiatan ekonomi strategis ditujukan untuk mendukung iklim investasi dan keberlanjutan dunia usaha. Sementara itu, dari sisi belanja negara, langkah yang ditempuh dalam meningkatkan ruang fiskal adalah: (1) optimalisasi pendapatan; (2) melanjutkan efisiensi subsidi; (3) efisiensi belanja; dan (4) pengendalian earmarking dan belanja wajib.
Jelas dari strategi fiskal yang akan dilaksanakan tahun ini, subsidi tetap akan ditekan seminimal dan seefektif mungkin demi menciptakan ruang fiskal yang lebih. Hal ini memang sudah seharusnya dilakukan mengingat pemerintah terus berusaha menggenjot pembangunan infrastruktur dengan meminimalkan utang sebagai sumber pembiayaannya. Untuk menciptakan ruang tersebut, dari sisi pendapatan, pemerintah akan terus menggenjot pendapatan dari segala sektor, terutama pajak dan PNBP, sedangan dari pengeluaran pemerintah akan berusaha meminimalkan pengeluaran, salah satunya adalah efisiensi subsidi.
Anggaran Program Pengelolaan Subsidi dalam belanja negara dialokasikan dalam rangka meringankan beban masyarakat untuk memperoleh kebutuhan dasarnya, dan sekaligus untuk menjaga agar produsen mampu menghasilkan produk, khususnya yang merupakan kebutuhandasar masyarakat, dengan harga yang terjangkau. Pemberian subsidi ditujukan untuk menjaga stabilitas harga barang dan jasa di dalam negeri, memberikan perlindungan pada masyarakat berpendapatan rendah, meningkatkan produksi pertanian, serta memberikan insentif bagi dunia usaha dan masyarakat. Dengan subsidi tersebut diharapkan bahan kebutuhan pokok masyarakat tersedia dalam jumlah yang cukup, dengan harga yang stabil, dan terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, penyaluran subsidi diupayakan lebih tepat sasaran kepada masyarakat.
Dalam rangka meningkatkan efisiensi subsidi menuju pencapaian belanja yang berkualitas, maka arah kebijakan subsidi tahun 2016 mencakup antara lain: (1) menjaga stabilisasi harga; (2) membantu masyarakat miskin dan menjaga daya beli masyarakat; (3) meningkatkan produktivitas dan menjaga ketersediaan pasokan dengan harga terjangkau; (4) meningkatkan daya saing produksi dan akses permodalan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
2.
SUBSIDI BBM DAN SUBSIDI NABATI
Realisasi belanja subsidi energi, dalam rentang waktu 2010–2014 secara nominal mengalami peningkatan sebesar Rp201.857,4 miliar atau tumbuh rata-rata 25,0 persen per tahun, yaitu dari Rp139.952,9 miliar pada tahun2010 menjadi Rp341.810,4 miliar pada tahun 2014.
Dalam tahun 2015,anggaran belanja subsidi energy mengalami penurunan yang sangatsignifikan, dari semula Rp341.810,4 miliar pada realisasi tahun 2014 menjadi Rp137.824,0 miliar dalam APBNP 2015 terutama akibat penurunan anggaran subsidi BBM akibat perubahan kebijakan dan parameter subsidi. Perkembangan belanja subsidi energy tahun 2010–2015 disajikan dalam grafik berikut
Penentuan subsidi BBM diatur dalam UU APBN yang dibuat setiap tahunnya.
Penentuan subsidi BBM dilakukan oleh pemerintah yang dikoordinasikan oleh kementrian ESDM dan kemudian diajukan persetujuan kepada DPR. Subsidi diberikan sesuai dengan kemampuan Negara di tahun yang bersangkutan
Subsidi tetap dan subsidi Mengambang
Mekanisme subsidi tetap yaitu memberi subsidi per liter BBM dengan plafon tertentu yang mengacu pada harga pasar. Misalnya, subsidi diberikan secara tetap sebesar Rp 500 atau Rp 1.000 per liter. Dengan pola itu, harga BBM bersubsidi bisa berubah setiap bulan, sesuai dengan perkembangan harga di pasar. Saat harga minyak dunia naik, maka harga BBM bersubsidi akan naik. Namun, saat minyak dunia merosot, maka harga BBM bersubsidi juga akan menurun.
3.
SUBSIDI LISTRIK DAN LPG
a) Subsidi Listrik
Subsidi Listrik adalah selisih kurang antara tarif tenaga listrik rata-rata (Rp/kWh) dari masing Golongan Tarif dikurangi BPP (Rp/kWh) pada tegangan di masing-masing Golongan Tarif ditambah marjin (% tertentu dari BPP) dikalikan volume
Subsidi Listrik diberikan kepada pelanggan dengan Golongan Tarif yang tarif tenaga listrik rata-ratanya lebih rendah dari BPP tenaga listrik pada tegangan di Golongan Tarif tersebut. Pemberian Subsidi Listrik dilaksanakan melalui PT PLN (Persero).
Subsidi Listrik dihitung dengan formula sebagai berikut:
S = - (TTL - BPP (1 + m)) x V
S= Subsidi listrik
TTL = Tarif tenaga listrik rata-rata (Rp/kWh) dari masing-masing Golongan Tarif BPP = BPP (Rp/kWh) pada tegangan di masing-masing Golongan Tarif
M = Margin (%) V = Volume Penjualan
Marjin dalam perhitungan pembayaran Subsidi Listrik merupakan marjin yang digunakan dalam perhitungan besaran Subsidi Listrik untuk menghasilkan angka Subsidi Listrik yang ditetapkan dalam APBN dan/atau APBN-Perubahan.
Besaran Subsidi Listrik disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kepada Menteri Keuangan sebagai usulan dalam rangka persiapan penyusunan Rancangan APBN dan/atau Rancangan APBN- Perubahan. Menteri BUMN dapat mengusulkan besaran persentase marjin kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
parameter pertumbuhan penjualan listrik, Volume Penjualan dan Bauran Energi. Laporan realisasi disampaikan secara triwulanan dan paling lambat 45 (empat puluh lima) hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.
