• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN BERBASIS SIMULASI UNTUK MEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBELAJARAN BERBASIS SIMULASI UNTUK MEN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Draft Publikasi_2 | 1 PEMBELAJARAN BERBASIS SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASI

TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN PENELITIAN (STUDI PADA MATA KULIAH PSIKOLOGI EKSPERIMEN)1

Susilo Wibisono2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana efek pembelajaran berbasis simulasi dalam Mata Kuliah psikologi Eksperimen terhadap Efikasi melakukan penelitian eksperimen pada mahasiswa. Penggunaan metode pembelajaran ini mengacu pada kenyataan bahwa kompetensi psikologi eksperimen mencakupdua dimensi, yakni dimensi konsep dan dimensi teknik. Penelitian ini dikembangkan menggunakan metode eksperimental dengan desain equivalent time sample design. Pengukuran efikasi melakukan penelitian eksperimen didasarkan atas definisi efikasi dan indikator-indikator kemampuan melakukan penelitian eksperimen. Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pre test dengan post test I dengan nilai p = 0,011 (p<0,05). Sedangkan antara post test I dengan post test II dan post test III tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Selisih rerata antara pre test dengan post test I adalah sebesar 4,769 dengan post test I lebih tinggi dibandingkan pre test. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan level efikasi melakukan penelitian eksperimen secara signifikan antara pre test dan post test I, post test II dan post test III. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis simulasi pada Mata Kuliah psikologi Eksperimen dapat meningkatkan efikasi melakukan penelitian eksperimen pada mahasiswa.

Kata Kunci : efikasi melakukan penelitian eksperimen, pembelajaran berbasis simulasi

Pendahuluan

Kemampuan melakukan penelitian merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Oleh karenanya, penelitian yang diwujudkan dalam Tugas Akhir atau Skripsi menjadi syarat kelulusan bagi mahasiswa. Hal yang sama juga terjadi pada Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII). Pada Prodi Psikologi UII, kompetensi penelitian ini ditempuh oleh mahasiswa melalui kegiatan skripsi yang mewajibkan mahasiswa melakukan sebuah proses penelitian lapangan. Disamping itu, kompetensi penelitian yang diberikan kepada mahasiswa juga diberikan melalui beberapamata kuliahm yaitu Metode Penelitian Kuantitatif (semester III), Psikologi Eksperimen (Semseter IV), dan Metode Penelitian Kualitatif (Semester V). Ada beberapa pendekatan penelitian yang dimungkinkan untuk dikembangkan sebagai skripsi mahasiswa. Beberapa pendekatan tersebut antara lain penelitian kualitatif, penelitian kuantitatif survey, dan penelitian kuantitatif eksperimen.

1 Penelitian ini merupakan bagian dari program Hibah Peningkatan Mutu Pembelajaran yang

diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Akademik (BPA) UII

2 Dosen Program Studi Psikologi UII. Penulis dapat dihubungi melalui email :

(2)

Draft Publikasi_2 | 2 Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Akademik Fakultas, sebagian besar skripsi yang dikerjakan mahasiswa menggunakan pendekatan kuantitatif survey (85,95%), kemudian kualitatif (9,45%) dan pendekatan eksperimental (4,6%). Hal ini menunjukkan rendahnya minat mahasiswa untuk menguasai dan mengembangkan pendekatan eksperimen dalam psikologi serta rendahnya keyakinan akan kemampuan dirinya dalam mengembangkan metode tersebut pada penelitian skripsinya. Padahal, pendekatan eksperimen merupakan pendekatan yang paling ampuh untuk memahami kausalitas dalam fenomena perilaku dan gejala mental manusia.

Kenyataan di atas kontradiktif dengan kenyataan historis tentang 40 penelitian yang dikatakan “merubah psikologi” dan memiliki pengaruh paling besar bagi perkembangan ilmu psikologi. Keempatpuluh penelitian tersebut dikumpulkan oleh Hock (1999) menjadi sebuah bunga rampai yang terbagi dalam 10 bidang kajian, yaitu biologi dan perilaku manusia, persepsi dan kesadaran, belajar dan kondisioning, inteligensi, kognisi dan memori, perkembangan manusia, emosi dan motivasi, kepribadian, psikopatologi, psikoterapi, dan psikologi sosial. Yang menarik untuk diperhatikan adalah 32 dari 40 penelitian tersebut (80%) dikembangkan dengan pendekatan eksperimental. Sampai dengan saat ini, metode eksperimen masih digunakan dalam semua cabang psikologi, mulai dari psikologi klinis, perkembangan, sosial, pendidikan, dan psikologi industri & organisasi. Hal ini karena metode eksperimen merupakan metode yang paling akurat dalam menjelaskan sebab akibat dan paling akurat untuk mengevaluasi suatu program.

