1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan asuransi modern di Indonesia dimulai dengan semakin banyaknya perusahaan asuransi yang berdiri di awal tahun 1980-an. Beberapa diantaranya seperti AIA Financial, Allianz, AXA Mandiri, CIGNA, Prudential, dan Asuransi Sinar Mas hadir dengan menawarkan berbagai macam produk perlindungan dan investasi. Hal ini semakin menambah alternatif pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan perlindungan terhadap risiko seperti yang diharapkan (Sejarah dan Perkembangan Asuransi di Indonesia, 2014, Oktober).
Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 diukur dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), meningkat dari Rp 8.241,9 triliun di tahun 2012 menjadi Rp 9.084,0 triliun di tahun 2013. Pada periode yang sama untuk industri asuransi, penerimaan premi bruto naik sebesar 9,76% dari Rp 175,89 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 193,06 triliun pada tahun 2013. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata premi bruto adalah sekitar 16,3%. Sementara itu, kontribusi sektor asuransi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagaimana dicerminkan oleh rasio antara premi bruto terhadap PDB tidak mengalami peningkatan dari tahun 2012 yaitu pada 2,13 %. Berikut merupakan tabel Premi Bruto dan Produk Domestik Bruto Tahun 2009-2013 (dalam triliun Rupiah):
Tabel 1.1. Premi Bruto dan Produk Domestik Bruto 2009-2013
Rasio Ratio a/b Jumlah/Total Perumbuhan Jumlah/Total Pertumbuhan
(a) Growth (%) (b) Growth (%)
2009 106.45 17.9 5.613.44 13.4 1.90
2010 125.12 17.5 6,422.90 14.4 1.95
2011 153.13 22.4 7,427.10 15.6 2.06
2012 175.89 14.9 8,241.90 11.0 2.13
2013 193.06 9.8 9,084.00 10.02 2.13
Tahun
Year %
Gross Domestic Product 2) Produk Domestik Bruto Premi Bruto
Gross Premiums 1)
1) Premi Bruto (termasuk Premi Program Jaminan Hari Tua (JHT)) = Premi Pos Langsung + Premi Reasuransi diterima dari Luar Negeri
2) Sumber: BPS berdasarkan Harga yang Berlaku dalam Triliun Rupiah (dalam Otoritas Jasa Keuangan, 2013, p.4)
2
Universitas Kristen Petra
Apabila jumlah premi bruto tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2013 yaitu sebesar 248,8 juta jiwa, maka akan diperoleh insurance density sebesar Rp 775.985,97. Ini berarti, secara rata-rata setiap penduduk Indonesia mengeluarkan dana sebesar Rp 775.985,97 untuk membayar premi asuransi.
Jumlah aset industri asuransi Indonesia tahun 2013 mencapai Rp 659,73 triliun. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 13% jika dibandingkan dengan jumlah aset tahun sebelumnya. Dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, aset industri asuransi rata-rata meningkat sebesar 22,2% per tahun. Pertumbuhan jumlah aset industri asuransi dapat dilihat pada tabel Jumlah Aset Industri Asuransi Tahun 2009-2013 (dalam triliun Rupiah) di bawah ini:
Tabel 1.2. Jumlah Aset Industri Asuransi Tahun 2009-2013
2009 2010 2011 2012 2013
141,65 188,46 228,80 270,29 293,74 38,13 45,90 54,67 71,96 100,99
2,03 2,37 3,21 4,69 6,45
320,89 405,23 481,75 584,02 659,73 Jumlah / Total
Tahun / Year Ke te rangan
87,49
51,59
107,03 121,93 144,96 162,16 Asuransi Jiwa
Asuransi Kerugian Reasuransi
Program Asuransi Sosial &
Jaminan Sosial Tenaga Kerja
61,46 73,14 92,12 96,38 Program Asuransi untuk PNS
& TNI / POLRI
Sumber: http://www.ojk.go.id/direktori-perasuransian-2013 (2013, p.10)
Pada tahun 2013, perusahaan asuransi jiwa memiliki aset sebesar 44,52%
dari total aset industri asuransi. Perusahaan penyelenggara program asuransi sosial dan jaminan sosial tenaga kerja termasuk aset program JHT memiliki 24,58% dari total aset industri asuransi, diikuti dengan perusahaan penyelenggara program asuransi untuk PNS dan TNI/POLRI sebesar 14,61%. Sedangkan perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan reasuransi masing-masing memiliki sebesar 15,31% dan 0,98% dari total aset industri asuransi. Distribusi aset industri asuransi menurut jenis usaha pada tahun 2013 disajikan pada grafik Aset Industri Asuransi Menurut Jenis Usaha Tahun 2013 di bawah ini:
3
Universitas Kristen Petra
Grafik 1.1. Aset Industri Asuransi Menurut Jenis Usaha Tahun 2013
Catatan: Total Aset pada tahun 2013 adalah Rp659,73 triliun Sumber: Laporan Keuangan Perusahaan Asuransi per 31 Desember 2013
(dalam Otoritas Jasa Keuangan, 2013, p.11)
Per 31 Desember 2013, jumlah perusahaan perasuransian yang memiliki izin usaha untuk beroperasi di Indonesia adalah 400 perusahaan. Terdiri atas 140 perusahaan asuransi dan reasuransi, dan 260 perusahaan penunjang asuransi.
