• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KUALITAS AIR PADA PEMBESARAN IKAN MAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGELOLAAN KUALITAS AIR PADA PEMBESARAN IKAN MAS"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGELOLAAN KUALITAS AIR PADA PEMBESARAN

IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) DI INSTALASI KOLAM AIR DERAS BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT)

SUKABUMI, JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

ASHAR 1322010120

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PANGKEP

2016

(2)

2

PENGELOLAAN KUALITAS AIR PADA PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) DI INSTALASI KOLAM AIR

DERAS BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI, JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

ASHAR 1322010120

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing:

Ir. Andi Yusuf Lingka, M.P. Dr. Andriani, S.Pi., M.Si.

Ketua Anggota

Diketahui oleh:

Dr. Ir. Darmawan, M.P. Ir. Rimal Hamal, M.P.

Direktur Ketua Jurusan

Tanggal Lulus : 8 Agustus 2016

(3)

iii

RINGKASAN

ASHAR 1322010120. Pegelolaan Kualitas Air pada Pembesaran Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) di Instalasi Kolam Air Deras Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat dibimbing oleh Andi .Yusuf Lingka dan Andriani.

Ikan mas merupakan salah satu komoditas perikanan yang pontensial untuk dikembangkan karena mempunyai potensi sumber daya yang melimpah dan peluang pasar yang besar. Hingga saat ini perkembangan ikan mas di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat

Tujuan penulisan Tugas Akhir adalah untuk menguraikan teknik pengelolaan kualitas air pada pembesaran ikan mas di Instalasi Kolam Air Deras Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

Manfaat penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai bahan informasi dan acuan dalam pengelolaan kualitas air pada pembesaran ikan mas di kolam air deras sehingga dapat memperluas wawasan dan meningkatakn kompetensi keahlian dalam berkarya di masyarakat.

Tugas Akhir ini disusun berdasarkan kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) selama 3 bulan mulai dari 9 Februari sampai dengan 9 Mei 2016 di Instalasi Kolam Air Deras Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pengamatan secara langsung dari seluruh rangkaian kegiatan, wawancara dengan pembimbing lapangan, dosen pembimbing serta penelusuran berbagai literatur pendukung yang berkaitan dengan Tugas Akhir ini.

Pengelolaan kualitas air yang dilakukan pada pembesaran ikan mas di Instalasi Kolam Air Deras Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat menghasilkan kualitas air yang layak berupa oksigen terlarut 6,0-8,9 mg/l, pH 7,2-8,4, amoniak 0,003 mg/l, suhu 22-260C, kecerahan 11-48 cm. Ikan mas berukuran 10,51 cm/ekor dan bobot 10,28 gram/ekor yang dipelihara selama 56 hari dikolam air deras mempunyai pertumbuhan panjang 14,31 cm/ekor dan bobot 56,85 gram/ekor dengan pertumbuhan mutlak 46,57 gram dan laju pertumbuhan 0,83% per hari serta SR 98,33%.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah turut mendukung penyelesaian laporan tugas akhir ini, yaitu:

1. Bapak Ir. Andi.Yusuf Lingka, M.P. selaku Pembimbing pertama dan ibu Dr.

Andriani, S.Pi., M.Si. selaku pembmbing anggota yang telah memberikan motivasi, arahan dan bimbingan mulai dari penyusunan proposal Tugas Akhir hingga penyelesaian Laporan Tugas Akhir ini.

2. Bapak Rahmat Hidayat, S.St.Pi. selaku Pembimbing Lapangan di Instalasi Kolam Air Deras BBPBAT Sukabumi, Jawa Barat.

3. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P. selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan

4. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.P. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Akhirnya dengan tulus penulis menghaturkan terima kasih kepada ayahanda tercinta Jainuddin dan ibunda Tang yang senantiasa memberikan support berupa moril, materil serta iringan doa hingga penyelesaian studi ini.

Terima kasih kepada semua saudaraku dan sahabat terdekat karena keberadaan, pengorbanan, keikhlasan dan doamu menjadi motivasi saya untuk selalu semangat. Kepada teman-teman seangkatan di Jurusan Budidaya Perikanan, staf Instalasi Kolam Air Deras BBPBAT Sukabumi, pranata Laboratorium pendidikan Politani yang tidak sempat disebut namanya satu persatu diucapkanterima kasih atas partisipasi dan bantuannya dalam penyelesaian studi ini.