BPP dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral cq. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan. Komponen BPP meliputi:
1. Pembelian tenaga listrik termasuk sewa pembangkit 2. Bahan bakar yang terdiri atas:
7. Beban bunga dan keuangan yang digunakan untuk penyediaan tenaga listrik
Direksi PT PLN (Persero) setiap bulan mengajukan permintaan pembayaran Subsidi Listrik kepada KPA. Permintaan pembayaran Subsidi Listrik untuk 1 (satu) bulan dapat disampaikan pada tanggal 1 (satu) bulan berikutnya. Berdasarkan permintaan pembayaran Subsidi Listrik, KPA melakukan penelitian dan verifikasi atas data pendukung. Hasil verifikasi, dituangkan dalam Berita Acara Verifikasi yang ditandatangani PPK dan Direksi PT PLN (Persero) selaku pihak yang diverifikasi.
Jumlah Subsidi Listrik yang dapat dibayar untuk setiap bulannya sebesar 95% (sembilan puluh lima persen) dari hasil perhitungan verifikasi. Tata cara pencairan dana Subsidi Listrik dalam rangka pelaksanaan kegiatan Subsidi Listrik dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kebijakan Subsidi Listrik
Menurut Nota Keuangan dan RAPBN 2014, anggaran subsidi listrik diberikan dengan tujuan agar harga jual listrik dapat terjangkau oleh pelanggan dengan golongan tarif tertentu. Subsidi listrik dialokasikan karena rata-rata harga jual tenaga listrik (HJTL)-nya lebih rendah dari biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik pada golongan tarif tersebut. Anggaran subsidi listrik juga dialokasikan untuk mendukung ketersediaan listrik bagi industri, komersial, dan pelayanan masyarakat. Selain itu, pemberian subsidi listrik diharapkan dapat menjamin program investasi dan rehabilitasi sarana/prasarana dalam penyediaan tenaga listrik. Sementara itu, dalam rangka mengurangi beban subsidi listrik yang terus meningkat, Pemerintah dan PT PLN (Persero) berupaya menurunkan BPP tenaga listrik, antara lain melalui:
2. Program diversifikasi energi primer di pembangkit listrik dengan melakukan optimalisasi penggunaan gas, panas bumi, batubara, biodiesel, dan penggantian high speed diesel (HSD) menjadi marine fuel oil (MFO).
Dalam rangka mengendalikan subsidi listrik, Pemerintah bersama DPR-RI sepakat untuk menurunkan subsidi listrik secara bertahap, dengan tidak mengorbankan masyarakat berpenghasilan rendah. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah telah melakukan penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rata-rata sebesar 15 persen pada tahun 2013 secara bertahap.
Pada 2015 PT PLN (PT Perusahaan Listrik Negara) sebagai BUMN listrik mengumumkan kenaikan tarif listrik untuk sejumlah kelas. Indonesia telah menaikkan tarif listrik dengan penyesuaian periodik berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan sejak 2013 (lihat Tabel 1 di bawah untuk uraian lengkapnya). Situs online PT PLN juga mulai mempublikasikan pengumuman tarif bulanan, sejak Mei 2014 (PLN, 2014). Berdasarkan peraturan terbaru yang ditandatangani pada 24 Desember 2014 oleh Sudirman Said, Menteri ESDM yang baru, tarif listrik akan ditetapkan oleh PT PLN, dan penyesuaian tarif akan dilakukan setiap bulannya, berdasarkan evaluasi nilai tukar RupiahUSD, harga minyak mentah Indonesia (CPI) dan tingkat inflasi. Peraturan ini mulai berlaku pada 1 Januari 2015.
pembangkit listrik PT PLN di Indonesia didominasi oleh batu bara dengan konsumsi tahunan sebesar 35,51 juta ton pada 2012 (PLN, 2013), jumlah tersebut setara dengan 57,35 persen konsumsi bahan bakar dari pembangkit listrik Indonesia (Pusdatin, 2014, hal. 96).
b) Subsidi LPG Tabung 3 Kg
Liquefied Petroleum Gas yang selanjutnya disebut LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk rnemudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau carnpuran keduanya.
Penyediaan dan pendistribusian LPG Tabung 3 Kg hanya diperuntukkan bagi rumah tangga dan usaha mikro. Penyediaan dan pendistribusian LPG Tabung 3 Kg dilaksanakan secara bertahap pada daerah tertentu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian LPG Tabung 3 Kg diawali dengan memberikan secara gratis tabung, LPG Tabung 3 Kg dan kompor gas beserta peralatan lainnya kepada rumah tangga dan usaha mikro. Pemberian hanya dilaksanakan sebanyak 1 (satu) kali.
Menteri menetapkan perencanaan volume penjualan tahunan LPG Tabung 3 Kg serta standar dan mutu (spesifikasi) LPG Tabung 3 Kg dengan mempertimbangkan :
a. Kebutuhan penggunaan LPG untuk rumah tangga dan usaha mikro; serta b. Usulan dari Badan Usaha
Dalarn rangka penyediaan dan pendistribusian LPG Tabung 3 Kg, Menteri rnenetapkan harga patokan dan harga jual eceran LPG Tabung 3 Kg untuk rumah tangga dan usaha rnikro. Menteri menetapkan harga patokan LPG Tabung 3 Kg setelah rnendapatkan pertirnbangan Menteri Keuangan. Menteri menetapkan harga jual eceran LPG Tabung 3 Kg didasarkan pada hasil kesepakatan instansi terkait yang dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonornian.
