• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelatihan Laboran dan Teknisi Laboratorium IPA SMP dan MTS se-kabupaten Bone

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pelatihan Laboran dan Teknisi Laboratorium IPA SMP dan MTS se-kabupaten Bone"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

SMART: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under an

Pelatihan Laboran dan Teknisi Laboratorium IPA SMP dan MTS se-Kabupaten Bone

Andi Asmawati Azisa,*, Nurhayatib, Muh. Salehb, Andi Citra Pratiwi,a

aJurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Makassar, Makassar, 90221, Indonesia

bJurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Makassar, Makassar, 90221, Indonesia

Abstrak

Laboratorium IPA merupakan salah satu sarana pendukung yang wajib dimiliki oleh setiap satuan Pendidikan tingkat SMP dan MTs. Tata Kelola laboratorium IPA yang baik sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar yang melibatkan aktivitas praktikum. Sayangnya, masih banyak satuan Pendidikan tingkat SMP dan MTs di Kabupaten Bone yang belum memiliki tata Kelola laboratorium IPA yang baik dikarenakan tidak adanya tenaga laboran yang bertanggung jawab untuk melaksanakan managemen laboratorium. Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan untuk melatih para calon tenaga laboran dan teknisi laboratorium IPA tingkat SMP dan MTs se-Kabupaten Bone. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan para peserta terkait tata Kelola Laboratorium IPA serta sarana alternatif untuk melaksanakan kegiatan praktikum di sekolah.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode Hybrid, yakni dengan melaksanakan pelatihan melalui aktivitas luring selama 7 hari dan aktivitas daring selama 5 hari. Total waktu aktivitas peserta selama 12 hari pelatihan adalah 100 jam. Untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta pelatihan, pre-test diberikan pada sesi awal pelatihan dan diikuti dengan post-test yang diberikan pada sesi akhir pelatihan. Hasil pelaksanaan pengabdian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan peserta pelatihan terkait managemen laboratorium setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pelatihan managemen laboratorium.

Kata Kunci: Pelatihan, Managemen Laboratorium, Pelatihan Hybrid, Laboratorium IPA.

1. Pendahuluan*

Laboratorium merupakan salah satu sarana penting untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran di lingkungan pendidikan formal, khususnya pada mata pelajaran bidang sains.

Peran penting Laboratorium untuk mendukung proses pembelajaran tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Untuk satuan Pendidikan tingkat SMP dan MTs, laboratorium IPA merupakan salah satu sarana yang wajib untuk dimiliki demi mendukung pelaksanaan kegiatan praktikum pada mata pelajaran IPA.

Laboratorium IPA ditujukan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan praktikum pada mata pelajaran IPA. Hal ini sangat penting dikarenakan pelaksanaan praktikum merupakan kegiatan yang esensial dalam mata pelajaran IPA. Aktivitas praktikum tidak hanya penting untuk

* Corresponding author:

E-mail address: [email protected]

(2)

memudahkan peserta didik dalam memahami konsep-konsep sains (Sshana & Abulibdeh, 2020), tetapi juga penting dalam melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik (Darmaji et al., 2021;

Kurniawan et. al., 2020). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa siswa yang belajar materi IPA melalui praktikum memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelompok siswa yang belajar IPA hanya melalui teori (Sshana & Abulibdeh, 2020; Papuangan et al., 2018; Hussain

& Akhtar, 2013).

Dalam rangka menjamin kualitas pelaksanaan proses praktikum IPA di tingkat SMP dan MTs, tersedianya sarana laboratorium perlu didukung oleh hadirnya tenaga laboran dan teknisi laboratorium yang terampil dalam melakukan managemen laboratorium sesuai standar yang baik, sehingga aktivitas praktikum peserta didik dapat terlaksana dan terfasilitasi dengan baik. Namun, masih banyak sekolah di Indonesia yang mengalami kendala dalam pelaksanaan kegiatan laboratorim (Prastika et al., 2017; Rahman et al., 2015; Yennita et al., 2012;), termasuk di Kabupaten Bone. Salah satu penyebab kurang maksimalnya pelaksanaan kegiatan praktikum di sekolah adalah kurangnya tenaga laboratorium serta kurangnya keterampilan tenaga laboratorium dalam melaksanakan managemen laboratorium.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan, diketahui bahwa SMP dan MTs di Kabupaten Bone masih banyak yang belum memiliki tenaga laboran dan teknisi laboratorium. Penyediaan alat dan bahan praktikum IPA selama ini hanya dilakukan oleh guru mata pelajaran IPA, tanpa adanya bantuan dari tenaga laboran. Akibatnya, penyiapan alat dan bahan praktikum hanya dilakukan seadanya saja, karena guru mata pelajaran memiliki keterbatasan dalam melakukan administrasi dan pengelolaan laboratorium sesuai standar pengelolaan yang baik. Di sisi lain, banyak tenaga administrasi di tingkat SMP dan MTs yang tugas-tugasnya telah tergantikan oleh mesin komputer karena mekanisme administrasi sekolah yang telah berpindah ke sistem digital. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Bone mengimbau para tenaga administrasi tersebut dialihtugaskan untuk menjadi tenaga laboran dan teknisi laboratorium sehingga dapat mengatasi masalah kurangnya tenaga laboran dan teknisi laboratorium yang saat ini terjadi di sebagian besar SMP dan MTs di Kabupaten Bone.