(5)

v Semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi penulis dan berguna kepada yang memerlukannya, Aamiin.

Pangkep, Agustus 2016

Penulis

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN x

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan dan Manfaat... 2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Morfologi ... 3

2.2. Strain Ikan Mas ... 5

2.2.1 Ikan Mas Punten ... 5

2.2.2 Ikan Mas Sinyonya ... 5

2.2.3 Ikan Mas Cangkringan ... 6

2.2.4 Ikan Mas Majalaya ... 7

2.2.5 Ikan Mas Rajadanu ... 8

2.3 Habitat ... 10

2.4 Parameter Kualitas Air ... 11

2.4.1 Dissolved Oxygen (DO) ... 11

2.4.2 Suhu ... 11

2.4.3 Derajat Keasaman (pH) ... 12

2.4.4 Kecerahan ... 12

2.4.5 Amoniak ... 13

2.4.6 Debit air ... 13

III METODE 3.1. Waktu dan Tempat ... 14

3.2. Alat dan Bahan ... 14

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 16

3.3.1. Data Primer ... 16

3.3.2. Data Sekunder ... 16

3.4. Metode Pelaksanaan... 16

3.4.1. Pendistribusian dan Pengisian Air ... 16

3.4.2. Pengukuran Kualitas Air ... 16

(7)

vii

3.4.3. Sampling ... 18

3.4.4. Panen ... 19

3.5. Parameter yang Diamati dan Analisis Data ... 19

3.5.1. Parameter yang Diamati ... 19

3.5.1. Analisis Data ... 19

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Air ... 21

4.2 Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup………... 27

V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 29

5.2. Saran ... 29 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(8)

viii DAFTAR TABEL

Halaman

1. Alat yang dipakai selama proses pengelolaan air budidaya

ikan mas ... 14 2. Bahan yang digunakan selama proses pengelolaan air budidaya

ikan mas ... 15

3. Kualitas air pada pembesaran ikan mas. ... 21

(9)

ix DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Morfologi Ikan Mas ... 4

2. Ikan Mas Punten ... 5

3. Ikan Mas Sinyonya ... 6

4. Ikan Mas Cangkringan ... 7

5. Ikan Mas Majalaya ... 8

6. Ikan Mas Rajadanu ... 9

7. Hasil Pengukuran Oksigen Terlarut ... 21

8. Hasil Pengukuran pH………... 22

9. Hasil Pengukuran Suhu...……… ... 24

10. Hasil Pengukuran Kecerahan ………... 25

11. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan mas ... 27

(10)

x DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Lay Out INKAD BBPBAT Sukabumi ... 32

2. Peta INKAD BBPBAT Sukabumi ... 33

3. Tabel Hasil Pengukuran Kualitas Air ... 34

4. Kegiatan Pengukuran Kualitas Air ... 37

(11)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan mas merupakan salah satu komoditas perikanan yang pontensial untuk dikembangkan karena mempunyai potensi sumber daya yang melimpah dan peluang pasar yang besar. Hingga saat ini perkembangan ikan mas di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat. Usaha budidaya ikan mas sangat menguntungkan karena ikan mas memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan banyak diminati konsumen karena rasa dagingnya yang enak dan gurih serta memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat ikan maka tingkat kebutuhan akan daging ikan makin meningkat.

Kebutuhan masyarakat terhadap ikan mas dapat terpenuhi apabila ditunjang dengan kegiatan budidaya diberbagai wadah pemeliharaan seperti kolam air tenang, kolam air deras, sawah, atau keramba jaring apung (KJA).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembesaran ikan mas yaitu penentuan lokasi, persiapan kolam, pengadaan benih, pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen.

Dalam penentuan lokasi pembesaran ikan mas, salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah penentuan sumber air. Hal ini disebabkan karena air merupakan media hidup dan berkembangnya ikan mas.

