• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN WAT DIII.09 BOBOT 2 SKS (T=2) KURIKULUM 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN WAT DIII.09 BOBOT 2 SKS (T=2) KURIKULUM 2013"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

PSIKOSOSIAL DAN BUDAYA DALAM KEPERAWATAN

WAT DIII.09 BOBOT 2 SKS (T=2) KURIKULUM 2013

Oleh :

Oleh

...

Disajikan Pada

Proses Belajar Mengajar Semester I (SATU) DIPLOMA III Jurusan Keperawatan

POLITEKNIK KESEHATAN GORONTALO KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2017/2018

(2)

A. Kata Pengantar

Puji dan syukur patut kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas petunjuk, rahmat dan karunia-Nya, sehingga Modul Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disegala bidang menyebabkan arus komunikasi dan transportasi semakin meningkat dan hal tersebut sangat berpotensi mempengaruhi kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Dampak dari meningkatnya arus transportasi, dapat meningkatkan tingginya perpindahan penduduk dari desa ke kota, dari kota ke kota yang lain bahkan dari satu negara ke negara yang lain. Selain itu tingginya kunjungan turis asing dari satu negara ke negara yang lain, dapat berpotensi membawa bibit penyakit seingga terjadinya penularan penyakit. Karena itu tidak jarang kita melihat klien yang dirawat disetiap Rumah Sakit khususnya didaerah-daerah wisata tidak hanya penduduk lokal/masyarakat Indonesia tetapi juga mereka yang berasal dari manca negara yang notebene kebudayaan mereka sangat berbeda dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Untuk itulah diperlukan materi psikososial dan budaya dalam keperawatan dimasukan kedalam kurikulum pendidikan profesi Ners, agar mahasiswa dapat dibekali dengan ilmu dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien berdasarkan pendekatan psikososial dan budaya.

Modul ini berisi materi tentang konsep psikososial dalam praktik keperawatan yang mencakup konsep diri, kesehatan spiritual, seksualitas, stress adaptasi, konsep kehilangan, kematian dan berduka, konsep teoritis Antropologi kesehatan mencakup kebudayaan, masyarakat rumah sakit dan kebudayaan, etiologi penyakit, persepsi sehat sakit, peran dan perilaku pasien, respoon sakit/nyeri pasien serta konsep globalisasi dan perspektif transkultural, diversity dalam masyarakat, teori culture care leininger,pengkajian budaya, aplikasi transkultural nursing sepanjang daurkehidupan manusia, aplikasi keprawatan transkultural dalam berbagai masalaha kesehatan pasien.

Semoga Modul ini dapat membantu mahasiswa dan memberi inspirasi dalam menerapkan penyusunan asuhan keperawatan dengan pendekatan konsep psikososial dan budaya dari setiap klien yang dirawat di Rumah Sakit maupun di Puskesmas dan semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya mahasiswa.

Penulis,

(3)

B. Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar... i Kata Pengantar... ii Standar kompetensi ...

Deskripsi Umum

Peta kedudukan modul ...

Petunjuk penggunaan modul ...

Glosarium ...

BAB I : Psikososial dan budaya dalam keperawatan ………. 1

C. Capaian Pembelajaran

Setelah mengikuti mata kulian ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep psikososial dalam praktik keperawatan, konsep antropologi kesehatan dan dapat menerapkan keperawatan transkultural dalam membuat asuhan keperawatan pada klien dengan baik dan benar.

D. Deskripsi Umum

Mata Kuliah ini menguraikan tentang konsep psikososial dalam praktik keperawatan yang mencakup konsep diri, kesehatan spiritual, seksualitas, stress adaptasi, konsep kehilangan, kematian dan berduka, konsep teoritis Antropologi kesehatan mencakup kebudayaan, masyarakat rumah sakit dan kebudayaan, etiologi penyakit, persepsi sehat sakit, peran dan perilaku pasien, respoon sakit/nyeri pasien serta konsep globalisasi dan perspektif transkultural, diversity dalam masyarakat, teori culture care leininger,pengkajian budaya, aplikasi transkultural nursing sepanjang daurkehidupan manusia, aplikasi keprawatan transkultural dalam berbagai masalaha kesehatan pasien.

Proses belajar memberikan pangalaman pemahaman tentang psikososial dan budaya dalam keperawatan melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan, jigsaw, round club, student facilitator.