Sehubungan dengan permasalahan yang terjadi terkait kurangnya tenaga laboran dan teknisi labratorium di tingkat SMP dan MTs di Kabupate Bone, maka tim dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri makassar (UNM) bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Bone untuk menyelenggarakan Pelatihan Managemen Laboratorium bagi tenaga administrasi yang akan dialihfungsikan sebagai laboran dan teknisi laboratorium IPA di tingkat SMP dan MTs se-Kabupaten Bone. Melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan para peserta pelatihan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai terkait manajemen laboratorium IPA, sehingga kebutuhan akan tenaga laboran dan teknisi laboratorium IPA di tingkat SMP dan MTs se-Kabupaten Bone dapat terpenuhi.

2. Metode

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Maret-April tahun 2021 di Kabupaten Bone dan diikuti oleh 45 orang calon laboran yang sebelumnya menduduki posisi sebagai pegawai administrasi di Kabupaten Bone. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan terkait pengelolaan/manajemen dalam laboratorium serta sarana alternatif untuk kegiatan praktikum di sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode Hybrid, yakni dengan menggabungkan metode pelatihan tatap muka secara luring dan pelatihan daring.

(3)

Pelatihan diawali dengan 5 hari pertemuan luring untuk pemberian materi, dilanjutkan dengan 5 hari pertemuan daring melalui Zoom cloud meeting untuk aktivitas mandiri, dan ditutup dengan 2 hari pertemuan luring untuk aktivitas review. Total aktivitas pelatihan yang diikuti oleh peserta pelatihan selama 12 hari kegiatan adalah 100 jam pelajaran. Untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta terkait managemen laboratorium, maka Pre-test dan Post-test diberikan kepada peserta pelatihan pada awal dan akhir kegiatan pelatihan. Adapun pegetahuan yang diukur melalui pretest dan posttest tersebut meliputi pengetahuan tentang: (a) Pengantar managemen laboratorium; (b) Administrasi laboratorium; (c) Pengenalan alat-alat laboratorium; (d) Keselamatan dan keamanan kerja di laboratorium; (e) Pembuatan alat sederhana dan media praktikum; (f) Kegiatan lab virtual pada masa pandemi; (g) Praktek IPA, Fisika, Biologi, Kimia;

(h) Penyimpanan, pemeliharaan alat dan bahan.

3. Hasil dan Pembahasan

(a) (b)

Gambar 1. (a) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Membuka Kegiatan Pelatihan; (b) Foto Bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dan Tim Dosen FMIPA UNM

Kegiatan Pelatihan Laboran dan Teknisi Laboratorium ini dilaksanakan melalui metode hybrid, yakni dengan menggabungkan aktivitas tatap muka secara luring dengan aktivitas daring.

Kegiatan pelatihan ini terdiri atas tiga bagian utama, yakni (1) Pemberian materi, (2) Aktivitas Mandiri, dan (3) Review aktivitas mandiri. Pemberian materi pelatihan dilakukan secara luring di Aula SMP Negeri 1 Watampone pada 26-28 Maret 2021. Kegiatan pelatihan diawali dengan arahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone (Gambar 1). Kepala Dinas Kabupaten Bone, Andi Syamsiar Halid, S.Sos, M.Si., memberi dukungan pada pelaksanaan kegiatan pelatihan ini dan mendorong para peserta agar memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait management laboratorium yang baik.