Sumber air merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kegiatan pembesaran ikan mas. Oleh karena itu, yang digunakan untuk pemeliharaan ikan mas harus cukup secara kuantitas untuk digunakan pada

(12)

2 pemeliharaan, serta air yang akan digunakan harus berkualitas agar ikan mas mempunyai pertumbuhan lebih cepat dan tingkat kelangsungan hidup tinggi.

Apabila kondisi air yang akan digunakan tidak layak untuk pembesaran ikan mas maka pertumbuhan ikan mas akan terhambat dan tingkat kelangsungan hidupnya rendah. Dengan demikian dibutuhkanlah air yang mempunyai kuantitas dan kualitas air yang memenuhi persyaratan untuk pembesaran ikan mas untuk mewujudkan target produksi ikan mas. Kualitas air yang layak dapat tercapai apabila dilakukan pengelolaan kualitas air dengan baik.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan tugas akhir adalah untuk menguraikan teknik pengelolaan kualitas air pada pembesaran ikan mas di Instalasi Kolam Air Deras Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

Manfaat penulisan tugas akhir ini adalah sebagai bahan informasi dan acuan dalam pengelolaan kualitas air pada pembesaran ikan mas di kolam air deras sehingga dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi keahlian dalam berkarya di masyarakat.

(13)

3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi

Klasifikasi ikan mas berdasarkan Saanin (1984) yaitu sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus

Spesies : Cyprinus carpio (Linnaeus, 1758)

Menurut Partosuwiryo dan Warseno (2011), ikan mas berbadan panjang dan perbandingan panjang total dengan tinggi badan, yakni 3:1. Apabila bagian tengah badan dipotong, ikan mas memiliki perbandingan tinggi badan dengan lebar badan, yakni 3:2. Warna tubuh ikan mas tergantung pada varietas, yakni merah, kuning, abu-abu, kehijauan, dan ada yang belang.

Tubuh ikan mas terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor.

Pada kepala terdapat mulut, sepasaang mata, hidung, dan tutup insang. Seluruh bagian tubuh ikan mas ditutupi dengan sisik yang besar dan berjenis ctenoid.

Pada bagian itu terlihat ada gurat sisi (linea lateralis), memanjang mulai dari belakang tutup insang sampai pangkal ekor.

Mulut ikan mas kecil membelah bagian depan kepala. Sepasang mata dapat dikatakan cukup besar, terletak pada bagian tengah kepala pada sisi kiri dan kanan. Sepasang lubang hidung terletak pada bagian kepala. Sepasang tutup

(14)

4 insang terletak pada bagian belakang kepala. Selain itu, ikan mas memiliki dua pasang kumis/sungut pendek yang terletak pada bagian bawah kepala.

Ikan mas memiliki lima buah sirip. Sirip punggung panjang terletak pada bagian punggung. Sirip dada sepasang terletak pada belakang tutup insang, dengan satu jari-jari keras dan yang lainnya berjari-jari lemah. Sirip perut hanya satu terletak pada perut. Sirip anus hanya satu terletak pada belakang anus. Sirip ekor juga hanya satu, terletak pada bagian belakang dan berbentuk cagak. Morfologi ikan mas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Morfologi ikan mas

(15)

5 2.2 Strain Ikan Mas

2.2.1 Ikan Mas Punten

Menurut Partosuwiryo dan Warseno (2011), ras ikan mas punten dikembangkan pertama kali pada 1933 di Desa Punten, Malang, Jawa Timur.

Tubuhnya relatif pendek, tetapi bagian punggungnya lebar dan tinggi. Oleh karena itu, bentuk badan ikan mas punten terkesan bulat pendek. Perbandingan panjang total dengan tinggi badan, yakni 2,3-2,4 : 1. Warna sisik hijau gelap, mata agak menonjol, gerakan tubuhnya lambat, dan bersifat jinak.

Gambar 2 Ikan mas punten (totoharyanto.com)

2.2.2 Ikan Mas Sinyonya

Partosuwiryo dan Warseno (2011) menyatakan bahwa tidak diketahui pasti asal-usul nama ikan mas sinyonya. Beberapa orang menyebutkan ikan mas ini mudah sekali bertelur sehingga disebut sinyonya. Bentuk tubuhnya memanjang (long bodied form) dan punggungnya lebih rendah dibandingkan dengan ikan mas punten. Perbandingan panjang dengan tinggi badannya sekitar 3,66 : 1.

