0
VISI DAN MISI
KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2018 - 2023
1
I. PENDAHULUAN
Kabupaten Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Lumajang diapit oleh 3 (tiga) gunung berapi, yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo, dan Gunung Lamongan. Di bagian barat yaitu di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, dengan puncaknya Gunung Semeru (3.676 m) sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa. Hal ini menjadikan Kabupaten Lumajang memiliki kondisi tanah yang subur dan potensi sumber daya alam yang melimpah, khususnya di bidang pertanian. Luas wilayah Kabupaten Lumajang sebesar 1.790,90 Km2, terbagi dalam 21 wilayah Kecamatan, 198 Desa, 7 Kelurahan, 1.749 RW dan 7.023 RT.
Berdasarkan data BPS tahun 2016, mata pencaharian penduduk sebagian besar bekerja di sektor Pertanian (termasuk perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) yaitu sebesar 230.656 jiwa atau 44,51% dari jumlah penduduk usia produktif. Sebagian lain bekerja di
2 sektor Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel sebesar 94.521 jiwa (18,24%), sektor Industri Pengolahan sebesar 57.025 jiwa (11,00%), sektor bangunan/konstruksi sebesar 45.904 jiwa (8,86%). Sisanya bekerja di sektor transportasi, pertambangan, jasa dan keuangan.
Komposisi profesi pekerjaan penduduk tersebut mencerminkan potensi sumber daya alam Kabupaten Lumajang, dimana luas penggunaan lahan sawah irigasi dan non irigasi yang ditanami padi di Kabupaten Lumajang adalah 36.753 ha., dengan rincian lahan sawah irigasi 33.547 ha dan sisanya adalah luas lahan non irigasi sebesar 3.206 ha. Produktivitas tanaman padi mencapai 62,09 kw/ha, sehingga dengan luas panen 85.434 hektar produksinya mencapai 5.304.644 ton. Luas areal perkebunan yang ada di Kabupaten Lumajang pada tahun 2016, yang mempunyai areal terluas adalah perkebunan tebu, yaitu sebesar 13.035 Ha dengan hasil produksi sebesar 1.075.075 ton. Diikuti oleh luas areal perkebunan kelapa seluas 8.129 ha dengan produksi sebesar 8.136 ton. Di samping itu, Kabupaten Lumajang juga memiliki potensi peternakan dan perikanan yang juga berpotensi untuk dikembangkan, serta potensi
3 kekayaan pertambangan galian batuan dan mineral logam yang berada di wilayah selatan Kabupaten Lumajang.
Secara umum perekonomian di Kabupaten Lumajang selama beberapa tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan. Walaupun angka pertumbuhannya berfluktuasi dari tahun ke tahun tetapi secara makro angka tersebut menunjukkan kenaikan. Indikator kinerja makro ekonomi yang paling kerap digunakan dan dinilai dapat merepresentasikan kinerja pembangunan daerah adalah pertumbuhan ekonomi melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan data kontribusi per sektor PDRB yang dihitung oleh BPS Tahun 2016, terlihat bahwa perekonomian Kabupaten Lumajang sebagian besar ditunjang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (36,49
%), diikuti sektor industri pengolahan (19,48 %), dan sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor (14,20 %). Hal tersebut memberikan gambaran bahwa struktur/pola perekonomian masyarakat Kabupaten Lumajang mengalami pergeseran meskipun belum cukup signifikan namun terjadi secara keseluruhan berdampak pada levelling besaran PDRB. Pergeseran yang terjadi dari sektor pertanian/agraris ke sektor industri ataupun
4 perdagangan yang merupakan ciri spesifik dari daerah berkembang.
5
II. PERMASALAHAN STRATEGIS
Dalam proses dinamika pembangunan, selalu akan timbul permasalahan. Permasalahan pembangunan dapat disebabkan karena perkembangan yang terjadi di masyarakat, dimana kebutuhan masyarakat akan terus meningkat baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya.