Sebelum memulai sesi pemberian materi, peserta diberi pre-test yang terdiri atas 14 nomor soal essay untuk mengukur pemahaman awal peserta pelatihan terkait management laboratorium. Hasil pre-test peserta menunjukkan rata-rata pemahaman peserta terkait manajemen laboratorium adalah 44 yang berada pada kategori rendah (Tabel 1). Hal ini menunjukkan pentingnya para

(4)

peserta mengikuti kegiatan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman terkait managemen laboratorium.

Tabel 1. Rerata Nilai Pengetahuan Peserta terkait Managemen Laboratorium

Indikator Pre-test Post-Test Peningkatan (%)

Pengantar managemen laboratorium 40 80 100%

Administrasi laboratorium 40 70 75%

Pengenalan alat-alat laboratorium 45 75 66.67%

Keselamatan dan keamanan kerja di laboratorium

50 80 60%

Pembuatan alat sederhana dan media praktikum

45 70 55.56%

Kegiatan lab virtual pada masa pandemi

40 75 87.50%

Praktek IPA, Fisika, Biologi, Kimia 50 80 60%

Penyimpanan, Pemeliharaan alat dan bahan

45 85 88.89%

Rata-rata 44 77 73.24%

Gambar 2. Pemateri Memaparkan Materi Managemen Laboratorium Secara Luring

Materi pelatihan dibawakan oleh Tim Dosen FMIPA UNM (Gambar 2). Pemberian materi pada pelatihan ini ditujukan agar peserta pelatihan: (1) memahami peran dan fungsi laboratorium IPA;

(2) memahami standardisasi pengelolaan Laboratorium IPA; (3) mengenal dan memahami cara penggunaan serta penyimpanan alat dan bahan laboratorium; (4) memahami pembuatan sarana pembuangan limbah laboratorium; serta (5) memahami cara menjaga keselamatan kerja. Selain itu, pada pelatihan ini, para peserta juga dibekali dengan keterampilan pembuatan alat sederhana dan media praktikum, serta pemanfaatan laboratorium virtual. Pada sesi luring, selain mengikuti materi di ruang kelas, peserta juga dilibatkan secara aktif untuk melakukan praktikum terbimbing (Gambar 3a) dan kegiatan praktikum dengan memanfaatkan tanaman yang tersedia di halaman SMP Negeri 1 Watampone (Gambar 3b).

(5)

(a) (b)

Gambar 3. (a) Peserta Pelatihan Melakukan Kegiatan Praktikum Terbimbing; (b) Pemateri (Tengah) Bersama Peserta Pelatihan Pada Kegiatan Pembelajaran di Luar Ruangan dengan Memanfaatkan

Tumbuhan yang Tersedia di Halaman SMP Negeri 1 Watampone

Aktivitas tatap muka yang berlangsung secara luring selama 5 hari di SMP Negeri 1 Watampone, dilanjutkan dengan aktivitas mandiri selama 5 hari untuk memberi kesempatan kepada peserta pelatihan untuk membuat denah laboratorium sekolah, struktur organisasi laboratorium sekolah, tata tertib sekolah, serta inventaris alat dan bahan yang ada di laboratorium sekolah. Untuk mereview hasil aktivitas mandiri peserta, dilakukan pertemuan secara daring melalui Zoom cloud meeting. Melalui pertemuan daring tersebut, pemateri memberikan saran untuk peningkatan kualitas produk yang dihasilkan masing-masing peserta.

Kegiatan pelatihan ditutup dengan pemberian post-test bagi peserta pelatihan untuk mengukur pemahaman peserta pelatihan setelah mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan. Hasil post-test peserta menujukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait Managemen Laboratorium, dengan rata-rata pemahaman peserta mencapai 77 yang berada pada kategori sedang. Hal ini mendukung temuan beberapa tim pelatih managemen laboratorium yang mengungkapkan bahwa pelatihan managemen laboratorium merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pemahaman tenaga laboratorium terakait tata kelola laboratorium yang baik (Ismawati & Trisnowati, 2019; Aziz et al., 2019; Lestari et al., 2017).

4. Kesimpulan

Kegiatan pelatihan bagi calon laboran dan teknisi laboratorium se-SMP di Kabupaten Bone dilaksanakan secara Hybrid dengan total waktu aktivitas 100 jam. Hasil pengukuran pemahaman peserta terkait managemen laboratorium melalui pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait managemen laboratorium, dengan rata-rata peningkatan mencapai 73.24%.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bone yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada

(6)

Kelompok Kerja kepala Sekolah SMP Kabupaten Bone yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan ini.