Kenyataan inilah yang menjadi pijakan bagi peneliti untuk mengembangkan kajian mengenai efikasi terhadap penelitian eksperimen yang dimiliki oleh mahasiswa. Efikasi merupakan keyakinan seseorang akan kemampuan-kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu hal (Bandura, 1997). Efikasi mengacu pada harapan yang dipelajari seseorang bahwa dirinya mampu melakukan suatu perilaku ataupun menghasilkan sesuatu yang diharapkan dalam suatu situasi tertentu (Bandura, 1997). Baron & Byrne (1994) menyatakan bahwa efikasi diri merupakan perasaan, penilaian seseorang mengenai kemampuan dan kompetensi yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas yang diberikan padanya. Menurut Myers (2005), efikasi adalah perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya kompeten dan efektif dalam melakukan suatu tugas. Marsh, Walker dan Debus dalam Woolfolk (2004) menyatakan efikasi fokus pada kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan sejumlah tugas dengan sukses. Pajares (Woolfolk, 2004) menyatakan bahwa efikasi adalah penilaian terhadap kompetensi diri dalam melakukan suatu tugas khusus dalam konteks yang spesifik. Mengacu pada definisi-definisi tersebut, efikasi dapat dikatakan sebagai variabel yang sangat penting untuk memprediksi kemampuan aktual yang dimiliki oleh individu atas suatu hal.

(3)

Draft Publikasi_2 | 3 di Prodi Psikologi UII pada semester keempat dengan menggunakan pendekatan interacitive lecturing. Mengingat materi Psikologi eksperimen memiliki dua domain, yaitu konsep dan teknis, maka metode interactive lecturing dirasa masih kurang mencukupi untuk membekali mahasiswa dengan indikator kompetensi yang dingin dicapai. Hasil wawancara dengan mahasiswa angkatan 2007 yang telah lulus mata kuliah ini menyatakan bahwa penyajian mata kuliah ini masih belum menjawab kebutuhan mahasiswa, sehingga dipersepsi terlalu sulit oleh mahasiswa. Penyajian yang menggunakan metode konvensional terkesan tidak mengindahkan apakah mahasiswa telah menguasai materi yang disampaikan atau belum. Demikian juga dengan format praktikum yang dirasa kurang merepresentasikan kenyataan yang sesungguhnya terkait dengan metode eksperimen dalam psikologi.

Mengacu pada hal tersebut, maka peneliti mengembangkan metode pembelajaran berbasis simulasi untuk Mata Kuliah Psikologi Ekseperimen. Pembelajaran berbasis simulasi pada dasarnya bukanlah hal yang baru. Strategi ini banyak digunakan dalam pendidikan teknik, khususnya industri dan pendidikan militer. Simulasi menjadi suatu yang penting seiring dengan perubahan pandangan dalam pendidikan yang melihat pendidikan bukan hanya sebagai proses pengalihan isi pengetahuan, melainkan lebih pada aplikasi teori ke dalam realitas kehidupan (Angehrn, 2004). Simulasi juga merupakan kegiatan untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan keterampilan untuk menemukan dan memecahkan masalah. Strategi ini dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dan akan menjadi bagian dari suasana pendidikan.

Tinjauan Teoritik

Efikasi terhadap Penelitian Eksperimen

Efikasi diri pada dasarnya adalah hasil proses kognitif berupa keyakinan tentang sejauhmana individu mengestimasi kompetensi dirinya atas suatu tugas tertentu. Hal ini mengandung arti bahwa efikasi diri terkait dengan sejauhmana individu mampu menilai kemampuan, potensi, serta kecenderungan yang ada dalam dirinya guna mengerjakan sesuatu yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Bandura (1997) juga menekankan bahwa efikasi diri merefleksikan kepercayaan individu bahwa dirinya mampu mengatasi tantangan atau problem yang sedang dihadapi (Bandura, 1997).

Tingkat efikasi diri yang tinggi secara esensial mengindikasikan bahwa individu percaya dan yakin akan kemampuannya untuk mengerjakan suatu tugas secara lebih efektif daripada individu yang memiliki efikasi rendah (Jex, dkk., 2001). Jex,dkk (2001) mengungkapkan bahwa tingginya efikasi diri mengindikasikan keyakinan individu bahwa dirinya memiliki potensi untuk mengerjakan suatu tugas secara lebih efektif dibandingkan individu dengan efikasi diri rendah.