Sisiknya berwarana kuning muda seperti warna kulit jeruk sitrus. Mata ikan yang masih muda agak menonjol, kemudian berubah menjadi sipit ketika ikan sudah

(16)

6 mulai tua. Sifat ikan mas sinyonya memiliki kebiasaan berkumpul di permukaan air.

Fekunditas atau jumlah telur ikan mas sinyonya 85.000-125.000 dan diameternya 0,3-1,5 mm. Induk ikan mas sinyonya jantan akan matang kelamin pertama pada umur delapan bulan, sedangkan induk betina pada umur 18 bulan.

Ikan mas ini tahan terhadap parasit Myxosporea. Toleransi pH-nya 5,5-8,5.

Gambar 2. Ikan mas sinyonya (smakorpri.bekasi,sch.id)

2.2.3 Ikan Mas Cangkringan

Dwijo (2014) menyatakan bahwa ikan mas merah cangkringan merupakan ikan lokal yang dimiliki BPTKP sejak 1970. Diperkirakan, ikan jenis ini memiliki jarak kekerabatan yang jauh dengan ikan mas jenis lain.

Berdasar karakteristik genetik dengan uji DNA, ikan mas merah Cangkringan sangat jauh kekerabatannya dengan ikan mas Rajadanu, Majalaya, Sinyonya, Wildan dan Sutisna. Jadi bisa dikatakan ikan ini masih benar-benar murni jenisnya dan berasal dari Cangkringan.

(17)

7 Menurut Dwijo (2014), keunggulan lain ikan ini ialah memiliki ciri khas warna merah menyala dengan bentuk tubuh bulat memanjang. Maka tak heran jika ikan mas merah dewasa bisa tumbuh seberat 4 kilogram dan panjangnya bisa mencapai 50 centimeter.

Gambar 3 Ikan mas cangkringan

2.2.4 Ikan Mas Majalaya

Partosuwiryo dan Warseno (2011) menyatakan bahwa sesuai dengan namanya, ikan mas majalaya berkembang pertama kali di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih bungkuk dan lancip daripada dengan ras ikan mas lainnya.

Perbandingan panjang dengan tinggi tubuh, yakni 3,2:1.

Bentuk tubuh ikan mas majalaya semakin lancip ke arah punggung dan bentuk moncongnya pipih. Ikan mas ini relatif jinak dan biasa berenang di permukaan air. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali pada bagian bawah insang dan pada bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin gelap.

(18)

8 Ikan mas majalaya memiliki keunggulan, di antaranya laju pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, rasanya lezat dan gurih, dan tersebar luas di Indonesia. Jumlah telur ikan mas majalaya tergolong tinggi, yakni 84.000-110.000 butir/kg induk.

Gambar 4 Ikan mas majalaya (id.wikipedia.org)

2.2.5 Ikan Mas Rajadanu

Menurut Nugroho (2014), ras rajadanu termasuk ras ikan mas yang istimewa dengan bentuk tubuh memanjang dan tinggi. Memiliki bentuk tubuh seperti busur pada bagian atasnya, tanpa ada patahan. Ikan mas ini berwarna gelap yaitu kehijauan dan sedikit berwarna biru tua.

Ikan mas strain rajadanu adalah ikan mas yang berasal dari desa Rajadanu, Kuningan, Jawa Barat. Ikan tersebut diperoleh dari hasil seleksi yang dilakukan terhadap 21 jenis ikan mas yang diperoleh di seluruh Indonesia. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh strain ini adalah laju pertumbuhannya lebih cepat, daya tahannya terhadap penyakit lebih tinggi, prosentase keberhasilan telur menetasnya lebih besar dan masa hidupnya lebih lama. Ikan mas rajadanu

(19)

9 mempunyai bentuk badan yang memanjang dengan perbandingan antara total dan lebar badan adalah 3,5 : 1.

Sisiknya penuh dan berukuran normal, punggungnya berwarna abu–abu serta pangkal sirip perutnya berwarna kuning kemerahan. Tidak seperti ikan mas strain lainnya, ikan mas rajadanu lebih kuat dalam menghadapi serangan ektoparasit dan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila.

