• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Dr. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PERAWATAN VIRTUAL

STRATEGI MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN

Dr. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes

ORASI ILMIAH DALAM RANGKA

WISUDA MAHASISWA KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN AKPER DAN AKBID KAMANRE KOTA PALOPO

PALOPO, 05 FEBRUARI 2022

(3)

1 Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat:

- Ketua LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara - Bapak Walikota Palopo

- Ketua dan Anggota DPRD Kota Palopo, Sulawesi Selatan

- Ketua dan seluruh pimpinan serta sivitas akademika Akper dan Akbid Kamanre Palopo - Para wisudawan dan wisudawati yang berbahagia - Bapak/Ibu orang tua, undangan, dan hadirin

sekalian

Hadirin yang saya muliakan,

Alhamdulillah, Wasyukrillah, Walahaulaa, Walakuwwata Illa billah. Asyhaduanlaa ilahaa illallah wahdahu la syarikalahu, waasyhaduanna muhammadan abduhu warasuluhu.

Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah swt, atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini kita dipertemukan dalam majelis Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Akper dan Akbid Kamanre

(4)

2 Kota Palopo. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada nabi, para rasul, keluarganya dan orang-orang shalih, yang telah mencucurkan keringat jihad dalam upaya menyebarluaskan kebenaran dan mengamalkan kebajikan.

Peristiwa dan situasi seperti ini memberikan rasa kebahagiaan kepada kita semua, terkhusus buat saya pribadi karena diberikan kesempatan untuk berdiri dihadapan para cendikiawan, ilmuwan dan intelektual yang senantiasa menjadi motivasi dan semangat terbesar saya dalam menyampaikan orasi ilmiah. Terima kasih dan penghargaan yang tulus saya ucapkan kepada seluruh jajaran pimpinan atas kepercayaannya dan seluruh hadirin atas perhatiannya selama saya menyampaikan orasi ilmiah.

Dengan segala kerendahan hati, ijinkan saya menyampaikan orasi dengan judul:

“PERAWATAN VIRTUAL STRATEGI MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN”

Hadirin yang saya muliakan.

Penggunaan teknologi kesehatan di era revolusi industry 4.0 harus dimanfaatkan secara hati-hati dan penuh tanggungjawab, untuk menjamin bahwa kita menerapkan secara efisien dan manusiawi. Teknologi informasi dan

(5)

3 komunikasi modern seperti komputer, internet dan telepon seluler, merevolusi cara individu berkomunikasi. Teknologi memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi masalah kesehatan global (Handayani dkk, 2019).

Perkembangan sistem informasi dan teknologi saat ini berkembang sangat masif dan tidak dapat dibendung.

Pemanfaatannya telah banyak dikembangkan tidak hanya di dunia teknologi saja, tetapi telah dapat dikembangkan dalam hal pemanfaatan di dunia kesehatan. Hal ini sejalan dengan amanah undang-undang kesehatan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien melalui penggunaan Sistem Informasi Kesehatan (Anggana & Ikasari, 2020).

Teknologi baru memungkinkan inovasi strategi asuhan keperawatan virtual untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien. Penerapan perawatan virtual membutuhkan manajemen perubahan yang terorganisir.

Peran keperawatan virtual menawarkan kesempatan untuk retensi perawat dengan menyediakan lingkungan kerja yang dibutuhkan dari keahlian klinis tanpa tuntutan fisik di samping tempat tidur.

Ada banyak pengaturan perawatan virtual tidak terbatas pada rumah, klinik perawatan kesehatan, praktek dokter, perawatan berbasis komunitas, sekolah, set

(6)

4 perawatan pasca-akut dan jangka panjang, fasilitas pemasyarakatan, rumah sakit, pusat perawatan, pengaturan tempat kerja, perusahaan asuransi, dan unit seluler (Beth Cloyd & Thompson, 2020)

Hadirin Yang Saya Muliakan,

Perawatan Virtual/Virtual Care sebelumnya dikenal dengan telemedicine dan lebih umum lagi disebut telehealth. Telemedicine pertama kali digunakan pada 1960-an ketika National Aeronautics and Space Administration (NASA) membangun sensor pemantauan kesehatan kedalam pakaian antariksa astronot untuk memantau efek kesehatan dari perjalanan ruang angkasa.