(dalam Otoritas Jasa Keuangan, 2013, p.11)
Untuk mengetahui kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya dikaitkan dengan gaya kepemimpinan, penulis memilih kota Surabaya.
Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, di mana kegiatan perekonomiannya terus mengalami perkembangan dan memiliki peran perekonomian yang strategis dalam skala nasional. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator ekonomi yang menentukan perkembangan masing- masing sektor produksi di masa depan. Pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya dapat dilihat melalui indikator laju pertumbuhan PDRB Kota Surabaya. Tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah dapat terlihat dari nilai PDRB suatu daerah tersebut dan indikator PDRB ini menunjukkan daya beli penduduk suatu kota. Dalam hal ini digunakan PDRB atas harga berlaku karena bertujuan untuk
44.52%
15.31%
0.98%
24.58%
14.61% Asuransi Jiwa
Asuransi Kerugian
Reasuransi
Program Asuransi Sosial &
Jaminan Sosial Tenaga Kerja Program Asuransi untuk PNS
& TNI / POLRI
4
Universitas Kristen Petra
mengukur perubahan struktur ekonomi Kota Surabaya. Semakin besar PDRB suatu daerah, maka semakin tinggi tingkat kemajuan pembangunan di daerah.
Provinsi Jawa Timur mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi daerah lain. Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Surabaya, pada tahun 2014, Provinsi Jawa Timur mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,86%, di mana nilai tersebut melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 5,02%. Sedangkan Kota Surabaya memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur dan nasional, yakni sebesar 6,73%. Perbandingan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur dan Nasional Tahun 2008-2014 dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 1.2. Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya
Sumber: Statistik Daerah Kota Surabaya 2014, 2015, p.22)
Suatu perusahaan yang bermain dalam risiko besar adalah perusahaan asuransi. Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, di mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk
6.23
5.53
7.09 7.13 7.35 7.58
6.73 5.90
5.01
6.68 6.44 6.64
6.08 5.86 6.10
4.63
6.20 6.35 6.23
5.78
5.02
0 1 2 3 4 5 6 7 8
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Surabaya Jawa Timur Nasional
5
Universitas Kristen Petra
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan (dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, Bab 1 pasal 1, p. 2).
Kita mengenal terdapat dua kategori besar jenis asuransi, yaitu asuransi umum dan asuransi jiwa. Akan tetapi, di era sekarang asuransi jiwa nampak lebih mendominasi pasar. Saat ini terdapat sekitar 50 perusahaan asuransi jiwa, sedangkan asuransi umum jumlahnya mencapai 88 perusahaan (Majalah Marketing Edisi 12/XIV/Desember, 2014, p. 84). Asuransi jiwa merupakan program perlindungan dalam bentuk pengalihan risiko ekonomis atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Asuransi jiwa sering diandaikan sebagai payung untuk melindungi diri dari kejadian yang tidak diinginkan.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim menyebutkan industri asuransi jiwa tetap konsisten sampai dengan kuartal IV (Q4). Hal tersebut ditandai dengan pertumbuhan total pendapatan sebesar 33,3%
dari Rp 125,82 triliun di tahun 2013 menjadi Rp 167,76 triliun di tahun 2014.
Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan total pendapatan premi sebesar 6,7% atau senilai lebih dari Rp 121,62 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, dan pertumbuhan total pendapatan premi di Q4 merupakan yang tertinggi di sepanjang tahun 2014.
Selain didorong oleh pertumbuhan total pendapatan premi, pertumbuhan total pendapatan asuransi jiwa di tahun 2014 juga didukung dengan adanya peningkatan hasil investasi yang tumbuh signifikan secara kumulatif sebesar 458,2% menjadi senilai Rp 40,84 triliun di akhir tahun 2014. AAJI juga mencatat bahwa pada tahun 2014, total investasi dari industri asuransi jiwa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni meningkat 26,8% di tahun 2014 menjadi Rp 318,87 triliun dari Rp 251,50 triliun.