Persoalan lain adalah masalah manajemen pemerintahan, dimana peran pemerintah sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Sering terjadi persoalan pembangunan disebabkan karena pemerintah daerah kurang melaksanakan fungsinya secara optimal. Pembangunan yang tidak fokus pada penyelesaian masalah, partisipasi dan dukungan masyarakat yang rendah, kurangnya sinergitas di kalangan birokrasi pemerintahan daerah, pemborosan penggunaan anggaran untuk hal-hal yang kurang prioritas, merupakan bentuk-bentuk dari kurangnya kehadiran pemerintah dalam proses pembangunan di masyarakat. Pada sisi lain, upaya- upaya penggalian potensi Pendapatan Asli Daerah masih memerlukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi, khususnya melalui cara-cara kreatif dan inovatif terkait
6 dengan perolehan pendapatan melalui mekanisme perpajakan dan retribusi daerah.
Tanpa bermaksud mengabaikan hasil-hasil pembangunan di Kabupaten Lumajang selama ini, dapat dilihat beberapa permasalahan utama pembangunan yang cukup menonjol di Kabupaten Lumajang.
Masalah Indeks Pembangunan Manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lumajang berdasarkan data BPS tahun 2016 menunjukkan angka 63,02 dan menduduki peringkat ke-35 dari 38 kab/kota di Provinsi Jawa Timur. Capaian IPM tersebut diperoleh dari Indeks Kesehatan 0,76; Indeks Pendidikan sebesar 0,52; dan Indeks Pengeluaran sebesar 0,63. Dari sisi pertumbuhan IPM dari tahun 2010 ke 2016, IPM Kabupaten Lumajang mengalami peningkatan rata-rata 5,70 persen. Sedangkan pertumbuhan IPM dari tahun 2015 ke 2016, Kabupaten Lumajang tumbuh sebesar 0,68 persen. Pertumbuhan ini masih di bawah Provinsi Jawa Timur yang sebesar 0,72 persen. Dalam rangka meningkatkan peringkat angka IPM Kabupaten Lumajang di tingkat provinsi, diperlukan upaya- upaya nyata yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan indeks pendidikan, kesehatan dan pengeluaran masyarakat.
7 Masalah Kemiskinan, Pada tahun 2016 angka kemiskinan Kabupaten Lumajang menurun sebesar 0,8% dari tahun 2015. Adapun selama kurun waktu 2011 – 2016 Kabupaten Lumajang telah menurunkan angka kemiskinan sebesar 1,79% dan berkontribusi dalam menurunkan angka kemiskinan Jawa Timur selama kurun waktu 2011 – 2016 sekitar 2,5%. Angka kemiskinan masih harus terus ditekan/diturunkan apalagi dengan angka inflasi yang berada di atas pertumbuhan ekonomi, yang dapat menyebabkan kemampuan daya beli masyarakat menurun. Akses penduduk yang lemah terhadap sumber daya ekonomi, di samping rendahnya tingkat pendidikan serta minimnya keterampilan menjadi penyebab pokok timbulnya kemiskinan. Sehingga ke depannya permasalahan kemiskinan ini harus ditangani secara lebih fokus dan bersama-sama melalui program-program yang langsung menyentuh masyarakat.
Masalah Pengangguran, Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Lumajang tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 0,25% dibanding tahun 2015. Angka tersebut di bawah angka TPT Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Lumajang berada di peringkat 2 (dua) setelah
8 Kabupaten Pacitan untuk TPT terendah. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2015 adalah 532.005 jiwa, dan 13.821 diantaranya merupakan penggangguran terbuka.
Pengangguran ini akan menyebabkan rasio ketergantungan penduduk semakin besar dan menjadi beban ekonomi keluarga. Tingginya angka pengangguran juga menghambat produktivitas, pertumbuhan ekonomi serta berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap besarnya jumlah pengangguran ini dan diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Pihak-pihak swasta melalui forum CSR sangat berpotensi dikonsolidasikan untuk mengatasi angka pengangguran ini, disamping mengembangkan keterampilan dan semangat wirausaha.