Perawatan virtual telah berkembang sebagai tekhnologi pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menilai, mengintervensi dan memantau perkembangan pasien dari jarak jauh.

Tekhnologi komunikasi baik audio maupun video telah mengalami perkembangan yang pesat dalam dunia keperawatan berbasis seluler, yang berkontribusi besar terhadap aksesibilitas perawatan professional. Kemajuan tekhnologi komunikasi seiring dengan perkembangan tekhnologi klinis dan data mengubah cara orang dalam memperoleh informasi dan berinteraksi. Informasi (akurat

(7)

5 maupun tidak) disebarluaskan dengan cepat melalui smartphone.

Virtual Care digunakan untuk perawatan akut dan pasca-akut seperti fasilitas perawatan terampil, lembaga kesehatan, fasilitas rehabilitasi rawat inap dan rumah sakit untuk perawatan jangka panjang. Perawatan virtual menggunakan teknologi yang memungkinkan akses tepat waktu ke layanan dan dukungan perawatan kesehatan.

Penggunaan perawatan virtual berlaku di seluruh disiplin ilmu layanan kesehatan yang disediakan oleh dokter, perawat, manajer kasus, dll.

Penerapan perawatan virtual mencakup kegiatan diagnostik dan pemantauan, Pendidikan kesehatan, pendidikan profesional, dan pendampingan pasien.

Perawatan virtual menggunakan teknologi untuk meningkatkan waktu, akses, dan kualitas perawatan kesehatan, penyampaian dan dukungan pendidikan kesehatan (Synzi, 2018).

Hadirin Yang Saya Muliakan,

Virtual Care adalah manfaat dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mungkin merupakan layanan e- bisnis yang paling menonjol pada perkembangan masyarakat kita saat ini khususnya di masa pandemi.

(8)

6 Menurut The Wall Street Journal, penggunaan perawatan virtual dalam industri perawatan kesehatan meningkat 20%

dari 2015 hingga 2016, sementara jumlah perusahaan besar yang menawarkan kunjungan virtual diproyeksikan meningkat dari sekitar 48% pada 2016 menjadi hampir 75% pada 201, (B Cloyd et al., 2020). Meskipun angka- angka tersebut mengesankan, namun tidak terlalu mengejutkan, mengingat berbagai macam keuntungan yang ditawarkan oleh perawatan virtual. Dan manfaat ini meluas ke semua anggota perawatan kesehatan, termasuk pasien, dokter, perawat dll.

Tuntutan yang meningkat terhadap layanan kesehatan terus berkembang. Dengan meningkatnya permintaan akan perawat dan sepertiga dari angkatan kerja antara usia 50 dan 64 tahun, dan 850.000 RN diperkirakan akan pensiun, tiga kebutuhan untuk menciptakan model perawatan yang baru dan inovatif sangatlah penting. Model asuhan keperawatan sebaiknya dapat mempertimbangkan masalah yang berkontribusi terhadap kelelahan, kebutuhan tenaga kerja milenial, dan bagaimana menyeimbangkan keahlian lulusan baru dan perawat berpengalaman di lingkungan kerja rumah sakit. Solusi yang memanfaatkan teknologi dan inovasi perlu dieksplorasi (Bokolo Anthony Jnr, 2020)

(9)

7 Hadirin yang saya muliakan,

Peran komputer pada zaman sekarang sangat penting, dengan adanya komputer manfaat yang dirasakan tidak hanya oleh user atau penggunanya tetapi juga oleh instansi yang terkait, seperti klinik, puskesmas dan rumah sakit. Peran komputer juga dirasakan oleh pasien, karena pelayanan utama untuk setiap institusi kesehatan adalah kepada pasien, jadi yang utama yang dirasakan secara langsung oleh pasien, diantaranya: Keselamatan pasien, administrasi kesehatan, layanan farmasi dan penyimpanan data pasien.