Penyediaan dan pendistribusian atas volume kebutuhan tahunan LPG Tabung 3 Kg dilaksanakan oleh Badan Usaha melalui penugasan oleh Menteri. Penugasan kepada Badan Usaha dapat dilakukan rnelalui penunjukan langsung dan/atau lelang. Penunjukan langsung wajib memenuhi ketentuan:
a. Perlindungan aset kilang rninyak dan gas dalarn negeri terrnasuk pengernbangannya dalam jangka panjang;
b. Jarninan ketersediaan LPG Tabung 3 Kg dalarn negeri; atau
c. Apabila hanya terdapat 1 (satu) Badan Usaha pernegang Izin Usaha Niaga Urnurn LPG untuk rnelaksanakan penyediaan dan pendistribusian LPG Tabung 3 Kg.
Pengolahan Gas Bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. LPG yang berasal dari pengolahan lapangan pada kegiatan usaha hulu wajib dijual kepada Badan Usaha pemegang lzin Usaha Niaga LPG dengan titik serah di lapangan kegiatan usaha hulu.
Penyediaan LPG yang berasal dari impor dilaksanakan oleh Badan Usaha pemegang lzin Usaha Niaga LPG sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan impor LPG oleh Badan Usaha dilakukan setelah mendapat rekomendasi Direktur Jenderal atas nama Menteri dan izin Menteri Perdagangan. Pengguna Langsung LPG dapat melakukan impor LPG setelah mendapat rekomendasi Direktur Jenderal atas nama Menteri dan izin Menteri Perdagangan. Pengguna Langsung LPG merupakan konsumen atau pengguna LPG untuk penggunaan sendiri dan tidak untuk dipasarkan danlatau diperjualbelikan.
Kebijakan harga LPG
Pada awal 2015 juga terjadi sejumlah perubahan dalam harga LPG. Pada 31 Desember 2014, Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran PT Pertamina, mengumumkan bahwa harga acuan LPG tabung 12 kilogram akan dinaikkan sebesar Rp 1.500 per kilogram (US$ 0,12 per kg), mulai dari 1 Januari 2015 (Bisnis, 2014). Ini menyebabkan harga LPG 12 kg naik dari Rp 7.569 menjadi Rp 9.069 per kg (US$ 0,61 menjadi US$ 0,73 per kg) (TribunNews, 2015). Dengan penambahan biaya pengemasan dalam tabung dan transportasi, serta pajak nilai tambah dan margin keuntungan distributor, akumulasinya menghasilkan harga eceran vendor PT Pertamina sebesar Rp 11.225 per kg atau Rp134.700 per tabung 12kg (US$ 0,90 per kg atau US$ 10,78 per 12 kg). Harga ini dapat menjadi lebih tinggi seiring biaya angkut dan faktor lain yang menyebabkan pengecer memutuskan untuk menggelembungkan harga. Di area di luar Jakarta terdapat laporan bahwa harga dapat mencapai Rp 12.500 per kg atau Rp 150.000 per 12 kg (US$ 1 per kg atau US$ 12 per tabung 12 kg) (Jakarta Post, 2015c; Merdeka, 2015b).
Pada tanggal 19 Januari terjadi penyesuaian harga kembali dalam bentuk penurunan. Biaya LPG tabung 12 kg diturunkan dari Rp 134.700 menjadi Rp 129.000 per tabung (US$ 10,7 menjadi US$ 10,3 per tabung) (Jakarta Globe, 2015).
Menurut pemerintah, LPG tabung 12 kg PT Pertamina adalah produk energi “non-subsidi”, dan berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.26/2009 pasal 25, harga LPG non-subsidi ditetapkan di tingkat perusahaan. Namun demikian, pada kenyataannya kewenangan penetapan harga perusahaan tidak sepenuhnya lepas dari campur tangan pemerintah. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa LPG tabung 12 kg telah dijual di bawah biaya pasokan selama bertahun-tahun dan upaya PT Pertamina untuk menaikkan harga LPG pada 2013 sempat dibatalkan setelah adanya instruksi dari Presiden Yudhoyono untuk meninjau ulang keputusan tersebut (Sindonews, 2013).
menaikkan harga LPG tabung 12 kg dari Rp 6.069 menjadi Rp 7.569 per kilogram (US$ 0,47 menjadi US$ 0,61 per kilogram) berlangsung pada September 2014, pada pemerintahan Yudhoyono (Bisnis.com, 2014). PT Pertamina menyatakan bahwa penetapan harga 8 yang tidak sesuai dan kesulitan dalam memperbaharui harga telah memaksa perusahaan tersebut menjual produk LPG non-subsidi dibawah nilai ekonominya.
Beberapa hari setelah kenaikan harga LPG baru pada 1 Januari, pasokan LPG tabung 3 kg berkurang di beberapa wilayah. Produk LPG 3 kg ini, yang secara resmi dianggap “disubsidi” negara karena dijual dengan harga yang lebih rendah, adalah produk yang sama dengan LPG 12kg, dan hanya berbeda karena produk ini dijual dalam kemasan yang lebih kecil dengan harga Rp 5.000 per kg atau Rp15.000 per tabung 3kg (US$ 0,40 per kg dan US$ 1,2 per 3kg), kurang dari setengah harga per kilogram untuk harga eceran LPG tabung 12kg saat ini. Produk ini dapat diakses dengan bebas oleh setiap pembeli tanpa memandang status ekonomi mereka. Setiap peningkatan kesenjangan harga mendorong konsumen untuk berpindah dari LPG non-subsidi ke LPG bersubsidi (MetroTVNews, 2015; JPNN, 2015).