Berdasarkan gambaran kondisi Kabupaten Lumajang pada saat ini, beberapa permasalahan strategis bidang pembangunan yang dapat dirangkum sebagai berikut : 1. Pendidikan :
Masih adanya keterbatasan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan pendidikan.
Ketimpangan mutu pendidikan di daerah pedesaan dan di daerah perkotaan.
9
Penggunaan prasarana dan sarana pendidikan yang tidak efisien.
Kurangnya manajemen pelayanan pendidikan dan tenaga pendidik.
Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam kontribusi peningkatan mutu pendidikan.
2. Kesehatan
Masih tingginya Angka Kematian Ibu.
Masih rendahnya ketersediaan tenaga kesehatan di Kabupaten Lumajang.
Masih kurangnya sarana dan prasarana kesehatan yang memenuhi standar.
Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
3. Pertanian :
Kurangnya teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi dan produktivitas.
Pendapatan petani yang fluktuatif dan harga hasil pertanian yang tidak menentu.
Masih kurangnya upaya pemasaran dan pengolahan hasil produksi pertanian.
10
Distribusi dan ketersediaan pupuk di saat musim tanam.
4. Reformasi Birokrasi :
Masih perlunya peningkatan kualitas pelayanan masyarakat.
Masih rendahnya jangkauan pelayanan administrasi kependudukan, khususnya bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari tempat pelayanan.
Proses pelayanan perijinan yang masih kurang optimal (belum satu pintu).
Belum terintegrasinya e-government dalam penyelenggaraan pemerintahan.
5. Pariwisata dan Budaya :
Masih terbatasnya infrastruktur penunjang wisata.
Masih kurangnya promosi potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Lumajang.
Belum adanya keterpaduan potensi pariwisata dengan sektor lain.
Kurang optimalnya manajemen pengelolaan destinasi pariwisata.
Belum optimalnya upaya pelestarian dan wadah pengembangan budaya di Kabupaten Lumajang.
11 6. Infrastruktur :
Masih adanya ruas jalan dan jembatan dalam kondisi rusak berat dan sedang.
Ketersediaan infrastuktur pertanian belum memadai.
Belum maksimalnya penyediaan air bersih.
Masih adanya kawasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan.
Kurang tersedianya luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik yang sesuai standar.
Masih kurangnya dukungan pemanfaatan teknologi informasi.
7. Sosial :
Masih kurangnya sarana dan prasarana untuk menangani Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ada di Kabupaten Lumajang.
Permasalahan kemiskinan yang masih perlu ditangani.
8. Energi dan Sumber Daya Mineral :
Masih adanya dusun yang belum terlayani jaringan listrik.
Masih adanya aktivitas penambangan yang tidak berijin.
12
Kurang optimalnya pengawasan pelaksanaan pengelolaan pertambangan pasir.
Tidak adanya tata kelola pertambangan pasir yang mempertemukan antar pengelolaan usaha pertambangan.
9. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat :
Kurangnya kemampuan pengelola Usaha Mikro Kecil dalam mengakses informasi, teknologi, permodalan, dan pasar.
Rendahnya daya saing produk Lumajang di pasar global maupun nasional.
Masih lemahnya partisipasi usia produktif dalam membaca peluang wirausaha.
Belum optimalnya keberadaan pasar desa dalam menggerakkan perekonomian desa.
Belum optimalnya pengembangan perekonomian masyarakat nelayan/wilayah pesisir.