Kenaikan investasi tersebut berkontribusi pada peningkatan total aset industri asuransi jiwa. Peningkatan total aset sebesar 25,6% menjadi Rp 364,02 triliun dari Rp 289,71 triliun (Majalah Marketing Edisi 04/XV/April, 2015, p. 54). Berikut merupakan tabel dari Kinerja Industri Asuransi Jiwa Tahun 2014:
6
Universitas Kristen Petra
Tabel 1.3. Kinerja Industri Asuransi Jiwa Tahun 2014
Hasil 2014 2013 Growth
Total Tertanggung 53,73 juta orang 88,13 juta orang -39,0%
• Individu
• Kumpulan
15,50 juta orang 38,24 juta orang
13,62 juta orang 74,50 juta orang
13,8%
-48,7%
Total Pendapatan (Income) Rp 167,76 triliun Rp 125,82 triliun 33,3%
• Total Pendapatan Premi - Total Premi Bisnis Baru - Total Premi Lanjutan
• Hasil Investasi
• Klaim Reasuransi
• Pendapatan Lainnya
Rp 121,62 triliun Rp 70,04 triliun Rp 51,59 triliun Rp 40,84 triliun Rp 2,53 triliun Rp 2,78 triliun
Rp 113,93 triliun Rp 71,73 triliun Rp 42,21 triliun Rp 7,32 triliun Rp 2,21 triliun Rp 2,45 triliun
6,7%
-2,4%
22,2%
458,2%
19,4%
13,2%
Total Klaim dan Manfaat yang dibayarkan
Rp 74,65 triliun Rp 71,64 triliun 4,2%
Total Aset
• Jumlah Investasi
Rp 364,02 triliun Rp 318,87 triliun
Rp 289,71 triliun Rp 251,50 triliun
25,7%
26,8%
Data dirangkum dari 50 perusahaan asuransi jiwa dari total 51 perusahaan anggota AAJI
Sumber: Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dalam Majalah Marketing Edisi 04/XV/April, 2015, p. 54).
Pada umumnya, kinerja perusahaan dapat diukur secara keuangan dan non-keuangan. Kinerja keuangan adalah alat ukur untuk mengevaluasi kemampuan keuangan manajemen dari perusahaan (Morgan & Strong, 2003). Namun dalam penelitian ini, peneliti akan lebih spesifik membahas mengenai kinerja keuangan.
Kinerja keuangan sangat dibutuhkan khususnya para pemegang saham dan investor untuk menilai apakah perusahaan tersebut berkinerja baik atau tidak. Dengan membaca kinerja keuangan pada laporan keuangan perusahaan, tentunya dapat menunjukkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba. Untuk mencapai tujuan perusahaan berupa laba tentunya perusahaan tidak dengan mudah mendapatkannya. Perusahaan harus berani mengambil risiko, baik risiko yang besar maupun risiko yang kecil untuk mencapai tujuannya.
7
Universitas Kristen Petra
Perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang mempunyai karakteristik berbeda dengan perusahaan lainnya, karena perusahaan asuransi mengambil alih berbagai risiko dari pihak lain sehingga perusahaan asuransi lebih padat risiko dibandingkan dengan perusahaan lainnya apabila tidak dikelola dengan baik. Di samping itu, perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang unik karena perusahaan asuransi memiliki laporan keuangan seperti perusahaan lainnya, tetapi perusahaan asuransi dalam penyajian neraca lebih mengedepankan akun investasi daripada aktiva lancar, dikarenakan investasi merupakan sumber pendanaan selain premi yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain.
Indikator keuangan dalam asuransi berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.53/PMK.010/2012 adalah Risk Based Capital (RBC) yaitu suatu ukuran yang menginformasikan tingkat keamanan finansial atau kesehatan perusahaan asuransi. Semakin besar RBC, maka semakin sehat kondisi finansial perusahaan asuransi tersebut. RBC sangatlah penting khususnya berkaitan dengan pengukuran keamanan finansial atau kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi jiwa karena RBC merupakan indikator dari tingkat kemampuan perusahaan asuransi untuk memenuhi semua kewajiban perusahaan baik kewajiban saat ini maupun di masa depan. RBC yang baik memberikan jaminan kepada nasabah atas suatu kontrak atau perjanjian berupa ganti rugi terhadap kerugian yang mungkin timbul dari risiko yang dipertanggungkan.
