A. LA TAR BELAKANG
Pasar modal Indonesia pada perkembangannya telah menunjukkan peran dan sumbangsihnya bagi perekonomian Indonesia. Perkembangan pasar modal Indonesia digerakkan oleh peran praktisi dan pelaku pasar modal serta peneliti dan ahli ekonomi dalam melihat gambaran perekonomian Indonesia.
Pada saat ini pasar modal telah tumbuh dan berkembang pesat dalam fungsinya untuk mempertemukan pihak yang menawarkan dan yang memerlukan dana jangka panjang. Bagi Indonesia yang tengah membangun dan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain, kehadiran pasar modal sebagai wahana dan altematif dalam berinvestasi mampu menarik minat banyak investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kondisi ini diharapkan dapat memperbaiki keterpurukan ekonomi dan membuat Indonesia bangkit dan mengejar ketertinggalannya dari negara lain khususnya dari negara-negara di Asia.
Investasi pada hakekatnya adalah penempatan sejumlah dana yang dimiliki saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Secara umum, investasi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu investasi pada aset fisiklberwujud (real asset) seperti pendirian pabrik, dan lain-lain, Sedangkan yang kedua adalah investasi pada aset keuangan (financial asset).
Investasi pada aset keuangan dilakukan di pasar uang dan pasar modal. Investasi di pasar uang misalnya berupa sertifikat deposito, surat berharga pasar uang, dan lain-lain. Sedangkan investasi di pasar modal misalnya berupa saham, obligasi, dan lain-lain.
Astuti (2004 : 49) menyatakan bahwa saham adalah sekuritas yang paling sering diperdagangkan dan dapat diterbitkan dengan cara atas nama atau atas unjuk. Sedangkan Young dan O'Byme (2001 : 7) menyatakan bahwa dalam perkembangan jaman, generasi investor muda baru muncul dan dibantu oleh pasar yang bergairah serta adanya bukti solid bahwa dengan wawasan investasi yang cukup luas, seseorang akan lebih baik berinvestasi dalam pasar saham dibandingkan dengan surat utang pemerintah ataupun rekening bank.
Investor yang akan menanamkan modalnya dalam bentuk saham pada sebuah perusahaan seharusnya memperhatikan dan mempertimbangkan kinelja keuangan perusahaan tersebut sebelum melihat aspek penting lainnya. Karena kinelja keuangan yang nampak dapat menunjukkan bagaimana modal dan asset yang sudah ada dikelola dan dikembangkan oleh perusahaan daiam usahanya untuk sustainable dan growth. Selain itu, apabila kondisi keuangannya baik maka diprediksikan perusahaan tersebut akan mampu membiayai kebutuhan akan modal dan kewajibannya serta kesinambungan dalam memberikan keuntungan bagi pemegang sahamnya di masa yang akan datang.
Namun alat pengukuran kinerja keuangan yang selama ini dikenal seperti analisa rasio memiliki keterbatasan yang bisa menimbulkan kurang akuratnya
hasil yang diperoleh. Menurut Sartono (2000 : 73) beberapa keterbatasan dari analisa rasio adalah sebagai berikut :
1. Rasio keuangan didasarkan atas data laporan akuntansi, sehingga perlu dipertimbangkan atas dasar apakah data tersebut dikembangkan.
2. Pembandingan dengan data-data atau standar industri tidak menjamin bahwa prestasi perusahaan telah memuaskan dan beroperasi (dikelola) dengan baik. 3. Apabila terdapat penyimpangan antara rasio yang telah dicapai oleh
perusahaan dengan rasio rata-rata atau standar industri, maka perlu dipertanyakan lebih jauh mengenai faktor yang menyebabkan penyimpangan tersebut. Karena tidak jarang sistem akuntansi yang dipergunakan dalam industri tersebut berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain. 4. Pemilihan metode penilaian persediaan dapat memberikan dampak yang besar
terhadap tingkat profitabilitas perusahaan dalam periode inflasi.
Lebih lanjut lagi dalam pandangan para ahli mengenai kelemahan rasio return on investment (ROI) yang biasanya digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan, Anthony dan Govindarajan (2002 : 266) menyatakan bahwa kesalahan konsep ROI untuk evaluasi kinerja adalah benar dan menyebabkan disfungsi bagi para manajer unit usaha. Meskipun demikian, hanya sedikit jumlah manajer yang mau mengakui adanya kesalahan tersebut dan banyak yang tidak sadar bahwa kesalahan tersebut terjadi.