13
III. VISI, MISI, DAN PROGRAM
VISI
“ TERWUJUDNYA MASYARAKAT LUMAJANG YANG BERDAYA SAING, MAKMUR DAN BERMARTABAT ” Secara filosofis Visi tersebut dapat dijelaskan melalui makna yang terkandung di dalamnya, yaitu :
Terwujudnya, terkandung didalamnya terciptanya, semangat, peran serta upaya untuk menjadikan Lumajang yang berdaya saing, makmur dan bermartabat;
Masyarakat Lumajang, nilai kebersamaan dalam kehidupan menjadikan hal penting dalam membangun dan mengembangkan kehidupan yang didukung dengan pengelolaan dengan segala potensi dan sumber daya dalam sistem pemerintahan di wilayah Kabupaten Lumajang;
Berdaya Saing, adalah mengembangkan segala kemampuan yang mandiri dan lebih kompetitif melalui optimalisasi potensi yang dimiliki guna meningkatkan daya saing daerah;
14
Makmur, adalah kondisi kehidupan individu dan masyarakat yang terpenuhi kesejahteraannya secara lahir dan batin;
Bermartabat, adalah merupakan suatu nilai tertinggi dalam kehidupan secara lahiriah dan batiniah. Sendi- sendi moral dalam kehidupan telah menjadi nilai luhur dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.
MISI
1. Meningkatkan Kualitas SDM yang Agamis, Cerdas, Kreatif, Inovatif dan Bermoral melalui Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat yang Berkeadilan.
2. Meningkatkan Perekonomian Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat yang Mandiri dan Berdaya Saing Melalui Pengembangan Kawasan Berbasis Pertanian, Pemberdayaan Usaha Mikro dan Jasa Pariwisata serta Usaha Pendukungnya secara Berkelanjutan.
3. Mewujudkan Pemerintahan yang Baik, Benar dan Bersih melalui Reformasi Birokrasi dan Pelayanan
15 Publik yang Profesional, Aspiratif, Partisipatif dan Transparan.
UPAYA PEMECAHAN MASALAH
PENDIDIKAN
Fasilitasi kerjasama dengan lembaga pendidikan berasrama/pesantren
Fasilitasi dan pengembangan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi
Peningkatan manajemen mutu pelayanan pendidikan dan tenaga kependidikan
Pengembangan pendidikan non formal (Madin, PAUD/TK/RA, SLB dan Kejar Paket)
KESEHATAN
Pengadaan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana Kesehatan
Standarisasi Pelayanan Kesehatan
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Pemenuhan Ketersediaan Tenaga Medis Spesialis
16 PERTANIAN
Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Produksi Pertanian
Pengembangan Agribisnis Pertanian
Peningkatan Kesejahteraan Petani
Peningkatan Pengawasan Distribusi Pupuk
REFORMASI BIROKRASI
Peningkatan Kapasitas dan Profesionalisme Sumber Daya Aparatur
Peningkatan Kualitas Pelayanan Masyarakat melalui sistem online
Peningkatan transparansi program dan kegiatan
Optimalisasi penerapan e-government
PARIWISATA
Pembangunan sarana prasarana menuju dan di objek wisata
Pengembangan pemasaran potensi wisata
Pengembangan potensi pariwisata terpadu
Fasilitasi pengembangan pengelolaan pariwisata melalui jejaring pelaku usaha pariwisata
17
Pengelolaan kekayaan potensi budaya
INFRASTRUKTUR
Peningkatan Seluruh Ruas Jalan menjadi Hotmix dan revitalisasi jembatan
Peningkatan ketersediaan infrastruktur pendukung pertanian
Pemenuhan kebutuhan air bersih di daerah rawan air
Penanganan kawasan permukiman kumuh secara terpadu
Penambahan Ruang Terbuka Hijau
Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi
SOSIAL
Pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial
Rehabilitasi rumah tidak layak huni bagi masyarakat miskin
Pemberdayaan fakir miskin, dan penyandang masalah kesejahteraan sosial
18 SUMBERDAYA ALAM DAN ENERGI
Fasilitasi pemasangan jaringan listrik dan energi terbarukan
Fasilitasi pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan
Penyiapan kebijakan lokal tata kelola pertambangan pasir
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT
Peningkatan Sarana dan Prasarana Pasar Daerah
Peningkatan peran Koperasi
Peningkatan Pembinaan dan fasilitasi pengusaha pemula/usaha rintisan
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir
19
20 JANJI PROGRAM NYATA
1. Pelayanan administrasi kependudukan (KTP, KSK, Akta Kelahiran, Akta Kematian) dengan sistem online, tuntas di Kecamatan.