4. SUBSIDI LGV DAN PERTANIAN
a) Subsidi LGV
Besaran subsidi BBM, LPG tabung 3 kg, dan LGV dalam RAPBN tahun 2016 sangat tergantung pada parameter, antara lain: ICP, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, da volume konsumsi BBM bersubsidi yang diperkirakan mencapai 17,9 juta kiloliter (kl) serta volume konsumsi LPG tabung 3 kg sebesar 6,17 metrik ton. Berdasarkan berbagai kebijakan dan parameter tersebut, maka anggaran subsidi BBM, LPG tabung 3 kg dan LGV dalam RAPBN tahun 2016 direncanakan sebesar Rp70.957,2 miliar atau naik sebesar Rp6.282,4 miliar bila dibandingkan dengan alokasinya dalam APBNP tahun 2015 sebesar Rp64.674,8 miliar. Subsidi tersebut antara lain terdiri atas: subsidi jenis BBM tertentu (JBT) tahun berjalan sebesar Rp20.325,9 miliar, subsidi harga atas LPG tabung 3 kg sebesar Rp27.000,4 miliar dan subsidi LGV sebesar Rp6,4 miliar. Lebih tingginya alokasi subsidi tersebut dikarenakan besarnya alokasi untuk pembayaran kurang bayar subsidi BBM, LPG tabung 3 kg dan LGV tahun sebelumnya.
b) Subsidi Pertanian
penyediaan beras murah melalui Perum Bulog. Penyaluran beras kepada RTS akan diberikan untuk 12 kali penyaluran, dengan kuantum sebanyak 15 kg per RTS per bulan dan harga jual sebesar Rp1.600,0 per kg. Kenaikan alokasi anggaran subsidi pangan terutama disebabkan oleh adanya kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) Gabah/Beras per 17 Maret 2015, dari semula Rp6.600,0 per kg menjadi Rp7.300,0 per kg sesuai Inpres Nomor 5 Tahun 2015 dan pembayaran kekurangan bayar subsidi tahun 2013 (hasil audit BPK).
Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional dan membantu petani mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau, Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk subsidi pupuk. Volume pupuk bersubsidi tahun 2016 direncanakan sebanyak 9,55 juta ton. Subsidi pupuk tetap diberikan dengan sistem tertutup melalui mekanisme rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Namun, mekanisme pelaksanaan subsidi langsung kepada petani akan dilakukan secara bertahap. Di samping itu, Pemerintah terus berupaya agar HPP ditetapkan mendekati harga keekonomian dan mengusulkan rencana kenaikan harga eceran tertinggi (HET) untuk mengurangi disparitas harga pupuk. Selain itu, Pemerintah terus mendorong peningkatan penggunaan pupuk organik dan pupuk majemuk berimbang, serta penyempurnaan basis data yang berbasis orang dan lahan. Untuk mendukung kebijakan tersebut, anggaran subsidi pupuk dalam RAPBN tahun 2016 direncanakan sebesar Rp30.063,2 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah Rp9.412,5 miliar bila dibandingkan pagunya dalam APBNP tahun 2015 sebesar Rp39.475,7 miliar. Lebih rendahnya alokasi anggaran subsidi pupuk tersebut dikarenakan pada tahun 2016 hanya dialokasikan bagi pembayaran subsidi pupuk tahun berjalan. Sementara itu, untuk tahun 2015 sebagian anggarannya dialokasikan untuk pembayaran kurang bayar tahun sebelumnya.
Untuk mendorong peningkatan produksi pertanian, Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk subsidi benih. Seperti pola pelaksanaan tahun 2015, pemberian subsidi benih tersebut dalam rangka menyediakan benih padi dan kedelai yang berkualitas dengan harga terjangkau oleh petani dan ketersediaan benih varietas unggul bersertifikat menjadi lebih terjamin, serta mudah diakses petani/kelompok tani. Besaran subsidi benih dialokasikan berdasarkan daftar usulan pembeli benih bersubsidi (DUPBB). Anggaran subsidi benih dalam RAPBN tahun 2016 direncanakan sebesar Rp1.023,8 miliar. Jumlah tersebut lebih tinggi Rp84,4 miliar bila dibandingkan pagunya dalam APBNP tahun 2015 sebesar Rp939,4 miliar.
5. BUNGA KREDIT DAN SUBSIDI LAINNYA
a) Subsidi Bunga Kredit
terhadap akses air minum melalui subsidi bunga air bersih kepada PDAM. Subsidi juga digunakan untuk program dalam rangka menunjang upaya peningkatan ketahanan pangan, mendukung diversifikasi energi, dan KUR . KUR adalah pembiayaan modal kerja dan atau investasi kepada debitur di bidang usaha sektor pertanian perikanan industri pengolahan, dan perdagangan yang terkait, ditujukan untuk usaha yang produktif dan layak/ feasible.
Subsidi ini juga disediakan untuk menutup selisih antara bunga pasar dengan bunga yang ditetapkan lebih rendah olehpemerintah untuk berbagai skim kredit program seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP),Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA),Kredit Usaha Tani, Kredit Koperasi, KreditPemilikan Rumah Sederhana (KPRS) dan Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana(KPRSS), termasuk beban resiko (risk sharing ) bagi kredit yang tidak dapat ditagih kembali (default ).
Tujuan subsidi bunga kredit program adalah untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pendanaan dengan tingkat bunga yang lebih rendah dari bunga pasar.
b) Subsidi Lainnya
Merupakan subsidi non energi yang tidak termasuk:
1. Subsidi Pertanian terdiri dari : Subsidi Pangan, Subsidi Benih, dan Subsidi Pupuk; 2.Subsidi Bunga Kredit Program;
3.Public Service Obligation (PSO); 4.SubsidiPajak/DTP
6. SUBSIDI PUBLIC SERVICE OBLIGATION (PSO)
DAN SUBSIDI PAJAK
a) Subsidi PSO
1. Dasar Hukum Pembebanan Kewajiban PSO pada BUMN
Dasar hukum pembebanan PSO pada BUMN terdiri dari landasan hukum yang bersifat umum dan landasan hukum yang bersifat khusus sesuai dengan BUMN pengemban PSO
a. Dasar hukum umum
2. Pasal 66 UU BUMN : “Pemerintah dapat memberikan penugasan khusus kepada BUMN untuk menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum dengan tetap memper hatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN.
b. Dasar hukum khusus
2. Landasan Filosofi Pembebanan PSO
Pembebanan PSO dilakukan untuk mewujudkan terlaksananya Pasal 34 Ayat 3 UUD 1945 bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelaya nan umum yang layak. Saat ini pembebanan PSO masih dilakukan oelh BUMN, namun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa PSO ini dibebankan pada Swasta dan Koperasi. BUMN sebagai pengemban PSO sudah diamanatkan dalam Pasal 66 UU BUMN. Dalam pelaksanaannya , pembebanan PSO harus memperhatikan:
a. Dilaksanakan secara efisien se hat dan dapat dipertanggungjawabkan.
b. Terpeliharanya kesehatan kesin ambungan usaha BUMN Pelaksana PSO.