Benih ikan mas rajadanu bisa dipelihara di kolam tanah dengan ukuran berat rata- rata adalah sebesar 8 gram per ekor dengan kepadatan tebar mencapai 100 ekor/m2. Dalam kurun waktu 80 hari, bobot ikan mas rajadanu dapat mencapai 110 gram per ekor.

Selain itu, ikan mas rajadanu juga dapat dipelihara di sawah, dengan menggunakan benih yang berukuran 3,5 cm berberat 2,5–5 gram, dengan kepadatan tebar mencapai 5.000 ekor per 1 hektar sawah.

Gambar 5 Ikan mas rajadanu (plus.google.com)

(20)

10 2.3 Habitat

Sucipto (2005) menyatakan bahwa ikan mas (Cyprinus carpio) dapat hidup di tempat (habitat) perairan air tawar yang tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, misalnya di pinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik di ketinggian 150-600 meter di atas permukaan laut dan pada suhu 25-30oC.

Untuk kelangsungan hidupnya, ada beberapa syarat lokasi yang harus dipenuhi jika ikan mas (Cyprinus carpio) akan dibudidayakan, diantaranya adalah:

a. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

b. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%

untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

c. Ikan mas dapat tumbuh normal, jikan lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.

d. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, minyak/limbah pabrik.

e. Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 25-100 liter/detik.

f. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.

g. Suhu air yang baik berkisar antara 20-25oC

(21)

11 2.4 Parameter Kualitas Air

2.4.1 Dissolved Oxygen (DO)

Oksigen terlarut di dalam perairan memegang peranan penting dalam kehidupan seluruh makhluk hidup, hanya saja perbedaan antara oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup di darat berbeda dengan makhluk hidup di air.

Djatmika ( 1986) menyatakan bahwa oksigen terlarut yang layak untuk budidaya ikan mas yaitu 5-7 mg/l.

Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis organisme yang mempunyai klorofil yang hidup di perairan.

Kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air berlangsung sangat lambat, oleh sebab itu, fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan. Selain itu sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara.

2.4.2 Suhu

Suhu secara langsung berbengaruh terhadap proses metabolisme ikan.

Metabolisme ikan pada suhu tinggi lebih cepat, sedangkan pada suhu rendah proses metabolisme lebih lambat.

Suhu pada ekosistem perairan berfluktuasi baik harian maupun tahunan, terutama mengikuti pola temperatur udara lingkungan sekitarnya, intensitas cahaya matahari, letak geografis, penaungan dan kondisi internal perairan itu sendiri seperti kekeruhan, kedalaman, kecepatan arus dan timbunan bahan organik di dasar perairan. Djatmika (1986) menyatakan bahwa suhu optimal untuk kolam air deras berkisar antara 25-280C. Pada suhu tersebut, ikan makan dengan rakus dan suhu optimal ini dicapai pada waktu pagi dan sore hari.

(22)

12 2.4.3 Derajat Keasaman (pH)

Menurut Djatmika (1986), derajat keasaman (pH) ditentukan oleh konsentrasi ion H+. Air kolam dikatakan bersifat asam bila pH-nya lebih kecil dari 7, dan dikatakan bersifat basa bila pH nya lebih besar dari 7.

Sebagai gambaran hubungan antara pH air dengan kehidupan ikan, dapat dikemukan sebagai berikut :

 pH < 4,5 berarti air kolam besifat racun bagi ikan

 pH 5,5 berarti ikan sangat sensitif pada bakteri dan parasit

 pH < 6,5 berarti pertumbuhan ikan akan terhambat

 pH 6,5-9,0 berarti ikan mengalami pertumbuhan optimal

 pH > 9,0 berarti pertumbuhan ikan akan terhambat

2.4.4 Kecerahan

Djatmika (1986) menyatakan bahwa air yang kotor jelas tidak terpuji, tetapi sejauh mana air dianggap kotor tidaklah mudah diketahui. Kadang ada air yang nampaknya bersih, ternyata sudah dikategorikan kotor. Hal ini dikarenakan pada bagian dasar kolam terdapat sisa-sisa pakan yang membusuk. Sedangkan tingkat kecerahan yang rendah akan menyebabkan :

 Rendahnya kemampuan daya ikat oksigen

 Berkurangnya batas pandang ikan

 Selera makan berkurang sehingga derajat efisiensi pakan rendah

Kecerahan air kolam selain disebabkan oleh adanya partikel tanah (koloid), juga adanya phytoplankton yang melimpah. Tingkat kecerahan optimal untuk kolam air deras adalah 40 cm.