Daftar Pustaka

Azis, A. A., Pratiwi, A. C., & Yusuf, Y. (2019). Optimasi Management Lab Bagi Guru IPA di Kabupaten Enrekang. Prosiding Seminar Nasional Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Makassar, 546–548.

https://ojs.unm.ac.id/semnaslpm/article/view/11672/6850

Darmaji, D., Astalini, A., Kurniawan, D. A., & Putri, W. A. (2021). Rural Student Analysis : Correlation Science Process Skills and Critical Thinking at a State Senior High School in Jambi Province. Ta’dib, 24(2), 47. https://doi.org/10.31958/jt.v24i2.3645

Hussain, M., & Akhtar, M. (2013). Impact of hands-on activities on students’ achievement in science: An experimental evidence from Pakistan. Middle East Journal of Scientific Research, 16(5), 626–632. https://doi.org/10.5829/idosi.mejsr.2013.16.05.1310

Kurniawan, W., Pathoni, H., Muliawati, L., Kurniawan, D. A., Romadona, D. D., Ningsi, A. P.,

& Dari, R. W. (2020). Relationship of science process skills and critical thinking of students in physics subject. Universal Journal of Educational Research, 8(11), 5581–5588.

https://doi.org/10.13189/ujer.2020.081162

Lestari, N. A., Jauhariah, M. N. R., & Deta, U. A. (2017). Pelatihan Manajemen Laboratorium Untuk Pengelola Laboratorium Ipa Tingkat Sma Di Kabupaten Bojonegoro. Jurnal ABDI, 3(1), 17. https://doi.org/10.26740/ja.v3n1.p17-21

Papuangan, N., Sirajudin, N., & Abd. Samad, N. (2020). Analysis of Practicum Implementation in Laboratory and Its Problems in Biological Learning at MAN 1 Tidore. Ictl 2018, 237–

241. https://doi.org/10.5220/0008900002370241

Prastika, L. R., Putri, A. A., Setiawan, R., & Triyanta. (2017). Kondisi Pelaksanaan Praktikum IPA Sekolah Menengah Pertama di Kota Jayapura dan Kabupaten Gowa. Prosiding Snips 2017, July, 414–420.

Rahman, D., Adlim, A., & Mustanir, M. (2015). Analisis Kendala Dan Alternatif Solusi Terhadap Pelaksanaan Praktikum Kimia pada SLTA Negeri Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 3(2), 1–13. http://jurnal.unsyiah.ac.id/jpsi

Shana, Z., & Abulibdeh, E. S. (2020). Science practical work and its impact on students’ science achievement. Journal of Technology and Science Education, 10(2), 199–215.

https://doi.org/10.3926/JOTSE.888

Yennita, Sukmawati, M., & Zulirfan. (2012). Hambatan Pelaksanaan Praktikum Ipa Fisika Yang Dihadapi Guru SMP Negeri Di Kota Pekanbaru. Jurnal Pendidikan, 3(1), 1–11.

Referensi

Dokumen terkait

SDN KARANGMULYA III KADUNGORA SDN BAYONGBONG I BAYONGBONG SDN SUKAHURIP II CIGEDUG SUKARESMI SDN SAMARANG I SAMARANG SDN PADAASIH I PASIRWANGI SDN BALEWANGI I CISURUPAN SDN CIKAJANG

Hal yang utama dari rangkain kata-kata tersebut adalah pengertian yang tersirat dibalik kata yang digunakan. Sehingga terjalin hubungan yang harmonis dalam

Dari hasil tersebut diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh positif dari keadilan distribusi, keadilan prosedural dan keadilan interaksional terhadap etika kerja islam

mengandung logam berat Cr 3+ dan Cr 6+ (krom total). Percobaan ini dilakukan pada pH 7, debit 5 mL/menit, serta menggunakan butiran epoksi dengan massa 2 g

Erupsi gigi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu erupsi tahap preemergent (ketika gigi berkembang dan bergerak di dalam tulang alveolar), tahap emergence

Data yang didapatkan dari penelitian ini meliputi jenis kelamin, lateralisasi, usia saat pertama kali ditemukan gejala klinis, usia saat diputuskan untuk dilakukan

Melalui latihan soal, peserta didik mampu memecahkan (C4) masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan dua bilangan dengan hasil maksimal 20 dengan bantuan

Menurut Yuliana dkk (2016), terdapat perubahan peningkatan produksi ASI yaitu kelompok intervensi pijat punggung menggunakan minyak esensial lavender sebanyak 3,33