Konsekuensi dari pembebanan PSO, maka BUMN/Swasta/Koperasi yang menjadi operator PSO tidak boleh merugi dengan alasan menanggung kewaiban pelayanan publik (PSO). Berdasarkan alasan tersebut, maka diperlukan suatu rumusan harga atau dana PSO yang diberikan, yaitu :
Harga Disepakati : BPP + Margin + Pajak
a. Tepat sasaran ( sesuai dengan Pasal 34 UUD 1945)
b. Kuantitas
c. Kualitas
d. Harga
e. Waktu pemberian PSO/subsidi.
3. Sepuluh Prinsip Alokasi PSO
Sepuluh prinsip berikut ini diusulkan untuk menjadi pegangan dalam mengalokasikan PSO, baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, BUMN, atau kontraktor swasta:
a. Penyediaan subsidi harus didasarkan pada peraturan sektor yang berlaku atau penyataan resmi kebijakan pemerintah.
b. Maksud dan tujuan subsidi harus ditentukan dengan jelas.
c. Para target penerima manfaat pelayanan yang disubsidi haruslah diidentifikasi secara tepat.
d. Rancangan subsidi hendaknya menunjang penyediaan dan penggunaan pelayanan yang efisien.
e. Rancangan subsidi hendaknya memfasilitasi dan mendukung terciptanya penyediaan pelayanan yang berkelanjutan dengan biaya anggaran yang semakin berkurang.
f. Subsidi-subsidi hendaknya disediakan untuk penyediaan output pelayanan tertentu daripada disediakan untuk input bagi produksi pelayanan.
g. Keuntungan yang diharapkan dari sebuah subsidi hendaknya sama dengan atau melebihi biaya yang diharapkan.
h. Jumlah subsidi hendaknya didasarkan pada biaya penyedian pelayanan yang efisien.
i. Tanggung jawab untuk mensubsidi sebuah pelayanan hendaknya terletak pada tingkat pemerintahan yang mengatur penyediaan subsidi tersebut.
4. Anggaran PSO Berasal dari APBN yang Pengelolaannya Tunduk pada Pengelolaan Keuangan Negara.
Pelaksanaan PSO oleh BUMN merupakan amanat konstitusi, yakni Pasal 34 Ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “ negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan pelayanan umu m yang layak bagi masya rakat”. Dalam implementasinya, pasal ini ditindaklanjuti oleh Pasal 66 UU BUMN yang mengatur bahwa “ bagi BUMN yang mendapat tugas mengemban kewajiban pelayanan umum (PSO), bila berdasarkan kajian finansial tidak visibel, peme rintah wajib memberikan kompen sasi atas semua biaya yang tel ah dikeluarkan oleh BUMN tersebut termasuk margin keuntungan yang diharapkan.
Berdasarkan regulasi mengenai pembebanan PSO pada BUMN di atas, pada prinsipnya tidak akan menimbulkan kerugian atau mengganggu kinerja BUMN p enerima PSO. Namun demikian dalam praktik, berdasarkan data banyak BUMN yang mengemban PSO merugi dengan alasan karena beban PSO. Merujuk pada mekanisme PSO berdasarkan amanat Pasal 66 UU BUMN seharusnya bila beban PSO dibiayai oleh pemerintah, seharusnya BUMN untuk non PSO harusnya dapat membukukan keuntungan.
5. Proses Penyelesaian Usulan PSO/Subsidi Tahap Awal
1. Pada tahap awal penyelesaian usulan PSO, BUMN akan mengusulkan kepada Departemen Teknis terkait atas penugasan PSO yang akan diberikan kepadanya yang isinya memuat antara lain :
a. Jenis kegiatan PSO
b. Sasaran kegiatan PSO
c. Jumlah produk yang akan didistribusikan
d. Harga njual yang akan diusulkan untuk disepakati
e. Perhitungan Biaya Pokok Produksi +Margin + Pajak
f. Besar dana subsidi atas kegiat an PSO yang harus dibayar Pemerintah
g. Kualitas Produk PSO
h. Waktu penyerahan produk PSO
i. Mekanisme distribusi produk.
2. Selanjutnya, Departemen Teknis setelah menerima usulan dari BUMN Operator akan menganalisa berdasarkan manajemen risiko atas usulan PSO tersebut dari berbagai sektor, dinataranya : landasan filosofi dan analisa 5 T.
pelaksanaan untuk selanjutnya dibahas bersama dengan Menteri Keuangan dan Bappenas untuk diberikan persetujuan.