(23)

13 2.4.5 Amoniak

Menurut Djatmika (1986), zat hara nitrogen (N2) penting artinya sebagai penyusun organ hidup, dalam bentuk protein. Jika kebutuhan akan protein kurang tercukupi, maka pertumbuhan ikan akan terhambat. Untuk mengatasi tersebut dapat ditempuh dengan pemberian pakan tambahan yang berprotein tinggi.

Dalam pemberian pakan tambahan yang harus diperhatikan adalah bahwa pakan yang diberikan harus habis seluruhnya. Sebab kalau pakan tersebut tersisa, maka sisa pakan dan kotoran akan terurai menjadi nitrogen dalam bentuk amoniak.

Efek samping yang ditimbulkan oleh adanya amoniak adalah berkurangnya daya ikat oksigen oleh butir-butir darah merah, dan hal ini akan menyebabkan nafsu makan pada ikan menurun.

Kandungan amoniak pada suatu perairan 2 mg/l akan menyebabkan kematian ikan, sedangkan batas tertinggi pada suhu 250C adalah 1,2 mg/l.

2.4.6 Debit Air

Menurut Djatmika (1986), debit air yang besar merupakan syarat utama dalam budidaya kolam air deras. Semakin besar debit yang masuk ke dalam kolam semakin tinggi pula kandungan oksigen yang terlarut. Selain itu juga mampu menghanyutkan sisa-sisa makanan dan kotoran keluar kolam.

Untuk menilai efektifitas kedua fungsi tersebut maka digunakan perhitungan total sirkulasi. Total sirkulasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengganti seluruh air kolam. Semakin kecil angka total sirkulasi, semakin tinggi efektivitas airnya.

Sesuai dengan CBIB kolam air deras membutuhkan debit air yang cukup besar sekitar 25-100 liter/detik.

(24)

14

III METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan pada tanggal 9 Februari sampai dengan 9 Mei 2016 di Instalasi Kolam Air Deras, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

3.2 Alat dan Bahan

Tabel 1 Alat yang dipakai selama proses pengelolaan air budidaya ikan mas

No Alat Spesifikasi Kegunaan

1 Batang pengaduk Batangan Alat untuk menghomogenkan sampel

2 Botol 600 ml Alat untuk mengambil sampel air 3 DO meter Lutron 5510 Alat untuk mengukur oksigen

terlarut dan suhu

4 Gayung 2 liter Alat untuk mengambil air bersih 5 Garpu Panjang Alat membersihkan saluran air 6 Gelas piala 100 ml Tempat pereaksi sampel 7 Gelas ukur 50 ml Alat untuk mengukur sampel

8 Kolam 41,3 m2 Sebagai wadah budidaya

9 Lamit 35 cm Alat untuk membersihkan kolam

10 Mistar 30 cm Alat untuk mengukur tinggi air

11 pH Eutech

Instruments Alat untuk mengukur pH air 12 Pipet Batangan Alat untuk mengambil sampel

(25)

15 Lanjutan Tabel 1.

No Alat Spesifikasi Kegunaan

13 Secchi Disk 80 cm Alat untuk mengukur kecerahan

air

14 Spektrofometer DR 3900YYHI Alat untuk mengukur amoniak

15 Sikat Batangan Alat untuk membersihkan kolam

16 17

Serokan karet Stopwatch

Batangan Alat untuk membersihkan dasar kolam

Alat untuk menghitung waktu

Tabel 2 Bahan yang digunakan selama proses pengelolaan air budidaya ikan mas

No Bahan Spesifik Kegunaan

1 Air tawar Jernih Sebagai media budidaya

2 Ait bersih Jernih dan

bersih

Untuk membersihkan alat-alat yang telah digunakan

3 Aquades Cair Sebagai bahan membersihkan

alat-alat

4 Garam rochlle Cair Larutan yang digunakan dalam analisa amoniak

5 Larutan nesler Cair Larutan yang digunakan dalam analisa amoniak

6 NaOH Cair Larutan yang digunakan dalam

analisa amoniak

7 pH buffer Cair Mempertahankan pH 7

8 Tissu Lembaran Sebagai alat membersihkan alat- alat

9 ZnSO4 Cair Larutan yang digunakan dalam

analisa amoniak

(26)