(4)

Draft Publikasi_2 | 4 tanpa didasari oleh penghayatan terhadap kompetensi yang dimiliki. Bandura (1997) mengungkapkan bahwa efikasi diri berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai, sedang efikasi diri menggambarkan penilaian kemampuan diri. Bandura (1997) berpendaapat bahwa efikasi diri lebih penting dari kemampuan yang sebenarnya karena hasil penilaian diri akan mempengaruhi cara berfikir, reaksi emosi dan perilaku individu terkait dengan suatu keterampilan tertentu. Kemampuan mengembangkan penelitian eksperimen merupakan kemampuan yang penting bagi lulusan prodi psikologi. Penelitian eksperimen merupakan bentuk penelitian yang berorientasi pada upaya untuk menjelaskan kausalitas antara dua fenomena. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa dalam penelitian eksperimen, seorang peneliti tidak cukup hanya memiliki kemampuan terkait dengan analisis data dan elaborasi teori saja, melainkan juga harus memiliki pemahaman mengenai desain penelitian eksperimen.

Pembelajaran Berbasis Simulasi pada Mata Kuliah Psikologi Eksperimen

Fanning & Gaba (2007) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis simulasi diterapkan melalui empat fase, yaitu fase orientasi, fase latihan, fase simulasi dan fase debriefing. Fase orientasi berisi penjelasan mengenai topik dan memberikan gambaran tentang simulasi yang akan dikembangkan. Fase ini memungkinkan terjadinya tanya jawab dan diskusi agar peserta didik lebih memahami bagaimana simulasi akan dikembangkan dan dilaksanakan. Fase latihan berisi penjelasan mengenai jalannya simulasi, aturan main, pemegang peran, prosedur keputusan, dan pembagian peran pada peserta didik. Fase pelaksanaan simulasi memposisikan pendidik sebagai fasilitator dan memberikan koreksi atau umpan balik ketika simulasi yang dikembangkan menyimpang dari konsep yang telah disepakati. Pada fase debriefing, dijelaskan proses simulasi yang telah dilaksanakan dan membandingkannya dengan proses yang sebenarnya. Fase debriefing ini juga membuka diskusi bagi peserta didik agar lebih memahami apa yang telah dilaksanakan selama proses simulasi.

Tracer study yang pernah dilakukan pada tahun 2007 menyatakan ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan Prodi Psikologi UII, yaitu wawasan interdisipliner dan psikologi terapan, kompetensi interpersonal, kompetensi intrapersonal, kompetensi teknologi informasi, kompetensi ilmiah, kompetensi HRD, kompetensi praktis, orientasi pada nilai-nilai mulia, kompetensi organisasi/manajerial, kompetensi evaluasi perilaku, dan kompetensi teoritis/konseptual (Zulaifah, Kurniawan dan Nu’man, 2007).

(5)

Draft Publikasi_2 | 5 lulusan psikologi ditunut untuk mampu melakukan evaluasi dan menganalisis dampak yang ditimbulkan dari suatu proses yang telah dilaksanakan, seperti pelatihan persiapan Ujian Nasional misalnya. Dalam konteks ini,mata kuliah psikologi eksperimen mengandung delapan sub kompetensi, yaitu kompetensi interpersonal, kompetensi intrapersonal, kompetensi teknologi informasi, kompetensi ilmiah, orientasi pada nilai-nilai mulia, kompetensi organisasi/managerial, kompetensi evaluasi perilaku, dan kompetensi konseptual/teoritis.

Kemampuan interpersonal dalam psikologi eksperimen terrefleksikan dalam interaksi yang harus dibangun peneliti psikologi eksperimen, baik dengan eksperimenter maupun partisipan penelitian. Pola pendekatan yang terbangun antara peneliti dengan eksperimenter dan partisipan merupakan jaminan bahwa penelusuran data yang dilakukan akan dapat memunculkan kondisi sebenarnya dari apa yang ingin dievaluasi oleh peneliti. Meskipun demikian, hal ini tidak bersifat mutlak. Evaluasi variabel penelitian yang dilakukan dengan menggunakan observasi boleh jadi tidak memerlukan interaksi yang demikian.