6. Proses Penyelesaian Usulan PSO/Subsidi
Proses penyelesaian usulan PSO dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Kementerian /Lembaga mengajukan penugasan BUMN kepada Menteri Negara BUMN dan Menteri, selanjutnya proposal dibahas oleh Kementerian Negara BUMN, Departemen Keuangan dan Bappenas. Apabila disetujui maka akan dimasukkan dalam Rencana Anggaran Kegiatan Kementerian-Lemaga (RKA -KL).proses pengajuan proposal hingga persetujuan dan RKA-KL berlangsung dari bulan Januari sampai April.
b. Selanjutnya, Kementerian/Lembaga membahas RKA-KL khusus PSO/subsidi dengan Komisi teknis DPR. Berdasarkan hasil pembahasan Kementerian/Lembaga dengan Komisi Teknis DPR, Kementerian BUMN membahas PSO/ subsidi tersebut dengan Komisi VI yang selanjutnya men ghasilkan usulan PSO/subsidi kepada Panitia Anggaran. Kegiatan ini akan berlangsung di bulan Mei sampai bulan Agustus.
c. Panitia Anggaran membahas RKA-KL khusus PSO/subsidi tersebut dengan Departemen Keuangan did ampingi Kementerian BUMN untuk penetapan.dalam NK dan RAPBN, selanjutnya diajukan dalam sidang kabinet untuk dibahas dan ditetapkan oleh Presiden.
d. Berdasarkan NK dan RAPBN yang ditetapkan Presiden tersebut, Kemeterian/Lembaga mengajukan konsep DIPA PSO/subsidi kepada Menteri Keuangan untuk disahkan.
e. Berdasarkan DIPA yang telah disahkan tersebut, Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) Kementerian/Lembaga menarik dana PSO/Subsidi untuk diteruskan kepada BUMN pelaksana PSO/subsidi. Proses ini berlangsung di bulan September sampai Desember.
7. Formulasi Perhitungan Dana Subsidi
8. Pemisahan Administrasi Penugasan PSO dengan Kegiatan Komersial
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, PSO adalah aktivitas pelayanan umum yang membebani anggaran pemerintah , oleh sebab itu harus diorganisasikan daqn dipertanggungjawabkan dengan profesional sehingga dapat me menuhi tuntutan transparansi, kewajaran dan akuntabilitas. Selanjutnya agar dapat mencapai tujuan di atas, maka harus dilakukan pemisahan antara aktivitas komersial dan PSO. Pemisahan tersebut mencakup :
1. Pemisahan Organisasi
2. Pemisahan Pengelolaan Uang
3. Pemisahan administrasi.
Untuk menjamin akuntabilitas, sistem pengendalian yang baik akan memisahkan fungsi-gungsi sebagai berikut :
1. Fungsi Otorisasi
2. Fungsi Pengelolaan Uang
3. Fungsi Pengelolaan Persediaan
4. Fungsi Pencatatan
Pemisahan fungsi di atas, akan nampak jelas dalam struktur organisasi diikuti dengan job description dan span of controluntuk masing-masing individu dalam organisasi.
Salah satu kelemahan yang ditemukan dalam praktik, BUMN operator PSO tidak saja merugi dalam ak tivitas komersialnya, melainkan juga dianggap tidak mammpu mengemban penugasan kewajiban pelayanan publik tersebut. Berdasarkan hal itu, diperlukan pengelolaan risiko yang timbul akibat penugasan PSO oleh Pemerintah pada BUMN. Pengeloaan risiko ini sudah dimulai sejak tahap awal ketika anggaran PSO diusulkan. Dalam tiap tahapan selanjutnya, risiko harus dikelola dengan baik, agar BUMN tetap dapat menjalankan kegiatan komersialnya, sehingga tetap dapat berkompetisi dengan swasta.
Di sisi lain, pelayanan publik dapat dilakukan dengan optimal, yang pada gilira nnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945, khususnya Pasal 34 Ayat 3 UUD 1945. Manajemen risiko dalam pelaksanaan PSO meliputi tidak saja pada proses produksi dan distribusi, melai nkan harus ditindaklanjuti den gan pelaporan baik akuntansi komersial dan akuntasi manajemen. Selanjutnya pelaporan ini ditindaklanjuti dengan pertanggungjawaban.
Pembukuan yang terpisah antara kegiatan PSO dan non-PSO tidak akan mungkin bagi hampir semua BUMN karena kegiatan PSO dan kegiatan usaha lain mereka biasanya berkaitan erat. Misalnya, penjualan listrik PT. PLN kepada kategori tarif tertentu dapat berubah dari tarif PSO menjadi tarif komersil non-PSO jika tarif mengalami peningkatan atau jika biaya pelayanan mengalami penurunan. Demikian pula jika kapal-kapal PT. PELNI secara bersamaan memberikan pelayanan PSO dan non-PSO, maka biaya pelayanan pada setiap bentuk pelayanan tidak dapat dicatat secara terpisah.
Dengan demikian maka ketentuan Peraturan Pemerintah hendaknya diartikan bahwa BUMN-BUMN yang menerima pembayaran PSO harus mempertahankan manajemen pembukuan atau sistem penghitungan biaya pelayanan yang kompeten guna mengalokasikan biaya-biaya dan pendapatan secara tepat kedalam kategori pelayanan yang mereka berikan. Sistem ini harus didokumentasikan dengan benar, dengan aturan yang jelas menyangkut alokasi overhead dan biaya-biaya gabungan. Sistem-sistem tersebut juga perlu diaudit.
Laporan-laporan PSO tahunan yang wajib dipersiapkan oleh manajemen BUMN hendaknya dipandang sebagai instrumen-instrumen untuk meningkatkan transparansi subsidi pemerintah, dan hendaknya terbuka bagi publik. Di samping untuk mendokumentasikan biaya penyediaan pelayanan PSO, laporan tersebut sebaiknya juga memberikan informasi mengenai keuntungan yang diperoleh serta isu-isu seputar pelaksanaan PSO. Sebagai contoh, PT. PLN bisa diharapkan untuk mendokumentasikan jumlah pelanggan yang menerima subsidi pada tiap kategori tarif (sebaiknya berdasarkan wilayah) dan jumlah rata-rata subsidi per pelanggan menurut kategori tarif. Sedangkan bagi operator transportasi seperti halnya PT. KAI dan PT. PELNI, akan lebih baik jika ditetapkan prosedur penggunaan pelayanan (agar dapat melakukan identifikasi awal terhadap kegiatan usaha yang berpotensi terabaikan) dan menyediakan informasi yang relevan mengenai keadaan dan skala persaingan dari jasa transportasi lainnya.