Adanya keterbatasan dan kelemahan terhadap alat pengukuran kinerja keuangan tradisional seperti di atas telah mendorong para ahli dan eksekutif yang berkecimpung di bidang manajemen keuangan untuk menemukan alat pengukuran
kinerja keuangan yang Iebih baik. Salah satunya adalah metode Economic Value
Added atau lebih di kenai dengan EVA dan Market Value Added atau MV A, yang
ditemukan oleh Stem Stewart & Co. Management Services pada tahun I980-an. Stem Stewart & Co. dalam websitenya menyatakan bahwa "Economic Added Value is the financial performance that comes closer than any other to capturing the true economic profit of an enterprise. EVAR also is the performance measure most directly linked to the creation of shareholder wealth over time." Lebih jauh lagi Stem Stewart & Co. menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat yang bisa dicapai melalui metode EVA, yaitu :
l. Keuntungan sebagaimana yang diharapkan oleh Pemegang Saham
Dengan mengimplementasikan seluruh biaya modal ke dalam akun, termasuk juga biaya modal yang berasal dari saham, EVA dapat menunjukkan jumlah dollar dari kekayaan yang diciptakan atau dihancurkan oleh suatu bisnis dalam setiap periode laporan. Dengan kata lain, EVA adalah keuntungan sebagaimana definisi para pemegang saham. Apabila pemegang saham mengharapkan tingkat pengembalian investasi sebesar I 0 %, maka mereka memperoleh uang hanya untuk menambah bahwa jumlah saham mereka dari laba operasi setelah pajak melampaui I 0 % dari biaya modal.
Segalanya sebelum hal tersebut di atas hanyalah penciptaan kompensasi minimum yang selayaknya untuk investasi dalam sebuah perusahaan yang beresiko.
2. Menyejajarkan keputusan dengan kekayaan para pemegang saham Secara harafiah, suatu peningkatan yang berlanjut dari EVA akan membawa dampak peningkatan pada nilai pasar perusahaan. Pendekatan ini terbukti efektif
---secara nyata pada semua jenis perusahaan, mulai dari perusahaan yang tumbuh-kembang sampai perusahaan yang tidak jelas arahnya. Hal ini disebabkan karena tingkat EVA itu sendiri bukanlah sesuatu yang penting, di mana performa perusahaan yang lalu telah tercermin dalam harga saham. Yang penting adalah peningkatan berkelanjutan dari EVA yang akan menyebabkan peningkatan yang berkelanjutan dari kekayaan para pemegang saham.
3. Suatu alat ukur keuangan yang mudah dimengerti oleh para manajer lini EVA memiliki keuntungan yang secara konseptual sederhana dan mudah untuk dijelaskan pada manajer non-keuangan, karena perhitungan EVA dimulai dengan menghitung laba operasi yang sudah familiar di telinga dan secara sederhana dikurangkan dengan suatu biaya untuk modal yang diinvestasikan dalam perusahaan secara utuh, dalam sebuah unit bisnis, atau bahkan dalam sebuah pabrik tunggal, kantor maupun lini perakitan. Dengan menetapkan suatu biaya untuk penggunaan modal, EVA membuat para manajer untuk peduli terhadap pengelolaan asset sebagaimana peduli terhadap pendapatan perusahaan, dan membantu mereka dalam menetapkan kompromi yang selayaknya dilakukan antara keduanya. Pandangan yang lebih luas dan lengkap terhadap kegiatan ekonomis dari suatu bisnis ini dapat membuat perbedaan yang dramatik.
4. Mengatasi kebingungan terhadap sasaran yang lebih dari satu
Sebagian besar perusahaan menggunakan berbagai alat pengukuran yang kaku untuk mengutarakan sasaran-sasaran dan tujuan keuangan, misalnya : perencanaan strategis seringkali dibuat berdasarkan pertumbuhan dalam pendapatan atau pangsa pasar, perusahaan-perusahaan biasanya mengevaluasi
produk-produk individual atau lini bisnis atas dasar mrujin kotor atau arus kas, unit bisnis biasanya dievaluasi berdasarkan tingkat pengembalian asset atau dibandingkan dengan suatu tingkat keuntungan yang di anggarkan. Sebagai akibat dari tidak konsistennya pedoman, sasaran, dan terminologi tersebut biasanya adalah tidak terpadunya perencanaan, strategi operasional, dan pengambilan keputusan. EVA mengatasi kebingungan ini dengan menggunakan sebuah ukuran keuangan yang menghubungkan semua pengambilan keputusan dengan satu fokus yang sama, yaitu bagaimana kita meningkatkan EVA.
Metode EVA adalah satu-satunya sistem manajemen keuangan yang memberikan suatu bahasa yang sama untuk para karyawan yang melintasi seluruh fungsi staf dan operasi yang juga memungkinkan seluruh keputusan manajemen dibuat, dimonitor, dikomunikasikan, dan dikompensasikan dalam suatu cara yang tunggal dan konsisten, di mana cara tersebut selalu berdasarkan pada nilai tambah untuk investasi yang ditanamkan oleh para pemegang saham.