Penggunaan telehealth memungkinkan penyampaian layanan perawatan kesehatan kepada populasi yang kurang terlayani, seperti pedesaan, lansia, narapidana yang mungkin mengalami kesulitan mengakses layanan yang diperlukan. Telehealth dalam peningkatan kualitas perawatan berkelanjutan, tenaga ahli, akses ke perawatan, keputusan penghematan waktu, dan catatan berkualitas lebih tinggi terkait dengan penggabungan informasi digital (Hebda dan Czar, 2009 Fhirawati et al., 2020).

Proses manajemen, proses operasional, proses pendukung berbagai kegiatan e-Health harus dirancang, diimplementasikan, dikelola dan dipantau dengan benar.

Kalau ini dilakukan, maka akan tercipta kondisi yang dapat

(10)

8 memberikan hasil yang baik terhadap kesehatan masyarakat. Kepuasan pada layanan yang diberikan dan keuntungan investasi. Selain itu juga mengurangi biaya nonkualitas, termasuk yang disebabkan oleh hilangnya peluang (Gouncalves, Branco & Campanelia, 2020).

Di Indonesia sendiri pengaturan tentang telemedicine ada dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Telemedicine Antar Fasilitas Kesehatan.

Pasal 6 menyebutkan bahwa fasyankes pemberi konsultasi yang dimaksud adalah rumah sakit, sedangkan fasyankes peminta konsultasi jugalah rumah sakit, fasyankes tingkat pertama dan fasyankes lain yang dilakukan oleh dokter ber SIP yang berarti permenkes ini hanya mengatur telemedicine antar fasyankes yang tidak dapat diterapkan antara fasyankes atau doker dengan pasien (Mustikasari, 2020).

Hadirin Yang Saya Muliakan,

Penerapan telemedicine belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa daerah perkotaan di Indonesia sudah dapat menerapkan telemedicine untuk melakukan interaksi antara dokter dengan pasien secara langsung melalui beberapa aplikasi yang tersedia di komputer maupun smartphone. Kondisi ini mungkin dilakukan karena

(11)

9 ketersediaan jaringan telekomunikasi dan perangkat untuk mengakses telemedicine. Selain itu, hampir seluruh rumah sakit di kota-kota yang ada di Indonesia sudah memiliki jaringan dan alat untuk mengakses telemedicine (Saputro dkk, 2021).

Tantangan konektivitas seperti ketersediaan jaringan telekomunikasi merupakan tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi telemedicine, karena jaringan telekomunikasi merupakan alat pendukung utama. Selain itu, ada tantangan aksesibilitas yaitu kemudahan dalam menggunakan teknologi telemedicine. Aksesibilitas juga memengaruhi perkembangan teknologi telemedicine di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dukungan dan inovasi dari semua pihak untuk dapat terus mengembangkan teknologi telemedicine di Indonesia (Saputro dkk, 2021).

Di Indonesia sendiri, aplikasi telemedicine telah banyak berkembang dan telah digunakan oleh banyak masyarakat Indonesia. Kemkenkes RI telah membuat dan berkolaborasi dalam peluncuran beberapa aplikasi-aplikasi telemedicine seperti Halodoc, Alodokter, dll.

Hadirin Yang Saya Muliakan,

Beberapa penelitian menunjukkan potensi perawatan virtual untuk meningkatkan aksesibilitas perawatan

(12)

10 primer. Perawatan virtual sebagai alat penting untuk meningkatkan akses dan kenyamanan bagi pasien namun, banyak yang memperingatkan bahwa peningkatan akses ke perawatan primer tidak sama dengan peningkatan akses ke perawatan berkualitas. Banyak kekhawatiran jika perawatan virtual menjadi satu-satunya solusi untuk mengakses, tantangan sebaliknya perawatan virtual seharusnya menjadi bagian dari strategi holistik yang lebih besar untuk memungkinkan akses di daerah pedesaan dan terpencil. Perawatan virtual dianggap lebih fleksibel daripada perawatan langsung dengan memberi pasien kesempatan untuk memilih penyedia layanan kesehatan yang mereka rasa nyaman bahkan jika mereka berada jauh. (Li, J., Roerig et al., 2020).