16 3.3 Metode Pengumpulan Data

Penulisan tugas akhir ini didasarkan pada data yang diperoleh dari kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) berupa data primer dan sekunder.

Data tersebut diperoleh dengan cara sebagai berikut : 3.3.1 Data Primer

Data primer diperoleh dengan cara melaksanakan dan mengikuti kegiatan teknik pembesaran ikan mas secara langsung dan ikut serta berperan aktif di lapangan.

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder, diperoleh melalui studi pustaka dengan cara mengumpulkan data dari berbagai literatur dan melakukan wawancara dengan pembimbing dan teknisi lapangan.

3.4 Metode Pelaksanaan

3.4.1 Pendistribusian dan Pengisian Air

Air dari bendungan sungai Cisarua dialirkan melalui sungai kecil menuju pintu air Instalasi Kolam Air Deras. Dari pintu air dialirkan ke kolam pemeliharaan yang berukuran 8,0 x 4,3 x 1,2 m melalui saluran beton yang berukuran lebar 30 cm dengan debit air 3,26 liter/detik.

3.4.2 Pengukuran Kualitas Air Dissolved Oxygen (DO)

Adapun prosedur kerja pengukuran oksigen terlarut adalah langkah pertama elektroda dibilas dengan menggunakan aquades lalu elekroda dikeringkan menggunakan tissu. Menekan tombol on untuk menghidupkan alat, kemudian eletroda dimasukkan ke dalam kolam sampai muncul angka yang stabil

(27)

17 dan dicatat hasil pengukuran. Setelah dicatat hasil pengukuran, DO meter dimatikan dengan menekan tombol off dan eletroda dibilas dengan menggunakan aquades, lalu dilap dengan menggunakan tissu.

Suhu

Adapun prosedur kerja pengukuran suhu dengan menggunakan DO meter adalah langkah pertama elektroda dibilas dengan menggunakan aquades lalu elekroda dikeringkan menggunakan tissu. Menekan tombol on untuk menghidupkan DO meter, kemudian elektroda dimasukkan ke dalam kolam sampai muncul angka yang stabil dan dicatat hasil pengukuran. Setelah dicatat hasil pengukuran, DO meter dimatikan dengan menekan tombol off dan elektroda dibilas dengan menggunakan aquades, lalu dilap dengan menggunakan tissu.

Derajat Keasaman (pH)

Adapun prosedur kerja pengukuran derajat keasaman dengan menggunakan pH meter adalah langkah pertama elektroda dibilas dengan menggunakan aquades lalu elekroda dikeringkan menggunakan tissu. Menekan tombol on untuk menghidupkan alat, kemudian elekroda dimasukkan ke dalam kolam sampai muncul angka yang stabil dan dicatat hasil pengukuran. Setelah dicatat hasil pengukuran, pH meter dimatikan dengan menekan tombol off dan elekroda dibilas dengan menggunakan aquades, lalu dilap dengan menggunakan tissu.

Kecerahan

Adapun prosedur kerja pengukuran kecerahan adalah langkah pertama cakram secchi disk dimasukkan ke dalam kolam secara berlahan-lahan sampai cakram secchi disk tidak kelihatan dan dilihat berapa kadalamnya yang terdapat

(28)

18 pada skala tali secchi disk, kemudian cakram secchi disk diangkat secara perlahan sampai cakram secchi disk kelihatan dan dilihat berapa skala yang terdapat pada tali secchi disk, selanjutnya dicatat nilai hasil pengukuran kecerahan. Rata-rata dari hasil pengukuran tersebut menunjukkan nilai kecerahan.