Sedangkan MV A menurut Stern Stewart & Co. adalah "the difference between the market value of a company (both equity and debt) and the capital lenders and shareholders have entrusted to it over the years in the form of loans, retained earnings, and paid-in capital. As such, MVA is a measure of the difference between "cash in "(what investors have contributed) and "cash out" (what they could get by selling at today 's prices). "
Selanjutnya Stem Stewart & Co. menjelaskan bahwa gambaran apa yang bisa diperoleh dari metode EVA atau MVA adalah 'jika nilai EVA atau MVA positif, hal ini berarti balnva perusahaan telah berhasil meningkatkan nilai modal
yang dipercayakan pada perusahaan sekaligus menciptakan kekayaan bagi para pemegang saham. Di sisi lain, apabila ni/ai EVA atau MVA negatif, hal ini berarti perusahaan Ielah menghancurkan kekayaan para pemegang saham. "
Metode EVA dan MV A sendiri telah banyak digunakan oleh berbagai perusahaan besar di Amerika Serikat, seperti IBM, Coca Cola, AT&T, Quaker Oats, Tenneco, dan lain-lain. Sedangkan di Indonesia masih banyak perusahaan go publik yang belum menggunakan metode EVA dan MV A sebagai alat pengukuran kinetja keuangannya. Penelitian Purwati ( 1999) dalam Baridwan dan Legowo (2002) menunjukkan bahwa EVA dan MV A lebih baik daripada rasio-rasio keuangan dalam membedakan kinetja keuangan dari 43 perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Jakarta Hasil ini juga didukung oleh penelitian Handayani (200 l) dalam Baridwan dan Legowo (2002) dengan sam pel 21 bank umum yang go public di BEJ tahun 1997-1998.
Lebih jauh lagi mengenai kaitan kinetja keuangan (khususnya EVA) dengan harga sahamnya, O'Byrne (1996) dalam Ruky (1997) telah mengadakan riset di New York Stock Exchange (NYSE) dengan kesimpulan bahwa perubahan EVA dalam 5 tahun menjelaskan perubahan nilai pasar saham (stock price) sebesar 74
%. Nahdiah (2000) yang meneliti korelasi antara Alman! Z-score dan EVA dengan pergerakan harga saham pada I 0 harga saham perusahaan yang mempunyai volume perdagangan teraktif selama tahun 1995-1998 dengan menggunakan analisis regresi berganda menyimpulkan bahwa secara simultan Altman Z-score dan EVA memberikan pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Sedangkan secara parsial hanya Altman Z-score saja yang berpengaruh secara signifikan.
Sedangkan MY A yang diperkenalkan oleh Stem dan Stewart merupakan konsep penilaian kinerja perusahaan berdasarkan penilaian pasar modal pada suatu waktu tertentu hanya dapat diaplikasikan pada perusahaan yang listed di pasar modal. Makelainen ( 1998) dalam Baridwan dan Legowo (2002) mengatakan bahwa dengan memaksimalkan nilai MY A akan memaksimalkan harga sahamnya. Lehn dan Makhija (1996) dalam Soetjipto (1997) pada penelitiannya menemukan bahwa selain EY A, MYA juga berpengaruh terhadap stock return.
Pemilihan perusahaan rokok sebagai bahan penelitian adalah karena perusahaan ini memiliki ketahanan yang baik terhadap krisis ekonomi (karena sifat produk yang dihasilkan akan terus dibutuhkan dan diminati oleh masyarakat) serta memiliki harga saham yang tinggi. Di Indonesia sendiri tercatat 4 (empat) perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Jakarta, yaitu PT. British American Tobacco Indonesia (BAT), PT. Bentoel International Inv., PT. Gudang Garam dan yang terakhir adalah PT. H. M. Sampoema.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah kinerja keuangan perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan metode EY A dan MY A ?
2. Bagaimanakah hubungan antara kinerja keuangan perusahaan rokok dengan harga saham perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Jakarta?
C. TUJUAN DAN MANF AA T PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kinerja keuangan yang dimiliki oleh perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan metode EVA dan MVA.
2. Untuk mengetahui hubungan antara kinerja keuangan dengan harga saham perusahaan rokok yang listing di Bursa Efek Jakarta.
Sedangkan hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut :
I. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai bagaimana penerapan metode EVA dan MV A sebagai alat ukur kinerja perusahaan yang go public di
Indonesia
2. Memberikan masukan dan informasi kepada para pemegang saham tentang bagaimana kinerja perusahaannya dan membantu calon investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam suatu perusahaan yang go public.
D. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa laporan keuangan dan laporan lainnya yang diterbitkan oleh Bursa Efek Jakarta melalui website resmi bursa yaitu Jakarta Stock Exchange (JSX) dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD) untuk periode 2000 sampai dengan 2004.