E. Peta Kedudukan Modul

...

(4)

F. Petunjuk Penggunaan Modul

Untuk lebih cepat memahami materi yang terdapat dalam modul ini, setiap mahasiswa perlu mencermati beberapa petunjuk penggunaan sebagai berikut :

1. Siapkan hati dan pikiran kita untuk memulai dan mempelajari setiap pokok bahasan yang terdapat modul ini

2. Jangan tergesa-gesa membaca materi yang ada dalam modul ini, sebaliknya bacalah setiap item yang terdapat dalam modul ini dengan cermat, sehingga apa makna yangterkandung dalam setiap pokok dan sub pokok bahasan dapat dimengerti dengan baik dan benar

3. Pada saat saudara membaca modul ini, siapkan terlebih dahulu alat tulis dan buku catatan, sehingga ketika saudara membaca dan menemukan ada hal-hal penting, maka saudara segera mencatat dalam buku catatan yang sudah disiapkan

4. Jika menemukan istilah yang tidak dimengerti, silahkan cari di kamus dan atau diinternet sehingga saudara dapat mengerti maksud dari istilah tersebut

5. Sebaiknya ketika saudara membaca modul ini, ajaklah teman saudara sebagai teman untuk berdiskusi sehingga materi yang dibaca dapat dipahami dan dapat dijelaskan kepada teman atau kepada dosen pada saat dilakukan quis

6. Jika ada materi yang tidak dapat dipahami setelah berdiskusi dengan teman-teman, catatlah materi tersebut untuk selanjutnya dapat ditanyakan kepada dosen pengampu mata kuliah pada saat dikelas.

7. Buatlah rangkuman materi untuk setiap pokok dan sub pokok bahasan untuk membantu memudahkan saudara mendalami materi.

8. Khuusus untuk pokok bahasan tentang asuhan keperawatan berbasis transkultural hendaknya saudara melatih diri dengan membuat kasus-kasus semu dan atau kasus nyata hasil pangkajian saudara dilahan praktik.

G. Glosarium

...

(5)

BAB I : PSIKOSOSIAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

Konsep Diri Dan Kesehatan Spiritual

A. PENDAHULUAN

1. Deskripsi/Uraian Materi

Mata Kuliah ini menguraikan tentang konsep diri dan kesehatan spiritual mencakup pengertian konsep diri, macam konsep diri, komponen konsep diri, pengertian spiritual, dimensi spiritual, keterkaitan antara spiritual-kesehatan-sakit, factor yang mempengaruhi spiritualitas, pasien yang membutuhkan dukungan spiritual, masalah kebutuhan spiritual, macam-macam distress spiritual dan askep spiritual.

2. Kompetensi Dasar

a. Mampu menjelaskan pengertian konsep diri dan komponen konsep diri b. Mampu menjelaskan pengertian spiritual

c. Mampu menjelaskan keterkiatan antara spiritual-kesehatan-sakit d. Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi spiritual

e. Mampu menjelaskan pasien yang membutuhkandukungan spiritual

f. Mampu menjelaskan masalah kebuthan spiritualdan macam-macam distres g. Mampu menyusun askep spiritual

B. Penyajian

1. Uraian materi konsep diri a. Pengertian konsep diri

Konsep Diri didefenisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen 2005).

Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual (Keliat, 2005).

Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberi kita kerangka acuan yang mempengaruhi manejemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain (Potter & Perry, 2005)

b. Macam-macam konsep diri

Dua macam konsep diri adalah sebagai berikut :

1) konsep diri negatif : peka pada kritik, responsif sekali pada pujian, hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, bersikap pesimitis pada

kompetensi.

2) konsep diri positif : yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, sadar akan keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui oleh orang lain, mampu memperbaiki diri.

c. Hal-hal yang perlu dipahami tentang konsep diri adalah :

1) Dipelajari melalui pengalaman dan interaksi individu dengan orang lain.

(6)

2) Ditandai dengan kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan(positif).

3) Negatif ditandai dengan hubungan individu dan sosial yang mal adaptif.

4) Merupakan aspek kritikal yang mendasar dan pembentukan perilaku individu.

d. Hal-hal yang penting dalam konsep diri adalah : 1) Nama dan panggilan anak.

2) Pandangan individu terhadap orang lain.

3) Suasana keluarga yang harmonis.