(6)

Draft Publikasi_2 | 6 Gambar 1. Peta Konsep Mata Kuliah Psikologi Eksperimen di Prodi psikologi UII

Sumber : Dokumen Course Outline

Mengacu pada kompleksitas kandungan kompetensi yang ada dalam mata kuliah psikologi eksperimen, maka pendekatan pembelajaran yang hanya berorientasi pada pemahaman saja tidak akan mencukupi, sehingga perlu dikembangkan model pembelajaran yang juga berorientasi pada implementasi. Aktivitas pembelajaran berbasis simulasi merupakan interaksi antara ketiga fase dalam pembelajaran, yakni pemahaman atas konsep, manipulasi yang disimulasikan, dan klarifikasi antara proses simulasi dengan konsep (Chen, Hong, Sung & Chang, 2011). Hal ini menegaskan relevansi penggunaan metode pembelajaran berbasis simulasi untuk meningkatkan efikasi mahasiswa terhadap penelitian eksperimen.

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran berbasis simulasi dalam pembelajaran psikologi eksperimen terhadap efikasi penelitian eksperimen pada mahasiswa.

Metode Penelitian Desain Eksperimen

Desain eksperimen yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah desain equivalent time sample desain. Desain ini diterapkan dengan memberikan perlakuan secara periodik untuk mengevaluasi dampak dari perlakuan tersebut pada satu kelompok. Dalam bentuk yang lebih sederhana, desain ini digambarkan sebagai berikut:

Psikologi Eksperimen

Mengandung

Konsep

Teknik

Filosofi dan Sejarah

Ciri dan Tahapan

Jenis-jenis

Desain

Manipulasi dan pengamatan variabel

Controlling Extraneous Variables

Analisis data psikologi eksperimen

Etika penelitian psikologi eksperimen

Pemahaman, Penerapan, Analisis,

Manipulasi, dan Pengelolaan Penelitian

Eksperimen

Memuat

Memuat

Berorientasi pada

Berorientasi pada Dimensi

(7)

Draft Publikasi_2 | 7

O1 X O2 O3 X O4

Keterangan :

O = Pengukuran efikasi melakukan penelitian eksperimen

X = Pembelajaran dengan menggunakan metode berbasis simulasi

Definisi Operasional

Efikasi melakukan penelitian eksperimen dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tingkat keyakinan individu atas berbagai indikator kemampuan melakukan penelitian eksperimen dalam bidang Psikologi. Beberapa indikator yang digunakan dalam mendeskripsikan kemampuan ini meliputi:

- Mengembangkan desain penelitian eksperimen; - Merumuskan masalah dalam penelitian;

- Meyakinkan orang lain agar mengakui apa yang dipersepsikan sebagai masalah;

- Menulis dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah; - Merumuskan tujuan penelitian;

- Merumuskan manfaat penelitian;

- Memperoleh literatur yang qualified dari internet;

- Menulis dengan menggunakan literatur berbahasa Inggris; - Menjelaskan kepada orang lain tentang apa itu “Variabel”;

- Menuliskan indikator-indikator suatu variabel berdasarkan literatur Jurnal; - Membuat alat ukur sederhana terhadap suatu variabel;

- Menjelaskan prinsip-prinsip dalam random sampling;

- Merumuskan sebuah perlakuan berdasarkan variabel tertentu; - Mengelola sebuah aktivitas penelitian;

- Menganalisis data dengan menggunakan komputer;

- Melaporkan sebuah proses yang telah dilakukan secara tertulis; - Mempresentasikan hasil penelitian.

(8)

Draft Publikasi_2 | 8 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dikembangkan mengacu pada desain eksperimen yang digunakan. Dalam penelitian ini, teknik analisis data untuk mengkonfirmasi hipotesis adalah anava pengukuran berulang (Anava Repeated Measure).

Hasil Penelitian

Proses Pelaksanaan Penelitian

Penelitian eksperimen ini dikenakan pada sejumlah 66 mahasiswa yang mengambil mata kuliah PsikologI Eksperimen. Pertemuan dilakukan sebanyak 14 kali, yaitu 7 pertemuan sebelum UTS dan 7 pertemuan sesudah UTS. Pengukuran variabel dependen dilaksanakan sebanyak empat kali, yaitu sebelum pertemuan pertama (pre test), sesudah pertemuan ketujuh (post test I), sebelum pertemuan ke delapan (Post test II), dan sesudah pertemuan ke empat belas (Post test III). Asumsi yang dimunculkan terkait dengan proses penelitian ini adalah bahwa ada perbedaan Rata-rata skor efikasi yang signifikan antara Pre test dan Post Test I, yaitu bahwa Rata-rata Skor pada post test I secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor ketika pre test. Demikian juga dengan Post test II dan Post test III. Mengacu pada kondisi kehadiran mahasiswa yang fluktuatif, hanya ada 26 mahasiswa yang mengikuti pengukuran secara penuh, yakni pre test hingga post test III. Mengacu pada kondisi ini, maka analisis data hanya dapat dilakukan dengan data dari 26 orang partisipan.