11. Penugasan Kewajiban Pelayanan Publik atau Public Service Obligation (PSO)
Pada Swasta dan Koperasi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan ,salah satu kendala ba gi BUMN operator PSO adalah selain pen ugasan pemerintah untuk kewaji ban pelayanan publik, BUMN juga di tuntut untuk tetap berhasil me ngelola kegiatan komersialnya. Selama ini, banyak BUMM yang merasa penugasan atau pembebanan PSO ini justru mengganggu aktivitas komersia lnya, sehingga jangankan berkompetisi dengan swasta, untuk membuku kan keuntungan dari aktivitas komersialnya saja sudah cukup sulit. Tuntutan BUMN sebagai operator PSO adalah adanya kejelasan penugasan, dana PSO yang sesuai dengan tugas yang diemban serta mekanisme pemberian dana yang tepat dan dikelola secara profesional, oleh karena ituketerlibatan swasta bahkan koperasi dalam penugasan kewajiban pelayanan publik ini sudah selayaknya dipikirkan dalam rangka penyediaan failitas umum dan kesehatan bagi masyarakat.
Penugasan PSO pada swasta dan koperasi dapat dilakukan dalam bentuk penugasan atau tender. Adapun landasan yang digunakan dalam mekanisme penunjukan untuk mengatur alur proses produk/jasa PSO adalah :
1. Golongan masyarakat tertentu di wliyah tertentu/area tertentu.
2. Waktu
3. Volume
4. Harga.
komersial. Berbeda dengan PSO, dimana usulan datang dari BUMN yang selanjutnya dib ahas oleh Menneg BUMN, Departemen Keuangan dan Bappenas, maka USO diajukan oleh Departemen teknis- dalam hal telekomunikasi adalah Depkominfo. Landasan hukum USO adalah PP No : 52 Tahun 200 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP No : 28 Tahun 2005 Tentang Tarif PNBP di lingkungan Depkominfo. Selanjutnya Departemen teknis inilah yang mengajukan USO ke pemerintah , dan selanjutnya dibahas oleh Departemen Teknis dengan Komisi I D PR yang membidangi telekonunikasi. Dana USO berasal dari setoran/pun gutan sebesar 0,5 % dari pendapatan kotor seluruh operator, yang selanjutnya masuk ke dalam APBN dan merupakan DIPA /anggaran departemen teknis yang bersangkutan. Pelaksanaan USO dilakukan berdasarkan ten der, sehingga boleh diikuti oleh operator mana saja yang memiliki kualifiksasi, sampai diperoleh operator yang benar-benar memenuhi persyaratan yang dikehendaki. Pemenang tender adalah penawar terendah. Dengan mekanisme penugasan yang tepat, penunjukan pihak swasta dalam kewajiban pelayanan publik akan menghasilkan pelayanan yang optimal, mengingat swasta yang menjadi operator PSO memang ahli di bidangnya. Diharapkan di masa-masa mendatang, swata dapat berperan aktif dalam PSO, sepanjang tujuan dan land asan filosofi PSO tetap tercap ai, yaitu kesejahteraan masyarakat.
b) Subsidi Pajak
Pajak Ditanggung Pemerintah, yang selanjutnya disebut P-DTP, adalah pajak terutang yang dibayar oleh pemerintah dengan pagu anggaran yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup P-DTP sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini meliputi:
Menteri Keuangan menetapkan obyek pajak tertentu yang mendapat insentif fiskal P-DTP setiap tahun anggaran dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan sesuai Undang-Undang yang mengatur mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
2. Sumber Dana
Alokasi dana untuk P-DTP disediakan dalam DIPA Bagian Anggaran BUN Pengelola Belanja Subsidi.
3. Pejabat Pengguna anggaran
Menteri Keuangan adalah PA untuk P-DTP atas pendapatan P-DTP dan belanja subsidi P-DTP.
Menteri Keuangan selaku PA menunjuk Kuasa PA untuk pendapatan P-DTP.
Menteri Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Anggaran selaku PA Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara menunjuk Kuasa PA untuk belanja subsidi P-DTP.
Kuasa PA untuk Pendapatan P-DTP dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan c.q. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.
Kuasa PA untuk Belanja Subsidi P-DTP dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan c.q. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan.
Kuasa PA Belanja Subsidi P-DTP menerbitkan surat keputusan penunjukan
Kuasa PA atau PPK membuat SSP DTP atau formulir lainnya yang dipersamakan berdasarkan laporan realisasi dari instansi terkait.
Berdasarkan SSP DTP, PPK menerbitkan SPP dilampiri SSP DTP atau formulir penerimaan lainnya yang dipersamakan.
SPP beserta dokumen pendukung disampaikan oleh PPK kepada Pejabat Penandatangan SPM.
6. Penerbitan SPM P-DTP
Pejabat Penandatangan SPM menerima dan melakukan pengujian atas SPP beserta dokumen pendukung yang disampaikan oleh PPK.
Pengujian SPP dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penyelesaian tagihan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada satuan kerja.
SPM Belanja Subsidi P-DTP selanjutnya diajukan oleh Pejabat Penandatangan SPM ke KPPN dengan dilampiri SPTB P-DTP yang ditandatangani oleh PPK dan disertai dengan Arsip Data Komputer SPM.
SPM Belanja Subsidi P-DTP dibuat sesuai format SPM sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai tata cara penerbitan Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana.
7. Penerbitan SP2D
KPPN menerima dan melakukan pengujian atas SPM Belanja Subsidi P-DTP yang disampaikan oleh Pejabat Penandatangan SPM.
Pengujian SPM terdiri dari: a. pengujian substantif; dan b. pengujian formal.
Pengujian substantif dilakukan untuk:
a. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM;
b. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/subkegiatan/kode akun dalam DIPA atau dokumen pelaksanaan anggaran yang dipersamakan dengan DIPA yang ditunjuk dalam SPM; dan
c. menguji STB P-DTP.