Penerimaan keluarga e. Komponen konsep diri

Konsep diri terdiri dari Citra Tubuh (Body Image), Ideal Diri (Self ideal), Harga Diri (Self esteem), Peran (Self Rool) dan Identitas(self idencity).

1) Citra Tubuh (Body Image)

Body Image (citra tubuh) adalah sikap individu terhadap dirinya baik disadari maupun tidak disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan dinamis karena secara konstan berubah seiring dengan persepsi dan pengalaman-pengalaman baru.

Body image berkembang secara bertahap selama beberapa tahun dimulai sejak anak belajar mengenal tubuh dan struktur, fungsi, kemampuan dan keterbatasan mereka. Body image (citra tubuh) dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu ataupun bulan tergantung pada stimuli eksterna dalam tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, stuktur dan fungsi (Potter & Perry, 2005).

2) Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan/disukainya atau sejumlah aspirasi, tujuan, nilai yang diraih.

Ideal diri akan mewujudkan cita-cita ataupun penghargaan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Ideal diri berperan sebagai pengatur internal dan membantu individu mempertahankan kemampuan menghadapi konflik atau kondisi yang membuat bingung. Ideal diri penting untuk mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental.

Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak dipengaruhi oleh orang yang dekat dengan dirinya yang memberikan harapan atau tuntunan tertentu.

Seiring dengan berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dari dasar ideal diri. Pada usia remaja, ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Pada usia yang lebih tua dilakukan penyesuaian yang merefleksikan berkurangnya kekuatan fisik dan perubahan peran serta tanggung jawab.

(7)

2) Harga Diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya.

Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu : dicintai, dihormati dan dihargai. Mereka yang menilai dirinya positif cenderung bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri, sebaliknya individu akan merasa dirinya negative, relatif tidak sehat, cemas, tertekan, pesimis, merasa tidak dicintai atau tidak diterima di lingkungannya (Keliat BA, 2005).

Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri akan sangat mengancam pada saat pubertas, karena pada saat ini harga diri mengalami perubahan, karena banyak keputusan yang harus dibuat menyangkut dirinya sendiri.

3) Peran

Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosial.

Setiap orang disibukkan oleh beberapa peran yang berhubungan dengan posisi pada tiap waktu sepanjang daur kehidupannya. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri.

4) Identitas Diri

Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh individu dari observasi dan penilaian dirinya, menyadari bahwa individu dirinya berbeda dengan orang lain. Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya.

Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak, bersamaan dengan berkembangnya konsep diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri

Daftar Pustaka

Keliat, Budi Anna, Dkk. 2005 . Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2.

Jakarta: EGC

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Stuart, Gail & Sundeen, Sandra. 2005. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:

EGC

(8)

2. Uraian Materi konsep spiritual a. Pengertian spiritual

Spiritualitas merupakan sesuatu yg di percayai oleh seseorang dlm hubunganya dgn kekuatan yg lebih tinggi (tuhan), yg menimbulkan suatu kebutuhan serta kecintaan thdp adanya Tuhan dan permohonan maaf atas segala kesalahan yg pernah diperbuat.

Tdk selamanya dgn tuhan à animisme dinamisme .

Menurut Burkhardt (1993) Spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut:

a) Berhubungan dgn sesuatu yg tdk diketahui atau ketidakpastian dlm kehidupan.

b) Menemukan arti dan tujuan hidup.

c) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dlm diri sendiri.

d) Mpy perasaan keterikatan dgn diri sendiri dan dengan Yg Maha Tinggi.

e) Stoll (1989) b. Dimensi spiritual

Spiritualitas sbg konsep dua dimensi: dimensi VERTIKAL adalah hubungan dgn Tuhan atau Yang Maha Tinggi yg menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi HORIZONTAL adalah hubungan seseorang dgn diri sendiri, orang lain dan dgn lingkungan.

(Carson, 1989). Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dgn Tuhan

c. Keterkaitan antara spiritual-kesehatan-sakit

Keterkaitan spiritualitas- kesehatan –sakit, keyakinan spiritual sngat penting krn dpt mempengaruhi tingkat kesehatan dan perilaku selfcare klien.

Pengaruh dari keyakinan spiritual yg perlu dipahami adalah sebagai berikut:

1) Menuntun kebiasaan hidup

Praktik tertentu pd umumnya yg berhubungan dgn pelayanan keseh mungkin mpyai makna keagamaan bagi pasien.