Di semua platform perawatan virtual, 84% dokter mengatakan bahwa mereka puas dengan setidaknya satu platform video. Penemuan ini juga menunjukkan peningkatan tingkat keterbukaan dan penerimaan perawatan virtual. Secara keseluruhan, 96% dokter mengatakan mereka bersedia menggunakan telehealth (naik dari 69% pada 2019) dan 92% mengatakan mereka berharap tetap menggunakan kunjungan video setelah aman untuk melihat pasien secara langsung. Dari 80%

dokter yang menggunakan telehealth selama pandemi,

(13)

11 70% mengatakan mereka akan terus menggunakannya

"kadang-kadang" atau "sering," sementara 70% dari mereka yang belum mengadopsi telehealth diharapkan dalam tiga tahun ke depan (Amwell, 2020).

Hadirin yang saya muliakan,

Pelayanan kesehatan di Indonesia masih belum optimal, karena masih banyak fasilitas kesehatan dasar yang belum memenuhi standar pelayanan, ketiadaan standar guideline pelayanan kesehatan, ketersediaan fasilitas, kelengkapan sarana, obat, alat kesehatan, tenaga kesehatan (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014). Untuk meningkatkan kemampuan dalam memenuhi hajat hidup bangsa, memenuhi kebutuhan kesehatan dasar, memperkuat sinergi kebijakan iptek dengan kebijakan sektor lain perlu meningkatkan kontribusi Iptek (Kemenkumham, 2007).

Kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi memberikan sarana yang sangat baik untuk mengakses data medis, transmisi informasi medis dengan menggunakan telemedicine tetap menjadi tantangan karena aspek Keamanan dalam pertukaran informasi, pemantauan pasien secara realtime, aksesibilitas jaringan,

(14)

12 system pendukung berbasis pengetahuan artificial intelligence dan citra medis.

Telemedicine sebagai salah satu upaya pemerataan kesehatan di Indonesia masih mempunyai beberapa hambatan dan kendala, antara lain (Kuntardjo, 2020):

a. Pengembangan infrastruktur komunikasi, terutama jaringan internet yang belum merata di Indonesia terutama di daerah terpencil

b. Ketersediaan hardware dan software, yang masih membutuhkan biaya mahal

c. Sumber daya manusia, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

d. Kesenjangan teknologi antara daerah perkotaan dan daerah pelosok.

e. Regulasi yang belum memadai untuk mengatur penggunaan format digital

f. Otentikasi, privasi dan keamanan data belum dapat terjamin sepenuhnya, sedangkan peningkatan sistem keamanan data akan meningkatkan biaya.

g. Sistem pembiayaan jasa bagi pemberi layanan telemedisin.

h. Akurasi data yang dikirimkan dikhawatirkan tidak memiliki kualitas yang cukup baik sehingga

(15)

13 mempengaruhi proses penegakan diagnosis dan terapi.

i. Relasi dokter‐pasien serta antar tenaga kesehatan yang tidak dilakukan secara langsung akan mengurangi kualitas relasi tersebut

Telehealth menjadi salah satu solusi perbaikan kesenjangan layanan kesehatan dikondisi geografis Indonesia yang memiliki beberapa daerah terpencil dan perbatasan. Penerapan telehealth sangat dianjurkan sebagai upaya peningkatan paradigma sehat di Indonesia.

Telehealth dapat diterapkan sebagai upaya preventif dan rehabilitatif masyarakat yang memiliki masalah keterbatasan akses ke pelayanan kesehatan.