Pengujian formal dilakukan untuk:
a. mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM, cap dinas kantor/satker Kuasa PA dengan spesimen yang diterima;
b. memeriksa kebenaran cara penulisan pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf, termasuk tidak boleh terdapat kesalahan dalam penulisan; dan c. memeriksa kebenaran dalam penulisan SPM, termasuk tidak boleh terdapat
kesalahan dalam penulisan.
Berdasarkan hasil pengujian SPM, KPPN melakukan:
a. penerbitan SP2D, apabila SPM yang diajukan telah memenuhi ketentuan pengujian; atau
b. pengembalian SPM kepada Pejabat Penandatangan SPM, apabila SPM yang diajukan tidak memenuhi ketentuan pengujian.
SP2D ditandatangani oleh seksi pencairan dana dan seksi bank/giro pos atau seksi bendahara umum pada KPPN.
SP2D diterbitkan dalam rangkap 2 (dua) dan dibubuhi cap timbul “KPPN” dengan peruntukan sebagai berikut:
a. lembar ke-1 kepada Pejabat Penandatangan SPM dengan dilampiri SPM lembar ke-2 yang telah diberi cap “Telah Diterbitkan SP2D Tanggal ... Nomor ...”; dan
b. lembar ke-2 sebagai pertinggal di Seksi Verifikasi dan Akuntansi dilengkapi SPM lembar ke-1 beserta dokumen pendukung.
Pelaporan atas transaksi P-DTP dilaksanakan oleh:
a. Kantor Pusat-Direktorat Jenderal Pajak c.q. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak selaku UAKPA untuk transaksi Pendapatan P-DTP; dan
b. Kantor Pusat-Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan selaku UAKPA atas Belanja Subsidi P-DTP.
UAKPA melakukan proses pencatatan dan pelaporan transaksi pendapatan dan belanja subsidi P-DTP berdasarkan dokumen sumber.
Dokumen sumber terdiri dari:
a. DIPA Satker belanja subsidi untuk Allotment belanja subsidi P-DTP; b. DIPA Satker KP-DJP untuk Estimasi Pendapatan P-DTP;
c. SPM; d. SP2D; dan
e. SSP atau formulir penerimaan lainnya yang dipersamakan.
DIPA berfungsi untuk mencatat estimasi pendapatan P-DTP bagi Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
SPM, SP2D, dan SSP atau formulir penerimaan lainnya yang dipersamakan berfungsi untuk mencatat realisasi pendapatan P-DTP.
Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak cq. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak harus menatausahakan dokumen sumber dengan baik.
DIPA berfungsi untuk mencatat alokasi anggaran Belanja Subsidi P-DTP bagi Kuasa PA Satker Belanja Subsidi P-DTP.
SPM, SP2D, dan SSP berfungsi untuk mencatat realisasi Belanja Subsidi P-DTP.
Satker Belanja Subsidi P-DTP harus menatausahakan dokumen sumber berupa DIPA Belanja Subsidi P-DTP, SPM, SP2D, dan SSP atau formulir penerimaan lainnya yang dipersamakan dengan baik.
Pasal 15
Pendapatan P-DTP dan belanja subsidi P-DTP diakui pada saat diterbitkan SPM dan SP2D Pengesahan.
Transaksi pendapatan P-DTP dicatat dengan kode akun sebagai berikut: a. Pendapatan PPh DTP sebagai berikut:
1. 411141 (Pendapatan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah); 2. 411142 (Pendapatan PPh Pasal 22 Ditanggung Pemerintah); 3. 411143 (Pendapatan PPh Pasal 22 Impor Ditanggung Pemerintah); 4. 411144 (Pendapatan PPh Pasal 23 Ditanggung Pemerintah);
5. 411145 (Pendapatan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi Ditanggung Pemerintah);
6. 411146 (Pendapatan PPh Pasal 25/29 Badan Ditanggung Pemerintah); 7. 411147 (Pendapatan PPh Pasal 26 Ditanggung Pemerintah);
8. 411148 (Pendapatan PPh final Ditanggung Pemerintah);
9. 411149 (Pendapatan PPh non migas lainnya Ditanggung Pemerintah). b. Pendapatan PPN DTP sebagai berikut:
2. 411232 (Pendapatan PPN Impor Ditanggung Pemerintah); 3. 411239 (Pendapatan PPN Lainnya Ditanggung Pemerintah). c. Pendapatan Pajak Lainnya DTP sebagai berikut:
1. 411631 (Pendapatan Bunga Penagihan PPh Ditanggung Pemerintah).
Transaksi belanja subsidi P-DTP dicatat dengan kode akun sebagai berikut: 551321 (Belanja Subsidi PPh Ditanggung Pemerintah);
Tata cara rekonsiliasi terhadap transaksi pendapatan DTP dan belanja subsidi P-DTP dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat.
Pertanggungjawaban P-DTP dilakukan melalui pelaporan terhadap seluruh transaksi P-DTP.
Seluruh transaksi P-DTP dilaporkan dalam:
a. Laporan Realisasi Anggaran pendapatan P-DTP pada Direktorat Jenderal Pajak dengan menggunakan SAI;
b. Laporan Realisasi Anggaran belanja subsidi P-DTP pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak selaku UAKPA belanja subsidi P-DTP dengan menggunakan SA-BSBL; dan
c. Laporan Arus Kas pada Kuasa Bendahara Umum Negara.
Transaksi P-DTP mempengaruhi kas pemerintah dan mendapatkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara.
Nomor Transaksi Penerimaan Negara merupakan nomor bukti transaksi penerimaan yang diterbitkan melalui Modul Penerimaan Negara.
Laporan Realisasi Anggaran dibuat sesuai format yang sudah ditentukan.
Laporan Arus Kas dibuat sesuai format yang sudah ditentukan.
Penyampaian Laporan Realisasi Anggaran pendapatan P-DTP dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah pusat;