Sebagai contoh, ada agama yg menetapkan makanan diit yg boleh dan tidak boleh dimakan. Begitu pula metode keluarga berencana ada agama yg melarang cara tertentu untuk mencegah kehamilan termasuk terapi medik atau

pengobatan.

(9)

2) Sumber dukungan

Pada saat mengalami stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.

Dukungan ini sangat diperlukan untuk dpt menerima keadaan sakit yg dialami, khususnya jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yg lama dgn hasil yg blm pasti.

Sembahyang atau berdoa, membaca kitab suci, dan praktik keagamaan lainnya sering membantu memenuhi kebutuhan spiritual yg juga merupakan suatu perlindungan terhadap tubuh.

3) Sumber kekuatan dan penyembuhan

individu cenderung dpt menahan stress baik fisik maupun psikis yg luar biasa karena mempunyai keyakinan yg kuat. Keluarga klien akan mengikuti semua proses penyembuhan yg memerlukan upaya ekstra, karena keyakinan bahwa semua upaya tersebut akan berhasil.

4) Sumber konflik

Pada suatu situasi tertentu, bisa terjadi konflik antara keyakinan agama dgn praktik kesehatan.

Misalnya ada orang yg memandang penyakit sebagai suatu bentuk hukuman karena pernah berdosa.

Ada agama tertentu yg menganggap manusia sebagai makhluk yg tidak berdaya dlm mengendalikan lingkungannya, oleh karena itu penyakit diterima sbg nasib bukan sebagai sesuatu yg harus disembuhkan

d. Faktor yg mempengaruhi spiritualitas

1) Perkembangan; semakin dewasa idealnya semakin matang tingkat spiritualitas seseorang

2) Keluarga; memiliki peran yg sangat penting dalam memenuhi kebutuhan spiritual, individu yg di besarkan dalam keluarga agama islam cenderung 90%

islam.

3) Ras/suku; di indonesia timur à irian jaya mayoritas beragama kristen aceh mayoritas islam

4) Agama yg di anut; keyakinan pd agama ttt dpt menentukan arti pentingnya kebutuhan spiritual

5) Kegiatan keagamaan; kegiatan agama dpt mengingatkan keberadaan dirinya dgn tuhan, dan sll mndekatkan diri kpd penciptanya

(10)

e. Pasien yg membutuhkan dukungan spiritual

1) Pasien kesepian; Pasien dalam keadaan sepi dan tdk ada yg menemani akan membutuhkan bantuan krn mereka merasakan tdk ada kekuatan selain kekuatan tuhan, tdk ada yg menyertainya kecuali Tuhan.

2) pasien ketakutan dan cemas; adanya ketakutan dan kecemasan dpt menimbulkan perasaan kacau, yg dpt membuat pasien membuutuhkan ketenangan pd dirinya, dan ketenangan yg plg bsar adlh bersama tuhan.

3) pasien yg harus mengubah gaya hidup; pola gaya hidup dpt mengacaukan keyakinan individu bila ke arah yg lbh buruk dan sebaliknya

f. Masalah kebutuhan spiritual

Distress spiritual à suatu keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami gangguan dalam kepercyaan atau sistem nilai yg memberikannya kekuatan, harapan dan arti kehidupan.

g. Macam – macam distres Spiritual

1) Spiritual yang sakit, yaitu kesulitan menerima kehilangan dari orang yang dicintai atau dari penderitaan yang berat

2) Spiritual yang khawatir yaitu terjadinya pertentangan kepercayaan dan sistem nilai seperti adanya aborsi

3) Spiritual yang hilang yaitu adanya kesulitan menemukan ketenangan dalam kegiatan keagamaan.

h. Asuhan keperawatan spiritual Pengkajian :

1) Sumber kekuatan : Tuhan atau yg lain

2) Data umum : agama yg di anut pasien / keyakinan

3) Bagaimana pasien melaksanakan keyakinanya, ada masalah?

4) Apakah sakit atau terluka mempengaruhi keyakinan anda?

5) Apakah anda mempunyai pemimpin spiritual?

6) Apakah anda butuh pemimpin spiritual?

7) Faktor yg mempengaruhi à kematian, sakit, kecacatan, dsb

8) Faktor yang menyebabkan masalah spiritual. Kehilangan salah satu bagian tubuh, beberapa penyakit terminal, tindakan pembedahan, prosedur invasif dll

Referensi

Dokumen terkait