2. Pembangunan mall/pusat pelayanan perizinan satu atap yang terintegrasi dari seluruh proses perizinan.
3. Program semua ibu melahirkan gratis di semua puskesmas, rumah sakit di Lumajang dengan standart kelas 3 dan tanpa ada biaya tambahan obat.
4. Fasilitasi pemenuhan listrik di wilayah yang belum mendapatkan aliran listrik, dan pemenuhan air bersih di wilayah utara dan daerah rawan kekurangan air lainnya.
5. Melakukan inisiasi dan koordinasi aktif kepada pemerintah pusat untuk pembangunan jalan tol Probolinggo - Lumajang sebagai langkah mengatasi problem kemacetan dan kemudahan akses ekonomi.
20 6. Memberikan bantuan seragam gratis bagi siswa baru SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA serta SPP gratis untuk SMA/SMK/MA.
7. Memberikan bantuan beasiswa untuk mahasiswa baru berprestasi yang tidak mampu yang diterima di perguruan tinggi negeri dengan target 1000 penerima beasiswa.
8. Memberikan tambahan tunjangan/honor bagi guru non NIP, guru madrasah diniyah, guru TPQ dan guru ngaji masjid/langgar.
9. Tunjangan uang duka kematian sebesar Rp 1.000.000, yang dicairkan tepat waktu. Dan memberikan bantuan sarana prasarana rukun kematian.
10. Pengadaan WiFi di seluruh sarana publik dan di setiap desa/kelurahan. Dan juga pemasangan CCTV di tempat rawan tindakan kriminal dan sarana publik dengan target pemasangan 1000 CCTV.
11. Pembangunan stadion Semeru standart nasional, serta pembangunan stadion standart
21 regional di kecamatan Klakah, Pasirian dan Yosowilangun.
12. Pembangunan jalan poros desa dan menyelesaikan infrastruktur jembatan/jalan kabupaten dengan standart hotmix, serta membangun jalan penghubung Pasirian – Tempursari.
13. Pembangunan ruang terbuka hijau dan taman yang layak untuk anak di setiap kecamatan.
14. Fasilitasi pendirian BUM-Tren (Badan Usaha Milik Pesantren) sebagai langkah penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
15. Rehabilitasi pasar tradisional yang lebih tertata dan rapi serta nyaman bagi para pedagang pasar dan pembeli. Sekaligus mendirikan koperasi di setiap pasar tradisional dengan pinjaman tanpa bunga.
16. Optimalisasi potensi pariwisata dan pertanian dengan memaksimalkan kerjasama dan keterlibatan masyarakat dengan jaringan pelaku investasi yang memiliki daya tarik
22 pengembangan usaha pariwisata dan usaha pertanian.
17. Pemberdayaan Karang Taruna, kelompok organisasi pemuda, lansia, anak jalanan dan kaum disabilitas atau cacat.
18. Pengalihfungsian Gedung Soejono menjadi gedung kesenian dan kegiatan kreatifitas anak muda.
19. Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Pegawai Negeri Sipil. Dan menstandartkan honor tenaga kontrak pemerintah Kabupaten Lumajang sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK).
20. Pemberian tunjangan kepala desa, perangkat desa di luar penghasilan tetap, dan memberikan tunjangan tambahan bagi RT/RW.
23 Untuk mewujudkan program nyata tersebut, disamping sinergi anggaran pemerintah pusat, provinsi, dan pihak lain, maka diperlukan strategi untuk meningkatkan PAD. Beberapa upaya dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lumajang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pemuktahiran data objek pajak daerah dan retribusi daerah
2. Perubahan tarif perda pajak daerah dan retribusi daerah.
3. Pemberdayaan BUMD
4. Optimalisasi Pelayanan Publik
5. Penegakan Perda Pajak dan Retribusi Daerah (Law Enforcement)