Pengembangan telehealth saat ini sudah mulai dirancang, seperti ketersediaan insfrastruktur dan jaringan internet di beberapa daerah (Wiwieko, Zesario, & Aulia, 2016). Selain dari ketersediaan infrastruktur, peran pemerintah dalam penerapan telehealth sangat dibutuhkan, seperti dalam perancangan peraturan penggunaan telehealth pada layanan homecare (Istifada & Sukihananto, 2017).

Hadirin yang saya muliakan,

Demikian sekilas pemaparan saya mengenai “Perawatan Virtual Strategi Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan”.

(16)

14 Semoga memberi manfaat pada kita semua dalam upaya menghasilkan tenaga kesehatan yang Kolaboratif, Profesional, kreatif dan inovatif di dunia yang semakin global saat ini. Tibalah saatnya untuk mengakhiri orasi ini, untuk itu izinkan saya pada kesempatan ini menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar- besarnya kepada para hadirin atas kesabarannya mengikuti orasi ini. Saya sangat menyadari bahwa inilah media akademik buat saya untuk berbagi pengalaman dan ilmu semoga apa yang saya sampaikan ini mampu membangun kualitas human capital di Akper dan Akbid Kamanre Kota Palopo Sekiranya ada hal yang tidak berkenan mohon dimaafkan. Semoga apa yang kita lakukan sekarang ini bernilai ibadah disisi Allah SWT. Amin ya rabbal alamin!

“Pelajaran yang baik adalah pelajaran yang tidak hanya memberikan informasi atau keterampilan yang berguna tapi harus menyadarkan ke dalam kehadiran yang tidak

diketahui” (Nur Hidayah)

(17)

15 REFERENCE

Anggana, R., & Ikasari, F. S. (2020). Pengembangan telenursing N-SMSI (Ners - Short Message Service Intervention) dalam perawatan pasien TB (Tuberkulosis) post rawat di Rumah Sakit. Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia, 3(1), 10–22.

https://doi.org/ISSN: 2580-3077

Bokolo Anthony Jnr. (2020). Use of Telemedicine and Virtual Care for Remote Treatment in Response to COVID-19 Pandemic. Journal of Medical Systems, 44(7).

https://doi.org/10.1007/s10916-020-01596-5 Fhirawati et al., (2020) Konsep Dasar Keperawatan.

Yayasan Kita Menulis.

Gouncalves, L., Branco, M. C. & Campanelia, N. (2020) E- Health Buku Panduan untuk Mahasiswa Ilmu Kesehatan dan Profesional Kesehatan. Yogyakarta:

Deepublish Publisher.

Handayani, P. W., Handayani, A. N., Pinem, A. A., Azzahro, F., Munajat, Q., & Ayuningtiyas, D. (2019). Konsep dan Implementasi E-Health. PT RAJAGRAFINDO PERSADA.

Istifada, R. and Sukihananto (2017) ‘Pemanfaatan Teknologi Telehealth Pada Perawat Di Layanan Homecare’, Vol. 5 No. 1.

Kemenkumham, 2007, Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025, Jakarta, 5 Februari 2007.

(18)

16 Kuntardjo, C. (2020). Dimensions of Ethics and Telemedicine in Indonesia: Enough of Permenkes Number 20 Year 2019 As a Frame of Telemedicine Practices in Indonesia?. SOEPRA, 6(1), 1-14.

Mustikasari, A. P. Informed Consent Dan Rekam Medis Dalam Telemedicinedi Indonesia. Jurnal Hukum Pidana dan penanggulangan Kejahatan, 9(2), 174- 179.

Saputro, A. R., Gusnadi, A. M. A., Zanah, Z., & Simatupang, J. W. (2021). Tantangan Konektivitas dan Aksesibilitas Dalam Pengembangan Pelayanan Kesehatan Berbasis Telemedicine di Indonesia:

Sebuah Tinjauan. Journal of Industrial Engineering, 6(1), 27-34.

Synzi. (2018). What is Virtual Care?

Wiweko, Budi., Zesario, Aulia., & Agung, P.G.(2016).

Overview the development of telehealth and mobile health application in indonesia. IEEE. 16

(19)

1

(20)

2

Referensi

Dokumen terkait