Uji Asumsi Data Penelitian

Asumsi pertama yang harus dipenuhi menurut peneliti adalah normalitas data, yakni apakah data yang dimiliki memiliki distribusi normal atau tidak. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov pada distribusi data pretest hingga post test III diperoleh nilai KS-Z untuk pre test sebesar 0,477 (p=0,977), untuk post test I sebesar 0,734 (p=0,655), untuk post test II sebesar 0,955 (p=0,322), dan untuk post test III sebesar 0,549 (p=0,924). Mengacu pada nilai p untuk keempat distribusi data yang menunjukkan p >0,05, maka dapat dikatakan bahwa keempat distribusi data memiliki sebaran yang normal.

(9)

Draft Publikasi_2 | 9 Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan anava pengukuran berulang. Analisis ini dilakukan untuk melihat signifikansi perbedaan rerata antara pre test, post test I, post test II, dan post test III. Hasil analisis yang dilakukan menghasilkan nilai F = 2,168 dengan p = 0,112 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, tidak ada perbedaan yang signifikan pada keseluruhan tahap pengukuran. Akan tetapi, hasil analisis Least Significant Difference (LSD) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pre test dengan post test I dengan nilai p = 0,011 (p<0,05). Sedangkan antara post test I dengan post test II dan post test III tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Selisih rerata antara pre test dengan post test I adalah sebesar 4,769 dengan post test I lebih tinggi dibandingkan pre test. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan level efikasi melakukan penelitian eksperimen secara signifikan antara pre test dan post test I, post test II dan post test III. Dalam bentuk Gambar, hasil analisis tersebut ditunjukkan dalam Gambar 2 sebagai berikut:

Estimated Marginal Means of MEASURE_1

4 3

2 1

70

69

68

67

66

65

64

Gambar 2. Hasil Perbandingan Antar Tiap Tahap Pengukuran Efikasi Melakukan Penelitian Eksperimen

Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan berdasarkan perlakuan yang diberikan. Dalam konteks ini, perlakuan yang dimaksud adalah pembelajaran berbasis simulasi untuk Mata Kuliah Psikologi Eksperimen.

Diskusi

(10)

Draft Publikasi_2 | 10 merupakan prediktor paling signifikan untuk mengevaluasi kompetensi individu secara sederhana (Fai Tam, 2004). Selain itu, efikasi juga dapat dikembangkan untuk merubah sikap atau perilaku tertentu pada individu yang merefleksikan kompetensi. Beberapa fokus penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan hal ini antara lain penelitian mengenai fobia ular, perilaku merokok dan makan yang tidak terkontrol, peningkatan asertivitas, coping stress, peningkatan stamina fisik, keterampilan sosial, keterampilan teknik, performa akademik, penyembuhan penyakit, performa olahraga (Fai Tam, 2004), bahkan penurunan intensi masturbasi pada remaja (Apriyani, 2009). Oleh karenanya, pengukuran efikasi melakukan penelitian eksperimen dalam penelitian ini merupakan prediktor yang objektif dalam mengevaluasi kemampuan melakukan penelitian eksperimen pada mahasiswa. Pembelajaran berbasis simulasi yang diterapkan dalam Mata Kuliah psikologi Eksperimen berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang relevan. Hal ini mengacu pada kompetensi psikologi eksperimen bagi mahasiswa yang meliputi dua dimensi, yakni dimensi konsep dan dimensi teknik. Dimensi teknik dalam sebuah proses pembelajaran memiliki perbedaan dengan dimensi konsep. Pembelajaran atas dimensi teknik pada kompetensi tertentu memerlukan pendekatan yang bersifat praktis, dalam hal ini simulasi merupakan salah satu pendekatan yang sangat membantu mahasiswa dalam menyerap materi yang disampaikan.