Pemberdayaan karyawan (employee empowerment) merupakan salah satu indikator kunci kesuksesan dari kinerja keuangan (financial performance). Wall, Wood, dan Leach (2004) mendefinisikan pemberdayaan karyawan merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa percaya diri seseorang akan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan dengan standar yang tinggi.
Pemberdayaan karyawan juga merupakan proses mendelegasikan atau desentralisasi kekuasaan dan tanggung jawab dari tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki organisasi ke karyawan tingkat bawah untuk pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi, di mana manajer memberikan lebih banyak keleluasaan dan otonomi kepada karyawan (Conger & Kanungo, 1988). Dukungan lebih secara langsung akan pentingnya pemberdayaan terhadap kinerja perusahaan didukung oleh penelitian Hechanova, Alampay, dan Franco (2006), yang melakukan studi
8
Universitas Kristen Petra
tentang hubungan antara pemberdayaan psikologis, kepuasan kerja dan kinerja perusahaan di Filipina. Studi ini menemukan bahwa pemberdayaan psikologis berkorelasi positif dengan kinerja perusahaan. Dalam kaitannya dengan industri asuransi, salah satu perusahaan yang telah menerapkan pemberdayaan karyawan yakni PT AXA Financial. Disebutkan di dalam website www.axa-insurance.co.id tersebut, bahwa AXA akan menginspirasi dan memberdayakan karyawannya untuk mencapai yang terbaik. Hal ini membuktikan bahwa pemberdayaan karyawan juga diterapkan di dalam industri asuransi. Sehingga, karyawan diharapkan dapat memberikan kinerja dengan standarisasi yang tinggi dengan tujuan untuk melebihi harapan para nasabah, yang nantinya akan berdampak pada kualitas layanan dan kinerja keuangan perusahaan, serta senantiasa mencari dan mengadopsi cara yang lebih baik dalam melakukan pekerjaannya.
Selain pemberdayaan karyawan, kualitas layanan (service quality) juga menjadi salah satu indikator yang mendukung kesuksesan kinerja keuangan.
Hartline dan Ferrell (1996) mendefinisikan kualitas layanan sebagai perbedaan antara harapan pelanggan dan persepsi mereka terhadap layanan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sok dan O’Cass (2015), Megeid (2013), Duncan dan Elliott (2004) menemukan bahwa adanya hubungan positif antara kualitas layanan dengan kinerja keuangan. Dalam kaitannya dengan industri asuransi, penelitian yang dilakukan oleh Widiawan dan Sutedjo (2005) menemukan bahwa customer cenderung menganggap dimensi assurance dan empathy dalam kualitas layanan jauh lebih penting dibandingkan dengan dimensi lainnya.
Agar dapat tercapai kualitas layanan yang baik, maka diperlukan pemberdayaan karyawan, di mana Schlesinger dan Heskett (1991) mengemukakan bahwa jika karyawan merasa tingkat pemberdayaan mereka tinggi, mereka akan lebih puas dengan pekerjaan mereka, memiliki rasa kontrol tugas yang lebih baik, sehingga memfasilitasi tindakan kerja karyawan yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan kualitas layanan masing-masing. Bowen dan Lawler (1994) menyatakan bahwa karyawan yang diberdayakan akan merasa lebih baik tentang pekerjaan mereka dan lebih antusias dalam melayani pelanggan, dengan hasil akhir berupa respon lebih cepat untuk kebutuhan pelanggan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Penelitian yang dilakukan oleh Abbasi, Khan,
9
Universitas Kristen Petra
dan Rashid (2011), Gazzoli, Hancer, dan Park (2010), Slatten, (2010), serta Snipes, Loughman, dan Fleck (2010) menemukan bahwa adanya hubungan positif antara pemberdayaan karyawan dengan kualitas layanan.