Amoniak

Adapun prosedur kerja pengukuran amoniak adalah yang pertama sampel diambil sebanyak 100 ml, ditambahkan ZnSO4 1% dan NaOH 6 N masing-masing 1 ml, kemudian diaduk dengan batang pengaduk. Setelah itu diambil 50 ml cairan bening, dan diteteskan garam rochlle 1-2 tetes kemudian diaduk lagi menggunakan batang pengaduk, lalu ditambahkan 0,5 nesler B dan diaduk lagi dengan batang pengaduk, kemudian didiamkan selama 10 menit, selanjutnya diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 425 nm.

Debit Air

Adapun prosedur kerja pengukuran debit air adalah yang pertama menghitung luas kolam lalu mengukur tinggi air. Setelah menggetahui luas kolam dan tinggi air lalu dihitung volumenya. Kemudian kolam dikeringkan lalu diisi kembali air sampai volume yang telah ditentukan. Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk mengisi air kolam.

3.4.3 Sampling

Adapun langkah-langkah sampling yaitu ikan ditangkap sebanyak 30 ekor menggunakan lamit 35 x 35 cm, lalu di tampung pada baskom yang telah disediakan. Ikan dimasukkan dalam kantong plastik satu per satu untuk ditimbang.

(29)

19 Setelah ditimbang, ikan diukur panjangnya dengan menggunakan mistar, lalu dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan.

3.4.4 Panen

Adapun langkah-langkah panen adalah pertama menyurutkan air kolam terlebih dahulu, lalu menangkap ikan menggunakan hapa. Selanjutnya ikan diberotkan dengan menggunakan bambu, lalu ikan dihitung satu per satu dan dimasukkan dalam karung, kemudian ikan ditimbang menggunakan timbangan.

3.5 Paramer Yang Diamati dan Analisis Data 3.5.1 Parameter yang Diamati

Parameter yang diamati selama pemeliharaan adalah :

a. Parameter kualitas air meliputi : amoniak, DO (oksigen terlarut), pH (derajat keasaman), kecerahan, suhu, dan debit air.

b. Panjang dan bobot ikan c. Jumlah ikan

3.5.2 Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif yang bersumber pada data primer dan sekunder yang didapatkan selama praktik.

Perhitungan dan rumus yang digunakan berdasarkan standar operasional BBPBAT Sukabumi untuk mengetahui kecerahan air, pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup (SR) ikan mas yaitu:

a. Panjang rata-rata

b.

c.

d.

(30)

20 e.

f.

g. Debit air =

Gambar

Gambar 1 Morfologi ikan mas
Gambar 2 Ikan mas punten  (totoharyanto.com)
Gambar 2. Ikan mas sinyonya  (smakorpri.bekasi,sch.id)
Gambar 3 Ikan mas cangkringan
+3

Referensi

Dokumen terkait

ANALISR BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODOKSI BUDIDAYA lKAN MAS DALAM KOLAM AIR DERAS1. Studi Kasus di Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa

Berdasarkan hasil pengukuran se- lama 90 hari pembesaran ikan patin di lahan gambut di peroleh data pH air di kolam dengan sistem biopori berkisar antara 5,8 ±

2014).Penelitian tentang keunggulan budidaya ikan mas di kolam Tirta Mas dan kolam Taman Pelangi yang merupakan Inkubator bisnis di kolam budidaya ikan konsumsi

9 Sampling pertumbuhan ikan bawal bintang stadia pembesaran di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung 69 10 Sampling perhitungan jumlah telur di Balai Besar

Teknik Pembesaran Calon Induk Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Menggunakan Bioflok Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Gelung, Situbondo, Jawa Timur.. Dosen

Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi 5 halnya pada produksi ikan mas Majalaya F1, pemijahan untuk produksi F2 juga dilakukan dengan metode induced

Budidaya udang vaname dengan sistem modular di tambak telah dilakukan di Instalasi Tambak Percobaan Maranak milik Balai Riset Perikanan Budidaya Air payau Maros,

Metode kerja yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang adalah dengan cara mengikuti langsung kegiatan pembesaran ikan nilem dimulai dari persiapan kolam, penyediaan air budidaya,