Pembelajaran berbasis simulasi merupakan salah satu bentuk pembelajaran orang dewasa (adult learning). Pembelajaran orang dewasa mengandung kesulitan-kesulitan tertentu dibandingkan dengan proses pembelajaran anak-anak. Hal ini karena, asumsi terhadap peserta didik adalah bahwa peserta didik merupakan sosok yang telah memiliki muatan masa lalu, berupa pengetahuan, asumsi-asumsi dan perasaan yang dibentuk oleh pengalaman (Fanning & Gaba, 2007). Mahasiswa sebagai representasi peserta didik yang memiliki karakteristik orang dewasa cenderung lebih menyukai proses pembelajaran yang berbasis pada masalah dan memiliki kebermaknaan atau keterkaitan langsung dengan situasi kehidupannya. Mahasiswa juga lebih antusias ketika mereka mampu mengaplikasikan apa yang dipelajarinya (Fanning & Gaba, 2007). Pembelajaran berbasis simulai memiliki beberapa rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Setiap pelaksanaan simulasi harus didasarkan pada tujuan pembelajaran agar mahasiswa memahami ciri-ciri permasalahan dan memiliki arah dalam menemukan bagaimana memecahkan masalah. Pada akhir kegiatan simulasi, proses diskusi merupakan sesuatu yang penting untuk mengklarifikasi keterampilan, konsep dan nilai yang dipelajari.

Kesimpulan

(11)

Draft Publikasi_2 | 11 Daftar Pustaka

Apriyani. H. (2009). Efektivitas Pelatihan Efikasi Diri terhadap Intensi Masturbasi pada Remaja. Universitas Diponegoro. Skripsi (tidak diterbitkan).

Bandura, A. 1997. Self – Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H Freeman Company.

Baron, R. A & Byrne, D. 1994. Social Psychology: Understanding Human Interaction. 7th ed. Massachusetts: Allyn and Bacon

Chen, Y.L, Hong, Y.R, Sung, Y.T & Chang, K.E. 2011. Efficacy of Simulation Based Learning of Electronics Using Visualization and Manipulation. Educational Technology and Society, 14 (2), page: 297-277.

Fai Tam. S. (2004). Self - Efficacy as a Predictor of Computer Skills Learning Outcomes of Individuals With Physical Disabilities. Available at http://www.questia.com/PM.qst?a=o&d=76930905.

Fanning, R.M & Gaba, D.M. 2007. The Role of Debriefing in Simulation-Based Learning. Review Articles at Society for Simulation in Healthcare, Vol. 2, No. 2, Summer 2007.

Hock, R.R. 1999. Forty Studies that Changed Psychology: Explorations Into The History of Psychology Research. 3rd edition. New Jersey: Prentice Hall Inc.

Jex, M. Steve; Primeau, Jessica; Buzzell, Sheri; Bliese, D. Paul. (2001). The Impact of Self Efficacy on Stressor-Strain Relations : Coping Style as an Explanatory Mechanism. Journal of Applied Psychology. Vol. 86, No. 3, 401-409.

Myers, D. G. 2005. Social Psychology. 8th ed. New York: McGraw-Hill

Woolfolk, A. 2004. Educational Psychology. USA: Allyn and Bacon

Gambar

Gambar 1. Peta Konsep Mata Kuliah Psikologi Eksperimen di Prodi psikologi UII
Gambar 2. Hasil Perbandingan Antar Tiap Tahap Pengukuran Efikasi Melakukan Penelitian Eksperimen

Referensi

Dokumen terkait

akhlak agar lebih pintar memilih model pembelajaran dan jangan hanya menggunakan satu jenis model dalam proses belajar mengajar agar peserta didik tidak merasa jenuh dan

Hasil penelitian ini adalah dalam analisis risiko menggunakan metode OCTAVE-S, ditunjukkan bahwa perusahaan memiliki risiko keamanan tingkat sedang ( medium ) dengan

Dari hasil wawancara menunjukkan, semua jawaban adalah positif, maka faktor-faktor yang mendorong wirausahawan pada Usaha Laundry Mikro-Kecil di Lingkungan Sekitar Kampus USU

[r]

Analisa yang dilakukan meliputi analisa hidrologi yang bertujuan untuk mengetahui out put daya yang dapat dihasilkan PLTM, analisa Pekerjaan Sipil &amp; Mekanikal Elektrikal,

[r]

Kabupaten Pati memiliki tiga sentra usaha batu bata, yakni batu bata merah yang berasal dari Desa Karanglegi Kecamatan Trangkil, Batu bata merah dari Desa

Vratimo se na naˇsu aplikaciju. Imamo model User i htjeli bismo da svaki objekt tog modela moˇ zemo stvoriti, prikazati i izbrisati preko web preglednika kao ˇsto smo.. to do