Untuk mendukung tercapainya pemberdayaan karyawan dan kualitas layanan yang baik, maka diperlukan indikator gaya kepemimpinan (leadership styles). Teori kepemimpinan saat ini menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan dapat dikategorikan menjadi dua gaya utama yaitu kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional (Bass, 1997). Di antara berbagai teori kepemimpinan dan motivasi yang berhubungan dengan manajemen perubahan organisasi yang efektif, yang paling menonjol adalah teori kepemimpinan transformasional dan transaksional (Prasertwattanakul dan Chan, 2007). Gaya kepemimpinan menggambarkan cara di mana seorang pemimpin mencoba untuk mempengaruhi perilaku bawahan, membuat keputusan mengenai arah tim, dan membuat keseimbangan antara fungsi pencapaian tujuan dan fungsi pemeliharaan tim (Fertman & Van Linden, 1999). Penelitian dari Avolio et al., (2004), Avey et al., (2008), Ravazadeh, Nafiseh & Ravazadeh, Atieh (2013), serta Lan dan Chong (2015) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif dan signifikan dengan pemberdayaan karyawan. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Obiwuru et al., (2011) menyatakan bahwa kepemimpinan transaksional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Oleh karena itu, kita dapat mengetahui bahwa kepemimpinan transaksional berpengaruh positif terhadap pemberdayaan karyawan.
Penelitian dari Hashim dan Mahmood (2012) menemukan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan kualitas layanan. Serta penelitian Chen dan Liu (2013) menemukan gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional berhubungan positif dengan kualitas layanan.
Sehingga, gaya kepemimpinan juga menentukan kinerja keuangan yang baik. Hal ini didukung oleh pendapat Sahaya (2012) yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan mampu mempengaruhi kinerja organisasi. Muterera (2012) dalam studinya yang dilakukan di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kedua
10
Universitas Kristen Petra
perilaku kepemimpinan transaksional dan transformasional berhubungan positif dengan kinerja perusahaan.
Penelitian-penelitian terdahulu yang ada meneliti pada industri dan variabel yang berbeda-beda, sehingga menjadi acuan dan pedoman bagi peneliti.
Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai gaya kepemimpinan dalam hubungannya dengan pemberdayaan karyawan dan kualitas layanan serta dampaknya terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang timbul dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap pemberdayaan karyawan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
2. Apakah terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kualitas layanan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
3. Apakah terdapat pengaruh pemberdayaan karyawan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
4. Apakah terdapat pengaruh kualitas layanan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
5. Apakah terdapat pengaruh pemberdayaan karyawan terhadap kualitas layanan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
6. Apakah terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya?
1.3. Batasan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti hanya meneliti persepsi dari karyawan perusahaan dan customer terkait variabel yang diuji. Selain itu, penelitian ini hanya akan menggunakan populasi dan sampel yang terbatas pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya. Sehingga, terdapat kemungkinan hasil yang berbeda bila sampel diambil dari luar wilayah Surabaya.
11
Universitas Kristen Petra
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap pemberdayaan karyawan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
2. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kualitas layanan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
3. Untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan karyawan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
4. Untuk mengetahui pengaruh kualitas layanan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
5. Untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan karyawan terhadap kualitas layanan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
6. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja keuangan pada perusahaan asuransi jiwa di Surabaya.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan seperti:
1. Memperoleh informasi kepada pelaku bisnis dan perusahaan mengenai penerapan gaya kepemimpinan di dalam manajemen.
2. Memperoleh informasi tentang dampak yang diberikan atas penerapan gaya kepemimpinan terhadap kinerja keuangan.
3. Mengetahui keterkaitan dan pengaruh gaya kepemimpinan suatu perusahaan terhadap kinerja keuangan.
1.6. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah penulisan dan pemahaman, maka pembahasan dalam skripsi ini akan dijabarkan dalam 5 (lima) bab. Masing-masing bab akan dijabarkan sebagai berikut:
12
Universitas Kristen Petra
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini akan mengemukakan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan penelitian, tujuan yang ingin dicapai, manfaat yang ingin diberikan, dan sistematika pembahasan penulisan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Bab ini akan mengemukakan mengenai teori-teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, disertai dengan definisi dan penjelasan dari setiap variabel, hubungan antar variabel, diikuti dengan hipotesis-hipotesis yang akan diuji.
BAB 3 METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai metode penelitian yang meliputi model analisis, definisi konseptual dan variabel, skala pengukuran, jenis dan sumber data, instrumen dan pengumpulan data, populasi, sampel dan teknik sampling, uji hipotesis penelitian, rancangan kuesioner, teknik analisis, dan unit analisis.
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
Bab ini akan menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, deskripsi data, serta hasil analisa dan pembahasan penelitian.
BAB 5 KESIMPULAN, SARAN, DAN BATASAN PENELITIAN
Bagian terakhir ini akan berisi kesimpulan yang merupakan rangkuman atau intisari dari hasil analisa dan pembahasan yang telah dilakukan penulis, serta saran yang merupakan gagasan perbaikan maupun pemecahan masalah yang diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan.